Anda di halaman 1dari 72

Modul 5

Laporan Auditor Independen


Sumiyana

P E ND A HU L UA N

A uditor mempunyai tujuan dalam melaksanakan audit secara keseluruhan


yaitu untuk dapat memberikan pendapat atas laporan keuangan sesuai
dengan prinsip-prinsip yang berlaku umum di Indonesia. Pendapat atas
laporan keuangan dikomunikasikan secara tertulis dalam suatu laporan
auditor independen. Dalam berbagai situasi, pendapat yang diberikan auditor
dapat saja berbeda sesuai kondisi entitas yang diaudit serta didasarkan pada
pertimbangan profesional seorang auditor. Oleh karena itu, dalam
pembahasan modul kali ini dibahas tentang elemen-elemen laporan auditor
dengan berbagai pendapat beserta contoh laporan auditor independen. Selain
itu juga dibahas berbagai kondisi yang dapat mengarahkan auditor dalam
memberikan pendapatnya.
Setelah mempelajari bab ini, siswa mampu untuk:
1. menguraikan apa yang dimaksud laporan auditor independen;
2. menjelaskan pendapat atau opini yang dapat diberikan auditor
independen;
3. menentukan kondisi-kondisi yang diperlukan dalam memberikan
pendapat atas laporan keuangan;
4. mengidentifikasi berbagai elemen laporan auditor independen dan makna
yang terkandung di dalamnya;
5. menyusun laporan auditor yang tepat untuk situasi tertentu.
5.2 Auditing I 

Kegiatan Belajar 1

Jenis Opini

A. LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

Standar Profesional Akuntan Publik (PSA No. 02 SA Seksi 110)


menyuratkan bahwa laporan auditor merupakan sarana bagi auditor untuk
menyatakan pendapatnya, atau apabila keadaan mengharuskan, untuk
menyatakan tidak memberikan pendapat. Dalam Boynton et al. (2001),
laporan audit merupakan media formal yang digunakan oleh auditor dalam
mengomunikasikan kepada pihak yang berkepentingan tentang kesimpulan
atas laporan keuangan yang diaudit. Lalu, menurut Arens et al. (2008),
laporan audit merupakan tahap akhir dari keseluruhan proses audit. Sehingga
dapat ditarik simpulan bahwa laporan auditor merupakan suatu media yang
sangat penting dalam akhir pelaksanaan audit karena mencakup pernyataan
pendapat auditor serta berbagai temuan yang mendukung pernyataan
pendapat tersebut untuk ditujukan pada pihak-pihak yang berkepentingan
dengan simpulan laporan keuangan auditan.
Dalam Agoes (2004), KAP memberikan suatu laporan akuntan yang
terdiri dari lembaran opini dan laporan keuangan. Lembaran opini,
merupakan tanggung jawab akuntan publik, di mana akuntan publik
memberikan pendapatnya terhadap kewajaran laporan keuangan yang
disusun oleh manajemen dan merupakan tanggung jawab manajemen.
Laporan keuangan, yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan
perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan, yang
antara lain berisi: bagian umum (menjelaskan latar belakang perusahaan),
kebijakan akuntansi dan penjelasan atas pos-pos neraca dan laba rugi,
informasi tambahan berupa lampiran tentang perincian pos-pos penting
seperti perincian piutang, aktiva tetap, hutang, beban umum dan administrasi
serta beban penjualan. Dalam PSAK No. 1 revisi 2009 tentang Penyajian
Laporan Keuangan, komponen laporan keuangan berisi laporan posisi
keuangan, laporan laba rugi komprehensif, laporan perubahan ekuitas,
laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan. Dalam situasi khusus
dapat disajikan laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif. PSAK
No. 1 revisi 2009 berlaku efektif 2011, adanya informasi bahwa Indonesia
 EKSI4308/MODUL 5 5.3

melakukan konvergensi standar internasional (IFRS) Tahun 2012 membuat


auditor harus memperbarui pengetahuannya tentang standar yang sangat
berkaitan dengan kebijakan akuntansi dan laporan keuangan kliennya.
Perbedaan tanggung jawab auditor independen dengan tanggung jawab
manajemen dijelaskan dalam PSA No. 02 SA Seksi 110 paragraf 02 bahwa
auditor bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit
untuk memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan
bebas dari salah saji material, baik yang disebabkan oleh kekeliruan atau
kecurangan. Auditor tidak bertanggung jawab untuk merencanakan dan
melaksanakan audit guna memperoleh keyakinan bahwa salah saji terdeteksi,
baik yang disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan, yang tidak material
terhadap laporan keuangan.
Auditor melaksanakan audit agar dapat memperoleh bukti yang cukup
agar dapat menyatakan pendapatnya atas laporan keuangan. Sebagai
pelaksana jasa audit umum, auditor tidak bertanggung jawab atas laporan
keuangan, tetapi hanya bertanggung jawab atas opini atau pendapat atas
laporan keuangan. Dalam kaitannya dengan kemampuan entitas dalam
mempertahankan kelangsungan hidupnya, auditor memiliki tanggung jawab
yang lain, yaitu seperti pada PSA No. 30 SA Seksi 341 paragraf 02 bahwa
auditor bertanggung jawab untuk mengevaluasi apakah terdapat kesangsian
besar terhadap kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan
hidupnya dalam periode waktu pantas, tidak lebih dari satu tahun sejak
tanggal laporan keuangan yang sedang. Evaluasi auditor berdasarkan atas
pengetahuan tentang kondisi dan peristiwa yang ada pada atau yang telah
terjadi sebelum pekerjaan lapangan selesai. Informasi tentang kondisi dan
peristiwa diperoleh auditor dari penerapan prosedur audit yang direncanakan
dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan audit yang bersangkutan dengan
asersi manajemen yang terkandung dalam laporan keuangan yang sedang
diaudit.
Manajemen bertanggung jawab untuk menerapkan kebijakan akuntansi
yang sehat dan untuk membangun dan memelihara pengendalian internal, di
antaranya, mencatat, mengolah, meringkas, dan melaporkan transaksi
(termasuk peristiwa dan kondisi), yang konsisten dengan asersi manajemen
yang tercantum dalam laporan keuangan (PSA No. 02 SA Seksi 110 paragraf
03). Asersi manajemen yang dimaksud merupakan bentuk komunikasi atau
pernyataan pada laporan keuangan yang dibuat manajemen sesuai prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
5.4 Auditing I 

Laporan keuangan tidak hanya menyajikan posisi keuangan dan hasil


usaha tahun berjalan, namun juga mencerminkan dampak transaksi saldo
yang dibawa ke tahun berikutnya dari tahun sebelumnya serta kebijakan
akuntansi dari tahun-tahun sebelumnya (PSA No. 56 SA Seksi 323 paragraf
02). Laporan auditor umumnya diterbitkan dalam hubungannya dengan
laporan keuangan suatu entitas yang harus secara khusus disebutkan dalam
paragraf pengantar dalam laporan auditor. Agoes (2004) juga menyebutkan
bahwa tanggal laporan akuntan harus sama dengan tanggal selesainya
pekerjaan lapangan dan tanggal surat pernyataan langganan karena
menunjukkan sampai tanggal berapa akuntan bertanggung jawab untuk
menjelaskan hal-hal penting yang terjadi.
Terkadang ada peristiwa atau transaksi dengan jumlah material yang
terjadi sesudah tanggal diterbitkannya laporan audit dan berpengaruh
terhadap laporan keuangan yang diperiksa. Jika terjadi peristiwa atau
transaksi seperti ini setelah tanggal selesainya pekerjaan lapangan dan saat itu
laporan audit belum dikeluarkan, auditor harus menjelaskan peristiwa atau
transaksi ini dalam catatan atas laporan keuangan dan lembaran opini.
Kejadian semacam ini dalam PSA No. 46 SA Seksi 560 paragraf 01 disebut
peristiwa kemudian (subsequent events) dan atas akibat material dan
pengaruhnya pada laporan keuangan, maka diperlukan penyesuaian atau
pengungkapan dalam laporan-laporan tersebut. Pada laporan auditor dapat
mempunyai dua tanggal atau biasa disebut dual dating, yang pertama
merupakan tanggal selesainya pemeriksaan lapangan, dan yang kedua tanggal
terjadinya peristiwa penting tersebut (Agoes, 2004).
Laporan auditor sangat berkaitan dengan standar pelaporan yang
termasuk dalam sepuluh standar auditing PSA No. 01 SA Seksi 150 paragraf
02, yaitu bahwa:
1. laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah
disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di
Indonesia;
2. laporan auditor harus menunjukkan atau menyatakan, jika ada,
ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan
laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan
prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya;
3. pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang
memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor;
 EKSI4308/MODUL 5 5.5

4. laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat atas laporan


keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan
demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak
dapat diberikan, maka alasannya harus dinyatakan. Dalam hal nama
auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, maka laporan auditor harus
memuat petunjuk yang jelas tentang sifat pekerjaan audit yang
dilaksanakan, jika ada, dan tingkat tanggung jawab yang dipikul oleh
auditor.

Ketentuan dalam standar pelaporan ini memberikan kontribusi pada


susunan dan pertimbangan auditor dalam penyusunan laporan baku oleh
auditor.

B. PENDAPAT ATAU OPINI AUDITOR INDEPENDEN

Menurut PSA No. 29 SA Seksi 508 paragraf 03 menjelaskan Laporan


Auditor Atas Laporan Keuangan Auditan bahwa pernyataan pendapat auditor
harus didasarkan atas audit yang dilaksanakan berdasarkan standar auditing
dan atas temuan-temuannya. Standar pelaporan keempat mencantumkan
laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat atas laporan
keuangan secara keseluruhan atau memuat suatu asersi, bahwa pernyataan
demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat
diberikan, maka alasannya harus dikemukakan.
Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan maka
laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas tentang sifat pekerjaan
audit yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkat tanggung jawab yang dipikul
oleh auditor. Tujuan standar ini adalah untuk mencegah penafsiran yang
keliru terhadap tanggung jawab auditor, apabila namanya dikaitkan dengan
laporan keuangan. Keterangan pada standar pelaporan keempat tentang
laporan keuangan secara keseluruhan berlaku sama, baik untuk laporan
keuangan lengkap maupun hanya untuk salah satu unsur laporan keuangan
saja untuk laporan keuangan komparatif. Disebutkan juga pada PSA No. 29
SA Seksi 508, auditor dapat menyatakan pendapat wajar tanpa pengecualian
atas salah satu unsur laporan keuangan dan menyatakan pendapat wajar
dengan pengecualian atau menyatakan tidak memberikan pendapat, atau
menyatakan pendapat tidak wajar atas unsur laporan keuangan lainnya,
apabila keadaan mengharuskan perlakuan demikian.
5.6 Auditing I 

Berbagai jenis pendapat auditor (PSA No. 29 SA Seksi 508), yaitu


sebagai berikut.
1. Pendapat wajar tanpa pengecualian atau Unqualified Opinion
Pendapat wajar tanpa pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan
menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi
keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
2. Bahasa penjelasan ditambahkan dalam laporan auditor bentuk baku atau
secara lengkap umumnya disebut “Pendapat wajar tanpa pengecualian
dengan bahasa penjelasan ditambahkan dalam laporan auditor bentuk
baku” atau Unqualified Opinion with Explanatory Paragraph/
Language)
Keadaan tertentu mungkin mengharuskan auditor menambahkan suatu
paragraf penjelasan (atau bahasa penjelasan yang lain) dalam laporan
auditnya.
3. Pendapat wajar dengan pengecualian atau Qualified Opinion
Pendapat wajar dengan pengecualian, menyatakan bahwa laporan
keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material,
posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, kecuali untuk
dampak hal-hal yang berhubungan dengan yang dikecualikan.
4. Pendapat tidak wajar atau Adverse Opinion
Pendapat tidak wajar menyatakan bahwa laporan keuangan tidak
menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas
entitas tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di
Indonesia.
5. Pernyataan tidak memberikan pendapat atau Disclaimer Opinion
Pernyataan tidak memberikan pendapat menyatakan bahwa auditor tidak
menyatakan pendapat atas laporan keuangan.

1. Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian


Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian atau Unqualified Opinion diberikan
oleh auditor independen apabila auditor telah melaksanakan audit sesuai
standar auditing yang berlaku di Indonesia seperti yang ditentukan dalam
Standar Profesional Akuntan Publik. Auditor telah mengumpulkan bukti-
bukti yang cukup dan memadai dalam mendukung opininya, serta tidak
menemukan kesalahan material atas suatu penyimpangan dari prinsip
 EKSI4308/MODUL 5 5.7

akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Dalam opini ini, auditor


menyatakan bahwa laporan keuangan telah menyajikan secara wajar, dalam
semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas,
dan arus kas suatu entitas sesuai dengan prinsip akuntan yang berlaku umum
di Indonesia (PSA No. 29 SA Seksi 508).
Kondisi-kondisi serupa juga dipertimbangkan ketika memberikan
pendapat wajar tanpa pengecualian di negara lain (Amerika Serikat) seperti
dijelaskan dalam Arens et al. (2008) bahwa laporan audit standar tanpa
pengecualian diterbitkan bila kondisi-kondisi berikut terpenuhi.
a. Semua laporan-neraca, laporan laba rugi, laporan laba ditahan, dan
laporan arus kas- sudah termasuk dalam laboran keuangan.
b. Ketiga standar umum telah dipenuhi dalam semua hal yang berkaitan
dengan penugasan.
c. Bukti audit yang cukup memadai telah terkumpul, dan auditor telah
melaksanakan penugasan audit dengan cara yang memungkinkannya
untuk menyimpulkan bahwa ketiga standar pekerjaan lapangan telah
dipenuhi.
d. Laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan prinsip-prinsip
akuntansi yang berlaku umum. Hal itu juga berarti bahwa pengungkapan
yang memadai telah tercantum dalam catatan kaki dan bagian-bagian
lain dari laporan keuangan.
e. Tidak terdapat situasi yang membuat auditor merasa perlu untuk
menambahkan sebuah paragraf penjelasan atau modifikasi kata-kata
dalam laporan audit.

2. Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian dengan bahasa Penjelasan


Ditambahkan dalam Laporan Auditor Bentuk Baku
Pendapat ini diberikan jika ada keadaan tertentu yang mengharuskan
auditor menambahkan paragraf penjelasan (atau bahasa penjelasan lain)
dalam laporan auditor bentuk baku. Keadaan tersebut meliputi:
a. pendapat auditor sebagian didasarkan atas laporan auditor independen
lain;
b. untuk mencegah agar laporan keuangan tidak menyesatkan karena
keadaan-keadaan yang luar biasa, laporan keuangan disajikan
menyimpang dari suatu prinsip akuntansi yang dikeluarkan oleh Ikatan
Akuntan Indonesia;
5.8 Auditing I 

c. jika terdapat kondisi dan peristiwa yang semula menyebabkan auditor


yakin tentang adanya kesangsian terhadap kelangsungan hidup entitas,
namun setelah mempertimbangkan rencana manajemen, auditor
berkesimpulan bahwa rencana manajemen tersebut dapat secara efektif
dilaksanakan dan pengungkapan atas hal itu telah memadai;
d. di antara periode akuntansi terdapat suatu perubahan material dalam
penggunaan prinsip akuntansi atau dalam metode penerapannya;
e. keadaan tertentu yang berhubungan dengan laporan auditor atas laporan
keuangan komparatif;
f. data keuangan kuartalan tertentu yang diharuskan oleh Badan Pengawas
Pasar Modal (Bapepam) namun tidak disajikan atau tidak di-review;
g. informasi tambahan yang diharuskan oleh Ikatan Akuntan Indonesia-
Dewan Standar Akuntansi Keuangan telah dihilangkan, yang
penyajiannya menyimpang jauh dari panduan yang dikeluarkan oleh
Dewan tersebut, dan auditor tidak dapat melengkapi prosedur audit yang
berkaitan dengan informasi tersebut, atau auditor tidak dapat
menghilangkan keraguan-keraguan yang besar apakah informasi
tambahan tersebut sesuai dengan panduan yang dikeluarkan oleh Dewan
tersebut;
h. informasi lain dalam suatu dokumen yang berisi laporan keuangan
auditan secara material tidak konsisten dengan informasi yang disajikan
dalam laporan keuangan (PSA No. 29 SA Seksi 508).

Dalam Arens et al. (2008), laporan audit dengan pendapat wajar tanpa
pengecualian dengan paragraf penjelasan merupakan laporan audit yang
disimpulkan melalui suatu audit yang lengkap telah dilaksanakan dengan
hasil yang memuaskan dan laporan keuangan telah disajikan dengan wajar
tetapi auditor yakin bahwa penting atau wajib untuk memberi informasi
tambahan.

