Anda di halaman 1dari 10

HEPATITIS C

A. Karakteristik Virus Hepatitis C


Hepatitis C merupakan penyakit
hepatitis yang disebabkan oleh virus
hepatitis C ( VHC ). Virus Hepatitis C (
VHC ) termasuk kelompok Flaviviridae
dan merupakan virus envelopet RNA
berantai tunggal dengan ukuran 50-60 nm.
Virus hepatitis C belum terbukti onkogenik
( menyebabkan timbulnya kanker ). Hal ini
disebabkan VHC bukan virus DNA.
Virus hepatitis C mempunyai
kemampuan untuk menekan jumlah
trombosit. Bila jumlah trombosit menurun
maka keberhasilan interferon untuk
pengobatan hepatitis C juga menurun. Hal ini berhubungan dengan tingkat fibrosis hati.
Sirosis hati merupakan tingkat fibrosis hati yang paling berat.
Gejala yang ditimbulkan pada penderita hepatitis C, antara lain jaundice ( kuning ),
lelah berkepanjangan, mual atau hilang nafsu makan, urin berwarna gelap, diare, nyeri
sendi, kulit gatal.

B. Struktur Virus
Virus Hepatitis C (hepatitis C virus, HCV) adalah virus berenvelop dan bermateri
genetik RNA dan menyebabkan hepatitis C.
Berdasarkan profil materi genetiknya, HCV
digolongkan menjadi enam genotip yaitu 1, 2, 3,
4, 5, dan 6. Virus ini menyerang hati dan
menyebabkan hepatitis C akut dan hepatitis C
kronis. Strukturnya terdiri atas envelop lipid yang
mengandung glikoprotein envelop E1 dan E2,
protein kapsid C yang membungkus materi

1|Hepatitis C
genetiknya, dan protein non-struktur (tidak diperlihatkan).
1. Genom HCV
HCV mempunyai genom RNA positif dengan ukuran 9,5 kilo basa. Genom
terdiri atas daerah yang tidak ditranslasi terletak pada ujung 5’ dan 3’ (5’ dan 3’ non-
translated region, NTR). Setelah 5’ NTR berlokasi gen yang mengkode protein struktur
yang terdiri atas nukleokapsid C (p22), glikoprotein envelop E1 (gp35) dan E2 (gp70),
gen pengkode protein non-struktur yang terdiri atas NS1 (p7), NS2 (p23), NS3 (p70),
NS4 (p8), NS4B (p27), NS5a (p56/58) dan NS5B (p68). NS2 adalah suatu protein
transmembran, NS3 adalah suatu metalloprotease, protease serin, RNA helikase, NS4a
dan NS4b adalah kofaktor, NS5A adalah protein yang menentukan resistensi terhadap
interferon, dan NS5A adalah suatu RNA polimerase. Baik protein struktur dan protein
non-struktur dihasilkan sebagai poliprotein yang kemudian mengalami modifikasi
pasca translasi yaitu pemotongan dengan protease.
2. Variasi genetik HCV
HCV mempunyai variasi genetik yang sangat tinggi dan sampai saat ini diketahui HCV
mempunyai 6 genotipe dengan
kemiripan di dalam genotipe adalah
91%. Diketahui pula, HCV mempunyai
lebih dari 50 subtipe dan kemiripan
diantara genotipe adalah 66-69%.
Klasifikasi genotipe didasarkan pada
urutan nukleotida gen NS5B dan
5’NTR. Pada individu yang terinfeksi
juga terdapat variasi nukleotida yang
disebut dengan ‘quasispecies’.
3. Reverse-transcription Polymerase Chain Reaction untuk HCV
Materi genetik HCV adalah RNA, oleh karena itu untuk mengamplifikasi
genom HCV maka RNA HCV diubah dulu menjadi DNA melalui transkripsi balik yang
dikatalisis oleh reverse trancritptase (RTase). DNA yang dihasilkan disebut dengan
cDNA (complementary DNA) dan kemudian diamplifikasi dengan PCR. Produk PCR
dapat dideteksi menggunakan pelacak yang spesifik untuk HCV. RT-PCR dapat
digunakan untuk penegakan diagnosis HCV, pemantauan terapi dan indikator
penyembuhan. Seorang penderita hepatitis C kronis yang telah diindikasikan untuk
diterapi harus ditentukan terlebih dahulu kandungan RNA HCVnya menggunakan RT-
2|Hepatitis C
PCR. Selama terapi, kandungan RNA HCV dipantau untuk mendapatkan informasi
apakah pasien responsif terhadap pengobatan atau tidak. Breakthrough dapat diterjadi
pada saat terapi dengan kenaikan RNA HCV dan ini disebabkan karena telah
munculnya resistensi virus terhadap obat yang digunakan. Penentuan kandungan RNA
HCV juga disarankan untuk dilakukan mengetahui terjadinya relapse yaitu peningkatan
kandungan RNA HCV setelah terapi selesai

