Anda di halaman 1dari 19

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hukum di Indonesia merupakan campuran dari sistem hukum Eropa,
hukum Agama dan hukum Adat. Sebagian besar sistem yang dianut, baik
Perdata maupun Pidana, berbasis pada hukum Eropa Kontinental,
khususnya dari Belanda karena aspek sejarah masa lalu Indonesia yang
merupakan wilayah jajahan dengan sebutan Hindia-Beland. Hukum
Agama karena sebagian masyarakat Indonesia menganut Islam, maka
dominasi hukum islam lebih banyak terutaa dibidang perkawinan,
kekeluargaan dan warisan.

Proses meneruskan segala bentuk sisa-siasa tertib hukum asa lalu di


Indonesia hingga dewasa ini sangat sulit dihindari karena lebih dari satu
abad tatkala Indonesia ini masih disebut Hindia-Belanda telah
berlangsung proses introduksi dan proses perkembangan suatu sistem
hukum asing di dalam suatu tata kehidupan dan tata hukum masyarakat
pribumi yang otohton.

Pengantar Tata Hukum Indonesia mempelajari Hukum yang saat ini


sedang berlaku, dengan kata lain, objek dari penganatar Tata Hukum
Indonesia adalah hukum positif/ius constitutum. Fungsi pengantar
Hukum indonesia mengantarkan setiap orang yang akan mempelajari
hukum positif Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Pengantar Tata Hukum Indonesia ?
2. Bagaimana sejarah Tata Hukum Indonesia?
3. Apa tujuan mempelajari Tata Hukum Indonesia?

1.3 Tujuan
1. Agar lebih memahami arti sejarah Tata Hukum di Indonesia.
2. Membantu masyarakat dalam belajar, agar lebih mudah
memahaminya.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tata Hukum Indonesia


Setiap bangsa di dunia mempunyai hukumnya sendiri-sendiri yang
berbeda dengan hukum bangsa lain. Seperti bahasa yang mempunyai
tata bahasa, maka hukumpun mempunyai tata hukum, dimana setiap
orang dapat mempelajari dan mengetahui isi hukum itu.
Kata ‘’Tata’’ menurut kamus besar Bahasa Indonesia berarti
aturan, kaidah aturan, susunan, cara menyusun,sistem. Tata hukum
berarti peraturan dan cara atau tata tertib hukum disuatu negara. atau
lebih dikenal dengan tatanan. Tata hukum atau sususnan hukum adalah
hukum yang berlaku pada waktu tertentu dalam suatu wilayah negara
tertentu yang disebut hukum positif, dalam bahasa latinya: Ius
Constitutum.
Pengertian Tata Hukum Indonesia merupakan suatu cabang ilmu
pengetahuan hukum, disamping pengantar ilmu hukum, karena baik
pengantar Tata Hukum Indonesia maupun pengantar ilmu masing-
masing mempunyai objek penyelidikan sendiri. Tata Hukum Indonesia
itu menata, menyusun, mengatur tertib kehidupan masyarakat
Indonesia.
Tata Hukum Indonesia itu ialah hukum yang sekarang berlaku di
Indonesia. Berarti memberi akibat hukum kepada peristiwa-peristiwa
dalam pergaulan hidup sekarang menunjukan kepada pergaulan hidup
pada saat ini, dan tidak pada pergaulan hidup yang lampau, pula tidak
pada pergaulan hidup masa yang dicita-citakan dikemudian hari.
Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Kusumadi
Pudjosewojo mengatakan bahwa tiap-tiap bangsa mempunyai tata
hukumnya sendiri. jadi Bangsa Indonesia mempunyai tata hukumnya
Indonesia.
2.2 Pengertian Sejarah dan Tata Hukum Indonesia
 Sejarah
Sejarah dalam bahasa latin ‘’Historis’’ dan dalam bahasa
jermanya ‘’Gesschicte’’ yang berasal dari kata’’’geschehen’’ berarti
sesuatu yang terjadi. Sedangkan istilah ‘’Historie’’ menyatakan
kumpulan fakta kehidupan dan perkembangan manusia. Secara
sederhana kata sejarah oleh masyarakat Indonesia diartikan
sebagai cerita dari kejadian masa lalu yang dikenal dengan
legenda, babad,kisah, hikayat, dan banyak lagi yang mana
kebenaranya belum bisa diakui.
 Tata Hukum Indonesia

Tata hukum indonesia adalah tata hukum yang ditetapkan


oleh bangsa indonesia sendiri atau oleh negara sendiri. Adanya
tatahukum indonesia juga saat adanya negara Indonesia yaitu
pada tanggal 17 agustus 1945, dimana kemerdekaan Republik
Indonesia diproklamirkan. Cengan adanya proklamasi tersebut,
sejak saat itu bangsa Indonesia telah mengambil keputusan untuk
melaksanakan dan menentukan hukumnya yang baru yakni Tata
Hukum Indonesia.

