Anda di halaman 1dari 39

PREPARASI DAN KARAKTERISASI SILIKA MESOPORI SBA-15

SEBAGAI ADSORBEN LOGAM Cu DAN Fe

PROPOSAL SKRIPSI

RIDHA AULIA 432 14 001


SYARIF ISMAIL 432 14 002

PROGRAM STUDI D-4 TEKNIK KIMIA INDUSTRI


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
MAKASSAR
2018
PREPARASI DAN KARAKTERISASI SILIKA MESOPORI SBA-15
SEBAGAI ADSORBEN LOGAM Cu DAN Fe

PROPOSAL SKRIPSI

RIDHA AULIA 432 14 001


SYARIF ISMAIL 432 14 002

PROGRAM STUDI D-4 TEKNIK KIMIA INDUSTRI


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
MAKASSAR
2018
HALAMAN PERSETUJUAN

Proposal skripsi ini dengan judul ”Preparasi dan Karakterisasi Silika Mesopori

SBA-15 sebagai Adsorben Logam Cu dan Fe” oleh Ridha Aulia NIM 432 14 001 dan

Syarif Ismail NIM 432 14 002 dinyatakan layak untuk diseminarkan.

Makassar, 06 Desember 2017

Mengetahui Menyetujui,

Ketua Program Studi Dosen Pengarah,

Nama ……………………. Nama …………………….


NIP ……………………… NIP ………………………

i
HALAMAN PENERIMAAN

Pada hari ini, hari Rabu tanggal 06 Desember 2017, tim penguji seminar proposal

skripsi telah menerima hasil seminar proposal skripsi oleh mahasiswa: Ridha Aulia

NIM 432 14 001 dan Syarif Ismail NIM 432 14 002 dengan judul ”Preparasi dan

Karakterisasi Silika Mesopori SBA-15 sebagai Adsorben Logam Cu dan Fe”.

Makassar, ………..

Tim Seminar Proposal Skripsi:

1. .......................... Ketua (..............tanda tangan.................)

2. .......................... Sekretaris (..............tanda tangan................)

3. .......................... Anggota (..............tanda tangan.................)

4. .......................... Anggota (.............tanda tangan.................)

5. .......................... Anggota (.............tanda tangan.................)

6. .......................... Anggota (.............tanda tangan.................)

ii
DAFTAR ISI

hlm.

HALAMAN SAMPUL ........................................................................................... i

HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................................... ii

HALAMAN PENERIMAAN ............................................................................... iii

DAFTAR ISI .......................................................................................................... iv

DAFTAR GAMBAR (kalau ada) ........................................................................ vii

DAFTAR LAMPIRAN (kalau ada) ........................................................................ i

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1

1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah .................................................................................. 3
1.3 Ruang Lingkup Penelitian ...................................................................... 3
1.4 Tujuan..................................................................................................... 4
1.5 Manfaat Penelitian.................................................................................. 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................6

BAB III METODE PENELITIAN 31

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ........................................................... 31


3.2 Alat dan Bahan .................................................................................. 31
3.3. Prosedur/Langkah Kerja .................................................................... 32
3.4 Definisi Operasional (jika perlu) ........................................................ 34

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 35

LAMPIRAN ............................................................................................................ 36

iii
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mobil Corporation Company pada tahun 1992 menemukan inovasi dalam

proses sintesis dari material mesopori silika. Material ini dibuat dari prekursor

anorganik aluminosilikat dan surfaktan yang berfungsi sebagai template atau

structure directing agent (SDA). Material ini memiliki luas permukaan dan

volume pori yang tinggi serta susunan pori dengan pola heksagonal yang

teratur. Material tersebut dikenal dengan nama Mobil Crystalline of Materials

atau disebut juga dengan MCM-41 (Kresge, 1992). Penemuaan ini mendorong

dunia sains untuk mensintesis material silika mesopori (Inagaki, 1993).

Material silika mesopori MCM-41 ditemukan memiliki kekurangan

dikarenakan ketahanan termalnya kurang stabil. Telah banyak usaha yang

dilakukan untuk meningkatkan stabilitas dari MCM-41 ataupun untuk mencari

material lain yang lebih stabil.

Dongyuan Zhou dkk (1997), menemukan material mesopori lain yang

memilki pori lebih besar dan seragam serta struktur yang lebih stabil karena

memiliki dinding pori yang lebih besar dengan nama Santa Barbara Amorf

atau lebih dikenal dengan SBA-15.

Sintesis dan aplikasi material silika mesopori SBA-15 terus

dikembangkan. Material ini dibuat dengan menggunakan triblok kopolimer

Pluronik 123 (P123) sebagai surfaktan dan TEOS sebagai prekursor. SBA-15

memiliki struktur yang teratur membentuk heksagonal berdiameter pori

1
sampai dengan 30 nm. Salah satu aplikasi dari material silika mesopori adalah

dapat digunakan sebagai adsorben berdasarkan sifat permukaan seperti luas

permukaan pori, diameter pori dan volume permukaan pori. SBA-15 yang

digunakan sebagai adsorben harus memiliki karakteristik pori yang baik dan

stabilitas kimia. Berbagai metode dan modifikasi varibel proses telah

dilakukan untuk merekayasa struktur material silika mesopori SBA-15

(Johansson, 2010).