C. Transmisi / Penularan Penyakit


Transmisi penyakit merupakan mekanisme penularan dimana unsure penyebab
penyakit dapat mencapai manusia sebagai host yang potensial. Mekanisme
tersebut meliputi cara agent meninggalkan reservoir, cara penularan untuk mencapai host
yang potensial (suseptibel), serta cara masuk ke host tersebut.
Pada penyakit Hepatitis C yang menjadi reservoirnya adalah manusia, maksudnya
disini adalah virus hepatitis C (HCV) berkembangbiak dalam tubuh manusia. Tetapi
beberapa penelititan didapatkan bahwa simpanse juga merupakan reservoir dari penyakit
hepatitits C ini.
Setelah HCV berkembangbiak di dalam tubuh manusia, maka HCV akan keluar dari
tubuh manusia untuk meginfeksi manusia lain. HCV keluar dari tubuh manusia (portal of
exit) melalui darah atau produk darah lainnya, seperti transplantasi organ. HCV juga keluar
dari reservoir melalui saluran urogenitalia, yaitu melalui hubungan seksual.
Kemudian HCV yang keluar dari portal of exit tadi, ditansmisikan ke host yang rentan
melalui beberapa cara, yaitu yang terutama adalah Transmisi Parenteral, yaitu melalui
darah atau produknya dan melalui jarum suntik. Berikut adalah cara transmisi penularan
penyakit Hepatitis C :
1. Blood Transmission
Hepatitis C merupakan Blood Borne Virus, transfusi darah dan produk darah
seperti transpalntasi organ yang belum melewati proses screening merupakan sumber
yang potensial dari transmisi HCV tersebut. Transmisi HCV melalui darah ini erat
kaitannya dengan Injection Drug Use, hal ini disebabkan karena penggunaan jarum
suntik yang tidak steril.
Misalnya bagi pengguna narkoba, berbagi jarum suntik merupakan hal yang
wajar bagi mereka. Oleh sebab itu, besar kemungkinannya penularan HCV di kalangan
pengguna narkoba suntik. Kemudian melalui transfuse darah, hal ini terjadi jika darah
tidak melewati screening, lalu kegiatan menindik tubuh (piercing) dan tattoo, jika tidak
3|Hepatitis C
menggunakan alat dan prosedur yang aman, maka risiko tertularnya HCV semakin
besar.
Penggunaan alat pribadi yang cenderung menimbulkan luka, seperti alat cukur,
gunting, sikat gigi dsb yang digunakan bersama, dapat juga menimbulkan risikonya
tertular HCV.
2. Sexual Contact
Hubungan seksual dapat menularkan virus hepatitis C, hal ini dapat terjadi jika
seseorang melakukan perilaku seks yang berisisko, walaupun persentase penularan
melalui sexual contact ini tidak terlalu besar yaitu sekitar 15%. Perilaku seks berisiko
tersebut adalah sebagai berikut :
a. Pengguna jasa PSK
b. Luka karena seks (kurangnya pelican pada vagina dapat meningkatkan penularan
melalui darah)
c. Memiliki lebih dari satu pasangan
d. Pria suka pria (homoseksual
e. Melakukan seks dengan orang yang terjangkit HCV
3. Vertical Transmission
Yaitu transmisi dari ibu yang psitif HCV kepada bayinya selama proses
kelahiran. Akan tetapi, vertical transmission ini jarang sekali terjadi, kira – kira 6 dari
100 kelahiran yang terjadi (3,6,13).
4. Nosomical Infections
Nosomical transmission biasanya terjadi pada pasien hemodialisis, transmisi ini terjadi
karena tidak memadainya teknik disinfeksi dan sterilisasi peralatan hemodialisis,
sehingga perlatan tersebut terkontaminasi oleh HCV.

D. Siklus Hidup
4|Hepatitis C
Partikel virus HCV (virion) mengenali sel yang peka terhadap infeksi HCV, terutama
adalah sel hepatosit. HCV mengempel melalui GAG dan reseptornya, kemudian HCV
akan diinternalisasi untuk masuk ke dalam endosom. Virion mengalami uncoating untuk
melepaskan RNA virus. Karena polaritas RNA HCV adalah positif, maka RNA tersebut
berfungsi sebagai mRNA dan dapat ditranslasi di dalam sitoplasma untuk menghasilkan
poliprotein. Poliprotein kemudian akan dipotong dengan protease virus dan RNA
polimerase, suatu RNA polimerase yang menggunakan RNA sebagai substrat (RNA-
dependent RNA polymerase) mengkatalisis pembentukan RNA negatif menggunakan
RNA positif sebagai cetakan dan menghasilkan RNA positif menggunakan RNA negatif
yang baru dibentuk sebagai cetakan. Virion dirakir di membran retikulum endoplasma
dimana protein E1 dan E2 disisipkan pada membran tersebut, protein virus lainnya dan
materi genetiknya dikemas kemudian dilepaskan ke luar sel melalui retikulum endoplasma
dan badan Golgi. Replikasi virus dikatalisis oleh RNA polimerase yang banyak
mengintroduksi kesalahan pada saat replikasi dengan frekuensi kesalahan 1.4 – 1.9 x 103
nukleotida/tahun, sehingga HCV banyak mengalami mutasi.

E. Respon Imun Terhadap Hepatitis C

5|Hepatitis C
Infeksi virus Hepatitis secara langsung merangsang produksi IFN oleh sel-sel
terinfeksi; IFN berfungsi menghambat replikasi virus.
Sel NK melisiskan berbagai jenis sel terinfeksi virus Hepatitis. Sel NK mampu
melisiskan sel yang terinfeksi virus Hepatitis walaupun virus Hepatitis menghambat
presentasi antigen dan ekspresi MHC I, karena sel NK cenderung diaktivasi oleh sel
sasaran yang MHC negatif.
Untuk membatasi penyebaran virus Hepatitis dan mencegah reinfeksi, sistem imun
harus mampu menghambat masuknya virion ke dalam sel dan memusnahkan sel yang
terinfeksi. Antibodi spesifik mempunyai peran penting pada awal terjadinya infeksi,
dimana ia dapat menetralkan antigen virus Hepatitis dan melawan virus sitopatik yang
dilepaskan oleh sel yang mengalami lisis. Peran antibodi dalam menetralkan virus Hepatitis
terutama efektif untuk virus Hepatitis yang bebas atau virus Hepatitis dalam sirkulasi.
Proses netralisasi virus Hepatitis dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya
dengan cara menghambat perlekatan virus Hepatitis pada reseptor yang terdapat pada
permukaan sel, sehingga virus Hepatitis tidak dapat menembus membran sel, sehingga
virus Hepatitis tidak dapat menembus membran sel; dengan demikian replikasi virus
Hepatitis dapat dicegah. Antibodi dapat juga mengahancurkan virus dengan cara aktivasi
komplemen melalui jalur klasik atau menyebabkan agregasi virus Hepatitis sehingga
mudah difagositosis dan dihancurkan melalui proses yang sama seperti diuraikan diatas.
Antibodi dapat mencegah penyebaran virus Hepatitis yang dikeluarkan dari sel yang telah
hancur. Tetapi sering kali antibodi tidak cukup mampu untuk mengendalikan virus yang
telah mengubah struktur antigennya dan yang nmelepaskan diri (budding of) melalui
membran sel sebagai partikel yang infeksius, sehingga virus dapat menyebar ke dalam sel
yang berdekatan secara langsung.. Walaupun tidak cukup mampu menetralkan virus
Hepatitis secara langsung, antibodi dapat berfungsi dalam reaksi ADCC.
Disamping respons antibodi, respons imun selular merupakan respons yang paling
penting, terutama pada infeksi virus yang non-sitopatik respons imun seluler melibatkan T-
sitotoksik, sel NK, ADCC dan interaksi dengan MHC kelas I. Peran IFN sebagai anti virus
cukup besar, khususnya IFN-α dan IFN-β. Dampak antivirus dari IFN terjadi melalui :
1. Peningkatan ekspresi MHC kelas I
2. Aktivasi sel NK dan makrofag
3. Menghambat replikasi virus. Ada juga yang menyatakan bahwa IFN menghambat
penetrasi virus ke dalam sel maupun budding virus dari sel yang terinfeksi.

6|Hepatitis C
Seperti halnya pada infeksi dengan mikroorganisme lain, sel T-sitotoksik selain bersifat
protektif juga dapat merupakan penyebab keruskan jaringan, misalnya yang terlihat pada
infeksi dengan virus LCMV (lympocyte choriomeningitis virus) yang menginduksi
inflamasi pada selaput susunan saraf pusat.

F. Pengobatan Hepatitis C
Tujuan dari pengobatan Hepatitis C adalah menghilangkan virus dari tubuh sedini
mungkin, sehingga dapat mengurani dampak buruk dari HCV tersebut. Tiga senyawa obat
yang biasa digunakan untuk pengobatan hepatitis C antara lain :
1. Interferon Alfa
Merupakan suatu protein yang dibuat secara alami oleh tubuh manusia untuk
meningkatkan sistem imunitas dan mengatur fungsi sel lainnya. Obat yang
direkomendasikan untuk penyakit Hepatitis C kronis adalah dari interferon alfa baik
dalam bentuk alami maupun sintetis .