3. Pendapat Wajar dengan Pengecualian


Seperti dikutip dalam Arens et al. (2008), kategori pendapat wajar
dengan pengecualian diberikan auditor jika auditor menyimpulkan bahwa
keseluruhan laporan keuangan telah disajikan dengan wajar, tetapi lingkup
audit telah dibatasi secara material atau prinsip akuntansi yang berlaku umum
tidak diikuti pada saat menyiapkan laporan keuangan. Demikian juga dengan
PSA No. 29 SA Seksi 508 bahwa terdapat kondisi tertentu mungkin
 EKSI4308/MODUL 5 5.9

memerlukan pendapat wajar dengan pengecualian. Pendapat wajar dengan


pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar,
dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, kecuali
untuk dampak hal yang berkaitan dengan yang dikecualikan. Pendapat ini
dinyatakan bilamana:
a. ketiadaan bukti kompeten yang cukup atau adanya pembatasan terhadap
lingkup audit yang mengakibatkan auditor berkesimpulan bahwa ia tidak
dapat menyatakan pendapat wajar tanpa pengecualian dan ia
berkesimpulan tidak menyatakan tidak memberikan pendapat;
b. auditor yakin, atas dasar auditnya, bahwa laporan keuangan berisi
penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia,
yang berdampak material, dan ia berkesimpulan untuk tidak menyatakan
pendapat tidak wajar;
c. jika auditor menyatakan pendapat wajar dengan pengecualian, ia harus
menjelaskan semua alasan yang menguatkan dalam satu atau lebih
paragraf terpisah yang dicantumkan sebelum paragraf pendapat. Ia harus
juga mencantumkan bahasa pengecualian yang sesuai dan menunjuk ke
paragraf penjelasan di dalam paragraf pendapat; pendapat wajar dengan
pengecualian harus berisi kata kecuali atau pengecualian dalam suatu
frasa seperti kecuali untuk atau dengan pengecualian untuk; frasa seperti
tergantung atas atau dengan penjelasan berikut ini memiliki makna yang
tidak jelas atau tidak cukup kuat dan oleh karena itu pemakaiannya harus
dihindari.

4. Pendapat Tidak Wajar


Suatu pendapat tidak wajar menyatakan bahwa laporan keuangan tidak
menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Pendapat ini
dinyatakan bila, menurut pertimbangan auditor, laporan keuangan secara
keseluruhan tidak disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi
yang berlaku umum di Indonesia.
Bila auditor menyatakan pendapat tidak wajar, ia harus menjelaskan
dalam paragraf terpisah sebelum paragraf pendapat dalam laporannya (a)
semua alasan yang mendukung pendapat tidak wajar, dan (b) dampak utama
hal yang menyebabkan pemberian pendapat tidak wajar terhadap posisi
keuangan, hasil usaha, dan arus kas, jika secara praktis untuk dilaksanakan.
5.10 Auditing I 

Jika dampak tersebut tidak dapat ditentukan secara beralasan, laporan auditor
harus menyatakan hal itu (PSA No. 29 SA Seksi 508).

5. Pernyataan Tidak Memberikan Pendapat


Suatu pernyataan tidak memberikan pendapat menyatakan bahwa auditor
tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan. Auditor dapat tidak
menyatakan suatu pendapat bilamana ia tidak dapat merumuskan atau tidak
merumuskan suatu pendapat tentang kewajaran laporan keuangan sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Jika auditor menyatakan tidak
memberikan pendapat, laporan auditor harus memberikan semua alasan
substantif yang mendukung pernyataannya tersebut.
Pernyataan tidak memberikan pendapat adalah cocok jika auditor tidak
melaksanakan audit yang lingkupnya memadai untuk memungkinkannya
memberikan pendapat atas laporan keuangan. Pernyataan tidak memberikan
pendapat harus tidak diberikan karena auditor yakin, atas dasar auditnya,
bahwa terdapat penyimpangan material dari prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia. Jika pernyataan tidak memberikan pendapat disebabkan
pembatasan lingkup audit, auditor harus menunjukkan dalam paragraf
terpisah semua alasan substantif yang mendukung pernyataannya tersebut. Ia
harus menyatakan bahwa lingkup auditnya tidak memadai untuk menyatakan
pendapat atas laporan keuangan. Auditor tidak harus menujukan prosedur
yang dilaksanakan dan tidak harus menjelaskan karakteristik auditnya dalam
satu paragraf (yaitu, paragraf lingkup audit dalam laporan auditor bentuk
baku). Jika auditor menjelaskan bahwa auditnya dilaksanakan berdasarkan
standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia, tindakan ini
dapat mengakibatkan kaburnya pernyataan tidak memberikan pendapat.
Sebagai tambahan, ia harus menjelaskan keberatan lain yang berkaitan
dengan kewajaran penyajian laporan keuangan berdasarkan prinsip akuntansi
yang berlaku umum di Indonesia.

C. ELEMEN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

Mengacu pada standar auditing yang berlaku di Amerika Serikat, dalam


Arens et al. (2008) dijelaskan bahwa agar pemakai laporan dapat memahami
laporan audit, standar profesional AICPA telah menyediakan kata-kata baku
untuk laporan audit. Laporan audit standar tanpa pengecualian berisi tujuh
bagian yang berbeda, yaitu sebagai berikut.
 EKSI4308/MODUL 5 5.11

1. Judul Laporan
Standar auditing mensyaratkan bahwa laporan harus diberi judul yang
mengandung kata independen. Kewajiban mencantumkan kata independen
dimaksudkan untuk memberi tahu kepada para pemakai laporan bahwa audit
tersebut dalam segala aspeknya dilaksanakan secara tidak memihak.

2. Alamat Laporan Audit


Laporan ini umumnya ditujukan kepada perusahaan, para pemegang
saham, atau dewan direksi perusahaan. Dalam beberapa tahun terakhir, telah
menjadi suatu kebiasaan mengalamatkan laporan ini kepada dewan direksi
dan para pemegang saham untuk menunjukkan bahwa auditor independen
terhadap perusahaan. Berbeda dengan di Indonesia, menurut PSA No. 29 SA
Seksi 508 laporan auditor juga dapat dialamatkan kepada dewan komisaris,
selain pada direksi dan para pemegang saham. Hal ini terjadi kemungkinan
besar karena Indonesia dan Amerika Serikat memiliki konsep governance
yang berbeda.
Dalam FCGI (2000), terdapat dua sistem bentuk Dewan dalam sebuah
perusahaan yaitu berasal dari dua sistem hukum yang berbeda Anglo Saxon
(One Tier System) dan Kontinental Eropa (Two Tier System). Sistem hukum
Anglo Saxon mempunyai Sistem Satu Tingkat atau One Tier System yang
berarti bahwa perusahaan mempunyai satu Dewan Direksi yang pada
umumnya merupakan kombinasi antara manajer atau pengurus senior
(Direktur Eksekutif) dan Direktur Independen yang bekerja dengan prinsip
paruh waktu. Negara dengan One Tier System misalnya Amerika Serikat dan
Inggris.
Sistem Hukum Kontinental Eropa mempunyai Sistem Dua Tingkat atau
Two Tiers System yang berarti perusahaan mempunyai dua badan terpisah
yaitu Dewan Pengawas (Dewan Komisaris) dan Dewan Manajemen (Dewan
Direksi). Dewan Komisaris bertanggung jawab mengawasi tugas-tugas
manajemen dan tidak boleh melibatkan diri dalam tugas-tugas manajemen
serta tidak boleh mewakili perusahaan dalam transaksi dengan pihak ketiga.
Dewan Direksi diangkat dan dapat diganti oleh Dewan Komisaris. Dewan
Direksi harus memberikan informasi pada Dewan Komisaris dan menjawab
hal-hal yang diajukan oleh Dewan Komisaris. Dewan Komisaris itu sendiri
diangkat dan diganti dalam Rapat Umum Pemegang Saham. Negara-negara
dengan Two Tiers System adalah Denmark, Jerman, Belanda, dan Jepang.
5.12 Auditing I 

Oleh karena sistem hukum Indonesia berasal dari sistem hukum Belanda,
maka hukum perusahaan Indonesia menganut Two Tiers System untuk
struktur dewan dalam perusahaan. Namun, dalam sistem hukum di Indonesia
dewasa ini terdapat perbedaan yang cukup penting termasuk di dalamnya
adalah hak dan kewajiban Dewan Komisaris dalam hal tidak memiliki
kewenangan Dewan Komisaris untuk menunjuk dan memberhentikan direksi.
Perbedaan sistem tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.

General Meeting of Shareholders (GMoS)

Board of Directors
Executive Directors Non Executive Directors

(Senior Management) (Part Time


Independent Members)

Sumber: FCGI, 2000


Gambar 5.1.
Struktur BOARD OF DIRECTORS dalam ONE TIER SYSTEM

General Meeting of
Shareholders (GMoS)

Board of Commissioners (BoC)

Board of Directors (BoD)

Sumber: FCGI, 2000


Gambar 5.2.
Struktur Dewan Komisaris dan Dewan Direksi Two Tiers System yang Diadopsi
oleh Belanda
 EKSI4308/MODUL 5 5.13

Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)

Dewan Komisaris

Dewan Direksi

Sumber: FCGI, 2000

Gambar 5.3.
Struktur Dewan Komisaris dan Dewan Direksi Two Tiers System yang Diadopsi
oleh Indonesia

Oleh karena perbedaan sistem ini yang dapat membuat laporan auditor di
Indonesia dapat ditujukan kepada Dewan Komisaris selain Dewan Direksi
dan/ atau pemegang saham sedangkan pada paparan yang dikutip dari Arens
et al. (2008) tidak ditujukan kepada Dewan Komisaris karena praktik
Amerika Serikat memiliki sistem Dewan yang berbeda.
Selain itu dalam PSA No. 29 SA Seksi 508, laporan auditor atas laporan
keuangan perusahaan yang tidak berbentuk perseroan terbatas harus
dialamatkan sesuai dengan keadaannya, misalnya dialamatkan kepada para
anggota persekutuan atau kepada pemilik. Kadang-kadang auditor diminta
untuk mengaudit laporan keuangan perusahaan yang bukan kliennya. Dalam
hal ini biasanya laporan dialamatkan kepada klien sebagai pemberi tugas dan
bukan kepada direksi perusahaan atau para pemegang saham yang laporan
keuangannya diaudit oleh auditor.

3. Paragraf Pendahuluan
Paragraf pertama laporan menunjukkan tiga hal, pertama, laporan itu
membuat suatu pernyataan sederhana bahwa kantor akuntan publik
bersangkutan telah melaksanakan audit. Pernyataan ini dibuat untuk
membedakan laporan audit dari laporan kompilasi atau laporan review.
Kedua, paragraf ini menyatakan laporan keuangan yang telah diaudit,
termasuk tanggal neraca serta periode akuntansi untuk laporan laba rugi dan
laporan arus kas. Kata-kata tentang laporan keuangan dalam laporan audit
5.14 Auditing I 

harus identik dengan yang digunakan oleh manajemen dalam laporan


keuangan tersebut
Ketiga, paragraf pendahuluan menyatakan bahwa laporan keuangan
merupakan tanggung jawab manajemen dan bahwa tanggung jawab auditor
adalah menyatakan pendapat atas laporan keuangan itu berdasarkan audit.
Tujuan dari pernyataan-pernyataan ini adalah untuk mengomunikasikan
bahwa manajemen bertanggung jawab atas pemilihan prinsip-prinsip
akuntansi yang berlaku umum yang tepat, dan membuat pengukuran serta
pengungkapan dalam menerapkan prinsip-prinsip tersebut dan untuk
mengklarifikasi peran manajemen serta auditor.
Secara lebih rinci komponen paragraf pendahuluan dijelaskan menurut
Boynton et al. (2001), paragraf pendahuluan memuat tiga pernyataan dengan
tujuan utama membedakan tanggung jawab manajemen dan tanggung jawab
auditor. Kalimat pada paragraf pendahuluan disajikan sebagai berikut:

”Kami telah mengaudit... neraca.... Perusahaan X... untuk tahun-tahun


yang berakhir pada tanggal tersebut.“

Kalimat di atas menunjukkan bahwa auditor telah mengaudit laporan


keuangan tertentu dari perusahaan. Setiap laporan keuangan disebutkan satu
per satu berikut tanggal penerbitan setiap laporan keuangan tersebut.

”Laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen.“

Penegasan kalimat ini bahwa tanggung jawab atas laporan keuangan


terletak di tangan manajemen serta dimaksudkan untuk menghilangkan kesan
bahwa auditor mengembangkan representasi yang mendasari laporan
keuangan.

”Tanggung jawab kami adalah menyatakan .... berdasarkan audit


kami.“

Secara khusus kalimat di atas menunjukkan tanggung jawab auditor


dalam menyatakan pendapat berdasarkan temuan-temuan.

4. Paragraf Ruang Lingkup


Paragraf ruang lingkup merupakan pernyataan faktual tentang apa yang
dilakukan auditor dalam proses audit. Paragraf ini menyatakan bahwa auditor
melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang berlaku umum.
 EKSI4308/MODUL 5 5.15

Paragraf ruang lingkup menyatakan bahwa laporan keuangan telah bebas dari
salah saji yang material. Pencantuman kata material menunjukkan bahwa
auditor hanya bertanggung jawab mencari salah saji yang signifikan. Istilah
keyakinan yang memadai digunakan untuk menunjukkan bahwa audit tidak
dapat diharapkan menghapus seluruh kemungkinan adanya salah saji yang
material dalam laporan keuangan. Selain itu, paragraf ruang lingkup juga
membahas bukti audit yang dikumpulkan telah memadai guna menyatakan
pendapat.
Lebih detail pada Boynton et al. (2001), paragraf ruang lingkup
menguraikan sifat dan lingkup audit. Kalimat dalam paragraf ini adalah:

”Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang berlaku


umum.”

Oleh karena Boynton et al. (2001) mengacu pada auditing dan standar
yang berlaku di Amerika Serikat, dalam konteks ini, standar yang berlaku
umum meliputi sepuluh standar GAAS (Generally Accepted Auditing
Standard) dan seluruh SAS (Statements on Auditing Standards) yang dapat
diterapkan.

”Standar tersebut mengharuskan kami .. audit agar memperoleh


keyakinan yang memadai .. laporan keuangan bebas dari salah saji
material.”

Kalimat di atas menunjukkan dua keterbatasan penting suatu audit.


Pertama, auditor hanya mencari keyakinan yang memadai saja, bukan
keyakinan yang absolut. Kedua, suatu audit direncanakan dan dilaksanakan
untuk menemukan salah saji yang material dalam laporan keuangan.

”Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti


yang mendukung..... laporan keuangan.”

Kalimat di atas menjelaskan lebih jauh sifat audit. Kata-kata atas dasar
pengujian menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan audit, kurang dari 100%
bukti yang telah diperiksa. Dasar pengujian menunjukkan adanya risiko
bahwa bukti yang tidak diperiksa mungkin merupakan bukti yang penting
dalam menilai kewajaran penyajian dan pengungkapan laporan keuangan
secara keseluruhan.
5.16 Auditing I 

”Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi... estimasi


signifikan .... penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara
keseluruhan”

Penjelasan lebih lanjut sesuai kalimat di atas adalah auditor


menggunakan pertimbangan dalam menilai dan mengevaluasi representasi
laporan keuangan manajemen. Estimasi signifikan oleh manajemen,
menunjukkan bahwa laporan keuangan tidak seluruhnya berdasarkan pada
fakta.

”Kami yakin bahwa audit kami memberikan dasar yang memadai untuk
menyatakan pendapat”

Kalimat tersebut menunjukkan bahwa terdapat bentuk keterbatasan lain


dari suatu audit yaitu hanya dasar yang memadai saja yang diperlukan untuk
memberikan pendapat. Konsep memadai bukan konsep absolut adalah dasar
yang konsisten dengan konsep dasar pengujian dan konsep keyakinan yang
memadai. Kalimat ini juga mengandung asersi bahwa auditor telah
membentuk kesimpulan positif tentang lingkup pekerjaan audit yang
dilaksanakan.

