Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH KIMIA ANALITIK

(Titrasi Asam Basa)

OLEH :

KELOMPOK 1

ISNAWATI

ISMI AMELIA

INRIYANI

MILAWATI

ANISA ANSAR

LIS ARISKA

MELATI PUSPA

KASTURI AMELIA

STIKES PANRITA HUSADA BULUKUMBA

TAHUN AJARAN 2017/2018


KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan dengan baik.
Makalah ini ditunjukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Kimia Analitik di
semester dua.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, baik dari
segi isi maupun penyajiannya. Hal ini disebabkan kemampuan dan pengetahuan
penulis yang masih sangat terbatas. Walaupun demikian penulis berusaha semaksimal
mungkin untuk menyajikan makalah ini dengan sebaik- baiknya.
Akhir kata Penulis mengharapkan semoga makalah yang disusun ini dapat
bermanfaat, khususnya bagi penulis dan umumnya bagi para pembaca.

Bulukumba 20 januari 2018

Penulis
DAFTAR ISI
SAMPUL….........................................................................................................
KATA PENGANTAR..........................................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG ................................................................ iii
B. RUMUSAN MASALAH ........................................................... iv
C. TUJUAN .................................................................................... iv
BAB II PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN TITRASI ASAM BASA ................................... 1
B. PRINSIP TITRASI ASAM BASA ............................................. 2
C. CARA MENGETAHUI TITIK EKUIVALEN..........................5
D. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN ASAM BASA ............... 7
E. JENIS – JENIS TITRASI ASAM BASA ................................... 8
F. RUMUS UMUM TITRASI ........................................................ 12
G. CONTOH ASAM BASA ............................................................ 11
H.
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN ................................................................................... 8
B. SARAN...............................................................................................8

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 9


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan
menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi biasanya
dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai
contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi
redox untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi kompleksometri
untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya.
Berbicara masalah reaksi asam-basa atau yang biasa juga disebut reaksi
penetralan, maka tidak akan terlepas dari titrasi asam-basa. Perlu dipahami terlebih
dahulu bahwa reaksi asam-basa atau reaksi penetralan dapat dilakukan dengan titrasi
asam-basa. Adapun titrasi asam-basa ini terdiri dari titrasi asam kuat-basa kuat, titrasi
asam kuat-basa lemah, titrasi basa lemah-asam kuat, dan titrasi asam lemah-basa
lemah. Titrasi asam-basa ini ditentukan oleh titik ekuivalen (equivalent point) dengan
menggunakan indikator asam-basa.
Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai “titrant” dan biasanya
diletakan di dalam Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya
disebut sebagai “titer” dan biasanya diletakkan di dalam “buret”. Baik titer maupun
titrant biasanya berupa larutan. Pada laporan kali ini akan di jelaskan mengenai titrasi
asam-basa.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Identifikasi masalah yang akan dibahas dalam laporan dengan judul “Titrasi
Asam Basa” yaitu sebagai berikut :
1. Apa itu titrasi asam basa?
2. Apa kegunaan titrasi asam basa?
3. Apa kelebihan titrasi asam basa?
4. Apa kekurangan titrasi asam basa?
5. Contoh apa saja yang dapat dibuktikan dengan titrasi asam basa dalam bidang
farmasi?

1.3. TUJUAN
1. Maksud
Pembuatan laporan ini mempunyai maksud sebagai syarat memenuhi tugas Kimia
Analitik semester dua tahun ajaran 2015
2. Tujuan
Adapun tujuan dalam laporan, yaitu sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui apa itu titrasi asam basa.
b. Untuk mengetahui prinsip titrasi asam basa?
c. Untuk mengetahui kelebihan titrasi asam basa?
d. Untuk mengetahui kekurangan titrasi asam basa?
e. Untuk mengetahui contoh apa saja yang dapat dibuktikan dengan titrasi asam
basa dalam bidang farmasi?
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. PENGERTIAN TITRASI ASAM BASA


Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan
menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi biasanya
dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai
contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi
redox untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi kompleksometri
untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya.
Reaksi asam-basa dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi larutan asam
atau larutan basa. Penentuan itu dilakukan dengan cara meneteskan larutan basa yang
telah diketahui konsentrasiya ke dalam sejumlah larutan asam yang belum diketahui
konsentrasinya atau sebaliknya. Penetesan dilakukan hingga asam dan basa tepat
habis bereaksi. Waktu penambahan hingga asam dan basa tepat habis disebut titik
ekuivalen. Dengan demikian, konsentrasi asam atau basa dapat ditentukan jika salah
satunya sudah diketahui. Proses penetapan konsentrasi tersebut disebut titrasi asam-
basa.
Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai “titrant” dan biasanya
diletakan di dalam Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya
disebut sebagai “titer” dan biasanya diletakkan di dalam “buret”. Baik titer maupun
titrant biasanya berupa larutan.
Metode titrimetri yang didasarkan pada reaksi asam basa ini adalah titrasi asam
basa (Asidimetri dan alkalimetri). Titrasi ini termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi
antara ion hydrogen yang berasal dari asam dengan ion yang berasal dari basa untuk
menghasilkan air yang bersifat netral. Berdasarkan konsep lain reaksi netralisasi
dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara donor proton (asam) dengan penerima
proton (basa).
Dalam menganalisis sampel yang bersiaft basa, maka kita dapat menggunakan
larutan standar asam, metode ini dikenal dengan istilah asidimetri. Sebaliknya jika
kita menentukan sampel yang bersifat asam, kita akan menggunkan lartan standar
basa dan dikenal dengan istilah alkalimetri.
Dalam melakukan titrasi netralisasi kita perlu secara cermat mengamati
perubahan pH, khususnya pada saat akan mencapai titik akhir titrasi, hal ini dilakukan
untuk mengurangi kesalahan dimana akan terjadi perubahan warna dari indikator

2.2. PRINSIP TITRASI ASAM BASA


Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titrant.
Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan
dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya.
Titrant ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan
ekuivalen ( artinya secara stoikiometri titrant dan titer tepat habis bereaksi). Keadaan
ini disebut sebagai “titik ekuivalen”, yaitu titik dimana konsentrasi asam sama dengan
konsentrasi basa atau titik dimana jumlah basa yang ditambahkan sama dengan
jumlah asam yang dinetralkan : [H+] = [OH-]. Sedangkan keadaan dimana titrasi
dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indikator disebut sebagai “titik
akhir titrasi”. Titik akhir titrasi ini mendekati titik ekuivalen, tapi biasanya titik akhir
titrasi melewati titik ekuivalen. Oleh karena itu, titik akhir titrasi sering disebut juga
sebagai titik ekuivalen.
Pada saat titik ekuivalent ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita
mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan
menggunakan data volume titrant, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa
menghitung kadar titrant.
Titrasi netralisasi adalah titrasi yang didasarkan pada reaksi antara suatu asam
dengan basa.
H3O+ + OH– ⇔ 2 H2O
Dalam titrasi ini berlaku hubungan jumlah ekivalen asam (H3O+) sama dengan
jumlah ekivalen basa (OH–).
Larutan baku yang digunakan pada titrasi netralisasi adalah asam kuat atau basa
kuat, karena zat-zat tersebut bereaksi lebih sempurna dengan analit dibandingkan
dengan jika dipakai asam atau basa yang lebih lemah. Larutan baku asam dapat
dibuat dari HCl, H2SO4 atau HClO4, sedangkan larutan baku basa dibuat dari NaOH
atau KOH. Larutan baku primer adalah larutan yang konsentrasinya dapat ditentukan
dengan perhitungan langsung dari berat zat yang mempunyai kemurnian tinggi, stabil
dan bobot ekivalen tinggi kemudian dilarutkan sampai volume tertentu. Sedangkan
larutan baku sekunder, konsentrasinya harus ditentukan terlebih dahulu dengan
pembakuan/standarisasi terhadap baku primer.

Contoh:
Baku primer : Na2CO3, Na2B4O7, Kalium Hidrogen Ptalat (KHP), H2C2O4
Baku sekunder : HCl, H2SO4, NaOH, KOH

Titrasi netralisasi dapat berlangsung antara asam kuat dengan basa kuat;
asam/basa lemah dengan basa/asam kuat seperti:
NH4OH + H3O+ ⇔ NH4+ + 2H2O (basa lemah dengan asam kuat)
CH3COOH + OH– ⇔ CH3COO– + H2O (asam lemah dengan basa kuat)
CH3COO– + H3O+ ⇔ CH3COOH + H2O (garam dengan asam kuat)
NH4+ + OH– ⇔ NH3 + H2O (garam dengan asam kuat)

Kedua contoh terakhir di atas menggambarkan titrasi garam monofungsional.


