Anda di halaman 1dari 20

HUKUM DAN PRAKTIK TENAGA GIZI

DI INDONESIA

A. Pendahuluan
Dewasa ini masyarakat sudah mulai sadar tentang hukum terutama apa hak
dan kewajibannya. Kebangkitan akan hak-hak asasi manusia, khususnya di bidang
kesehatan dan tingginya pengetahuan pasien atau klien akan berbagai masalah
kesehatan mengakibatkan berubahnya pola hubungan dari paternal ke arah
hubungan sebagai partner antara petugas kesehatan dan klien. Selama ini pasien
dianggap sebagai orang awam yang tidak mempunyai kompetensi di bidang
kesehatan. Kedudukan klien dianggap lebih rendah dari petugas kesehatan. Hal ini
yang mempengaruhi terbentuknya hubungan paternalistik antara pertugas
kesehatan dengan klien. Oleh karena itu, klien perlu diberi peran untuk menilai
pelayanan kesehatan sebagai upaya pengendalian mutu layanan sehingga petugas
kesehatan harus berhati-hati dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Petugas kesehatan dituntut melayani klien secara profesional, tepat, bermutu, dan
sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan.
Tenaga gizi dalam memberikan pelayanan, baik yang dilayanani di institusi
kesehatan seperti di rumah sakit dan Puskesmas maupun praktek mandiri harus
sesuai dengan hukum, standar yang telah ditetapkan, dan kode etik profesi.
Berdasarkan pengamatan Penulis selama ini, tenaga gizi dan mahasiswa gizi belum
diberikan secara implisit materi tentang hukum kesehatan dan gizi. Mahasiswa di
luar gizi seperti di Keperawatan dan Kebidanan sudah sejak lama ada mata kuliah
etika dan hukum kesehatan.
Berdasarkan pengamatan Penulis, para tenaga gizi dalam menjalankan
praktik kegiziannya belum banyak mematuhi aturan yang dikeluarkan oleh Pejabat
yang berwenang. Sebagai contoh masih ada Tenaga Gizi di Puskesmas yang belum
memiliki Surat Izin Kerja (SIK) dan masih ada Tenaga Gizi yang melaksanakan praktik
mandiri yang tidak memiliki Surat Izin Praktik (SIP). Kondisi seperti ini tidak boleh
dibiarkan berkepanjangan, karena akan berdampak pada tuntutan hukum terutama
terhadap hukum pidana. Untuk maksud tersebut, seorang Tenaga Gizi harus sadar
akan ketaatan hukum dalam menjalankan praktik kegiziannya.
Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan
Sumberdaya Manusia Kesehatan nomor: HK.02.03/I/IV/2/16013/2014 tentang
Kurikulum Inti Pendidikan Diploma III Gizi mulai pertama kali ada mata kuliah Hukum
kesehatan. Capaian pembelajaran (CP) yang diharapkan adalah tenaga gizi taat
hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sebelum
kurikulum ini diterbitkan, masalah-masalah hukum yang terkait dengan praktek
kegizian hanya disinggung pada mata kuliah Etika Profesi.
Sangat disadari akan pentingnya para tenaga gizi memahami hukum,
terutama yang berhubungan dengan hukum kesehatan dan peraturan yang terkait
dengan praktek tenga gizi. Hukum kesehatan tersebut antara lain Undang-undang RI
nomor 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan dan Undang-Undang nomor 36
tahun 2009 tentang Kesehatan. Ada peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 26
tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan dan Praktek Tenaga Gizi wajib
dipahami oleh Ahli Gizi.
Dewasa ini klien sangat peduli tentang hak dan kewajibannya dalam
pelayanan kesehatan di Indonesia. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia

Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sahit pada pasal 32 menjelaskan, setiap
pasien mempunyai hak:

a. Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di


Rumah Sakit.
b. Memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien
c. Memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi.
d. Memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi
dan standar prosedur operasional.
e. Memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari
kerugian fisik dan materi.
f. Mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan.
g. Memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan
peraturan yang berlaku di RumahSakit.
h. Meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain
yang mempunyai Surat IzinPraktik (SIP) baik di dalam maupun di luar Rumah
Sakit.
i. Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-
data medisnya.
j. Mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis,
tujuan tindakan medis,alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang
mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yangdilakukan serta
perkiraan biaya pengobatan.
k. Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan
oleh tenaga kesehatanterhadap penyakit yang dideritanya.
l. Didampingi keluarganya dalam keadaan kritis.
m. Menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya selama
hal itu tidak mengganggupasien lainnya.
n. Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di
Rumah Sakit.
o. Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap
dirinya.
p. Menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan
kepercayaan yang dianutnya.
q. Menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga
memberikan pelayanan yangtidak sesuai dengan standar baik secara perdata
ataupun pidana. dan
r. Mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai dengan standar
pelayanan melalui media cetakdan elektronik sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Disamping mempunyai hak, pasien juga mempunyai kewajiban. Berdasarkan
Undang-Undang Republik IndonesiaNomor 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit
penjelasan pasal 31 ayat 1, setiap pasien mempunyai kewajiban yaitu mematuhi
ketentuan yang berlaku di rumahsakit, memberikan imbalan jasa atas pelayanan
yang diterima di rumah sakit sesuai dengan ketentuanyang berlaku, memberikan
informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya kepadatenaga
kesehatan di rumah sakit, dan mematuhi kesepakatan dengan rumah sakit.

Berdasarkan Undang-Undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pada pasal


141 dinyatakan bahwa upaya perbaikan gizi masyarakat ditujukan untuk peningkatan
mutu gizi perseorangan dan masyarakat. Peningkatan mutu gizi dilakukan melalui:
a. Perbaikan pola konsumsi makanan yang sesuai dengangizi seimbang.
b. Perbaikan perilaku sadar gizi, aktivitas fisik, dan kesehatan.
c. Peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi yang sesuai dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
d. Peningkatan sistem kewaspadaan pangan dan gizi.

Upaya perbaikan gizi dilakukan pada seluruh siklus kehidupan sejak dalam
kandungan sampai dengan lanjut usia dengan prioritas kepada kelompok rawan yaitu
bayi dan balita, remaja perempuan, ibu hamil, dan ibu menyusui. Pada pasal 143
Undang-Undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pemerintah
bertanggungjawab meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan
pentingnya gizi dan pengaruhnya terhadap peningkatan status gizi.