Indonesia adalah Negara yang merdeka dan berdaulat.


Pada saat itu juga menetapkan tata hukum indonesia. Didalam
UUD negara itulah tertulis tata hukum indonesia. Lahirnya tata
hukum indonesia dipertegas pula dalam Memorandum DPRGR
tanggal 9 juni 1966,antara lain menyatakan bahwa’’ proklamasi
kemerdekaan indonesia yang dinyatakan pada tanggal 17 agustus
1945 adalah detik penjebolan tata tertib hukum kolonial dan
sekaligus detik pembangunan tertib hukum nasional, tertib hukum
indonesia.

Pada saat itu juga menetapkan Tata Hukum Indonesia


berpokok pangkal kepada proklamasi. Guna kesemprnaan negara
dan tata hukumnya, maka pada tanggal 18 agustus 1945 oleh PPKI
ditetapkan dan disahkan Undang-undang dasar Republik Indonesia
yaitu UUD 1945 yang memuat ketentuan-ketentuan dasar dari
tata hukum Indonesia. Sekarang ini belum banyak UU organik
melalui ketentuan pasal II Aturan Peralihan UUD 1945
diperlakukan banyak peraturan-peraturan yang berasal dari
Hindia-Belanda.

Dalam perkembangan sejarah selanjutnya, UUD 1945


mengalami pasang surut. Pada tanggal 17 agustus 1950, UUD 1945
dinyatakan tidak berlaku, tetapi tanggal 5 juli 1959 dengan adanya
Dekrit Presiden, UUD tersebut diberlakukan kembali. Sejalan
dengan perkembangan ketatanegraan bangsa indonesia,
perekembangan perundang-undangan sejak berdirinya NKRI juga
mengalami pasang surut.

Hai ini dapat dilihat dari perodisasi sebagai berikut :

a. Masa UUD 1945 ke-1 ( 18 agustus 1945-27 desember 1949)


b. Masa Konstitusi RIS (27 desember 1949-17 agustus 1950)
c. Masa UUDS 1950 ( 15 agustus 1950-5 juli 1959)
d. Masa UUD 1945 ke-2 ( 5 juli 1959-sekarang)

Masa Amandemen UUD 1945 :


a. Amandemen I Disahkan 19 oktober 1999
b. Amandemen II disahkan 18 agustus 2000
c. Amandemen III disahkan 10 november 2001
d. Amandemn IV disahkan 10 agustus 2002
e. Politi Hukum Nasional

Pemakaian kata politik dalam politik alamm politik hukum


nasional berarti kebijaksaan dari penguasa negara republik
indonesia mengenai hukum yang berlaku di negara Indonesia. Hal
ini sesuai dengan pendapat Teuku Mohamad Radhie yang
mengatakan adapun politik hukum disni hendak kita artikan
sebagai pernyataan kehendak penguasa negara mengenai hukum
yang berlaku diwilayahnya dan mengenai arah kemana hukum itu
hendak diperkembangkan.

