Anda di halaman 1dari 46

LAPORAN FIELD LAB

BLOK KEDOKTERAN GIGI KELUARGA

TRAINER:
drg. Nur Khamilatusy Sholekah
Small Group Discussion 3:

Siti Nur Aini Ayu Ningjanah J2A014020


Yogi Nanda Kharismawan J2A014021
Dewi Purnamaningtias J2A014022
Arinanda Sekar Palupi J2A014023
Hoerul Anam J2A014024
Claudia Ayu Larasati J2A014038
Erlita Nindya Gushyana J2A014039
Ayu Puji Lestari J2A014040
Ahyi Alfia Husna J2A014041
Tyas Nur Fadlilah Amaliyah J2A014042
Ahmad Aliemuddin Suyudi J2A014043
Septi Duvasti Kurnia Illahi J2A014044

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2018

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Field Lab Blok Kedokteran Gigi Keluarga


Disusun Oleh:

Kelompok Tutorial 3

Semarang, 23 Januari 2018

Trainer Blok Kedokteran Gigi Keluarga Penanggung Jawab Blok

drg. Nur Khamilatusy Sholekah drg. Ayu Kristin Rakhmawati

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan Laporan field lab yang

2
berjudul “Laporan Field Lab Blok Kedokteran Gigi Keluarga (Kajian Pada SD
Negeri Pudak Payung 01 Kabupaten Semarang)”.

Laporan field lab ini kami susun demi memenuhi sebagian tugas yang
telah diberikan kepada kami. Pada kesempatan ini, kami ucapkan banyak terima
kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan
field lab ini, terutama drg. Nur Khamilatusy Sholekah selaku trainer di kelompok
tutorial 3 blok 21 yang senantiasa membantu dan membimbing kami, sehingga
laporan field lab ini dapat kami selesaikan dengan baik.

Laporan ini pula kami susun untuk memperluas dan menambah wawasan
kami dan para pembaca khususnya mahasiswa serta menunjang pemahaman dan
melatih keterampilan mahasiswa. Kami menyadari banyak sekali kekurangan
dalam laporan ini, oleh karenanya kami mengharapkan kritik dan saran dari para
pembaca demi kesempurnaan laporan selanjutnya. Semoga laporan ini dapat
bermanfaat bagi para pembaca sekalian.

Semarang, 23 Januari 2018

Penyusun

LAPORAN FIELD LAB POSYANDU

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

3
Penyakit gigi dan mulut merupakan penyakit yang tersebar luas di
masyarakat Indonesia. Faktor penyebab dari penyakit gigi dan mulut
dipengaruhi oleh faktor perilaku, kebersihan gigi dan pelayanan kesehatan gigi
dan mulut. Masalah kesehatan gigi terutama pada anak di Indonesia masih
sangat memprihatinkan. Kebanyakan orang tua menganggap bahwa pergantian
dari gigi sulung ke permanen tidak perlu dirawat jika anak tidak mengeluh
sakit, padahal banyak akibat yang ditimbulkan jika gigi sulung tidak dirawat
dengan baik. Banyak upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya
gangguan pertumbuhan gigi pada anak, salah satunya yaitu melakukan
perawatan ke dokter gigi atau ke puskesmas setiap 6 bulan sekali (Susilo, 2005;
Tampubolon, 2006).
Pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) Pudak Payung merupakan pos
kesehatan rawat jalan untuk berbagai macam penyakit di wilayah Pudak
Payung. Pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan oleh pihak
puskesmas Pudak Payung yaitu memiliki posyandu tersendiri di setiap
daerahnya, salah satunya Posyandu Wiratama yang berada di komplek
perumahan tentara.
Pendidikan kesehatan gigi pada orang tua yang mempunyai anak balita dan
anak-anak sangat penting karena pada usia tersebut adalah masa kritis, yaitu
pada masa pertumbuhan dan perkembangan khususnya masa pertumbuhan gigi
permanen, hal ini dilakukan agar karies gigi pada anak tidak terjadi. Mengingat
besarnya peran orang tua dalam peningkatan pengetahuan terhadap pencegahan
kesehatan gigi pada anak maka perlu melakukan pendekatan khusus terhadap
orang tua tentang kesehatan gigi pada anak (Isrofah dan Nonik, 2010).
Sehingga pada Field Lab ini, kami dari Fakultas Kedokteran Gigi
UNIMUS berupaya memberikan penyuluhan dan pendekatan khusus seperti
yang dijelaskan diatas serta pengecekan (screening) pada anak balita di
sekitaran wilayah Posyandu Wiratama.
B. Tujuan
1. Mahasiswa mampu menjelaskan dan melakukan pemeriksaan, anamnesa,
komunikasi efektif untuk mencari data akurat sebagai pedoman pengisian
rekam medik keluarga.

4
2. Mahasiswa mampu melakukan identifikasi factor resiko di bidang
kesehatan gigi dan mulut.
3. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksan klinis dengan metode berbasis
WHO
4. Mahasiswa bisa mengolah data hasil survey.
C. Tempat Pelaksanaan
Field Lab dilaksanakan di Posyandu Asrama TNI Wiratama Kodam IV/
Diponegoro, Pudakpayung, Banyumanik, Kota Semarang, Jawa Tengah pada
hari sabtu tanggal 17 Januari 2018 pukul 08:30 sampai dengan pukul 10:30.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Puskesmas telah menjadi tonggak periode perjalanan sejarah Dinas


Kesehatan Kabupaten di Indonesia. Konsep Puskesmas sendiri diterapkan di
Indonesia pada tahun 1969. Perihal diterapkannya konsep Puskesmas ini, pada
awal berdirinya, sedikit sekali perhatian yang dicurahkan Pemerintah di
Kabupaten pada pembangunan di bidang Kesehatan. Sebelum konsep Puskesmas

5
diterapkan, dalam rangka memberikan pelayanan terhadap masyarakat maka
dibangunlah Balai Pengobatan (BP), Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA),
yang tersebar di kecamatan-kecamatan. Unit tersebut berdiri sendiri-
sendiri tidak saling berhubungan dan langsung melaporkan kegiatannya
kepada Kepala Dinas Kesehatan, umumnya unit tersebut dipimpin oleh
seorang Mantri (perawat) senior yang pendidikannya bisa Pembantu Perawat atau
Perawat.

Sejalan dengan diterapkannya konsep Puskesmas di Indonesia tahun


1969, maka mulailah dibangun Puskesmas di beberapa wilayah yang dipimpin
oleh seorang Dokter Wilayah (Dokwil) yang membawahi beberapa Kecamatan,
sedang di tingkat kabupaten ada Dokter Kabupaten (Dokabu) yang
membawahi Dokwil. Pelayanan kesehatan yang diberikan Puskesmas
tersebut adalah pelayanan kesehatan menyeluruh (komprehensif) yang
meliputi pelayanan: pengobatan (kuratif), upaya pencegahan (preventif),
peningkatan kesehatan (promotif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif).

Selanjutnya konsep pelayanan kesehatan yang terintegrasi lebih berkembang


dengan pembentukan Team Work dan Team Approach dalam pelayanan kesehatan
tahun 1956. Penggunaan istilah Puskesmas pertama kali dimuat pada Master Plan
of Operation for Strengthening National Health Service in Indonesia tahun 1969.
Dalam dokumen tersebut Puskesmas terdiri atas 3 (tiga) tipe Puskesmas (Tipe A,
Tipe B, Tipe C) .Kemudian dalam Rapat Kerja Kesehatan Nasional ke-3 tahun
1970 ditetapkan hanya ada satu tipe Puskesmas dengan 6 (enam) kegiatan pokok
Puskesmas. Perkembangan selanjutnya lebih mengarah pada penambahan
kegiatan pokok Puskesmas seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, kemampuan pemerintah, serta keinginan program ditingkat pusat,
sehingga kegiatan pokok Puskesmas berkembang menjadi 18 (delapanbelas)
kegiatan pokok Puskesmas.

