Anda di halaman 1dari 13

1.

Pendahuluan
Laporan keuangan merupakan tahap akhir dari siklus pelaporan akuntansi,
yang nantinya akan menjadi tolak ukur kinerja suatu perusahaan serta
informasi bagi pihak internal maupun eksternal perusahaan tersebut. Pada
umumnya perusahaan memilih akuntansi berbasis akrual dalam penyusunan
laporan keuangannya yang bersifat riil. Seperti halnya dalam penentuan
pelaporan laba oleh manajemen perusahaan yang harus ditentukan dengan
benar oleh manajemen perusahaan tersebut. (Adreani & Kiki,2012)
menyatakan, Pilihan kebijakan akuntansi yang secara sengaja dipilih oleh
manajemen untuk tujuan pelaporan laba disebut dengan manajemen laba.
Manajemen laba timbul sebagai dampak konflik keagenan yaitu adanya
ketidakselarasan kepentingan antara pemilik dan manajemen. Hal tersebut akan
mendesak manajemen untuk melakukan praktik kebijakan akuntansi yang
mengacu pada perubahan pada angka laba, yang kemudian akan
mengakibatkan rendahnya kualitas laba yang dilaporkan serta memungkinkan
terjadinya kesalahan dalam pengambilan keputusan.
Manajemen laba merupakan tindakan manajer yang menaikkan atau
menurunkan laba yang dilaporkan dari unit yang menjadi tanggung jawabnya
yang tidak mempunyai hubungan dengan kenaikan atau penurunan
profitabilitas perusahaan dalam jangka panjang (Rosenzweig and Kenneth,
1995). Dalam hal ini, manajemen selaku agent atau pelaksana tentunya
memilki informasi yang jauh lebih banyak mengenai perusahaan
dinbandingkan dengan pemegang saham selaku principal, sehingga manajemen
harus melporkan tentang kondisi perusahaan kepada pemilik. Namun, hal ini
juga memungkinkan manajemen untuk mengatur laba yang didapatkan
sebelum dilaporkan ke pemilik, baik demi keuntungan pribadi maupun tuntutan
pemilik atau yang sering disebut asimetry informasi (Ujiyanto, 2007). Semakin
sedikit informasi yang diungkapkan oleh manajemen kepada pihak diluar
perusahaan maka semakin tinggi tingkat manajemen laba. Semakin banyak
informasi yang diungkapkan oleh perusahaan semakin mudah bagi investor
untuk melakukan pengambilan keputusan investasi Andrie (2015). Sehingga

1
keputusan investasi oleh pemilk akan lebih mudah dilakukan jika asimetri
informasi diminimalkan. Adanya asimetri informasi memberikan keharusan
bagi manajemen dalam melakukan mekanisme perusahaan dengan baik untuk
dapat mengendalikan akibat dari asimetri informasi tersebut. Salah satu
mekanisme yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut
adalah dengan menerapkan mekanisme tata kelola perusahaan yang baik (good
corporate governance) (Adreani & Kiki,2012). Shleifer dan Vishny (1997)
menyatakan Corporate governance berkaitan dengan bagaimana para investor
yakin bahwa manajer akan memberikan keuntungan bagi mereka, yakin bahwa
manajer tidak akan mencuri/menggelapkan atau menginvestasikan ke dalam
proyek-proyek yang tidak menguntungkan berkaitan dengan dana/kapital yang
telah ditanamkan oleh investor, dan berkaitan dengan bagaimana para investor
mengontrol para manajer. Jika perusahaan mampu menerapkan corporate
governance dengan baik, maka perusahaan akan memperoleh kemanfaatan
lebih seperti: mudah meningkatkan modal, biaya modal lebih rendah,
peningkatan kinerja bisnis dan kinerja ekonomi, serta harga saham lebih baik.
Implementasi corporate governance nantinya akan menjadi salah satu elemen
penting untuk menumbuh kembangkan efisiensi ekonomis, dan memberikan
hubungan yang sinergis antara pihak yang berkepentingan pada perusahaan
(Arief dan Pramuka, 2007).
Menurut Herawaty (2008) teori keagenan memberikan pandangan bahwa
masalah manajemen laba dapat diminimumkan dengan pengawasan sendiri
melalui goodcorporate governance. Corporate governance mengandung empat
unsur penting, yaitu: keadilan, transparansi, pertanggungjawaban dan
akuntabilitas, diharapkan dapat menjadi suatu jalan dalam mengurangi konflik
keagenan. Dengan adanya tata kelola perusahaan yang baik, diharapkan nilai
perusahaan akan dinilai dengan baik oleh investor (Susanti, 2010). Tujuan
penelitian ini adalah menguji secara empiris pengaruh asimetri informasi
terhadap manajemen laba yang dimoderasi oleh good corporate governance.
Isu terkait corporate governance terjadi seperti pada tahun 2014 adanya
kekhawatiran dari investor-investor dalam berinvestasi ke Indonesia, mengenai
kebijakan pemerintah dalam upaya meningkatkan GCG untuk menanggulangi