Garam-garam tersebut dalam air mengalami hidrolisis menghasilkan larutan yang
bersifat asam atau basa. Apakah garam-garam ini dititrasi dengan asam atau basa
bergantung pada nilai Ka dan Kb. Bila nilai Ka>Kb (larutan lebih bersifat asam),
maka garam tersebut dapat dititrasi dengan basa, bila sebaliknya (Ka<Kb), garam
tersebut dapat dititrasi dengan asam. Titik ekivalen dicapai pada pH larutan
CH3COOH atau NH4OH.

Gambar 2.2
Set alat titrasi
2.3. CARA MENGETAHUI TITIK EKUIVALEN
Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa,
antara lain:
1. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan,
kemudian membuat plot antara pH dengan volume titran untuk memperoleh kurva
titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalen”.
2. Memakai indikator asam basa. Indikator ditambahkan dua hingga tiga tetes
(sedikit mungkin) pada titran sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan
berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi dihentikan.
Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa adalah indikator yang perubahan
warnanya dipengaruhi oleh pH. Penambahan indikator diusahakan sesedikit
mungkin dan umumnya adalah dua hingga tiga tetes.

Indikator Perubahan warna Pelarut


Asam Basa
Thimol biru Merah Kuning Air

Metil kuning Merah Kuning Etanol 90%

Metil jingga Merah Kuning-jingga Air


Metil merah Merah Kuning Air

Bromtimol biru Kuning Biru Air

Fenolftalein Tak berwarna Merah-ungu Etanol 70%

Thimolftalein Tak berwarna biru Etanol 90%


Pada umumnya cara kedua lebih dipilih karena kemudahan dalam
pengamatan, tidak diperlukan alat tambahan, dan sangat praktis, walaupun tidak
seakurat dengan pH meter. Gambar berikut merupakan perubahan warna yang terjadi
jika menggunakan indikator fenolftalein.

pH <0 0−8.2 8.2−12.0 >12.0

Kondisi Sangat asam Asam atau mendekati netral Basa Sangat basa

Warna Jingga Tidak berwarna Pink keunguan Tidak


berwarna

Sebelum mencapai titik ekuivalen Setelah mencapai titik ekuivalen


Gambar 2.3.1

Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedekat
mungkin dengan titik equivalent, hal ini dapat dilakukan dengan memilih indikator
yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan.
Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna
indikator disebut sebagai “titik akhir titrasi”.

Gambar 2.3.2

2.4. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN ASAM BASA


Menurut Arrhenius, larutan bersifat asam jika senyawa tersebut melepaskan ion
hidronium (H3O+) saat dilarytkan dalam air, atau asam adalah zat yang dalam air
melepaskan ion H+.
Menurut Arrhenius, basa adalah senyawa yang dapat melepas ion hidroksida
(OH-) jika dilarutkan dalam air.
Kelebihan dan kekurangan teori asam basa arrhenius, yaitu :
1. Kelebihan
Mampu menyempurnakan teori asam yang dikemukakan oleh Justus Von Liebig.
Liebig menyatakan bahwa setiap asam memiliki hidrogen (asam berbasis hidrogen).
Pernyataan ini tidak tepat, sebab basa juga memiliki hidrogen.
2. Kekurangan
a. Teori asam basa Arrhenius terbatas dalam pelarut air, namun tidak dapat
menjelaskan reaksi asam basa dalam pelarut lain atau bahkan reaksi tanpa pelarut.
b. Teori asam basa Arrhenius hanya terbatas sifat asam dan basa pada molekul,
belum mampu menjelaskan sifat asam dan basa ion seperti kation dan anion.
c. Tidak menjelaskan mengapa beberapa senyawa yang mengandung hidrogen
dengan bilangan oksidasi +1 (seperti HCl) larut dalam air untuk membentuk
larutan asam, sedangkan yang lain seperti CH4 tidak.
d. Tidak dapat menjelaskan mengapa senyawa yang tidak memiliki OH-, seperti
Na2CO3 memiliki karakteristik seperti basa.
2.5. JENIS – JENIS TITRASI ASAM BASA
Titrasi asam basa dapat dikelompokan sebagai berikut :
1. Basa Lemah vs Asam Kuat
Titrasi basa lemah dan asam kuat adalah analog dengan titrasi asam lemah dengan
basa kuat, akan tetapi kurva yang terbentuk adalah cerminan dari kurva titrasi asam
lemah vs basa kuat. Sebagai contoh disini adalah titrasi 0,1 M NH4OH 25 mL dengan
0,1 HCl 25 mL dimana reaksinya dapat ditulis sebagai:
NH4OH + HCl -> NH4Cl + H2O
Kurva titrasinya dapat ditulis sebagai berikut:

Kurva titrasi 0,1 M NH4OH dengan 0,1 M HCl


Pada awal titrasi dalam Erlenmeyer hanya terdapat NH4OH, karena NH4OH
adalah basa lemah maka tidak semua akan terionisasi untuk mencari pH nya.Setelah
titrasi berlangsung maka akan terbentuk sistem buffer disebabkan dalam larutan
sekarang terdapat NH4OH dan NH4Cl. Pada saat ini kurva titrasi berada pada daerah
yang landai dan pH larutan ditentukan oleh pebandingan [NH4Cl]/[NH4OH].
Pada titik tengah titrasi yaitu setengah jumlah mol baik HCl dan NH4OH bereaksi
maka [NH4Cl] akan sama dengan [NH4OH] akibatnya pH akan sama dengan pKb
(ingat persamaan Henderson-Hasselbalch. Kb NH4OH adalah 10-5.
pH = pKb = 5
Pada saat titik ekuivalen dicapai maka dalam larutan sekarang hanya terdapat
NH4Cl adalah garam dari asam kuat dan basa lemah sehingga dalam larutan akan
terhidrolisis parsial dengan reaksi sebagai berikut:
NH4Cl -> NH4+ + Cl-
NH4+ + H2O -> NH4OH + H+
Dalam larutan sekarang akan bersifat asam disebabkan terdapat H+ dari hidrolisis
parsial NH4Cl.

2. Asam Lemah vs Basa Kuat


Asam lemah yang dicontohkan disini adalah asam asetat CH3COOH (biasanya
kita singkat menjadi HOAc) dan dititrasi dengan basa kuat NaOH. Reaksi yang
terjadi dapat ditulis sebagai berikut:
HOAc + NaOH -> NaOAC + H2O
Dan kurva titrasi antara 0,1 M HOAc 50 mL dengan 0,1 M NaOH 50
mL dapat digambarkan sebagai berikut.
Kurva titrasi 0,1 M CH 3 COOH dengan 0,1 M NaOH

Pada saat sebelum titrasi dalam Erlenmeyer hanya terdapat asam asetat. HOAc
adalah asam lemah sehingga dalam laruta tidak terdisosiasi sempurna, dan untuk
mencari konsentrasi H+ nya kita menggunaka rumus pH asam lemah. 0,1 M HOAc
dengan volume 50 mL memiliki pH sekitar 3.
Setelah titrasi dijalankan dengan penambahan sedikit demi sedikit NaOH maa
dalam larutan akan terbentuk NaOAc sebagai hasil reaksi antara NaOH dan HOAc.
Dalam larutan sekarang terdapat HOAc yang belum bereaksi serta NaOAc sehingga
terbentuk sistem buffer. pH larutan pun sedikit demi sedikit beranjak naik sebagai
fungsi perubahan perbandingan [OAc-]/[HOAc].

