Anda di halaman 1dari 19

PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN

LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Di dalam geoteknik, klasifikasi massa batuan yang pertama diperkenalkan


sekitar 60 tahun yang lalu yang ditujukan untuk terowongan dengan penyanggaan
menggunakan penyangga baja. Kemudian klasifikasi dikembangkan untuk penyangga
non-baja untuk terowongan, lereng dan pondasi. Tiga pendekatan desain yang biasa
digunakan untuk penggalian pada batuanya itu: analitik, observasi dan empirik. Salah
satu yang paling banyak digunakan adalah pendekatan desain dengan menggunakan
metode empiric.
Mekanika batuan adalah salah cabang disiplin ilmu geomekanika, dimana
mekanika batuan merupakan ilmu yang mempelajari sifat-sifat mekanik batuan dan
massa batuan. Hal ini menyebabkan mekanika batuan memiliki peran yang dominan
dalam operasi penambangan, seperti pekerjaan penerowongan, pemboran, penggalian,
peledakan dan pekerjaan lainnya. Sehingga untuk mengetahui sifat mekanik batuan dan
massa batuan dilakukan berbagai macam uji coba baik itu dilaboratorium maupun
dilapangan langsung atau secara insitu.Untuk mengetahui sifat mekanik batuan
dilakukan beberapa percobaan seperti uji kuat tekan uniaksial, uji kuat tarik, uji
triaksial dan uji tegangan insitu.Dalam dunia pertambangan khususnya dalam kegiatan
tambang terbuka (surface mining), untuk mendapatakan bahan galian, kegiatan awal
ialah membuka suatu lubang bukaan mengarah kebawah (kearah bahan galian),
kedalaman lubang bukaan tergantung dari letak bahan galian tersebut semakin dalam
letak dari bahan galian semakin dalam pula lubang bukaan tersebut. Maka untuk
membuat dinding lubang bukaan yang aman (tidak longsor) ketika pengoperasian
kegiatan penambangan, diperlukan pembuatan dinding lubang bukaan yang berjenjang.
Praktikum ini yaitu Pengujian Kuat Geser Langsung Batuan, bertujuan untuk
mendapatkan parameter parameter yang digunakan untuk mendesain lereng tambang
tersebut, diantaranya kohesi (c) dan Sudut gesek dalam (Ф). Pengujian kuat geser
langsung batuan ini merupakan pengujian yang merusak conto batuan yang diuji atau
disebut “destructive test”.

KASMIANI RACHMAWATY JOHARIA P


09320140114 09320150071
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

1.2 Maksud Dan Tujuan

1.2.1 Maksud
Adapun maksud dari tujuan praktikum mekanika batuan ini yaitu kita dapat
mengenal, mengetahui dan menguasai ilmu tentang mekanika batuan yang menjadi
salah satu aplikasi dasar terpenting dalam dunia pertambangan.

1.2.2 Tujuan
1. Mengidentifikasi parameter - parameter yang mempengaruhi kelakuan atau sifat
geser batuan.
2. Membagi massa batuan kedalam kelompok - kelompok yang mempunyai kesamaan
sifat dan kualitas.
3. Menyediakan pengertian dasar mengenai sifat karakteristik setiap kelas massa batuan.
4. Mengetahui kuat geser langsung batuan pada tegangan normal tertentu, mekanisme
pengujian kuat geser langsung batuan dan aplikasi pengujian sifat fisik pada dunia
pertambangan.

