Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

LANDASAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

OLEH:

KELOMPOK II

NUNUK PUJI ASTUTI


REZKI EKA PRATIWI
YUSNIRA

PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pendidikan selalu melibatkan kejiwaan manusia, sehingga landasan
psikologi merupakan salah satu landasan yang penting dalam bidang
pendidikan. Sementara itu keberhasilan pendidik dalam melaksanakan
berbagai peranannya akan dipengaruhi oleh pemahamannya tentang seluk
beluk landasan pendidikan termasuk landasan psikologis dalam pendidikan.
Landasan psikologi dalam landasan pendidikan dapat mengembangkan
potensi yang dimiliki setiap anak,karena potensi setiap anak itu berbeda-beda,
terutama bagi anak sekolah dasar. Seperti yang diketahui bahwa potensi anak
itu beragam maka dari itu perlu adanya sosialisasi bagi orangtua maupun guru
agar nantinya potensi anak nantinya akan tumbuh dan berkembang dengan
baik.
Memahami aspek kejiwaan peserta didik merupakan modal dasar
tercapainya tujuan-tujuan pendidikan yang telah direncanakan, dengan
memahami kejiwaan peserta didik yang tidak akan lepas dari dua unsur
yakni jasmani dan rohani. Sedangkan jiwa manusia berkembang sejajar
dengan pertumbuhan jasmani. Jiwa balita baru berkembang sangat sedikit
seiring dengan tubuhnya yang juga masih berkemampuan sangat sederhana.
Makin besar anak itu makin berkembang pula jiwanya. Dengan melalui
tahap-tahap tertentu akhirnya anak itu mencapai kedewasaan, baik dari segi
kejiwaan maupun dari segi jasmani. Karena pentingnya landasan psikologi
pendidikan dalam proses pembelajaran maka pada kesempatan ini
penulis akan membahas lebih mendalam mengenai landasan psikologi
pendidikan.

2
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka
rumusan masalah dalam makalah ini yaitu:
1.2.1 Apa pengertian landasan psikologi pendidikan ?
1.2.2 Identifikasi cabang- cabang ilmu psikologi pendidikan ?
1.2.3 Bagaimana peranan psikologi pendidikan dalam proses pembelajaran ?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu agar:
1.3.1 Mahasiswa mengetahui pengertian landasan psikologi pendidikan.
1.3.2 Mahasiswa mengetahui cabang- cabang ilmu psikologi pendidikan
1.3.3 Mahasiswa mengetahui peranan psikologi pendidikan dalam proses
pembelajaran

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Landasan Psikologi Pendidikan


Psikologi adalah ilmu yang mempelajari gejala kejiwaan yang
ditampakkan dalam bentuk perilaku baik manusia ataupun hewan yang
pemanfaatannya untuk kepentingan manusia ataupun aktivitas-aktivitas
individu baik yang disadari ataupun yang tidak disadari yang diperoleh
melalui suatu proses atau langkah-langkah ilmiah tertentu serta mempelajari
penerapan dasar-dasar atau prinsip-prinsip, metode, teknik, dan pendekatan
psikologis untuk memahami dan memecahkan masalah-masalah dalam
pendidikan (Parwati, 2015).
Menurut Robandi (2010) landasan psikologis pendidikan adalah asumsi-
asumsi yang bersumber dari studi ilmiah dalam bidang psikologi yang menjadi
titik tolak studi dan praktek pendidikan
Psikologi pendidikan merupakan suatu ilmu yang membahas tentang
tingkah laku dan perbuatan manusia dalam macam situasi, maka psikologi
pendidikan adalah studi mengenai tingkah laku individu dalam situasi
pendidikan. Psikologi pendidikan bertujuan untuk mempelajari tingkah laku itu
seharusnya diubah, dibimbing melalui pendidikan (Mustaqim, 1991 dalam
Parwati (2015)).

