Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

PRODUKSI DOMBA DAN KAMBING


“PENGENALAN ALAT”

KELAS : E
KELOMPOK : 8

MUHAMMAD GHAISAN F.B. 200110160275


EKA JURINA TARIGAN 200110160277
MUHAMMAD ILYAS S.A. 200110160279
BENITA ARISTYA ARYANI 200110160280
AKHMAD RIZQON HAFIZ 200110160281

LABORATORIUM PRODUKSI TERNAK POTONG


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2018
1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ternak kambing dan domba merupakan salah satu usaha yang cukup

menjanjikan, disamping perawatannya cukup mudah, serta kesediaan pakan bisa

didapatkan dari dedaunan maupun rerumputan yang banyak terdapat di sekitar,


kambing dan domba juga mudah untuk dibudidayakan baik untuk konsumsi

ataupun dari segi penjualannya. Salah satu faktor penting dalam ternak kambing

dan domba adalah adanya kandang yang berfungsi untuk melindungi kambingdan

domba. Banyak peternak kambing serta domba yang belum memiliki pemahaman

serta pengetahuan teknis, salah satunya tentang alat-alat yang diperlukan dalam

penanganan dan pemeliharaan domba atau kambing.

Praktikum tentang alat-alat untuk pemeliharaan dan penanganan domba

atau kambing ini bertujuan untuk mengenalkan alat yang berperan penting dalam

menunjang produktivitas dari ternak domba dan kambing tersebut. Dan juga untuk

mengenalkan fungsi dari masing-masing alat yang berguna dalam kegiatan


peternakan.

Dalam praktikum kali ini peralatan atau karkas yang dipergunakan dalam

sistem pemeliharaan domba dan kambing terdiri dari beberapa bagian yaitu: alat

penanda ternak (marking), aksesoris ternak, alat pengukuran ternak, obat-obatan,

alat karkas ternak, alat untuk tanduk dan bulu ternak, dan alat untuk kastrasi.
2

1.2 Maksud dan Tujuan

1. Untuk mengetahui berbagai macam alat yang digunakan dalam manajemen

produksi domba dan kambing

2. Untuk mengetahui fungsi alat yang digunakan dalam manajemen produksi

domba dan kambing.

1.3 Waktu dan Tempat


Hari, Tanggal : Rabu, 3 April 2018

Tempat : Laboratorium Produksi Ternak Potong Fakultas

Peternakan Universitas Padjadjaran


3

II

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Kata pemeliharaan diambil dari bahasa yunani terein artinya merawat, menjaga

dan memelihara. Pemeliharaan adalah suatu kobinasi dari berbagai tindakan yang

dilakukan untuk menjaga suatu barang dalam, atau memperbaikinya sampai suatu

kondisi yang bisa diterima. Untuk pengertian pemeliharaan lebih jelas adalah tindakan

merawat mesin atau peralatan pabrik dengan memperbaharui umur masa pakai dan

kegagalan/kerusakan mesin. Pengetahuan mengenai pemeliharan pada ternak kambing

dan domba sangat diperlukan untuk keberhasilan dalam bidang perawatan dan

penunjang produksi. (Setiawan F.D, 2008 ).

Pemeliharaan ternak domba dan kambing pada umumnya sama seperti pada

pemeliharaan ternak ruminansia lainnya seperti penanganan, pemotongan tanduk,

kastrasi, identifikasi, pemeliharaan kuku, pemotongan bulu pada domba, penanganan

penyakit dan kelahiran, penentuan bobot badan dan pengendallian ternak.

2.1.Penanganan (Handling)

Penanganan adalah suatu proses yang pada kegiatan manusia melakukan

pekerjaan terhadap ternak membutuhkan beberapa pengekangan atau penyesuaian diri

ternak tersebut. Dalam penanganan ada yang disebut handling dan restrain. Handling

adalah membuat gerakan hewan dibatasi sehingga tidak sulit penanganannya tetapi

hewan masih bisa bergerak. Restrain adalah memperlakukan hewan agar tidak bisa
4

bergerak dalam keadaan sadar.Pada dasarnya ternak merupakan hewan liar yang telah

didomestikasikan untuk keperluan menghasilkan produk sesusai kebutuhan manusia.

