Anda di halaman 1dari 11

VALIDASI METODE UJI

PENETAPAN Fe METODE SMEWW 3500-Fe

IK-LUK-B.004

SEKSI LABORATORIUM UJI KUALITAS

PT PUPUK KALTIM
Penetapan Fe Metode SMEWW 3500-Fe

I. Tujuan
Validasi ini bertujuan untuk mengkonfirmasi bahwa standar method
SMEWW 3500-Fe mempunyai unjuk kinerja yang konsisten terhadap
metode uji penetapan kadar besi pada residu ammonia produk
menggunakan Spektrofotometer U-3010.

II. Prinsip Percobaan


Besi yang tidak larut (besi oksida) yang terkandung dalam sampel
dilarutkan dengan pengasaman menggunakan HCl 1:1 dan pemanasan,
kemudian direduksi menjadi ferro dengan larutan hidroxilamin
hydrochloride. Penggabungannya dengan Ortho Phenantrolin Fe2+ akan
membentuk ion kompleks berwarna orange-merah (stabil pada pH 3-
9), sistem warna mengikuti hokum Beer, dimana sinar cahaya dengan
panjang gelombang tertentu yaitu 510 nm akan diabsorbsi.
Absorbansinya diukur melalui alat Spektrofotometer.

III. Tempat dan Waktu


Laboratorium Uji Kualitas, 18 April-22 Juni 2011

IV. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain:
Spektrofotometer UV-VIS U-3010, Buret, Erlenmeyer 250 mL, labu
ukur 100 mL, 250 mL, dan 1000 mL, pipet gondok 25 mL, 50 mL, dan
100 mL, buret 25 mL, bulp, botol semprot, beaker glass 500 mL,
hotplate, neraca analitik, spatula, botol sampel, botol reagent.
Larutan standar Fe 1000 ppm
HCl 1:1
NH2 OH HCl 10 %
Buffer Ammonium Asetat 25 %
Ortho Phenantrolin
Demin

V. Metode Percobaan / Validasi


Percobaan dilakukan dalam 3 tahap, yaitu tahap persiapan, tahap
pengukuran dan tahap pengolahan data. Pada tahap persiapan
dilakukan pembuatan deret standar Fe, persiapan contoh dan larutan
standar dengan Spektrofotometer UV-VIS U-3010-Fe. Setelah
diketahui konsentrasi larutan contoh dan standar, data kemudian diolah
dan ditentukan linearitas, limit deteksi metode, akurasi dan presisinya,
dengan uraian sebagai berikut:

1. Penetapan linearitas
Linearitas ditentukan dengan melakukan pengukuran terhadap
larutan standar minimal terdiri dari 6 konsentrasi yang berbeda
kemudian data yang diperoleh dibuat kurva deret standar (dalam
percobaan ini dipakai 8 buah konsentrasi yang berbeda yaitu 0 ppm
– 1.0 ppm)

2. Penetapan limit deteksi metode


limit Deteksi Metode ditentukan dengan melakukan pengukuran
terhadap 7 buah larutan blanko atau konsentrasi larutan standar
yang terendah masing-masing diukur sebanyak 1 kali.

3. Penetapan akurasi dan presisi


Akurasi dan presisi ditentukan dengan melakukan pekerjaan yang
sama, yaitu dengan melakukan pengukuran terhadap larutan
sampel yang ditambahkan larutan standar dengan tiga tingkat
konsentrasi yang berbeda yaitu konsentrasi rendah, konsentrasi
sedang dan konsentrasi tinggi dengan masing-masing pengulangan
7 kali.
Akurasi ditentukan berdasarkan % Recovery (% R) sedangkan
presisi ditentukan berdasarkan % Koefisien Variasi (% CV)

VI. Cara Kerja

Pembuatan Larutan Baku Fe 100 mg/L


Larutan stok standar Fe 1000 ppm dipipet 10 mL dimasukkan ke
dalam labu ukur 100 mL, dan di tambahkan demin hingga tanda tera,
kocok hingga homogen.

Pembuatan Larutan Baku 10 ppm


Larutan baku Fe 100 ppm dipipet 10 mL di masukkan ke dalam labu
ukur 100 mL, dan ditambahkan demin hingga tanda tera, kocok hingga
homogen.