B. Tenaga Kesehatan dan Gizi


1. Tenaga Kesehatan
Menurut Undang-undang RI nomor 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan
pada pasal 1 ayat 1 menyebutkan bahwa tenaga kesehatan adalah setiap orang
yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan
/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis
tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
Tenaga di bidang kesehatan kesehatan terdiri atas tenaga kesehatan dan
asisten tenaga kesehatan. Pasal 9 dan 10 Undang-undang RI nomor 36 tahun
2014 tentang Tenaga Kesehatan menyatakan bahwa tenaga kesehatan harus
memiliki kualifikasi minimum Diploma Tiga, kecuali tenaga medis. Asisten tenaga
kesehatan harus memiliki kualifikasi minimum pendidikan menengah di bidang
kesehatan. Asisten tenaga kesehatan hanya dapat bekerja di bawah supervisi
tenaga kesehatan.
Tenaga kesehatan dapat dikelompokkan menjadi 13, yaitu:
a. Tenaga medis ( dokter, dokter gigi, dokter spesialis, dan dokter gigi spesialis)
b. Tenaga psikologi klinis
c. Tenaga Keperawatan
d. Tenaga Kebidanan
e. Tenaga Kefarmasian
f. Tenaga Kesehatan Masyarakat
g. Tenaga Kesehatan lingkungan
h. Tenaga Gizi.
i. Tenaga Keterapian fisik
j. Tenaga Keteknisianmedis
k. Tenaga Teknik Biomedika
l. Tenaga Kesehatan Tradisional
m. Tenaga Kesehatan lain.
Penjelasan tentang kelompok tenaga kesehatan tersebut diatas dapat dilihat
pada pasal 11 ayat 2 sampai ayat 14 Undang-undang RI nomor 36 tahun 2014
tentang Tenaga Kesehatan.

2. Tenaga Gizi
Tenaga kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga gizi terdiri atas
nutrisionis dan Dietisien.Nutrisionis adalah seseorang yang diberi tugas ,
tanggung jawab wewenang secara penuh oleh pejabat berwenang untuk
melakukan kegiatan teknis fungsional di bidang pelayanan gizi, makanan dan
dietetik, baik di masyarakat maupun rumah sakit dan unit pelaksana kesehatan
lain.

Dietisien adalah tenaga gizi yang berlatar belakang pendidikan Strata 1 Gizi
(Sarjana Gizi) atau Diploma IV Gizi (Sarjana Terapan Gizi) dan menyelesaikan
pendidikan Profesi Dietisien serta lulus uji kompetensi.Menurut Kamus Gizi,
2009 menyatakan Dietesien adalah seseorang yang mempunyai pendidikan gizi
khususnya dietetik yang bekerja untuk menerapkan prinsip-prinsip gizi dalam
pemberian makanan kepada individu atau kelompok, merencanakan menu dan
diet khusus serta mengawasi penyelenggaraan dan penyajian makanan.

Teknikal Registered Dietisien (TRD) adalah seorang yang telah mengikuti dan
menyelesaikan pendidikan Diploma Tiga Gizi sesuai aturan yang berlaku atau Ahli
Madya Gizi yang telah lulus uji kompetensi dan teregistrasi sesuai ketentuan
peraturan perundangundangan.
Nutrisionis Registered (NR) adalah tenaga gizi Sarjana Terapan Gizi dan Sarjana
Gizi yang telah lulus uji kompetensi dan teregistrasi sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Registered Dietisien yang disingkat RDadalah tenaga gizi sarjanaterapan gizi atau
sarjana gizi yang telah mengikuti pendidikan profesi(internship) dan telah lulus uji
kompetensi serta teregistrasi sesuaiketentuan peraturan peraturan perundang-
undangan berhakmengurus ijin memberikan pelayanan gizi, makanan dan
dietetik danmenyelenggarakan praktik gizi mandiri.

3. Registrasi Tenaga Kesehatan dan Gizi.


Tenaga kesehatan secara administratif harus mempunyai Surat Tanda Registrasi
(STR). Menurut Undang-undang RI nomor 36 tahun 2014 tentang Tenaga
Kesehatan pasal 44 ayat 2 disebutkan bahwa STR diberikan oleh konsil masing-
masing tenaga kesehatan setelah memenuhi persyaratan. Sampai saat ini, STR
diberikan oleh Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI).
Persyaratan untuk memperoleh STR meliputi:
a. Memiliki ijazah pendidikan di bidang kesehatan
b. Memiliki sertifikat kompetensi atau sertifikat profesi
c. Memiliki surat keteranga sehat fisik dan mental
d. Memiliki surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji profesi.
e. Membuat pernyataan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi.

Masa berlaku STR adalah selama 5 tahun. Persyaratan untuk registrasi ulang
berdasarkan Undang-undang RI nomor 36 tahun 2014 tentang Tenaga
Kesehatan pasal 44 ayat 5 meliputi:

a. Memiliki STR lama


b. Memiliki sertifikat kompetensi atau sertifikat profesi.
c. Memiliki suratketerangan sehat fisik dan mental.
d. Membuat pernyataan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi
e. Telah mengabdikan dirii sebagai tenaga profesi atau vokasi di bidangnya,
f. Memenuhi kecukupan dalam kegiatan pelayanan, pendidikan, pelatihan,
dan/atau kegiatan ilmiah lainnya.

4. Sumpah/ Janji Tenaga Gizi


Sesuai dengan Undang-Undang No. 36 Tahun 2014 pasal 44 menyebutkan
bahwa setiap Tenaga Kesehatan yang menjalankan praktik wajib memiliki Surat
Tanda Registrasi (STR) dengan salah satu persyaratannya adalah memiliki surat
pernyataan telah mengucap sumpah/janji profesi dan membuat pernyataan
mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi.Pengucapan sumpah/janji
profesi ini merupakan salah satu syarat memperoleh Surat Tanda Registrasi dan
pengakuan sebagai anggota profesi gizi.
Pengucapan Sumpah/Janji Profesi Gizi, yang selanjutnya disebut Pengucapan
Sumpah/Janji adalah peristiwa pengucapan lafal sumpah/janji tenaga gizi yang
tercantum dalam naskah sumpah/janji, yang dilakukan secara sukarela
dihadapan pejabat pengambil sumpah/janji atas nama Ketua DPP PERSAGI yang
disaksikan oleh rohaniwan masing-masing agama.

