Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

IPA 2
“Vitamin C”

Oleh :
Nama : Restu Pranantyo
Nim : 16312244046
Kelas : IPA C

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2017
A. JUDUL
Uji Kandungan Vitamin C
B. TUJUAN
Untuk mengetahui kandungan Vitamin C pada bahan makanan
C. KAJIAN PUSTAKA

Vitamin merupakan suatu molekul organik yang sangat diperlukan tubuh untuk proses
metabolisme dan pertumbuhan yang normal. Vitamin bukan karbohidrat, protein maupun lipid.
Tubuh tidak dapat mensintesis vitamin-vitamin. Vitamin berdasarkan kelarutannya di dalam air,
ada dua yaitu vitamin yang larut di dalam air (vitamin B dan vitamin C) dan vitamin yang tidak
larut di dalam air (vitamin A, D, E, dan K). Karena larut dalam air, vitamin C mudah diserap dalam
usus halus, dari mana ia langsung masuk ke dalam darah vena porta ke hati dan dari sana ke seluruh
tubuh. Vitamin ini disimpan dalam banyak jaringan, tetapi terutama banyak sekali dalam organ
yang berhubungan dengan aktivitas metabolisme (Tarrant, 1989).

Struktur kimia vitamin C terdiri dari rantai 6 atom C dan kedudukannya tidak stabil
(C6H8O6), karena mudah bereaksi dengan O2 di udara menjadi asam dehidroaskorbat. (Lehninger,
1982)

Vitamin dibagi ke dalam dua golongan. Golongan pertama oleh Kodicek (1971) disebut
prakoenzim (procoenzyme), dan bersifat larut dalam air, tidak disimpan oleh tubuh, tidak beracun,
diekskresi dalam urine. Yang termasuk golongan ini adalah tiamin, riboflavin, asam nikotinat,
piridoksin, asam kolat, biotin, asam pantotenat, vitamin B12 (disebut golongan vitamin B) dan
vitamin C. Golongan kedua yang larut dalam lemak disebutnya alosterin, dan dapat disimpan
dalam tubuh. Apabila vitamin ini terlalu banyak dimakan, akan tersimpan dalam tubuh, dan
memberikan gejala penyakit tertentu (hipervitaminosis), yang juga membahayakan. Kekurangan
vitamin mengakibatkan terjadinya penyakit difisiensi, tetapi biasanya gejala penyakit akan hilang
kembali apabila kecukupan vitamin tersebut sudah terpenuhi (Poedjiadi, 1994).

Vitamin C mudah larut dalam air sehingga apabila vitamin C yang dikonsumsi melebihi
yang dibutuhkan, kelebihan tersebut akan dibuang dalam urine. Karena tidak disimpan dalam
tubuh, vitamin C sebaiknya dikonsumsi setiap hari. Dosis rata-rata yang dibutuhkan bagi orang
dewasa adalah 60-90 mg/hari. Tetapi masih bisa melebihi dosis yang dianjurkan, tergantung pada
kondisi tubuh dan daya tahan tubuh masing-masing orang yang berbeda-beda (Sudarmadji, 1989).

Salah satu fungsi utama dari vitamin C adalah mencegah sariawan dan gusi berdarah,
dengan cara pembentukan kolagen. Kolagen adalah protein yang fungsinya seperti lem,
merekatkan sel-sel kulit tulang dan otot, sehingga luka dan patah tulang atau memar biru cepat
sembuh. Pada pria dampak lanjut kekurangan vitamin C adalah menurunnya kesuburan dan
meningkatnya resiko kerusakan gen pada sperma yang dapat menyebabkan cacat pada bayi. Fungsi
utama dari vitamin C sebagai antioksidan yaitu menetralkan racun dan radikal bebas dalam darah
maupun cairan sel tubuh. Dengan cara ini peran vitamin C mencegah terjadinya oksidasi kolesterol
LDL dan mencegah tersumbatnya pembuluh darah sehingga tidak menyebabkan hypertensi dan
penyakit jantung, juga menjaga kesehatan paru-paru karena menetralkan radikal bebas yang masuk
melalui pernafasan.

