Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Setelah seseorang menemukan hak yang hendak diteliti, merumuskan masalah dan menyusun
pernyataan dugaan, asumsi perkiraan yang merupakan jawaban sementara, hal yang selanjutnya
dilakukan oleh peneliti tersebut adalah menentukan desain penelitiannya.
Desain penelitian erat hubungannya dengan proses desain percobaan karena merupakan
tuntunan bagi seorang peneliti agar bisa mendapatkan jawaban-jawaban yang telah dimunculkan.
Pada bagian desain penelitian terdapat tuntunan bagi peneliti mengenai apa yang harus dicari untuk
menyempurnakan komponen penelitian melalui percobaan, maupun apa yang seharusnya
dikerjakan dan apa pula yang seharusnya tidak dikerjakan.
Tidak hanya menjadi tuntunan bagi para peneliti, desain penelitian juga mempermudah peneliti
untuk menggunakan suatu metode dalam mencari jawaban. Selanjutnya peniliti dapat memilih
desain percobaan yang pas. Dengan adanya desain penelitian, peneliti bisa memilah mana data
yang memang sesuai dengan topik penelitian dan mana data yang tidak sesuai.
Pada makalah ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai desain penelitian dan desain
percobaan. Seperti apa definisi dari desain penelitian dan desain percobaan, manfaat serta tujuan
dari desain penelitian dan desain percobaan, macam-macam desain penelitian dan desain
percobaan yang dikemukakan oleh beberapa ahli, serta bagaimana membuat desain penelitian dan
desain percobaan yang baik.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah pengertian atau definisi dari desain penelitian dan desain percobaan?
2. Apa manfaat, tujuan serta ciri dari dibuatnya desain penelitian dan desain percobaan ?
3. Apa saja jenis-jenis desain penelitian dan desain percobaan ?

1
1.3 Tujuan
1. Mengetahui dan memahami mengenai pengertian atau definisi dari desain penelitian dan
desain percobaan.
2. Mengetahui dan memahami mengenai manfaat, tujuan serta ciri dibuatnya desain
penelitian dan desain percobaan.
3. Mengetahui dan memahami jenis-jenis desain penelitian dan desain percobaan yang
disampaikan oleh beberapa ahli.

2
BAB II
DESAIN PENELITIAN

2.1 Definisi Desain Penelitian


Desain penelitian atau desain studi dapat didefinisikan sebagai rencana, struktur, dan strategi
penyelidikan yang hendak dilakukan guna mendapatkan jawaban dari pertanyaan atau
permasalahan penelitian. Rencana tersebut merupakan skema atau program lengkap dari sebuah
penelitian, mulai dari penyusunan hipotesis yang berimplikasi pada cara, prosedur penelitian dan
pengumpulan data sampai dengan analisis data (Keringler, 1986).
Jadi, pada dasarnya desain penelitian merupakan sebuah rencana prosedural yang menjadi
panduan peneliti untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti secara valid, obyektif, akurat
dan ekonomis. Dengan kata lain desain penelitian sangat diperlukan oleh peneliti untuk
mengarahkan kerja penelitian agar lebih efektif, efisien dan tepat sasaran.

2.2 Manfaat Penelitian


Kumar (2005) menyebutkan bahwa terdapat dua manfaat utama dari desain penelitian. Yang
pertama terkait dengan identifikasi dan/atau pengembangan prosedur dan pengaturan logistik yang
diperlukan dalam kerja penelitian, dan yang kedua menekankan pada pentingnya kualitas
prosedur-prosedur tersebut dalam kaitannya dengan validitas, obyektivitas dan keakuratan kerja
penelitian. Oleh karena itu, melalui sebuah desain penelitian seseorang dapat

1. Mengkonsepkan rencana oprasional untuk menjalankan berbagai prosedur dan tugas yang
diperlukan untuk menyempurnakan studi.

2. Memastikan bahwa prosedur-prosedur tersebut sesuai dan layak untuk memperoleh


jawaban dari pertanyaan atau permasalahan penelitian secara valid, obyektif dan akurat.
Desain penelitian menjabarkan secara lengkap tentang bagaimana seorang peneliti hendak
melakukan penyelidikan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian. Selain itu
adanya desain penelitian juga memungkinkan orang lain memahami dan mengikuti
langkah-langkah yang hendak dijalankan oleh peneliti dalam menemukan jawaban.

3
2.3 Tujuan Desain Penelitian
Penelitian ilmiah dimulai dengan kesadaran terhadap masalah, betapapun kecil dan remeh-
temehnya, suatu kesadaran ketika sesuatu tidak memuaskan, ketika fakta diperlukan untuk
menjelaskan dan memecahkan masalah yang tidak diketahui, ketika keyakinan tradisional tidak
memadai untuk menjelaskan masalah.
Kata Young and Schmid, penyelesaian desain penelitian dalam kenyataannya merupakan
keputusan-keputusan yang berkaitan dengan hal-hal berikut :
1. Kajian dan jenis-jenis data apakah yang anda butuhkan
2. Apakah sebabnya anda melakukan kajian ini
3. Dimanakah data dapat anda temukan
4. Dimanakah atau diwilayah apakah kajian itu akan dilakukan
5. Berapa lama atau pada periode waktu apakah kajian itu akan dilakukan
6. Berapa banyaknya bahan atau berapa kasuskah yang dibutuhkan
7. Dasar pemilihan apakah yang anda gunakan
8. Teknik penghimpunan data apakah yang digunakan
Oleh sebab itu, pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan rancangan kajian yang perlu
dipertimbangkan dalam pembuatan keputusan akan berkaitan dengan apa, dimana, kapan, berapa
dan dengan alat apa. Jika kita pertimbangkan lebih jauh, rancangan penelitian itu setidaknya akan
mencakup hal hal berikut ini :
1. Sumber informasi yang harus dijaring
2. Sifat atau hakekat kajian
3. Tujuan kajian
4. Konteks kajian dengan masalah-masalah lain
5. Wilayah geografis yang akan diliput oleh kajian
6. Periode waktu sebagai pedoman
7. Dimensi dimensi kajian
8. Dasar pemilihan data
9. Teknik yang digunakan dalam penghimpunan data.

