Anda di halaman 1dari 20

BAB I

LAPORAN PENDAHULUAN

1.1. DEFINISI

Intra-uterine growth restriction (IUGR) adalah suatu kondisi dimana janin


dalam rahim tidak memiliki laju pertumbuhan normal. berat badan lahir rendah
(BBLR) bayi dapat berupa; kecil untuk usia kehamilan (SAG), atau prematur, atau
keduanya. Bayi prematur adalah pertumbuhan rata-rata atau sesuai untuk usia
kehamilan (yang berarti bahwa pertumbuhan dalam kandungan normal, tetapi bayi
itu lahir sebelum cukup usia), ketika pertumbuhan dalam rahim pada usia
kehamilan muda, telah terhambat karena berbagai sebab, penyebab utama
plasenta yang abnormal.
(Cuningham, F Gary. 2001)

Pertumbuhan janin terhambat (PJT) ditegakkan apabila pada pemeriksaan


ultrasonografi (USG) perkiraan berat badan janin berada di bawah persentil 10
dibawah usia kehamilan atau lebih kecil dari yang seharusnya (sesuai grafik).
Terminologi “kecil untuk masa kehamilan” adalah berat badan bayi yang tidak
sesuai dengan masa kehamilan dan dapat muncul pada bayi cukup bulan atau
prematur. Pada umumnya janin tersebut memiliki tubuh yang kecil dan risiko
kecacatan atau kematian bayi kecil akan lebih besar baik pada saat dilahirkan
ataupun setelah melahirkan.

Janin yang terbelakang pertumbuhannya sangat cenderung mengalami


masalah-masalah seperti aspirasi mekonium, asfiksia, polisitemia, hipoglikemia,
dan keterbelakangan mental.
( Sinclair Constance.2010:92)

1.2. KLASIFIKASI IUGR

Secara klinis IUGR dibagi 3, berdasarkan waktu kapan mulai dan berapa
lamanya pengaruh yang menghambat pertumbuhan itu berlangsung.

1
1. Type 1. Simetrik IUGR

Type 1 IUGR menunjuk pada bayi dengan potensi penurunan


pertumbuhan. Type IUGR ini dimulai pada gestasi yang lebih awal, dan semua
fetus ini menurut perbandingan SGA.

IUGR ini memiliki kejadian lebih awal dari gangguan pertumbuhan janin
yang tidak simetris yang terjadi ketika fetus mengalami perpanjangan kekurangan
yang lebih awal akibat dari malnutrisi chorionic maternal, penyalahgunaan zat-zat
kimia, insufisiensi plasenta, atau gemeli. Faktor yang berkaitan dengan hal ini
adalah kelainan kromosom, kelainan organ (terutama jantung), infeksi TORCH
(Toxoplasmosis, Other Agents <Coxsackie virus, Listeria), Rubella,
Cytomegalovirus, Herpes simplex/Hepatitis B/HIV, Syphilis), kekurangan nutrisi
berat pada ibu hamil, dan wanita hamil yang merokok. Gangguan terjadi pada fase
Hiperplasia, di mana total jumlah sel kurang. Ukuran sel fetus normal tetapi
secara umum terjadi kekurangan yang menyeluruh pada badan. badan dan kepala
neonatus proporsional tetapi kecil (gangguan pertumbuhan yang proporsional).
Lingkar kepala turun dibawah persentil 10, ukuran otak kurang, dan berakibat
buruk yang permanen termasuk adanya kekurang perhatian pada masa kanak-
kanaknya, gelisah, dan perilaku bermasalah yang dihubungkan dengan jeleknya
hasil akademik yang ditunjukan.

Secara umum, IUGR Type 1 berhubungan dengan prognosisi yang tidak


baik ; ini berhubungan dengan kondisi phatologis yang menyebabkannya. Weiner
dan Wiliamson menunjukkan,ada tidak adanya factor resiko yang diidentifikasi
dari ibu, diperkirakan 25% beberapa fetus yang dinilai, hambatan pertumbuhan
yang dimulai lebih awal terjadi pada aneuploidy. Oleh karena itu, penilaian
sample darah pada umbilical (Percutaneus Umbillical Blood Sampling), betul
betul direkomendasikan untuk mengetahui Karyotype abnormal.

( Cuningham, F. Gary. 2005)

2
2. Type 2. Asimetrik IUGR

IUGR ini jumlahnya kira-kira 70 % dari semua kasus IUGR. Gangguan


pertumbuhan janin asimetris memiliki waktu kejadian lebih lama dibandingkan
gangguan pertumbuhan janin simetris. Akibat dari kekurangan nutrisi dan
defisiensi plasenta pada trimester kedua dan ketiga kehamilan menyebabkan
berbagai macam gangguan maternal yang meliputi hypoxic, vascular, renal
hematologic, dan gangguan kesehatan lingkungannya.