3. Asam Kuat vs Basa Kuat


Titran yang dipakai dalam jenis titrasi asam basa ini adalah asam
kuat dan basa kuat. Titik akhir titrasi mudah diketahui dengan membuat
kurva titrasi yaitu plot antara pH larutan sebagai fungsi dari volume
titran yang ditambahkan. Sebagai contoh titrasi asam kuat dan basa kuat
adalah titrasi HCl dengan NaOH.
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
HCl + NaOH NaCl + H2O
H+ + OH- H2O
Reaksi umum yang terjadi pada titrasi asam basa dapat ditulis sesuai
dengan reaksi kedua diatas. Ion H+ bereaksi dengan OH- membentuk
H2O sehingga hasil akhir titrasi pada titik ekuivalen pH larutan adalah
netral. Kurva titrasi antara 50 mL HCl 0,1 M dengan 50 mL NaOH 0,1 M
dapat ditunjukkan dengan gambar berikut ini:

Kurva Titrasi 0,1 M HCl dengan 0,1 M NaOH

4. Titrasi asam lemah dan basa lemah


Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari asam lemah
dan basa lemah. Misal : Asam asetat dan NH4OH
CH3COOH + NH4OH —> CH3COONH4 + H2O

2.6. RUMUS UMUM TITRASI


Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalen asam akan sama dengan mol-
ekuivalen basa, maka hal ini dapat ditulis sebagai berikut:
mol-ekuivalen asam = mol-ekuivalen basa
Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian antara normalitas (N) dengan
volume, maka rumus diatas dapat ditulis sebagai berikut:
N asam x V asam = N asam x V basa
Normalitas diperoleh dari hasil perkalian antara molaritas (M) dengan jumlah
ion H+ pada asam atau jumlah ion OH- pada basa, sehingga rumus diatas menjadi:
(n x M asam) x V asam = (n x M basa) x V basa
Keterangan :
N = Normalitas
V = Volume
M = Molaritas
n = Jumlah ion H +(pada asam) atau OH- (pada basa)

2.7. CONTOH ASAM BASA


Metode titrasi asm basa bisa kita gunakan dalam menentukan
bilangan saponikasi. Bilangan saponifikasi didefinisikan sebagai
milligram KOH yang diperlukan untuk menitrasi 1 gram lemak dengan
reaksi:0,10 gram mentega dititrasi dengan menggunakan 25 mL KOH
0,250 N. Setelah proses saponifikasi berlangsung sempurna maka KOH
yang tidak bereaksi dengan mentega dititrasi dengan 0,250 N HCl dan
membutuhkan 9,26 mL. Berapakah bilangan saponifikasi/bilanga
penyabunan dari mentega tersebut? Dan hitung pula berapa berat formula
lemak dalam mentega tersebut (asumsikan semua mentega adalah
lemak).

Penyelesaian:
Metode titrasi diatas sering dilakukan pada industri minyak goreng
dan sabun. Hal ini penting untuk mengetahui jumlah total lemak dan
asam lemak dalam minyak. Titrasi yang dipakai adalah titrasi kembali,
jadi KOH awal adalah berlebih dan kelebihan KOH yang tidak bereaksi
dengan lemak dititrasi dengan HCl menggunakan indicator pp. Jumlah
mol KOH awal dikurangi mol KOH yang bereaksi dengan KOH adalah
jumlah mol KOH yang bereaksi dengan lemak.
Titrasi asam basa berguna dalam bidang kefarmasian terutama untuk raksi-
reaksi dalam pembatan obat yang memerlukan sebuah analisis tersendiri. Beberapa
contoh asam basa yaitu :
1. Metanol yang digunakan sebagai pelarut untuk membuat polimer dan senyawa
organik yang lain seperti ester.
2. Etanol pada suhu kamar berupa zat cair bening, mudah menguap dan berbau
khas. Etanol terdapat dalam spiritus dan obat pencuci luka.
3. Gliserol atau gliserin adalah zat cair yang kental, tidak berwarna dan mempunyai
rasa manis. Gliserol mudah larut dalam air dengan segala perbandingan. Senyawa
ini digunakan sebagai pelembab pada tembakau dan kembang gula, pelarut obat-
obatan, dan membuat nitrogliserin (bahan pembuat peledak).
4. Eter (Alkoksialkana) digunakan sebagai pelarut dan obat bius (anastesi) pada
operasi yang diberikan melalui pernapasan.
5. Aseton digunakan untuk pembersih pewarna kuku (pelarut senyawa karbon),
bahan baku pembuat obat bius.
6. Asam asetat (asam cuka) digunakan sebagai asam yang terdapat dalam cuka
makanan.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan
menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi biasanya
dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi,
sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi
asam basa, titrasi redox untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi,
titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi
kompleks dan lain sebagainya.
2. Prinsip titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun
titrant. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam
ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya.
3. Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa,
antara lain :
a. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi
dilakukan.
b. Memakai indikator asam basa.

