Anda di halaman 1dari 87

BAB II

ISI

A. Tinjauan Deteksi Dini Masa Persalinan


1. Pengertian Deteksi Dini
Deteksi dini adalah suatu mekanisme yang berupa pemberian informasi secara tepat
waktu dan efektif, melalui institusi yang dipilih, agar masyarakat/individu di daerah rawan
mampu mengambil tindakan menghindari atau mengurangi risiko dan mampu bersiap-siap
untuk merespon secara efektif. Atau dapat juga dikatakan bahwa deteksi dini merupakan
upaya memberitahukan kepada seorang klien yang berpotensi dilanda suatu masalah untuk
menyiagakan mereka dalam menghadapi kondisi dan situasi suatu masalah.
Dapat disimpulkan bahwa prinsip deteksi dini terhadap kelainan, komplikasi dan
penyakit yang lazim terjadi pada ibu masa kehamilan, persalinan dan masa nifas yaitu
merupakan kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir, bertindak seorang bidan dalam
suatu mekanisme berupa memberitahukan informasi secara tepat waktu dan efektif, melalui
instusi yang dipilih, agar masyarakat/individu (ibu selama masih reproduksi) di daerah rawan
atau dalam masa rawan sehingga mereka mampu mengambil tindakan menghindari atau
mengurangi risiko dan mampu bersiap-siap untuk merespon secara efektif terhadap kelainan,
komplikasi dan penyakit yang lazim terjadi pada ibu masa kehamilan, persalinan dan masa
nifas.

2. Sistem Deteksi Dini


Sistem deteksi dini dapat dimulai sejak seorang wanita merasakan dirinya hamil sampai
ibu tersebut memasuki masa nifas, bidan dalam hal ini membantu ibu dan janinya
melewati masa kehamilan, persalinan dan nifas dengan selamat, sehat dan sejahtera,
deteksi dini dilakukan dalam beberapa tahap dan dengan cara

3. Peran Bidan dalam Deteksi Dini


Bidan dalam melakukan tugasnya harus selalu siap jika seorang ibu mengalami risiko
yang terjadi pada masa kehamilan, bersalin dan nifas, kepiawaian seorang bidan di sini
akan terlihat dari caranya mengomunikasikan apa yang mungkin terjadi pada seorang
ibu dalam masa tersebut, pemberitahuan ini tidak hanya disampaikan pada ibu tapi juga
pada suami, serta keluarganya, juga masyarakat sekitarnya agar pada saat seorang
wanita dalam masa ini benar-benar mengalami komplikasi sudah siap baik secara fisik,
psikologi, keuangan maupun kondisi sosialnya.
4. Konsep Persalinan
Persalinan dibagi menjadi 4 kala yaitu :
 Kala 1 :
Dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan serviks sampai
pembukaan lengkap 10 cm.
 Kala 2 :
Dimulai ketika pembukaan sudah lengkap sampai bayi lahir.
 Kala 3 :
Dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput
ketuban.
 Kala 4 :
Dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir setelah 2 jam setelah plasenta lahir.

B. Tinjauan Masalah-Masalah Persalinan


A. Penyulit pada Ibu Masa Persalinan Kala I dan Kala II
1. Ketuban Pecah Dini

PRINSIP DASAR

 Ketuban dinyatakn pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung.
 Ketuban pecah dini merupakan masalah penting dalam obstetri berkaitan dengan
penyulit kelahiran prematur dan terjadinya infeksi korioamnionitis sampai sebsis,
yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal, dan menyebabkan infeksi ibu.
 Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran atau
meningkatnya tekanan intrauterin atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya
kekuatan membran disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat bersal dari vagina dan
serviks.
 Penanganan ketuban pecah dini memerlukan pertimbangan usia gestasi; adanya
infeksi pada komplikasi ibu dan janin, dan adanya tanda- tanda persalinan.

PENILAIAN KLINIK

 Tentukan pecahnya selaput ketuban. Ditentukan dengan adanya cairan ketuban di


vagina, jika tidak ada dapat dicoba dengan sedikit bagian terbawah janin atau
meminta pasien batuk atau mengedan. Penentuan cairan ketuban dapat dilakukan
dengan tes lakmus (nitrazin test) merah menjadi biru membantu dalam menentukan
jumlah cairan ketuban dan usia kehamilan, kelainan janin.
 Tentukan usia kehamilan, bila perlu dengan pemeriksaan USG.
 Tentukan ada tidaknya infeksi. Tanda- tanda infeksi : bila suhu ibu ≥ 38C, air
ketuban yang keruh dan berbau. Pemeriksaan air ketuban dengan tes LEA (Lekosit
Esterase) Lekosit darah > 15.000/mm3. Janin yang mengalami takikardi, mungkin
mengalami infeksi intrauterin.
 Tentukan tanda-tanda inpartu. Tentukan adanya kontraksi yang teratur, periksa dalam
dilakukan bila akan dilakukan penanganan aktif (terminasi kehamilan) antara lain
untuk menilai skor pelviks.
PENANGANAN

Konservatif

 Rawat dirumah sakit.


 Berikan antibiotika (ampicilin 4x500mg atau eritromisin bila tak tahan ampicilin)
dan metronidazol 2x500mg semlam 7 hari.
 Jika umur kehamilan < 32- 34 minggu, dirawat selama air ketuban masih keluar atau
sampai air ketuban tidak keluar lagi.
 Jika usia kehamilan 32- 37 minggu, belum inpartu, tidak ada infeksi, tes busa negatif:
beri deksametason, observasi tanda- tanda infeksi, dan kesejahteraan janin.
Terminasi pada kehamilan 37 minggu.
 Jika usia kehamilan 32- 37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi, berikan tokolitik
(salbutamol), deksametason, dan induksi sesudah 24 jam.
 Jika usia kehamilan 32- 37 minggu, ada infeksi, beri antibiotik dan lakukan induksi.
 Nilai tanda- tanda infeksi (suhu, lekosit, tanda- tanda infeksi intrauterin).
 Pada usia kehamilan 32-34 minggu, berikan steroid, untuk memacu kematangan paru
janin, dan kalau memungkinkan kadar lesitin dan spingomielin setiap minggu. Dosis
betametason 12mg sehari dosisi tunggal selama 2 hari, deksametason IM 5mg setiap
6 jam sebanyak 4 kali.
Aktif

KETUBAN PECAH
< 37 MINGGU ≥ 37 MINGGU
Infeksi Tidak ada infeksi Infeksi Tidak adan
infeksi
Berikan penicilin, Amoxcicilin + Berikan penicilin, Lahirkan bayi
gentamicin dan eritromisin untuk 7 getamisin dan
metronidazol hari metronidazol.

Lahirkan bayi Steroid untuk Lahirkan bayi Berikan penicilin


pematangan paru atau ampicilin.
ANTIBIOTIKA SETELAH PERSALINAN
Profilaksis Infeksi Tidak ada infeksi
Stop antibiotik Lanjutkan untuk Tidak perlu antibiotik
24-48 jam setelah
bebas panas
Aktif

 Kehamilan > 37 minggu, induksi dengan oksitosin, bila gagal sectio saesaria. Dapat
pula diberikan misoprostol 5µg intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali.
 Bila ada tanda- tanda infeksi berikan antibiotika dosis tinggi dan persalinan diakhiri:
a. Bila skor pelviks < 5, lakukan pematangan serviks, kemudian induksi. Jika tidak
berhasil, akhiri persalinan dengan sectio saesaria; b. Bila skor pelviks > 5 induksi
persalinan, partus pervaginam.
2. Distosia karena Kelainan Presentasi
Malpresentasi adalah bagian terendah janin yang berada di segmen bawah
rahim, bukan belakang kepala. Malposisi adalah penunjuk (presenting part) tidak
berada di anterior.
Malpresentasi adalah semua presentasi janin selain presentasi belakang kepala.
Malposisi adalah posisi abnormal ubun-ubun kecil relatif terhadap panggul.
Malpresentasi adalah semua presentasi janin selain vertex sementara malposisi
adalah posisi kepala janin relatif terhadap pelvis dengan oksiput sebagai titik
referensi, masalah; janin yang dalam keadaan malpresentasi dan malposisi
kemungkinan menyebabkan partus lama atau partus macet.
Dalam keadaan normal, presentasi janin adalah belakang kepala dengan
penunjuk ubun-ubun kecil dalam posisi tranversal dan posisi anterior. Dengan
presentasi tersebut, kepala janin akan masuk panggul dalam ukuran terkecilnya. Hal
tersebut dicapai bila sikap janin fleksi. Sikap yang tidak normal akan menimbulkan
malpresentasi pada janin, dan kesulitan persalinan terjadi oleh karena diameter
kepala yang harus melalui panggul menjadi lebih besar. Sikap ekstensi ringan akan
menajdikan presentasi puncak kepala (dengan penurunan ubun-ubun besar), ekstensi
sedang menjadikan presentasi dahi (dengan penurunan sinsiput), dan ekstensi
maksimal menjadikan penurunan muka (dengan penunjuk dagu).
Penanganan umum yang dilakukan adalah:
- Evaluasi kondisi ibu termasuk tanda vital.
- Lakukan evaluasi kondisi janin dengarkan DJJ atau CTG,
- Bila ketuban pecah, lihat warna ketuban, bila didapatkan mekonium awasi lebih
ketat atau lakukan intervensi.
- Bila tidak didapatkan cairan ketuban atau oligohidramnion atau gawat janin maka
yang dapat dilakukan :
a. perbaiki kondisi ibu dengan suportif emosi, makanan/cairan dan perbaiki
kontraksi
b. lakukan penilaian kemajuan persalinan dengan partograf
c. bila terjadi partus lama lakukan penialaian secara spesifik
Untuk menegakkan diagnosa lakukan penilaian klinik untuk menentukan bagian
terendah janin: bila bagian terendah kepala lakukan evaluasi posisi kepala janin;
posisis oksiput transversal atau anterior adalah keadaan normal, bila terjadi fleksi
maka oksiput lebih rendah dari pada sisiput.
1) Presentasi Puncak Kepala gmbr
Pada umunya presentasi puncak kepala merupakan kedudukan
sementara, yang kemudian akan berubah menjadi presentasi belakang kepala.
Mekanisme persalinannya hampir sama dengan posisi oksipitalis posterior
persistens, sehingga keduanya seringkali dikacaukan dengan yang lainnya.
Perbedaannya ialah: pada presentasi puncak kepala tidak terjadi fleksi kepala
yang maksimal, sedangkan lingkaran kepala yang melalui jalan lahir adalah
sirkumferensia frontooksipitalis dengan titik perputaran yang berada di bawah
simfisis ialah glabela
2) Presentasi Dahi gmbr
Presentasi dahi ialah keadaan dimana kedudukanm kepala berada di
antara fleksi maksimal, sehingga dahi merupakan bagian terendah. Prsentasi
Dahi terjadi manakala kepala janin dalam sikap ekstensi sedang. Pada
pemeriksaan dalam dapat diraba daerah sinsiput yang berada di antara ubun-
ubun besar dan pangkal hidung Pada permulaan persalinan, diagnosis
presentasi dahi sulit ditegakkan. Pemeriksaan luar memberikan hasil seperti
pada presentasi muka, tetapi pada bagian kepala tidak seberapa menonjol.
Denyut jantung janin jauh lebih jelas didengar di bagian dada, yaitu di sebelah
yang sama dengan bagian-bagian kecil.
Sebab terjadinya presentasi dahi sama seperti terjadinya presentasi muka.
Presentasi dahi dengan ukuran panggul dan janin yang normal, tidak akan
dapat lahir spontan pervaginam, sehingga harus dilahirkan dengan seksio
seksaria..
 Diagnosis
Diagnosis presentasi dahi dapat ditegakkan apabila pada pemeriksaan
vaginal dapat diraba pangkal hidung, tepi atas orbita, sutura frontalis dan
ubun-ubun besar, tetapi tidak dapat meraba dagu atau mulut janin. Pada
palpasi abdomen dapat diraba oksiput dan daguanin diatas simfisis dengan
mudah.
 Mekanisme persalinan
Persalinan dapat berlangsung hanya bila molase tersebut membuat
kepala bisa masuk panggul. Saat lahir melalui pintu bawah panggul,kepala
akan fleksi sehingga lahirlah dahi, sinsiput, dan oksiput. Proses selanjutnya
terjadi ekstensi sehingga lahirlah wajah.
 Penanganan
Sebagian besar presentasi dahi memerlukan pertolongan persalinan
secara bedah sesar untuk menghindari manipulasi vaginal yang sangat
meningkatkan mortalitas perinatal. Jika dibandingkan dengan prenstasi
belakang kepala, persalinan vaginal pada prensentasi dahi akan
meningkatkan prolaps tali pusat (5x), ruptura
uteri (17x), transfusi darah (3x), infeksi pascapersalinan (5x), dan kematian
perinatal (2x).
3) Presentasi Muka gmbr
Letak muka adalah letak kepala dengan defleksi maksimal, hingga occiput
mengenai punggung dan muka terarah ke bawah. Presentasi muka terjadi
apabila sikap janin estensi maksimal sehingga oksiput mendekat ke arah
punggung janin dan dagu menjadi bagian presentasinya.
Pada pemeriksaan luar dada akann teraba punggung. Bila muka sudah
masuk ke dalam rongga panggul, jari pemeriksa dapat meraba dagu, mulut,
hidung dan pinggir orbita.
Pemeriksaan harus dilakukan dengan hati-hati, sehingga tidak melukai
mata dan mulut. Hal ini disebabkan karena keadaan yang memaksa terjadinya
defleksi kepala atau keadaan yang menghalangi terjadinya fleksi kepala. Oleh
karena itu janin tidak dapat lahir spontan kecuali bila janin kecil atau mati.
Umunya bila tredapat letak muka segera dilakuakan seksio sesaria.
Disebabkan oleh terjadinya ekstensi yang penuh dari kepala janin,
penolong akan meraba muka, mulut, hidung dan pipi.
Etiologi : Panggul sempit, janin besar, multiparitas, perut gantung,
anensefal, tumor dileher, lilitan tali pusat; dagu merupakan titik acuan,
sehingga ada presentasi muka dengan dagu anterior dan posterior; sering
terjadi partus lama. Pada dagu anterior kemungkinan persalinan dengan
terjadinya fleksi.
 Diagnosis
Diagnosis presentasi muka ditegakkan apabila pada pemeriksaan vaginal
dapat diraba mulut, hidung, tepi orbita, dan dagu. Penunjuk presentasi muka
adalah dagu. Pada palpasi abdomen kadang- kadang dapat diraba tonjolan
kepala janin di dekat punggung janin.
 Mekanisme Persalinan
Sebelum masuk panggul biasanya kepala janin belum dalam sikap ekstensi
maksimal, sehingga masih presentasi dahi. Ketika terjadi penurunan kepala,
tahanan dari panggul akan menyebabkan kepala lebih ekstensi sehingga
terjadi perubahan menjadi presentasi muka.
 Penanganan
Apabila tidak ada gawat janin dan persalinan berlangsung dengan kecepatan
normal, maka cukup dilakukan observasi terlebih dahulu hingga terjadi
pembukaan lengkap. Apabila setelah pembukaan lengkap dagu berada di
anterior, maka persalinan vaginal dilanjutkan seperti presentasi persalinan
dengan presentasi belakang kepala. Bedah sesar dilakukan apabila setelah
pembukaan lengkap posisi dagu masih posterior, dapatkan tanda-tanda
disproporsi, atau atas indikasi obstetri lainnya. Stimulasi oksitosin hanya
diperkenankan pada posisi dagu anterior dan tidak ada tanda-tanda
disporporsi.
4). Presentasi Majemuk gmbr
Presentasi majemuk adalah terjadinya prolaps satu atau lebih ekstremitas
pada presentasi kepala ataupun bokong. Kepala memasuk panggul bersamaan
dengan kaki dan/atau tangan. Presentasi majemuk juga dapat terjadi manakal
bokong memasuki panggul bersamaan dengan tangan. Dalam pengertian
presentasi majemuk tidak termasuk presentasi bokong-kaki, presenasi bahu,
atau prolaps tali pusat. Faktor yang meningkatkan kejadian presentasi
majemuk adalah prematuritas, multiparitas, panggul sempit, kehamilan ganda
atau pecahnya selaput ketuban dengan bagian terendah janin yang masih
tinggi.
 Diagnosis
Apabila pada presentasi kepala teraba juga tangan/lengan dan/atau kaki atau
pada presentasi bokong teraba juga tangan/lengan, maka diagnosis presentasi
majemuk dapat ditegakkan.
 Mekanisme Persalinan
Kelahiran spontan pada persalinan dengan presentasi majemuk hanya dapat
terjadin apabila janinnya sangat kecil, atau apabila janin mati sudah
mengalami maserasi. Mekanisme persalinan dapat terjadi sebagaimana
mekanisme persalinan presentasi kepala ataupresentasi bokong apabila
reposisi baik secara spontan maupun melalui upaya.
 Penanganan
Penanganan presentasi majemuk dimulai dengan menetapkan adanya prolaps
tali pusat atau tidak. Adanya prolaps tali pusat menimbulkan keadaan
emergensi bagi janin dan penanganan dengan bedah sesar ditujukan untuk
mengatasi akibat prolaps tali pusat tersebut dari pada presentasi majemuknya.
5). Presentasi Bokong gmbr
Presentasi bokong adalah janin letak memanjang dengan bagian
terendahnya bokong, kaki, atau kombinasi keduanya. Penyebab terjadinya
presentasi bokong tidak diketahui tetapi terdapat beberapa faktor risiko selain
prematuritas, yaitu abnormalitas struktural uterus polihidramnion, plasenta
previa, multiparitas, mioma uteri, kehamilan multipel, anomali janin
(anensefali, hidrosefalus), dan riwayat presentasi bokong sebelumnya. Trauma
pada janin dalam presentasi bokong dapat terjadi baik pada persalinan secara
bedah sesar maupun vaginal.
 Diagnosis
Presentasi bokong dapat diketahui melalui pemeriksaan palpasi
abdomen. Manuver Leopold perlu dilakukan pada setiap kunjungan
perawatan antenatal bila umur kehamilannya ≥ 34 minggu. Untuk
memastikan apabila masih terdapat keraguan pada pemeriksaan palpasi,
dapat dilakukan periksa dalam vagina dan/atau pemeriksaan utrasonografi.
Terdapat tiga macam presentasi bokong, yaitu bokong murni (60-70%
kasus), bokong komplit (10% kasus), dan kaki.
 Mekanisme Persalinan
Bokong akan memasuk pangul dengan diameter bitrokanter dalam
posisi oblik. Pinggul janin bagian depan mengalami penurunan lebih cepat
dibanding pinggul belakangnya. Dengan demikian, pinggul depan akan
mencapai pintu tengah panggul terlebih dahulu. Penurunan bokong
berlangsung terus setelah terjadinya putaran paksi dalam.
 Penanganan
Terdapat situasi-situasi tertentu yang membuat persalinan vaginal tidak
dapat dihindarkan yaitu ibu memilih persalinan vaginal, direncanakan bedah
sesar tetapi terjadi proses persalinan yang sedemikan cepat, persalinan terjadi
di fasilitas yang tidak memungkinkan dilakukan bedah sesar, presentasi
bokong yang tidak terdiagnosis hingga kala II, dan kelahiran janin kedua
presentasi bokong pada kehamilan kembar.
Pembuka serviks harus benar-benar harus sudah lengkap sebelum
memimpin ibu untuk mengejan. Prinsip untuk melahirkam bayi [presentasi
bokong secara vaginal adalah tidak tergesa-gesa, tidak melakukan tarikan,
dan selalu menjaga agar punggung janin dalam posisi anterior.
4) Persistent Oksipito Posterior
Yaitu posisi di mana ubun-ubun kecil tidak berputar ke depan, sehingga
tetap berada di belakang disebabkan karena usaha penyesuaian kepala
terhadap bentuk dan ukuran panggul.
Mekanisme persalinannya dapat berlangsung spontan, tetapi pada
umumnya lebih lama, dan juga sulit untuk diramalkan, karena kemungkinan
adanyaa penyulit selalu ada, ditambah kemungkinan kerusakan jalan lahir
besar, sedangkan kematian perinatal lebih tinggi bila dibandingkan dengan
kedaan di mana ubun-ubun kecil berada di depan. Oleh sebab itu persalinan
dapat ditangani dengan menggunakan vakum atau cunam.
Rotasi secara spontan terjadi pada 99% kasus. Persalinan yang terganggu
terjadi bila kepala janin tidak rotasi atau turun, pada persalinan dapat terjadi
robekan perineum yang luas/tidak teratur, etiologi usaha penyesuaian kepala
terhadap bentuk dan ukuran panggul; pada diameter antero-posterior >
tranversa pada panggul antropoid, atau segmen depan menyempit seperti pada
panggul android, ubun-ubun kecil akan sulit memutar ke depan; sebab lain
otot-otot dasar panggul lembek pada multipara atau kepala janin yang kecil
dan bulat sehingga tak ada paksaan pada belakang kepala janin untuk memutar
ke depan.
5) Mekanisme Persalinan
Setelah kepala mencapai dasar dan ubun-ubun besar (UUB) berada di
bawah simfisis, dengan UUB sebagai hipomoglion oksiput lahir mellaui
perineum diikuti bagian kepala yang lian; bila persalinan memanjang: periksa
ketuban, bila intak pecahkan ketuban bila kepala turun > 3/5 atau di atas
Hodge II dilakuakn sectio sesaria (SC); bila belum lengkap dan tidak ada
Cepalo Pelvic Disporpotion (CPD) berikan oksitosin drip; bila kepala turun
hingga 1/5 atau 0/5 lakukan ekstraksivakum atau forsef; jika terjadi CPD atau
gawat janin lakukan SC.

3) Distosia bahu
a. Definisi
Distosia bahu adalah suatu tambahan diperlukannya tambahan
manuver obstetrik oleh karena dengan tarikan biasa ke arah belakang pada
kepala bayi tidak berhasil untuk
melahirkan bayi.
Distosia bahu yang
Sesungguhnya mempunyai
pengertian bahwa presentasi
kepala dan kepala telah lahir
tetapi bahu tidak dapat dilahirkan
dengan cara biasa.

