Anda di halaman 1dari 6

AKUNTANSI KEPERILAKUAN

SAP 9
“FAKTOR-FAKTOR KEPERILAKUAN PADA PENGANGGARAN MODAL”

NAMA ANGGOTA KELOMPOK:


1. I Putu Bayu Suyadnya Pratama (1406305035)
2. Ni Putu Meiditya Ningsih (1406305126)
3. Anisa Sheirina Cahyadi (1406305135)

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN 2017
1. Faktor-Faktor Keperilakuan
Manajer keuangan dan akuntan manajemen juga terlibat dalam proses penyusunan
jenis lain dari anggaran, yaitu anggaran modal (capital budgeting). Karena keterlibatan ini,
maka penting bagi mereka untuk menyadari berbagai faktor, khususnya faktor-faktor
keperilakuan, yang sangat mempengaruhi proses penganggaran modal dan pengambilan
keputusan.
1.1 Definisi Penyusunan Anggaran Modal
Penyusunan anggaran modal dapat didefinisikan sebagai proses
mengalokasikan dana untuk proyek atau pembelian jangka panjang. Keputusan
penyusunan anggaran modal dibuat ketika kebutuhan untuk itu muncul dan melibatkan
jumlah uang yang relatif besar, komitmen dana jangka panjang, dan ketidakpastian
yang disebabkan oleh panjangnya waktu yang terlibat dan kesulitan dalam
mengestimasi variabel-variabel pengambilan keputusan. Karena melibatkan jumlah
dana yang begitu besar, keputusan anggaran modal yang salah dapat mengakibatkan
kebangkrutan, masalah-masalah arus kas yang sulit, atau kegagalan untuk
mengoptimalkan operasi perusahaan.

1.2 Jenis dan Pentingnya Faktor-Faktor Keperilakuan


Identifikasi dan spesifikasi atas proyek potensial memerlukan kreativitas dan
kemampuan untuk mengubah ide yang bagus menjadi suatu proyek yang praktis.
Menurut pemikiran, keputusan yang telah dipilih tersebut akan benar-benar objektif,
tetapi hal tersebut sangatlah tidak mungkin terjadi. Ketidakpastian yang melekat dalam
data yang menggambarkan suatu proyek tidak memungkinkan penerapan teknik
seleksi untuk dapat sepenuhnya objektif. Karena hasil dari teknik analisis harus
diinterpretasikan dengan hati-hati, maka kemampuan manusia untuk
mempertimbangkan dan menilai adalah faktor yang penting.

1.3 Masalah dalam Mengidentifikasikan Proyek Potensial


Orang-orang yang terlibat dalam proses penyusunan anggaran harus memiliki
kemampuan kreatif untuk mencari dan meneliti sejumlah proyek modal potensial yang
tersedia bagi organisasi. Ketika proyek tersebut telah diidentifikasikan, maka proyek
tersebut harus dispesifikasi atau didefinisikan dengan memadai, sehingga proses
pertimbangan dapat terjadi. Jika variabel keputusan penting tidak didefinisikan, maka
pengambilan keputusan mengenai adopsi proyek potensial sebaiknya tidak dicoba.

1
1.4 Masalah Prediksi yang Disebabkan oleh Perilaku Manusia
Sementara input ke dalam model pengambilan keputusan matematis kelihatan
cukup sederhana, tetapi ketidakpastian yang mendasarinya harus dikenali. Beberapa
dari input ini bergantung pada kemampuan untuk memprediksikan perilaku dari
mereka yang ditugaskan untuk menerapkan proyek tersebut. Perubahan keberhasilan
dari suatu proyek sejalan dengan waktu sebaiknya dipertimbangkan dalam
memprediksikan data untuk pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan
peningkatan kinerja dari karyawan yang terlibat dalam proyek tersebut. Tingkat
perputaran karyawan yang potensial juga harus dipertimbangkan ketika
mengembangkan estimasi yang akurat dari biaya yang berkaitan dengan proyek
tersebut.

1.5 Masalah Manajer dan Ukuran Kinerja Jangka Pendek


Aspek keperilakuan lain dari prosedur seleksi proyek adalah bahwa metode
peninjauan kinerja adalah tidak konsisten dengan metode seleksi proyek. Penilaian dan
kompensasi kinerja cenderung bersifat jangka pendek, yang sering kali diukur dengan
tingkat pengembalian akuntansi. Karena jarang terdapat hubungan satu banding satu
antara manajer dan proyek, maka manajer individual akan mengambil alih proyek-
proyek dari pendahulu mereka dan memulai beberapa proyek mereka sendiri.

1.6 Masalah yang Disebabkan oleh Identifikasi Diri dengan Proyek


Manajemen puncak sebaiknya menyadari bahwa proses mencoba untuk
membuat proyek yang buruk terlihat bagus dapat menyiksa bahkan manajer yang
terbaik sekalipun. Sebaiknya, terdapat mekanisme yang elegan untuk
“menyelamatkan” proyek sebelum manajer yang sangat bagus meninggalkan
perusahaan atau bertindak secara disfungsional untuk menghindari keharusan untuk
mengakui bahwa suatu proyek yang mereka usulkan tidak berhasil.