Naskah Sumpah/Janji Profesi Gizi adalah dokumen yang memuat isi sumpah/janji
profesi gizi yang ditandatangani oleh tenaga gizi di atas meterai, pengambil
sumpah, dan saksi.
Isi Sumpah/Janji Profesi Gizi adalah kewajiban-kewajiban terhadap Tuhan Yang
Maha Esa, Sesama Manusia, Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,
Organisasi Profesi, Teman Sejawat, dan Diri Sendiri.

adalah pernyataan tertulis dan ditandatangani di atas materai yang dilakukan


oleh tenaga profesi gizi yang telah mengucapkan sumpah/janji profesi sesuai
kualifikasi jenis tenaga gizi.
Di bawah ini adalah contoh Sumpah/Janji Profesi Teknikal Dietesien yang dikutip
dari Surat Keputusan Bersama Ketua Umum DPP PERSAGI dan Ketua Umum
AIPGI nomor: 681/SK/DPP-PERSAGI/I/2016 dan nomor: 001/SK/AIPGI/I/2016
tentang Pedoman Penatalaksanaan Pengucapan Sumpah/Janji Profesi Gizi,
sebagai berikut.
SUMPAH/JANJI PROFESI TEKNIKAL DIETISIEN
Nomor : ...-.......-....-...
Saya bersumpah/berjanji, bahwa sebagai TEKNIKAL DIETISIEN :
1. Saya akan melaksanakan tugas saya sebaik-baiknya menurut peraturan
perundangan yang berlaku dengan penuh tanggung jawab dan
kesungguhan.
2. Saya akan berempati, membela hak dan menghargai tradisi, budaya dan
spiritual klien yang saya layani.
3. Saya akan mengabdikan ilmu dan keterampilan saya dengan jujur dan adil
sejalan dengan kode etik profesi saya.
4. Saya akan menjaga martabat dan menghormati keluhuran profesi, dan terus
menerus mengembangkan ilmu gizi.
5. Saya akan membina kerjasama, keutuhan dan kesetiakawanan dengan
teman sejawat dan profesi lainnya dalam melaksanakan tugas.
6. Saya tidak akan membeda-bedakan pangkat, kedudukan, keturunan,
golongan, suku, bangsa dan agama dalam melaksanakan tugas atas dasar
kemanusiaan.
7. Saya tidak akan menginformasikan kepada siapapun segala rahasia yang
berhubungan dengan tugas saya, kecuali jika diminta oleh Pengadilan untuk
keperluan kesaksian.
Sumpah/janji ini saya ikrarkan dengan sungguh-sungguh, penuh kesadaran dan
dengan mempertaruhkan kehormatan saya sebagai TEKNIKAL DIETESIEN.
Bagi yang beragama Islam: “Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada
saya”
Bagi yang beragama Katolik: “Kiranya Tuhan menolong saya”
Bagi yang beragama Kristen Protestan: “Kiranya Tuhan menolong saya”
Bagi yang beragama Hindu: “Om Santi Santi Santi Om”
Bagi yang beragama Budha “ Sadhu Sadhu Sadhu”
Bagi yang beragama Kong Hu Cu “..............”
(opsional, sesuai Agama masing-masing)
..............................., ............................... 20..

Yang Mengambil Sumpah/Janji Yang Mngucapkan Sumpah/Janji

Materai Rp. 6000


------------------------------ ---------------------------------
Nama Nama
Nama dan Nomor KTA

Saksi
Rohaniwan
---------------------------------
Nama

Disamping wajib mengucapkan sumpah/ janji, seorang tenaga gizi wajib


membuat surat pernyataan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi
gizi. Contoh redaksi surat pernyataan untuk jenis profesiTeknikan Dietesien
sebagai berikut:

SURAT PERNYATAAN
MEMATUHI DAN MELAKSANAKAN KETENTUAN ETIKA PROFESI GIZI
Yang bertanda tangan di bawah ini, Saya :
- Nama :
- Jenis Kelamin :
- Tempat / Tanggal Lahir :
- Agama :
- Pendidikan : Diploma III Gizi
- Institusi Pendidikan :
- Jenis Profesi : Teknikal Dietisen
menyatakan dengan sesungguhnya, bahwa saya akan senantiasa MEMATUHI dan
MELAKSANAKAN KETENTUAN ETIKA PROFESI GIZI dalam menjalankan tugas saya
sebagai Teknikal Dietisien.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan kesadaran dan tanpa paksaan dari
pihak manapun, untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
................................, ..................... 20..
Yang Menyatakan
Materai Rp. 6.000,-

Nama terang

C. Kode Etik Profesi Gizi.


Seorang Ahli Gizi atau tenaga gizi dalam menjalankan praktik kegiziannya harus
sesuai dengan Kode Etik PERSAGI. Dalam mukadimah Kode Etik PERSAGI
dicantumkan bahwa Ahli Gizi harus senantiasa bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, AD-ART, dan Kode Etik
Profesi Gizi. Pengabdian profesi gizi dilaksanakan dalam bentuk upaya perbaikan gizi,
pengembangan IPTEK gizi serta ilmu terkait, dan pendidikan gizi.
Ada 8 prinsip umum yang harus dipahami oleh Ahli Gizi, seperti yang tercantum
dalam Kode Etik, yaitu:
1. Ahli Gizi berkewajiban untuk meningkatkan keadaan gizi, kesehatan, kecerdasan,
dan kesejahteraan rakyat.
2. Ahli Gizi wajib menjunjung tinggi nama baik profesi gizi, dengan menunjukkan
sikap, perilaku dan budi luhur, serta tidak mementingkan kepentingan pribadi.
3. Ahli Gizi berkewajiban untuk senantiasa menjalankan profesinya menurut ukuran
tertinggi.
4. Ahli Gizi berkewajiban untuk senantiasa menjalankan profesinya dengan bersikap
jujur, tulus, dan adil.
5. Ahli Gizi dalam menjalankan profesinya, berkewajiban untuk senantiasa
berdasarkan prinsip keilmuan, informasi terkini, dan dalam menginterpretasikan
informasi, hendaknya secara obyektif tanpa bias individu dan mampu
menunjukkan sumber rujukan yang benar.
6. Ahli Gizi berkewajiban untuk senantiasa mengenal dan memahami
keterbatasannya sehingga bisa bekerjasamadengan pihak lain atau membuat
rujukan bila diperlukan.
7. Ahli Gizi berkewajiban untuk senantiasa berusaha menjadi pendidik rakyat yang
sebenarnya.
8. Ahli Gizi, dalam bekerjasama dengan para profesional lain, baik di bidang
kesehatan maupun lainnya, berkewajiban untuk senantiasa memelihara
pengertian yang sebaik-baiknya.
Ada 4 (empat) kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang Ahli Gizi yaitu kewajiban
terhadap klien, kewajiban terhadap masyarakat, kewajiban terhadap teman
seprofesi dan mitra kerja, dan kewajiban terhadap profesi dan diri sendiri. Menurut
Bachyar Bakri dan Anasari Mustafa, 2010 untuk memudahkanpara Ahli Gizi dalam
memahami Kode Etik, dapat ditarik dengan menggunakan esensi menggunakan kata
kunci sebagai berikut:

1. Kewajiban terhadap Klien


Ahli Gizi di sepanjang waktunya, senantiasa berusaha untuk:
a. Memelihara dan meningkatkan status gizi klien, baik dalam lingkup institusi
pelayanan gizi maupun dalam masyarakat umum.
b. Menjaga kerahasiaan klien atau masyarakat.
c. Menghormati, menghargai, dan tidak mendiskriminasikan.
d. Memberikan pelayanan gizi yang prima.
e. Memberi informasi yang tepat, jelas, dan apabila tidak mampu senantiasa
berkonsultasi.
2. Kewajiban terhadap masyarakat
Ahli Gizi di sepanjang waktunya, senantiasa berusaha untuk:
a. Melindungi masyarakat dari informasi yang keliru dan mengarahkan kepada
kebenaran.
b. Melakukan pengawasan pangan dan gizi.

3. Kewajiban terhadap teman Seprofesi dan mitra kerja


Ahli Gizi di sepanjang waktunya, senantiasa berusaha untuk:
a. Bekerjasama dengan berbagai disiplin ilmu sebagai mitra kerja.
b. Memelihara hubungan persahabatan yang harmonis.
c. Loyal dan taat asas.
4. Kewajiban terhadap profesi dan diri sendiri.

Ahli Gizi di sepanjang waktunya, senantiasa berusaha untuk:

a. Melindungi dan menjunjung tinggi ketentuan profesi.


b. Mengikuti perkembangan IPTEK terkini.
c. Percaya diri, menerima pendapat orang lain yang memang benar.
d. Mengetahui keterbatasan diri sendiri.
e. Mendahulukan kepentiangan umum di atas kepentingan pribadi.
f. Tidak memuji diri sendiri.
g. Memelihara kesehatan dan gizinya.
h. Bekerja untuk masyarakat umum.
i. Benar-benar melaksanakan tugas pelayanan gizi.

Ahli Gizi dalam menjalankan praktik profesinya harus mengikuti dan melengkapi
semua persyaratan hukum dan peraturan yang berkaitan dengan
profesionalismenya, dan menunjukkan sikap disiplin dalam kondisi sebagai
berikut:

a. Tidak terlibat tindakan kriminal menurut undang-undang yang berlaku.


b. Mematuhi semua disiplin dan peraturan yang berlaku.
c. Patuh pada semua aturan organisasi, hukum, dan pemerintah.

D. Peraturan Perundang-Undangan terkait Gizi.


Dibawah ini ada peraturan perundang-undangan yang sebaiknya dibaca dan
dimengerti serta dilaksanakan agar dalam menjalankan praktek kegiatan kegizian
tidak melanggar hukum. Peraturan tersebut antara lain:
1. Undang-Undang nomor: 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Jakarta.
2. Undang-Undang nomor: 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan. Jakarta.
3. Undang-Undang nomor: 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran. Jakarta.
4. Undang-Undang nomor: 38 tahun 2014 tentang Keperawatan. Jakarta.
5. Undang-Undang nomor: 18 tahun 2012 tentang Pangan. Jakarta.
6. Undang-Undang nomor: 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Jakarta.
7. Peraturan Pemerintah RI nomor 33 tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu
Ekslusif. Jakarta.
8. Peraturan Presiden RI nomor 8 tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional
Indonesia. Jakarta.
9. Peraturan Presiden RI no 42 tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan
Perbaikan Gizi. Kemenkes RI . Jakarta.
10. Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor: 374/Menkes/SK/V/2009 tentang
Sistem Kesehatan Nasional. Kemenkes RI. Jakarta.
11. Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor: 1457/Menkes/SK/X/2003tentang
Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten /Kota. Kemenkes RI.
Jakarta.
12. Keputusan MenteriKesehatan RI nomor 726/Menkes/SK/V/2003 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di Bidang Kesehatan. Kemenkes RI.
Jakarta.
13. Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 78 tahun 2013 tentang Pedoman
Pelayanan Gizi Rumah Sakit. Kemenkes RI. Jakarta.
14. Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 1796/Menkes/Per/VIII/2011 tentang
Registrasi Tenaga Kesehatan. Kemenkes RI. Jakarta
15. Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 26 tahun 2013 tentang Penyelenggaraan
Pekerjaan dan Praktek Tenaga Gizi. Kemenkes RI. Jakarta
16. Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor: 41 tahun 2014 tentang Pedoman Gizi
Seimbang. Kemenkes RI. Jakarta.
17. Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor: 46 tahun /2013 tentang Registrasi
Tenaga Kesehatan. Kemenkes RI. Jakarta.
18. Peraturan Bersama Menteri Kesehatan RI dan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan RI nomor: 36 tahun 2013, nomor 1/IVPB/2013 tentang Uji
Kompetensi Bagi Mahasiswa Perguruan Tinggi Bidang Kesehatan. Jakarta.
19. Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 75 tahun 2014 tentang Puskesmas.
Kemenkes RI. Jakarta.
20. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI nomor 73 tahun 2013 tentang
Penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia bidang Pendidikan Tinggi.
21. Menko Kesra, 2013. Pedoman Perencanaan Program Gerakan Nasional
Percepatan Perbaikan Gizi dalam Rangka Seribu Hari Pertama Kehidupan
(Gerakan 1000 HPK)
22. Persagi dan AIPGI, 2016. Pedoman Penatalaksanaan Pengucapan Sumpah/Janji
Profesi Gizi. Persagi dan AIPGI, Jakarta.
23. PERSAGI, 2014. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga 2014-2019..
Jakarta.
24. PERSAGI, 2014. Kode Etik PERSAGI. Jakarta.

