Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN PENDAHULUAN

CLOSE FRAKTUR FEMUR

OLEH
YOLANDA EKA PUTRI
NPM. 1614901110210
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN PROFESI NERS
2016-2017
LAPORAN PENDAHULUAN
CLOSE FRAKTUR FEMUR

I. Konsep Penyakit
1.1 Definisi/deskripsi fraktur femur
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang
disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2000). Fraktur adalah Terputusnya kontinuitas
jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa.
(Sjamsuhidajat R., 1997). Fraktur adalah Patah tulang, biasanya disebabkan oleh
trauma atau tenaga fisik.(Price and Wilson, 2006). Fraktur adalah terputusnya
kontinuitas sebuah tulang sebagai akibat dari cedera (Hinchliff, 2002). Fraktur adalah
terputusnya kesinambungan sebagian atau seluruh tulang/bahkan tulang rawan
(Pusponegoro, 2012). Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan
sesuai jenis dan luasnya (Smeltzer, 2002). Fraktur merupakan hilangnya kontinuitas
tulang, tulang rawan, baik yang bersifat total maupun sebagian yang disebabkan oleh
trauma atau tenaga fisik (Helmi, 2012).
Fraktur Femur adalah hilangnya kontinuitas tulang paha, kondisi fraktur femur secara
klinis bisa berupa fraktur femur terbuka yang disertai adanya kerusakan jaringan
lunak (otot, kulit, jaringan saraf dan pembuluh darah) dan fraktur femur tertutup yang
dapat disebabkan oleh trauma langsung pada paha (Helmi, 2012).
Kesimpulan dari fraktur femur adalah patah tulang yang mengenai daerah tulang
paha yang dikarenakan tekanan, benturan, pukulan akibat dari kecelakaan serta
kelainan patologik pada tulang seperti adanya tumor, infeksi, pada pendertia penyakit
paget) yang mengakibatkan kerusakan jaringan tulang paha.
Klasifikasi jenis fraktur yang umum digunakan dalam konsep fraktur (Sumber :
Helmi, 2012)

1.2 Etiologi fraktur femur


Menurut Barbara (1999) penyebab patah tulang, antara lain:
1.2.1 Fraktur terjadi ketika tekanan yang menimpa tulang lebih besar daripada daya
tahan tulang, seperti benturan dan cedera.
1.2.2 Fraktur terjadi karena tulang yang sakit, ini dinamakan fraktur patologi yaitu
kelemahan tulang akibat penyakit kanker atau osteoporosis.

Menurut Sachdeva (1996), penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
1.2.1 Cedera traumatic
1.2.1.1 Cedera langsung, berarti pukulan langsung pada tulang sehingga
tulang patah secara spontan
1.2.1.2 Cedera tidak langsung, berarti pukulan langsung berada jauh dari
benturan, misalnya jatuh dengan tangan menjulur dan menyebabkan
fraktur klavikula.
1.2.1.3 Fraktur yang disebabkan kontraksi keras dari otot yang kuat.
1.2.2 Fraktur patologis
Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit, diman dengan trauma
minor dapat mengakibatkan fraktur, dapat juga terjadi pada keadaan :
1.2.1.1 Tumor tulang (jinak atau ganas)
1.2.1.2 Infeksi seperti osteomielitis
1.2.1.3 Rakhitis, suatu penyakti tulang yang disebabkan oleh devisiensi
vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain.
1.2.3 Secara spontan, disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya
pada penyakit polio dan orang yang bertugas di kemiliteran.

1.3 Tanda gejala fraktur femur


Daerah paha yang patah tulangnya sangat membengkak, ditemukan tanda functio
laesa, nyeri tekan dan nyeri gerak. Tampak adanya deformitas angulasi ke lateral atau
angulasi ke anterior. Ditemukan adanya perpendekan tungkai bawah. Pada fraktur
1/3 tengah femur, saat pemeriksaan harus diperhatikan pula kemungkinan adanya
dislokasi sendi panggul dan robeknya ligamentum didaerah lutut. Selain itu periksa
juga nervus siatika dan arteri dorsalis pedis (Mansjoer,dkk, 2000).
Tanda dan gejala fraktur femur umumnya antara lain (Helmi, 2012) :
1.3.1 Nyeri
1.3.2 Kehilangan fungsi
1.3.3 Deformitas
1.3.4 Pemendekan ekstermitas karena kontraksi otot
1.3.5 Krepitasi
1.3.6 Pembengkakan
1.3.7 Perubahan warna lokal pada kulit yang terjadi akibat trauma dan perdarahan
yang mengikuti fraktur

1.4 Patofisiologi fraktur femur


Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekeuatan dan gaya pegas untuk
menahan tekanan (Apley, A. Graham, 1993). Tapi apabila tekanan eksternal yang
datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang
yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang (Carpnito, Lynda
Juall, 1995). Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf
dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak.
Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga
medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah.
Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang
ditandai denagn vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah
putih. ini merupakan dasar penyembuhan tulang (Black, J.M, et al, 1993).

1.5 Pemeriksaan Penunjang


1.5.1 X.Ray
1.5.2 Bone scans, Tomogram, atau MRI Scans
1.5.3 Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler
1.5.4 CCT kalau banyak kerusakan otot
1.5.5 Pemeriksaan radiologi
Pada diagnosis fraktur, pemeriksaan yang penting adalah menggunakan sinar
rontgen (X-ray). Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan
dalam membaca gambaran radiologis adalah 6A, yaitu sebagai berikut :
1.5.5.1 Anatomi (misalnya proksimal tibia)
1.5.5.2 Artikular (misalnya intra-Vs ekstra-artikular)
1.5.5.3 Alignment (misalnya : first plane)
1.5.5.4 Angulation
1.5.5.5 Apeks (maksudnya fragmen distal fraktur)
1.5.5.6 Apposition
CT scan biasanya dilakukan hanya dilakukan pada beberapa kondisi fraktur
yang mana pemeriksaan radiografi tidak mencapai kebutuhan diagnosis.
1.5.6 Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang lazim dilakukan untuk mengetahui lebih jauh
kelainan yang terjadi seperti berikut :
1.5.6.1 Alkalin fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukan
kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang.
1.5.6.2 Kalsium serum dan fosfor serum meningkat pada tahap penyembuhan
tulang.
1.5.6.3 Enzim otot seperti kreatinin kinase, Laktat Dehidrogenase (LDH -5),
Asparat Amino Transferase (AST), aldolase meningkat pada
tahap penyembuhan tulang.
1.5.7 Pemeriksaan lainnya
1.5.7.1 Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan tes sensitivitas: Dilakukan
pada kondisi fraktur dengan komplikasi, pada kondisi infeksi, maka
biasanya didapatkan mikroorganisme penyebab infeksi.
1.5.7.2 Biopsy tulang dan otot : Diindikasikan bila terjadi infeksi.
1.5.7.3 Elektromiografi : Terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan
fraktur.
1.5.7.4 Arthroscopi : Didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena
trauma yang berlebihan.
1.5.7.5 Indium imaging : Pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi.
1.5.7.6 MRI : Menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.

