Anda di halaman 1dari 6

SPBU

Pembebasan Beban Utang oleh M1 merupakan Keputusan Konstitutif

Terkait dokumen Sertifikasi Pelepasan Beban Utang (SPBU) untuk setiap warga negara yg disahkan oleh
UN Swissindo kepada Presiden RI serta Jajaran dikabinetnya dan telah terpublikasi sehingga memenuhi
syarat sbg Informasi Publik yang mengandung nilai, makna, dan pesan, baik data, fakta maupun
penjelasannya yang dapat dilihat, didengar, dan dibaca yang disajikan dalam berbagai kemasan dan
format sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi secara elektronik ataupun
nonelektronik.

Bahwa hak memperoleh informasi merupakan Hak Asasi Manusia dan keterbukaan informasi publik
merupakan salah satu ciri penting negara demokratis yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat untuk
mewujudkan penyelenggaraan negara yang baik, sehingga suatu badan publik yang berkaitan dengan
penyelenggara dan penyelenggaraan negara dan/atau penyelenggara dan penyelenggaraan badan publik
lainnya yang sesuai dengan Undang-Undang No. 14 tahun 2008 ttg Keterbukaan informasi publik, wajib
menyimpan, mengelola, mengirim dan atau diterima sebagai informasi publik dan menjadi hak publik yg
harus tersampaikan pada publik dalam hal ini rakyat atau masyarakat.

Bahkan merupakan pidana bagi setiap orang atau Badan hukum publik yg tdk mempublikasikan,
menyampaikan informasi yg dibutuhkan masyarakan apalagi informasi publik ini berupa pembebasan
beban utang yg sdh pasti diharapkan oleh setiap orang dan merupakan hak mutlak dan dilindungi undang
undang sehingga bila adanya dalam memperoleh informasi publik mendapat hambatan atau kegagalan
sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini maka berhak mengajukan gugatan ke pengadilan.

Bahwa UU yg mengatur Keterbukaan Informasi Publik adalah semata untuk mewujudkan


penyelenggaraan negara yang baik, yaitu yang transparan, efektif dan efisien, akuntabel serta dapat
dipertanggungjawabkan sesuai UU No. 28 tahun 1999 bahwa Penyelenggaraan Negara mempunyai
peranan yang sangat menentukan dalam penyelenggaraan negara untuk mencapai cita-cita perjuangan
bangsa mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang
Dasar 1945.

Bahwa Pihak Bank Indonesia dan Pemerintah RI sebetulnya sudah sangat mengetahui dan memahami
dokumen tersebut. Sehingga tidak ada pilihan lain bagi Bank Indonesia dan pemerintah harus segera
bersikap dan merespon dengan mengumumkan kepada publik sesuai isi Keputusan Hukum Mutlak dari
pengawas, pengontrol, pengolola dan pengendali aset global dunia yaitu M1, sertifikasi pelepasan beban
utang untuk rakyat atau setiap warga negara yang telah di keluarkan, disahkan dan dilegalkan oleh UN
SWISSINDO yg dipimpin oleh Pemilik Tunggal, Otoritas Tunggal, One Personal Only-Non Commercial, YM
Royal, K.681, H.M. MR.A1.Sino.AS.S”2”. IR.Soegihartonotonegoro H.W.ST.M1, sebagai Pemilik Tunggal
MICROFILM, Sertifikat Kode 99.98 Seri 1-4, Wareld Van Eighendom Verponding Onderneming-Landreform
of International Certificate, Convanel UBS, 1951. Pemegang U.N. Registrasi, Batavia 1945, UN-APPROVAL
No. MISA 81704, Patent License Agreement of Jaminan Cetak Uang Sah Standar Sah Bayar Dunia, Pemilik
tunggal 884 Bank Account diseluruh dunia, Infinite Bank Statements, The Committee of 300-The World
Bank Group-United Nations, Final Audited Register ASBLP-0330-2012.

Selain merespon SPBU Bank Indonesia juga harus mempertanggung jawabkan account global di 6 prime
bank di Indonesia dari 884 account yang telah di audit oleh bank dunia sebagaimana Final Audited Register
ASBLP-0330-2012.

Bahwa Sertifikasi tersebut adalah keputusan dan kebijakan hukum sebagai wujud nyata implementasi dan
aplikasi perlindungan dan pembelaan atas hak-hak dasar kehidupan umat manusia agar terbebas dari
segala bentuk penindasan, penjajahan dan penderitaan yang membelenggu dan menyengsarakan. Dan
mengembalikan umat manusia manjadi mahluk yang mulia, sejahtera, adil, makmur dan hidup yang harus
dipenuhi rasa kedamaian dalam menjalani kehidupan di planet bumi ini.

Sertifikasi pelepasan beban utang untuk rakyat atau umat sesungguhnya adalah merupakan pelaksaan
kongkrit dari idiologi dan falsafah Pancasila pada sila ke lima dan UUD 1945 pasal 33 ayat 1 s/d 4 dan pasal
34 ayat 1 s/d 3 serta telah ditetapkan dalam amanat serta mandat dunia yang dituangkan ke dalam
deklarasi Perserikatan Bangsa Bangsa (United Nation) tentang jaminan untuk menghormati dan
perlindungan atas hak-hak azasi manusia yang telah ditetapkan pada 10 Desember 1948 di Paris.

Surat sertifikasi pelepasan beban utang (SPBU) untuk setiap warga negara dan berlaku tidak hanya untuk
Indonesia saja akan tetapi juga berlaku untuk seluruh warga negara-negara yang ada di dunia.
Diluncurkannya (SPBU) tanggal 4 Februari 2016, dengan Ketetapan Bersama M1 dan Mahkamah Agung
Republik Indonesia, SPRIN NO.UN-81704/009 M1, tanggal 23 Juni 2016; dideklarasikan termasuk Program
UN Swissindo Perintah Pembayaran 1-11 atau Payment Order 1-11 (P1-11) dikenal secara Global dan
merealisasikan cita cita Bapak Pendiri, Indonesia Mercusuar Dunia di Aklamasi Akbar 16-10-2016 di Taman
Pandang Monas, Jakarta-Indonesia.

Keputusan hukum mutlak dan absolut tentang pelepasan pembebasan beban utang untuk rakyat ini
adalah Fakta Yuridis mengingat dikeluarkan oleh M1 Pemilik tunggal 884 Bank Account diseluruh dunia,
Infinite Bank Statements, The Committee of 300-The World Bank Group-United Nations, Final Audited
Register ASBLP-0330-2012 yang berhak dan berwenang sehingga bersifat menimbulkan hak maka dapat
disebut sbg Keputusan Konstitutif yang artinya Keputusan yang menimbulkan atau menciptakan hak bagi
yg menerima, keputusan yang membuat hubungan hukum, dan mempunyai akibat hukum.
Dalam dunia hukum, bila keputusan memenuhi 3 (tiga) syarat tersebut maka dapat disebut Keputusan
bersifat Ketetapan Deklaratur dan Ketetapan Konstitutif. Ketetapan Deklaratur hanya menyatakan bahwa
hukumnya demikian (recthtsvastellende beschikking) sedangkan Ketetapan Konstitutif adalah membuat
hukum (rechtscheppend).

Bahwa sejak keputusan konstitutif pembebasan beban utang oleh M1 maka secara hukum berlaku
Mutatis Mutandis, ketika Yang Mulia M1 melepaskan haknya maka seketika itu juga secara otomatis hak
itu sampai dan hak beralih kepada yang menerima (masyarakat), sehingga tindakan Perbankan yg tdk
merealisasikan/ melaksanakan adalah perbuatan yg bertentangan dgn hukum, karena pembebasan beban
utang sudah menjadi hak penerima manfaat dan sebaliknya merupakan kewajiban hukum Perbankan
untuk melaksanakan.

