Anda di halaman 1dari 20

CARA MASUK MIKROBA KEDALAM TUBUH MANUSIA

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Mikrobiologi


yang dibimbing oleh ibu Prof. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M. Pd.

Disusun oleh:
Offering G/Kelompok 6 :
Livia Nur Cholifah 160342606203
Miftahul Mufinadiroh 160342606244
M. Abdul Hafidh 160342606252
Muly Pramesti 160342606245
Sinta Dwi Wulansari 160342606221

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
April 2018

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Lingkungan kehidupan manusia dipenuhi dengan mikroorganisme di
sekelilingnya. Di dalam tubuh manusia, mikroorganisme terdapat pada permukaan
tubuh, di dalam mulut, hidung dan rongga-rongga tubuh lainnya. Mikroorganisme
dapat menyebabkan banyak penyakit yang telah melanda peradaban manusia
selama berabad-abad (Pelczar dan Chan, 2007). Infeksi terjadi karena adanya
interaksi antara mikroorganisme dengan hospes dengan melalui berbagai cara baik
melalui saluran pernafasan, saluran pencernaan yang berasal dari makanan,
saluran genitouriner maupun kontak langsung dengan kulit (Pelczar dan Chan,
2007).
Tubuh manusia akan selalu terancam oleh paparan mikroorganisme
(bakteri, virus dan parasit), radiasi matahari, dan polusi. Stres emosional atau
fisiologis dari kejadian ini adalah tantangan lain untuk mempertahankan tubuh
yang sehat. Biasanya manusia dilindungi oleh sistem pertahanan tubuh, sistem
kekebalan tubuh, terutama makrofag, dan cukup lengkap kebutuhan gizi untuk
menjaga kesehatan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana cara masuk mikroba ke dalam tubuh manusia melalui saluran
pernapasan?
2. Bagaimana cara masuk mikroba ke dalam tubuh manusia melalui saluran
pencernaan?
3. Bagaimana cara masuk mikroba ke dalam tubuh manusia melalui kulit?
4. Bagaimana cara masuk mikroba ke dalam tubuh manusia melalui saluran
genitouriner?

2
1.3 Tujuan
1. Bagaimana cara masuk mikroba ke dalam tubuh manusia melalui saluran
pernapasan?
2. Bagaimana cara masuk mikroba ke dalam tubuh manusia melalui saluran
pencernaan?
3. Bagaimana cara masuk mikroba ke dalam tubuh manusia melalui kulit?
4. Bagaimana cara masuk mikroba ke dalam tubuh manusia melalui saluran
genitouriner?

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Cara Masuk Mikroba melalui Saluran Pernapasan

Saluran pernapasan merupakan jalan termudah bagi mikroorganisme


infeksius untuk masuk ke dalam tubuh. Mikroorganisme masuk ke dalam tubuh
ketika terhirup melalui hidung atau mulut dalam bentuk partikel debu. Saluran
pernafasan sering terinfeksi patogen, karena kontak langsung dengan lingkungan
dan secara terus menerus terpapar oleh mikroorganisme yang terdapat dalam
udara yang dihirup. Terdapat beberapa mikroorganisme yang dapat menyebabkan
infeksi, minimal pada orang yang rentan atau dalam keadaan tubuh yang kurang
optimal. Lingkungan saluran pernafasan yang lembab dan hangat, merupakan
tempat yang ideal untuk pertumbuhan mikroorganisme (Wilson, 2005).
Saluran pernapasan ini bisa dibagi menjadi dua yaitu saluran pernapasan
atas dan juga saluran pernapasan bawah. Saluran pernapasan atas dimulai dari
saluran hidung hingga faring. Ujung atas saluran berhubungan langsung dengan
udara, sedangkan ujung bawah saluran pernapasan mempunyai permukaan yang
luas dengan dinding yang sangat tipis yang berhubungan erat dengan pembuluh
darah (Wilson, 2005).
Timbulnya infeksi pada saluran pernafasan dapat disebabkan oleh
beberapa faktor, salah satunya adalah bakteri. Bakteri yang dapat menyebabkan
infeksi pada saluran pernafasan antara lain Streptococcus pneumoniae,
Mycobacterium tuberculosis, Haemophilus influenzae, Corynebacterium
diphtheriae, dan Bordetella pertussis. Namun kita akan membahas lebih detail
mengenai Mycobacterium tuberculosis,