1.7 Pengembangan Anggota dan Proyek Modal


Dalam proses seleksi proyek, manajemen puncak harus mempertimbangkan
apakah proyek yang diusulkan baik untuk pengembangan dari si pengusul proyek
tersebut pada saat ini. Di pihak lain, manajemen puncak dapat mendorong divisi untuk
terlibat dalam proyek-proyek yang secara ekonomi tidak menarik, tetapi menawarkan

2
manfaat pelatihan karyawan yang potensial di masa depan yang tidak dapat
dikuantifikasi.

1.8 Penyusunan Anggaran Modal sebagai Ritual


Ketika suatu proyek memperoleh persetujuan awal pada tingkat organisasi lebih
bawah, proyek tersebut biasanya harus melalui serangkaian peninjauan dan
persetujuan ke tingkat organisasi yang lebih tinggi. Ketika proyek tersebut telah
menerima persetujuan pada beberapa tingkatan bawah, para pembuat keputusan dan
analisis di tingkat atas biasanya tidak mau menolaknya. Asalkan dana tersedia, proyek
tersebut biasanya disetujui karena pada saat itu, berbagai manajer dan analis tingkat
bawah telah mengindikasikan persetujuan dan komitmen pribadi mereka terhadap
proyek tersebut. Dengan demikian, manajer tingkat atas biasanya menolak suatu
proyek hanya jika terdapat alasan yang sangat kuat untuk melakukannya.

1.9 Perilaku Mencari Risiko dan Menghindari Risiko


Individu bereaksi secara berbeda terhadap risiko. Beberapa orang tampaknya
menikmati pengambilan keputusan yang berisiko dan berada dalam situasi yang
berisiko sementara yang lain mencoba untuk menghindari hal-hal tersebut. Kondisi
tertentu dari tingkat penghindaran risiko oleh pengambil keputusan dalam penyusunan
anggaran modal akan memengaruhi bagaimana orang tersebut akan bereaksi terhadap
proyek. Berdasarkan kelompok data yang sama, dua pengambil keputusan yang
berbeda kemungkinan besar akan membuat keputusan yang berlawanan bergantung
pada perasaan mereka terhadap risiko.

1.10 Membagi Kemiskinan


Fenomena “membagi kemiskinan” sering kali memiliki dampak yang penting
dalam proses penyusunan anggaran modal. Hal ini terjadi ketika tersedia lebih banyak
proyek anggaran modal yang potensial lebih menguntungkan dibandingkan dengan
dana yang tersedia untuk mendanainya, suatu kondisi yang disebut dengan rasionalitas
modal.

2. Tampilan Rasional
Seseorang dapat mengatakan bahwa proses penyusunan anggaran memiliki tampak
muka rasionalitas, terutama ketika model matematis yang rumit digunakan. Model
matematis tersebut memberikan atmosfir kepastian, logika, dan ilmu pengetahuan. Tetapi,
3
yang mendasari proses pengambilan keputusan adalah faktor-faktor keperilakuan.
Sayangnya, para pengambil keputusan mungkin tidak ingin mengakui bahwa faktor-faktor
manusia yang irasional mungkin menjadi faktor yang terpenting dalam penerimaan atau
penolakan terhadap suatu proyek tertentu.

3. Saran-Saran Perbaikan
Untuk mengurangi pengaruh yang merugikan dari faktor-faktor keperilakuan
terhadap proses penyusunan anggaran modal yaitu: Pertama, penting bagi mereka yang
terlibat dalam penyusunan anggaran modal menyadari faktor-faktor keperilakuan yang
melekat pada proses tersebut. Lebih lanjut lagi, disarankan agar audit pasca-implementasi
dilakukan terhadap proyek-proyek anggaran modal. Kesimpulannya, disarankan bahwa
mereka yang terlibat dalam proses penyusunan anggaran modal dan dalam manajemen
proyek modal sebaiknya paling tidak menyadari akan faktor-faktor keperilakuan yang
terlibat. Paling tidak, mereka sebaiknya mengambil langkah-langkah aktif untuk
memastikan bahwa faktor-faktor keperilakuan dari penyusunan anggaran modal tidak
menghasilkan keputusan yang suboptimal.

4
DAFTAR RUJUKAN

Himpunan Mahasiswa Akuntansi UNITRI. 2016. Faktor-Faktor Keperilakuan pada


Penganggaran Modal. http://www.himakaunitri.com/2016/04/faktor-faktor-
keperilakuan-pada.html. Diakses pada tanggal 2 April 2017
Lubis, Arfan Ikhsan. 2011. Akuntansi Keperilakuan. Edisi ke 2. Jakarta: Salemba Empat.
Panetir. 2013. Faktor-Faktor Keprilakuan Penganggaran Modal.
https://panetir.wordpress.com/2013/01/03/faktor-faktor-keprilakuan-penganggaran-
modal/comment-page-1/. Diakses pada tanggal 2 April 2017
Yuni, Irma. 2012. Faktor-Faktor Keperilakuan pada Penganggaran Modal. http://irma-
yuni.blogspot.co.id/2012/06/faktor-faktor-keperilakuan-pada.html. Diakses pada tanggal
2 April 2017