Anda di halaman 1dari 21

MANAJEMEN PERSEDIAAN

Manajemen Persediaan yaitu bagian utama dari modal kerja, merupakan aktiva yang
pada setiap saat mengalami perubahan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud
dengan persediaan adalah suatu aktiva yang harus tersedia dalam perusahaan pada saat
diperlukan untuk menjamin kelancaran dalam menjalankan perusahaan.

Manajemen persediaan diperlukan untuk perusahaan dibidang industri manufaktur dan


perdagangan saja. Hal ini dikarenakan dalam aktifitas industri manufaktur dan perdagangan
didalamnya terdapat persediaan-persedeiaan. Berbeda dengan perusahaan jasa yang tidak
terdapat persediaan bahan baku atau persediaan bahan dangang unutk dijual kembali.
Persediaan dapat dikategorikan dalam bentuk barang jadi, barang setengah jadi dan barang
dalam proses.

1. Pengertian Manajemen Persediaan


Pada awal bab ini telah disinggung sedikit mengenai arti manajemen persediaan.
Memang benar persediaan merupakan unsur yang paling aktif dalam operasi
perusahaan dagang dan perusahaan industry serta perusahaan jasa. Tanpa adanya
persediaan, para pengusaha akan dihadapkan pada keadaan bahwa perusahaannya pada
suatu waktu tidak dapat memenuhi keinginan para pelanggannya sehingga kontinuitas
perusahaan dapat teranggu karena sumber utama pendapatan perusahaan berasal dari
penjualan persediaan. Ini berarti perusahaan akan kehilangan kesempatan untuk
memperoleh keuntungan yang seterusnya didapatkan.
Istilah persediaan memberikan pengertian yang berbeda-beda tetapi pada
dasarnya maksud dan tujuannya adalah sama. Berikut pendapat para ahli mengenai
manajemen persediaan:

1. C. Rolln Niwwonger, Philip E. Fess dan Carl S. Wareen


“istilah persediaan (inventories) merupakan barang dagangan yang
disimpan untuk dijual dalam operasi perusahaan dan merupakan barang
yang terdapat dalam proses produksi atau yang disimpan untuk tujuan
itu”.

1|Manajemen Persediaan
2. Prawirosentono
Persediaan adalah aktiva lancar yang terdapat dalam perusahaan dalam bentuk
persediaan bahan mentah (bahan baku / raw material, bahan setengah jadi / work in
process dan barang jadi / finished goods).

3. Ikatan Akuntansi Indonesia.


Menurut Standar Akuntansi Keuangan Indonesia, Manajemen persediaan
merupakan:
a. Tersedia untuk dijual (dalam kegiatan operasi normal)
b. Dalam proses produksi ( dalam kegiatan usaha normal)
c. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supllies) untuk digunakan
proses produksi atau pemberian jasa

Persediaan mempunyai arti dan peranan yang penting dalam suatu perusahaan.
Persediaan barang dagangan yang secara terus menerus dibeli dan dijual yang
merupakan salah satu unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan, baik itu
perusahaan dagang maupun perusahaan industry. Penjualan barang dagangan
merupakan sumber utama penghasilan bagi perusahaan, karena sebagian besar sumber
perusahaan tertanam dalam persediaan.

2. Jenis-jenis Persediaan
Jenis persediaan setiap perusahaan tidaklah sama. Karena setiap perusahaan
membutuhkan bahan persedian bergantung pada aktivitaas produksi yang dikerjakan.
Namun, secara teori persediaan yang terdapat dalam perusahaan dapat dibedakan atas:

2.1 Jenis Persediaan Menurut Fungsinya


a. Bacth Stock/Lot Size Inventory
yaitu persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat
bahan-bahan atau barang-barang dalam jumlah yang lebih besar yang
dibutuhkan pada saat itu. Jadi, dalam hal ini pembelian atas pembuatan yang
dilakukan dalam jumlah besar sedangkan penggunaan atau pengeluarannya
dalam jumlah kecil.