Wang dkk (2015), melakukan sintesis material silika mesopori SBA-15

yang memiliki dinding pori tebal dan kestabilan termal yang tinggi dengan

menambahakan secara langsung bubuk polivinil alkohol (PVA) sebelum

larutan menjadi jernih. Karakterisasi material menunjukkan ketebalan dinding

pori 4,3 nm dengan diameter pori 5,6 nm. Jumlah PVA yang ditambahkan

tidak mengubah struktur dan morfologi SBA-15 tetapi lebih spesifik

mengubah volume pori (Wang, Ge and Bao, 2015)

Nguyen dkk (2008), memodifikasi proses sintesis SBA-15 dengan

melakukan variasi penambahan 1.3.5-trimethylbenzene (TMB) sebagai

prekursor. Hasil yang diperoleh menunjukkan peningkatan ukuran pori 3,99

cm3/g dan luas permukaan 1104 m2/g (Nguyen et al., 2008). Karakteristik

SBA-15 juga dipengaruhi oleh temperatur dan waktu reaksi. Pada temperatur

reaksi 100 oC dan waktu reaksi 48 jam diperoleh luas permukaan dan volume

pori SBA-15 adalah 912 m2/g dan 1,16 cm3/g, sedangkan pada temperatur

reaksi 120 oC dan waktu reaksi 72 jam diperoleh luas permukaan dan volume

pori SBA-15 adalah 570 m2/g dan 2,28 cm3/g (Katiyar et al., 2008). Cao dan

2
Kruk (2010), juga melakukan modifikasi SBA-15 metode hidrotermal pada

temperatur reaksi 100ºC dan waktu reaksi 48 jam diperoleh luas permukaan

dan volume pori SBA-15 adalah 580 m2/g dan 1,32 cm3/g, sedangkan pada

temperatur reaksi 130ºC dan waktu reaksi 24 jam diperoleh luas permukaan

dan volume pori SBA-15 adalah 360 m2/g dan 1.27 cm3/g (Cao and Kruk,

2010).

Dari uraian tersebut akan dilakukan penelitian sintesis silika mesopori

SBA-15 untuk diaplikasikan sebagai adsorben pada logam dengan merekayasa

struktur dan mengubah variabel proses untuk memperoleh karasteristik SBA-

15 yang memiliki sifat permukaan pori yang lebih besar dan stabilitas kimia

dan termal yang lebih baik.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana pengaruh temperatur pemanasan (100°C dan 120°C) terhadap

karakteristik silika mesopori SBA-15.

2. Bagaiaman pengaruh waktu pemanasan (48 jam dan 96 jam) terhadap

karakteristik silika mesopori SBA-15.

3. Bagaimana karakteristik silika mesopori SBA-15 dengan menggunakan

BET (Braunuer, Emmet, Teller) untuk karakterisasi pori, volume dan

diameter, DSC (Differential Scanning Calorimetry) untuk karakterisasi

stabilitas termal, FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy) untuk

karakterisasi gugus fungsi dan XRD (X-Ray Difraction) untuk

karakterisasi tingkat kristalinitas.

3
4. Bagaimana daya adsorpsi silika mesopori SBA-15 terhadap logam Fe dan

Cu.

1.3 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Jurusan Teknik Kimia Politeknik

Negeri Ujung Pandang. Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka ruang

lingkup penelitian ini dibatasi oleh:

1. Penelitian ini dibagi menjadi 3 tahap :

a. Sintesis material mesopori silika SBA-15

b. Karakterisasi material mesopori silika SBA-15

c. Pengaplikasian SBA-15 sebagai adsorben logam Fe dan Cu

2. Sintesis material silika mesopori SBA-15 dikarakterisasi dengan metode

hidrotermal pada temperatur pemanasan 100 °C dan 120 oC dan waktu

pemanasan 48 jam dan 96 jam. Adapun zat-zat yang digunakan yaitu :

 Pluronik 123 sebagai surfaktan sebanyak 0,027 gram.

 Prekursor TEOS (tetraethylorthosilicate) sebanyak 3,7 ml.

 NH4F (amonium flourida) sebanyak 0,027 gram.

 Katalis HCl dengan konsentrasi 1,3 M sebanyak 84 ml.

 N-Heptane sebanyak 1,2 ml.

3. Material silika mesopori SBA-15 dikarakterisasi dengan analisa Brunauer,

Emmet, Teller (BET), Differential Scanning Calorimetry (DSC), Fourier

Transform Infrared Spectrophotometer (FTIR) dan X-Ray Difraction

(XRD).

4
4. Penentuan aktivitas adsorpsi SBA-15 terhadap logam Fe dan Cu dengan

analisa Atomic Adsorption Spectrophotometer (AAS).

1.4 Tujuan Penelitian

1. Mengkaji pengaruh temperatur pemanasan (100°C dan 120°C) terhadap

karakteristik silika mesopori SBA-15.

2. Mengkaji pengaruh waktu pemanasan (48 jam dan 96 jam) terhadap

karakteristik silika mesopori SBA-15.

5. Menganalisis karakteristik silika mesopori SBA-15 yang meliputi

Brunauer, Emmet, Teller (BET), Differential Scanning Calorimetry

(DSC), Fourier Transform Infrared Spectrophotometer (FTIR) dan X-Ray

Difraction (XRD).

3. Mengetahui daya adsorpsi silika mesopori SBA-15 terhadap logam Fe dan

Cu.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah memperoleh adsorben silika yang

berasal dari SBA-15 untuk adsopsi logam berupa Fe dan Cu.

5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Material Mesopori

Material berpori adalah material padatan yang mempunyai pori sehingga

memiliki luas permukaan yang besar. Suatu padatan dikatakan material berpori

apabila memiliki porositas 0,2 - 0,95 nm (K. Ishizaki, S. Komarneni, 1998).

Porositas merupakan fraksi volume pori terhadap volume total padatan. Material

berpori telah digunakan secara luas sebagai katalis dan pengemban katalis,

adsorben, elektroda pada sel elektrokimia, sensor, bahan isolator dan sebagainya

(Stafford and Sing, 2015).

International Union of Pure and Applied Chemistry (IUPAC) membagi

material pori menjadi tiga jenis berdasarkan diameter pori yang dimiliki material

tersebut, yaitu : material mikropori, material mesopori dan material makropori.

