Anda di halaman 1dari 3

KRISIS HIPERTENSI

OLEH ASMA ROONEY


Krisis hipertensi adalah suatu keadaan peningkatan tekanan darah, yang mendadak (sistole
>180 mmHg dan/atau diastole >120 mmHg), pada penderita hipertensi, yang membutuhkan
penanggulangan segera. Krisis hipertensi terbagi menjadi 2 keadaan. Pertama hipertensi
emergency yang merupakan peningkatan drastis tekanan darah dengan gejala dan tanda
kerusakan organ target, yang harus segera diturunkan dalam hitungan menit menggunakan
terapi parenteral. Sementara yang kedua adalah hipertensi urgency di mana peningkatan
tekanan darah tanpa kerusakan organ target sehingga penurunan bisa menggunakan terapi
oral agar tercapai dalam hitungan jam. Kedua jenis krisis hipertensi ini perlu dibedakan
dengan cara anamnesis dan pemeriksaan fisik, karena baik faktor risiko dan
penanggulangannya berbeda.
Proses awal terjadinya krisis hipertensi adalah kenaikan mendadak resistensi vaskular
sistemik (SVR). Peningkatan SVR diperkirakan terjadi dari pelepasan vasokonstriktor
humoral dari dinding endotel yang stres. Tekanan yang meningkat kemudian mengawali
siklus kerusakan endotel, aktivasi intravaskular lokal dari kaskade pembekuan, nekrosis
fibrinoid pembuluh darah kecil dan pelepasan endotelin (vasokonstriktor) secara berlebihan.
Krisis hipertensi berpengaruh terhadap berbagai sistem organ. Peningkatan tekanan darah
mendadak dapat menyebabkan hiperperfusi dan meningkatkan Cerebral Blood Flow, yang
menyebabkan tekanan intrakranial meningkat edema otak. Selama keadaan darurat hipertensi,
atrium kiri tidak dapat mengimbangi kenaikan akut resistensi vaskular sistemik. Hal ini
menyebabkan kegagalan ventrikel kiri dan edema paru atau iskemia miokard. Hipertensi
kronis juga menyebabkan perubahan patologis pada arteri kecil ginjal. Selama krisis
hipertensi terjadi kontraksi sfingter pre kapiler vasa aferen, hal ini dapat mengakibatkan
iskemia ginjal akut.
Krisis hipertensi bisa terjadi pada keadaan-keadaan sebagai berikut: penderita hipertensi yang
tidak meminum obat atau minum obat anti hipertensi tidak teratur, kehamilan, penggunaan
NAPZA,penderita dengan rangsangan simpatis yang tinggi seperti luka bakar berat,
phaeochromocytoma, penyakit kolagen, penyakit vaskular, trauma kepala serta penderita
hipertensi dengan penyakit parenkim ginjal.
Anamnesis penderita harus dilakukan secara cermat mengenai riwayat hipertensi (awal
hipertensi, jenis obat anti-hipertensi, keteraturan konsumsi obat) dan gangguan organ yang
mungkin dialami (kardiovaskular, serebrovaskular, renovaskular, dan organ lain).
Pemeriksaan fisik yang utama dilakukan tentu saja pengukuran tekanan darah yang dilakukan
di kedua lengan. Denyut nadi juga diukur jangan hanya 1 tempat saja, melainkan di keempat
ekstremitas. Auskultasi dilakukan untuk mendengar bising jantung, ronki paru dan bruit di
pembuluh darah besar seperti : aorta abdominalis, arteri lienalis dan femoralis. Pemeriksaan
fisik lain dilakukan sesuai dengan kecurigaan organ target yang terkena berdasarkan
anamnesis seperti pemeriksaan neurologis dan fundoskopi.
Pemeriksaan laboratorium awal dan penunjang yang dilakukan disesuaikan dengan
anamnesis dan pemeriksaan fisik yang ditemukan serta ketersediaan fasilitas. Pemeriksaan
laboratorium awal bisa berupa urinalisis, Hb, Ht, ureum, kreatinin, gula darah dan elektrolit.
Sementara pemeriksaan penunjang dapat dilakukan EKG dan foto thorax.
Penatalaksanaan krisis hipertensi sebaiknya dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas
pemantauan yang memadai. Namun dapat dilaksanakan di tempat pelayanan primer sebagai
pelayanan pendahuluan dengan pemberian obat anti hipertensi oral. Di rumah sakit,
pengobatan parenteral diberikan secara bolus atau infus sesegera mungkin. Tekanan darah
harus diturunkan dalam hitungan menit sampai jam dengan langkah sebagai berikut:
– 5 menit s/d 120 menit pertama tekanan darah rata-rata (mean arterial blood pressure)
diturunkan 20-25%.
– 2 s/d 6 jam kemudian tekanan darah diturunkan sampai 160/100 mmHg.
– 6-24 jam berikutnya diturunkan sampai <140/190 mmHg bila tidak ada gejala iskemia
organ.
Obat-obatan yang digunakan pada hipertensi emergensi :
1. Furosemide 20-40 mg i.v. (1-2 ampul) kalau perlu tiap 6 jam
2. Clonidin (Catapres) IV (150 mcg/ampul)
 Clonidin 900 mcg dimasukkan dalam cairan infus glucosa 5% 500 cc, dan diberikan
dengan mikrodrip 12 tetes/ menit, setiap 15 menit dapat dinaikkan 4 tetes sampai
tekanan darah yang diharapkan tercapai.
 Bila tekanan target darah tercapai pasien diobservasi selama 4 jam kemudian diganti
dengan tablet Clonidin oral sesuai kebutuhan.
 Clonidin tidak boleh dihentikan mendadak, tetapi diturunkan perlahan-lahan oleh karena
bahaya rebound phenomen, dimana tekanan darah naik secara cepat bila obat dihentikan.
2. Diltiazem (Herbesser) IV (10 mg dan 50 mg/ampul)
 Diltiazem 10 mg IV diberikan dalam 1-3 menit kemudian diteruskan dengan infus 50
mg/jam selama 20 menit.
 Bila tekanan darah telah turun > 20% dad awal, dosis diberikan 30 mg/menit sampai
target tercapai
 Diteruskan dengan dosis maintenance 5-10 mg/jam dengan observasi 4 jam kemudian
diganti dengan tablet oral.
 Perlu perhatian khusus pada penderita dengan gangguan konduksi jantung dan gagal
jantung.
3. Nicardipin (Perdipin) IV (2 mg dan 10 mg/ampul)
 Nicardipin diberikan 10 – 30 mcg/kgBB bolus.
 Bila tekanan darah tetap stabil diteruskan dengan 0.5 – 6 mcg/kgBB/menit sampai target
tekanan darah tercapai.
Terapi pada hipertensi urgensi :

1. Captopril 20-25 mg, dapat diulang tiap 6 jam dan dapat diberikan digerus sublingual

2. Clonidine 0, 150 mg dapat diberikan tiap jam sampai 3x

3. Nifedipine oral kalu perlu diulang tiap 3 jam