Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

INTRA NATAL CARE

1. PENGERTIAN
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks, dan janin turun ke dalam jalan
lahir. Kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban didorong keluar melalui jalan lahir.
(Saifuddin, 2002)
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan ari) yang telah cukup bulan
atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain dengan bantuan
atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri). Manuaba membagi persalinan menjadi 3 yaitu :
persalinan spontan bila perssalinan berlangsung dengan tenaga sendiri, persalinan buatan
bila persalinan dengan rangsangan sehingga terdapat kekuatan untuk persalinan dan
persalinan anjuran. (Manuaba, 1998)
Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada
kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala
yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun janin.
2. TUJUAN PENGAWASAN PERSALINAN
1) Mengetahuitahappersalinan sebagai acuanpenilaiankemajuanpersalinandansebagaidasar
untukmenentukan rencana perawatan selanjutnya.
2) Mengetahui kelainan – kelainan
yang mungkin dapatmengganggukelancaranpersalinanatausegeramengetahuipersalinanb
eresiko.
3) Memberikan asuhan yangmemadai selama persalianan dalam upaya mencapaipertolong
anpersalinan yang bersihdanamandenganmemperhatikanaspek sayangibudansayangbayi.
3. JENIS PERSALINAN
1) Persalinan spontan
Bila persalinan seluruhnya berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri
2) Persalinan Buatan
Bila proses persalinan dengan bantuan tenaga dari luar
3) Persalinan anjuran
Bila kekuatan yang diperlukan untuk persalinan ditimbulkan dari luar dengan
rangsangan
4. TAHAP PERSALINAN
Menurut Saifuddin (2002), persalinan dibagi dalam empat kala :
a. Kala I
Dimulai dari saat persalinan sampai pembukaan lengkap (10 cm). Proses ini terbagi dalam
2 fase, yaitu :
 Fase laten (8 jam) serviks membuka sampai 3 cm.
 Fase aktif (7 jam) serviks membuka dari 3 sampai 10 cm, kontraksi lebih kuat dan sering
selama fase aktif.
Menurut Helen durasi rata-rata kala satu persalinan adalah 10 sampai 12 jam pada
primigravida dan sekitar 4-6 jam pada multipara.
b. Kala II
Dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi lahir. Proses ini biasanya
berlangsung 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi.
c. Kala III
Dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta yang berlangsung tidak lebih
dari 30 menit
d. Kala IV
Dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam postpartum
5. ETIOLOGI
Sebab terjadinya partus sampai kini merupakan teori yang kompleks. Faktor-faktor
humoral, pengaruh prostaglandin, struktur uterus, sirkulasi uterus, pengaruh syaraf dan
nutrisi mengakibatkan partus mulai. Perubahan dalam biokimia dan biofisika seperti
penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron mengungkapkan mulai dan
berlangsungnya partus. Keadaan uterus yang terus membesar dan menjadi tegang
mengakibatkan ischemic otot uterus. Hal ini mungkin merupakan faktor yang dapat
mengganggu sirkulasi uteroplacenter sehingga plasenta mengalami degenerasi. Bila nutrisi
pada janin berkurang maka konsepsi akan segera dikeluarkan. Tekanan pada ganglion
servikale dari fleksus frankenhauser yang terletak dibelakang serviks dapat membangkitkan
kontraksi uterus. (Wiknjosastro, 2005)
Adapun teori yang menerangkan proses persalinan :
1) Teori kadar progesteron
Progesteron yang mempunyai tugas mempertahankan kehamilan semakin menurun