1.6 Komplikasi
Komplikasi dini dari fraktur femur ini dapat terjadi syok dan emboli lemak.
Sedangkan komplikasi lambat yang dapat terjadi delayed union, non-union,
malunion, kekakuan sendi lutut, infeksi dan gangguan saraf perifer akibat traksi yang
berlebihan (Mansjoer,dkk, 2000).
Secara umum komplikasi fraktur meliputi :
1.6.1 Komplikasi awal
1.6.1.1 Syok
1.6.1.2 Kerusakan Arteri
1.6.1.3 Sindrom Kompartemen
1.6.1.4 Infeksi
1.6.1.5 Avaskular Nekrosis
1.6.1.6 Fat Embolism Syndrome
1.6.2 Komplikasi lama
1.6.2.1 Delayed union
1.6.2.2 Non-union
1.6.2.3 Mal-union

1.7 Penatalaksanaan fraktur femur


Menurut Mansjoer (2000) penatalaksanaan fraktur di antaranya :
Pada fraktur femur tertutup, untuk sementara dilakukan traksi kulit dengan metode
ekstensi Buck, atau didahului pemakaian Thomas splint, tungkai ditraksi dalam
keadaan ekstensi. Tujuan traksi kulit tersebut untuk mengurangi rasa sakit dan
mencegah kerusakan jaringan lunak lebih lanjut di sekitar daerah yang patah.
Setelah dilakukan traksi kulit dapat dipilih pengobatan non-operatif atau operatif.
Fraktur batang femur pada anak-anak umumnya dengan terapi non-operatif, karena
akan menyambung baik. Perpendekan kurang dari 2 cm masih dapat diterima karena
di kemudian hari akan sama panjangnya dengan tungkai yang normal. Hal ini
dimungkinkan karena daya proses remodelling anak-anak.
1.6.1 Pengobatan non-operatif
Dilakukan traksi skeletal, yang sering metode perkin dan metode balance
skeletal traction, pada anak di bawah 3 tahun digunakan traksi kulit Bryant,
sedangkan anak usia 3-13 tahun dengan traksi Russell.
1.6.1.1 Metode perkin
Pasien tidur terlentang. Satu jari dibawah tuberositas tibia dibor
dengan Steinman pin, lalu ditarik dengan tali. Paha ditopang
dengan 3-4 bantal. Tarikan dipertahankan sampai 12 minggu lebih
sampai terbentuk kalus yang cukup kuat. Sementara itu tungkai bawah
dapat dilatih untuk gerakan ekstensi dan fleksi.
1.6.1.2 Metode balance skeletal traction
Pasien tidur terlentang dan satu jari di bawah tuberositas tibia dibor
dengan Steinman pin. Paha ditopang dengan Thomas splint, sedang
tungkai bawah ditopang oleh pearson attachment. Tarikan
dipertahankan sampai 12 minggu atau lebih sampai tulangnya
membentuk kalus yang cukup. Kadang-kadang untuk mempersingkat
waktu rawat, setelah ditraksi 8 minggu dipasang gips hemispica
atau cast bracing.
1.6.1.3 Traksi kulit Bryant
Anak tidur terlentang di tempat tidur. Kedua tulang dipasang
traksi kulit, kemudian ditegakan ke atas, ditarik dengan tali yang
diberikan beban 1-2 kg sampai kedua bokong anak tersebut terangkat
dari tempat tidur.
1.6.1.4 Traksi russel
Anak tidur terlentang, di pasang plester dari batas lutut. Dipasang
sling di daerah popliteal, sling dihubungkan dengan tali yang
dihubungkan dengan beban penarik. Untuk mempersingkat waktu
rawat, setelah 4 minggu ditraksi, dipasang gips hemispica karena kalus
yang terbentuk belum kuat benar.
1.6.2 Operatif
Indikasi operasi antara lain :
1.6.2.1 Penanggulangan non-operatif gagal
1.6.2.2 Fraktur multipel
1.6.2.3 Robeknya arteri femoralis
1.6.2.4 Fraktur patologik
1.6.2.5 Fraktur pada orang-orang tua
Pada fraktur 1/3 tengah sangat baik untuk dipasang intramedullary
nail. Bermacam-macam intramedullary nail untuk femur, di
antaranya kuntscher nail, AO nail, dan interlocking nail.
Operasi dapat dilakukan dengan cara terbuka atau cara tertutup. Cara
terbuka yaitu dengan menyayat kulit-fasia sampai ke tulang yang
patah. Pen dipasang secara retrograde. Cara interlocking nail
dilakukan tanpa menyayat di daerah yang patah. Pen dimasukan
melalui ujung trokhanter mayor dengan bantuan image intersifier.
Tulang dapat direposisi dan pen dapat masuk ke dalam fragmen
bagian distal melalui guide tube. Keuntungan cara ini tidak
menimbulkan bekas sayatan lebar dan perdarahan terbatas.

1.7 Pathway

II. Rencana Asuhan Klien Dengan Close Fraktur Femur


2.2 Pengkajian
2.2.1 Riwayat keperawatan
2.1.1.1 Data Biografi Identitas pasien seperti umur, jenis kelamin, alamat,
agama, penaggung jawab, status perkawinan.
2.1.1.2 Riwayat Kesehatan
a. Riwayat medis dan kejadian yang lalu
b. Riwayat kejadian cedera kepala, seperti kapan terjadi dan penyebab
terjadinya
c. Penggunaan alkohol dan obat-obat terlarang lainnya
2.2.2 Pemeriksaan fisik: data fokus
2.1.2.1 Aktivitas/istirahat
Tanda: Keterbatasan/kehilangan fungsi pada bagian yang terkena
(mungkin segera, fraktur itu sendiri, atau terjadi secara sekunder, dari
pembengkakan jaringan, nyeri).
2.1.2.2 Sikulasi
Tanda: Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap
nyeri/ansietas) atau hipotensi (kehilangan darah), takikardia (respon
stres, hipovolemia), penurunan/tak ada nadi pada bagian distal yang
cedera, pengisian kapiler lambat, pucat pada bagian yang terkena,
pembengkakan jaringan atau massa hematoma pada sisi cedera.
2.1.2.3 Neurosensori
Gejala: hilang gerakan/sensasi, spasme otot, kebas/kesemutan
(parestesis).
Tanda: deformitas lokal, angulasi abnormal, pemendekan, rotasi,
krepitasi (bunyi berderit), spasme otot, terlihat kelemahan/hilang
fungsi.
2.1.2.4 Agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri/ansietas atau trauma
lain).
2.1.2.5 Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi
pada area jaringan/kerusakan tulang, dapat berkurang pada
imobilisasi), tidak ada nyeri akibat kerusakan saraf. Spasme/kram otot
(setelah imobilisasi)
2.1.2.6 Keamanan
Tanda: laserasi kulit, avulsi jaringan, perdarahan, perubahan warna.
Pembengkakan lokal (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba).

2.2.3 Pemeriksaan penunjang


2.1.3.1 Pemeriksaan ronsen : menentukan lokasi/luasnya fraktur
femur/trauma.
2.1.3.2 Scan tulang, tomogram, scan CT/MRI: memperlihatkan fraktur, juga
dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
2.1.3.3 Arteriogram : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
2.1.3.4 Hitung darah lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau
menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada
trauma multipel). Peningkatan jumlah SDP adalah respon stres normal
setelah trauma.
2.1.3.5 Kreatinin : trauma otot mungkin meningkatkan beban kreatininuntuk
klirens ginjal.
2.1.3.6 Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah,
transfusi multipel, atau cedera hati.

2.3 Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul


Menurut Doenges (2000), diagnosa yang muncul pada fraktur antara lain :
Diagnosa 1: Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot; gerakan fragmen tulang,
edema, dan cedera pada jaringan lunak; alat traksi/imobilisasi; stress, ansietas (T.
Heather Hermand, Shigemi Kamitsuru. Diagnosis Keperawatan, Definisi dan
Klasifikasi 2015 – 2017. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2015. Hal: 469-470).
2.2.1 Definisi
Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan yang muncul akibat
kerusakan jaringan actual atau potensial atau yang digambarkan sebagai
kerusakan (International Association for the Study of Pain); awitan yang tiba-
tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat
diantisipasi atau diprediksi.
2.2.2 Batasan karakteristik
2.2.2.1 Bukti nyeri dengan menggunakan standar daftar periksa nyeri untuk
pasien yang tidak dapat mengungkapkannya
2.2.2.2 Diaforesis
2.2.2.3 Dilatasi pupil
2.2.2.4 Eksperi wajah nyeri
2.2.2.5 Fokus menyempit
2.2.2.6 Fokus pada diri sendiri
2.2.2.7 Keluhan tentang intensitas nmenggunakan standar skala nyeri
2.2.2.8 Keluhan tentang karakteristik nyeri dengan menggunakan standar
instrument nyeri
2.2.2.9 Laporan tentang perilaku nyeri atau perubahan aktivitas
2.2.2.10 Mengekspresikan perilaku (gelisah, merengek, menangis, waspada)
2.2.2.11 Perilaku distraksi
2.2.2.12 Perubahan pada parameter fisiologis
2.2.2.13 Perubahan posisi untuk menghindari nyeri
2.2.2.14 Perubahan selera makan
2.2.2.15 Putus asa
2.2.2.16 Sikap melindungi area nyeri
2.2.2.17 Sikap tubuh melindungi
2.2.3 Faktor yang berhubungan
2.2.3.1 Agens cedera biologis (misalnya; infeksi, iskemia, neoplasma)
2.2.3.2 Agens cedera fisik (misalnya; abses, amputasi, luka bakar, terpotong,
mengangkat berat, prosedur bedah, trauma, olahraga berlebih)
2.2.3.3 Agens cedera kimiawi (misalnya; luka bakar, kapsaisin, metilen
klorida, agens mustard)