2|Manajemen Persediaan
Terjadinya persediaan karena pengadaan barang atau bahan yang
dilakukan lebih banyak lagi yang dibutuhkan. Keuntungan yang akan diperoleh
dari adanya Bacth Stock/Lot Size Inventory ini adalah :
- Memperoleh potongan harga pada harga pembelian
- Memperoleh efisiensi produksi (manufacturing economic) karena
adanya operasi (production run) yang lebih lama.
- Adanya penghematan dalam biaya pengangkutan

b. Fluctuation Stock
yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan
konsumen yang dapat diramalkan. Dalam hal ini perusahaan mengadakan
persediaan untuk dapat memenuhi permintaan konsumen. Apabila tingkat
permintaan menunjukkan keadaan yang tidak beraturan atau tidak tetap dan
fluktuasi permintaan yang sangat besar, maka persediaan yang dibutuhkan
sangat besar pula untuk menjaga kemungkinan naik turunnya permintaan
tersebut.

c. Anticipation Stock
yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan
yang dapat diramalkan berdasarkan pola musiman yang terdapat dalam satu
tahun dan untuk menghadapi penggunaan/penjualan atau permintaan yang
meningkat. Disamping itu, menurut Rangkuti Freddy dalam buku Manajemen
Persediaan, “anticipation stock juga dimaksudkan untuk menjaga kemungkinan
sukarnya diperoleh bahan-bahan sehingga tidak mengganggu jalannya produksi
atau untuk menghindari kemacetan produksi”.

2.2 Jenis Persediaan Menurut Cara Pengolahannya Dan Posisi Barang


a. Persediaan bahan baku (Raw Material Stock)
yaitu persediaan dari barang-barang berwujud yang digunakan dalam
proses produksi.

b. Persediaan bagian produksi / parts yang dibeli (Purchased Parts/Component


Stock)
3|Manajemen Persediaan
yaitu persediaan barang yang terdiri dari parts yang diterima dari
perusahaan lain yang dapat secara langsung tanpa melalui proses produksi
selanjutnya.

c. Persediaan bahan pembantu / bahan-bahan pelengkap (supplier Stock),


yaitu persediaan barang-barang atau bahan-bahan yang diperlukan
dalam proses produksi untuk membantu berhasilnya produksi atau yang
dipergunakan dalam bekerjanya suatu perusahaan tetapi tidak merupakan
bagian atau komponen dari barang jadi.

d. Persediaan barang setengah jadi / barang dalam proses (Works in


Process/Progress),
yaitu barang-barang yang dikeluarkan dari tiap-tiap bagian dalam suatu
pabrik atau bahan-bahan yang diolah menjadi suatu bentuk tetapi masih perlu
diproses kembali untuk kemudian menjadi barang jadi.

2.3 Persediaan Hubungan antara Produksi dan Penjualan Produk.


Perseddiaan dalam kategori hubungan antara produksi dan penjualan produk
terdiri dari dua jenis, yaitu:
a. Perusahaan Dagang.
- Persediaan barang dagangan.
b. Perusahaan Manufaktur
- Persediaan bahan baku
- Persediaan barang dalam proses
- Persediaan barang jadi

3. Alasan Memiliki Persediaan


Laba yang maksimal dapat dicapai dengan meminimalkan biaya yang berkaitan
dengan persediaan. Namun meminimalkan biaya persiapan dapat dicapai dengan
memesan atau memproduksi dalam jumlah yang kecil, sedangkan untuk meminimalkan
biaya pemesanan dapat dicapai dengan melakukan pesanan yang besar dan jarang.
Jadi, meminimalkan biaya penyimpanan mendorong jumlah persediaan yang
sedikit atau tidak ada, sedangkan meminimalkan biaya pemesanan harus dilakukan

4|Manajemen Persediaan
dengan melakukan pemesanan ,persediaan dalam jumlah yang relatif besar, sehingga
mendorong jumlah persediaan yang besar.
Alasan yang kedua yang mendorong perusahaan menyimpan persediaan dalam
jumlah yang relative besar adalah masalah ketidakpastian permintaan. Jika permintaan
akan bahan atau produk lebih besar dari yang diperkirakan, maka persediaan dapat
berfungsi sebagai penyangga, yang memberikan perusahaan kemampuan untuk
memenuhi tanggal penyerahan sehingga pelanggan merasa puas.
Secara umum alasan untuk memiliki persediaan disebuah perusahaan adalah
sebagai berikut :
1. Untuk menyeimbangkan biaya pemesanan atau persiapan dan biaya
penyimpanan.
2. Untuk memenuhi permintaan pelanggan, misalnya menepati tanggal
pengiriman.
3. Untuk menghindari penutupan fasilitas manufaktur akibat :
a. Kerusakan mesin
b. Kerusakan komponen
c. Tidak tersedianya komponen
d. Pengiriman komponen yang terlambat
4. Untuk menyanggah proses produksi yang tidak dapat diandalkan.
5. Untuk memanfaatkan diskon
6. Untuk menghadapi kenaikan harga di masa yang akan datang

