Anda di halaman 1dari 8

BOREHOLE ENVIRONMENT

Dalam kegiatan pemboran, akan digunakan suatu lumpur pemboran khusus


(mud filtrate) yang digunakan dan diinjeksikan selama pemboran berlangsung.
Lumpur pemboran ini memiliki berbagai fungsi, yaitu guna memindahkan cutting,
melicinkan dan mendinginkan mata bor, dan menjaga tekanan antara bor dan
formasi batuan. Densitas lumpur tersebut dijaga agar tetap tinggi supaya tekanan
pada kolom lumpur selalu lebih besar daripada tekanan formasi. Perbedaan tekanan
ini menyebabkan terdorongnya sebagian lumpur untuk merembes ke dalam formasi
batuan. Rembesan fluida lumpur tersebut kemudian mengakibatkan adanya tiga
zona di sekitar lubang pemboran yang mempengaruhi pengukuran log, khususnya
pengukuran log yang berdasarkan prinsip kelistrikan (log SP, dan log Resistivitas).
Tiga zona tersebut, yaitu :

1. Zona Terinvasi (Flushed Zone); zona yang umumnya diasumsikan bahwa


air formasi telah tergantikan seluruhnya oleh mud filtrate.
2. Zona Transisi (Transition Zone); zona yang mengandung sebagian air
formasi dan sebagian hidrokarbon yang tergantikan mud filtrate.
3. Zona Jauh/Tidak Terinvasi (Undisturbed Zone); zona yang tidak
terpengaruh oleh mud filtrate.

Zona terinvasi memiliki diameter df, ketebalan sekitar 6 inch, dan


mengandung mud filtrate dengan nilai resistivitas Rmf, serta mengandung residual
hydrocarbon dengan nilai resistivitas Rxo. Sedangkan zona transisi dengan
diameter dj dan rentang beberapa kaki. Untuk zona jauh memiliki resistivitas
air Rw, resistivitas formasi Rt, dan nilai saturasi air Sw.

ANALISA KUALITATIF LOG SUMUR PEMBORAN

Analisa data log sumur pemboran dapat dilakukan secara kualitatif maupun
kuantitatif. Secara kualitatif, praktisnya adalah dengan menganalisa karakteristik
grafik data log, untuk langkah awal identifikasi dan zonasi reservoar hidrokarbon.
Sedangkan analisa secara kuantitatif, yaitu dengan perhitungan menggunakan
persamaan-persamaan tertentu, untuk identifikasi tahap lanjut terhadap tingkat
porositas, permeabilitas batuan reservoar, dan saturasi air. Di dalam industri jasa
survey eksplorasi Minyak dan Gas Bumi, terdapat berbagai macam jenis
pengukuran log sesuai dengan prinsip kerja dan fungsinya. Namun, dari bermacam
pengukuran log yang tersedia, terdapat jenis pengukuran log yang utama, yaitu;
Log Gamma Ray, Log Spontaneous Potential, Log Resistivitas, Log Densitas, Log
Neutron, Log Sonik, dan Log Kaliper.

1. Log Gamma Ray

Dalam analisa kualitatif, log Gamma Ray (GR Log) dapat digunakan untuk
identifikasi dan korelasi litologi serta estimasi tingkat kelempungan, karena prinsip
kerjanya yang mengukur tingkat radioaktivitas alami (sinar gamma) dari unsur-
unsur tertentu pada mineral mika, glaukonit, dan potasium feldspar, yang umum
ditemukan pada batu serpih (shale) dan lempung (clay). Secara umum
(konvensional), kegiatan eksplorasi dilakukan untuk mencari hidrokarbon pada
batuan reservoar yang memiliki porositas dan permeabilitas yang baik, yaitu
batupasir dan batugamping. Karena karakteristik batu serpih dan lempung yang
memiliki porositas dan permeabilitas yang kecil (kemudian dianggap sebagai
batuan non-reservoar), dan bersifat “menyerpih” dalam suatu tubuh batuan, maka
dengan analisa log Gamma Ray ini dapat dilakukan identifikasi litologi,
membedakan zona reservoar dengan zona non-reservoar.