Vitamin C juga meningkatkan sel-sel darah putih yang dapat melawan infeksi sehingga flu
sembuh lebih cepat,membantu mengaktifkan asam folat,meningkatkan penyerapan zat besi
sehingga mencegah anemia,meregenerasi vitamin E sehingga bisa dipakai lagi sebagai anti-
oksidan.Vitamin c ada yang alami juga ada yang sintetik.asal keduanya berbentuk L-ascorbic acid
dan tidak memiliki perbedaan kinerja pada keduanya (Siregar, 2009).

Vitamin C sangat mudah dirusak oleh pemanasan, karena ia mudah dioksidasi. Dapat juga
hilang dalam jumlah yang banyak pada waktu mencincang sayur-sayuran seperti kol atau pada
menumbuk kentang (Harper, 1979).

Vitamin C dapat hilang karena hal-hal seperti:

1. Pemanasan, yang menyebabkan rusak/berbahayanya struktur


2. Pencucian sayuran setelah dipotong-potong terlebih dahulu
3. Adanya alkali atau suasana basa selama pengolahan
4. Membuka tempat berisi vitamin C, sebab oleh udara akan terjadi oksidasi yang
tidak reversible. Penambahan tomat atau jeruk nipis dapat mengurangi kadar vitamin C
(Poedjiadi, 1994).
Di samping sangat larut dalam air, vitamin C mudah teroksidasi dan proses tersebut
dipercepat oleh panas, sinar atau enzim oksidasi, serta oleh katalis lembaga dan besi. Oksidasi
akan terhambat bila vitamin C dibiarkan dalam keadaan asam atau suhu rendah. Buah yang masih
muda (mentah) lebih banyak mengadung vitamin C. Semakin tua buah, semakin berkurang vitamin
C-nya (Prawirokusumo, 1994).

Iodin dan iodium pada vitamin C digunakan sebagai indicator vitamin C, berperan penting
dalam hidroksilisin prolin dan lisin menjadi hidroksiprolin dan hidroksilisin yang merupakan
bahan pembentuk kolagen. Vitamin C merupakan reduktor kuat dan penentuannya dapat
ditentukan dengan menggunakan titrasi yang digunakan adalah iodine berdasarkan sifat yang
menentukannya. Indikator yang digunakan adalah amilum dengan standarisasi iodine yaitu 1 ml
0.01 N dan iodine ekivalen 0.8 asam askorbat (Poedjiadi, 1994).

Penetuan kadar vitamin C dapat ditentukan melalui titrasi. Jenis titrasi yang digunakan
adalah titrasi iodimetri yang termasuk dalam titrasi redoks yang menggunakan amilum sebagai
indikator. Sebenarnya titrasi ini dapat dilakukan tanpa indikator karena warna iodin yang di titrasi
akan lenyap bila titik akhir tercapai. Warna yang terjadi ialah coklat tua menjadi lebih muda, lalu
kuning, kuning muda, sampai warna benar-benar lenyap. Namun untuk lebih mudahnya
ditambahkan amilum sebagai indikator. Amilum dapat membentuk kompleks berwarna biru bila
bereaksi dengan iodin (Harjadi, 1986).

Kadar dari vitamin C, dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :

1. Keadaan buah : semakin layu/kusut atau tidak segarnya vitamin menyebabkan kadar
vitamin C yang terkandung dalam buah tersebut berkurang.
2. Waktu pengekstraksian : semakin lama waktu mengekstrasi kandungan vitamin C akan
semakin berkurang.
3. Masa penyimpanan : semakin lama suatu bahan disimpan, kadarnya akan semakin rendah.
4. Suhu : semakin tinggi suhu, kadarnya akan semakin rendah (Imma, 2009).
D. HIPOTESIS
Jika larutan betadin/iodin ditetesi ekstrak buah-buahan maka akan berubah warna

E. ALAT DAN BAHAN


a. Alat
1. Mortar 2 buah
2. Alu 2 buah
3. Gelas beaker 100 ml 4 buah
4. Corong 2 buah
5. Kertas saring 4 buah
6. Pengaduk 2 buah
7. Pipet tetes 2 buah
8. Tabung reaksi 4 buah
b. Bahan
1. Pisang
2. Cabai
3. Lemon
4. Jeruk nipis
5. Larutan penguji lugol (iodium)