4
Telah dikemukakan bahwa desain penelitian adalah istilah yang mengacu pada suatu rencana
untuk memeilih subyek, situs penelitian, dan prosedur penghimpunan data untuk menjawab
pertanyaan penelitian. Desain menunjukan individu-individu mana yang akan dikaji, kapan,
dimana dan dalam lingkungan apa mereka akan dikaji.

Tujuan desain penelitian yang baik adalah memberikan hasil yang dinilai dapat dipercaya.
Kredibilitas mengacu pada seberapa luas hasilnya mendekati realitas dan dipertimbangkan sebagai
sesuatu yang dapat dipercaya dan masuk akal. Kredibilitas menjadi lebih kuat jika desain
penelitian mempertimbangkan sumber-sumber bias yang dapat mengubah temuan. Bias yang
dimaksud disini adalah suatu bentuk salah sistematik, suatu faktor yang mempengaruhi hasil dan
merusak mutu penelitian.

Tujuan desain penelitian yang baik karenanya adalah memberikan suatu jawaban yang
dipercaya terhadap suatu pertanyaan, dan bisa menurunkan kredibilitas hasilnya. Dengan
mendesain kajian yang berhati hati, peneliti dapat melenyapkan atau sedikitnya mengurangi
sumber kesalahan (error) atau bias. Sekalipun demikian, tidak semua sumber bias potensial dapat
dikontrol dengan sempurna dalam penelitian, tetapi kita memiliki prinsip-prinsip rancangan
penelitian untuk menekan sejauh jauhnya pengaruh-pengaruh seperti itu.

2.4 Ciri Desain Penelitian


Desain penelitian tidak pernah dilihat sebagai ilmiah atau tidak ilmiah, tetapi dilihat dari segi
baik atau tidaknya saja. Karena desain juga mencakup rencana studi, maka didalamnya selalu ada
trade off antara kontrol ataupun tanpa kontrol, antara subyektivitas atau obyektivitas. Desain
tergantung dari derajat akurasi yang diinginkan, level pembuktian dari tingkat perkembangan dari
bidang ilmu yang bersangkutan.
Desain yang tepat sekali tidak pernah ada. Hipotesis dirumuskan bisa dalam bentuk alternatif,
karena itu desain juga, dapat berbentuk alternatif-alternatif. Desain yang dipilih biasanya
merupakan kompromi, yang banyak ditentukan oleh pertimbangan-pertimbangan praktis.

5
2.5 Jenis-Jenis Desain Penelitian
Dalam penelitian ilmu sosial terdapat banyak jenis desain penelitian. Sedangkan dalam ilmu
eksakta terutama yang menggunakan metode ekperimen, lazimnya suatu desain penelitian bersifat
sangat spesifik bergantung pada bidang dan konsentrasi peneliti. Seringkali desain penelitian yang
digunakan oleh peneliti bidang eksakta merupakan suatu langkah atau tahapan eksperimental yang
sekali lagi sangat spesifik bagi tiap-tiap bidang keahlian, sehingga jarang atau mungkin tidak
pernah ditemui ada jenis atau sebutan khusus desain penelitian pada penelitian bidang eksakta,
meskipun sebenarnya ketika seorang peneliti bidang eksakta melakukan pekerjaan dilaboraturium,
peneliti tersebut juga sedang mengaplikasikan suatu jenis desain penelitian.
Dalam penelitian bidang sosial yang lazimnya melibatkan penelitian terhadap populasi atau
masyarakat, Kumar (2005) menyebutkan terdapat berbagai desain penelitian yang digolongkan
berdasar tiga macam perspektif, yaitu berdasarkan :

1. Jumlah kontak dengan populasi studi

2. Periode waktu rujukan studi

3. Cara penyelidikan

Tiga macam perspektif diatas merupakan dasar penggolongan sebuah desain penelitian,
sehingga terminotologi yang digunakan bukanlah bersifat universal. Namun demikian, nama-nama
pada jenis penelitian yang tergambar pada gambar 1.1 dalam tiap-tiap dasar penggolongan tersebut
berlaku secara universal. Dan juga, setiap jenis desain yang berbeda pada golongan yang sama
bersifat ekskusif atau terpisah satu dengan lainnya. Artinya, bila suatu desain penelitian
digolongkan dalam jenis cross-sectional , maka pada saat yang sama desain tersebut tidak bisa
digolongkan pada jenis longitudinal, tetapi dapat digolongkan pada jenis non-eksperimental atau
eksperimental, atau juga pada retrospektif atau prospektif.