Batupasir dan batugamping yang clean (bebas kandungan serpih), pada


umumnya akan memiliki kandungan material radioaktif yang rendah, sehingga
akan menghasilkan pembacaan nilai GR yang rendah pula. Seiring dengan
bertambahnya kandungan serpih dalam batuan, maka kandungan material radioaktif
akan bertambah dan pembacaan nilai GR akan meningkat. Teknik interpretasinya,
secara sederhana yaitu dengan membuat suatu garis batas (cut off) antara shale base
line (yang menyatakan nilai GR tertinggi) dengan sand base line (yang menyatakan
nilai GR terendah). Sehingga diperoleh zona di sebelah kiri cut off sebagai zona
reservoar, dan zona non-reservoar di sebelah kanan garis cut off.Pengukuran log
Gamma Ray memiliki kelemahan, terutama apabila terdapat batuan selain serpih
dan lempung yang memiliki radioaktivitas alami tinggi, seperti tuff. Sehingga
identifikasi litologi umumnya diperkuat dengan pengukuran Spectral Gamma Ray,
yang mampu mengetahui sumber radiasi.
2. Log Spontaneous Potential
Dari prinsip kerjanya, log SP ini dapat digunakan untuk identifikasi
batuan permeable, identifikasi lapisan serpih (non-reservoar) dan non-serpih
(reservoar), membantu korelasi litologi, dan menghitung nilai salinitas fluida
formasi (Rw). Pengukurannya berdasarkan adanya beda potensial karena perbedaan
salinitas antara lumpur pemboran (Rmf) dengan fluida formasi (Rw), dimana pada
dasarnya nilai salinitas berbanding terbalik dengan resistivitas. Dalam
interpretasinya, apabila data log SP menunjukkan kurva lurus (tidak ada perubahan
nilai) maka mengindikasikan salinitas fluida formasi sama dengan salinitas lumpur
pemboran, atau dapat juga sebagai indikasi lapisan batuan yang pejal (tight)
atau impermeable. Sedangkan apabila terdapat defleksi grafik/perubahan nilai log
SP, maka menunjukkan adanya perbedaan salinitas, adanya lapisan
batuan permeable, dan dapat diasumsikan sebagai reservoar. Dan apabila
lapisan permable tersebut mengandung saline water maka nilai Rw << Rmf, dan
akan terjadi perubahan nilai SP yang negatif, sedangkan lapisan yang
mengandung fresh water memiliki nilai Rw >> Rmf, mengakibatkan perubahan
nilai SP positif.

3. Log Resistivitas

Log Resistivitas dapat digunakan untuk membedakan lapisan reservoar dan


non-reservoar, identifikasi jenis fluida (air formasi dan hidrokarbon) dan batas
kontak fluidanya, menghitung nilai resistivitas air formasi dan salinitas air
formasi.Terdapat dua macam pengukuran log resistivitas, yaitu Lateral Log;
meliputi Lateralog Deep (LLD), Lateralog Shallow (LLS), Micro Spherically
Focused Log (MSFL), dan Induction Log; yang meliputi Inductionlog
Deep (ILD), Inductionlog Shallow (ILS), Micro Spherically Focused (MFS).
Mengacu dari adanya perbedaan zona di sekitar dinding lubang pemboran, zona
terinvasi dapat terindikasi dari rekaman log MSFL atau SFL. Sedangkan untuk zona
transisi dapat terindikasi dari rekaman log LLS atau ILM. Untuk zona jauh dapat
terbaca dari log LLD atau ILD.

Dalam teknik interpretasinya, analisa log resistivitas, utamanya adalah


untuk mengetahui indikasi batuan yang porous dan permeable yang mengandung
fluida hidrokarbon atau air. Nilai-nilai LLD/ILD, LLS/ILS, dan MSFL umumnya
ditampilkan pada satu kolom grafik, dab berdasarkan karakteristik grafiknya,
indikasi hidrokarbon ditunjukkan oleh adanya perubahan nilai/defleksi grafik
LLD/ILD yang relatif berada di kanan terhadap defleksi grafik LLS/ILM dan
MSFL. Sedangkan defleksi grafik LLD yang relatif lebih negatif terhadap LLS/ILM
dan MSFL akan mengindikasikan adanya kandungan fluida air. Namun apabila
ketiga grafik tersebut menunjukkan grafik yang saling berhimpit tanpa adanya
separasi yang jelas maka dapat mengindikasikan suatu zona
yang impermeable atau tight.

4. Log Densitas

Log Densitas dapat digunakan untuk perhitungan densitas, perhitungan porositas,


dan identifikasi kandungan fluida. Dengan memanfaatkan pancaran sinar gamma
dan prinsip Hamburan Compton, prinsip kerjanya yaitu dengan mengukur
densitas bulk batuan, yang merupakan fungsi dari densitas elektron dalam batuan.
Secara teori, batuan berpori (umumnya berupa batupasir atau batugamping) akan
memiliki kandungan elektron yang lebih sedikit dibandingkan dengan batuan pejal
(tight). Untuk batupasir (densitas ρ = 2,65 gr/cc) dan batugamping (ρ = 2,71 gr/cc)
yang mengandung fluida gas akan memiliki densitas bulk yang tinggi. Sedangkan
serpih akan memiliki nilai densitas bulk yang sangat tinggi apabila memiliki
kandungan air terikat (clay-bound water).

