Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kepada Allah SAW, yang telah melimpahkan Rahmat,
taufik, serta hidayah-Nya sehingga Makalah ini dapat penyusun selesaikan dengan lancar.
Makalah ini penulis susun untuk memenuhi tugas PENYAKIT ENDEMIK yang membahas tentang
pemeriksaan laboratorium pada malaria.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyelesaian makalah ini, penyusun banyak
mendapat bimbingan, nasihat serta bantuan dari berbagai pihak. Penyusun menyadari bahwa
makalah ini tentu tidak lepas dari kekurang sempurnaan, untuk itu masukan dari para pembaca
sangat penyusun harapkan.
Akhirnya penyusun berharap semoga makalah ini memberikan manfaat bagi
perkembangan kesehatan Indonesia.

Ambon, Maret 2016

Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Penyusunan
C. Metode Peyusunan
BAB II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Penyakit Malaria
B. Penyebab Penyakit Malaria
C. Tanda dan Gejala Penyakit Malaria
D. Patofisiologi Penyakit Malaria
E. Pemeriksaan Penunjang Penyakit Malaria
F. Penatalaksanaan dan Pencegahan Penyakit Malaria
BAB III. PENUTUP
A. Simpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di Indonesia, sampai saat ini penyakit malaria masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat. Angka kesakitan penyakit ini masih cukup tinggi, terutama di daerah luar Jawa dan
Bali, dimana terdapat campuran penduduk yang brasal dari daerah endemis dan yang tidak
endemis malaria. Di dearah-dearah tersebut masih sering terjadi letusan wabah yang
menimbulkan banyak kematian.
Malaria adalah penyakit infeksi akut maupun kronis yang disebabkan oleh plasmodium
malaria dengan demam yang rekren, anemia dan hepatosplenomegali. Sampai saat ini di
Indonesia dikenal 4 macam (spesies) parasit malaira yaitu plsmodium falciparum yang
menyebabkan malaria tropika, vivax yang menyebabkan malaria ovale.
Seorang penderita dapat dihinggapi lebih dari satu jenis plasmodium. Infeksi demikian
disebut infeksi campuran (mixed infection). Biasanya paling banyak dua jenis penyakit, yakni
campuran abtara falciparum dan vivax atau malariae. Kadang-kadang dijumpai tiga jenis parasit
sekaligus, meskipun hal ini jarang sekali terjadi. Infeksi campuran biasanya terdapat didaerah
yang tinggi angka penularannya.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan penyusunan makalah ini meliputi tujuan umum dan tujuan khusus.
1. Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Penyakit Endemik
2. Tujuan Khusus
a) Mengetahui dan memahami pengertian penyakit malaria
b) Mengetahui dan memahami penyebab penyakit malaria.
c) Mengetahui dan memahami tanda dan gejala penyakit malaria
d) Mengetahui dan memahami patofisiologi penyakit malaria.
e) Mengetahui dan memahami pemeriksaan penjang penyakit malaria.
f) Mengetahui dan memahami penatalaksanaan dan pencegahan penyakit malaria.
C. Metode Penyusunan
Metode pengumpulan data yaitu suatu cara pengumpulan bahan untuk dijadikan suatu
makalah atau laporan agar data yang terkumpul mampu memberikan penegasan pada makalah
tersebut.
Dalam menyusun makalah ini penyusun menggunakan metode :
1. Studi Kepustakaan
Yaitu mencari sumber informasi melalui beberapa sumber yang bersal dari beberapa
refernsi atau literatur yang dijadikan landasan teori yang ada kaitannya dengan masalah
yang penyusun bahas.
2. Metode Via Internet
Penyusun melakukan browsing menggunakan jasa telekomunikasi yaitu internet
dalam mencari materi
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Penyakit Malaria


Malaria adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh parasit dari genus
Plasmodium, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina yang kemudian
menyerang sel-sel darah merah.Kata malaria sendiri berasal dari bahasa Italia mala aria yang
berarti “udara buruk”. Kata malaria pertama kali digunakan dalam bahasa Inggris tahun 1740 oleh
H. Walpole.dengan gambaran penyakit berupa demam yang sering periodik, anemia,
pembesaran limpa dan berbagai kumpulan gejala oleh karena pengaruhnya pada beberapa
organ misalnya otak, hati dan ginjal . Penyakit ini menyerang semua kalangan baik laki-laki
ataupun perempuan, pada semua umur dari bayi, anak-anak sampai orang dewasa.Hanya
Anopheles betina yang menghisap darah dan membawa Sporozoit Plasmodium dalam kelenjar
ludahnya yang menyebabkan Malaria.

