Anda di halaman 1dari 18

BAGIAN RADIOLOGI REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN FEBRUARI 2018


UNIVERSITAS MUSLIM INDONEISA

FRAKTUR COLLES

DISUSUN OLEH:
Widya Kemalasari
111 2017 2101

SUPERVISOR PEMBIMBING:
dr. Suciati Damopolli, Sp.Rad,M.Kes

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN RADIOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2018

1
LEMBAR PENGESAHAN

Referat yang berjudul “Fraktur Colles” yang dipersiapkan dan disusun oleh:

Nama : Widya Kemalasari


NIM : 111 2017 2101

Telah diperiksa dan dianggap telah memenuhi syarat Tugas Ilmiah Mahasiswa

Pendidikan Profesi Dokter dalam disiplin ilmu Radiologi pada,

Hari/Tanggal : 28 Februari 2018

Tempat : Rumah Sakit Islam Faisal

Makassar, 28 Februari 2018

Menyetujui,

Pembimbing Penulis

dr.Suciati Damopolii, Sp.Rad, M.Kes St.Mardayanti Marzuki

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……………………………………………………………... 1

LEMBAR PENGESAHAN 2

DAFTAR ISI... . 3

BAB I. PENDAHULUAN. . 4

Latar Belakang . 4

BAB II. Tinjauan Pustaka. . 7

A. Definisi. . 7

B. Patogenesis . 8

C. Gejala Klinik . 8

D. Diagnosis . 9

E. Penalatalaksanaan 13

BAB III. Kesimpulan 17

DAFTAR PUSTAKA 18

3
BAB I

PENDAHULUAN

Sejak jaman Hipocrates sampai awal abad 19, fraktur distal radius masih

disalah artikan sebagai dislokasi dari pergelangan tangan. Abraham Colles (1725 –

1843) pada tahun 1814 mempublikasikan sebuah artikel yang berjudul ‘On the fracture

of the carpal extremity of the radius’. Sejak saat itu fraktur jenis ini diberi nama sebagai

fraktur Colles sesuai dengan nama Abraham Colles. Fraktur Colles adalah fraktur yang

terjadi pada tulang radius bagian distal yang berjarak 1,5 inchi dari permukaan sendi

radiocarpal dengan deformitas ke posterior, yang biasanya terjadi pada umur di atas

45-50 tahun dengan tulang yang sudah osteoporosis. Kalau ditemukan pada usia muda

disebut fraktur tipe Colles. Jenis luka yang terjadi akibat keadaan ini tergantung

usia penderita. Pada anak-anak dan lanjut usia, akan menyebabkan fraktur tulang

radius. Insidensinya yang tinggi berhubungan dengan permulaan osteoporosis pasca

menopause. Karena itu pasien biasanya wanita yang memiliki riwayat jatuh pada

tangan yang terentang.

Biasanya penderita jatuh terpeleset sedang tangan berusaha menahan badan

dalam posisi terbuka dan pronasi. Gaya akan diteruskan ke daerah metafisis radius

distal yang akan menyebabkan patah radius 1/3 distal di mana garis patah berjarak 2

cm dari permukaan persendian pergelangan tangan. Fragmen bagian distal radius

terjadi dislokasi ke arah dorsal, radial dan supinasi. Gerakan ke arah radial sering

menyebabkan fraktur avulsi dari prosesus styloideus ulna, sedangkan dislokasi bagian

4
distal ke dorsal dan gerakan ke arah radial menyebabkan subluksasi sendi radioulnar

distal. Momok cedera tungkai atas adalah kekakuan, terutama bahu tetapi kadang-

kadang siku atau tangan. Dua hal yang harus terus menerus diingat :

1. Pada pasien manula, terbaik untuk tidak mempedulikan fraktur tetapi

berkonsentrasi pada pengembalian gerakan;

2. Apapun jenis cedera itu, dan bagaimanapun cara terapinya, jari harus

mendapatkan latihan sejak awal.

Kejadian fraktur Colles cukup tinggi, tetapi sampai sekarang masih banyak

perbedaan mengenai klasifikasi, cara reposisi, metoda fiksasi, faktor yang

mempengaruhi hasil akhir serta prognosis. Hasil yang baik dapat dicapai dengan

diagnosa yang tepat, reposisi yang akurat, fiksasi yang adekuat serta rehabilitasi yang

memadai. Reposisi tertutup biasanya tidak sulit, tetapi sulit untuk

mempertahankan hasil reposisi, terutama pada fraktur kominutif. Selama ini

metoda fiksasi yang banyak dianut adalah dengan gips sirkuler panjang sampai di

atas siku dengan posisi siku fleksi 900, lengan bawah pronasi, pergelangan

tangan fleksi dan deviasi ulna seperti yang dianjurkan oleh Salter atau Walstrom

yang dikenal dengan “Cotton Loader“. Pada penelitian selanjutnya ternyata metode ini

mempunyai beberapa kelemahan yaitu angka peranjakan ulang yang tinggi, dan

mengakibatkan ‘malunion’, penekanan saraf medianus, kaku sendi, nyeri dan

gangguan fungsi pergelangan tangan. Khusus untuk fraktur Colles, fraktur jenis ini

termasuk fraktur yang juga cukup sering terjadi terutama mengenai dewasa dengan 8-