Mycobacterium tuberculosis
Bakteri Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri yang
menyebabkan penyakit Tuberculosis (TBC) dan paling umum menyerang paru-
paru (Utama, 2005). Bakteri Mycobacterium tuberculosis ditemukan pertama kali
oleh Robert Koch pada tahun 1882. Selanjutnya pada tahun 1819 Rene Laennec

4
membuktikan bahwa TBC merupakan penyakit infeksi kronik. Dilanjutkan
dengan temuan Jean Antoine Villemin pada 1865 yang membuktikan bahwa
tubercolosis adalah penyakit menular (Enarson, 2000).
Bakteri Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri non-motil
berbentuk batang yang cukup besar dengan panjang 2-4 µm dan lebar 0,2-0,5 µm
(Todar, 2012). Struktur bakteri Mycobacterium tuberculosisbisa dilihat pada
gambar 2.1. Biasanya terdapat tunggal atau berkelompok, tidak bergerak dan tidak
membentuk spora atau kapsul (Pelczar dan Chen, 1988). Mycobacterium
tuberculosis merupakan bakteri aerob obligat, oleh karena itu dalam kasus
penyakit tuberkulosis, kompleks Mycobacterium tuberculosis selalu ditemukan di
lobus atas paru-paru yang ber-aerasi. Bakteri ini memiliki pertumbuhan yang
lambat yaitu 15-20 jam sehingga penyakit TBC seringkali terlambat dideteksi
(Todar, 2012).

Gambar 2.1. Struktur Tubuh Mycobacterium tuberculosis (Sumber: Todar,


2012)
Mekanisme masuknya bakteri Mycobacterium tuberculosis kedalam tubuh
adalah sebagai berikut. Bakteri Mycobacterium tuberculosis terhirup dari udara
melalui hidung , melewati faring, laring, trachea dan kemudian masuk ke dalam
paru-paru. Bakteri tersebut akan menempel pada bronkiolus atau alveolus dan
akan melakukan proliferasi setiap 15-20 jam. Terjadi reaksi inflamasi sehingga
menimbulkan penumoukan eksudat dalam alveolus. Proliferasi sel epitel
disekeliling basil dan membentuk dinding antara basil dan organ yang terinfeksi
(tuberkel). Basil akan menyebar melalui kelenjar getah bening menuju kelenjar
regional dan menimbulkan reaksi sudan sehingga mampu meluas ke seluruh paru-

5
paru (Setianto, 2017). Mekanisme penyebaran bakteri TBC dapat dilihat pada
gambar 2.2.

Gambar 2.2. Penyebaran Bakteri TBC (Sumber: Rampengan, 2008)

2.2 Cara Masuk Mikroba melalui Saluran Pencernaan


Mikroba masuk ke dalam saluran pencernaan melalui makanan dan
minuman yang kita konsumsi. Selain itu juga bisa melalui tangan dan perlatan
yang digunakan untuk makan. Kontaminasi yang terjadi pada makanan dan
minuman dapat menyebabkan makanan tersebut dapat menjadi media bagi suatu
penyakit. Makanan yang sudah tercemar biasanya secara visual tidak terlihat atau
tampak tidak membahayakan, misalnya dari segi warna, rasa dan penampakannya
normal dan tidak ada tanda-tanda kerusakan. Karena itu kita sering terkecoh dan
mengkonsumsi makanan tersebut tanpa ada rasa curiga sedikit pun. Penyakit yang
ditimbulkan oleh makanan yang terkontaminasi disebut penyakit bawaan makanan
(Armbruster & Longree, 1987).
Saluran pencernaan tentu memiliki perlindungan untuk menyerang
mikrobba yang masuk ke dalamnya. Mayoritas mikroba tersebut akan
dihancurkan oleh asam klorida (HCL) dan enzim – enzim di lambung, atau oleh

6
empedu dan enzim di usus halus. Mikroorganisme yang bertahan dapat
menimbulkan penyakit. Misalnya, demam tifoid, disentri amoeba, hepatitis A, dan
kolera. Patogen ini selanjutnya dikeluarkan malalui feses dan dapat ditransmisikan
ke inang lainnya melalui air, makanan, atau jari – jari tangan yang terkontaminasi.