E. Praktik Tenaga Gizi


Dalam melaksanakan praktik kegizian, seorang tenaga gizi harus mematuhi
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Salah satu aturan yang harus ditaati
adalah peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 26 tahun 2013 tentang
Penyelenggaraan Pekerjaan dan Praktik Tenaga Gizi. Pembahasan di bawah ini akan
disarikan atau dikutip hal-hal penting tentang praktik tenaga gizi berdasarkan
peraturan Menteri Kesehatan tersebut.

1. Kualifikasi Tenaga Gizi.

Berdasarkan pendidikannya, Tenaga Gizi dikualifikasikan sebagai berikut:


a. Tenaga Gizi lulusan Diploma Tiga Gizi sebagai Ahli Madya Gizi.
b. Tenaga Gizi lulusan Diploma Empat Gizi sebagai Sarjana Terapan Gizi.
c. Tenaga Gizi lulusan Sarjana sebagai Sarjana Gizi.
d. Tenaga Gizi lulusan pendidikan profesi sebagai Registered Dietisien.

Tenaga Gizi Ahli Madya Gizi yang telah lulus uji kompetensi dan teregistrasi
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, merupakan Tenaga Gizi
Technical Registered Dietisien. Tenaga Gizi Sarjana Terapan Gizi dan Sarjana Gizi
yang telah lulus uji kompetensi dan teregistrasi sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan, merupakan Tenaga Gizi Nutrisionis Registered. Tenaga
Gizi Sarjana Terapan Gizi atau Sarjana Gizi yang telah mengikuti pendidikan
profesi dan telah lulus uji kompetensi serta teregistrasi sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan, merupakan Tenaga Gizi Registered Dietisien.

2. Sertifikat Kompetensi dan STRTGz.

a. Tenaga Gizi untuk dapat melakukan pekerjaan dan praktiknya harus memiliki
STRTGz.
b. Untuk dapat memperoleh STRTGz tenaga Gizi harus memiliki sertifikat
kompetensi sesuai peraturan perundang-undangan.
c. STRTGz dikeluarkan oleh MTKI dengan masa berlaku selama 5 (lima) tahun.
d. STRTGz dapat diperoleh sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

3. SIPTGz dan SIKTGz.


a. Tenaga Gizi dapat menjalankan praktik Pelayanan Gizi secara mandiri atau
bekerja di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
b. Tenaga Gizi yang menjalankan praktik Pelayanan Gizi secara mandiri harus
merupakan Tenaga Gizi Registered Dietisien.
c. Tenaga Gizi Technical Registered Dietisien dan Nutrisionis Registered hanya
dapat bekerja di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
d. Dalam hal tidak terdapat Tenaga Gizi Registered Dietisien, maka Tenaga Gizi
Technical Registered Dietisien dan Nutrisionis Registered dapat melakukan
Pelayanan Gizi secara mandiri atau berkoordinasi dengan tenaga kesehatan
lain yang ada di Fasilitas Pelayanan Kesehatan tempat Tenaga Gizi yang
bersangkutan bekerja.

Setiap Tenaga Gizi Registered Dietisien yang melakukan praktik Pelayanan Gizi
secara mandiri dan bekerja di Fasilitas Pelayanan Kesehatan wajib memiliki
SIPTGz. Setiap Tenaga Gizi Technical Registered Dietisien dan Nutrisionis
Registered yang melakukan pekerjaan Pelayanan Gizi di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan wajib memiliki SIKTGz.

SIPTGz atau SIKTGz diberikan kepada Tenaga Gizi yang telah memiliki STRTGz,
dikeluarkan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota, dan berlaku untuk 1
(satu) tempat.

4. Cara Memperoleh SIPTGz atau SIKTGz

Untuk memperoleh SIPTGz atau SIKTGz, Tenaga Gizi harus mengajukan


permohonan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota dengan melampirkan:
a. Fotokopi ijazah yang dilegalisir.
b. Fotokopi STRTGz.
c. Surat keterangan sehat dari dokter yang memiliki Surat Izin Praktik.
d. Surat pernyataan memiliki tempat kerja di Fasilitas Pelayanan Kesehatan atau
tempat praktik Pelayanan Gizi secara mandiri.
e. Pas foto terbaru ukuran 4X6 cm sebanyak 3 (tiga) lembar berlatar belakang
merah.
f. Rekomendasi dari kepala dinas kesehatan kabupaten/kota atau pejabat yang
ditunjuk, dan
g. Rekomendasi dari Organisasi Profesi.

Apabila SIPTGz atau SIKTGz dikeluarkan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota,


persyaratan rekomendasi huruf f tidak diperlukan.

5. Tempat Praktik Tenaga Gizi


Tenaga Gizi hanya dapat melakukan pekerjaan dan/atau praktik paling banyak di
2 (dua) tempat kerja/praktik. Permohonan SIPTGz atau SIKTGz kedua dapat
dilakukan dengan menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah memiliki SIPTGz
atau SIKTGz pertama.
6. Pelaksanaan Pelayanan Tenaga Gizi
Tenaga Gizi yang memiliki SIKTGz dapat melakukan Pelayanan Gizi di fasilitas
pelayanan Kesehatan berupa:
a. Puskesmas.
b. Klinik.
c. Rumah Sakit, dan
d. Fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
Tenaga Gizi yang memiliki SIPTGz dapat melakukan praktik pelayanan gizi secara
mandiri. Tenaga Gizi yang akan memberikan Pelayanan Gizi secara mandiri harus
memiliki peralatan sesuai dengan kebutuhan pelayanankonseling gizi dan
Pelayanan Gizi di berbagai fasilitas.
Pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan dilarang mengizinkan Tenaga Gizi yang
tidak memiliki SIPTGz atau SIKTGz untuk melakukan Pelayanan Gizi di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan tersebut.