2.2 Cabang-cabang Landasan Psikologi Pendidikan


Berdasarkan pendapat Parwati (2015) psikologi memiliki berbagai
cabang, namun dalam pendidikan lebih memprioritaskan psikologi
perkembangan dan psikologi belajar, karena pendidikan lebih membahas
tentang tingkah laku atau subjek dari peserta didik.

1. Psikologi Perkembangan
Ada tiga teori atau pendekatan tentang perkembangan pendekatan-
pendekatan:

4
a. Pendekatan pentahapan (perkembangan individu berjalan melalui tahapan
tahapan tertentu)
b. Pendekatan diferensial (pendekatan ini memandang individu-individu itu
memiliki kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan).
c. Pendekatan ipsatif (pendekatan ini berusaha melihat karakteristik setiap
individu, dapat saja disebut sebagai pendekatan individual).

Menurut Havinghurst fase-fase perkembangan disusun sebagai berikut:


a. Tugas perkembangan masa anak-anak
Belajar berkata, makan makanan padat, berjalan, mengendalikan gerakan
badan, mempelajari peran jenis kelaminnya sendir, stabilitas fisiologi,
membentuk konsep sederhana tentang social dan fisik, belajar
menghubungkan diri secara emosional dengan orang-orang lain, serta belajar
membedakan yang benar dan yang salah.
b. Tugas perkembangan masa anak
Belajar keterampilan fisik untuk keperluan bermain, membentuk sikap diri
sendiri, belajar bergaul secara rukun, mempelajari peran jenis kelamin
sendiri, belajar keterampilan membaca, menulis, dan berhitung, menghitung,
mengembangkan konsep-konsep yang dibutuhkan dalam kehidupan.
c. Tugas perkembangan masa remaja
Membuat hubungan hubungan baru yang lebih matang dengan teman
sebaya dari kedua jenis kelamin, memperoleh peranan social yang cocok
dengan jenis kelamin, mendapatkan kebebasan diri dari ketergantungan pada
orang lain, mengadakan persiapan perkawinan dan kehidupan berkeluarga,
mengembangkan perilaku tanggung jawab dan memperoleh sepeangkat nilai
serta etika sebagai pedoman berperilaku.
d. Tugas perkembangan masa dewasa awal
Memilih pasangan hidup, belajar hidup rukun bersuami istri, memulai
kehidupan punya anak, belajar membimbing dan merawat anak,
mengendalikan rumah tangga, belaja bertanggung jawwab sebagai warga
Negara.

5
e. Tugas perkembangan masa setengah baya
Bertanggung jawab social dan menjadi warga Negara yang baik, membina
anak remaja agar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab serta
bahagia, mengisi waktu senggang dengan kegiatan-kegiatan tertentu,
membina hubungan suami istri sebagai pribadi, menerima serta menyesuaikan
diri dengan perubahan fisik diri sendiri dan menyesuaikan diri dengan
pertambahan umur.
f. Tugas perkembangan orang tua
Menyesuaikan diri dengan semakin menurunnya kekuatan fisik dan
kesehatan, menyesuaikan diri terhadap menurunnya pendapatan atau karena
persiun, menjalin hubungan dengan klub lanjut usia, memenuhi kewajiban
social sebagai warga Negara yang baik dan membangun kehidupan fisik yang
memuaskan.

2. Psikologi Belajar
Psikologi Belajar Belajar adalah perubahan perilaku yang relative
permanen sebagai hasil pengalaman dan bisa melaksanakannya pada pengetahuan
lain serta mampu mengkomunikasikannya kepada orang lain. Konsep belajar
sebagian terbesar dari proses perkembangan berlangsung melalui kegiatan
mengajar yang di dasari atau tidak sederhana atau kompleks, belajar sendiri atau
dengan bantuan guru, belajar dari buku atau media elektronik, belajar di rumah, di
sekolah, di lingkunagan kerja atau di masyarakat. Dalam prosesnya, ada prinsip-
prinsip belajar yang perlu diperhatikan, anatara lain:
a. Kontinguitas (memberi situasi atau materi yang mirip dengan harapan
pendidikan tentang respon anak diharapkan).
b. Pengulangan (situasi dan respon anak di ulang-ulang).
c. Penguatan (respon yang benar contoh di beri penguatan untuk
mempertahankan respon itu).
d. Motivasi positif dan percaya diri dalam belajar
e. Tersedia materi pelajaran yang lengkap untuk memancing aktivitas anak-
anak,