Puskesmas adalah organisasi kesehatan fungsional yang merupakan pusat


pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat
dan memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di

6
wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok (Depkes RI, 1991). Menurut
Kepmenkes RI No.128/Menkes/SK/II/2004 puskesmas merupakan Unit
Pelayanan Teknis Dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab
menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja.

Visi dan Misi Puskesmas

Visi puskesmas adalah tercapainya kecamatan sehat menuju Indonesia sehat.


Indikator utama yakni:

 Lingkungan sehat.
 Perilaku sehat.
 Cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu.
 Derajat kesehatan penduduk kecamatan.

Misi puskesmas, yaitu:

 Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya.


 Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di
wilayah kerjanya.
 Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan
pelayanan kesehatan yang diselenggarakan.
 Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan
masyarakat berserta lingkungannya.

Fungsi puskesmas

Puskesmas diharapkan dapat bertindak sebagai motivator, fasilitator dan


turut serta memantau terselenggaranya proses pembangunan di wilayah kerjanya
agar berdampak positif terhadap kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya.
Puskesmas memiliki fungsi pokok diantaranya: 1) pusat pengerak pembangunan
berwawasan kesehatan; 2) pusat pemberdayaan masyarakat dan keluarga dalam
pembangunan kesehatan; serta sebagai 3) pusat pelayanan kesehatan tingkat
pertama. Hasil yang diharapkan dalam menjalankan fungsi ini antara lain adalah
terselenggaranya pembangunan di luar bidang kesehatan yang mendukung
terciptanya lingkungan dan perilaku sehat.
7
Upaya pelayanan yang diselenggarakan meliputi:

 Pelayanan kesehatan masyarakat yang lebih mengutamakan pelayanan


promotif dan preventif, dengan kelompok masyarakat serta sebagian besar
diselenggarakan bersama masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah
kerja puskesmas.
 Pelayanan medik dasar yang lebih mengutamakan pelayanan,kuratif dan
rehabilitatif dengan pendekatan individu dan keluarga pada umumnya
melalui upaya rawat jalan dan rujukan ( Depkes RI, 2007).

Dalam menyelenggarakan fungsinya, puskesmas berwewenang untuk:

a) melaksanakan perencanaan berdasarkan analisis masalah kesehatan


masyarakat dan analisis kebutuhan pelayanan yang diperlukan
b) melaksanakan advokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan;
c) melaksanakan komunikasi, informasi, edukasi, dan pemberdayaan
masyarakat dalam bidang kesehatan;
d) menggerakkan masyarakat untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan
masalah kesehatan pada setiap tingkat perkembangan masyarakat yang
bekerjasama dengan sektor lain terkait;
e) melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan dan upaya
kesehatan berbasis masyarakat
f) melaksanakan peningkatan kompetensi sumber daya manusia Puskesmas
g) memantau pelaksanaan pembangunan agar berwawasan kesehatan;
h) melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap akses, mutu, dan
cakupan Pelayanan Kesehatan
i) memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan masyarakat, termasuk
dukungan terhadap sistem kewaspadaan dini dan respon penanggulangan
penyakit.

Tugas Puskesmas

Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas (UPTD) kesehatan


kabupaten / kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan
kesehatan disuatu wilayah. Puskesmas sebagai pusat pelayanan kesehatan strata
pertama menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara
menyeluruh, terpadu , dan berkesinambungan, yang meliputi pelayanan kesehatan

8
perorangan (private goods) dan pelayanan kesehatan masyarakat (public goods).
Puskesmas melakukan kegiatan-kegiatan termasuk upaya kesehatan masyarakat
sebagai bentuk usaha pembangunan kesehatan. Puskesmas adalah suatu kesatuan
organisasi fungsional yang langsung memberikan pelayanan secara menyeluruh
kepada masyarakat dalam satu wilayah kerja tertentu dalam bentuk usaha-usaha
kesehatan pokok. Jenis pelayan kesehatan disesuaikan dengan kemampuan
puskesmas, namun terdapat upaya kesehatan wajib yang harus dilaksanakan oleh
puskesmas ditambah dengan upaya kesehatan pengembangan yang disesuaikan
dengan permasalahan yang ada serta kemampuan puskesmas.

Upaya-upaya kesehatan wajib tersebut adalah (Basic Six):

 Upaya promosi kesehatan


 Upaya kesehatan lingkungan
 Upaya kesehatan ibu dan anak (KIA) serta keluarga berencana (KB)
 Upaya perbaikan gizi masyarakat
 Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
 Upaya pengobatan termasuk penaganan darurat karena kecelakaan.

Ditambah dengan beberapa program seperti:

 Penyuluhan kesehatan masyarakat


 Kesehatan sekolah
 Kesehatan olah raga
 Kesehatan kerja
 Kesehatan Gigi dan Mulut
 Kesehatan jiwa
 Kesehatan mata
 Laboratorium sederhana
 Pencatatan dan pelaporan dalam rangka SIK
 Pembinaan pemgobatan tradisional
 Kesehatan remaja

Puskesmas memiliki satuan penunjang, yaitu:

1) Puskesmas Pembantu yaitu Unit pelayanan kesehatan yang sederhana dan


berfungsi menunjang dan membantu melaksanakan kegiatan-kegiatan yang
dilakukan puskesmas dalam rung lingkup wilayah yang lebih kecil
2) Puskesmas Keliling yaitu Unit pelayanan kesehatan keliling yang dilengkapi
dengan kendaraan bermotor dan peralatan kesehatan, peralatan komunikasi

9
serta sejumlah tenaga yang berasal dari puskesmas.dengan funsi dan tugas
yaitu Memberi pelayanan kesehatan daerah terpencil, Melakukan
penyelidikan KLB, Transport rujukan pasien, Penyuluhan kesehatan dengan
audiovisual.
3) Bidan desa Bagi desa yang belum ada fasilitas pelayanan kesehatan
ditempatkan seorang bidan yang bertempat tinggal di desa tersebut dan
bertanggung jawab kepada kepala puskesmas.

BAB III
HASIL KEGIATAN
A. Profil Puskesmas Pudakpayung

Puskesmas Pudakpayung beralamat di Jl. Payung Mas Raya, Pudakpayung,


Banyumanik, Kota Semarang.

Visi dan Misi

Visi:

Menjadikan Puskesmas Pudakpayung sebagai Pusat Pelayanan Kesehatan


yang Professional.

Misi:

 Meningkatkan pelayanan kesehatan dengan professional


 Mengikutsertakan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat
 Membina peran serta masyarakat dalam pelaksanaan kesehatan terpadu
 Membina pendidikan staf dengan pelatihan sesuai bidang masing-masing
 Memberikan pelayanan kesehatan yang memuaskan
 Sebagai pusat rujukan pertama yang diminati masyarakat

Puskesmas Pudakpayung selalu berkeinginan untuk dapat melayani


masyarakat dengan pelayanan yang sesuai dengan standar pelayanan minimal.
Pelayanan yang santun dan ramah tamah sesuai prinsip 3 S (senyum, sapa dan
salam) adalah salah satu perilaku utama setiap karyawan-karyawati
Puskesmas Pudakpayung dan hal ini merupakan kunci utama agar setiap klien
terpuaskan. Didukung dengan teknologi SIMPUS dan SP3 Online yang

10
aplikatif, maka hal ini adalah nilai lebih pelayanan di Puskesmas
Pudakpayung.

