Anda di halaman 1dari 15

Formulasi Sediaan Krim Tipe M/A Menggunakan Basis

Vanishing Cream dengan Variasi Konsentrasi Fase Air

Ekstrak Ikan Gabus (Channa Striata)

Naskah Publikasi

Oleh :

Sri Wulandari

Nim. I1022131013

Program Studi Farmasi

Fakultas Kedokteran

Universitas Tanjungpura

Pontianak

2017

1
Formulasi Sediaan Krim Tipe M/A Menggunakan Basis Vanishing Cream Dengan Variasi

Konsentrasi Fase Air Ekstrak Ikan Gabus (Channastriata)

wintari Taurina, mohamad Andrie, sri Wulandari*

Program Studi Farmasi Fakultas kedokteran, Universitas Tanjungpura,

Jl. Prof. Dr. H. Hadari Nawawi 78124

E-mail : ndari1995@gmail.com

Abstrak : Fase air ekstrak ikan gabus (Channa striata) mengandung albumin yang telah terbukti

efektif mempercepat penyembuhan luka. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah sediaan

krim dengan berbagai variasi konsentrasi fase air ekstrak ikan gabus dapat memenuhi kriteria

stabilitas fisik dan kimia yang baik, serta mengetahui formula dengan stabilitas fisik dan kimia

yang paling optimal. Fase air ekstrak ikan gabus diformulasikan dalam bentuk sediaan krim tipe

M/A menggunakan basis vanishing cream dengan konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40% dan 50%.

Evaluasi sifat fisik dan kimia meliputi organoleptis, homogenitas, tipe krim, daya sebar, daya

lekat dan pH, serta dilanjutkan uji stabilitas fisik dan kimia selama 28 hari pada suhu kamar.

Analisis data menggunakan program SPSS 20 for windows dengan One Way ANOVA dan

dilanjutkan uji LSD taraf kepercayaan 95%. Hasil evaluasi sediaan krim menunjukkan semua

formula memiliki stabilitas fisik dan kimia yang baik, serta konsentrasi ekstrak 30% pada

formula III menghasilkan stabilitas fisik dan kimia yang paling optimal yaitu menunjukkan

organoleptis dan homogenitas baik, daya sebar rata-rata sebesar 45,39 ± 12,50 cm2, daya lekat

rata-rata sebesar 285,28 ± 36,04 detik dan pH rata-rata sebesar 6,23 ± 12,48.

Kata Kunci : Fase air ekstrak ikan gabus, albumin, vanishing cream, stabilitas fisik-kimia

2
Abstrack : Water phase of snakehead extract (Channa striata) contains albumin which has been

proven effective accelerate wound healing. The present study was to determine whether the

cream preparations with various concentrations of water phase extract of snakehead can meet the

criteria of good physical and chemical stability, and know the formula with the most optimal

physical and chemical stability. The water phase of snakehead extract is formulated in M/A type

cream preparation using a vanishing cream base with concentrations of 10%, 20%, 30%, 40%

and 50%. Evaluation of physical and chemical properties include organoleptic testing,

homogeneity, cream type, spreadabillity, adhesive force, pH and continued physical and

chemical stability test of cream preparation for 28 days at room temperature. Data was analysis

using SPSS 20 for windows program with One Way ANOVA and continued LSD test with 95%

confidence level. The results of cream preparation showed that all formulas have good physical

and chemical stability, and the concentration of 30% extract in formula III resulted in the most

optimal physical and chemical stability, with the spreadabillity was 45,39 ± 12,50 cm 2, the

adhesive force was 285,28 ± 36,04 seconds and pH of 6,23 ± 12,48.