2
dana murah . Saat itu, banyak investor yang mengkhawatirkan adanya GCG
akan mempersulit mereka dalam melakukan investasi di Indonesia. Maka dari
itu, menjawab kekhawatiran tersebut, Menteri keuangan menunjuk OJK dan
IFC untuk menangani hal tersebut. OJK bersama IFC meluncurkan Roadmap
atau Manual Tata Kelola Perusahaan yang baik yang di apresiasi menteri
keuangan, yang bertujuan memudahkan para investor tersebut menilai sendiri
pengelolaan perusahaan yang terjadi. Dengan mengetahui tata kelola
perusahaan akan mencerminkan tingkat kepemilikan manajerial dalam
perusaahn tersebut, serta meningkatkan keyakinan investor dalam berinvestasi.

1.1 Rumusan Masalah


Penelitian ini memiliki pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Apakah asimetri informasi memiliki pengaruh pada praktik
manajemen laba perusahaan?
2. Apakah Good Coporate Governance memperkuat atau
memperlemah hubungan antara asimetri informasi dengan praktik
manajemen laba perusahaan sebagai pemoderasi?

1.2 Tujuan Penelitian


Adapun secara terperinci tujuan penelitian ini adalah, pertama,
menganalisis pengaruh asimetri informasi terhadap manajemen laba dan
kedua menganalisis pengaruh good corporate governance dalam
memoderasi pengaruh asimetri informasi terhadap manajemen laba.

1.3 Manfaat Penelitian


Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat dijadikan
sebagai salah satu landasan informasi sebagai perkembangan pengetahuan
dalam bidang akuntansi yaitu mengenai penerapan praktik manajemen
laba yang akhir-akhir ini marak digunakan oleh perusahaan. Selain itu
penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam

3
pengembangan teori, terutama berkaitan dengan manajemen laba dan
asimetri informasi.
Manfaat Praktis
Manfaat praktis bagi investor adalah memberikan informasi
mengenai manajemen laba, asimetri informasi dan ukuran perusahaan. Di
mana dalam pengambilan keputusan investasi, investor harus lebih cermat
dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan demi keputusan investasi
yang lebih baik.

2. Tinjauan Pustaka
2.1 Landasan teori
Penelitian Wedari (2004), dalam Herawaty (2008) menemukan praktek
corporate governance memiliki hubungan terhadap manajemen laba.
Namun Siregar dan Bactiar (2004) menjelaskan tidak terdapathubungan
antara praktek corporate governace dengan manajemen laba, Penelitian ini
merupakan upaya menindak lanjuti hasil penelitian Rahmawati, et al.
(2006) yang merekomendasikan perlunya memasukkan pengaruh
corporate governance sebagai variabel pemoderasi untuk mengetahui
apakah corporate governance mampu memperkuat atau memperlemah
hubungan antara asimetri informasi dengan tindakan manajemen laba.
2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory)
Perspektif hubungan keagenan merupakan dasar yang digunakan
untuk memahami earning management. Sebagai agen, manajer secara
moral bertanggung jawab untuk mengoptimalkan keuntungan para
pemilik (principal) dan sebagai imbalannya akan memperoleh
kompensasi sesuai dengan kontrak. Dengan demikian terdapat dua
kepentingan yang berbeda didalam perusahaan dimana masing-masing
pihak berusaha untuk mencapai atau mempertahankan tingkat
kemakmuran yang dikehendaki. Eisenhardt (1989) menyatakan bahwa
teori agensi menggunakan tiga asumsi sifat manusia yaitu: (1)
manusia pada umumya mementingkan diri sendiri (self interest), (2)
manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi masa