7. Kewenangan
Tenaga Gizi dalam melaksanakan pelayanan gizi di fasilitas pelayanan kesehatan,
mempunyai kewenangan sebagai berikut:
a. Memberikan pelayanan konseling, edukasi gizi, dan dietetik.
b. Pengkajian gizi, diagnosis gizi, dan intervensi gizi meliputi perencanaan,
preskripsi diet, implementasi, konseling dan edukasi serta fortifikasi dan
suplementasi zat gizi mikro dan makro,pemantauan dan evaluasi gizi, merujuk
kasus gizi, dan dokumentasi pelayanan gizi.
c. Pendidikan, pelatihan, penelitian dan pengembangan pelayanan gizi.
d. Melaksanakan penyelenggaraan makanan untuk orang banyak atau
kelompok orang dalam jumlah besar.

Tenaga Gizi Technical Registered Dietisien dalam melaksanakan kewenangan


hanya terbatas pada:
a. Pemberian Pelayanan Gizi untuk orang sehat dan dalam kondisitertentu yaitu
ibu hamil, ibu menyusui, bayi, anak, dewasa, danlanjut usia.
b. Pemberian pelayanan gizi untuk orang sakit tanpa komplikasi.

Dalam melaksanakan pelayanan gizi Tenaga Gizi Technical Registered Dietisien


berada dalam bimbingan Tenaga Gizi Registered Dietisien. Tenaga Gizi Nutrisionis
Registered dalam melaksanakan kewenangan sesuai dengan standar profesi.

Selain kewenangan diatas, Tenaga Gizi Registered Dietisien dalam melaksanakan


pelayanan gizi juga memiliki kewenangan yang meliputi:
a. Menerima klien/pasien secara langsung atau menerima preskripsidiet dari
dokter.
b. Menangani kasus komplikasi dan non komplikasi.
c. Memberi masukan kepada dokter yang merujuk bila preskripsidiet tidak
sesuai dengan kondisi klien/pasien, dan/atau
d. Merujuk pasien dengan kasus sulit/critical ill dalam hal preskripsidiet ke
dokter spesialis yang berkompeten.
8. Hak Tenaga Gizi

Dalam melaksanakan pelayanan gizi, Tenaga Gizi mempunyai hak:


a. Memperoleh perlindungan hukum selama menjalankan
pekerjaannyasesuai standar profesi Tenaga Gizi.
b. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien/klien
ataukeluarganya.
c. Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan kompetensi.
d. Menerima imbalan jasa profesi.
e. Memperoleh jaminan perlindungan terhadap risiko kerja yangberkaitan
dengan tugasnya sesuai ketentuan peraturan perundangundangan.
9. Kewajiban Tenaga Gizi

Dalam melaksanakan pelayanan gizi, Tenaga Gizi mempunyai


kewajiban:
a. Menghormati hak pasien/klien.
b. Memberikan informasi tentang masalah gizi pasien/klien danpelayanan yang
dibutuhkan dalam lingkup tindakan pelayanan gizi.
c. Merujuk kasus yang bukan kewenangannya atau tidak dapatditangani.
d. Menyimpan rahasia pasien/klien sesuai dengan ketentuanperaturan
perundang-undangan.
e. Mematuhi standar profesi, standar pelayanan, dan standaroperasional
prosedur.
Disamping kewajiban umum diatas, ada 2 (dua) kewajiban lain yang harus
dilakukan oleh tenaga gizi dalam memberi pelayanan gizi, yaitu:
a. Dalam melaksanakan pelayanan gizi, Tenaga Gizi wajib melakukan
pencatatatan.
b. Pencatatan tersebut wajib disimpan selama 5 (lima) tahun.

10. Pengawasan

Dalam rangka pelaksanaan pengawasan tenaga gizi, pemerintah daerah provinsi


atau kepala dinas kesehatan provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota
atau kepala dinas kesehatan kabupaten/kota dapat memberikan tindakan
administratif kepada Tenaga Gizi yang melakukan pelanggaran pekerjaan dan
praktik pelayanan gizi.
Tindakan administratif dilakukan berupa:
a. Teguran lisan.
b. Teguran tertulis, dan/atau
c. Pencabutan SIPTGz dan/atau SIKTGz.

F. Malpraktik
Dalam dunia profesi, khususnya di bidang kesehatan istilah malpraktek sudah
sangat umum didengar dan dijumpai di masyarakat. Banyak kejadian kasus
malpraktek yang terjadi di masyarakat dan institusi pelayanan kesehatan. Dalam
konsep kesehatan banyak definisi tentang istilah tersebut.
Kata malpraktek, secara harfiah terdiri dari 2 kata yaitu mal dan praktek. Mal
mempunyai arti salah, dan praktek berarti pelaksanaan atau tindakan. Jadi
malpraktek artinya tindakan yang salah. Secara konseptual arti dari malpraktek
adalah untuk menyatakan adanya tindakan yang salah dalam rangka pelaksanaan
suatu profesi.
Menurut Valentin V La Society de Bienfaisance Mutuelle de Los Angelos,
California, 1956 dalam Buku Saku Etika Profesi dan Hukum Kesehatan, 2011
menyatakan bahwa malpraktek profesi kesehatan adalah kelalaian seorang dokter
atau perawat untuk mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu pengetahuan
dalam mengobati dan merawat pasien, yang lazim dipergunakan terhadap pasien
atau orang yang terluka menurut ukuran lingkungan yang sama.
Dalam bidang etika profesi, ukuran normatif yang dipakai untuk menentukan adanya
ethical malpractice atau yudicial malpractice adalah sangat berbeda. Tidak setiap
ethical malpractice merupakan yudicial malpractice, namun semua yudicial
malpractice pasti merupakan ethical malpractice.
Malpraktik dapat dikategorikan menjadi 3 sesuai dengan bidang hukum yang
dilanggar yaitu criminal malpractice, civil malpractice, dan administrative
malpractice. Menurut Rismalinda, 2011, seseorang dapat dikatakan criminal
malpractice apabila perbuatan tersebut memenuhi delik pidana yaitu:
1. Perbuatan tersebut merupakan perbuatan tercela.
2. Dilakukan dengan sikap batin yang salah yang berupa kesengajaan dan
kecerobohan atau kealpaan.
3. Bersifat kesengajaan antara lain melakukan euthanasia (pasal 344 KUHP),
membuka rahasia jabatan (pasal 332 KUHP), membuat surat keterangan palsu
(pasal 263 KUHP), melakukan aborsi tanpa indikasi medis (pasal 299 KUHP).
4. Bersifat ceroboh, antara lain melakukan tindakan medis tanpa persetujuan
pasien berupa informed consent.
Pertanggungjawaban didepan hukum pada criminal malpractice adalah bersifat
individu dan oleh sebab itu tidak dapat dialihkan kepada orang lain.
Seorang tenaga kesehatan dikatakan melakukan civil malpractice apabila tidak
melaksanakan kewajiban sebagaimana yang telah disepakatai atau ingkar janji.
Perbuatan tenaga kesehatan yang dapat dikategorikan civil malpractice antara lain:

1. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan.


2. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi terlambat
melakukannya.
3. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak
sempurna.
4. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya dilakukan.
Pertanggungjawaban civil malpractice dapat bersifat personal atau korporasi.

Tenaga kesehatan dapat dikatakan melakukan administrative malpractice, apabila


telah melanggar hukum administratif. Sebagai contoh dalam Peraturan Menteri
Kesehatan RI nomor 26 tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan dan Praktek
Tenaga Giziseorang ahli gizi yang bekerja di pelayanan kesehatan harus mempunyai
Surat Izin Kerja (SIK), dan seorang Ahli Gizi kalau melakukan praktik mandiri harus
mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang.

Dalam Undang-undang RI nomor 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan pada


pasal 1 ayat 8 dinyatakan bahwa tenaga kesehatan yang melakukan praktik profesi
harus mempunyai surat pengakuan dalam bentuk sertifikat profesi. Disamping itu
pula secara administratif tenaga kesehatan dalam menjalankan tugas/ praktiknya
harus mempunyai sertifikat kompetensi, Surat Tanda Registrasi (STR), dan telah
mempunyai kualifikasi tertentu lain serta mempunyai pengakuan secara kukum
untuk menjalankan praktiknya.

G. Ringkasan
Dewasa ini seorang tenaga gizi harus senantiasa sadar hukum agar dalam
menjalankan praktek kegiziannya tidak terjadi malpraktik dan terhindar dari jeratan
hukum. Hal lain yang wajib ditaati adalah Kode Etik Profesi Gizi. Dalam Kode Etik
Profesi Gizi ada 4 (empat) kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang Ahli Gizi
yaitu kewajiban terhadap klien, kewajiban terhadap masyarakat, kewajiban terhadap
teman seprofesi dan mitra kerja, dan kewajiban terhadap profesi dan diri sendiri.
Dalam rangka praktik kegizian, tenaga gizi harus memiliki beberapa dokumen,
antara lain:
1. Mempunyai Sertifikat lulus uji kompetensi.
2. Mempunyai Surat Pernyataan Telah Mengucapkan Sumpah/Janji Profesi Gizi.
3. Surat pernyataan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi gizi.
4. Memiliki STRTGz.
5. Memiliki SIKTGz.bagi yang bekerja di institusi pelayanan kesehatan.
6. Memiliki SIPTGz. bagi yang melaksanakan praktik mandiri.
Dalam melaksanakan pelayanan gizi, Tenaga Gizi mempunyaikewajiban:

a. Menghormati hak pasien/klien.


b. Memberikan informasi tentang masalah gizi pasien/klien danpelayanan yang
dibutuhkan dalam lingkup tindakan pelayanan gizi.
c. Merujuk kasus yang bukan kewenangannya atau tidak dapatditangani.
d. Menyimpan rahasia pasien/klien sesuai dengan ketentuanperaturan perundang-
undangan.
e. Mematuhi standar profesi, standar pelayanan, dan standaroperasional prosedur.

Dalam melaksanakan pelayanan gizi, Tenaga Gizi mempunyai hak:

a. Memperoleh perlindungan hukum selama menjalankan pekerjaannya sesuai


standar profesi Tenaga Gizi.

b. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien/klien atau keluarganya.

c. Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan kompetensi.

d. Menerima imbalan jasa profesi.

e. Memperoleh jaminan perlindungan terhadap risiko kerja yang berkaitan dengan


tugasnya sesuai ketentuan peraturan perundangundangan.