Material mikropori adalah material yang memiliki diameter pori kurang dari 2

nm. Material makropori adalah material yang memiliki diameter pori lebih dari 50

nm. Sedangkan material mesopori adalah material yang memiliki diameter pori

diantara 2–50 nm disebut sebagai material mesopori (Cao, 2004). Contoh material

mesopori adalah material mesopori silika seperti M41S (MCM-41, MCM-48,

MCM-50) dan SBA-15. Material mesopori memiliki karakteristik antara lain

memiliki volume pori yang besar (mencapai 70%) dan memiliki luas permukaan

yang tinggi (mencapai lebih dari 700 m/g) (Cao, 2004).

6
2.2 Material Silika Mesopori SBA-15

Material mesopori silika untuk pertama kalinya disintesisi pada tahun 1992

oleh para peneliti dari Mobil Corporation. Material tersebut akhirnya diberi nama

Mobil Crystalline of Materials atau disebut juga dengan MCM-41 (Kresge,

1992). Karakteristik material tersebut antara lain memiliki pori berbentuk

heksagonal yang seragam dan memilki diameter pori 15-100 Angstrom(Cao,

2004). Gambar 2.1 menunjukkan foto mikro MCM-41.

Gambar 2.1 Foto mikro MCM-41


(Sumber : chem.umn.edu, 3DOMSiO2.jpg)

Keberhasilan riset atas sintesis MCM-41 ternyata membawa minat yang

begitu besar bagi para peneliti untuk melakukan riset dibidang yang sama, yaitu

riset material mesopori. Ternyata 6 tahun setelah ditemukannya MCM-41 yaitu

pada tahun 1998, peneliti dari Universitas California di Santa Barbara, Amerika

Serikat, berhasil mendapatkan material mesopori silika yang memiliki

karakteristik hampir sama dengan MCM-41, yaitu memiliki pori berbentuk

heksagonal yang seragam, hanya saja material ini memiliki diameter pori yang

lebih besar dari pada MCM-41. Material tersebut memiliki diameter pori dengan

7
ukuran 46–300 Angstrom (Zhao et al., 1998). Karena berhasil disintesis di Santa

Barbara, maka material tersebut diberi nama Santa Barbara Amorphous-15 atau

lebih dikenal dengan sebutan SBA-15. Material mesopori silika SBA-15

berbentuk serbuk. Bentuk material SBA-15 dapat dilihat pada Gambar 2.2

sedangkan foto mikro material tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.3.

Gambar 2.2 Material Silika Mesopori SBA-15


(Sumber :Wikipedia, Mesoporous Silica)

Gambar 2.3 Foto Mikro SBA-15


(Sumber : w3.rzberlin.mpg.de, Imageofthemonth)

Material mesopori SBA-15 memiliki karakteristik yang lebih baik

dibandingkan MCM-41 seperti luas permukaan yang lebih tinggi dan ketahanan

8
termal yang lebih baik (You, 2014). Karena karakteristik tersebut saat ini banyak

dikembangkan riset mengenai material mesopori SBA-15.

2.3 Mekanisme Pembentukan Silika Mesopori SBA-15

Ada tiga tahapan utama untuk menjelaskan pembentukan material mesopori.

Semua tahapan berdasarkan surfaktan atau template dalam larutan untuk

menetukan struktur yang akan dibuat. Surfaktan mengandung gugus hidropobik

dan hidrofilik di tiap ujungnya (ekor) sehingga dapat meminimalkan kontak

ujung yang tidak kompetibel.

Gambar 2.4 a. Struktur P123 sebagai surfaktan b. Struktur pori SBA-15


(Wilson, Lee and Wilson, 2016)

9
Pembentukan agrerat dari molekul-molekul surfaktan (misel) yang diawali

dengan gugus hidrofilik berinteraksi dengan media yang mengandung air pada

suatu konsentrasi tertentu akan membentuk misel.

Konsentrasi saat terbentuknya misel disebut juga sebagai critical micell

contrentration (CMC). Pada CMC jumlah agrerat menentukan sifat kelarutan

surfaktan karena CMC menyatukan konsentrasi terbentuknya misel. Misel adalah

partikel koloid berongga yang umumnya berupa material organik yang terbentuk

secara spontan (self assembly). Dengan cara sonikasi (getaran dengan gelombang

bunyi), kation dipaksa masuk ke dalam rongga misel dan anion akan berdifusi ke

dalam selaput misel yang jauh lebih permeable jika dibandingkan dengan kation.

Membran misel dapat digunakan sebagai pembatas pertumbuhan ukuran partikel

dan menjadi pelindung partikel dari aglomerasi.

Diantara pendekatan tersebut, pembentukan SBA-15 merupakan rute

perakitan diri. Dalam hal ini surfaktan dalam larutan akan menjadi panduan dalam

pembentukan material dari prekursor anorganik melalui kondensasi yang

berlangsung secara in-situ. Surfaktan dan spesies anorganik akan mengarahkan

pembentukan material mesostruktur. Padatan hybryd yang terbentuk sangat

tergantung pada interaksi antara surfaktan dan prekursor anorganik. Jika surfaktan

bersifat ionik, pembentukan material mesostruktur akan ditentukan oleh interaksi

elektrostatik.

Penghilangan surfaktan (EO20PO70EO20) dengan mencuci sebelum proses

kalsinasi akhir merupakan langkah penting dalam sintesis silika SBA-15. Proses

10
pencucian dengan air murni atau etanol, tergantung pada jumlah pelarut yang

digunakan, mengubah homogenitas dan urutan pori, tetapi juga menyebabkan

peningkatan luas permukaan SBA-15. Penurunan volume pelarut dan jenis

pencuci memungkinkan untuk mengendalikan luas permukaan SBA-15 yang

terlalu besar dan distribusi ukuran pori yang sempit. Untuk operasi batch yang

lebih besar ukuran pengaruh kuantitas pelarut pada kualitas SBA-15 akan

berkurang (Thielemann et al., 2011).