Dapat dipastikan bahwa semua jenis ternak yang telah didomestikasikan itu masih

mempunyai sifat-sifat dasar,sehingga untuk keperluan pengelolaan sehari-hari kita

dituntut untuk menguasai teknik-teknik pengusaan ternak. Penggunaan peralatan

handling hendaknya harus diperhatikan oleh peternak agar pada saat penanganan

handling tidak terjadi kesalahanyang berakibat pada terlukanya ternak tersebut.


(Heriyadi, 1990)

Penguasaan terhadap ternak (handling ) dalam usaha peternakan, terutama

ditujukan untuk keperluan-keperluan sebagai berikut :

a) Mempermudah penanganan ternak, baik dilapangan maupun dikandang.

b) Menghindarkan kerugian yang disebabkan oleh ternak, disamping itu untuk

menjamin keamanan bagi ternak itu sendiri.

c) Mempermudah penanganan sehari-hari, seperti pemotongan kuku, ekor,

tanduk, pencukuran bulu, kastrasi, dan lain sebagainya. (Purnomoadi, 2003)

2.2.Identifikasi ternak
Identifikasi ternak merupakan suatu bentuk recording yang harus dilakukan

pada setiap ternak. Identifikasi ternak dapat dilakukan dalam bentuk ear tag, tato dan

papan nama. Metode identifikasi ternak dapat terbagi dalam 2 kategori, yaitu permanen

dan temporer. Identifikasi permanen meliputi menusuk telinga dan pemakaian tattoo,

Sketsa, foto, merek (pemberian nama) dan elektrik. Tipe nonpermanen yaitu

memakaikan kalung di leher, pemberian tanda di telinga, pemberian gelang kaki,


5

penandaan pada punggung, rantai leher dengan tanda, pemberian tanda di panggul,

pemberian tanda pada ekor, menandai dengan cat dan crayon, dan sebagainya. Metode

ini sangat ideal untuk semua kondisi. Proses penaandaan pada ternak sangat penting

karena agar mempermudah dalam pengidentifikasian. Dimana indentifikasi ternak

akan membantu proses rekording, dimana manusia memiliki sifat yang sejak lahir

sudah ada pada diri manusia yaitu lupa. Selain itu juga pemberian tanda pada ternak

akan mempermudah dalam pemberian pakan sesuai dengan kebutuhan ternak


tersebut. Selain itu, pemberian tanda ini juga memudahkan untuk melakukan

identifikasi tiap-tiap sapi yang dipeliharabaik dalam mengetahui siklus birahi, dan jenis

ternak yang dipelihara. Banyak cara dan pilihan untuk identifikasi tersebut, seperti

pamasangan anting telinga, tattoo, foto dengan marka berwarna dan paling popoler

adalah pemberian cap atau branding. (Heriyadi, 1990)

2.3.Pemotongan kuku

Kuku tidak terpelihara akan sangat mengganggu karena dapat mengakibatkan

kedudukan tulang teracak menjadi salah, sehingga titik berat badan jatuh pada teracak

bagian belakang, bentuk punggung menjadi seperti busur, mudah terjangkit penyakit
kuku, dan mengakibatkan kepincangan pada ternak. Kuku yang tumbuh panjang dapat

menghambat aktivitas ternak, seperti naikturun kandang, berjalan untuk mendapatkan

makanan dan minum, atau berdiri dengan baik sewaktu melakukan perkawinan. Di

samping itu menyebabkan ternak sulit berjalan dan timpang, sehingga mudah terjatuh

dan mengalami cedera. Kalau ternak itu sedang mengalami kebuntingan, maka dapat

mengakibatkan keguguran. Upaya untuk menjaga agar kedudukan kuku tetap serasi,
6

maka setiap 3-4 bulan sekali dianjurkan untuk melakukan pemotongan kuku secara

teratur, terutama kuku kaki bagian belakang. Sebab kuku kaki depan lebih keras

dibandingkan bagian belakang yang selalu basah terkena air kencing dan kotoran.