Diagnosa 2: Risiko trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang


(fraktur) (T. Heather Hermand, Shigemi Kamitsuru. Diagnosis Keperawatan,
Definisi dan Klasifikasi 2015 – 2017. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2015. Hal: 433-434).
2.2.1 Definisi
Rentan terhadap cedera jaringan yang tidak disengaja (misalnya; luka, terbakar,
fraktur) yang dapat mengganggu kesehatan.
2.2.2 Batasan karakteristik
2.2.2.1 Eksternal
a. Akses pada senjata
b. Alat pemanggil bantun rusak
c. Bahan korosif tidak disimpan dengan baik
d. Baya listrik
e. Tidak menggunakan restrein kursi
2.2.2.2 Internal
a. Gangguan keseimbangan
b. Penurunan koordinasi otot
c. Riwayat trauma sebelumnya
d. Kelemahan
e. Gangguan emosional

Diagnosa 3: Risiko disfungsi neurovaskuler berhubungan dengan


penurunan/interupsi aliran darah: cedera vascular langsung, edema berlebihan,
pembentukan thrombus; hipovolemia (Judith M. Wilkinson, Nancy R. Ahren. Buku
Saku Diagnosis Keperawatan: Diagnosis NANDA, intervensi NIC, kriteria hasil
NOC. Edisi 9. Jakarta: EGC, 2011. Hal: 492-496).
2.2.1 Definisi
Berisiko mengalami gangguan sirkulasi, sensasi, atau gerakan pada
ekstremitas.
2.2.2 Faktor yang berhubungan
2.2.2.1 Luka bakar
2.2.2.2 Fraktur
2.2.2.3 Imobilisasi
2.2.2.4 Penekanan mekanik
2.2.2.5 Bedah ortopedi
2.2.2.6 Trauma
2.2.2.7 Obstruksi vaskular

Diagnosa 4: Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan cedera tusuk; fraktur


terbuka, bedah perbaikan; pemasangan traksi pen, kawat, sekrup; perubahan sensasi,
sirkulasi; akumulasi ekskresi/secret; imobilisasi fisik (T. Heather Hermand, Shigemi
Kamitsuru. Diagnosis Keperawatan, Definisi dan Klasifikasi 2015 – 2017. Edisi 10.
Jakarta: EGC, 2015. Hal: 431).
2.2.1 Definisi
Cedera pada membrane mukosa, kornea, sistem integument, fascia muscular,
otot, tendon, tulang, kartilago, kapsul sendi, dan atau ligament.
2.2.2 Batasan karakteristik
2.2.2.1 Cedera jaringan
2.2.2.2 Jaringan rusak
2.2.3 Faktor yang berhubungan
2.2.3.1 Agens cedera kimiawi
2.2.3.2 Agens farmaseutikal
2.2.3.3 Faktor mekanik
2.2.3.4 Gangguan metabolism
2.2.3.5 Gangguan sensasi
2.2.3.6 Gangguan sirkulasi
2.2.3.7 Hambatan mobilitas fisik
2.2.3.8 Kelebihan volume cairan
2.2.3.9 Prosedur bedah

Diagnosa 5: Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka


neuromuskular; nyeri atau ketidaknyamanan; terapi restriktif (imobilisasi tungkai)
(Judith M. Wilkinson, Nancy R. Ahren. Buku Saku Diagnosis Keperawatan:
Diagnosis NANDA, intervensi NIC, kriteria hasil NOC. Edisi 9. Jakarta: EGC, 2011.
Hal: 472-478).
2.2.1 Definisi
Keterbatasan dalam, pergerakan fisik mandiri dan terarah pada tubuh atau satu
ekstremitas atau lebih.
2.2.2 Batasan karakteristik
Objektif
2.2.2.1 Penurunan waktu relaksasi
2.2.2.2 Kesulitan membolak-balikan posisi tubuh
2.2.2.3 Asik dengan aktivitas lain sebagai pengganti pergerakan
2.2.2.4 Dispnea saat beraktivitas
2.2.2.5 Perubahan cara berjalan
2.2.2.6 Pergerakan menyentak
2.2.2.7 Keterbatsan kemampuan untuk melakukan keterampilan motorik halus
2.2.2.8 Keterbatasan melakukan keterampilan motorik kasar
2.2.2.9 Keterbatasan rentang pergerakan sendi
2.2.2.10 Tremor yang diinduksi oleh pergerakan
2.2.2.11 Ketidakstabilan postur tubuh
2.2.2.12 Melambatnya apergerakan
2.2.2.13 Gerakan tidak teratur dan tidak terkoordinasi
2.2.3 Faktor yang berhubungan
2.2.3.1 Perubahan metabolism sel
2.2.3.2 Gangguan kognitif
2.2.3.3 Penurunan kekuatan, kendaali atau massa otot
2.2.3.4 Intoleran aktivitas dan penurunan kekuatan dan ketahanan
2.2.3.5 Hilangnya integritas struktur tulang
2.2.3.6 Nyeri
2.2.3.7 Program pembatasan pergerakan

Diagnosa 6: Resiko infeksi berhubungan dengan tak adekuatnya pertahanan primer;


kerusakan kulit, trauma jaringan, terpajan pada lingkungan; Prosedur invasif,
traksi tulang (T. Heather Hermand, Shigemi Kamitsuru. Diagnosis Keperawatan,
Definisi dan Klasifikasi 2015 – 2017. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2015. Hal: 405).
2.2.1 Definisi
Rentan mengalami invasi dan multiplikasi organism patogenik yang dapat
mengganggu kesehatan
2.2.2 Faktor yang berhubungan
2.2.2.1 Kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan pathogen
2.2.2.2 Malnutrisi
2.2.2.3 Obesits
2.2.2.4 Penyakit kronis
2.2.2.5 Prosedur invasif
Diagnosa 7: Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kondisi, prognosis, dan
kebutuhan pengobatan (Judith M. Wilkinson, Nancy R. Ahren. Buku Saku Diagnosis
Keperawatan: Diagnosis NANDA, intervensi NIC, kriteria hasil NOC. Edisi 9.
Jakarta: EGC, 2011. Hal: 440-448).
2.2.1 Definisi
Tidak ada atau kurang infomasi kogntif tentang topik tertentu.
2.2.2 Batasan karakteristik
2.2.2.1 Subjektif
Mengungkapkan masalah secara verbal
2.2.2.2 Objektif
a. Tidak mengikuti instruksi yang diberikan secara akurat
b. Peforma uji tidak adekurat
c. Perilaku yang tidak sesuai atau terlalu berlebihan
2.2.3 Faktor yang berhubungan
2.2.3.1 Keterbatasan kognitif
2.2.3.2 Kesalahan dalam memahami informasi yang ada
2.2.3.3 Kurang pengalaman
2.2.3.4 Kurang perhatian dalam belajar
2.2.3.5 Kurang kemampuan mengingat kembali
2.2.3.6 Kurang familier dengan sumber-sumber informasi