1.3 Alat dan Bahan

1.3.1 Alat
1. ATM (Alat Tulis Menulis)
2. Direct Shear Test
3. Jangka Sorong
4. Sepatu Safety

1.3.2 Bahan
1. Problem Set
2. Sampel Housing

KASMIANI RACHMAWATY JOHARIA P


09320140114 09320150071
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KonsepDasar

Kuat geser batuan adalah perlawanan internal batuan terhadap tegangan yang
bekerja sepanjang bidang geser dalam batuan tersebut yang dipengaruhi oleh
karakteristik intrinstik dan faktor eksternal.
Kuat geser batuan dibagi dengan dua jenis, yaitu Kuat geser puncak (peak) dan
Kuat geser Residu (sisa). Kuat geser puncak ialah kuat geser yang terjadi ketika
tegangan geser mencapai titik maksimalnya (puncak) disitu pula batuan mengalami
deformasi plastic yang kemudian runtuh. Setelah itu tegangan geserakan menurun
hingga menunjukan angka yang konstan untuk menggeser batuan tersebut atau disebut
kuat geser residu ( setelah batuan runtuh).

Gambar 2.1 Grafik Tegangan Geser Berbanding Perpindahan

Nilai kuat geser didapat dengan minimal tiga kali pengujian. Nilai kuat geser
beseta parameter parameternya didapat dengan mengeplot nilai tegangan geser dan
tegangan normal dalam kurva Mohr Coloum dan dengan persamaan t = C + σntan Ф

KASMIANI RACHMAWATY JOHARIA P


09320140114 09320150071
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

t = C + σntan Ф
Ф

Gambar 2.2 Grafik Tegangan Geser Berbanding Tegangan Normal

2.2.Faktor yang Mempengaruhi

1. Tegangan Normal
Tegangan normal yang diberikan tidak melebihi batas elastisitas batuan. Dalam
hal ini yang dimaksud batas elastisitas adalah batas dimana belum terjadi pembentukan
rekahan awal ketika beban normal diberikan. Oleh karena itu diusahakan agar deformasi
maupun runtuhan yang terjadi hanya disebabkan oleh tegangan geser dan bukan oleh
tegangan normal.
2. Mineralogi dan Ukuran Butiran
Butiran yang kecil biasanya monocrystalline dan ikatannya ataupun nilai
kohesinya relatiflebih tinggi dibandingkandibandingkan butiran besar. Pada batuan yang
ukuran butirnya lebih besar, permukaan gesernya cenderung membentuk gelombang
gelombang kasar ketika mengalami pergeseran. Hal ini menyebabkan sudut gesek
dalam batuan yang diperoleh dari uji laboratorium lebih besar dari aslinya.
3. Kekasaran Permukaan Geser
Semakin kasar permukaan geser, semakin besar kekuatan geser batuan. Tetapi
kekasaran geser ini akan berpengaruh hanya pada tegangan normal yang rendah, karena
pada tegangan normal yang cukup tinggi permukaan geser akan hancur sehingga pada

KASMIANI RACHMAWATY JOHARIA P


09320140114 09320150071
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

perilaku kekuatan geser batuan akan lebih dipengaruhi oleh kekuatan batuan utuh
(intact rock) daripada kekasaran permukaan geser
4. Banyaknya Bidang Diskontinu
Dengan keberadaan bidang-bidang diskontinu perambatan rekahan pada batuan
dapat dengan mudah terjadi ketika mendapat gaya dari luar. Hal ini menyebabkan
kekuatan batuan menurun.
5. Tingkat Kerusakan Contoh
Proses pengambilan serta pengangkutan bongkahan batu ke laboratorium dapat
mengakibatkan conto batuan terganggu. Semakin besar gangguan ataupun kerusakan
yang dialami batuan sebelum diuji, semakin batuan tersebut tidak mempresentasikan
kondisi masa batuan.