F. METODOLOGI
1. Waktu : Senin, 12 Februari 2018. Pukul 11.10-12.00
2. Tempat : Laboratorium IPA 2 FMIPA UNY
3. Variable :
a) Variabel Bebas : Jenis bahan makanan
b) Variabel Terikat : Kandungan Vitamin C dalam bahan makanan
c) Variable Kontrol : Jumlah tetesan lugol
4. Langkah kerja :
Menghancurkan bahan makanan yang akan diuji dengan menggunakan mortar

Membuat ekstrak bahan makanan dengan menggunakan penyaring

Mengisi tabung reaksi masing masing dengan larutan filtrat bahan makanan dengan volume
sama

Menetesi ekstrak bahan makanan dengan ±5 tetes larutan lugol.

Mengamati perubahan warnanya

5. Skema alat :

G. DATA HASIL PERCOBAAN


No Bahan Makanan Warna sebelum Setelah ditetesi lugol
1 Lemon Putih keruh Bening, lugol memudar
2 Pisang Kuning keruh Putih keruh, lugol memudar
3 Cabai Hijau Hijau muda, lugol memudar
4 Jeruk Nipis Putih keruh Putih keruh, Lugol memudar

H. PEMBAHASAN
Percobaan “Kandungan Vitamin C” yang dilakukan pada hari senin tanggal 12 februari
2018 bertujuan Untuk mengetahui kandungan Vitamin C pada bahan makanan. Alat yang
digunakan dalam percobaan ini adalah Mortar dan Alu yang digunakan untuk menghaluskan
bahan makanan, Gelas beaker 100 ml digunakan sebagai wadah hasil filtrasi dari ekstrak
bahan makanan, Corong dan Kertas saring digunakan dalam proses filtrasi, Pengaduk
digunakan untuk mengaduk larutan, Pipet tetes untuk mengambil larutan penguji yaitu Lugol
(iodium), dan Tabung reaksi digunakan sebagai tempat mereaksikan suatu bahan makanan
dengan larutan penguji.
Adapun langkat percobaan yang dilakukan adalah kegiatan pertama praktikan
menghancurkan bahan makanan yang akan diuji dengan menggunakan mortar. Langkah
kedua praktikan membuat ekstrak bahan makanan dengan menggunakan penyaring dan kertas
saring kemudian mengisi tabung reaksi masing masing dengan hasil filtratsi bahan makanan
dengan volume sama lalu menetesi filtrat bahan makanan dengan ±5 tetes larutan lugol dan
praktikan mengamati perubahan warnanya.
Vitamin merupakan suatu molekul organik yang sangat diperlukan tubuh untuk proses
metabolisme dan pertumbuhan yang normal. Vitamin bukan karbohidrat, protein maupun
lipid. Tubuh tidak dapat mensintesis vitamin-vitamin. Vitamin berdasarkan kelarutannya di
dalam air, ada dua yaitu vitamin yang larut di dalam air (vitamin B dan vitamin C) dan vitamin
yang tidak larut di dalam air (vitamin A, D, E, dan K). Karena larut dalam air, vitamin C
mudah diserap dalam usus halus, dari mana ia langsung masuk ke dalam darah vena porta ke
hati dan dari sana ke seluruh tubuh. Vitamin ini disimpan dalam banyak jaringan, tetapi
terutama banyak sekali dalam organ yang berhubungan dengan aktivitas metabolisme
(Tarrant, 1989)
Vitamin C merupakan asam askorbat, senyawa kimia yang larut dalam air (Perricone,
2007:117). Pengujian kadar vitamin C dilakukan dengan menggunakan betadine sebagai
indikator adanya vitamin C. Pada kemasan betadine tertera kandungan betadine berupa
povidone iodine 10% yang setara dengan iodine 1%. Disinilah iodine berperan sebagai
indikator yang bereaksi dengan asam askorbat setetes demi setetes untuk menghilangkan
warna iodine. Oleh karena itu metode ini disebut metode titrasi iodometri.
Reaksi tersebut:

Asam askorbat
Dalam praktikum ini, digunakan 4 bahan makanan yaitu jeruk nipis, lemon, pisang dan
cabai hijau. Ke empat bahan tersebut akan di uji kandungan vitamin c. Berdasarkan hasil
percobaan diperoleh hasil seperti gambar berikut ini