Gambar Sistem pencernaan manusia


Sumber : http://advocatesfordrsebi.org/midsection-digestive-system/

1. Escherichia coli
Bakteri Escherichia coli adalah bakteri yang secara normal hidup di
saluran pencernaan pada hewan dan manusia. Merupakan anggota famili
Enterobacteriaceae dengan ukuran sel panjang 2,0-6,0 um dan diameter1,1-1,5
um, berbentuk batang lurus, tunggal, berpasangan atau rantai pendek. Escherichia
coli adalah salah satu bakteri yang tergolong coliform dan hidup secara normal di
dalam kotoran manusia maupun hewan, oleh karena itu disebut juga koliform
fekal. E. coli adalah bakteri bersifat gram negatif, berbentuk batang dan tidak
membentuk spora, mikroorganisme ini tidak umum hidup atau terdapat dalam air,
sehingga keberadaannya dalam air dapat dianggap sebagai petunjuk terjadinya
pencemaran kotoran dalam arti luas, baik dari kotoran hewan maupun manusia
(Purnawijayanti, 2001).
Escherichia coli metrupakan penyebab utama penyakit diare di Indonesia.
Data dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa diare

7
buruk merupakan penyebab banyaknya kontaminasi bakteri Escherichia coli yang
dikonsumsi masyarakat (Adisasmito, 2007).
Dampak buruk dari keberadaan Escherichia coli dapat diatasi dengan
mengonsumsi makanan probiotik. Probiotik merupakan makanan tambahan yang
berupa sel mikrobia hidup yang dapat memberikan keuntungan bagi inangnya
dengan memperbaiki keseimbangan mikrobiota dalam usus jika diberikan pada
jumlah tertentu (Fooks dkk., 1999).
Hasil penelitian Ogawa, dkk (2001) menunjukkan bahwa pemberian
bakteri probiotik Lactobacillus casei strain Shirota dalam susu dapat mencegah
terjadinya diare akibat E. coli penghasil toksin pada kelinci yang masih bayi.

2. Shigella dysenteriae
Disentri adalah salah satu jenis penyakit diare akut yang disertai dengan
tinja cair yang bercampur dengan darah dan lendir dikarenakan bakteri penyebab
disentri telah menembus dinding kolon sehingga tinja yang melewati usus besar
akan berjalan sangat cepat tanpa diikuti proses absorbsi air (Adnyana dkk., 2004)
Shigella dysenteriae memproduksi eksotoksin yang dapat mempengaruhi
saluran pencernaan dan susunan saraf pusat. Eksotoksin merupakan protein yang
bersifat antigenik yaitu merangsang produksi antitoksin sehingga dapat
mematikan penderita.

Proses pathogenesis shigella sp dalam tubuh manusia


Sumber: (Aguskrino, 2012)

8
3. Helicobacter pylori
Bakteri Helicobacter pylori (H. pylori) merupakan salah satu
bakteri Gram negatif yang memiliki flagela polar dan umumnya tinggal pada
permukaan mukosa lambung. H. pylori merupakan salah satu bakteri yang
paling banyak terjadi pada manusia (Fock, dkk, 2009).
Infeksi bakteri H. pylori pada mukosa lambung manusia menjadi
penyebab utama terjadinya inflamasi pada lambung. Bakteri ini telah
mengalami evolusi sehingga dapat menghindari asam lambung, menempel,
dan berkomunikasi dengan epitel lambung serta sistem imun bawaan pada
manusia. Interaksi bakteri dengan mukosa lambung ini yang menjadi faktor
resiko kuat terjadinya inflamasi parah. Adanya inflamasi pada mukosa
lambung disebut sebagai penyakit gastritis. (Ratnadevi & Barliana, tanpa
tahun).