B. PENUTUP
Demikian makalah yang dapat kami sajikan. Kritik dan saran yang
konstruktif sangat kami harapkan demi perbaikan selanjutnya. Dan semoga
makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Amiiinn..
DAFTAR PUSTAKA

http://bisakimia.com/2014/09/05/titrasi-asam-basa-netralisasi/ (diakses pada 11


Agustus 2015)
https://id.wikipedia.org/wiki/Titrasi (diakses pada 11 Agustus 2015)
https://esdikimia.wordpress.com/2011/06/17/titrasi-asam-basa/ (diakses pada 11
Agustus 2015)
http://kamibarampek.blogspot.com/2014/06/laporan-praktikum-kimia-titrasi-
asam.html (diakses pada 11 Agustus 2015)
http://perpustakaancyber.blogspot.com/2013/06/teori-asam-basa-arrhenius-kelebihan-
dan-kekurangan.html (diakses pada 11 Agustus 2015)
LAMPIRAN

NAMA : ISNAWATI

NIM : E.17.02.033

PRODI : DIII ANALIS KESEHATAN

 STANDARDISASI LARUTAN NaOH DENGAN LARUTAN HCl.

Tujuan :
Menstandardisasi larutan NaOH dengan larutan HCl yang telah distandardisasi.
Prinsip :
Larutan HCl yang telah distandardisasimisalnya dengan Boraks dapat digunakan
untuk menstandardisasi larutan NaOH.
HCl + NaOH → NaCl + H2O
Cara Kerja :

 Siapkan larutan NaOH 0,1 N dengan cara 50 gram NaOH ditambah aquades
50 mL didalam beaker glass, biarkan beberapa lama sampai jernih. Setelah
jernih ambil 6,5 mL dan encerkan dengan aquades sampai 1000 ml dalam labu
ukur.
 Ambil 25,00 mL larutan NaOH diatas dengan pipet volume, tuangkan ke
dalam erlenmeyer 250 mL, tambahkan 2-3 tetes indikator metil orange.
 Titrasi dengan larutan HCl yang telah distandarisasi dengan larutan Boraks,
sampai titik akhir titrasi (terjadi perubahan warna).
 Percobaan diulang 3 kali
 Hitung normalitas NaOH dengan persamaan.
NAMA : INRIYANI

NIM : E.17.02.031

PRODI : DIII ANALIS KESEHATAN

 STANDARDISASI LARUTAN NaOH DENGAN LARUTAN ASAM


OKSALAT

Tujuan :
Menstandardisasi larutan NaOH dengan larutan standar asam oksalat.
Prinsip :
Larutan NaOH dapat distandardisasi dengan larutan standar asam oksalat dengan BE
= ½ Mr.
NaOH + H2C2O4 ? Na2C2O4 + 2 H2O
Cara kerja :

 Siapkan larutan NaOH 0,1N dengan cara seperti pada standarisasi NaOH
dengan HCl.
 Siapkan larutan standar asam oksalat 0,1000 N dengan cara melarutkan sekitar
12-13 gram asam oksalat (H2C2O4.2H2O) dengan aquades sampai 1000 mL
dalam labu ukur.
 Diambil 25,00 mL larutan asam oksalat 0,1000 N dengan pipet volume,
tuangkan kedalam erlenmeyer 250 mL, tambahkan 2-3 tetes indikator
fenolftalin (pp).
 Titrasi dengan larutan NaOH yang sudah disiapkan sampai titik akhir titrasi
(terjadi perubahan warna).
 Percobaan dilakukan 3 kali
 Hitung normalitas NaOH dengan persamaan .
NAMA : ANISA ANSAR

NIM : E.17.02.008

PRODI : D III ANALIS KESEHATAN

 PENENTUAN KADAR ASAM ASETAT DALAM CUKA MAKAN

Tujuan :
Menentukan kadar asam asetat dalam cuka makan dengan cara menstandardisasi
larutan cuka dengan larutan standar NaOH.
Prinsip :
Asam asetat sebagai larutan berasam satu dapat distandardisasi dengan larutan NaOH
(BE asam asetat = Mr asam asetat)
NaOH + HOAc ? NaOAc + H2O
Cara Kerja :