Gambar. Anopheles Betina


Penyakit malaria adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh plasmodium falsifarum,
plasmodium vivax, plasmodium malariae, plasmodium ovale dan yang mix atau campuran yang
penularannya melalui gigitan nyamuk anopheles betina (Kemenkes,2011)
B. Penyebab Penyakit Malaria
Penyebab penyakit malaria adalah parasit plasmodium yang terdapat pada nyamuk
anopheles. setidaknya ada empat type plasmodium yang dapat meng-infeksi manusia:
a. plasmodium falciparum.
Menimbulkan malaria falsifarum (malaria tertiana berat), sebagai penyebab malaria akut
yang menyebabkan kematian di seluruh dunia dengan angka sekitar 90% dari total kematian
akibat penyakit malaria di seluruh dunia. Masa inkubasi pada penularan secara alamiah
plasmodium falciparum adalah 12 hari.
b. plasmodium vivax,
Menimbulkan malaria vivax (malaria tertiana ringan), plasmodium vivax paling sering
ditemukan dalam kasus penyakit malaria di seluruh dunia. Masa inkubasi pada penularan secara
alamiah plasmodium vivax adalah 13-17 hari
c. plasmodium ovale
Jenis ini jarang sekali dijumpai di Indonesia, karena umumnya banyak kasusnya terjadi di
Afrika dan Pasifik Barat. Masa inkubasi pada penularan secara alamiah plasmodium ovale
adalah 13-17 hari.
d. Plasmodium malaria penyebab malaria quartana dan Masa inkubasi pada
penularan secara alamiah plasmodium malariae adalah 28-30 hari.
Serangan demam yang pertama didahului oleh masa inkubasi (intrinsik). Masa inkubasi
ini bervariasi antara 9-30 hari tergantung : jenis spesies parasit, intesitas infeksi, pengobatan
yang pernah didapat sebelumnya, tingkat imunutas penderita dan cara penularan.
Nyamuk anopheles akan membawa parasit dalam tubuhnya selama satu minggu sampai waktu
makan selanjutnya .
Pada manusia, parasit tersebut bermigrasi ke hati di mana mereka mulai bereproduksi
berlanjut ke aliran darah, diamana ia menginfeksi sel darah merah, yang merusak sel dan
melepaskan parasit lebih ke dalam aliran darah.Parasit sebagai penyebab penyakit malaria
berkembang biak di dalam sel darah merah, yang kemudian pecah dalam waktu 48 sampai 72
jam, menginfeksi sel darah merah. Gejala pertama biasanya terjadi 10 hari sampai 4 minggu
setelah infeksi, meskipun mereka dapat muncul pada awal 8 hari atau selama setahun kemudian.
Kemudian gejala yang terjadi pada siklus 48 sampai 72 jam.
Penyakit malaria yang tinggal di dalam sel darah merah dapat juga ditularkan melalui transfusi
darah, jarum suntik yang telah terkontaminasi, atau transplantasi organ. Penyakit malaria juga
dapat ditularkan oleh ibu hamil kepada bayinya.
Siklus Hidup Plasmodium Penyebab Malaria
1. Siklus Hidup Plasmodium, Siklus aseksual
Sporozoit infeksius dari kelenjar ludah nyamuk anopheles betina dimasukkan kedalam
darah manusia melalui tusukan nyamuk tersebut. Dalam waktu tiga puluh menit jasad tersebut
memasuki sel-sel parenkim hati dan dimulai stadium eksoeritrositik dari pada daur hidupnya.
Didalam sel hati parasit tumbuh menjadiskizon dan berkembang menjadi merozoit (10.000-
30.000 merozoit, tergantung spesiesnya) . Sel hati yang mengandung parasit pecah dan merozoit
keluar dengan bebas, sebagian di fagosit. Oleh karena prosesnya terjadi sebelum memasuki
eritrosit maka disebut stadium preeritrositik atau eksoeritrositik yang berlangsung selama 2
minggu. Pada P. Vivax dan Ovale, sebagian tropozoit hati tidak langsung berkembang menjadi
skizon, tetapi ada yang menjadi bentuk dorman yang disebut hipnozoit. Hipnozoitdapat tinggal
didalam hati sampai bertahun-tahun. Pada suatu saat bila imunitas tubuh menurun, akan menjadi
aktif sehingga dapat menimbulkan relaps (kekambuhan).
Siklus eritrositik dimulai saat merozoit memasuki sel-sel darah merah. Parasit tampak
sebagai kromatin kecil, dikelilingi oleh sitoplasma yang membesar, bentuk tidak teratur dan mulai
membentuk tropozoit, tropozoit berkembang menjadi skizon muda, kemudian berkembang
menjadi skizon matang dan membelah banyak menjadi merozoit. Dengan selesainya
pembelahan tersebut sel darah merah pecah dan merozoit, pigmen dan sisa sel keluar dan
memasuki plasma darah. Parasit memasuki sel darah merah lainnya untuk mengulangi siklus
skizogoni. Beberapa merozoit memasuki eritrosit dan membentuk skizondan lainnya membentuk
gametosit yaitu bentuk seksual (gametosit jantan dan betina) setelah melalui 2-3 siklus skizogoni
darah.
2. Siklus Hidup Plasmodium, Siklus seksual
Terjadi dalam tubuh nyamuk apabila nyamuk anopheles betina menghisap darah yang
mengandunggametosit. Gametosit yang bersama darah tidak dicerna.
Pada makrogamet (jantan) kromatin membagi menjadi 6-8 inti yang bergerak kepinggir parasit.
Dipinggir ini beberapa filamen dibentuk seperti cambuk dan bergerak aktif
disebut mikrogamet. Pembuahan terjadi karena masuknya mikrogamet kedalam makrogamet
untuk membentuk zigot. Zigot berubah bentuk seperti cacing pendek disebut ookinet yang dapat
menembus lapisan epitel dan membran basal dinding lambung. Ditempat ini ookinet membesar
dan disebut ookista. Didalam ookista dibentuk ribuan sporozoit dan
beberapa sporozoit menembus kelenjar nyamuk dan bila nyamuk menggigit/ menusuk manusia
maka sporozoit masuk kedalam darah dan mulailah siklus pre eritrositik.

