Anda di halaman 1dari 24

TUGAS SISTEM KARDIOVASKULER

“MITRAL DAN TRICUSPIDALIS STENOSIS”

DISUSUN OLEH :

KELAS MARS

MAISUM (1301050336)
LIVIA E.R TANESI (1301050335)
ARIEF SEPTIANUR (1301050322)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KENDEDES
MALANG
2015
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan limpahan taufik, rahmah dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas makalah ini.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan keharibaan sosok
revolusioner dunia, pembela kaum muslim sejati, baginda Rasulullah SAW yang
telah menjadi pemimpin uswatun hasanah dengan membawa pancaran cahaya
kebenaran, sehingga pada detik ini kita masih mampu mengarungi hidup dan
kehidupan yang berlandaskan iman dan Islam.
Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas terstruktur mata kuliah
Sistem Kardiovaskuler sebagai syarat kelulusan mata kuliah ini.
Penulis menghadapi beberapa kendala didalam penulisan makalah,
diantaranya sulit mendapatkan sumber yang sesuai dengan isi makalah ini. Selain
itu pengetahuan yang sedikit mengenai permasalahan yang dibahas pada makalah
ini.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini, yaitu :
1. Ns. Wiwit Nurwidyaningtyas, S. Kep, M. Biomed selaku ketua program
studi S1 Keperawatan
2. Dosen pengajar Sistem Kardiovaskuler, serta

Penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi pembaca khususnya


kepada teman-teman mengerti tentang “Mitral dan Tricuspidalis Stenosis”.
Penulis juga mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk pengembangan
makalah ini selanjutnya.

Malang, Maret 2015

Penulis
DAFTAR ISI

COVER ....................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................
1.3 Tujuan Penulisan ...................................................................
1.4 Manfaat Penulisan ..................................................................
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi ................................................................................. 2
2.2 Etiologi ................................................................................. 2
2.3 Patafisiologi ........................................................................... 4
2.4 Manifestasi Klinis ..................................................................
2.5 Diagnosa Keperawatan ..........................................................
2.6 Penatalaksanaan ..................................................................... 8

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan .............................................................................. 26
3.2 Saran ........................................................................................ 26

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Stenosis katub mitral (mitral stenosis) merupakan penyempitan pada
lubang katub mitral yang akan menyebabkan meningkatnya tahanan aliran
darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri (Kasron, 2012).
Mitral stenosis adalah suatu penyempitan jalan aliran darah ke
ventrikel. Penyempitan katub mitral menyebabkan katub tidak terbuka dengan
tepat dan menghambat aliran darah antara ruang - ruang jantung kiri. Ketika
katub mitral menyempit (stenosis), darah tidak dapat dengan efisien melewati
jantung. Kondisi ini menyebabkan seseorang menjadi lemah dan nafas
menjadi pendek serta gejala lainnya (Kasron, 2012).
Stenosis mitral adalah penebalan progresif dan pengerutan bilah-bilah
katub mitral yang menyebabkan penyempitan lumen dan sumbatan progresif
aliran darah. Secara normal, pembukaan katub mitral adalah selebar tiga jari.
Pada kasus stenonis berat terjadi penyempitan lumen sampai selebar pensil.
Penyebab stenosis (katub) yang paling sering adalah endokarditis rematik dan
yang lebih jarang adalah tumor, pertumbuhan bakteri, kalsifikasi serta
trombus (Kasron, 2012).
Stenosis mitralis menghalangi aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel
kiri selama fase diastolik ventrikel. Untuk mengisi ventrikel dengan adekuat
dan mempertahankan curah jantung, atrium kiri harus menghasilkan tekanan
yang lebih besar untuk mendorong darah melampaui katub yang menyempit.
Oleh karena itu, terjadi peningkatan perbedaan tekanan antara dua ruang
tersebut. Dalam keadaan normal perbedaan tekanan tersebut minimal (Arif
Muttaqin, 2009).
Stenosis katub trikuspidalis (tricuspid stenosis) merupakan
penyempitan lubang katub trikuspidalis, yang menyebabkan meningkatanya
tahanan aliran darah dari atrium kanan ke ventrikel kanan. Stenosis katub
trikuspidalis menyebabkan atrium kanan membesar dan ventrikel kanan
mengecil. Jumlah darah yang kembali kejantung berkurang dan tekanan di
dalam vena yang membawa darah kembali ke jantung meningkat (Arif
Muttaqin, 2009).
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari stenosis mitral dan stenosis trikuspidalis?
2. Apa penyebab dari stenosis mitral dan stenosis trikuspidalis?
3. Bagaimana tanda dan gejala dari stenosis mitral dan stenosis
trikuspidalis?
4. Bagaimana patofisiologi dari stenosis mitral dan stenosis trikuspidalis?
5. Bagaimana asuhan keperawatan dengan pasien stenosis mitral dan
stenosis trikuspidalis?
6. Bagaimana penatalaksaan dari stenosis mitral dan stenosis trikuspidalis?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Tujuan umum
Mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan Mitral
dan Trikuspidalis Stenosis.
1.3.2 Tujuan khusus
1. Memahami Tentang Mitral dan Trikuspidalis Stenosis
2. Mengetahui Penyebab Mitral dan Trikuspidalis Stenosis
3. Mengetahui Tanda dan Gejala Mitral dan Trikuspidalis
Stenosis
4. Memahami Patofisiologi Mitral dan Trikuspidalis Stenosis
5. Mengetahui Penatalaksanaan Mitral dan Trikuspidalis Stenosis

1.4 Manfaat Penulisan


Dapat dijadikan sebagai sarana untuk mendalami pemahaman tentang
konsep penyakit Mitral dan Trikuspidalis Stenosis pada konsep dasar Sistem
Kardiovaskuler.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
2.1.1 Stenosis Mitral
Stenosis katub mitral (mitral stenosis) merupakan penyempitan
pada lubang katub mitral yang akan menyebabkan meningkatnya
tahanan aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri (Kasron, 2012).
Mitral stenosis adalah suatu penyempitan jalan aliran darah ke
ventrikel. Penyempitan katub mitral menyebabkan katub tidak terbuka
dengan tepat dan menghambat aliran darah antara ruang - ruang jantung
kiri. Ketika katub mitral menyempit (stenosis), darah tidak dapat
dengan efisien melewati jantung. Kondisi ini menyebabkan seseorang
menjadi lemah dan nafas menjadi pendek serta gejala lainnya (Kasron,
2012).
Stenosis mitral adalah penebalan progresif dan pengerutan bilah-
bilah katub mitral yang menyebabkan penyempitan lumen dan
sumbatan progresif aliran darah. Secara normal, pembukaan katub
mitral adalah selebar tiga jari. Pada kasus stenonis berat terjadi
penyempitan lumen sampai selebar pensil. Penyebab stenosis (katub)
yang paling sering adalah endokarditis rematik dan yang lebih jarang
adalah tumor, pertumbuhan bakteri, kalsifikasi serta trombus (Arif
Muttaqin, 2009).
Stenosis mitralis menghalangi aliran darah dari atrium kiri ke
ventrikel kiri selama fase diastolik ventrikel. Untuk mengisi ventrikel
dengan adekuat dan mempertahankan curah jantung, atrium kiri harus
menghasilkan tekanan yang lebih besar untuk mendorong darah
melampaui katub yang menyempit. Oleh karena itu, terjadi peningkatan
perbedaan tekanan antara dua ruang tersebut. Dalam keadaan normal
perbedaan tekanan tersebut minimal (Sylvia, 2006).
Otot atrium kiri mengalami hipertrofi untuk meningkatkan
kekuatan pemompaan darah. Makin lama kontraksi atrium makin
berperan aktif sebagai faktor pembantu pengisian ventrikel. Atrium kiri
kini tidak lagi berfungsi primer sebagai penampung pasif tetapi
berfungsi mengalirkan darah ke ventrikel.
Dilatasi atrium terjadi karena volume atrium kiri meningkat akibat
ketidakmampuan atrium untuk mengosongkan diri secara normal
(Sylvia, 2006).
Pembuluh darah paru mengalami perubahan anatomis yang
tampaknya bertujuan melindungi kapiler paru-paru terhadap tekanan
ventrikel kanan dan aliran darah paru yang meninggi (Sylvia, 2006).
Ventrikel kanan tidak bisa memenuhi tugas sebagai pompa
bertekanan tinggi untuk jangka waktu yang lama. Oleh karena itu,
ventrikel kanan akhirnya tidak dapat berfungsi lagi sebagai pompa.
Kegagalan ventrikel kanan di pantulkan ke belakang ke dalam sirkulasi
sistemik, meimbulkan kongesti pada vena sistemik dan edema perifer.
Gagal jantung kanan dapat disertai oleh regurgitasi fungsional katub
trikuspidalis akibat pembesaran ventrikel kanan (Sylvia, 2006).
Stenosis mitral stadium akhir berkaitan dengan gagal jantung
kanan yang disertai pembesaran vena sistemik, hepatomegali, edema
perifer dan asites. Namun stenosis mitral tidak perlu dibiarkan berlanjut
sampai stadium akhir tetapi jika gejala penyakit ini timbul dapat
ditangani secara medis dan perlu dengan koreksi pembedahan (Sylvia,
2006).
2.1.2 Stenosis Tricuspidalis
Stenosis katub trikuspidalis (tricuspid stenosis) merupakan
penyempitan lubang katub trikuspidalis, yang menyebabkan
meningkatanya tahanan aliran darah dari atrium kanan ke ventrikel
kanan. Stenosis katub trikuspidalis menyebabkan atrium kanan
membesar dan ventrikel kanan mengecil. Jumlah darah yang kembali
kejantung berkurang dan tekanan di dalam vena yang membawa darah
kembali ke jantung meningkat (Kasron, 2012).
Stenosis katub trikuspidalis akan menghambat aliran darah dari
atrium kanan ke ventrikel kanan selama diastolik. Lesi ini biasanya
berkaitan dengan penyakit katub mitral dan aorta yang terjadi akibat
penyakit reumatik berat.
Stenois trikuspidalis meningkatkan beban kerja atrium kanan, memaksa
pembentukan tekanan yang lebih besar untuk mempertahankan aliran
melalui katub yang tersumbat. Kemampuan kompensasi atrium kanan
terbatas sehingga atrium akan mengalami dilatasi sangat cepat.
Peningkatan volume dan tekanan atrium kanan mengakibatkan
penimbunan darah pada vena sistemik dan peningkatan tekanan (Sylvia,
2006).

2.2 Etiologi
2.2.1 Stenosis Mitral
Menurut Kasron (2012), penyebab tersering dari mitral stenosis
adalah demam reumatik. Penyebab yang agak jarang antara lain:
1. Mitral stenosis kongenital
2. Lupus eritematosus sistemik (SLE)
3. Artritis reumatoid (RA)
4. Artial myxoma
5. Endokarditis bacterial
Selain itu, virus seperti coxsackie diduga memegang peranan
pada timbulnya penyakit katub jantung kronis. Gejala dapat dimulai
suat episode atrial fibrilasi atau dapat dicetuskan oleh kehamilan dan
stres lainnya terhadap tubuh misalnya infeksi (pada jantung dan paru-
paru). Stenosis katub mitral juga bisa merupakan suatu kelainan
bawaan. Bayi yang terlahir dengan kelainan ini jarang bisa bertahan
hidup lebih dari 2 tahun, kecuali jika telah menjalani pembedahan.
Miksoma (tumor jinak di atrium kiri) atau bekuan darah dapat
menyumbat aliran darah ketika melewati katub mitral dan
menyebabkan efek yang sama seperti stenosis katub mitral.

2.2.2 Stenosis Trikuspidalis


Menurut Kasron (2012), hampir semua khasus disebabkan oleh
demam rematik yang sekarang ini sudah jarang di temukan di Amerika
Utara dan Eropa Barat. Penyebab lainnya adalah:
1. Tumor di atrium kanan
2. Penyakit jaringan ikat
3. Kelainan bawaan
2.3 Patofisiologi

Endokarditis rematik, trombus, Stenosis mitral


kalsifikasai katub

Aliran darah ↓ dari atrium kiri ke ventrikel


kiri selama fase diastolik ventrikel

Takikardi
Peningkatan tekanan

atrium kiri
Waktu diatolik ↓


Dilatasi/hipertrofi Tekanan dalam vena
Volume sekuncup ↓
pulmonalis dan kapiler ↑


Curah jantung ↓
Kongesti paru
Fibrilasi atrium
Cepat lelah

Batuk Sesak nafas


Hipertensi

Gangguan aktifitas Resistensi ejeksi
sehari-hari ventrikel kanan
Jalan nafas pola nafas

tidak efektif tidak efektif
Peningkatan beban
ventrikel kanan

Gagal jantung
kanan

Pembesararan vena sistemis,


hepatomegali, edema perifer dan
asites
ST
Stenosis katup trikuspidalis akan menghambat aliran darah dan
atrium kanan ke ventrikel kanan selama diastolik. Kerusakan ini
biasanya menyertai penyakit pada katup mitralis dan aorta sekunder
dari penyakit rematik jantung yang berat. Stenosis trikuspidalis
meningkatkan beban kerja atrium kanan, memaksa pembentukan
tekanan yang lebih besar untuk mempertahankan aliran melalui katup
yang tersumbat. Kemampuan kompensasi atrium kanan terbatas,
karena itu atrium kanan mengalami dilatasi dengan cepat. Peningkatan
volume dan tekanan atrium kanan mengakibatkan penimbunan darah
pada vena sistemik dan peningkatan tekanan (Muttaqin, Arif. 2009).

2.4 Manifestasi Klinis


2.4.1 Stenosis Mitral
Jika stenosisnya berat, tekanan darah di dalam atrium kiri dan
tekanan darah di dalam vena paru-paru meningkat, sehingga terjadi
gagal jantung dimana cairan tertimbun di dalam paru-paru (edema
pulmoner). Jika seseorag wanita dengan stenosis katub mitral yang
berat hamil, gagal jantung akan berkembang dengan cepat. Penderita
yang mengalami gagal jantung akan mudah merasakan lelah dan sesak
nafas. Pada awalnya, sesak nafas terjadi hanya sewaktu melakukan
aktivitas, tetapi lama-lama sesak juga akan timbul dalam keadaan
istirahat. Sebagian penderita akan merasa lebih nyaman jika berbaring
dengan disangga oleh beberapa buah bantal atau duduk tegak (Kasron,
2012).
Warna semu kemerahan di pipi menunjukkan bahwa seseorang
menderita stenosis katub mitral. Tekanan tinggi pada vena paru-paru
dapat menyebabkan vena atau kapiler pecah dan terjadi perdarahan
ringan atau berat ke dalam paru-paru. Pembesaran atrium kiri bisa
mengakibatkan fibrilasi atrium, dimana denyut jantung menjadi cepat
dan tidak teratur (Kasron, 2012).
Dengan menggunakan stetoskop, akan terdengar murmur jantung
yang khas ketika darah mengalir/menyembur melalui katub yang
menyempit dari atrium kiri. Tidak seperti katub normal yang membuka
tanpa suara, pada kelainan ini katub sering menimbulkan bunyi
gemertak ketika membuka untuk mengalirkan darah ke dalam ventrikel
kiri. Diagnosa biasanya diperkuat dengan pemeriksaan :
1. Elektrokardiografi
2. Rontgen dada (menunjukkan pembesaran atrium)
3. Ekokardiografi (teknik penggambaran jantung dengan
menggunakan gelombang ultrasonik).
Kadang perlu dilakukan kateterisasi jantung untuk menentukan luas
dan jenis penyumbatannya (Kasron, 2012).

2.4.2 Stenosis Tricuspidalis

Gejala umumnya ringan, penderita bisa mengalami palpitasi


(jantung berdebar) atau pulsasi (denyut nadi yang keras) di leher dan
seluruh badan terasa lelah (Kasron, 2012).
Rasa tidak enak diperut bisa terjadi jika peningkatan tekanan
didalam vena menyebabkan pembesaran hati. Pada pemeriksaan dengan
stethoscope, akan terdengar bunyi murmur jantung. Rontgen dada
menunjukan pembesaran atrium kanan. Ekokardiugram memberikan
gambaran stenosis dan beratnya penyakit. Elektrokardiogram
menunjukan perubahan yang menujukan adanya peregangan pada
atrium kanan (Kasron, 2012).
Menurut Arif Muttaqin (2009), tanda - tanda berikut ini berkaitan
dengan stenosis trikuspidalis:
1. Auskultasi: bising diastolic
2. Elektrokardiogram: pembesaran atrium kanan (gelombang P
yang runcing dan tinggi, dikenal sebagai P pulmonale)
3. Radiogram dada: pembesaran ventrikel dan atrim kanan
4. Temuan hemodinamik peningkatan tekanan pada kedua sisi
katub trikuspidalis dan peningkatan tekanan atrium kanan
serta tekanan vena sentral dengan gelombang A yang besar.

2.5 Diagnosa Prioritas


2.5.1 Stenosis Mitral
1. Pola nafas tidak efektif yang berhubungan dengan pembesaran
cairan, kongesti paru sekunder, perubahan membran kapiler alveoli
dan retensi cairan interstisial
2. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan
sekresi mukus yang kental, hemoptisis, kelemahan, upaya batuk
buruk dan edema trakeal/faringeal
3. Gangguan aktivitas sehari-hari yang berhubungan dengan penurunan
curah jantung ke jaringan.

2.5.2 Stenosis Tricuspidalis


1. Ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolemia.
2. Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan penrunan
volume sekuncup yang disebabkan oleh masalah mekanis atau
struktural (pada katup trikuspidalis).
3. Nyeri akut berhubungan dengan faktor-faktor fisik yaitu kelainan
pada katup jantung.
INTERVENSI
1. Diagnosa Keperawatan 1
Ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolemia.
a. Baratasan karakteristik
1) Tidak ada atau menurunnya nadi
2) Bukti klinis terjadinya deplesi volume darah dan cairan.
3) Penurunan TD, curah jantung, CVP, dan haluaran urine
4) Peningkatan resistensi vaskuler sistemik
b. Kriteria hasil
1) CVP, Frekwensi dan tekanan nadi normal.
2) Krepitasi ronki dapat dicegah.
3) Sirkulasi meningkat (stabil)
c. Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan siharapkan kondisi
sirkulasi darah pasien stabil.
d. Intervensi dan rasional
Intervensi Rasional
O:
 Pantau frekwensi dan irama  Penurunan frekwensi
jantung, CVP, dan tekanan jantung, CVP, dan
darah psien setiap jam hingga tekanan darah dapat
stabil, kemudian setiap 2 jam ; mengindikasikan
catat dan laporkan perubahan hipovolemia yang
diatas atau dibawah niali yang mengarah pada
telah ditentukan. peningkatan perfusi
 Pantau frekwensi dan jaringan.
kedalaman respirasi pasien
setiap jam hingga stabil,
kemudian setiap 2 sampai 4  Peningkatan laju
jam. catat dan laporkan pernapasan merupakan
perubahan diatas atau dibawah mekanisme kompensasi
niali yang pada hipoksia jaringan,
yang dapat diakibatkan
oleh penurunan perfusi
jaringan.
M:
 Timbang berat badan pasien  Dapat membantu
setiap hari sebelum sarapan, memperkirakan status
catat BB. cairan total,
penimbangan BB
pasien pada waktu
yang sama setiap hari
dapat memberikan
petunjuk yang lebih
 Lakukan tindakan untuk baik tentang perubahan
membantu meningkatkan BB pasien.
perfusi pasien.  Untuk
 Tinggikan ekstremitas meningkatkan
bawah pasien . suplay darah arteri
dan meningkatkan
perfusi jaringan.
E:
 Berikan pendidikan kesehatan  Tindakan ini
tentang regimen medis (diet, memungkinkan pasien
pengobatan, pembatasan berperan aktif dalam
aktivitas) pada pasien pemeliharaan
kesehatan
K:
 Berikan cairan atau darah  Pemberian cairan atau
sesuai program untuk pasien. darah yang berlebihan
 Lakukan fisioterapi dada sesuai dapat mengakibatkan
program ; ikutri kebijakan kelebihan cairan.
layanan.  Fisioterapi dada yang
dialakukan secara tepat
dapat membantu
mencegah edema paru,
komplikasi respirasi,
dan kemungkinan
gagal napas.

2. Diagnosa Keperawatan 2
Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan penrunan
volume sekuncup yang disebabkan oleh masalah mekanis atau
struktural (pada katup trikuspidalis).
a. Batasan Karateristik :
1) Anomali mekanis atau struktural jantung
2) Aritmia ; perubahan EKG.
3) Dipsnea.
4) Ortobnea.
5) Distensi vena jugularis.
6) Keletihan
b. Kriteria Hasil :
1) Pasien tidak menunjukkan aritmia.
2) Pasien tidak menunjukkan edema pada kaki.
3) Penurunan beban kerja jantung.
4) Curah jantung pasien tetap adekuat.
5) Pasien mencapai denyut jantung dalam batas yang
diinstruksikan.
6) Pasien menyatakan kenyamanan fisik setelah beraktivitas.
c. Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, curah jantung pasien
kembali normal dan stabil.
d. Intervensi dan Rasional.
Intervensi Rasional
O:
 Pantau dan catat tingkat  Untuk mendeteksi
kesadaran, denyut dan irama hipoksia serebral akibat
jantung, dan tekanan darah penurunan curah jantung.
sekurang-kurangnya setiap 4
jam, atau lebih sering bila
diperlukan.
 Pantau auskultasi bunyi  Bunyi jantung tambahan
jantung dan suara napas dapat mengindikasikan
minimal setiap 4 jam. dekompensasi jantung
Laporkan suara yang tidak awal ; suara napas
normal sesegera mungkin. tambahan tambahan dapat
mengindikasikan kongesti
pulmonal dan penurunan
curah jantung.
 Ukur dan catat asupan dan  Penurunan haluaran urine
haluaran secara akurat. tanpa penurunan asupan
cairan dapat
mengindikasikan
penurunan perfusi ginjal
akibat penurunan curah
jantung.
 Inspeksi adanya edema kaki  Untuk mendeteksi retensi
atau sakral. cairan.
M:
 Berikan perawatan kulit setiap  Untuk meningkatkan
4 jam. perfusi kulit dan aliran
 Timbang berat badan pasien vena.
setiap hari sebelum sarapan  Untuk mendeteksi retensi
cairan
E:
 Ajarkan kepada pasien tentang  Untuk menurunkan
teknik pengurangan stres. ansietas dan memberikan
rasa kontrol.
 Ajarkan kepada pasien tentang  Tindakan keperawatan ini
nyeri dada dan gejala yang melibatkan pasien dan
dapat dilaporkan, diet yang keluarga.
diprogamkan, pengobatan
(nama, dosis, frekuensi, efek
terapeutik, efek yang tidak
diharapkan), tingkat aktifitas
yang dianjurkan, metode
sederhana untuk mengangkat
dan membungkuk, dan teknik
pengurangan stres.
K:
 Berikan oksigen, sesuai  Untuk meningkatkan
intruksi, suplai oksigen ke
miokardium

3. Diagnosa keperawatan 3
Nyeri akut berhubungan dengan faktir-faktor fisik, biologis, atau kimia.
e. Batasan karakteristik
1) Perubahan tonus otot (dari lemah sampai keras)
2) Pasien melaporkan nyeri (verbal atau dengan perilaku)
3) Perilaku pendistraksi, seperti merintih, menangis, dan mencari
orang atau aktivitas lain.
f. Kriteria hasil
1) Pasien menjelaskan kadar dan karakteristik nyeri.
2) Pasien menilai nyeri dengan mengguankan skala 1 sampai dengan
10.
3) Pasien menjelaskan faktor-faktor yang mengintenfifkan nyeri.
4) Pasien mengungkapkan rasa nyaman berkurangnya nyeri.
g. Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri pada pasien berkurang.
h. Intervensi dan rasional

Intervensi Rasional
O:
 Kaji jenis tingkat nyeri  Pengkajian berkelanjutan
pasien. membantu meyakinkan
bahwa penanganan dapat
memenuhi kebutuhan pasien
dalam mengurangi nyeri.

M:
 Bantu pasien untuk  Untuk menurunkan
mendapatkan posisi yang ketegangan atau spasme otot
nyaman, dan gunakan dan untuk mendistribusikan
bantal untuk membebat kembali tekanan pada
atau menyokong daerah bagian tubuh.
yang sakit, bila
2.6 diperlukan.
EPenatalaksanaan
:
2.6.1 S  Motivasi klien untuk  Dengan bergerak perlahan
t bergerak perlahan diharapkan dapat mencegah
e stres pada sendi yang
n terkena
o  Anjurkan pada pasien  Pasien mencoba
s untuk mengguanakn menggunakan metode
i aktivitas pengalihan atau nonfarmakologis untuk
s reaksional, dan tindakan mengurangi nyeri.
pengurang nyeri
M noninvasif
Ki :
t  Kolaborsi pemberian  Untuk mengurangi rasa
r analgetik oral non-opioid. nyeri.
a
 Lanjutkan untuk  Untuk meyakinkan
l
memberikan obat yang pengurangan nyeri yang
1. T
dianjurkan sesuai indikasi. adekuat.
e
rapi Medis
Menurut Sylvia (2012), penyakit katub mitral memiliki
perjalanan klinis yang bertahap dan berlangsung lama. Biasanya,
dispnea merupakan gejala yang paling menonjol dan
mengganggu. Namun pada awalnya, gejala berespon terhadap
terapi medis yang berupa:
a. Diuretik untuk mengurangi kongesti
b. Digoksin untuk meningkatkan daya kontraksi bila terjadi
insufisiensi mitral atau mengurangi respon ventrikel pada
fibrilasi atrium
c. Antidiristmia jika terjadi fibrilasi atrium
d. Terapi vasodilator bila ada insufisiensi mitral untuk
mengurangi beban akhir (afterload) dengan demikian
mengurangi aliran balik dan menambah aliran ke depan
e. Antikoagulan bila ada ancaman embolisasi sistemik
f. Antibiotik untuk profilaksis endokarditis
g. Valvotomi balon kateter (valvulotomi) pada pasien tertentu.
2. Terapi Bedah
Menurut Sylvia (2012), saat ini telah banyak berkembang
teknik - teknik untuk mengoreksi deformitas katub mitral. Pasien
dapat menjalani:
a. Valvotomi mitral (pembukaan katub mitral) dipertimbangkan
bagi beberapa penderita stenosis mitral murni yang gejalanya
telah berkembang menjadi penyakit jantung fungsional kelas
II yaitu, timbul gejala saat melakukan kerja fisik biasa. Katub
mitral stenosis dapa t diperlebar dengan pendekatan per kutan
atau pembedahan transventikular. Tindakan transventrikular
memisahkan daun-daun katub di sepanjang komisura.
Valvuloplasti balon dilakukan dengan memasukkan satu atau
dua kateter yang berujung balon melalui pembuluh darah
perifer dengan bantuan alat fluoroskopi ke dalam atrium
kanan.
Kateter dimasukkan melewati septum atrium ke dalam atrium
kiri dan balon ditempatkan dalam lumen katub. Pada katub
yang lentur dan tidak berkalsifikasi, pengembangan balon
akan menyebabkan pemisahan komisura yang menyatu.
Calon pasien yang dapat menjalani pendekatan per kutan atau
pembedahan biasanya adalah pasien usia muda tanpa fibrilasi
atrium, insufisiensi mitral, katub berkalsifikasi atau riwayat
pembedahan komisurotomi sebelumnya.
b. Penggantian katub mitral biasanya dipertimbangkan pada
insufisiensi mitral dan pada stenosis mitral yang meskipun
telah mendapat terapi obat-obatan, perkembangan gejalamya
telah telah mencapai penyakit jantung fungsional kelas III
yaitu, timbulnya gejala pada orang yang melakukan kerja
ringan. Namun dengan perkembangan teknik operasi dan
perencangan katub, pembedahan kiri dianjurkan untuk
dilakukan lebih dini. Perkembangan lebih lanjut menjadi
penyakit jantung fungsional kelas IV dikaitkan dengan angka
motrtalitas dan morbiditas pasca bedah yang tinggi akibat
disfungsi paru-paru dan moiokardium. Embolisasi sistemik
dan hipertensi pulmonalis yang berat juga merupakan
indikasi operasi. Penggantian katub mitral dilakukan dengan
eksisi katub, korda tendinae dan otot papilaris. Sebuah katub
palsu yang dirancang menyerupai fungsi katub normal
diselipkan.
c. Teknik pembedahan rekonstruktif dapat dipakai untuk
memperbaiki katub mitral terutama pada penyakit degeneratif
non-reumatik. Perbaikan katub (valvuloplasti) dapat dengan
memperpanjang atau memperpendek korda tendinae atau
reposisi korda atau reseksi daun katub. Cincin prostetik
biasanya diselipkan ke dalam anulus katub untuk
menstabilkan dan memperbaiki lumen katub. Teknik ini
disebut anuloplasti.
2.6.1 Stenosis Tricuspidalis
Menurut Kasron (2012), stenosis katub trikuspidalis jarang
memerlukan tindakan pembedahan. Dalam pengobatan stenosis
tricuspid, perawatan medis dan pengobatan tergantung dari penilaian
penyebab yang mendasari patologi katub:
1. Obati endokarditis bakteri dengan antibiotic yang tepat
sebagaimana ditentukan oleh sensitivitas kultur organisme
2. Gunakan obat aritmia jantung tergantung pada karekterisasi
mereka
3. Turunkan kelebihan volume yang tepat pada atrium dengan
dieresis dan diet garam membantu mengurangi gejala dan
meningkatan fungi hati.
Pemberian obat bertujuan untuk mengurangi kematian dan
mencegah komplikasi. Berikut jenis obat yang dapat digunakan untuk
stenosis katub trikuspidalis. Senyawa Antiaritmia, mengubah
mekanisme elektropsikologi yang menyebabkan aritmia. Obat yang
sering digunakan adalah Digoxin (Kasron, 2012).
Antikoagulan, digunakan untuk profilaksis dan pengobatan
thrombosis vena, emboli paru dan gangguan tromboemboli. Obat yang
sering digunakan adalah Warfarin (Kasron, 2012).

BAB III
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
Mitral stenosis adalah suatu penyempitan jalan aliran darah ke ventrikel.
Penyempitan katub mitral menyebabkan katub tidak terbuka dengan tepat dan
menghambat aliran darah antara ruang - ruang jantung kiri. Ketika katub mitral
menyempit (stenosis), darah tidak dapat dengan efisien melewati jantung. Kondisi
ini menyebabkan seseorang menjadi lemah dan nafas menjadi pendek serta gejala
lainnya (Kasron, 2012).
Stenosis Katup Trikuspidalis (Tricuspid Stenosis) merupakan penyempitan
lubang katup trikuspidalis, yang menyebabkan meningkatnya tahanan aliran darah
dari atrium kanan ke ventrikel kanan. Hampir semua kasus disebabkan
oleh penyakit jantung reumatik (RHD). Demam rematik akut merupakan sekuele
faringitis akibat streptokokus B-hemolitikus grup A. demam rematik hanya timbul
jika terjadi respons antibody atau imunologis yang bermakna terhadap infeksi
streptokokus sebelumnya. Infeksi streptokokus berkaitan dengan faktor
perkembangan dan penularan infeksi serta faktor sosial.

1.2 Saran
Diharapkan bagi pembaca setelah membaca makalah ini khususnya perawat dapat
memahami dan mengerti serta dapat mengaplikasikan tindakan keperawatan
secara intensif serta mampu berpikir kritis dalam melaksanakan proses
keperawatan apabila mendapati klien dengan stenosis mitral dan stenosis
trikuspidalis, karena penyakit tersebut dapat terjadi kapan saja, terutama pada
pasien yang menderita kelainan jantung.
DAFTAR PUSTAKA