2.3 KuatGeser Dari Permukaan Planar

Bahwa sejumlah contoh dari suatu batu diperoleh untuk uji kuat geser. Masing-
Masing contoh berisi suatu through-going bidang perlapisan yang disemen; dengan kata
lain, suatu kekuatan yang dapat diterapkan menjadi berlaku untuk membelah dua
spesimen dalam order memisahkannya. Bidang perlapisan tersebut pastinya planar,
tidak punya ketidakteraturan permukaan atau gerak mengombak. Di dalam suatu uji
kuat geser spesimen masing-masing diperlakukan untuk tekana normal pada bidang
perlapisan, dan tekanan geser, diperlukan untuk menyebabkan suatu penggantian ,
yang terukur. Tekanan geserakan meningkat dengan cepat sampai kekuatan puncak
dicapai. Ini sesuai dengan penjumlahan kekuatan dari material semen mengikat kedua
belahan dari bidang perlapisan bersama-sama dan mempertemukan pembalasan tentang
geseran dari permukaan.
Ketika perpindahan berlanjut, tekanan geser akan jatuh kebeberapa nilai sisa
yang kemudian sisa tetap, bahkan untuk penggantian pergeseran besar. Rencanakan
puncak dan kuat geser bersifat sisa untuk mengakibatkan perbedaan tegangan normal.
Untuk bidang lemah permukaan planar poin-poin yang bersifat percobaan akan biasanya
jatuh sepanjang garis lurus. Garis Kekuatan Puncak mempunyai suatu kemiringan dari 
dan suatu menginterupsi c pada poros kuat geser. Garis Kekuatan yang bersifat sisa
mempunyai suatu kemiringan dari r. Hubungan antara kuat geser p dan tegangan
normal n dapat diwakili oleh persamaan coulamb Mohr

KASMIANI RACHMAWATY JOHARIA P


09320140114 09320150071
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

p = c + n tan 

dimana:
c = kekuatan cohesi pada permuakaan semen

 = sudut geser

Gambar 2.3 Grafik Tekanan Batuan

Di dalam kasus kekuatan sisa, kohesi c mempunyai nilai nol dan hubungan antara r dan
n dapat diwakili oleh:

Dimana;

r = sudut geser sisa

Contoh ini telah dibahas dalam menggambarkan maksud/arti phisik tentang


istilah kohesi, suatu istilah mekanika lahan, yang telah diadopsi oleh kumpulan
mekanika batuan. Di (dalam) menguji kuat geser tanah, tingkatan tekanan biasanya
suatu penting atau besar lebih rendah dari yang melibatkan pengujian mekanika

KASMIANI RACHMAWATY JOHARIA P


09320140114 09320150071
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

batuandan yang kekuatan tanah adalah suatu hasil adhesi partikel butir l. Di dalam
mekanika batuan, kohesi benar terjadi ketika permukaan disemen dipotong.
Bagaimanapun, di dalam aplikasi praktis, istilah kohesi digunakan untuk kenyamanan
dan itu mengacup ada suatu mathematical kwantitas berhubungan dengan kekasaran
permukaan, seperti dibahas untuk sesion berikutya. Kohesi hanya menginterupsi pada
atas  poros pada nol tegangan normal.
Sudut gesek yang basis dasar b adalah suatu kwantitas yang pokok kepada
pemahaman kekuatan geser discontinuas permukaan. Ini adalah kira-kira sepadan
dengan sudut gesek yang bersifat sisa r tetapi umumnya disepakati diukur dengan
pengujian memotong permukaan batuan. Test ini, dapat dilaksanakan pada permukaan
sekecil 50 mm x 50 mm, akan menghasilkan suatu alur cerita garis lurus yang
digambarkan oleh persamaan:

