Anda di halaman 1dari 19

ABSTRAK

Latar belakang : Apendisitis akut masih merupakan penyakit akut abdomen tersering pada
orang dewasa dan pengobatan masih terpusat pada apendektomi. Tetapi pengobatan untuk
penyakit proses inflamasi intraabdomen seperti diverticulitis, menggunakan pengobatan
konservatif dengan antibiotik. Tujuan penelitian ini melihat peran antibiotik dalam pengobatan
apendisitis akut dan menentukan apakah apendektomi masih menjadi gold standard dalam terapi.

Metode : Sumber penelitian menggunakan MEDLINE dan the Cochrane library untuk
melihat penelitian tahun 1999 sampai 2009 dan kami melihat semua artikel yang relevan. Artikel
ditinjau menggunakan the public health resource unit (2006).

Hasil : Penelitian kami menghasilkan 41 artikel dan kami memeriksa total 13 artikel
dengan kriteria khusus. Semua artikel ini, mempunyai perrtanyaan yang berkesinambungan dan
mendemontrasikan peran antibiotik sebagai jalan untuk pembedahan, setelah gagal menunjukkan
antibiotik sebagai pengobatan defenitif untuk apendisitis akut.

Kesimpulan : Apendektomi tetap menjadi gold standard untuk pengobatan dari apendisitis
akut.

PENDAHULUAN
1
Apendisitis akut adalah inflamasi dari vermiform appendix dan masih merupakan
penyebab akut abdomen tersering pada orang dewasa. Pengobatan masih terpusat pada
apendektomi dan ini merupakan operasi tersering pada akut abdomen. 1 Tetapi appendisitis bisa
sangat sulit didiagnosa dan bisa terjadi negative apendektomi 10-20% walaupun menggunakan
preoperative computed tomography(CT).2-6 Operasi sering menimbulkan komplikasi, termasuk
luka infeksi, abses intraabdominal, ileus, dan lebih lanjut, menimbulkan perlekatan. Dengan
keadaan ini, kami mempertimbangkan pengobatan lain untuk proses inflamasi di intraabdominal.
Seperti diverticulitis yang diterapi dengan antibiotik.7
Apendektomi merupakan pengobatan untuk appendisitis, tetapi operasi terbuka sangat
beresiko menimbulkan kecacatan, apakah ada peran antibiotik untuk apendektomi (operasi
terbuka)?. Banyak laporan yang ada mengenai laporan pengobatan konservatif dari appendisitis,
dengan atau tanpa apendektomi dan beberapa tempat pediatrik melakukan pendekatan pada
pasien appendisitis tahap lanjut.8-10
Tujuan penelitian ini mengevaluasi perbandingan antara apendektomi dengan peran
antibiotik terhadap appendisitis akut, menilai apakah apendektomi masih menjadi gold standard.

METODE

2
Sumber penelitian menggunakan MEDLINE dan the Cochrane library, menggunakan
kata pencarian appendisitis, apendektomi, agen antibakteri. Peniltian ini membatasi jurnal yang
terbit 10 tahun lalu (1999-2009) untuk menyakinkan bukti masih akurat. Populasi penelitian
terdapat laki-laki, perempuan dalam berbagai umur termasuk anak anak. Systematic review,
randomize control trial (RCT), penelitian prospektif dan retrospektif dimasukan. Kami
mengeluarkan laporan kasus dan artikel yang tidak berhubungan dengan peran antibiotik pada
appendisitis akut. Seorang dari kami (GJ) meringkas full text dari semua artikel untuk tetap
konsisten.
Artikel ditinjau menggunakan The Public Health Resource Unit (2006), sebuah standard
alat krtitik dalam metodologi.11 Alat ini memfokuskan dalam 3 kriteria, validitas, hasil, dan
apakah hasil akan berguna pada pasien lokal, ini mengandung 10 pertanyaan metodologi dalam
penelitian masing-masing, untuk menilai secara standard masing-masing jurnal. Contoh
pertanyaan systemic review adalah apakah pertanyaan jelas?, apakah penelitian ini dibenarkan?,
apakah semua penelitian yang relevan sudah dimasukan dan kualitas penelitian ini sudah
dinilai?, jika hasil digabungkan, apakah hasil tepat?, apa yang didapatkan dan berapa akuratkah
mereka?, apakah hasil bermafaat untuk penduduk lokal?, apakah ada faktor yang memperburuk?,
akankah keamanan mengubah hasil dari penelitian ini?. Hiraki dari bukti distandarisasi oleh
Guyyat dan Colleagues12 berdasarkan metodologi mereka. Bukti paling kuat disediakan oleh
systematic review, dan meta analysis, dengan tingkak kepastian 1, sedangkan tingkat paling
lemah oleh laporan kasus dan pendapat ahli, dengan tingkat kepastian 7. Randomisasi kontrol
trial dengan hasil yang defenitif sebagai sebuah tingkat kepastian 2, RCT dengan hasil
nondefenitif menyediakan tingkat kepastian 3, penelitian kohor membuat tingkat kepastian 4,
case control menyediakan tingkat kepastian 5 dan cross-sectonal menyadiakan tingkat kepastian
6.12