Sumber : reproduksiumj.blogspot.com

Pada mekanisme persalinan normal, ketika kepala dilahirkan, maka


bahu memasuki panggul dalam posisi oblig. Bahu posterior memasuki panggul
lebih dahulu sebelum bahu anterior. Ketika kepala melakukan putar paksi luar,
bahu posterior berada di cekungan tulang sakrum atau di sekitar spina
ischiadica, dan memberikan ruang yang cukup bagi bahu anterior untuk
memasuki panggul melalui belakang tulang pubis atau berotasi dari foramen
obsturator. Apabila bahu berada dalam posisi antero-posterior ketika hendak
memasuki pintu atas panggul, maka bahu posterior dapat tertahan
promontorium dan bahu anterior akan tertahan tulang pubis. Dalam keadaan
demikian kepala yang sudah dilahirkan akan tidak dapat melakukan putar
paksi luar, dan tertahan akibat adanya tarian yang terjadi antara bahu posterior
dengan kepala.
Hasil diagnostik yamg disebut sebagai distosia bahu adalah presentasi
sefalik dengan bahu anterior terjepit di atas simpisi pubis bukan masuk ke
pelvis minor. Hal ini terjadi ketika bahu berusaha memasuki pelvis minor
dengan diameter bisakromial dalam diameter anteroposterior PAP bukan pada
diameter oblik kiri atau kanan PAP yang ruangnya lebih besar, yang
merupakan cara untuk masuk ke dalam pelvis, selama mekanisme persalinan
normal. Bahu posterior biasanya telah turun melewati promontorium sakrum
dan masuk ke pelvis minor. Sangat jarang terjadi, bahu posterior juga macet di
atas promontorium sakrum bersama dengan bahu anterior.
Distosia bahu ada hubungannya dengan obesitas ibu, pertahanan berat
badan yang berlebihan, bayi berukuran besar, riwayat saudara kandung yang
besar dan diabetes pada ibu.
Akibat pada janin yaitu pada setiap kontraksi uterus sejumlah besar darah
yang dialirkan dari badan bayi ke kepalanya. Tertekuknya leher dan kompresi
di dada yang mempengaruhi fungsi jantung akan mengganggu aliran balik.
Sistem pembuluh darah intracarnial janin tidak dapat mengkompensasi
tekanan intravaskular yang tinggi. Akibat keadaan ini terjadi anoksia dan
dapat disertai efusi hemorrhagis. Jika keadaan ini berlangsung terlalu lama
maka bayi akan menderita kerusakan otak yang tidak dapat diperbaiki lagi. Ia
mungkin akan meninggal pada waktu dicoba untuk dilahirkan atau pada
periode neonatal.
1) Penyebab
Distosia Bahu terutama disebabkan oleh deformitas panggul, kegagalan bahu
untuk “melipat” ke dalam panggul (misal : pada makrosomia) disebabkan oleh
fase aktif dan persalinan kala dua yang pendek pada multipara sehingga
penurunan kepala yang terlalu cepat menyebabkan bahu tidak melipat pada
saat melalui jalan lahir atau kepala telah melalui pintu tengah panggul setelah
mengalami pemanjangan kala dua sebelum bahu berhasil melipat masuk ke
dalam panggul.
2) Gejala
Belum ada cara untuk memastikan akan terjadinya distosia bahu pada suatu
persalinan. Meskipun sebagian besar distosia bahu dapat ditolong tanpa
morbiditas. Tetapi apabila terjadi komplikasi akan menimbulkan kekecewaan
dan adanya potensi tuntutan terhadap penolong persalinan. Untuk mengurangi
risiko morbiditas pada bayi dan mencegah terjadinya tuntutan, penolong
persalinan perlu mengidentifikasi faktor risiko terjadinya distosia bahu dan
mengkomunikasikan akibat yang dapat terjadi pada ibu serta keluarganya.
3) Syarat
a. Kondisi vital ibu cukup memadai sehingga dapat bekerjasama untuk
menyelesaikan persalinan.
b. Masih memiliki kemampuan untuk mengedan.
c. Jalan lahir dan pintu bawah panggul memadai untuk akomodasi tubuh bayi.
d. Bayi masih hidup atau diharapkan dapat bertahan hidup.
e. Bukan monstrum atau kelainan kongenital yang menghalangi keluarnya bayi.
4) Gambaran klinis
Gambaran klinis yang diuraikan oleh Morris sebagai berikut, lahirnya
kepala dengan atau tanpa forceps mungkin akan mudah sekali, tetapi umunya
akan ada sedikit kesulitan dalam menyelesaikan ekstensi kepala. Dengan enggan
kepala yang berambut keluar. Ketika dahi telah nampak ia harus menekan
perinium ke belakang untuk melahirkan muka. Selanjutnya keluarlah pipi yang
gemuk. Dagu yang telah menempel kuat pada comissura vulvae posterior harus
dikeluarakan. Restitusi jarang terjadi secara spontan oleh karena kepala
kelihatannya tidak mampu bergerak sebagai akibat tahanan oleh lingkaran
vulva. Sebaliknya, manipulasi kepala secara perlahan-lahan kadang-kadang
menyebabkan restitusi 90 derajad secara tiba-tibaketika kepala mnyesuaikan diri
sendiri tanapa turunnya abahu ke posisi anteroposterior.
Waktu terus berlalu. Kepala bayi menjadi sembab. Sia-sia ia berusaha
untukn bernafas. Hejan perut ibu dan dorongan penolong tidak membawa
kemajuan, demikian pula penarikan kepala dengan perlaha-lahan tidak berhasil.
Seringkali penolong terlena oleh ketenangannya. Mereka mendorong,
mereka menarik. Kecemasan bertambah. Akhirnya dengan kekuatan otot yang
lebih besar atau oleh beberapa tindakan manipulasi yang membahayakan.
Kesulitan tampak teratasi, dan bahu dengan tubuh anak yang sehat dapat
dilahirkan. Tubuh yang pucat kontras dengan wajah sianosis yang ungu
kemerahan, dan adas sedikit mekonium yag keluar dari bokong. Itu berarti
bahwa kecemasan mereka bukan tidak beralasan, bayi tidak aktif dan tanpa
suara, dan seringkali tetap seperti itu kendati semua usaha resusitasi telah
dialakukan.
5) Faktor risiko dan pencegahannya
Risiko Distosia Bahu akan meningkat dengan bertambahnya perbedaan
antara ukuran badan dan bahu dengan ukuran kepalanya, seperti pada bayi
makrosomia lebih beresiko.
Upaya pencegahan Distosia Bahu dan cedera yang dapat ditimbulkannya
dapat dilakukan dengan cara :
 Tawarkan untuk dilakukan bedah sesar pada persalinan pervaginal beresiko
tinggi dengan riwayat distosia bahu pada persalinan sebelumnya, kala dua
yang memanjang dengan janin besar.
 Identifikasi dan obati diabetes pada ibu
 Selalu bersiap-siap bila sewaktu-waktu terjadi
 Kenali distosia seawal mungkin. Upaya mengejan, menekan suprapubis atau
fundus , dan traksi berpotensi meningkatkan risiko cedera pada janin
 Perhatikan waktu dan segera minta pertolongan begitu distosia diketahui.
Bantuan diperlukan untuk membuat posisi McRoberts, pertolongan
persalinan, Resusitasi Bayi dan tindakan untuk anestesi (bila perlu).
6) Penanganan
Langkah berikut harus dilakukan untuk menangani situasi darurat distosia
bahu :
1. Minta asisten untuk menyiapkan prasat resusitasi dan penganan perdarahan
postpartum dengan cepat.
2. Jelaskan secara singkat kepada ibu bahwa ada masalah dengan pelahiran
bahu bayinya, bahwa penolong dan bayi memerlukan kerja sama dengan ibu.
Beritahu ibu bahwa ibu tidak boleh mengejan sekarang.
3. Atur posisi litotomi maksimal (perasat McRobert).
4. Periksa posisi bahu. Putar bahu ke salah satu diameter oblik pelvis jika
berada dalam diameter transversal atau anteroposterior pada pelvis ibu.
5. Minta asisten untuk menekan area suprapubis sementara penolong
memberikan tekanan yang biasa dilakukan ke arah bawah dan ke arah luar
pada sisi kepala bayi.
6. Jika bayi belum lahir, istirahat sebentar sekitar 40-45detik.
a. Kateterisasi wanita untuk mengosongkan kandung kemih apabila kandung
kemih penuh.
b. Pastiakan kebutuhan untuk melakukan episiotomi.
c. Lakukan pemeriksaan dalam untuk menyingkirkan penyebab lain distosia
persalinan setelah kepala lahir.
7. Lakukan langkah McRobert kembali.
8. Jika bayi tidak bisa keluar, lakukan perasat memutar dalam bentuk spiral,
menggunakan prinsip skrup kayu.
9. Jika bayi masih belum dapat dilahirkan, lahirkan lengan posterior.
10. Upayakan pelahiran bayi sekarang dengan kombinasi perasar McRobert.
11. Jika bayi masih belum keluar, rotasikan badan bayi 180 derajat.
12. Apabila langkah sebelumnya belum berhasil, maka lakukan langkah
tradisional untuk mematahkan klavikula.
13. Untuk praktisi lainnya, yaitu menggunakan prasat Zavanelli untuk
memindahkan bagian belakang kepala bayi ke dalam vagina dan dilanjutkan
pengeluaran bayi dengan SC.
Secara sistematis tindakan pertolongan distosia bahu adalah sebagai berikut :
 Langkah pertama : Manuver McRoberts gmbr
Memposisikan ibu telentang, memfleksikan kedua paha sehingga lutut
menjadi sedekat mungkin ke dada dan rotasikan kedua kak ke arah luar
(abduksi). Lakukan episiotomi yang cukup lebar. Minta asisten untuk
menekan suprasimfisis ke arah posterior menggunakan pangkal tangannya
untuk menekan bahu anterior agar mau masuk dibawah simfisis. Sementara itu
lakukan tarikan ada kepala janin ke arah posterokaudal dengan mantab.
Hindari tarikan yang berlebihan karena akan mencederai pleksus brakhialis.
Setelah baju anterior lahir, lakukan langkah selanjutnya.
 Langkah kedua : Manuver Rubin gmbr
Memutar bahu secara langsung atau melakukan tekanan suprapubik ke arah
dorsal. Masih dalam posisi McROberts, masukkan tangan pada bagian
posterior vagina, tekanlah pada daerah ketiak bayi sehingga bahu berputar
menjadi posisi oblig atau tranversa. Ketika dilakukan tekanan suprapubik pada
osisi punggung janin anterior akan membuat bahu lebih abduksi, sehingga
diameternya mengecil. Dengan bantuan tekanan suprasimfisis ke arah
posterior, lakukan tarikan kepala ke arah posterokaudal dengan mantap untuk
melahirkan bahu anterior.
 Langkah ketiga : melahirkan bahu posterior, posisi merangkak, atau Manuver
Wood
Masukkan tangan penolong yang berseberangan dengan punggung bayi ke
vagina. Temukan bahu posterior, telusuri lengan atas dan buatlah sendi siku
menjadi fleksi. Peganglah lengan bawah dan buatlah gerakan mengusap ke
arah dada bayi. Dengan bantuan tekanan suprasimfisis ke arah posterior,
lakukan tarikan kepala ke arah posterokaudal dengan mantap untuk melahirkan
bahu anterior
2. Distosia karena Kelainan Posisi Janin
a. Letak sungsang
1) Definisi dan kriteria
Letak sungsang adalah letak memanjang dengan bokong sebagai bagian yang
terendah (presentasi bokong).
Dibagi menjadi : (gambar frank,complete,incomplete)
- Letak bokong murni (frank breech) : bokong yang menjadi bagian depan,
kedua tungkai lurus ke atas.
- Letak bokong kaki (complete breech) : di samping bokong teraba kaki, biasa
disebut letak bokong kaki sempurna jika di samping bokong bteraba kedua
kaki atau tidak sempurna jika di samping bokong teraba satu kaki.
- Letak lutut
Letak kaki
(incomplete breech presentation) : presentasi kaki
2) Diagnosis
Untuk menegakkan Diagnosa maka yang harus dilakuakn oleh seorang bidan
adalah dengan melakukan :
- Anamnesis : pergerakan anak teraba oleh ibu di bagian perut bawah, ibu
sering merasa ada benda keras (kepala) yang mendesak tulang iga dan rasa
nyeri pada daerah tulang iga karena kepala janin.
- Palpasi : teraba bagian keras, bundar, melenting pada fundus. Punggung
dapat dirab apada salah satu sisi perut, bagian kecil pada sisi yang
berlawanan, di atas simfisis teraba bagian yang kurang bundar dan lunak.
- Auskultasi : denyut jantung janin (DJJ) sepusat atau DJJ ditemukan paling
jelas pada tempat yang lebih tinggi (sejajar atau lebih tinggi dari pusat).
- Vagina Toucher : terbagi 3 tonjolan tulang yaitu kedua tubera ossis ischii dan
ujung os sacrum, anus, genetalian anak jika edema tidak terlalu besar dapat
diraba.
- Perbedaan antara letak sungsang dan kepala pada pemeriksaan dalam jika
anus posisi terendah maka akan teraba lubang kecil, tidak ada tulang, tidak
menghisap, keluar mekonium, jika presentasi kaki maka akan teraba tumit
dengan sudut 900, terasa jari-jari, pada presentasi lutut akan terasa patela dan
poplitea. Pada presentasi mulut maka akan terasa ada hisapan di jari, teraba
rahang dan lidah. Presentasi tangan siku: terasa jari panjang, tidak rata,
patella (-).
- Untuk menentukan perbedaan tangan dan kaki: pada kaki ada kalkaneus,
sehingga terdapat tonjolan tulang yaitu mata kaki dan kalkaneus. Pada tangan
hanya ada mata di pergelangan tangan, kaki tidak dapat diluruskan terhadap
tungkai, jari kaki jauh lebih pendek dari telapak kaki.
3) Penyebab letak sungsang
Penyebab dari letak sungsang antara lain disebabkan oleh :
prematuritas karena bentuk rahim relatif kurang lonjong, air ketuban masih
banyak dan kepala relatif besar; hidramnion karena anak m,udah bergerak;
plasenta previa karena menghalangi turunnya kepala ke dalam pintu atas
panggul; bentuk rahim yang abnormal; kelainan bentuk kepala seperti
anensefalus dan hidrosefalus.
4) Mekanisme persalinan sungsang(kasih gambar mekanismenya sesuai dengan
ketikan dibawah ini)
- Garis pangkal paha masuk seorang ke dalam PAP. Pantat depan memutar ke
depan setelah mengalami rintangan dari otot-otot dasar panggul sehingga
terjadi retrofleksi badan untuk menyesuaikan diri dengan lengkungan
panggul.
- Pantat depan tampak lebih dulu terlihat di vulva dengan trokanter depan
sebagai hipomoklion dan laterofleksi dari badan, lahirlah pantat belakang
pada pinggir depan sehingga bahu dapat masuk pintu atas panggul (PAP)
dalam ukuran serong dari pintu atas panggul.
- Setelah bahu turun, terjadilah putaran paksi dari bahu sampai ukuran
bisakrominal dalam ukuran muka belakang dari pintu bawah panggul (PBP),
oleh sebab itu punggung berputar lagi ke samping.
- Pada saat bahu akan lahir, kepala dalam keadaan fleksi masuk pintu atas
panggul dalam ukuran melintang PAP. Kepala mengadakan putaran sehingga
kuduk terdapat di bawah simfisis dan dagu sebelah belakang.
- Berturut-turut terlahirlah dagu, mulut, hidung, dahi dan belakang kepala.
- Prognosis
Bagi ibu : robekan perineum lebih besar, jika ketuban pecah dini
(KPD) dapat terjadi partus lama, dan infeksi. Sementara bagi janin/ anak :
prognosis tidak terlalu baik karena adanya gangguan peredaran darah plasenta
setelah bokong dan perut lahir karena tali pusat terjepit.
Pertolongan persalinan dilakukan di rumah sakit atau fasilitas
kesehatan yang dapat melakukan operasi; bila memungkinkan lakukan versi
luar; bila tidak berhasil lakukan persalinan sungsang per vaginam atau SC.
- Perhatian
Pertolongan persalinan spontan (Bracht) pada primigravida sebaiknya
di RS dan harus dievaluasi ditakutkan ada kesuliran pada after coming head
(kepala lahir belakangan); kepala janin harus lahir dalam waktu maksimal 8
menit sejak lahir sebatas pusat; pertolongan persalinan harus dilakukan oleh
tenaga kesehatan yang terlatih agar persalinan aman dengan syarat: pelvimetri
klinis yang adekuat; janin tidak terlalu besar; tidak ada riwayat Sectio Caesaria
(SC) dengan indikasi Cepalo Pelvic Disporpotion (CPD), kepala fleksi; ikuti
kemajuan persalinan dengan seksama menggunakan partograf; jika ketuban
pecah perhatikan adakah prolaps tali pusat, jangan pecahkan ketuban; apabila
ada prolaps tali pusat dan kelahiran pervaginam tidak memungkinkan, lakukan
SC; jika denyut jantung janin (DJJ) abnormal (<100 atau >180 kali per menit)
atau persalinan lama SC.
- Fase waktu memimpin persalinan
- Ada dua fase dalam menolong persalinan sungsang yakni: fase menunggu yaitu
sebelum bokong lahir seluruhnya jangan lakukan kliisteller karena akan
memudahkan terjadinya nuchal arm kemudian fase untuk bertindak cepat yaitu
dilakukan setelah badan janin sudah lahir sampai pusat diperlukan waktu 8
menit dan untuk mempercepat lahirnya kepala janin dapat dilakukan manual
aid.

A. LETAK MUKA
Letak muka adalah letak kepala dengan defleksi maksimal, hingga oksiput
mengenai punggung dan muka terarah ke bawah. Punggung terdapat dalam
lordose dan biasanya terdapat di belakang.
Diagnosa:
 Dalam kehamilan
Letak muka kadang- kadang dapat dicurigai dalam kehamilan kalau :
 Tonjolan kepala teraba sefihak dengan punggung dan antara belakang
kepala dan punggung teraba sudut yang runcing (sudut Fabre);
tonjolan kepala ini juga bertentangan dengan fihak bgian- bagian
kecil.
 Bunyi jantung anak terdengar pada pihak bagian- bagian kecil.
Atas penemuan tersebut di atas dibuat foto Rontgen.

 Dalam persalinan
Dengan pemeriksaan dalam pada pembukaan yang cukup besar teraba : orbita,
hidung, tulang pipi, mulut dan dagu. Karena muka agak lunak harus dibedakan
dari bokong.
(gambar letak muka dagu kiri depan)

Sebab: Sebab yang terpenting ialah panggul sempit dan anak yang besar.
Secara lengkap sebab- sebab dapat dibagi dalam 2 golongan :

a. Letak muka primer yang disebabkan oleh kelainan anak dan tidak dapat
diperbaiki seperti :
1. Struma congenitalis.
2. Kelainan tulang leher.
3. Lilitan tali pusat yang banyak.
4. Meningocele.
5. Anancephal.
b. Letak muka sekunder: dapat diperbaiki anak normal :
1. Panggul picak.
2. Anak besar.
3. Dinding perut kendor, hingga rahim jatuh ke depan.
4. Bagian- bagian yang menumbung.
5. Hydromnion.
Mungkin juga letak defleksi dapat terjadi karena tonus otot-otot extensor anak
lebih kuat dari tonus otot-otot fleksor.

Mekanisme persalinan :

Gambar mekanisme persalinan letak muka (dagu ke belakang)

Pada permulaan defleksi ringan saja, tetapi dengan turunnya kepala


defleksi bertambah, hingga dagu menjadi bagian yang terendah. Ini disebabkan
karena jarak dari foramen magnum ke belakang kepala lebih besar dari jarak
dari foramen magnum ke dagu. Distansia submentobregmatica melalui jalan
lahir. Karena dagu merupakan bagian yang terendah dagulah yang paling dulu
mengalami rintangan dari otot-otot dasar panggul, hingga memutar ke depan
ke arah symphysis. Putaran paksi ini baru terjadi pada dasar panggul. Dalam
vulva terdahulu nampak mulut. Kepala lahir dengan gerakan fleksi dan tulang
lidah menjadi hypomochlion; berturut-turut lahirlah hidung,mata,dahi,ubun-
ubun besar dan akhirnya tulang belakang kepala.

Apabila menemukan letak muka sebaiknya diperiksa apakah tidak ada


kelainan panggul. Dalam kehamilan dapat dicoba prasat Schatz untuk
memperbaiki letak defleksi :

1. Kepala anak dimobilisasi dan diletakkan pada fossa iliaca pada pihak
punggung anak.
2. Penolong berdiri pada pihak perut anak, satu tangan menarik bokong
sedang satunya dikepalkan dan meolak dada anak.
3. Sesudah lordose berkurang maka tangan yang jadinya menolak dada
memegang daerah belakang kepala dan mendekatkannya dengan bokong.

Dalam persalinan asal tidak ada kelainan panggul,terapi bersifat


konserpatif mengingat bahwa letak muka dapat lahir spontan. Juga jika dagu
terdapat sebelah belakang masih ada kemungkinan bahwa dagu memutar ke
depan dan persalinan berlangsung spontan. Jika ada indikasi untuk
menyelesaikan persalinan maka forceps hanya digunakan :

1. Kepala sudah sampai Hodge IV


2. Dagu terdapat sebelah depan
Jika syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi lebih baik SC.

Kalau pada multipara ketuban baru pecah pada pembukaan lengkap, kepala
masih agak tinggi dan dagu terdapat di belakang, boleh diusahakan manual
letak belakang kepala dengan prasat Thorn.

Gambar

Perasat ini di Rumah Sakit besar tidak dilakukan lagi. Biasanya diambil sikap
konserpatif dan bila dagu tidak berputar ke depan dilakukan SC.