Gambar 2.4 Direct Shear Test

KASMIANI RACHMAWATY JOHARIA P


09320140114 09320150071
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

2.4 Sifat Fisik Batuan

1. Porositas
Porositas didefinisikan sebagai perbandingan volume pori-pori (yaitu volume
yang ditempati oleh fluida) terhadap volume total batuan. Ada dua jenis porositas yaitu
porositas antar butir dan porositas rekahan. Secara matematis porositas dapat dituliskan
sebagai berikut:
2. Kecepatan Aliran Fluida
Kecepatan aliran darcy atau flux velocity (v) adalah laju alir rata-rata volume
flux per satuan luas penampang di media berpori. Sedangkan kecepatan rata-rata fluida
yang melalui media berpori dikenal sebagai interstitial velocity (u). Hubungan antara
kedua parameter kecepatan tersebut adalah sebagai berikut:Harga flux velocity pada
umumnya sekitar 10-6 m/s. Besarnya interstitial velocity digunakan untuk kecepatan
suatu partikel (partikel kimia penjejak atau tracer) yang mengalir pada media berpori.
3. Permeabilitas
Permeabilitas adalah parameter yang memvisualisasikan kemudahan suatu fluida
untuk mengalir pada media berpori. Parameter ini dihubungkan dengan kecepatan alir
fluida oleh hukum Darcy seperti di bawah iniTanda negatif dalam persamaan di atas
menunjukkan bahwa apabila tekanan bertambah dalam satu arah, maka arah alirannya
berlawanan arah dengan pertambahan tekanan tersebut.
Permeabilitas mempunyai arah, dimana ke arah x dan y biasanya mempunyai
permeabilitas lebih besar dari pada ke arah z. Sistem ini disebut anisotropic.Apabila
permeabilitas tersebut seragam ke arah horizontal maupun vertikal disebut sistem
isotropik.Satuan permeabilitas adalah m2. Pada umumnya pada reservoir panasbumi,
permeabilitas vertikal berkisar antara 10-14 m2, dengan permeabilitas horizontal dapat
mencapai 10 kali lebih besar dari permeabilitas vertikalnya (sekitar 10-13 m2). Satuan
permeabilitas yang umum digunakan didunia perminyakan adalah Darcy (1 Darcy = 10-
12
m2).

KASMIANI RACHMAWATY JOHARIA P


09320140114 09320150071
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

2.5 Parameter Uji kuat Geser

Ada dua parameter dalam uji kuat geser yaitu kohesi dan sudut geser dalam.
Dimna kohesi dan sudut geser dalam adalah suatu parameter mekanika tanah dan batuan
yang sangat sering dijadikan acuan dalam suatu design, pengujian serta analisis suatu
rancangan.Kohesi adalah gaya tarik menarik antara partikel dalam batuan, dinyatakan
dalam satuan berat per satuan luas. Kohesi batuan akan semakin besar jika kekuatan
gesernya makin besar. Nilai kohesi (c) diperoleh dari pengujian laboratorium yaitu
pengujian kuat geser langsung (direct shear strength test) dan pengujian triaxial
(triaxial test).Dikutip dari wikipedia bahwa kohesi adalah gaya tarik-menarik antar
molekul yang sama. Salah satu aspek yang memengaruhi nilai kohesi adalah kerapatan
dan jarak antar molekul dalam suatu benda. Kohesi berbanding lurus dengan kerapatan
suatu benda, sehingga bila kerapatan semakin besar maka kohesi yg akan didapatkan
semakin besar. Dalam hal ini, benda berbentuk padat memiliki kohesi yang paling besar
dan sebaliknya pada cairan. Sedangkan sudut geser dalam batuan secara sederhana
dapat kita lihat saat kita ambil sejumlah pasir dan kita tuang diatas permukaan, pasir
tersebut akan membentuk sudut tertentu dengan permukaan. Inilah makna fisik dari
sudut geser tanah pada kondisi tanpa tegangan pengekang.