2.3 Perencanaan
Diagnosa 1: Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot; gerakan fragmen tulang,
edema, dan cedera pada jaringan lunak; alat traksi/imobilisasi; stress, ansietas (T.
Heather Hermand, Shigemi Kamitsuru. Diagnosis Keperawatan, Definisi dan
Klasifikasi 2015 – 2017. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2015. Hal: 469-470).
2.3.1 Tujuan dan Kriteria hasil (outcomes criteria): berdasarkan NOC (lihat daftar
rujukan)
Tujuan : Keadaan nyeri teratasi atau berkurang.
Kriteria hasil : Klien tampak rileks, klien mampu tidur atau istirahat
dengan tepat.
2.3.2 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC (lihat daftar rujukan)
Mandiri
2.3.2.1 Pertahankan imobilisasi yang bagian sakit dengan tirah baring, gips,
pembebat, traksi. Rasional : Menghilangkan nyeri dan
mencegah kesalahan posisi tulang atau tegangan jaringan yang
cedera.
2.3.2.2 Tinggikan dan dukung ekstermitas yang terkena. Rasional :
Meningkatkan aliran balik vena, menurunkan edema dan
menurunkan nyeri.
2.3.2.3 Hindari penggunaan sprei atau bantal plastik dibawah ekstermitas
dalam gips. Rasional : Dapat meningkatkan ketidaknyamanan
akibat peningkatan produksi panas dalam gips yang kering.
2.3.2.4 Tinggikan penutup tempat tidur; pertahankan linen terbuka pada ibu
jari kaki. Rasional : Mempertahankan kehangatan tubuh tanpa
ketidaknyamanan karena tekanan selimut pada bagian yang sakit.
2.3.2.5 Evaluasi keluhan nyeri atau ketidaknyamanan, perhatikan lokasi dan
karaterisktik, termasuk intensitas (skala0-10). Perhatikan petunjuk
nyeri nonverbal (perubahan pada tanda vital dan emosi/perilaku).
Rasional : Mempengaruhi pilihan atau pengawasan keefektifan
intervensi. Tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi atau reaksi
terhadap nyeri.
2.3.2.6 Dorong pasien mendiskusikan masalah sehubungan dengan cedera.
Rasional : Membantu untuk menghilangkan ansietas. Pasien dapat
merasakan kebutuhan untuk menghilangkan pengalaman kecelakaan.
2.3.2.7 Jelaskan prosedur sebelum memulai. Rasional :
Memungkinkan pasien untuk siap secara mental untuk aktivitas
juga berpartisipasi dalam mengontrol tingkat ketidaknyamanan.
2.3.2.8 Beri obat sebelum perawatan aktivitas. Rasional : Meningkatkan
relaksasi otot dan meningkatkan partisipasi.
2.3.2.9 Lakukan dan awasi latihan rentang gerak pasif atau aktif. Rasional :
Mempertahankan kekuatan atau mobilitas otot yang sakit dan
memudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yang cedera.
2.3.2.10 Berikan alternatif tindakan kenyamanan, contoh pijatan punggung,
perubahan posisi. Rasional : Meningkatkan sirkulasi umum,
menurunkan area tekanan lokal dan kelelahan otot.
2.3.2.11 Dorong menggunakan teknik manajemen stress, contoh napas dalam,
imajinasi, visualisasi. Sentuhan terapeutik. Rasional : Memfokuskan
kembali perhatian meningkatkan rasa kontrol dan dapat
meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri, yang
mungkin menetap untuk periode lebih lama.
2.3.2.12 Identifikasi aktivitas terpeutik yang tepat untuk usia pasien,
kemampuan fisik, dan penampilan pribadi. Rasional : Mencegah
kebosanan, menurunkan tegangan dan dapat meningkatkan kekuatan
otot; dapat meningkatkan harga diri dan kemampuan koping.
2.3.2.13 Selidiki adanya keluhan nyeri yang tak biasa/tiba-tiba/dalam, lokasi
progresif/buruk tidak hilang dengan analgesik. Rasional : Dapat
menandakan terjadinya komplikasi, contoh infeksi, iskemia jaringan,
sindrom kompartemen.
Kolaborasi
2.3.2.14 Lakukan kompres dingin/es 24-48 jam pertama dan sesuei keperluan.
Rasional : Menurunkan edema/pembentukan hematoma,
menurunkan sensasi nyeri.
2.3.2.15 Berikan obat sesuai indikasi : Narkotik dan analgesik non narkotik;
NSAID injeksi contoh ketorolac (toradol); dan relaksan otot, contoh
siklobenzaprin (flekseril), hidroksin (vistaril). Berikan narkotik
sekitar pada jamnya selama 3-5 hari. Rasional : Diberikan untuk
menurunkan nyeri dan spasme otot. Penelitian toradol telah
diperbaiki menjadi lebih efektif dalam menghilangkan nyeri tulang,
dengan masa kerja lebih lama dan sedikit efek samping bila
dibandingkan dengan agen narkotik.
2.3.2.16 Berikan/awasi analgesik yang dikontrol pasien (ADP) bila indikasi.
Rasional : Pemberian rutin ADP mempertahankan kadar analgesik
darah adekuat, mencegah fluktuasi dalam penghilangan nyeri
sehubungan dengan tegangan otot/spasme

Diagnosa 2: Risiko trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang


(fraktur) (T. Heather Hermand, Shigemi Kamitsuru. Diagnosis Keperawatan,
Definisi dan Klasifikasi 2015 – 2017. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2015. Hal: 433-434).
2.3.1 Tujuan dan Kriteria hasil (outcomes criteria): berdasarkan NOC (lihat daftar
rujukan)
Tujuan : Meminimalkan terjadinya trauma.
Kriteria hasil : Mempertahankan stabilisasi dan posisi fraktur; menunjukan
mekanika tubuh yang meningkatkan stabilitas pada sisi fraktur
2.3.2 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC (lihat daftar rujukan)
Mandiri
2.3.2.1 Pertahankan tirah baring/ekstermitas sesuai indikasi. Berikan
sokongan sendi di atas dan di bawah fraktur bila bergerak atau
membalik. Rasional : Meningkatkan stabilitas,
menurunkan kemungkinan gangguan posisi atau penyembuhan.
2.3.2.2 Letakan papan di bawah tempat tidur atau tempatkan pasien pada
tempat tidur ortopedik. Rasional : Tempat tidur lentur atau lembut
dapat membuat deformasi gips yang masih basah, mematahkan gips
yang sudah kering atau mempengaruhi dengan penarikan traksi.
2.3.2.3 Gips/ Bebat
Sokong fraktur dengan bantal atau gulungan selimut. Pertahankan
posisi netral pada bagian yang sakit dengan bantal pasir, pembebat,
gulungan trokanter, papan kaki. Rasional : Mencegah gerakan yang
tak perlu dan perubahan posisi. Posisi yang tepat dari bantal juga
dapat mencegah tekanan deformitas pada gips yang kering.
2.3.2.4 Tugaskan petugas yang cukup untuk membalik pasien. Hindari
menggunakan papan abduksi untuk membalik pasien dengan gips
spika. Rasional : Gips panggul, tubuh atau multipel dapat membuat
berat dan tidak praktis secara ekstrem. Kegagalan untuk menyokong
ekstermitas yang di gips dapat menyebabkan gips patah.
2.3.2.5 Evaluasi pembebat ekstermitas terhadap resolusi edema. Rasional :
Pembebat koaptasi (contoh jepitan jones-sugar) mungkin diberikan
untuk memberikan imobilisasi fraktur di mana pembengkakan
jaringan berlebihan. Seiring dengan berkurangnya edema, penilaian
kembali pembelat atau penggunaan gips plester mungkin diperlukan
untuk mempertahankan kesejajaran fraktur.
2.3.2.6 Traksi
Pertahankan posisi/integritas traksi (contoh Buck, Dunlop, pearson,
Russel). Rasional : Traksi memungkinkan tarikan pada aksis panjang
fraktur tulang dan mengatasi tegangan otot atau pemendekan untuk
memudahkan posisi atau penyatuan. Traksi tulang (pen, kawat,
jepitan) memungkinkan penggunaan berat lebih besar untuk penarikan
traksi daripada digunakan untuk jaringan kulit.
2.3.2.7 Yakinkan bahwa semua klem berfungsi. Minyaki katrol dan periksa
tali terhadap tegangan. Amankan dan tutup ikatan dengan plester
perekat. Rasional :
Yakinkan bahwa susunan traksi berfungsi dengan tepat untuk
menghindari interupsi penyambungan fraktur.
2.3.2.8 Pertahankan katrol tidak terhambat dengan beban bebas menggantung,
hindari menghilangkan berat. Rasional : Jumlah beban traksi optimal
dipertahankan. Catatan : Memastikan gerakan bebas selama
mengganti posisi pasien menghindari penarikan berlebihan tiba-tiba
pada fraktur yang menimbulkan nyeri dan spasme otot.
2.3.2.9 Bantu meletakan beban di bawah roda tempat tidur bila diindikasikan.
Rasional : Membantu posisi tepat pasien dan fungsi traksi dengan
memberikan keseimbangan timbal balik.
2.3.2.10 Kaji ulang tahanan yang mungkin timbul akibat terapi, contoh
pergelangan tidak menekuk/duduk dengan traksi Buck atau tidak
memutar di bawah pergelangan dengan traksi Russell. Rasional :
Mempertahankan integritas tarikan traksi.
2.3.2.11 Kaji integritas alat fiksasi eksterbal. Rasional : Traksi Hoffman
memberikan stabilisasi dan sokongan kaku untuk tulang fraktur tanpa
menggunakan katrol, tali/beban, memungkinkan
mobilitas/kenyamanan pasien lebih besar dan memudahkan perawatan
luka. Kurang atau berlebihannya keketatan klem atau ikatan dapat
mengubah tekanan kerangka, menyebabkan kesalahan posisi.
Kolaborasi
2.3.2.12 Kaji ulang evaluasi/foto. Rasional : Memberikan bukti visual
mulainya pembentukan kalus atau proses penyembuhan untuk
menentukan tingkat aktivitas dan kebutuhan perubahan atau
tambahan terapi.
2.3.2.13 Berikan/pertahankan stimulasi listrik bila digunakan. Rasional :
Mungkin diindikasikan untuk meningkatkan pertumbuhan tulang pada
keterlambatan penyembuhan atau tidak menyatu.