2.4 Material Penyusun SBA-15

Sintesis material mesopori silika SBA-15 melibatkan beberapa zat, yaitu

TEOS sebagai prekursor, Pluronik 123 sebgai surfaktan, HCl sebagai katalis dan

air sebagai pencuci.

1. TEOS (tetraethylorthosilicate) sebagai prekursor

Prekursor adalah bahan kimia yang menjadi bahan dasar atau sumber

pembentukan material yang lain. Ada beberapa kriteria material sebagai

prekursor yaitu mempunyai sifat reaktif, mudah berubah menjadi zat lain, dan

mudah menjadi radikal akibat perlakuan termal maupun akibat proses

kimiawi. TEOS digunakan sebagai prekursor atau sumber silika dalam

pembuatan material mesopori termasuk jenis senyawa silikon alkoksi yang

terdiri atas atom Si yang berikatan dengan gugus organik (OR) dengan rumus

kimia Si(OC2H5)4. Gambar 2.5 menunjukkan struktur kimia TEOS.

11
Gambar 2.5 Struktur kimia TEOS
(Sumber : Wikipedia, Tetraethyl orthosilicate)

TEOS memilki sifat tidak dapat larut dalam air, alkali, asam-asam mineral

dan agen pengoksidasi yang kuat, tidak terbentuk garam di dalam gel,

sehingga tidak memerlukan pekerjaan tambahan untuk menghilangkan garam

tersebut.

2. Pluronik 123 sebagai surfaktan

Pluronik 123 (P123) adalah salah satu triblok kopolimer yang banyak

digunakan sebagai surfaktan. Pluronik secara umum dinyatakan dengan

simbol Poli (EOnPOmEO) untuk EO adalah gugus Etilen Oksida dan PO

Propilen Oksida. Sifat fisik Pluronik 123 dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Sifat fisik Pluronik 123


Bentuk Pasta
Berat molekul rata-rata 5750
o o
Kerapatan 60 /25 C 1.01
Viskositas, cps, pada 60oC 350
Tegangan permukaan 34 dyne/cm
Kelarutan di dalam air pada 25oC >10%

12
Pada tahun 1998 Dongyuan Zhao telah berhasil membuat sejumlah

material silika mesopori dalam media asam dengan variasi kesimetrian dan

konektifitas pori yang terdefinisi dengan baik. Dengan menggunakan alkil

PEO surfaktan-oligomerik, akan diperoleh mesostruktur heksagonal, kubik

dan kesimetrian lamelar. SBA-11 kubik dengan grup ruang Pm3m yang

disintesis dari template C16EO, SBA-12 dan SBA-14 yang dipreparasi dengan

menggunakan C16EO10 dan C1210EO4 sebagai template (Cao, 2004).

Pluronik 123 berbentuk pasta dan memiliki jumlah gugus etilen oksida

sebanyak 20 dan gugus propilen oksida sebanyak 70. P123 dapat ditulis

(EO20PPO70PEO). Rumus kimia Pluronik 123 ditunjukkan pada Gambar 2.6.

Dapat dilihat bahwa blok polimer PEO, PPO dan PEO saling terikat

membentuk kopolimer blok. Gugus PEO adalah bagian kepala yang bersifat

hidrofilik, sedangkan gugus PPO disebut sebagai bagian ekor yang bersifat

hidrofobik.

Gambar 2.6 Struktur kimia Pluronik 123


(Sumber : Wikipedia, P123)

13
2.5 Karakterisasi SBA-15
1. BET (Brunauer, Emmet, Teller)

BET adalah teknik analisis untuk menentukan volume pori dalam skala

mikro atau meso. Teori ini di terbitkan pertama kali oleh Stephen Brunauer,

Paul Hugh Emmett dan Edward Teller pada tahun 1938 dan diberi nama BET

yang diambil dari inisial pertama dari nama keluarga mereka. Volume pori

tersebut dapat diukur dari hasil kurva isoterm dengan menggunakan

perhitungan BET yang berkaitan dengan adsorpsi dan desorpsi dari mesopori

yang terbuka. Berdasarkan pengujian adsorpsi-desorpsi N2 ada 4 jenis standar

kurva histerisisisoterm yaitu :

1. Tipe H1 menunjukkan pori yang berbentuk silindris.

2. Tipe H2 menunjukkan ukuran dan bentuk pori yang tidak teratur.

3. Tipe H3 menunjukan bentuk pori plate-like (celah lebar).

4. Tipe H4 dengan bentuk isoterm yang landai untuk bentuk pori juga

seperti celah (slit) (Ibadurrahman, 2008).

Tipe kurva adsopsi-desorpsi tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.7.

Gambar 2.7 Grafik BET


(Sumber: Wikipedia, BET)

14
2. XRD (X-Ray Difraction)

Sinar-X ditemukan pertama kali oleh Wilhelm Conrad Rontgen pada

tahun1895, di Universitas Wurtzburg, Jerman. Karena asalnya tidak diketahui

waktu itu maka disebut sinar-X. Untuk penemuan ini Rontgen mendapat

hadiah nobel pada tahun 1901, yang merupakan hadiah nobel pertama di

bidang fisika. Sejak ditemukannya, sinar-X telah umum digunakan untuk

tujuan pemeriksaan tidak merusak pada material maupun manusia. Disamping

itu, sinar-X dapat juga digunakan untuk menghasilkan pola difraksi tertentu

yang dapat digunakan dalam analisis kualitatif dan kuantitatif material.

Pengujian dengan menggunakan sinar-X disebut dengan pengujian XRD (X-

Ray Diffraction).

XRD digunakan untuk analisis komposisi fasa atau senyawa pada material

dan juga karakterisasi kristal. Prinsip dasar XRD adalah mendifraksi cahaya

yang melalui celah kristal. Difraksi cahaya oleh kisi-kisi atau kristal ini dapat

terjadi apabila difraksi tersebut berasal dari radius yang memiliki panjang

gelombang yang setara dengan jarak antar atom, yaitu sekitar 1 Angstrom.