KASMIANI RACHMAWATY JOHARIA P


09320140114 09320150071
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

BAB III
PROSEDUR KERJA

3.1 ProsedurKerja

Sebelummelakukanpraktikum, para praktikanmendengarkan beberapa materi pengantar


tentang uji kuat geser. Setelah itu praktikan menyiapkanalatdanbahanterlebihdahulu
sebelum melakukan pengukuran uji geser. Kemudian praktikan mulai menggunakan
safety glasses dan safety shoes, setalah itu core yang terbuat dari gypsum diletakkan
dalamsuatu cetakan beton dengan perbandingan tertentu sehingga merupakan suatu
kesatuan dengan beton tersebut. Selanjutnyagypsumyang telah berada dalam cetakan
beton dimasukkan ke dalam shear box. Pasang dial gauge untuk mengukur perpindahan
pada arah pergeseran. Selanjutnya diatur pada posisi nol. Kemudian diberikan gaya
normal menggunakan bandul dengan berat tertentu. Lalu diberikan gaya geser dengan
putaran menggunakan mesin direct shearmanual. Selanjutnya praktikan membaca
pertambahangaya setiap interval deformasi sebesar 50 mm. Praktikan kemudian
memberikan tegangan geser dengan memutar berlawanan arah jarum jam pada
pengerakdirect shear test sehingga mencapai puncak (kondisi peak). Setelah gypsum
patah, praktikan memberikan gaya yang searah jarum jam dengan gaya yang
sebelumnya sampai tegangan gesernya mencapai kondisi residual. Selama pemberian
gaya, praktikan melakukan pula pembacaan gaya setiap interval deformasi sebesar atau
50 mm.Setelah maka dilakukan pembacaan data pada sampel dengan mengukur
diameter permukaan sampel akibat patahan dan datanya dimasukkan ke lembar problem
set untuk diolah lebih lanjut.

KASMIANI RACHMAWATY JOHARIA P


09320140114 09320150071
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Problem Set UjiKuatGeser

Diameter Sudut Diameter Sudut Diameter Sudut


Sampel Sampel Sampel
(mm) Bid. Geser (mm) Bid. Geser (mm) Bid. Geser

48 51 48

I 45 II 46 III 48

Gaya Normal =0,2kN Gaya Normal =0,4kN Gaya Normal = 0,6 kN

Gaya Horisontal Gaya Horisontal Gaya Horisontal

Pergeseran Puncak Residual Pergeseran Puncak Residual Pergeseran Puncak Residual

(mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm)

0 0 0 0 0 0 0 0 0

0.5 0,5 3,5 0.5 1 5 0.5 8 12,5

1 0,7 3 1 1,5 5,5 1 9 12,5

1.5 0,5 1,5 1.5 0 8 1.5 8,5 12.5

2 0,5 0 2 1,5 8 2 9 12,5

2.5 1 1 2.5 6 4,5 2.5 9,5 12,5

3 2 1 3 9 2 3 10 12,5

3.5 4,5 1,5 3.5 4,5 1 3.5 10

4 8 2 4 16,5 0,5 4 14

4.5 8 2 4.5 11,5 0 4.5 18

5 5 2,5 5 11 0 5 18,5

5.5 5 2,5 5.5 10,5 1 5.5 18,5

6 5 2,5 6 10 2,5 6 22,5

KASMIANI RACHMAWATY JOHARIA P


09320140114 09320150071
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

6.5 5 6.5 9 2 6.5 24

7 5 7 8 2 ,5 7 23

7.5 5 7.5 7,5 4,5 7.5 14

8 4,5 8 7 6,5 8 13

8.5 4,5 8.5 7 6 8.5 12,5

9 4 9 7 5 9 12,5

9.5 9.5 4,5 9.5 12,5

10 10 10 12,5

4.1.2 Perhitungan Kuat Geser


Rumus Kuat Geser
1. Sampel Housing 1
a. Luas Area
A =3,14 (D1/2) x (D2/2)
48 45
= 3,14 ( )x(2)
2
= 1695,6 mm2
b. Tegangan Normal
σn (MPa) =(Fnormal / A )1000
0,2
=( )1000
1695,6

= 0,117952347MPa
c. Gaya Geser Puncak (Peak)
Fgeser = 0,02031 xdeformasi
= 0,02031 x 8
= 0,16248kN
d. Gaya Geser Sisa (Residual)
Fgeser= 0,02031 xdeformasi
= 0,02031 x 3,5
= 0,071085kN
e. TeganganGeserPuncak (Peak)
τ (MPa) = (Fgeser / A )1000

KASMIANI RACHMAWATY JOHARIA P


09320140114 09320150071
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

0,16248
=( ) x 1000
1695,6

= 0,095824487MPa
f. Tegangan Geser Sisa (Residual)
τ (MPa) = (Fgeser / A )1000
0,071085
=( ) x 1000
1695,6