4. Fungsi dan Manfaat Manajemen Persediaan

Menurut Handoko Manajemen Persediaan memiliki banyak sekali fungsi dan


manfaat dalam sebuah perusahaan. Beberapa fungsi dari manajemen persediaan dapat
mempengaruhi kestabilan, kelancaran, keuntungan sebuah perusahaan. Fusngsi-fungsi
terrsebut antara lain yaitu:

5|Manajemen Persediaan
a. Fungsi Decoupling

Persediaan decoupling ini memungkinkan perusahaan dapat memenuhi


permintan langganan tanpa tergantung pada supplier. Untuk dapat memenuhi fungsi
ini dilakukan cara-cara sebagai berikut:

- Persediaan bahan mentah disiapkan dengan tujuan agar perusahaan tidak


sepenuhnya tergantung penyediaannya pada suplier dalam hal kuantitas dan
pengiriman.
- Persediaan barang dalam proses ditujukan agar tiap bagian yang terlibat dapat
lebih leluasa dalam berbuat.
- Persediaan barang jadi disiapkan pula dengan tujuan untuk memenuhi
permintaan yang bersifat tidak pasti dari langganan.

b. Fungsi Economic Lot Sizing

Tujuan dari fungsi ini adalah pengumpulan persediaan agar perusahaan dapat
berproduksi serta menggunakan seluruh sumber daya yang ada dalam jumlah yang
cukup dengan tujuan agar dapat menguranginya biaya perunit produk.

c. Fungsi Antisipasi

Perusahaan sering menghadapi ketidakpastian jangka waktu pengiriman dan


permintaan akan barang barang selama periode pemesanan kembali, sehingga
memerlukan kuantitas persediaan ekstra. Persediaan antisipasi ini penting agar proses
produksi tidak terganggu. Sehubungan dengan hal tersebut perusahaan sebaiknya
mengadakan seaseonal inventory (persediaan musiman).

Adapun manfaat dari persediaan adalah menjamin kebebasan atau kelancaran kegiatan
operasional internal dan eksternal sehingga permintaan pelanggan dapat terpenuhi tanpa
tergantung pemasok.

6|Manajemen Persediaan
PERTIMBANGAN MANAJEMEN PERSEDIAAN

Mengingat peranan dan fungsi manajemen dalam perusahaan begitu penting, maka
seorang manajer dalam mengambil keputusan atau kebijakan harus mempertimbangkan
sesuatu dengan matang dan teliti. Sehingga dalam pengambilan keputusan dan kebijakan tidak
merugikan sebuah perusahaan yang dikelolanya.
Pertimbangan pertimbangan yang harus di perhatikan tidaklah semudah mengucapkan
kata-kata. Melainkan harus dilakukan sebuah evaluasi dan metode-metode perhitungan
manajemen persediaan. Tujuannya tidak lain untuk meminimalisasi persediaan dan
menciptakan keuntungan yang sebesar-besarnya.
Pada bab ketiga ini akan membahas tentang hal-hal dan beberapa metode perhitungan
persediaan yang digunakan sebagai bahan pertimbangan seorang manajer dalam memanajemen
perseediaan.

1. Prinsip Pengendalian Manajemen Persediaan


Prinsip dalam mengendalikan persediaan sangat diperlukan dalam Manajemen
persediaan. Hal ini dikarenakan prinsip persediaan dijadikan sebagai salah satu
landasan dan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Menurut Matz, sistem dan
teknik pengendaliaan persediaan harus didasarkan pada prinsip-prinsip berikut:
a. Persediaan diciptakan dari pembelian bahan dan suku cadang, tambahan biaya
pekerja dan overhead untuk mengelola bahan menjadi barang jadi.

b. Persediaan berkurang melalui penjualan dan perusakan.

c. Perkiraan yang tepat atas jadwal penjualan dan produksi merupakan hal yang
esensial bagi pembelian, penanganan, dan investasi bahan yang efisien.

d. Kebijakan manajemen, yang berupaya menciptakan keseimbangan antara


keragaman dan kuantitas persediaan bagi operasi yang efisien dengan biaya
pemilikan persediaan tersebut merupakan faktor yang paling utama dalam
menentukan investasi persediaan.

e. Pemesanan bahan merupakan tanggapan terhadap perkiraan dan penyusunan


rencana pengendalian produksi.