Interpretasi log Densitas dilakukan dengan mengamati karakteristik grafik yang


akan mengalami defleksi ke nilai yang lebih rendah apabila melalui suatu yang
mengandung fluida berupa gas, sedangkan akan mengalami defleksi ke arah nilai
yang lebih tinggi apabila melalui suatu yang mengandung fluida air maupun fluida
minyak.

5. Log Neutron

Log Neutron dapat digunakan untuk perhitungan porositas batuan, evaluasi


litologi, dan deteksi keberadaan gas. Prinsipnya adalah dengan mengukur
persentase pori batuan dari intensitas atom hidrogen di dalamnya, yang diasumsikan
bahwa hidrogen tersebut akan berupa hidrokarbon maupun air. Hasil pengukuran
log Neutron kemudian dinyatakan dalam Porosity Unit (PU).

Pada formasi yang mengandung minyak dan air, dimana kandungan


hidrogennya tinggi maka menyebabkan nilai Porosity Unit juga tinggi. Sedangkan
pada formasi yang mengandung gas yang memiliki kandungan hidrogen yang
rendah menyebabkan nilai PU yang rendah pula. Rendahnya nilai PU karena
kehadiran gas kemudian disebut dengan gas effect. Suatu grafik log Neutron akan
menunjukkan defleksi ke arah nilai yang lebih tinggi (ke arah kiri) apabila melalui
suatu zona berporositas tinggi, dan sebaliknya, grafik akan mengalami defleksi ke
kanan apabila melalui zona berporositas rendah.

Log Neutron, umumnya tidak terlepas dari log Densitas, karena kedua log
tersebut memiliki korelasi dalam menentukan jenis fluida yang terindikasi, antara
gas, minyak, dan air, serta batas kontak antar fluida tersebut. Grafik log Neutron
dan log Densitas biasanya ditampilkan pada satu kolom, dan berdasarkan
karakteristik grafik keduanya, apabila terdapat suatu cross-over dengan jarak
separasi yang besar maka merupakan indikasi dari adanya gas. Sedangkan apabila
jarak separasinya sempit dapat mengindikasikan adanya minyak, lebih sempit lagi
menunjukkan adanya fluida air.
Drill Steam Test (DST)

DST ( Drill Steam Test ) yaitu salah satu cara formation testing untuk
membuktikan adanya hydrocarbon dalam formasi. DST menyediakan
data besarnya reservoir dan kemampuan produksi suatu sumur.

Drillstem test atau sering disebut DST merupakan suatu prosedur mengenai
produktivitas formasi dimana memisahkan dan menguji dari permeabilitas,
tekanan, dan kemampuan produksi dari formasi geologi selama proses pemboran
berlangsung. DST membutuhkan waktu yang singkat agar dapat diketahui dampak
dari fluida pemboran yang mempengaruhi formasi. Uji DST sangat penting untuk
mengukur tekanan pada drill stem dan sangat beguna untuk mendapatkan informasi
mengenai fluida formasi. Selain itu,DST juga berfungsi sebagai penentuan
kandungan reservoir hidrokarbon, serta karakteristik dari reservoir tersebut seperti
permeabilitas, demage ratio dan faktor skin. Uji DST ini sangat membantu
para geologist dalam mengetahui kondisi sebuah formasi batuan yang sangat
menunjang pekerjaan pada geologi minyak bumi dan gas (geomigas).
Cara melakukan uji DST yaitu dengan menghentikan pemboran dan kemudian
memproduksikan fluida formasi melalui pipa bor. Uji DST ini biasanya dilakukan
dengan dua periode. Periode pertama berupa pengaliran dimana terdiri dari uji alir
pertama dan kedua. Sedangkan periode kedua yaitu dua kali penutupan (tutup
pertama dan kedua). Analisa pressure build up metode Horner pada kedua
penutupan sumur dapat dipakai sehingga mendapatkan besaran produktivitas dan
karakteristik formasi. Untuk pengembangan lebih lanjut, dibutuhkan interpretasi
dini dari karakterisasi reservoir.
Data hasil DST dapat berupa tekanan formasi baik itu yang statis maupun
yang flowing, Short-term pressure transient test, indikasi tentang flow rates, dan
contoh cairan formasi. Sedangkan hasil analisanya berupa analisis well bore
demage dengan sifat-sifat formasi, analisis kandungan produksi yang berpotensial
melalui jenis cairan dan flow rates, analisis stimulation dan jeniscompletion yang
disarankan. Pada permeabilitas rendah atau formasi yang memiliki tekanan rendah,
suface produksi tidak akan tercapai tetapi volume dan flow rate dari fluida masih
dapat dianalisis bersamaan dengan drill stem.