Radiasi yang digunakan berupa radiasi sinar-X, elektron, dan neutron.

Sinar-X merupakan foton dengan energi tinggi yang memiliki panjang

gelombang berkisar antara 0,5 sampai 2,5 Angstrom. Ketika berkas sinar-X

berinteraksi dengan suatu material, maka sebagian berkas akan diabsorbsi,

ditransmisikan, dan sebagian lagi dihamburkan terdifraksi. Hamburan

terdifraksi inilah yang dideteksi oleh XRD.

15
Skema alat uji XRD dapat dilihat pada Gambar 2.8.

Gambar 2.8 Skema alat uji XRD

3. FTIR (Fourier Transform Infra Red)

Spektroskopi FTIR merupakan metode analisis material dengan

menggunakan spektroskopi sinar infra merah yang memiliki rentang

panjang gelombang dari 2,5 µm sampai 25 µm dan frekuensinya memiliki

rentang dari 400 cm-1 sampai 4000 cm-1. Dalam spektroskopi sinar infra

merah, radiasi sinar infra merah ditembakkan ke arah sebuah molekul

dimana sebagian radiasi sinar infra merah tersebut diserap (diadsorbsi) oleh

molekul dan sebagian lagi diteruskan (ditransmisikan) melalui molekul

tersebut yang menghasilkan sebuah spektrum. Hasil spektrum tersebut

mewakili nilai adsorbsi dan transmisi dari molekul. Seperti sidik jari

manusia, tidak ada molekul yang memiliki nilai spektrum atau vibrasi

16
yang sama. Hal itu menyebabkan spektroskopi infra merah sangat

bermanfaat untuk menganalisis dari molekul.

FTIR merupakan pengujian kuantitatif untuk sebuah sampel. Ukuran

puncak (peak) data FTIR menggambarkan jumlah atau intensitas senyawa

yang terdapat didalam sampel. FTIR menghasilkan data berupa grafik

intensitas dan frekuensi. Intensitas menunjukkan tingkatan jumlah senyawa

sedangkan frekuensi menunjukkan jenis senyawa yang terdapat dalam

sebuah sampel. FTIR memiliki 3 fungsi, yaitu:

1) Untuk mengidentifikasi material yang belum diketahui

2) Untuk menentukan kualitas atau konsistensi sampel

3) Untuk menentukan intensitas suatu komponen dalam sebuah

campuran

4. DSC (Differentian Scanning Calorimetry)

Differentian Scanning Calorimetry (DSC) dibangun dan diperkenalkan

pada tahun 1964 sebagai analisa termal. Pada dasarnya ada dua macam

metode DSC yaitu power compensation DSC dan Heat flux mode.

Menurut Mark (2005), konsep pengoperasian Power Compensation DSC

didasarkan dengan menjaga temperatur pada R dan S yang sama (R dan S

nama sampel pada Gambar 2.9). Skema dari Power Compensation DSC dapat

17
dilihat pada Gambar 2.9. Hal ini dicapai dengan menempatkan sensor

temperatur ke dalam penghubung rangkaian. Setiap perubahan temperatur

baik sampel atau referensi segera diimbangi dengan jumlah yang setara

dengan aliran yang diperlukan untuk mendorong pemanas untuk menjaga

pada temperatur yang sama. Dengan demikian, integral dari input daya selama

transisi atau perubahan kapasitas panas adalah sama dengan perbedaan energi

(∆H) yang dipasok ke sampel atau referensi selama waktu tertentu. Hal ini

akan menjadi endotermik atau eksotermik tergantung pada saat perjalanan ke

sampel atau panci referensi, masing-masing. Puncak yang menunjuk kebawah

dinamakan eksotermik dan puncak yang menunjuk ke atas dinamakan

endotermik.

Gambar 2.9 Skematik dari instrumen power compensation DSC.


(Mark, 2005)

Tipe yang kedua dari DSC yaitu metode Heat Flux, metode ini yaitu mirip

dengan DTA yang menghasilkan sinyal ∆T. Cara pengoprasiannya yaitu

menghubungkan perangkat keras ke perangkat lunak, dengan hati-hati

18
keduanya dihubungkan kedalam sistem, secara kualitatif mengkonversi dari

∆T ke ∆H dan mengkompensasi kekurangan lainnya yaitu berupa rugi-rugi

aliran termal dan sensitifitas dari sensor (Mark, 2005).

Prinsip dasar dari analisa DSC adalah ketika sampel mengalami

perubahan fisik seperti transisi fase, diperlukan perubahan panas yang

mengalir dari referensi dan sampel untuk mempertahankan temperatur

referensi dan sampel agar tetap sama. Proses eksotermik atau endotermik

yaitu tergantung pada lebih atau kurangnya panas yang harus mengalir ke

sampel. Misalnya, sampel padat yang bertransisi menuju fase cair, akan

memerlukan lebih banyak panas, karena panas yang mengalir ke sampel untuk

meningkatkan temperatur pada tingkat yang sama sebagai referensi diserap

oleh sampel, ini merupakan proses endotermik karena membutuhkan banyak

panas. Proses eksotermik yaitu proses pengeluaran energy panas dari sampel.

Efek termal berbentuk puncak, ditandai dengan perubahan entalpi dan kisaran

temperatur. Contoh efek termal adalah: meleleh, kristalilasi, transisi padat-

padat, reaksi kimia.