5. Paragraf Pendapat
Paragraf terakhir dalam laporan audit standar menyatakan kesimpulan
auditor berdasarkan hasil audit dan merupakan bagian laporan ini sangat
penting. Paragraf pendapat dinyatakan sebagai suatu pendapat saja bukan
sebagai pernyataan yang mutlak atau jaminan oleh karena kesimpulan
tersebut dibuat berdasarkan pertimbangan profesional. Frasa menurut
pendapat kami menunjukkan bahwa mungkin ada beberapa risiko informasi
yang berkaitan dengan laporan keuangan meskipun telah diaudit.

6. Nama KAP
Nama mengidentifikasi kantor akuntan publik (KAP) atau praktisi yang
melaksanakan audit. Nama kantor akuntan publik dituliskan karena seluruh
bagian kantor akuntan publik mempunyai tanggung jawab hukum dan
profesional untuk memastikan bahwa kualitas audit memenuhi standar
profesional.
 EKSI4308/MODUL 5 5.17

7. Tanggal Laporan Audit


Tanggal laporan audit merupakan hal yang penting bagi auditor dan
pemakai laporan karena menunjukkan hari terakhir dari tanggung jawab
auditor untuk me-review atas peristiwa penting yang terjadi setelah tanggal
laporan keuangan.

Dalam PSA No. 29 SA Seksi 508 paragraf 03 menjelaskan Laporan


Auditor Atas Laporan Keuangan Auditan dijelaskan bahwa laporan auditor
bentuk baku harus mencakup unsur pokok laporan auditor bentuk baku
adalah sebagai berikut.
1. Suatu judul yang memuat kata independen.
2. Suatu pernyataan bahwa laporan keuangan yang disebutkan dalam
laporan auditor telah diaudit oleh auditor.
3. Suatu pernyataan bahwa laporan keuangan adalah tanggung jawab
manajemen perusahaan dan tanggung jawab auditor terletak pada
pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan atas auditnya.
4. Suatu pernyataan bahwa audit dilaksanakan berdasarkan standar auditing
yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia.
5. Suatu pernyataan bahwa standar auditing tersebut mengharuskan auditor
merencanakan dan melaksanakan auditnya agar memperoleh keyakinan
memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material.
6. Suatu pernyataan bahwa audit meliputi:
a. pemeriksaan (examination), atas dasar pengujian, bukti-bukti yang
mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan
keuangan;
b. penentuan prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi-estimasi
signifikan yang dibuat manajemen;
c. penilaian penyajian laporan keuangan secara keseluruhan.
7. Suatu pernyataan bahwa auditor yakin bahwa audit yang dilaksanakan
memberikan dasar memadai untuk memberikan pendapat.
8. Suatu pendapat atas apakah laporan keuangan menyajikan secara wajar,
dalam semua hal yang material, posisi keuangan perusahaan pada
tanggal neraca dan hasil usaha dan arus kas untuk periode yang berakhir
pada tanggal tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia.
9. Tanda tangan, nama rekan, nomor izin akuntan publik, nomor izin usaha
kantor akuntan publik.
10. Tanggal laporan auditor.
5.18 Auditing I 

Laporan auditor bentuk baku yang meliputi satu periode akuntansi


disajikan dalam Gambar 5.4 berdasarkan format yang diperoleh PSA No. 29
SA Seksi 508 dengan contoh aplikasi pada KAP atas audit suatu perusahaan.
Laporan auditor bentuk baku harus menyebutkan laporan keuangan auditan
dalam paragraf pengantar, menggambarkan sifat audit dalam paragraf
lingkup audit, dan menyatakan pendapat auditor dalam paragraf pendapat.
Gambar 5.5 menunjukkan laporan auditor independen bentuk baku atas
laporan keuangan komparatif. Poin yang paling terlihat perbedaannya adalah
pada laporan auditor atas laporan keuangan komparatif tertera 2 periode yang
dibandingkan sedangkan yang lainnya hanya mencakup satu periode
akuntansi saja.

L AT IH AN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerjakanlah latihan berikut!

1) Apa yang dimaksud dengan laporan auditor?


2) Apakah perbedaan tanggung jawab auditor independen dengan tanggung
jawab manajemen menurut PSA No. 02 SA Seksi 110?
3) Apa yang dimaksud dual dating? Jelaskan.
4) Sebutkan standar pelaporan yang berkaitan dengan laporan auditor!
5) Jelaskan jenis-jenis pendapat auditor independen.
6) Bilamana auditor memberikan Unqualified Opinion atas laporan
keuangan klien?
7) Buatlah contoh laporan auditor bentuk baku.
8) Sebutkan beberapa keadaan yang mendorong auditor menerbitkan
pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas yang
ditambahkan pada laporan audit bentuk baku!
9) Sebutkan keadaan-keadaan yang dapat membuat auditor memberikan
pendapat wajar dengan pengecualian!
10) Apa yang harus dilakukan auditor dalam laporan auditnya jika ia
menyatakan pendapat tidak wajar atas laporan keuangan perusahaan?
 EKSI4308/MODUL 5 5.19

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Laporan auditor merupakan suatu media yang sangat penting dalam


akhir pelaksanaan audit karena mencakup pernyataan pendapat auditor
serta berbagai temuan yang mendukung pernyataan pendapat tersebut
untuk ditujukan pada pihak-pihak yang berkepentingan dengan simpulan
laporan keuangan auditan.

2) Menurut PSA No. 02 SA Seksi 110, perbedaan tanggung jawab auditor


independen dengan tanggung jawab manajemen adalah auditor
bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit untuk
memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan
bebas dari salah saji material, baik yang disebabkan oleh kekeliruan atau
kecurangan. Auditor tidak bertanggung jawab untuk merencanakan dan
melaksanakan audit guna memperoleh keyakinan bahwa salah saji
terdeteksi, baik yang disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan, yang
tidak material terhadap laporan keuangan. Manajemen bertanggung
jawab untuk menerapkan kebijakan akuntansi yang sehat dan untuk
membangun dan memelihara pengendalian internal, di antaranya,
mencatat, mengolah, meringkas, dan melaporkan transaksi (termasuk
peristiwa dan kondisi), yang konsisten dengan asersi manajemen yang
tercantum dalam laporan keuangan. Atau dapat dikatakan bahwa
tanggung jawab manajemen ada pada laporan keuangan yang
disusunnya.

3) Dual dating atau tanggal ganda merupakan konsekuensi peristiwa


kemudian dalam hal terjadi dua tanggal dalam laporan keuangan.
Terkadang ada peristiwa atau transaksi dengan jumlah material yang
terjadi sesudah tanggal diterbitkannya laporan audit dan berpengaruh
terhadap laporan keuangan yang diperiksa. Jika terjadi peristiwa atau
transaksi seperti ini setelah tanggal selesainya pekerjaan lapangan dan
saat itu laporan audit belum dikeluarkan, auditor harus menjelaskan
peristiwa atau transaksi ini dalam catatan atas laporan keuangan dan
lembaran opini. Kejadian semacam ini dalam PSA No. 46 SA Seksi 560
paragraf 01 disebut peristiwa kemudian (subsequent events) dan atas
akibat material dan pengaruhnya pada laporan keuangan, maka
diperlukan penyesuaian atau pengungkapan dalam laporan-laporan
5.20 Auditing I 

tersebut. Pada laporan auditor dapat mempunyai dua tanggal atau biasa
disebut, yang pertama merupakan tanggal selesainya pemeriksaan
lapangan, dan yang kedua tanggal terjadinya peristiwa penting tersebut.

4) Laporan auditor sangat berkaitan dengan standar pelaporan yang


termasuk dalam sepuluh standar auditing PSA No. 01 SA Seksi 150
paragraf 02, yaitu bahwa:
a. laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah
disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di
Indonesia;
b. laporan auditor harus menunjukkan atau menyatakan, jika ada,
ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan
laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan
prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya;
c. pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang
memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor;
d. laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat atas
laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa
pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara
keseluruhan tidak dapat diberikan maka alasannya harus dinyatakan;
dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, maka
laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas terhadap sifat
pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkat tanggung
jawab yang dipikul oleh auditor.

5) Berbagai jenis pendapat auditor, yaitu berikut ini.


a. Pendapat wajar tanpa pengecualian atau Unqualified Opinion
Pendapat wajar tanpa pengecualian menyatakan bahwa laporan
keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material,
posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
b. Bahasa penjelasan ditambahkan dalam laporan auditor bentuk baku
atau secara lengkap umumnya disebut “Pendapat wajar tanpa
pengecualian dengan bahasa penjelasan ditambahkan dalam laporan
auditor bentuk baku” atau Unqualified Opinion with Explanatory
Paragraph/Language). Keadaan tertentu mungkin mengharuskan
 EKSI4308/MODUL 5 5.21

auditor menambahkan suatu paragraf penjelasan (atau bahasa


penjelasan yang lain) dalam laporan auditnya.
c. Pendapat wajar dengan pengecualian atau Qualified Opinion.
Pendapat wajar dengan pengecualian, menyatakan bahwa laporan
keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material,
posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, kecuali
untuk dampak hal-hal yang berhubungan dengan yang dikecualikan.
d. Pendapat tidak wajar atau Adverse Opinion.
Pendapat tidak wajar menyatakan bahwa laporan keuangan tidak
menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas
entitas tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum
di Indonesia.
e. Pernyataan tidak memberikan pendapat atau Disclaimer Opinion.
Pernyataan tidak memberikan pendapat menyatakan bahwa auditor
tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan.

6) Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian atau Unqualified Opinion diberikan


oleh auditor independen apabila auditor telah melaksanakan audit sesuai
standar auditing yang berlaku di Indonesia seperti yang ditentukan dalam
Standar Profesional Akuntan Publik. Auditor telah mengumpulkan bukti-
bukti yang cukup dan memadai dalam mendukung opininya, serta tidak
menemukan kesalahan material atas suatu penyimpangan dari prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Dalam opini ini, auditor
menyatakan bahwa laporan keuangan telah menyajikan secara wajar,
dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, perubahan
ekuitas, dan arus kas suatu entitas sesuai dengan prinsip akuntan yang
berlaku umum di Indonesia.

7) Contoh Laporan Auditor Independen Bentuk Baku


5.22 Auditing I 

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

Kepada Yth.
Dewan Komisaris
PT ABADI JAYA
Jl. Kenanga No. 88
Jakarta Utara

Kami telah mengaudit neraca perusahaan PT. ABADI JAYA tanggal 31 Desember
2007 serta laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas untuk
tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan keuangan adalah tanggung jawab
manajemen perusahaan. Tanggung jawab kami terletak pada pernyataan pendapat
atas laporan keuangan berdasarkan audit kami.

Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan


Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan
melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan
keuangan bebas dari salah saji material. Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar
pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam
laporan keuangan. Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan
dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap
penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa, audit kami
memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat.

Menurut pendapat kami, laporan keuangan yang kami sebut di atas menyajikan
secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan perusahaan PT ABADI
JAYA tanggal 31 Desember 2007, dan hasil usaha, serta arus kas untuk tahun yang
berakhir pada tanggal tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di
Indonesia.

Kantor Akuntan Publik


Dendy Putra, M.Acc., Akt

(Dendy M.Acc., Akt)


Reg. Neg. D-888888
NIAP: 09.0020.08

25 Februari 2012

8) Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas diberikan


jika ada keadaan tertentu yang mengharuskan auditor menambahkan
paragraf penjelasan (atau bahasa penjelasan lain) dalam laporan auditor
bentuk baku. Keadaan tersebut meliputi berikut ini.
 EKSI4308/MODUL 5 5.23

a. Pendapat auditor sebagian didasarkan atas laporan auditor


independen lain.
b. Untuk mencegah agar laporan keuangan tidak menyesatkan karena
keadaan-keadaan yang luar biasa, laporan keuangan disajikan
menyimpang dari suatu prinsip akuntansi yang dikeluarkan oleh
Ikatan Akuntan Indonesia.
c. Jika terdapat kondisi dan peristiwa yang semula menyebabkan
auditor yakin tentang adanya kesangsian terhadap kelangsungan
hidup entitas, namun setelah mempertimbangkan rencana
manajemen, auditor berkesimpulan bahwa rencana manajemen
tersebut dapat secara efektif dilaksanakan dan pengungkapan
terhadap hal itu telah memadai.
d. Di antara periode akuntansi terdapat suatu perubahan material dalam
penggunaan prinsip akuntansi atau dalam metode penerapannya.
e. Keadaan tertentu yang berhubungan dengan laporan auditor atas
laporan keuangan komparatif.
f. Data keuangan kuartalan tertentu yang diharuskan oleh Badan
Pengawas Pasar Modal (Bapepam) namun tidak disajikan atau tidak
di-review.
g. Informasi tambahan yang diharuskan oleh Ikatan Akuntan
Indonesia-Dewan Standar Akuntansi Keuangan telah dihilangkan,
yang penyajiannya menyimpang jauh dari panduan yang dikeluarkan
oleh Dewan tersebut, dan auditor tidak dapat melengkapi prosedur
audit yang berkaitan dengan informasi tersebut, atau auditor tidak
dapat menghilangkan keraguan-keraguan yang besar apakah
informasi tambahan tersebut sesuai dengan panduan yang
dikeluarkan oleh Dewan tersebut.
h. Informasi lain dalam suatu dokumen yang berisi laporan keuangan
auditan secara material tidak konsisten dengan informasi yang
disajikan dalam laporan keuangan.

9) Pendapat wajar dengan pengecualian dinyatakan dalam contoh keadaan


berikut.
a. Ketiadaan bukti kompeten yang cukup atau adanya pembatasan
terhadap lingkup audit yang mengakibatkan auditor berkesimpulan
bahwa ia tidak dapat menyatakan pendapat wajar tanpa
5.24 Auditing I 

pengecualian dan ia berkesimpulan tidak menyatakan tidak


memberikan pendapat.
b. Auditor yakin, atas dasar auditnya, bahwa laporan keuangan berisi
penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum di
Indonesia, yang berdampak material, dan ia berkesimpulan untuk
tidak menyatakan pendapat tidak wajar.
c. Jika auditor menyatakan pendapat wajar dengan pengecualian, ia
harus menjelaskan semua alasan yang menguatkan dalam satu atau
lebih paragraf terpisah yang dicantumkan sebelum paragraf
pendapat. Ia harus juga mencantumkan bahasa pengecualian yang
sesuai dan menunjuk ke paragraf penjelasan di dalam paragraf
pendapat.

10) Pendapat tidak wajar diberikan auditor jika laporan keuangan tidak
menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
Pendapat ini dinyatakan bila, menurut pertimbangan auditor, laporan
keuangan secara keseluruhan tidak disajikan secara wajar sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Bila auditor
menyatakan pendapat tidak wajar, ia harus menjelaskan dalam paragraf
terpisah sebelum paragraf pendapat dalam laporannya (a) semua alasan
yang mendukung pendapat tidak wajar, dan (b) dampak utama hal yang
menyebabkan pemberian pendapat tidak wajar terhadap posisi keuangan,
hasil usaha, dan arus kas, jika secara praktis untuk dilaksanakan.

T ES FO R M AT IF 1

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!


1) Laporan auditor memuat pengertian beberapa hal berikut, pilih mana
yang kurang tepat ....
A. sarana atau media formal penting pada akhir pelaksanaan audit.
B. laporan laba rugi, neraca, laporan arus kas
C. laporan yang berisi pernyataan pendapat auditor
D. tujuan laporan pada pihak-pihak yang berkepentingan dengan
laporan auditor
 EKSI4308/MODUL 5 5.25

2) Dual dating merupakan ....