Gangguan terjadi pada fase Hipertrofi, di mana jumlah total sel normal
tetapi ukurannya lebih kecil. Beberapa organ lebih terpengaruh dibandingkan
yang lain, lingkar perut adalah bagian tubuh yang terganggu untuk pertama kali,
kelainan panjang tulang paha umumnya terpengaruhi belakangan, lingkar kepala
dan diameter biparietal juga berkurang. Faktor yang mempengaruhi adalah
insufisiensi (tidak efisiennya) plasenta yang terjadi karena gangguan kondisi ibu
termasuk diantaranya tekanan darah tinggi dan diabetes dalam kehamilan dalam
kehamilan. Ukuran sel yang kurang mengakibatkan atropi pada sel yang ada
sebelumnya tanpa mengurangi jumlah sel tersebut. Ukuran kepala pada masa
neonatus tampak besarnya tidak proporsional dengan badan karena pertumbuhan
kepala tidak terhambat (gangguan pertumbuhan yang tidak proporsional). Badan
mengandung sedikit lemak subkutan dan tampak panjang kurus. Secara umum
cadangan otot kurang, turgor kulit yang jelek, rambut yang tipis, perut yang
keriput, dan sutura terpisah dengan lebar, menunjukan asymmetrical IUGR. Pada
postnatal, terjadi kematangan Pertumbuhan dan perkembangan pada bayi, dan
berpotensi untuk perkembangan intelektual yang sangat baik.

Diperkirakan, 70% - 80% hambatan pada pertumbuhan fetus adalah type


2. IUGR ini seringkali berhubungan dengan penyakit ibu seperti Hipertensi
kronis, gangguan ginjal, Diabetus Mellitus dengan vaskulopaty, dan yang lainnya.

( Cuningham, F. Gary. 2005)

3
3. Intermediate IUGR

IUGR Intermediate menunjuk pada hambatan pertumbuhan yang


merupakan kombinasi Type 1 dan Type 2. Gangguan pertumbuhan pada type ini
diperkirakan terjadi selama fase pertengahan pertumbuhan- pada fase hyperplasia
dan hipertropi- yang mana terjadi pada usia kehamilan 20-28 minggu. Pada fase
ini, terjadi penurunan kecepatan mitosis dan peningkatan yang progesif secara
menyeluruh pada ukuran sel. Bentuk IUGR ini keadannya tidak sebanyak jika
dibandingkan dengan type1 dan 2, diperkirakan sekitar 5- 10%, dari semua
hambatan pertumbuhan fetus. Hipertensi kronis, Lupus Nepritis, atau penyakit
vascular ibu yang lainnya, menjadi berat dan jika terjadi lebih awal pada timeser
II akan mengakibatkan Intermediate IUGR dengan pertumbuhan simetrik dan
tidak memberikan efek Brain Sparring.

( Cuningham, F. Gary. 2005)

1.3. ETIOLOGI

1) Faktor Ibu

a. Penyakit hipertensi (kelainan vaskular ibu).

Pada trimester kedua terdapat kelanjutan migrasi interstitial dan


endotelium trophoblas masuk jauh ke dalam arterioli miometrium sehingga aliran
menjadi tanpa hambatan menuju retroplasenter sirkulasi dengan tetap. Aliran
darah yang terjamin sangat penting artinya untuk tumbuh kembang janin dengan
baik dalam uterus.

Dikemukakan bahwa jumlah arteri-arterioli yang didestruksi oleh sel


trophoblas sekitar 100-150 pada daerah seluas plasenta sehingga cukup untuk
menjamin aliran darah tanpa gangguan pada lumen dan arteri spiralis terbuka.

4
Gangguan terhadap jalannya destruksi sel trophoblas ke dalam arteri
spiralis dan arteriolinya dapat menimbulkan keadaan yang bersumber dari
gangguan aliran darah dalam bentuk “iskemia retroplasenter”.

Dengan demikian dapat terjadi bentuk hipertensi dalam kehamilan apabila


gangguan iskemianya besar dan gangguan tumbuh kembang janin terjadi apabila
iskemia tidak terlalu besar, tetapi aliran darah dengan nutrisinya merupakan
masalah pokok.

b.Kelainan uterus.

Janin yang tumbuh di luar uterus biasanya mengalami hambatan


pertumbuhan.

c.Kehamilan kembar.

Kehamilan dengan dua janin atau lebih kemungkinan besar dipersulit oleh
pertumbuhan kurang pada salah satu atau kedua janin dibanding dengan janin
tunggal normal. Hambatan pertumbuhan dilaporkan terjadi pada 10 s/d 50 persen
bayi kembar.

d.Ketinggian tempat tinggal

Jika terpajan pada lingkungan yang hipoksik secara kronis, beberapa janin
mengalami penurunan berat badan yang signifikan Janin dari wanita yang tinggal
di dataran tinggi biasanya mempunyai berat badan lebih rendah daripada mereka.

e.Keadaan gizi

Wanita kurus cenderung melahirkan bayi kecil, sebaliknya wanita gemuk


cenderung melahirkan bayi besar. Agar nasib bayi baru lahir menjadi baik, ibu
yang kurus memerlukan kenaikan berat badan yang lebih banyak dari pada ibu-
ibu yang gemuk dalam masa kehamilan.

Faktor terpenting pemasukan makanan adalah lebih utama pada jumlah


kalori yang dikonsumsi setiap hari dari pada komposisi dari kalori. Dalam masa

5
hamil wanita keadaan gizinya baik perlu mengkonsumsi 300 kalori lebih banyak
dari pada sebelum hamil setiap hari. Penambahan berat badan yang kurang di
dalam masa hamil menyebabkan kelahiran bayi dengan berat badan yang rendah.

f. Perokok

Kebiasaan merokok terlebih dalam masa kehamilan akan melahirkan


bayi yang lebih kecil sebesar 200 sampai 300 gram pada waktu lahir. Kekurangan
berat badan lahir ini disebabkan oleh dua faktor yaitu :

1)Wanita perokok, cenderung makan sedikit karena itu ibu akan kekurangan
substrat di dalam darahnya yang bisa dipergunakan oleh janin.

2) Merokok menyebabkan pelepasan epinefrin dan norepinefrin yang


menyebabkan vasokonstriksi yang berkepanjangan sehingga terjadi pengurangan
jumlah pengaliran darah kedalam uterus dan yang sampai ke dalam ruang
intervillus.

2) Faktor Anak

a. Kelainan congenital
b. Kelainan genetik
c. Infeksi janin, misalnya penyakit TORCH (toksoplasma, rubela,
sitomegalovirus, dan herpes).

Infeksi intrauterine adalah penyebab lain dari hambatan pertumbuhan


intrauterine.banyak tipe seperti pada infeksi oleh TORCH (toxoplasmosis, rubella,
cytomegalovirus, dan herpes simplex) yang bisa menyebabkan hambatan
pertumbuhan intrauterin sampai 30% dari kejadian. Infeksi AIDS pada ibu hamil
menurut laporan bisa mengurangi berat badan lahir bayi sampai 500 gram
dibandingkan dengan bayi-bayi yang lahir sebelum terkena infeksi itu.

Diperkirakan infeksi intrauterin meninggikan kecepatan metabolisme pada


janin tanpa kompensasi peningkatan transportasi substrat oleh plasenta sehingga
pertumbuhan janin menjadi subnormal atau dismatur.

6
3) Faktor Plasenta

Penyebab faktor plasenta dikenal sebagai insufisiensi plasenta. Faktor


plasenta dapat dikembalikan pada faktor ibu, walaupun begitu ada beberapa
kelainan plasenta yang khas seperti tumor plasenta. Sindroma insufisiensi fungsi
plasenta umumnya berkaitan erat dengan aspek morfologi dari plasenta.

Parameter klinik yang dapat digunakan untuk mendeteksi PJT


ketidaksesuaian usia gestasi dengan besar uterus, laju pertumbuhan terhambat,
atau pertambahan berat badan ibu yang kurang. Kejadian yang terbukti dengan
cara ini hanya 10-25%, sehingga perlu digabung dengan pemeriksaan dan USG
Doppler.

a. Manajemen pada kasus preterm dengan pertumbuhan janin terhambat lakukan


pematangan paru dan asupan nutrisi tinggi kalori mudah cerna, dan banyak
istirahat.

b. Pada kehamilan 35 minggu tanpa terlihat pertumbuhan janin dapat dilakukan


pengakhiran kehamilan.

c. Jika terdapat oligohidramnion berat disarankan untuk per abdominam.

d. Pada kehamilan aterm tergantung kondisi janin jika memungkinkan dapat dicoba
lahir pervaginam.

(James, David K. 2001:291)

1.4. PATOFISIOLOGI

1. Kondisi kekurangan nutrisi pada awal kehamilan

Pada kondisi awal kehamilan pertumbuhan embrio dan trofoblas


dipengaruhi oleh makanan. Studi pada binatang menunjukkan bahwa kondisi
kekurangan nutrisi sebelum implantasi bisa menghambat pertumbuhan dan
perkembangan. Kekurangan nutrisi pada awal kehamilan dapat mengakibatkan

7
janin berat lahir rendah yang simetris. Hal sebaiknya terjadi kondisi percepatan
pertumbuhan pada kondisi hiperglikemia pada kehamilan lanjut.