Tetapi dari segi kecepatan pertumbuhan, kuku kaki belakang maupun kaki depan

memiliki kecepatan tumbuh yang sama, sehingga baik kuku belakang maupun kuku

kaki depan perlu dilakukan pemotongan secara teratur.

Tujuan pemotongan kuku adalah untuk menanggulangi masalah penyakit kuku dan
menjaga keseimbangan gerak ternak pada saat berdiri, istirahat, efisiensi penggunaan

ransum, dan produktivitas ternak. Pemotongan kuku dapat dilakukan dengan cara

merebahkan ternak terlebih dahulu atau dapat pula tanpa merebahkan. Pemotongan

kuku tanpa merebahkan ternak biasanya kurang memuaskan. Sebab tidak semua bagian

kuku yang hendak dipotong dapat terpotong dengan baik dan akan sulit

mengerjakannya jika kurang terampil. Peralatan yang yang dipergunakan pada

pemotongan kuku padadomba dan kambing ini biasanya menggunakan hoof knife.

(Heriyadi, 1990)

2.4.Pemotongan tanduk
Salah satu sifat ruminansia dewasa khususnya domba adalah suka berkelahi,

akibatnya sering terjadi perlukaan akibat tandukan. Untuk mencegah terjadinya luka-

luka, alangkah baiknya tanduk ternak yang masih muda dipotong atau dihilangkan

(dehorning). Pemotongan ini akan berlangsung mudah dan aman, kalau umur ternak di

bawah satu bulan. Dehorning dapat dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut

dehorner, baik electric dehorner (pemotong tanduk elektrik), manual dehorner


7

(pemotong tanduk manual), atau dehorner paste (pasta untuk merapuhkan tanduk).

Tujuan pemotongan tanduk adalah memudahkan penaganganan ternak dan mencegah

timbulnya perlukaan akibat tandukan. Cara menghilangkan tanduk adalah sebagai

berikut, bulu disekitar tanduk digunting bersih, dan cuci daerah tersebut dengan sabun,

lalu keringkan dengan kapas bersih. Pipa besi dibakar dalam tungku lalu tempelkan

bagian yang merah membara itu sehingga membakar kulit disekitar tunas tanduk.

Perlakuan ini sangat cepat , hanya berlangsung sekitar 2 detik saja, jangan berlangsung
lebih luka, karena bisa merusak sel otak. Tunas tanduk yang benar-benar terbakar,

mudah sekali terkelupas, luka akibat pengelupasan, diobati dengan bubuk antibiotika

lalu kambingnya disuntik dengan obat tetanus antitoksin. Tunas tanduk yang tercabut,

tak akan menumbuhkan tanduk lagi. (Johnston, 1983)

Pemotongan tanduk pada domba dan kambing biasanya dilakukan saat ternak

tersebut masih kecil dengan tujuan agar tenak tersebut tidak menyakiti domba atau

kambing yang lain terlebih bila dikandangkan di kandang yang tidak individu. Di

Indonesia jarang dilakukan dehorning dikarenakan tanduk pada domba menjadi

karateristik dan nilai jual tersendiri terlebih pada jenis domba tangkas. (Johnston, 1983)

2.5.Katrasi dan pemotongan ekor

Kastrasi adalah usaha untuk menghilangkan fungsi reproduksi ternak jantan

sebagai pejantan atau pemacak, dengan cara menghambat proses pembentukan dan

pengeluaran sperma. Kastrasi dapat dilakukan melalui dua cara yaitu: kastrasi tertutup

dan terbuka.
8

a. Kastrasi Tertutup Kastrasi tertutup dilakukan dengan mengikat saluran yang

menuju testes, sehingga sel-sel jantan mati karena tidak memperoleh zat-zat makanan.

Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan zat kimia atau dengan menjepit atau

mengikat saluran sperma. Kastrasi tertutup dapat dilakukan dengan beberapa macam

alat misalnya karet elastrator dan tang burdizzo. Cara ini efektif dilakukan pada ternak

umur 1 minggu. Saluran menuju testes secara perlahan-lahan dimampatkan oleh

penjepit cincin karet. Alat untuk memasang cincin karet dinamakan tang penguak atau
elastrator , yaitu untuk menguakkan karet yang lubangnya kecil untuk dapat melewati

buah zakar dengan menempatkan cincin pada pangkalnya.

b. Kastrasi Terbuka Kastrasi terbuka adalah kastrasi yang dilakukan dengan

jalan pembedahan untuk mengeluarkan testes, cara ini efektif dilakukan pada ternak

yang berumur 7-14 hari. Kastrasi pada usia dewasa tidak terlalu berpengaruh terhadap

pertumbuhan, namun dapat memperbaiki kualitas karkas daging setelah ternak

dipotong, ternak yang dikastrasi pembawaannya akan lebih tenang dan

pertumbuhannya cepat. Sebaiknya ternak yang akan dikastrasi berumur tidak lebih dari

8 bulan, sebab setelah umur lebih dari 8 bulan mudah mengalami cekaman dan

pendarahan yang hebat. Kastrasi atau pengebirian yang dilakukan pada ternak
bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan, selain itu agar memungkinkan untuk

memperoleh nilai karkas daging yang berkualitas baik. Ternak yang dikastrasi akan

memperlihatkan tubuh yang lebih gemuk, bulat, dan lebih mudah dikelola terutama

dalam suatu peternakan yang besar. (Akoso, 1996)

Ternak yang tidak terseleksi sebagai pejantan lebih baik dikastrasi agar tidak

mengawini betina dan mempunyai keturunan. Hilangnya fungsi ternak sebagai


9

pejantan akan menghilangkan nafsu untuk kawin, sehingga dapat mengurangi peluang

penularan penyakit, khususnya penyakit yang menular lewat perkawinan. Kastrasi

dilakukan pada ternak jantan sedangkan pemotongan ekor biasanya dilakukan pada

ternak betina. Docking adalah tindakan memotong ekor biasanya dilakukan pada ternak

betina yang akan dikawinkan, namun memiliki ekor besar yang dapat menghambat

dalam melakukan proses perkawinan secara alami. Pemotongan ekor sering dilakukan

pada domba ekor gemuk karena memiliki ekor yang besar. (Akoso, 1996).

2.6 Pencukuran bulu

Pencukuran bulu dilakukan 3–6 bulan satu kali. Pencukuran dilakukan setelah

domba diberi makan untuk mengurangi cekaman (stress). Biasanya pencukuran bulu

dilakukan dengan menggunakan gunting cukur. Ada dua macam alat pencukur bulu,

yaitu electric shearing machine (gunting cukur elektrik) dan manual shearing (gunting

cukur manual). (Harsign, 1983)

Akan tetapi kebanyakan peternak kecil banyak mempergunakan alat cukur yang

manual, karena alat tersebut harganya lebih murah dibandingkan gunting cukur

elektrik. Sebenarnya dari segi efektivitas alat gunting cukur elektrik jauh lebih efektif
karena memiliki daya cukur yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan gunting cukur

manual, di samping itu hasil pencukuran jauh lebih rapi dan lebih teratur. Tujuan

pencukuran bulu adalah untuk menghilangkan sarang kutu penghisap darah,

memperbaiki kualitas daging, memperbaiki kualitas sperma, dan memperoleh hasil

pencukuran bulu/wool untuk dijual secara komersial. Pencukuran bulu dimulai dari
10

bagian perut menuju tulang belakang, dilanjutkan dengan pencukuran dari pangkal

ekor sampai ke kepala sejajar tulang punggung. (Johnston, 1983)

2.7 Peralatan Pemotongan Daging

Ketersediaan alat pemotong daging sangat diperlukan untuk memperoleh

karkas/daging yang berkualitas baik dan sehat, Pejagal atau pemotong daging harus

menggunakan peralatan yang sesuai dengan fungsi alat tersebut secara benar, di
samping itu seluruh peralatan yang digunakan harus dalam keadaan bersih. Pemotong

daging yang profesional seharusnya selalu memiliki peralatan sendiri pada saat

bertugas. Peralatan dasar yang digunakan dalam pemotongan daging, antara lain: pisau,

pengasah, gergaji, pembelah daging (cleaver),carver, slicer, filleting knife, boning

knife, dan skinning knife. (Carles, 1987)

2.8 Pengobatan

Keberhasilan setiap usaha peternakan tidak hanya bergantung atas faktorfaktor

bibit, pakan, dan manajemen, akan tetapi bergantung pula terhadap faktor penyakit.

