Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

PENGARUH SUHU DAN PH TERHADAP AKTIVITAS ENZIM AMILASE SALIVA

DENGAN METODE WOHLGEMUTS

DISUSUN OLEH :

HADI SUSILO

NIM : 115040213111030

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

TAHUN AKADEMIK

2011/2012

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Prinsip dasar yang digunakan didalam pemanfaatan enzim dalam membantu menentukan
diagnosa adalah dari kenyataan bahwa didalam darah ada dua kelompok enzim yaitu enzim
yang secara normal ada dan berfungsi didalam darah yang dinamakan kelompok fungsional
plasma enzim dan kelompok enzim yang normal tidak berfungsi didalam darah tetapi terdapat
didalam darah, dan dinamakan non fungsional plasma enzim. Kelompok kedua ini normalnya
terdapat didalam sel. Dia dapat berada didalam darah diduga karena proses difusi atau karena
sel – sel tua yang mengalami regenerasi pada saat sel tersebut dirusak isinya akan dapat
tumpah dan sebagian tertuang kedalam darah atau dengan cara lain yang belum diketahui.
Dengan demikian logikanya kalau enzim dalam kelompok dua ini kadarnya dalam darah
meningkat pasti ada kerusakan minimal pada dinding sel yang berisi enzim tersebut.

1.2 TUJUAN

Setelah menyelesaikan program ini dengan baik mahasiswa F.K Unlam semester I diharapkan
:

Tujuan Umum :

1. Memahami kinetika enzim.

2. Memahami manfaat enzim dalam kehidupan sehari – hari maupun dalam membantu
menegakkan diagnosa.

Tujuan Khusus

1. Mampu menyebutkan faktor- faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi enzimatik.

2. Mampu membedakan enzim fungsional dan enzim non fungsional dalam plasma.

3. Mampu menyebutkan masing – masing dua contoh enzim fungsional dalam enzim
non fungsional dalam plasma.

4. Mampu menyebutkan contoh pemeriksaan enzim yang dapat membantu menegakkan


diagnosa.

5. Mampu merencanakan pemeriksaan enzimatik yang dapat menunjang diagnosa suatu


kasus tertentu.

BAB II

TINJAUAN TEORI

Enzim adalah polimer biologis yang mengatalisis reaksi kimia yang memungkinkan
berlangsungnya kehidupan seperti yang kita kenal. Keberadaan danpemeliharaan rangkaian
enzim yang lengkap dan seimbang merupakan hal yang essensial untuk menguraikan nutrient
menjadi energy dan chemical building block (bahan dasar kimiawi); menyusun bahan-bahan
dasar tersebut menjadi protein, DNA, membrane, sel dan jaringan; serta memanfaatkan
energy untuk motilitas sel, fungsi saraf dan kantraksi otot. Dengan pengecualian molekul
RNA katalitik atau ribozim, enzim adalah protein. Kekurangan jumlah atau aktivitas katalitik
enzim-enzim kunci dapat terjadi akibat kelainan genetic, kekurangan gizi atau toksin. Defek
enzim bisa disebabkan oleh mutasi genetic atau infeksi oleh virus atau bakteri pathogen. Para
ilmuan kedokteran mengatasi ketidakseimbangan aktivitas enzim denganmenggunakan bahan
farmakologis untuk menghambat enzim-enzim tertentu dan sedang meneliti terapi gen
sebagai cara untuk mengobati defisiensi jumlah atau fungsi enzim.

Enzim yang mengatalisis perubahan satu atau lebih senyawa (substrat) menjadi satu atau
lebih senyawa lain (produk) meningkatkan laju reaksi setidaknya 1.000.000 kali
dibandingkan jika tidak dikatalisis. Seperti semua katalis lain, enzim tidak berubah secara
permanen atau dikonsumsi sebagai konsekuensi dari keikutsertaannya dalam reaksi yang
bersangkutan.

Selain sangat efisien, enzim juga merupakan katalis yang sangat efektif. Tidak seperti
kebanyakan katalis yang digunakan dalam kimia sintetik, enzim bersifat spesifik baik bagi
reaksi yang dikatalisis maupun substrata tau substrat-substrat yang berhubungan erat. Enzim
juga merupakan katalis stereospesifik dan biasanya mengatalisis reaksi dari hanya satu
stereoisomer suatu senyawa, misalnya, D-gula, tetapi bukan L-gula, asam L-amino tetapi
bukan asam D-amino. Karena berikatan dengan substrat melalui sedikitnya tiga titik
perlekatan, enzim bahkan dapat mengubah substrat nonchiral menjadi produk chiral.
Spesifitas enzim yang sangat tinggi member sel hidup kemampuan untuk secara bersamaan
melaksanakan dan secara independen mengontrol beragam proses kimiawi.

Nama-nama yang paling sering digunakan untuk kebanyakan enzim menjelaskan tipe reaksi
yang dikatalisis, diikuti oleh akhiran –ase. Contohnya, dehidrogenas mengeluarkan atom-
atom hydrogen, protease mengatalisis protein dan isomerase mengatalisis tataulang dalam
konfigurasi. Pemodifikasian dapat terletak di depan maupn di belakang nama enzim untuk
menejelaskan substrat enzim (xantin oksidase), sumber enzim ( ribonuklease pancreas),
pengaturannya (lipase peka-hormon) atau suatu gambaran dari mekanisme kinerjanya
(protease sistein). Jika diperlukan, ditambah penanda alfanumerik untuk menunjukan
berbagai bentuk suatu enzim.