5
15% kasus dari seluruh fraktur. Dan seperti telah apa yang dituturkan

sebelumnya, untuk menegakkan suatu diagnosis diperlukan juga suatu tahap

pemeriksaan radiologis. Maka dari itu, pada refarat ini akan dibahas mengenai

pemeriksaan radiologis pada fraktur Colles.

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang

dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Cedera yang

digambarkan oleh Abraham Colles pada tahun 1814 adalah fraktur melintang

pada radius tepat di atas pergelangan tangan, dengan pergeseran dorsal fragmen

distal.

B. EPIDEMIOLOGI

Fraktur distal radius terutama ‘fraktur Colles’ lebih sering ditemukan pada

wanita, dan jarang ditemui sebelum umur 50 tahun. Secara umum insidennya

kira-kira 8 – 15% dari seluruh fraktur dan diterapi di ruang gawat darurat. Dari

suatu survey epidemiologi yang dilakukan di Swedia, didapatkan angka 74,5%

dari seluruh fraktur pada lengan bawah merupakan fraktur distal radius. Umur

di atas 50 tahun pria dan wanita 1 berbanding 5. Sebelum umur 50 tahun,

insiden pada pria dan wanita lebih kurang sama di mana fraktur Colles lebih

kurang 60% dari seluruh fraktur radius. Sisi kanan lebih sering dari sisi kiri.

Angka kejadian rata-rata pertahun 0,98%. Usia terbanyak dikenai adalah antara

umur 50 – 59 tahun.

7
C. PATOGENESIS

Trauma yang menyebabkan fraktur di daerah pergelangan tangan biasanya

merupakan trauma langsung, yaitu tangan sebelah volar menyebabkan dislokasi

fragmen fraktur sebelah distal ke arah dorsal. Dislokasi ini menyebabkan bentuk

lengan bawah dan tangan bila dilihat dari samping menyerupai garpu, seperti yang

terjadi pada fraktur Colles.

Umumnya fraktur distal radius terutama fraktur Colles’ dapat timbul setelah

penderita terjatuh dengan tangan posisi terkedang dan meyangga badan. Pada saat

terjatuh sebahagian energi yang timbul diserap oleh jaringan lunak dan persendian

tangan, kemudian baru diteruskan ke distal radius, hingga dapat menimbulkan patah

tulang pada daerah yang lemah yaitu antara batas tulang kortikal dan tulang spongiosa.

Pada saat jatuh terpeleset, posisi tangan berusaha untuk menahan badan dalam

posisi terbuka dan pronasi. Lalu dengan terjadinya benturan yang kuat, gaya akan

diteruskan ke daerah metafisis radius distal dan mungkin akan menyebabkan patah

radius 1/3 distal di mana garis patah berjarak 2 cm dari permukaan persendian

8
pergelangan tangan. Sehingga tulang yang kemungkinan mengalami fratur pada

posisi tersebut adalah radius distal.

Dengan posisi tangan pada saat jatuh seperti gambar di atas, maka gaya yang

kuat akan berlawanan arah ke daerah pergelangan tangan. Dan seperti yang telah

disebutkan sebelumnya bahwa yang mungkin mengalami fraktur adalah distal radius

sebab dilihat dari struktur jaringannya saja tulang daerah tersebut memang rawan

patah.

D. GAMBARAN KLINIS

Biasanya penderita mengeluh deformitas pada pergelangan tangan dengan adanya

riwayat trauma sebelumnya. Pada penemuan klinis untuk fraktur distal radius terutama

fraktur Colles akan memberikan gambaran klinis yang klasik berupa “dinner

fork deformity atau silver fork deformity, yaitu bagian distal fragmen fraktur beranjak

ke arah dorsal dan radial, bagian distal ulna menonjol ke arah volar, sementara tangan

9
biasanya dalam posisi pronasi, dan gerakan aktif pada pergelangan tangan tidak dapat

dilakukan. Selain itu juga didapatkan kekakuan, gerakan yang bebas terbatas, dan

pembengkakan di daerah yang terkena, nyeri bila pergelangan tangan digerakkan.

E. DIAGNOSIS

Diagnosis fraktur dengan fragmen terdislokasi tidak menimbulkan kesulitan.

