Anda di halaman 1dari 5

TUGAS KELOMPOK PERPAJAKAN INTERNASIONAL

Dosen Pengampu : Bapak Dani Ramdani

PERPAJAKAN INTERNASIONAL Dosen Pengampu : Bapak Dani Ramdani DISIAPKAN OLEH : Ditto Nugraha Pratama 2301170359

DISIAPKAN OLEH :

Ditto Nugraha Pratama

2301170359

Ibnu Yudhi Wibowo

2301170397

Riscky Wijaya

2301170459

Agisti Gayu Pratiwi

2301170309

Christin Puspitaningrum

2301170346

PROGRAM DIPLOMA III PAJAK ALIH PROGRAM POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN TAHUN 2018

A. Karakteristik Interest dan Dividen pada pajak internasional

Ketentuan pengenaan pajak atas dividen dalam skema internasional, memungkinkan timbulnya pengenaan pajak berganda. Hal ini terjadi apabila negara domisili dari pihak yang membayarkan dividen dan interest (negara sumber) menerapkan prinsip pemajakan territorial. Di lain pihak, negara domisili dari pihak yang menerima dividen dan interest (negara domisili) menerapkan prinsip pemajakan worldwide income. Dengan demikian, kedua negara tersebut mengklaim mempunyai hak pemajakan atas dividen tersebut.

Masing-masing negara pihak dalam P3B baik model OECD dan UN memiliki hak pemajakan atas dividen. Namun, hak pemajakan negara sumber atas dividen tersebut dibatasi (limited taxation right) berdasarkan suatu persentase tertentu dari jumlah bruto pembayaran dividen dan interest, berikut ini perbedaan dari karakteristik dividen ataupun interest

Dividen

Interest

Penghasilan dari kontribusi modal

Penghasilan dari kontribusi pinjaman, di OECD maupun UN sudah diberikan definisi yang cukup jelas

Equity Investment bagian dari ekuitas perusahaan investee

Debt Investment bagian dari liabilitas perusahaan investee

Besaran presentase tarif dipengaruhi jumlah kepemilikan saham jika telah melewati batas (mis. 25%) maka tarif pajak lebih rendah

Besaran presentase tarif tetap, tidak terpengaruh dengan jumlah pinjaman

Return dipengaruhi oleh fluktuatif kondisi bisnis ( baik dari internal perusahaan investee ataupun bisnis dari pelaku perusahaan sejenis lainnya)

Return dipengaruhi oleh fluktuatif ekonomi ( kondisi pasar, ekonomi negara investee)

Adapun pembatasan hak pemajakan negara sumber atas dividen yang dibayarkan oleh subjek pajak dalam negerinya hanya berlaku apabila penerima dividen tersebut:

Baik OECD dan UN mengatur tentang bagaimana menentukan negara sumber penghasilan atas bunga. Berdasarkan pasal tersebut, penghasilan bunga akan dianggap bersumber (arise in) di suatu negara jika pihak yang membayar (payer) adalah

subjek pajak dalam negeri dari negara sumber tersebut.

(i) merupakan subjek pajak dalam negeri dari negara lainnya (negara domisili); dan

(ii) merupakan penerima manfaat yang sebenarnya dari dividen tersebut (beneficial owner).

 

Simpulan pada Art 10 (Dividen) OECD Model adalah untuk membatasi kekuasaan masing- masing negara untuk mengenakan pajak atas keuntungan yang didistribusikan pada individu atau perusahaan yang bukan merupakan subjek pajak dalam negeri negaranya, meskipun keuntungan tersebut diterima dari wilayahnya, hal ini sesuai dengan prinsip resident (Domisili) sedangkan pada UN memberikan hak pemajakan dengan negosiasi antara negara, sehingga negara sumber masih bisa memajaki tanpa adanya ketentuan yang membatasi seperti max tarif di OECD, ketentuan yang dipakai adalah hasil negosiasi. Penjelasan lebih lanjut di bawah.