A. tanggal selesainya pemeriksaan lapangan dan tanggal neraca
B. tanggal terbitnya laporan keuangan dan tanggal laporan keuangan
C. tanggal selesainya pemeriksaan lapangan dan tanggal terjadinya
peristiwa penting
D. tanggal peristiwa kemudian dan tanggal neraca

3) Berikut ini merupakan pendapat atau opini auditor menurut PSA No. 29
SA Seksi 508, kecuali ....
A. wajar dengan pengecualian
B. wajar dengan pengecualian dengan bahasa penjelas
C. pendapat tidak wajar
D. pernyataan tidak memberikan pendapat

4) Pendapat auditor bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar,


dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus
kas entitas tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum
di Indonesia merupakan pendapat ....
A. wajar tanpa pengecualian
B. pernyataan tidak memberikan pendapat
C. wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas
D. pendapat tidak wajar

5) Pendapat auditor bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar,


dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus
kas entitas tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum
di Indonesia, kecuali untuk dampak hal-hal yang berhubungan dengan
yang dikecualikan merupakan pendapat ....
A. wajar tanpa pengecualian
B. pendapat tidak wajar
C. pernyataan tidak memberikan pendapat
D. wajar dengan pengecualian

6) Pendapat auditor bahwa auditor tidak dapat merumuskan atau tidak


merumuskan suatu pendapat tentang kewajaran laporan keuangan sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum merupakan pendapat ....
A. wajar tanpa pengecualian
B. pendapat tidak wajar
C. pernyataan tidak memberikan pendapat
D. wajar dengan pengecualian
5.26 Auditing I 

7) Pendapat auditor bahwa laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar


posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia merupakan
pendapat ....
A. wajar tanpa pengecualian
B. pernyataan tidak memberikan pendapat
C. wajar dengan pengecualian
D. pendapat tidak wajar

8) Jika terdapat kondisi dan peristiwa yang semula menyebabkan auditor


yakin tentang adanya kesangsian terhadap kelangsungan hidup entitas,
namun setelah mempertimbangkan rencana manajemen, auditor
berkesimpulan bahwa rencana manajemen tersebut dapat secara efektif
dilaksanakan dan pengungkapan terhadap hal itu telah memadai;
pendapat yang sebaiknya diberikan oleh auditor?
A. Pendapat tidak wajar.
B. Wajar tanpa pengecualian.
C. Pernyataan tidak memberikan pendapat.
D. Bahasa penjelasan ditambahkan dalam laporan auditor bentuk baku.

9) Dengan tujuan untuk mencegah agar laporan keuangan tidak


menyesatkan karena keadaan-keadaan yang luar biasa, laporan keuangan
disajikan menyimpang dari suatu prinsip akuntansi yang dikeluarkan
oleh Ikatan Akuntan Indonesia, atas tujuan ini auditor dapat memberikan
pendapat ....
A. bahasa penjelasan ditambahkan dalam laporan auditor bentuk baku
B. pendapat tidak wajar
C. wajar tanpa pengecualian
D. pernyataan tidak memberikan pendapat

10) Apabila terdapat ketiadaan bukti kompeten yang cukup atau adanya
pembatasan terhadap lingkup audit yang mengakibatkan auditor
berkesimpulan bahwa ia tidak dapat menyatakan pendapat wajar tanpa
pengecualian dan ia berkesimpulan tidak menyatakan tidak memberikan
pendapat, maka pendapat apa yang dapat ia berikan?
A. Pendapat tidak wajar.
B. Wajar dengan pengecualian.
C. Wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas ditambahkan
dalam laporan auditor bentuk baku.
D. Pernyataan tidak memberikan pendapat.
 EKSI4308/MODUL 5 5.27

11) Apabila terdapat data keuangan kuartalan tertentu yang diharuskan oleh
Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) namun tidak disajikan atau
tidak di-review, pendapat apa yang dapat diberikan auditor?
A. Wajar tanpa pengecualian.
B. Pendapat tidak wajar.
C. Wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas ditambahkan
dalam laporan auditor bentuk baku.
D. Pernyataan tidak memberikan pendapat.

12) Apabila dalam suatu kondisi, berdasarkan audit yang telah dilakukan,
auditor yakin bahwa laporan keuangan berisi penyimpangan dari prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, yang berdampak material,
dan ia berkesimpulan tidak menyatakan pendapat tidak wajar. Lalu,
pendapat apa yang mungkin dapat diberikan auditor sesuai dengan
standar auditing?
A. Wajar tanpa pengecualian.
B. Pendapat tidak wajar.
C. Wajar dengan pengecualian.
D. Pernyataan tidak memberikan pendapat.

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan = × 100%
Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang
belum dikuasai.
5.28 Auditing I 

Kegiatan Belajar 2

Bentuk Baku Laporan Auditor

A. BENTUK LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN DAN BERBAGAI


KASUS

1. Laporan Auditor Bentuk Baku

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

Kepada Yth.
Dewan Komisaris
PT ABADI JAYA
Jl. Kenanga No. 88
Jakarta Utara

Kami telah mengaudit neraca perusahaan PT ABADI JAYA tanggal 31


Desember 2007 serta laporan laba-rugi, laporan perubahan ekuitas, dan
laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan
keuangan adalah tanggung jawab manajemen perusahaan. Tanggung
jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan
berdasarkan audit kami.

Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan


Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami
merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan
memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu
audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang
mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan.
Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan
estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap
penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa, audit
kami memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat.
 EKSI4308/MODUL 5 5.29

Menurut pendapat kami, laporan keuangan yang kami sebut di atas


menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan
perusahaan PT ABADI JAYA tanggal 31 Desember 2007, dan hasil usaha,
serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

Kantor Akuntan Publik


Dendy Putra, M.Acc., Akt

(Dendy Putra, M.Acc., Akt)


Reg. Neg. D-888888
NIAP: 09.0020.08

25 Februari 2012

Gambar 5.4.
Contoh Laporan Auditor Bentuk Baku yang Meliputi Satu Periode Akuntansi

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

Kepada Yth.
Dewan Komisaris
PT ABADI JAYA
Jl. Kenanga No. 88
Jakarta Utara

Kami telah mengaudit neraca perusahaan PT ABADI JAYA tanggal 31


Desember 2007 dan 2006, serta laporan laba-rugi, laporan perubahan
ekuitas, dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal-
tanggal tersebut. Laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen
perusahaan. Tanggung jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas
laporan keuangan berdasarkan audit kami.

Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan


5.30 Auditing I 

Ikatan Akuntansi Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami


merencanakan dan melaksanakan audit agar memperoleh keyakinan
memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu
audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang
mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan.
Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan
estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap
penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa audit
kami memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat

Menurut pendapat kami, laporan keuangan yang kami sebut di atas


menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan
perusahaan PT ABADI JAYA tanggal 31 Desember 2007, dan 2006, dan
hasil usaha, serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal
tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

Kantor Akuntan Publik


Dendy Putra, M.Acc., Akt

(Dendy Putra, M.Acc., Akt)


Reg. Neg. D-888888
NIAP: 09.0020.08

25 Februari 2012

Gambar 5.5.
Contoh Laporan Auditor Bentuk Baku atas Laporan Keuangan Komparatif

Bagian audit yang dilakukan oleh auditor independen lain umumnya


dilakukan ketika auditor independen utama tidak mengaudit sendiri anak
perusahaan, divisi, cabang, komponen, atau investasi tertentu dari kliennya.
Auditor utama dapat mengambil keputusan mengacu atau tidak mengacu
bagian audit yang dilakukan auditor lain dengan pertimbangan profesional
auditor. Tidak ada satu pun aturan dalam Seksi 543 yang dapat diartikan
bahwa seorang auditor dapat menggunakan dasar lain kecuali pertimbangan
 EKSI4308/MODUL 5 5.31

profesionalnya; atau tidak ada satu pun aturan dalam Seksi ini yang
menyatakan bahwa suatu laporan auditor yang mengacu ke laporan auditor
lain dianggap lebih rendah mutunya dalam pandangan profesional
dibandingkan dengan laporan yang tidak mengacu ke laporan auditor lain.
Seorang auditor yang bertindak sebagai auditor utama harus
memperhatikan apakah ia telah melakukan semua pekerjaan selain sebagian
kecil pekerjaan, atau bagian audit yang signifikan yang telah dilakukan oleh
auditor lain. Dalam kondisi bagian signifikan audit dilaksanakan oleh auditor
lain, ia harus memutuskan apakah partisipasinya cukup untuk memungkinkan
dirinya bertindak sebagai auditor utama dan melaporkan dalam kapasitasnya
sebagai auditor utama atas laporan keuangan tersebut. Auditor juga harus
mempertimbangkan materialitas bagian laporan keuangan auditannya
dibandingkan bagian yang diaudit auditor lain. Lingkup pengetahuannya
tentang laporan keuangan secara keseluruhan, dan pentingnya komponen-
komponen yang diauditnya dalam hubungannya dengan perusahaan secara
keseluruhan.
Auditor utama harus menentukan apakah ia harus mengacu atau tidak
mengacu pada bagian audit yang dilaksanakan auditor lain dalam laporannya.
Jika auditor utama memutuskan untuk memikul tanggung jawab atas
pekerjaan auditor lain, sepanjang pekerjaan tersebut berkaitan dengan
pernyataan pendapat auditor utama atas laporan keuangan secara
keseluruhan, tidak ada pengacuan yang harus dibuat terhadap pekerjaan atau
laporan auditor lain. Sebaliknya, jika auditor utama memutuskan untuk tidak
memikul tanggung jawab tersebut, laporannya harus menunjukkan pengacuan
ke audit yang dilaksanakan oleh auditor lain dan harus menunjukkan secara
jelas pembagian tanggung jawab antara auditor utama dan auditor lain dalam
menyatakan pendapatnya atas laporan keuangan. Tanpa memperhatikan
keputusan auditor utama, auditor lain tetap bertanggung jawab atas
pelaksanaan pekerjaannya dan atas laporannya.
Jika auditor utama dapat meyakinkan dirinya terhadap independensi dan
reputasi profesional auditor lain dan percaya bahwa audit yang dilakukan
oleh auditor lain dapat diandalkan, ia dapat menyatakan suatu pendapat atas
laporan keuangan secara keseluruhan tanpa mengacu ke audit yang
dilaksanakan oleh auditor lain di dalam laporannya. Apabila auditor utama
telah memutuskan tidak mengacu ke audit yang dilaksanakan auditor lain, ia
tidak harus mengungkapkan dalam laporannya tentang bagian audit tersebut.
Jika bagian audit tersebut diungkapkan dalam laporannya, justru hal ini dapat
5.32 Auditing I 

menyebabkan pemakai laporan keuangan salah menafsirkan tingkat tanggung


jawab yang dipikul oleh auditor.
Auditor utama tidak mengacu pada audit yang dilakukan auditor lain
bila:
1. bagian audit yang dilaksanakan oleh auditor independen lain yang
merupakan kantor akuntan asosiasi atau koresponden dan yang
pekerjaannya dapat diterima oleh auditor utama berdasarkan
pengetahuannya atas standar profesional dan kompetensi kantor auditor
lain tersebut; atau
2. auditor lain ditunjuk oleh auditor utama dan pekerjaan auditor lain
dilakukan di bawah bimbingan dan pengawasan auditor utama; atau
3. auditor utama, baik ia memilih auditor lain atau tidak, mengambil
tindakan yang dianggap perlu untuk meyakinkan dirinya terhadap audit
yang dilakukan oleh auditor lain dan memperoleh keyakinan terhadap
kewajaran akun-akun yang dicantumkan dalam laporan keuangan yang
diberi pendapat oleh auditor utama tersebut; atau
4. bagian laporan keuangan yang diaudit oleh auditor lain tidak material
dibandingkan dengan laporan keuangan yang dicakup oleh pendapat
auditor utama.

Auditor utama dapat memutuskan untuk mengacu ke audit yang


dilakukan auditor lain dalam rangka menyatakan pendapat atas laporan
keuangan yang diaudit. Dalam beberapa hal, mungkin tidak praktis bagi
auditor utama bila melakukan review terhadap pekerjaan auditor lain atau
menggunakan prosedur lain yang dalam pertimbangannya perlu untuk
memperoleh keyakinan terhadap audit yang dilakukan oleh auditor lain.
Selain itu, jika komponen laporan keuangan yang diaudit oleh auditor lain
material dalam hubungannya dengan laporan keuangan secara keseluruhan,
tanpa memperhatikan pertimbangan lainnya, auditor utama dapat
memutuskan untuk mengacu ke audit yang dilakukan oleh auditor lain di
dalam laporannya.
Jika auditor utama memutuskan untuk mengacu ke audit yang dilakukan
oleh auditor lain, laporannya harus menunjukkan dengan jelas pembagian
tanggung jawab antara bagian laporan keuangan yang dicakup oleh auditnya
sendiri dan yang dicakup oleh audit yang dilaksanakan oleh auditor lain, baik
dalam paragraf pengantar, paragraf lingkup audit, dan paragraf pendapat.
Laporan tersebut harus menjelaskan pentingnya bagian laporan keuangan
 EKSI4308/MODUL 5 5.33

yang diaudit oleh auditor lain. Hal ini dapat dilakukan dengan menyatakan
jumlah rupiah atau persentase satu atau lebih hal-hal berikut ini: jumlah
keseluruhan aset, jumlah keseluruhan pendapatan, atau kriteria lainnya,
tergantung atas hal yang paling jelas menunjukkan bagian laporan keuangan
yang diaudit oleh auditor lain. Nama auditor lain dapat disebutkan dan
laporannya dapat disajikan bersama dengan laporan auditor utama atas
persetujuan auditor lain tersebut. Pengacuan dalam laporan auditor utama
yang merupakan bagian audit yang telah dilakukan oleh auditor lain tidak
diartikan sebagai pengecualian pendapat, namun lebih merupakan suatu
petunjuk tanggung jawab yang terpisah di antara auditor yang melakukan
audit terhadap berbagai komponen laporan keuangan secara keseluruhan.
Laporan auditor utama pada Gambar 5.6 merupakan contoh kasus
auditor utama mengacu pada bagian audit yang dilakukan auditor lain dengan
pendapat wajar tanpa pengecualian untuk audit anak perusahaan. Jika auditor
lain menyimpang dari laporan auditor bentuk baku (laporan keuangan telah
disajikan secara wajar sesuai prinsip akuntansi yang berlaku umum di
Indonesia), auditor utama harus memutuskan apakah alasan penyimpangan
dari laporan audit bentuk baku sedemikian rupa sehingga sifat dan
pentingnya alasan tersebut dalam hubungannya dengan laporan keuangan
yang dilaporkan oleh auditor utama memerlukan pengungkapan dalam
laporan auditor utama.
Bila alasan penyimpangan tidak material dalam hubungannya dengan
laporan keuangan secara keseluruhan dan laporan auditor lain tidak disajikan,
auditor utama tidak perlu membuat acuan ke pekerjaan auditor lain dalam
laporannya terhadap penyimpangan tersebut, namun jika laporan auditor lain
disajikan, auditor utama dapat mengacu ke penyimpangan tersebut dan
perlakuannya. Penjelasan dan contoh laporan auditor utama bentuk kasus ini
mengacu pada PSA No. 38 SA Seksi 543 tentang Bagian Audit Dilaksanakan
Oleh Auditor Independen.
5.34 Auditing I 

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

Kepada Yth.
Dewan Komisaris
PT ABADI JAYA
Jl. Kenanga No. 88
Jakarta Utara

Kami telah mengaudit neraca konsolidasian PT. ABADI JAYA dan anak
perusahaannya tanggal 31 Desember 2007, dan laporan laba-rugi
konsolidasian yang bersangkutan dan laporan perubahan ekuitas, dan
laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan
keuangan tersebut merupakan tanggung jawab manajemen perusahaan.
Tanggung jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas laporan
keuangan berdasarkan audit kami. Kami tidak mengaudit laporan
keuangan PT SEKAR ABADI JAYA, anak perusahaan yang dimiliki
penuh oleh PT ABADI JAYA, yang laporan keuangannya mencerminkan
aktiva total dan pendapatan masing-masing 20% dan 22%, dari total
laporan keuangan konsolidasian yang bersangkutan. Laporan keuangan
tersebut diaudit oleh auditor lain dengan pendapat wajar tanpa
pengecualian, yang laporannya telah diserahkan kepada kami, dan
pendapat kami, sepanjang berkaitan dengan jumlah-jumlah untuk PT
SEKAR ABADI JAYA, didasarkan semata-mata atas laporan auditor
independen lain tersebut.

Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan


Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami
merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan
memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu
audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang
mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan.
Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan
estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap
penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa audit
kami memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat.