6
Jumlah Kontak Satu Cross-sectional

Dua Sebelum dan sesudah

Tiga atau lebih Longitudinal


Jenis Desain Penelitian

Periode Waktu Restropektif


Rujukan

Prospektif

Restropektif

Karakteristik Eksperimental
Penyelidikan

Non-Eksperimental

Semi-eksperimental

Gambar 1.1 Menunjukan jenis-jenis desain penelitian yang sering digunakan dalam penelitian
bidang sosial dan kemasyarakatan.

7
1. Berdasarkan Jumlah Kontak

a. Desain penelitian cross-sectional

Studi cross-sectional yang juga dikenal sebagai studi one-shot atau studi kasus, adalah
desain yang paling banyak dimanfaatkan dalam penelitian sosial. Desain ini sangat sesuai dengan
studi atau penelitian yang bertujuan untuk menemukan suatu kejadian pada suatu fenomena,
situasi, masalah, prilaku, atau isu melalui pengambilan cross-section (contoh yang representatif
mewakili keseluruhan) dari suatu populasi. Desain ini sangat berguna dalam memperoleh
gambaran menyeluruh pada waktu saat melakukan studi atau penelitian.

Desain cross-sectional sangat sederhana. Seseorang cukup menetapkan apa yang hedak
ditemukan jawabannya, identifikasi populasi, memilih sample dan memulai kontak dengan para
responden untuk memperoleh informasi yang diperlukan. Semua tahapan itu dilakukan hanya pada
saat titik waktu tertentu saja.

Kelemahan desain cross-sectional adalah tidak mempunyai kemampuan dalam


menjelaskan kemungkinan adanya perubahan kondisi atau hubungan dari populasi yang diselidiki
dalam periode waktu yang berbeda. Kelemahan yang lainnya adalah desain ini tidak mampu untuk
menjelaskan proses yang terjadi dalam obyek/variable yang diselidiki serta hubungan korelasinya.
Desain cross-sectional mampu menjelaskan hubungan antara dua variabel, namun tidak mampu
menunjukan arah hubungan kausal diantara kedua variabel tersebut (Shklovski, et al, 2004). Selain
itu desain ini juga tidak bisa mengukur atau menjelaskan adanya perubahan. Untuk mengukur dan
menjelaskannya, diperlukan paling tidak dua titk waktu, terhadap populasi yang sama.

b. Desain penelitian sebelum dan sesudah

Desain sebelum dan sesudah atau juga dikenal sebagai pre-test/post-test design dapat
digambarkan sebagai pengumpulan data dari dua set penelitian cross sectional terhadap populasi
yang sama untuk menemukan jawaban atau suatu perubahan dalam fenomena atau variabel
diantara dua titik waktu tersebut. Perubahan ditentukan atau diukur dengan membandingkan
perbedaan pada fenomena atau variabel sebelum dan sesudah perlakuan intervensi.

Kelebihan dari desain ini dapat mengukur perubahan situasi, fenomena, isu, prilaku dan
permasalahan yang terjadi di suatu kelompok masyarakat pada dua titik waktu yang berbeda,

8
lazimnya pada sebelum dan sesudah diberlakukannya suatu perlakuan. Desain ini seringkali
digunakan dalam penelitian terkait dengan pengaruh atau efektifitas suatu program di masyarakat.

Kelemahan desain ini dapat terjadi bergantung pada kondisi pengamatan atau
penyelidikan, populasi, dan metode pengumpulan data. Kumar (2005) menyebutkan beberapa
kelemahan metode ini antara lain :

 Karena ada dua set data yang harus dikumpulkan, maka ada dua kontak dengan populasi. Hal
ini menyebabkan dana penelitian membengkak dan membutuhkan waktu yang lebih lama.

 Dalam beberapa kasus dapat terjadi kemungkinan adanya perubahan populasi sebelum dan
sesudah perlakuan. Misalnya dengan alasan tertentu ada anggota populasi yang telah mengikuti
pre-test terpaksa harus emnarik diri dari eksperimen

 Dalam beberapa kasus dijumpai suatu keadan bahwa populasi yang mengikuti pre-test berusia
muda. Jika penelitian memerlukan waktu yang lama, maka populasi bisa menjadi lebih matang
atau dewasa. Hal ini dikenal sebagai efek kedewasaan atau kematangan (mature effect)

 Kadang-kadang instrumen yang digunakan peneliti juga mengedukasi responden, sehingga


responden akan memberikan perhatian lebih saat post-test. Hal ini disebut efek reactif
(reactive effect)

 Kadang responden yang pada saat pre-test memberikan respon yang sangat negatif terhadap
pertanyaan kuisoner, karena beberapa alasan merubah menjadi cenderung positif ketika post-
test. Bila ini terjadi akan memberikan pengaruh terhadap hasil penelitian dan hal ini disebut
sebagai efek regresi (regression effect).

c. Desain penelitian longitudinal

Desain sebelum dan sesudah menggunakan pendekatan untuk menentukan tingkat


perubahan dalam fenomena, situasi, masalah, perilaku dan sebagainya, namun tidak mampu
menjelaskan pola perubahan yang terjadi. Untuk menentukan pola perubahan terkait dengan
waktu, dapat digunakan desain longitudinal.

9
Dalam studi longitudinal, studi populasi dilakukan secara berulang atau berkala dalam
interval waktu tertentu, biasanya dalam jangka waktu yang diaplikasikan bervariasi bergantung
pada informasi yang dibutuhkan dalam penelitian itu sendiri.