Pembebasan beban utang sangat diharapkan oleh masyarakat karena mengandung/ memuat hal-hal yang
baik dan layak untuk diikuti apalagi dibutuhkan dan menimbulkam keyakinan publik menjadi kekuatan
publik sehingga atas kekuatan keyakinan publik itu menjadi suatu kekuatan yg mengikat adalah juga
merupakan sumber hukum (Hukum tdk tertulis/Kebiasaan/keyakinan publik)

Maka pihak Perbankan/ Finamce tidak berhak lagi menagih apalagi menarik uang, karena hubungan
hukum antara pemilik utang nasabah (debitur) dan bank (kreditur) secara hukum telah berakhir, status
uang yang ditagih/tarik tidak lg berstatus uang cicilan, maka ketika pihak Pemerintah atau Bank Indonesia
mengumumkan berlaku dan merespon pembebasan beban utang oleh UN Swissindo maka sejak itu
terpenuhi unsur pidana penipuan dan atau penggelapan bagi pihak bank yg menerima uang cicilan dan
termasuk agunan tidak ada alasan untuk ditahan harus secepatnya diserahkan kepada nasabah, bisa
dibayangkan berapa kerugian yg diderita nasabah atas penahaman agunan milik nasabah, karena antara
perbankan dan nasabah sdh tdk ada lagi hubungan hukum tetapi yg ada hubungan hukum antara
Perbankan dgn UN Swissindo, apapun persoalannya seharusnya Nasabah / Masyarakat tdk boleh
terbebani akibat persoalan Perbankan dan UN Swissindo.

YY Advokat Internasional UNS-NEO UKOGSE

Semarang-Cirebon
13-4-2018

Note:
Seluruh Bank/Leasing harus mengembalikan semua penarikan dana installment/withdrawal mereka
terhadap nasabah sejak tanggal February 4, 2016 (the launch of the DBLC).

H.M. Ani Forest


WPM of Finance & Banking
DBLC
Debt Burden Liberation Certificate (DBLC) by M1 is a Constitutive Decision

In relation to the Debt Burden Liberation Certificate (DBLC) for every citizen, authorized by UN Swissindo
to the President of the Republic of Indonesia as well as the ranks of its cabinet, has been published so as
to qualify as Public Information containing values, meanings and messages, both data, facts and
explanations which may be viewed, heard, and read presented in various packaging and formats in
accordance with the development of information and communication technology electronically or non-
electronic.

That the right to obtain information is a human right and public information disclosure becomes one of
the important characteristics of a democratic state that upholds the sovereignty of the people to realize
the best country administration, so that a public body that relates to the country organizers and the
administration of the country and / or organizers and the administration of other public bodies in
accordance with Law no. 14 of 2008, on the disclosure of public information, shall keep, administer,
transmit and / or receive as public information and be a public right, which must be communicated to the
public in this case the people or society.

It is even a crime for any persons or public legal entity who does not publish, convey information needed
by the people let alone this public information in the form of debt burden liberation that has been surely
expected by every person and is an absolute right and protected by law so if there is any obstacles or
failures in obtaining this public information, in accordance with the decision of this Law, shall have the
right to bring a lawsuit to the court.

Whereas the Law governing the Transparency of Public Information is merely to realize the good country
administration, which is transparent, effective and efficient, accountable and obligated, according to Law
no. 28 of 1999 that the State Administration has a decisive role in the implementation of the state to
achieve the ideals of the nation's struggle to realize a just and prosperous society as stated in the 1945
Constitution.

Whereas the Parties of Bank Indonesia and the Government of the Republic of Indonesia have actually
been very aware and understand the particular document. So there is no other option for Bank Indonesia
and the government and should immediately respond publicly, by announcing the contents of the
Absolute Law Decree of the global supervisor, manager, controller and comptroller of the M1 assets, debt
burden liberation certificate for the people or every citizen that has been issued, validated and legalized
by UN SWISSINDO led by Single Owner, Single Authority, One Personal Only-Non Commercial, YM Royal,
K.681, HM MR.A1.Sino.AS.S "2". IR.Soegihartonotonegoro H.W.ST.M1, as the sole owner of MICROFILM,
Certificate Code 99.98 Series 1-4, Wareld Van Eighendom Verponing Onderneming-Landreform of
International Certificate, UBS Convanel, 1951. U.N. Registration, Batavia 1945, UN-APPROVAL No. MISA
81704, Patent License Agreement of Legal Payment Standard World Currency Printing, Single Owner of
884 Bank Accounts worldwide, Infinite Bank Statements, The Committee of 300-The World Bank Group-
United Nations, Final Audited Register ASBLP-0330-2012.