Untuk menghilangkan ambiguitas, IUB menciptakan suatu system terpadu tata nama enzim
yaitu setiap enzim memiliki nama dank ode khusus untuk menunjukan tipe reaksi yang
dikatalisis dan substrat yang terlibat. Enzim dikelompokkan dalam enam kelas:

1. Oksidoreduktase, mengatalisis oksidasi dan reduksi

2. Transferase, mengatalisis pemindahan gugus

3. Hidrolase, mengatalisis terjadinya hidrolisis

4. Liase, mengatalisis pemutusa ikatan dengan eliminasi atom yang akanmenghasilkan


ikatan rangkap

5. Isomerase, mengatalisis perubahan geometric atau structural di dalam satu molekul

6. Ligase, mengatalisis penyatuan dua molekul yang dikaitandengan hidrolisis ATP


Meskipun sistem IUB ini jelas, namun nama-nama enzim menjadi panjang dan relatif tidak
praktis sehingga kita biasanya tetap menamai enzim berdasarkan nama tradisionalnya
meskipun nama itu kadang-kadang menyesatkan. Nama IUB untuk heksokinase melukiskan
kejelasan sekaligus kompleksitas sistem IUB. Nama IUB untuk heksokinase adalah
ATP:D_heksosa 6_fosfotransferase E.C.2.7.1.1. nama ini menunjukan heksokinase sebagai
anggota kelas 2 (tranferase), subkelas 7 (pemindahan satu gugus fosforil), sub-subkelas 1
(alcohol adalah akseptor fosforil dan heksosa-6 menunjukan bahwa alcohol yang
terfosforilasi berada di karbon ena heksosa. Namun, kita terus menyebutnya sebagai
heksokinase.

Banyak enzim yang mengandung berbagai molekul nonprotein kecil dan ion logam yang ikut
serta secara langsung dalam katalisis atau pengikut substrat. Molekul atau ion ini, yang
disebut gugus prostetik, kofaktor dan koenzim, memperluas ragam kemampuan katalisis
melebihi yang dumingkinkan oleh gugus fungsional di rantai samping aminoasil peptida.

Gugus prostetik dibedakan berdasarkan integritasnya yang kuat dan stabil ke dalam struktur
protein melalui gaya-gaya kovalen atau nonkovalen. Contoh-contohnya antara ain adalah
piridoksal fosfat, flavin mononukleatida dan tiamin. Logam adalah gugus prostetik yang
paling sering dijumpai , sekitar sepertiga dari semua enzim mengandung ion-ion logam yang
terikat kuat dan disebut metaloenzim.

Kofator memiliki fungsi serupa dengan gugus prostetik tetapi berikatan secara transien dan
mudah terlepas dengan enzim atau substrat, misalnya ATP. Tidak seperti gugus prostetik yang
terkat secara stabil, kofaktor harus terdapat dalam medium di sekitar enzim agar katalisis
dapat terjadi. Kofaktor yang paling umum adalah ion logam. Enzim memerlukan kofaktor ion
logam disebut enzim yang memerlukan kofaktor ion logam. Untuk membedakan dari
metaloenzim.

Koenzim berfungsi sebagai pengangkut atau bahan pemindah gugus yang dapat didaur-ulang
dan memindahkan banyak substrat dari tempat pembentukannya ke tempat pemakaiannya.
Ikatan dengan koenzim juga menstabilkan substrat, seperti atom hydrogen atau ion hidrida
yang tidak stabil dalam lingkungan cair sel.

Vitamin B larut-air merupakan komponen penting berbagai koenzim. Selain vitamin B,


beberapa koenzim mengandung gugus adenine, ribose dan fosforil AMP dan ADP.
Nikotinamid adalah komponen koenzim redoks FMN dan FAD. Asam pantotenat adalah
komponen dari koenzim A pengangkut gugus asil. Sebagai pirofosfatnya, tiamin ikut serta
dalam dekarboksilasi asam alfa-ketoglutarat dan koenzim asam folat dan kobamid berfungsi
dalam metabolism satu karbon.

Sekitar 1500 air liur disekresi per hari. pH saliva saat kelenjar istirahat sedikit lebih rendah
dari 7,0, tetapi selama sekresi aktif, pHnya mencapai 8,0. Air liur mengandung dua enzim
pencernaan: lipase lingual, yang disekresi oleh kelenjar di lidah, dan α-amilase saliva, yang
disekresi oleh kelenjar-kelenjar saliva. Saliva juga mengandung musin, yaitu glikoprotein
yang melumasi makanan, mengikat bakteri, dan melindungi mukosa mulut. Saliva juga
mengandung immunoglobulin sekretorik IgA; lisozim, yang menyerang dinding kuman;
laktoferin, yang mengikat besi dan bersifat bakteriostatik; dan protein kaya-plorin yang
melindung email gigi dan mengikat tannin yang toksik.
Saliva mempunyai sejumlah fungsi penting, antara lain memudahkan kita menelan,
mempertahankan kelembaban mulut, bekerja sebagai pelarut molekul yang merangsang
indera pengecap, membantu proses bicara dengan memudahkan pergerakan bibir dan lidah,
dan mempertahankan kebersihan mulut dan gigi. Saliva juga mempunyai daya antibakteri,
dan penderita defisiensi salivasi (xerostomia) mempunyai insidens karies gigi yang lebih
tinggi daripada normal. Sistem dapar saliva membantu mempertahankan pH mulut sekitar
7,0. Sistem ini juga membantu menetralkan asam lambung dan menghilangkan nyeri ulu hati
(heartburn) bila getah lambung mengalami regurgitasi ke dalam esophagus.

Komposisi ion air liur sangat bervariasi dari spesies ke spesies dan dari kelenjar ke kelenjar.
Akan tetapi, umumnya saliva yang disekresi di dalam asini mungkin isotonik, dengan
konsentrasi Na+, K+, Cl-, dan HCO3- yang mirip dengan komposisi plasma. Duktus
ekskretorius dan mungkin duktus interkalaris yang bermuara ke dalam duktus ekskretorius
memodifikasi komponen saliva dengan mengambil Na+ dan Cl- dan menambahkan K+ dan
HCO3-. Duktus tersebut relative impermeable terhadap air. Jadi, pada aliran saliva yang
lambat, saliva yang sampai ke mulut bersifat hipotonik, sedikit asam, dan kaya akan K+ tetapi
relatif kurang Na+ dan Cl-. Jika aliran saliva cepat, komposisi ion tidak memiliki cukup waktu
untuk berubah di dalam duktus. Akibatnya, meskipun pada manusia tetap bersifat hipotonik,
saliva lebih cenderung isotonik, dengan konsentrasi Na+ dan Cl- yang lebih tinggi. Aldosteron
meningkatkan konsentrasi K+ dan menurunkan konsentrasi Na+ saliva dengan kerja yang
analog seperti kerja hormone di ginjal, dan terlihat rasio Na+/K+ saliva yangtinggi bila jumlah
aldosteron berkurang pada penyakit Addison.

