Anda di halaman 1dari 9

KERANGKA ACUAN PENINGKATAN MUTU KLINIS DAN KESELAMATAN

PASIEN

PENDAHULUAN

Pelayanan Prima sebagai visi yang ingin dicapai oleh Puskesmas ini pada tahun 2013
mendatang mengharuskan seluruh stakeholder-nya untuk segera memperbaiki pelayanan
mereka. Salah satu aspek penting dalam pelayanan kesehatan adalah penilaian indikator
klinis. Penilaian ini dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk menilai kinerja rumah sakit
dari aspek mutu. Diharapkan dengan semakin membaiknya indikator klinis ini, maka
pelayanan di rumah sakit akan semakin baik.
TUJUAN
Terlaksananya penilaian indikator klinis yang meliputi keefektifan klinis, kegiatan yang
berpusat pada pasien dan keamanan pasien
Dihasilkannya rekomendasi dan tindak lanjut dari penilaian indikator klinis yang ditujukan
kepada
SASARAN
Seluruh pelayanan yang dilaksanakan di Puskesmas tim komite mutu pelayanan klinis.
BENTUK KEGIATAN
1. Pemantauan Indikator Klinis
2. Kepala Puskesmas membentuk Tim Komite Mutu Pelayanan Klinis (yang
diantaranya akan menilai indicator pelayanan medic)
3. Unit Penilai melakukan pemantauan terhadap indikator-indikator sebagai berikut:
Keefektifan klinis yang meliputi:
a) Tingkat pasien yang pernah dirawat masuk kembali setelah x hari
b) Angka kematian
c) Angka komplikasi
d) Kesesuaian
e) Length of stay penyakit tertentu
f) Kemajuan perbaikan kualitas
g) Proses berbasis bukti
h) SF 36
i) Berpusat pada pasien
j) Waktu tunggu (operasi elektif)
k) Kesetaraan akses
l) Hak-hak pasien
m) Persepsi pasien
n) Keamanan pasien
o) Infeksi nosokomial
p) Jatuh
q) Dekubitus
r) Orientasi staf
s) Pergantian pegawai
t) Tingkat ketidakhadiran
Hasil pemantauan indicator klinis disusun dalam bentuk laporan.
Laporan hasil pemantauan indicator klinis disampaikan kepada seluruh stakeholder
Membuat notulen dan surat tindak lanjut dari hasil evaluasi
Tim Penilai
Ketua : Dr Bambang Supriyanto
Sekertaris : Noman Kumoro
Anggota : 1. Sukini
2. Jajang Heriyanto
3. Siti Aminah
4. Titik Kuntarti
5. Elvies Clodia
Penutup
Demikian kerangka acuan ini disusun untuk memberikan gambaran mengenai penilaian
indikator klinis di Puskesmas Selomerto 1

MANAJEMEN RESIKO rumah sakit adalah aktifitas klinik dan administrative yang
dilakukan oleh rumah sakit untuk melakukan identifikasi, evaluasi dan pengurangan resiko
terjadinya cedera atau kerugian pada pasien, personil, pengunjung dan istitusi rumah sakit.

Proses Manajemen risiko adalah proses yang dilakukan untuk mengelola risiko yang melekat
pada setiap proses bisnis di setiap bagian dan level dalam perusahaan baik di tingkat kantor
cabang dan kantor pusat sehingga mampu memberikan jaminan tercapainya tujuan dan
mengurangi ketidakpastian yang melekat pada suatu proses bisnis yang pada akhirnya akan
menciptakan kesempatan atau opportunity secara lebih sistematis.

PEMAHAMAN MANAJEMEN RESIKO

Beri penjelasan tentang hal-hal berikut dan bagaimana implementasinya? Beri contoh
pelaksanaan manajemen resiko di unit rawat inap dan manajemen.

1. Pengertian
2. Upaya yang harus dilakukan
3. Tahapan melakukan

1. Pengertian
Menurut The Joint Commision on Accreditation of Helathcare Organization,
Manajemen Resiko adalah aktivitas klinik dan administratif yang dilakukan oleh
rumah sakit untuk melakukan identifikasi, evaluasi dan pengurangan resiko terjadinya
cedera atau kerugian pada pasien, personil, pengunjung dan institusi rumah sakit.
Sedangkan menurut American Society for Healthcare Risk Management, Manajemen
Resiko merupakan kegiatan untuk meminimalkan potensi bahaya kepada pasien, serta
menyediakan lingkungan yang aman bagi pasien, karyawan dan pengunjung.
Manajemen Resiko juga ada yang memberi pengertian merupakan kerangka kerja
untuk identifikasi sistematis, penilaian, mengelola, pengobatan dan pemantauan risiko
dengan tujuan untuk mencegah atau meminimalkan kemungkinan reccurance risiko
dan konsekuensi yang terkait (Liverpool Women’s National Health System
Foundation Trust).