Diagnosa 3: Risiko disfungsi neurovaskuler berhubungan dengan


penurunan/interupsi aliran darah: cedera vascular langsung, edema berlebihan,
pembentukan thrombus; hipovolemia (Judith M. Wilkinson, Nancy R. Ahren. Buku
Saku Diagnosis Keperawatan: Diagnosis NANDA, intervensi NIC, kriteria hasil
NOC. Edisi 9. Jakarta: EGC, 2011. Hal: 492-496).
2.3.1 Tujuan dan Kriteria hasil (outcomes criteria): berdasarkan NOC (lihat daftar
rujukan)
Tujuan : Tidak terjadi disfungsi neurovaskuler perifer.
Kriteria hasil : Mempertahankan perfusi jaringan dibuktikan oleh
terabanya nadi, kulit hangat atau kering, sensasi normal, sensori biasa, tanda
vital stabil dan haluaran urine adekuat untuk situasi individu.
2.3.2 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC (lihat daftar rujukan)
Mandiri
2.3.2.1 Lepaskan hiasan dari ekstermitas yang sakit. Rasional : Dapat
membendung sirkulasi bila terjadi edema.
2.3.2.2 Evaluasi adanya/kualitas nadi perifer distal terhadap cedera melalui
palpasi atau doopler. Bandingkan dengan ekstermitas yang sakit.
Rasional : Penurunan atau tak adanya nadi menggambarkan cedera
vaskuler dan perlunya evaluasi medik segera terhadap status sirkulasi.
Waspadai bahwa kadang-kadang nadi dapat terhambat oleh bekuan
halus di mana pulsasi mungkin teraba. Selain itu, perfusi melalui arteri
lebih besar dapat berlanjut setelah meningkatnya tekanan
kompartemen yang telah mengempiskan sirkulasi arteriol/venula otot.
2.3.2.3 Kaji aliran kapiler, warna kulit, dan kehangatan distal pada fraktur.
Rasional : Kembalinya warna harus cepat (3-5 detik). Warna kulit
putih menunjukan gangguan arterial. Sianosis diduga ada gangguan
vena.
2.3.2.4 Lakukan pengkajian neuromuskuler. Perhatikan perubahan fungsi
motorik/sensori. Minta pasien untuk melokalisasi nyeri atau
ketidaknyamanan. Rasional : Gangguan perasaan kebas,
kesemutan peningkatan atau penyebaran nyeri terjadi bila
sirkulasi pada saraf tidak adekuat atau saraf rusak.
2.3.2.5 Tes sensasi saraf perifer dengan menusuk pada kedua selaput antara
ibu jari pertama dan kaji kemampuan untuk dorsofleksi ibu jari bila
diindikasikan. Rasional : Panjang dan posisi saraf
perineal meningkatkan risiko cedera pada adanya fraktur kaki, edema
atau malposisi alat traksi.
2.3.2.6 Kaji jaringan sekitar akhir gips untuk titik yang kasar atau tekanan.
Rasional : Faktor ini mengindikasikan tekanan jaringan atau iskemia,
menimbulkan kerusakan atau nekrosis.
2.3.2.7 Awasi posisi atau luka cincin penyokong bebat. Rasional : Alat traksi
dapat menyebabkan tekanan pada pembuluh darah/saraf, terutama
pada aksila dan lipat paha, mengakibatkan iskemia dan kerusakan
saraf permanen.
2.3.2.8 Pertahankan peninggian ekstermitas cedera kecuali
dikontraindikasikan dengan menyakinkan pasien adanya sindrom
kompartemen. Rasional : Meningkatkan drainase vena atau
menurunkan edema.

2.3.2.9 Kaji keseluruhan panjang ekstermitas yang cedera untuk


pembengkakan/pembentukan edema. Rasional : Peningkatan lingkar
ekstermitas yang cedera dapat di duga ada pembengkakan jaringan
atau edema umum tetapi dapat menunjukan perdarahan.
2.3.2.10 Perhatikan keluhan nyeri ekstrem untuk tipe cedera atau peningkatan
nyeri pada gerakan pasif ekstermitas, terjadinya parestesia, tegangan
otot/nyeri tekan dengan eritema dan perubahan nadi distal. Rasional :
Perdarahan edema berlanjut dalam otot tertutup dengan fasia ketat
dapat menyebabkan gangguan aliran darah dan iskemia
miositis/sindrom kompartemen, perlu intervensi darurat untuk
menghilangkan tekanan/memperbaiki sirkulasi.
2.3.2.11 Selidiki tanda iskemia ekstermitas tiba-tiba, contoh penurunan suhu
kulit dan peningkatan nyeri. Rasional : Dislokasi fraktur sendi
(khususnya lutut) dapat menyebutkan kerusakan arteri yang
berdekatan, dengan akibat hilangnya darah ke distal.
2.3.2.12 Dorong secara rutin latihan jari/sendi distal cedera. Ambulasi sesegera
mungkin. Rasional : Meningkatkan sirkulasi dan menurunkan
pengumpulan darah khususnya pada ekstermitas bawah.
2.3.2.13 Selidiki nyeri tekan, pembengkakan pada dorsofleksi kaki (tanda
human positif). Rasional : Terdapat peningkatan potensial
untuk tromboflebitis dan emboli paru
pada pasien imobilisasi selama 5 hari atau lebih.
2.3.2.14 Awasi tanda-tanda vital. Perhatikan tanda-tanda pucat/sianosis umum,
kulit dingin, perubahan mental. Rasional : Ketidakadekuatan volume
sirkulasi akan mempengaruhi sistem perfusi jaringan.
2.3.2.15 Tes feses atau aspirasi gaster terhadap darah nyata. Perhatikan
perdarahan lanjut pada sisi trauma atau injeksi dan perdarahan terus-
menerus dari membrane mukosa. Rasional : Peningkatan insiden
perdarahan gaster menyertai fraktur/trauma dan dapat berhubungan
dengan stress dan kadang-kadang menunjukan gangguan pembekuan
yang memerlukan intervensi lanjut.
Kolaborasi
2.3.2.16 Berikan kompres es pada sekitar fraktur sesuai indikasi. Rasional :
Menurunkan edema/pembentukan hematoma yang dapat mengganggu
sirkulasi.
2.3.2.17 Bebat/buat spalk sesuai kebutuhan. Rasional : Mungkin dilakukan
pada keadaan darurat untuk menghilangkan restriksi sirkulasi yang
diakibatkan oleh pembentukan edema pada ekstermitas yang cedera.
2.3.2.18 Kaji/awasi tekanan intrakompartemen. Rasional : Peninggian tekanan
(biasanya sampai 30 mm Hg atau lebih) menunjukan kebutuhan
evaluasi segera dan intervensi.
2.3.2.19 Siapkan untuk intervensi bedah (contoh, fibulektomi atau fasiotomi)
sesuei indikasi. Rasional : Kegagalan untuk menghilangkan tekanan
atau memperbaiki sindrom kompartemen dalam 4 sampai 6 jam dari
timbulnya dapat mengakibatkan kontraktur berat/kehilangan fungsi
dan kecacatan ekstermitas distal cedera atau perlu amputasi.
2.3.2.20 Awasi Hb atau Ht, pemeriksaan koagulasi, contoh kadar protrombin.
Rasional : Membantu dalam kalkulasi hilangnya darah dan
membutuhkan keefektifan terapi pergantian.
2.3.2.21 Berikan warfarin natrium (Coumadin) bila diindikasikan. Rasional :
Mungkin diberikan secara profilaktik untuk menurunkan thrombus
vena dalam.
2.3.2.22 Berikan kaus kaki antiembolitik/tekanan berurutan sesuai indikasi.
Rasional : Menurunkan pengumpulan vena dan dapat meningkatkan
aliran balik vena, sehingga menurunkan risiko pembentukan
thrombus.