Secara klinis dengan mudah dapat dibuat diagnosis patah tulang Colles. Bila fraktur

terjadi tanpa dislokasi fragmen patahannya, diagnosis klinis dibuat berdasarkan tanda

klinis patah tulang.

Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan radiologik juga diperlukan untuk mengetahui derajat remuknya

fraktur kominutif dan mengetahui letak persis. Pada gambaran radiologis dapat

diklasifikasikan stabil dan instabil. Dikatakan stabil apabila hanya terjadi satu garis

patahan, dan instabil bila patahannya kominutif dan“crushing” dari tulang cancellous.

Bila secara klinis ada atau diduga ada fraktur, maka harus dibuat 2 foto tulang

yang bersangkutan. Sebaiknya dibuat foto antero-posterior (AP) dan lateral.

Bila kedua proyeksi ini tidak dapat dibuat karena keadaan pasien yang tidak

mengizinkan, maka dibuat 2 proyeksi tegak lurus satu sama lain. Perlu diingat bahwa

bila hanya 1 proyeksi yang dibuat, ada kemungkinan fraktur tidak dapat dilihat.

Proyeksi tambahan oblik biasanya juga dibutuhkan untuk menilai trauma pada

10
persendian. Pada fraktur ekstremitas, daerah yang difoto harus cukup luas dengan

mencakup setidaknya satu persendian. Namun, pemeriksaan radiologis tulang yang

berada di antara dua sendi sebaiknya mencakup keseluruhan panjang tulang mulai dari

persendian proksimal hingga persendian distal tulang tersebut. Untuk melihat fraktur

pada tulang radius bagian distal, khususnya fraktur Colles, dibuat foto proyeksi AP dan

lateral.

Hal-hal yang harus diperhatikan pada pemeriksaan foto Roentgen:

 Adakah fraktur, dimana lokasinya?

 Tipe (jenis) fraktur dan kedudukan fragmen

 Bagaimana struktur tulang: biasa?patologik?

 Bila dekat/pada persendian:adakah dislokasi?fraktur epifisis?

Pemeriksaan foto Roentgen pada kasus curiga fraktur digunakan untuk:

 Mendiagnosis adanya fraktur dengan memperhatikan lokasinya, tipe (lokasi

fraktur), dan kedudukan fragmen. Bila dekat atau pada persendian, maka dapat

diperhatikan adanya dislokasi, fraktur epifisis, dan pelebaran sela sendi karena

efusi ke dalam rongga sendi.

11
 Menentukan struktur tulang apakah tulang dasarnya normal atau patologis. Foto

roentgen dilakukan segera setelah reposisi untuk menilai kedudukan fragmen.

Bila dilakukan reposisi terbuka perlu diperhatikan kedudukan pen

intramedular (kadang-kadang pen menembus tulang) ataupun plate and

screw (kadang-kadang screw lepas)

Hal-hal yang harus diperhatikan pada pemeriksaan foto rontgen:

1. Foto tulang apa

2. Jenis tulang (anak/dewasa)

3. Aligment: simetris/tidak

4. Bone : ada fraktur/tidak

Jika ada: jenisnya, lokasi fraktur, kedudukan fraktur, ada calus atau tidak, aada

komplikasi atau tidak, ada periosteal atau tidak, keadaan struktur tulang

(korteks dan medulla)

5. Cartilago: apakah ada dislokasi atau tidak, destruksi, bagaimana celah sendinya

6. Soft Tissue: apakah ada swelling atau tidak

12
Gambaran Fraktur Colles AP dan Lateral

“Dinner Fork Deformity”

F. PENATALAKSANAAN

Non Operatif

 Semua fraktur harus direduksi tertutup kecuali bila penatalaksanaan

pembedahan dibutuhkan. Reduksi fraktur tertutup membantu mengurangi

swelling post injury, mengurangi nyeri, dan mengurangi kompresi pada

nervus media.

 Cast imobilisasi diindikasikan untuk:

13
o Nondisplaced atau fraktur displaced minimal

o Fraktur displaced dengan pola fraktur yang stabil yang diperkirakan

dapat menyatu dalam aceptable radiographic parameters

o Pasien manula dengan kebutuhan rendah yang mana telah terjadi

penurunan fungsi kurang diprioritaskan karena risiko operasi.

 Fraktur tak bergeser (atau hanya sedikit sekali bergeser), fraktur dibebat dalam

slab gips yang dibalutkan sekitar dorsum lengan bawah dan pergelangan tangan

dan dibalut kuat dalam posisinya.