Caranya:

1. Kepala dibebaskan dulu


2. Ociput dipegang dengan tangan dalam dan ditarik ke bawah supaya terjadi
fleksi
3. Tangan luar menolak dada supaya terjadi kyphose.
Jika dagu tetap di belakang maka persalinan tidak berlangsung secara
spontan. Sebabnya ialah karena untuk menyesuaikan diri dengan lengkung
panggul anak harus menambahkan defleksinya. Hal ini tidak mungkin karena
defleksinya sudah maksimal.

c. Letak Dahi

Letak dahi adalah letak kepala dengan defleksi yang sedang hingga dahi
menjadi bagian yang terendah. Biasanya letak dahi bersifat sementara, dan
dengan majunya persalinan menjadi letak muka atau letak belakang kepala.
Letak dahi yang menetap agak jarang terjadi. Sebab-sebb letak dahi kira-kira
sama dengan sebab-sebab letak muka.

Dalam kehamilan letak dahi jarang dapat diketahui karena dengan palpasi
saja paling-paling dapat kita curigai letak defleksi ialah:
1. Tonjolan kepala teraba pada pihak punggung anak (bertentangan dengan
bagian-bagian kecil)
2. Bila bunyi jantung anak dan bagian-bagian kecil anak sepihak.
Jika penemuan diatas tersebut dibuat dari foto Rontgen maka dapat
ditentukan letak dahi dan letak muka. Biasanya letak dahi baru dapat di
diagnosa waktu persalinan bila pembukaan sudah cukup besar; maka teraba
sutura frontalis.

Apabila dagu dapat diraba diagnosa ialah letak muka.

Pada letak dahi ukuran terbesar kepala ialah diameter mento occipitalis
melalui jalan lahir yang lebih besar dari semua ukuran pintu atas panggul.
Maka pada anak yang cukup besar kepalanya tidak dapt masuk ke dalam
pintu atas panggul. Letak dahi merupakan presentasi yang paling buruk di
antara letak kepala. Pada anak yang agak kecil kepalanya dapat masuk
dengan moulage yang kuat, kemudian terjadi putaran paksi. Sehingga dahi
memutar ke depan ke arah symphysis.

Dahi paling dulu ampak pada vulva dan tulang rahang atas menjadi
hympomochlion. Dengan fleksi lahirlah ubun-ubun besar dan belakang
kepala setelah belakang kepala lahir, dengan gerakan defleksi berturut-turut
lahir mulut,dan dagu. Vulva diregang oleh diameter maxillo occipitalis.
Caput succedaneum terjadi pada dahi.

Pada letak dahi yang bersifat sementara anak dapat lahir spontan sebagai
letak belakang kepala atau letak muka. Apabila letak dahi menetap maka
prognosa buruk, kecuali kalau anak kecil. Dalam kehamilan boleh dicoba
prasat Schatz. Kalau pada persalinan terdapat letak dahi dilakukan SC,
mengingat bahaya-bahaya untuk ibu dan anak

d. Letak Lintang
1) Definisi
Letak lintang adalah sumbu memanjang janin menyilang sumbu memnajang
ibu secara tegak lurus mendekat 900. Jika sudut yang dibentuk kedua sumbu
ini tajam disebut Oblique lie, terdiri dari: deviated head presentation (letak
kepala mengolak) dan deviated breech presentation (letak bokong
mengolak). Presentasi paling rendah dalah bahu.
Menurut letak kepala: letak lintang I: kepala kiri dan letak lintang II: kepala
kanan. Menurut posisi punggung: dorso anterior, dorso posterior, dorso
superior, dorso inferior. Angka kejadian letak lintang 0,5-2% dari persalinan.
Faktor-faktor penyebab: fiksasi kepala tidak ada indikasi CPD, hidrosefalus,
anensefalus, plasenta previa dan tumor-tumor pelvis; janin mudah bergerak
karena hidramnion, multiparitas, pertumbuhan janin terhambat atau janin
mati, gemelli, kelianan uterus, lumbar skoliosis, monster, pelvic kidney dan
kandung kemih serta rektum yang penuh. Untuk menegakkan diagnosa maka

hal yang harus dilakukan adalah denagn melakukan inspeksi hasilnya perut
tampak membuncit ke samping; pada saat dilakukan palpasi teraba tinggi
fundus uteri (TFU) lebih rendah dari seharusnya usia kehamilan, fundus uteri
(FU) kosong dan bagian bawah kosong, kecuali kalau bahu sudah masuk ke
dalam pintu atas panggul (PAP); kepala teraba di kanan atau di kiri; hasil
Auskultasi denyut jantung janin setinggi pusat; pemeriksaan dalam akan
teraba tulang iga, skapula dan kalau tangan menumbung teraba tangan, teraba
bahu dan ketiak yang bisa menutup di kiri, letak punggung ditentukan dengan
adanya skapula, letak dada, klavikula, pemeriksaan dalam agak sykar
dilakuakan bila pembukaan kecil dan ketuban intak, namun pada letak lintang
biasanya ketuban pecah cepat; pemeriksaan penunjang: ultrasonografi (USG)
atau foto rontgen.
Anak yang normal dan cukup bulan tidak mungkin lahir secara pervaginam.
Hal ini hanya memungkinkan bila kecil (prematur), sudah mati dan menjadi
lembek, atau panggul yang luas.
Beberapa cara janin lahir spontan: Menurut Denman persalinan
dilakuakn setelah bahu lahir kemudian diikuti bokong, perutm dada, dan
akhirnya kepala. Menurut Douglas kelahiran bahu diikuti oleh dada, perut,
bokong dan kahirnya kepala. Bahu masuk ke dalam panggul sehingga
rongga panggul seluruhnya terisi bahu dan bagian-bagian tubuh lainnya.
Janin tidak dapat turun lebih lanjut dan terjepit dalam rongga panggul,
sehingga bagian korpus uteri mengecil sedangkan segmen bawah rahim
(SBR) meregang, keadaan di atas disebut letak lintrang kasep = Neglected
Transverse Lie, adanya letak lintang kasep dapat diketahui bila ada ruptura
uteri mengancam.
Prognosa letak lintang bagi ibu antara lain: ruptura uteri, partus lama,
ketuban pecah dini (KPD), infeksi intrapartum; bagi janin angka kematian
tinggi 25-40% disebabkan karena: prolapsus funikuli, trauma partus,
hipoksia karewna kontraksi uterus terus-menerus.
Penanganan letak lintang lakukan versi luar jika ibu pada permulaan
inpartu dan ketuban intak: jika versi luar berhasil, lanjutkan dengan
persalinan normal; jika versi luar gagal atau tidak dianjurkan, lakukan seksio
sesaria; lakukan pengawasan adanya prolapsus tali pusat. Jika tali pusat
mengalami prolaps dan persalinan belum mulai, lakukan seksio sesaria.

3. Distosia kelainan Tenaga/His


Distosia adalah kesulitan dalam jalannya persalinan. Distosia karena
kelainan tenaga/his adalah his yang tidak normal baik kekuatan maupun
sifatnya sehingga menghambat kelancaran persalinan. Distosia adalah
kesulitan dalam jalannya persalinan.
Distosia karena kelainan tenaga (his) adalah his yang tidak normal, baik
kekuatan maupun sifatnya, sehingga menghambat kelancaran persalinan.
Di bawah ini dikemukakan lagi ringkasan dari his normal:
1. Tonus otot rahim diluar his tidak seberapa tinggi, lalu meningkat pada waktu
his. Pada kala pembukaan serviks ada 2 fase: fase laten dan fase aktif yang
digambarkan pada servikogram menurut Friedman.
2. Kontraksi rahim dimulai pada salah satu tanduk rahim, sebelah kanan atau
kiri, lalu menjalar keseluruh otot rahim.
3. Fundus uteri berkontraksi lebih dulu (fundal dominan) lebih lama dari
bagian-bagian lain. Bagian tengah berkontraksi agak lebih lambat, lebih
singkat dan tidak sekuat kontraksi fundus uteri. Bagian bawah (segmen
bawah rahim) dan serviks tetap pasif atau hanya berkontraksi sangat lemah.
4. Sifat-sifat his: lamanya, kuatnya, teraturnya, seringnya dan relaksasinya,
serta sakitnya.
Penyebab: sering dijumpai pada primigravida tua dan inersia uteri
sering dijumpai pada multi gravida; faktor herediter, emosi dan kekuatan
memegang peranan penting; salah pimpinan persalinan pada kala II atau salah
pemberian obat-obatan seperti oksitosin dan obat-obatan penenag;
penanganan distosia kelainan tenaga/his; bila dijumpai pada permulaan
persalinan lakukan evaluasi secara keseluruhan untuk mencari sebab-
sebabnya;
Pada partus yang telah berlangsung lama atau terlantar berikan regim
rehidrasi:
a. Infus dextrosa 5% atau larutan garam fisiologis 1 liter dalam 1 jam
pertama.
b. Bila his yang menyebabkan rasa sakit yang berlebihan berikan injeksi
petidin 50 mg.
c. Berikan antibiotik secukupnya bila ketuban sudah lama pecah.
1) His hipotonik
Adalah his yang sifatnya lebih lama lebih singkat dan lebih jarang
dibandingkan dengan his yang normal. Inersia uteri dibagi 2 keadaan
primer dan sekunder.
Pada fase laten diagnosis akan lebih sulit tetapi bila sebelumnya telah
ada kontraksi (his) yang kuat dan lama diagnosis ini akan lebih mudah
ditegakan.
Penanganan inersia uteri: periksa keadaan serviks, prtesentasi dan
kondisi janin, penurunan bagian terbawah janin dan keadaan panggul
kemudian buat tindakan dan rencana; berikan oksitosin drips 5-10 satuan
dalam Dextrosa 5% (12 tetes/menit) kemudian naikan setiap 10-15 menit
sampai 40-50 tetes/menit; bila his tidak kuat oksitosin drips di stop kemudian
berikan obat penenag: valium 10 mg; bila disertai dengan disproporsi
sepalofelvis kemudian tindakan SC; his kuat menyebabkan inersia uteri
sekunder dengan KU ibu lemah dan partus telah berlangsung 24 jam primi
dan 18 jam multi. Lakukan SC.
2) His hipertonik
Adalah his yang terlampau kuat dan terlalu sering sehingga tidak ada
relaksasi lahir, penanganannya: berikan obat seperti morpin, luminal, dsb.
Kemudian janin tidak lahir dalam waktu dekat (4-6 jam); bila ada tanda-
tanda obstruksi lakukan SC; bila partus presipitatus tidak banyak yang dapat
dilakuakn karena lahir tiba-tiba dan cepat.
3) His yang tidak terkoordinasi
Adalah sifat his yang berubah-ubah tidak ada koordinasi dan sinkronasi
antara kontraksi dan bagian-bagiannya. Jadi kontraksi tidak efisien dalam
mengadakan pembukaan.
Penanganannya: berikan (sedativa dan anlgetik) seperti morpin, petidin
dan valium; apabila persalinan sudah berlangsung lama dan berlarut-larut
lakukan EK, forsep/SC

4) Distosia karena panggul sempit


a. Distosia karena kelainan kesempitan pintu atas panggul (PAP) gambar
1) Definisi
PAP dianggap sempit kalau conjugata vera kurang dari 10cm,atau
diameter transversa kurang dari 12cm.Distosia karena kelainan jalan lahir
dapat disebabkan adanya kelainan pada jaringan keras/tulang panggul, atau
kelainan pada jaringan lunak panggul. Jalan lahir merupakan komponen
yang sangat penting dalam proses persalinan yang terdiri dari jalan lahir
lunak. Proses persalinan merupakan proses mekanis yang melibatkan tiga
faktor, yaitu jalan lahir, kekuatan yang mendorong, dan akhirnya janin yang
didorong dalam satu mekanis tertentu dan terpadu.

2) Etiologi
Sebab yang dapat menimbulkan kelainan panggul dapat dibagi sebagai
berikut:kelainan karena gangguan pertumbahan,penyakit tulang panggul
atau sendi-sendinya,kelainan tulang belakang,kelainan anggota bawah.

3) Prognosis
Bahaya pada ibu : partus lama yang sering disertai pecahnya ketuban
pada permukaan kecil, dapat menimbulkan dehidrasi serta asidosis dan
infeksi intepartum; dengan his yang kuat sedang kemajuan janin dalam jalan
lahir tertahan dapat timbul regangan segmen bawah uterus dan pembentukan
lingkaran retrkai patologi keadaan ini dekenal dengan ruptur uteri; dengan
persalinan tidak maju karena dengan disporporsi sepalopelvik, jalan lahir
pada suatu tempat mengalami tekanan yang lama antara kepala janin dan
tulang panggul, hal ini menimbulkan gangguan sirkulasi dengan akibat
terjadinya iskemi dan kemudian nekrisis pada tempat tersebut.
Bahaya pada janin: partus lama dapat meningkatkan kematian perinatal,
ditambah dengan infeksi intrapartum; prolapsus funikuli, apabila terjadi
mengandung bahaya yang sangatyang sangat besar bagi janin dan
memerlukan kelahirannya dengan segera apabila janin masih hidup; dengan
adanya disporporsi sefalopelvik kepala janin dapat melewati rintangan pada
panggul dengan mengadakan molage, molage dapat dialami kepala janin
tanpa akibat yang jelek sampai batas-batas tertentu akan tetapi apabila batas-
batas dilampaui, terjadi sobekan pada tentorium sereblli dan perdarahan
intrakanial; selanjutnya tekanan oleh promontorium atau kadang-kadang oleh
simfisis pada panggul picak menyebabkan perlukaan pada jaringan di atas
tulang kepala janin malah dapat menimbulkan praktur pada tulang peritalis.
4) Penanganan
Seksio cesaria dapat dilakuakn secara efektif dan primer, yakni sebelum
persalinan mulai atau pada awal persalinan, dan secara sekunder, yakni
sesudah persalinan berlangsung selama beberapa waktu. Seksio cesaria
efektif direncanakan lebih dahulu dan dilakukan pada kehmailan cukup bulan
karena kesempitan panggul dan cukup berat, atau karena terdapat disproporsi
sefalopelvik.

b. Distosia karena kelainan kesempitan bidang tengah pelvis


1) Definisi
Setiap penyempitan pada diameter panggul yang mengurangi
kapasitas panggul dapat menyebabkan distosia saat persalinan. Mungkin
terdapat penyempitan pintu atas panggul, pintu tengah panggul, pintu
bawah panggul atau panggul yang menyempit seluruhnya akibat
kombinasi hal-hal diatas. Bidang obstetri di panggul bagian tengah
membentang dari batas inferior simfisi pubis, melalui spina-spina
iskiadika, dan menyentuh sakrum dekat pertemuan antara vertebrata ke
empat dan ke lima.
Rata-rata ukuran diameter pintu tengah panggul adalah sebagai berikut:
diameter transversal (interspinarum), diameter anteroposterior, diameter
sagitalis posterior, jumlah diameter transversal dan diameter sagitalis
posterior 13,5 cm atau kurang (normal 10,5 cm + 5 cm = 15,5 cm),
diameter antara spina kurang 9 cm.
2) Prognosis
Kesempitan bidang tengah panggul pada diameter
panggul yang mengurangi kapasitas panggul dapat
menyebabkan distosia saat persalinan. Terapi : ekstraktor
vakum, sectio caesaria.

Sumber : Febrinurse.blogspot.com
3) Etiologi
Penyakit tulang seperti rachitis, penyakit yang menyerang salah satu kaki,
tumor pada tulang panggul, dan trauma akibat kecelakaan pada tulang
panggul; cara untuk mengatasi kesulitan persalinan akibat kelainan
panggul ini adalh: persalinan percobaan. Faktor risiko: kelainan panggul,
ukuran kepala bayi. Untuk menegakkan diagnosis maka dilakukan
pemeriksaan panggul dengan pemeriksaan secara klinis dan pemeriksaan
radiologi/rontgen.
c. Kesempitan pintu bawah panggul (gambar)
1) Definisi
Kesempitan bawah panggul adalah jika diameter transversa dan
diameter sagitalis posterior kurang dari 15 cm, maka sudut arkus pubis
menegcil pula (<800) sehingga timbul kemacetan pada kelahiran janin
ukuran biasa.
Kesempitan pintu bawah panggul terdiri dari dua segitiga dengan jarak
antara tuberum sebagai dasar bersamaan ukuran-ukuran yang penting
ialah: diameter transversa (diameter antar tuberum) 11 cm, diameter antara
posterior dari pinggir bawah simfisis ke ujung os sacrum 11,5 cm,
diameter sagitalis posterior dari pertengahan diameter antar tuberum ke
ujung os sacrum 7,5 cm.
2) Etiologi
Etiologi dari kesempitan pintu bawah panggul adalah berasal dari
distosia karena jalan lahir dapat disebabkan adanya kelainan pada jaringan
keras/tulang panggul, atau kelainan pada jaringan lunak panggul. Distosia
karena kelahiran panggul/bagian keras.
Kelainan panggul digolongkan: perubahan bentuk karena penyakit
pada tulang-tulang panggul dan atau sendi panggul; perubahan bentuk
karena kelainan pertumbuhan intrauterine; perubahan bentuk karena
penyakit tulang panggul; perubahan bentuk karena penyakit kaki.
Perbedaan CPD dan kesempitan PBP: di mana yang dimaksud CPD
adanya ketidaksesuaian antara kepala dan panggul yang diakibatkan karena
(a) diameter anteroposterior panggul di bawah ukuran normal, (b)
abnormalitas panggul sebagai akibat dari infeksi tulang panggul (rakhitis)
dan kecelakaan, (c) fase aktif yang memanjang dari keadaan normal
menandakan adanya CPD, (d) pemeriksaan pelvimetri klinis.
Pemeriksaan panggul luar: dengan mengetahui apakah ukurannya kurang
dari normal, dengan menggunakan jangkar panggul.
Ukuran yang terpenting adalah: disatansia spinarum yakni jarak antara
spina iliaca anterior superior kiri dan kanan ;distansia cristarum yaitu jarak
yang terjauh antara crista iliaca kanan dan kiri; conjugata eksterna
(Boudeloque) adalah jarak antara pinggir atas simfisis dan ujung prosesus
spinosus ruas tulang lumbal; ukuran lingkar panggul yaitu dari pinggir atas
simfisis ke pertengahan antara spina iliaca anterior superior dan trochanter
mayor sepihak dan kembali melalui tempat-tempat yang sama dipihak yang
lain.
3) Pemeriksaan rontgenologis
Ukuran-ukuran panggul dapat juga diukur dengan sinar X dari foto,
dapat kita tentukan ukuran-ukuran C.V; CO = apakah kurang dari normal;
CT; serta imbang kepala panggul. Keuntungan dapat mengambil ukuran-
ukuran yang tidak dapat ditenteukan secara klinis.
Komplikasi pada ibu : persalinan akan berlangsung lama; sering dijumpai
ketuban pecah dini; karena kepala tidak mau turun dan ketuban sudah pecah
dini; karena kepala tidak mau turun dan ketuban sudah pecah sering terjadi
adanya tali pusat menumbung; Moulage kepal berlangsung lama; partus yang
lama akan menyebabkan peregangan SBR dan bila berlarut-larut dapat
menyebabkan ruptura uteri.
Komplikasi pada janin: infeksi intrapartal, kematian janin intrapartal
(KIIP), prolaps funikuli, perdarahan intrakranial, caput sucsedenum, dan sefalo-
hematoma yang besar, robekan pada fentorium serebri dan perdarahan otak
karena molage yang lama dan hebat.
4) Penatalaksanaan
Kesempitana pintu bawah panggul jarang memaksa kita melakukan sectio
caesaria biasanya dapat diselesaikan dengan forcepe atau dengan episiotomy
yang cukup luas.
Forcep adalah peralatan dalam praktik obstetrik yang ditemukan oleh
keluarga Chamberion di Eropa pada abad ke-18, forcep dapat diklasifikasikan
menjadi tiga yaitu forcep klasik, forcep rotasional dan forcep yang dirancang
untuk membantu kelahiran sungsang.
Episiotomi adalah insisi bedah yang dibuat di perinium untuk memudahkan
proses kelahiran. Episisotomi masih dilakukan pada > 50% persalinan
pervaginam, dan paling sering terjadi pada wanita nulipara. Tujuan episiotomi
diperkenalkan untuk mengurangi komplikasi trauma dasar panggul pada saat
kelahiran, yang mencakup perdarahan, infeksi, prolaps genital, dan
inkontinensia.

4. Distosia karena Kelainan Alat Kandungan dan Jalan Lahir


d. Distosia karena kelainan vulva
1) Definisi
Distosia vulva adalah persalinan yang sulit disebabkan karena atresia
vulvae (tertutupnya vulva), ada yang bawaan ada juga yang diperoleh misalnya
karena radang atau trauma.
2) Etiologi
Edema vulva dijumpai pada preeklampsia dan gangguan gizi atau
malnutrisi atau pada persalinan yang lama atau persalinan terlantar. Wanita
hamil sering mengeluh melebarnya pembuluh darah di tungkai, vagina, vulva
dan wasir serta menghilang setelah anak lahir. Hal ini karena reaksi sistem vena
terutama dinding pembuluh darah seperti oto-otot di tempat lain melemah akibat
pengaruh hormone steroid.
Stenosis vulva dijumpai sebagai akibat perlukaan atau infeksi dengan parut-
parut yang kaku atau dapat mengecilkan vulva (stenosis). Dengan episiotomy
persalinan akan berjalan lancar. Peradangan vulva sering bersamaan dengan
peradangan vagina dan dapat terjadi akibat infeksi spesifik seperti sifilis,
gonorea, trichomoniasis, kandidasis dan amebiasis dan infeksi tidak spesifik
seperti eksema, diabetes mellitus, bhartolinitis, abses dan kista bartolini.
Tumor vulva dapat berupa abses bhartolini atau kista atau suatu
kondilomata, karena tidak terlalu besar tidak akan menghalangi persalinan.

e. Distosia karena kelainan vagina


1) Definisi
Distosia vagina adalah kelambatan atau
kesulitan dalam jalannya persalinan yang
dikarenakan adanya kelainan pada vagina yang
menghalangi lancarnya persalinan.

Sumber : www.mediscan.co.uk
Distosia dapat disebabkan karena kelainan his (his hipotonik dan his
hipertonik), karena kelainan besar anak,bentuk anak (hidrocefalus, kembar siam,
prolaps tali pusat), letak anak (letak sungsang, letak melintang), serta karena
kelainan jalan lahir.

S
2) Etiologi
Atresia vulva dalam bentuk atresia himenalis yang menyebabkan
hematokolpos, hematometra dan atresia vagina dapat menghalangi konsepsi.
Kelainan vagina yang cukup sering dijumpai dalam kehamilan dan persalinan
adalah septum vagina terutama vertika longitudinal.
Septum yang lengkap sangat jarang menyebabkan distosia karena separuh
vagina yang harus dilewati oelh janin biasanya cukup melebar sewaktu kepala
lahir.m akan tetapi septum yang tidak lengkap kadang kadang menghambat
turunnya kepala.
Struktur vagina yang kongenital biasanya tidak menghalangi turunnya
kepala, akan tetapi yang disebabkan oleh perut akibat perlukaan dapat
menyebabkan distosia.
Stenosis vagina kongenital jarang terdapat, lebih sering ditemukan septum
vagina yang memisahkan vagina secara lengkap atau tidak lengkap dalam
bagian kanan dan kiri, septum lengkap biasanya tidak menimbulkan distosia
karena bagian vagina yang satu umumnya cukup besar, baik untuk koitus
maupun untuk lahirnya janin.
Septum tidak lengkap kadang-kadang menahan turunnya kepala janin pada
persalinan dan harus dipotong dahulu. Stenosis dapat terjadi karena parut-parut
akibat pelukaan atau radang, pada stenosis vagina yang tetap paku dalam
kehamilan dan merupakan halangan untuk lahirnya janin, perlu
dipertimbangkan seksio sesaria.
Tumor vagina dapat merupakan rintangan bagi lahirnya janin pervaginam,
adanya tumor vagina bisa perlu menyebabkan persalinan pervaginam dianggap
mengandung terlampau banyak risiko tergantung dari jenis dan besarnya tumor,
perlu dipertimbnagkan apakah persalinan dapat berlangsung pervaginam atau
harus diselesaikan dengan seksio sesaria.
Kelainan selaput dara dan vagina selaput dara yang kaku dan tebal,
penanganannya : dilakukan eksisi selaput dara (hymen). Septa vagina dimana
adanya sekat sagital di vagina dapat ditemukan di bagian atas vagina. Tiak
jarang hal ini ditemukan dengan kelainan pada uterus, oleh karena ada gangguan
dalam fusi atau sekat sagital di vagina dapat ditemukan di bagian atas vagina.
Tidak jarang hal ini ditemukan dengan kelainan dengan kelainan pada uterus,
oleh karena ada gangguan dalam fusi atau kanalisasi kedua duktus mulleri.
Pada umumnya kelainan ini tidak menimbulkan keluhan pada yang
bersangkutan dan baru ditemukan pada pemeriksaan ginekologik. Darah haid
juga keluar secara normal, dispareuni dapat timbul, meskipun biasanya septum
itu tidak dapat mengganggu koitus.
Yang juga dianggap sebagai kelainan adalah vagina yang hanya terbentuk
sebagian (agenesis partial), vagina memiliki batas antara bagian atas dan bawah
(septum transversal) atau kiri dan kanan (septum longitudinal) dan selaput dara
tidak memiliki lubang (himen inferforata). Begitu juga bila labia atau bibir
vagina terlalu lebar atau malah mengalami perlekatan satu sama lain.
Kelainan-kelainan itu umumnya terjadi secara bawaan akibat gangguan saat
pembentukan dan pertumbuhan vagina. Bisa juga didapat akibat infeksi, semisal
keputihan menahun yang tidak ditangani secara tuntas. Bisa juga karena trauma
akibat persalinan di antaranya penonjolan dinding vagina bagian depan
(sistokel), penonjolan dinding bagian belakang (rektokel), pelebaran saluran
vagina maupun pelebaran mulut vagina (introitus vagina) karena adanya ruptura
perinei alias perobekan perineum.
Bukan tidak mungkin pula akibat terjadinya fistula atau ketidaknormalan
antara vagina dengan saluran cerna maupun antara vagina dengan saluran kemih
bawah (vesiko vagina fistula) yang emmbuat air kemih atau malah feses
mencemari vagina. Normalnya, antara vagina dan lubang anus setidaknya
berjarak 0,5 cm sampai 2 cm.
Kelainan bawaan ini jarang dijumpai, septum vagina dapat dalam bentuk
septum yang longitudinal atau vertikal. Septum longitudinal dapat terjadi
swepanjang vagina sehingga dapat menghalangi perjalanan persalinan. Dalam
keadaan demikian tindakan persalinan dengan operasi merupakan pilihan utama.
Septum vagina dapat pula terjadi parsial yang tidak mengalami jalannya
persalinan dan pada saatnya septum tersebut dapat digunting sehingga
persalinan berjalan normal. Septum vaginal yang vertikal dapat menghalangi
penurunan kepala dan kesulitan menilai pembukaan, bila kepala sudah turun
mencapai hodge III septum vertikal dapat digunting sehingga persalinan
berlangsung aman.
Septum vagian tidak jarang hal ini ditemukan dengan kelainan pada uterus,
oleh karena ada gangguan dalam fusi atau kanalisasi kedua duktus mulleri
.
3) Penatalaksanaan
Cara yang efektif untuk tindakan persalinan septum tersebut adalah robekan
spontan atau disayat dan diikat. Tindakan ini dilakuakn pula bila ada dispareuni.
Sikap bidan dalam menghadapi kelainan ini, adalah menegakkan kemungkinan
septum vagina, vertikal atau longitudinal pada waktu melakukan pemeriksaan
dalam dan selanjutnya merujuk penderita untuk mendapat pertolongan
persalinan sebgaimana mestinya.

f. Distosia karena adanya kista vagina


1) Definisi
Kista adalah tumor jinak di organ reproduksi perempuan yang paling sering
ditemui. Bentuknya kistik, berisi cairan
kental, dan ada pula yang berbentuk anggur.
Kista juga ada yang berisi udara, cairan,
nanah, ataupun bahan-bahan lainnya.

Sumber : kistavagina.com
Kista termasuk tumor jinak yang terbungkus selaput semacam jaringan.
Kumpulan sel-sel tumor itu terpisah dengan jaringan normal di sekitarnya dan
tidak dapat menyebar ke bagian tubuh lain. Itulah sebabnya tumor jinak relatif
mudah diangkat dengan jalan pembedahan, dan tidak membahayakan kesehatan
penderitanya.
Berdasarkan tingkat keganasannya, kista terbagi dua, yaitu non-neopalstik
dan neoplastik. Kista non-neoplastik sifatnya jinak dan biasanya akan
mengempis sendiri setelah 2 hingga 3 bulan. Sementara kista neoplastik
umumnya harus dioperasi, namun hal itu pun tergantung pada ukuran dan
sifatnya.
Selain pada ovarium kista juga dapat tumbuh di vagina dan di daerah vulva
(bagian luar alat kelamin perempuan). Kidta yang tumbuh di daerah vagina,
antara lain inklusi, duktus gartner, endometriosis, dan adenosis. Sedangkan kista
yang tumbuh di daerah vulva, antara lain pada kelenjar bartholini, kelenjar
sebasea serta inklusi epidermal.
2) Faktor yang menyebabkan gejala kista meliputi
Gaya hidup tidak sehat diantaranya: konsumsi makanan yang tinggi lemak
dan kurang serat, zat tambahan pada makanan, kurang olahraga, merokok dan
konsumsi alkohol, terpapar dengan polusi dan agen infeksius, sering stress.
g. Distosia karena kelainan uterus/serviks(gambar)
1) Definisi
Distosia serviks uteri adalah terhalangnya kemajuan persalinan disebabkan
kelainan serviks uteri. Walaupun his normal dan baik, kadang-kadang
pembukaan serviks jadi macet karena ada kelainan yang menyebabkan serviks
tidak mau membuka.
2) Etiologi
Penyebab distosia serviks uteri adalah adanya kelainan pada letak rahim
diantaranya: perut gantung (abdomen pendulum), hyperanteflexio, retroflexio
uteri, prolapsus uteri, mioma uterus, kanker rahim.
3) Klasifikasi
Ada 4 jenis kelainan pada serviks uteri:
- Serviks kaku yakni suatu keadaan di mana seluruh serviks kaku. Keadaan ini
sering dijumpai pada primigravida tua, atau karena adanya parut-parut bekas
luka atau bekas infeksi atau pada karsinoma serviks.
- Kejang atau kaku serviks dibagi 2, dikatakan primer: mungkin disebabkan
oleh rasa takut atau pada primigravida tua atau sebab psikis. Sekunder: oleh
karena luka-luka dan infeksi yang sembuh dan meninggalkan parut.
- Serviks gantung (hanging cervix) adalah suatu keadaan di mana ostium uteri
ekstermem dapat terbuka lebar, sedangkan ostium uteri internum tidak mau
membuka. Serviks akan menggantung seperti corong.
- Serviks Konglumer (conglumeratio cervix) suatu keadaan di mana ostium
uteri internum dapat terbuka sampai lengkap sedangkan ostium uteri
eksternum tidak mau membuka. Keadaan ini sering kita jumpai pada wanita
dengan prolaps uteri yang menjadi hamil atau dengan serviks dan portio yang
panjang (elongatio seervicisat portionis). Dalam hal ini serviks dapat
menjadi tipis, namun ostium uteri eksternum tidak membuka atau hanya
membuka 5 cm.
- Edema serviks, bila dijumpai edema yang hebat dari serviks disertai
hematoma dan nekrosisi ini merupakan tanda danya obstruksi. Terutama
karena kesempitan panggul, serviks terjepit antara kepala dan jalan lahir
sehingga terjadi gangguan sirkulais darah dan cairan yang menimbulkan
edema serviks.
4) Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan dengan beberapa kali moment opname
pemeriksaan dalam yaitu his baik tetapi pembukaan serviks tidak bertambah dan
pemeriksaan dilakuakn 2-3 kali antara 1-2 jam.
5) Penanganan
Pada kondisi serviks yang kaku setelah ditegakkan diagnosa memang
memang serviks kaku dan setelah pemberian obat-obatan seperti valium dan
pethidin tidak merubah sifat kekakuan tindakan kita adalah melakukan caesar.
Jika adanya serviks gantung bila dalam observasi keadaan tetap begitu dan tidak
ada kemajuan pembukaan ostium uteri internum, maka pertolongan yang tepat
adalah caesar.
6) Kondisi serviks Konglumer tergantung kepada keadaan turunnya kepala janin:
- Ostium uteri eksternum dicoba melebarkan pembukaannya secara digital dan
memakai dilatator.
- Ostium uteri eksternum dilebarkan dengan sayatan menurut Durhssen
(Durhssen incision) sepeti di bawah ini. Sayatan masing-masing sebesar 11/2
– 2 cm dengan demikian pembukaan menjadi lengkap dan partus dapat
dipimpin atau diselesaikan dengan ekstraksi vakum atau forsep.
- Bila hal-hal di atas tidak berhasil atau tidak mungkin sebaiknya dilakukan
section caesare.
h. Distosia karena kelainan edema serviks(gambar)
Bila syarat-syarta untuk ekstraksi vakum atau forsep tidak dipenuhi penderita maka
ditolong dengan section caesarea
i. Ruptur uterus (gambar)
1) Definisi
Ruptur uterus jarang sekali terjadi. Penyebab paling sering adalah pembedahan
sebelumnya pada fundus atau korpus uteri, pengangkatan miomata intrauterus
sebelumnya yang menginvasi miometrium, penggunaan induksi oksitosin atau
augmentasi persalinan yang tidak bijaksana, terutama untuk wanita yang paritasnya
tinggi, penutupan lapisan tunggal pada insisi segmen bawah uterus ketika tindakan
SC sebelumnya.
Tanda dan gejala ruptur uterus mungkin tampak atau tidak tampak.
Walaupun demikian, perubahan pola DJJ, terutama deselerasi lambat yang
terjadi kembali. Deselerasi lambat mencerminkan insufiensi uteroplasenta dan
dapat disebabkan hal selain ruptur uterus. Namun, pola deselerasi lambat DJJ
akibat ruptur uterustidak berkurang dengan perubahan posisi, penghentian
pemberian setiap oksitosik, dan pemberian oksigen.
Pada ruptur uterus yang tanda dan gejalanya tampak, wanita mengalami
nyeri tajam yang menusuk pada bagianbawah abdomennya, seperti kontraksi
berat. Wanita merasa ada sesuatu yang robek dan lepas di dalam dirinya.
Kontraksi uterus biasanya tidak dihentikan. Perdarahan per vaginam dapat
terlihat seperti bercak darah atau hemoragi. Temuan palpasi abdomen berubah
dari temuan sebelumnya, yaitu :
 Bagian presentasi sekarang dapat digerakkan di atas PAP.
 Terdapat perubahan posisi atau lokasi janin secara dramatis dalam abdomen
ibu disertai perubahan pada stasiun terkait.
 Bagian janin lebih mudah dipalpasi dibandingkan sebelumnya.
 Gerakan janin dapat menjadi lebih kasar dan kemudian berkurang sampai
tidak ada gerakan janin sama sekali.
 Uterus bulat, keras (kontraksi) dapat teraba disamping janin (janin teraba di
luar uterus).
Wanita dapat menunjukkan tanda dan gejala syok, peningkatan denyut nadi,
pucat, dingin, kulit lembab,khawatir, merasa akan mati, lapar udara (sesak
nafas), gelisah, dan gangguan penglihatan.
2) Penanganan
Bidan harus segera memberitahu dokter dan mulai melakukan tindakan:
a. Mulai pemberian dua jalur cairan intravena dengan intraketer no.16. satu
untuk larutan elektrolit (mis, RL) dan jalur lain untuk transfusi darah.
b. Berikan oksigen.
j. Persalinan dengan Distensi Uterus(gambar)
Persalinan dengan distensi uterus memerlukan penanganan yang sangat hati-
hati guna menurunkan angka morbiditas ataupun mortalitas ibu dan janin.
Pembesaran uterus yang lebih besar pada saat kehamilan bisa disebabkan oleh
unsur uterus, air ketuban, plasenta, ataupun janinnya sendiri. Pembesaara uterus
paling sering disebabkan oleh tumor jinak uterus. Faktor ketuban yang meregang
uterus lebih dari biasanya disebabkan oleh polihidramnion. Plasenta yang tebal dari
biasanya sering ditemukan pada kehamilan dengan diabetes melitus.
Kalau kehamilan ganda tidak menjadi masalah kalau letak janin memenuhi
untuk dilahirkan per vaginam. Seiring dengan teregangnya uterus cukup sering
terjadi persalinan sebelum waktunya. Regangan uterus akibat kehamilan ganda
selain ukuran janin,maka jumlah air ketuban dan plasenta pun ikut berperan.
Hal penting yang harus diperhatikan saat menolong persalinan dengan
regangan uterus sebagai berikut :
1. Mengantisipasi terjadinya pelepasan plasenta sebelum waktunya.
2. Prolaps tali pusat saat ketuban pecah.
3. Kelainan letak janin seperti lintang atau miring.
4. Gawat janin.
5. Retensio plasenta.
6. Perdarahan pascapersalinan.
Adanya mioma uteri intramural yang besar serta berlokasi di daerah korpus
bawah akan mengganggu timbulnya kontraksi uterus yang berkoordinasi,
teratur,dan progresif. Selama proses persalinan, tindakan pengamatan cukup
dilakukan dengan persiapan darah dan cairan infus guna berjaga-jaga. Bahkan
sesudah persalinan, kemungkinan untuk terjadi perdarahan perlu diantisipasi.
Persalinan dengan plasenta yang besar biasanya menimbulkan penyulit pada kala
III dimana setelah bayi lahir, plasenta yang besar biasanya menimbulkan penyulit
pada kala III dimana setelah bayi lahir, plasenta sulit dilahirkan.
Persalinan dengan ketuban yang banyak perlu diperhatikan saat ketuban pecah.
Jangan sampai saat ketuban pecah, air ketuban mendadak keluar dalam jumlah
banyak karena ditakutkan tali pusat menumbung keluar. Selain itu, saat ketuban
pecah, bagian terbawah janin perlu diperhatikan , jangan sampai terjadi kelainan
presentasi. Keluarnya ketuban dengan tiba-tiba ditakutkan akan terjadi pelepasan
plasenta sebelum waktunya.
Pada kasus makrosomia perlu mendapat perhatian. Uterus yang membesar
sudah teregang terus pada waktu usia kehamilan menjelang persalinan. Kelelahan
miometrium perlu diperhitungkan.terlebih pada kasus multipara dan kala 1 yang
lama, kemungkinan terjadinya perdarahan harus diantisipasi. Kelainan hidosefalus
dengan lingkar kepala melebihi 35 cm dapat menyebabkan regangan SBR yang
berlebihan sehingga terjadi ruptur uteri.
 Penanganan
Tahap penangan terhadap penyulit seperti pembedahan perabdominal darurat harus
segera dilakukan bila diperlukan. Standar penanganan perdarahan pascapersalinan harus
sudah hafal dibenak petugas yang terlibat. Menilik kemungkinan terjadi perdarahan
pascapersalinan pada kasus distensi uterus, maka penatalaksanaan kala III sangat
diperlukan. Penanganan kala III diawalai dengan dengan menyingkirkan ada tidaknya
hipotonia/ atonia uteri. Kalau tidak ada, robekan jalan lahir harus di eksplorasi. Kalau ada
sisa kotiledon yang tertinggal, lakukan kuretase. Tahap penanganan tersebut, harus
sejalan dengan penanganan syok, kalau memang ada tanda-tanda syok hipovolemik.

5. Distosia karena Kelainan Janin


A. Bayi besar
1) Definisi
Bayi besar atau istilah latin dikenal makrosomia, atau Giant baby (bayi
raksasa), adalah bayi dengan berat badan diatas 4 kg. Kejadian sangat bervariasi
antara 8 sampai 10 persen total kelahiran.
Kasus bayi besar dengan BB dibawah 5 kg masih sering terjadi, akan tetapi,
bayi yang lahir dengan berat
ekstrim antara 6 kg masih
sangat jarang terjadi. Untuk
Aceh pernah lahir bayi
dengan 6 kg yang lahir 17
Oktober tahun lalu, dan BB
besar yang tercatat di
museum rekor Muri 6,4 kg,
sedangkan yang terberat di
dunia bayi asal Siberia
dengan 7,7 kg. Sumber : www.sehataja.com
2) Etiologi
Penyebab bayi mengalami makrosomia adalah :
a) Diabetes mellitus (DM)
DM mengakibatkan ibu melahirkan bayi besar (makrosomi) dengan
berat lahir mencapai 4000-5000 gram atau lebih. Namun bisa juga
sebaliknya, bayi lahir dengan berat lahir rendah, yakni di bawah 2000-2500
gram. Dampak yang lebih parah yaitu mungkin janin meninggal dalam
kandungan karena mengalami keracunan.
Kehamilan merupakan sesuatu keadaan diabetogenik dengan resistensi
insulin yang meningkat dan ambilan glukosa perifer yang menurun akibat
hiormon plasenta yang memiliki aktifitas anti-insulin. Dengan cara ini janin
dapat menerima pasokan glukosa secara kontinu. Insidennya 3-5% dari
seluruh kehamilan.
Melalui difusi terfasilitasi dalam membran plasenta, dimana sirkulasi
janin juga ikut terjadi komposisi sumber energi abnormal (menyebabkan
kemungkinan terjadi berbagai komplikasi). Selain itu terjadi juga
hiperinsulinemia sehingga janin juga mengalami gangguan metabolik
(hipoglikemia, hipomagnesemia, hipokalsemia, hiperbilirubinemia, dan
sebagainya.
Seorang ibu dengan riwayat sakit gula, bila hamil harus melakukan
pemeriksaan laboratorium tentang kadar gula darah untuk mencegah
terjadinya komplikasi kematian bayi didalam rahim.
Pemeriksaan kadar gula darah sebaiknya dilakukan saat usia kehamilan
24-28 minggu, bila kadar gula darah tidak normal, nilai kadar gula darah
harus diturunkan dalam batas aman atau normal dengan menggunakan
suntikan hormon insulin, karena penggunaan obat penurun gula darah tablet
tidak dibenarkan, sebab bisa membahayakan bayi.
b) Keturunan (orang tuanya besar)
Seorang ibu hamil gemuk berisiko 4 sampai 12 kali untuk melahirkan
bayi besar. Bayi besar dapat disebabkan berat badan ibu yang berlebihan baik
sebelum hamil (obesitas) mauapun kenaikannya selama hamil lebih dari 15
kg.
Dalam penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Kebidanan dan
Kandungan tersebut, peneliti melibatkan partisipan lebih dari 40.000 wanita
Amerika dan bayinya. Setelah dianalisis, diperoleh data bahwa satu dari lima
wanita mengalami peningkatan bobot berlebih semasa hamil, yang
membuatnya berisisko dua kali lipat melahirkan bayi besar.
c) Multiparitas dengan riwayat makrosomia sebelumnya
Bila bumil punya riwayat melahirkan bayi makrosomia sebelumnya,
maka ia berisiko 5-10 kali lebih tinggi untuk kembali melahirkan bayi
makrosomia dibandingkan wanita yang belum pernah melahirkan bayi
makrosomia karena umumnya berat seorang bayi yang akan lahir berikutnya
bertambah sekitar 80 sampai 120 g. Bayi besar (bayi dengan berat badan
lahir lebih dari 4000 gram) dan sering terjadi pada ibu yang telah sering
melahirkan (multipara) dibandingkan dengan kehamilan pertama.
3) Penanganan
a) Periksa kehamilan di pos bidan desa atau puskesmas baik itu dilakukan oleh
bidan maupun dokter umum akan menjadi tempat skrining awal, ada
tidaknya masalah kehamilan seorang ibu.
b) Dengan periksa hamil teratur dapat ditekan risiko komplikasi bagi ibu yang
sering terjadi akibat bayi besar.
c) Segera dirujuk ke rumah sakit untuk konfirmasi pemeriksaan sonografi/sesar
pada saat menjelang persalinan
d) Pemeriksaan kadar gula darah
4) Pencegahan
Pencegahan dilakukan denagn melakukan penimbangan berat badan
ibu secara teratur, pengukuran tinggi fundus uteri dan pola makan yang benar,
ANC teratur, USG; pemeriksaan besar bayi dengan USG akan memberikan
ketetapan samapi 90 persen, sedangkan dengan pemeriksaan fisik saja misal
dengan berat badan ibu dan tinggi fundus uteri memberikan ketetapan samapi
50 persen.
5) Persalinan dengan makrosomia
Menentukan besarnya janin secara klinis memang sulit. Kadang-
kadang baru diketahui adanya janin besar setelah tidak adanya kemajuan
persalinan pada panggul normal dan his yang kuat. Periksa dalam panggul
normal, janin dengan BB 4000-5000 gram pada umumnya tidak mengalami
kesulitan dalam melahirkan, tapi mengingat ibu hamil dengan makrosomia
mempunyai risiko besar pada saat persalinan maka lebih baik melahirkan
dengan operasi sesar.
B. Hydrochepalus
1) Definisi
Hidrosephalus adalah
keadaan dimana terjadi
penimbunan cairan serebrospinalis dalam pertikel otak, sehingga kepala menjadi
besar serta terjadi pelebaran sutura-sutura dan ubun-ubun. Cairan yang
tertimbun dalam pentrikel biasanya antara 500-1500 ml, akan tetapi kadang-
kadang dapat mencapai 5 liter. Hidrosefalus sering kali disertai kelainan bawaan
lain seperti misalnya spinabipida.

Sumber : lampost.com

Epidemiologi
Insiden hidrosefalus antara 0,2-4 setiap 1000 kelahiran. Insiden hidrosefalus
kongenital adalah 0,5-1,8 pada tiap 1000 kelahiran dan 11%-43% disebabkan
dan stenosis aquaductus serebri. Hidrosefalus dapat terjadi pada semua umur.
2) Etiologi
Penyebab hidrosephalus terjadi bila terdapat: penyumbatan aliran cairan
cerebro spinalis (CSS) pada salah satu tempat antara tempat pembentukan CSS
dalam sistem ventrikel dan tempat absorbsi dalam ruang subarackhnoid. Akibat
penyumbatan, terjadi dilatasi ruangan CSS diatasnya. Hidrosefalus disebabkan
oleh satu dari tiga faktor: (1) produksi CSS yang berlebihan, (2) obstruksi jalur
CSS, dan (3) gangguan absorpsi CSS.
3) Patofisiologi dan patogenesis
CSS diproduksi ± 0,35 ml/menit atau 500 ml/hari dengan demikian CSS
diperbaharui setiap 8 jam pada anak dengan hidrosefalus, produksi CSS ternyata
berkurang ± 0,3/menit.
CSS diebntuk oleh : plexus choroideus parenchim otak arachknoid. CSS
mengalir dari tempat pembentukannya ke tempat absorbsinya. CSS mengalir
dari ventrikel lateralis melalui sepasang foramen monro ke dalam ventrikel III,
dari sini melalui aquaductus sylvius menuju ventrikel IV.
4) Jumlah cairan serebrospinalis
Dalam otak manusia orang dewasa: jumlah norfma CSS = 90-150 ml, anak
umur 8-10 tahun : 10-140 ml, bayi : 40-60 ml, neonatus : 20-30 ml, prematur
kecil : 10-20 ml.
5) Diagnosis
Hidrosepalus dapat ditegakkan dengan: CT Scan dan ultrasonografi (USG).
Diagnosa banding: makrosefali, tumor otak, penilaian foto rontgen tidak boleh
berdasarkan besarnya kepala saja, tetapi juga pada: bentuk kepala pada
hidrosefalus lebih bundar dan pada tengkorak normal agak lonjong;
perbandingan antara bagian tengkorak dan bagian muka pada hidrosefalus yang
relatif lebih kecil; tebalnya tulang tengkorak yang hanya memberikan bayangan
yang tipis pada hidrosefalus.
Harus diingat bahwa kemungkinan hidrosefalus jika: kepala tetap tinggi
walaupun panggul baik dan his kuat dalam persalinan; kepala tetap dapat
digoyangkan dan sutura sangat lebar pada perabaan akhir kehamilan primipara;
tampak ada spina bifida pada tubuh yang sudah lahir pada letak sungsang; pada
pemeriksaan USG tampak gambaran ventrikumegali atau perubahan sudut
pleksus koroidalis dan lain-lain.
6) Manifestasi klinik
Tanda awal dan gejala hidrosefalus tergantung pada dimulainya dan derajat
ketidakseimbangan kapasitas produksi dan reabsorbsi CSS. Hidrosefalus terjadi
pada masa neonatus, hidrosefalus terjadi pada masa anak-anak.
Pada ibu hamil dengan janin hidrosefalus akan terjadi bahaya pada ibu,
apabila tidak segera dilakukan pertolongan, bahaya ruptur uteri akan
mengancam penderita. Ruptur uteri pada hidrosefalus dapat terjadi sebelum
pembukaan serviks menjadi lengkap, karena tengkorak yang besar ikut
meregangkan segmen bawah uterus. Hidrosefalus yang diterapi/dioperasi akan
menimbulkan gejala sisa, gangguan neurologis serta kecerdasan.
7) Penanganan
Persalinan pada wanita denagn janin hidrosefalus perlu dilakukan
pengawasan yang seksama, karena bahaya terjadinya ruptur uteri mengancam.
Pada hidrosefalus yang nyata, kepala janin harus dikecilkan pada permulaan
persalinan. Pada pembukaan 3 cm cairan cerebrospinalis dikeluarkan dengan
fungsi pada kepala menggunakan jarum spinal, setelah kepala mengecil, bahaya
regangan segmen bawah uterus hilang, sehingga tidak terjadi kesulitan
penurunan kepala ke dalam rongga panggul. Bila janin dalam letak sungsang,
pengeluaran cairan dari kepala yang tidak dapat lahir dilakukan dengan fungsi
atau perforasi melalui foramen oksipitalis magnum atau sutura temporalis.
Dianjurkan pula untuk mencoba melakukan ventrikulosentesis trans abdominal
dengan jarum spinal, kandung kencing harus dikosongkan terlebih dahulu.
8) Akibat hidrosefalus
Tanpa tindakan operasi, penimbunan cairan akan mengakibatkan penekanan
pada jaringan otak normal dan selanjutnya akan mengganggu berbagai fungsi
otak, termasuk fungsi-fungsi vital yang dapat mempengaruhi jantung dan paru.
Hidrocephalus dan normal dengan Scan MRI.

A. Anencephalus
1) Definisi
Anensefalus adalah suatu keadaan dimana sebagian besar tulang tengkorak
dan otak tidak terbentuk. Anensefalus merupakan suatu
kelainan tabung saraf yang terjadi pada awal perkembangan
janin yang menyebabkan kerusakan pada jaringan
pembentukan otak.
Anensefalus terjadi jika tabung saraf sebelah atas gagal
menutup, tetapi penyebabnya yang pasti tidak diketahui.
Sumber : Pulsk.com
2) Etiologi
Penyebab anencephalus antara lain : faktor mekanik, faktor infeksi, faktor
obat, faktor umu ibu, faktor hormonal. Faktor radiasi, faktor gizi, faktor lainnya.
Faktor risiko terjadinya anensefalus adalah : faktor ibu usia resti, riwayat
anensefalus pada kehamilan sebelumnya, hamil dengan kadar asam folat rendah,
fenilketonuria pada ibu yang tidak terkontrol, kekurangan gizi (malnutrisi),
mengkonsumsi kafein, tar, alkohol, dll selama masa kehamilan.
3) Gejala anencephaly
Gejala janin yang dikandung mengalami anencephalus jika ibu hamil
mengalami polihidramnion (cairan ketuban di dalam rahim terlalu banyak); bayi
tidak memiliki tulang tengkorak tidak memiliki otak (hemisfer serebri dan
serebelum); terdapat kelainan gambaran (rancu) tengkorak kepala pada
pemeriksaan USG.
Untuk menegakkan diagnosa selain dari tanda dan gejala, maka
pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah: kadar asam lemak dalam serum ibu
hamil; amniosentesis (untuk mengetahui adanya peningkatan kadar alfa-
fetoprotein) kadar alfa-fetoprotein meningkat (menunjukkan adanya kelainan
tabung saraf) kadar estriol pada air kemih ibu; kadar estriol dalam urine;
lakukan USG.
Diagnosis anencephalus dapat dilakukan dalam dua tahap yaitu: diagnosis
antenatal dan diagnosis postnatal. Diagnosis antenatal umunya bila ibu hamil
dengan faktor risiko kelainan kongenital. Diagnosis prenatal bila kelainan
kongenital sudah positif ditemukan.
4) Prognosis
Prognosis untuk kehamilan dengan anencephalus sangat sedikit. Jika bayi
lahir hidup, maka biasanya akan mati dalam beberapa jam atau hari setelah
lahir.
Perawatan dan penanganan janin/bayi baru lahir dengan anensephalus:
perawatan pada bayi anensephalus akan ditujukan untuk memberikan dukungan
emosional kepada keluarga; karena, tidak ada pengobatan untuk enesephalus,
kurangnya pembentukan otak, sekitar 75% dapat menyebabkan bayi lahir mati
dan sisanya, 25% bayi mati dalam beberapa jam, hari atau minggu setelah
kelahiran. Risiko terjadinya anensephalus bisa dikurangi dengan meningkatkan
asupan asam folat minimal 3 bulan sebelum hamil dan selama kehamilan bulan
pertama.
B. Kembar siam(gambar)
1) Sejarah ditemukannya kembar siam
Istilah kembar siam berawal dari pasangan kembar siam terkenal Chang dan
Eng Bunker (1811-1847) yang lahir di Siam (sekarang Thailand). Kasus kembar
siam tertua yang tercatat adalah Mary dan Eliza Chulkhurst dari Inggris yang
lahir di tahun 1100-an. Di kandang kerbau hospital di Singapura (1971).
Mengidentifikasi 7 kasus kembar siam diantara sekitar lebih dari 400.000
kelahiran (1 dalam 60.000).
Siam adalah keadaan anak kembar yang kembar organ tubuh keduanya
bersatu. Hal ini terjadi apabila zigot dari bayi kembar identik gagal terpisah
secara sempurna. Karena terjadinya pemisahan yang lambat, maka pemisah
anak tidak sempurna dan tidak terjadi kembar siam.
Kembar identik yang disebut juga sebagai kembar Monozyangotik, yaitu
kembar yang berasal dari satu telur. Mempunyai gen yang sama, jenis kelamin
yang sama, dan muka yang serupa. Proses terjadinya kembar identik yaitu
karena pada masa pembuahan sebuah sel telur matang di buahi oleh sperma
yang membentuk zyangote, kemudian zyangote ini akan membelah dan
berkembang menjadi dua individu

2) Perbedaan kembar satu telur dan kembar dua telur


Kehamilan kembar satu telur: selalu sama jenis kelaminnya rupanya mirip
(seperti bayangan); golongan darah sama; cap tangan dan kaki sama; plasenta 1,
chorion 1, amnion 2, atau plasenta 1, chorion 1, amnion 1.
Kehamilan kembar dua telur: jenis kelamin tidak sama; persamaan sepertia
adik dan kakak; golongan darah tidak sama; cap tangan dan kaki tidak sama;
plasenta 2, chorion 2, amnion 2.
3) Prognosis
Jika pembelahan zyangote oini terjadi saat awal pembuahan (1-3 hari
setelah pembuahan) maka setiap embrio biasanya akan memiliki kantong
ketuban yang berbeda, dan satu plasena.
Tetapi bila pembelahan terjadi setelah 14 hari maka kemungkinan kembar
akan terjadi join/menempel bersama pada bagian dari tubuhnya atau
pembelahan yang tidak sempurna yang disebut sebagai kembar siam lebih
tinggi. Jadi kembar siam terjadi pada kembar monozyangot.
4) Epidemiologi
Kasus kembar siam memang lebih sering ditemukan di negara-negara
berkembang daripada di negara maju. Menurut sejumlah kesimpulan medis, satu
kasus kembar siam terjadi untuk setiap 200 ribu kelahiran. Kebanyakan dari
mereka (75%) berjenis kelamin perempuan. Jadi, jika Indonesia berpenduduk
200 juta, ada peluang 1000 kasus kembar siam. Dari semua kelahiran kembar
siam, diyakini tak lebih dari 12 pasangan kembar siam yang hidup di dunia.
5) Klasifikasi kembar siam
a) Kedua tubuh bersatu di bagian dada
b) Kedua tubuh bersatu di bagian bawah dada
c) Bersatu di bagian belakang (contoh, bokong)
d) Dua kepala, satu tubuh dengan dua kaki
e) Kembar siam anterior yang bersatu di bagian bawah tubuh
f) Kembar siam yang bersatu pada bagian bawah tubuh dengan jantung yang
seringkali dibagi
g) Tubuh bersatu di kepala dan thorax
6) Penyulit dalam kehamilan dan persalinan
Pada kehamilan kembar hydramnion sering ditemukan Hydramnion
mengakibatkan tingginya kematian bayi karena hydramnion mengakibatkan
partus prematurus. Anemia juga lebih banyak ditemukan pada kehamilan
kembar, karena kebutuhan terbagi menjadi dua anak dan ibu; toxsemia
gravidarum lebih sering terjadi pada kehamilan kembar, dibandingkan dengan
kehamilan biasanya atau hamil yang tunggal; partus prematurus selalu
mengancam kehamilan kembar karena regangan rahim yang berlebihan.
C. Gawat janin
1) Definisi
Gawat janin adalah kekhawatiran obstetris tentang keadaan janin, yang
kemudian berakhir dengan seksio sesaria atau persalinan buatan lainnya.
Gawat janin terjadi bila janin tidak menerima O2 cukup, sehingga
mengalami hipoksia.
Gawat janin terjadi bila janin tidak menerima cukup oksigen, sehingga
mnegalami hipoksia. Situasi ini dapat terjadi kronik (dalam jangka waktu lama),
atau akut selama persalinan menunjukkan hipoksia (kurang oksigen) pada janin.
Tanpa oksigen yang adekuat. Pengendalian frekuensi denyut jantung janin
secara fisiologis terdiri atas beragam mekanisme yang saling berkaitan dan
bergantung pada aliran darah serta oksigenasi. Selain itu, aktivitas mekanisme-
mekanisme pengendali ini dipengaruhi oleh keadaan oksigenasi sebelumnya,
seperti tampak pada insufisiensi plasenta kronik.
2) Etiologi
Etiologi gawat janin yaitu terdiri dari berbagai hal baik dari faktor ibu maupun
faktor janin sehingga memicu terjadinya gawat janin, berikut etiologinya:
a) Insufisiensi uteroplasenter akut (kurangnya aliran darah uterus-plasenta
dalam waktu singkat) berupa: aktivitas uterus yang berlebihan, hipertonik
uterus, dapat dihubungkan dengan pemberian oksitosin; hipotensi ibu,
kompresi vena kava, posisi terlentang, perdarahan ibu; solusio plasenta;
plasenta previa.
b) Insufisiensi uteroplasenter kronik (kurangnya aliran darah uterus-palsenta
dalam waktu lama) berupa penyakit hipertensi: pada hipertensi khususnya
preeklamsi dan eklamsi terjadi vasopasme yang merupakan akibat dari
kegagalan invasi trofoblas kle dalam lapisan otot pembuluh darah sehingga
pembuluh darah menglami kerusakan dan menyebabkan alirah darah ke
plasenta menjadi terhambat dan menimbulkan hipoksia pada janin yang akan
menjadikan gawat janin.
c) Diabetes mellitus : pada ibu yang menderita DM maka kemungkinan pada
bayi akan mengalami hipoglikemia karena pada ibu yang diabetes mengalami
toleransi glukosa terganggu, dan sering kali disertai dengan hipoksia.
d) Isoimunisasi Rh, postmaturitas atau dismaturitas, kompresi (penekanan) tali
pusat.

3) Diagnosis
Data subjektif dan objektif berupa gerakan janin yang menurun atau
berlebihan menandakan gawat janin. Tetapi biasanya tidak ada gejala-gejala
yang subyektif. Seringkali indikator gawat janin yang pertama adalah perubahan
dalam pola denyut jantung janin (bradikardia, takikardia, tidak adanya
variabilitas atau deselerasi lanjut). Hipotensi pada ibu, suhu tubuh yang
meningkat atau kontraksi uterus yang hipertonik atau ketiganya secara
keseluruhan dapat menyebabkan asfiksia (kegagalan nafas adekuat pada menit-
menit pertama kelahiran) janin. Pola frekuensi denyut jantung janin selama
persalinan sebelum pelahiran diklasifikasikan sebagai normal, stress, atau
gawat.

 Frekuensi denyut jantung janin


Dikatakan denyut jantung janin (DJJ) normal bila dapat melambat sewaktu
his, dan segera kembali normal setelah relaksasi; DJJ lambat (kurang dari 100
per menit) saat tidak ada his, menunjukkan adanya gawat janin; DJJ cepat (lebih
dari 180 kali per menit) yang disebut takikardia ibu bisa karena ibu demam, efek
obat, hipertensi atau amnionitis. Jika denyut jantung ibu normal, denyut jantung
janin yang cepat sebaiknya dianggap sebagai tanda gawat janin
Pemeriksaan tambahan: pemantauan denyut jantung janin dapat dilakukan
dengan pencatatan denyut jantung janin yang sehera dan kontinu dalam
hubungan dengan kontraksi uterus memberikan suatu penilaian kesehatan janin
yang sangat membantu selama persalinan. Akselerasi periodik pada gerakan
janin merupakan ketenangan dari reaktifitas janin yang normal. Pemeriksaan
tambahan yang dapay=t dilakukan berupa kardiografi (pemeriksaan DJJ dan
perubahan-perubahannya) dan kardiotokografi (pemeriksaan DJJ dan
perubahan-perubahannya yang terjadi akibat aktivitas uterus dan/atau gerakan
janin selama masa kehamilan dan persalinan).
Kardiotokografi, bermanfaat untuk : mendeteksi hipoksia janin secara lebih
obyektif berupa kausa dan derajat; menentukan aktivitas janin; menentukan
aktivitas uterus; membantu perencanaan penanganan kehamilan lebvih rasional;
berguna untuk pendidikan; membantu menurunkan morbiditas dan mortalitas
perinatal. Gambaran DJJ yang terlihat pada pemeriksaan KTG (Kardiotokografi)
berupa denyut jantung dasar dan perubahan periodik serta episodik DJJ.
Denyut jantung dasar (baseline fetal heart rate) meliputiu frekuensi dasar
DJJ dan variabilitas DJJ. Perubahan periodik dan epiusodik DJJ akibat kontraksi
uterus akibat gerakan janin atau refleks tali pusat.
Cara – cara untuk menentukan frekuensi dasar DJJ berdasarkan KTG
(kardiotokografi) yaitu frekuensi rerata yang terlihat selama periode 10 menit
pemeriksaan; variabilitas DJJ tidak berlebihan (tidak > 25 dpm); tidak terdapat
perubahan periodik atau episodik DJJ; tidak terdapat perubahan frekuensi yang
> 25 dpm.
 Indikasi-indikasi kemungkinan gawat janin
Terdapat beberapa hal yang dapat mengindikasikan kemungkinan terjadinya
gawat janin yaitu:
a) Bradikardi : yaitu denyut jantung janin kurang dari 120 denyut per menit
b) Takikardi : akselerasi denyut jantung janin yang memanjang (>160) dapat
dihubungkan dengan demam pada ibu yang sekunder terhadap infeksi
intrauterine;
c) Variabilitas denyut jantung dasar yang menurun, yang berarti depresi
sistem saraf otonom janin oleh medikasi ibu (atropine, skopolamin,
diazepam, fenobarbital, magnesium dan analgesic narkotik);
d) Pola deselerasi : deselerasi lanjut menunjukkan hipoksia janin yang
disebabkan oleh insufisiensi uteroplasenter. Deselerasi yang bervariasai
tidak berhubungan dengan kontraksi uterus adalah lebih sering dan
muncul untuk menunjukkan kompresi sementara waktu saja dari
pembuluh darah umbilicus. Peringatan tentang peningkatan hipoksia janin
adalah deselerasi lanjut, penurunan atau tidak adanya variabilitsa,
bradikardia yang menetap dan pada gelombang sinus.
e) Ph darah janin
Perdarahan yang dapat menyebabkan turunnya tekanan darah yang
secara otomatis menyebabkan turunnya PO2 yang akan menyebabkan
terjadi perubahan metabolisme sehingga pembakaran glukosa tidak
sempurna dan emninggalkan hasil akhir asam laktat dan asam piruvat.
Timbunan asam laktat dan piruvat tidak dapat dikeluarkan melalui
plasenta sehingga menimbulkan timbunan yang menyebabkan turunnya
PH darah janin, penurunan PH darah janin sampai batas 7,20-7,15 sudah
sanagt membahayakan kehidupan janin dalam rahim, di mana ph normal
janin dalah 7,25.
f) Mekonium dalam cairan amnion
Keluarnya mekonium kemungkinan merupakan peringatan adanya
asfiksia janin. Para ahli kebidanan megatakan bahwa deteksi mekonium
selama persalinan menimbulkan masalah dalam memprediksi asfiksia atau
gawat janin. Dalam sebuah penelitian di Parkland Hospital mekonium
terbukti sebagai bahaya risiko rendah karena angka kematian perinatal
yang disebabkan oleh mekonium adalah 1 kematian per 1000 kelahiran
hidup
Penjelasan patologis menyatakan bahwa janin mengeluarkan
mekonium sebagai respons terhadap hipoksia, dengan demikian
mekonium merupakan tanda gangguan janin.Mekonium yang kental
merupakan tanda pengeluaran mekonium pada cairan amnion yang
berkurang dan merupakan indikasi perlunya persalinan lebih cepat dan
penanganan mekonium pada saluran nafas atau neonatus untuk mencegah
aspirasi mekonium.
4) Cara-cara pemantauan
 Kasus risiko rendah –auskultasi teratur DJJ selama persalinan :
a. Setiap 15 menit selama kala I
b. Setiap setelah his pada kala II
c. Hitung selama satu menit bila his telah selesai
 Kasus risiko tinggi – pergunakan pemantauan DJJ elektronik secara
berkesinambungan
a. Hendaknya sarana untuk pemeriksaan pH darah janin disediakan.
5) Penatalaksanaan dan pendidikan pasien
Prinsip-prinsip penatalaksanaan dalam kasus gawat janin terdiri atas prinsip
umum dan prinsip khusus, berikut penjelasannya secara umum: pasien
dibaringkan miring kiri; berikan oksigen; nilai apakah persalinan dapat
berlangsung normal atau kelahiran segera merupakan indikasi, rencana
kelahiran (pervaginam atau perabdominam) didasarkan pada faktor-faktor
etiologi, kondisi janin, riwayat obstetrik pasien dan jalannya persalinan.
Langkah-langkah khusus:
a) Posisi ibu diubah dari posisi terlentang ke posisi lateral sebagai usaha untuk
membebaskan kompresi aortokaval dan memperbaiki aliran darah balik,
curah jantung dan aliran darah utero-plasenter. Perubahan dalam posisi juga
dapat membebaskan kompresi tali pusat.
b) Oksigen diberikan melalui masker muka 6 liter per menit sebagai usaha
untuk meningkatkan pergantian oksigen fetomaternal. Oksitosin dihentikan,
karena kontraksi uterus akan mengganggu curahan darah ke ruang intervili.
c) Hipotensi dikoreksi dengan infus intravena dekstrosa 5% dalam larutan
ringer laktat. Transfusi darah dapat diindikasikan pada syok hemoragik.
d) Pemeriksaan pervaginam menyingkirkan prolaps tali pusat dan menentukan
perjalanan persalinan. Elevasi kepala janin secara lembut dapat merupakan
suatu prosedur yang bermanfaat.
e) Pengisapan mekonium dari jalan napas bayi baru lahir mengurangi risiko
aspirasi mekonium. Segera setelah kepala bayi lahir, hidung, dan mulut
dibersihkan dari mekonium dengan kateter pengisap. Segera setelah
kelahiran, pita suara harus dilihat dengan laringoskopi langsung sebagai
usaha untuk menyingkirkan mekonium dengan pipa endotrakeal.
f) Jika denyut jantung janin diketahui tidak normal dengan atau tanpa
kontaminasi mekonium pada cairan amnion, lakukan hal sebagai berikut: jika
sebab dari ibu diketahui (seperti demam, obat-obatan) : mulailah penanganan
yang sesuai; jika sebab dari ibu tidak diketahui dan denyut jantung janin tetap
abnormal sepanjang palings edikit 3 kontraksi.
g) Lakukan pemeriksaan dalam untuk mencari penyebab gawat janin: jika
terdapat perdarahan dengan nyeri yang hilang timbul atau menetap pikirkan
solusio plasenta; jika terdapat tanda-tanda infeksi (demam, sekret vagina
berbau tajam) berikan antibiotika untuk amnionitis; jika tali pusat terletak di
bawah janin atau dalam vagina lakukan penanganan prolaps tali pusat; jika
denyut jantung janin tetap abnormal atau jika terdapat tanda-tanda lain gawat
janin (mekonium kental pada cairan amnion).
Rencanakan persalinan: jiak serviks telah berdilatasi dan kepala janin
tidak lebih dari 1/5 di atas simfisis pubis atau bagian teratas tulang kepala
janin pada station 0 lakukan peesalinan dengan ekstraksi vakum atau forceps;
jika serviks tidak berdilatasi penuh dan kepala janin berada lebih dari 1/5 di
atas simfisis pubis atau bagian teratas tulang kepala janin berada di atas 0
lakukan dengan secsio caesaria.

B. Penyulit pada Ibu Masa Persalinan Kala III dan Kala IV


Prinsip Dasar
Syok adalah suatu kondisi akut yang mengancam kehidupan pasien
yang membutuhkan penanganan segera dan intensif untuk menyelamatkan
jiwa pasien. Dalam kondisi syok, volume sirkulasi darah relatif berkurang
secara akut sehingga terjadi penurunan perfusi jaringan. Kondisi ini dapat
disebabkan oleh karena kehilangan darah akibat perdarahan atau akibat
dilatasi pembuluh darah.
Pada kasus gawat darurat syok biasanya disebabkan oleh :
 Perdarahan (syok hipovolemik)
 Sepsis (syok septik)\
 Rasa nyeri (syok neurogenik)
A. Perdarahan (Syok hipovolemik) gmbr
Syok hipovolemik terjadi karena volume cairan darah intravaskuler
berkurang dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu yang singkat.
Penyebab utama adalah perdarahan akut > 20% volume darah total.
Tanda-tanda syok :
Syok Awal Syok Lanjut
Pasien sadar tampak ketakutan Pasien tampak kebingungan atau
tidak sadar
Nadi cepat, 110x/menit atau lebih Nadi sangat cepat dan lemah
Pernapasan cepat, 30x/menit atau lebih Pernapasan cepat dan dangkal
Pucat, kulit basah Pucat
Tekanan darah turun, sistolik < 90 mmHg Tekanan darah sangat rendah
Paru-paru bersih Gagal jantung, edema paru-paru
Hematokrit 26% atau lebih Hematokrit < 26%
Hemoglobin 8 g% atau lebih Hemoglobin < 8 g%
Produksi urin < 30 cc/jam Produksi urin tidak ada

Penanganan Awal Syok Perdarahan


 Tindakan umum : dapat dilakukan pertolongan pertama dan harus dilakukan sebelum
atau selama pengiriman ke tempat rujukan.
a. Periksalah tanda-tanda vital dan yakini bahwa jalan napas tidak tersumbat.
b. Jangan memberikan cairan atau makanan ke dalam mulut karena pasien sewaktu-
waktu dapat muntah dan cairan muntahan dapat terhisap masuk ke dalam paru-paru
(aspirasi).
c. Putarlah kepala pasien dan badannya ke samping dengan demikian bila ia muntah,
tidak sampai terjadi aspirasi.
d. Jagalah kondisi badannya agar tetap hangat karena kondisi hipotermia berbahaya,
dan dapat memperberat syok.
e. Naikkanlah kaki pasien untuk membantu aliran darah balik ke jantung.
f. Jika posisi berbaring menyebabkan pasien merasa sesak napas, kemungkinan hal
ini karena gagal jantung dan edema paru-paru. Pada kasus demikian turunkanlah
tungkainya dan naikkanlah posisi kepala untuk mengurangi cairan dalam paru-
paru.
 Pemberian oksigen
Pastikan bahwa jalan napas bebas. Oksigen diberikan dalam kecepatan 6-8 liter/menit.
 Pemberian cairan intravena
Pada syok hipovolemik pada umumnya dibutuhkan 1 sampai 3 liter cairan
infus untuk menstabilkan kondisi pasien. Setelah kehilangan cairan dikoreksi,
pemberian cairan infus dipertahankan dalam kecepatan 1 liter per 6-8 jam. Pemberian
transfusi darah
Pada kasus perdarahan yang disertai syok, transfusi darah sangat dibutuhkan
untuk menyelamatkan jiwa penderita. Walaupun demikian transfusi darah bukan
tanpa risiko, bahkan dapat berakibat pada komplikasi yang berbahaya dan fatal seperti
penyebaran organisme infeksius (misalnya HIV dan virus hepatitis) sehingga harus
dilakukan dengan sangat hati-hati.
Penanganan syok perdarahan selanjutnya
Dalam waktu 20-30 menit setelah pemberian cairan, kondisi pasien dinilai
apakah stabil. Tanda-tanda bahwa kondisi pasien sudah stabil atau ada perbaikan
antara lain sebagai berikut :
 Tekanan darah mulai naik, sistolik mencapai 100 mmHg
 Denyut jantung stabil
 Kondisi mental pasien membaik (ekspresi ketakutan berkurang)
 Produksi urin bertambah (paling sedikit 100ml/4jam atau 30ml/jam)
Apabila langkah untuk menstabilkan pasien telah dilakukan dan berhasil,
penanganan terhadap penyebab syok harus dilakukan. Jika penyakit yang menjadi
dasar penyebab syok tidak dapat ditangani di tempat iut,psien harus dirujuk ke
fasilitas yang lebih mampu menangani. Jika kondisi pasien tidak stabil, pasien harus
segera dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas yang lebih baik.

1. Perdarahan kala III


Perdarahan kala 3 terjadi akibat pelepasan plasenta sebagian. Tindakan yang
perlu dilakukan untuk mngelola perdarahan kal 3 segera yaitu :
 Masase seluruh bagian uterus
 Minta asisten untuk segera memasang cairan IV paten dengan jarum 16 dan RL
jika pasien belum terpasang jalur IV, memantau tanda dan gejala syok dan
mulai pantau tekanan darah dan nadi pasien, mengatur kepala pasien agar dalam
posisi mendatar di atas tempat tidur.
 Jika plasenta belum lahir, secara manual angkat plasenta. Pasang kateter terlebih
dahulu apabila kandung kemih penuh.
 Apabila plasenta belum lahir dan masih terjadi perdarahan, berikan tambahan
oksitosin pada cairan IV sambil melakukan rujukan.
2. Inversio Uteri
a. Definisi
Inversio uteri ialah keadaan di mana bagian atas uterus (fundus uteri)
masuk ke kavum uteri, sehingga fundus uteri sebelah dalam menonjol ke dalam
kavum uteri, bahkan ke dalam vagina dengan dinding endometrium sebelah luar.
Keadaan inversi ini pertama dikenal oleh Hippocrates (460-770 SM).
Angka kejadiannya 1:5.000 sampai 1:20.000 persalinan. Walaupun jarang terjadi,
komplikasi yang disebabkannya cukup serius bila tidak segera diketahui dan
ditatalaksana dengan baik. Biasanya tidak
sulit untuk mendiagnosis, yaitu adanya
gejala syok berat, perdarahan, tidak
terabanya fundus uteri di bawah pusar, dan
terabanya massa yang lembek di vagina.
Pada inversi yang menahun, massa yang
diraba terasa lebih keras.
Inversio dapat terjadi pada masa nifas
Sumber : reproduksiumj.blogspot.com
atau di luar nifas. Di luar masa nifas
biasanya parsial, dan sering dihubungkan
dengan adanya tumor uterus. Sementara itu,
inversi yang terjadi waktu melahirkan dan
pascapersalinan dapat terjadi akut.
Jenis inversio uteri :
Sumber : www.keywordpicture.com
 Inversio lokal : fundus uteri menonjol sedikit ke dalam kavum uteri.
 Inversio parsial : bila tonjolan fundus uteri hanya dalam kavum uteri.
 Inversio inkomplit : penonjolan sampai ke kanalis servikalis
 Inversi komplit : tonjolan sudah sampai oustium uteri ekstrenum
 Inversi total : tonjolan sudah mencapai vagina atau keluar vagina
Inversi uteri biasanya terjadi pada saat kala III persalinan atau sesudahnya.
Tekanan yang dilakukan pada fundus uteri ketika uterus tidak berkontraksi baik,
tarikan pada tali pusat, hipotonia uteri dapat merupakan awal masuknya fundus
uteri ke dalam kavum uteri, dan dengan adanya kontraksi yang berturut-turut,
mendorong fundus yang terbalik ke bawah. Inversio uteri dapat juga terjadi di
luar persalinan, misalnya pada myoma geburt yang sedang ditarik untuk
ulahirkan.
Inversio uteri yang terjadi akut pada akhitr persalinan menimbulkan gejala
mengkhawatirkan, misalnya syok, nyeri keras, dan perdarahan. Keadaan inversi
ini sering akibat dari plasenta akreta. Pada inversi uteri yang kronik gejala-
gejalanya dapat berupa metrorgia, nyeri punggung, anemia, dan banyak
keputihan.
b. Penanganan
Sebagai tindakan pencegahan, dalam memimpin persalinan harus selalu
waspada akan kemungkinan terjadinya inversi, misalnya pada partus
presipitatus, plasenta manual, tarikan pada tali pusat, memijat-mijat pada uterus
yang lembek. Pada inversi uteri yang sudah uterjadi, sambil mengatasi syok,
dilakukan reposisi manual dalam narkose. Seluruh tangan kanan dimasukkan ke
dalam vagina, melingkari tumor dalam vagina dan telapak tangan mendorong
perlahan-lahan tumor ke atas melalui serviks yang masih terbuka. Setelah
reposisi berhasil, tangan dipertahankan sampai terasa uterus berkontraksi dan
kalau perlu dipasang tampon ke dalam kavum uteri dan vagina. Tampon dilepas
setelah 24 jam dan sebelumnya sudah diberi uterotonika. Reposisi ini umunya
tidak sulit. Pada inversio uteri menahun prosedur di atas tidak dapat dilakukan
karena lingkaran kontraksi pada ostium uteri eksternum sudah mengecil dan
menghalangi lewatnya korpus uteri yang terbaik. Dalam hal ini perlu dilakukan
operasi setelah infeksi diatasi. Tindakan operatif untuk inversio uteri antara lain
dapay dilakukan dengan operasi menurut Spinell, menurut Haultin, dan
Huntington. Dapat juga dilakukan histerektomi.

3. Emboli Air Ketuban.


 Definisi
Merupakan salah satu penyebab syok dalam kebidanan yang bukan disebabkan
karena perdarahan, penyebabnya adalah masuknya air ketuban melalui vena
endoserviks atau sinus vena yang terbuka di daerah tempat pelekatan plasenta,
masuknya air ketuban yang mengandung rambut lanugo, verniks kaseosa dan
mekonium ke dalam peredaran darah ibu akan menyumbat pembuluh-pembuluh
kapiler dalam paru-paru ibu, selain itu zat-zat asing dari janin tersebut juga
menimbulkan reaksi anapilaksis yang keras dan gangguan pembekuan darah.
 Faktor penyebab
Adanya his yang kuat dan terutama terus menerus, misalnya pada pemberian
uteretonika yang berlebihan dimana ketuban sudah pecah biasanya pada akhir
kala I atau segera setelah anak lahir.
 Gejala yang ditimbulkan.
Penderita tampak gelisah, mula, muntah, dan disertai takikardi dan takipnea.
Selanjutnya timbul disepnea dan sianosis, tekanan darah menurun, nadi cepat
dan lemah, kesadaran menurun disertai nistagmus, dan kadang-kadang timbul
kejang klonik. Bila ada penyumbatan kapiler paru-paru akan menyebabkan
edema paru yang luas dan akhirnya mengakibatkan kegagalan payah jantung
kanan. Komplikasi lain : terjadinya gangguan pembekuan darah.
 Penanganan
Perawatan pertama ditujukan untuk mengatasi edema paru-paru dengan
pemberian zat asam tekanan positif, digitalis morphin 0,01 – 0,02 SC atau
atropis 0,001-0,003 IV perlahan-lahan, dan papaverin 0,004 IV perlahan-lahan,
pasang torniket pada lengan dan tungkai untuk meringankan sisi kanan jantung,
kembangkan antara tekanan sistolik dan diastolik, kalau perlu pasang vena kaki,
tidak boleh diberikan vasopresor.
4. Robekan Jalan Lahir
Robekan jalan lahir bersumber dari berbagai organ diantaranya vagina,
prineum, porsio, serviks, dan uterus. Ciri yang khas dari robekan jalan lahir yaitu
kontaksi uterus kuat, keras dan mengecil, perdarahan terjadi langsung setelah anak
lahir. Perdarahan ini terus menerus setelah dilakukan masase atau pemberian
uteretonika langsung mengeras tetapi perdarahan tidak berkurang. Dalam keadaan
apapun, robekan jalan lahir harus dapat diminimalkan karena tak jarang perdarahan
terjadi karena robekan dan ini menimbulkan akibat yang fatal seperti terjadinya
syok. Penanganan ruptur perinium dan robekan dinding vagina dengan cara
melakukan eksplorasi untuk mengidentifikasi lokasi laserasi dan sumber
perdarahan, lakukan irigasi pada tempat luka dan dibubuhi larutan antiseptik, jepit
dengan ujung klem sumber perdarahan kemudian ikat dengan benang yang dapat
diserap, lakukan penjahitan luka dimulai dari bagian yang paling distal dari
operator, khusus pada ruptur perinium komplit. Dilakukan penjahitan lapis demi
lapis. Berikan antibiotik profilaksis (ampisilin 2 gr dan metronidazole 1 gr per
oral).
Robekan jalan lahir selalu memberikan perdarahan dalam jumlah yang
bervariasi. Perdarahan dari jalan lahir harus dievaluasi sumber dan jumlahnya
sehingga dapat diatasi.
Alur protap penanganan awal robekan jalan lahir :

1) Robekan perinium
a. Konsep dasar
Robekan perinium terjadi hampir pada semua persalinan pertama dan tidak jarang
pada persalinan berikutnya.
b. Derajat laserasi jalan lahir adalah
Derajat I : mukosa vagina, komisura posterior, dan kulit perinium.
Derajat II : mukosa vagina, komisura posterior, kulit perinium, dan otot perinium.
Derajat III : mukosa vagina, komisura posterior, kulit perinium, otot perinium,
dan otot sfingter ani aksterna.
Derajat IV : mukosa vagina, komisura posterior, kulit perinium, otot perinium,
otot sfingter ani aksterna, dan dinding rektum anterior.
Robekan perinium yang derajat I umumnya dapat sembuh sendiri tanpa dijahit.
Tetapi, apabila kemungkinan harus dilakukan penjahitan maka harus segera
dilakukan penjahitan. Derajat II harus dijahit. Unytuk derajat III dan IV perlu
penanganan khusus, bagi bidan yang peraktik swasta perlu segara merujuk ke
tempat pelayanan kesehatan yang lebih lengkap.
2) Robekan vagina
a) Konsep dasar
Perlukaan vagina terjadi dmungkinkan akibat ekstraksi cunam, lebih-lebih apabila
kepala bayi harus diputar. Perdarahan biasanya banyak, tetapi bisa diatasi dengan
jahitan.
b) Perlukaan vagina terdiri dari :
 Kolkaporeksis adalah robekan melintang atau miring pada bagian atas vagina
hal ini terjadi apabila pada persalinan dengan disproporsi sefalopelviks terjadi
regangan segmen bawah uterus dengan serviks uteri tidak terjepit antara
kepala janin dan tulang panggul sehingga tarikan ke atas langsung ditampung
oleh vagina. Kolkaporeksis timbul apabila tindakan per vaginam dengan per
vaginam dengan memasukkan tangan penolong ke dalam uterus dibuat
kesalahan, fundus uteri tidak ditahan oleh tangan luar supaya uterus tidak baik
ke atas. Gejala-gejala yang timbiul adalah gelisah, pernafasan, dan nadi
menjadi cepat serta dirasakan nyeri terus menerus dibawah perut. Segmen
bawah uterus tegang nyeri pada perabaan dan lingkaran retraksi tinggi
mendekati pusat dan ligamenta rotunda tegang.
 Fistula akibat pembedahan vaginak makin lama makin jarang karena tindakan
vaginal sulit untuk melahirkan anak banyak diganti dengan SC. Fistula dapat
terjadi menandakan karena perlukaan pada vagina yang menembus kandung
kencing ataunrektum. Jika kandung kencing luka, air kencing keluar melalui
vagina.
c) Etiologi
Penyebab robekan vagina terdiri dari persalinan buatan atau cunam, vagina
sempit, arcus pubis sempit, lanjutan dari laserasi serviks, posisi oksipito posterior,
anak besar, kepala bayi terlalu cepat lahir, kepala bayi diputar setelah sesaat
kepala bayi lahir.
d) Tanda atau gejala robeknya vagina
Tanda dan gejala yang selalu ada, adanya perdarahan segar, darah segar dan
mengalir segera setelah bayi lahir, plasenta lahir lengkap, uterus berkontraksi.
Kadang-kadang ada pucat, lemah, menggigil.
e) Pencegahan laserasi
Kejadian laserasi akan meningkat jika bayi dilahirkan terlalu cepat dan tidak
terkendali. Gunakan manuver tangan yang tepat untuk mengendalikan kelahiran
bayi serta membantu mencegah terjadinya laserasi. Saat kepala medorong vulva
dengan diameter 5-6 cm bimbing ibu untuk meneran dan berhenti untuk
beristirahat atau bernafas dengan cepat.
3) Robekan serviks
a) Konsep dasar
Persalinan selalu mengakibatkan robekan serviks, sehingga serviks seorang
multipara berbeda dengan serviks pada orang yang belum pernah melahirkan.
Robekan serviks yang luas menimbulkan banyak perdarahan.
Robekan yang kecil-kecil selalu terjadi pada persalinan. Robekan yang perlu
mendapat perhatian adalah robekan yang terlalu dalam, yang kadang sampai ke
forniks. Robekan biasanya terdapat dipinggir samping serviks bahkan kadang-
kadang sampai ke SBR dan membuka parametrium. Robekan sperti ini biasanya
pada persalinan buatan. Robekan serviks harus dijahit jika berdarah atau lebih
besar dari 1 cm. Kadang bibir depan serviks tertekan antara kepala anak dan
sympisis, terjadi nekrosis dan lepas.
b) Etiologi
Partus presipitatus, trauma karena pemakaian alat seperti cunam, vakum
ekstraktor, melahirkan kepala janin dengan letak subgsang dengan paksa padahal
pembukaan belum lengkap, partus lama.
c) Perbaikan robekan serviks.
Perbaikan robekan pada serviks diantaranya tindakan antisepsis pada vagina dan
serviks, tidak perlu memberikan anestesi, jika robekan luas sampai ke atas berika
petidin dan diazepam secara IV, asisten menahan fundus, bibir serviks dijepit
dengan klem ovum, pindahkan secara bergantian dan pada yang terdapat robekan
tinggalkan 2 klem di antara robekan, lalu lakukan penjahitan.

d) Langkah klinik
Lakukan informed consent. Persiapan sebelum tindakan adalah :
 Pasien diberi cairan dan selang infus sudah terpasang.
 Medikamentosa : analgetika : pethidin, ketamin HCl 0,5 , tramadol, sulfas
atropine, sedative (diazepam), antibiotik, oksigen dengan regulator.
 Instrumen : cunam tampon, klem ovum, spekulum slimm, heacting set.
 Persiapan penolong.
e) Pencegahan infeksi sebelum tindakan.
f) Ekaplorasi ulangan (sebelum tindakan)
 Periksa pandang apakah ada robekan pada di nding vagina.
 Minta asisten untuk memegang spekulum.
 Jepit porsio dengan klem di kiri dan kanan.
 Lepaskan klem pertama dan pindahkan ke klem kedua.
 Lakukan bergantian.
 Pada bagian yang terdapat robekan, tinggalkan 2 klem di antara robekan.
g) Penjahitan.
 Ambil kedua klem yang menandai tempat robekan.
 Perbaiki posisi kiri dan kanan.
 Upayakan agar cakupan klem dapat mencapai garis yang pada titik paling
ujung.
 Apabila pasien merasa nyeri, suntikkan sedatif dan analgetika.
 Bila ujung robekan dapat dicapai, lanjutkan jarum pada 1 cm diatas luka dan
ikat jahitan 2 kali simpul.
 Mulai jahitan dari jahitan distal terhadap operator, tusukkan jarum pada bagian
luar, lanjutkan jahitan hingga ujung luar hingga seluruh robekan tertutup
dengan baik dan perdarahan dapat teratasi.
h) Eksplorasi ulangan (pascatindakan)
Lakukan eksplorasi ulanagn dengan menjepit porsio dengan 2 klem ovum
kemudian balikkan posisi gagang klem agar permukaan dalam portio dapat
diperiksa, pastika perdarahan adapat diatasi.
i) Perawatan pasca tindakan
 Periksa TTV
 Catat kondisi pasien
 Buat instruksi pengobatan lanjutan.
4. Perdarahan Postpartum
Adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam setelah persalinan berlangsung.
Faktor penyebab adalah grandemultipara, jarak persalinan pendek kurang dari 2
tahun, persalinan yang dilakukan dengan tindakan, pertolongan kla uri sebelum
waktunya, pertolongan persalinan oleh dukun, persalinan dengan tindakan paksa.
a. Perdarahan postpartum primer terjadi dalam 24 jam pertama. Penyebab utama
perdarahan postpartum primer adalah atonia uteri, retentio plasenta, sisa
plasenta, dan robekan jalan lahir. Terbanyak dalam 2 jam pertama.
b. Perdarahan postpartum sekunder terjadi setelah 24 jam pertama. Penyebab
utama Perdarahan postpartum sekunder adalah robekan jalan lahir dan sisa
plasenta atau membran.
Langkah penanganan :
 Pijat uterus agar berkontraksi dan keluarkan bekuan darah.
 Kaji kondisi pasien (denyut jantung, TD, warna kulit, kesadaran, kontraksi
uterus, dan perkiraan banyaknya darah yang sudah keluar.
 Berikan oksitosin.
 Siapkan donor untuk transfus.
 Kandung kemih selalu dalam kondisi kosong.
 Awasi agar uterus dapat terus berkontraksi dengan baik.
 Jika perdarahan persisten dan uterus tetap rileks, lakukan kompresi bimanual.
 Jika perdarahan persisten dan uterus tetap rileks, lakukan kompresi bimanual.
 Jika perdarahan persisten dan uterus tetap berkontraksi dengan baik, maka
lakukan pemeriksaan pada vagina dan serviks untuk menemukan laserasi yang
menyebabkan perdarahan tersebut.
 Jika ada indikasi bahwa mungkin terjadi infeksi yang diikuti dengan demam,
menggigil, lokhea yang berbau busuk, segera berikan antibiotik berspektrum
luas.
 Lakukan pencatatan yang akurat.
a. Atonia uteri gmbr
1) Definisi
Atonia uteri adalah suatu keadaan dimana uterus gagal untuk
berkontraksi dan mengecil sesudah janin keluar dari rahim. Perdarahan
postpartum secara fisiologis di kontrol oleh kontraksi serat-serat myometrium
terutama yang berada disekitar pembuluh darah yang mensuplai darah pada
tempat perlengketan plasenta. Atonia uteri terjadi ketika myometrium tidak
dapat berkontraksi. Pada perdarahan karena atonia uteri, uterus membesar
dan lembek pada palpusi. Atonia uteri juga dapat timbul karena salah
penanganan kala III persalinan, dengan memijat uterus dan mendorongnya
kebawah dalam usaha melahirkan plasenta, sedang sebenarnya bukan
terlepas dari uterus.
Atonia uteri merupakan penyebab utama perdarahan postpartum.
Disamping menyebabkan kematian, perdarahan postpartum memperbesar
kemungkinan infeksi puerperal karena daya tahan penderita berkurang.
Perdarahan yang banyak bisa menyebabkan “ Sindroma Sheehan “ sebagai
akibat nekrosis pada hipofisis pars anterior sehingga terjadi insufiensi bagian
tersebut dengan gejala : astenia, hipotensi, dengan anemia, turunnya berat
badan sampai menimbulkan kakeksia, penurunan fungsi seksual dengan
atrofi alat-alat genital, kehilangan rambut pubis dan ketiak, penurunan
metabolisme dengan hipotensi, amenorea dan kehilangan fungsi laktasi.
2) Penyebab
Beberapa hal yang dapat mencetuskan terjadinya atonia meliputi :
 Manipulasi uterus yang berlebihan
 General anestesi (pada persalinan dengan operasi )
 Uterus yang teregang berlebihan :
 Kehamilan kembar
 Fetal macrosomia ( berat janin antara 4500 – 5000 gram )
 polyhydramnion
 Kehamilan lewat waktu
 Portus lama
 Grande multipara ( fibrosis otot-otot uterus )
 Anestesi yang dalam
 Infeksi uterus ( chorioamnionitis, endomyometritis, septicemia)
 Plasenta previa
 Solutio plasenta
 Ibu dengan keadaan umum yang jelek, anemi, atau menderita penyakit
menahun
 Myomauteri yang mengganggu kontraksi rahim
 Ada riwayat dengan atonia uteri sebelumnya

3) Penanganan
a. Kenali dan tegakkan diagnosis kerja atonia uteri
b. Sementara lakukan pemasangan infus dan pemberian uterotonika, lakukan
kompresi bimanual.
c. Pastikan plasenta lahir lengkap ( bila ada indikasi sebagian plasenta masih
tertinggal, lakukan evakuasi sisa plasenta) dan tidak ada laserasi jalan
lahir.
d. Berikan transfusi darah bila diperlukan.
e. Lakukan uji beku darah untuk konfirmasi sistem pembekuan darah.
f. Bila masih terjadi perdarahan, lakukan tindakan spesifik, sebagai berikut:
o Pada fasilitas kesehatan dasar :
a. Kompresi Bimanual Eksternal ( KBE) gmbr
Menekan uterus melalui dinding abdomen dengan jalan
mendekatkan kedua belah telapak tangan yang meliputi uterus. Pantau
aliran darah yang keluar. Bila perdarahan berkurang, kompresi
diteruskan, pertahankan sampai uterus dapat kembali berkontraksi atau
dibawa ke fasilitas kesehatan rujukan. Bila belum berhasil, lakukan
kompresi bimanual internal (KBI).
b. Kompresi Bimanual Internal (KBI) gmbr
Uterus ditekan diantara telapak tangan pada dinding abdomen dan
tinju tangan dalam vagina untuk menjepit pembuluh darah didalam
miometrium ( sebagai pengganti mekanisme kontraksi). Perhatikan
perdarahan yang terjadi. Pertahankan kondisi ini bila perdarahan
berkurang atau berhenti, tunggu hingga uterus berkontraksi kembali.
Apabila perdarahan tetap terjadi, cobakan kompresi aorta abdominalis.
c. Kompresi Aorta Abdominalis gmbr
Raba arteri femoralis dengan ujung jari tangan kiri, pertahankan
posisi tersebut. Genggam tangan kanan kemudian tekankan pada
daerah umbilikus, tegak lurus dengan sumbu badan, hingga mencapai
kolumna vertebralis. Penekanan yang tepat, akan menghentikan atau
mengurangi denyut arteri femoralis. Lihat hasil kompresi dengan
memperhatikan perdarahan yang terjadi.
o Pada rumah sakit rujukan
 Ligasi arteri uterina dan ovarika
 Histerektomi
Pada saat perjalanan rujukan, dampingi ibu dan teruskan untuk
melakukan KBE atau KBI untuk memberikan tekanan langsung pada
pembuluh darah dinding uterus dan merangsang miometrium agar
berkontraksi).

b. Retensio Plasenta gmbr


Retensio Plasenta adalah terlambatnya kelahiran plasenta selama setengah
jam setelah persalinan bayi. Plasenta harus dikeluarkan karena dapat
menimbulkan bahaya perdarahan, infeksi karena sebagai benda mati, dapat
terjadi plasenta inkarserata, dapat terjadi polip plsenta dan terjadi degenerasi
ganas korio karsinoma.
a. Sikap umum bidan
1. Memperhatikan keadaan umum penderita
 Apakah anemis
 Bagaimana jumlah perdarahannya
 Keadaan umum penderita : tekanan darah, nadi dan suhu
 Keadaan fundus uteri : kontraksi dan tinggi fundus uteri
2. Mengetahui keadaan plasenta
 Apakah plsenta inkarserata
 Melakukan tes plasenta lepas : metode Kusnert, metode Klein, metode
Strassman, metode Manuaba.
3. Memasang infus dan memberikan cairan pengganti
b. Sikap khusus bidan
1. Retensio plasenta dengan perdarahan
 Langsung melakukan plasenta manual
2. Retensio plasenta tanpa perdarahan
 Setelah dapat memastikan keadaan umum penderita segera memasang
infus dan memberikan cairan
 Merujuk penderita ke pusat dengan fasilitas scukup, untuk
mendapatkan penanganan yang lebih baik
 Memberikan transfusi
 Proteksi dengan antibiotika
 Mempersiapkam plasenta manual dengan legeartis dalam keadaan
pengaruh narkosa.
c. Upaya preventif retensio plasenta oleh bidan
1. Meningkatkan penerimaan keluarga berencana, sehingga memperkecil
terjadinya retensio plasenta
2. Meningkatkan penerimaan pertolngan persalinan oleh tenaga kesehatan
yang terlatih
3. Pada waktu melakukan pertolongan persalinan kala III tidak diperkenankan
untuk melakukan masase dengan tujuan memdpercepat proses persalinan
plasenta. Masase yang tidak tepat waktu dapat mengacaukan kontraksi otot
rahim dan mengganggu pelepasan plasenta.
 Retensio Plasenta dan Plasenta Manual
Plasenta manual merupakan tindakan operasi kebidanan untuk melahirkan
retensio plasenta. Kejadian retensio plasenta berkaitan dengan:
1. Grandemultipara dengan implantasi plasenta dalam bentuk plasenta adhesiva,
plasenta akreta, plasenta inkreta dan plasenta perkreta.
2. Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan
3. Retensio plasenta tanpa perdarahan dapat diperkirakan :
 Darah penderita terlalu banyak yang hilang
 Keseimbangan baru berbentuk bekuan darah, sehingga perdarahan tidak
terjadi
 Kemungkinan implantasi plasenta terlalu dalam
4. Plasenta manual dengan segera dilakukan :
 Terdapat riwayat perdarahan postpartum berulang
 Terjadi perdarahan postpartum melebihi 400cc
 Pada pertolongan persalinan dengan narkosa
 Plsenta belum lahir setelah menunggu selama setengah jam
 Plasenta Manual gmbr
Persiapan plasenta manual :
 Peralatan sarung tangan steril
 Desinfektan untuk genitalia eksterna
Teknik :
 Sebaiknya dengan narkosa, untuk mengurangi sakit dan menghindari syok
 Tangan kiri melebarkan genitalia eksterna, tangan kanan dimasukkan secara
obstetris sampai mencapai tepi plasenta dengan menelusuri tali pusat
 Tepi plasenta dilepaskan dengan bagian ulnar tangan kanan sedangkan
tangan kiri menahan fundus uteri sehingga tidak terdorong ke atas.
 Setelah seluruh plasenta dapat dilepaskan, maka tangan dikeluarkan bersama
dengan plasenta
 Dilakukan eksplorasi untuk mencari sisa plasenta atau membrannya
 Kontraksi uterus ditimbulkan dengan memberikan uterotonika
 Perdarahan diobservasi
 Komplikasi Tindakan Plasenta Manual
Tindakan plasenta manual dapat menimbulkan komplikasi sebagai berikut :
 Terjadi perforasi uterus
 Terjadi infeksi : terdapat sisa plasenta atau membrane dan bakteria terdorong
ke dalam rongga rahim.
 Terjadi perdarahan karena atonia uteri
Untuk memperkecil komplikasi dapat dilakukan tindakan profilaksis dengan :
 Memberikan uterotonika intravena atau intramuskula
 Memasang tamponade uterovaginal
 Memberikan antibiotika
 Memasang infus dan persiapan transfusi darah
b. Syok Obstetrik
1) Konsep dasar
Beberapa keadaan yang menjadi predisposisi terjadinya syok dalam kebidanan
antara alain karena anemia, gangguan gizi, partus lama disertai dehidrasi dan
asidosis. Peristiwa-peristiwa yang dalam praktek kebidanan dapat menimbulkan
syok adalah perdarahan, infeksi berat, solusio plasenta, perlukaan dalam
persalinan, inversio uteri, dan emboli air ketuban.
2) Penanganan secara umum
Penanganan yang pertama yaitu kelancaran ventilasi harus dijamin, beri cairan
infus, dan tanggulangi penyebab syok.
3) Penanggulangan syok hemoragik
Yang penting dilakukan oleh bidan adalah mendeteksi penyebab syok. Langkah
yang harus dilakukan segera hentikan perdarahan dan mengganti kehilangan darah,
tidurkan ibu dalam posisi trendelenburg, jaga jangan sampai ibu kedinginan, jaga
jalan nafas, berikan infus dengan larutan NaCl, dekstran, plasma, dan sebagainya.
4) Penanganan syok septik
 Kelancaran ventilasi lalu berikan oksigen.
 Berikan cairan larutan garam 0,9 %, RL, dekstran.
 Beri bicarbonat natrikus untuk menghindari asisdosis metabolik.
 Beri antibiotik secara IV.
 Beri glukokortiroid, misal dexamethason 3mg/ kg BB, suntikan jika perlu
diulangi 4 jam kemudian.
c. Infeksi Akut Kasus Obstetri, Sepsis dan Syok Septik
1. Penyebab
Penyebab utama ialah bakteria gram negatif seperti Escherichia coli, Klebsiella
pneumoniae, Serratia, Enterobacter, dan Pseudomonas. Syok septik lebih sering
terjadi pada orang dengan gangguan imunitas (kekebalan tubuh) dan pada usia tua.
Sebagai akibat reaksi tubuh melawan infeksi, bakteria mati dan mengeluarkan
endotoksin.
2. Tanda-tanda infeksi akut, sepsis dan syok septik
Infeksi akut ditandai dengan adanya kalor, rubor, dolor, tumor, functio lesa. Kalor
artinya panas/demam, rubor artinya merah, dolor artinya nyeri, tumor artinya benjoan
atau pembengkakan, dan fungsio lesa artinya fungsi terganggu.
3. Penilaian infeksi akut, sepsis dan syok septik
Beberapa hal yang harus dinilai sebagai berikut :
 Tentukan kasus dalam kondisi demam atau tidak
 Tentukan kasus dalam kondisi syok atau tidak
 Cari keterangan tentang faktor predisposisi atau penyakit yang erat hubungannya,
misalnya pembedahan, cedera (trauma), atau sumber infeksi yang dapat
menyebabkan sepsis atau syok septik
 Tentukan sumber infeksi berdasarkan kriteria kalor, rubor, dolor, tumor dan functio
lesa
 Pada infeksi genitalia beberapa kondisi berikut dapat terjadi :
a. Sekret/cairan berbau busuk keluar dari vagina
b. Pus keluar dari serviks
c. Air ketuban hijau kental dapat berbau busuk atau tidak
d. Subinvolusi rahim
e. Tanda-tanda infeksi pelvis : nyeri rahim, nyeri goyang serviks, nyeri perut
bagian bawah, nyeri di adneksa

4. Penanganan awal infeksi akut, sepsis dan syok septik


 Tindakan Umum : dapat dilakukan pertolongan pertama dan harus dilakukan
sebelu atau selama pengiriman ke tempat rujukan.
a. Periksalah tanda-tanda vital dan yakini bahwa jalan napas tidak tersumbat.
b. Jangan memberikan cairan atau makanan ke dalam mulut karena pasien
sewaktu-waktu dapat muntah dan cairan muntahan dapat terhisap masuk ke
dalam paru-paru (aspirasi).
c. Putarlah kepala pasien dan badannya ke samping dengan demikian bila ia
muntah, tidak sampai terjadi aspirasi.
d. Jagalah kondisi badannya agar tetap hangat karena kondisi hipotermia
berbahaya, dan dapat memperberat syok.
e. Penderita segera diberi antibiotika
 Pemberian Oksigen
Pastikan bahwa jalan napas bebas. Oksigen tidak perlu diberikan apabila
kondisi penderita stabil dan kecil risiko mengalami syok septik. Apabila kondisi
penderita menjadi tidak stabil dan oksigen tersedia, oksigen diberikan dalam
kecepatan 6-8 liter/menit.
 Pemberian Cairan Intravena
Cairan Intravena diberikan apabila kondisi pasien tidak stabil. Banyaknya
cairan yang diberikan harus diperhitungkan dengan hati-hati, tidak sebebas seperti
pada syok perdarahan oleh karena tidak terdapat kehilangan cairan dalam jumlah
yang banyak.
 Pemberian Antibiotik
Antibiotik harus diberikan apabila terdapat infeksi, misalnya pada kasus
sepsis, syok septik, cedera intraabdominal dan perforasi uterus. Apabila tidak ada
seperti pada syok perdarahan maka tidak perlu diberikan. Apabila di duga atau
sedang berlangsung sangat penting untuk memberikan antibiotika dini.
Pada kasus syok, pemberian antibiotika IV lebih diutamakan, sebab lebih
cepat menyebarkan obat ke jaringan yang terkena infeksi. Apabila pemberian IV
tidak memungkinkan, obat dapat diberikan IM.
 Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan Darah
- Apabila penderita tampak anemik, diperiksa hemoglobin dan hematokrit
sekaligus golongan darah dan cross-match
- Pemeriksaan darah lengkap selain menunjukkan ada/tidaknya anemia juga
menunjukkan kemungkinan leukositosis atau leukopenia, neutropenia, dan
biasanya trombositopenia
- Periksa kemungkinan DIC
- Serum laktat dehidrogenase meningkat pada asidosis metabolik
- Kultur daerah harus dilakukan untuk mengetahui jenis kuman
- Analisis gas darah arteri menunjukkan kenaikan pH darah dan tekanan
parsial oksigen, penurunan tekanan parsial CO2 serta alkalosis respiratorik
pada tahap awal
b. Pemeriksaan Urin
- Dalam kondisi syok biasanya produksi urin sedikit sekali atau bahkan tidak
ada
- Berat jenis urin meningkat lebih dari 1.020
5. Penanganan selanjutnya infeksi akut, sepsis dan syok septik
Perubahan kondisi sepsis sulit diperkirakan. Dalam waktu singkat kondisi
penderita dapat memburuk. Yang terpenting ialah melakukan pemantauan kondisi
penderita melalui pemantauan ttv, kondisi mentalnya, dan hasil pemeriksaan
laboratorium, dalam garis besarnya untuk menilai apakah pertukaran gas adekuat dan
erfusi jaringan otak, kardiopulmonar dan ginjal adekuat.
Apabila langkah untuk menstabilkan pasien telah dilakukan dan berhasil,
penanganan terhadap penyebab syok septik harus dilakukan. Jika penyakit yang
menjadi dasar penyebab syok septik tidak dapat ditangani di tempat itu, pasien harus
dirujuk ke fasilitas yang lebih mampu menangani. Jika kondisi pasien tidak stabil,
pasien harus segera dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas yang lebih baik.
a. Gagal jantung (syok kardiogenik)
1. Penyebab
Penyebab utama Syok Kardiogenik adalah penyakit pembuluh darah yang
berat. Pada syok kardiogenik ventrikel kiri tidak mampu memompa darah yang
cukup untuk kebutuhan jaringan. Sebagai kompensasi terjadi takikardia, tetapi
hipervolemia dapat menyebabkan edema paru dan edema menyeluruh. Kekurangan
oksigen dapat menyebabkan kerusakan sel, kegagalan multiorgan, dan kematian.
2. Tanda klinis
Tanda klinis Syok Kardiogenik adalah dilatasi vena-vena di leher, dispnea,desah
sistol dan diastol dan edema yang menyeluruh.
b. Rasa Nyeri (syok Neurogenik)
Syok yang terjadi karena rara sakit yang berat disebabkan oleh kehamilan ektopik
yang terganggu, solusio plasenta, persalinan dengan forseps, atau persalinan letak
sungsang dimana pembukaan serviks belum lengkap, versi dalam yang kasar,
firasat/tindakan crede, ruptura uteri, inversio uteri yang akut, pengosongan uterus
yang terlalu cepat, dan penurunan tekanan tiba-tiba daerah splanknik seperti
pengangkatan tiba-tiba tumor ovarium yang sangat besar.

C. Deteksi Dini Masalah-Masalah Persalinan


1. Partograf
1.1. Pengertian Partograf
Patograf adalah alat bantu yang di gunakan selama persalinan. Tujuan utama
penggunaan patograf adalah untuk (1) mencatat hasil observasi dan kemajuan
persalinan (2) mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal. Dengan
demikian, juga dapat dilaksanakan deteksi secara dini, setiap kemungkinan terjadinya
partus lama. Jika di gunakan secara tepat dan konsisten, patograf akan membantu
penolong persalinan untuk mencatat kemajuan persalinan, kondisi ibu dan janin, asuhan
yang diberikan selama persalinan dan kelahiran, serta menggunakan informasi yang
tercatat, sehingga secara dini mengidentifikasi adanya penyulit persalinan dan membuat
keputusan klinik yang sesuai dan tepat waktu penggunaan patograf secara rutin akan
memastikan ibu dan janin telah mendapatkan asuhan persalinan secara aman dan tepat
waktu. Selain itu, dapat mencegah terjadinya penyulit yang dapat mengancam
keselematan jiwa mereka.
1.2. Tujuan utama dari penggunaan partograf adalah :
1.Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan
serviks melalui pemeriksaan dalam.
2. Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal. Dengan demikian
juga dapat mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya partus lama.
3. Data pelengkap yang terkait dengan pemantauan kondisi ibu, kondisi bayi, grafik
kemajuan proses persalinan, bahan dan medikamentosa yang diberikan, pemeriksaan
laboratorium, membuat keputusan klinik, dan asuhan atau tindakan yang diberikan
dimana semua itu dicatatkan secara rinci pada status atau rekam medic ibu bersalin
dan bayi baru lahir
1.3. Partograf dapat digunakan:
1. Untuk semua ibu dalam semua aktif kala satu persalinan dan merupakan elemen
penting dari asuhan persalinan. Partograf harus digunakan untuk semua persalinan, baik
normal maupun patologis. Partograf sangat membantu penolong persalinan dalam
memantau, mengevaluasi dan membuat keputusan klinik, baik persalinan dengan penyulit
maupun yang tidak disertai dengan penyulit.
2. Selama persalinan dan kelahiran di semua tempat (rumah, puskesmas, klinik bidan
swasta, rumah sakit dll).
3. Secara rutin oleh semua penolong persalinan yang memberikan asuhan persalian
kepada ibu dan proses kelahiran bayinya (Specialis Obstetri, Bidan, Perawat, Dokter
Umum)
Gambar 1: lembar depan partograf
Gambar 2 : lembar belakang partograf

1.4 Pengisian Partograf


1. Halaman Depan
Mencatat Temuan Pada Partograf
Halaman depan partograf mencantumkan bahwa observasi yang dimulai pada fase aktif
persalinan dan menyediakan lajur dan kolom untuk mencatat hasil-hasil pemeriksaan selama
fase aktif persalinan, termasuk:

A. Informasi tentang ibu:

Lengkapi bagian awal atas partogrf secara teliti pada saat memulai asuhan persalinan.
Waktu kedatangan (tertulis sebagai jam pada partograf) dan perhatikan kemungkinan
ibu dating dalam fase laten persalinan. Catat waktu terjadinya pecah ketuban.

B. Kondisi Janin
 Denyut jantung janin
Dengan menggunakan metode seperti yang diuraikan pada bagian pemeriksaan fisik,
nilai dan catat DJJ setiap 30 menit (lebih sering jika ada tanda-tanda gawat janin).
Setiap kotak pada bagian ini, menunjukkan waktu 30 menit. Skala angka disebelah
kolom paling kiri menunjukkan DJJ. Catat DJJ dengan memberi tanda titik pada garis
yang sesuai dengan angka yang menunjukkan DJJ. Kemudian hubungkan titik yang
satu dengan titik lainnya dengan garis yang tidak terputus.
Kisaran normal DJJ terpapar pada partograf di antara tebal angka 180 dan 100. Akan
tetapi, penolong harus sudah waspada bila DJJ di bawah 120 atau di atas 160. Catat
tindakan-tindakan yang dilakukan pada ruang yang tersedia di salah satu dari kedua
sisi partograf.

 Warna dan adanya air ketuban


Nilai air ketuban setiap kali dilakukan dalam dan nilai warna air ketuban jika selaput
ketuban pecah. Catat temuan-temuan dalam kotak yang sesuai di bawah lajur DJJ.
Gunakan lambing-lambang berikut :
U : ketuban utuh (belum pecah)
J : ketuban sudah pecah duban beran air ketuban jernih
M : ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur meconium
D : ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur darah
K : ketuban sudah pecah dan tidak ada air ketuban (kering)

Mekonium dalam cairan ketuban tidak selalu menunjukkan adanya gawat janin. Jika
terdapat mekonium, pantau DJJ dengan seksama untuk mengenali tanda-tanda gawat
janin selama proses persalinan. Jika ada tanda-tanda gawat janin (denyut jantung janin <
100 atau > 180 kali per menit) maka ibu harus segera dirujuk Tetapi jika terdapat
mekonium kental, segera rujuk ibu ke tempat yang memiliki kemampuan penatalaksanaan
gawat daruratan obstetri dan bayi baru lahir

2. Penyusupan (Molase) Tulang Kepala Janin


Penyusupan adalah indikator penting tentang seberapa jauh kepala bayi dapat
menyesuaikan diri terhadap bagian keras (tulang) panggul ibu. Semakin besar detajat
penyusupan atau tumpang-tindih antar tulang kepala semakin menunjukkan risiko
disproporsi kepala-panggul (CPD). Ketidak-mampuan untuk berakomodasi atau
disproporsi ditunjukkan melalui derajat penyusupan atau tumpang-tindih (molase) yang
berat sehingga tulang kepala yang saling menyusup, sulit untuk dipisahkan. Apabila ada
dugaan disproprosi kepala-panggul maka penting untuk tetap memantau kondisi janin
serta kemajuan persalinan. Lakukan tindakan pertolongan awal yang sesuai dan rujuk ibu
dengan dugaanproporsi kepala-panggul (CPD) ke fasilitas kesehatan rujukan. Setiap kali
melakukan periksa dalam, nilai penyusupan antar tulang (molase) kepala janin. Catat
temuan yang ada di kotak yang sesuai di bawah lajur air ketuban. Gunakan lambang
lambang berikut ini:

0 : tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura dengan mudah dapat


dipalpasi
1 : tulang-tulang kepala janin hanya saling bersentuhan
2 : tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih tetapi masih dapat
dipisahkan
3 : tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih dan tidak dapat
dipisahkan

3. Kemajuan Persalinan
Kolom dan lajur kedua pada partograf adalah untuk pencatatan kemajuan
persalinan. Angka 0-10 yang tertera di kolom paling kiri adalah besamya dilatasi
serviks. Nilai setiap angka sesuai dengan besamya dilatasi serviks dalam satuan
centimeter dan menempati lajur dan kotak tersendiri.
Perubahan nilai atau perpindahan lajur satu ke lajur yang lain menunjukkan penambahan
dilatasi serviks sebesar 1 cm. Pada lajur dan kotak yang mencatat penurunan bagian
terbawah janin tercantum arigka 1-5 yang sesuai dengan metode perlimaan seperti yang
telah dijelaskan sebelumnya (Menentukan Penurunan Janin). Setiap kotak segi empat atau
kubus menunjukkan waktu 30 menit untuk pencatatat waktu pemeriksaan, denyut jantung
janin, kontraksi uterus dan frekuensi nadi ibu

4. Pembukaan serviks
Dengan menggunakan metode yang dijelaskan di bagian Pemeriksaan
Fisik dalam bab ini, nilai dan catat pembukaan serviks setiap 4 jam (lebih sering
dilakukan jika ada tanda-tanda penyulit). Saat ibu berada dalam fase aktif
persalinan, catat pada partograf setiap temuan dari setiap pemeriksaan. Tanda
'X' harus dicantumkan di garis waktu yang sesuai dengan lajur besamya
pembukaan serviks.

Gambar 3 : Pemantauan Pembukaan Serviks

Perhatikan:
 Pilih angka pada tepi kiri luar kolom pembukaan serviks yang sesuai dengan
besamya pembukaan serviks pada fase aktif persalinan yang diperoleh dari
hasil periksa dalam.
Untuk pemeriksaan pertama pada fase aktif persalinan, temuan (pembukaan serviks) dari
hasil periksa dalam harus dicantumkan pada garis waspada. Pilih angka yang sesuai
dengan bukaan serviks (hasil periksa dalam) dan cantumkan tanda 'X' pada ordinat atau
titik silang garis dilatasi serviks dan garis waspada. Hubungkan tanda 'X' dari setiap
pemeriksaan dengan garis utuh (tidak terputus)

5. Penurunan bagian terbawah janin


Setiap kali melakukan periksa dalam (setiap 4 jam), atau lebih sering (jika
ditemukan tandatanda penyulit). Cantumkan hasil pemeriksaan penurunan
kepala (perlimaan) yang menunjukkan seberapa jauh bagian terbawah janin
telah memasuki rongga panggul. Pada persalinan normal, kemajuan pembukaan
serviks selalu diikuti dengan turunnya bagian terbawah janin. Tapi ada kalanya,
penurunan bagian terbawah janin baru terjadi setelah pembukaan serviks
mencapai 7 cm. Tulisan "Turunnya kepala" dan garis tidak terputus dari 0-5,
tertera di sisi yang sama dengan angka pembukaan serviks. Berikan tanda '0'
yang ditulis pada garis waktu yang sesuai. Sebagai cantah, jika hasil
pemeriksaan palpasi kepaia di atas simfisi pubis adalah 4/5 maka tuliskan tanda
"0" di garis angka 4. Hubungkan tanda '0' dari setiap pemeriksaan dengan garis
tidak terputus.
Gambar 4 : Pemantauan Penurunan Bagian Terbawah Janin

6. Garis waspada dan garis bertindak


Garis waspada dimulai pada pembukaan serviks 4 cm dan berakhir pada titik
dimana pembukaan lengkap diharapkan terjadi jika laju pembukaan adalah 1 cm
per jam. Pencatatan selama fase aktif persalinan harus dimulai di garis waspada.
Jika pembukaan serviks mengarah ke sebelah kanan garis waspada (pembukaan
kurang dari 1 cm per jam), maka harus dipertimbangkan adanya penyulit
(misalnya : fase aktif yang memanjang, serviks kaku, atau inersia uteri
hipotonik, dll).
Pertimbangkan perlunya melakukan intervensi bermanfaat yang diperlukan,
rnisalnya : persiapan rujukan ke fasilitas kesehatan rujukan (rumah sakit atau
puskesmas) yang memiliki kemampuan untuk menatalaksana penyulit atau
gawat darurat obstetri. Garis bertindak tertera sejajar dan di sebelah kanan
(berjarak 4 jam) garis waspada. Jika pembukaan serviks telah melampaui dan
berada di sebelah kanan garis bertindak maka hal ini menunjukkan perlu
diakukan tindakan untuk menyelesaikan persalinan. Sebaiknya, ibu harus sudah
berada di tempat rujukan sebelum garis bertindak terlampaui.

7. Jam dan waktu


a. Waktu Mulainya Fase Aktif Persalinan
Di bagian bawah partograf (pembukaan serviks dan penurunan) tertera kotak-
kotak yang diberi angka 1-12. Setiap kotak menyatakan satu jam sejak
dimulainya fase aktif persalinan.
b. Waktu Aktual Saat Pemeriksaan atau Penilaian
Di bawah lajur kotak untuk waktu mulainya fase aktif, tertera kotak-kotak
untuk mencatat waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan. Setiap kotak
menyatakan satu jam penuh dan berkaitan dengan dua kotak waktu tiga puluh
menit yang berhubungan dengan lajur untuk pencatatan pembukaan serviks,
DJJ di bagian atas dan lajur kontraksi dan nadi ibu di bagian bawah. Saat ibu
masuk dalam fase aktif persalinan, cantumkan pembukaan serviks di garis
waspada. Kemudian catatkan waktu aktual pemeriksaan ini di kotak waktu
yang sesuai. Sebagai contoh, jika hasil periksa dalam menunjukkan
pembukaan serviks adalah 6 cm pada pukul 15.00, cantumkan tanda 'X' di
garis waspada yang sesuai dengan lajur angka 6 yang tertera di sisi luar
kolom paling kiri dan catat waktu aktual di kotak pada lajur waktu di bawah
lajur pembukaan (kotak ke tiga dari kiri).

8. Kontraksi uterus
Di bawah lajur waktu partograf, terdapat lima kotak dengan tulisan
"kontraksi per 10 menit" di sebelah luar kolom paling kiri. Setiap kotak
menyatakan satu kontraksi. Setiap 30 menit, raba dan catat jumlah kontraksi
dalam 10 menit dan lamanya kontraksi dalam satuan detik.
Nyatakan jumlah kontraksi yang terjadi dalam waktu 10 menit dengan cara
mengisi kotak kontraksi yang tersedia dan disesuaikan dengan angka yang
mencerrninkan temuan dari hasil pemeriksaan kontraksi . Sebagai contoh jika
ibu mengalami 3 kontraksi dalam waktu satu kali 10 menit, maka lakukan
pengisian pada 3 kotak kontraksi.

Obat-Obatan Dan Cairan Yang Diberikan


Dibawah lajur kotak observasi kontraksi uterus tertera lajur kotak untuk mencatat
oksitosin, obat-obat lainnya dan cairan IV.
a. Oksitosin
Jika tetesan (drip) oksitosin sudah dimulai, dokumentasikan setiap 30 menit jumlah
unit oksitosin yang diberikan per volume cairan IV dan dalam satuan tetesan per
menit.
b. Obat-obatan lain dan cairan IV
Catat semua pemberian obat-obatan tambahan dan/atau cairan IV dalam kotak yang
sesuai dengan kolom waktunya.
Gambar 5 : Pemantauan Kontraksi Uterus

9. Kondisi Ibu
Bagian terbawah lajur dan kolom pada halaman depan partograf, terdapat kotak atau
ruang untuk mencatat kondisi kesehatan dan kenyamanan ibu selama persalinan.
a. Nadi, tekanan darah dan suhu tubuh
Angka di sebelah kiri bagian partograf ini berkaitan dengan nadi dan tekanan darah
ibu.
 Nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase aktif persalinan (lebih sering
jika diduga adanya penyulit). Beri tanda titik (.) pada kolom waktu yang sesuai.
 Nilai dan catat tekanan darah ibu setiap 4 jam selama fase aktif persalinan (lebih
sering jika diduga adanya penyulit). Beri tanda panah pada partograf pada kolom
waktu yang sesuai. Nilai dan catat temperatur tubuh ibu (lebih sering jika teIjadi
peningkatan mendadak atau diduga adanya infeksi) setiap 2 jam dan catat
temperatur tubuh pada kotak yang sesuai.
b. Volume urin, protein dan aseton
Ukur dan catat jumlahjproduksi urin ibu sedikitnya setiap 2 jam (setiap kali
ibu berkernih). Jika memungkinkan, setiap kali ibu berkernih, lakukan pemeriksaan
aseton dan protein dalam urin.

10. Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya


Catat semua asuhan lain, hasil pengamatan dan keputusan klinik di sisi luar kolom
partograf, atau buat catatan terpisah tentang kemajuan persalinan. Cantumkan juga
tanggal dan waktu saat membuat catatan persalinan, asuhan, pengamatan dan/atau
keputusan klinis mencakup:
• Jumlah cairan per oral yang diberikan
• Keluhan sakit kepala atau penglihatan (pandangan) kabur
• Konsultasi dengan penolong persalinan lainnya (Obgin, bidan, dokter umum)
• Persiapan sebelum melakukan rujukan.
2. Halaman Belakang
A. Data Dasar
Data dasar terdiri dari tanggal, nama bidan, tempat persalinan, alamat tempat
persalinan, catatan, alasan merujuk, tempat rujukan dan pendamping pada saat
merujuk. Isi data pada masing-masing tempat yang telah disediakan atau dengan
cara memberi tanda pada kotak disamping jawaban yang sesuai. Untuk pertanyaan
nomor 5, lingkari jawaban yang sesuai dan untuk pertanyaan nomor 8 jawaban bisa
lebih dari satu.
Data dasar yang perlu dipenuhi adalah sebagai berikut :
1. Tanggal : ………………
2. Nama bidan : ………………
3. Tempat persalinan :
Rumah Ibu Puskesmas
Polindes Rumah Sakit
Klinik Swasta Lainnya : ………………
4. Alamat tempat persalinan : ………………
5. Catatan : ruju, kala : I / II / III / IV
6. Alasan rujukan : ………………
7. Tempat rujukan : ………………
8. Pendamping pada saat merujuk :
Bidan Teman
Suami Dukun
Keluarga Tidak ada

B. Kala I
Kala I terdiri dari pertanyaan-pertanyaan tentang partograf saat melewati garis
waspada, masalah-masalah yang dihadapi, penatalaksanaannya, dan hasil
penatalaksanaan tersebut. Untuk pertanyaan nomor 9, lingkari jawaban yang
sesuai. Pertanyaan lainnya hanya diisi jika terdapat masalah lainnya dalam
persalinan.
Pertanyaan pada kala I adalah sebagai berikut :
9. Partograf melewati garis waspada : Y/T
10. Masalah lain, sebutkan : ………………
11. Penatalaksanaan masalah tersebut : ………………
12. Hasilnya : ………………

C. Kala II
Kala II terdiri dari episiotomi, pendamping persalinan, gawat janin, distosia
bahu, masalah penyerta, penatalaksanaan dan hasilnya. Beri tanda “ü” pada kotak
disamping jawaban yang sesuai. Untuk pertanyaan nomor 13, jika jawabannya
“Ya”, tulis indikasinya sedangkan untuk nomor 15 dan 16 jika jawabannya “Ya”,
isi jenis tindakan yang telah dilakukan. Untuk pertanyaan nomor 14, jawaban bisa
lebih dari 1. Sedangkan untuk ‘masalah lain’ hanya diisi apabila terdapat masalah
lain pada Kala II.
Pertanyaan-pertanyaan pada Kala II adalah sebagai berikut :
13. Episiotomi :
Ya, indikasinya ………………
14. Pendamping pada saat persalinan :
Suami Dukun
Keluarga Tidak ada
Teman
15. Gawat janin :
Ya, tindakan yang dilakukan :
a. ………………
b. ………………
c. ………………
Tidak
16. Distosia bahu
Ya, tindakan yang dilakukan :
a. ………………
b. ………………
c. ………………
Tidak
17. Masalah lain, sebutkan : ………………
18. Penatalaksanaan masalah tersebut : ………………
19. Hasilnya : ………………

D. Kala III
Kala III terdiri dari lama kala III, pemberian oksitosin, penegangan talit pusat
terkendali, masase fundus, plasenta lahir lengkap, plasenta tidak lahir > 30 menit,
laserasi, atonia uteri, jumlah perdarahan, masalah penyerta, penatalaksanaan dan
hasilnya. Isi jawaban pada tempat yang disediakan dan beri tanda pada kotak di
samping jawaban yang sesuai. Untuk nomor 25, 26 dan 28 lingkari jawaban yang
benar.
Pertanyaan pada kala III adalah sebagai berikut :
20. Lama kala III : ………………menit
21. Pemberian oksitosin 10 U IM?
Ya, waktu : ………………menit sesudah persalinan
Tidak, alasan ………………
22. Pemberian ulang oksitosin (2x)?
Ya, alasan ………………
Tidak
23. Penegangan tali pusat terkendali?
Ya
Tidak, alasan ………………
24. Masase fundus uteri?
Ya
Tidak, alasan ………………
25. Plasenta lahir lengkap (intact) : Ya/Tidak
Jika tidak lengkap, tindakan yang dilakukan :
a. ………………
b. ………………

26. Plasenta tidak lahir > 30 menit : Ya/Tidak


Ya, tindakan :
a. ………………
b. ………………
c. ………………
27. Laserasi :
Ya, dimana ………………
Tidak
28. Jika laserasi perineum, derajat : 1 / 2 / 3 / 4
Tindakan :
Penjahitan, dengan/tanpa anestesi
Tidak dijahit, alasan ………………
29. Atonia uteri :
Ya, tindakan :
a. ………………
b. ………………
c. ………………
Tidak
30. Jumlah perdarahan : ………………ml
31. Masalah lain, sebutkan ………………
32. Penatalaksanaan masalah tersebut : ………………
33. Hasilnya : ………………

E. Bayi Baru Lahir


Informasi tentang bayi baru lahir terdiri dari berat badan dan panjang badan,
jenis kelamin, penilaian kondisi bayi baru lahir, pemberian ASI, masalah penyerta,
penatalaksanaan terpilih dan hasilnya. Isi jawaban pada tempat yang disediakan
serta beri tanda pada kotak di samping jawaban yang sesuai. Untuk pertanyaan
nomor 36 dan 37, lingkari jawaban yang sesuai sedangkan untuk nomor 38,
jawaban bisa lebih dari satu.
Pertanyaan mengenai bayi baru lahir adalah sebagai berikut :
34. Berat badan ………………kg
35. Panjang ………………cm
36. Jenis kelamin : L/P
37. Penilaian bayi baru lahir : baik/ada penyulit
38. Bayi lahir :
Normal, tindakan :
Mengeringkan
Menghangatkan
Rangsangan taktil
Bungkus bayi dan tempatkan di sisi ibu
Tindakan pencegahan infeksi mata
Asfiksia ringan/pucat/biru/lemas, tindakan :
Mengeringkan Menghangatkan
Rangsangan taktil Lain-lain, sebutkan :
Bebaskan jalan nafas ………………
Bungkus bayi dan
Tempatkan di sisi ibu
Cacat bawaan, sebutkan : ………………
Hipotermia, tindakan :
a. ………………
b. ………………
c. ………………
39. Pemberian ASI
Ya, waktu : ………………jam sesudah bayi lahir
Tidak, alasan : ………………
40. Masalah lain, sebutkan : ………………
41. Hasilnya : ………………

F. Kala IV
Kala IV berisi data tentang tekanan darah, nadi, suhu, tinggi fundus, kontraksi
uterus, kandung kemih dan perdarahan. Pemantauan pada kala IV ini sangat
penting terutama untuk menilai apakah terdapat risiko atau terjadi perdarahan
pascapersalinan.

Pengisian pemantauan kala IV dilakukan setiap 15 menit pada satu jam pertama
setelah melahirkan, dan setiap 30 menit pada satu jam berikutnya. Isi setiap kolom
sesuai dnegan hasil pemeriksaan dan jawab pertanyaan mengenai masalah kala IV
pada tempat yang telah disediakan. Bagian yang digelapkan tidak usah diisi.
Masalah kala IV : ……………………………………………………...
Penatalaksanaan masalah tersebut: ……………………………………………..............
Hasilnya : ……………………………………………..............
Catatan :
Dalam contoh halaman partograf, terdapat 2 garis yang sejajar berhimpitan yang saling
menembus, merupakan contoh format partograf lama. Pada contoh format partograf
dengan garis berhimpitan yang sejajar namun tidak saling menembus, merupakan contoh
format partograf dengan penemuan baru, dan dengan disertai kolom makan minum (dapat
diisi sesuai kebutuhan akan makan/minum yang masuk pada ibu. Contoh : 1 gelas teh
manis). Beberapa, masih umum menggunakan contoh format partograf yang lama