6
f. Ada upaya membangkitkan keterampilan intelektual untuk belajar, seperti
apersepsi dalam mengajar.
g. Ada setrategi yang tepat untuk mengaktifkan anak-anak dalam belajar.
h. Aspek-aspek jiwa anak harus dapat dipengaruhi oleh factor-faktor dalam
pengajaran.

Adapun unsur-unsur belajar adalah adanya tujuan unsur utama dalam proses
belajar:
a. Tujuan belajar dimulai karena adanya tujuan yang di inginkan atau di capai.
b. Kesiapan untuk dapat melakukan perbuatan belajar dengan baik anak atau
individu perlu memiliki kesiapan baik kesipan fisik dan psikis.
c. Situasi kegiatan berlangsung dalam situasi belajar.
d. Interpretasi dalam menghadapi situasai individu dalam mengadakan
interpretasi yaitu melihat hubungan diantara komponen-komponen belajar.
e. Respon berpegang kepada hasil dari interpretasi apakah individu mungkin
mencapai tujuan yang diharapkan.
f. Konsekuensi setiap usaha membawa hasil akibat konsekuensi entah itu
berhasil ataupun tidak.
g. Reaksi terhadap kegagalan selain keberhasilan kemungkinan lain yang
diperoleh siswa adalah kegagalan.

Seorang pendidik harus memperhatikan dan melaksanakan langkah-langkah


yang ada dalam proses belajar. Langkah-langkah belajar itu antara lain:
a. Pendidik harus mengadakan persiapan dengan cermat.
b. Pendidik dilaksanakan sedemikian rupa sehingga anak-anak merasa jelas
memahami pelajaran itu, yang memudahkan asosiasi-asosiasi baru terbentuk.
c. Asosiasi-asosiasi baru terbentuk antara materi yang dipelajari dengan
setruktur jiwa atau persepsi anak yang telah ada.
d. Mengadakan generalisasi, pada saat ini terbentuklah suatu setruktur baru
dalam jiwa anak.

7
e. Mengaplikasikan pengetahuan yang baru didapat agar setruktur terbentuk
semakin kuat.

2.3 Peranan Psikologi Pendidikan dalam Proses Pembelajaran


Peranan Psikologi dalam dunia pendidikan sangatlah penting dalam rangka
mewujudkan tindakan psikologis yang tepat dalam interaksi antara setiap
faktor pendidikan. Pengetahuan psikologis tentang peserta didik menjadi hal
yang sangat penting dalam pendidikan. Oleh karena itu, pengetahuan tentang
psikologi pendidikan seharusnya menjadi kebutuhan bagi para guru, bahkan
bagi tiap orang yang menyadari dirinya sebagai pendidik. Oleh sebab itu,
psikologi pendidikan berfungsi diantaranya:
1. Sebagai proses Perkembangan siswa.
2. Mengarahkan cara belajar siswa
3. Sebagai penghubung antara mengajar dengan belajar
4. Sebagai pengambilan keputusan untuk pengelolaan proses belajar
mengajar.
(Novianti, 2015).
Sementara menurut Samuel Smith (dalam Parwati: 2015), setidaknya ada
16 topik yang perlu dibahas dalam psikologi pendidikan, yaitu :
1. Pengetahuan tentang psikologi pendidikan (The science of educational
psychology)
2. Hereditas atau karakteristik pembawaan sejak lahir (heredity)
3. Lingkungan yang bersifat fisik (physical structure).
4. Perkembangan siswa (growth).
5. Proses-proses tingkah laku (behavior proces).
6. Hakikat dan ruang lingkup belajar (nature and scope of learning).
7. Faktor-faktor yang memperngaruhi belajar (factors that condition learning)
8. Hukum-hukum dan teori-teori belajar (laws and theories of learning).
9. Pengukuran, yakni prinsip-prinsip dasar dan batasan-batasan pengukuran/
evaluasi. (measurement: basic principles and definitions).
10. Tranfer belajar, meliputi mata pelajaran (transfer of learning subject matters)