Glosarium
1. Persatuan Ahli Gizi Indonesia yang selanjutnya disebut PERSAGI adalah wadah
organisasi profesi bagi tenaga gizi di Indonesia dan berbadan hukum sesuai
peraturan yang berlaku.
2. Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Gizi Indonesia yang selanjutnya disebut AIPGI,
adalah wadah organisasi institusi pendidikan tinggi gizi di Indonesia dan
berbadan hukum sesuai peraturan yang berlaku.
3. Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang
kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/ atau keterampilan melalui
pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis kualifikasi tertentu memerlukan
kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
4. Nutrisionis adalah seseorang yang diberi tugas , tanggung jawabwewenang
secara penuh oleh pejabat berwenang untuk melakukan kegiatan teknis
fungsional di bidang pelayanan gizi, makanan dan dietetik, baik di masyarakat
maupun rumah sakit dan unit pelaksana kesehatan lain.
5. Nutrisionis Registered adalah tenaga gizi Sarjana Terapan Gizi dan Sarjana Gizi
yang telah lulus uji kompetensi dan teregistrasi sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan
6. Registered Dietisien yang disingkat RDadalah tenaga gizi sarjana
terapan gizi atau sarjana gizi yang telah mengikuti pendidikan profesi
(internship) dan telah lulus uji kompetensi serta teregistrasi sesuai
ketentuan peraturan peraturan perundang-undangan berhak
mengurus ijin memberikan pelayanan gizi, makanan dan dietetik dan
menyelenggarakan praktik gizi mandiri.
7. Dietisien adalah tenaga gizi yang berlatar belakang pendidikan Strata 1 Gizi
(Sarjana Gizi) atau Diploma IV Gizi (Sarjana Terapan Gizi) dan menyelesaikan
pendidikan Profesi Dietisien serta lulus uji kompetensi.
8. Teknikal Registered Dietisien yang disingkat TRD adalah seorang yang telah
mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Diploma Tiga Gizi sesuai aturan yang
berlaku atau Ahli Madya Gizi yang telah lulus uji kompetensi dan teregistrasi
sesuai ketentuan peraturan perundangundangan.
9. Tenaga Gizi adalah setiap orang yang telah lulus pendidikan di bidang gizi sesuai
ketentuan peraturan perundangan-undangan.
10. Pengucapan Sumpah/Janji Profesi Gizi, yang selanjutnya disebut Pengucapan
Sumpah/Janji adalah peristiwa pengucapan lafal sumpah/janji tenaga gizi yang
tercantum dalam naskah sumpah/janji, yang dilakukan secara sukarela
dihadapan pejabat pengambil sumpah/janji atas nama Ketua DPP PERSAGI yang
disaksikan oleh rohaniwan masing-masing agama.
11. Surat Pernyataan Telah Mengucapkan Sumpah/Janji Profesi Gizi adalah
pernyataan tertulis dan ditandatangani di atas materai yang dilakukan oleh
tenaga profesi gizi yang telah mengucapkan sumpah/janji profesi sesuai
kualifikasi jenis tenaga gizi.
12. Surat Pernyataan Mematuhi dan Melaksanakan Ketentuan Etika Profesi Gizi
adalah pernyataan tertulis dan ditandatangani di atas materai yang dilakukan
oleh tenaga profesi gizi yang berkomitmen mematuhi dan melaksanakan
ketentuan etika profesi gizi sesuai kualifikasi jenis tenaga gizi.
13. Pelayanan Gizi adalah suatu upaya memperbaiki atau meningkatkan, makanan,
dietetik masyarakat, kelompok, individu atau klien yang merupakan suatu
rangkaian kegiatan yang meliputi pengumpulan, pengolahan, analisis, simpulan,
anjuran, implementasi dan evaluasi gizi, makanan dan dietetik dalam rangka
mencapai status kesehatan optimal dalam kondisi sehat atau sakit.
14. Surat Izin Praktik Tenaga Gizi yang selanjutnya disingkat SIPTGz adalah bukti
tertulis pemberian kewenangan untuk menjalankan praktik pelayanan gizi secara
mandiri.
15. Surat Izin Kerja Tenaga Gizi yang selanjutnya disebut SIKTGz adalah bukti tertulis
pemberian kewenangan untuk menjalankan pekerjaan pelayanan gizi di fasilitas
pelayanan kesehatan.
16. Standar Profesi Tenaga Gizi adalah batasan kemampuan minimal yang harus
dimiliki/dikuasai oleh tenaga gizi untuk dapat melaksanakan pekerjaan dan
praktik pelayanan gizi secara profesional yang diatur oleh organisasi profesi.
17. Surat Tanda Registrasi Tenaga Gizi yang selanjutnya disebut STRTGz adalah bukti
tertulis yang diberikan oleh Pemerintah kepada Tenaga Gizi yang telah memiliki
sertifikat kompetensi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
18. Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia yang selanjutnya disingkat MTKI adalah
lembaga yang berfungsi untuk menjamin mutu tenaga kesehatan yang
memberikan pelayanan kesehatan.
19. Organisasi Profesi adalah Persatuan Ahli Gizi Indonesia.
Daftar Singkatan
STR : Surat Tanda Registrasi
SIP : Surat Izin Praktik
SIK : Surat Izin Kerja
MTKI : Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia
SOP : Standar Operasional Prosedur.
TRD : Teknikal Registered Dietisien
NR : Nutrisionis Registered
RD : Registered Dietisien
STRTGz: Surat Tanda Registrasi Tenaga Gizi.
SIKTGz : Surat Izin Kerja Tenaga Gizi.
SIPTGz : Surat Izin Praktik Tenaga Gizi.
IPTEK : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Daftar Pustaka.
1. Undang-Undang nomor: 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Jakarta.
2. Undang-Undang nomor: 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan. Jakarta.
3. Undang-Undang nomor: 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran. Jakarta.
4. Undang-Undang nomor: 38 tahun 2014 tentang Keperawatan. Jakarta.
5. Undang-Undang nomor: 18 tahun 2012 tentang Pangan. Jakarta.
6. Undang-Undang nomor: 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Jakarta.
7. Peraturan Presiden RI nomor 8 tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional
Indonesia. Jakarta.
8. Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 78 tahun 2013 tentang Pedoman
Pelayanan Gizi Rumah Sakit. Kemenkes RI. Jakarta.
9. Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 1796/Menkes/Per/VIII/2011 tentang
Registrasi Tenaga Kesehatan. Kemenkes RI. Jakarta
10. Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 26 tahun 2013 tentang Penyelenggaraan
Pekerjaan dan Praktek Tenaga Gizi. Kemenkes RI. Jakarta
11. Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor: 46 tahun /2013 tentang Registrasi
Tenaga Kesehatan. Kemenkes RI. Jakarta.
12. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI nomor 73 tahun 2013 tentang
Penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia bidang Pendidikan Tinggi.
13. Keputusan Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumberdaya
Manusia Kesehatan nomor: HK.02.03/I/IV/2/16013/2014 tentang Kurikulum Inti
Pendidikan Diploma III Gizi. Kemenkes RI. Jakarta.
14. Persagi dan AIPGI, 2016. Pedoman Penatalaksanaan Pengucapan Sumpah/Janji
Profesi Gizi . Persagi dan AIPGI, Jakarta.
15. PERSAGI, 2014. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga 2014-2019..
Jakarta.
16. PERSAGI, 2005. Kode Etik PERSAGI. Jakarta.
17. Rismalinda, 2011. Buku Saku Etika Profesi dan Hukum Kesehatan. Trans Info
Media. Jakarta.
18. Soeroso, R., 2002. Pengantar Ilmu Hukum. Sinar Grafika. Jakarta.
19. M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, 1999. Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
20. Hendrik, 2011. Etika dan Hukum Kesehatan. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta.
21. Suryani S.,2007. Etika Kebidanan & Hukum Kesehatan. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta.
22. Danny Wiradharma, 1996. Penuntun Kuliah Hukum Kedokteran. Binarupa Aksara.
Jakarta.
23. K. Bertens, 2002. Etika. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
24. Soemaryono, E., 1995. Etika Profesi Hukum, Norma-Norma bagi Penegak Hukum.
Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
25. Mimin Emi S., 2004. Etika Keperawatan, Aplikasi pada Praktek. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta.
26. Bachyar Bakri dan Annasari Mustafa, 2010. Etika dan Profesi Gizi. Graha Ilmu.
Yogyakarta.