 Fraktur yang bergeser harus direduksi dibawah anastesi. Tangan dipegang

dengan erat dan traksi diterapakn di sepanjang tulang itu ( kadang – kadang

dengan ekstensi pergelangan tangan untuk melepaskan fragmen; fragmen distal

kemudian didorong ke tempatnya dengan menekan kuat – kuat pada dorsum

sambil memanipuasi pergelangan tangan ke dalam fleksi, deviasi ulnar dan

pronasi. Posisi kemudian dieperiksa dengan sinar X. kalau posisi memuaskan,

dipasang slab gips dorsal, membentang dari tepat di bawah siku sampai leher

metakarpal dan 2/3 keliling dari pergelangan tangan itu. Slab ini dipertahankan

pada posisinya dengan pembalut kain krap. Posisi deviasi ulnar yang ekstrim

harus dihindari.

 Lengan tetap ditinggikan selama satu atau dua hari lagi; latihan bahu dan jari

segera dimulai setelah pasien sadar. Kalau jari-jari membengkak, mengalami

sianosis atau nyeri, harus tidak ada keragu-raguan untuk membuka pembalut.

14
 Setelah 7-10 hari dilakukan pengambilan sinar X yang baru; pergeseran ulang

sering terjadi dan biasanya diterapi dengan reduksi ulang; sayangnya,

sekalipun manipulasi berhasil, pergeseran ulang sering terjadi lagi.

 Fraktur menyatu dalam 6 minggu dan, sekalipun tak ada bukti penyatuan secara

radiologi, slab dapat dilepas dengan aman dan diganti dengan pembalut kain

krep sementara.

Bila kondisi ini tidak dapat segera dihadapkan pada ahli orthopedik, maka beberapa hal

berikut dapat dilakukan:

1. Lakukan tindakan di bawah anestesi regional

2. Reduksi dengan traksi manipulasi. Jari – jari ditempatkan pada Chinese Finger

traps dan siku dielevasi sebanyak 90 derajat dalam keadaan fleksi. Beban

seberat 8 – 10 pon digantungkan pada siku selama 5 – 10 menit atau sampai

fragmen disimpaksi

3. Kemudian lakukan penekanan fragmen distal pada sisi volar dengan

menggunakan ibu jari, dan sisi dorsal tekanan pada segmen proksimal

menggunakan jari – jari lainnya. Bila posisi yang benar telah didapatkan, maka

beban pun diturunkan.

4. Lengan bawah sebaiknya diimobilisasi dalam posisi supinasi atau midposisi

terhadap pergelangan tangan sebanyak 15 derajat fleksi dan 20 derajat deviasi

ulna.

15
5. Lengan bawah sebaiknya dibalut dengan selapis Webril diikuti dengan

pemasangan anteroposterior long arms splint

6. Lakukan pemeriksaan radiologi pasca reduksi untuk memastikan bahwa telah

tercapai posisi yang benar dan juga pemeriksaan pada saraf medianusnya.

7. Setelah reduksi, tangan harus tetap dalam keadaan terangkat selama 72 jam

untuk mengurangi bengkak. Latihan gerak pada jari-jari dan bahu sebaiknya

dilakukan sedini mungkin dan pemeriksaan radiologik pada hari ketiga dan dua

minggu pasca trauma. Immobilisasi fraktur yang tak bergeser selama 4-6

minggu, sedangkan untuk fraktur yang bergeser membutuhkan waktu 6-12

minggu.

16
BAB III

KESIMPULAN

1. Fraktur Colles adalah fraktur yang terjadi pada tulang radius bagian distal

dimana permukaan sendi radiocarpal dengan deformitas ke posterior

2. Fraktur paling sering ditemui pada wanita dan biasanya diatas 50 tahun

3. Trauma yang menyebabkan fraktur di daerah pergelangan tangan biasanya

merupakan trauma langsung, yaitu jatuh pada permukaan tangan sebelah volar

atau dorsal.

4. Fraktur colles memiliki gambaran klinis yang khas, yaitu “dinner fork

deformity atau silver fork deformity”

5. Jika diduga ada fraktur maka dibuat foto antero-posterior (AP) dan lateral.

Fraktur tidak dapat dilihat apabila hanya satu proyeksi yang dibuat.

6. fraktur dapat diperbaiki dengan dua cara non operatif dan operatif. Non operatif

dapat direduksi sedangkan operatif apabila hilangnya reduksi sekunder.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Sjamsuhidajat, Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah:Sistem Muskuloskeletal.

Edisi 2.Jakarta:EGC..Hal 840-70

2. Rasad, Sjahriar. Radiologi Diagnostik. Edisi 2. Jakarta:Balai Penerbit FKUI.

2009. Hal 31-43

3. Patel, Pradip R. Lecture Notes Radiologi. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Hal 222-30

4. Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Edisi 2.

Makassar:Bintang Lamumpatue. Hal 355-419

5. Grainger, R.G. Diagnostic Radiology. 2 Edition. Elsevier.1999. Page 1474-9

6. Hartanto, Huriawati,dkk. Kamus kedokteran dorlan. Edisi 29.

Jakarta:EGC.2002.Hal:876-77

18