Kelenjar saliva yang utama adalah kelenjar parotis, submandibularis, dan sublingualis, selain
itu juga ada beberapa kelenjar bukalis yang sangat kecil. Sekresi saliva normal harian
berkisar 800-1500 ml. Saliva mengandung dua tipe sekresi protein yang utama : (1) Sekresi
serosa yang mengandung ptialin (suatu α-amilase), yang merupakan enzim untuk
mencernakan karbohidrat, dan (2) Sekresi mucus yang mengandung musin untuk tujuan
perlindungan dan pelumasan. Kelenjar parotis hampir seluruhnya menyekresi tipe serosa,
sementara kelenjar submandibularis dan sublingualis menyekresi mucus dan serosa. Kelenjar
bukalis hanya menyekresi mucus. Saliva mempunyai pH antara 6,0-7,0; suatu kisaran yang
menguntungkan untuk kerja pencernaan dari ptialin.

Saliva terutama mengandung sejumlah besar ion kalium dan ion bikarbonat. Sebaliknya,
konsentrasi ion natrium dan klorida pada umumnya lebih rendah pada saliva daripada di
dalam plasma.

Sekresi saliva terdiri dari 2 tahap, yaitu:

1. Tahap pertama melibatkan asinus,

2. Melibatkan duktus salivarius

Sel asinus menyekresi sekresi primer yang mengandung ptialin dan atau musin dalam larutan
ion dengan konsentrasi yang tidak jauh berbeda dari yang disekresikan dalam cairan ekstrasel
biasa. Sewaktu sekresi primer mengalir melalui duktus, terjadi 2 proses transport aktif utama
yang memodifikasi komposisi ion pada cairan saliva secara nyata.

Pertama, ion-ion natrium secara aktif direabsorbsi dari semua duktus salivarius, dan ion-ion
kalsium disekresi secara aktif sebagai pengganti natrium. Oleh karena itu, konsentrasi ion
natrium dari saliva sangat berkurang, sedangkan konsentrasi ion kalium meningkat. Akan
tetapi, ada kelebihan reabsorbsi ion natrium yang melebihi sekresi ion kalium dan ini
membuat kenegatifan listrik sebesar -70 mV di dalam duktus salivarius, dan keadaan ini
kemudian menyebabkan ion klorida direabsorbsi secara pasif. Karena itu, konsentrasi ion
klorida pada cairan saliva turun sekali, serupa dengan penurunan konsentrasi ion natrium
pada duktus.

Kedua, ion-ion bikarbonat disekresi oleh epitel duktus ke dalam lumen duktus. Hal ini
sedikitnya sebagian disebabkan oleh : pertukaran pasif ion bikarbonat dengan ion klorida,
tetapi mungkin juga sebagian hasil dari proses sekresi aktif.

Hasil akhir dari proses transport adalah bahwa pada kondisi istirahat, konsentrasi masing-
masing ion natrium dan klorida dalam saliva hanya sekitar 15 mEq/L, sekitar sepertujuh
sampain sepersepuluh konsentrasinya dalam plasma. Sebaliknya, konsentrasi ion kalium
adaalah sekitar 30 mEq/L, tujuh kali lebih besar dari konsentrasinya dalam plasma; dan
konsentrasi ion bikarbonat adalah 50-70 mEq/L, sekitar dua sampai tiga kali lebih besar dari
konsentrasinya dalam plasma.

Selama salivasi maksimal, konsentrasi ion saliva sangat berubah karena kecepatan
pembentukan sekresi primer oleh sel asini dapat meningkat sebesar 20 kali lipat. Sekresi
asinar ini kemudian akan mengalir melalui duktus begitu cepatnya sehingga pembaruan
sekresi duktus diperkirakan menurun. Oleh karena itu, bila saliva sedang disekresi dalam
jumlah sangat banyak, konsentrasi natium klorida akan meningkat hanya sekitar setengah
sampai dua pertiga konsentrasi dalam plasma, dan konsentrasi kalium meningkat hanya 4 kali
konsentrasi dalam plasma.

Laju aliran saliva (seluruh mulut)

 Laju aliran saat istirahat

Rata-rata ± sd: 0,3 ± 0,22 mL/menit

 Laju aliran saat terstimulasi

Rata-rata ± sd: 1,7 ± 2,1 mL/menit

 Laju aliran total per hari

Antara 500 – 1000 mL/hari

Saliva di mulut bersihat hipotonik (lebih banyak air jika dibandingkan dengan cairan
ekstraselular) dan mengandung lebih dari 99% air.

Komposisi saliva terdiri atas :

 Kelenjar parotis (asinus serosa) saliva berprotein yang encer, kaya elektrolit dan
enzim (amilase) tetapi sedikit mukus.

 Kelenjar sublingual (asinus musinosa) saliva mukus kental kaya musin, antibodi dan
antigen, protein, dan karbohidrat.
 Kelenjar submandibula (campuran asinus serosa dan musinosa) mengandung
elektrolit, enzim, dan sel penyekresi mukus.

 Kelenjar saliva minor (sebagian besar asinus musinosa)

Tabel beberapa konstituen saliva di seluruh mulut pada keadaan istirahat dan terstimulasi

Konstituen Istirahat Terstimulasi


Natrium 8 mmoL/L 32 mmoL/L
Kalium 21 mmoL/L 22 mmoL/L
Klorida 8 mmoL/L 18 mmoL/L
Bikarbonat 3 mmoL/L 20 mmoL/L
Amilase 0,6 mmoL/L 1,2 mmoL/L
Protein total 2,6 g/L 3,2 g/L
Osmolalitas 85 mosmol/kg 127 mosmol/kg

Kontribusi beberapa kelenjar

Tidak terstimulasi Terstimulasi


Parotis 20% Parotis 50%
Submandibula 65% Submandibula 30%
Sublingual 7-8% Sublingual 10%
Kelenjar minor 7-8% Kelenjar minor 10%

Tepung, suatu polimer glukosa, adalah karbohidrat utama dalam makanan. Bahan ini dicerna
oleh amilase dalam air liur oleh α-amilase dalam air liur lalu oleh α-amilase yang dihasilkan
oleh pankreas dan bekerja di usus halus. Di-, tri-, dan oligosakarida yang dihasilkan oleh α-
amilase ini diuraikan menjadi glukosa oleh kerja enzim-enzim pencernaan yang terletak di
permukaan brush border sel epitel usus.