Program Pokok dan Kegiatan Puskesmas

Kegiatan – kegiatan pokok dalam pelayanan kesehatan yaitu:

1. Pengobatan adalah untuk mendiagnosa secara dini, mengadakan


rehabilitasi dan memberikan pengobatan serta perawatan pada penderita.
Pengobatan ini berupa pengobatan umum, pengobatan gigi dan mulut serta
penanggulangan gawat darurat.

Kegiatannya:

 Memberi pengobatan dan perawatan kepada penderita baik di dalam


maupun di luar gedung
 Mengirimkan penderita atau merujuk pasien yang memerlukan
perawatan rujukan
 Melaksanakan pemeriksaan laboratorium antara lain: pemeriksaan
hemoglobin pada ibu hamil, pemeriksaan darah malaria,
pemeriksaan test kehamilan, pemeriksaan sputum TB dan
pemeriksaan urine protein pada ibu hamil.
2. Kesehatan Ibu dan Anak / Keluarga Berencana

Mengurangi kematian dan kesakitan ibu, bayi dan anak dengan:

 Meningkatkan kesehatan ibu baik saat mengandung, persalinan


maupun sesudahnya;
 Meningkatkan kesehatan anak – anak, terutama dalam hal gizi yang
baik, dan mencegah mereka dari terkena penyakit menular;
 Meningkatkan kesehatan keluarga dan memberikan penyuluhan
tentang manfaat Keluarga Berencana;

Kegiatannya:

 Melaksanakan pelayanan kesehatan bagi ibu hamil sesuai dengan


standar untuk kunjungan lengkap (K4)

11
 Melaksanakan pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan
termasuk pendampingan persalinan oleh dukun sesuai dengan
standar
 Melaksanakan pelayanan nifas lengkap (ibu & neonatus) sesuai
dengan standar KN dan kunjungan ibu.
 Melaksanakan deteksi dan stimulasi dini tumbuh kembang Balita
(untuk kontak pertama)
 Melaksanakan deteksi dan stimulasi dini tumbuh kembang anak pra
sekolah (Apras) untuk kontak pertama.
 Melaksanakan pelayanan KB
 Melaksanakan pelayanan imunisasi bagi ibu, calon ibu dan bayi.
 Melaksanakan pelayanan komplikasi
3. Gizi

Kegiatan – kegiatannya

 Memberikan kapsul vitamin A (dosis 200.000 SI) pada anak Balita (1


– 5 tahun)
 Memberikan tablet besi (Fe 90) pada Ibu hamil
 Memberikan PMT pemulihan pada balita gizi buruk
 Melaksanakan pemantauan hasil penimbangan dengan menggunakan
SKDN
 Memberikan kapsul vitamin A pada Ibu Nifas
 Memberikan kapsul vitamin A pada anak 6 – 11 bulan
4. Kesehatan Lingkungan

Untuk menanggulangi dan melindungi kesehatan masyarakat,


terutama yang diakibatkan oleh lingkungan tidak sehat, perlu diciptakan
lingkungan yang bersih dan sehat dengan program dan kegiatan
penyehatan lingkungan.

Adapun kegiatan – kegiatannya adalah:

 Melaksanakan inspeksi sanitasi: sarana air bersih, rumah, sekolah,


tempat pengelolaan makanan, tempat pembuangan sampah dan
limbah, tempat – tempat umum dan sarana pengelolaan pestisida.

12
 Melaksanakan pembinaan kelompok masyarakat tentang: pengguna /
pemakai air, tempat pengelolaan makanan dan tempat pengelola
pestisida.
 Melaksanakan pengawasan: tempat pembuangan sampah sementara,
sanitasi industri rumah tangga (makanan dan minuman) dan
pengawasan tempat – tempat potensial perindukan vektor di
pemukiman penduduk dan sekitarnya.
 Melaksanakan pemantauan berkala sanitasi tempat – tempat umum
 Melaksanakan upaya pembinaan perilaku hidup bersih dan sehat
dengan melakukan kampanye perilaku hidup bersih dan sehat pada
sasaran seperti: rumah tangga, institusi pendidikan, institusi tempat –
tempat umum dan institusi tempat kerja.
5. P 2 M

Kegiatan yang harus dilaksanakan oleh para petugas Puskesmas adalah:

 TB Paru:
Mencari penderita secara aktif, termasuk pemeriksaan dahak dengan
mikroskop, suspek, penemuan dan pengobatan penderita TB Paru
(DOTS) BTA positif, penemuan dan pengobatan penderita TB Paru
(DOTS) BTA negatif, RO positif.
 Kusta:
Melakukan penemuan dan pengobatan tersangka penderita Kusta serta
pemeriksaan kontak pada penderita kusta.
 Imunisasi:
Melaksanakan imunisasi lengkap pada bayi, ibu hamil, imunisasi BIAS
DT kelas I SD / MI, BIAS TT kelas 2 dan 3 SD / MI
 Diare:
Dalam program ini melaksanakan penemuan kasus diare di wilayah
Puskesmas dan dehidrasi oral dengan pemberian oralit.
 I S PA
Dalam program ini melaksanakan penemuan kasus pnemonia dan
pnemonia berat di wilayah Puskesmas dan pengobatan pada penderita
pnemonia dan pnemonia berat dengan pemberian obat standart.
 Demam Berdarah Dengue:
Dalam program ini melaksanakan kegiatan pengobatan dan penemuan
kasus tersangka Demam Berdarah di wilayah Puskesmas dan

13
melaksanakan kegiatan rujukan ke Rumah Sakit dan melakukan
penyelidikan epidemiologi (PE).
6. Perawatan Kesehatan Masyarakat

Kegiatannya:

 Melaksanakan asuhan keperawatan pada keluarga


 Pemberdayaan dalam upaya kemandirian pada keluarga lepas asuh

Program Penunjang yaitu:

Laboratorium

 Melaksanakan pemeriksaan hemoglobin pada ibu hamil


 Melaksanakan test kehamilan
 Pemeriksaan darah malaria
 Pemeriksaan sputum TB
 Pemeriksaan urine protein pada ibu hamil.
 Kesehatan gigi dan mulut
 Melaksanakan pencegahan dan penanggulangan penyakit gigi dan
mulut dengan cara memberikan pembinaan kesehatan gigi dan mulut di
posyandu, dan institusi sekolah.
 Melaksanakan pembinaan & bimbingan sikat gigi massal di sekolah
sehingga menjadi kegiatan rutin
 Melaksanakan pengobatan dan pencabutan gigi di sekolah

UKS

 Melaksanakan kegiatan UKS / UKGS di SD, SLTP, & MA.


 Melaksanakan penjaringan kesehatan di SD, SLTP dan MA
 Melaksanakan imunisasi anak sekolah sesuai program BIAS
 Melaksanakan pelatihan dokter kecil & pembinaan guru UKS
 Pembinaan lingkungan sekolah sehat dan kantin sekolah
 Pemantauan program PSN Anak Sekolah

Dalam meningkatkan kemandirian para lansia terutama di bidang kesehatan


untuk menuju masa tua yang bahagia, Puskesmas Pudakpayung membentuk
Posyandu Lansia di semua RW di kelurahan Pudakpayung.

Adapun kegiatan – kegiatannya adalah:

14
 Senam Lansia
 Pemeriksaan kesehatan lansia
 Penyuluhan kesehatan Lansia
 Pemeriksaan laboratorium: HB 1 x 3 bulan, Reduksi
B. Alur Kegiatan
1 Perencanaan
Untuk dapat merealisasikan kegiatan penyuluhan dan screening di
Posyandu Wira Tama Rw 11, langkah awal yang dilakukan adalah
melakukan survey di wilayah Posyandu Wira Tama Rw 11 oleh pihak
Fakultas Kedokteran Gigi Unimus melalui data informasi oleh pihak
puskesmas Pundak Payung. Setelah melakukan survey dan mengenal
masalah pada masyarakat setempat, maka dari pihak FKG Unimus
meminta ijin untuk melakukan penyuluhan dan screening kepada peserta
di Posyandu Wira Tama Rw 11. Dan mempersiapkan semua perlengkapan
yang akan digunakan untuk penyuluhan dan screening. Perlengkapan yang
digunakan diantaranya: Poster Ibu hamil, Poster Balita, Poster Lansia,
stick es cream untuk membantu melihat keadaan rongga mulut, senter,
pantum gigi, formulir anamnesa dan pemeriksaan.