Usaha yang telah dirintis dengan susah payah akan jadi siasia, bila peternak tidak
memperhatikan kesehatan ternak. Oleh karena itu pengendalian penyakit menjadi lebih

utama dibandingkan pengobatan terhadap penyakit yang telah berjangkit di suatu

peternakan.

secara singkat mengenai hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencegah

timbulnya penyakit dan beberapa penyakit yang sering menyerang ternak ruminansia.

Hal-hal yang perlu diperhatikan agar tidak mudah terserang penyakit, antara lain adalah
11

1. Perhatikan kebersihan ternak, peralatan yang digunakan, dan lingkungan setempat.

2. Pisahkan ternak sakit atau diduga sakit pada kandang isolasi dan bersihkan kandang

yang pernah ditempati ternak sakit oleh desinfektan.

3. Pantau dan rawat ternak-ternak yang sakit secara cermat dan teliti.

4. Berikan ransum yang memiliki kualitas yang baik dalam kuantitas yang memadai,

di samping itu sediakan air minum yang bersih dalam jumlah yang cukup.

5. Ternak dari luar peternakan yang didatangkan, sebaiknya dipisahkan pada kandang
isolasi dan dipantau paling tidak selama 10-14 hari, sampai diyakini benar ternak

tersebut tidak bermasalah dari sisi kesehatan.

6. Konsultasi dengan petugas dinas peternakan setempat atau dokter hewan, untuk

memeriksakan kondisi ternak, vaksinasi, atau hal-hal lain. (Akoso, 1996)

III

ALAT, BAHAN, DAN PROSEDUR KERJA

3.1 Alat

 Kamera

 Alat Tulis
12

 Alat peenanda ternak (marking), alat pengukuran, alat kesehatan, alat karkas,

alat kastrasi dan alat aksesoris ternak.

3.2 Prosedur Kerja

 Peralatan perkandangan yang telah disediakan di tiap meja diamati per

kelompok

 Setiap alat perkandangan yang terdapat di atas meja, diamati dan di

dokumentasikan lalu ditulis dalam laporan praktikum sementara.


 Setiap waktu 3 menit kelompok dilakukan rolling atau bergantian ke meja

selanjutnya.

IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

4.1.1. Alat Penanda ternak (marking)


13
14

4.1.2. Alat Aksesoris Ternak


15

4.1.3 Alat Pengukuran Ternak


16
17
18

4.1.4 Alat Kesehatan Ternak

4.1.5 Alat Karkas Ternak


19

4.1.6 Alat Pemotongan Tanduk


20

4.1.7 Alat Kastrasi


21

4.2. Pembahasan

Alat-alat untuk manajemen produksi ternak domba dan kambing berdasarkan

fungsinya digolongkan menjadi beberapa macam yaitu alat peenanda ternak (marking),

alat pengukuran, alat kesehatan, alat karkas, alat kastrasi dan alat aksesoris ternak.

Berikut macam-macam alat beserta fungsinya.