2. Upaya yang harus dilakukan harus sejalan dengan tujuan organisasi, dimana
organisasi pembelajar dengan salah satu karakteristiknya perbaikan
dan pengembangan berkelanjutan (continual improvement). Untuk upaya manajemen
resiko diperlukan peran aktif dan komitmen top manajemen bersama pembinaan
kemitraan dengan pihak-pihak lainnya yang berkepentingan. Upaya manajemen
resiko di Rumah Sakit meliputi kegiatan identifikasi resiko, analisis resiko,
penyusunan prioritas resiko, perencanaan manajemen resiko, pelaksanaan program
manajemen resiko dan monitoring resiko serta juga memperhatikan mengenai
pengelolaan pembiayaan resiko.

3. Tahapan melakukan
Tahapan melakukan terdiri dari:

 Identifikasi resiko
 Analisis resiko
 Penentuan prioritas resiko
 Perencanaan manajemen resiko
 Pengelolaan resiko
 Pengelolaan pembiayaan resiko
 Monitoring resiko

Contoh:

Unit rawat inap


Suatu rumah sakit yang telah dilakukan identifikasi, analisis dan penentuan prioritas resiko
ditemukan resiko utama prioritas agar dikelola adalah pasien jatuh. Setelah hal tersebut
diketahui, dilakukan perencanaan manajemen resiko. Data – data yang dicantumkan dalam
diagram pareto ditemukan bahwa penyebab terbanyak jatuh karena jatuh dari tempat tidur
adalah di ruang rawat inap dewasa. Selanjutnya pada diagram fishbone dan relasi diketahui
bahwa penyebab terjadinya jatuh karena perencanaan pembelian tempat tidur yang standar
untuk ruang rawat yang mengutamakan patient safety, ini disebabkan manajemen keuangan
yang kurang baik dengan dana yang kurang cukup untuk membeli tempat tidur dengan
standar patient safety. Dari kesimpulan tersebut selanjutnya disusun rencana manajemen
resiko yang bertujuan memperbaiki sebab - sebab jatuh tersebut seperti perencanaan
pembelian tempat tidur yang standard an perapian sistem manajemen keuangan agar tersedia
dana cukup. Target kemudian ditetapkan dengan angka jatuh dari tempat tidur 0 pasien.
Untuk selanjutnya setelah terlaksana beberapa waktu dilakukan monitoring dengan
memperhatikan jumlah kejadian jatuh dan penerapan rencana manajemen resiko yang telah
disusun sebelumnya. Dan hasil dari monitoring ini menjadi bahan evaluasi selanjutnya.

Manajemen
Suatu rumah sakit yang telah dilakukan identifikasi, analisis dan penentuan prioritas resiko
ditemukan resiko utama prioritas agar dikelola adalah masalah obat yang sering kehabisan
stok. Dilakukan perencanaan manajemen resiko didapat diagram pareto bahwa stok obat yang
paling sering habis adalah stok obat generik yang digunakan oleh pasien jamkesda. Dari
diagram fishbone dan relasi diketahui penyebab terjadinya hal ini adalah perencanaan
pengadaan obat yang kurang baik serta manajemen pembayaran jasa medis dan obat
jamkesda yang kurang baik memberi dampak mengganggu cashflow. Dari data – data
tersebut dilakukan rencana pengelolaan resiko untuk perbaikan sistem pengadaan dan upaya
perbaikan sistem pembayaran jamkesda. Untuk selanjutnya setelah terlaksana beberapa waktu
dilakukan monitoring. Dan hasil dari monitoring ini menjadi bahan evaluasi selanjutnya.

PENGELOLAAN RESIKO

1. Buatlah pengelolaan risiko di unit rawat inap dan manajemen (masing-masing 3


risiko) kemudian buatlah rencana kerja. Saudara selanjutnya!

1. Unit Rawat Inap


Proses penilaian risiko melalui identifikasi, analisis dan penentuan prioritas,
ditemukan risiko yang dapat terjadi di unit rawat inap, sesuai urutan prioritasnya
meliputi:

1. Pasien Jatuh;
2. Kurang perhatian pada pasien yang dirawat oleh perawat; dan
3. Pemberian dosis obat racik yang tidak tepat dan benar.

 Proses pengendalian risiko, dilakukan perencanaan manajemen risiko dengan suatu


rencana kerja yang dikembangkan berdasarkan hasil analisis risiko yang menjadi
prioritas untuk ditanggulangi adalah kejadian pasien jatuh. Rencana kerjanya meliputi
peningkatan sarana rumah sakit khususnya tempat tidur dan memprioritaskan upaya
perawatan sarana dan prasarana rumah sakit, sebagai contoh memberi pegangan disisi
dinding, memberi pagar pembatas dan membuat selalu lantai yang bersih dan tidak
licin. Meningkatkan kesadaran, pengetahuan dan perilaku seluruh staf rumah sakit
tentang pentingnya keselamatan pasien rumah sakit. Merencanakan dan meng-
implementasikan anggaran untuk perawatan dan pengadaan cleaning service.

 Pada tahap akhir, seluruh hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan dijadikan
sebagai dasar perbaikan dalam berbagai hal pada unit rawat inap.

1. Kepuasan pelanggan.
Dalam konsep sistem manajemen mutu dala memberikan pelayanan jasa rumah sakit
harus focus kepada pelanggan.
1. Menurut Saudara, metode apakah yang tepat dalam mengukur kepuasan pelanggan di
Unit Gawat darurat? (Sebutkan alasannya)

Terdapat 4 cara mengukur kepuasan pelanggan:

1. Sistem keluhan dan saran.


Cara pasien menyampaikan keluhan dan saran melalui kotak saran, kartu komentar,
saluran telepon khusus dan lain-lain.
2. Survei kepuasan pelanggan.
Pengukuran kepuasan pelanggan, diantaranya:

1. Directly reported satisfaction yakni pengukuran langsung dengan pertanyaan-


pertanyaan yang disampaikan kepada pasien tentang tingkat kepuasan pasien terhadap
pelayanan.
2. Derived dissatisfaction yakni pengukuran yang dilakukan dengan cara mengajukan
pertanyaan tentang seberapa besar harapan dan hasil dari kinerja pelayanan yang telah
dirasakan pasien.
3. Problem analysis yakni pengukuran kepuasan yang dilakukan dengan cara meminta
responden untuk menuliskan masalah yang berkaitan dengan pelayanan yang telah
diberikan beserta menuliskan saran-saran untuk perbaikan dalam pelayanan.
4. Importance-performance analysis yakni pengukuran kepuasan yang dilakukan dengan
cara meminta responden untuk merangking berbagai elemen dari pelayanan yang
ditawarkan berdasarkan derajat pentingnya setiap elemen dan seberapa baik kinerja
pelayanan masing-masing elemen.

 Ghost shopping
Cara mempekerjakan beberapa orang untuk berperan atau bersikap sebagai pasien
dengan tujuan untuk melihat kekurangan atau kelebihan dari pelayana

 Lost customer analysis


Cara pemberi pelayanan menghubungi pelanggan yang berhenti atau pindah ke tempat
pelayanan lain dan memantau angka kehilangan pelanggan yang menunjukkan
kelemahan dalam memuaskan pelanggan.

Metode survei kepuasan pelanggan yang paling tepat digunakan untuk mengukur
kepuasan pasien – pasien (pelanggan) di IGD. Metode survei kepuasan pelanggan bisa
memberikan gambaran yang baik mengenai tingkat kepuasan serta persepsi pasien
mengenai layanan bahkan variabel-variabel yang mempengaruhi tingkat kepuasan
pasien terhadap layanan – layanan yang ada. Walaupun demikian ada kelemahan
seperti karakteristik pasien di IGD yang merupakan pasien dengan kondisi gawat
darurat dan membutuhkan pelayanan cepat, yang mana metode ini membutuhkan
waktu yang relatif lama yang dapat menghambat pemberian pelayanan. Begitu juga
kelemahan karena keadaan pasien IGD yang seringkali dalam keadaan tidak stabil,
kesadaran terganggu, atau keadaan mental yang terganggu sehingga faktor-faktor
tersebut menjadi kriteria eksklusi.
 Bagaimana melakukan tindakan perbaikan yang berasal dari keluhan pelanggan?
Tindakan perbaikan yang berasal dari keluhan pelanggan adalah:

1. Identifikasi dan ranking pelanggan


Pelanggan merupakan orang yang memiliki kepuasan atas pelayanan yang
mempengaruhi kemampuan RS untuk mencapai tujuan organisasi. Pelanggan dapat
dibagi menjadi pelanggan eksternal dan pelanggan internal. Pelanggan eksternal
seperti pasien dan pengunjung lainnya. Sedangkan, pelanggan internal seperti pekerja
atau bagian dari RS yang memiliki kontribusi terhadap organisasi dan bergantung
kepada pelayanan RS untuk melayani pelanggan eksternal.