Keywords: Water phase of snakehead extract, albumin, vanishing cream, physical-chemical

stability

Pendahuluan

Luka merupakan cedera fisik yang mengakibatkan robekan dan kerusakan jaringan kulit

(Sabale et al., 2012). Prinsip dasar penyembuhan luka yang optimal untuk meminimalkan

kerusakan jaringan yaitu pemberian nutrisi yang tepat dengan kondisi lingkungan penyembuhan

luka yang lembab untuk mengembalikan kontinuitas anatomi dan fungsi jaringan yang rusak

dalam waktu yang singkat (Gadheker et al., 2012). Kondisi ini mendorong untuk dilakukannya

pengembangan penelitian mengenai bahan alam yang berpotensi sebagai obat luka. Salah

3
satunya adalah ikan gabus (Channa striata). Saat ini ekstrak ikan gabus digunakan di dalam

dunia kedokteran sebagai penyembuh luka pasca operasi dan luka bakar (Saleh et al., 1985).

Pengaplikasian sediaan topikal berguna untuk mempercepat pembentukan kembali

jaringan epitel dalam penyembuhan luka dengan manfaat pembersihan luka secara cepat,

sehingga meminimalkan bekas luka (Joenoes, 2006). Krim tipe M/A lebih disukai, karena

mudah dicuci dan tidak membekas. Selain itu, krim tipe ini juga memiliki kadar air yang tinggi

sehingga memberikan efek hidrasi pada kulit (Kuswahyuning et al., 2008). Efek hidrasi ini

dapat meningkatkan permeabilitas kulit sehingga akan meningkatkan penetrasi obat (Keilhorn et

al., 2006). Oleh karena itu, dilakukan formulasi sediaan krim fase air ekstrak ikan gabus dengan

variasi konsentrasi fase air ekstrak ikan gabus yang diharapkan dapat menghasilkan krim dengan

stabilitas fisik dan kimia yang baik dan optimal.

Metodologi Penelitian

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan antara lain alat press hidrolik (modifikasi), alat sentrifugasi (PLC

Series), gelas beaker 500 mL (Pyrex), gelas beaker 250 mL (Pyrex), gelas ukur 50 mL (Pyrex),

tabungreaksi (Pyrex), timbangan analitik (Precisa tipe XB 4200C), penangas air (Memmert®),

water bath, pH meter (Hanna®), termometer, kamera 5 mega pixel (merek Samsung Core 2),

serbet, kompor gas, panci kukus, pipet tetes, sudip, penggaris, wadah plastik, sendok tanduk,

sendok stainless, spuit injeksi, alumunium foil, wrapping plastic, mortir, stamper, cawan

penguap, stopwatch, kaca arloji, batang pengaduk, benang, gunting, tisu, pinset, pemberat 50g;

80g; 100g; 150g; 1kg, kertas millimeter blok, pot salep dan gelas objek.

4
Bahan yang digunakan adalah fase air ekstrak ikan gabus (Channa striata), cera flavum,

asam stearat (Wilmar®), vaselin flavum, trietanolamin (Clorogreen®), dimethylol

dimethylhydantoin (Clorogreen®), propilenglikol, aquades dan larutan dapar pH 4; pH 7.

Uji identifikasi Albumin

Fase air ekstrak ikan gabus yang diperoleh diambil 5 mL dipanaskan pada penangas air

selama 30 menit. Dilihat perubahan yang terjadi pada fase air ekstrak ikan gabus tersebut. Fase

air esktrak ikan gabus positif mengandung albumin jika terdapat gumpalan putih yang

mengapung pada bagian atas fase air (Poedjiadi, 1994).

۱. Formulasi Sediaan Krim dengan Resep Standar Vanising Cream dimodifikasi :

NamaBahan F1 (%) F2 (%) F3 (%) F4 (%) F5 (%)


Fase air ekstrak ikan gabus 10 20 30 40 50
Cera flavum 2 2 2 2 2
Asam stearat 15 15 15 15 15
Vaselin flavum 8 8 8 8 8
Trietanolamin 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5
Dimethylol dimethylhydantoin 1 1 1 1 1
Propilenglikol 8 8 8 8 8
Aquades ad 100 100 100 100 100
Keterangan : F1 = Fase air ekstrak ikan gabus 10%
F2 = Fase air ekstrak ikan gabus 20%
F3 = Fase air ekstrak ikan gabus 30%
F4 = Fase air ekstrak ikan gabus 40%
F5 = Fase air ekstrak ikan gabus 50%