 Ambil 10,00 mL cuka makan dengan pipet volume, tuangkan ke dalam labu
ukur 250 mL dan encerkan dengan aquades sampai tanda batas.
 Ambil 25,00 mL dengan pipet volume, tuangkan ke dalam erlenmeyer 250
mL, tambahkan 2-3 tetes indikator fenolftalin (pp).
 Titrasi dengan larutan NaOH yang telah distandardisasi dengan HCl atau
asam oksalat sampai titik akhir titrasi (terjadi perubahan warna).
 Percobaan diulang 3 kali
 Hitung kadar (%) asam asetat dalam cuka makan dengan persamaan .
NAMA : ISMI AMALIA

NIM : E.17.02.032

PRODI : D III ANALIS KESEHATAN

 PENENTUAN KADAR Na2CO3 DALAM SODA

Tujuan :
Menetukan kadar Na2CO3 dalam soda dengan cara menstandardisasi larutan soda
dengan larutan standar HCl.
Prinsip :
Na2CO3 sebagai garam yang berbasa dua (dimana BE = ½ Mr) dapat distandarisasi
dengan larutan standar HCl.
Karena pada titrasi ini terdapat dua titik ekivalen (TE) maka untuk TE I digunakan
indikator fenolftalin (pp), sedangkan untuk TE II digunakan indikator methyl orange
(MO).
Cara Kerja :

 Larutkan 10,00 gram sampel soda dengan akuades di dalam labu ukur 250
mL.
 Diambil 25,00 mL larutan sampel tersebut dengan pipet volume, tuangkan ke
dalam erlenmeyer 250 mL, tambahkan 2-3 tetes indikator pp untuk TE I.
 Titrasi dengan larutan standar HCl sampai terjadi perubahan warna.
 Setelah terjadi perubahan warna tambahkan 2-3 tetes indikator MO sampai
terjadi perubahan warna (untuk memperjelas TE II larutan didihkan pada saat
mendekati atau sebelum TE II dicapai, dan setelah dididihkan, larutan
didinginkan kembali kemudian titrasi dilanjutkan sampai terjadi perubahan
warna).
 Percobaan diulang 3 kali
 Hitung kadar Na2CO3 (%) dalam soda dengan persamaan.
NAMA : KASTURI AMELIA

NIM : E.17.02.029

PRODI : D III ANALIS KESEHATAN

 STANDARDISASI LARUTAN HCl DENGAN LARUTAN STANDARD


Natrium tetraborat atau Boraks (Na2B4O7.10H2O) 0,1000 N.

Tujuan :
Menstandardisasi larutan HCl (yang sudah disiapkan) dengan larutan standar
Natrium tetraborat atau Boraks 0,1000 N.
Prinsip :
Larutan HCl sebagai larutan asam dapat distandardisasi dengan larutan Boraks
yang merupakan garam berbasa dua (BE = ½Mr).
Cara Kerja :

 Siapkan larutan standar Boraks 0,1000 N dengan cara melarutkan 10,645


gram Boraks dengan aquades di dalam labu ukur 1000 mL.

 Siapkan larutan HCl 0,1N dengan cara melarutkan 8-9 mL HCl pekat dengan
aquades di dalam labu ukur 1000 mL.
 Dipipet 25,00 mL larutan Boraks dengan pipet volume, tuangkan ke dalam
erlenmeyer 250 mL, tambahkan 2 -3tetes indikator metil merah.
 Titrasi dengan larutan HCl tersebut (yang sudah diisikan ke dalam buret)
sampai titik akhir (terjadi perubahan warna).
 Percobaan diulang 3 kali
 Hitung normalitas larutan HCl dengan persamaan
NAMA : LIS ARISKA
NIM : E.17.02.041
PRODI : E.17.02.031

