Anda di halaman 1dari 3

KRISIS HIPERTENSI

OLEH DOKTER POST 2016

Krisis hipertensi (hipertensi urgensi dan emergensi) adalah kasus yang relatif jarang ditemui
di tempat praktek dokter. Namun, mengetahui prinsip tatalaksana krisis hipertensi adalah skill
dasar yang harus dimiliki setiap dokter umum di Instalasi Gawat Darurat.

Skill klinis untuk membedakan apakah pasien menderita hipertensi urgensi (tanpa kerusakan

organ target) atau emergensi (dengan kerusakan organ target) sangat penting untuk memilih

protokol tatalaksana yang sesuai. Diagnosis klinis yang tidak tepat akan berakibat pada over

atau undertreatment.

Hipertensi krisis meliputi hipertensi yang tidak terkontrol yang secara progresif

mengakibatkan disfungi target organ. Oleh karena itu hipertensi ini harus segera diturunkan.

Gejala yang diakibatkan dapat berupa gangguan neurologis, contohnya:


1. Hipertensi ensefalopati

2. Stroke infark

3. Perdarahan subaraknoid

4. Perdarahan intra serebral.

Gejala kerusakan sistem kardiovaskular, contohnya


1. Infark atau iskemia miokard

2. Disfungsi ventrikel kiri

3. Edema paru akut

4. Diseksi aorta.

Gejala kelaianan di ginjal, contohnya


1. Gangguan ginjal akut
2. Retinopati mata

3. Mikroangiopati

4. Aanemia hemolitik.
Diagnosis Klinis Krisis Hipertensi

Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang cermat dapat membantu menentukan penyebab,

derajat berat hipertensi untuk menentukan tatalaksana hipertensi yang tepat. Dari anamnesis

dapat digali adanya gangguan target organ, yang betkaitan dengan hipertensinya, termasuk

kemungkinan etiologinya.

Walaupun kejadian hipertensi krisis ini sudah mulai menurun (terdapat sekitar 1% dari

keseluruhan hipertensi), namun kondisi gawat darurat tersebut harus selalu diwaspadai. Saat

ini masih sering dijumpai kerusakan target organ berupa infark serebral, edem paru,

ensefalopati hipertensi dan gagal jantung kongestif. Pada beberapa kasus dapat ditemukan

juga perdahan intraserebral, diskseksi aorta, eklampsia, dan infark miokard akut.

Pada wanita umumnya krisis hipertensi disebabkan oleh eklampsia yang akan membaik

dengan setalah pasien melahirkan janinnya. Suatu studi melaporkan bahwa mortalitas akibat

semua sebab pada hipertensi krisis jauh lebih tinggi dibandingkan dengan hipertensi yang

lain, Angka kematian krisis hipertensi berkisar 2,6 per 100 pasien/tahun, dibanding dengan

0,2 (normotensi) dan 0,5 (hipertensi).

Tatalaksana Krisis Hipertensi


Penting untuk menyelidiki apakah pasien dengan krisis hipertensi memiliki gangguan organ

target atau tidak. Banyak pasien yang datang ke IGD dengan hipertensi berat, akan tetapi

hanya sedikit yang termasuk hipertensi emergensi.

Prinsip penanganan krisis hipertensi adalah obati pasien bukan obati angkanya. Untuk

hipertensi berat yang asimptomatik, tekanan darah diturunkan tidak terlalu cepat dan dapat

diobservasi di ruangan biasa. Pada tatalaksana hipertensi harus selalu diperhatikan untung

dan risiko penurunan tekanan darah secara cepat. Penurunan tekanan darah yang terlalu cepat

bukan tanpa resiko, strategi ini berisiko mengurangi perfusi ke jaringan organ target.

Obat-Obat Pilihan Krisis Hipertensi

Tidak semua obat, terutama dalam bentuk intravena, yang dianjurkan dalam panduan tersedia

di IGD, atau RS Indonesia. Bergantung pada tingkat utilitas obat tersebut di RS setempat.

Namun, dokter diharapkan memiliki pengetahuan yang cukup keunggulan dan kelemahan

setiap obat. Obat anti-hipertensi tertentu juga diketahui memiliki "lokasi aksi favorit".

Berikut adalah daftar obat pilihan krisis hipertensi parenteral sesuai indikasi masing-masing.

Pada prinsipnya, turunkan 25% tekanan darah dalam 8 jam.