HASIL

3
Penelitin kami menghasilkan 41 artikel, dari ini, kami mengeluarkan 28 artikel karena
alasan tertentu, 3 artikel adalah response surat, 1 adalah kritik berdasarkan artikel yang harus
diskusikan, 4 perbadingan laparoskopi dengan apendektomi dalam pengobatan untuk
mengkonfirmasi appendisitis, 5 berhubungan dengan perforasi appendiceal, 1 berhubungan ke
kegagalan managemen nonoperatif dari perforasi appendix, 4 berhubungan dengan antibiotik
sebagai pencegahan infeksi postoperasi diikuti dengan apendektomi, 1 membahas tentang
penggunaan antibiotik oral diikuti pemberian intravena antibiotik untuk pengobatan apendisitis
akut. 1 mengekplorasi peritoneal tourolidine lavage pada anak-anak dengan appendisitis. 2
beberapa teknik untuk mengurangi infeksi luka setelah operasi akibat apendektomi, 1 membahas
angka kematian akibat apendektomi, 1 berhubungan dengan rekurensi apendisitis, 1 membahas
CT dalam menilai hasil apendisitis dan 1 laporan kasus.3,13-39 Setelah semua pengeluaran, 13
artikel masih dianalisis.

Systematic review

Mason menegaskan dengan systematic review, menilai apakah dibutuhkan sebuah


pembedahan untuk appendisitis. Dia tidak mendeskripsikan metode pencarian atau sumber data
yang digunakan, maupun periode dari waktu penelitian. Tetapi dia menilai kualitas penelitian
yang dia kerjakan, yang memeriksa pengobatan nonoperatif pada apendisitis tanpa komplikasi.
Ada batas dari penelitian ini dari tidak ada desain atau desain yang buruk dari peneliti. Mason
mempresentasikan hasilnya perindividu dan jumlah penelitian tidak menyediakan hasil data.
Walaupun begitu, dia menyimpulkan yang apendektomi tidak dibutuhkan pada 70 % pasien yang
bisa diobati dengan antibiotik. Mason menerima bahwa availability dari pertanyaan pemeriksaan
pengobatan nonoperasi adalah kurang dan sedikit. Padahal penelitian Mason memiliki
pertanyaan dasar dari pengobatan appendisitis, ini tidak mengubah pengobatan lokal dan bisa
dikategorikan tingkat kepastian 7.12

Randomisasi control trial

Hanson dan Collegue40 membentuk RCT, untuk perbandingan penggunaan antibiotik


dengan apendektomi sebagai pengobatan akut apendisitis (Gambar 1). Penelitian diselesaikan di

4
Sweden pada 3 rumah sakit yang berbeda di gotheberg pada may 2006, dan September 2007. 369
pasien diatas umur 18 tahun dimasukan, tidak ada pengeluaran. Hasil pengukuran primer adalah
keberhasilan pengobatan dan terjadinya komplikasi besar. Peneliti menjelaskan keberhasilan
antibiotik sebagai perbaikan defenitif tanpa pembedahan dalam median follow up 1 tahun. Dan
mereka menjelaskan keberhasilan pembedahan “konfirmasi appendisitis operasi atau indikasi
untuk pemebedahan“. Pasien secara random dilakukan pengobatan berdasarkan tanggal lahir,
202 pasien dengan tanggal lahir tak sama diberikan terapi antibiotik dan 167 pasien dengan
tanggal lahir sama diberikan terapi pembedahan. Tetapi disana tidak ada blinding, dan pembedah
diizinkan mengubah pengobatan pasien dari antibiotik ke pembedahan, yang mana terhitung 96
dari 202 pasien dalam group antibiotik akhirnya menerima pembedahan. Ini dibandingkan
dengan 13 dari 167 pasien dalam group pembedahan yang menerima terapi antibiotik. Jelas
terdapat bias terhadap intervensi pembedahan dan pasien dalam kondisi buruk membutuhkan
pembedahan. Ini didapatkan pasien yang mengalami pembedahan mempunyai sel darah putih
yang lebih tinggi, pyrexia, dan peritonism dibandingkan dengan pasien yang diobati antibiotik.
Peneliti menunjuk 15 dari 106 pasien yang diobati dengan antibiotik kembali untuk
pengobatan lebih jauh dan 12 dari mereka butuh pembedahan. Mereka juga menegaskan 2 dari
pasien yang menjalani pembedahan ditemukan malignansi dan menjalani hemikolektomi.
Peneliti memastikan keberhasilan pengobatan dari 90,8% antibiotik dan 89,2% untuk
pembedahan. Namum mereka juga mendemonstrasikan yang semua komplikasi utama adalah 3
kali lebih tinggi yang menjalani pembedahan dibandingan dengan pasien yang menggunakan
antibiotik (p<0.05). sedangkan ini adalah penelitian yang menjelaskan kemungkinan penggunaan
antibiotik sebagai pengobatan appendisitis, kesimpulan antibiotik tidak dibenarkan sebagai terapi
lini pertama pada apendisitis akut. Peneliti mendemosntrasikan, pasien yang mempunyai tanda
dan gejala appendisitis bisa diberikan antibiotik, ketika diagnosis appendisitis sudah jelas, pasien
harus menjalani apendektomi. Penelitian ini dilasifikasikan tingkat kepastian 3.12