Tata Hukum khusus yang berlaku di Indonesia tidak


mungkin dapat dilakukan tanpa mempelajari sejarahnya
disamping politik hukum yang digunakan sebagai pelaksana
berlakunya aturan hukum itu. Sejak zaman dahulu nusantara ini
telah ada suatu kehidupan. Tetapi pencatatan dari kejadian-
kejadian penting terhadap kehidupan bangsa Indonesia baru ada
sejak memasuki abad I dan diketahui setelah ada penelitian dari
adanya peninggalan yang ditemukan. Kemudian setelah kehidupan
manusia berkembang dan masuknya kebudayaan dari luar,
hubungan antar pulai mulai lancar, maka terjadilah kehidupan
kelompok sosial yang teratur dibawah kekuasaan seseorang atau
beberapa orang dianggap kuat.
Kehidupan bangsa Indonesia dalam bidang hukum mulai
jelas dapat diketahui, setelah kedatangan bangsa Eropa terutama
orang-orang Belanda dengan usaha menanamkan pengaruhnya
melalui penjajahan. Orang Belanda mulai menjajah bangsa
Indonesia yang mendiami kepulauan Nusantara ini sejak abad XVII
sampai abad XX yang diselingi oleh orang Inggris dan terakhir
Jepang sebelum perjuangan bangsa Indonesia memproklamirkan
kemerdekaanya tanggal 17 agustus 1945.
2.3 Sejarah Tata Hukum Indonesia
1. Zaman penjajahan Belanda
a. Masa Vereenigde Oost Indische Compagni 1602-1799
VOC yang diartikan oleh para pedagang orang Belanda
tahun 1602 maksudnya supaya tidak terjadi persaingan antara
para pedagang yang membeli rempah-rempah dari orang-orang
pribumi dengan tujuan dapat memperoleh keuntungan yang
besar di pasar Eropa. Sebagai kompeni dagang oleh pemerintah
Belanda. Seperti hak monopoli pelayaran dan perdagangan, hak
membentuk angkatan perang, hak mendirikan benteng, hak
mengumumkan perang, mengadakan perdamaian dan hak
mencetak uang. Dengan hak Octrooi itu VOC melakukan
ekspansi penjajahan di daerah-daerah kepulauan Nusantara
yang didatangi terutama kepulauan Maluku dan menanamkan
penekaaan dalam bidang perekonomian dengan memaksa
aturan-aturan yang dibawa.
Pada tahun 1610 pengurus pusat di Belanda memberikan
kewenangan kepada Gubernur Jenderal Pieter Both untuk
membuat peraturan dalam menyelesaikan perkara istimewa
yang harus disesuaikan dengan kebutuhan para pegawai VOC di
daerah-daerah yang dikuasai, di samping ia dapat memutuskan
perkara Perdata dan Pidana. peraturan yang diperlukan untuk
kepentingan VOC di daerah-daerah yang dikuasai, maka setiap
peraturan yang dbuat itu diumumkan berlakunya melalui
‘’plakat’’. Dan plakat-plakat yang memuat setiap peraturan
setelah diumumkan tidak pernah dikumpulkan dengan tatanan
yang baik.
Kemudian selama tujuh tahun, sejak itu semua plakat yang
telah diumumkan dikumpulkan lagi dan bagi plakat yang masih
berlaku disusun secara sistematik. Sampai berakhirnya masa
penjajahan VOC yang dibubarkan oleh pemerintah Belanda
pada tanggal 31 Desember 1799 kaerna banyak menanggung
hutang.
b. Penjajahan Pemerintah Belanda 1800-1942

Sejak tnggal 1 Januari 1800 daerah-daerah kekuasaan VOC


diambil alih oleh pemerintah Bataafche Republik, yang
kemudian diubah menjadi Koninklijk Holand. Untuk mengurus
daerah jajahan Raja Belanda yang monarki absolut waktu itu
menunjuk Daendels sebagai Gubernur jendral. Dalam bidang
pemerintahan Daendels membagi pulau Jawa menjadi sembilan
kerisidenan. Dalam bidang hukum, Daendels tidak mau
mengganti aturan-aturan hukum yang berlaku di dalam
pergaulan hidup pribumi dengan memberlakukan hukum Eropa.

Pada tahun 1811 Daendels diganti oleh Jansens yang tidak


lama memerintah, karena tahun itu juga kepulauan nusantara
dikuasai oleh Inggris. Pemerintah Inggris mengangkat Thomas
Stamford Raffles menjadi Letnan Gubernur. Dalam bidang
hukum Raffles mengutamakan susunan pengadilan yang
dikoordinasikan susunanya seperti pengadilan di India terdiri
dari:

1. Division’s court
2. District’ court
3. Resident’s court
4. Court of circuit

Raffles tidak melakukan perubahan terhadap hukum


yang berlaku dalam masyarakat bumi putra. Anggapanya,
aturan-aturan hukum yang berlaku itu identik hukum islam.
Bahkan bagi hakim diperintahkan untuk tetap
memberlakukan ketentuan-ketentuan bumi putra dalam
menyelesaikan perkara. Tetapi walaupun demikian hukum
bumi pura dianggap lebih redah dari hukum Eropa.