Desain longitudinal juga memiliki kelemahan, bahkan dalam beberapa kasus derajatnya
bisa lebih tinggi. Selain itu juga ada kelemahan tambahan yaitu adanya kemungkinan terjadi efek
pengkondisian. Efek tersebut menggambarkan situasi ketika responden yang sama dikontak atau
disurvei berulang kali, sehingga responden mulai mengetahui apa yang diharapkan dari jawaban
mereka, dan pada akhirnya responden merespon pertanyaan tanpa berpikir dan berpotensi
memberikan jawaban yang selalu sama.

Kelebihan dari desain longitudinal adalah memungkinkan peneliti menentukan pola perubahan dan
memperoleh informasi faktual secara berkesinambungan sehingga lebih aktual. Metode
longitudinal juga lebih andal dalam mencari jawaban tentang dinamika perubahan dan berpotensi
menyediakan informasi yang lebih lengkap, bergantung pada oprasional teori dan metodologi
penelitiannya.

2. Berdasarkan Periode Waktu Rujukan

a. Desain penelitian retrospektif

Studi retrospektif mengamati atau menyelidiki suatu fenomena, situasi masalah atau isu
yang telah terjadi pada masa lamapu. Lazimnya jenis studi ini mengamati data yang tersedia pada
masa lamapu atau didasarkan pada responden yang diminta untuk merespon terhadap pertanyaan
yang dirancang untuk menggali kejadian, fenomena, situasi pada masa lampau. Penelitian yang
banyak menggunakan desain ini lazimnya adalah penelitian yang terkait dengan sejarah atau yang
terkait dengan sosiologi.

b. Desain penelitian prospektif

Studi prospektif merujuk pada kejadian suatu fenomena, situasi, masalah, prilaku atau
dampak pada masa akan datang. Penelitian eksperimen biasanya digolongkan kedalam studi
prospektif karena peneliti harus menunggu suatu intervensi atau perlakuan memberi dampak atau
oengaruh terhadap suatu populasi.

10
c. Desain penelitian retrospektif-prospektif

Studi retrospektif-prospektif fokus pada kajian pola yang terjadi pada suatu fenomena pada
masa lampau dan mengamati atau mempelajarinya untuk masa depan. Suatu penelitian
dikatagorikan sebagai desain ini ketika seseorang menentukan dampak suatu intervensi atau
perlakuan tanpa adanya sebuah grup kontrol. Dengan pengertian ini, hampir semua studi sebelum-
dan-sesudah, jika dijalankan tanpa adanya kontrol, yaitu ketika baselinenya dibangun dari populasi
yang sama dengan sebelum ada perlakuan atau intervensi, dapat dikategorikan sebagai studi
retrospektif-prospektif.

3. Berdasarkan Cara Penyelidikan

Berdasarkan kategori ini, desain penelitian dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu: (1)
penelitian ekperimental, (2) penelitian non-ekperimental, (3) penelitian quasi atau semi-
ekperimental.

Jika suatu hubungan dipelajari dengan cara mencari sebab untuk mengetahui atau
menemukan efek, akibat dan dampaknya, penelitian tersebut dikenal sebagai penelitian
eksperimen. Sedangkan jika studi menggunakan cara memulai dari efek, pengaruh atau dampak
untuk menelusuri penyebabnya, maka studi tersebut dikenal sebagai penelitian non-eksperimental.

Pada studi ekperimental, variabel bebas dapat diobservasi, dikontrol atau bahkan
dimanipulasi oleh peneliti untuk mengetahui dampaknya. Sedangkan pada kategori non-
eksperimental, hal pada studi ekperimental tidak dapat dilakukan mengingat bahwa dampaknya
telah terjadi. Sebagai gantinya, peneliti dapat menghubungkan dampak pada penyebab secara
retrospektif. Penelitian semi-ekperimental memiliki karakteristik baikeksperimental maupun non-
eksperimental, sebagian studi dapat dilakukan secara non-eksperimental dan sebagian lain dapat
dilakukan secara eksperimental.

Penelitian eksperimental masih terbagi lagi menjadi banyak jenis desain studi, antara lain:

1. Desain penelitian sesudah-saja

Dalam jenis studi ini, peneliti mengetahui bahwa populasi sedang dan telah mendapatkan
intervensi dan peneliti hanya melakukan studi terhadap dampaknya pada populasi.
Kelemahan utama dari desain ini adalah bahwa dua set data yang diperoleh sebenarnya

11
sangat tidak dapat diperbandingkan, mengingat data awal bukanlah data yang tepat untuk
diperbandingkan.

2. Desain penelitian sebelum dan sesudah

3. Desain penelitian grup-kontrol

Peneliti memilih dua grup populasi, yaitu grup eksperimen dan grup kontrol. Kedua grup
dibuat sedemikian rupa sehingga mempunyai kondisi yang semirip mungkin dan
sebanding. Satu hal yang berbeda adalah adanya intervensi disalah satu grup, yaitu grup
eksperimen. Setelah beberapa waktu dilakukan observasi “sesudah” terhadap kedua grup.
Setiap hasil yang menunjukan adanya perbedaan dari kedua grup dianggap sebagai akibat
dari adanya intervensi pada grup eksperimen.