2 Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan penyuluhan dan screening DMF-T dilaksanakan
pada hari Rabu tanggal 17 Januari 2018. Untuk menuju lokasi posyandu
wira tama rw 11, mahasiswa Unimus berkumpul terlebih dahulu di
puskesmas Pundakpayung jam 07.00. Kemudian mahasiswa mendapatkan
sambutan dan pengarahan oleh pihak puskesmas dan dosen trainer.
Selanjutnya pada pukul 09.00 mahasiswa berangkat menuju lokasi
posyandu Wira Tama Rw 11. Sesampainya di lokasi kami mempersiapkan
segala alat-alat peraga atau media yang dibutuhkan dalam melakukan
penyuluhan dan screening. Masyarakat setempat menyambut kedatangan
kami dengan baik dan hangat. Kami memperkenalkan diri kepada para
peserta posyandu dan kemudian dilanjutkan dengan melakukan
penyuluhan dan screening DMF-T pada peserta posyandu yang ada yaitu
balita. Karena peserta posyandu di Wira Tama Rw 11 hanya balita jadi

15
kami hanya melakukan penyuluhan tentang kesehatan gigi dan mulut pada
balita. Materi penyuluhan yang kami berikan diantaranya:
1. Bersihkan selalu gusi dan lidah bayi setelah diberi susu dengan kain
kasa yang dibasahi air hangat.
2. Setelah gigi anak mulai tumbuh biasakan ibu membersihkan gigi anak
dengan kain kasa.
3. Setelah anak dapat berjalan anak dibantu ibu menyikat gigi. Ibu
berada dibelakang anak, satu tangan menyangga kepala anak.
4. Setelah anak senang menyikat gigi, biarkan anak menyikat gigi sendiri
orangtua mengawasi.
a. Biasakan anak menyikat giginya 2 kali sehari
b. Pagi setelah sarapan dan malam menjelang tidur
c. Pakailah pasta yang mengandung fluoride
d. Air yang digunakan adalah air hangat
5. Ajaklah anak menyukai makanan yang menyehatkan gigi.
6. Kurangi makanan yang merusak gigi. Berkumurlah setelah makan
dengan air matang.
7. Periksalah gigi anak secara berkala 6 bulan sekali ke petugas
kesehatan.
Para peserta posyandu sangat antusias mengikuti penyuluhan dan
balita yang di lakukan screening hampir sebagian besar kooperatif.
c. Evaluasi oleh pihak Fakultas (Dosen)
Setelah selesai melakukan penyuluhan dan screening DMF-T pada
posyandu Wira Tama Rw 11. Kami kembali berkumpul di puskesmas
Pundakpayung pada pukul 11.30 WIB. Kami melakukan evaluasi hasil
penyuluhan dan screening. Banyak hal-hal menarik yang terjadi selama
penyuluhan baik itu balita ketakutan dan menangis dan masih banyak hal
hal baru yang dapat kita pelajari selama melakukan penyuluhan dan
screening, hal ini dapat kita jadikan pelajaran dan pengalaman dalam
melakukan pembinaan dan pendekatan kesehatan gigi dan mulut kepada
masyarakat.
C. Hasil Kegiatan

Prioritas Faktor Penyebab Karies Menurut Metode MCUA di Posyandu


Kodam IV/ Diponegoro Pudakpayung Semarang.

Skore (1-5)

16
Faktor Kejadian Karies
No Kriteria Bobot Resiko Tingkat Kebiasaan
Asi Pengetahuan Pembersihan
Eksklusif

1 Besar Masalah 4 4x3 4x5 4x5


2 Kegawatan 3 3x2 3x4 3x4
3 2 2x1 2x2 2x3
Kemudahan
4 1 1x1 1x4 1x5
Ketersediaan
sarana/teknologi

Jumlah 21 40 42
Rangking III II I

Berdasarkan tabel diatas faktor risiko kejadian karies yang diprioritaskan dalam
penanggulangan adalah merubah kebiasaan orang tua dalam membersikan gigi anak
sebagai prioritas utama dan dilanjutkan dengan meningkatkan pengetahuan orang tua.

Masalah Necessary Cause Sufficient Cause


Rendahnya Ibu bekerja kantoran Tingkat pengetahuan ibu
Pemberian Asi Air susu tidak keluar SMA
Eksklusif Pemberian susu formula Perekonomian
Jarak rumah dengan
kantor jauh
Nenek yang mengantar ke
posyandu

Tingkat Pengetahuan Tidak ada penyuluhan kurangnya komunikasi


kesgilut interpersonal dari petugas
kesehatan

Kebiasaan Pola asuh orang tua Ibu pekerja


pembersihan
Analisis SWOT Faktor Penyebab Karies Menurut Metode MCUA di
Posyandu Kodam IV/ Diponegoro Pudakpayung Semarang

Strength factor Weakness factor


Parameter SWOT Kepedulian Orang Cara menyikat gigi
tua terhadap kesgilut yang salah bawaan

17
anaknya, lingkungan orang tua,
tempat tinggal
tentara

Opportunity factor Posyandu, Meningkatkan upaya Meningkatkan peran


program promotif dan serta stakeholders
prioritas preventif pelayanan terkait pelayanan
pemerintah, kesehatan gigi dan kesgilut
mulut

Treath factor Sering berpindah Menciptakan Meningkatkan


tempat tinggal lingkungan keluarga pengetahuan
karena tuntutan yang saling peduli pentingnya menjaga
pekerjaan, dalam menjaga kesehatan gigi dan
kesgilut mulut

Alternatif Pemecahan Masalah kejadian karies di Posyandu Kodam IV/ Diponegoro


Pudakpayung Semarang

Skore (1-
Upaya 5) Lingkung Tingkat
No Kriteria Bob Promo peran an penget-
ot tif serta keluarga Ahuan
preven stakehold yang
tif ers peduli

1 Kemudahan 4 4x4 4x3 4x5 4x5


2 Ketersediaan 3 3x5 3x5 3x5 3x5

sarana/teknol
2x5 2x5 2x5 2x4
ogi
3 2
Kegawatan

Jumlah 41 37 45 43

Rangki III IV I II
ng
Menurut analisis SWOT dan Matrik MCUA program aksi yang
diprioritaskan dalam mengurangi kejadian karies di Posyandu Kodam IV/

18
Diponegoro Pudakpayung Semarang adalah upaya Menciptakan lingkungan
keluarga yang saling peduli dalam menjaga kesgilut melalui pencerahan dan
bimbingan langsung dengan tujuan mengubah mind set dan kebiasaan orang
tua dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut anaknya dalam bentuk
bimbingan keluarga.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pendidikan kesehatan gigi pada orang tua yang mempunyai anak balita
dan anak-anak sangat penting karena pada usia tersebut adalah masa kritis,
yaitu pada masa pertumbuhan dan perkembangan khususnya masa
pertumbuhan gigi permanen, hal ini dilakukan agar karies gigi pada anak
tidak terjadi. Mengingat besarnya peran orang tua dalam peningkatan
pengetahuan terhadap pencegahan kesehatan gigi pada anak maka perlu
melakukan pendekatan khusus terhadap orang tua tentang kesehatan gigi pada
anak. Keadaan gigi dan mulut pada balita di Posyandu Kodam IV/
Diponegoro Pudakpayung Semarang sudah cukup namun besar harapan agar
dapat meningkatkan kesehatan gigi dan mulut pada balita di wilayah
posyandu tersebut.
B. Saran
Setelah melakukan kegiatan penyuluhan dan screening DMF-T pada
balita di posyandu Wira Tama Rw 11 hampir kebanyakan masyarakat di
daerah posyandu Wira Tama Rw 11 sudah memiliki kesadaran akan kesehatan
gigi dan mulut terhadap anak anak balitanya. Mereka sudah mengerti
bagaimana caranya menjaga kesehatan gigi dan mulut anaknya dan
bagaimana cara mendidik kepada anak anak mereka. Untuk kedepannya
semoga dalam pelaksanaan lebih dipastikan bagaimana peserta posyandu di
wilayah tersebut. Apakah peserta posyandu lengkap semua kalangan ada atau
hanya kalangan tertentu misalnya (balita).