2.6 Aplikasi Material Mesopori SBA-15 sebagai Adsorben Logam


1. Pengertian Adsorpsi

Adsorpsi merupakan suatu proses penjerapan suatu zat pada permukaan

padatan atau cairan. Bahan yang akan diserap disebut adsorbat dan bahan

penyerap disebut adsorben (Sing, 1985). Proses adsorpsi dapat terjadi karena

19
adanya gaya tarik atom atau molekul pada permukaan padatan yang tidak

seimbang. Adanya gaya ini, padatan cenderung menarik molekul-molekul lain

yang bersentuhan dengan permukaan padatan, baik fasa gas atau fasa larutan

kedalam permukaannya. Akibatnya konsentrasi molekul pada permukaan

menjadi lebih besar dari pada dalam fasa gas zat terlarut dalam larutan. Pada

adsorpsi interaksi antara adsorben dengan adsorbat hanya terjadi pada

permukaan adsorben.

2. Adsorpsi Fisika

Adsorpsi Fisika terjadi karena adanya gaya Van der Waals. Pada adsorpsi

fisika, gaya tarik menarik antara molekul fluida dengan molekul pada

permukaan padatan (Intermolekuler) lebih kecil dari pada gaya tarik menarik

antar molekul fluida tersebut sehingga gaya tarik menarik antara adsorbat

dengan permukaan adsorben relatif lemah pada adsorpsi fisika, adsorbat tidak

terikat kuat dengan permukaan adsorben sehingga adsorbat dapat bergerak

dari suatu bagian permukaan ke permukaan lainnya dan pada permukaan yang

ditinggalkan oleh adsorbat tersebut dapat digantikan oleh adsorbat lainnya .

Keseimbangan antara permukaan padatan dengan molekul fluida biasanya

cepat tercapai dan bersifat reversibel. Adsorpsi fisika memiliki kegunaan

dalam hal penentuan luas permukaan dan ukuran pori.

20
3. Adsorpsi Kimia

Adsorpsi kimia terjadi karena adanya ikatan kimia yang terbentuk antara

molekul adsorbat dengan permukaan adsorben. Ikatan kimia dapat berupa

ikatan kovalen/ion. Ikatan yang terbentuk kuat sehingga spesi aslinya tidak

dapat ditentukan. Karena kuatnya ikatan kimia yang terbentuk maka adsorbat

tidak mudah terdesorpsi. Adsorpsi kimia diawali dengan adsorpsi fisik dimana

adsorbat mendekat kepermukaan adsorben melalui gaya Van der Waals /

Ikatan Hidrogen kemudian melekat pada permukaan dengan membentuk

ikatan kimia yang biasa merupakan ikatan kovalen.

4. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Daya Adsorpsi

a. Jenis Adsorbat

 Ukuran molekul adsorbat

Ukuran molekul adsorbat yang sesuai merupakan hal yang penting

agar proses adsorpsi dapat terjadi, karena molekul-molekul yang dapat

diadsorpsi adalah molekul-molekul yang diameternya lebih kecil atau

sama dengan diameter pori adsorben.

 Kepolaran zat

Adsorpsi lebih kuat terjadi pada molekul yang lebih polar

dibandingkan dengan molekul yang kurang polar pada kondisi diameter

21
yang sama. Molekul-molekul yang lebih polar dapat menggantikan

molekul-molekul yang kurang polar yang telah lebih dahulu teradsorpsi .

Pada kondisi dengan diameter yang sama, maka molekul polar lebih

dahulu diadsorpsi.

b. Temperatur

Pada saat molekul-molekul adsorbat menempel pada permukaan

adsorben terjadi pembebasan sejumlah energi sehingga adsorpsi

digolongkan bersifat eksoterm. Bila temperatur rendah maka kemampuan

adsorpsi meningkat sehingga adsorbat bertambah.

c. Tekanan Adsorbat

Pada adsorpsi fisika bila tekanan adsorbat meningkat jumlah molekul

adsorbat akan bertambah namun, pada adsorpsi kimia jumlah molekul

adsorbat akan berkurang bila tekanan adsorbat meningkat.

5. Isoterm Adsorpsi

Isoterm adsorpsi adalah hubungan kesetimbangan antara konsentrasi

dalam fase fluida dan konsentrasi di dalam partikel adsorben pada temperatur

tertentu. Ada beberapa isoterm adsorpsi yang diketahui seperti model isoterm

Langmuir, Freundlich dan juga model isoterm Brunauer, Emmet, dan Teller

(BET).

22
a. Isoterm Langmuir

Pada isoterm ini secara teoritis menganggap bahwa hanya sebuah

monolayer gas yang teradsorbsi, selain itu adsorpsi molekul zat terlarut

terlokalisasi, yaitu sekali adsorpsi, molekul-molekul ini tidak dapat

bergerak disekeliling permukaaan padatan. Selain pernyataan di atas

isoterm ini juga mengasumsikan bahwa panas adsorbsi, ∆𝐻 adsorpsi, tidak

bergantung pada luas permukaan yang ditutupi gas. Persamaan Isoterm

Adsorpsi Langmuir :

Keterangan : C = konsentrasi zat terlarut pada saat kesetimbangan

q = masa zat terlarut diadsorpsi per masa adsorben

K = Konstanta adsorpsi (intersept)

qo = daya adsorpsi maksimum

23
b. Isoterm Freundlich

Pada Isoterm ini persamaan diturunkan secara empirik, dengan asumsi

bahwa penyerapan terjadi multicomponent. Persamaan dapat diturunkan

dari adsorpsi zat padat dalam air atau solid-aquos system. (Sheindorf.M.,

1980).

Bentuk persamaannya yaitu :

x
kC n
1

m
Keterangan:

X = Jumlah zat yang diserap

m = Berat adsorben

C = Konsentrasi zat setelah adsorpsi

n dan k = Konstanta yang diperoleh dari percobaan

Jika persamaan diatas dilogaritmakan maka :

x 1
Log  log C  log k
m n

24
6. Kriteria Adsorben

Beberapa kriteria yang harus dipenuhi suatu adsorben yaitu :

 Memiliki permukaan yang besar/unit massanya sehingga kapasitas

adsorpsinya akan semakin besar pula.

 Secara alamiah dapat berinteraksi dengan adsorbat pasangan.