1) Alat Penanda pada Ternak

a. Ear Tag, Leg Tag dan Neck Tag


Berfungsi sebagai penanda ternak yang ditempelkan pada telinga (Ear Tag),

kaki (Leg Tag) dan leher (Neck Tag) yang telah diberi nomor sebagai pembeda

dari ternak yang satu dengan yang lainnya.

b. Rotary Tattoo, Manual Tattoo, Electric Tattoo dan Outfit Tattoo

Berfungsi sebagai penanda ternak dengan pemberian tattoo pada bagian daun

telinga biasanya berupa susunan dari nomor ataupun gabungan dengan huruf .

c. Aplicator Tang (Tang Ear Tag)

Berfungsi sebagai alat dalam pemasangan ear tag pada ternak

d. Paint Stick

Berfungsi sebagai penanda ternak dalam pemilihan misalkan pada seleksi


induk, bibit ataupun sebagai ternak potong.

e. Tinta Cina

Berfungsi sebagai penanda pada ternak seperti paint stick


22

2) Alat Pengukuran pada Ternak

a. Scrotum Measurement

Berfungsi sebagai alat ukur besar kecilnya ukuran skrotum ternak

b. Termometer Mak-Min

Berfungsi sebagai alat pengukur suhu air maksimum dan minimunya suatu

tempat. Satuan suhu dalam Celcius

c. Higrometer
Berfungsi sebagai alat pengukur kelembapan suatu tempat untuk mencegah

timbulnya penyakit ataupun jamur yang dapat mengganggu dalam usaha

peternakan. Biasanya pada tempat penyimpanan alat, produk hasil ternak dan

pakan ternak

d. Barometer

Berfungsi sebagai alat ukur kecepatan angin

e. Pregnant Test

Berfungsi sebagai Alat untuk menditeksi (mendengar) janin pada kandungan

ternak untuk memastikan keadaan janin.

f. Ph meter
Berfungsi sebagai alat pengukur derajat keasaman suatu larutan

g. Kalender siklus ternak

Berfungsi sebagai alat berupa kalender kebuntingan pada ternak, pada kalender

ini juga dapat diduga sapi akan melahirkan setelah dikawinkan dan

h. Lean meter

Berfungsi sebgai alat pengukur lemak, sebagai alat penilaian (pengkategorian)


23

i. Penetro meter

Berfungsi sebagai alat ukur dari keempuka daging ternak, hal ini sebagai

penilaian (pengkategorian) pada daging ternak tersebut.

j. Timbangan Karkas

Berfungsi sebagai untuk memudahkan dalam penimbangan karkas yang realtif

ukurannya besar.

k. Meteran
Sebagai alat ukur ternak bila tidak ada tongkat ukur khusus dalam pengukuran

.ternak dalam penghitungan pendugaan bobot badan ternak. Intinya sebagai alat

ukur dengan ukuran cm dan inchi.

l. Electric Fence Tester

Alat yang digunakan untuk mengetest voltase dari kawat pagar yang biasa

digunakan di beberapa peternakan..

m. Solar Pak

Sebagai penampung listrik yang dihasilkan dari sinar matahari yang dapat

digunakan dalam penerangan pada malam hari atau penggunaan alat

perlengkapan listrik pada peternakan.

3) Alat Kesehatan Ternak

a. Obat-obatan

Sebagai pertolongan pertama pada saat terlihat penyakit pada ternak ataupun

untuk menjaga kesehatan pada ternak. Obat-obatan pada contoh terdapat obat

cacingan, kembung dll.


24

b. Alat Operasi

Seperngkat alat bantu dalam melakukan operasi pada ternak, alat ini khusus

untuk operasi dengan bahan yang aman (tidak berkarat)

c. Bloat Needle

Sebagai alat untuk menusuk (membuat lubang) di bagian abdomen pada sapi

yang mengalami bloat (kembung).

d. Drenching Gun
Sebagai alat untuk ternak bila terkena cacingan, caranya dengan dimasukan ke

mulut.

4) Alat Karkas Ternak

a. Trimmer

Sebagai alat pemisah antara lemak yan gmenempel pada dagina dengan dikerik

b. Asahan

Sebagai alat mengasah peralatan pisau karkas supaya tidak tumpul

c. Fillet Knives

Seprangkat pisau yang berguna memisahkan antara daging dengan tulang.


Pisau ini memiliki beberapa bentuk untuk mencapai sudut-sudut tulang yang

sulit diraih.

d. Skinning Knife

Alat untuk menguliti (pemisahan kulit dari daging) ternak yang sudah dipotong

e. Slicer Knife

Alat sebagai pemotong daging yang sangat tajam.