5
Gambar 1. Skema randomisasi control trial perbandingan antara antibiotik dan pembedahan
dalam pengobatan apendistis.

Farahank dan Collegue41 menyelesaikan RCT untuk menilai penggunaan skor Alvarado
dengan terapi antibiotik versus terapi konventional pada pengobatan appendisitis. Skor alvorado
adalah system skor numeric dari 1 sampai 10 yang menilai tanda dan gejala, temperature, hasil
darah untuk meyediakan indikasi apendisitis akut. Penilitian ini di Iran dari September hingga
desember 2005 dan memasukan 42 pasien. Penelitian ini mengeluarkan peritonitic dan yang
sudah menjalani foto radiologi. Kriteria ini membuat dampak pada hasil karena mereka
mengeluarkan pasien yang mungkin menderita appendisitis. Hasil pengukuran primer adalah
waktu pembedahan dan durasi tinggal dirumah sakit. Peneliti mendapatkan media waktu
pembedahan (2.05v8.35 h p=0.030) dan durasi median dari tinggal dirumah sakit (37.00 v 60.40

6
h, p=0.030) adalah lebih pendek group intervensi daripada group control. Bagaimanapun jumlah
peserta yang sedikit menyatakan tidak ada tingkat statistik bisa dicapai dan kesimpulan yang
institusi dari protokol memperbaiki perawatan pasien adalah sukar diterima. Penelitian ini
dikategorikan tingkat kepastian 3.12

Malik dan Bari42 membuat RCT menilai antibiotik sebagai pengobatan tunggal untuk
apendisitis. Penelitian ini diadakan di India antara agustus 2003 dan juli 2005 dan memasukan 80
pasien. Metode ini menggunakan random dengan pengobatan yang tidak secara jelas dijelaskan,
ini tidak jelas apakah penilaian dibuat sebelum atau setelah pemeriksaan., yang termasuk foto
radiologi. Juga tidak ada dijelaskan apakah disana blinding, tetapi kriteria inklusi jelas
dipaparkan, sedangkan eklusi tidak disebutkan, ini mungkin akibat jumlah peserta rendah selama
periode yang panjang. Tidak ada kriteria spesifik digambarkan, tetapi peniliti menceritakan
konsumsi analgesik rendah dan kurang sakit dalam 12 jam dalam group antibiotic (p<0.001). 4
pasien (10%) diobati dengan antibiotik yang mempunyai rekurensi appendisitis dan menuju
pembedahan. Peneliti menyimpulkan dalam antibiotik lokal merupakan pengobatan alternative
ke pembedahan. mereka menerima keterbatasan dari penelitian ini dan ini diklasifikasikan
sebagai kepastian level 1.12