Diagnosa 4: Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan cedera tusuk; fraktur


terbuka, bedah perbaikan; pemasangan traksi pen, kawat, sekrup; perubahan sensasi,
sirkulasi; akumulasi ekskresi/secret; imobilisasi fisik (T. Heather Hermand, Shigemi
Kamitsuru. Diagnosis Keperawatan, Definisi dan Klasifikasi 2015 – 2017. Edisi 10.
Jakarta: EGC, 2015. Hal: 431).
2.3.1 Tujuan dan Kriteria hasil (outcomes criteria): berdasarkan NOC (lihat daftar
rujukan)
Tujuan : Integritas kulit/ jaringan membaik.
Kriteria hasil : Ketidaknyamanan hilang, luka sembuh sesuai waktu
dan tidak terjadi lesi. Mencegah kerusakan kulit dan
memudahkan penyembuhan sesuai indikasi.
2.3.2 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC (lihat daftar rujukan)
Mandiri
2.3.2.1 Kaji kulit untuk luka terbuka, benda asing, kemerahan, perdarahan,
perubahan warna, kelabu, memutih. Rasional : Memberikan informasi
tentang sirkulasi kulit dan masalah yang mungkin disebabkan oleh alat
pemasangan gips atau traksi.
2.3.2.2 Masase kulit dan penonjolan tulang. Rasional : Menurunkan tekanan
pada area yang peka dan resiko abrasi/kerusakan kulit.
2.3.2.3 Kaji posisi cincin bebat pada alat traksi. Rasional : Posisi yang tak
tepat dapat menyebabkan cedera kulit/kerusakan.
2.3.2.4 Ubah posisi dengan sering. Rasional : Mengurangi tekanan konstan
pada area yang sama dan meminimalkan resiko kerusakan kulit.
2.3.2.5 Penggunaan gips dan perawatan kulit.
a. Bersihkan kulit dengan sabun dan air. Gosok perlahan dengan
alkohol dan bedak dengan jumlah sedikit borat atau stearat seng.
Rasional : Memberikan gips tetap kering, dan area bersih.
b. Potong pakaian dalam yang menutupi area dan perlebar beberapa
inci diatas gips. Rasional : Berguna untuk bantalan tonjolan tulang,
mengakhiri akhir gips, dan melindungi kulit.
c. Gunakan telapak tangan untuk memasang, pertahankan atau
lepaskan gips dan dukung bantal setelah pemasangan. Rasional :
Mencegah perlekukan atau pendataran diatas tonjolan tulang dan
area menyokong berat badan (contoh punggung, tumit) yang akan
menyebabkan abrasi/trauma jaringan.
d. Potong kelebihan plester dari akhir gips sesegera mungkin saat gips
lengkap. Rasional : Plester yang lebih dapat mengiritasi kulit dan
dapat mengakibatkan abrasi.
e. Tingkatkan pengeringan gips dengan mengangkat linen tempat
tidur, memajankan pada sirkulasi udara. Rasional : Mencegah
kerusakan kulit yang dapat disebabkan oleh tertutup pada
kelembapan di bawah gips dalam jangka lama.
2.3.2.6 Observasi untuk potensial area yang tertekan, khususnya pada akhir
dan bawah bebatan/gips. Rasional : Tekanan dapat menyebabkan
ulserasi, nekrosis, dan kelumpuhan saraf.
2.3.2.7 Beri bantalan (petal) pada akhir gips dengan plester tahanan air.
Rasional : Memberikan perlindungan efektif pada lapisan gips dan
kelembapan.
2.3.2.8 Bersihkan kelebihan plester dari kulit saat masih basah, bila mungkin.
Rasional : Plester yang kering dapat melekat kedalam gips yang telah
lengkap dan menyebabkan kerusakan kulit.
2.3.2.9 Lindungi gips dan kulit pada area perineal. Berikan perawatan sering.
Rasional : Mencegah kerusakan jaringan dan infeksi oleh kontaminasi
fekal.
2.3.2.10 Instruksikan pasien/orang terdekat untuk menghindari memasukan
objek kedalam gips. Rasional : “sakit gesekan” dapat menyebabkan
cedera jaringan.
2.3.2.11 Masase kulit pada sekitar akhir gips dengan alkohol. Rasional :
Mempunyai efek pengering, yang menguatkan kulit.
2.3.2.12 Balik pasien dengan sering untuk melibatkan sisi yang tak sakit dan
posisi tengkurap dengan kaki pasien diatas kasur. Rasional :
Meminimalkan tekanan pada kaki dan sekitar tepi gips.
2.3.2.13 Traksi kulit dan perawatan kulit.
a. Bersihkan kulit dengan air sabun hangat. Rasional : Menurunkan
kadar kontaminasi kulit.
b. Berikan tintur bezoin. Rasional : “kekuatan” kulit untuk
penggunaan traksi kulit.
c. Gunakan plester traksi kulit (buat beberapa strip moleskin/plester
perekat) memanjang pada sisi tungkai yang sakit. Rasional : Plester
traksi melingkari tungkai dapat mempengaruhi sirkulasi.
d. Lebarkan plester sepanjang tungkai. Rasional : Traksi dimasukan
dalam garis dengan akhir plester yang bebas.
e. Tandai garis di mana plester keluar sepanjang ekstermitas. Rasional
: Memungkinkan untuk pengkajian cepat terhadap benda yang
terselip.
f. Letakan bantalan pelindung di bawah kaki dan di atas tonjolan
tulang. Rasional : Meminimalkan tekanan pada area ini.
g. Balut lingkar tungkai, termasuk plester dan bantalan, dengan
verban elastik, hati-hati untuk membalut dengan rapat tetapi tidak
terlalu ketat. Rasional : Memberikan tarikan traksi yang tepat tanpa
mempengaruhi sirkulasi.
h. Palpasi jaringan yang diplester tiap hari dan catat adanya nyeri
tekan atau nyeri. Rasional : Bila area di bawah plester nyeri tekan,
diduga ada iritasi kulit dan siapkan untuk membuka sistem balutan.
i. Lepaskan traksi kulit tiap 24 jam, sesuai protokol, inspeksi dan
berikan perawatan kulit. Rasional : Mempertahankan integritas
kulit.
2.3.2.11 Traksi tulang dan perawatan kulit.
a. Tekuk ujung kawat atau tutup ujung kawat atau pen dengan karet
atau gabus pelindung atau tutup jarum. Rasional : Mencegah cedera
pada bagian tubuh lain.
b. Beri bantalan atau pelindung dari kulit domba, busa. Rasional :
Mencegah tekanan berlebihan pada kulit meningkatkan evaporasi
kelembapan yang menurunkan risiko ekskoriasi.
Kolaborasi
2.3.2.12 Gunakan tempat tidur busa, bulu domba, bantal apung atau kasur
udara sesuei indikasi. Rasional : Karena imobilisasi bagian tubuh,
tonjolan tulang lebih dari area yang sakit oleh gips mungkin sakit
karena penurunan sirkulasi.
2.3.2.13 Buat gips dengan katup tunggal, katup ganda atau jendela, sesuei
protokol. Rasional : Memungkinkan pengurangan tekanan dan
memberikan akses untuk perawatan luka/kulit.