2. Kondisi kekurangan nutrisi pada pertengahan kehamilan

Defisiensi makanan mempengaruhi pertumbuhan janin dan plasenta, tapi


bisa juga terjadi peningkatan pertumbuhan plasenta sebagai kompensasi. Didapati
ukuran plasenta yang luas.

3. Kondisi kekurangan nutrisi pada akhir kehamilan

Terjadi pertumbuhan janin yang lambat yang mempengaruhi interaksi


antara janin dengan plasenta. Efek kekurangan makan tergantung pada lamanya
kekurangan. Pada kondisi akut terjadi perlambatan pertumbuhan dan kembali
meningkat jika nutrisi yang diberikan membaik. Pada kondisi kronis mungkin
telah terjadi proses perlambatan pertumbuhan yang irreversibel.

(Hacker.2001:125)

Tanda dan Gejala

a. Gangguan pada uterus dan janin untuk tumbuh normal diatas periode 4 minggu.
b. TFU paling sedikit kurang 2 cm dari harapan untuk jumlah terhadap usia
kehamilan dari pengukuran TFU sebelumnya.
c. Kekurangan penambahan berat badan ibu.
d. Gerakan janin yang kurang.
e. Kekurangan volume cairan amnion.
f. Lingkaran abdomen kecil (ukuran hepar yang kecil)
g. Tungkai yang kurus (masa otot ↓)
h. Kulit keriput ( lemak subkutis ↓)

Bila penyebab PJT asimetrik berlangsung lama maka janin akan


kehilangan kemampuan untuk melakukan kompensasi → terjadi PJT simetrik.
Terhentinya pertumbuhan dan perkembangan kepala akan berdampak besar
terhadap proses tumbuh kembang anak nantinya. PJT patut diduga bila ukuran

8
uterus tidak sesuai dengan usia kehamilan → konfirmasi dengan pemeriksaan
ultrasonografi.

(Sinclair Constance.2010:99)

1.5. DIAGNOSIS

IUGR dapat terlewat tidak terdiaknosis kecuali jika ahli obstetrik


menetapkan umur gestasi yang benar pada janin, mengenali faktor-faktor beresiko
tinggi dari data dasar obstetrik dan secara berkala menilai pertumbuhan janin
dengan ketinggian fundus/ultrasonografi. Salah satu dari peralatan yang paling
efektif dalam mendiagnosis IUGR adalah evaluasi sonografi pada parameter janin.
Karena penilaian sonografi yang berulang kali selama kehamilan tidak dapat
dilaksanakan pada setiap pasien, serangkaian pengukuran tinggi fundus rahim
harus menjadi alat penyaringan utama. Penialain sonografi yang lebih menyeluruh
harus dilakukan bila:

Tinggi fundus berkurang lebih dari 2 cm dibanding umur gestasi yang sudah
ditegakkan dengan baik atau

Ibu menghadapi keadaan yang beresiko tinggi seperti misalnya hipertensi


yang telah ada; penyakit ginjal yang kronis; diabetes yang parah dengan
keterlibatan pembuluh darah; pre eklampsi; penyakit virus; kecanduan pada
nikotin, alkohol, atau obat keras; atau adanya serum antikoagulan lupus atau
antibodi anti fosfolipid.

Kini, penilaian sonografi dilakukan terutama melalui serangkaian


penetapan 6 parameter:

1. Diameter biparietal janin (DBP)


2. Lingkar kepala
3. Lingkar perut
4. Rasio kepala terhadap tubuh
5. Panjang femur
6. Perhitungan berat janin.

9
Analisa kuantitatif tingkat IUGR tidak ditegakkan dengan baik. Kalau
pengkuran janin jatuh pada presentil ke sepuluh hingga ke 25 dari kurva
pertumbuhan, IUGR yang ringan harus dipertimbangkan. Bila pengukuran jatuh
dibawah persentil ke sepuluh, janin dianggap mengalami IUGR sedang.

Selama kehamilan terus berjalan, lingkar kepala tetap lebih besar dari lingkar
perut hingga kira-kira 34 minggu, dimana pada saat itu rasionya mendekati 1. Setelah
34 minggu, kehamilan yang normal disertai dengan lingkar perut yang lebih besar
dari lingkar kepala. Bila terjadi keterbelakangan pertumbuhan yang asimetris,
biasanya di akhir kehamilan, DBP pada dasarnya normal, sementara rasio kepala
terhadap lingkar perut adalah normal. Pada keterbelakangan pertumbuhan yang
simetris, rasio lingkar kepala terhadap perut mungkin normal, tetapi laju pertumbuhan
mutlak menurun dan perkiraan berat janin berkurang.

50%-90% dari bayi dengan manifestasi IUGR sewaktu lahir dapat dikenali
dengan serangkaian scan ultrasonik sebelum lahir. Keteliatiannya tergantung pada
mutu dari penilaian, kriteria yang digunakan untuk diagnosis dan efek intervensi yang
diterapkan saat diagnosis ini dilakukan. Contohnya, tidaklah luar biasa bila suatu
perbaikan dalam pertumbuhan janin diamati setelah intervensi misalnya berhenti
bekerja; istirahat di tempat tidur; modifikasi diet; dan pembatasan pengguanaan
tembakau, obat keras, dan alcohol

(Sinclair Constance.2010:94)

1.6. DIAGNOSIS BANDING

a. Ketidakakuratan tanggal kehamilan


b. Ketidakakuratan pengukuran tinggi fundus/taksiran berat badan janin
c. Oligohidramnion
d. Letak melintang

(Manuaba I Gede.2007:460)

10
1.7. KOMPLIKASI

1) Pada janin

a. Antenatal : gagal nafas dan kematian janin

b. Intranatal : hipoksia dan asidosis

c. Setelah lahir

 Secara Langsung

a. Asfiksia

b. Hipoglikemi

c. Aspirasi mekonium

Sindroma aspirasi mekonium (SAM) adalah kumpulan gejala yang


diakibatkan oleh terhisapnya mekonium ke dalam saluran pernafasan bayi. SAM
seringkali dihubungkan dengan suatu keadaan yang kita sebut fetal distress. Pada
keadaan ini, janin yang mengalami distres akan menderita hipoksia (kurangnya
oksigen di dalam jaringan). Hipoksia jaringan menyebabkan terjadinya
peningkatan aktivitas usus disertai dengan melemasnya spinkter anal. Maka
lepaslah mekonium ke dalam cairan amnion.

d. DIC
Disebarluaskan pembekuan intravascular (DIC), juga dikenal sebagai
konsumtif coagulopathy, adalah patologi aktivasi pembekuan (darah), mekanisme
yang terjadi dalam respon terhadap berbagai penyakit.

e. Hipotermi

f . Perdarahan pada paru

g. Polisitemia

11
Polisitemia adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan jumlah sel
darah merah akibat pembentukan sel darah merah yang berlebihan oleh sumsum
tulang. Polisitemia menyebabkan darah menjadi kental dan menyebabkan
berkurangnya kecepatan aliran darah ketika darah melalui pembuluh yang kecil.
Jika penyakitnya berat, bisa menyebabkan pembentukan bekuan darah di dalam
pembuluh darah. Kulit bayi tampak kemerahan atau kebiruan. Bayi tampak lemas,
pernafasannya cepat, refleks menghisapnya lemah dan denyut jantungnya cepat.

h. Hiperviskositas sindrom

Terjadi karena aliran darah terhambat, akibat darah yang lebih


kental. Kekebalan dapat terjadi karena volume dan jumlah sel bertambah atau
plasma lebih kental. Mata terlihat merah dengan pembuluh darah konjungtiva
bertambah. Fundus refleks berwarna merah tua dan fundus memperlihatkan
pengisian pembuluh darah yang berlerbihan sehingga lumen arteri dan vena
melebar, dismal peningkatan perkelokan.

i. Gangguan gastrointestinal

 Tidak langsung

Pada simetris IUGR keterlambatan perkembangan dimulai dari lambat dari


sejak kehamilan, sedangkan asimetris IUGR dimulai sejak bayi lahir di mana
terdapat kegagalan neurologi dan intelektualitas. Tapi prognosis terburuk ialah
IUGR yang disebabkan oleh infeksi kongenital dan kelainan kromosom.

2) Pada Ibu
a. Preeklampsi
b. Penyakit jantung
c. Malnutrisi

(Fadlun.2012:185)

12
Penatalaksanaan

Sebelum Kehamilan. Bagian yang penting dari obat pencegahan adalah


memperkirakan resiko yang dapat terjadi sebelum wanita menjadi hamil.
Perbaikan nutrisi dan berhenti merokok adalah dua pendekatan yang pasti
memperbaiki pertumbuhan janin pada wanita yang terlalu kurus atau yang
merokok atau keduanya. Bagi wanita yang antibodi antifosfolipidnya
berhubungan dengan kelahiran dari bayi penderita IUGR sebelumnya, aspirin
dosis rendah (81 mg/hari) pada kehamilan ini dapat mengurangi kemungkinan
berulangnya IUGR.

Antepartum. Begitu janin dikenali mengalami pengurangan pertumbuhan,


ahli obstetrik harus mengarahkan usahanya untuk mengubah setiap faktor yang
berkaitan yang dapat diubah. Karena nutrisi yang buruk dan merokok terutama
mempengaruhi berat lahir pada setengah dari kehamilan, penghentian merokok
dan perbaikan nutrisi dapat mempunyai suatu dampak positif. Wanita bekerja
yang kelelahan akan cenderung lebih mempunyai bayi dengan berat badan lahir
yang rendah. Istirahat di tempat tidur pada posisi lateral ini akan meningkatkan
aliran darah rahim dan mempunya potensi untuk memperbaiki nutrisi janin yang
menghadapi risiko.

Kuputusan Klinik yaang paling penting berkisar pada penentuan saat dan
cara bersalin. Sasarannya adalah mempercepat kelahiran sebelum terjadinya
gangguan janin tetapi setelah pematangan paru-paru janin. Ini membutuhkan
pemantauan janin yang terarur dengan uji non stres (NST=Nonstres Test), profil
biofisik, dan barangkali suatu uji tantangan oksitosin (OCT=Oxytocinchallenge
Test). Pada IUGR yang ringan, pengujian setiap minggu diindikasikan; pada
IUGR tegang, pengujian dua kali seminggu diindikasikan.

Kalau NST reaktif atau OCT negatif dan volume cairan amnion memadai,
kehamilan harus dibiarkan berlanjut, karena tidak ada data untuk menyokong
kelahiran dini dari bayi ini dengan tidak adanya bukti gawat janin. Rangkaian
penilaian ultrasonik untuk pertumbuhan janin harus dilakuakn pada selang waktu

13
tiga kali seminggu. Kalau NST menjadi non reaktif disertai dengan OCT yang
positif dan terdapat paru-paru janin yang matang (rasiolesitin terhadap
sfingomielin lebih besar dari 2), penghentian kehamilan diperlukan. Bila terdapat
oligohramnion, amniosintesis mungkin tidak aman. Kelahiran dapat dianjurkan
tanpa penilaian kematangan paru-paru karena janin ini sangat beresiko terhadap
asfiksia, dan stres yang berhubungan dengan IUGR biasanya mempercepat
pematangan paru-paru janin.

Selama beberapa tahun terakhir serangkaian penelitian telah menunjukkan


bahwa rasio sistolik terhadap diastolik arteri umbilikalis yang dipantau dengan
dopler adalah abnormal pada janin IUGR. Janin dengan keterbelakangan
pertumbuhan cenderung memiliki peningkatan resistensi untuk mengalir dan
untuk menunjukkan alira diastolik yang rendah, atau aliran aliran diastolik yang
terbalik. Teknik non invasif yang relatif sederhana ini dapat digunakan untuk
mengevaluasi pasien yang beresiko tinggi, tetapi penelitian lebih jauh harus
dilakukan dengan membandingkan ultrasonografi dopler dengan penegakan
parameter biofisik sebelum peran teknik ini dalam penilaian dan penanganan pada
keterbelakangan pertumbuhan janin

(Sinclair Constance.2010:95)

Tatalaksana farmakologis :

Aspirin dan Dipiridamol Aspirin atau asam asetilsalisilat, menghambat


enzim siklooksigenase secara ireversibel. Pemberian aspirin dosis rendah 1-
2 mg/kg/hari menghambat aktifitas siklooksigenase dan menghasilkan penurunan
sintesistromboksan. Pemberian aspirin dosis rendah berkaitan dengan
peningkatan berat lahir rata-rata sebesar 516 gram. Juga ditemukan peningkatan
yang bermakna pada berat plasenta. Dipiridamol, merupakan inhibitor enzim
fisfodiesterase, dapat menghambat penghancuran. cylic adenosine monophosphate
(cAMP). Ini akan meningkatkan konsentrasi cAMP yang dapat menyebabkan
trombosit lebih sensitive terhadap efek prostasiklin dan juga merangsang sintesis
prostasiklin yang menghasilkan vasodilatasi.

14
Beta mimetik obat ini memiliki berbagai efek pada aliran daerah
uteroplasenta. Salah satunya adalah merangsang adenilat siklase myometrium
yang menyebabkan relaksasi uterus. Relaksasi ini akan menurunkan resistensi
aliran darah uterus dan meningkatkan perfusi. Efek vasodilatasi langsung pada
arteri uterine juga meningkatkan perfusi uterus. Secara teori hal ini bermanfaat
pada pengobatan IUGR.

(Sinclair Constance.2010:96)

Prognosis:

Pada kasus-kasus PJT yang sangat parah dapat berakibat janin lahir mati
(stillbirth) atau jika bertahan hidup dapat memiliki efek buruk jangka panjang
dalam masa kanak-kanak nantinya. Kasus-kasus PJT dapat muncul, sekalipun
Sang ibu dalam kondisi sehat, meskipun, faktor-faktor kekurangan nutrisi dan
perokok adalah yang paling sering. Menghindari cara hidup berisiko tinggi,
makan makanan bergizi, dan lakukan kontrol kehamilan secara teratur dapat
menekan risiko munculnya PJT. Perkiraan saat ini mengindikasikan bahwa sekitar
65% wanita pada negara sedang berkembang paling sedikit memiliki kontrol 1
kali selama kehamilan pada dokter, bidan, atau perawat.