Setelah Inggris menyerahkan nusantara kepada Belanda


pada tahun 1816 sebagai hasil konvensi London 1814, maka
seluruh tata pemerintahanya mulai diatur dengan baik.
Sejak saat itu, sejarah perundang-undangan membagi tiga
masa perundang-undangan yakni :
1. Masa Besluiten Regerings 1814-1855

Dimulai pada tahun 1814 dan berakhir 1855.


Berdasarkan pasal 36 Nederlands Gronwet tahun 1814,
menyatakan bahwa’’ Raja yang berdaulat, secara mutlak
mempunyai kekuasaan tertinggi atas daerah jajahan dan
harta milik negara di bagian-bagian lain’’. Kekuasaan mutlak
raja tersebut diterapkan pula dalam membuat dan
mengeluarkan peraturan yang berlaku umum dengan nama
‘’Algemene Verordening’’ atau peraturan pusat. Peraturan
pusat berupa keputusan raja maka dinamakan koninklijk
besluit, pengundanganya lewat selebaran yang dilakukan
oleh gubernur jenderal. Dalam masa ini juga melahirkan
kitab Burgerijk Wetboek atau Kitab Undang-ndang Perdata.

Untuk melaksanakan pemerintahan di kepulauan


nusantara yang oleh belanda disebut ‘’Nederlands indie’’,
raja mengangkat komisaris jenderal yang terdiri dari
Elout,buykes dan van der capellen. Mereka tidak
mengetahui secara menyeluruh aturan-aturan yang dibuat
Inggris. Karena itu tetap memberlakukan undang-undang
dan peraturan yang berlaku pada masa Inggris berkuasa
terutama mengenai Landrente dan usaha pertanian. Dalam
bidang hukum, peraturan yang berlaku bagi orang-orang
Belanda sejak VOC dan tidak diganti atau dicabut tidak
mengalami perubahan, karena menunggu rencana
pengkodifikasian hukum nasional belanda.

2. Masa Regerings Reglement 1855-1926


Pada tahun 1848 di Belanda terjadi perubahan terhadap
Grandwetnya sebagai akibat dari pertentangan de staten general
dan raja berakhir dengan kemenangan parlemen dalam bidang
mengelola kehidupan bernegara. Kemenangan itu mengubah
sistem pelaksanaan pemerintah dari monarki konstitusional
parlementer. Adanya perubahan grondwet itu mengakibatkan
juga terjadinya perubahan terhadap pemerintahan dan
perundang-undangan jajahan Belanda di Indonesia.
Berdasarkan ketentuan pasal 59, maka kekuasaan raja
terhadap daerah jajahan menjadi dikurangi walaupun masih
berhak mengeluarkan peraturanya sendiri. Suatu undan yang
mengatur keadaan daerah jajahan tidak dibuat oleh raja dengan
koninkjk basluitnya, melainkan undang-undang itu dibuat raja
bersama parlemen. Peraturan dasar tentang pemerintahan yang
dibuat untuk kepentingan daerah jajahan di Indonesia dan
berbentuk Undang-undang waktu itu dinamakan Regerings
Reglment dan RR ini diundangkan pada tanggal 1 januari 1854,
tetapi mulai berlaku tahun 1855.

Pada tahun 1920 RR itu mengalami perubahan terhadap


beberapa pasal tertentu dan kemudian setelah diubah dikenal
dengan RR(Baru) dan berlaku sejak 1 januari 1920 sampai 1926.
Karena itu selama berlakunya dari tahun 1855 sampai 1926
dinamakan masa Regerings Reglement.

3. Masa Indische Staatsregeling 1926-1942

Pada tahun 1918 oleh pemerintah belanda dibentuk


sebuah’’ Volksraad’’( wakil rakyat ) sebagai hasil dari perjuangan
bangsa Indonesia yang menghendaki ikut menentukan nasib
bangsanya. Semula wakil rakyat Indonesia itu hanya mempunyai
hak sebgai penasehat pemerintah saja, tetapi sejak tahun 1918 itu,
maka pemerintahan jajahan belanda merencanakan untuk
mengubah Regerings Reglement. Rencana itu baru terlaksana
beberapa tahun kemudian setelah Grondwet belanda mengalami
perubahan lagi tahun 1922, perubahan tersebut menyangkut
mengenai tata pemerintah Hindia Belanda. Akibat dari perubahan
Grondwet maka tata pemerintahan Hindia Belanda mengalami
perubahan juga.