4. Desain penelitian kontrol-ganda

Meskipun pada desain grup kontrol dapat membantu peneliti menentukan secara kuantitas
dampak yang dihasilkan oleh variabel tambahan, tetapi hal tersebut tidak dapat
menentukan secara terpisah apakah dampak tersebut disebabkan oleh instrumen penelitian
ataukah oleh responden. Untuk dapat mengetahui dampak secara terpisah, diperlukan
desain kontrol ganda. Dalam desain ini peneliti membuat dua grup kontrol sehingga total
grup yang diobservasi sebaanyak tiga grup.

5. Desain penelitian komparatif

Pada beberapa kasus, peneliti ingin membandingkan efektifitas dari metode perlakuan
yang berbeda. Untuk mengetahui hal ini lazimnya digunakan desain penelitian komparatif.
Dalam desain ini, peneliti membagi populasi menjadi beberapa grup sebanyak metode
perlakuan yang hendak diperbandingkan. Selanjutnya dilakukan observasi ‘sesudah’ untuk
mengetahui tingkat perbedaan tersebut.

6. Desain penelitian matched-control

Dalam studi matched, perbandingan ditentukan pada tiap individu (individual by


individual). Dua individual yang hampir mirip terhadap suatu kharakteristik, misalnya usia,
gender, jenis penyakit, dalam suatu populasi dibagi dalam grup yang berbeda. Dalam kasus

12
ini, begitu dua grup dibentuk, maka peneliti harus menentukan secara acak grup mana yang
merupakan grup eksperimental dan mana yang merupakan grup kontrol. Studi matched
sering digunakan pada uji aktifitas obat baru.

7. Desain penelitian placebo

Lazimnya digunakan di bidang kesehatan dan pengobatan. Seorang pasien biasanya


mempunyai keyakinan bahwa ketika mendapatkan perawatan maka si pasien tersebut
merasa pulih dan lebih baik dari sebelumnya, meskipun kenyataanya perawatan tersebut
tidak efektif. Secara psikologis efek tersebut disebut efek placibo. Desain placibo
melibatkan dua atau tiga grup, bergantung apakah mengikutkan grup kontrol atau tidak
untuk mengetahui tingkat efek placibo tersebut. Jika peneliti menghendaki kontrol, maka
ketiga grup tersebut adalah grup eksperimental yang mendapatkan perlakuan. Grup 1 diberi
perlakuan mendapatkan perawatan dan obat yang menyembuhkan, grup 2 diberi obat
kosong untuk mengetahui efek placibo dan grup kontrol yang tidak mendapat perlakuan.
Setelah itu dalam jangka waktu tertentu dilakukan observasi ‘sesudah’.

13
Gambar 1.2 Rincian studi dari desain penelitian
TUJUAN JENIS INVESTIGASI TINGKAT INTERVENSI KONTEKS STUDI PENGUKURAN
STUDI
-Eksplorasi Membuktikan : Minimal : Mempelajari -Direncanakan -Definisi
-Deskripsi 1. Hubungan peristiwa sebagaimana oprasional
-Pengujian kausal adanya -Tidak direncanakan -Item
Hipotesis 2. Korelasional -Skala
3. Perbedaan kel. Manipulasi dan/atau -Kategori
peringkat kontrol dan/atau simulasi
PERNYATAAN
MASALAH

UNIT DESAIN HORIZON WAKTU METODE


ANALISIS SAMPLE PENGUMPULAN DATA
-Individu Probabilitas/ non -Satu Kali (one shoot) -Pengamatan
-Pasangan propabilitas -Lintas bagian (cross -Wawancara
-Kelompok sectional) -Kuesioner
-Organisasi Ukuran sample -Longitudinal -Pengukuran Fisik
-Mesin -Unobtrusive
-dsb.

-Pengujian Hipotesis
-Goodness of Data

ANALISIS DATA
-Feel for data

14
Tujuan Studi

Studi eksploratif

Dilakukan jika tidak banyak diketahui mengenai situasi yang dihadapi, atau tidak ada
informasi yang tersedia mengenai bagaimana masalah atau isu penelitian yang mirip diselesaikan
dimasa lalu. Intinya studi ekspolratif dilakukan untuk memahami dengan lebih baik sifat masalah
karena mungkin baru sedikit studi yang telah dilakukan dalam bidang tersebut. Wawancara
ekstensif dengan banyak orang mungkin harus dilakukan untuk menangani situasi dan memahami
fenomena. Penelitian yang lebih ketat pun kemudian dapat dilaksanakan.

Studi Deskriptif

Dilakukan untuk mengetahui dan menjadi mampu untuk menjelaskan karakteristik variabel
yang diteliti dalam suatu situasi. Misalnya, studi mengenai sebuah kelas dalamm hal presentase
komposisi gender, kelompok usia, jumlah mata kuliah yang diambil dianggap bersikap deskriptif.
Tujuan studi deskriptif karena itu adalah memberikan kepada peneliti sebuah riwayat atau untuk
menggambarkan aspek-aspek yang relevan dengan fenomena perhatian dari perspektif seseorang,
organisasi, atau lainnya. Studi deskriptif yang menampilkan data dalam bentuk yang bermakna,
dengan demikian membantu untuk (1) memahami kharakteristik sebuah kelompok dalam situasi
tertentu, (2) memikirkan secara sistematis mengenai berbagai aspek dalam situasi tertentu, (3)
memberikan gagasan untuk penyelidikan dan penelitian lebih lanjut (4) membuat keputusan
tertentu yang sederhana.