Penetapan Linearitas
Larutan standar Fe 10 ppm dimasukkan ke dalam buret 25 mL,
dikeluarkan masing-masing 0.5 : 1.0 : 2.0 : 4.0 : 6.0 : 8.0 : 10 mL ke
dalam labu ukur 100 mL untuk memperoleh standar dengan standar
dengan konsentrasi (0.05, 0.1, 0.2, 0.4, 0.6, 0.8, 1.0) ppm, ditambahkan
1 mL HCl 1:1 dan 2 mL hodroxilamine hydrochloride, kemudian
dipanaskan kurang lebih 30 menit. Setelah dingin ditambahkan 10 mL
larutan buffer ammonium asetat 25 % dan indikator ortho
phenantrolin, dihimpitkan dengan demin hingga tanda tera lalu kocok
hingga homogen.
Lakukan pengukuran dengan Spektrofotometer UV-VIS pada panjang
gelombang 510 nm dengan pengerjaan 7 kali:
Hubungkan antara konsentrasi dan absorbansi sehingga diperoleh
kurva yang linier dan dicari nilai regresinya.
VII. Metode Pengukuran Sampel
 Dibersihkan wadah sampel ammonia produk dalam labu
erlenmeyer.
 Diambil 250 mL sampel ammonia produk dalam erlenmeyer.
 Diuapkan sampel sampel sampai volume ammonia habis menguap,
kemudian didinginkan.
 Ditambahkan 2 mL HCl 1:1 1 mL larutan Hidroxilamin 10 %
kemudian ditambahkan kurang lebih 50 mL demin.
 Dikocok sampel dan dipanaskan sampai mendidih hingga volume
sampel 20 mL, diamkan dalam suhu kamar dan tuangkan dalam
labu takar 100 mL kemudian bilas sedikit labu erlenmeyer.
Masukkan air bilasan dalam labu takar, tambahkan 10 mL buffer
asetat dan 2 mL larutan ortho phenantroline, encerkan sampai tanda
batas.
 Dibaca absorbansi sampel dengan alat spektrofotometer UV/VIS
U-3010.

VIII. Penetapan Limit Deteksi


Dicari limit deteksinya dari penetapan Fe ini, menggunakan larutan
blangko. Setelah didapat limitnya kemudian dibaca 7 kali
menggunakan Spektrofotometer pada panjang gelombang 510 nm.
Dihitung nilai standar deviasinya dan dicari limit deteksin metodenya
sehingga diketahui berapa batas terkecil konsentrasi yang dapat dibaca
oleh alat.

IX. Penetapan Akurasi dan Presisi


Disiapkan 6 buah labu takar 100 mL dengan labu erlenmeyer 250 mL.
di isi larutan contoh masing-masing contoh dengan larutan baku yang
sudah diketahui konsentrasinya yaitu 0.5 ppm, 1.0 ppm, dan 1.5 ppm,
kemudian dilakukan analisa sesuai prosedur yang telah ditentukan
(SMEWW 3500-Fe).
X. Hasil dan Pembahasan
Linearitas
Linearitas suatu metode analisis diuji untuk memastikan adanya
hubungan yang linear antara konsentrasi analit dan respon detektor. Uji
linearitas yang dilakukan dalam penetapan besi dalam residu ammonia
produk menggunakan standar method SMEWW 3500-Fe secara
spektrofotometri serapan atom ini dilakukan dengan menggunakan
delapan deret standar besi. Konsentrasi dari deret larutan standar yang
digunakan adalah 0.00 mg/L sampai dengan 1.00 mg/L. Linearitas dari
percobaan yang dilakukan dinyatakan sebagai koefisien korelasi yang
diperlihatkan pada tabel 1.