8
11. Sudut-sudut pandang praktis mengenai pengukuran (practical aspects
of measurement).
12. Ilmu statistic dasar (element of statistics).
13. Kesehatan rohani (mental hygiene).
14. Pendidikan membentuk watak (character education).
15. Pengetahuan psikologi tentang mata pelajaran sekolah menengah.
(Psychology of secondary school subjects).
16. Pengetahuan psikologi tentang mata pelajaran sekolah dasar (psychology
of elementary school).

Begitu juga dengan fungsi teori pengajaran adalah; merupakan prinsip,


teknik, cara dalam mendayagunakan sumber-sumber pengajaran (sofware dan
hardware) untuk mencapai tujuan pengajaran. Dengan perkataan lain bahwa teori
pengajaran merupakan penerapan prinsip prinsip teori belajar dalam men
dayagunakan alat dan sumber yang haus dikembangkan untuk menunjang
perubahan tingkah laku yang diinginkan berdasrkan tujuan pendidikan yang telah
ditentukan. (Sudjana, 1991).

9
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Setelah menyusun makalah ini dengan kajian berbagai literatur yang
berkaitan dengan landasan psikologi pendidikan maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Landasan psikologis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari
studi ilmiah dalam bidang psikologi yang menjadi titik tolak studi dan praktek
pendidikan.
2. Landasan psikologi memiliki berbagai cabang, namun dalam
pendidikan lebih memprioritaskan psikologi perkembangan dan psikologi
belajar, karena pendidikan lebih membahas tentang tingkah laku atau
subjek dari peserta didik.
3. Psikologi Belajar Belajar adalah perubahan perilaku yang relative permanen
sebagai hasil pengalaman dan bisa melaksanakannya pada pengetahuan lain
serta mampu mengkomunikasikannya kepada orang lain. Konsep belajar
sebagian terbesar dari proses perkembangan berlangsung melalui kegiatan
mengajar yang di dasari atau tidak sederhana atau kompleks, belajar sendiri
atau dengan bantuan guru, belajar dari buku atau media elektronik, belajar di
rumah, di sekolah, di lingkunagan kerja atau di masyarakat.

3.2 Saran
Dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari sepenuh hati
bahwasanya makalah ini jauh dari sempurna dan masih memiliki banyak
keterbatasan baik dari segi penyajian materi ataupun pembahasannya. Sehingga
penulis menyarankan untuk membaca berbagai litratur yang yang mengkaji
mengenai landasan psikologi pendidikan untuk lebih memperkaya pengetahuan
mengenai materi ini.

10
DAFTAR PUSTAKA

Novianti. 2015. Peranan Psikologi Pendidikan dalam Proses Belajar Mengajar.


JUPENDAS, ISSN 2355-3650, Vol. 2, No. 2, September 2015.

Robandi, 2010. Landasan Psikologi Pendidikan. Universitas Pendidikan


Indonesia.http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEDAGOGIK/1961081419
86031-BABANG_ROBANDI/Landasan_Psikologis_Pend_Secapa.pdf.
Diakses pada 06 April 2018.

Sudjana, N. 1991. Teori Teori Belajar untuk Pengajaran. Jakarta: FE.UI

Parwati, N. 2015. Landasan Psikologi Pendidikan.


https://landasanpendidikanblog.files.wordpress.com/2017/05/23-ni-wayan-
yogi-parwati.pdf. Diakses pada 06 April 2018.

11