Menurut pendapat kami, berdasarkan audit kami dan laporan auditor lain
 EKSI4308/MODUL 5 5.35

tersebut, laporan keuangan konsolidasian yang kami sebut di atas


menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan
P PT ABADI JAYA tanggal 31 Desember 2007, dan hasil usaha, serta
arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

Kantor Akuntan Publik


Dendy Putra, M.Acc., Akt

(Dendy Putra, M.Acc., Akt)


Reg. Neg. D-888888
NIAP: 09.0020.08

25 Februari 2012

Gambar 5.6.
Contoh Laporan Auditor Utama yang Mengacu pada Bagian Audit yang
Dilaksanakan Auditor Lain

2. Bahasa Penjelasan yang Ditambahkan dalam Laporan Auditor


Bentuk Baku
Dalam penjelasan sebelumnya, pendapat wajar tanpa pengecualian
dengan bahasa penjelasan dapat ditambahkan dalam laporan auditor bentuk
baku jika ada keadaan tertentu yang mengharuskan auditor menambahkan
paragraf penjelasan (atau bahasa penjelasan lain) dalam laporan auditor
bentuk baku. Berikut ini dibahas tentang berbagai keadaan yang
memungkinkan auditor memberikan pendapat tersebut.

a. Pendapat auditor sebagian didasarkan atas laporan auditor independen


lain
Dalam PSA No. 38 SA Seksi 543 tentang Bagian Audit Dilaksanakan
Oleh Auditor Independen par. 01 berisi panduan bagi auditor independen
untuk membuat pertimbangan profesional dalam memutuskan:
1) apakah ia bertindak sebagai auditor utama dan menggunakan pekerjaan
dan laporan auditor independen lain yang telah mengaudit laporan
5.36 Auditing I 

keuangan satu atau lebih anak perusahaan, divisi, cabang, komponen,


atau investasi yang tercantum dalam laporan keuangan yang disajikan;
dan
2) bentuk dan isi laporan auditor utama dalam keadaan tersebut.

b. Penyimpangan dari prinsip akuntansi yang ditetapkan secara formal


oleh badan yang berwenang
Dalam keadaan luar biasa, data laporan keuangan mungkin memuat
penyimpangan yang berdampak material secara keseluruhan dari prinsip yang
berlaku umum di Indonesia. Sesuai kondisi ini, auditor dapat menunjukkan
bahwa laporan atau data dapat menyesatkan apabila tidak memuat
penyimpangan seperti dalam laporan, dengan cara mengungkapkan
penyimpangan dan estimasi dampaknya (bila praktis untuk dilaksanakan),
serta alasan mengapa kepatuhan atas prinsip akuntansi yang berlaku umum di
Indonesia justru menghasilkan laporan yang menyesatkan. Apabila keadaan
seperti ini muncul, maka laporan auditor harus mencantumkan informasi atas
hal tersebut dalam paragraf terpisah.
Sudah semestinya bagi auditor untuk menyatakan pendapat wajar tanpa
pengecualian berkaitan dengan kesesuaian laporan keuangan dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, kecuali jika terdapat alasan lain
untuk tidak melakukan hal itu, yang tidak berkaitan dengan penyimpangan
dari prinsip akuntansi yang berlaku umum (PSA No. 29 SA Seksi 508 par. 14
dan 15).

c. Ketidakkonsistensian
Laporan auditor bentuk baku secara tersirat menyatakan bahwa
kesesuaian daya banding laporan keuangan di antara periode-periode
akuntansi tidak secara material dipengaruhi oleh perubahan dalam prinsip
akuntansi. Selain itu, prinsip akuntansi tersebut telah diterapkan secara
konsisten di antara dua periode atau lebih, baik karena (a) tidak terjadi
perubahan prinsip akuntansi, atau (b) telah terjadi suatu perubahan prinsip
akuntansi atau metode penerapannya, namun dampak perubahan atas daya
banding laporan keuangan tidak material. Dalam hal ini, auditor tidak perlu
menyatakan konsistensi dalam laporannya.
Namun, jika terjadi perubahan prinsip akuntansi atau metode
penerapannya yang mempunyai akibat material terhadap daya banding
laporan keuangan perusahaan, auditor harus menyatakan perubahan tersebut
 EKSI4308/MODUL 5 5.37

dalam paragraf penjelasan di dalam laporannya. Paragraf penjelasan tersebut


(setelah paragraf pendapat) harus menunjukkan sifat perubahan dan mengacu
ke catatan atas laporan keuangan yang membahas secara rinci perubahan
tersebut. Persetujuan auditor terhadap suatu perubahan bersifat tersirat
kecuali jika auditor mengecualikan perubahan tersebut dalam menyatakan
pendapatnya atas kewajaran penyajian laporan keuangan sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Jika terdapat suatu
perubahan prinsip akuntansi, beberapa hal yang harus dipertimbangkan oleh
auditor yaitu seperti prinsip akuntansi yang baru, metode akuntansi yang
digunakan dan alasan perubahan prinsip tersebut. Paragraf penjelasan yang
sesuai dengan perubahan tersebut di atas adalah sebagai berikut.

“Seperti telah dijelaskan pada Catatan X atas laporan keuangan,


perusahaan mengubah metode perhitungan depresiasi dalam tahun
20X7.”

Tambahan paragraf penjelasan dalam laporan auditor harus dicantumkan


dalam laporan auditor atas laporan keuangan tahun berikutnya, jika tahun
terjadinya perubahan disajikan dan dilaporkan. Namun, jika perubahan
akuntansi dipertanggungjawabkan dengan cara penyajian kembali laporan
keuangan yang terpengaruh, paragraf tambahan harus disajikan hanya dalam
tahun terjadinya perubahan, karena, dalam tahun-tahun berikutnya, semua
periode yang disajikan dapat dibandingkan (PSA No. 29 SA Seksi 508 par.
16 -18).

d. Penekanan atas suatu hal


Dalam beberapa keadaan, auditor mungkin perlu memberi penekanan
atas suatu hal yang berkaitan dengan laporan keuangan. Informasi penjelasan
semacam itu harus disajikan dalam suatu paragraf terpisah dalam laporan
auditor. Frasa seperti “dengan penjelasan sebelumnya (berikut ini)” harus
tidak digunakan dalam paragraf pendapat jika paragraf penekanan
dicantumkan dalam laporan auditor. Paragraf penekanan tidak pernah
diharuskan. Paragraf penekanan dapat ditambahkan semata-mata karena
pertimbangan auditor. Contoh hal-hal yang menurut pertimbangan auditor
perlu mendapatkan penekanan adalah:
1) bahwa entitas adalah komponen dari perusahaan yang lebih besar;
2) bahwa entitas mempunyai transaksi signifikan dengan pihak yang
memiliki hubungan istimewa;
5.38 Auditing I 

3) peristiwa kemudian yang luar biasa;


4) masalah-masalah akuntansi, selain yang berkaitan dengan perubahan
dalam prinsip akuntansi, yang berdampak atas daya banding laporan
keuangan dengan laporan keuangan periode sebelumnya.

3. Pendapat Wajar dengan Pengecualian


Pendapat wajar dengan pengecualian diberikan auditor jika dari audit
yang telah dilaksanakan auditor menyimpulkan bahwa keseluruhan laporan
keuangan telah disajikan dengan wajar, kecuali untuk dampak hal yang
berkaitan dengan yang dikecualikan seperti pada keadaan yang dibahas
berikut ini.

a. Pembatasan lingkup audit


Pendapat wajar tanpa pengecualian dapat diberikan auditor jika audit
yang telah dilaksanakan berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan
Akuntan Indonesia serta memperoleh bukti yang memadai untuk mendukung
pendapatnya. Pada kenyataannya terkadang klien dan keadaan dapat
membuat suatu pembatasan terhadap lingkup audit seperti waktu pelaksanaan
audit, kegagalan memperoleh bukti kompeten yang cukup, atau
ketidakcukupan catatan akuntansi. Kondisi seperti ini memungkinkan auditor
harus mengungkapkan pengecualian di dalam pendapatnya atau pernyataan
tidak memberikan pendapat. Alasan pengecualian atau pernyataan tidak
memberikan pendapat harus dijelaskan oleh auditor dalam laporannya.
Dalam memutuskan untuk memberikan pendapat wajar dengan
pengecualian, auditor harus dapat menilai pentingnya prosedur audit yang
tidak dapat dilakukan akibat pembatasan lingkup tersebut terutama terhadap
pendapat yang diberikan. Penilaian ini dapat dipengaruhi oleh sifat dan
besarnya dampak yang mungkin timbul sebagai akibat hal yang dikecualikan
tersebut dan pentingnya bagi laporan keuangan. Jika dampak yang mungkin
timbul menyangkut banyak pos laporan keuangan, maka pentingnya hal yang
dikecualikan tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan jika hanya
menyangkut pos laporan keuangan yang lebih sedikit.
Pembatasan yang umum terhadap lingkup audit mencakup pengamatan
terhadap penghitungan fisik sediaan dan konfirmasi piutang melalui
komunikasi langsung dengan debitur klien. Pembatasan lain terhadap lingkup
audit yang umum adalah dalam akuntansi investasi jangka panjang, jika
auditor tidak memperoleh laporan keuangan dari pihak investee. Auditor
 EKSI4308/MODUL 5 5.39

harus memutuskan apakah ia memiliki bukti kompeten yang cukup untuk


memungkinkannya menyatakan pendapat wajar tanpa pengecualian atau
pendapat wajar dengan pengecualian, atau bahkan tidak memberikan
pendapat berdasarkan bukti kompeten yang diperoleh. Bila klien mengenakan
pembatasan yang secara signifikan membatasi lingkup audit, biasanya auditor
harus mempertimbangkan untuk menyatakan tidak memberikan pendapat.
Apabila pendapat wajar dengan pengecualian disebabkan oleh
pembatasan atas lingkup audit atau kurangnya bukti audit, situasi ini harus
dijelaskan dalam paragraf penjelasan yang dicantumkan sebelum paragraf
pendapat dalam laporan auditor. Pencantuman penjelasan lingkup audit di
dalam catatan atas laporan keuangan tidaklah tepat, karena penjelasan
lingkup audit merupakan tanggung jawab auditor, bukan tanggung jawab
klien. Auditor harus menjelaskan pengecualian dalam pendapatnya dikaitkan
dengan dampak yang mungkin timbul terhadap laporan keuangan dan bukan
terhadap pembatasan lingkup audit itu sendiri.
Pembatasan lingkup audit atau pengecualian lainnya membuat auditor
tidak mungkin menyelesaikan prosedur audit. Namun, jika ia dapat
memuaskan dirinya tentang sediaan atau piutang dengan menerapkan
prosedur alternatif berarti tidak terdapat pembatasan terhadap lingkup
pekerjaannya. Dalam laporannya, auditor tidak perlu mencantumkan
pengacuan ke penghilangan prosedur tersebut atau penggunaan prosedur
alternatif. Gambar 5.7 merupakan contoh laporan auditor dengan pendapat
wajar dengan pengecualian karena pembatasan yang berhubungan dengan
investasi dalam anak perusahaan di luar negeri. Penjelasan dan contoh
laporan audit pada kondisi pembatasan lingkup audit ini mengacu pada PSA
No. 29 SA Seksi 508 par. 22 -26).
Kondisi lain terkait dengan pembatasan lingkup audit, yaitu
ketidakpastian dan pembatasan terhadap lingkup audit. Ketidakpastian
mencakup, namun tidak terbatas pada, kontijensi sebagaimana yang
dijelaskan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan. Dalam
ketidakpastian seperti ini, bukti audit yang bersifat konklusif tentang hasil
akhir ketidakpastian tidak dapat diharapkan ada pada waktu audit karena
hasil dan bukti audit yang berkaitan bersifat masa depan. Manajemen
bertanggung jawab untuk melakukan estimasi terhadap dampak peristiwa
masa depan terhadap laporan keuangan. Manajemen juga menentukan bahwa
estimasi yang masuk akal tidak dapat dibuat. Selain itu, manajemen harus
membuat pengungkapan yang disyaratkan berdasarkan analisis manajemen
5.40 Auditing I 

terhadap kondisi yang ada yang telah sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum di Indonesia.
Suatu audit mencakup penaksiran tentang apakah bukti audit memadai
untuk mendukung analisis manajemen. Auditor juga mempertimbangkan
kecukupan audit didasarkan pada bukti audit yang tersedia atau harus
tersedia. Apabila setelah mempertimbangkan kondisi yang ada dan bukti
yang tersedia, auditor berkesimpulan bahwa bukti audit yang cukup
mendukung asersi manajemen tentang sifat hal yang berkaitan dengan suatu
ketidakpastian dan penyajian atau pengungkapannya dalam laporan
keuangan, auditor dapat memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian
sesuai keadaan tersebut. Sebaliknya, jika auditor tidak mampu memperoleh
bukti audit yang cukup untuk mendukung asersi manajemen tentang
ketidakpastian tersebut, auditor harus mempertimbangkan perlunya
menyatakan pendapat wajar dengan pengecualian atau pernyataan tidak
memberikan pendapat karena keterbatasan dalam lingkup audit (PSA No. 29
SA Seksi 508 par. 29 -32).
Pembatasan lingkup audit yang dapat dibuat oleh klien ataupun suatu
keadaan berbeda dengan perikatan dengan pelaporan terbatas. Auditor
mungkin diminta untuk melaporkan hasil audit atas salah satu unsur laporan
keuangan pokok dan tidak yang lain. Sebagai contoh, ia diminta untuk
melaporkan hasil audit atas neraca dan bukan atas laporan laba-rugi, laporan
perubahan ekuitas, atau laporan arus kas. Perikatan dengan pelaporan terbatas
tidak menyangkut pembatasan lingkup audit jika akses auditor terhadap
informasi yang mendasari laporan keuangan pokok tidak dibatasi dan jika ia
menerapkan semua prosedur audit yang dipandang perlu sesuai dengan
keadaan.
Perikatan dengan pelaporan terbatas menyangkut pembatasan tujuan
pelaporan, bukan pembatasan lingkup audit (PSA No. 29 SA Seksi 508 par.
33). Oleh karena auditor hanya diminta melaporkan hasil audit neraca saja,
auditor dapat menyatakan pendapat hanya atas neraca saja. Laporan auditor
dengan pendapat wajar tanpa pengecualian yang diberikan oleh auditor dalam
audit terhadap neraca saja (laporan ini disusun dengan asumsi bahwa auditor
telah memperoleh keyakinan terhadap konsistensi penerapan prinsip
akuntansi) dapat dilihat pada Gambar 5.8.
 EKSI4308/MODUL 5 5.41

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

Kepada Yth.
Dewan Komisaris
PT ABADI JAYA
Jl. Kenanga No. 88
Jakarta Utara

Kami telah mengaudit neraca perusahaan PT ABADI JAYA tanggal 31


Desember 2007 serta laporan laba-rugi, laporan perubahan ekuitas, dan
laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan
keuangan adalah tanggung jawab manajemen perusahaan. Tanggung
jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan
berdasarkan audit kami.

Kecuali seperti yang diuraikan dalam paragraf berikut ini, kami


melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan
Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan
dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan memadai
bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Audit meliputi
pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-
jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga meliputi
penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan
yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap penyajian laporan
keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa audit kami memberikan
dasar memadai untuk menyatakan pendapat.

Kami tidak dapat memperoleh laporan keuangan auditan oleh auditor


independen lain yang mendukung investasi Perusahaan dalam anak
perusahaan di luar negeri masing-masing sebesar Rp350.000.000.000,00
dan Rp500.000.000.000,00 dan pada tanggal 31 Desember 2007 dan 2006,
atau hak atas laba anak perusahaan sebesar Rp500.000.000,00 dan
Rp800.000.000,00 yang dicantumkan dalam laba bersih untuk tahun yang
berakhir pada tanggal-tanggal tersebut di atas, seperti yang dijelaskan pada
ekuitas dalam catatan atas laporan keuangan. Kami juga tidak dapat
memperoleh keyakinan atas nilai investasi dalam anak perusahaan di luar
negeri tersebut beserta hak atas labanya dengan prosedur audit kami.
5.42 Auditing I 

Menurut pendapat kami, kecuali untuk dampak penyesuaian tersebut, jika


ada, yang mungkin perlu dilakukan jika kami memeriksa bukti tentang
investasi di luar negeri dan labanya tersebut, laporan keuangan yang kami
sebut dalam paragraf pertama di atas menyajikan secara wajar, dalam
semua hal yang material, posisi keuangan perusahaan PT ABADI JAYA
tanggal 31 Desember 2007, dan 2006, dan hasil usaha, serta arus kas untuk
tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

Kantor Akuntan Publik


Dendy Putra, M.Acc., Akt

(Dendy Putra, M.Acc., Akt)


Reg. Neg. D-888888
NIAP: 09.0020.08

25 Februari 2012

Gambar 5.7.
Contoh Laporan Audit dengan Pendapat Wajar dengan Pengecualian karena
Pembatasan yang Berhubungan dengan Investasi dalam Anak Perusahaan di
Luar Negeri

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

Kepada Yth.
Dewan Komisaris
PT ABADI JAYA
Jl. Kenanga No. 88
Jakarta Utara

Kami telah mengaudit neraca perusahaan PT ABADI JAYA tanggal 31


Desember 2007. Laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen
perusahaan. Tanggung jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas
laporan keuangan berdasarkan audit kami.

Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan


Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami
merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan
memadai bahwa neraca bebas dari salah saji material. Audit meliputi
 EKSI4308/MODUL 5 5.43

pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-


jumlah dan pengungkapan dalam neraca. Audit juga meliputi penilaian
atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat
oleh manajemen, serta penilaian terhadap penyajian neraca secara
keseluruhan. Kami yakin bahwa audit kami memberikan dasar memadai
untuk menyatakan pendapat.

Menurut pendapat kami, neraca yang kami sebutkan di atas menyajikan


secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan perusahaan
PT ABADI JAYA tanggal 31 Desember 2007 sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

Kantor Akuntan Publik


Dendy Putra, M.Acc., Akt

(Dendy Putra, M.Acc., Akt)


Reg. Neg. D-888888
NIAP: 09.0020.08

25 Februari 2012

Gambar 5.8.
Contoh Laporan Audit dengan Pendapat Wajar tanpa Pengecualian atas
Neraca

b. Penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia


Apabila laporan keuangan secara material terpengaruh oleh suatu
penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia dan
auditor telah mengaudit laporan keuangan tersebut berdasarkan standar
auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia, maka ia harus
menyatakan pendapat wajar dengan pengecualian. Dalam hal penyimpangan
yang material, auditor juga dapat memberikan pendapat tidak wajar jika
laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil
usaha, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di
Indonesia. Dasar yang melandasi pendapat harus dinyatakan dalam laporan
auditor.
Pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar dapat
diberikan auditor dengan mempertimbangkan apakah dampak penyimpangan
dari prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia cukup material atau
5.44 Auditing I 

tidak dalam nilai Rupiah. Materialitas tidak hanya tergantung pada nilai
Rupiah tetapi juga pertimbangan signifikan atau tidaknya unsur bagi suatu
entitas (sebagai contoh, sediaan bagi perusahaan manufaktur), luasnya akibat
salah saji (seperti apakah suatu salah saji berdampak terhadap jumlah dan
penyajian berbagai pos laporan keuangan), dan dampak salah saji tersebut
terhadap laporan keuangan secara keseluruhan merupakan faktor yang harus
diperhitungkan dalam mempertimbangkan materialitas.
Contoh Gambar 5.9 merupakan contoh laporan audit dengan pendapat
wajar dengan pengecualian penggunaan prinsip akuntansi yang menyimpang
dari prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Pada laporan auditor
ini, auditor telah mempertimbangkan dampak penyimpangan prinsip
akuntansi dan tidak memberikan pendapat tidak wajar.

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

Kepada Yth.
Dewan Komisaris
PT ABADI JAYA
Jl. Kenanga No. 88
Jakarta Utara

Kami telah mengaudit neraca perusahaan PT ABADI JAYA tanggal 31


Desember 2007 serta laporan laba-rugi, laporan perubahan ekuitas, dan
laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan
keuangan adalah tanggung jawab manajemen perusahaan. Tanggung
jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan
berdasarkan audit kami.

Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan


Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami
merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan
memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu
audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang
mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan.
Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan
estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap
penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa, audit
kami memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat.
 EKSI4308/MODUL 5 5.45

Perusahaan tidak mengakui aktiva dan kewajiban sewa guna usaha


tertentu dalam neraca terlampir, dan yang menurut pendapat kami, jumlah
tersebut seharusnya diakui agar sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum di Indonesia. Jika kewajiban sewa guna ini diakui, aktiva
tetap dapat bertambah sebesar Rp500.000.000 dan Rp800.000.000,
kewajiban jangka panjang sebesar Rp500.000.000 dan Rp800.000.000,
dan saldo laba masing-masing sebesar Rp100.000.000 dan Rp200.000.000
pada tanggal 31 Desember 2007 dan 2006. Di samping itu, laba bersih
dapat bertambah masing-masing sebesar Rp100.000.000 dan
Rp200.000.000 dan laba per saham juga dapat bertambah (berkurang)
masing-masing sebesar Rp100 dan Rp 200 untuk tahun yang berakhir pada
tanggal-tanggal tersebut.

Menurut pendapat kami, kecuali untuk dampak tidak diakuinya aktiva dan
kewajiban sewa guna usaha tertentu seperti yang kami uraikan dalam
paragraf di atas, laporan keuangan yang kami sebut di atas menyajikan
secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan perusahaan
PT ABADI JAYA tanggal 31 Desember 2007 dan 2006, dan hasil usaha,
serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

Kantor Akuntan Publik


Dendy Putra, M.Acc., Akt

(Dendy Putra, M.Acc., Akt)


Reg. Neg. D-888888
NIAP: 09.0020.08

25 Februari 2012

Gambar 5.9.
Contoh Laporan Audit dengan Pendapat Wajar dengan Pengecualian
Penggunaan Prinsip Akuntansi yang Menyimpang dari Prinsip Akuntansi yang
Berlaku Umum di Indonesia

Penyimpangan prinsip akuntansi lainnya yaitu adanya pengungkapan


yang tidak cukup. Informasi penting dalam laporan keuangan harus disajikan
secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di
Indonesia (termasuk catatan atas laporan keuangan yang bersangkutan).
5.46 Auditing I 

Apabila informasi penting disajikan di tempat lain dalam laporan kepada


pemegang saham, atau dalam prospektus, surat kuasa (proxy statement), atau
laporan semacam yang lain, informasi harus diacu dalam laporan keuangan.
Jika laporan keuangan, termasuk catatan atas laporan keuangan, tidak
menjelaskan informasi penting tersebut yang diharuskan oleh prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, auditor harus menyatakan
pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar. Pendapat ini
diberikan karena adanya penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia dan keharusan bagi auditor untuk menyediakan informasi
tersebut dalam laporan auditor bila secara praktis untuk dilaksanakan.
Pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar dapat
diberikan kecuali jika tidak disajikannya informasi tersebut dalam laporan
auditor diakui sesuai dengan Pernyataan Standar Auditing khusus (PSA No.
29 SA Seksi 508 par. 41). Laporan auditor dengan pendapat wajar dengan
pengecualian karena adanya pengungkapan yang tidak cukup dapat dilihat
pada Gambar 5.10. Pada laporan auditor ini, auditor telah
mempertimbangkan bahwa dampak pengungkapan yang tidak cukup ini tidak
mengakibatkan auditor memberikan pendapat tidak wajar.
Kasus lainnya jika perusahaan menerbitkan laporan keuangan untuk
diaudit untuk menyajikan posisi keuangan dan hasil usaha namun tidak
menyajikan laporan arus kas, auditor biasanya berkesimpulan bahwa tidak
disajikannya laporan arus kas tersebut memerlukan pengecualian dalam
pendapat auditor. Auditor tidak diharuskan untuk membuat laporan keuangan
pokok (seperti, laporan arus kas untuk satu atau lebih periode) dan
memasukkannya dalam laporan auditor, jika manajemen perusahaan menolak
untuk menyajikan laporan tersebut. Oleh karena itu, auditor harus
memberikan pengecualian dalam laporannya seperti dalam contoh Gambar
5.11 (PSA No. 29 SA Seksi 508 par. 43-44).

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

Kepada Yth.
Dewan Komisaris
PT ABADI JAYA
Jl. Kenanga No. 88
Jakarta Utara

Kami telah mengaudit neraca perusahaan PT. ABADI JAYA tanggal 31


Desember 2007 serta laporan laba-rugi, laporan perubahan ekuitas, dan
 EKSI4308/MODUL 5 5.47

laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan
keuangan adalah tanggung jawab manajemen perusahaan. Tanggung
jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan
berdasarkan audit kami.

Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan


Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami
merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan
memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu
audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang
mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan.
Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan
estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap
penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa, audit
kami memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat. Laporan
keuangan perusahaan tidak mengungkapkan tentang pihak-pihak istimewa
dan transaksi dengan pihak istimewa. Menurut pendapat kami,
pengungkapan informasi ini diwajibkan oleh prinsip akuntansi yang
berlaku umum di Indonesia.

Menurut pendapat kami, kecuali tidak disajikannya informasi yang


diuraikan dalam paragraf di atas, laporan keuangan yang kami sebut di
atas menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi
keuangan perusahaan PT ABADI JAYA tanggal 31 Desember 2007 dan
2006, dan hasil usaha, serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada
tanggal-tanggal tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia.

Kantor Akuntan Publik


Dendy Putra, M.Acc., Akt

(Dendy Putra, M.Acc., Akt)


Reg. Neg. D-888888
NIAP: 09.0020.08

25 Februari 2012

Gambar 5.10.
Contoh Laporan Auditor dengan Pendapat Wajar dengan Pengecualian
karena Pengungkapan yang Tidak Cukup
5.48 Auditing I 

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

Kepada Yth.
Dewan Komisaris
PT ABADI JAYA
Jl. Kenanga No. 88
Jakarta Utara

Kami telah mengaudit neraca perusahaan PT ABADI JAYA tanggal 31


Desember 2007 dan 2006, laporan laba-rugi, dan laporan perubahan
ekuitas, untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. Laporan
keuangan adalah tanggung jawab manajemen perusahaan. Tanggung
jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan
berdasarkan audit kami.

Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan


Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami
merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan
memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu
audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang
mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan.
Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan
estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap
penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa, audit
kami memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat.
Perusahaan menolak menyajikan laporan arus kas untuk tahun yang
berakhir pada tanggal 31 Desember 2007 dan 2006. Penyajian laporan
yang meringkas kegiatan operasi, investasi, dan pendanaan perusahaan
tersebut diharuskan oleh prinsip akuntansi yang berlaku umum di
Indonesia.

Menurut pendapat kami, kecuali tidak disajikannya laporan arus kas yang
mengakibatkan tidak lengkapnya penyajian seperti yang diuraikan dalam
paragraf di atas, laporan keuangan yang kami sebut di atas menyajikan
secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan perusahaan
PT ABADI JAYA tanggal 31 Desember 2007, dan 2006, dan hasil usaha
 EKSI4308/MODUL 5 5.49

untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut sesuai dengan


prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

Kantor Akuntan Publik


Dendy Putra, M.Acc., Akt

(Dendy Putra, M.Acc., Akt)


Reg. Neg. D-888888
NIAP: 09.0020.08

25 Februari 2012

Gambar 5.11.
Contoh Laporan Auditor dengan Pendapat Wajar dengan Pengecualian
karena Laporan Arus Kas Tidak Disajikan oleh Manajemen

Penyimpangan prinsip akuntansi juga mencakup penyimpangan dari


prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia yang menyangkut risiko
atau ketidakpastian, dan pertimbangan materialitas. Penyimpangan dari
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia yang menyangkut risiko
atau ketidakpastian umumnya dikelompokkan ke dalam satu di antara tiga
golongan:
1) Pengungkapan yang tidak memadai
Menurut PSA No. 29 SA Seksi 508 par. 46-47, apabila auditor
berkesimpulan bahwa hal yang berkaitan dengan risiko atau
ketidakpastian tidak diungkapkan secara memadai dalam laporan
keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di
Indonesia, auditor harus menyatakan pendapat wajar dengan
pengecualian atau pendapat tidak wajar.
Auditor harus mempertimbangkan materialitas dalam mengevaluasi
kecukupan pengungkapan hal-hal yang berkaitan dengan risiko atau
ketidakpastian dalam laporan keuangan dalam hubungannya dengan
laporan keuangan secara keseluruhan. Pertimbangan auditor tentang
materialitas merupakan masalah pertimbangan profesional dan
dipengaruhi oleh persepsinya tentang kebutuhan seorang yang rasional
yang semestinya meletakkan kepercayaannya terhadap laporan
5.50 Auditing I 

keuangan. Pertimbangan materialitas berkaitan dengan risiko atau


ketidakpastian dilakukan dengan mempertimbangkan keadaan yang
melingkupinya.
Auditor mengevaluasi materialitas kerugian yang kemungkinan dapat
terjadi secara masuk akal pada saat penyelesaian ketidakpastian, baik
secara individual maupun secara gabungan. Auditor melaksanakan
evaluasi terhadap kerugian yang mungkin secara masuk akal terjadi
tanpa mempertimbangkan evaluasinya terhadap materialitas salah saji
yang diketahuinya dan yang mungkin dalam laporan keuangan.

2) Ketidaktepatan prinsip akuntansi


Kebijakan akuntansi tidak pernah lepas dari adanya suatu estimasi.
Sebagai contoh, estimasi biasanya dibuat tentang masa manfaat aktiva
yang disusut, dapat atau tidak dapat tertagihnya piutang usaha, nilai
realisasi bersih pos sediaan, penyisihan untuk jaminan produk. Standar
akuntansi keuangan yang berkaitan dengan kontijensi menjelaskan
situasi yang di dalamnya terdapat suatu ketidakmampuan untuk
membuat estimasi masuk akal dapat menimbulkan pertanyaan tentang
ketepatan prinsip akuntansi yang digunakan. Dalam situasi tersebut atau
yang lain, jika auditor berkesimpulan bahwa prinsip akuntansi yang
digunakan menyebabkan laporan keuangan salah disajikan secara
material, ia harus menyatakan pendapat wajar dengan pengecualian atau
pendapat tidak wajar. Penjelasan kondisi ini sesuai dengan PSA No. 29
SA Seksi 508 par. 48.

3) Estimasi akuntansi yang tidak masuk akal


Terkadang auditor tidak dapat memuaskan dirinya tentang kewajaran
estimasi manajemen tentang suatu dampak peristiwa masa depan dengan
mempertimbangkan berbagai tipe bukti audit, termasuk pengalaman
historis entitas. Apabila setelah mempertimbangkan standar auditing
terkait, auditor berkesimpulan bahwa estimasi manajemen tidak masuk
akal dan menyebabkan laporan keuangan disajikan salah secara material,
ia harus menyatakan pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat
tidak wajar. Standar auditing terkait dengan materialitas dapat dilihat
pada PSA No. 25 SA Seksi 312 tentang Risiko Audit dan Materialitas
dalam Pelaksanaan Audit dan PSA No. 37 SA Seksi 342 tentang
Auditing atas Estimasi Akuntansi (PSA No. 29 SA Seksi 508 par. 49).
 EKSI4308/MODUL 5 5.51

Auditor harus berhati-hati dan menggunakan kompetensi profesionalnya


dalam menilai atas suatu penyimpangan prinsip akuntansi apakah merupakan
suatu penyimpangan ataukah perubahan prinsip akuntansi yang digunakan.
Auditor harus menilai perubahan dalam prinsip akuntansi agar ia mengetahui
(a) prinsip akuntansi yang baru diterapkan adalah prinsip akuntansi yang
berlaku umum di Indonesia, (b) metode akuntansi untuk memperlakukan
dampak perubahan tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia, (c) alasan yang mendasari perubahan akuntansi adalah
beralasan.
Apabila perubahan akuntansi perusahaan tidak memenuhi kondisi-
kondisi tersebut di atas, auditor harus menjelaskan dalam laporan auditnya
serta pendapat auditor yang berisi pengecualian. Auditor harus menyatakan
pendapat wajar dengan pengecualian atau, jika dampak perubahan tersebut
cukup material, auditor harus menyatakan pendapat tidak wajar atas laporan
keuangan. Jika manajemen tidak memberikan alasan yang masuk akal
tentang perubahan prinsip akuntansi yang diterapkan, auditor harus
menyatakan pengecualian terhadap perubahan akuntansi tanpa alasan yang
masuk akal tersebut. Gambar 5.12 berisi contoh laporan auditor pendapat
wajar dengan pengecualian dengan alasan manajemen yang tidak masuk akal
untuk suatu perubahan akuntansi.

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

Kepada Yth.
Dewan Komisaris
PT ABADI JAYA
Jl. Kenanga No. 88
Jakarta Utara

Kami telah mengaudit neraca perusahaan PT ABADI JAYA tanggal 31


Desember 2007 serta laporan laba-rugi, laporan perubahan ekuitas, dan
laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan
keuangan adalah tanggung jawab manajemen perusahaan. Tanggung
jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan
berdasarkan audit kami.

Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan


Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami
5.52 Auditing I 

merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan


memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu
audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang
mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan.
Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan
estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap
penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa, audit
kami memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat.

Seperti dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan, dalam tahun 2007
perusahaan menerapkan metode akuntansi masuk pertama, keluar pertama
untuk sediaannya, yang sebelumnya perusahaan menggunakan metode
masuk terakhir, keluar pertama. Meskipun penggunaan metode masuk
pertama, keluar pertama sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia, menurut pendapat kami perusahaan tidak memberikan
alasan yang masuk akal dalam melakukan perubahan ini seperti yang
diharuskan oleh prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

Menurut pendapat kami, kecuali perubahan akuntansi seperti yang


diuraikan dalam paragraf di atas, laporan keuangan yang kami sebut di
atas menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi
keuangan perusahaan PT. ABADI JAYA tanggal 31 Desember 2007, dan
2006, dan hasil usaha, serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada
tanggal-tanggal tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia.