Leukotriene (LT) B4 telah dihembuskan dengan pernapasan kondensat (EBC) telah


dilaporkan meningkat pada peradangan saluran napas. Asal-usul leukotrienes di EBC itu
sendiri adalah, tidak dibentuk (normal dengan sendirinya). Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengukur tingkat LTB4 di EBC dikumpulkan dalam dua tantangan yang ditandai
dengan peradangan saluran napas yang kuat neutrophilic dan untuk membandingkan tingkat
LTB4 di EBC
dengan tingkat di dahak dan air liur.
LTB4 dan amilase-diukur dalam EBC dari 34 subjek sehat yang terpapar pada babi (sebagai
contohnya) kurungan bangunan atau pada provokasi lipopolisakarida. Tanda
tersebut juga diukur di induksi dahak di 11 macam subyek. Sebagai perbandingan, LTB4 dan
amilase-diukur dalam air liur dari subyek sehat.

Selain itu Delapan air liur dan sampel darah diambil sebelum dan sesudah injeksi untuk
penilaian aliran saliva bunga dan SAA dan katekolamin konsentrasi. Selain itu,
darah tekanan, suasana hati, dan kecemasan dinilai berulang kali.

BAB III

PRINSIP DAN METODE PRAKTIKUM

3.1 Percobaan Pengaruh Suhu Terhadap Aktivitas Enzim Amilase Saliva dengan
Metode Wohlegemut’s

1. Prinsip

Amilase saliva adalah enzim yang terdapat dalam air ludah. Enzim ini bekerja pada pati dan
dekstrin (atau juga Glikogen ) dan mengubahnya menjadi maltosa, dengan hasil antara amilo
dekstrin, eritrodekstrin, dan aktrodekstrin.

1. Alat dan bahan

Alat Bahan

1. Plat Tetes 1. Saliva

2. Pipet Tetes 2. Amilum

3. Beaker Glass 3. Iodium

4. Labu Erlenmeyer 4. Aquadest

5. Stopwatch

1. Probandus

Suhu 270 C

 Nama : Ahmad Muhsinin

 Jenis Kelamin : Laki – laki


 Umur : 18 Tahun

Suhu 370 C

 Nama : Ahmad Muhsinin

 Jenis Kelamin : Laki – laki

 Umur : 18 Tahun

Suhu 1000 C

 Nama : Ahmad Muhsinin

 Jenis Kelamin : Laki – laki

 Umur : 18 Tahun

1. Cara Kerja

1. Menyiapkan alat dan bahan

2. Probandus berkumur – kumur dengan aquadest.

3. Saliva dikeluarkan dan dikumpulkan di dalam beaker glass.

4. Encerkan saliva 1 ml dengan aquadest 25 ml.

5. Siapkan 3 buah erlenmayer dengan suhu 270 C, 370 C, dan 1000 C.

6. Masukkan 5 ml kanji ke dalam masing – masing erlenmayer.

7. Masukkan buffer fosfat pH 7 2 ml ke dalam masing – masing erlenmayer dan


diamkan dalam 2 menit.

8. Masukkan saliva yang telah diencerkan dalam masing – masing Erlenmeyer.

9. Nyalakan stopwatch.
10. Teteskan 2 tetes larutan pada plat tetes kemudian tambahkan iodium 1 tetes.

11. Jika larutan berwarna biru, ulangi lagi cara 10 hingga larutan berubah warna menjadi
coklat.

12. Hitung waktu yang diperlukan.

3.2 Percobaan Pengaruh PH terhadap aktivitas enzim amilase saliva dengan metode
wohlegemut’s

1. Prinsip

Amilase saliva adalah enzim yang terdapat dalam air ludah. Enzim ini bekerja pada pati dan
dekstrin (atau juga Glikogen ) dan mengubahnya menjadi maltosa, dengan hasil antara amilo
dekstrin, eritrodekstrin, dan aktrodekstrin.

1. Alat dan bahan

Alat Bahan

6. Plat Tetes 1. Saliva

7. Pipet Tetes 2. Amilum

8. Beaker Glass 3. Iodium

9. Labu Erlenmeyer

10. Stopwatch

11. Gelas ukur

12. Waterbath.

1. Probandus

pH 4
 Nama : Ahmad Muhsinin

 Jenis Kelamin : Laki – laki

 Umur : 18 tahun

pH 7

 Nama : Ahmad Muhsinin

 Jenis Kelamin : Laki – laki

 Umur : 18 tahun

pH 10

 Nama : Ahmad Muhsinin

 Jenis Kelamin : laki – laki

 Umur : 18 tahun

1. Cara Kerja

2. Menyiapkan alat dan bahan

3. Probandus berkumur dengan aquadest.

4. Saliva dikeluarkan dan dikumpulkan dalam gelas beaker.

5. Kemudian encerkan saliva dengan 1 ml aquadest.

6. Siapkan 3 buah labu erlenmayer dengan pH 4, pH 7 dan pH 10.

7. Masukkan 5 ml kanji ke dalam masing – masing erlenmayer.

8. Kemudian masukkan ke dalam waterbath dengan suhu 380 C selama 2 menit.

9. Masukkan saliva yang telah diencerkan tadi.

10. Nyalakan stopwatch.

10. Teteskan 2 tetes larutan ke dalam plat tetes kemudian tambahkan 1 tetes iodium.
11. Jika larutan berwarna biru, ulangi lagi cara kerja no 10 hingga larutan berubah warna
menjadi coklat.

12. Catat perubahan yang terjadi dan hitung waktu yang diperlukan.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL PRAKTIKUM

Percobaan 1 :

 Suhu 270 C.

Pada menit pertama dapat diamati bahwa sudah terjadi reaksi yaitu berubahnya warna coklat.
Perubahan warna ini menandakan bahwa 5 ml amilum yang dicampur dengan buffer fosfat
pH 7 sebanyak 2 ml telah berhasil dipecah oleh 1 ml saliva. Hal ini dapat kita hitung dengan
perhitungan :
 Suhu 370 C.

Pada suhu 370 C terjadi perubahan warna ( dari biru menjadi hitam). Perhitungannya adalah :

 Suhu 1000 C.

Pada suhu 1000 C tidak terjadi perubahan warna ( tetap berwarna biru). Perhitungannya
adalah :

Keterangan :

30 unit aktivitas amylase adalah banyaknya milligram amillum yang di pecah oleh 1 ml
cairan (saliva) selama 30 menit pada suhu 38°C.

Jadi, banyaknya milligram amillum yang dipecah oleh 1 ml cairan saliva selama 30 menit
pada suhu 38°C adalah 30 mg.

Percobaan 2 :

 pH 4

No. Menit Warna


1. 1’ Biru kehitaman

2. 2’ Biru kehitaman
3. 3’ Biru kehitaman

4. 4’ Biru kehitaman

5. 5’ Biru kehitaman

6. 6’ Biru kehitaman

7 7 Biru kehitaman

 pH 7

 No Menit Perubahan
1. 1’ Coklat
2. 2’ Coklat
3. 3’ Coklat
4. 4’ Coklat

No. Menit Warna


 pH 1. 1’ Biru kehitaman

2. 2’ Biru

 3. 3’ Biru
pH10
4. 4’ Ungu

5. 5’ Coklat tua

6. 6’ Coklat

7 7 Coklat muda

4.2 PEMBAHASAN

Pada percobaan yang dilakukan kali ini, yakni menguji aktivitas enzim amylase saliva dengan
metode Wohlgemut’s, bertujuan untuk mengetahui durasi waktu yang dibutuhkan oleh cairan
saliva untuk mencerna karbohidrat dengan bantuan pewarnaan lugol (reagen iodium). Dalam
percobaan yang dilakukan, hasil yang didapat bahwa waktu yang dibutuhkan saliva untuk
mencerna amillum (cairan kanji) secara keseluruhan adalah sekitar lima menit.

Pada menit-menit awal, percernaan amillum oleh saliva ini masih belum sempurna ditandai
dengan masih terbentuknya warna kehitaman pada plat tetes yang ditetesi lugol dan
menandakan bahwa masih ada kandungan amillum dalam objek yang diamati sekaligus
menanadakan kerja saliva yang belum sempurna. Namun, lama-kelamaan specimen dalam
plat tetes yang diamati menunjukkan perubahan warna ketika ditetesi lugol yakni bertambah
terang warnanya dan akhirnya hanya warna lugol yang terlihat (kuning karat).

Percobaan pengaruh suhu terhadap reaksi enzimatik ini juga mengamati bagaimana aktivitas
enzim diukur menurut suhu. Peningkatan suhu akan meningkatkan laju reaksi, akan tetapi
bila melewati suhu optimum (suhu dingin atau panas yang ekstrim), akan menurunkan
aktivitas enzim, yang biasanya disebabkan oleh denaturasi protein pada enzim.

Saliva mengandung enzim amilase. Amilase merupakan enzim yang bertugas sebagai
katalisator sistem pencernaan dalam proses hidrolisis amilum yang menghasilkan
glukosa/maltosa. Amilosa merupakan polisakarida yang polimernya berantai panjang dan
tidak bercabang, tetapi berbentuk spiral. Molekulnya terbentuk dari 300-400 monomer
glukosa yang mempunyai ikatan a-1,4. Glukosa ini larut dalam iodium sehingga menjadi
warna biru. Hal ini disebabkan adanya daya adsorbsi iodium yang masuk ke dalam uliran
spiral amilosa.. Amilopektin dikenal sebagai glukosa yang molekulnya berantai panjang.
Amilopektin jika ditambahkan iodium akan menjadi warna merah keunguan.

Larutan substrat yang digunakan adalah amilum, karena antara amilum dan amilase memiliki
hubungan dalam proses pencernaan. Amilase akan menghidrolisis amilum menjadi maltosa.
Penambahan HCl pada larutan substrat ini sebagai pemberi elektrolit Cl- agar aktivitas dari
ptialin meningkat.

Pada praktikum ini juga digunakan larutan buffer dengan pH 6,5 untuk menjaga agar suasana
tetap stabil sesuai dengan keadaan tubuh manusia secara fisiologis. Penambahan NaCl 0,9%
berperan dalam mengaktifkan atau sebagai aktivator dari enzim amilase salivarius. Selain itu,
larutan ini juga berfungsi sebagai larutan isotonis yang dapat menciptakan kondisi fisiologis
yang sesuai dengan kondisi mulut sehingga enzim a-amilase saliva dapat bekerja optimal.

Penambahan HCl 0,05 N pada larutan berfungsi untuk menciptakan suasana asam karena
pada larutan tersebut akan ditambahkan KI-KIO3 yang berfungsi sebagai indikator warna. KI-
KIO3 pada suasana asam akan melepaskan iod dan akan memberikan warna pada larutan.

Pada periode 0’, larutan berwarna biru dikarenakan belum adanya enzim yang menghidrolisis
substrat (amilum), sehingga amilum berikatan dengan iod.

Pada suhu 0o C enzim dapat dikatakan inaktif dan reaksi yang berlangsung bersifat reversibel,
enzim dalam keadaan tidak terdenaturasi, dan karena suhu yang rendah aktivitas enzim
berkurang bila dibandingkan aktivitas enzim suhu optimum. Sehingga warna substrat
berwarna hitam karena amilum berikatan dengan iodine.
Pada suhu 27 oC, warna kuning pada tabung 10’, 15’, dan disebabkan pada kondisi tersebut
enzim bekerja dengan menguraikan amilum menjadi maltosa, sehingga hanya sedikit iodine
yang diabsorpsi oleh amilum. Pada keadaan ini enzim telah berikatan sepenuhnya dengan
substrat yaitu amilum sehingga iodium tidak mempunyai tempat lagi untuk bereaksi dengan
enzim yaitu amilase dan warna yang dihasilkan kuning.

Semakin banyak ion iod yang terlarut, warna kuning akan semakin tua yang masing-masing
menunjukkan tahapan hidrolisis amilum oleh enzim a-amilase saliva. Enzim a-amilase saliva
menghidrolisis amilum dan menghasilkan satuan maltosa kira-kira 60-70% dari total amilum
sedangkan sisanya sedagai dekstran.