Diagnosa 5: Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka


neuromuskular; nyeri atau ketidaknyamanan; terapi restriktif (imobilisasi tungkai)
(Judith M. Wilkinson, Nancy R. Ahren. Buku Saku Diagnosis Keperawatan:
Diagnosis NANDA, intervensi NIC, kriteria hasil NOC. Edisi 9. Jakarta: EGC, 2011.
Hal: 472-478).
2.3.1 Tujuan dan Kriteria hasil (outcomes criteria): berdasarkan NOC (lihat daftar
rujukan)
Tujuan : Meminimalkan gangguan mobilitas fisik.
Kriteria hasil : Peningkatan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang
mungkin. Mempertahankan posisi fungsional. Meningkatkan fungsi yang
sakit dan mengkompensasi bagian tubuh. Menunjukan teknik yang
memampukan melakukan aktivitas.
2.3.2 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC (lihat daftar rujukan)
Mandiri
2.3.2.1 Kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cedera/pengobatan dan
perhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi. Rasional : Pasien
mungkin dibatasi oleh pandangan diri/persepsi diri tentang
keterbatasan fisik actual, memerlukan informasi atau intervensi untuk
meningkatkan kemajuan kesehatan
2.3.2.2 Dorong partisipasi pada aktivitas terapeutik atau rekreasi. Pertahankan
rangsang lingkungan contoh, radio, TV, Koran, barang milik pribadi
atau lukisan, jam, kalender, kunjungan keluarga atau teman. Rasional :
Memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energy, memfokuskan
kembali perhatian, meningkatkan rasa control diri atau harga diri dan
membantu menurunkan isolasi sosial.
2.3.2.3 Instruksikan pasien dan bantu dalam rentang gerak/aktif pada
ekstermitas yang sakit dan yang tak sakit. Rasional : Meningkatkan
aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot,
mempertahankan gerak sendi; mencegah kontraktur/atrofi dan
resorpsi.
2.3.2.4 Dorong penggunaan latihan isometric mulai dengan tungkai yang
sakit. Rasional : Kontraksi otot isometric tanpa menekuk
sendi/membantu mempertahankan kekuatan dan massa otot.
2.3.2.5 Berikan papan kaki, bebat pergelangan, gulungan trokhanter/tangan
yang sesuai. Rasional : Berguna dalam mempertahankan posisi
fungsional ekstermitas, tangan/kaki dan mencegah komplikasi (contoh
kontraktur/kaki jatuh).
2.3.2.6 Tempatkan pada posisi terlentang secara periodic bila mungkin, bila
traksi digunakan untuk menstabilkan fraktur tungkai bawah. Rasional :
Menurunkan resiko kontraktur tungkai bawah.
2.3.2.7 Instruksikan atau dorong menggunakan trapeze dan “pasca posisi”
untuk fraktur tungkai bawah. Rasional : Memudahkan gerakan selama
perawatan kulit dan penggantian linen; menurunkan ketidaknyamanan
dengan tetap datar ditempat tidur.
2.3.2.8 Bantu/dorong perawatan diri/kebersihan diri. Rasional : Meningkatkan
kekuatan otot dan sirkulasi, meningkatkan kesehatan diri langsung.
2.3.2.9 Berikan atau bantu dalam mobilisasi denga kursi roda, kruk, tongkat,
sesegera mungkin. Rasional : Mobilisasi dini menurunkan komplikasi
tirah baring dan meningkatkan penyembuhan.
2.3.2.10 Awasi TD dengan melakukan aktivitas. Rasional : Hipotensi postural
adalah masalah umum menyertai tirah baring dan memerlukan
intervensi khusus.
2.3.2.11 Ubah posisi secara periodic dan dorong untuk latihan batuk/napas
dalam. Rasional : Mencegah atau menurunkan insiden komplikasi
kulit/pernapasan.
2.3.2.12 Auskultasi bising usus. Kebiasaan eliminasi dan berikan keteraturan
defekasi rutin. Rasional : perubahan dalam kebiasaan diet dapat
memperlambat peristaltik usus dan menghasilkan konstipasi. Tindakan
keperawatan yang memudahkan eliminasi dapat mencegah atau
membatasi komplikasi.
2.3.2.13 Dorong masukan cairan sampai 2000-3000 ml/hari, termasuk air asam
atau jus. Rasional : Mempertahankan hidrasi tubuh, menurunkan
resiko infeksi urinarius, pembentukan batu dan konstipasi.
2.3.2.14 Berikan diet tinggi protein, karbohidrat, vitamin dan mineral,
pertahankan penurunan protein sampai setelah defekasi pertama.
Rasional : Pada adanya cedera musculoskeletal. Nutrisi yang
diperlukan untuk penyembuhan berkurang dengan cepat, sering
mengakibatkan penurunan berat badan sebanyak 20-30 pon selama
traksi tulang.
2.3.2.15 Tingkatkan jumlah diet kasar. Batasi makanan pembentuk gas.
Rasional : Penambahan bulk pada feses membantu mencegah
konstipasi.
Kolaborasi
2.3.2.16 Konsul dengan ahli terapi fisik/okupasi dan rehabilitasi spesialis.
Rasional : Berguna dalam membuat aktivitas individual/program
latihan.
2.3.2.17 Rujuk keperawat spesialis psikiatrik klinikal atau ahli terapi sesuai
indikasi. Rasional : Pasien/orang terdekat memerluka tindakan intensif
lebih untuk menerima kenyataan kondisi/prognosis, imobilisasi lama,
mengalami kehilangan kontrol

Diagnosa 6: Resiko infeksi berhubungan dengan tak adekuatnya pertahanan primer;