Penjelasan Art 10, 11, 12 dan perbedaan ketentuan yang diatur di OECD dan UN Model

 

OECD Model

UN Model

Art

Dividen

Pasal 10 OECD Model dan UN Model berkaitan dengan alokasi hak pemajakan dalam

10

situasi di mana suatu perusahaan yang merupakan subjek pajak dalam negeri di negara sumber membayar dividen kepada subjek pajak dalam negeri di negara domisili, masing-masing negara pihak dalam P3B memiliki hak pemajakan atas dividen namun, hak pemajakan negara sumber atas dividen tersebut dibatasi (limited taxation right) berdasarkan suatu persentase tertentu dari jumlah bruto pembayaran dividen dan kepemilikan saham

OECD menentukan tarif dividen untuk negara sumber sebesar 5% jika kepemilikan sahamnya minimal 25%, sedangkan lainnya 15%

sedangkan model UN ditentukan sebesar ……. Persen tergantung hasil negoisasi, namun tarif lebih rendah jika kepemilikan sahamnya minimal 10%

Art

Interest

OECD Model dan UN Model tidak memberikan alokasi hak pemajakan atas bunga

11

secara ekslusif, baik kepada negara sumber penghasilan maupun negara domisili, masing-masing negara pihak dalam P3B memiliki hak pemajakan atas penghasilan bunga, akan tetapi, baik dalam OECD Model maupun UN Model, hak pemajakan negara sumber dibatasi sampai suatu persentase tertentu saja sedangkan jumlah pinjaman tidak mempengaruhi tarif.

OECD Model mencantumkan tarif maksimum 10% yang dapat dikenakan oleh negara sumber penghasilan

sedangkan UN Model tidak mencantumkan suatu persentase tertentu untuk membuka ruang diskusi dalam menentukan besaran tarif yang akan disepakati kemudian

Art

Royalti

Dalam OECD Model, hak pemajakan atas

negara sumber memiliki hak pemajakan terbatas atas penghasilan royalti. Dalam hal ini, besaran batasan persentasenya diserahkan kepada proses negosiasi antara negara-negara yang mengadakan P3B tersebut.

12

royalti diberikan sepenuhnya kepada negara domisili. Negara sumber tidak diperbolehkan untuk mengenakan pemotongan pajak atas royalti, namun sebagian besar P3B di dunia tidak mengikuti

B. Perbedaan umum antara OECD Model dan UN Model

 

OECD Model

UN Model

Latar

peningkatan volume perdagangan antar negara maju yang menimbulkan masalah pajak internasional.

OECD model dianggap diskriminatif dalam menyelesaikan masalah pajak internasional antara negara maju dengan negara berkembang karena dalam OECD model terdapat hak eksklusif bagi negara domisili untuk memungut pajak atas penghasilan-penghasilan tertentu, seperti royalti, keuntungan penjualan saham dan sekuritas lain, pembayaran dana pensiun swasta, pembatasan hak memungut pajak dari negara sumber atas penghasilan-penghasilan tertentu, seperti dividen yang boleh dikenakan pajak hanya 5%,

Belakang

Pengguna

Model yang dikembangkan oleh negara-negara Eropa Barat, prinsip yang digunakan adalah azas pengenaan pajak domisili karena

Model yang dikembangkan untuk memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang, sehingga prinsip sumber penghasilan tergambar dalam model ini

Keadaan

kebanyakan pengekspor modal dan jasa (investor)

Source (Sumber daya), pegimpor jasa dan modal dari luar

negara

C.

Struktur dan perbedaan artikel 23 antara OECD Model dan UN Model

Dalam Artikel 23 ini menjelaskan metode untuk mengeliminasi pengenaan pajak berganda, dua metode yang dikenalkan adalah metode exemption (23a) dan Credit (23b)

Berikut ringkasan isi struktur dari pasal 23a

Article

Paragraph

OECD Model

UN Model

23 A

1

Dalam ayat ini tidak ada perbedaan diantara kedua model, ayat satu menjelaskan tentang salah satu metode eliminasi pajak berganda adalah dengan pembebasan. Dimana penduduk dari salah satu negara mendapatkan penghasilan atau kekayaan yang mungkin dipajaki di negara lain atau negara sumber , maka negara yg disebut pertama kali (negara domisilinya) melakukan pembebasan penghasilan atas pengenaan pajak dengan ketentuan yang diatur dalam pasal 2 dan 3.

singkat kata, suatu negara melepaskan hak yuridiksinya untuk mengenakan pajak atas penghasilan yang mungkin dikenakan pajak di negara lain.

 

2

Ayat ini merupakan ketentuan pengecualian dari ketentuan umum yang diatur dalam Pasal 23A ayat (1) , di sini penerapannya tidak lagi metode pembebasan melainkan metode pengkreditan dengan batasan

   

OECD model hanya menyebutkan pajak yang dikenakan atas dividen dan bunga di negara sumber dapat menjadi kredit pajak bagi negara domisili. Besaran pajak yang dapat dikreditkan maksimal sebesar pajak yang telah dikenakan oleh negara sumber

Sedangkan UN Model menambah satu jenis penghasilan selain dividen dan bunga yang dapat menjadi kredit pajak di negara domisili yaitu royalti

   

pungutan pungutan tersebut dapat dikurangkan karena penghasilannya dari luar dihitung kembali di negara domisili dan pengurangan tersebut tidak boleh lebih besar daripada pajak sebelum diberikan pengurang.