Pada tabung reaksi 10’ terjadi kesalahan percobaan akibat KI-KIO3 pada alat dan bahan tidak
dalam keadaan baik lagi sehingga menyebabkan pengulangan penambahan KI-
KIO3. Akibatnya nilai absorbansinya menurun.

Perubahan kanji (amilopektin dan amilosa) menjadi glukosa berawal di dalam mulut.
Kelenjar liur mensekresikan sekitar 1 liter cairan per hari yang mengandung musin liur dan
amilase-α liur. Musin liur adalah suatu glikoprotein licin yang penting untuk melumasi
(lubrikasi) dan menyebarkan (dispersi) polisakarida. Amilase-α secara acak menghidrolisis
ikatan α-1,4 internal antara residu glukosil dalam amilopektin, amilosa, dan glikogen,
mengubah polisakarida yang berukuran besar menjadi polisakarida yang lebih kecil yang
disebut dekstrin. Amilase-α bekerja pada ikatan internal di tempat yang terpencar-pencar
dalam rantai polisakarida. Karena alas an ini amilase-α disebut suatu endoglikosidase.
Sebaliknya, eksoglikosidase bekerja secara berurutan dari satu ujung pada rantai karbohidrat.
Makanan bergerak dari mulut melalui esofagus masuk ke dalam lambung, tempat kerja
amilase-α dihentikan oleh pH yang asam, yang menyebabkan denaturasi enzim.

Pada manusia, peran amilase liur mencerna sangat sedikit kanji dari kanji total yang dimakan.
Fungsi utama amilase liur mungkin adalah membersihkan remah-remah kue dan sisa
makanan lainnya yang terselip di antara gigi.

Terdapat lima cara utama aktivasi enzim dikontol sel.

1. Produksi enzim dapat ditingkatan metabolisme ya atau diturunkan bergantung pada


respon sel terhadap perubahan linkungan. Bentuk regulasi ini disebut induksi atau
inhibisi enzim.

2. Enzim dapat dikompartemenkan dengan lintasan metabolisme yang berbeda-beda


yang terjadi dalm kompartemen sel yang berbeda. Contoh asam lemak di disintesis
oleh sekelompok enzim dalam sitosol.

3. Enzim dapat diregulasi oleh inhibitor dan aktivator.

4. Enzim dapat diregulasimelalui modifikasi pasca-translasional. Hal ini dapat meliputi


fosforilasi, miristolasi dan glikosilasi.

5. Beberapa enzim dapat menjadi aktif ketika berada pada lingkungan yang berbeda.

Kelenjar saliva kelihatannya menjadi teka-teki kepada sebagian besar penguji terlepas dari
kemudahan pemeriksaan dan frekuensi kelainan saliva. Pasien cenderung mencari perhatian
medis ketika parotis atau kelenjar submandibula membesar atau nyeri. Sering terjadi
kebingungan tentang kemungkinan pembengkakakan terjadi pada nodus limpatik atau
kelenjar saliva. Perawatan tidak selalu harus, namus sejak para spesialis menduga umumnya
terjadi dan kondisi neuroplastik. Bahkan pada keadaan kontraksi berat pada daerah kepala
dan leher, keadaan tersebut masih berfrekuensi tidak stabil. Literatur terbaru yang dapat
membantu pasien dengan perawatan pasien dengan kondisi yang tidak umum seringkali dapat
lditemukan di text umum otolaryngology atau jurnal yang memiliki banyak sumber.
Gangguan pada kelenjar saliva menjengkali setiap menjengkali setiap leretan kondisi yang
dapat mempengaruhi jaringan saliva.

BAB V

PENUTUP

5.1 KESIMPULAN

Dari hasil praktikum yang diperoleh, dapat diambil kesimpulan bahwa:

1. Suhu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi daya kerja enzim.

2. Pada suhu 0oC, enzim amilase mengalami inaktivasi dan aktivitasnya berkurang
secara linear, dengan nilai korelasi 0,4628.

3. Enzim akan bekerja optimal pada suhu optimumnya, pH optimum pada percobaan ini
adalah 27o C, padahal menurut teori 37o C.

4. Pada suhu 100oC, enzim amilase mengalami denaturasi dan aktivitasnya berkurang
secara linear dengan nilai korelasi –0,103.

5. Enzim akan terdenaturasi bila dipertahankan pada suhu melebihi suhu optimum.
5.2 SARAN

Dari praktikum yang telah dilakukan diharapkan alat dan bahan ditambah kualitas dan
kuantitasnya. Sehingga setiap praktikan memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan
praktikum. Akibat keterbatasan peralatan maka yang benar-benar melaksanakan percobaan
hanya beberapa orang saja, dan sisanya hanya menjadi penonton.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. Modul Praktikum Biokimia Kedokteran. Banjarbaru: Bagian Biokimia


Kedokteran FK Unlam 2010.

Murray RK, Graner DK, Rodwell VW. 2009. Biokimia Harper edisi 27. Jakarta: EGC.

Gaber F, Acevedo F, Delin I, Sundbland B-M, Palmberg L, et al. Saliva is one likely

source of leukotriene B4 in exhaled breath condensate. European respiratory journal 2006;


28; 1229-1235.

Ehlert U, Erni K, Hebisch G, Nater U. Salivary {alpha}-Amylase Levels after

Yohimbine Challenge in Healthy Men. The Journal of Clinical endocrinology

& metabolism 2006; 91; 5130-5133.

Suwandi M, Wibisono LK, Sugianto B, Rahman A, Kotong H. 1989. Kimia Organik.

Fakultas kedokteran UI, Jakarta.