(Hacker, dkk. 2001)

Persalinan pada IUGR

Beberapa keadaan dimana janin dengan IUGR harus dilahirkan, adalah :

1. Janin dengan kromosom normal dengan usia kehamilan lebih dari 36 minggu
lengkap
2. Oligohidramnion pada kehamilan 36 minggu atau lebih
3. Deselerasi lambat berulang pada usia kehamilan berapapun
4. Tidak terdapat pertumbuhan pada pemeriksaan USG dalam jangka waktu 3
minggu. Sedangkan pada usia kehamilan kurang dari 36 minggu, persalinan
harus dipikirkan pada keadaan berikut ini :

15
a) Tidak terdapatnya pertumbuhan janin dalam jangka waktu 3 minggu dan
memiliki paru yang matang.
b) Anhidramnion pada kehamilan 30 minggu atau lebih.
c) Terdapat AEDF (absent umbilical artery end diastolic flow) dan REDF
(reversedumbilical artery end distolic flow).
d) Pola denyut jantung janin yang abnormal menetap.

 IUGR Pada Janin Mendekati Aterm

Persalinan secepatnya merupakan cara untuk mendapatkan hasil terbaik


bagi janinyang dicurigai IUGR pada atau mendekati aterm. Persalinan juga harus
dilakukan padakeadaan janin dengan IUGR dengan kromosom yang normal
dengan usia kehamilan lebihdari 36 minggu, terdapat oligohidramnion pada usia
kehamilan telah mencapai 34 minggu atau lebih,gambaran deselerasi lambat
berulang denyut jantung janin pada usia kehamilan berapapun, kehamilan di atas
36 minggu dengan dugaan adanya gangguan tali pusat, atau bilatidak terdapat
pertumbuhan janin pada pemeriksaan USG dalam jarak 3 minggu. Bilagambaran
denyut jantung janin baik, dapat dilakukan persalinan pervaginam. Seringkali
janindengan IUGR memiliki toleransi yang lebih buruk dibandingkan dengan
janin yang tumbuhnormal, sehingga persalinan perabdominam dibutuhkan bila
terjadi gangguan pada saat persalinan.

 IUGR Pada Janin Jauh Aterm

Bila IUGR didiagnosis sebelum usia kehamilan mencapai 34 minggu,


cairan amnion dan pengawasan antenatal menunjukkan hasil normal, maka
dianjurkan untuk dilakukanobservasi. Pemeriksaan USG dilakukan setiap 2-3
minggu. Selama terdapat pertumbuhan janin dan evaluasi terhadap janin normal,
kehamilan dapat dilanjutkan hingga paru janin matang. Amniosentesis untuk
menilai kematangan paru janin sering menolong untuk membuat keputusan.

Oligohidramnion merupakan petunjuk penting adanya IUGR, walaupun


volume air ketuban yang normal tidak menyingkirkan kemungkinan adanya

16
IUGR. Pada IUGR jauh dari aterm, tidak ada pengobatan khusus yang dapat
memperbaikikondisi. Tidak terdapat bukti yang cukup yang menunjukkan bahwa
istirahat dapatmempercepat pertumbuhan janin atau memperbaiki keadaan janin
dengan IUGR.Walaupun demikian, para ahli menyarankan istirahat pada posisi
miring, dimanacurah jantung dan mungkin juga perfusi plasenta menjadi
maksimal

(Cuningham, F. Gary. 2005)

Faktor Resiko

1. Ibu yang secara konstitusional kecil

Wanita berpostur kecil biasanya memiliki bayi yang lebih kecil. Tidak
jelas apakah fenomena ibu kecil melahirkan bayi kecil bersifat alami atau karena
lingkungan, tetapi lingkungan yang disedia kan oleh ibu lebih penting dalam
menentukan berat badan lair dari pada konstribusi genetiknya. Pada wanita yang
berat badannya rata-rata atau rendah, kurangnya peningkatan berat selama
kehamilan mungkin berkaitan dengan hambatan pertumbuhan janin. Akan
tetapi,jika ibu yang bersangkutan bertubuh besar dan sehat, pertambahan berat
yang kurang dari rata-rata tanpa penyakit ibu, kecil kemungkinan dengan
hambatan pertumbuhan janin yang signifikan.