Proses patogenesis bakteri Helicobacter pylori pada manusia


Sumber : NEJM, 2010

9
2.3 Cara Masuk Mikroba melalui Kulit
Kulit merupakan barier penting untuk mencegah mikroorganisme dan
agen perusak lain masuk ke dalam jaringan yang lebih dalam. Kelainan kulit yang
terjadi dapat langsung disebabkan mikroorganisme pada kulit, penyebaran
toksin spesifik yang dihasilkan mikroorganisme, atau penyakit sistemik
berdasarkan proses imunologi. Kulit termasuk lapisan epidermis, stratum
korneum, Keratinosit dan lapisan basal bersifat sebagai barrier yang penting,
mencegah mikroorganisme dan agen perusak potensial lain masuk ke dalam
jaringan yang lebih dalam. Misalnya asam laktat dan substansi lain dalam
keringat mengatur pH permukaan epidermis dalam suasana asam yang
membantu mencegah kolonisasi oleh bakteri dan organisme lain (Garna,2001).
Suatu mikroorganisme yang bersifat patogen pertama kali harus
mencapai jaringan inang dan memperbanyak diri sebelum melakukan
kerusakan.. Mikroba melintasi kulit masuk ke lapisan subkutan hampir selalu
terjadi melalui luka baik tergores, tercakar, tergigit hewan, teriris pisau, atau
apapun yang menyebabkan kulit luka berdarah, dan jarang dilakukan patogen
menembus melewati kulit yang utuh (Rampengan, 2008). Infeksi yang
disebabkan mikroba masuk ke kulit ditandai dengan adanya respon
peradangan. Respon peradangan terjadi akibat adanya molekul-molekul
pesinyal yang dilepaskan saat terjadi infeksi. Salah satu molekul pesinyal
terjadi inflamasi yaitu histamine yang tedapat dalam sel mast. Peristiwa
terjadinya inflamasi atau perdangan dimulai terjadinya luka misalnya
disebabkan adanya serpihan kayu yang masuk ke dalam (lihat gambar 4.1).
Histamine dilepaskan di jaringan yang mengalami kerusakan jaringan yang
memicu terjadinya dilatasi pembuluh darah dan permeabilitas pembuluh darah
meningkat. Peningkatan suplai darah yang terus-menerus menyebabkan
kemerahan dan rasa panas. Kapiler-kapiler darah yang terisi darah kemudian
bocor ke jaringan lain di sekitarnya sehingga menyebabkan pembengkaan.
Selama inflamasi, aliran darah meningkatkan pengeluaran protein-protein
antimikroba yang mendorong pelepasan histamine lebih lanjut dan fagositosis.
Sel-sel fagositosik akan mencerna mikroba yang masuk dan jaringan yang
terinfeksi akan sembuh (Campbell, et al, 2008).

10
Gambar Mekanisme Terjadinya Inflamasi.
(Sumber : Campbell, et al,2008).

Beberapa mikroba yang masuk ke kulit menyebabkan beberapa


penyakit baik virus maupun bakteri, misalnya:
1) Staphylococcus aureus
Salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus
aureus yaitu bisul. Bisul adalah peradangan pada folikel rambut dan
jaringan di sekitarnya (lihat gambar 4.2), yang disebabkan oleh
Staphylococcus aureus (lihat gambar 4.3) (Wilson et al., 1995). Bisul
terjadi ketika suatu area dari jaringan menjadi terinfeksi dan sistem
kekebalan tubuh mencoba untuk melawannya. Sel darah putih bergerak
melalui dinding pembuluh darah ke daerah infeksi dan masuk dalam
jaringan yang rusak.

Gambar 4.2 Bisul yang menyerang punggung akibat infeksi bakteri


Staphylococcus aureus
(Sumber: http://www.obatherbal.com.)

11
Gambar 4.3 Bakteri Staphylococcus aureus penyebab bisul
(Sumber: Wilson et al., 1995)

2) Clostridium tetani.
Tetanus atau lockjaw adalah penyakit akut yang menyerang sistem
saraf pusat yang ditandai dengan kontraksi otot berkepanjangan
(Rampengan, 2008). Gejala klinis utama disebabkan oleh tetanospasmin,
suatu neurotoksin yang diproduksi oleh spore-forming bakteri gram positif
obligat anaerob Clostridium tetani (lihat gambar 4.4). Infeksi seringkali
timbul melalui Spora Clostridium tetani yang biasanya masuk kedalam
tubuh melalui luka pada kulit karena terpotong, tertusuk ataupun luka
bakar serta pada infeksi tali pusat (Tetanus Neonatorum) (Novie, dkk.,
2012).

Gambar 4.4. Clostridium tetani


(Sumber: Novie, dkk., 2012).

12
2.4 Cara Masuk Mikroba melalui Saluran Genitouriner
Sistem genitouriner merupakan sistem yang terdiri dari sistem urinaria dan
sistem genitalia. Dimana sistem urinaria dibagi menjadi traktus urinarius
bagian atas dan bagian bawah. Traktus urinarius bagian atas terdiri dari ginjal,
pelvis renalis dan ureter, sedangkan traktus urinarius bagian bawah terdiri dari
vesika urinaria dan uretra. Untuk sistem genitalia eksterna pada pria dan
wanita berbeda, pada pria terdiri dari penis, testis dan skrotum; sedangkan
wanita berupa vagina, uterus dan ovarium (Snell, Richard S. 2000).
Menurut Departemen Farmakologi dan Terapeutik (2007) infeksi saluran
kemih adalah sebuah kondisi medis umum yang mengakibatkan angka
morbiditas dan mortalitas yang signifikan. 50 - 60% dari wanita akan
mengalami ISK setidaknya satu kali dalam hidup mereka. Mencapai 10% dari
wanita menopause mengalami sekali ISK setiap tahun. Sedangkan pria
memiliki insidensi ISK yang jauh lebih rendah (5 per 10.000 per tahun).
Wanita memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita ISK dari pada laki-
laki. Hal ini dikarenakan oleh:
1. Ujung uretra sangat berdekatan dengan anus dan vagina, sehingga kuman
dari anus / vagina mudah berpindah ke saluran kemih.
2. Ketika berhubungan seks, kuman yang ada di bagian luar saluran kemih
bisa ikut terdorong masuk ke urethra.
3. Kebiasaan menahan buang air kecil setelah berhubungan seks memberi
peluang kuman tinggal lebih lama di saluran kemih dan menginfeksinya.
4. Perubahan hormonal selama kehamilan dan pergeseran posisi saluran
kemih.
5. Berkurangnya kadar esterogen pada saat menopause yang menyebabkan
penipisan bagian dalam saluran kemih sehingga lebih mudah teriritasi /
terinfeksi.
Selain itu pada orang tertentu yang juga memiliki resiko lebih tinggi
untuk menderita Infeksi Saluran Kemih yaitu:
1. Pengguna kateter untuk pengeluaran air seni, misal: pada usia lanjut yang
tidak dapat mengontrol kebiasaan buang air kecil.
2. Penderita diabetes mellitus: karena adanya perubahan system kekebalan.

13
ISK secara umum diklasifikasikan sebagai infeksi yang melibatkan saluran
kemih bagian atas atau bawah :
1. Infeksi saluran kemih bawah
a. Sistitis
Sistitis (cystitis) adalah inflamasi akut pada mukosa kandung kemih akibat
infeksi oleh bakteri. Sistitis merupakan inflamasi kandung kemih yang disebabkan
oleh penyebaran infeksi dari uretra (Nursalam & Fransisca, 2009). Seperti terlihat
pada gambar (2.1.1) penyakit ini disebabkan oleh berkembangbiaknya
mikroorganisme di dalam kandung kemih. Infeksi kandung kemih menunjukkan
adanya invasi mikroorganisme dalam kandung kemih, dapat mengenai laki-laki
maupun perempuan semua umur yang ditunjukkan dengan adanya bakteri didalam
urin disebut bakteriuria (Snell, Richard S., 2000).
Infeksi ini ditemukan pada semua kalangan, pria dan wanita mulai bayi
baru lahir hingga orang tua. Wanita lebih sering mengalami sistitis dibanding pria.
Kejadian sistitis rata-rata 9.3% pada wanita diatas 65 tahun dan 2.5-11% pada pria
di atas 65 tahun (Smyth & O’Connell, 1998). Sistitis disebabkan oleh berbagai
macam mikroorganisme, terbanyak adalah bakteri. Bakteri gram negatif yang
sering dilaporkan sebagai penyebab tersering ISK adalah Escherichia coli. Selain
itu juga ada Pseudomonas aeruginosa, Enterococcus, Proteus mirabilis yang juga
dapat menyebabkan sititis (Smyth & O’Connell, 1998).

Gambar 2.4.1 Infeksi saluran kemih bagian atas dan bagian bawah (Sumber :
http://obatliverherbal.com/obat-alami-untuk-mengobati-infeksi-saluran-kemih/).

14
b. Prostatitis
Prostatitis terjadi pada pria. Prostatitis ditandai dengan perasaan tidak enak
pada daerah perineum dan suprapubis, demam, nyeri kencing sampai hematuri,
spasme otot uretra sehingga terjadi retensi urin, tenesmus ani, sulit buang air besar
dan obstipasi. Terasa tidak enak pada perineum bagian dalam dan rasa tidak enak
bila duduk terlalu lama (Snell, Richard S. 2000).
2. Infeksi saluran kemih atas
a. Pielonefritis
Pielonefritis merupakan peradangan pada ginjal. Menurut Sukandar (2006)
pielonefritis dibagi menjadi dua yaitu Pielonefritis akut (PNA) dan Pielonefritis
kronis (PNK). Proses inflamasi parenkim ginjal yang disebabkan infeksi bakteri.
infeksi bakteri pada jaringan ginjal yang dimulai dari saluran kemih bagian bawah
terus naik ke ginjal. Pielonefritis kronis (PNK), Terjadi akibat infeksi yang
berulang-ulang, sehingga kedua ginjal perlahan-lahan menjadi rusak.
Menurut Coyle dan Prince (2005) dari berbagai macam penyakit ISK yang
disebabkan oleh mikroba dapat masuk ke dalam saluran kemih dengan tiga cara
yaitu:
1. Asenden yaitu jika masuknya mikroorganisme adalah melalui uretra dan
cara inilah yang paling sering terjadi.
2. Hematogen (desenden), terjadi infeksi pada ginjal yang akhirnya menyebar
sampai ke dalam saluran kemih melalui peredaran darah.
3. Jalur limfatik, jika masuknya mikroorganisme melalui sistem limfatik
yang menghubungkan kandung kemih dengan ginjal namun yang terakhir
ini jarang terjadi.

3. Gonore (Kencing nanah)

DIsebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae atau bakteri gonococcus, pada pria


infeksi biasa terjadi pada saluran kemih sedangkan wanita pada mulut rahim.
Umumnya ditemukan dengan infeksi klamidia. Tempat infeksi pada epitel mukosa

15
uretra, rectum, serviks, konjungtiva, dll. Pada pewarnaan gram akan menunjukan
diplokoki Gram-negatif dalam neutrophil. (Nursalam & Fransisca, 2009).
Biasanya infeksi yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae ditularkan
dengan kontak fisik seperti berhubungan intim dengan lawan jenis yang terdapat
Neisseria gonorrhoeae. Namun dapat ditularkan juga oleh ibu kepada bayinya saat
proses kelahiran. Pada saat proses melahirkan bayi dikeluarkan melalui lubang
vagina, penyakit ini dapat menualr pada bayi saat proses persalinan. Pada bayi
yang mengidap penyakit gonor umumnya bakteri ini menjangkiti mata bayi,
hingga berpotensi mengakibatkan kebutaan permanen. Maka dari itu kesehatan
vagina juga perlu diperhatikan agar bayi yang dilahirkan sehat tanpa terkena
penyakit. (Sukandar, 2006).

4. Kutil Genital

Disebabkan oleh Human Papillomavirus (HPV), pada pria biasa terjadi


pada batang penis dan meatus sedangkan pada wanita biasa terjadi di region peri-
anal, vulva, dan perineum. Penyakit ini menular, ditandai dengan munculnya
benjolan-benjolan berukuran kecil. Penyakit ini dapat ditularkan dengan mudah
melalui kontak kulit seperti berhubungan seks. Selain tumbuhnya benjolan pada
area kelamin, kutil ini juga dapat tumbuh dalam mulut bahkan tenggorokan.
Kanker serviks juga dapat disebabkan oleh Human Papillomavirus. Virus ini
menginfeksi bagian epitel lalu menetap dan berkembang didalamnya sehingga
mempengaruhi sel. Ada banyak tipe HPV, 4 diantaranya 6,11,16 dan 18 adalah
yang sering menginfeksi manusia. jenis yang menyebabkan kanker Rahim adalah
HPV tipe 16 dan 18 sedangkan yang menyebabkan kutil kelamin tipe 6 dan 11.
(Smytg & O’Connell, 1998)

5. Herpes Genital

Disebabkan oleh virus Herpes Simpleks (biasanya tipe 2 tetapi juga tipe
1). Umumnya terjadi pada usia 16-24 tahun. Dapat dikenali dengan kemunculan
luka melepuh berwarna kemerahan dengan timbulnya vesikula (peninggian kulit)

16
dan terasa sakit disekitar area kelamin. Luka ini bisa pecah dan menjadi luka
terbuka. Penularan Herpes Simplek atau HSV inin masuk kedalam tubuh melalui
membrane mukosan dalam tubuh. Virus ini seringkali menetap di tubuh manusia
dan suatu saat bias aktif kembali. Mayoritas kesus herpes genital disebabkan oleh
HSV tipe 2, HSV tipe 1 biasanya menginfeksi daerah pinggang keatas sedangkan
tipe 2 menginnfeksi pinggang kebawah terutama bagian kelamin. Virus ini mudah
menular dan penularannya melalui kontak langsung dari orang yang terinfeksi.
Bila seseorang terkena HSV, maka HSV aka menginfeksi dalam kulit dan
kemudian terjadi penggabungan materi genetic virus dengan DNA hospes untuk
mengadakan replikasi sehingga bagian kulit yang terinfeksi akan menimbulkan
kelainan pada kulit. Virus akan menjalar melalui serabut saraf sensorik ke
ganglion saraf dan berdiam secara permanen ini disebut infeksi primer. Orang
yang sudah sembuh dari Herpes ini juga kadang dapat mengalaminya kembali
setelah beberapa tahun karena HSV yang terdapat didalam tubuhnya menginfeksi
dan aktif megadakan replikasi kembali ini disebut infeksi rekurens (Nursalam &
Fransisca, 2009).

6. Sifilis

Disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum, bakteri Gram-negatif


berbentuk spiral. Penularan umumnya melalui kontak seksual. Infeksi juga dapat
terjadi dari ibu ke janin selama kehamilan atau saat kelahiran. Sifilis ditandai
dengan ruam yang menyebar. Bakteri ini mampu menembus membrane mukosa
dengan menginfeksinya. (Nursalam & Fransisca, 2009).

17
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Cara masuk mikroba ke dalam tubuh manusia terbagi menjadi 4, yaitu
melalui saluran perafasan, saluran pencernaan, kulit dan saluran
genitouriner.
2. Mikroba dapat masuk kedalam saluran pernapasan melalui berbagai cara,
diantaranya
3. Mikroba dapat masuk kedalam saluran pencernaan melalui berbagai cara,
diantaranya
4. Mikroba dapat masuk kedalam kulit melalui berbagai cara, diantaranya
5. Mikroba dapat masuk kedalam saluran geitouriner melalui berbagai cara,
diantaranya melalui jalur asenden, desenden, dan limfatik.