7|Manajemen Persediaan
f. Pencatatan persediaan saja tidak akan mencapai pengendalian atas persediaan.

g. Pengendalian bersifat komparatif dan relatif, tidak mutlak.

2. Pertimbangan Manajemen Persediaan.


Banyak hal yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam
manajemen persediaan. Baik itu dari segi biaya, waktu, proses pemesanan, dan juga dari
jenis bahan persediaan yang dibutuhkan. Seorang manajer akan menganalisis itu semua
dengan pertimbangan yang sudah mereka tetapkan. Berikut beberapa hal yang dijadikan
sebagai bahan pertimbangan dalam manajemen persediaan:

1. Struktur Biaya Persediaan


Struktur biaya persediaan dapat kita kelompokkan sesuai dengan model
pemesannanya, seperti:
a. Biaya per unit (item cost)
b. Biaya penyiapan pemesanan (ordering cost)
- Biaya pembuatan perintah pembelian (purchasing order)
- Biaya pengiriman pemesanan
- Biaya transportasi
- Biaya penerimaan (Receiving cost)
- Jika diproduksi sendiri maka akan ada biaya penyiapan (set up cost):
surat
- menyurat dan biaya untuk menyiapkan perlengkapan dan peralatan.
c. Biaya pengelolaan persediaan (Carrying cost)
- Biaya yang dinyatakan dan dihitung sebesar peluang yang hilang
apabila nilai persediaan digunakan untuk investasi (Cost of capital).
- Biaya yang meliputi biaya gudang, asuransi, dan pajak (Cost of
storage). Biaya ini berubah sesuai dengan nilai persediaan.
d. Biaya resiko kerusakan dan kehilangan (Cost of obsolescence, deterioration
and loss).
e. Biaya akibat kehabisan persediaan (Stockout cost)

8|Manajemen Persediaan
2. Faktor yang mempengaruhi investasi dalam persediaan.
Faktor ini mencakup beberapa aspek yang berkaitan dengan proses
produksi dan daya tahan suatu persediaan. Beriut cakupapn dari faktor yang
mempengaruhi investasi dalam persediaan:
a. Tingkat Penjualan.
Semakin tinggi omzet penjualan maka makin besar investasi
persediaannya. Begitu juga sebaliknya. Jika omzet penjualannya rendah maka
persediaan akan sedikit.

b. Sifak Teknis dan Sifat Produksi


- Produksi pesanan => persediaan beragam dan banyak
- Produksi massal => persediaan bisa diatur

c. Lamanya Proses Produksi


Jika proses produksi persediaan lama maka akan mengakibatkan BDP
biayanya semakin mahal dan tidak efisien.

d. Daya Tahan Bahan Baku dan Produk Akhir


- Barang tahan lama => Persediaan relatif tinggi
- Barang tahan tidak lama => Persediaan relatif rendah
- Barang Musiman => Persediaan tinggii pada musimnya

e. Lama Pembelian dan pengiriman

3. Metode Perhitungan Manajemen Persediaan.

Penanganan persediaan tidak hanya dilakukan dengan melihat semata. Tetapi,


terdapat hal yang bisa dihitung untuk dijadikan sebagai bahan dalam menentukan
kebijakan dalam manajemen persediaan. Perhitungan dalam manajemen persediaan
banyak sekali jenisnya. Makalah ini akan membahas beberapa jenis perhitungan yang
sangat penting dalam manajemen persediaan dan juga sering digunakan dalam sebuah
perusahaan terutama dalam perusahaan industri manufaktur.

9|Manajemen Persediaan
Dalam perusahaan industri manufaktur, bahan baku diproses menjadi barang
jadi, kemudian dijual. Proses ini memerlukan waktu panjang sehingga modal yang
diinvestasikan dalam persediaan cukup besar dan perputarannya relatif lambat. Kondisi
yang demikian manajemen persediaan harus mendapatkan perhatian manajemen yang
sangat serius. Kelebihan persediaan akan mengakibatkan pemborosan penggunaan
modal, sedangkan kekurangan persediaan proses produksi bisa terganggu.

Mengelola persediaan dalam perusahaan industri manufaktur relatif lebih sulit


dibanding dengan mengelola persediaan dalam perusahaan dagang. Dalam perusahaan
dagang, persediaan barang dagangan dibeli untuk dijual; waktu yang dibutuhkan relatif
pendek, sehingga modal yang digunakan berputar relatif cepat.