4
mendatang (bounded rationality) dan (3) manusia selalu menghindari
resiko (risk averse). Berdasarkan asumsi sifat dasar manusia tersebut
manajer sebagai manusia akan bertindak opportunistic, yaitu
mengutamakan kepentingan pribadinya. Manajer sebagai pengelola
perusahaan lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek
perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemilik
(pemegang saham).
Manajer berkewajiban memberikan sinyal mengenai kondisi
perusahaan kepada pemilik. Sinyal yang diberikan dapat dilakukan
melalui pengungkapan informasi akuntansi seperti laporan keuangan.
Laporan keuangan tersebut penting bagi para pengguna eksternal
terutama sekali karena kelompok ini berada dalam kondisi yang paling
besar ketidakpastiannya. 6 Ketidakseimbangan penguasaan informasi
akan memicu munculnya suatu kondisi yang disebut sebagai asimetri
informasi (information asymmetry).
Asimetri antara manajemen (agent) dengan pemilik (principal)
dapat memberikan kesempatan kepada manajer untuk melakukan
manajemen laba (earnings management) dalam rangka menyesatkan
pemilik (pemegang saham) mengenai kinerja ekonomi perusahaan.
Corporate governance yang merupakan konsep yang didasarkan
pada teori keagenan, diharapkan bisa berfungsi sebagai alat untuk
memberikan keyakinan kepada para investor bahwa mereka akan
menerima return atas dana yang telah mereka investasikan. Corporate
governance berkaitan dengan bagaimana para investor yakin bahwa
manajer akan memberikan keuntungan bagi mereka, yakin bahwa
manajer tidak akan mencuri atau menggelapkan atau
menginvestasikan ke dalam proyek-proyek yang tidak menguntungkan
berkaitan dengan dana atau kapital yang telah ditanamkan oleh
investor, dan berkaitan dengan bagaimana para investor mengontrol
para manajer. Dengan kata lain corporate governance diharapkan
dapat berfungsi untuk menekan atau menurunkan biaya keagenan
(agency cost)

5
2.1.2 Manajemen Laba
Manajemen laba akan membuat laba tidak sesuai dengan realitas
ekonomi yang ada, sehingga kualitas laba yang dilaporkan menjadi
rendah. Laba yang disajikan mungkin tidak mencerminkan realitas
ekonomi, tetapi lebih karena keinginan manajemen untuk
memperlihatkan sedemikian rupa sehingga kinerjanya dapat terlihat
baik. Manajemen laba muncul sebagai dampak masalah keagenan
yang terjadi karena adanya ketidakselarasan kepentingan antara
pemegang saham (principal) dan manajemen perusahaan (agent).
Pihak prinsipal termotivasi mengadakan kontrak untuk
menyejahterahkan dirinya dengan profitabilitas yang selalu meningkat
sedangkan agen termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhan
kebutuhan ekonomi dan psikologisnya, antara lain dalam hal
memperoleh investasi, pinjaman, maupun kontrak kompensasi (Salno
dan Baridwan, 2000).
Manajemen laba dapat didefinisikan sebagai hal yang masuk akal
seperti atau sama baiknya dengan pembuatan keputusan legal and
pelaporan hasil-hasil keuangan oleh manajer, dengan tujuan untuk
mencapai stabilitas laba. Menurut Sitorus (2006), manajemen laba
merupakan tindakan manajemen untuk memilih kebijakan akuntansi
dari suatu standar tertentu untuk mempengaruhi laba yang akan terjadi
menjadi seperti yang mereka inginkan melalui pengelolaan faktor
internal yang dimiliki atau digunakan perusahaan. Manajemen laba
akan membuat laba tidak sesuai dengan realitas ekonomi yang ada,
sehingga kualitas laba yang dilaporkan menjadi rendah. Laba yang
disajikan mungkin tidak mencerminkan realitas ekonomi, tetapi lebih
karena keinginan manajemen untuk memperlihatkan sedemikian rupa
sehingga kinerjanya dapat terlihat baik. Manajemen laba muncul
sebagai dampak masalah keagenan yang terjadi karena adanya
ketidakselarasan kepentingan antara pemegang saham (principal) dan
manajemen perusahaan (agent). Pihak prinsipal termotivasi
mengadakan kontrak untuk menyejahterahkan dirinya dengan