Styrud dan Colegunes43 membuat a propective multicenter RCT untuk meperbandingan


pemberian antibiotic dengan pembedahan dalam appendisitis akut. Penelitian ini diadakan di 6
rumah sakit Swedia. Ini mengeluarkan wanita sebab izin etik dan memasukan 252 laki-laki
berumur 18-50 tahun yang dipresentasikan pada bulan maret 1996 hingga juni 1999. Belum ada
penjelasan untuk rentang umur dan ini akan membuat penelitian mengambil rentang yang lebih
lebar atau membuat batas. Tetapi peneliti jelas memberikan detail metode random yang kelihatan
blind. Hasil pengukuran primer tidak spesifik dilaporkan tapi kelihatan termasuk komplikasi,
level rasa sakit, lama perawatan melebihi 1 tahun follow up. Semua peserta dihitung untuk
mendapatkan keseimpulan dalam penelitian ini. penilti menyimpulkan bahwa terapi antibiotik
pada apendistis akut berhasil untuk banyak pasien. Tetapi isi diskusi ini berbeda dengan diskusi
hasil. Peneliti menceritakan 15 pasien yang diberikan terapi antibiotik menjalani terapi
pembedahan 24 jam sebelumnya dalam bagian hasil, tetapi jumlah ini bertambah ke 17 pasien
dalam bagian diskusi dan 18 pasien dalam abstrak. Peneliti mengumumkan bahwa mereka
meletakan harga p untuk hasil statistik tapi tidak ada yang disediakan. Padahal artikel ini

7
memberikan beberapa pertanyaan relevan mengenai menagemen dari apendisitis akut, tingkat
kepastian mungkin tidak cukup untuk berdampak pada menagemen lokal. Penelitian ini
diklasifikasikan sebagai tingkat kepastian level 3.12

Banyak penelitian lain menilai peran antibiotik sebagai pengobatan untuk apendisitis akut
dan mereka membuat sebuah group (Tabel 1). Liu dan Collegues45 menyimpulkan pasien
dengan apendisitis akut bisa diobati hanya dengan antibiotik. Tetapi ini berdasarkan penelitian
retrospektif dari pasien 1 centre dimana 151 pasien menjalani pembedahan dan hanya 19 diterapi
dengan antibiotik. Walaupun hasil pengukuran primer yang tidak spesifik, peneliti menilai
komplikasi dan lama tinggal dirumah sakit mereka melaporkan tingkat komplikasi 8.6% untuk
pasien bedah dan 10% untuk pasien yang diberikan antibiotik p(0.22). Bagaimanapun komplikasi
group antibiotik terjadi setelah dilakukan apendektomi. Abes dan Colleagues46 membuat analisis
retropektif dari pasien untuk menilai pengobatan nonoperative pada apendisitis akut pada anak
dan menyimpulkan bahwa antibiotik mempunyai peran dalam managemen nyeri abdomen lokal.
Bagaimanapun, artikel ini hanya menganalisis periode musim gugur dan salju, dan semua pasien
yang menjalani pembedahan pada foto radiologi sebelum sebuah keputusan pengobatan dibuat.
Tidak ada hasil pengukuran spesifik diceritakan. Peneliti mendapatkan secara statistik signifikan
bekurang untuk ukuran appendix pada group antibiotik (p<0.001) dan mereka mendapatkan
93.7% (15 dari 16 pasien) yang menerima pengobatan antibiotik adalah berhasil. dengan hanya
rekurensi komplikasi pada 2 pasien yang menjalani apendektomi. Tingkat kepastian yang
disediakan dalam kedua atrikel mungkin tidak mendukung kesimpulan peneliti dan keduanya
bisa dikategorikan sebagai tingkat kepastian 7.12

Beberapa penelitian menilai kemungkinan untuk penundaan apendektomi dengan


pemberian antibiotik sebagai jalan ke pembedahan. Stahlfled dan Colleagues47 membentuk
analisis retrospektif yang menjalani apendektomi memastikan jika managemen konservatife dari
apendisitis akut mempunyai efek negative pada tingkat kecacatan dan kematian pasien. Lebih
spesifik hasil pengukuran primer tidak dijelaskan. Artikel ini adalah penelitian retrospektif yang
dibuat oleh satu institusi dan melibatkan 2 pembedah akhirnya jumlah peserta berubah dari 81 ke
71 diantara bagian metode dan hasil. Faktor kombinasi mengahalangi reabilitas dari penelitian
ini. Peneliti mendapatkan bahwa disana tidak ada perbedaan siginifikan antara pasien yang
menjalani apendektomi dalam 10 jam dari diagnosis dan yang menjalani apendektomi lebih dari