25

f. Bonning Knife

Alat khusus untuk memotong tulang yang tidak terlalu besar seperti misalnya

tulang paha, kaki, rusuk dll

g. Gergaji Karkas Electric dan manual

Alat bantu dalam memotong karkas khussunya pada bgian tulang yang sulit

dipotong dengan pisau biasa atau boning knife.

5) Alat untuk Tanduk dan Bulu Ternak

a. Pasta Dehorner

Sebagai alat untuk mematikan sel-sel tanduk agar tidak tumbuh.

b. Manual Dehorner

Sebagai alat pemotong tanduk secara manual dengan prinsip kerja mengikis

tanduk, membuat sudut agar mudah di patahkan.

c. Electric Dehorner

Alat yang digunakan dalam pemotongan tanduk, alat ini seperti solder panas

yang dapat mematikan sel-sel tanduk agar tidak tumbuh.

6) Alat Kastrasi Ternak

a. Elastrator
26

Sebagai alat dalam kastrasi ataupun tail-docking, alat ini membantu membuka

karet elastrator untuk dipasangkan di skrotum (kastrasi) atau di ekor (tail-

docking)

b. Karet Elastrator

Karet yang digunakan pada kastrasi dan tail-docking dengan bantuan alat

elastrator

c. Emasculator dan Liliput Emasculator


Alat sebagai proses kastrasi pada ternak jantan kecil dengan memotong saluran

vasdefeens agar tidak memproduksi semen untuk tujuan memaksimalkan

pertumbuhan bobot badan

d. Castrator-Docker

Alat yang berfungsi sebagai pemotong skrotum dalam kastrasi dan pemotong

ekor (tail-docking)

e. Tang Burdizzo

Alat yang digunakan pada saat kastrasi dengan prinsip memampatkan saluran

vas deferens, dengan begitu reproduksi semen tidak akan terjadi yang akan di

fokuskan pada pertumbuhan.


7) Aksesoris Ternak

a. Restrainer

Alat yang digunakan dalam handling domba agar memudahkan pengikatan

domba (diam ditempat)

b. Stock Shock Cattle/Jigger


27

Alat yang digunakan saat penertiban ternak yang liar (sulit ) diatur ketika

pemotongan atapun masuk kandang.

d. Hoof Clipper

Alat dalam pemotongan kuku, agar ternak tidak mengalami kesulitan dalam

bediri yang akan membuat energinya terbuang sia-sia.

e. Two Hooves Knives

Alat yang digunakan dalam pemotongan kuku bagian bawah agar bagaian
bawah datar atau sama rata.

f. Manual Shearing

Alat untuk pemotongan bulu secara manual.


28

KESIMPULAN

5.1. Alat-alat untuk manajemen produksi ternak domba dan kambing berdasarkan

fungsinya digolongkan menjadi beberapa macam yaitu alat peenanda ternak

(marking), alat pengukuran, alat kesehatan, alat karkas, alat kastrasi dan alat
aksesoris ternak.

5.2. Alat-alat untuk manajemen pemeliharaan ternak domba dan kambing yaitu

meliputi alat penanda ternak, alat pengukuran, alat kesehataan, alat karkas, alat

kastrasi, dan alat aksesoris ternak mempunyai fungsi dan perannya masing-

masing untuk menunjang produktivitas ternak domba dan kambing.


29

DAFTAR PUSTAKA

Akoso, T. B. 1996. Kesehatan Sapi. Kanisius, Yogyakarta.

Carles, A.B. 1987. Sheep Production in the Tropics. ELBS Ed. New Delhi.

Heriyadi, D. 1990. Penanganan Ternak Domba. Fakultas Peternakan Universitas


Padjadjaran. Bandung.

Johnston, R.G. 1983. Introduction to Sheep Farming. Granada Publishing Ltd. London.

Purnomoadi, A.2003. Diktat Kuliah Ilmu Ternak Potong dan Kerja. Fakultas
Peternakan Universitas Dipoegoro. Semarang

Setiawan, F.D, 2008. Perawatan Mekanikal Mesin Produksi. Maximus. Yogyakarta