CARA PENULARAN
Malaria dapat ditularkan dengan brbagai cara yang pada umumnya dibagi menjadi
alamiah dan tidak alamiah :.
1. Penularan secara Alamaiah (Natural Infection) yaitu melalui gigitan nyamuk anopheles .
2. Penularan tidak Alamiah di bagi atas :
a. Malaria bawaan /congenital, terjadi pada bayi yang baru dilahirkan karena ibunya
menderita penyakit malaria. Penularan terjadi melalui tali pusat atau plasenta.
b. Secara Mekanik, terjadi melalui transfusi darah atau jarum suntik. Penularan
melalui jarum suntik banyak terjadi pada para morfinis yang mengggunakan jarum
suntik yang tidak steril.
c. Secara Oral, cara penularan ini pernah dibuktikan pada ayam (plasmodium
gallinasium), burung dara (plasmodium relaction), dan monyet (plasmodium
knowlesi).
Tanda-Tanda Nyamuk Malaria
Bila hinggap/menggigit letak kepala lebih rendah dibanding badannya (menungging)
Bahaya Penyakit Malaria
- Anemia (kekurangan darah) karena sel-sel darah merah banyak yang hancur, dirusak
atau dimakan oleh parasit
- Pada ibu hamil, penyakit malaria dapat menyebabkan gangguan pada ari/plasenta.
- Pembuluh darah otak penderita dapat tersumbat sehingga menjadi gila atau meninggal.
- Dan lain-lainBrosur di keluarkan oleh : Public Health & Malaria Control Departement PT.
Freeport Indonesia.
C. Tanda dan Gejala Penyakit Malaria
Menurut berat-ringannya tanda-tanda dan gejalanya, gejala malaria dapat dibagi menjadi
2 jenis:
1. Gejala malaria ringan (malaria tanpa komplikasi)
Meskipun disebut malaria ringan, sebenarnya gejala yang dirasakan penderitanya cukup
menyiksa. Gejala malaria yang utama yaitu: demam dan menggigil, juga dapat disertai sakit
kepala, mual, muntah, diare, nyeri otot atau pegal-pegal. Gejala-gejala yang timbul dapat
bervariasi tergantung daya tahan tubuh penderita dan gejala spesifik dari mana parasit berasal.
Gejala malaria ini terdiri dari tiga stadium berurutan yang disebut trias malaria, yaitu :
a. Stadium dingin (cold stage)
Berlangsung kurang kebih 15 menit sampai dengan 1 jam. Dimulai dengan menggigil dan
perasaan sangat dingin, gigi gemeretak, denyut nadi cepat tetapi lemah, bibir dan jari-jari pucat
kebiru-biruan (sianotik), kulit kering dan terkadang disertai muntah.
b. Stadium demam (hot stage)
Berlangsung lebih dari 2 hingga 12 jam. Penderita merasa kepanasan (fever). Muka merah,
kulit kering, sakit kepala dan sering kali mual muntah . Nadi menjadi kuat kembali, merasa sangat
haus dan suhu tubuh dapat meningkat hingga 41o C atau lebih. Pada anak-anak, suhu tubuh
yang sangat tinggi dapat menimbulkan kejang-kejang.
c. Stadium berkeringat (sweating stage)
Berlangsung lebih dar 2 hingga 4 jam. Penderita berkeringat sangat banyak. Suhu tubuh
kembali turun, kadang-kadang sampai di bawah normal. Setelah itu biasanya penderita
beristirahat hingga tertidur. Setelah bangun tidur penderita merasa lemah tetapi tidak ada gejala
lain sehingga dapat kembali melakukan kegiatan sehari-hari. Gejala mungkin berupa koma atau
pinsan, kejang-kejang sampai tidak berfungsinya ginjal. kadang-kadang gejalanya mirip kolera
atau disentri.-
2. Gejala malaria berat (malaria dengan komplikasi)
Penderita dikatakan menderita malaria berat bila di dalam darahnya ditemukan parasit
malaria melalui pemeriksaan laboratorium Sediaan Darah Tepi atau Rapid Diagnostic Test (RDT)
dan disertai memiliki satu atau beberapa gejala/komplikasi berikut ini:
a) Gangguan kesadaran dalam berbagai derajat (mulai dari koma sampai penurunan
kesadaran lebih ringan dengan manifestasi seperti: mengigau, bicara salah, tidur terus,
diam saja, tingkah laku berubah).
b) Keadaan umum yang sangat lemah (tidak bisa duduk/berdiri).
c) Kejang-kejang.
d) Panas sangat tinggi.
e) Mata atau tubuh kuning.
f) Tanda-tanda dehidrasi (mata cekung, turgor dan elastisitas kulit berkurang, bibir kering,
produksi air seni berkurang) Perdarahan hidung, gusi atau saluran pencernaan.
g) Nafas cepat atau sesak nafas
h) Mayoritas gejala disebabkan oleh rilis besar merozoit ke dalam aliran darah, anemia
akibat penghancuran sel darah merah, dan masalah yang disebabkan oleh sejumlah
besar hemoglobin bebas dilepaskan ke sirkulasi setelah sel darah merah pecah.
D. Patofisiologi Penyakit Malaria
Patofisiologi pada malaria belum diketahui dengan pasti. Berbagai macam teori dan
hipotesis telah dikemukakan. Perubahan patofisiologi pada malaria terutama berhubungan
dengan gangguan aliran darah setempat sebagai akibat melekatnya eritrosit yang mengandung