8
10 jam setelah diagnosis (lama operasi, p=0.84, lama tinggal dirumah sakit, p=0,21, luka
infeksi,p=0.32). Kesimpulan peneliti yang menunda intervensi pembedahan bermanfaat bagi
pasien tetapi pasien bisa tidak diterima pada evidence base yang disediakan. Penelitian ini
diklasifikasikan pada tingkat kepastian 7.12
Friedell dan Perez-Izquierdo48 menceritakan penelitian untuk menilai interval
apendektomi pada menagemen apendisitis. Artikel adalah analisis retrospektif dari pasien
apendektomi, yang mendemonstrasikan dengan bias dan desain yang buruk. Disana tidak ada
laporan hasil pengukuran spesifik. Artikel menerangkan managemen 5 dari 73 pasien yang
menjalani apendektomi pada centre dan dikategorikan laporan kasus. Kesimpulan bahwa peneliti
membuat alogaritma pengobatan untuk apendisitis menjadi simple dan minimal tingkat
kecacatan berdasarkan 5 kasus tidak didukung dengan bukti yang kuat. Penelitian
diklasifikasikan tingkat kepastian 7.12
Yardeni dan Colleagues49 membuat analisis retrospektif pada pasien untuk apendisitis
akut dari tahun 1998 hingga 2001 di 1 centre untuk memastikan jika penundaan intervensi
pembedahan sampai 24 jam berdampak pada tingkat kecacatan. Semua peserta adalah anak-anak,
tetapi rentang umur tidak diberitahukan. Hasil penelitian termasuk waktu operasi, ada tidaknya
perforasi, lama perawatan dirumah sakit, dan biaya rumah sakit. Peneliti menyimpulkan bahwa
penundaan pembedahan dalam 24 jam tidak signifikan berdampak pada tingkat komplikasi
bagaimanaupun ini membuat klinis mempunyai gaya hidup lebih baik (p>0.005). Sedangkan
artikel mengerjakan beberapa kontribusi dalam debat ini, kekurangan bukti tidak akan
berdampak pada menagemen lokal. Penelitian ini diklasifikasikan tingkat kepastian 7.12
Balazorti dan Colleeagues50 menceritakan penelitian retrospektif termasuk 56 pasien dan
menyimpulkan terapi antibiotik sangat berperan pada terapi apendisitis akut. Hasil pengukuran
menilai respon pengobatan, kegagalan terapi medis, lama perawatan dan rekurensi. Mereka
mendapatkan durasi yang lebih lama dari pembedahan diantara group apendektomi yang
mendesak dengan apendektomi yang dipilih (98 v. 74 min p=0.006) komplikasi ini lebih tinggi
diantara group yang mendesak (25%v.0%p=0.027) tapi sebuah durasi yang lebih lama (12.2 v.
7.7 d,p=0.027) dan lebih lama antibiotik yang digunakan (27.9 v 11.3 d, p< 0.001) diantara group
terpelih.

9
Table 1. kesimpulan dari penelitian ini unttuk menilai penggunaan antibiotic dalam managemen
dari apendisitis akut, menggunakan beberapa metodologi, termasuk dalam diskusi dan
metaanalisis.

Owen dan Collegaues8 menceritakan penelitian yang sama tapi dengan peserta yang lebih
sedikit. Mereka memperoleh median dari lama rawat di rumah sakit untuk pengobatan
konservatif dari 6 (3-23) hari, waktu interval apendektomi adalah 93 (34-156) hari dan disana
tidak terdapat komplikasi akibat laparoskopi apendektomi. Tidak ada analisis statistic yang
disediakan. Gillik dan Colleagues9 juga membuat penelitian retrospektif dengan populasi hanya
93 pasien. Mereka memperoleh 90.2% respond untuk managemen awal dengan antibiotic, 94.2%
sukses menjalani interval laparoskopi apendektomi dan 3 pasien (3.1%) mengalami komplikasi
10
postoperasi. Tidak ada analisis statsitik disediakan. Kedua penelitian ini melaporkan perolehan
tanpa hasil pengukuran sepsifik. Sedangkan semua penelitian berkontribusi untuk diskusi
mengenai penggunaan antibiotik dalam pengobatan apendisitis, mereka mendapatkan benturan
dan tidak bisa membuat sebuah kesimpulan. Mereka dikategorikan tingkat kepastian 7.12

DISKUSI

Apendisitis akut masih merupakan teka teki dan peneliti melakukan foto untuk
mendapatkan klinis sebeleum intervensi untuk pembedahan.47 Bagaimanapun, terdapat implikasi
penting dari foto, terkhusus ekpose radiasi CT-scan pada pasien lebih muda. Disana juga terdapat

11
tingkat kecacatan dan kematian pada apendektomi. 1 Penting memastikan apakah apendektomi
masih merupakan gold standard untuk apendisitis akut.