Pembuatan Krim Fase Air Ekstrak Ikan Gabus

Krim yang akan dibuat dengan konsentrasi fase air ekstrak ikan gabus 10%, 20%, 30%,

40%, dan 50%. Wadah I sebagai fase minyak krim, yaitu melelehkan cera flavum, asam stearat

dan vaselin flavum di atas water bath pada suhu 700C. Wadah II sebagai fase air krim, yaitu

melarutkan trietanolamin, propilenglikol, dimethylol dimethylhydantoin dan aquades di atas

water bath pada suhu 700 C (Ikhsanudin, 2011). Campuran fase minyak krim kedalam mortir

hangat, lalu tambahkan fase air krim gerus hingga homogen. Kemudian tambahkan zat aktif

5
yaitu fase air ekstrak ikan gabus gerus sampai homogen hingga terbentuk massa krim. Sediaan

krim yang telah terbentuk, dimasukkan kedalam pot salep.

Evaluasi Stabilitas Fisik dan Kimia Sediaan Krim

Uji Organoleptis

Pemeriksaan terhadap organoleptis yang dilakukan meliputi bentuk atau konsistensi,

warnadan bau yang diamati secara visual (Ayu et al., 2014). Pengamatan dilakukan pada hari ke-

1, 3, 7, 14, 21, dan 28 pada suhu kamar (Wijiyanti et al., 2013).

Uji Homogenitas

Sediaan krim diletakkan diantara 2 kaca objek, lalu di perhatikan adanya partikel-partikel

kasar atau ketidak homogenan dibawah cahaya (Elya et al., 2013). Pengamatan dilakukan pada

harike-1, 3, 7, 14, 21, dan 28 pada suhu kamar (Wijiyanti et al., 2013).

Uji Tipe Krim M/A

Determinasi tipe emulsi krim menggunakan metode pengenceran. Sebanyak 0,1 g sediaan

krim di larutkan dalam 30 mL air. Krim tipe M/A akan terdistribusi merata pada medium air

(Zulkarnain et al., 2013).

Uji Daya Sebar

Pemeriksaan daya sebar dilakukan dengan meletakkan 1 g sediaan krim di atas kaca bulat

berskala, kemudian ditutup dengan menggunakan kaca bulat yang tidak berskala yang telah

diketahui bobotnya selama 1 menit, dicatat diameter penyebarannya, dilanjutkan dengan beban

50 g, 100 g, dan 150 g, dicatat diameter penyebaran krim (Ikhsanudin et al., 2011). Replikasi

dilakukan sebanyak 3 kali. Pengamatan dilakukan pada hari ke-1, 3, 7, 14, 21, dan 28 pada suhu

kamar (Wijiyanti et al., 2013).

6
Uji Daya Lekat

Pemeriksaan daya lekat dilakukan dengan meletakkan 0,1 g sediaan krim diatas gelas

objek. Diletakkan gelas objek yang lain diatas krim tersebut. Kemudian ditekan dengan beban 1

kg selama 5 menit. Kemudian dilepaskan beban seberat 80 g dan dicatat waktunya hingga kedua

gelas objek ini terlepas (Ikhsanudin et al., 2011). Replikasi dilakukan sebanyak 3 kali.

Pengamatan dilakukan pada hari ke-1, 3, 7, 14, 21, dan 28 pada suhu kamar (Wijiyanti et al.,

2013).

Uji pH

Pemeriksaan pH diawali dengan kalibrasi alat pH meter menggunakan larutan dapar pH 7

dan pH 4. Diambil sedikit sediaan krim dan ditempatkan pada tempat sampel pH meter,

kemudian di tunggu hingga indikator pH meter stabil dan menunjukkan nilai pH yang konstan

(Elya et al., 2013). Replikasi dilakukan sebanyak 3 kali. Pengamatan dilakukan pada hari ke-1,

3, 7, 14, 21, dan 28 pada suhu kamar (Wijiyanti et al., 2013).

Analisis Data

Analisa data hasil pengujian sifat fisik dan kimia sediaan krim yang meliputi daya lekat,

daya sebar dan pH. Dilakukan uji kenormalan dan homogenitas data. Bila data terdistribusi

normal pada test Kolmogorof-Smirnov (0,05) dan homogeny pada uji homogenitas (0,05),

maka dilakukan uji parametric One Way ANOVA dan Post Hoc test. Apabila tidak sesuai dengan

ketentuan tersebut, dilanjutkan uji non parametric Kruskal-Wallis test (Ikhsanudin et al., 2011).

7
Hasil dan Pembahasan

Uji Identifikasi Albumin

Pemanasan dapat menyebabkan danaturasi protein. Tahap awal dari proses danturasi

adalah flokulasi. Flokulasi merupakan penggumpalan partikel yang tidak stabil menjadi endapan.

Flokulasi akan menyebabkan penurunan kadar pada protein (Nugroho, 2012).

۲Tabel Hasil Uji Identifikasi Albumin

No. Perlakuan Hasil


1. Pemanasan ekstrak ikan gabus dengan Gumpalan putih mengambang pada
suhu 90˚C selama 30 menit permukaan (positif mengandung albumin)

Hasil Uji Organoleptis

Pengujian organoleptis mempunyai peranan penting dalam penentuan mutu sediaan.

Pengujian organoleptik dapat menujukkan gambaran adanya indikasi kerusakan dan kemunduran

mutu krim yang diformulasi.Hasil menunjukkan kelima formula stabil selama uji 28 hari.

۳ Tabel Hasil Uji Organoleptis

No Pemerian F1 F2 F3 F4 F5
1 Bentuk/Konsistensi Kurang Agak Cukup Kental Sangat kental
kental kental kental
2 Warna Putih Putih Putih Putih agak Putih
kekuningan kekuningan
3 Bau Khas Khas Khas Khas ekstrak Khas ekstrak
ekstrak ekstrak ekstrak kuat sangat kuat
Keterangan: F1 = Formula fase air ekstrak ikan gabus 10%
F2 = Formula fase air ekstrak ikan gabus 20%
F3 = Formula fase air ekstrak ikan gabus 30%
F4 = Formula fase air ekstrak ikan gabus 40%
F5 = Fomula fase air ekstrak ikan gabus 50%

8
Hasil Uji Homogenitas

Pengujian homogenitas bertujuan untuk melihat penyebaran zat aktif dalam sediaan. Jika

sediaan krim telah homogen maka diasumsikan kadar zat aktif akan selalu sama pada saat

pemakaian atau pengambilan (Swastika et al., 2013).

۴ Tabel Hasil Uji Homogenitas

Sediaan Krim Penyimpanan hari ke-


1 3 7 14 21 28
F1 + + + + + +
Pemeriksaan F2 + + + + + +
homogenitas F3 + + + + + +
F4 + + + + + +
F5 + + + + + +
Keterangan : + = Homogen
F1 = Fase air ekstrak ikan gabus 10%
F2 = Fase air ekstrak ikan gabus 20%
F3 = Fase air ekstrak ikan gabus 30%
F4 = Fase air ekstrak ikan gabus 40%
F5 = Fase air ekstrak ikan gabus 50%
Hasil Uji Tipe Krim

Hasil pengujian tipe emulsi menunjukkan semua krim terencerkan dalam air. Hal ini

membuktikan bahwa krim fase air ekstrak ikan gabus merupakan krim tipe M/A.

Hasil Uji Daya Sebar

Uji daya sebar memiliki tujuan untuk melihat kemampuan menyebarnya krim pada

permukaan kulit dimana diharapkan krim mampu menyebar dengan mudah ditempat yang

dioleskan tanpa diberikan tekanan yang berarti. Salah satu faktor yang mempengaruhi daya sebar

krim adalah viskositas. Daya sebar berbanding terbalik denganviskositas sediaan semi padat, jika

viskositas semakin rendah maka daya sebar semakin tinggi (Nibaho et al., 2013). Hasil

menunjukkan semakin tinggi konsentrasi fase air ekstrak ikan gabus yang digunakan maka daya

sebar semakin menurun. Daya sebar paling besarditunjukan oleh F1 ( konsentrasi fase air ekstrak

ikan gabus 10%) dengan nilai daya sebar sebesar 63,34 ± 0,02 cm2. Hasil uji One Way ANOVA

9
yang dilanjutkan uji Pos Hoc LSD berdasarkan formula menunjukkan semua formula yaitu F1,

F2, F3, F4 dan F5 berbeda signifikan (p < 0,05). Hal ini berarti daya sebar yang dimiliki oleh

tiap-tiap formula adalah tidak sama. Sedangkan, hasil uji One Way ANOVA yang dilanjutkan uji

Pos Hoc LSD berdasarkan hari menunjukkan semua tidak berbeda signifikan (p > 0,05). Hal ini

berarti penyimpanan sediaan krim selama 28 hari pada H1, H3, H7, H14, H21 dan H28 memiliki

penurunan dan peningkatan daya sebar yang stabil. Namun, bila dilihat pada grafik dapat

diketahui F2 dan F3 memiliki penurunan dan peningkatan daya sebar yang stabil selama

penyimpanan sediaan krim selama 28 hari.

۵ Tabel Hasil Uji Daya Sebar

Hari ke- Daya Sebar Sediaan Krim dalam cm2 ( x ± SD, n=3)
F1 F2 F3 F4 F5
1 60.70 ± 0.97 48.27 ± 2.10 43.69 ± 0.70 27.83 ± 1.27 23.81 ± 0.87
3 62.56 ± 0.98 49.92 ± 2.02 45.04 ± 1.92 28.20 ± 0.66 24.97 ± 0.62
7 61.64 ± 2.48 56.54 ± 1.37 45.52 ± 2.19 27.77 ± 0.96 25.33 ± 0.31
14 64.35 ± 1.64 57.97 ± 0.95 48.84 ± 1.87 32.14 ± 3.04 29.28 ± 0.78
21 65.39 ± 1.01 55.84 ± 1.98 43.92 ± 0.81 29.09 ± 0.98 25.10 ± 1.02
28 65.39 ± 1.01 58.87 ± 0.82 45.34 ± 0.00 29.21 ± 0.33 24.33 ± 0.71
Keterangan: F1 = Formula fase air ekstrak ikan gabus 10%
F2 = Formula fase air ekstrak ikan gabus 20%
F3 = Formula fase air ekstrak ikan gabus 30%
F4 = Formula fase air ekstrak ikan gabus 40%
F5 = Fomula fase air ekstrak ikan gabus 50%

Hasil Uji Daya Lekat

Pengujian daya lekat dilakukan untuk mengetahui kemampuan melekat sediaan krim

yang dibuat pada kulit. Kemampuan daya lekat akan mempengaruhi efek terapi yang dimiliki.

Semakin lama kemampuan melekat pada kulit maka efek terapi yang diberikan relatif lama

(Nibaho et al., 2013). Hasil daya lekat menunjukkan semakin tinggi konsentrasi fase air ekstrak

ikan gabus maka semakin tinggi daya lekat yang hasilkan. Daya lekat paling besar ditunjukan

oleh F5 ( konsentrasi fase air ekstrak ikan gabus 50%) dengan nilai daya lekat sebesar 2065,56 ±

20,96 detik. Hasil uji One Way ANOVA yang dilanjutkan uji Pos Hoc LSD berdasarkan formula

10
menunjukkan F1, F2 dan F3 tidak berbeda signifikan (p > 0,05) tetapi berbeda signifikan dengan

F4 dan F5 (p < 0,05). Hal ini berarti daya lekat yang dimiliki F1, F2 dan F3 adalah relatif sama,

sedangkan berbeda dengan F4 dan F5. Sedangkan, hasil uji One Way ANOVA yang dilanjutkan

uji Pos Hoc LSD berdasarkan hari menunjukkan semua hari tidak berbeda signifikan (p > 0,05).

Hal ini berarti penyimpanan sediaan krim selama 28 hari pada H1, H3, H7, H14, H21 dan H28

memiliki penurunan dan peningkatan daya lekat yang stabil. Namun, bila dilihat pada grafik

dapat diketahui F1, F2 dan F3 memiliki penurunan dan peningkatan daya lekat yang stabil

selama penyimpanan sediaan krim selama 28 hari.

۶ Tabel Hasil Uji Daya Lekat

Hari Daya Sebar Sediaan Krim dalam detik ( x ± SD, n=3)


ke- F1 F2 F3 F4 F5
1 146.00 ± 5.00 271.00 ± 3.00 389.00 ± 3.00 1298.33 ± 25.81 2554.33 ± 21.50
3 143.33 ± 5.51 255.00 ± 4.00 348.00 ± 3.00 1051.33 ± 10.41 2190.00 ± 29.31
7 134.67 ± 4.51 230.00 ± 5.57 259.33 ± 7.51 932.00 ± 23.52 2015.67 ± 22.19
14 68.67 ± 3.51 128.33 ± 7.02 246.00 ± 4.00 740.67 ± 7.51 1951.67 ± 21.13
21 65.00 ± 2.65 119.67 ± 3.06 241.33 ± 3.51 766.33 ± 6.66 1890.33 ± 16.80
28 56.33 ± 3.06 73.00 ± 6.00 228.00 ± 5.57 634.00 ± 9.85 1791.33 ± 4.51
Keterangan : F1 = Fase air ekstrak ikan gabus 10%
F2 = Fase air ekstrak ikan gabus 20%
F3 = Fase air ekstrak ikan gabus 30%
F4 = Fase air ekstrak ikan gabus 40%
F5 = Fase air ekstrak ikan gabus 50%

Hasil Uji pH

Pengukuran pH bertujuan untuk mengetahui tingkat keasaman dan kebasaan dari sediaan,

agar sediaan dapat diaplikasikan pada kulit.Secara keseluruhan kelima formula menghasilkan pH

yang masih dalam kategori aman bagi kulit pH 4,5-6,5(16). Hasil uji One Way ANOVA yang

dilanjutkan uji Pos Hoc LSD berdasarkan formula menunjukkanF2, F3, F4 dan F5 tidak berbeda

signifikan (p > 0,05), serta F1 tidak berbeda signifikan dengan F2 (p > 0,05), namun F3, F4 dan

F5 berbeda signifikan dengan F1 (p < 0,05). Hal ini berarti pH yang dimiliki F3, F4 dan F5

adalah relatif sama, serta pH yang dimiliki F1 dan F2 adalah relatif sama. Namun pH yang

11
dimiliki F3, F4, dan F5 berbeda dengan F1.Sedangkan, hasil uji One Way ANOVA yang

dilanjutkan uji Pos Hoc LSD berdasarkan hari menunjukkan H1, H7 dan H14 berbeda signifikan

dengan H28 (p < 0,05). Hal ini berarti penyimpanan sediaan krim selama 28 hari pada H1, H7,

H14 dan H28 terjadi penurunan dan peningkatan nilai pH yang kurang stabil.

۷ Tabel Hasil Uji pH

Hari ke- pH Sediaan Krim ( x ± SD, n=3)


F1 F2 F3 F4 F5
1 5.91 ± 0.05 6.26 ± 0.05 6.43 ± 0.08 6.43 ± 0.07 6.40 ± 0.06
3 5.69 ± 0.04 5.92 ± 0.05 6.23 ± 0.04 6.19 ± 0.03 6.37 ± 0.05
7 5.98 ± 0.09 6.30 ± 0.06 6.31 ± 0.04 6.49 ± 0.01 6.40 ± 0.05
14 6.19 ± 0.05 6.35 ± 0.01 6.21 ± 0.07 6.16 ± 0.05 6.39 ± 0.07
21 5.90 ± 0.05 6.34 ± 0.06 6.38 ± 0.01 6.15 ± 0.08 6.00 ± 0.03
28 5.73 ± 0.15 5.55 ± 0.03 5.79 ± 0.15 6.07 ± 0.07 5.67 ± 0.03
Keterangan : F1 = Fase air ekstrak ikan gabus 10%
F2 = Fase air ekstrak ikan gabus 20%
F3 = Fase air ekstrak ikan gabus 30%
F4 = Fase air ekstrak ikan gabus 40%
F5 = Fase air ekstrak ikan gabus 50%
Kesimpulan

Formula sediaan krim dengan berbagai variasi konsentrasi fase air ekstrak ikan gabus

(Channa striata) dapat memenuhi kriteria stabilitas fisik dan kimia yang baik. Namun, Formula

III dengan konsentrasi fase air ekstrak ikan gabus 30% menghasilkan sediaan krim dengan

stabilitas fisik dan kimia yang paling optimal. Hasil evaluasi sediaan F3 menunjukkan

organoleptis dan homogenitas baik, daya sebar rata-rata sebesar 45,39 ± 12,50 cm2, daya lekat

rata-rata sebesar 285,28 ± 36,04 detik dan pH rata-rata sebesar 6,23 ± 12,48.

Saran

Saran dalam penelitian ini adalah dilakukan uji difusi sediaan krim secara in vitro

menggunakan sel difusi franz untuk mengetahui kadar pelepasan obat yang terserap atau

berpenetrasi dan dilanjutkan uji iritasi sediaan krim fase air ekstrak ikan gabus untuk mengetahui

keamanan sediaan jika diaplikasikan pada kulit atau luka. Serta dilanjutkan pengujian secara in

12
vivo untuk mengetahui efektivitas sediaan krim fase air ekstrak ikan gabus terhadap daya

penyembuhan luka.

Ucapan Terimakasih

Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada Laboratorium Teknologi (Labtek) Fakultas

Kedokteran Program Studi Farmasi Universitas Tanjungpura atas fasilitas laboratorium yang

diberikan dan pihak-pihak yang telah membantu.

Daftar Pustaka

1. Sabale P, Bhimani B, Prajapati C, Sabale V, 2012, An Overview of Medicinal Plants as

Wound Healers. Journal of Applied Pharmaceutical Science, 2(11), 143-150

2. Gadheker R, Saurabh MK, Thakur GS, Saurabh A, 2012, Study of Formulation,

Characterissation and Wound Healing Potential of Transdermal Patches of Curcumin.

Asian Journal of Pharmaceutical and Clinical Research, 5(4), 225-230

3. Saleh M, Hari EI, Delima HD, Siswoputranto, 1985, Standar Tepung Ikan di dalam

Pengembangan Industri Tepung Ikan. Tim Analisa Komoditi, Sekretariat Jenderal

Departemen Pertanian, 1-7

4. Joenoes NZ, 2006, Resep yang Rasional, Jilid II, Airlangga University Press, Surabaya, 92

5. Kuswahyuning R, Saifullah, 2008, Teknologi dan Formulasi Sediaan Semi Padat,

Laboratorium Teknologi Farmasi Fakultas Farmasi UGM, Yogyakarta

6. Kielhorn J, Kollmu SM, Mangelsdorf I, 2006, Dermal Absorption. World Health

Organization

7. Poedjiadi A, 1994, Dasar-dasar Biokimia, UI Press, Jakarta

13
8. Ikhsanudin A, 2011, Formulasi Vanishing Cream Minyak Atsiri Sere (Cymbopogon

citratus (D.C) Stapf.) dan Uji Sifat Fisiknya serta Uji Aktivitas Rapelan Terhadap Nyamuk