kerusakan kulit, trauma jaringan, terpajan pada lingkungan; Prosedur invasif,
traksi tulang (T. Heather Hermand, Shigemi Kamitsuru. Diagnosis Keperawatan,
Definisi dan Klasifikasi 2015 – 2017. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2015. Hal: 405).
2.3.1 Tujuan dan Kriteria hasil (outcomes criteria): berdasarkan NOC (lihat daftar
rujukan)
Tujuan : Meningkatkan penyembuhan luka dengan benar.
Kriteria hasil : Bebas tanda infeksi/inflamasi, mencapai penyembuhan
luka sesuai waktu, bebas drainase purulen atau eritema, demam.
2.3.2 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC (lihat daftar rujukan)
Mandiri
2.3.2.1 Inspeksi kulit untuk adanya iritasi atau robekan kontinuitas. Rasional
: Pen atau kawat tidak harus dimasukan melalui kulit yang
terinfeksi.
2.3.2.2 Kaji sisi pen atau kulit perhatikan keluhan peningkatan nyeri/rasa
terbakar atau adanya edema. Rasional : Dapat mengindikasikan
timbulnya infeksi lokal/nekrosis jaringan, yang dapat menimbulkan
osteomilitis.
2.3.2.3 Berikan perawatan pen/kawat steril sesuai protokol dan latihan
mencuci tangan. Rasional : Dapat mencegah kontaminasi silang
dan kemungkinan infeksi.
2.3.2.4 Instruksikan pasien untuk tidak menyebutkan sisi insersi. Rasional :
Meminimalkan kesempatan untuk kontaminasi.
2.3.2.5 Tutupi pada akhir gips peritoneal dengan plastik. Rasional : Gips yang
lembap, padat meningkatkan pertumbuhan bakteri.
2.3.2.6 Observasi luka untuk pembentukan bulla, krepitasi, perubahan warna
kulit kecoklatan, bau drainase yang tak enak/asam. Rasional : Tanda
infeksi gas gangren.
2.3.2.7 Kaji tonus otot, reflek tendon dalam dan kemampuan untuk berbicara.
Rasional : Kekakuan otot, spasme tonik otot rahang dan disfagia
menunjukan terjadinya tetanus.
2.3.2.8 Selidiki tiba-tiba/keterbatasan gerakan dengan edema lokal/eritema
ekstermitas cedera. Rasional : Dapat mengindikasikan terjadinya
osteomielitis.
2.3.2.9 Lakukan prosedur isolasi. Rasional : Adanya drainase purulen akan
memerlukan kewaspadaan luka/linen untuk mencegah kontaminasi
silang.
Kolaborasi
2.3.2.10 Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh:
a. Hitung darah lengkap. Rasional : Anemia dapat terjadi pada
osteomielitis, leukositosis, biasanya ada dengan proses infeksi.
b. LED. Rasional:peningkatan pada osteomielitis.
c. Kultur dan sensitivitas luka atau serum/tulang. Rasional
:Mengidentifikasi organisme infeksi.
d. Skan radioisotop. Rasional :Titik puas menunjukan peningkatan
area vaskularitas.
2.3.2.11 Berikan obat sesuei indikasi, contoh :
a. Antibiotik. Rasional : Antibiotik spectrum luas dapat digunakan
secara profilaktik atau dapat ditujukan pada mikroorganisme
khusus.
b. Tetanus toksoid. Rasional : Diberikan secara profilaktif karena
kemungkinan adanya tetanus pada luka terbuka.
c. Berikan irigasi luka/tulang dan berikan sabun basah/hangat sesuai
indikasi. Rasional : Debridemen lokal/pembersihan luka
menurunkan mikroorganisme dan insiden infeksi sistemik.
d. Bantu prosedur contoh insisi, drainase pemsangan drain, terapi O2
hiperbarik. Rasional : Banyak prosedur pada pengobatan infeksi
lokal, osteomielitis, gangren gas.
e. Siapkan pembedahan sesuei indikasi. Rasional : Sequestrektomi
(pengangkatan tulang nekrotik) perlu untuk membantu
penyembuhan dan mencegah perluasan proses infeksi.
Diagnosa 7: Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kondisi, prognosis, dan
kebutuhan pengobatan (Judith M. Wilkinson, Nancy R. Ahren. Buku Saku Diagnosis
Keperawatan: Diagnosis NANDA, intervensi NIC, kriteria hasil NOC. Edisi 9.
Jakarta: EGC, 2011. Hal: 440-448).
2.3.1 Tujuan dan Kriteria hasil (outcomes criteria): berdasarkan NOC (lihat daftar
rujukan)
Tujuan : Klien memahami tentang manfaat perawatan
dan pengobatannya.
Kriteria hasil : Menyatakan pemahaman proses penyakit pengobatan dan
potensial komplikasi, berpartisipasi dalam program pengobatan.
2.3.2 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC (lihat daftar rujukan)
Mandiri
2.3.2.1 Kaji ulang patologi, prognosis dan harapan yang akan datang.
Rasional : Memberikan dasar pengetahuan di mana pasien dapat
membuat pilihan informasi.
2.3.2.2 Beri penguatan metode mobilitas dan ambulasi sesuai instruksi dengan
terapis fisik bila diindikasikan. Rasional : Banyak fraktur memerlukan
gips, bebat atau penjepit selama proses penyembuhan.
2.3.2.3 Anjurkan penggunaan Backpack. Rasional : Memberikan tempat
untuk membawa artikel tertentu dan membiarkan tangan bebas untuk
memanipulasi kruk atau dapat mencegah kelelahan otot yang tak perlu
bila satu tangan di gips.
2.3.2.4 Buat daftar aktivitas di mana pasien dapat melakukan secara mandiri
dan yang memerlukan bantuan. Rasional : Penyusunan aktivitas
sekitar kebutuhan dan yang memerlukan bantuan.
2.3.2.5 Identifikasi tersedianya sumber pelayanan dimasyarakat, contoh tim
rehabilitasi, pelayanan perawatan di rumah. Rasional : Memberikan
bantuan untuk memudahkan perawatan diri dan mendukung
kemandirian.
2.3.2.6 Dorong pasien untuk melanjutkan latihan aktif untuk sendi di atas dan
di bawah fraktur. Rasional : Mencegah kekakuan sendi. Kontraktur,
dan kelelahan otot, meningkatkan kembalinya aktivitas sehari-hari
secara dini.
2.3.2.7 Diskusikan pentingnya perjanjian evaluasi klinis. Rasional :
Penyembuhan fraktur memerlukan waktu tahunan untuk sembuh
lengkap, dan kerjasama pasien dalam program pengobatan membantu
untuk penyatuan yang tepat dari tulang.
2.3.2.8 Kaji ulang perawatan pen/luka yang tepat. Rasional : Menurunkan
resiko trauma tulang atau jaringan dan infeksi yang dapat berlanjut
menjadi osteomielitis.
2.3.2.9 Identifikasi tanda-tanda dan gejala-gejala yang memerlukan evaluasi
medik. Rasional : Intervensi cepat dapat menurunkan beratnya
komplikasi seperti infeksi/gangguan sirkulasi.
2.3.2.10 Diskusikan perawatan gips yang “hijau” atau basah. Rasional :
Meningkatkan pengobatan tepat untuk mencegah deformitas gips dan
iritasi kulit/kesalahan postur.
2.3.2.11 Anjurkan penggunaan pengering rambut untuk mengeringkan area
gips yang lembap. Rasional : Penggunaan yang hati-hati dapat
mempercepat pengeringan.
2.3.2.12 Demonstrasikan penggunaan kantong plastik untuk menutup plester
gips selama cuaca lembap atau saat mandi. Gips bersih dengan
pakaian agak lembap dan bedak penggosok. Rasional : Melindungi
dari kelembapan, yang melunakan plester gips.
2.3.2.13 Anjurkan penggunaan pakaian yang adaptif. Rasional : Membantu
aktivitas berpakaian atau kerapihan.
2.3.2.14 Anjurkan cara-cara menutupi ibu jari kaki, bila tepat, contoh sarung
tangan atau kaus kaki halus. Rasional : Membantu mempertahankan
kehangatan atau bmelindungi dari cedera.
2.3.2.15 Diskusikan intruksi pasca pengangkatan gips.
a. Instruksikan pasien untuk melanjutkan latihan sesuai izin. Rasional
: Menurunkan kekakuan dan memperbaiki kekuatan serta fungsi
ekstermitas yang sakit.
b. Informasikan pasien bahwa kulit di bawah gips secara umum
lembap dan tertutup dengan kalus atau serpihan kulit yang mati.
Rasional : Ini akan memerlukan waktu berminggu-minggu sebelum
kembali kepenampilan normal.
c. Cuci kulit dengan perlahan dengan sabun, povidon iodine (betadin)
atau pHisoHex dan air. Rasional : Kulit yang baru secara ekstrem
nyeri tekan karena telah dilindungi oleh gips.
d. Informasikan pasien bahwa otot dapat tampak lembek dan atrofi
(massa otot kurang). Rasional : Kekuatan otot akan menurun dan
rasa sakit yang baru dan nyeri sementara sekunder terhadap
kehilangan dukungan.
e. Tinggikan ekstermitas sesuai kebutuhan. Rasional : Pembengkakan
dan edema cenderung terjadi setelah pengangkatan gips.
III. Daftar Pustaka
Barbara, C. B., (1999). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal-Bedah. Volume I, EGC:
Jakarta.

Doenges, dkk, (2005). Rencana asuhan keperawatan pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian perawatan pasien. EGC: Jakarta.

Mansjoer, dkk., (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Media Aesculapius: Jakarta.

Price & Wilson, (2006). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Volume 2.
Edisi 6. EGC : Jakarta.

Sjamsuhidajat R., (1997). Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi, EGC: Jakarta.

Smeltzer & Bare, (2003). Buku ajar keperawatan medical bedah. Volume 3. Edisi 8. EGC:
Jakarta.

T. Heather Hermand, Shigemi Kamitsuru. Diagnosis Keperawatan, Definisi dan


Klasifikasi 2015 – 2017. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2015.

Judith M. Wilkinson, Nancy R. Ahren. Buku Saku Diagnosis Keperawatan: Diagnosis


NANDA, intervensi NIC, kriteria hasil NOC. Edisi 9. Jakarta: EGC, 2011.
Banjarmasin,

Preseptor Akademik, Preseptor Klinik,

(………….……….….……...) (……………..….…………….)