parasit pada endotelium kapiler. Perubahan ini cepat reversibel pada mereka yang dapat tetap
hidup (survive). Peran beberapa mediator humoral masih belum pasti, tetapi mungkin terlibat
dalam patogenesis terjadinya demam dan peradangan. Skizogoni eksoeritrositik mungkin dapat
menyebabkan reaski leukosit dan fagosit, sedangkan sporozoit
danzgametositztidakzmenimbulkanzperubahanzpatofisiologik.
Patofisiologi malaria adalah multifaktorial dan mungkin berhubungan dengan hal-
halzsebagaizberikut:
a. Penghancuran eritrosit.
Penghancuran eritrosit ini tidak saja dengan pecahnya eritrosit yang mengandung parasit,
tetapi juga oleh fagositosis eritrosit yang mengandung parasit dan yang tidak mengandung
parasit, sehingga menyebabkan anemia dan anoksia jaringan. Dengan hemolisis intra vaskular
yang berat, dapat terjadi hemoglobinuria (blackwater fever) dan dapat mengakibatkan gagal
ginjal.
b. Mediator endotoksin-makrofag.
Pada saat skizogoni, eritrosit yang mengandung parasit memicu makrofag yang sensitif
endotoksin untuk melepaskan berbagai mediator yang berperan dalam perubahan patofisiologi
malaria. Endotoksin tidak terdapat pada parasit malaria, mungkin berasal dari rongga saluran
cerna. Parasit malaria itu sendiri dapat melepaskan faktor neksoris tumor (TNF). TNF adalah
suatu monokin , ditemukan dalam darah hewan dan manusia yang terjangkit parasit malaria. TNF
dan sitokin lain yang berhubungan, menimbulkan demam, hipoglimeia dan sindrom penyakit
pernafasan pada orang dewasa (ARDS = adult respiratory distress syndrome) dengan
sekuestrasi sel neutrofil dalam pembuluh darah paru. TNF dapat juga menghancurkan
plasmodium falciparum in vitro dan dapat meningkatkan perlekatan eritrosit yang dihinggapi
parasit pada endotelium kapiler. Konsentrasi TNF dalam serum pada anak dengan malaria
falciparum akut berhubungan langsung dengan mortalitas, hipoglikemia, hiperparasitemia dan
beratnya penyakit.
c. Sekuestrasi eritrosit yang terinfeksi.
Eritrosit yang terinfeksi plasmodium falciparum stadium lanjut dapat membentuk tonjolan-
tonjolan (knobs) pada permukaannya. Tonjolan tersebut mengandung antigen malaria dan
bereaksi dengan antibodi malaria dan berhubungan dengan afinitas eritrosit yang mengandung
plasmodium falciparum terhadap endotelium kapiler darah dalam alat dalam, sehingga skizogoni
berlangsung di sirkulasi alat dalam, bukan di sirkulasi perifer. Eritrosit yang terinfeksi, menempel
pada endotelium kapiler darah dan membentuk gumpalan (sludge) yang membendung kapiler
dalam alam-alat dalam.
Protein dan cairan merembes melalui membran kapiler yang bocor (menjadi permeabel)
dan menimbulkan anoksia dan edema jaringan. Anoksia jaringan yang cukup meluas dapat
menyebabkan kematian. Protein kaya histidin P. falciparum ditemukan pada tonjolan-tonjolan
tersebut, sekurang-kurangnya ada empat macam protein untuk sitoaherens eritrosit yang
terinfeksi plasmodium P. falciparum.
Tahap Perkembangan Penyakit Malaria,
1. Tahap exoeriyhrocitic adalah tahap dimana terjadinya infeksi pada sistem hati (liver)
manusia yang disebabkan oleh parasit plasmodium,
2. tahap erithrocitic adalah tahap terjadinya infeksi pada sel darah merah (eritrosit).
Setelah masuk melalui darah dan sampai di sistem hati manusia, parasit ini
akan berkembang biak dengan cepat yang kemudian keluar dan menginfeksi sel
darah merah, yang mana proses inilah yang menimbulkan timbulnya demam pada
penderita malaria.
parasit plasmodium akan terus berkembang biak dalam sel darah merah yang
kemudian keluar untuk menginfeksi sel darah merah lain yang masih sehat, hal inilah
yang menyebabkan terjadinya gejala panas atau demam naik turun pada
penderitazmalaria.
Walaupun sebenarnya sistem limpa manusia bisa menghancurkan sel darah
merah yang terinfeksi oleh parasit, tetapi parasit plasmodium jenis falciparum dapat
membuat sel darah merah menempel pada pembuluh darah kecil dengan cara
melepaskan protein adhesif, sehingga dengan begini sel darah merah yang terinfeksi
tidak dapat masuk kedalam sistem limpa untuk dihancurkan. Dengan kemampuan
inilah plasmodium falciparum sering menjadi penyakit malaria akut, karena dengan
kemampuan menempelkan sel darah merah yang telah terinfeksi di dinding
pembuluh darah kecil secara simultan sehingga dapat menyumbat peredaran darah
ke otak yang sering mengakibatkan kondisi koma pada penderita penyakit malaria.