Aedes Aegypti Betina, Jurnal Ilmiah Kefarmasian, 1(1) 81-91

9. Ayu M, Oktavianingtyas Y, 2014, Pengaruh Cera Album dan Vaselin Album Terhadap

Sifat Fisis Krim Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper crocatum). CERATA Journal of

Pharmacy Science, 57-68

10. Wijiyanti NPAD, Astuti KW, Prasetia IGNJA, Darayanthi MYD, Nesa PNPD, Wedarini

LDS, Adhiningrat DNP, 2013, Profil Stabilitas Fisika dan Kimia Maker Gel Peel-Off

Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangoestana L), Jurnal Ilmiah Kefarmasian. 1(2),

99-103

11. Elya B, Dewi R, Budiman MH, 2013, Antioxidant Cream of Solanum lycopersicum L,

International Journal of Pharmacy and Technology Research 5(1), 233-238.

12. Zulkarnain AK, Shovyana HS, 2013, Stabilitas Fisik dan Aktivitas Krim W/O Ekstrak

Etanolik Buah Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpha (scheff) Boerl) Sebagai Tabir Surya,

Journal of Traditional Medicines, 18(2), 109-117

13. Nugroho M, 2012, Isolasi Albumin dan Karakteristik Berat Molekul Hasil Ekstraksi Secara

Pengukuran Ikan Gabus (Channa striatus), Jurnal Teknologi Pangan, 4(1)

14. Swastika ANSP, Mufrod, Purwanto, 2013, Aktivitas Antioksidan Krim Ekstrak Sari Tomat

(Solanum lycopersicum L), Traditional Medicine Journal, 18(3), 132-140

15. Nibaho OHPVY, Yamlean W, Wiyono, 2013, Pengaruh Basis Salep Terhadap Formulasi

Sediaan Salep Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum sanctum L.) pada Kulit Punggung Kelinci

yang Dibuat Infeksi Staphylococcus aureus, Pharmacon Jurnal Ilmiah Farmasi, 2(2)

14
LAMPIRAN
70.00
Formula
60.00
Daya Sebar (cm2)

50.00 F1 (fase air ekstrak


ikan gabus 10%)
40.00
30.00 F2 (fase air ekstrak
ikan gabus 20%)
20.00
F3 (fase air ekstrak
10.00 ikan gabus 30%)

0.00 F4 (fase air ekstrak


ikan gabus 40%)
1 3 7 14 21 28
F5 (fase air ekstrak
Waktu Uji (Hari ke-) ikan gabus 50%)

Lampiran ۱. Grafik Hasil Uji Daya Sebar Sediaan Krim

3000.00
Formula
Daya Lekat (detik)

2500.00
F1 (fase air ekstrak
ikan gabus 10%)
2000.00
F2 (fase air ekstrak
1500.00 ikan gabus 20%)

F3 (fase air ekstrak


1000.00 ikan gabus 30%)

500.00 F4 (fase air ekstrak


ikan gabus 40%)

0.00 F5 (fase air ekstrak


1 3 7 14 21 28 ikan gabus 50%)

Waktu Uji (Hari ke-)

Lampiran ۲. Grafik Hasil Uji Daya Lekat Sediaan Krim

7
Formula

6.5 F1 (fase air ekstrak


ikan gabus 10%)

F2 (fase air ekstrak


pH

6 ikan gabus 20%)

F3 (fase air ekstrak


5.5 ikan gabus 30%)

F4 (fase air ekstrak


ikan gabus 40%)
5
1 3 7 14 21 28 F5 (fase air ekstrak
ikan gabus 50%)
Waktu Uji (Hari ke-)

Lampiran ۳Grafik Hasil Uji pH Sediaan Krim

15