Kantor Akuntan Publik


Dendy Putra, M.Acc., Akt

(Dendy Putra, M.Acc., Akt)


Reg. Neg. D-888888
NIAP: 09.0020.08

25 Februari 2012

Gambar 5.12.
Contoh Laporan Auditor dengan Pendapat Wajar dengan Pengecualian
dengan Alasan Manajemen yang Tidak Masuk Akal untuk Suatu Perubahan
Akuntansi
 EKSI4308/MODUL 5 5.53

Seperti sebelumnya dipaparkan, perubahan akuntansi dapat membuat


auditor menyatakan pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak
wajar atas kesesuaian laporan keuangan dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum di Indonesia. Dalam tahun terjadinya perubahan, auditor harus
mempertimbangkan kemungkinan dampak perubahan tersebut jika
melaporkan laporan keuangan entitas untuk tahun berikutnya (PSA No. 29
SA Seksi 508 par. 50-53). Jika laporan keuangan untuk tahun terjadinya
perubahan disajikan dan dilaporkan bersama dengan laporan keuangan tahun
berikutnya, laporan auditor harus menjelaskan keberatan yang berkaitan
dengan laporan keuangan tahun terjadinya perubahan.
Selain menjelaskan keberatan, auditor juga harus terus menyatakan
pengecualian atas laporan keuangan tahun terjadinya perubahan selama
laporan tersebut disajikan atau dilaporkan. Namun, pengecualian auditor
tersebut berkaitan dengan perubahan akuntansi dan tidak berdampak terhadap
status prinsip akuntansi yang baru diterapkan sebagai prinsip akuntansi yang
berlaku umum di Indonesia. Oleh karena itu, sementara menyatakan
pengecualian dalam tahun terjadinya perubahan, pendapat auditor atas
laporan keuangan tahun berikutnya tidak perlu menyatakan pengecualian
terhadap penggunaan prinsip akuntansi yang baru diterapkan (PSA No. 29
SA Seksi 508 par. 57).
Perubahan akuntansi dapat berupa penggunaan prinsip akuntansi yang
bukan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Bila suatu entitas
menerapkan prinsip akuntansi yang bukan prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia, penggunaan seterusnya mungkin mempunyai dampak
material terhadap laporan keuangan tahun berikutnya yang dilaporkan oleh
auditor. Dalam situasi ini, auditor harus menyatakan pendapat wajar dengan
pengecualian atau pendapat tidak wajar, tergantung materialitas
penyimpangan dalam hubungannya dengan laporan keuangan tahun
berikutnya.
Situasi lain yang dapat memberikan pertimbangan auditor untuk
menyatakan pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar
seperti jika suatu laporan keuangan tahun-tahun berikutnya memuat debit dan
kredit yang tidak semestinya berpengaruh material terhadap laporan
keuangan tersebut. Keadaan ini dapat terjadi ketika suatu entitas
memperlakukan dampak akuntansi secara prospektif padahal prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia mengharuskan penyajian kembali
5.54 Auditing I 

atau pengakuan dampak kumulatif perubahan dalam tahun terjadinya


perubahan. (PSA No. 29 SA Seksi 508 par. 55 dan 56).

4. Pendapat Tidak Wajar


Pendapat tidak wajar dapat diberikan auditor untuk menyatakan bahwa
laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil
usaha, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di
Indonesia. Laporan keuangan yang dimaksud secara keseluruhan tidak
disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di
Indonesia menurut pertimbangan auditor. Auditor harus menjelaskan dalam
paragraf terpisah sebelum paragraf pendapat dalam laporannya. Dalam
paragraf terpisah tersebut dicantumkan:
a. semua alasan yang mendukung pendapat tidak wajar, dan
b. dampak utama hal yang menyebabkan pemberian pendapat tidak wajar
terhadap posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas, jika secara praktis
untuk dilaksanakan. Jika dampak tersebut tidak dapat ditentukan secara
beralasan, laporan auditor harus menyatakan hal itu.

Jika pendapat tidak wajar dinyatakan oleh auditor, paragraf pendapat


harus berisi perujukan langsung ke paragraf terpisah yang menjelaskan dasar
untuk pendapat tidak wajar tersebut (Gambar 5.13). Penjelasan atas pendapat
tidak wajar dan contoh pendapat tidak wajar mengacu pada PSA No. 29 SA
Seksi 508 par. 58-60.

5. Pernyataan Tidak Memberikan Pendapat


Auditor dapat memberikan pernyataan tidak memberikan pendapat atas
laporan keuangan jika ia tidak dapat merumuskan pendapat atau tidak
merumuskan suatu pendapat tentang kewajaran laporan keuangan sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Jika auditor menyatakan tidak
memberikan pendapat, laporan auditor harus memberikan semua alasan
substantif yang mendukung pernyataannya tersebut.
Pernyataan tidak memberikan pendapat cocok jika auditor tidak
melaksanakan audit yang lingkupnya memadai untuk memungkinkannya
memberikan pendapat atas laporan keuangan. Pernyataan tidak memberikan
pendapat harus tidak diberikan karena auditor yakin, atas dasar auditnya,
bahwa terdapat penyimpangan material dari prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia seperti telah dijelaskan pada pendapat wajar dengan
 EKSI4308/MODUL 5 5.55

pengecualian. Jika pernyataan tidak memberikan pendapat disebabkan


pembatasan lingkup audit, auditor harus menunjukkan dalam paragraf
terpisah semua alasan substantif yang mendukung pernyataannya tersebut.

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

Kepada Yth.
Dewan Komisaris
PT ABADI JAYA
Jl. Kenanga No. 88
Jakarta Utara

Kami telah mengaudit neraca perusahaan PT ABADI JAYA tanggal 31


Desember 2007 serta laporan laba-rugi, laporan perubahan ekuitas, dan
laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan
keuangan adalah tanggung jawab manajemen perusahaan. Tanggung
jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan
berdasarkan audit kami.

Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan


Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami
merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan
memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu
audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang
mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan.
Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan
estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap
penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa, audit
kami memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat.

Sebagaimana telah dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan,


Perusahaan mencantumkan akun mesin dan peralatan pada nilai yang
ditetapkan oleh manajemen, dan menghitung penyusutannya berdasarkan
nilai tersebut. Prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia
mengharuskan penyajian aktiva tetap pada kos atau nilai revaluasi
berdasarkan peraturan perundang-undangan, dikurangi dengan penyusutan
5.56 Auditing I 

akumulasian yang dihitung berdasarkan nilai tersebut. Karena


penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia
seperti yang diuraikan di atas, pada tanggal 31 Desember 2007 dan 2006,
saldo sediaan lebih tinggi sebesar Rp 500.000.000 dan Rp 200.000.000
dengan diperhitungkannya biaya penyusutan ke dalam biaya overhead
pabrik dibandingkan jika disajikan atas dasar kosnya; dan aktiva tetap
dikurangi penyusutan akumulasinya disajikan lebih tinggi Rp80.000.000
dan Rp100.000.000 dibandingkan jika disajikan atas dasar kosnya.

Menurut pendapat kami, karena dampak hal yang kami uraikan dalam
paragraf di atas, laporan keuangan yang kami sebut di atas menyajikan
secara wajar, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di
Indonesia, posisi keuangan Perusahaan PT. ABADI JAYA tanggal 31
Desember 2007 dan 2006, atau hasil usaha, atau arus kas untuk tahun yang
berakhir pada tanggal-tanggal tersebut.

Kantor Akuntan Publik


Dendy Putra, M.Acc., Akt

(Dendy Putra, M.Acc., Akt)


Reg. Neg. D-888888
NIAP: 09.0020.08

25 Februari 2012

Gambar 5.13.
Contoh Laporan Auditor dengan Pendapat Tidak Wajar
 EKSI4308/MODUL 5 5.57

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

Kepada Yth.
Dewan Komisaris
PT ABADI JAYA
Jl. Kenanga No. 88
Jakarta Utara

Kami telah membuat perikatan untuk mengaudit neraca perusahaan PT


ABADI JAYA tanggal 31 Desember 2007 serta laporan laba-rugi, laporan
perubahan ekuitas, dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada
tanggal-tanggal tersebut. Laporan keuangan adalah tanggung jawab
manajemen perusahaan.

Perusahaan tidak melakukan penghitungan fisik sediaan dalam tahun


2007, atau 2006, yang dicantumkan dalam laporan keuangan sebesar Rp
1.000.000.000 pada tanggal 31 Desember 2007 dan Rp 800.000.000 pada
tanggal 31 Desember 2006. Lebih lanjut, bukti-bukti yang mendukung kos
aktiva tetap yang dibeli sebelum tanggal 31 Desember 2006 tidak lagi
tersedia dalam arsip perusahaan. Catatan perusahaan tidak memungkinkan
dilaksanakannya penerapan prosedur audit lain terhadap sediaan dan
aktiva tetap.

Karena perusahaan tidak melaksanakan penghitungan fisik sediaan dan


kami tidak dapat menerapkan prosedur audit untuk meyakinkan kami atas
kuantitas sediaan dan kos aktiva tetap, lingkup audit kami tidak cukup
untuk memungkinkan kami menyatakan, dan kami tidak menyatakan,
pendapat atas laporan keuangan.

Kantor Akuntan Publik


Dendy Putra, M.Acc., Akt

(Dendy Putra, M.Acc., Akt)


Reg. Neg. D-888888
NIAP: 09.0020.08

25 Februari 2012

Gambar 5.14.
Contoh Laporan Auditor dengan Pernyataan Tidak Memberikan Pendapat
5.58 Auditing I 

Untuk kondisi yang disebabkan pembatasan lingkup audit, auditor harus


menyatakan bahwa lingkup auditnya tidak memadai untuk menyatakan
pendapat atas laporan keuangan. Auditor tidak harus menujukan prosedur
yang dilaksanakan dan tidak harus menjelaskan karakteristik auditnya dalam
satu paragraf (yaitu, paragraf lingkup audit dalam laporan auditor bentuk
baku). Jika auditor menjelaskan bahwa auditnya dilaksanakan berdasarkan
standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia, tindakan ini
dapat mengakibatkan kaburnya pernyataan tidak memberikan pendapat.
Sebagai tambahan, ia harus menjelaskan keberatan lain yang berkaitan
dengan kewajaran penyajian laporan keuangan berdasarkan prinsip akuntansi
yang berlaku umum di Indonesia (PSA No. 29 SA Seksi 508 par. 61-62).
Contoh laporan auditor yang memuat pernyataan tidak memberikan pendapat
oleh auditor ditunjukkan pada Gambar 5.14. Contoh laporan auditor ini
sesuai dengan PSA No. 29 SA Seksi 508 tentang Laporan Auditor atas
Laporan Keuangan Auditan.

B. PENUTUP

Laporan auditor merupakan suatu media yang sangat penting dalam


akhir pelaksanaan audit karena mencakup pernyataan pendapat auditor serta
berbagai temuan yang mendukung pernyataan pendapat tersebut untuk
ditujukan pada pihak-pihak yang berkepentingan dengan simpulan laporan
keuangan auditan. Pernyataan pendapat sangat penting karena dalam
pelaksanaan audit, auditor tidak bertanggung jawab atas laporan keuangan
tetapi hanya bertanggung jawab atas opini atau pendapat atas laporan
keuangan. Laporan keuangan menjadi tanggung jawab manajemen. Untuk
menyatakan pendapat, auditor harus memperoleh bukti kompeten yang cukup
mendukung pernyataan pendapat. Laporan auditor bentuk baku harus
memenuhi beberapa unsur pokok laporan audit yang mencakup independensi
dan tanggung jawab auditor atas pernyataan pendapat.
Berbagai pendapat yang dapat diberikan auditor yaitu pendapat wajar
tanpa pengecualian (Unqualified Opinion), pendapat wajar tanpa
pengecualian dengan bahasa penjelasan ditambahkan dalam laporan auditor
bentuk baku (Unqualified Opinion with Explanatory Paragraph/Language),
pendapat wajar dengan pengecualian (Qualified Opinion), pendapat tidak
wajar (Adverse Opinion) dan pernyataan tidak memberikan pendapat
(Disclaimer Opinion). Auditor memberikan pendapat atas laporan keuangan
 EKSI4308/MODUL 5 5.59

berdasarkan bukti kompeten memadai yang diperoleh dari pelaksanaan audit.


Auditor harus menggunakan pertimbangan profesionalnya ketika menghadapi
situasi khusus yang dapat mempengaruhi pendapatnya seperti adanya
pembatasan lingkup audit, penyimpangan prinsip akuntansi, suatu
ketidakkonsistenan dan situasi lain yang mempengaruhi laporan keuangan
secara keseluruhan.

L AT IH AN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerjakanlah latihan berikut!

1) Sebutkan isi unsur pokok laporan auditor bentuk baku berdasarkan


standar auditing yang berlaku di Indonesia!
2) Mengapa pada laporan auditor independen, judul laporan harus
mencakup kata independen?
3) Sebutkan isi paragraf pendahuluan dalam laporan auditor independen!
4) Mengapa tanggal laporan audit menjadi salah satu unsur penting dalam
penerbitan laporan auditor independen?
5) Buatlah contoh laporan auditor baku untuk laporan keuangan
komparatif!
6) Dalam keadaan adanya bagian audit anak perusahaan dilaksanakan oleh
auditor independen lain, bagaimana kaitan tanggung jawab auditor
dengan keputusan pengacuan yang dapat dilakukannya atas pekerjaan
yang dilakukan auditor independen lain? Jelaskan dengan singkat!
7) Sebutkan beberapa keadaan yang mendorong auditor utama tidak
mengacu pada audit yang dilakukan auditor lain!
8) Jelaskan makna konsistensi dalam laporan auditor bentuk baku!
9) Dalam memutuskan pendapat wajar dengan pengecualian terkait
pembatasan lingkup audit, hal apa yang harus dipertimbangkan auditor
terkait dampak laporan keuangan atas pembatasan tersebut? Jelaskan
dengan singkat!
10) Buatlah contoh laporan auditor independen dengan pendapat wajar tanpa
pengecualian atas suatu perikatan dengan pelaporan terbatas (neraca)!
5.60 Auditing I 

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Dalam PSA No. 29 SA Seksi 508 paragraf 03 menjelaskan Laporan


Auditor Atas Laporan Keuangan Auditan dijelaskan bahwa laporan
auditor bentuk baku harus mencakup unsur pokok laporan auditor bentuk
baku adalah sebagai berikut.
a. Suatu judul yang memuat kata independen.
b. Suatu pernyataan bahwa laporan keuangan yang disebutkan dalam
laporan auditor telah diaudit oleh auditor.
c. Suatu pernyataan bahwa laporan keuangan adalah tanggung jawab
manajemen perusahaan dan tanggung jawab auditor terletak pada
pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan atas
auditnya.
d. Suatu pernyataan bahwa audit dilaksanakan berdasarkan standar
auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia.
e. Suatu pernyataan bahwa standar auditing tersebut mengharuskan
auditor merencanakan dan melaksanakan auditnya agar memperoleh
keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji
material.
f. Suatu pernyataan bahwa audit meliputi:
(1) pemeriksaan (examination), atas dasar pengujian, bukti-bukti
yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam
laporan keuangan;
(2) penentuan prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi-
estimasi signifikan yang dibuat manajemen;
(3) penilaian penyajian laporan keuangan secara keseluruhan.
g. Suatu pernyataan bahwa auditor yakin bahwa audit yang
dilaksanakan memberikan dasar memadai untuk memberikan
pendapat.
h. Suatu pendapat terhadap apakah laporan keuangan menyajikan
secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan
perusahaan pada tanggal neraca dan hasil usaha dan arus kas untuk
periode yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
i. Tanda tangan, nama rekan, nomor izin akuntan publik, nomor izin
usaha kantor akuntan publik.
j. Tanggal laporan auditor.
 EKSI4308/MODUL 5 5.61

2) Laporan auditor harus diberi judul yang mengandung kata independen.


Kewajiban mencantumkan kata independen dimaksudkan untuk
memberi tahu kepada para pemakai laporan bahwa audit tersebut dalam
segala aspeknya dilaksanakan secara tidak memihak.

3) Paragraf pendahuluan laporan auditor independen memuat tiga hal,


pertama, laporan itu membuat suatu pernyataan sederhana bahwa kantor
akuntan publik bersangkutan telah melaksanakan audit. Pernyataan ini
dibuat untuk membedakan laporan audit dari laporan kompilasi atau
laporan review. Kedua, paragraf ini menyatakan laporan keuangan yang
telah diaudit, termasuk tanggal neraca serta periode akuntansi untuk
laporan laba rugi dan laporan arus kas. Kata-kata tentang laporan
keuangan dalam laporan audit harus identik dengan yang digunakan oleh
manajemen dalam laporan keuangan tersebut Ketiga, paragraf
pendahuluan menyatakan bahwa laporan keuangan merupakan tanggung
jawab manajemen dan bahwa tanggung jawab auditor adalah
menyatakan pendapat atas laporan keuangan itu berdasarkan audit.
Tujuan dari pernyataan-pernyataan ini adalah untuk mengomunikasikan
bahwa manajemen bertanggung jawab atas pemilihan prinsip-prinsip
akuntansi yang berlaku umum yang tepat, dan membuat pengukuran
serta pengungkapan dalam menerapkan prinsip-prinsip tersebut dan
untuk mengklarifikasi peran manajemen serta auditor.

4) Tanggal laporan audit merupakan hal yang penting bagi auditor dan
pemakai laporan karena menunjukkan hari terakhir dari tanggung jawab
auditor untuk me-review atas peristiwa penting yang terjadi setelah
tanggal laporan keuangan.

5) Contoh laporan auditor untuk laporan keuangan komparatif


5.62 Auditing I 

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

Kepada Yth.
Dewan Komisaris
PT SENANG SELALU
Jl. Melati No. 999
Jakarta Utara

Kami telah mengaudit neraca perusahaan PT SENANG SELALU tanggal


31 Desember 2007 dan 2006, serta laporan laba-rugi, laporan perubahan
ekuitas, dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal-
tanggal tersebut. Laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen
perusahaan. Tanggung jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas
laporan keuangan berdasarkan audit kami.

Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan


Ikatan Akuntansi Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami
merencanakan dan melaksanakan audit agar memperoleh keyakinan
memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu
audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang
mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan.
Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan
estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap
penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa audit
kami memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat

Menurut pendapat kami, laporan keuangan yang kami sebut di atas


menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan
perusahaan PT ABADI JAYA tanggal 31 Desember 2007, dan 2006, dan
hasil usaha, serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal
tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
 EKSI4308/MODUL 5 5.63

Kantor Akuntan Publik


Deny Putra, M.Acc., Akt

(Deny Putra, M.Acc., Akt)


Reg. Neg. D-898989
NIAP: 09.0020.08

25 Februari 2012

6) Auditor utama harus menentukan apakah ia harus mengacu atau tidak


mengacu pada bagian audit yang dilaksanakan auditor lain dalam
laporannya. Jika auditor utama memutuskan untuk memikul tanggung
jawab atas pekerjaan auditor lain, sepanjang pekerjaan tersebut berkaitan
dengan pernyataan pendapat auditor utama atas laporan keuangan secara
keseluruhan, tidak ada pengacuan yang harus dibuat terhadap pekerjaan
atau laporan auditor lain. Sebaliknya, jika auditor utama memutuskan
untuk tidak memikul tanggung jawab tersebut, laporannya harus
menunjukkan pengacuan ke audit yang dilaksanakan oleh auditor lain
dan harus menunjukkan secara jelas pembagian tanggung jawab antara
auditor utama dan auditor lain dalam menyatakan pendapatnya atas
laporan keuangan. Tanpa memperhatikan keputusan auditor utama,
auditor lain tetap bertanggung jawab atas pelaksanaan pekerjaannya dan
atas laporannya.

7) Keadaan-keadaan dalam hal auditor utama tidak mengacu pada audit


yang dilakukan auditor lain, yaitu bila:
a. bagian audit yang dilaksanakan oleh auditor independen lain yang
merupakan kantor akuntan asosiasi atau koresponden dan yang
pekerjaannya dapat diterima oleh auditor utama berdasarkan
pengetahuannya terhadap standar profesional dan kompetensi kantor
auditor lain tersebut; atau
5.64 Auditing I 

b. auditor lain ditunjuk oleh auditor utama dan pekerjaan auditor lain
dilakukan di bawah bimbingan dan pengawasan auditor utama; atau
c. auditor utama, baik ia memilih auditor lain atau tidak, mengambil
tindakan yang dianggap perlu untuk meyakinkan dirinya tentang
audit yang dilakukan oleh auditor lain dan memperoleh keyakinan
terhadap kewajaran akun-akun yang dicantumkan dalam laporan
keuangan yang diberi pendapat oleh auditor utama tersebut; atau
d. bagian laporan keuangan yang diaudit oleh auditor lain tidak
material dibandingkan dengan laporan keuangan yang dicakup oleh
pendapat auditor utama.

8) Laporan auditor bentuk baku secara tersirat menyatakan bahwa


kesesuaian daya banding laporan keuangan di antara periode-periode
akuntansi tidak secara material dipengaruhi oleh perubahan dalam
prinsip akuntansi. Selain itu, prinsip akuntansi tersebut telah diterapkan
secara konsisten di antara dua periode atau lebih, baik karena (a) tidak
terjadi perubahan prinsip akuntansi, atau (b) telah terjadi suatu
perubahan prinsip akuntansi atau metode penerapannya, namun dampak
perubahan atas daya banding laporan keuangan tidak material.

9) Dalam memutuskan untuk memberikan pendapat wajar dengan


pengecualian, auditor harus dapat menilai pentingnya prosedur audit
yang tidak dapat dilakukan akibat pembatasan lingkup terutama terhadap
pendapat yang diberikan. Penilaian ini dapat dipengaruhi oleh sifat dan
besarnya dampak yang mungkin timbul sebagai akibat hal yang
dikecualikan tersebut dan pentingnya bagi laporan keuangan. Jika
dampak yang mungkin timbul menyangkut banyak pos laporan
keuangan, maka pentingnya hal yang dikecualikan tersebut lebih besar
jika dibandingkan dengan jika hanya menyangkut pos laporan keuangan
yang lebih sedikit.

10) Contoh laporan auditor independen atas suatu perikatan pelaporan


terbatas (neraca).
 EKSI4308/MODUL 5 5.65

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

Kepada Yth.
Dewan Komisaris
PT SENANG SELALU
Jl. Melati No. 999
Jakarta Utara

Kami telah mengaudit neraca perusahaan PT SENANG SELALU tanggal


31 Desember 2007. Laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen
perusahaan. Tanggung jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas
laporan keuangan berdasarkan audit kami.

Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan


Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami
merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan
memadai bahwa neraca bebas dari salah saji material. Audit meliputi
pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-
jumlah dan pengungkapan dalam neraca. Audit juga meliputi penilaian
atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat
oleh manajemen, serta penilaian terhadap penyajian neraca secara
keseluruhan. Kami yakin bahwa audit kami memberikan dasar memadai
untuk menyatakan pendapat.

Menurut pendapat kami, neraca yang kami sebutkan di atas menyajikan


secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan perusahaan
PT SENANG SELALU tanggal 31 Desember 2007 sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

Kantor Akuntan Publik


Deny Putra, M.Acc., Akt

(Deny Putra, M.Acc., Akt)


Reg. Neg. D-898989
NIAP: 09.0020.08

25 Februari 2012
5.66 Auditing I 

T ES FO R M AT IF 2

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

1) Di Indonesia, umumnya kepada pihak-pihak ini laporan auditor


independen dialamatkan, yaitu ....
A. perusahaan, direksi perusahaan, pelanggan
B. dewan direksi, dewan komisaris, kreditur
C. dewan komisaris, pemegang saham, dewan direksi
D. perusahaan, pemegang saham, karyawan

2) Jika auditor utama dapat meyakinkan dirinya terhadap independensi dan


reputasi profesional auditor lain dan percaya bahwa audit yang dilakukan
oleh auditor lain dapat diandalkan, auditor utama dapat menyatakan
suatu pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan tanpa mengacu
ke audit yang dilaksanakan oleh auditor lain di dalam laporannya. Lalu
pendapat apa yang dapat diberikan auditor pada akhir pelaksanaan audit.
Berdasarkan kondisi ini?
A. Bahasa penjelasan ditambahkan dalam laporan auditor bentuk baku.
B. Pendapat tidak wajar.
C. Wajar tanpa pengecualian.
D. Pernyataan tidak memberikan pendapat.

3) Dalam hal adanya penekanan atas suatu hal terkait laporan keuangan
berdasarkan pertimbangan auditor, manakah yang bukan merupakan hal-
hal yang ditekankan auditor untuk diperhatikan oleh user laporan
auditor?
A. Bahwa entitas adalah komponen dari perusahaan yang lebih besar.
B. Bahwa entitas mempunyai transaksi signifikan dengan pihak yang
memiliki hubungan istimewa.
C. Peristiwa kemudian yang luar biasa.
D. Bahwa perusahaan mempunyai dewan komisaris independen.

4) Pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar dapat


diberikan auditor dengan mempertimbangkan apakah dampak
penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia
cukup material atau tidak dalam nilai Rupiah. Beberapa hal berikut
dipertimbangkan dalam hal materialitas, kecuali ....
A. dampak salah saji dalam laporan keuangan secara keseluruhan
B. pertimbangan signifikan atau tidaknya unsur bagi suatu entitas
 EKSI4308/MODUL 5 5.67

C. luasnya akibat salah saji


D. informasi yang diberikan pihak manajemen

5) Beberapa hal di bawah ini merupakan penyimpangan prinsip akuntansi


yang berlaku umum di Indonesia yang menyangkut risiko, kecuali ....
A. pengungkapan yang tidak memadai
B. pembatasan lingkup akuntansi
C. ketidaktepatan prinsip akuntansi
D. estimasi akuntansi yang tidak masuk akal

6) Terkadang auditor tidak dapat memuaskan dirinya tentang kewajaran


estimasi manajemen tentang suatu dampak peristiwa masa depan dengan
mempertimbangkan berbagai tipe bukti audit. Jika setelah
mempertimbangkan standar auditing terkait, auditor berkesimpulan
bahwa estimasi manajemen tidak masuk akal dan menyebabkan laporan
keuangan disajikan salah secara material, pendapat apa yang dapat
diberikan oleh auditor ....
A. pendapat tidak wajar
B. wajar tanpa pengecualian
C. bahasa penjelasan yang ditambahkan pada laporan auditor baku
D. pernyataan tidak memberikan pendapat

7) Jika laporan keuangan, termasuk catatan atas laporan keuangan, tidak


menjelaskan informasi penting yang diharuskan oleh prinsip akuntansi
yang berlaku umum di Indonesia, pendapat apa yang dapat diberikan
oleh auditor ....
A. wajar tanpa pengecualian
B. wajar dengan pengecualian
C. bahasa penjelasan yang ditambahkan pada laporan auditor baku
D. pernyataan tidak memberikan pendapat

8) Dalam hal bagian audit dilaksanakan auditor independen lain, auditor


utama tidak mengacu pada audit yang dilakukan auditor lain dengan
alasan di bawah ini, kecuali ....
A. auditor independen merupakan koresponden yang pekerjaannya
dapat diterima auditor utama berdasarkan pengetahuannya atas
standar profesional dan kompetensi kantor auditor lain.
B. auditor lain ditunjuk oleh auditor utama dan pekerjaan auditor lain
dilakukan di bawah bimbingan dan pengawasan auditor utama
5.68 Auditing I 

C. auditor utama tidak begitu yakin dengan hasil bagian audit yang
diaudit auditor lain.
D. bagian laporan keuangan yang diaudit auditor lain tidak material jika
dibandingkan laporan keuangan yang diberikan pendapat oleh
auditor

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan = × 100%
Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang
belum dikuasai.
 EKSI4308/MODUL 5 5.69

Kunci Jawaban Tes Formatif

Tes Formatif 1 Tes Formatif 2


1) B 1) C
2) C 2) A
3) B 3) D
4) A 4) D
5) D 5) B
6) C 6) A
7) D 7) B
8) D 8) C
9) A
10) B
11) C
12) C
5.70 Auditing I 

Glosarium

Materialitas : tingkat yang cukup berarti untuk


mempengaruhi keputusan. Seorang auditor
berkepentingan untuk menilai apakah
kesalahan yang diungkapkan cukup berarti,
jika tidak maka kesalahan terebut dianggap
sebagai penyimpangan-penyimpangan kecil
(tidak berarti). Hal ini mendasarkan pada
prinsip akuntansi yang diterima umum.
Risiko audit : risiko bahwa auditor dapat menyimpulkan,
setelah melaksanakan audit yang memadai,
bahwa laporan keuangan telah disajikan secara
wajar dan karena itu pendapat wajar tanpa
pengecualian dapat dikeluarkan, walaupun
pada kenyataannya laporan keuangan tersebut
mengandung salah saji material.
One Tier System : sistem dewan dalam hal perusahaan
mempunyai satu Dewan Direksi yang pada
umumnya merupakan kombinasi antara
manajer atau pengurus senior (Direktur
Eksekutif) dan Direktur Independen yang
bekerja dengan prinsip paruh waktu.
Two Tier System : sistem dewan dalam hal perusahaan
mempunyai dua badan terpisah, yaitu Dewan
Pengawas (Dewan Komisaris) dan Dewan
Manajemen (Dewan Direksi). Dewan
Komisaris bertanggung jawab mengawasi
tugas-tugas manajemen dan tidak boleh
melibatkan diri dalam tugas-tugas manajemen
serta tidak boleh mewakili perusahaan dalam
transaksi dengan pihak ketiga.
Unqualified Opinion : pendapat auditor independen bahwa laporan
atau pendapat wajar keuangan menyajikan secara wajar, dalam
tanpa pengecualian semua hal yang material, posisi keuangan,
hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai
 EKSI4308/MODUL 5 5.71

dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.


Unqualified Opinion : pendapat auditor independen bahwa laporan
with Explanatory keuangan menyajikan secara wajar, dalam
Paragraph/Language semua hal yang material, posisi keuangan,
hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum
dan tambahan paragraf penjelas untuk suatu
keadaan tertentu yang mengharuskan auditor
menambahkannya.
Qualified Opinion atau : pendapat auditor independen bahwa laporan
pendapat wajar dengan keuangan menyajikan secara wajar, dalam
pengecualian semua hal yang material, posisi keuangan,
hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum
di Indonesia, kecuali untuk dampak hal-hal
yang berhubungan dengan yang dikecualikan.
Adverse Opinion atau : pendapat auditor independen bahwa laporan
pendapat tidak wajar keuangan tidak menyajikan secara wajar posisi
keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas
tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum.
Disclaimer Opinion : auditor memutuskan untuk tidak menyatakan
atau pernyataan tidak pendapat atas laporan keuangan.
memberikan pendapat
5.72 Auditing I 

Daftar Pustaka

Agoes, Sukrisno (2004). Auditing (Pemeriksaan Akuntan) oleh Kantor


Akuntan Publik. Jakarta: Lembaga Penerbit FEUI.

Arens, A. Alvin, and Elder, Beasley (2008). Auditing and Assurance


Services. 12th Edition. Pearson Education.

Boyton, W.C., R.N.Johnson, and W.G. Kell. (2001). Modern Auditing. 7th
Edition, John Wiley & Sons.

Forum for Corporate Governance in Indonesia (2000). Peranan Dewan


Komisaris dan Komite Audit dalam Pelaksanaan Corporate Governance
(Tata Kelola Perusahaan) Jilid II. Jakarta: FCGI.

PSA No. 02 SA Seksi 110 tentang Tanggung Jawab dan Fungsi Auditor
Independen.

PSA No. 01 SA Seksi 150 tentang Standar Auditing.

PSA No. 56 SA Seksi 323 tentang Perikatan Audit Tahun Pertama-Saldo


Awal.

PSA No. 30 SA Seksi 341 tentang Pertimbangan Auditor Atas Kemampuan


Entitas Dalam Mempertahankan Kelangsungan Hidupnya.

PSA No. 29 SA Seksi 508 tentang Laporan Auditor Atas Laporan Keuangan
Auditan.

PSA No. 38 SA Seksi 543 tentang Bagian Audit Dilaksanakan Oleh Auditor
Independen Lain.

PSA No. 46 SA Seksi 560 tentang Peristiwa Kemudian.

PSAK No. 1 revisi 2009 tentang Penyajian Laporan Keuangan