Indishe Staatsregeling mencantumkan hukumnya dalam


pasal 131. Dalam ketentuan pasal 131 dinyatakan ada 3 golongan
penghuni Hindia Belanda yang terdiri dari golongan Eropa,
golongan Indonesia, dan golongan Timur Asing. Penghuni Hindia
Belanda yang termasuk golongan -golongan itu ditetapkan dalam
pasal 163 IS. Isinya terdiri dari 6 ayat dan yang perlu kita ketahui
ada 4 ayat pertama, karena 2 ayat berikutnya mengatur mengenai
wewenang Gubernur Jenderal tentang ketentuan pasal ini serta
kepentingan penduduk yang masih ragu-ragu termasuk golongan
mana dan dapat meminta penetapan hakim.

Pembagian golongan penghuni berdasarkan pasal 163 IS itu


sebenarnya untuk menetukan sistem hukum yang berlaku bagi
masing-masing golongan seperti yang dicantumkan dalam pasal
131 IS sebagai politik hukumnya. Pelaksanaan politik hukum
pemerintah penjajahan belanda dapat dilihat sebagai berikut :

1. Hukum yang berlaku bagi golongan Eropa


Aturan-aturan hukum yang berlaku bagi golongan
eropa. Dalam hal ini susunan peradilan yang digunakan
bagi golongan Eropa di Jawa dan Madura terdiri dari :
a. Residentiegerecht
b. Raad Van Justitie
c. Hooggerechtshof

Susunan peradilan Eropa diluar Jawa dan Madura


sama seperti di Jawa dan Madura dengan satu
hoogerechtshof di Jakarta. Selain didaerah terdapat :

a. Residentiegerecht
b. Rad Van Justitie
2. Hukum yang berlaku bagi golongan Indonesia
Aturan-aturan hukum yang berlaku bagi golongan
Indonesia. Prof.Dr. R. Soepomo dalam bukunya
memberikan contoh dari peraturan hukum yang
diberlakukan bagi golongan Indonesia antara lain :
a. Hukum yang berlaku bagi semua golongan
b. Ketentuan Undang-undang lain bagi golongan
Indonesia
Adapun susunan peradilan bagi golongan
Indonesia di Jawa dan Madura terdiri dari:
a. Districtsgerecht
b. Regentschapsgerecht
c. Landraad

Bagi daerah-daerah di luar Jawa dan Madura,


mengenai susunan organisasi peradilan untuk golongan
Indonesia diatur tersendiri dalam Reschtregelement
Buitengwesten. Lembaga peradilan itu terdiri dari :

a. Negorijrechtbank
b. Districtsgerecht
c. Magistraatsgerecht
d. Landraad
3. Hukum yang berlaku Bgi golongan Timur Asing

Semula bagi mereka diberlakukan hukum perdata dan


hukum pidana adatnya, hukumnya dengan orang Indonesia.
Kemudian melalui S.1855 : 75 untuk Jawa dan Madura
diberlakukan hukum perdata Eropa bagi mereka, kecuali
hukum keluarga dan hukum waris tanpa wasiat. Setelah itu,
pada tahun 1917: 129 bagi golongan Timur Asing Cina sejak
tanggal 1 mei 1919 dibedakan dengan golongan Timur Asing
lainya. Bagi golongan Timur Asing Cina diberlakukan seluruh
hukum perdata Eropa untuk wilayah Hindia Belanda semula
berlaku di Jawa dan Madura mulai sejak 1 maret 1925,
kecuali untuk daerah Kalimantan Barat untuk hukum
tersebutb baru berlaku tangaal 1 september 1925. Dengan
demikian bagi golongan Timur Asimg Cina menjelang akir
tahun 1925 berlaku seluruh hukum perdata Eropa.

Lembaga peradilan yang dilakukan secara berbeda


antara golongan Eropa dan Timur Asing bukan Cina dilain
pihak disamping adanya perbedaan juga bagi pihak
disamping adanya perbedaan juga bagi pihak yang terakhir
itu dalam pelaksanaanya di Jawa dan Madura dengan
daerah-daerah lain diluar Jawa dan Madura, sejak tahun
1914 untuk Jawa dan Madura dibentuk lembaga peradilan
baru yang berlaku bagi setiap golongan untuk mengadili
tindak pidana ringan yang semula ditangani oleh
politierechter. Untuk daerah diluar Jawa dan Madura pada
tahun 1919 dibentuk lembaga sama dengan nama
Landgrecht.
Dalam penyelenggaraan peradilan di Indonesia masih
ada daerah dan lembaga yang ditentukan untuk
melaksanakan peradilan sendiri. Dan peradilan yang
melaksanakan pengadilan sendiri itu seperti :
1. Pengadilan Swapraja
2. Pengadilan Agama
3. Pengadilan Militer
4. Perkembangan pelaksanaan Hukum Pmerintah
Hindia Belanda

Pemerinatahn penjajahan belanda mulai


melaksanakan politik hukumnya sejak tahun 1mei 1848
melalui pasal 75 RR dan yang terakhir dengan corak dualistis
terhadap hukum perdata, tetapi walau demikian
dikemudian hari, bagi hukum perdata Eropa, yang
dinyatakan mempunyai nilai derajat lebih tinggi dari hukum
perdata lainya. Pemerintah mengharapkan juga berlaku
bagi lain golongan selain orang-orang eropa. Maka untuk
realisasi dalam hubungan lebih baik antara manusia sebagai
makhluk yang mempunyai kedudukan sama, kehendak
untuk dilaksanakan juga. Pelaksanaan ditempuh dengan
jalan sebagai berikut :

a. Menyatakan berlakunya hukum perdata Eropa


bagi golongan yang dipersamakan dengan
golongan bumi putra.
b. Perkawinan antara golongan ( campuran )
c. Tunduk dengan sukarela
2. Zaman Penjajahan Jepang

Bulan maret 1942 balatentara Jepang dengan mudah dapat menduduki


seluruh daerah hindia belanda. Dalam keadaan darurat waktun itu
pemerintahan jepang di Indonesia dilakukan oleh Balatentara Jepang.
Indonesia dibagi atas 2 kekuasaan :

1. Indonesia Timur di bawah kekuasaan angkatan laut berkedudukan di


Makassar
2. Indonesia Barat di bawah kekuasaan angkatan darat berkedudukan di
Jakarta

Untuk melaksanakan tata pemerintahan di Indonesia Undang yang


disebut’’Gunseirei’’. Setia peraturan yang diperlukan demi kepentingan
pemerintah di Jawa dan Madura dibuat berpedomankan kepada
Gunseirei malalui’’ Osamu Seirei ‘’.

Dalam bidang hukum, pemerintah balatentara Jepang malalui


Osamu seirei No. 1 tahun 1942, dalam pasal 3 menyatakan’’semua
badan pemerintah dan kekuasaanya, hukum dan Undang-undang dari
pemerintah yang dulu tetap diakui sh bagi sementara waktu, asal saja
tidak bertentangan dengan aturan pemerintah Militer. Ketentuan ini
merupakan pasal peralihan yang mempunyai makna untuk
menghilangkan kekosonbgan dalam bidang hukum, apalagi peperangan
belum berakhir. Mengenai lembaga peradilan Hindia Belanda juga tetap
digunakan, kecuali Residentiegerecht ang dihapus. Adapun susunan
lembaga peradilan berdasarkan Gunseirei No. 14 tahun 1942 terdiri dari:

1. Tihoo Hooin
2. Keizei Hooin
3. Ken Hooin
4. Gun Hooin
5. Kaikyoo Kootoo Hooin
6. Sooyoo Hooin
7. Gunsei Kensatu Kyoko
3. Indonesia Merdeka
Setelah merdeka pada tanggal 17 agustus 1945, Indonesia menjadi
bangsa yang bebas dan tidak tergantung pada bangsa lain. Sehingg
Indonesia bebas menentukan nasibnya untuk mengatur negara dan
menetapkan tata hukumnya. UUD 1945 ditetapkan sebagai Undang-
undang Dasar dalam penyelenggaraan Pemerintahan. Sedangkan tata
hukum yang berlaku adalah segala peraturan yang telah ada dan
pernah berlaku peraturan baru yang dihasilkan oleh pemerintah
Negaa Republik Indonesia dari 1945-1949.
Kemudian, masih dalam masa Tata Hukum Indonesia yakni tahun
1949 sampai 1950, pada masa ini, adalah masa berlakuny Konstitusi
RIS. Pada masa tersebut tata hukum yang berlaku adalah tata hukum
yang terdiri dari peraturan-peraturan yang dinyatakan berlaku pada
masa 1945-1949 dan produk peraturan baru yang dihasilkan oleh
pemerintah Negara yang berwenang untuk itu selama kurun waktu
27 Desember 1949 sampai dengan 16 Agustus 1950.
Dilanjutkan periode tahun 1950 hingga 1959, Tata hukum yang
diberlakukan pada masa ini adalah tata hukum yang dinyatakan
berlaku berdasarkan pasal 142 UUDS 1950, kemudian ditambah
dengan peraturan baru yang dibentuk oleh Pemerintah Negara
selama kurun waktu dari 17 Agustus 1950 sampai dengan 4 Juli 1959.
BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Sejarah dalam bahasa latin’’Historis’’ dan dalam bahasa
jermanya’’Geschichte’’ yang berasal dari kata gescheen, berarti
sesuatu yang terjadi. Sedangkan istilah Historie menyatakan
kumpulan fakta kehidupan dan perkembangan manusia. Secara
sederhana kata sejarah oleh masyarakat Indonesia diartikan
sebagai cerita dari kejadian masa lalu yang dikenal dengan
sebutan Legenda,babad,kisah,hikayat. Dan banyak lagi yang mana
kebenaranya belum bisa diakui.
Setelah pembahasan kita simpulkan bahwa sejarah Tata
Hukum Indonesia itu banyak dari negara-negara lain dalam
pembentuksn tata hukum yang ada di Indonesia, ada negara
Belanda dan Jepang, lalu Indonesia yang mencetuskan Tata
Hukumnya. Setelah merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945,
Indonesia menjadi bangsa yang bebas dan tidak tergantung pada
bangsa lain. Sehingga Indonesia bebas menentukan nasibnya
untuk menagtur Negara dan menetapkan tata hukumnya. UUD
1945 ditetapkan sebagai Undang-undang Dasar dalam
penyelenggaraan Pemerintahan.
Sedangkan tata hukum yang berlaku adalah segala
peraturan yang telah ada dan pernah berlaku pada masa
penjajahan Belanda dan masa Jepang serta produk-produk
peraturan yang dihasilkan oleh pemerintah Negara Republik
Indonesia dari 1945-1949.
3.2 Saran
Demi kesempurnaan makalah ini, kritik dan saran yang
bersifat membangun sangat saya harapkan, agar makalah ini
dapat menjadikan suatu pedoman untuk kalangan umum. Saya
sebagai penyusun memohon maaf atas segala kekurangan dan
kesalahan dalam penyusunan makalah ini. Atas kritik dan saran
serta perhatianya, saya ucapkan terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA

Soediman Kartohadiprodjo. Pengantar Tata Hukum Indonesia. Jakarta:


pembangunan. 1965

Sanusi Ahmad. Pengantar Ilmu Hukum dan Pengantar Tata Hukum Indonesia.
Bandung. Tarsito.1984

Samidjo, Pengantar Hukum Indonesia, Bandung: Armico, 1985

Mohamad Radhie, PRISMA No.6 tahun ke 11. 1973

Sudarsono, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta: Rineka Cipta,1991


DAFTAR ISI

Kata Pengantar..........................................................................................I

BAB I PENDAHULUAN...............................................................................I

1.1 Latar Belakang.............................................................................. .1


1.2 Rumusan Masalah..........................................................................2
1.3 Tujuan........................................................................................... .2

BAB II PEMABAHASAN..............................................................................II

2.1 Pengertian Tata Hukum Indonesia.................................................3

2.2 Pengertian Sejarah dan Tata Hukum Indonesia.............................4

2.3 Sejarah Tata Hukum Indonesia...................................................7

BAB III PENUTUP..................................................................................16

3.1 Kesimpulan................................................................................16

3.2 Saran.........................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA............................................................................18