dengan makin tuanya kehamilan sehingga otot rahim mudah dirangsang.
2) Teori oksitosin
Menjelang kelahiran oksitosin makin meningkat, sehingga cukup kuat untuk
merangsang persalinan.
3) Teori regangan otot rahim
Dengan merengangnya otot rahim dalam batas tertentu menimbulkan kontraksi
persalinan dengan sendirinya.
4) Teori prostaglandin
Prostaglandin banyak dihasilkan oleh lapisan dalam rahim diduga dapat
menyebabkan kontraksi otot rahim dan terjadi persalinan atau gugur kandung.
5) Teori hipotalamus pituitari dan glandula suprarenalis
Teori ini diterangkan oleh Linggin menunjukkan pada kehamilan dengan
anensefalus sering terjadi kelambatan persalinan karena tidak terbentuk hipotalamus.
Pemberian kortikosteroid yang menyebabkan maturitas janin merupakan induksi
persalinan. Glandula suprarenalis merupakan pemicu terjadinya persalinan. (Manuaba.
1998)
6. TANDA DAN GEJALA
1) Tanda-tanda dini akan dimulainya persalinan
a. Lightening
Menjelang minggu yang ke-36, pada primigravida terjadi penurunan fundus uteri
karena kepala bayi sudah masuk PAP yang disebabkan oleh :
1. Kontraksi braxton hicks
2. Ketegangan dinding perut
3. Ketegangan ligamentum rontumdum
4. Gaya berat janin dimana kepala kearah bawah
5. Masuknya kepala bayi ke PAP dirasakan ibu hamil :
a. Terasa ringan di bagian atas, terasa sesaknya berkurang
b. Dibagian bawah terasa sesak
c. Terjadi kesulitan berjalan
6. Sering miksi
b. Terjadi his permulaan
Pada saat hamil muda sering terjadi kontraksi braxton hicks. Kontraksi ini terjadi
karena perubahan keseimbangan estrogen, progesteron dan memberikan kesempatan
rangsangan oksitosin. Dengan semakin tua kehamilan, pengeluaran progesteron
berkurang sehingga oksitosin menimbulkan kontraksi lebih sering sebagai his palsu.
Sifat his palsu atau permulaan :
1. Rasa nyeri ringan dibagian bawah
2. Datangnya tidak teratur
3. Tidak ada perubahan pada serviks
4. Durasinya pendek
5. Tidak bertambah bila beraktivitas
2) Tanda persalinan
a. Terjadi his persalinan
His persalinan mempunyai sifat :
 Pinggang terasa sakit yang menjalar ke depan
 Sifatnya teratur, interval makin pendek dan kekuatanya semakin besar
 Mempunyai pengaruh terhadap perubahan serviks
 Makin beraktivitas kekuatan makin bertambah
b. Pengeluaran lendir dan darah (pembawa tanda)
Dengan his persalinan terjadi perubahan pada serviks yang menimbulkan :
 Pendataran dan pembukaan
 Pembukaan menyebabkan lendir yang terdapat pada kanalis serviks lepas
 Terjadi perdarahan karena kapiler pembuluh darah pecah
c. Pengeluaran cairan
Pada beberapa kasus terjadi ketuban pecah yang menimbulkan pengeluaran
cairan. Sebagian besar ketuban baru pecah menjelang pembukaan lengkap dengan
pecahnya ketuban diharapkan persalinan berlangsung dalam waktu 24 jam.
(Manuaba, Ida Bagus, 1998)
7. MEKANISME PERSALINAN
Mekanisme persalinan adalah cara penyesuaian diri dan lewatnya janin melalui
panggul ibu. Ada enam gerakan dengan overlapping yang jelas yaitu :
1) Penurunan
Penurunan Yang Meliputi Engagement Pada Diameter Obliqua Kanan panggul,
berlangsung terus selama persalinan normal pada waktu janin melalui jalan lahir.
Serakan-serakan lainnya menyertai penurunan ini. Pada primigravida sebelum
persalinan mulai sudah harus terjadi penurunan kepala yang jelas dalam proses
engagement. Penurunan disebabkan oleh tekanan kontraksi uterus ke bawah dan pada
kala II dibantu oleh daya mengejan dari pasien dan sedikit oleh gaya berat.
2) Fleksi
Sebelum persalinan mulai sudah terjadi fleksi sebagian oleh karena ini merupakan