= 0,041923213MPa
2. Sampel Housing 2
a. Luas Area
A =3,14 (D1/2) x (D2/2)
51 46
= 3,14 ( )x(2)
2
= 1841,61 mm2
b. Tegangan Normal
σn (MPa) =(Fnormal / A )1000
0,4
=( )1000
1841,61

= 0,217201253MPa
b. Luas Area
A =3,14 (D1/2) x (D2/2)
51 46
= 3,14 ( )x(2)
2
= 1841,61 mm2
c. Gaya Geser Puncak (Peak)
F geser = 0,02031 xdeformasi
= 0,02031 x 16,5
= 0,335115kN
d. Gaya Geser Sisa (Residual)
F geser = 0,02031 xdeformasi
= 0,02031 x 8
= 0,16248kN
e. Tegangan Geser Puncak (Peak)
τ (MPa) = (Fgeser / A )1000

KASMIANI RACHMAWATY JOHARIA P


09320140114 09320150071
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

0,335115
=( ) x 1000
1841,61

= 0,181968495MPa
f. Tegangan Geser Sisa (Residual)
τ (MPa) = (Fgeser / A )1000
0,16248
=( ) x 1000
1841,61

= 0,088227149MPa
3. Sampel Housing 3
a. Luas Area
A =3,14 (D1/2) x (D2/2)
48 48
= 3,14 ( )x(2)
2
= 1808,64 mm2
b. Tegangan Normal
σn (MPa) =(F normal / A )1000
0,6
=( )1000
1808,64

= 0,331740977 MPa
c. Gaya Geser Puncak (Peak)
Fgeser = 0,02031 xdeformasi
= 0,02031 x 24
= 0,48744kN
d. Gaya Geser Sisa (Residual)
F geser= 0,02031 xdeformasi
= 0,02031 x 12,5
= 0,253875kN
e. Tegangan Geser Puncak (Peak)
τ (MPa) = (Fgeser / A )1000
0,48744
=( ) x 1000
1808,64

= 0,269506369MPa
f. Tegangan Geser Sisa (Residual)
τ (MPa) = (F geser / A )1000

KASMIANI RACHMAWATY JOHARIA P


09320140114 09320150071
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

0,253875
=( ) x 1000
1808,64

= 0,140367901MPa

4.1.3 Kurva Kuat Geser

Perbandingan Tegangan Normal (MPa) yang berbanding lurus dengan Tegangan Geser

(MPa).

0.3

y = 0.0868x0.269506369
+ 0.0088
0.25

0.2
0.181968495

0.15
y = 0.0492x0.140367901
- 0.0083

0.095824487 0.1
0.088227149

0.05
0.041923213

0
0.331740977 0.217201253 0.117952347

KASMIANI RACHMAWATY JOHARIA P


09320140114 09320150071
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

4.2 Pembahasan

4.2.2 Pembahasan uji kuat geser


Hasil perhitungan uji kuat geser dari sampel 1, sampel 2 dan sampel 3.
1. Luas Area = 3,14 (D1/2) x (D2/2) dari
a. Sampel 1 didapatkan 1695,6 mm2.
b. Sampel 2 didapatkan 1841,61 mm2
c. Sampel 3 didapatkan 1808,64 mm2
2. Tegangan Normal = (F normal / A ) 1000 dari
a. Sampel 1 didapatkan 0,117952347 MPa.
b. Sampel 2 didapatkan 0,217201253 MPa.
c. Sampel 3 didapatkan 0,331740977 MPa.
3. Gaya Geser Puncak (Peak) = 0,02031 x deformasi dari
a. Sampel 1 didapatkan 0,16248 kN
b. Sampel 2 didapatkan 0,335115 kN
c. Sampel 3 didapatkan 0,48744 kN
4. Gaya Geser Sisa (Residual)= 0,02031 x deformasi dari
a. Sampel 1 didapatkan 0,071085 kN
b. Sampel 2 didapatkan 0,16248 kN
c. Sampel 3 didapatkan 0,253875 kN
5. Tegangan Geser Puncak (Peak) = (F geser / A ) 1000 dari
a. Sampel 1 didapatkan 0,095824487 MPa
b. Sampel 2 didapatkan 0,181968495 MPa.
c. Sampel 3 didapatkan 0,269506369 MPa
6. Tegangan Geser Sisa (Residual) = (F geser / A ) 1000 dari
a. Sampel 1 didapatkan 10,041923213 MPa
b. Sampel 2 didapatkan 0,088227149 MPa
c. Sampel 3 didapatkan 0,140367901 MPa