Lain halnya dengan sebagian parasit plasmodium jenis vivax atau ovale tidak
mempunyai kecenderungan yang mematikan seperti plasmdium falciparum tetapi dengan
kemampuan menghasilkan hipnosoites yang tetap aktif selama beberapa bulan bahkan tahun,
sehingga penderita penyakit malaria yang disebabkan plasmodium ini sering mengalami malaria
yang baru kambuh dan kambuh lagi selama beberapa bulan bahkan tahun setelah terinfeksi
pertama kali, dan sangat sulit dibasmi secara tuntas dari dalam tubuh manusia terinfeksi.
E. Pemeriksaan Penunjang Penyakit Malaria
1. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pemeriksaan mikroskopik darah tepi untuk menemukan adanya parasit malaria sangat
penting untuk menegakkan diagnosa. Pemeriksaan satu kali dengan hasil negative tidak
mengenyampingkan diagnosa malaria. Pemeriksaan darah tepi tiga kali dan hasil negative maka
diagnosa malaria dapat dikesampingkan. Adapun pemeriksaan darah tepi dapat dilakukan
melalui :
a. Tetesan preparat darah tebal.
Merupakan cara terbaik untuk menemukan parasit malaria karena tetesan darah cukup
banyak dibandingkan preparat darah tipis. Sediaan mudah dibuat khususnya untuk studi di
lapangan. Ketebalan dalam membuat sediaan perlu untuk memudahkan identifikasi parasit.
Pemeriksaan parasit dilakukan selama 5 menit (diperkirakan 100 lapang pandangan dengan
pembesaran kuat). Preparat dinyatakan negative bila setelah diperiksa 200 lapang pandangan
dengan pembesaran 700-1000 kali tidak ditemukan parasit. Hitung parasit dapat dilakukan pada
tetes tebal dengan menghitung jumlah parasit per 200 leukosit. Bila leukosit 10.000/ul maka
hitung parasitnya ialah jumlah parasit dikalikan 50 merupakan jumlah parasit per mikro-liter darah.
b. Tetesan preparat darah tipis.
Digunakan untuk identifikasi jenis plasmodium, bila dengan preparat darah tebal sulit
ditentukan. Kepadatan parasit dinyatakan sebagai hitung parasit (parasite count), dapat
dilakukan berdasar jumlah eritrosit yang mengandung parasit per 1000 sel darah merah. Bila
jumlah parasit > 100.000/ul darah menandakan infeksi yang berat. Hitung parasit penting untuk
menentukan prognosa penderita malaria. Pengecatan dilakukan dengan pewarnaan Giemsa,
atau Leishman’s, atau Field’s dan juga Romanowsky. Pengecatan Giemsa yang umum dipakai
pada beberapa laboratorium dan merupakan pengecatan yang mudah dengan hasil yang cukup
baik.
C. Tes Serologi
Tes serologi mulai diperkenalkan sejak tahun 1962 dengan memakai tekhnik indirect
fluorescent antibody test. Tes ini berguna mendeteksi adanya antibody specific terhadap malaria
atau pada keadaan dimana parasit sangat minimal. Tes ini kurang bermanfaat sebagai alat
diagnostic sebab antibody baru terjadi setelah beberapa hari parasitemia. Manfaat tes serologi
terutama untuk penelitian epidemiologi atau alat uji saring donor darah. Titer > 1:200 dianggap
sebagai infeksi baru ; dan test > 1:20 dinyatakan positif . Metode-metode tes serologi antara lain
indirect haemagglutination test, immunoprecipitation techniques, ELISA test, radio-immunoassay.
2. PEMERIKSAAN KHUSUS
a. Pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction)
Pemeriksaan ini dianggap sangat peka dengan tekhnologi amplifikasi DNA, waktu dipakai
cukup cepat dan sensitivitas maupun spesifitasnya tinggi. Keunggulan tes ini walaupun jumlah
parasit sangat sedikit dapat memberikan hasil positif. Tes ini baru dipakai sebagai sarana
penelitian dan belum untuk pemeriksaan rutin.
Nama Pemeriksaan MALARIA