Dari keempat pengujian diatas, larutan iodine (betadine) jika ditetesi dengan vitamin C
atau asam askorbat akan menghasilkan molekul asam askobat yang mengikat molekul iodine.
Hal itu terjadi karena molekul vitamin C lebih besar daripada molekul iodine.
Semakin banyak vitamin C yang terkandung pada bahan makanan, maka dia akan
mengikat molekul zat warna iodine lebih banyak juga. Jadi warna yang dihasilkan pada bahan
makanan yang mengandung banyak vitamin C menjadi bening atau keruh menunjukkan tidak
ada lagi molekul zat warna iodine bebas karena sudah diikat oleh molekul vitamin C.
Sedangkan apabila kandungan vitamin C pada larutan sedikit, maka zat warna iodine tidak
dapat terikat sempurna.
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan semua bahan makanan yang diuji
menggunakan larutan iodine menghasilkan perubahan warna setelah di tetesi dengan larutan
penguji, yaitu setelah di tetesi dengan larutan iodine, warna larutan iodine menghilang atau
memudar, hasil ini menunjukkan bahwa tidak ada lagi molekul zat warna iodine bebas karena
sudat terikat oleh molekul vitamin C. sehingga semua bahan makanan yang di ujikan
mengandung vitamin C. Akan tetapi praktikan tidak dapat menentukan kuantitas vitamin C
dari setiap bahan makanan yang di ujikan, dikarenakan percobaan ini menggunakan variable
kontrol jumlah tetesan larutan iodine atau lugol. Dimana larutan lugol ini sebenarnya dapat
menjadi indikator dalam menentukan perbandingan seberapa besar kandungan vitamin C
dalam bahan makanan yang diujikan seperti cabai hijau, jeruk nipis, lemon, dan pisang.
Percobaan kuantitas kandungan vitamin C bisa dilakukan dengan menjadikan jumlah
tetesan larutan lugon menjadi sebuah variable bebas yang digunakan dalam percobaan, namun
dalam percobaan ini praktikan tidak melakukan uji kuantitas kandungan vitamin C pada setiap
bahan uji.
Selama ini, sebagian besar dari kita berpikir sumber vitamin C paling utama terdapat
pada buah jeruk. Cabai adalah salah satu jenis makanan yang kaya akan gizi. Cabai memiliki
kadar vitamin C dan betakaroten (provitamin A) yang lebih tinggi daripada buah-buahan
seperti jeruk, nanas, mangga, dan semangka.
Di antara berbagai jenis cabai, cabai hijau adalah jenis cabai yang paling banyak
mengandung vitamin C. Kandungan vitamin C pada cabai hijau diketahui jauh lebih tinggi
dari kandungan vitamin C pada cabai merah dan cabai rawit

I. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa semua bahan
yang di ujikan yaitu cabai hijau, jeruk nipis, lemon, dan pisang mengandung vitamin C.

J. DAFTAR PUSTAKA

Harjadi, W. 1986. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: PT Gramedia.

Harper, H.A. 1979. Biokimia. Diterjemahkan oleh Martin M. EGC, Jakarta: PT Gramedia.

Imma, N. 2009. Penentuan Kadar Vitamin C. Jakarta: UI Press.

Lehninger. 1982. Dasar – Dasar Biokimia. Jakarta. Erlangga.

Perricone, N. 2007. The Perricone Perscription. Serambi Ilmu Semesta: Jakarta. Diambil dari
Febriansah, R, dkk. Tomat (Solanum Lycopersicum, L) sebagai Agen Kompreventif
Potensial. Diakses dari http://ccrc.farmasi.ugm.ac.id/. Pada tanggal 1 Maret 2018. pukul
15.15 WIB.
Prawirokusumo, S. 1994. Ilmu Gizi Komparatif. Yogyakarta: BPFE.

Poedjiadi, A. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: UI-Press.

Siregar, H.A. 2009. Vitamin C. Jakarta: PT Gramedia.

Sudarmaji, Slamet. Dkk. 1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta:
Penerbit Liberty.

Tarrant, 1989. Basic Collage Chemistry. London: Harper and Row Publisher.

K. LAMPIRAN

Ekstrak Bahan Makana yang di ujikan Setelah di tetesi larutan lugol