4.2.2 Pembahasan kurva kuat geser


Jadi data yang telah didapatkan pada percobaan praktikum uji kuat geser
kemudian diolah berdasarkan persamaan rumus luas area, tegangan normal, gaya geser
puncak, gaya geser sisa, tegangan puncak dan tegangan sisa. Hasil yang didapat dari

KASMIANI RACHMAWATY JOHARIA P


09320140114 09320150071
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

persamaan yang telah digunakan, kemudian dikonversikan kedalam bentuk kurva. Dari
kurva yang ditampilkan bahwa Tegangan Normal (MPa) yang berbanding lurus dengan
Tegangan Geser (MPa).

KASMIANI RACHMAWATY JOHARIA P


09320140114 09320150071
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari praktikum ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa ada beberapa parameter
yang mempengaruhi kelakuan atau sifat dari massa batuan yaitu Kekuatan batuan (Rock
strength), Dalam uji kuat geser yaitu kohesi dan sudut geser dalam. Dimna kohesi dan
sudut geser dalam adalah suatu parameter mekanika tanah dan batuan yang sangat
sering dijadikan acuan dalam suatu design, pengujian serta analisis suatu rancangan.
Kohesi adalah gaya tarik menarik antara partikel dalam batuan, dinyatakan dalam satuan
berat per satuan luas. Kohesi batuan akan semakin besar jika kekuatan gesernya makin
besar. Nilai kohesi (c) diperoleh dari pengujian laboratorium yaitu pengujian kuat geser
langsung (direct shear strength test) dan pengujian triaxial (triaxial test). Dikutip dari
wikipedia bahwa kohesi adalah gaya tarik-menarik antar molekul yang sama. Salah satu
aspek yang memengaruhi nilai kohesi adalah kerapatan dan jarak antar molekul dalam
suatu benda. Kohesi berbanding lurus dengan kerapatan suatu benda, sehingga bila
kerapatan semakin besar maka kohesi yg akan didapatkan semakin besar. Dalam hal ini,
benda berbentuk padat memiliki kohesi yang paling besar dan sebaliknya pada cairan.
Sedangkan sudut geser dalam batuan secara sederhana dapat kita lihat saat kita ambil
sejumlah pasir dan kita tuang diatas permukaan, pasir tersebut akan membentuk sudut
tertentu dengan permukaan. Inilah makna fisik dari sudut geser tanah pada kondisi tanpa
tegangan pengekang.

5.2 Saran
5.2.1 Asisten
Saran saya yaitu semoga para asisten lab tetap semangat mengajar kami para
praktikan dan terus belajar demi kelangsungan masa depan.

5.2.2 Laboratorium
Saran saya untuk lab ini agar kedepannya alat dan bahan praktikum lebih
ditingkatkan dan ditambahkan demi meningkatnya kualitas tambang UMI itu sendiri.

KASMIANI RACHMAWATY JOHARIA P


09320140114 09320150071
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

DAFTAR PUSTAKA

Kramadibrata Suseno, 2009.”Karakteristik Massa Batuan”.Departemen Teknik


Pertambangan.Institut Teknologi Bandung.
Tim asisten mekanika batuan, 2017.”Penuntun Praktikum Mekanika Batuan”.Fakultas
Teknologi Industri.Universitas Muslim Indonesia.

KASMIANI RACHMAWATY JOHARIA P


09320140114 09320150071