 Ketahanan struktur fisik yang tinggi.

 Tidak korosif dan tidak beracun.

 Tidak ada perubahan volume yang berarti selama proses adsorpsi.

7. Spektrofotometer Serapan Atom (AAS)

Spektrofotometer serapan atom (AAS) merupakan teknik analisis

kuantitafif dari unsur-unsur yang pemakainnya sangat luas di berbagai bidang

karena prosedurnya selektif, spesifik, biaya analisisnya relatif murah,

sensitivitasnya tinggi (ppm-ppb), dapat dengan mudah membuat matriks yang

sesuai dengan standar, waktu analisis sangat cepat dan mudah dilakukan. AAS

pada umumnya digunakan untuk analisa unsur, spektrofotometer absorpsi

atom juga dikenal sistem single beam dan double beam layaknya

Spektrofotometer UV-VIS. Sebelumnya dikenal fotometer nyala yang hanya

dapat menganalisis unsur yang dapat memancarkan sinar terutama unsur

golongan IA dan IIA. Umumnya lampu yang digunakan adalah lampu katoda

25
cekung yang mana penggunaannya hanya untuk analisis satu unsur saja.

Metode AAS berprinsip pada absorbsi cahaya oleh atom. Atom-atom

menyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada

sifat unsurnya. Metode serapan atom hanya tergantung pada perbandingan dan

tidak bergantung pada temperatur. Setiap alat AAS terdiri atas tiga komponen

yaitu unit teratomisasi, sumber radiasi, sistem pengukur fotometerik. Teknik

AAS menjadi alat yang canggih dalam analisis. Ini disebabkan karena

sebelum pengukuran tidak selalu memerlukan pemisahan unsur yang

ditentukan karena kemungkinan penentuan satu unsur dengan kehadiran unsur

lain dapat dilakukan, asalkan katoda berongga yang diperlukan tersedia. AAS

dapat digunakan untuk mengukur logam sebanyak 61 logam. Sumber cahaya

pada AAS adalah sumber cahaya dari lampu katoda yang berasal dari elemen

yang sedang diukur kemudian dilewatkan ke dalam nyala api yang berisi

sampel yang telah teratomisasi, kemudian radiasi tersebut diteruskan ke

detektor melalui monokromator. Chopper digunakan untuk membedakan

radiasi yang berasal dari sumber radiasi, dan radiasi yang berasal dari nyala

api. Detektor akan menolak arah searah arus (DC) dari emisi nyala dan hanya

mengukur arus bolak-balik dari sumber radiasi atau sampel. Atom dari suatu

unsur pada keadaan dasarakan dikenai radiasi maka atom tersebut akan

menyerap energi dan mengakibatkan elektron pada kulit terluar naik ke

tingkat energi yang lebih tinggi atau tereksitasi. Jika suatu atom diberi energi,

maka energi tersebut akan mempercepat gerakan elektron sehingga elektron

26
tersebut akan tereksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi dan dapat kembali

ke keadaan semula. Atom-atom dari sampel akan menyerap sebagian sinar

yang dipancarkan oleh sumber cahaya. Penyerapan energi oleh atom terjadi

pada panjang gelombang tertentu sesuai dengan energi yang dibutuhkan oleh

atom tersebut. Sampel analisis berupa liquid dihembuskan ke dalam nyala api

burner dengan bantuan gas bakar yang digabungkan bersama oksidan

(bertujuan untuk menaikkan temperatur) sehingga dihasilkan kabut halus.

Atom-atom keadaan dasar yang berbentuk dalam kabut dilewatkan pada sinar

dan panjang gelombang yang khas. Sinar sebagian diserap yang disebut

absorbansi dan sinar yang diteruskan emisi. Penyerapan yang terjadi

berbanding lurus dengan banyaknya atom keadaan dasar yang berada dalam

nyala. Pada kurva absorpsi, terukur besarnya sinar yang diserap, sdangkan

kurva emisi, terukur intensitas sinar yang dipancarkan.

27
BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Februari 2018 sampai bulan Mei

2018 di Laboratorium Bioproses, Laboratorium Kimia Analitik, dan Laboratorium

Maritim. Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Ujung Pandang, Makassar.

3.2 Alat dan Bahan


1. Alat yang digunakan

- Teflon - Sentrifuge

- Gelas Kimia - Kertas pH

- Gelas Ukur - Alat analisa AAS

- Pipet Ukur - Alat analisa BET

- Oven - Alat analisa DSC

- Spatula - Alat analisa FTIR

- Cawan Porselin - Alat analisa XRD

- Tabung Sentrifuge

- Magnetic Stirer

- Neraca Analitik

- Hot Plate

28
2. Bahan yang digunakan

- Pluronik (P123)

- Amonium Florida (NH4F)

- Asam Clorida (HCl) 1,3 M

- Tetraethyl orthosilicate (TEOS)

- N-Heptane

- Aquades

- Aquabides

- CuSO4

- FeCl3

3.3 Variabel Penelitian

Preparasi silika mesopori SBA-15 menggunakan metode hidrotermal dengan

variabel perbedaan temperatur pemanasan : 100ºC dan 120ºC, variabel waktu

pemanasan selama : 48 jam dan 96 jam dan variabel temperatur waterbath : 15ºC

dan 10ºC.

29
3.4 Prosedur kerja
1. Preparasi silika mesopori SBA-15 (Metode Hidrotermal)

Bahan mesopori SBA-15 dibuat berdasarkan modifikasi yang telah

dilakukan oleh (Cao and Kruk, 2010) untuk menghasilkan SBA-15 yang

memiliki dinding pori yang tebal dan stabilitas hidrotermal yang tinggi.