Sejumlah peneliti baru saja memberitahukan bahwa appendisitis akut bisa diobati
konservatif dengan antibiotik.7,10,40-43 Beberapa peneliti menganjurkan interval apendektomi
berdampak pada tingkat rekurensi apendisitis, dan memungkinkan karsinoma, tetapi kelihatanya
kecendrungan merujuk pada penggunaan antibiotik tanpa pembedahan. Pasien bisa melakukan
pemeriksaan radilogi atau endoskopi untuk mengeluarkan kecurigaan neoplasma. Diskusi ini
sedang maju, ini layak dipertimbangkan pada proses inflamasi intraabdominal diobati
konservatif dan managemen dari apendisitis akut berdasarkan tradisi daripada bukti.7
Bagaimanpun, penggunaan antibiotik pada apendisitis akut biasanya complex dan
bergantung banyak faktor (contoh anak v dewasa, tanpa komplikasi v komplikasi, interval
apendektomi v pengobatan defenitif, pilihan pengobatan lain seperti percutaneous drainage).
St.Peter dan Colleagues,51 dalam artikel baru, memeriksa appendisitis dengan komplikasi pada
anak dan mendapatkan interval apendektomi. Marin dan Colleagues52 juga mendemosntrasikan
bahwa penggunaan perkutaneus drainage dalam managemen dari komplikasi apendisitis dengan
abses adalah aman dan efektif lalu menambahkan pengobatan yang berpotensi untuk diskusi ini.
dengan komplikasi yang panjang seperti obtruksi usus akibat apendektomi, potensi penggunaan
antibiotik sebagai strategi pengobatan kelihatan beralasan.53
Akhirnya, diskusi ini yang menilai perbandingan keefektifan antara apendektomi dengan
antibiotik dalam apendisitis akut. Berdasarkan diskusi ini, kami mendapatkan beberapa masalah.
Pertama sudah didemonstrasikan bahwa appendisitis akut bisa diobati dengan antibiotik sebagai
jalan untuk pembedahan. Bagaimanapun, bukti yang ada tidak mendukung penggunaan
antibiotik tunggal sebagai pengobatan alternative untuk awal apendektomi pada pengobatan
apendisitis akut. Walaupun, bukti sedikit dan desain buruk untuk berbagai alasan. Untuk akurat
memastikan managemen yang optimal untuk apendisitis akut, penelitian selanjutnya dibutuhkan
desain yang sesuai dan adekuat nilai RCT. Dalam penelitian, kriteria inklusi standard
membutuhkan keahlian bedah umum untuk apendisitis akut, metode yang cocok, seperti
ultrasonography akan dibutuhkan. Analisis statistik dari dasar intensi ke pengobatan akan
memastikan manfaat masing-masing pengobatan dan efek selanjutnya. Konsekuensi dari
sedikitnya data adalah tergantung untuk penelitian lebih jauh, gold standar masih tetap

12
apendektomi. Peneliti mengakui antibiotik menjadi pilihan yang pontesial dalam menagemen
appendisitis akut, meskipun bukti belum jelas untuk membuatnya sebagai aplikasi.

KESIMPULAN

Appendisitis akut adalah penyebab paling banyak dari akut abdomen pada dewasa muda
dan pengobatan konservatif bisa menjadi awal jalan ke pembedahan. Tetapi, yang menjadi gold
standar pada penyakit ini masih tetap pembedahan. Klinisi practice of evidence base medicine
sudah menjadi batu pijakan dari pengobatan pasien dan merujuk pada pengobatan patologis
13
intraabdomen dimana harus diperiksa lebih komperhensif terlebih dahulu. Bukti menganjurkan
bahwa penelitian lebih jauh harus dilakukan untuk memastikan pengobatan terbaik yang
diaplikasikan dalam menagemen apendisitis akut.

DAFTAR PUSTAKA

1. O’Connell PR. The vermiform appendix. In: Williams NS, Bulstrode CJK, O’Connell
PR, editors. Bailey and Love’s short practice of surgery. 25th ed. London (UK): Hodder
Arnold; 2008. p. 1204-18.