Diagnosis infeksi oleh Plasmodium malaria


Manfaat Pemeriksaan dan membedakan falciparum dan vivax dengan
metode PCR

Metode PCR

Sampel EDTA (2ml darah : 1 tetes EDTA 10%)

Volume Minimal 2 ml

Persiapan Pasien Tidak diperlukan persiapan khusus

Stabilitas Sampel suhu 4-8° C max 1 minggu

Penanganan Sampel/
ice pack (suhu: 2 – 8° C )
Transportasi

Kriteria Penolakan Hemolisis

Nilai Rujukan Negatip

b. ELISA (Enzyme Linked Immonosorben Assay)

Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) adalah metode uji imunitas atau


keberadaan dan konsentrasi suatu protein penyusun antigen berdasarkan reaksi antara
antibodi dan antigen itu sendiri. Teknik tersebut tidak hanya dapat digunakan untuk
mendeteksi antigen, tetapi dapat digunakan untuk mendeteksi antibodi di dalam tubuh.
Prinsip kerja dari teknik ELISA adalah berdasarkan reaksi spesifik antara antibodi dan antigen
dengan menggunakan enzim sebagai penanda (marker). Enzim tersebut akan memberikan
suatu tanda terdapatnya suatu antigen jika antigen tersebut sudah bereaksi dengan antibodi.
Reaksi tersebut memerlukan antibodi spesifik yang berikatan dengan antigen.
Konsentrasi antigen dan antibodi dalam suatu sampel dapat diketahui dengan
menggunakan tabel, kurva standar, dan perhitungan persamaan linearnya. Berdasarkan
perhitungan yang dilakukan, konsentrasi berbanding terbalik dengan nilai x. Nilai konsentrasi
yang didapat sangat kecil yaitu dibawah 0,35. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa
sampel adalah negatif.
Gambar 2.1 Metode Pemeriksaan ELIZA
c. Tes Antigen : p-f test
Yaitu mendeteksi antigen dari P.falciparum (Histidine Rich Protein II). Deteksi sangat
cepat hanya 3-5 menit, tidak memerlukan latihan khusus, sensitivitasnya baik, tidak memerlukan
alat khusus. Deteksi untuk antigen vivaks sudah beredar dipasaran yaitu dengan metode ICT.
Tes sejenis dengan mendeteksi laktat dehidrogenase dari plasmodium (pLDH) dengan cara
immunochromatographic telah dipasarkan dengan nama tes OPTIMAL. Optimal dapat
mendeteksi dari 0-200 parasit/ul darah dan dapat membedakan apakah infeksi P.falciparum atau
P.vivax. Sensitivitas sampai 95 % dan hasil positif salah lebih rendah dari tes deteksi HRP-2. Tes
ini sekarang dikenal sebagai tes cepat (Rapid test).
d. Pemeriksaan dengan mikroskop
Pemeriksaan sediaan darah (SD) tebal dan tipis di Puskesmas/Iapangan/rumah sakit
untuk menentukan:
a. Ada tidaknya parasit malaria (positif atau negatif).
b. Spesies dan stadium plasmodium
c. Kepadatan parasit
Untuk penderita tersangka malaria berat perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Bila pemeriksaan sediaan darah pertama negatif, perlu diperiksa ulang
setiap 6 jam sampai 3 hari berturut-turut.
b. Bila hasil pemeriksaan sediaan darah tebal selama 3 hari berturut-turut
tidak ditemukan parasit maka diagnosis malaria disingkirkan.