Bagian-bagian DST
Analisa DST Secara Kualitatif
Dalam menganalisa secara kualitatif, perlu diperhatikan tekanan sebagai
fungsi dari waktu yangbiasanya direkam pada pelat metal. Berikut beberapa hal
yang dapat dianalisa secara kualitatif dari rekaman pelat metal tersebut:
1. Karakteristik dari reservoir yang diuji berhubungan dengan kandungan fluida
reservoir.
2. Kejadian mekanis yang terjadi di dalam sumur.
3. Tindak lanjut untuk DSTsecara kuantitatif.

Untuk memeriksa hasil rekaman DST perlu dilakukan beberapa


langkah berikut:
1. Pressure base line harus lurus dan jelas.
2. Perbandingan dari initial hydrostatic pressure dengan final hydrostatic
pressure harus sama besar. Hal ini harus sesuai dengan berat jenis lumpur yang
digunakan serta kedalamannya.
3. Rekaman kurva periode aliran dan penutupan harus terekam dengan baik dan
bergusi sebgai kurva yang menerus (smooth).
Analisa DST Secara Kuantitatif
Analisa DST secara kuantitatif menggunakan metode Horner periode tutup
pertama dan kedua sehingga berfungsi untuk menentukan karakteristik reservoir.
Karakter reservoir yaitu: demage ratio, permeabilitas lapisan (k), dan faktor skin.
Kegiatan pengujian DST direkam di dalam recorder, yang berisi grafik
tekanan terhadap waktu (Pressure vs Time Plot). Hal ini bertujuan untuk
mengetahui shut-in atau static pressure pada pada reservoir yang diuji. Pertama
yang dilakukan adalah membuka katup DST (flowingperiod) kemudian menutup
katup kembali. Hal ini menyebabkan tekanan naik mengarah ke tekanan statis
reservoir. Tekanan ini dapat terjadi atau mungkin tidak, tergantung berdasarkan
pada sifat reservoir dan lamanyashut-in periodnya. Kemudian pembukaan kedua
(second flowing period) disertai penutupan yang kedua dipakai yang berfungsi
untuk menghitung produksi fluida serta reservoir parameter. Setelah terjadi flowing
yang kedua, dan shut-in yang kedua, tekanan akan naik menuju tekanan statis.
Tekanan ini biasanya lebih rendah dari tekanan statis reservoir.

Penerapan Drill Stem Testing: Cased Hole


Dilakukan setelah sumur diselubungi, kegunaan dari cased hole drill stem
testing adalah untuk memperbaiki packer produksi. Kemudian sumur diuji flownya
melalui perforasi pada selubung. Ada dua jenis dalam cased hole testing,
yaitu: pressure operated dan mechanically operated.

Open Hole
Open hole drill stem testing merupakan pengujian yang paling ekonomis
yang digunakan untuk mendeterminasi kapasitas produktif, tekanan, permeabilitas,
atau tingkatan minyak dan gas reservoir karena pengujian ini dilakukan sebelum
proses penyelubungan. Peralatan untuk menguji, dijalakan di dalam sumur, dan
zona yang di kehendaki terpisahkan menggunakan inflate ataucompression-set
packers, berdasarkan kebutuhan dan kondisi pemboran.

Prosedur
Selama normal pemboran sumur, pemboran mud dimasukan ke dalam drill
stem dan keluar melalui drill bit. Dalam DST, drill bit dilepaskan dan diganti
dengan alat DST dan alat meningkat ke bagian atas, dan bawah saat sedang diuji.
Alat ini dikenal sebagai packers dan dipakai untuk menyekat antara dinding lubang
bore dan pipa bor, memisahkan daerah yang diinginkan. Katup terbuka, mengurangi
tekanan pada drill stem hingga ke terkanan permukaan, menyebabkan fluida
mengalir ke luar dari fomarsi packed-off dan atas permukaan.

Prosedur Alternatif
Berdasarkan objektif pengujian dan cakupan kerja, DST memungkinkan
untuk digunakan dalam beberapa kombinasi dari eksplorasi dan proses
penyelesaian seperti fluid loss control dan well control, pengujian closed chamber,
stimulasi sumur, dan kombinasi antara DST dan TCP.

Teknik Closed Chamber DST.


Teknik closed chamber DST objek dari fluida yang masuk ke dalam drill
pipe pada saat initial flowing period, bisa berupa gas, minyak atau air. Teknik ini
memiliki fungsi untuk memperkirakan berapa produksinya. Teknik closed chamber
DST menggunakan peralatan DSF dan peralatan permukaan yang biasa tetapi
dipakai alat untuk menutup drill pipe, agar terdapat shut-in pressure, dan alat
pengukur tekanan.

Gambar Closed Chamber


Test Wellbore Configuration