Sampel mesopori SBA-15 dibuat dengan menggunakan 2,4 gram Pluronik

123, 0,027 gram NH4F, 84 ml larutan HCl 1,3 M selanjutnya diaduk pada

temperatur ruang hingga Pluronik 123 larut. Campuran dimasukkan dalam

waterbath pada temperatur (15oC dan 100C) selama 1 jam, kemudian

ditambahkan 3,7 ml TEOS dan 1,2 ml n-Heptane dan campuran diaduk

dengan magnetic stirer selama 24 jam. Campuran dimasukkan kedalam

tevlon untuk dipanaskan dalam oven pada temperatur (100oC dan 120oC) dan

waktu pemanasan (48 dan 96 jam). Kemudian dilakukan pencucian dan

pemisahan surfaktan menggunakan air deionisasi (aquabides) dan mesin

setrifuge lalu dikeringkan pada temperatur 60 oC selama 24 jam. Produk

SBA-15 kemudian dikalsinasi pada temperatur 550 oC selama 5 jam. SBA-15

yang telah dikalsinasi kemudian dikarakterisasi dengan menggunakan XRD

untuk mengetahui ukuran kristalnya, pengujian BET untuk mengetahui luas

pori, pengujian DSC untuk analisa termalnya dan pengujian FTIR untuk

mengetahui intensitas Si-OH dan Si-O-Si yang terjadi.

30
SBA-15 dibuat dengan:

Temperatur Temperatur Waktu


No. Waterbath Pemanasan Oven pemanasan
(oC) (oC) Oven (Jam)
1 15 100 48
2 15 100 96
3 10 120 48
4 10 120 96
5 15 120 48
6 10 100 96

2. Adsorpsi dengan Logam Cu dan Fe

Metode adsorpsi berdasarkan Purwaningsih (2009), dengan membuat

larutan CuSO4 dan FeCl3 pada konsentrasi (20, 60, 100, 140, 180, 220, 260

dan 300 mg/l), kemudian masing-masing konsentrasi diukur menggunakan

AAS.

SBA-15 sebanyak 50 mg dimasukkan kedalan 50 ml larutan CuSO4 dan

FeCl3. Larutan kemudian diaduk dengan magnetic stirer selama 1 jam lalu

di-centrifuge dengan kecepatan 2000 rpm untuk memisahkan supernatan

dan endapan. Supernatan yang diperoleh dianalisa dengan Spektrometer

Serapan Atom (AAS) untuk diperiksa kadar logamnya.

31
3. Kondisi Operasi

a. Pengadukan pada temperatur ruang.

b. Kondisi waterbath pada temperatur 15 oC dan 10 oC.

c. Pemanasan dengan oven menggunakan teflon pada temperatur 100 oC

dan 12 oC dan waktu pemanasan 48 jam dan 96 jam.

32
DAFTAR PUSTAKA

Cao, G., 2004. Nanostructures & Nanomaterial Synthesis, Properties & Application.
Imperial College Press.
Cao, L., Kruk, M., 2010. Colloids and Surfaces A : Physicochemical and Engineering
Aspects Synthesis of large-pore SBA-15 silica from tetramethyl orthosilicate
using triisopropylbenzene as micelle expander. Colloids Surf. Physicochem.
Eng. Asp. 357, 91–96. https://doi.org/10.1016/j.colsurfa.2009.09.019
Inagaki, S., 1993. Synthesis of Highly Ordered Mesoporous Materials from a Layered
Polysilicate 680–682.
Johansson, E.M., 2010. Controlling the Pore Size and Morphology of Mesoporous
Silica.
K Ishizaki, S. Komarneni, M.N., 1998. Porous Materials. https://doi.org/DOI
10.1007/978-1-4615-5811-8
Kresge, C.., 1992. Book of Nature1992. Mobil Res. Dev. Corp. 359, 710–712.
Lei, B., Wang, L., Zhang, H., Liu, Y., Dong, H., Zheng, M., Zhou, X., 2016.
Luminescent carbon dots assembled SBA-15 and its oxygen sensing
properties. Sens. Actuators B Chem. 0–29.
https://doi.org/10.1016/j.snb.2016.01.037
Purwaningsih, D., 2009. DAN Ni ( II ) PADA HIBRIDA ETILENDIAMINO-
SILIKA Oleh : Dyah Purwaningsih PENDAHULUAN Pencemaran
lingkungan oleh logam berat menjadi masalah yang cukup serius seiring
dengan penggunaan logam berat dalam bidang industri yang semakin
meningkat . Logam berat. Penelit. Saintek 14, 59–76.
Sing, K.S.W., 1985. INTERNATIONAL UNION OF PURE COMMISSION ON
COLLOID AND SURFACE CHEMISTRY INCLUDING CATALYSIS *
REPORTING PHYSISORPTION DATA FOR GAS / SOLID SYSTEMS

33
with Special Reference to the Determination of Surface Area and Porosity 57,
603–619.
Stafford, K., Sing, W., 2015. Reporting Physisorption Data for Gas / Solid Systems
with Special Reference to the Determination of Surface Area and Porosity
SUBCOMMITTEE ON REPORTING GAS ADSORPTION DATA *
REPORTING PHYSISORPTION DATA FOR GAS / SOLID SYSTEMS
with Special Reference to the Determination of.
https://doi.org/10.1351/pac198254112201
Thielemann, J.P., Girgsdies, F., Schlögl, R., Hess, C., 2011. Pore structure and
surface area of silica SBA-15 : influence of washing and scale-up 123, 110–
118. https://doi.org/10.3762/bjnano.2.13
Wilson, K., Lee, A.F., Wilson, K., 2016. Catalyst design for biorefining Author for
correspondence : Philos. Trans. A.
You, E., 2014. Synthesis and Adsorption Studies of the MIcro- Mesoporous Material
SBA-15 1–159.
Zhao, D., Feng, J., Huo, Q., Melosh, N., Fredrickson, G.H., Chmelka, B.F., Stucky,
G.D., 1998. Triblock Copolymer Syntheses of Mesoporous Silica with
Periodic 50 to 300 Angstrom Pores 279.

34