14
2. Rao PM, Rhea JT, Rattner DW, et al. Introduction of appendiceal CT: impact on negative
appendectomy and appendiceal perforation rates. Ann Surg 1999;229:344-9.
3. Soreide K. Should antibiotic treatment replace appendectomy for acute appendicitis? Nat
Clin Pract Gastroenterol Hepatol 2007;4:584-5.
4. Coursey CA, Nelson RC, Patel MB, et al. Making the diagnosis Of acute appendicitis: Do
more preoperative CT scans mean fewer negative appendectomies? A 10-year study.
Radiology 2010;254:460-8.
5. Chooi WK, Brown JA, Zelter P, et al. Imaging of acute appendicitis and its impact on
negative appendectomy and perforation rates: the St. Paul’s experience. Can Assoc
Radiol J 2007;58:220-4.
6. Kim K, Lee CC, Song KJ, et al. The impact of helical computed tomography on the
negative appendectomy rate: a multi-center comparison. J Emerg Med 2008;34:3-6.
7. Mason RJ. Surgery for appendicitis: Is it necessary? Surg Infect (Larchmt) 2008;9:481-8.
8. Owen A, Moore O, Marven S, et al. Interval laparoscopic appendicectomy in children. J
Laparoendosc Adv Surg Tech A 2006;16:308-11.
9. Gillick J, Mohanan N, Das L, et al. Laparoscopic appendicectomy after conservative
management of appendix mass. Pediatr Surg Int 2008;24:299-301.
10. Gillick J, Velayudham M, Puri P. Conservative management of appendix mass in
children. Br J Surg 2001;88:1539-42.
11. Appraisal tools. In: SPH, Solutions for Public Health [a website of the Public Health
Resource Unit]. Available at: www .sph .nhs .uk /what -we -do /public -health -workforce
/resources /critical –appraisals -skills -programme (accessed 2011 Apr. 20).
12. Guyatt GH, Sackett DL, Sinclair JC, et al. Users’ guides to the medical literature. IX. A
method for grading healthcare recommendations. Evidence-Based Medicine Working
Group. JAMA 1995;274:1800-4.
13. Soreide K, Korner H, Soreide JA. Type II error in a randomised controlled trial of
appendectomy vs. antibiotic treatment of acute appendicitis. World J Surg 2007;31:871-2.
14. Saadia R. Re: Is there a role for interval appendectomy in the management of acute
appendicitis? [letter] Am Surg 2001;67:815.
15. Ozgüç H. Appendectomy versus antibiotic treatment in acute appendicitis: a prospective
multicenter randomized controlled trial. World J Surg 2007;31:615.
15
16. Moberg AC, Berndsen F, Palmquist I, et al. Randomised clinical trial of laparoscopic
versus open appendicectomy for confirmed appendicitis. Br J Surg 2005;92:298-304.
17. Bennett J, Boddy A, Rhodes M. Choice of approach for appendicectomy: a meta-analysis
of open versus laparoscopic appendicectomy. Surg Laparosc Endosc Percutan Tech
2007;17:245-55.
18. Sauerland S, Lefering R, Neugebauer EAM. Laparoscopic versus open surgery for
suspected appendicitis. Cochrane Database Syst Rev 2004;4:CD001546.
19. Andersson REB. Small bowel obstruction after appendicectomy. Br J Surg
2001;88:1387-91.
20. Tingstedt B, Johansson J, Nehez L, et al. Late abdominal complaints after appendectomy
— readmissions during long-term follow-up. Dig Surg 2004;21:23-7.
21. Andersson RE. The natural history and traditional management of appendicitis revisited:
spontaneous resolution and predominance of prehospital perforations imply that a correct
diagnosis is more important than an early diagnosis. World J Surg 2007;31:86-92.
22. Andersson RE, Petzold MG. Nonsurgical treatment of appendiceal abscess or phlegmon.
Ann Surg 2007;246:741-8.
23. Aprahamian CJ, Barnhart DC, Bledsoe SE, et al. Failure in the nonoperative management
of pediatric ruptured appendicitis: predictors and consequences. J Pediatr Surg
2007;42:934-8.
24. Blomqvist PG, Andersson REB, Granath F, et al. Mortality after appendectomy in
Sweden, 1987–1996. Ann Surg 2001;233:455-60.
25. Dixon MR, Haukoos JS, Park IU, et al. An assessment of the severity of recurrent
appendicitis. Am J Surg 2003;186:718-22.
26. Levin T, Whyte C, Borzykowski R, et al. Nonoperative management of perforated
appendicitis in children: Can CT predict outcome? Pediatr Radiol 2007;37:251-5.
27. Groetsch SM, Shaughnessy JM. Medical management of acute appendicitis: a case
report. J Am Board Fam Pract 2001;14:225-6.
28. Zerem E, Salkic N, Imamovic G, et al. Comparison of therapeutic effectiveness of
percutaneous drainage with antibiotics versus antibiotics alone in the treatment of
periappendiceal abscess: Is appendectomy always necessary after perforation of
appendix? Surg Endosc 2007; 21:461-6.
16
29. Anderson BR, Kallehave FL, Andersen HK. Antibiotics versus placebo for prevention of
postoperative infection after appendicectomy. Cochrane Database Syst Rev 2005;
(3):CD001439.
30. St Peter SD, Tsao K, Spilde TL, et al. Single daily dosing ceftriaxone and metronidazole
vs standard triple antibiotic regimen for perforated appendicitis in children: a prospective
randomised trial. J Pediatr Surg 2008;43:981-5.
31. Mui LM, Ng CS, Wong SK, et al. Optimum duration of prophylactic antibiotics in acute
non-perforated appendicitis. ANZ J Surg 2005; 75:425-8.
32. Schneider A, Sack U, Rothe K, et al. Peritoneal taurolidine lavage in children with
localised peritonitis due to appendicitis. Pediatr Surg Int 2005; 21:445-8.
33. Taylor E, Berjis A, Bosch T, et al. The efficacy of postoperative oral antibiotics in
appendicitis: a randomised prospective double-blind study. Am Surg 2004;70:858-62.
34. McGreal GT, Joy A, Manning B, et al. Antiseptic wick: Does it reduce the incidence of
wound infection following appendectomy? World J Surg 2002;26:631-4.
35. Lintula H, Kokki H, Vanamo K, et al. Laparoscopy in children with complicated
appendicitis. J Pediatr Surg 2002;37:1317-20.
36. Cervantes-Sánchez CR, Gutierrez-Vega R, Vazquez-Carpizo JA, et al. Syringe pressure
irrigation of subdermic tissue after appendectomy to decrease the incidence of
postoperative wound infections. World J Surg 2000;24:38-41.
37. Rice HE, Brown RL, Gollin G, et al. Results of a pilot trial comparing prolonged
intravenous antibiotics with sequential intravenous/oral antibiotics for children with
perforated appendicitis. Arch Surg 2001;136:1391-5.
38. Górecki WJ, Grochowski JA. Are antibiotics necessary in nonperfor - ated appendicitis in
children? A double blind randomised controlled trial. Med Sci Monit 2001;7:289-92.
39. Harahsheh B, Hiyasat B, Abulail A, et al. Management of wound infection after
appendectomy: Are parenteral antibiotics useful? East Mediterr Health J 2002;8:638-44.
40. Hansson J, Korner U, Khorram-Manesh A, et al. Randomised clinical trial of antibiotic
therapy versus appendicectomy as primary treatment of acute appendicitis in unselected
patients. Br J Surg 2009;96:473-81.