2. Pegylated Interferon Alfa


Dibuat dengan menggabungkan molekul yang larutair yang disebut “polyethylene
glycol (PEG)” dengan molekul interferon alfa. Modifikasi interferon alfa ini lebih lama
ada dalam tubuh, dan penelitian menunjukkan lebih efektif dalam membuat respon
bertahan terhadap virus dari pasien Hepatitis C kronis disbanding interferon alfa biasa.

7|Hepatitis C
3. Ribavirin
Merupakan obat antivirus yang digunakan bersama interferon alfa untuk
pengobatan Ribavirin harus diberikan sesuai dengan berat badan. Pengobatan dengan
kombinasi ribavirin dan interferon akan menghasilkan respon ketika melawan virus.
Penderita dikatakan memiliki respon melawan virus jika jumlah virus Hepatitis C
begitu rendah sehingga tidak terdeteksi pada tes standar RNA virus.

8|Hepatitis C
G. Prevalensi Hepatitis C Di Asia, Indonesia, dan NTT

Di wilayah Asia Tenggara sekitar 30 juta orang merupakan carrier dari Hepatitis C dan
lebih dari 120.000 orang diperkirakan mengalami sirosis dan kanker hati. Sedangkan
Indonesia menempati peringkat ketiga dunia untuk penderita hepatitis terbanyak setelah
India dan China dengan jumlah penderita diperkirakan sebanyak 30 juta orang yang
mengidap penyakit hepatits B dan C.
WHO memperkirakan tujuh juta penduduk Indonesia mengidap virus hepatitis C dan
ribuan infeksi baru muncul setiap tahun namun 90 persen pengidap tidak menyadari kondisi
infeksi mereka.
Penelitian tentang prevalensi Hepatitis C di Indpnesia sudah dimulai sejak tahun
1990an, penelitian HCV ini dilakukan dengan meneliti ada tidaknya HCV pada darah yang
didonor.
Berdasarkan data yang diambil sejak tahun 2007 oleh Direktur Jenderal Pengendalian
Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan yang bekerja sama dengan
Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia dan PT Roche Indonesia, jumlah penderita Hepatitis
C di Indonesia cukup tinggi yakni berkisar antara lima juta hingga tujuh juta jiwa yang
tersebar di 11 provinsi, dengan 49 unit pengumpul data yang terdiri dari 13 rumah sakit
(RS), 24 laboratorium, dan 12 unit transfusi darah. Sebanyak 11 provinsi itu adalah DKI
Jakarta, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur,
Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Bali, Kalimantan, dan Papua. Selama periode itu telah

9|Hepatitis C
terkumpul 5.870 kasus hepatitis C di Indonesia. Dari pendataan itu, Depkes memperoleh
data kasus hepatitis C di lokasi pendataan yang menjadi proyek percontohan menurut umur,
yaitu terbanyak pada usia 30-59 tahun dengan puncak pada usia 30-39 tahun yang
berjumlah 1.980 kasus.

H. Metode Pemeriksaan Hepatitis C


Karena kenyataan bahwa infeksi HCV akut biasanya tanpa gejala, beberapa orang
didiagnosis selama fase akut. Pada orang-orang yang terus mengembangkan infeksi HCV
kronis, infeksi juga sering tidak terdiagnosis karena infeksi tetap asimtomatik sampai
dekade setelah infeksi ketika timbul gejala sekunder untuk kerusakan hati yang serius.
Infeksi HCV didiagnosis pada 2 langkah:
 Skrining untuk antibodi anti-HCV dengan tes serologi mengidentifikasi orang-orang
yang telah terinfeksi virus.
 Jika tes ini positif untuk antibodi anti-HCV, tes asam nukleat asam ribonukleat HCV
(RNA) diperlukan untuk mengkonfirmasi infeksi kronis karena sekitar 15-45% dari
orang yang terinfeksi HCV secara spontan membersihkan infeksi oleh respon imun
yang kuat tanpa perlu pengobatan. Meski tak lagi terinfeksi, mereka masih akan
menguji positif untuk antibodi anti-HCV.
Setelah seseorang telah didiagnosis dengan infeksi hepatitis C kronis, mereka harus
memiliki penilaian tingkat kerusakan hati (fibrosis dan sirosis). Hal ini dapat dilakukan
dengan biopsi hati atau melalui berbagai tes non-invasif.
Selain itu, orang-orang ini harus melakukan tes laboratorium untuk mengidentifikasi
genotipe hepatitis C regangan. Ada 6 genotipe HCV dan mereka merespon secara berbeda
terhadap pengobatan. Selain itu, adalah mungkin bagi seseorang untuk terinfeksi lebih dari
1 genotipe. Tingkat kerusakan hati dan virus genotipe yang digunakan untuk memandu
keputusan pengobatan dan manajemen penyakit.

10 | H e p a t i t i s C