menentukan kadar suatu larutan HCL dengan menggunakan NaOH 0,1 M

A. Alat dan Bahan:


a. Alat:
3 buah tabung Erlenmeyer
Buret
Gelas ukur
Pipet tetes
Tabung Ukur
b. Bahan:
10 ml larutan HCl dalam sebuah erlenmeyer
3 tetes fenolftalein (PP) dalam sebuah erlenmeyer
Larutan NaOH
B. Cara Kerja:
1. Masukkan 10 mL larutan HCl dan 3 tetes indikator fenolftalein ke dalam
masing-masing erlenmeyer.
2. Isi buret dengan larutan NaOH 0,1 M hingga garis 0 mL.
3. Tetesi larutan HCl dengan larutan NaOH. Penetesan harus dilakukan
secara hati-hati dan erlenmeyer terus-menerus diguncangkan. Penetesan
dihentikan pada saat terjadi perubahan warna yang tetap, yaitu merah
muda.
4. Ulangi prosedur di atas hingga diperoleh 3 data yang hampir sama.
NAMA : MELATI PUSPA

NIM :E.17.02.043

PRODDI : D III ANALIS KESEHATAN

membuat dan membakukan larutan baku basa menggunakan senyawa sekunder


yang berupa padatan

Alat dan Bahan


Alat
1. Buret 50 ml
2. Erlenmeyer 250 ml
3. Gelas ukur 10 ml
4. Gelas piala/kimia
5. Labu ukur 250 ml
6. Corong
7. Labu takar 100 ml
8. Statif
9. Pipet tetes
B Bahan:
1. Asam cuka
2. NaOH
3. Asam Oksalat
4. Aquadest
5. Indicator PP
C. PROSEDUR KERJA
A . Standarisasi larutan NaOH
1. Timbang Asam Oksalat sesuai kebutuhan lalu masukkan ke labu ukur
2. Tambahkan Aquades hingga 100 ml
3. Siapkan buret dan larutan NaOH
4. Tuangkan larutan NaOH pada erlenmeyer dan tambahkan aquades
secukupnya
5. Masukkan hasil pengenceran Asam oksalat ke buret 50 ml
6. Lalu tambahkan indikator fenolftalein ke dalan erlenmeyer yang berisi
larutan naoh sesuai kebutuhan
7. Lalu lakukan titrasi hingga terjadi perubahan warna
B. Penentuan Kadar Asam Cuka
1. Siapkan 25 ml larutan cuka perdagangan lalu masukkan pada labu ukur 250
ml
2. Tambahkan aquades hinggan tepat 250 ml
3. Lalu siapkan erlenmeyer dan masukkan hasil pengenceran cuka tadi kedalam
erlenmeyer secukupnya yaitu 25 ml
4. Tambahkan indikator fenolftalein secukuonya ke erlenmeyer
5. Siapkan buret dan diisikan larutan NaOH standart
6. Lakukan proses titrasi hingga terjadi perubahan warna
NAMA: MILAWATI

NIM : E.17.02.044

PRRODI : D III ANALIS KESEHATAN

MAMPU MENSTANDARISASI LARUTAN.

Alat dan bahan

- NaOH 0,1 M - Buret 50 mL

- HCl 0,1 M - Statif dab klem

- H2C2O4 - Gelas ukur 25 mL atau 10 mL

- Erlenmeyer -- Indikator penolphetalein

- Corong kaca

Cara kerja

 Standarisasi larutan NaOH 0,1 M

Mencuci bersih buret yang akan digunakan untuk standarisasi dan membilas
dengan 5 mL larutan NaOH. Memutar kran buret untuk mengeluarkan cairan yang
tersisa dalam buret, selanjutnya mengisi buret dengan 5 mL NaOH untuk membasahi
dinding buret. Kemudian larutan dikeluarkan lagi dari buret. Larutan NaOH
dimasukkan lagi ke dalam buret sampai skala tertentu. Mencatat kedudukan volume
awal NaOH dalam buret.

Proses standarisasi :

 Mencuci 3 erlenmeyer, pipet 10 Ml, larutan asam oksalat 0,1 M dan


memasukkan ke dalam setiap Erlenmeyer dan menambahkan ke dalam
masing-masing Erlenmeyer 3 tetes indicator penophtalein (PP).
 Mengalirkan larutan NaOH yang ada dalam buret sedikit demi sedikit sampai
terbentuk warna merah muda yang tidak hilang apabila gelas Erlenmeyer
digoyang.
 Mencatat volume NaOH terpakai
 Mengulangi dengan cara yang sama untuk Erlenmeyer ke II dan III.
 Menghitung molaritas (M) NaOH.

Anda mungkin juga menyukai