3.2 Saran
1. Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis menyarankan agar para pembaca
khususnya kepada peneliti untuk dapat meningkatkan pemahamannya cara
masuk mikroba ke dalam tubuh manusia agar dapat mengaplikasikannya ke
dalam kehidupan, dan dapat meningkatkan taraf kehidupan bagi manusia
yang lain.
2. Penulis juga menyarankan kepada para mahasiswa untuk lebih
meningkatkan minatnya serta pemahamannya mengenai cara masuk
mikroba ke dalam tubuh manusia agar dapat menjadi generasi selanjutnya
yang lebih peduli akan kesehatan tubuh.
3. Kami menyadari makalah ini masih memiliki banyak kekurangan, oleh
sebab itu kami menyarankan kepada pembaca untuk tetap terus menggali
sumber-sumber yang menunjang.

18
DAFTAR RUJUKAN

Adisasmito, W. (2007). Faktor risiko diare pada bayi dan balita di Indonesia:
Systematic Review Penelitian Akademik Bidang Kesehatan Masyarakat.
Makara Kesehatan 11: 1-10.
Adnyana, I. K., Yulianah, E., Sigit, J. I., Fisheri, N., Insanu, M. 2004. Efek
Ekstrak Daun Jambu Biji Daging Buah Putih dan Jambu Biji Daging Buah
Merah Sebagai Antidiare. Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXIX,
No.1
Armbruster, Gertrude ; Longree, Karla. 1987. Quantity Food Sanitation. A Wiley-
Interscience Publication. Ithaca. New York.
Coyle, E. A. & Prince, R. A., 2005, Urinary Tract Infection and Prostatitis, in 7th
Edition. The McGraw Hill Comparies, Inc. USA.
Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 2007. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Gaya Baru.
Fock, K. M., Katelaris, P. Sugano, K., Ang, T. L., Hunt, R., Talley, N. J. 2009.
Second Asia-Pacific Consensus Guidelines for Helicobacter pylori
infection. J Gastroenterol Hepatol ;24(10): 587- 600
Fooks, L.J., Fuller, R. dan Gibson, G.R. (1999). Prebiotics, probiotics dan human
gut microbiology. International Dairy Journal 9: 53-61.
Locke, T., Keat, S., Walker, A., & Mackinnon, R. 2013. Microbiology and
Infectionus Diseases on The Move. Diterjemahkan oleh Dr. Rizqi
Akbarini. PT Indeks. Jakarta Barat.
Nursalam & Fransisca. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan
Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta: Salemba Medika.
Ogawa, M., Shimizu, K., Nomoto, K., Takahashi, M., Watanuki, M., Tanaka, R.,
Tanaka, T., Hamabata, T., Yamasaki, S., Takeda, Y. 2001. Protective
effect of Lactobacillus casei strain Shirota on Shiga toxin-producing
Escherichia coli O157:H7 infection in infant rabbits. Infection and
Immunity 69: 1101-1108.

19
Pelczar, M.J., Chan, E.C.S. 2007. Dasar-dasar mikrobiologi. Jilid ke-1.
Hadioetomo, R. S. , Imas, T., Tjitrosomo, S. S., Angka, S. L., penerjemah.
Jakarta: UI Press. Terjemahan dari: Elements of Microbiology.
Purnawijayanti, Hasinta. 2001. Sanitasi Higiene & Keselamatan Kerja Dalam
Pengolahan Makanan. Kanisius. Yogyakarta.
Ratnadevi, T., Barliana, M. I. Tanpa Tahun. Polimorfisme TLR-4 dan Pengaruh
Ras pada Infeksi Helicobacter pylori. Farmaka : Volume 4 Nomor 4
Smyth EG, O'Connell N. 1998. Complicated urinary tract infection. Drugs &
Therapy Perspectives.11(1): 63-6.
Snell, S.Richard, 1997. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran; Bagian
Ketiga, Alih Bhasa Jan Tambayong. Penerbit Buku Kedokteraan. Jakarta.
Sukandar E. 2006. Gagal Ginjal dan Panduan Terapi Dialisis. Bandung: Pusat
Informasi Ilmiah Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Padjajaran/RS Dr. Hasan Sadikin Bandung.

20