2. Deprivasi sosial

Efek deprivasi sosial pada berat badan lahir berkaitan dengan efek faktor
gaya hidup yang menyertainya seperti merokok, penyalahgunaan alkohol dan zat
lain, dan kurang gizi. Wanita yang paling mengalami deprivasi sosial memiliki
bayi paling kecil dan tidak adanya sumber daya psikososial, meningkatkan resiko
hambatan pertumbuhan pada janin.

3. Penyulit Medis pada Ibu

Penyakit vaskular kronis, terutama jika diperberat oleh adanya


preeklamsia sering menyebabkan hambatan pertumbuhan. Preeklamsia itu sendiri

17
juga dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan janin, terutama jika
kehamilannya sebelum 37 minggu. Penyakit ginjal dapat disertai oleh hambatan
pertumbuhan janin. Janin dari wanita yang tinggal didaerah ketinggian biasanya
lebih ringan dibandingkan dengan mereka yang lahir dari ibu yang tinggal
didaerah yang lebih rendah. Janin dari wanita dengan penyakit jantung sianotik
sering mengalami hambatan pertumbuhan yang parah. Pada segian besar kasus,
anemia tidak menyebabkan hambatan pertumbuhan. Pengecualiannya antar lain
adalah anemia sel sabit atau anemia herediter lain yang berkaitan dengan penyakit
serius pada ibu.

4. Kelainan plasenta dan tali pusat

Sulosio plasenta parsial kronis, infark luas, atau korioangioma cenderung


menyebabkan hambatan pertumbuhan janin. Insersi marginal tali pusat dan
terutama insersi velamentosa lebih besar kemungkinannya disertai oleh hambatan
pertumbuhan janin.

5. Janin Multipel

Kehamilan dengan dua atau lebih janin lebih besar kemungkinannya


mengalami penyulit hambatan pertumbuhan satu atau lebih janin dibandingkan
dengan kehamilan tunggal. Memang, hambatan pertumbuahn dilaporkan terjadi
pada 10 sampai 15 persen janin kembar.

6. Kehamilan ekstrauterus

Janin yang tumbuh diluar uterus biasanya mengalami hambatan


pertumbuhan. Malformasi uterus ibu juga diaporkan berkaitan dengan gangguan
pertumbuhan janin.

(Leveno, J Kenneth, dkk. 2009)

Pencegahan

Beberapa penyebab dari PJT tidak dapat dicegah. Bagaimanapun juga,


faktor seperti diet, istirahat, dan olahraga rutin dapat dikontrol. Untuk mencegah

18
komplikasi yang serius selama kehamilan, sebaiknya seorang ibu hamil mengikuti
nasihat dari dokternya; makan makanan yang bergizi tinggi; tidak merokok,
minum alkohol dan menggunakan narkotik; mengurangi stress; berolahraga
teratur; serta istirahat dan tidur yang cukup. Suplementasi dari protein, vitamin,
mineral, serta minyak ikan juga baik dikonsumsi. Selain itu pencegahan dari
anemia serta pencegahan dan tatalaksana dari penyakit kronik pada ibu maupun
infeksi yang terjadi harus baik.

Hal-hal yang harus diperhatikan untuk mencegah PJT pada janin untuk setiap ibu
hamil sebagai berikut :

a. Usahakan hidup sehat.


Konsumsilah makanan bergizi seimbang. Untuk kuantitas, makanlah
seperti biasa ditambah ekstra 300 kalori/hari.
b. Hindari stress selama kehamilan.
Stress merupakan salah satu faktor pencetus hipertensi.
c. Hindari makanan obat-obatan yang tidak dianjurkan selama kehamilan.
Setiap akan mengkonsumsi obat, pastikan sepengetahuan/resep dokter
kandungan.
d. Olah raga teratur.
Olah raga (senam hamil) dapat membuat tubuh bugar, dan mampu
memberi keseimbangan oksigenasi, maupun berat badan.
e. Hindari alkohol, rokok, dan narkoba.
f. Periksakan kehamilan secara rutin.

Pada saat kehamilan, pemeriksaan rutin sangat penting dilakukan agar


kondisi ibu dan janin dapat selalu terpantau. Termasuk, jika ada kondisi PJT,
dapat diketahui sedini mungkin. Setiap ibu hamil dianjurkan melakukan
pemeriksaan setiap 4 minggu sampai dengan usia kehamilan 28 minggu.
Kemudian, dari minggu ke 28-36, pemeriksaan dilakukan setidaknya setiap 2
minggu sekali. Selanjutnya, lakukan pemeriksaan setiap 1 minggu sampai dengan
usia kelahiran atau 40 minggu. Semakin besar usia kehamilan, semakin mungkin

19
pula terjadi hambatan atau gangguan. Jadi, pemeriksaan harus dilakukan lebih
sering seiring dengan bertambahnya usia kehamilan.

(Fadlun.dkk.2012)

20