17
41. Farahnak M, Talaei-Khoei M, Gorouhi F, et al. The Alvarado score and antibiotics
therapy as a corporate protocol versus conventional clinic management: randomised
controlled pilot study of approach to acute appendicitis. Am J Emerg Med 2007;25:850-2.
42. Malik AA, Bari S. Conservative management of acute appendicitis. J Gastrointest Surg
2009;13:966-70.
43. Styrud J, Eriksson S, Nilsson I, et al. Appendectomy versus antibiotic treatment in acute
appendicitis: a prospective multi-center random - ised controlled trial. World J Surg
2006;30:1033-7.
44. Alvarado A. A practical score for early diagnosis of acute appendicitis. Ann Emerg Med
1986;15:557-64.
45. Liu K, Ahanchi S, Pisaneschi M, et al. Can acute appendicitis be treated by antibiotics
alone? Am Surg 2007;73:1161-5.
46. Abes M, Petik B, Kazil S. Non-operative treatment of acute appendicitis in children. J
Pediatr Surg 2007;42:1439-42. Stahlfeld K, Hower J, Homitsky S, et al. Is acute
appendicitis a surgical emergency? Am Surg 2007;73:626-9.
47. Friedell ML, Perez-Izquierdo M. Is there a role for interval appendectomy in the
management of acute appendicitis? Am Surg 2000;66: 1158-62.
48. Yardeni D, Hirschi RB, Drongowski RA, et al. Delayed versus im - mediate surgery in
acute appendicitis: Do we need to operate during the night? J Pediatr Surg 2004;39:464
9.
49. Balzarotti R, Smadja C, Yves GS, et al. Elective versus urgent laparoscopic
appendectomy for complicated appendicitis. Minerva Chir 2009;64:9-16.
50. St. Peter SD, Aguayo P, Fraser JD, et al. Initial laparoscopic appendectomy versus initial
nonoperative management and interval appendectomy for perforated appendicitis with
abscess: a prospective, randomised trial. J Pediatr Surg 2010;45:236-40.
51. Marin D, Ho LM, Barnhart H, et al. Percutaneous abscess drainage in patients with
perforated acute appendicitis: effectiveness, safety, and prediction of outcome. AJR Am J
Roentgenol 2010;194:422-9.
52. Leung TT, Dixon E, Gill M, et al. Bowel obstruction following appendectomy: What is
the true incidence? Ann Surg 2009;250:51-3.

18
19