Pengujian Hipotesis

Studi yang termasuk dalam pengujian hipotesis biasanya menjelaskan sifat hubungan
tertentu, atau menentukan perbedaan antarkelompok atau kebebasan (indepedensi) dua atau lebih
faktor dalam suatu situasi. Pengujian hipotesis dilakukan untuk menelaah varians dalam variabel
terikat atau untuk memperkirakan keluaran organisasi.

Jenis Investigasi : Kausal Versus Korelasional

15
Peneliti harus menentukan apakah yang diperlukan adalah studi kasual atau studi
korelasional untuk menemukan jawaban atas persoalan persoalan yang dihadapi. Studi Kasual
dilakukan untuk menentukan hubungan sebab-akibat yang definitif. Tetapi, jika yang diinginkan
peneliti adalah sekedar identifikasi faktor-faktor penting yang “berkaitan dengan” masalah, maka
studi korelasional dipilih. Studi di mana peneliti ingin menemukan penyebab dari satu atau lebih
masalah disebut studi kausal. Jika peneliti berminat untuk menemukan variabel penting yang
berkaitan dengan masalah, studi tersebut disebut studi korelasional.

Tingkat Intervensi Peneliti Terhadap Studi

Intervensi Minimal : Hanya menyebarkan kuisoner, peneliti tidak mengintervensi aktivitas


normal dalam sebuah fenomena.

Intervensi Sedang : Peneliti tidak hanya mengumpulkan data dari perawat mengenai steress yang
mereka alami pada dua selang waktu berbeda, tetapi juga “bermain bersama” atau memanipulasi
peristiwa normal dengan secara sengaja mengubah tingkat dukungan emosi yang diterima oleh
perawat di dua bangsal, sementara membiarkan bangsal ketiga apa adanya.

Intervensi Berlebih : Tidak hanya dukungan dimanipulasi, tapi bahkan situasi dimana eksperimen
diadakan adalah artifisial karena peneliti menarik subyek keluar dari lingkungan normalnya dan
menempatkannya dalam keadaan yang benar-benar berbeda.

Horizon Waktu

Studi Cross-Sectional

Sebuah studi dapat dilakukan dengan data yang hanya sekali dikumpulkan, mungkin
selama periode harian, mingguan, atau bulanan dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian.

Studi Longitudinal

Dalam sebuah kasus, peneliti mungkin ingin mempelajari orang atau fenomena pada lebih
dari satu batas waktu dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian. Misalanya : peneliti ingin
mempelajari perilaku karyawan sebelum dan sesudah pergantian manajet puncak.

Desain Penelitian menurut Nasution

16
Kemudian Nasution (2007) menyebutkan bahwa desain penelitian yang biasanya didapati
adalah desain survey, case study, eksperimen. Hal itu dijelaskan lebih lanjut :

Desain Survey

Suatu penelitian survey bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang orang yang
jumlahnya besar, dengan cara mewawancarai sejumlah kecil dari populasi itu. Survey dapat
digunakan dalam penelitian yang bersifat eksploratif, deskriptif maupun ekperimental. Mutu
survey antara lain bergantung pada :

(a) Jumlah orang yang dijadikan sample,

(b) Tarah hingga mana sample itu representatif, artinya mewakili kelompok yang dipelajari,

(c) Tingkat kepercayaan informasi yang diperoleh dari sample itu.

Semua jenis metode memiliki kekuatan dan kelemahannya sendiri. Kebaikan dari desain
survey sendiri adalah antara lain :

1. Dalam survey biasanya dilibatkannya sejumlah besar orang untuk mencapai generalisasi
atau kesimpulan yang bersifat umum yang dapat dipertanggungjawabkan.

2. Dalam survey dapat digunakan berbagai teknik pengumpuan data seperti angket,
wawancara dan observasi menurut pilihan si peneliti.

3. Dalam survey sering tampil masalah-masalah yang sebelumnya tidak diketahui atau
diduga, sehingga sekaligus bersifat eksploratoris.

4. Dengan survey, peneliti bisa membenarkan atau menolak teori tertentu.

5. Biaya survey lebih murah ditinjau dari besarnya jumlah orang yang memberikan informasi.
Khususnya bila digunakan angket yang dapat dikirimkan melalui pos, dengan biaya rendah.
Bila menggunakan wawancara dengan kontak langsung dengan sample, tentu biaya akan
lebih tinggi.

Kelemahan desain survey antara lain :

17
1. Survey biasanya meneliti pendapat atau perasaan populasi yang tidak mendalam, apalagi
bila digunakan angket.

2. Pendapat populasi yang disurvey rentan untuk berubah-ubah dalam jangka waktu singkat
karena pengaruh lingkungan.

3. Tidak ada jaminan bahwa angket dijawab oleh seluruh sample dengan serius.

Desain Case Study

Case study adalah bentuk penelitian yang mendalam tentang suatu aspek lingkungan sosial
termasuk manusia di dalamnya. Case study dapat dilakukan terhadap seorang individu,
sekelompok individu, segolongan manusia, lingkingan hidup manusia atau lembaga sosial. Case
study dapat mengenai perkembangan sesuatu, dapat pula memberikan gambaran tentang keadaan
yang ada.