6
profitabilitas yang selalu meningkat sedangkan agen termotivasi untuk
memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologisnya,
antara lain dalam hal memperoleh investasi, pinjaman, maupun
kontrak kompensasi (Salno dan Baridwan, 2000).

2.2.Pengembangan Hipotesis
2.2.1 Hubungan Asimetri Informasi dengan Manajemen Laba
Keberadaan asimetri informasi dianggap sebagai penyebab
manajemen laba. Salah satu pengukur asimetri informasi antara
manajemen dengan pemegang saham perusahaan adalah bid-ask
spreads. Richardson (1998) dalam Rahmawati et al (2006) meneliti
hubungan asimetri informasi dengan manajemen laba pada semua
perusahaan yang terdaftar di NYSE pada periode akhir Juni selama
1988-1992. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa terdapat
hubungan yang sistematis antara magnitut asimetri informasi dan
tingkat manajemen laba.
Fleksibilitas manajemen untuk me-manage laba dapat dikurangi
dengan menyediakan informasi yang lebih berkualitas bagi pihak
luar. Menurut hasil penelitian Halim et al (2005) bahwa asimetri
informasi, kinerja masa kini dan masa depan, faktor leverage, dan
ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
Demikian pula penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati et al
(2006) berpengaruh secara positif signifikan terhadap manajemen
laba. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis
sebagai berikut:
H1: Asimetri informasi berpengaruh secara positif signifikan
terhadap manajemen laba

2.2.2 Hubungan Asimetri Informasi dengan Manajemen Laba yang


Dimoderasi Good Corporate Governance
Menurut manajemen laba adalah intervensi atau campur tangan
manajer dalam proses penyusunan laporan keuangan dengan tujuan

7
untuk memaksimalkan keuntungan pribadi. Dari definisi tersebut
memberikan gambaran bahwa manajemen laba merupakan perilaku
oportunistik manajer untuk memaksimalkan utilitas mereka. Manajer
melakukan tindakan manajemen laba dengan memilih metode atau
kebijakan akuntansi untuk menaikkan angka laba atau menurunkan
angka laba. Manajer menaikkan angka laba dengan menggeser laba
periode yang akan datang ke periode sekarang dan menurunkan
angka laba dengan menggeser laba periode masa sekarang ke periode
mendatang (Widodo, 2005).
Filosofi yang mendasari kepentingan manajemen adalah kebutuhan
akan harmonisasi dan sistematisasi dari manajemen dalam rangka
menghasilkan kinerja yang efektif dan efesien. Sebagai bagian
integral dari perusahaan, pihak manajemen yang ingin mencapai
bentuk sistem yang teratur tentunya akan membutuhkan penerapan
GCG secara konsisten. Karena untuk mencapai suatu kinerja yang
optimal, para anggota manajemen dan karyawan harus mendapat
perlakuan yang seimbang dan wajar, sesuai dengan kedudukan
masing-masing. Prinsip fairness dari GCG memegang peranan untuk
mewujudkan manajemen perusahaan berjalan dengan baik. Dengan
demikian GCG dapat memperkuat ataupun memperlemah
(memoderasi) dalam pengambilan suatu keputusan pelaporan
keuangan dengan tujuan transparansi untuk optimalisasi kinerja
perusahaan (Surya dan Yustiavanda, 2014). Atas dasar penjelasan
diatas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H2: Good Corporate Governance dapat memoderasi pengaruh


asimetri informasi terhadap manajemen laba.