Marks, Dawn B., Allan D. Marks, Colleen M. Smith. 2000. Biokimia Kedokteran

Dasar. EGC, Jakarta


LEMBAR PENGESAHAN

Judul Praktikum : Pengaruh suhu dan pH terhadap Aktivitas Enzim Amilase Saliva dengan
Metode Wohlgemut’s

Hari/Tanggal : Rabu, 8 Desember 2011

Waktu : 12.00 – 15.00 WIB

Tempat : Laboratorium Biokimia FP UB , Malang

Praktikan

Hadi Susilo

NIM . 115040213111030

Banjarbaru, 15 Desember 2011

Mengetahui,

Dosen Pembimbing Asisten Kelompok

Drs. Eko Suhartono, M. Si Muhammad Donny

NIP. 132064912 NIM. I1A005063


Pankreas menghasilkan enzim amilase dan lipase. Amilase selain dihasilkan oleh pankreas juga
dihasilkan oleh kelenjar ludah dan hati yang berfungsi mencerna amilum/karbohidrat. Kadar amilase
di dalam serum meningkat pada radang pankreas akut. Pada keadaan tersebut, keadaan amilase
meningkat setelah 2 – 12 jam dan mencapai puncak 20 – 30 jam dan menjadi normal kembali setelah
2 – 4 hari. Gejala yang timbul berupa nyeri hebat pada perut. Kadar amilase ini dapat pula meningkat
pada penderita batu empedu dan pasca bedah lambung.

http://www.biomedika.co.id/services/laboratorium/33/pemeriksaan-kimia-klinik.html

Copyright © 2012 Biomedika . All Rights Reserved.

Designed by JED Creative

PERCOBAAN ENZIM AMILASE DAN


FAKTOR-FAKTORNYA
Enzim adalah golongan protein yang paling banyak terdapat dalam sel
hidup. Sekarang, kira-kira lebih dari 2000 enzim telah teridentifikasi,
yang masing-masing berfungsi sebagai katalisator reaksi kimia dalam
sistem hidup. Sintesis enzim terjadi didalam sel dan sebagian besar
enzim dapat diperoleh dengan ekstraksi dari jaringan tanpa merusak
fungsinya. Contoh enzim diantaranya ptialin, pepsin, renin, amilase,
tripsin, lipase, erepsin, maltase, sukrase dan laktase. Aktivitas enzim
dipengaruhi oleh suhu, pH, konsentrasi enzim, dan konsentrasi
substrat.

Berikut ini beberapa percobaan mengenai enzim:


(Percobaan yang menggunakan enzim amilase dapat diambil dari
saliva atau air liur. Untuk menstimulasi sekresi saliva, kunyahlah
sepotong lilin (parafin) kemudian saring dan siap digunakan)

I. Percobaan yang bertujuan mengetahui faktor-


faktor yang mempengaruhi enzim, yaitu:

A. Pengaruh suhu terhadap aktivitas enzim

Pada suhu sangat rendah, aktivitas enzim dapat terhenti secara


reversibel. Kenaikan suhu lingkungan akan meningkatkan energi kinetik
enzim dan frekuensi tumbukan antara molekul enzim dan substrat,
sehingga enzim makin aktif. Umumnya kenaikan suhu 10°C menyebabkan
kecepatan reaksi enzimatis bertambah 1,1 hingga 3,0 kali lebih besar.
Pada suhu optimum, kecepatan reaksi enzimatis berlangsung maksimal.
Bila suhu ditingkatkan terus, maka enzim akan mengalami denaturasi,
sehingga aktivitas katalitiknya terhenti. Sebagian besar enzim memiliki
suhu optimum 30°C sampai 40°C dan mengalami denaturasi secara
irreversibel pada pemanasan di atas suhu 60°C.

Prosedur Pengujian:
1. Ke dalam 5 tabung reaksi di isi dengan 2 mL larutan amilum
2. Tambahkan 1 mL enzim amilase pada setiap tabung
3. Tabung 1 dimasukkan ke dalam gelas kimia yang berisi es; tabung 2
disimpan pada suhu kamar; tabung 3 dimasukan ke dalam penangas
air bersuhu 37 - 40°C; tabung 4 dimasukan ke dalam penangas air
bersuhu 75 - 80°C; tabung 5 dimasukkan ke dalam penangas air
mendidih
4. Biarkan masing-masing tabung pada tempatnya selama 15 menit
5. Selanjutnya, uji dengan larutan iodium
6. Uji pula dengan pereaksi benedict
7. Catat dan amati perubahan warna yang terjadi
Lakukanlah pengamatan dalam waktu yang sama dan sesuai dengan
kondisi percobaan pada tiap tabung. Jangan menambahkan enzim secara
serentak pada kelima tabung agar memudahkan sewaktu pengujian.

B. Pengaruh pH terhadap aktivitas enzim

Enzim bekerja pada kisaran pH tertentu dan umumnya tergantung pada


pH lingkungannya. Enzim menunjukkan aktivitas maksimal pada pH
optimum, umumnya antara pH 6 - 8,0. Jika pH rendah atau tinggi, maka
dapat menyebabkan enzim mengalami denaturasi, sehingga menurunkan
aktivitasnya.

Terjadinya penurunan aktivitas enzim dapat dilihat dari hasil hidrolisis


substrat yang dikatalisis. Misalnya, amilum terhidrolisis menjadi maltosa
atau glukosa. Hasil hidrolisis dapat dibuktikan dengan uji benedict. Bila
positif, berarti amilum terhidrolisis, sehingga dapat diasumsikan enzim
memiliki aktivitas tinggi. Sebaliknya, bila hasilnya negatif berarti amilum
tidak terhidrolisis karena enzim tidak aktif atau mengalami penurunan
aktivitas.

Prosedur Pengujian:
1. Isilah tabung reaksi 1 dengan 2 mL larutan HCl 0,4%; tabung 2
dengan 2 mL aquades; tabung 3 dengan 2 mL Na2CO3 1%
2. Ke dalam tiap tabung ditambahkan 2 mL larutan amilum dan 1 mL
enzim
3. Campur sampai homogen dan biarkan selama 15 menit
4. Selanjutnya, tiap tabung diuji dengan larutan iodium dan benedict

C. Pengaruh konsentrasi enzim terhadap aktivitas enzim

Tujuan percobaan ini adalah mengetahui konsentrasi enzim terhadap


perombakan suatu substrat (amilum)

Pada konsentrasi substrat tertentu, bertambahnya konsentrasi enzim


secara bertingkat akan menaikkan kecepatan reaksi enzimatis. Dengan
kata lain, semakin besar volume atau konsentrasi enzim, semakin tinggi
pula aktivitas enzim dalam memecah substrat yang dikatalisis. Hal ini
dapat diihat dari perbedaan warna yang terjadi melalui uji iodium atau
adanya endapan yang terbentuk melalui uji benedict.