Table 1. koefisien Korelasi Standar Fe


No Konsentrasi (ppm) Absorbansi
1 0.00 0
2 0.05 0.01
3 0.10 0.02
4 0.20 0.04
5 0.40 0.08
6 0.60 0.123
7 0.80 0.163
8 1.00 0.204
R2 Koefisien Korelasi 0.9999

Dari data Tabel 3 terlihat bahwa nilai koefisien korelasi (regresi)


adalah 0.9999 dengan Y = 0.2083x – 0.0005. Nilai tersebut sesuai
dengan syarat yang ditetapkan oleh Laboratorium secara umun, dengan
nilai koefisien korelasi > 0.99 maka nilai ini telah memenuhi syarat
digunakannya karva hubungan antara konsentrasi dan absorbansi untuk
pengukuran dalam analisis rutin.
Penetan Limit Deteksi
Ketidakpastian terhadap analisis akibat pengukuran contoh uji yang
sangat rendah, dapat diatasi dengan menentukan limit deteksi. Limit
deteksi berguna dalam memastikan suatu respon yang ditimbulkan
suatu hasil analisis.
Hasil uji terhadap limit deteksi pada validasi metode besi
menggunakan standar method 3500-Fe secara spektrofotometri serapan
atom dapat dilihat pada table 2

Table 2. Data Pengukuran Konsentrasi Blangko Pada Penentuan LDM


Ulangan Absorbansi Konsentrasi (ppm)
1 0 0
2 0.010 0.07235395
3 0.010 0.07235395
4 0.010 0.07235395
5 0.010 0.07235395
6 0.010 0.07235395
7 0.010 0.07235395
Rata-rata 0.010 0.07235395
SD 0

Dengan menghitung simpangan baku dari konsentrasi terkecil analit,


LDM dapat ditentukan dengan menggunakan rumus:
LDM = Rata-rata + 3 x Standar deviasi (SD)
= 0.07235395 + 3 x 0
= 0.07 ppm
Nilai limit deteksi metode (LDM) dari hasil percobaan ini sebesar 0.01
ppm. Nilai 0.01 ppm yang dihasilkan dari perhitungan limit dari
deteksi metode, merupakan kadar terendah yang masih dapat dipercaya
pada pengukuran dengan menggunakan spektrofotometri serapan
atom. Penetapan limit deteksi ini dilakukan dengan mencari
konsentrasi terendah yang dapat dibaca oleh alat, konsentrasi yang
dapat dibaca adalah 0.01 ppm dengan keyakinan bahwa konsentrasi ini
adalah limit deteksinya. Walaupun pada dasar pencarian limit deteksi
dengan konsentrasi 0.01 ppm masih ada terbaca minus yang
diakibatkan tidak stabilnya alat tapi masih dapat ditoleransi.

Penetapan Akurasi
Penetapan akurasi pada percobaan ini adalah dilakukan dengan
menggunakan uji perolehan kembali (recovery). Penetapan dilakukan
dengan menggunakan contoh uji yang diperkaya sejumlah kuantitatif
analitik yang ditetapkan. Analit yang ditambahkan terbagi dalam tiga
level konsentrasi, yang dimaksudkan untuk memastikan kevalidan data
yang tersebar pada tiga titik, yaitu rendah (0.50 ppm), sedang (1.0
ppm), dan tinggi (1.50 ppm).
Data hasi persen perolehan kembali recovery (% R) dalam penetapan
akurasi dapat dilihat pada Tabel 3 :

Tabel 3. Persen Perolehan Kembali Dalam Penetapan Akurasi


No Perolehan Kembali (%)
Contoh + 0.50 Contoh + 1.00 Contoh + 1.50
ppm Fe ppm Fe ppm Fe
1 95.14 % 97.07 % 112.17 %
2 96.07 % 98.05 % 111.47 %
3 96.11 % 100 % 113.77 %
4 97.08 % 101.47 % 110.81 %
5 98.06 % 99.51 % 110.81 %
6 97.08 % 100 % 114.14 %
Rata-rata 96.6 % 99.35 % 112.20 %