3. Metodelogi Penelitian
Penelitian ini menjelaskan pengaruh asimetri informasi pada kegiatan
manajemen laba pada perusahaan, dengan menjelaskan good corporate
governanance memperkuat atau memperlemah pengaruh asimetri tersebut

8
dalam keputusan manajemen laba oleh perusahaan. Dalam penelitian ini
mengambil obyek penelitian seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di
BEI dan memiliki kepemilikan institusional saham perusahaan selama kurun
waktu 2011-2015. Jumlah sampel penelitian sebanyak 45 perusahaan yang
diambil secara purposive sampling. Kriteria untuk pengambilan sampel,
yaitu: (1) perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI; (2)terdapat
kepemilikan institusional; (3) mempublikasikan laporan keuangan tahunan
selama periode 2011 - 2015. Variabel dalam penelitian ini adalah Manajemen
Laba, Asimetri Informasi, Good Corporate Governance, dan Interaksi
Asimetri Informasi dengan Good Corporate Governance. Manajemen Laba
merupakan intervensi langsung manajer dalam proses penyajian laporan
keuangan dengan maksud memperoleh keuntungan atau manfaat tertentu baik
bagi dirinya maupun perusahaan. Variabel ini di proksikan dengan
discretionary accruals dan dihitung dengan The Modified Jones
Model. Variabel pemoderasi dalam penelitian ini adalah Good Corporate
Governance diprosikan oleh skor kepemilikan institusional yang
digunakan berupa angka mulai 0 sampai 100. Sampel yang digunakan dalam
penelitian iniadalah keseluruhan perusahaan yang kepemilikan institusional
termasuk 15 terbaik dalam kurun waktu 2011-2015.Alat analisis yang
digunakan adalah deskriptif dan analisis regresi. Analisis regresi linear
berganda untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih,
juga menunjukkan arah hubungan antara variabel independen dengan variabel
dependen (Ghozali, 2006). Sebelum analisis regresi dilakukan pengujian
asumsi Klasik yang meliputi uji: Normalitas, Multikolinearitas,
Heteroskedastisitas, dan Autokorelasi.

Pengukuran manajemen laba dilakukan dengan:

9
Dimana:

Model regresi yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

ML = α + β1AI + β2GCG + β3AI*GCG + ε

Keterangan:
ML : Manajemen Laba discretionary accrual
α/a : Konstanta
b1 / β1 : Koefisien regresi variabel AI
b2 / β2 : Koefisien regresi variabel GCG
b3 / β3 : Koefisien regresi variabel
AI*GCGAI : Variabel Asimetri Informasi
GCG : Variabel Corporate Governance kepemilikan institusional
AI*GCG : Variabel Interaksi Asimetri Informasi dengan kpemilkan
institusional
ε : Measurement error