2. Identifikasi harapan pelanggan dan standar profesional


Identifikasi harapan pelanggan dapat dilakukan dengan cara analisis keluhan
pelanggan dan diskusi serta wawancara terarah. Hasil analisis, diskusi serta
wawancara tersebut diharapkan dapat diketahui jelas masalah dan harapan pelanggan
kepada pelayanan RS. Selain berasal dari harapan pelanggan, adanya standar
profesional juga memberi faktor lainnya yang mempengaruhi kualitas pelayanan.

3. Terjemahkan harapan pelanggan dan standar profesional ke dalam operasional.


Setelah harapan dan standar profesional diketahui, standar tersebut diterapkan ke
dalam standar prosedur operasional RS dan disosialisasikan agar dapat diterapkan
dalam layanan.

 Total Quality Management.


Dalam konsep Total Quality Management ada 8 (delapan) prinsip yang merupakan
kunci keberhasilan suatu rumah sakit. Jelaskan secara rinci kelima prinsip tersebut!
Total Quality Manajemen pada rumah sakit adalah metode untuk mendorong
keterlibatan pimpinan dan seluruh staf medis serta karyawan rumah sakit dalam upaya
meningkatkan mutu pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit secara
berkesinambungan. Total Quality Manajemen merupakan suatu filosofi manajemen
yang bertujuan mengintegrasikan seluruh fungsi organisasi agar terfokus pada
pemenuhan kebutuhan serta keinginan pelanggan dan pencapaian tujuan organisasi.
Terdapat 8 elemen TQM:

1. Ethics / etika
2. Integrity / integritas
3. Trust / kepercayaan
4. Training /diklat
5. Teamwork / kerja sama
6. Leadership / kepemimpinan
7. Recognition / akredibilitas
8. Communication / komunikasi

Model Total Quality Manajemen di atas menunjukkan suatu philosophy bahwa mutu
yang diinginkan didapat dari kekuatan kepemimpinan, perencanaan, design, dan
peningkatan inisiatif. Kedelapan elemen kunci tersebut dapat dikelompokkan menjadi
empat bagian, yaitu sebagai berikut:

1. Foundation, termasuk di dalamnya ethics, integrity, and trust.


Ethics, integrity, dan trust. Ini akan menumbuhkan keterbukaan, keadilan, ketulusan
dan memberikan peluang untuk semua orang untuk ikut serta dalam proses
pelaksanaannya. Ethics, integrity, dan trust berjalan beriringan, tetapi memberikan
kontribusi yang berbeda dan saling melengkapi dalam TQM. Ethics adalah suatu
bentuk kedisiplinan akan menjalankan hal - hal yang dianggap baik oleh perusahaan
dan menghindarkan diri dari tindakan-tindakan yang dianggap buruk. Integrity
termasuk didalamnuya sebagai kejujuran, moralitas, nilai, keadilan, dan ketulusan.
Semuanya harus terwujud dalam hubungan antara komponen perusahaan terhadap
konsumen. Trust, kepercayaan di antara karyawan dan pihak-pihak terkait terhadap
perusahaan akan memperlancar proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan.

2. Building Bricks, termasuk di dalamnya training, teamwork, and leadership.


Dengan dasar yang kuat dengan pilar penyangga akan memberi kekuatan dalam
mencapai “atap“ yang menjadi tujuan TQM, yaitu recognition. Bricks terdiri atas
training yang sangat penting bagi karyawan untuk meningkatkan produktifitasnya,
teamwork yang akan sangat berpengaruh dalam kecepatan dan cara penyelesaian
masalah, dan leadership, bisa dikatakan sebagai kunci utama dalam TQM.

3. Binding Mortar, termasuk di dalamnya adalah communication.


Binding Mortar adalah elemen kunci yang melingkupi keseluruhan model dari TQM.
Komunikasi merupakan jembatan yang menentukan keberhasilan TQM. Komunikasi
yang tidak tepat dan tidak tertuju ke sasaran akan mengakibatkan rubuhnya model
TQM. Kesatuan dari keseluruhan elemen kunci ini disatukan dengan suatu
komunikasi yang tepat, yang tepat sasaran dan tepat ide. Komunikasi yang baik dalam
TQM diperlukan antara seluruh elemen organisasi, supplier, dan konsumen.

4. Roof adalah recognition.


Recognition menjadi elemen terakhir dari TQM. Diharapkan elemen ini mampu
memberikan sugesti dan achivement bagi tim dan karyawan individual. Dengan
seseorang memperoleh suatu pengakuan, akredibilitas, maka secara otomatis akan
terjadi perubahan yang luar biasa dalam kepercayaan diri, self esteem, produktivitas,
dan kualitas kerja yang sesuai dengan mutu yang diharapkan perusahaan.

Total Quality Manajemen akan dapat terlaksana dengan baik ketika memperhatikan 5
(lima) prinsip, yang meliputi:

1. Komitmen manajemen atau pimpinan rumah sakit, dilakukan dengan melaksanakan


penyelesaian masalah dengan “Deming Wheel” yaitu perencanaan (plan),
implementasi (do), evaluasi/monitoring (check), dan tindakan perbaikan (act) melalui
tindak lanjut hasil evaluasi, mengkomunikasikan setiap perubahan maupun perbaikan
pada proses selanjutnya.

2. Keterlibatan seluruh staf medis dan karyawan RS, salah satu poin penting adalah
pelibatan seluruh staf medis dan karyawand dalam proses manajemen mutu. Hal ini
dilakukan dengan pelaksanaan pelatihan atau pelibatan dalam pelatihan yang
berhubungan dengan program peningkatan mutu RS, pembuatan skema usulan
perbaikan bersama dengan staf dan karyawan, serta pengukuran dan identifikasi
berbagai usulan yang diberikan. Staf dan karyawan dibentuk menjadi tim-tim kerja
yang mengutamakan teamwork dalam memecahkan masalah.

3. Perancangan kebijakan yang berdasarkan fakta, seluruh kebijakan yang diambil dalam
kaitannya dengan manajemen mutu haruslah dibuat berdasarkan data statistik yang
diperoleh melalui suatu proses pengumpulan data di lapangan dan menggunakan
pendekatan statistik yang dapat dipertanggung jawabkan.

4. Pengembangan berkelanjutan, dengan memantau serta mengukur seluruh proses yang


telah dilaksanakan secara sistematik, melibatkan berbagai pihak dan mengembangkan
perbaikan-perbaikan juga terus-menerus dilakukan kepada standar-standar yang telah
ada untuk kemudian diterapkan.

5. Fokus kepada pelanggan, dilakukan kepada pelanggan eksternal maupun internal. Hal
ini dilakukan antara lain dengan menjalin kemitraan dengan supplier sebagai
pelanggan internal dan peningkatan perhatian dan pelayanan kepada seluruh staf
medis dan karyawan, bersungguh-sungguh untuk menerapkan standar mutu dan
menjadikan persepsi serta keinginan pelanggan sebagai acuan untuk meningkatkan
mutu rumah sakit.

1. Patient safety
Jekaskan Pengertian, Standar, Langkah dan Program menuju Keselamatan Pasien
(Patient Safety) di Rumah Sakit

Keselamatan pasien adalah bebas, bagi pasien, dari harm, cedera (penyakit, cedera
fisik, psikologis, social, penderitaan, cacat, kematian, dll ) yang tidak seharusnya
terjadi atau cedera yang potensial, terkait dengan pelayanan kesehatan.
Keselamatan pasien rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat
asuhan pasien menjadi lebih aman. Sistem tersebut meliputi : assessmen resiko,
identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan
dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta
implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko. Sistem tersebut
diharapkan dapat mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak melakukan tindakan yang seharusnya
dilakukan.

Standar keselamatan pasien terdiri dari :

1. Hak pasien
2. Mendidik pasien dan keluarga.
3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan.
4. Penggunaan metode –metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan
program peningkatan keselamatan pasien.
5. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien.
6. Mendidik staf tentang keselamatan pasien.
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien.

Langkah menuju keselamatan pasien di rumah sakit :

1. Bangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien.


2. Pimpin dan dukung staf anda.
3. Integrasikan aktivitas pengelolaan risiko.
4. Kembangkan sistem pelaporan.
5. Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien.
6. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien.
7. Cegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan pasien.

Program menuju keselamatan pasien yang diterbitkan World Alliance for Patient
Safety :

1. Global patient safety challenge


2. Patients for Patient Safety
3. Taxonomy for patient safety
4. Research for patient safety
5. Solutions for patient safety
6. Reporting and learning
7. Safety inaction
8. Technology for patient safety
9. Care of acutely ill patients
10. Patient safety knowledge at your fingertips