Jenis pemeriksaan untuk penegakan diagnosis penyakit malaria ada beberapa,


namun hingga saat ini metode yang masih dianggap sebagai standar emas (gold standart)
adalah menemukan parasit Plasmodium dalam darah. Beberapa jenis metode
pemeriksaan parasit Plasmodium ini diantaranya :
1. Pemeriksaan mikroskopis.
Pemeriksaan mikroskopis ini dilakukan untuk menemukan parasit Plasmodium
secara visual dengan melakukan identifikasi langsung pada sediaan darah penderita.
Pemeriksaan mikroskopis ini sangat bergantung pada keahlian pranata laboratorium
(analis kesehatan) yang melakukan identifikasi. Teknik pemeriksaan inilah yang masih
menjadi standar emas dalam penegakan diagnosis penyakit malaria.
Termasuk di dalam jenis pemeriksaan mikroskopis ini adalah pemeriksaan QBC
(Quantitative Buffy Coat). Pada pemeriksaan QBC dilakukan pewarnaan fluorescensi
dengan Acridine Orange yang memberikan warna spesifik terhadap eritrosit yang
terinfeksi oleh parasit Plasmodium. Plasmodium akan mengikat zat warna Acridine
Orange sehingga dapat dibedakan dengan sel lain yang tidak terinfeksi. Kelemahan teknik
ini adalah tidak dapat membedakan spesies dan tidak dapat melakukan hitung jumlah
parasit. Selain itu juga reagensia yang digunakan relatif mahal dibandingkan pewarna
Giemsa yang sering kita gunakan sehari-hari untuk pewarnaan rutin sediaan malaria.
2. Pemeriksaan immunoserologis.
Pemeriksaan secara immunoserologis dapat dilakukan dengan melakukan deteksi
antigen maupun antibodi dari Plasmodium pada darah penderita, antara lain :
a. Deteksi antigen spesifik.
Teknik ini menggunakan prinsip pendeteksian antibodi spesifik dari parasit
Plasmodium yang ada dalam eritrosit. Beberapa teknik yang dapat dipilih diantaranya
adalah :
- Radio immunoassay
- Enzym immunoassay
- Immuno cromatography
Penemuan adanya antigen pada teknik ini memberikan gambaran pada saat
dilakukan pemeriksaan diyakini parasit masih ada dalam tubuh penderita. Kelemahan dari
teknik tersebut adalah tidak dapat memberikan gambaran derajat parasitemia.
b. Deteksi antibodi.
Teknik deteksi antibodi ini tidak dapat memberikan gambaran bahwa infeksi
sedang berlangsung. Bisa saja antibodi yang terdeteksi merupakan bentukan reaksi
immunologi dari infeksi di masa lalu. Beberapa teknik deteksi antibodi ini antara lain :
- Indirect Immunofluoresense Test (IFAT)
- Latex Agglutination Test
- Avidin Biotin Peroxidase Complex Elisa
3. Sidik DNA.
Teknik ini bertujuan untuk mengidentifikasi rangkaian DNA dari tersangka
penderita. Apabila ditemukan rangkaian DNA yang sama dengan rangkaian DNA parasit
Plasmodium maka dapat dipastikan keberadaan Plasmodium. Kelemahan teknik ini jelas
pada pembiayaan yang mahal dan belum semua laboratorium bisa melakukan
pemeriksaan ini.
F. Pencegahan dan Pengobatan
1. Pencegahan
a. Menghindari gigitan nyamuk, Tidur memakai kelambu, menggunakan obat nyamuk,
memakai obat oles anti nyamuk, pasang kawat kasa pada ventilasi, menjauhkan kandang
ternak dari rumah, kurangi berada di luar rumah pada malam hari.
b. Pengobatan pencegahan, 2 hari sebelum berangkat ke daerah malaria, minum obat
doksisilin 1 x 1 kapsul/ hari sampai 2 minggu setelah keluar dari lokasi endemis malaria.
c. Membersihkan lingkungan, Menimbun genangan air, membersihkan lumut, gotong royong
membersihkan lingkungan sekitar, mencegahnya dengan kentongan.
d. Menebar kan pemakan jentik, Menekan kepadatan nyamuk dengan menebarkan ikan
pemakan jentik. Seperti ikan kepala timah, nila merah, gupi, mujair dll.
e. Menanam padi secara serempak atau diselingi dengan tanaman kering atau pengeringan
sawah secara berkala.
Obat-obatan bisa diminum untuk mencegah malaria selama melakukan perjalanan ke
daerah malaria.Obat ini mulai diminum 1 minggu sebelum perjalanan dilakukan, dilanjutkan
selama tinggal di daerah malaria dan 1 bulan setelah meninggalkan daerah malaria.Obat yang
paling sering digunakan adalah klorokuin.Tetapi banyak daerah yang memiliki spesies
Plasmodium falciparum yang sudah resisten terhadap obat ini.Obat lainnya yang bisa digunakan
adalah meflokuin dan doksisiklin. Doksisiklin tidak boleh diberikan kepada anak-anak dibawah
usia 8 tahun dan wanita hamil.
Beberapa hal yang perlu diingat mengenai malaria:
1. Obat-obat yang digunakan dalam tindakan pencegahan tidak 100% efektif
2. Gejalanya bisa timbul 1 bulan atau lebih setelah gigitan nyamuk
3. Gejala awalnya tidak spesifik dan seringkali disalahartikan sebagai influenza
4. Diagnosis dan pengobatan dini sangat penting, terutama pada malaria falciparum, yang
bisa berakibat fatal pada lebih dari 20% penderita.
2. Pengobatan
Pengobatan malaria tergantung kepada jenis parasit dan resistensi parasit terhadap
klorokuin.Untuk suatu serangan malaria falciparum akut dengan parasit yang resisten terhadap
klorokuin, bisa diberikan kuinin atau kuinidin secara intravena.Pada malaria lainnya jarang terjadi
resistensi terhadap klorokuin, karena itu biasanya diberikan klorokuin dan primakuin.
Tujuan pengobatan malaria adalah menyembuhkan penderita, mencegah kematian,
mengurangi kesakitan, mencegah komplikasi dan relaps, serta mengurangi kerugian sosial
ekonomi (akibat malaria). Tentunya, obat yang ideal adalah yang memenuhi syarat:
a. Membunuh semua stadium dan jenis parasit
b. Menyembuhkan infeksi akut, kronis dan relaps
c. Toksisitas dan efek samping sedikit
d. Mudah cara pemberiannya
e. Harga murah dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat
Sayangnya, dalam pengobatan didapatkan hambatan operasional dan teknis. Hambatan
operasioanal itu adalah:
a. Produksi obat, penggunaan obat-obatan dengan kualitas kurang baik, bahkan obat palsu.
b. Distribusi obat tidak sesuai dengan kebutuhan atas indikasi kasus di puskesmas.
c. Kualitas tenaga kesehatan, pemberian obat tidak sesuai dengan dosis standar yang telah
ditetapkan.
d. Kesadaran penderita, penderita tidak minum obat sesuai dengan dosis yang dianjurkan
(misal, klorokuin untuk tiga hari, hanya diminum satu hari saja)
Sementara itu, hambatan teknisnya adalah gagal obat atau resistensi terhadap obat.
Untuk pengobatan malaria, beberapa jenis obat yang dikenal umum adalah:
a. Obat standar: klorokuin dan primakuin.
b. Obat alternatif: Kina dan Sp (Sulfadoksin + Pirimetamin).
c. Obat penunjang: Vitamin B Complex, Vitamin C dan SF (Sulfas Ferrosus).
d. Obat malaria berat: Kina HCL 25% injeksi (1 ampul 2 cc).
e. Obat standar dan Klorokuin injeksi (1 ampul 2 cc) sebagai obat alternatif.