Bahan dari case study bisa diperoleh dari sumber-sumber seperti laporan hasil pengamatan,
catatan pribadi, kitab harian, atau biografi seseorang yang sedang diselidiki, laporan atau
keterangan dari orang-orang yang banyak tau tentang hal itu.

Keuntungan dari case study antara lain :

1. Bisa digunakan untuk setiap aspek kehidupan sosial, kecuali bila ada rintangan yang tidak
dapat diatasi seperti tidak mungkinnya diperoleh keterangan, atau karena alasan keuangan,
waktu dan tenaga.

2. Dapat digunakan untuk meneliti setiap aspek spesifik dari suatu topik atau keadaan sosial
secara mendalam.

3. Dalam case study dapat digunakan berbagai cara pengumpulan data seperti observasi,
wawancara, angket, studi dokumenter, dan alat pengumpul data lainnya untuk memperoleh
informasi.

4. Case study dapat menguji kebenaran teori. Jika case study tersebut didasarkan atas teori-
teori tertentu, maka case study yang mendalam tentang aspek-aspek yang spesifik
membuka kesempatan untuk menguji kebenaran teori itu. Dari hasil case study itu ada
kemungkinan untuk merumuskan generalisasi-generalisasi tertentu.

18
5. Case study bisa dilakukan dengan biaya yang rendah. Ini antara lain bergantung pada
metode pengumpulan data yang digunakan.

Selain memiliki kelebihan, case study juga memiliki kekurangan, antara lain :

1. Oleh sebab case study mempelajari aspek aspek yang spesifik, kemungkinan untuk
mencapai generalisasi sangat terbatas. Generalisasi berdasarkan case study disangsikan
kebenarannya bagi populasi yang lebih luas. Disini dihadapi kesulitan hingga manakah
case study yang dipelajari itu benar-benar mewakili atau representatif bagi populasi dan
inilah yang menentukan mutu case study itu dan generalisasi yang dihasilkan. Jadi
kalaupun diambil sebuah generalisasi, maka itu harus dianggap sebagai tentatif yang perlu
diuji kebenaranyya dikemudian hari.

2. Case study memakan waktu yang lebih lama bila dibandingkan dengan survey. Antara lain
hal ini disebabkan oleh metode pengumpulan data. Dalam survey sering dapat digunakan
angket, sedangkan dalam case study mengharuskan peneliti langsung terlibat dalam
pengumpulan data dengan melakukan wawancara secara pribadi serta menggunakan
metode-metode lain.

Desain Eksperimen

Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan mengenai desain eksperimen serta macam-
macamnya.

19
BAB III

DESAIN PERCOBAAN

3.1 Pengertian Desain Percobaan


Desain percobaan adalah tata cara penerapan tindakan-tindakan dalam suatu percobaan pada
kondisi atau lingkungan tertentu yang kemudian menjadi dasar penataan dan metode analisis
statistik terhadap data hasilnya. Serta dapat juga di artikan sebagai hal yang sangat berhubungan
dengan perencanaan penelitian untuk mendapatkan informasi maksimum dari bahan-bahan yang
tersedia serta sebagai seperangkat aturan/cara/prosedur untuk menerapkan perlakuan kepada
satuan percobaan.
Desain percobaan suatu proses perencanaan yang meliputi langkah langkah yang berurutan
yang menyeluruh dan komplit yang dibuat terlebih dahulu, serta cara pelaksanaan percobaan
dalam suatu penelitian. Perancangan percobaan dapat dikatakan sebagai "jembatan" bagi peneliti
untuk bergerak dari hipotesis menuju pada eksperimen agar memberikan hasil yang valid secara
ilmiah. Dengan demikian, perancangan percobaan dapat dikatakan sebagai salah satu instrumen
dalam metode ilmiah.

3.2 Ciri – Ciri Desain Percobaan Yang Baik


Desain percobaan yang baik harus memuat hal-hal sebagai berikut :
- Rencana tentang sumber dan tipe informasi yang relevan sesuai dengan kebutuhan peneliti.
- Strategi atau gambaran pendekatan yang digunakan dalam pengumpulan dan analisis data.
- Jadwal dan anggaran peneliti yang duperlukan harus diuraikan secara jelas.

3.3 Jenis-jenis Rancangan Percobaan


Rancangan dasar atau yang dapat juga disebut rancangan lingkungan adalah pembagian jenis
rancangan percobaan berdasarkan kondisi lingkungan dimana percobaan itu dilaksanakan,adapun
jenis-jenis rancangan percobaan adalah sebagai berikut :
 Rancangan Acak Lengkap (RAL)
Diterapkan pada percobaan yang dilakukan pada lingkungan homogen (atau dapat
dianggap homogen), Perlu dijelaskan disini bahwa yang disebut "lingkungan" adalah