19
DAFTAR PUSTAKA

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 128/Menkes/Sk/II/2004


tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat.
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem
Kesehatan Nasional.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014 tentang
Pusat Kesehatan Masyarakat.

20
LAMPIRAN

No. Nama Operator Nama Pasien Decay Missing Filling DMF-T Kriteria

1 Dewi P Gendis 3 0 1 4 Sedang

2 Dewi P Ny. Winda 3 0 0 3 Sedang

3 Hoerul A Nara 0 0 0 0 Sangat Rendah

4 Hoerul A Kevin 0 0 0 0 Sangat Rendah

5 Siti Abrizam 2 0 0 2 Rendah

6 Siti Arska 0 0 0 0 Sangat Rendah

7 Erlita N Syafira 4 0 0 4 Sedang

8 Erlita N Rizky 0 0 0 0 Sangat Rendah

9 Yogi NK Alfurqon 0 0 0 0 Sangat Rendah

10 Yogi NK Hilma AF 9 0 0 9 Sangat Tinggi

11 Claudia AL Dinda 8 0 0 8 Sangat Tinggi

12 Tyas NF Andita A 0 0 0 0 Sangat Rendah

13 Tyas NF Cinta 0 0 0 0 Sangat Rendah

14 Arinanda SP Ratu 4 0 0 4 Sedang

15 Arinanda SP Sihab 7 0 0 7 Sangat Tinggi

16 Septi DK Mirza 3 1 0 4 Sedang

17 Septi DK Arsen 4 0 0 4 Sedang

18 Alim Fino 0 0 0 0 Sangat Rendah

19 Alim Rara 4 0 0 4 Sedang

20 Ayu P Nasyifa 0 0 0 0 Sangat Rendah

21 Ahyi Mida 18 0 0 18 Sangat Tinggi

Jumlah 69 1 1 71

Total: Sangat Rendah = 9, Rendah = 1, Sedang = 7, Sangat Tinggi = 4

21
Dokumentasi Kegiatan

22
23
24
25
26
LAPORAN FIELD LAB SD

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan tubuh yang
ikut berperan dalam menentukan status kesehatan seseorang. Menjaga
kesehatan gigi berarti turut berpartisipasi dalam peningkatan kualitas hidup
dan produktifitas sumber daya manusia, namun kesehatan gigi dan mulut di
Indonesia sampai saat ini masih memprihatinkan dengan masalah utama
kesehatan gigi dan mulut adalah karies gigi dan penyakit periodontal.
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, indeks
DMFT Indonesia menunjukkan hasil sebesar 4,6 dengan nilai masing-masing
D-T=1,6; M-T=2,9; dan F-T=0,08 yang berarti kerusakan gigi penduduk
Indonesia 460 buah gigi per 100 orang (RISKESDAS, 2013).

27
Karies gigi adalah suatu penyakit kronis yang merusak jaringan keras
gigi disebabkan oleh produk asam hasil fermentasi bakteri terhadap
karbohidrat. Proses ini ditandai dengan demineralisasi pada jaringan keras
gigi dan biasanya dimulai karena adanya biofilm (plak gigi) yang menutupi
permukaan gigi. Karies gigi timbul jika terjadi interaksi dari empat faktor
seperti adanya mikroorganisme, substrat, host (permukaan gigi dan saliva)
dan waktu sebagai factor tambahan. Karies merupakan penyakit yang paling
umum dan menyerang lebih dari 80% anak-anak di negara maju dan
berkembang. Anak usia sekolah khususnya anak sekolah dasar merupakan
satu kelompok yang rentan terhadap penyakit gigi dan mulut karena
umumnya anak-anak tersebut masih mempunyai perilaku atau kebiasaan diri
yang kurang menunjang terhadap kesehatan gigi (Pontonuwu dkk, 2013), hal
ini diperkuat oleh hasil Riskesdas (2013) yang melaporkan bahwa pada
kelompok umur 12 tahun memiliki indeks DMFT sekitar 1,4.
Karies yang parah akan mempengaruhi kualitas hidup anak-anak karena
mereka merasakan sakit, ketidaknyamanan, profil wajah yang tidak harmonis,
infeksi akut serta kronis, gangguan makan dan tidur, bahkan karies yang
parah juga dapat meningkatkan risiko rawat inap sehingga anak tidak hadir ke
sekolah dan dapat mempengaruhi proses pembelajaran anak (Sheiham, 2005).
Baginska dkk (2012) juga menyatakan hal yang serupa bahwa karies
yang sudah lanjut dapat mempengaruhi kesehatan dan kualitas hidup
seseorang yang menyebabkan rasa sakit, sulit tidur dan makan, menurunnya
indeks massa tubuh, tidak masuk sekolah bahkan rawat inap serta biaya yang
dikeluarkan untuk pengobatan karies yang parah lebih tinggi daripada kasus
lesi yang awal. Keadaan mulut yang buruk, misalnya banyaknya gigi hilang
sebagai akibat gigi rusak atau trauma yang tidak dirawat, akan mengganggu
fungsi dan aktivitas rongga mulut sehingga akan mempengaruhi status gizi
serta akan mempunyai dampak pada kualitas hidup. Pada masa anak-anak,
kondisi tersebut akan mempunyai dampak pada tumbuh kembang dan
kesejahteraan anak serta secara signifikan akan berdampak pada kehidupan
mereka kelak (Sheiham, 2005; WHO,2007).

28
Indikator status kesehatan gigi untuk menilai karies dapat menggunakan
indeks dmft dan DMFT. Indeks pufa juga dapat menilai status karies karena
indeks ini digunakan untuk menilai karies yang sudah lanjut dan tidak
dirawat. indeks dmft dan DMFT merupakan indeks yang digunakan untuk
menilai kerusakan gigi pada seseorang baik berupa gigi berlubang, dicabut
dan ditumpat karena karies. Indeks ini masih dipakai untuk mengukur
prevalensi karies gigi karena mudah pengaplikasiannya, valid dan dapat
dipercaya (Sriyono, 2009).
B. Tujuan
1. Mahasiswa mampu menjelaskan dan melakukan pemeriksaan, anamnesa,
komunikasi efektif untuk mencari data akurat sebagai pedoman pengisian
rekam medik keluarga.
2. Mahasiswa mampu melakukan identifikasi factor resiko di bidang
kesehatan gigi dan mulut.
3. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksan klinis dengan metode berbasis
WHO
4. Mahasiswa bisa mengolah data hasil survey.
C. Tempat Pelaksanaan

Field Lab dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Pudak Payung 01 di


Jalan Perintis Kemerdekaan No. 159A, Pudak Payung, Banyumanik, Kota
Semarang, Jawa Tengah pada hari sabtu tanggal 20 Januari 2018 pukul 07:00
sampai dengan pukul 09:00.