In addition to the DBLC, Bank Indonesia is also accountable for the global accounts in 6 prime banks in
Indonesia, part of the 884 accounts that have been audited by World Bank as Final Audited Register
ASBLP-0330-2012.

That the certification is a decision and a legal policy as a concrete manifestation of the implementation
and application of protection and defense of the basic rights of human life to be free from all forms of
oppression, suffering and aggravation of suffering and misery. And restore mankind, to be a noble,
prosperous, just, opulent and living creature who must be filled with a sense of peace in living life on this
planet earth.

The Debt Burden Liberation Certificate (DBLC) for the people or humanity is actually a concrete
implementation of the ideology and philosophy of Pancasila in the fifth precepts and the 1945
Constitution of article 33 verses 1 to 4 and Article 34 paragraph 1 to 3 and has been established in the
trust and world mandate as outlined in the United Nations declaration of guarantees for respect and
protection of human rights, established on 10 December 1948 in Paris.

The Debt Burden Liberation Certificate (DBLC) for every citizen, applies not only to Indonesia alone but
also applies to all citizens of countries in the world. DBLC was launched on February 4, 2016, with Joint
Decree of M1 and Mahkamah Agung (Supreme Court of the Republic of Indonesia) SPRIN NO.UN-
81704/009 M1, dated June 23, 2016; was declared including the UN Swissindo Program, Payment Order
1-11 (P1-11), which is known Globally and realizes the ideals of Founding Father, Indonesia the World
Lighthouse at Aklamasi Akbar (Grand Acclamation) 16-10-2016 at Taman Pandang Monas, Jakarta-
Indonesia.

Absolute and total legal decree concerning the debt burden liberation for the people is a Juridical Fact
considering that it was issued by M1, The sole owner of 884 Bank Accounts worldwide, Infinite Bank
Statements, The Committee of 300-The World Bank Group-United Nations, Final Audited Register ASBLP-
0330-2012 that is entitled and authorized to constitute a right, it may be referred to as a Constitutive
Decision, which means a Decision that causes or creates a right for a recipient, a decision that creates a
legal relationship, and has legal consequences.
In the legal world, if the decision fulfills 3 (three) conditions then it can be called Decision of Declaration
of Constitutive Decree. The provisions of the Declaration simply state that the law is so (recthtsvastellende
beschikking), whereas the Constitutive Decree is making the law (rechtscheppend).

Whereas since the constitutional decision on the debt burden liberation by M1, legally applies Mutatis
Mutandis, which when His Excellency M1 relinquishes his right, then immediately, the right automatically
reaches and switches to the recipients (community), therefore the actions of Banks that do not realize/
implement become unlawful deeds, because the debt burden liberation is already the right of beneficiary
and vice versa, it is the Banks’ legal obligation to implement.

Liberation of debt burden is expected by society because it contains / carries things that are good and
worthy to be followed let alone needed and public confidence creates public power so that the power of
public confidence becomes a binding force is also a source of law (Law written / Habit / public belief)

Therefore, the Banks/Financiers are no longer eligible to collect, especially withdraw money from the
debtor, because the legal relationship between the customer/debt owner (debtor) and the bank/financier
(creditor) by law has expired, it no longer has a status of money for repayment/installment/withdrawal.
So when the Government or Bank Indonesia announce the validity and supports the UN Swissindo DBLC,
it fulfills the elements of criminal fraud and/or embezzlement of the banks/financiers, for collecting the
installment/money, including holding their customers’ collateral, because there is no reason to further
detain and should be immediately handed back to their customers. You can imagine the loss and suffering
that their customers have to endure due to that fact.

There is no longer a legal binding relationship between the banks/financiers, only a legal binding
relationship between the banks/financiers and the UN Swissindo. Whichever the reason, the
Customers/Society should not be burdened with the banks/financiers and UN Swissindo issues.

YY International Advocate UNS-NEO UKOGSE

Semarang-Cirebon

13-4-2018

Note:
All Banks and Finance institutions must repay all the installments/repayments/withdrawal they have been
collecting since February 4, 2016 (the launch of the DBLC).

H.M. Ani Forest


WPM of Finance & Banking