Manajemen persediaan dalam perusahaan industri manufaktur dapat


dikategorikan menjadi dua, yaitu model Economic Order Quantity atau EOQ dan Tepat
Waktu atau Just in Time (JIT). Penggunaan model tersebut tergantung pada kebijakan
manajemen terhadap pemasok. Jika pemasok diperlukan sebagai pesaing, yaitu mencari
pemasok yang paling murah dapat menyediakan bahan baku, maka model EOQ lazim
digunakan. Tetapi jika pemasok diperlakukan sebagai partner bisnis yang setia dan
dinyatakan satu kesatuan dalam proses produksi, maka model JIT lazim digunakan.

3.1 Model Economic Order Quantity (EOQ).

Pada umumnya perusahaan menggunakan cara tradisional dalam


mengelola persediaan, yaitu dengan cara memiliki persediaan minimal untuk
mendukung kelancaran proses produksi. Di samping itu, perusahaan juga
memperhitungkan biaya persediaan yang paling ekonomis yang dikenal dengan
istilah Economic Order Quantity atau EOQ. EOQ akan menjawab pertanyaan
berapa banyak kualitas bahan baku yang harus dipesan dan berapa biayanya yang
paling murah atau paling ekonomis.
Biaya-biaya dalam manajemen persediaan sudah dipaparkan dalam bab
tiga dalam pertimbangan-pertimbangan manajemen persediaan. Pada bab ini kita
tinggal mengaitkan biaya-biaya yang sudah dipaparkan pada bab tiga dengan
metode EOQ. Pada umumnya biaya-biaya dalam manajemen persediaan saling
berkaitan dan dapat mempengaruhi harga persediaan. Sehingga seorang manajer

10 | M a n a j e m e n P e r s e d i a a n
harus jeli dan teliti dalam memutuskan berapa persedeiaan yang harus dibeli. Hal
ini tidak bisa dilihat dari kasat mata saja tentunya.
Metode ini, Manajemen harus menghitung biaya yang paling ekonomis
pada setiap jumlah barang yang dibeli (dipesan). Biaya tersebut adalah saling
hubungan antara harga bahan baku, biaya penyimpanan yang umumnya dihitung
berdasar persentase tertentu dari nilai persediaan rata-rata, jumlah bahan baku
yang dibutuhkan dalam satu periode misalnya dalam satu tahun, dan biaya
pesanan. Untuk itu mari kita bahas satu persatu agar lebih jelas dalam
memahaminya.

1. Total Biaya Penyimpanan Persediaan ( Total Carrying Cost / TCC)

Biaya penyimpanan persediaan dalam EOQ bersifat Variabel terhadap


jumlah inventori yang dibeli. Sehingga rumusnya sebagai berikut:

Dimana :
- Total Biaya Penyimpanan
Q = Kuantitas Pesanan
TCC = C. P. A S = Penjualan Tahunan
N = Frekuensi Pemesanan
- Persediaan Rata-Rata C = Biaya Penyimpanan
A = Q/2 P = Harga Beli Per Unit

=(S/N)/2
-

Biaya TCC ini mencakup sewa gudang, pemeliharaan barang didalam


gudang, modal yang tertanam dalam inventori, pajak dan ansuransi. Besarnya
biaya TCC dapat diperhitungkan dengan dua cara yaitu berdasarkan presentasi
tertentu dari nilai Inventori rata-rata dan berdasarkan biaya perunit barang yang
disimpan ( dari jumlah rata-rata).

2. Total Biaya Pemesanan ( Total Ordering Cost / TOC)

Biaya pemesanan persediaan dalam bersifat Variabel terhadap frekuensi


pesanan yang dibeli. Sehingga rumusnya sebagai berikut:

11 | M a n a j e m e n P e r s e d i a a n
Dimana :
- Total Biaya Pesanan
Q = Kuantitas Pesanan
S = Penjualan Tahunan
TOC = F. ( S / Q ) F = Biaya Tetap

3. Total Biaya Persediaan ( Total Inventory Cost / TIC)

Total Biaya Perseddiaan atau TIC ini didapat dari penjumlahan toatal
biaya persediaan dan total biaya pemesanan. Sehingga hasilnya diketahui total
biaya persediaan tersebut. Jadi rumusnya sebagai berikut:

Dimana :
- Total Biaya Persediaan
Q = Kuantitas Pesanan
TIC = TCC + TOC S = Penjualan Tahunan
N = Frekuensi Pemesanan
Atau C = Biaya Penyimpanan
P = Harga Beli Per Unit
TIC = C.P.( Q/2 ) + F. ( S/Q )