G. Program Penanggulangan
1. Menemukan dan mengobati penderita
2. Melakukan mass fever survey (MFS) terutama konfirmasi
3. Mengendalikan vektor
4. Memetakan lingkungan dan breeding place
5. Melakukan surveilans migrasi (bila mobilitasnya tinggi)
6. Melakukan survei entomologi
7. Memberi penyuluhan kepada masyarakat
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Malaria adalah : Penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang hidup
dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia, ditularkan melalui gigitan
nyamuk anopheles betina.
2. Parasit penyebab malaria (Plasmodium) :
3. Plasmodium falciparum (malaria tropika)
4. Plasmodium vivax (malaria tertiana)
5. Plasmodium malarie (malaria kuartana)
6. Plasmodium ovale (jarang, Indonesia Timur, Afrika )
3. Tanda dan gejala malaria ada 2 yaitu gejala malaria ringan yang terdiri dari stsadium
dingin, stadium demam dan stadium berkeringat. Gejala malaria berat yang terdiri dari
gangguan kesadarn, kejang-kejang, panas sangat tinggi, tubuh atau mata kuning dan
tanda dehidrasi dan sesak napas.
4. Patofisiologi malaria yaitu penghancuran eritrosit, Mediator endotoksin-makrofag, dan
Sekuestrasi eritrosit yang terinfeksi
5. Pemeriksaan Penunjang Penyakit Malaria antara lain pemeriksaan laboratorium, khusus
dan penunjang malaria berat
6. Penatalaksanaan dan Pencegahan Penyakit Malaria:
a. Terapi umum terdiri dari istirahat,diet, dan medikamentosa.
B. Saran
1. Supaya kita lebih berhati-hati terhadap penyakit malaria dan cara-cara pencegahan
dini dalam pemutusan rantai nyamuk penyebab malaria.
2. Sebagai bidan, supaya dapat memberikan penanganan dan pendidikan kepada ibu
hamil terhadap dugaan dini penyakit malaria
DAFTAR PUSTAKA

http://www.voanews.com/indonesian/news/Butuh-10-15-Tahun-Lagi-untuk-Temukan-Vaksin-
Malaria-129755538.html
http://mypotik.blogspot.com/2011/05/tanaman-artemisia-penakluk-penyakit.html
http://medicastore.com/penyakit/792/Malaria.html
Hinchliff, Sue.(1997).Kamus Keperawatan. Alih bahasa oleh dr.Andry Hartono.Jakarta: EGC

Kozier, B. Erb, G Berman A.J . (1995). Fundamental of Nursing : concepts, process, and practice.
Fifth Edition.California : Addison-Wesley Publishing Company.

Kozier, Erb. Berman. Snyder. (2004). Fudamental of nursing: Concepts, process, and practice.
Seventh Edition. New Jersey : Pearson Education. Inc.