10
Daftar Pustaka

Adhika Wisnumurti. 2010.”Analisis Pengaruh Corporate Governance Terhadap


Hubungan Asimetri Informasi dengan Praktik Manajemen Laba (Studi pada
Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di BEI)”. Skripsi. Semarang: Fakultas
Ekonomi Universitas Diponogoro.
Andarias Patiran, 2008.”Pengaruh Sensitivitas Kekayaan Eksekutif terhadap
Manajemen Laba dengan Corporate Governance sebagai Variabel
Moderating pada Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
Tahun 2005–2007”.Tesis. Semarang: Program Studi Magister Sains
Akuntansi. Universitas Diponegoro.
Anthony, Robert and Vijay Govindarajan. 2003. Management Control System
11th Edition:Irwin McGraw Hill. (belum lengkap)
Eisenhardt, Kathleem. M. 1989. Agency Theory: An Assesment and Review.
Academy of Management Review, 14, p. 57-74
Fischer, Marily; Kenneth Rosenzweig, 1995. Attitude of Students and Accounting
Practitioners Concerning the Ethical Acceptability of Earnings
Management. Journal of Business Ethics. Vol. 14. p. 433–444.
Ghozali, Imam, 2006. Aplikai Analisis Multivarite dengan SPSS, Cetakan Keempat,
Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
Halim, dkk. 2005. “Pengaruh Manajemen Laba pada TingkatcPengungkapan
Laporan Keuangan pada Perusahaan Manufaktur yang Termasuk dalam
Indeks LQ-45”, Simposium Nasional Akuntansi VII.
Herawaty, Vinola.”Peranan Praktek Corporate Governance Sebagai Moderating
Variabel dari Pengaruh Earning Manajemen Terhadap Nilai Perusahaan”,
Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Volume 10, Nomor 2. IAI. 2002. Standart
Akuntansi Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2009. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba
Empat.
Indra Surya dan Ivan Yustiavandana, 2006. Penerapan Good Corparate
Governance mengesampingkan Hak-hak Istimewa demi kelangsungan
Usaha. Jakarta: Kencana.

11
Rahmawati., Suparno, Yacob, Dan Qomariyah, Nurul. 2006. Pengaruh Asimetri
Informasi Terhadap Praktik Manajemen Laba Pada Perusahaan Perbankan
Publik Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta. Simposium Nasional
Akuntansi IX. Padang
Richardson, Vernon J. 1998. ìInformation Asymmetry and Earning Management:
Some Evidenceî. Working Paper.
Salno, H. M. & Z. Baridwan. 2000. “Analisis Perataan Penghasilan (Income
Smoothing): Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dan Kaitannya dengan
Kinerja Saham Perusahaan Publik di Indonesia” Tesis Program Sarjana
Master of Science Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta
Schipper, K. 1989. Earnings Management. Accounting Horizons 3, 91-106.
Shleifer, A. dan R.W. Vishny. 1997. A Survey of Corporate Governance. Journal
of Finance, Vol 52. No 2. June 737-783
Siregar, Sylvia Veronica N.P dan Bachtiar Yanivi S. 2004 Hubungan Antara
Manajemen Laba dengan Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan.
Simposium Nasional Akuntansi VI. Surabaya.
Susanti, Rika. 2010. Analisis Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Nilai
Perusahaan (Studi Kasus pada Perusahaan Go Public yang Listed Tahun
2005-2008). Skripsi. Universitas Diponegoro: Semarang.
Ujiyantho, Muh. Arief dan Bambang Agus Pramuka, 2007. Mekanisme Corporate
Governance, Manajemen Laba dan Kinerja Keuangan. Artikel Simposium
Nasional Akuntansi (SNA) X, Makasar.
Ujiyantho, Muh. Arief. (2009). Asimetri Informasi dan Manajemen Laba: Suatu
Tinjauan dalam Hubungan Keagenan. Diakses tanggal 20 September 2011.
www.google.com
Veronica, Sylvia, dan Siddharta Utama. 2005. Pengaruh Struktur Kepemilikan,
Ukuran Perusahaan, dan Praktek Corporate Governance terhadap
Pengelolaan Laba (Earnings Manajement). Artikel Simposium Nasional
Akuntansi (SNA) VIII, IAI, Solo.

12
Wedari, Linda Kusumaning. (2004). Analisis Pengaruh Proporsi Dewan
Komisaris dan Keberadaan Komite Audit terhadap Aktivitas Manajamen
Laba. Simposium Nasional Akuntansi 7.
Widodo, Joko. 2005. Membangun Birokrasi Berbasis Kinerja.Malang: Bayumedia
Publishing

13