20
faktor-faktor lain diluar faktor yang sedang diteliti. Dalam percobaan RAL setiap unit
percobaan di acak secara sempurna, tanpa dibatasi oleh blok. Adapun keuntungan dari
penggunaan RAL adalah Bagan rancangan percobaan lebih mudah,Analisis statistika
terhadap subyek percobaan sederhana, Fleksibel dalam penggunaan jumlah perlakuan dan
jumlah ulangan,serta Kehilangan informasi relatif sedikit dalam hal data hilang
dibandingkan rancangan lain.
 Rancangan Acak Kelompok (RAK)
Diterapkan pada percobaan yang dilakukan pada lingkungan tidak homogen
(heterogen), misalnya percobaan-percobaan yang dilaksanakan di lapangan, dimana
terdapat 1 sumber keragaman diluar factor penelitian. Dalam percobaan RAK setiap
percobaanditempatkan secara acak pada setiap kelompok.
 Rancangan Bujur Sangkar Latin(RBSL)
Diterapkan pada percobaan yang dilakukan pada lingkungan tidak homogen,
dimana terdapat 2 sumber keragaman diluar faktor penelitian. Dalam percobaan RBSL
setiap unit percobaan ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak ada perlakuan yang
sama dalam satu baris atau kolom. Ciri khas RBSL adalah jumlah ulangan yang sama
dengan jumlah perlakuan. Disarankan RBSL diterapkan pada percobaan yang memiliki 4
sampai 8 perlakuan.

3.4 Langkah – Langkah membuat Desain Percobaan


Adapun langkah-langkah dalam membuat desain percobaan sebagai berikut :
1. Menentukan tujuan percobaan
2. Menentukan tipe hubungan antar variable
3. Menentukan setting atau lingkungan peneliti
4. Menentukan unit analisis
5. Menentukan pengukuran konstruk
6. Menentukan metode pengumpulan data
7. Menentukan pengendalian variable oleh peneliti
8. Menentukan dimensi waktu
9. Menentukan ruang lingkup topic bahasan

21
3.5 Prinsip Dasar Percobaan
Adapun dalam prinsip dasar percobaan terbagi tiga,diantaranya adalah :
Ø Ulangan merupakan pengalokasian suatu perlakuan tertentu terhadap beberapa unit
percobaan pada kondisi yang seragam,dengan bertujuan menduga ragam
galat,memperkecil galat danmeningkatkan ketelitian.
Ø Pengacakan merupakan agar setiap unit percobaan memiliki peluang yang sama untuk
diberi suatu perlakuan. Secara statistic untuk validitas/keabsahan dalam menarik
kesimpulan agar kesimpulan yang diambil obyektif.
Ø Pengendalian lingkungan (kontrol lokal) merupakan usaha untuk mengendalikan
keragaman yang muncul akibat keheterogenan kondisi lingkungan.

22
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Desain penelitian merupakan sebuah rencana prosedural yang menjadi panduan peneliti untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti secara valid, obyektif, akurat dan ekonomis. Dengan
kata lain desain penelitian sanagat diperlukan oleh peneliti untuk mengarahkan kerja penelitian
agar lebih efektif, efisien dan tepat sasaran. Adanya desain penelitian juga memungkinkan orang
lain memahami dan mengikuti langkah-langkah yang hendak dijalankan oleh peneliti dalam
menemukan jawaban. Dengan mendesain kajian yang berhati hati, peneliti dapat melenyapkan atau
sedikitnya mengurangi sumber kesalahan (error) atau bias. Dalam penelitian bidang sosial yang
lazimnya melibatkan penelitian terhadap populasi atau masyarakat, Kumar (2005) menyebutkan
terdapat berbagai desain penelitian yang digolongkan berdasar tiga macam perspektif, yaitu
berdasarkan : Jumlah kontak dengan populasi studi, Periode waktu rujukan studi, Cara
penyelidikan. Jumlah kontak masih dibagi lagi menjadi cross-sectional, sebelum-dan-sesudah,
desain penelitian longitudinal. Periode waktu juga masih dibagi lagi menjadi beberapa sub-bab
yaitu retrospektif, prospektif dan retro-prospektif. Begitu pula dengan cara penyelidikan, dibagi
lagi menjadi eksperimental, non-ekspermental, semi-eksperimental. Sebenarnya masih banyak
lagi desain-desain penelitian. Tidak ada yang menyalahkan sebuah desain penelitian karena desain
penelitian bergantung pada keperluan peneliti.

Rancangan Percobaan sangat membantu dan sangat diperlukan dalam melakukan


suatu penelitian memperbaiki proses hasil,mengurangi keragaman,mengurangi waktu
penelitian,serta juga dapat mengurangi biaya dalam proses suatu penelitian serta jenis rancangan
percobaan yang sangat mudah diterapkan dan banyak keuntungannya adalah Rancangan Acak
Lengkap (RAL) karena dalam percobaan RAL setiap unit percobaan di acak secara sempurna,
tanpa dibatasi oleh blok.

23
DAFTAR PUSTAKA

Widi, Restu Kartiko. 2010. Asas Metodologi Penelitian : Sebuah Pengenalan dan Penuntun
Langkah Demi Langkah Pelaksanaan Penelitian. Yogyakarta : Graha Ilmu

M.A, S. Nasution. 2007. Metode Research. Jakarta : PT. Bumi Perkasa

Nazir, Mohamad. 2003. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia

Sastradipoera, Komaruddin. 2005. Mencari makna di balik penulisan skripsi, tesis, dan disertasi.
Bandung : Kappa-Sigma

Sekaran, Uma. 2009. Research Methods for Business. Jakarta : Salemba Empat

Barizi.1991.Perancangan Percobaan.Gramedia :Jakarta


Steel, R.G.D. dan Torrie, J.H. 1995. Suatu Pendekatan Biometrik. Gramedia : Jakarta
Yitnosumarto, S. 1993. Rancangan Percobaan. P.T. Gramedia Pustaka Utama :Jakarta

24