Prosedur Pengujian:
1. Isilah tabung 1 dengan 0,5 mL enzim amilase; tabung 2 dengan 1,0
mL enzim amilase; tabung 3 dengan 1,5 mL enzim amilase
2. Ke dalam tiap tabung, ditambahkan 2 mL larutan amilum 2%
3. Campurlah dengan baik dan diamkan selama 15 menit
4. Lalu ujilah dengan dengan larutan iodium dan pereaksi Benedict
5. Amati dan catat perubahan yang terjadi

D. Pengaruh konsentrasi substrat terhadap aktivitas enzim

Pada konsentrasi enzim yang tetap, penambahan konsentrasi substrat


akan menaikkan kecepatan maksimum yang tetap. Penambahan substrat
setelah kecepatan maksimum tidak berpengaruh lagi, sebab telah
melampaui titik jenuh enzim.

Prosedur Pengujian:
1. ke dalam 4 tabung reaksi di isi masing-masing dengan larutan
amilum 1 mL, 2 mL, 4 mL dan 6 mL
2. Ke dalam tiap tabung dimasukkan 1 mL enzim amilase
3. Campurlah dengan baik dan ujikah dengan larutan iodium dan
pereaksi Benedict
4. Amati dan catat perubahan yang terjadi

II. Percobaan yang bertujuan identifikasi enzim

A. Uji Urease

Uji urase bertujuan untuk membuktikan adanya enzim urease dalam suatu
sampel (suspensi kedelai).
Substrat urea oleh enzim urease di dalam suspensi sampel (misalnya
suspensi kedelai) akan diuraikan menjadi ammonia dan gas
karbondioksida

CO(NH2)2 + H2O + urease ---> 2NH3(g) + CO2(g)

Senyawa ammonia yang dihasilkan bersifat basa, sehingga pH larutan


menjadi naik. Akibatnya fenolftalein dalam larutan yang semula tidak
berwarna berubah menjadi warna merah muda. Aktivitas enzim urease
dapat dihambat oleh inhibitor logam berar seperti Hg 2+ atau Pb2+ dan
dirusak oleh pemanasan 100°C

Prosedur pengujian:
1. Isilah 3 tabung reaksi masing-masing dengan 1 mL larutan urea 1%
2. Selanjutnya pada tabung 1 ditambahkan 10 tetes filtrat kedelai dan
2 tetes fenolftalein; pada tabung 2 ditambahkan 10 tetes filtrat
kedelai yang telah dididihkan dan 2 tetes fenolftalein; pada tabung
3 ditambahkan 10 tetes filtrat kedelai, 2 tetes fenolftalein dan 10
tetes larutan HgCl2 1%
3. Campurlah dengan baik dan masukkan ketiga tabung ke dalam
penangas air pada 37 - 40°C selama 5 menit
4. Amati perubahan warna yang terjadi

B. Uji Peroksidase

Uji peroksidase bertujuan untuk membuktikan adanya enzim peroksidase


dalam suatu sampel (susu segar).

Hidrogen peroksida (H2O2) oleh enzim peroksidase dalam sampel (misalnya


susu segar) akan direduksi menjadi H2O. Sebagai donor hidrogen
digunakan guaiak yang akan teroksidasi menjadi senyawa yang berwarna
biru.
2H2O2 + guaiak + peroksidase ---> Guaiak teroksidasi + 2H2O
Biru

*Larutan Guaiak dibuat dari 1,0 gram guaiak dalam 60 mL alkohol 95%

Prosedur pengujian:
1. Ke dalam 2 tabung reaksi masing-masing dimasukkan 2 mL larutan
segar
2. Panaskan tabung pertama sampai mendidih, lalu dinginkan
perlahan-lahan dibawah air kran sedangkan tabung
kedua tidak dididihkan.
3. Ke dalam tiap tabung, tambahkan 5 tetes larutan guaiak dan 2-3
tetes H2O2 3%
4. Catat dan amati perubahan warna yang terjadi

C. Uji Gmelin

Uji Gmelin bertujuan membuktikan adanya pigmen-pigmen dalam


empedu

Empedu mengandung bermacam-macam pigmen. Pigmen empedu yang


utama adalah biliverdin yang berwarna hijau dan bilirubin yang berwarna
jingga atau kuning coklat. Oksidasi pigmen-pigmen empedu oleh oksidator
kuat seperti HNO3, akan menghasilkan turunan senyawa yang berwarna
misalnya:
Mesobiliverdin : hijau - biru
Mesobilirubin : kuning
Mesobilisianin : biru - ungu atau violet

Prosedur pengujian:
1. Siapkan 2 tabung reaksi bersih. Tabung 1 dimasukkan 1
mL HNO3 pekat dan tabung 2 dimasukkan 1 mL larutan iodium 0,5%
2. Dinding tabung dimiringkan dan tambahkan kedalam masing-masing
tabung 1 mL larutan empedu sehingga kedua larutan tidak
bercampur
3. Perhatikan warna yang terbentuk pada perbatasan antara kedua
cairan

D. Uji Pettenkofer

Uji pettenkofer bertujuan untuk membuktikan adanya asam empedu di


dalam larutan empedu

Di dalam empedu, asam-asam empedu seperti asam kholat atau asam


kenodeosikolat terutama sebagai garamnya, merupakan turunan senyawa
aromatik kompleks. Asam empedu dengan furfural (dihasilkan dari
dehidrasi karbohidrat oleh asam sulfat pekat) akan berkondensasi
membentuk senyawa kompleks berwarna.

Prosedur pengujian:
* Larutan empedu encer (1 : 10)
1. Masukkan 1 mL larutan empedu encer ke dalam tabung reaksi
2. Tambahkan 2 tetes larutan sukrosa 5 %
3. Miringkan dinding tabung dan masukkan hati-hati 10 tetes
H2SO4 pekat sehingga terbentuk dua lapisan cairan
4. Perhatikan terbentuknya cincin warna merah-violet pada
perbatasan antara kedua lapisan

Anda mungkin juga menyukai