sikap alamiah janin dalam uterus. Tahanan terhadap penurunan kepala menyebabkan
bertambahnya fleksi. Occiput turun mendahului sinsiput, UUK lebih rendah dari bregma
dan dagu janin mendekati dadanya. Biasanya ini terjadi di PAP, tetapi mungkin pula
baru sempurna setelah bagian terendah mencapai dasar panggul. Efek dari fleksi adalah
untuk merubah diameter terendah dari occipitofrontalis (11,0 cm) menjadi suboccipito
bregamatika (9,5 cm) yang lebih kecil dan lebih bulat, oleh karena persesuaian antara
kepala janin dengan panggul ibu mungkin ketat, pengurangan 1,5 cm dalam diameter
terendah adalah penting.
3) Putar Paksi Dalam
Sebagian besar panggul mempunyai PAP berbentuk oval melintang, diameter
anteroposterior PTP sedikit lebih panjang dari pada diameter transversal. PBP berbentuk
oval anteroposterior seperti kepala janin. Sumbu panjang kepala janin harus sesuai
dengan sumbu panjang panggul ibu. Karenanya kepala janin yang masuk PAP pada
diameter transversal atau obliqua harus berputar kediameter anteroposterior supaya
dapat lahir. UUK masuk PTP tempat ia berhubungan dengan dasar panggul (musculus
dan fascia levator ani). Disini UUK berputar 450 ke kanan (menuju garis tengah). Sutura
sagitalis pindah dari diameter obbliqua kanan ke diameter anterioposterior panggul :
LOA ke OA. UUK mendekati sympisis pubis dan cinciput mendekati sakrum. Kepala
berputar dari diameter obliqua kanan kediameter anteroposterior panggul. Tetapi bahu
tetap pada diameter obliqua kiri. Dengan demikian hubungan normal antara sumbu
panjang kepala dengan sumbu panjang bahu berubah, dan leher berputar 450. keadaan
ini terus berlangsung selama kepala masih berada dalam panggul. Putar paksi dalam
yang awal sering terjadi pada multipara dan pada pasien dengan kontraksi uterus yang
efisien. Umumnya putar paksi dalam terjadi pada kala II.
4) Ekstensi
Ekstensi pada dasarnya disebabkan oleh kedua kekuatan yaitu : kontraksi uterus
yang menimbulkan tekanan ke bawah dan dasar panggul yang memberikan tahanan.
Dinding depan panggul (pubis) panjangnya hanya 4 sampai 5 cm, sedangkan dinding
belakang (sakrum) 10 sampai 15 cm. Dengan demikian sinsiput harus menempuh jarak
yang lebih panjang daripada ociput. Dengan semakin turunnya kepala terjadilah
penurunan perineum diikuti dengan kepala membuka pintu (crowing). Ociput lewat
melalui PAP perlahan-lahan dan tengkuk menjadi titik putar di angulus subpubicus.
Kemudian dengan proses ekstensi yang cepat sinsiput menelurus sepanjang sakrum dan
berturut-turut lahirlah bregma, dahi, hidung, mulut dan dagu melalui perineum.
5) Restitusi
Pada waktu kepala mencapai dasar panggul, maka bahu memasuki panggul. Oleh
karena panggul tetap berada pada diameter obbliqua sedangkan kepala berputar
kedepan, maka leher ikut berputar kembali dan kepala mengadakan restitusi kembali 450
(OA dan menjadi LOA) sehingga hubungannya dengan bahu dan kedudukannya dalam
panggul menjadi normal kembali.
6) Putar paksi luar
Putar paksi luar kepala sebenarnya merupakan manifestasi putar paksi dari dalam
dari pada bahu. Pada waktu bahu mencapai dasar panggul bahu depan yang lebih rendah
berputar ke depan di bawah simpisis dan diameter bisacromialis berputar dari diameter
obliqua kiri menjadi diameter anterioposterior panggul. Dengan demikian maka
diameter panjang bahu dapat sesuai dengan diameter memanjang PBP. Kepala yang
telah berputar kembali 450 untuk mengembalikan hubungan normal dengan bahu,
sekarang berputar 450 lagi untuk memprtahankannya : LOA menjadi TOA. (Harry,
Wiliam, 1986)
8. PATHWAY
Proses persalinan

Perubahan hormon (peningkatan estrogen dan Kurang Pengetahuan


oksitosin, penurunan progesteron), pembesaran uterus,
sirkulasi uterus, pengaruh syaraf dan nutrisi
Ansietas
Persalinan dimulai

Kala I

Pembukaan serviks 6 cm (fase aktif)

His semakin kuat

Kepala janin masuk PAP

Dilatasi maksimal Nyeri

Kala II

Distensi PD berulang
Tanda-tanda persalinan

Vesika urinaria Rektum His Blood Show Dilatasi Serviks Engagement Tonjolan
Ketuban

Vulva membuka

Perubahan pola
eliminasi Perineum kaku

Episiotomi

Gg. rasa Kerusakan Resti infeksi


Pengeluaran bayi
nyaman nyeri integritas kulit
Kala III

Kontraksi uterus

Lemah Kuat Pengeluaran plasenta


Resti
Perdarahan Vasokontriksi
kekurangan
volume cairan Kala IV

Adaptasi psikologis Adaptasi fisiologis

Involusio uteri Perubahan payudara


Perubahan peran
Nyeri Laktasi
9. PENATALAKSANAAN
1) KALA I
a. Diagnosis
Ibu sudah dalam persalinan kala I jika pembukaan serviks kurang dari 4 cm dan kontraksi
terjadi tertur minimal 2 kali dalam 10 menit selama 40 detik.
b. Penanganan
1. Bantulah ibu dalam persalinan jika ia tampak gelisah,ketakutan dan kesakitan
2. Jika ibu tsb tampak kesakitan dukungan/asuhan yang dapat diberikan, lakukan
perubahan posisi,sarankan ia untuk berjalan, dll.
3. Penolong tetap menjaga hak privasi ibu dalam persalinan
4. Menjelaskan kemajuan persalinan dan perugahan yang terjadi serta prosedur yang
akan dilaksanakan dan hasil-hasil pemeriksaan
5. Membolehkan ibu untuk mandi dan membasuh sekitar kemaluannya setelah buang
air besar/kecil.
6. Ibu bersalin biasanya merasa panas dan banyak keringat atasi dengan cara: gunakan
kipas angina/AC, Kipas biasa dan menganjurkan ibu mandi sebelumnya.
7. Untuk memenuhi kebutuhan energi dan mencegah dehidrasi berikan cukup minum
8. Sarankan ibu untuk berkemih sesering mungkin
c. Pemeriksaan dalam
Pemeriksaan dalam sebaiknya dilakukan setiap 4 jam selama kala I pada persalinan dan
setelah selaput ketuban pecah. Gambarkan temuan-temuan yang ada pada partogram. Pada
setiap pemeriksaan dalam catatlah hal-hal sebagai berikut :
1. Warna cairan amnion
2. Dilatasi serviks
3. Penurunan kepala (yang dapat dicocokkan dengan pemeriksaan luar)
Jika serviks belum membuka pada pemeriksaan dalam pertama mungkin diagnosis in partu
belum dapat ditegakkan. Jika terdapat kontraksi yang menetap periksa ulang wanita tsb
setelah 4 jam untuk melihat perubahan pada serviks. Pada tahap ini jika serviks terasa tipis
dan terbuka maka wanita tersebut dalam keadaan in partu jika tidak terdapat perubahan
maka diagnosanya adalah persalinan palsu.
d. Kemajuan Persalinan dalam Kala I
Temuan berikut menunjukkan kemajuan yang cukup baik pada persalinan Kala I :
1. Kontraksi teratur yang progresif dengan peningkatan frekwensi dan durasi
2. Kecepatan pembukaan serviks paling sedikit 1 cm perjam selama persalinan
3. Serviks tampak dipenuhi oleh bagian bawah janin
4. Temuan berikut menunjukkan kemajuan yang kurang baik pada persalinan kala I :
5. Kontraksi yang tidak teratur dan tidak sering setelah fase laten
6. Kecepatan pembukaan serviks lebih lambat dari 1 cm perjam selama persalinan
fase aktif
7. Serviks tidak dipenuhi oleh bagian bawah janin
e. Kemajuan pada kondisi janin
1. Jika didapati denyut jantung janin tidak normal ( kurang dari 100 atau lebih dari
180 denyut permenit ) curigai adanya gawat janin
2. Posisi atau presentasi selain aksiput anterior dengan verteks fleksi sempurna
digolongkan kedalam malposisi atau malpresentasi
3. Jika didapat kemajuan yang kurang baik atau adanya persalinan lama tangani
penyebab tersebut.
f. Kemajuan pada kondisi Ibu
Lakukan penilaian tanda-tanda kegawatan pada Ibu :
1. Jika denyut ibu meningkat mungkin ia sedang dalam keadaan dehidrasi atau kesakitan.
Pastikan hidrasi yang cukup melalui oral atau I.V. dan berikan anlgesia secukupnya.
2. Jika tekanan darah ibu menurun curigai adanya perdarahan
3. Jika terdapat aseton didalam urin ibu curigai masukan nutrisi yang kurang segera
berikan dektrose IV.
2) KALA II
a. Diagnosis
Persalinan kala II ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan
pembukaan sudah lengkap atau kepala janin sudah tampak di vulva dengan diameter 5 – 6
cm.
b. Penanganan
1. Memberikan dukungan terus-menerus kepada ibu dengan : mendampingi ibu agar
merasa nyaman,menawarkan minum, mengipasi dan meijat ibu
2. Menjaga kebersihan diri
3. Mengipasi dan masase untuk menambah kenyamanan bagi ibu
4. Memberikan dukungan mental untuk mengurangi kecemasan atau ketakutan ibu
5. Mengatur posisi ibu
6. Menjaga kandung kemih tetap kosong
7. Memberikan cukup minum
c. Posisi saat meneran
1. Bantu ibu untuk memperoleh posisi yang paling nyaman
2. Ibu dibimbing untuk mengedan selama his, anjurkan kepada ibu untuk mengambil
nafas
3. Periksa DJJ pada saat kontraksi dan setelah setiap kontraksi untuk memastikan
janin tidak mengalami bradikardi ( < 120 )
d. Kemajuan persalinan dalam Kala II
Temuan berikut menunjukkan kemajuan yang cukup baik pada persalinan kala II:
1. Penurunan yang teratur dari janin di jalan lahir
2. Dimulainya fase pengeluaran
3. Temuan berikut menunjukkan yang kurang baik pada saat persalinan tahap kedua
4. Tidak turunnya janin dijalan lahir
5. Gagalnya pengeluaran pada fase akhir
e. Kelahiran kepala Bayi
1. Mintalah ibu mengedan atau memberikan sedikit dorongan saat kepala bayi lahir
2. Letakkan satu tangan kekepala bayi agar defleksi tidak terlalu cepat
3. Menahan perineum dengan satu tangan lainnya jika diperlukan
4. Mengusap muka bayi untuk membersihkannya dari kotoran lendir/darah
5. Periksa tali pusat:
6. Jika tali pusat mengelilingi leher bayi dan terlihat longgar selipkan tali pusat melalui
kepala bayi
7. Jika lilitan pusat terlalu ketat tali pusat diklem pada dua tempat kemudian digunting
diantara kedua klem tersebut sambil melindungi leher bayi.
f. Kelahiran Bahu dan anggota seluruhnya
1. Biarkan kepala bayi berputar dengan sendirinya
2. Tempatkan kedua tangan pada sisi kepala dan leher bayi
3. Lakukan tarikan lembut ke bawah untuk melahirkan bahu depan
4. Lakukan tarikan lembut ke atas untuk melahirkan bahu belakang
5. Selipkan satu tangan anda ke bahu dan lengan bagian belakang bayi sambil
menyangga kepala dan selipkan satu tangan lainnya ke punggung bayi untuk
mengeluarkan tubuh bayi seluruhnya
6. Letakkan bayi tsb diatas perut ibunya
7. Secara menyeluruh, keringkan bayi, bersihkan matanya dan nilai pernafasan bayi
8. Jika bayi menangis atau bernafas ( dada bayi terlihat naik turun paling sedikit 30x/m )
tinggalkan bayi tsb bersama ibunya
9. Jika bayi tidak bernafas dalam waktu 30 detik mintalah bantuan dan segera mulai
resusitasi bayi
10. Klem dan pototng tali pusat
11. Pastikan bahwa bayi tetap hangat dan memiliki kontak kulit dengan kulit dada siibu.
12. Bungkus dengan kain yang halus dan kering, tutup dengan selimut dan pastikan kepala
bayi terlindung dengan baik untuk menghindari hilangnya panas tubuh.
3) KALA III
a. Manajemen Aktif Kala III
1. Pemberian oksitosin dengan segera
2. Pengendalian tarikan tali pusat
3. Pemijatan uterus segera setelah plasenta lahir