Berdasarkan data pada tabel 3 diatas, dapat dilihat bahwa persen


perolehan kembali untuk menetapkan akurasi berada pada rentang nilai
anatara 95.14 % - 114.14 %. Rentang nilai ini telah sesuai dengan
syarat baku mutu persen perolehan kembali yang bisa diterima pada
Laboratorium secara umum yaitu antara 90-110 %.
Nilai persen perolehan kembali (% recovery) dibawah 100 % dapat
terjadi bila konsentrasi sebenarnya diakibatkan oleh hilangnya analit
pada saat preparasi dan pengukuran. Sedangkan nilai presentase
perolehan kembali diatas 100 % dapat terjadi bila konsentrasi yang
terbaca lebih besar dari konsentrasi sebenarnya diakibatkan
bertambahnya analit pada proses preparasi dan pengukuran karena
bekas pengukuran konsentrasi tinggi.
Menurut GREENBERG. Dkk (1992), akurasi metode analisis
merupakan ukuran kualitas metode yang menunjukkan besarnya
penyimpangan data hasil analisis dengan nilai sesungguhnya.
Beragamnya nilai akurasi dipengaruhi oleh adanya galat sistematik
yang menyebabkan data hasil analisis cenderung lebih tinggi atau lebih
rendah dari nilai sebenarnya. Hal ini diakibatkan karena pengaruh
matriks dari contoh uji, peralatan gelas, dan kurang stabilnya
instrumen.

Penetapan Presisi
Presisi menunjukkan kedekatan antara beberapa hasil pengukuran yang
diukur dengan cara yang sama. Pada percobaan ini, presisi di tetapkan
berdasarkan uji repitibilitas, yaitu menganalisis keterulangan
konsentrasi contoh yang ditambahkan standar pada tiga konsentrasi
yang berbeda dengan enam kali pengulangan. Prosedur penetapan
presisi ini dilakukan dalam satu rangkaian dengan penetapan akurasi,
mulai dari preparasi contoh, analisis contoh sampai ketahap
pengukuran.
Penetapan presisi diukur sebagai simpangan baku atau simpangan baku
relatif (koefisien variansi)., krateria presisi diberikan jika metode
memberikan simpangan baku relative atau koefisien variansi 2 % atau
kurang. Akan tetapi krateria ini sangat fleksibel tergantung pada
konsentrasi yang diperiksa (petunjuk penggunaan validasi; Hermita).
Data hasil uji presisi diperlihatkan pada tabel 4.
Tabel 4. Hasil Penentuan Presisi
Konsentrasi (ppm)
Contoh + Contoh + Contoh +
Ulangan
Standar 0.50 Standar 1.0 Standar 1.50
ppm ppm ppm
1 0.605 1.103 1.801
2 0.605 1.112 1.796
3 0.576 1.093 1.796
4 0.581 1.107 1.752
5 0.581 1.083 1.747
6 0.576 1.088 1.792
X 0.587333 1.09766667 1.780667
SD 0.013866 0.01141344 0.024361
% CV 2.36 % 1.03 % 1.36 %

Contoh perhitungan persen relatif standar deviasi dapat dilihat pada


lampiran 3. Evaluasi yang dilakukan pada sebaran data persen
koefisien variansi di tiap uji pada berbagai konsentrasi menunjukkan
nilai yaitu berkisar 1.037 % - 2.36 %.
Ketelitian yang telah ditetapkan dengan pengulangan pengukuran
larutan deret standar pada tiga level konsentrasi yang dilakukan pada
waktu yang sama menunjukkan kestabilan yang bervariasi.
Repitibilitas dari hasil analisis menunjukkan nilai relatif standar
deviasi yang cukup baik dan memenuhi persyaratan yang telah
ditetapkan yaitu dalam kisaran 2 %. Relatif standar deviasi /
simpangan baku relatif dari pengukuran dapat diakibatkan oleh
kesalahan acak yang tidak dapat dikendalikan. Menurut SCOOG and
WEST (1992) presisi suatu metode dapat menggambarkan besar dan
kecilnya galat acak terjadi secara kebetulan dan bervariasi dari satu
pengujian ke pengujian berikutnya. Sumber-sumber galat ini cukup
banyak, antara lain: pengaruh kondisi operasional laboratorium seperti
suhu, kelembaban dan angina. Kesalahan tersebut mengakibatkan
terjadinya ketidakstabilan contoh, sehingga konsentrasi yang terukur
oleh alat ada yang lebih tinggi atau lebih rendah dari konsentrasi
sebenarnya.

XI. Kesimpulan
Data hasil validasi metode analisis kandungan Fe dalam Ammonia
produk menggunakan Standar Method 3500-Fe adalah sebagai berikut: