Anda di halaman 1dari 2

Teks Prosedur Gerakan Tari Gambyong.

Meskipun pada saat itu busana yang dikenakan oleh Gambyong terutama properti
selendang yang dikalungkan pada leher penari merupakan busana yang lazim
dikenakan oleh seorang penari, namun lambat laun pakaian yang ia kenakan juga
menjadi ciri khas tarian tradisional dari Surakarta Jawa Tengah ini.

Dalam gerakan Tari Gambyong terdapat beberapa ragam seperti jalan kecil,
gerakan memutar, maju-mundur, manggut-manggut/ menggerakkan kepala, dan
memainkan selendang sebagai ciri utama tarian ini. Secara filosofis gerakan dalam
tarian ini memiliki makna yang menggambarkan kecantikan dan kelembutan wanita
Jawa Tengah. Gerakan lambat dan lemah gemulai semakin mengidentikan sifat dan
sikap seorang wanita Jawa.

Dengan kata lain Tari Gambyong menggambarkan seorang wanita dengan sikap
lincah, luwes, gembira, genit, dan juga lemah gemulai. Selain menyajikan gerakan
pada pementasan gambyong juga menampilkan kualitas musik pengiring yang
identik dengan lagu jawa dengan perpaduan berbagai alat musik daerah yang
terkumpul dalam perangkat gamelan jawa.

Sejarah dan Asal Usul Tari gambyong


Pada masa pemerintahan Paku Buwono VI Kesunanan Surakarta yang merupakan
perpecahan dari kerajaan Mataram Islam memang memiliki peradaban yang cukup
tinggi. Salah satunya ialah dengan munculnya Tari Gambyong yang diciptakan oleh
seorang wanita seniman sekaligus penari yang memiliki paras cantik. Beliau adalah
Gambyong, seorang seniman wanita sekaligus penari yang telah menciptakan
gerakan tari gambyong dan memperkenalkan nya kepada masyarakat umum pada
berbagai kesempatan pementasan.

Acara pentas hiburan yang didominasi dengan kesenian tradisional kala itu memang
kerap mengundang banyak orang untuk menyaksikan nya, maklum selain belum
adanya hiburan lain pada tahun 1500-an masyarakat Surakarta mayoritas masih
memiliki kehidupan dan penghidupan yang setara. Maka tak heran jika kehidupan
bermasyarakat terlihat sangat kompak dan sejalan satu dengan yang lainnya.
Gambyong memulai kariernya sebagai penari di berbagai kesempatan mulai dari
pementasan di warung-warung sederhana hingga ke beragai panggung hiburan di
wilayah Surakarta. Ketenaran beliau tidak serta merta karena kecantikan wajahnya
saja, namun kepiawaiannya dalam menari memang tak dapat lagi diragukan.

Masyarakat Surakarta mulai akrab dengan nama “Gambyong” terlebih ketika


pementasan Gambyong dilakukan masyarakat mulai dari anak muda hingga orang
tua berbonndong-bondong mendatangi tempat pesta untuk menyaksikan si lemah
gemulai dari Surakarta. Bahkan sangking terkenalnya, Gambyong diminta untuk
melakukan pementasan di lingkungan keraton Surakarta.

Dari sinilah kemudian tarian yang diciptakan oleh Gambyon mendapat pengakuan
dari pihak keraton dan disebut-sebut sebagai Tari Gambyong Pareanom yang
memiliki makna tarian yang dilakukan oleh seorang wanita bernama Gambyong.

Pada saat mendapat tamu kehormatan dari kerajaan lain, Paku Buwono VI
menginginkan Gambyong untuk melakukan tarian sebagai hiburan tamu
kehormatannya. Tak disangka para tamu sangat tertarik dan merasa terhibur akan
tarian tradisional tersebut, mulai saat itu pula tari ciptaan Gambyong ini dikenal di
luar Kesunanan Surakarta.

Begitulah asal usul dan sejarah Tari Gambyong yang hingga kini dikenal sebagai
tarian tradisional khas dari Surakarta Jawa Tengah. Dalam perkembangannya salah
satu tari tradisional dari Jawa Tengah ini perlahan dikenal masyarakat luas baik di
wilayah Surakarta maupun Jawa Tengah. Berbagai pertunjukan dan pementasan
biasa dilakukan oleh penari lain yang belajar langsung dari penciptanya maupun dari
orang lain yang telah menguasai Gerakan Tari Gambyong.

Pada dekade berikutnya tarian ini kerap dipertunjukkan sebagai hiburan pada
berbagai acara seperti pernikahan, sunatan, tasyakuran, dan lain sebagainya.
Hingga saat ini perkembangan Tari Gambyong cukup membanggakan, selain
dikenal oleh masyarakat Surakarta, tarian menarik ini juga dikenal dan banyak
dipertunjukkan di wilayah luar Surakarta baik wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat,
maupun Jawa Timur. Secara tidak langsung tari tradisional ini juga menambah
kekayaan kebudayaan Surakarta pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.