b. Penanganan
Memberikan oksitosin untuk merangsang uetrus berkontraksi yang juga mempercepat
pelepasan plasenta :
1. Oksitosin dapat diberikan dalam dua menit setelah kelahiran bayi
2. Jika oksitosin tidak tersedia rangsang puting payudara ibu atau susukan bayi guna
menghasilkan oksitosin alamiah atau memberikan ergometrin 0,2 mg. IM.
3. Lakukan penegangan tali pusat terkendali dengan cara :
a. Satu tangan diletakkan pada korpus uteri tepat diatas simpisis pubis. Selama
kontraksi tangan mendorong korpus uteri dengan gerakan dorso kranial – kearah
belakang dan kearah kepala ibu.
b. Tangan yang satu memegang tali pusat dengan klem 5-6 cm didepan vulva.
c. Jaga tahanan ringan pada tali pusat dan tunggu adanya kontraksi kuat ( 2-3 menit )
d. Selama kontraksi lakukan tarikan terkendali pada tali pusat yang terus-menerus
dalam tegangan yang sama dengan tangan ke uterus.
e. PTT hanya dilakukan selama uterus berkontraksi
f. Begitu plasenta terasa lepas, keluarkan dengan menggerakkan tangan atau klem pada
tali pusat mendekati plasenta lepas, keluarkan dengan gerakan ke bawah dan ke atas
sesuai dengan jalan lahir. Kedua tangan dapat memegang plasenta dan perlahan
memutar plasenta searah jarum jam untuk mengeluarkan selaput ketuban.
g. Segera setelah plasenta dan selaput ketubannya dikeluarkan masase fundus agar
menimbulkan kontraksi.
h. Jika menggunkan manajemen aktif dan plasenta belum juga lahir dalam waktu 15
menit berikan oksitosin 10 unit Im. Dosis kedua dalam jarak waktu 15 menit dari
pemberian oksitosin dosis pertama.
i. Periksa wanita tsb secara seksama dan jahit semua robekan pada serviks atau vagina
atau perbaiki episotomi.
4) KALA IV
a. Diagnosis
Dua jam pertama setelah persalinan merupakan waktu yang kritis bagi ibu dan bayi.
Keduanya baru saja mengalami perubahan fisik yang luar biasa – sio ibu melahirkan bayi
dari perutnya dan bayi sedanmg menyesuaikan diri dari dalam perut ibu ke dunia luar.
b. Penanganan
1. Periksa fundus setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 20-30 menit selama jam
kedua. Jika kontraksi tidak kuat masase uterus sampai menjadi keras. Apabila uterus
berkontraksi otot uterus akan menjepit pembuluh darah untuk menghentikan
perdarahan.
2. Periksa tekanan darah,nadi,kantung kemih, dan perdarahan setiap 15 menit pada jam I
dan setiap 30 menit selama jam II
3. Anjurkan ibu untuk minum demi mencegah dehidrasi. Tawarkan ibu makanan dan
minuman yang disukainya.
4. Bersihkan perineum ibu dan kenakan pakaian ibu yang bersih dan kering
5. Biarkan ibu beristirahat
6. Biarkan bayi berada pada ibu untuk meningkatkan hubungan ibu dan bayi
7. Bayi sangat siap segera setelah kelahiran
8. Jika ibu perlu ke kamar mandi, ibu boleh bangun,pastikan ibu dibantu karena masih
dalam keadaan lemah atau pusing setelah persalinan.
9. Ajari ibu atau keluarga tentang :
10. Bagaimana memeriksa fundus dan menimbulkan kontraksi
11. Tanda-tanda bahaya bagi ibu dan bayi.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
a. Identitas
1. Nama suami dan istri 5. Agama
2. Usia 6. Pendidikan
3. Alamat 7. Status perkawinan
4. Pekerjaan 8. Lama Perkawinan
b. Riwayat Kesehatan
1.Keluhan utama
 Ditanyakan untuk mengetahui perihal yang mendorong pasien/ klien datang mencari
pertolongan.
 Riwayatkeluhanutama
 P :Provokasi/palatif (penyebab)
 Q :Quality / bagaimana gejala dirasakan
 R : Region / dimana gejala dirasakan
 S :Skalakeadaan / seberapa parah yang dialami pasien
 T : Time / sejak kapan keluhan terjadi dan sampai kapan