29
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Penyuluhan adalah proses belajar secara non formal kepada sekelompok


masyarakat tertentu, dimana pada penyuluhan kesehatan gigi dan mulut
diharapkan terciptanya suatu pengertian yang baik mengenai kesehatan gigi dan
mulut. Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut adalah upaya-upaya yang dilakukan
untuk merubah perilaku seseorang, sekelompok orang atau masyarakat sehingga
mempunyai kemampuan dan kebiasaan untuk berperilaku hidup sehat di bidang
kesehatan gigi dan mulut.
Penekanan konsep penyuluhan kesehatan lebih pada upaya mengubah
perilaku sasaran agar berperilaku sehat terutama pada aspek kognitif (pengetahuan
dan pemahaman sasaran), sehingga pengetahuan sasaran penyuluhan telah sesuai
dengan yang diharapkan oleh penyuluh kesehatan maka penyuluhan berikutnya
akan dijalankan sesuai dengan program yang telah direncanakan.

Pasal 38 Undang-Undang RI No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan:


“Penyuluhan kesehatan masyarakat diselenggarakan guna meningkatkan

30
pengetahuan kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat untuk tetap hidup
sehat dan aktif berperan serta dalam upaya kesehatan”.
Adapun tujuan dari penyuluhan kesehatan gigi dan mulut adalah:
a. Meningkatkan pengetahuan kesehatan sasaran di bidang kesehatan gigi
dan mulut.
b. Membangkitkan kemauan dan membimbing masyarakat dan individu
untuk meningkatkan dan melestarikan kebiasaan pelihara diri di dalam
bidang kesehatan gigi dan mulut.
c. Mampu memelihara kesehatan gigi dan mulut baik sendiri maupun
kesehatan keluarga.
d. Mampu menjalankan upaya mencegah terjadinya penyakit gigi dan mulut
serta menjelaskan kepada keluarganya tentang pemeliharaan kesehatan
gigi dan mulut.
e. Mampu mengenal adanya kelainan dalam mulut sedini mungkin kemudian
mencari sarana pengobatan yang tepat dan benar.
Menurut Budiharto (1998), terdapat beberapa jenis penyuluhan kesehatan
gigi dan mulut namun yang paling sering digunakan adalah penyluhan kesehatan
gigi dan mulut dengan metode ceramah dan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut
dengan metode bermain. Yang tidak kalah pentingnya adalah lama waktu
penyuluhan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada anak usia sekolah dasar, biasanya
anak hanya bisa berkonsentrasi penuh dalam waktu sekitar 20 menit. Oleh karena
itu, untuk mencapai hasil yang optimal, penyampaian penyuluhan kesehatan gigi
pada anak ini hendaknya tidak melebihi waktu tersebut.
Salah satu manfaat penyuluhan kesehatan kesehatan gigi dan mulut yaitu
penambahan pengetahuan dan kemampuan seseorang melalui teknik praktik
belajar atau instruksi dengan tujuan mengubah atau mempengaruhi perilaku
manusia baik secara individu, kelompok maupun masyarakat untuk meningkatkan
kesadaran akan nilai kesehatan gigi dan mulutnya sehingga dengan sadar mau
mengubah perilakunya menjadi perilaku sehat.

31
Penyuluhan diharapkan dapat memberi manfaat yang berkesinambungan
dengan sasaran perubahan konsep sehat pada aspek pengetahuan, sikap dan
perilaku individu maupun masyarakat.

Metode Penyuluhan
Metode penyuluhan yang umum digunakan adalah metode didaktik (one way
method) dan metode sokratik (two way method). Pada metode didaktik pendidik
cenderung aktif sedangkan siswa sebagai sasaran pendidik tidak diberi
kesempatan mengemukakan pendapat. Ceramah merupakan salah satu metode
didaktik yang baik digunakan pada pendidikan kesehatan gigi dan mulut untuk
anak-anak sekolah dasar.
Metode sokratik dilakukan dengan komunikasi dua arah antara siswa dan
pendidik. Peserta didik diberikan kesempatan mengemukakan pendapat dan dua
orang atau lebih dengan latar belakang berbeda bekerja sama saling memberikan
keterangan dan ikut serta dalam menyatakan pendapat. Salah satu metode sokratik
yang tepat digunakan pada pendidikan kesehatan gigi dan mulut pada anak-anak
sekolah dasar adalah demonstrasi. Pada metode demonstrasi materi pendidikan
disajikan dengan memperlihatkan cara melakukan suatu tindakan atau prosedur.
Diberikan penerangan-penerangan secara lisan, gambar-gambar, dan ilustrasi.

Tujuan metode demonstrasi yaitu untuk mengajar seseorang atau siswa


bagaimana melakukan suatu tindakan atau memakai suatu produksi baru.
Keuntungannya dapat menjelaskan suatu prosedur secara visual, sehingga mudah
dimengerti dan siswa dapat mencoba pengetahuan yang diterimanya. Kerugian
pada metode ini diperlukan alat-alat dan biaya yang besar serta perencanaannya
memakan waktu yang lama.

Metode demonstrasi adalah suatu cara penyajian pengertian atau ide yang
dipersiapkan dengan teliti untuk memperlihatkan berbagaimana cara
melaksanakan suatu tindakan, adegan atau menggunakan suatu prosedur.

32
Demonstrasi adalah suatu cara menyajikan bahan pengajaran/penyuluhan
dengan cara mempertunjukkan secara langsung obyeknya atau cara melakukan
sesuatu atau mempertunjukkan suatu proses.

Pemakaian alat bantu dalam merubah perilaku anak merupakan hal yang
sangat penting. Alat bantu pendidikan adalah alat-alat yang dipakai oleh pendidik
di dalam menyampaikan bahan pendidikan. Alat bantu ini lebih sering disebut alat
peraga, karena berfungsi untuk membantu memperagakan sesuatu di dalam proses
pendidikan. Alat peraga ini disusun berdasarkan prinsip bahwa pengetahuan yang
ada pada setiap siswa dapaat diterima atau ditangkap melalui panca indera.

Alat bantu dalam pendidikan mempunyai peran dalam mempertinggi


kemampuan belajar, memperkuat daya ingat, memperbesar minat, dan
mempermudah penghayatan. Alat peraga langsung yang dianggap paling efektif
untuk anak-anak adalah model.

Masa usia anak adalah transisi dalam interaksi sosial dimana terjadi
perubahan figur tokoh (model) akan berpengaruh pada diri anak, dimana tokoh
ibu akan digantikan dengan tokoh guru. Untuk itu didalam penyuluhan kesehatan
gigi dan mulut perlu adanya kerja sama yang baik dengan guru.

Menurut Piaget, pola perkembangan anak dibagi menjadi 4 tahapan: stadium


Sensorimotorik (0-18 atau 24 bulan), Stadium Praoperasional (1-7 tahun),
Stadium operasional konkrit (7-11 tahun), Stadium operasional formal (11-15
tahun atau lebih).