 

3

Penghasilan yang dibebaskan pemajakannya di negara sumber, maka penghasilan tersebut dikenai pajak di negara domisili. Sehingga tidak terjadi nontaxation

 

4

OECD model menambah 1 ayat pada pasal 23 yang menjelaskan bahwa pengkreditan pajak atas penghasilan, dalam hal ini dividen dan bunga, dapat berlaku apabila negara-negara yang melakukan perjanjian tidak mengkatagorikan ini sebagai penghasilan yang tidak dikenai pajak. Sepanjang itu dipenuhi maka pengkreditan pajak yang telah dipungut atas penghasilan tersebut dapat dilakukan

Sedangkan UN Model tidak memberikan penjelasan lebih lanjut

Perbedaan Article 23 B antara OECD dan UN Model hanya terletak pada format penulisan paragraf 1, dimana OECD Model memisah ketentuan kredit pajak yang diberikan oleh negara domisili menjadi dua poin a dan b, sedangkan UN Model langsung menjadikan satu alinea.

Terjemahan Article 23 B per paragraph

1. Apabila penduduk dari salah satu negara pihak pada persetujuan memperoleh penghasilan atau kepemilikan harta yang berdasarkan ketentuan-ketentuan pada perjanjian ini dapat dikenakan pajak di negara lainnya, negara yang disebut pertama harus memberikan kredit pajak atas penghasilan dari penduduk tersebut sejumlah pajak penghasilan yang dibayar di negara lainnya, dan kredit pajak atas kekayaan penduduk tersebut adalah sebesar pajak atas kekayaan yang dibayar di negara lainnya. Namun kredit pajak untuk masing-masing pajak tersebut tidak boleh melebihi jumlah pajak atas penghasilan yang dihitung sebelum dikurangi pajak atas penghasilan di negara lainnya itu.

2. Bila berdasarkan ketentuan persetujuan ini penghasilan yang diperoleh atau harta yang dimiliki oleh penduduk pada salah satu negara pada pihak persetujuan dibebaskan dari pajak negara tersebut, negara tersebut dalam menghitung pajak atas penghasilan lainnya atau kekayaan dari penduduk tersebut, tetap memperhitungkan penghasilan atau kekayaan yang dibebaskan dari pajak tersebut.

Penjelasan Article 23 B

1. Penghasilan atau harta dapat dikenakan pajak di negara lainnya, pajak yang dibayar di negara lainnya tersebut dapat dikreditkan sepanjang tidak melebihi jumlah pajak di negara domisili.

2. Penghasilan atau harta yang dibebaskan pajaknya dari negara lainnya merupakan obyek penghasilan dan dikenakan pajak di negara domisili.

D.

Kesimpulan

Article 23 A EXEMPTION METHOD berfokus pada Income

Asas teritorial digunakan, dimana penghasilan di negara A dipajaki di negara A, Penghasilan

di negara B dipajaki di negara B, dan membatasi kewenangan negara untuk memajaki persons baik individu atau corporation subjek pajak dalam negerinya yang mendapatkan penghasilan dari luar negeri dan dipajaki di luar negeri.

Total pajak merupakan penambahan dari pajak di negara A dan pajak di negara B.

Tetapi ada pengecualian, jika negara sumber memajaki penghasilan dari seorang penduduk dari negara berasas domisili tetapi dengan limited taxation right yaitu batasan presentase (OECD;ditetapkan maksimalnya) sedangkan (UN; hasil negosiasi)

Dan pajak yang dipungut di negara sumber menjadi kredit pajak, (OECD ; hanya dividen dan bunga) sedangkan (UN; Dividen, bunga dan royalti)

Di OECD (jika di negara sumber penghasilan tersebut tidak menjadi penghasilan yang dikenakan pajak) maka dikenakan pajak di negara domisili sehingga tidak terjadi nontaxation.

Article 23 B CREDIT METHOD berfokus pada Tax

Menggunakan World Wide Income sebagai tax base untuk menghitung pajak penghasilan dalam negeri.

Pajak yang dibayar di luar negeri digunakan sebagai kredit pajak di dalam negeri, sepanjang jumlahnya tidak melebihi pajak penghasilan yang ada di dalam negeri.