2.Riwayat kesehatan sekarang


Yang perlu dikaji : sejak kapan ibu merasakan pergerakan anak, umur kehamilan, ANC
berapa kali,dimana imunisasi TT didapatkan, teraphie yang didapatkan, penyuluhan yang
didapatkan, bila mulai didapatkan gerakan anak,kalau kehamilan masih muda adalah
mual, muntah, sakit kepala, perdarahan.kalau kehamilan tua adalah bengkak di
kaki/muka, sakit kepala, perdarahan, sakit pinggang dan lain-lain.
3.Riwayat kesehatan dahulu
a) Riwayat kesehatan klien
Menarche padausiaberapa, haidteraturatautidak, siklushaidberapahari, lama haid,
warnadarahhaid, HPHT kapan, terdapatsakitwaktuhaidatautidak.
b) Riwayat kehamilan, persalinan dan nipas yang lalu
Hamildanpersalinanberapa kali, anakhidupataumati, usia, sehatatautidak, penolongsiapa,
nifas normal atautidak.
c) Riwayat pemakaian alat kontrasepsi
Perludicatatbagiibu yang
mengikutiataupernahmengikutiKB.Halinipentingdiketahuiapakahkehamilansekarangdiren
canakanatautidak.
4.Riwayat kesehatan keluarga
Penyakitketurunandalamkeluarga,anakkembarataupenyakitmenular yang
dapatmempengaruhipersalinan.
c Pemeriksaan fisik
1.Penampilan atau keadaan umum
 Tingkat kesadaran:umumnya sadar penuh
 Tanda –tanda vital (tensi, denyut nadi, pernafasan dan suhu)
2.Kepala : Warna rambut, kebersihan, keluhan nyeri atau tidak, lesi ada atau tidak, oedema
ada atau tidak
3.Mata : Fungsi penglihatan, Tanda-tanda anemis ada atau tidak, warna kornea, sklera
ikterik atau tidak
4.Hidung : Fungsi penciuman, adanya nyeri tekan ada atau tidak, kesimetrisan, kebersihan
5.Telinga : Kesimetrisan kedua daun telinga, Fungsi pendengaran, Kebersihan, Keluhan
nyeri, keluaran cairan, adanya nyeri tekan atau tidak, kesimetrisan, kebersihan
6.Mulut : Fungsi pengecapan, kondisi lidah kotor atau bersih, caries ada atau tidak, mukosa
bibir lembab atau tidak, fungsi mengunyah baik atau terganggu.
7.Leher : fungsi pergerakan simetris simetris dextra-sinistra, pembesaran kelenjar thyroid,
fungsi menelan.
8.Dada : periksa keadaan puting susu menonjol atau tidak, kesimetrisan payudara,
pengeluaran ASI, palpasi adanya benjolan, periksa bunyi nafas dan jantung klien.
9.Abdomen:periksa munculnya rasa mules, pada uterus, hitung TFU, periksa letak janin
dengan pemeriksaan leopold 1-4. Periksa DJJ secara teratur untuk mengetahui kondisi
janin, kaji frekuensi dan interval mules yang timbul, kaji/auskultasi bising usus klien.
10. Genitalia
 Kaji pengeluaran cairan dan lendir, periksa pembukaan serviks melalui PD, kaji adanya
cairan ketuban (bau dan warnanya), dan kaji mengenai kebersihan vulva.
11. Urinaria
 Kaji adanya distensi blass, frekuensi berkemih, terpasang DC/tidak, kaji warna dan bau
urine.
12. Kuku dan kulit
 Kaji warna kulit, kebersihan, tekstur, kebersihan, turgor kulit, warna kuku, CRT,
kebersihan kuku.
13. Ekstremitas atas dan bawah
 Kaji mengenai tonus otot, terdapat edema atau tidak, terdapat varises atau tidak.
2. Diagnosa keperawatan yang sering muncul
1) Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan mengenai proses persalinan, trauma
persalinan.
2) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan proses PD yang berulang, adanya trauma jalan
lahir.
3) Resiko tinggi kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan perdarahan yang
banyak pada persalinan.
4) Nyeri berhubungan dengan peningkatan kontraksi uterus.
5) Fatique berhubungan dengan peningkatan kebutuhan energi pada persalinan.
3. Intervensi keperawatan
1) Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan mengenai proses persalinan,
trauma persalinan
Tujuan :
 Setelah dilakukan tindakan perawatan selama ......, cemas berkurang atau hilang.
Kriteria hasil :
 Klien tampak rileks dengan situasi persalinan dan mengerti kronologis persalinan
Intervensi :
Intervensi Rasional
1. Pantau TTV secara teratur 1. TTV dapat menunjukan proses
fisiologis klien
2. Berikan informasi mengenai tenteng 2. Dengan di berikan
perubahan fisiologis dan psikologis pengetahuan/informasi di harapkan
yang berhubungan dengan persalinan klien dapat menurunkan ansietas dan
stress ,meningkatkan kemajuan
persalinan
3. Berikan perawatan dan bimbingan yang 3. Kontinuitas pengkajian dan
baik selama proses persalinan perawatan,dapat membantu dalam masa
penyembuhan klien

2) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan proses PD yang berulang, adanya trauma
jalan lahir
Tujuan:
 Setelah dilakukan tindakan perawatan selama.........., infeksi tidak terjadi.
Kriteria hasil :
 Bebas dari tanda-tanda infeksi
 Cairan amnion jernih, tidak berwarna dan berbau
Intervensi :
Intervensi Rasional
1. Gunakan tekhnik aseptik selama 1. Membantu mencegah pertumbuhan bakteri dan
perawatan vagina mencegah infeksi siang
2. Membersihkan daerah vulva dan 2. Daerah vulva yang kotor dapat memicu
menjaga kebersihannya perkembangan mikroorganisme bakteri
3. Berikan therapy antibiotik jika di 3. Antibiotik dapat menghambat indikasi bakteri
indikasikan

3) Resiko tinggi kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan perdarahan yang
banyak pada persalinan.
Tujuan :
 Setelah dilakukan tindakan perawatan selama ......., tidak terjadi hyvopolemi, cairan
tubuh seimbang.
Kriteria hasil :
 Tidak ada tanda-tanda dehidrasi
 Tekanan darah dan nadi dalam batas normal
Intervensi :
Intervensi Rasional
1. Pantau TTV 1. TTV dapat di gunakan sebagai indikator
dehidrasi
2. Pantau tanda dan gejala 2. Dapat membantu mengetahui sejauhmana
kehilangan cairan berlebih kehilangan cairan/dehidrasi yang di alami
3. Hindari menarik tali pusat 3. Penarikan yang terlalu kuat dapat
secara berlebihan/terlalu kuat menyebabkan terputusnya tali pusat dan
retensi fragmen placenta yang dapat
meyebabkan pendarahan
4. Berikan therapy IVFD sesuai 4. Dapat memenuhi cairan yang kurang sesuai
advis dosis

4) Nyeri berhubungan dengan peningkatan kontraksi uterus


Tujuan :
 Setelah dilakukan tindakan perawatan selama ........., nyeri berkurang/hilang
Kriteria hasil :
 Klien tampak lebih tenang, tidak meringis
 Klien mengeluh tidak nyeri/mules
 Skala nyeri (0)
Intervensi :
Intervensi Rasional
1. Atur posisi klien miring kiri 1. Dengan tidur miring kiri,di harapkan dapat
mempercepat penurunan kepala janin,sehingga
mempercepat pembukaan lengkap dan
persalinan
2. Anjurkan pada klien untuk 2. Dengan menarik nafas dalam,di harapkan
menarik nafas dalam dapat mengurangi rasa mules
(Relaksasi)

5) Fatique berhubungan dengan peningkatan kebutuhan energi pada persalinan


Tujuan :
 Setelah dilakukan tindakan perawatan selama......., fatique dapat teratasi
Kriteria hasil :
 Klien dapat menghemat energi
 Klien tidak kelelahan saat proses persalinan
Intervensi :
Intervensi Rasional
1. Kaji derajat keletihan 1. Untuk mengetahui sejauh mana keletihan yang
di alami klien
2. Anjurkan klien untuk tidak 2. Pengeluaran energi pada waktu meneran dapat
meneran sebelum pembukaan menyebabkan kletihan pada saat persalinan
lengkap
3. Ciptakan lingkungan yang 3. Lingkungan yang tenang dapat meningkatkan
tenang dan atur posisi klien relaksasi klien,dan posisi yang nyaman dapat
senyaman mungkin mempercepat proses persalinan,sehingga dapat
meminimalisirkan pengeluaran energi berlebih
DAFTAR PUSTAKA

Abdul bari saifuddin, 2001, Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan
neonatal, penerbit yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo, Jakarta.

Abdul bari saifuddin, 2002, Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan
neonatal, penerbit yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo, Jakarta.

Hacher/moore, 2001, Esensial obstetric dan ginekologi, hypokrates, jakarta.

Manuaba, Ida Bagus Gede, 2001, Ilmu kebidanan,penyakit kandungan dan keluarga
berencana, EGC, Jakarta.

Marlyn Doenges,dkk, 2001,Rencana perawatan Maternal/Bayi, EGC , Jakarta.

Sarwono, 1989, Ilmu Bedah kebidanan, Yayasan sarwono, Jakarta.