Makin tinggi umur anak, tingkah lakunya makin terorganisasi dan


mempunyai tujuan-tujuan yang dikenal sebagai tingkah laku bermotif.
Selanjutnya Harlod menyatakan, ada beberapa teori tentang proses perubahan
perilaku antara lain: pengembangan serta penyebaran (research development and
dissemination), dan perubahan sikap (Attitude Change).
Pentingnya Kesehatan Gigi dan Mulut
Penyakit tentang kesehatan gigi dan mulut menduduki tingkat pertama dari
daftar 10 besar penyakit yang paling sering dikeluhkan oleh masyarakat di

33
Indonesia. Persepsi dan perilaku masyarakat Indonesia terhadap kesehatan gigi
dan mulut masih buruk. Ini terlihat dari masih besarnya angka karies gigi dan
penyakit mulut di Indonesia yang cenderung meningkat.
Sementara itu, di Indonesia ada dua penyakit mulut yang sering dialami
masyarakat yaitu karies gigi dan penyakit periodental, karies gigi adalah sebuah
penyakit infeksi yang merusak struktur gigi. Penyakit ini menyebabkan oleh gigi
berlubang. Jika tidak ditangani, penyakit ini dapat menyebabkan rasa nyeri,
penanggalan gigi, infeksi, dan berbagai kasus berbahaya bahkan mematikan.
Peran Seorang Guru untuk Membantu Meningkatkan Derajat Kesehatan
Gigi dan Mulut pada Anak Usia Dini
Membangun rasa kepercayaan Anak usia dini kepada dokter gigi sangatlah
penting. Sebagai ibu/ guru, haruslah mengetahui pertumbuhan gigi pada anak usia
dini, bagaimana cara pengendalian psikologi serta perilaku anak. Komunikasi
secara verbal dan non-verbal sangatlah penting untuk digunakan. Mereka juga
terlatih dalam pengelolaan perilaku farmakologis.
Sebagai seorang pendidik memegang peranan penting dalam pemberian
informasi baik kepada anak maupun wali murid tentang pemeliharaan gigi susu
dan dalam mencegah kerusakan gigi. Hal ini akan membantu dalam mencegah
atau mencegat kebiasaan yang tidak normal dan merencanakan koreksi yang
diperlukan untuk setiap ketidaknormalan yang mungkin mempengaruhi
pertumbuhan di masa depan.
Penelitian telah menunjukkan bahwa kesehatan mulut yang buruk pada anak
usia dini dapat menyebabkan gangguan kinerja sekolah dan hubungan sosial yang
buruk. Disaat seorang anak masih kecil, fokus dari para guru/ pendidik untuk
anakanak meliputi:
1. Penjagaan kesehatan mulut sejak dini,
2. menekankan cara menyikat gigi yang benar, floss, dan pentingnya fluoride
terutama untuk anak usia dini,
3. Menanamkan kebiasaan makan yang sehat, seperti bayi seharusnya tidak
diperbolehkan untuk tertidur dengan botol minum didalam mulut mereka
dan lainlain

34
4. Biasanya para guru/ pendidik akan mengadakan sebuah promosi kesehatan
pada ibu-ibu hamil atau para ibu yang memiliki anak usia balita. Apabila
gigi primer (gigi susu) dipelihara dengan baik maka gizi yang baik,
perkembangan bicara dan ruang untuk pertumbuhan gigi permanen akan
berjalan lancar. Peran guru/ dokter gigi bagi anak usia dini berubah ketika
anak-anak memasuki masa remaja.

BAB
III

HASIL KEGIATAN

35
A. Profil SD Negeri 01 Pudakpayung
SDN Pudak Payung 01 merupakan sekolah SD Negeri yang terletak di
Provinsi Jawa Tengah Kota Semarang beralamat di Jl. Perintis Kemerdekaan
159 A Pudak Payung Banyumanik.
SDN Pudak Payung 01 memang belum terakreditasi namun sudah
memiliki 12 ruang kelas, 1 perpustakaan dan 1 ruang sanitasi untuk siswa
yang sudah cukup baik dan layak. Sekolah Dasar yang berdiri pada tahun
1985 ini memiliki luas tanah seluas 2212 dan sumber listrik 6300W. Sekolah
Dasar ini ini dipimpim oleh seorang kepala sekolah bernama Rowiyanto, Spd
menggunakan kurikulum 2013. Adapun data lengkap dari SDN Pudak Payung
di bawah ini.

B. Alur

Kegiatan
1 Perencanaan

36
Langkah awal dilakukan pertemuan antara perwakilan FKG Unimus
dengan kepala sekolah SDN 01 Pudak Payung, setelah itu dilakukan
perencanaan kegiatan penyuluhan dan screening. Kegiatan screening
DMF-T bertujuan untuk mengetahui skor kesehatan gigi dan mulut yang
ada pada suatu komunitas, dalam hal ini pada siswa dan siswi sekolah
dasar kelas 5A, 5B, 6A, dan 6B. Pada tahap perencanaan ini dari 12
mahasiswa dibagi kedalam dua kelompok yang masing-masing enam
orang, setelah dibagi kemudian dilakukan pembagian kelas yaitu kelas 5B
dan kelas 6B. Setelah dilakukan pembagian kemudian mahasiswa
melakukan penyuluhan gigi dan mulut terhadap siswa dan siswi setelah itu
dilakukan screening DMF-T.
2 Pelaksanaan
Kegiatan penyuluhan dan screening DMF-T dilakukan pada tanggal
20 januari 2017, penyuluhan dan screening dimulai pada pukul 07.00 WIB
pada siswa dan siswi kelas 5A, 5B, 6A, dan 6B. Pada saat dilokasi
mahasiswa diberikan pengarahan mengenai kegiatan yang akan dilakukan,
pengarahan dilakukan oleh trainer sebelum memulai penyuluhan dan
screening. Setelah dilakukan pengarahan kemudian mahasiswa masuk
kedalam kelas yang sudah di plot-kan sebelumnya, setelah itu kegiatan
dimulai dari penyuluhan gigi dan mulut. Kegiatan penyuluhan meliputi
pemberian pre-test mengenai gigi dan mulut pada siswa dan siswi untuk
menilai pengetahuan siswa dan siswi tentang kesehatan gigi dan mulut
sebelum dilakukan penyuluhan, penyuluhan yang dilakukan dengan
menggunakan poster dan demonstrasi. Poster digunakan untuk
memberikan informasi tentang gigi dan mulut kepada siswa dan siswi
dengan menggunakan gambar yang berisi informasi yang bermanfaat.
Demonstrasi dilakukan dengan menggunakan alat peraga yang telah
disiapkan sebelumnya, demonstrasi yang dilakukan meliputi demonstrasi
cara menggosok gigi dan mulut yang baik dan benar.
Setelah dilakukan penyuluhan langkah selanjutnya dilakukan
screening DMF-T pada siswa dan siswi kelas 5B dan 6B, screening
dilakukan untuk memeriksa gigi yang karies, gigi yang hilang, dan gigi

37
yang telah ditambal. Kegiatan screening berjalan sesuai dengan rencana,
siswa dan siswi sangat antusias dengan kegiatan screening yang dilakukan,
setelah dilakukan penyuluhan dan screening kemudian siswa dan siswi
diberikan post-test untuk menilai pengetahuan siswa dan siswi setelah
dilakukan penyuluhan dan screening. Kegiatan penyuluhan dan screening
selesai pada pukul 09.00 WIB bertepatan dengan waktu istirahat SDN 01
Pudak Payung.
C. Hasil Kegiatan

Prioritas Faktor Penyebab Karies Menurut Metode MCUA di SD Negeri


01 Pudakpayung Semarang
Skore (1-5) Karies
Kejadian Kebiasaan
Tingkat Pembersihan
No Kriteria Bobot
Pengetahuan

1 Besar Masalah 4 4x5 4x5


2 Kegawatan 3 3x5 3x4
3 2 2x3 2x3
Kemudahan
4 1 1x3 1x2
Ketersediaan
sarana/teknologi

Jumlah 44 40
Rangking I II

Berdasarkan tabel diatas faktor risiko kejadian karies yang


diprioritaskan dalam penanggulangan adalah meningkatkan tingkat
pengetahuan anak dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut sebagai
prioritas utama dan dilanjutkan dengan merubah kebiasaan anak-anak
dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut.

Masalah Necessary Cause Sufficient Cause

Tingkat Pengetahuan Tidak ada penyuluhan kurangnya komunikasi


kesgilut interpersonal dari petugas
kesehatan

38
Kebiasaan Pola asuh orang tua Ibu pekerja
pembersihan Anak diasuh oleh
pengasuh

Analisis SWOT Faktor Penyebab Karies Menurut Metode MCUA di


Posyandu Kodam IV/ Diponegoro Pudakpayung Semarang.

Strength factor Weakness factor


Parameter SWOT - motivasi guru dan - rekrutment guru dan
murid cukup tinggi staf yang terkadang
- hubungan yang baik tidak sesuai dengan
antara guru dengan kebutuhan
guru ataupun dengan - pembiayaan orang tua
siswa, sehingga siswa dalam
sanagat kondusif pembayaran anggaran
untuk pembelajaran sulit
- kualitas siswa yang - belum bisa
positif memfasilitasi sarana
- adanya penerimaan dan prasarana yang
siswa baru dengan mendukung
cara test , sehingga pembelajaran
hanya mendapatkan
siswa sesuai kriteria
- terdapat tempat
cuci tangan di
beberapa tempat

Opportunity factor - dukungan - meningkatkan


pemerintah pengetahuan anak
- adanya UKGS tentang kesehatan
- terdapat tempat gigi dan mulut
cuci tangan di dengan cara
beberapa tempat penyuluhan yang
menggunakan
metode yang menarik

Treath factor - jauh dari


perkotaan

39
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pengetahuan, sikap dan perilaku anak usia 11-12 tahun masih
dipengaruhi dari orang tuanya, namun memasuki usia tersebut anak-anak
sudah dapat diberikan penyuluhan tentang kesehatan gigi dan mulut.

40
Screening DMFT bertujuan untuk keadaan rongga mulut. Sebagian besar
siswa tersebut mengalami Decay pada gigi desiduinya. Dengan diberikannya
penyuluhan siswa dapat memberi pengetahuan tentang pentingnya kebersihan
ggi dan mulut serta merubah kebersihan gigi dan mulutnya.
B. Saran

Kegiatan yang dilakukan pada 20 januari 2018 direspon baik oleh pihak
sekolah serta siswa dan siswi, siswa dan siswi sangat antusias dan
menyambut baik kegiatan yang dilakukan. Banyak siswa yang tadinya kurang
tahu akan kesehatan gigi dan mulut sekarang menjadi lebih tahu dan lebih
mau menjaga kesehatan gigi dan mulutnya, ini merupakan respon yang positif
dari siswa dan siswi. Dari pihak penyusun laporan mngharapkan kegiatan
penyuluhan dan screening DMF-T pada sekolah dasar dilakukan secara rutin,
selain memberikan efek positif pada siswa dan siswi penyuluhan dan
screening DMF-T juga sangat berguna untuk pihak penyuluh karena dari
kegiatan tersebut didapatkan banyak relasi dan calon pasien pada saat
pendidikan profesi nanti.

DAFTAR PUSTAKA

Indonesia. Depkes RI. 1996. Pedoman Pelaksanaan Usaha Kesehatan Gigi Dan
Mulut Di Sekolah, Jakarta: Depkes RI.

Matsson, L., 2001, Periodontal Conditions in Children and Adolescent.,


Munksgaard: Copenhagen

41
Nelson, 1995. Ilmu Kesehatan Anak. Buku Kuliah 2, Buku Kedokteran. Jakarta.
Hal. 375-382

Newmann, M.G., Takei, H.H., Klokkevoid P.R., Carranza, F.A., (ed): Clinical
Periodontolgy, 10 th ed, Saunders Company, Philadelphia.

Paramita, Pradnya. 2000. Memahami Pertumbuhan dan Kelainan Gizi Anak.


Trubus Agriwidya. Anggota IKAPI. Hal. 1 – 42

Sriyono, Niken Widiyanti., 2009, Ilmu Kedokteran Pencegahan, Yogyakarta:


Medika FK UGM.

Tarigan, Rasinta, 1993. Kesehatan Gigi dan Mulut. Edisi Revisi, Penerbit Buku
Kedokteran. Jakarta.

42
LAMPIRAN

Kelas 5B

Pasien Decay Missing Filling DMF-T


Salva nur rahmadani 2 0 0 2
Muhammad Amirudin Valentino 5 2 0 7
Naufal Agung H 0 0 0 0
Rifqi Ilham Ardiansyah 0 1 0 1
Azka Nuraeni 0 0 0 0
Rafael Agus A. S. 2 0 0 2
Auzan Thoria 4 0 0 4
Rehza Ayap 2 0 0 2
Shanvico Vittodio Odinvao 14 0 0 14
Muhamad Rifqi Nakula 3 0 0 3
Adhitya Putra Ramadani 0 0 0 0
Muhamad Rasya Hafiz Saputra 1 0 0 1
Rumpaka Rainazal Jatmiko 2 0 0 2
M Fovel Maulana 2 0 0 2
Arya Rizky Riswanto 2 1 0 3
Bagas Budi U. 0 2 0 2
Arya Diva Ananta 3 1 0 4
Riski Arga S. 3 0 0 3
Risma Wahyu Putra Setiawan 2 4 0 6
Amelya Nandyn P. 2 0 0 2
Nadia Puspita S. 3 4 0 7
Denanda Anggun Lorenza 1 0 0 1
Zulfaa dwi rahmawati 3 0 0 3
Fahmi Husain Ubaid 0 0 0 0
Gading Prabowo 1 1 0 2
Adelia Puspita S. 4 0 0 4
Riski Laura Putri 10 1 0 11
Naza Putri Azzahra 4 0 0 4
Indi Julia Sari 8 1 0 9
Bunga Citra Anggraeni 6 5 0 11
Ellyna Mifianti Putri 1 0 0 1
Tiara Putri 0 0 0 0
Rani Tazkia Ikhsan 0 1 0 1
Nurul Fitri Handayani 6 5 0 11
Ikfa Ain Azizah 1 0 1 2
Zulfaa Restu Putri 0 0 0 0

43
Salsa Dazanita Rizki 0 2 0 2

Kelas 6B

Pasien Decay Missing Filling DMF-T Umur


Alma 0 1 0 1 12
Neni 3 1 0 4 12
Putri 0 4 0 4 12
Tiara 0 0 0 0 12
Jois 0 0 0 0 12
Sabrina Nindy 0 0 0 0 12
Talita 0 0 0 0 12
Oldilia 0 0 0 0 12
Aqila 0 0 0 0 12
Hendra 0 0 0 0 12
Noval 4 0 0 4 12
Tegar 3 1 0 4 12
Luthfy 1 1 0 2 12
Yuzza 1 0 0 1 12
Berliana 3 3 0 6 11
Nana 2 0 0 2 12
Ilham 1 0 0 1 12
Febri 7 0 0 7 12

Danil Cahya Nugraha 3 1 0 4 12


Ayala Nurkhaqo 2 1 0 3 11
Arya Putra 5 0 0 5 13
Abiem Dwiky Z 0 0 0 0 12
Alfin Pratama 1 0 0 1 12
Fadil Yogi R 2 0 0 2 12
Rafli AV 0 0 0 0 12
M. Rifky Sadewa 0 0 0 0 11
Rosti Alrimawati 2 0 0 2 12
Salma Anandia Rahma 2 0 0 2 12
Nazwa 0 0 0 0 12
Hasna 0 0 0 0 12
Reffa Lina Putri 0 0 0 0 12
Nadia Yanup 0 0 0 0 14
Heny Mulyaningsih 0 0 0 0 12
Lanadhea Cantika L 0 0 0 0 11
Dini 1 0 0 1 12

44
Fina 0 0 0 0 12
Azhira Naura 0 0 0 0 12

Dokumentasi Kegiatan

45
46