Ketiga perhitungan diatas bertujuan untuk mengetahui besaran biaya dimasing-


masing kategori. Setelah itu kita bisa mengaitkannya dengan Kuantitas Pemesanan
yang Ekonomis atau dikenal dengan EOQ ( Economic Ordering Quantity Model).
Terdapat dua dasar keputusan dalam model EOQ ini dalam manajemen
persediaan, diantaranya yaitu:
1. Berapa jumlah bahan mentah yang harus dipesan pada saat bahan tersebut perlu
dibeli kembali – Replenishment Cycle.
2. Kapan perlu dilakukan pembelian kembali – Reorder point.

12 | M a n a j e m e n P e r s e d i a a n
Rumus Model EOQ sebagai Beriku:

Dimana :

𝟐.𝐅.𝐒
EOQ = √ F = Biaya Tetap
𝐂.𝐏 S = Penjualan Tahunan
C = Biaya Penyimpanan
P = Harga Beli Per Unit

Model EOQ tidak lepas dari beberapa asumsi agar perhitungannya akurat.
Berikut ini beberapa asumsi mengenai model EOQ:
- Jumlah kebutuhan bahan mentah sudah dapat ditentukan lebih dulu secara pasti
untuk penggunaan selama satu tahun atau satu periode.
- Penggunaan bahan selalu pada tingkat yang konstan secara kontinyu
- Pesanan persis diterima pada saat tingkat persediaan sama dengan nol atau
diatas safety stock
- Harga konstan selama periode tersebut.

Metode EOQ memiliki kaitan dengan beberapa aktifitas disebuah industri


manufaktur, seperti aktifitas dalam manajemen persediaan di bawah ini:
- Permesanan ulang ( Reorder Point )
- Persediaan Pengaman (Safety Stocks)
- Penentuan Besaran Safety Stocks
Agar pemahaman tentang aktifitas diatas lebih mendalam lagi. Mari kita bahas
perhitungan atau rumus – rumusnya sekali lagi.

a. Pemesanan Ulang ( Reorder Point )


Pada dasarnya, sebuaah perusahaan dalam mempersiapkan bahan
persediaan tidak menunggu bahan perssediaan di gudang habis secara keseluruhan.
Hal ini dapat menghambat dan memperlambat proses produksi didalam perusahaan
tersebut. Sehingga seorang manajer akan menentukan titik minimum atau standar
dimana perusahaan harus melakukan pemesanan kembali untuk mengisi persediaan
yang telah kosong.

13 | M a n a j e m e n P e r s e d i a a n
Jika digambarkan dalam sebuah grafik akan berbentuk seperti dibawah
ini sebagai ilustrasi:

Gambar i: Grafik Ilustrasi Pemesanan Ulang

Dari grafik tersebut bisa kita tarik kesimpulan bahwa Rusmus


Pemesanan Ulang atau Reorder Point yaitu:

Titik Pemesanan Ulang

Waktu Tunggu X Tingkat Penggunaan

b. Persediaan Pengaman ( Safety Stocks )


Persediaan Pengaman ini memang disengaja disediakan oleh perusahaan
untuk dijadikan alternatif pengganti terhadap perubahan tingkat penjualan atau
keterlambatan produksi-pengiriman. Tujuannya tidak lain sebagai jaga-jaga agar
aktifitas disebuah perusahaan tidak berhenti.
Dari gambaran itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa persediaan awal
mengandung safety stock. Jadi bisa di simpulkan menjadi:

Persediaan Awal
EOQ + Safety Stock
Persediaan Rata-rata
( EOQ / 2 ) + Safety Stock

14 | M a n a j e m e n P e r s e d i a a n
Penentuan besar kecilnya Safety Stock dipengaruhi oleh faktor pengalaman,
Faktor dugaan, Faktor Biaya dan Faktor keterlambatan. Jadi, setiap perusahaan
dalam menentukan besar kecilnya safety stock persediaan tidaklah sama.
Contohnya sebagai berikut:
Diketahui:
- Penggunaan perhari 15 Kg.
- Keterlambatan Pengiriman 10 hari
Ditanya:
- Berapa besarnya Safety stock yang harus disiapkan??
Jawab:
Safety stock = Penggunaan per hari X Kendala atau faktor-faktor
= 10 x 15 kg
= 150 Kg.
Jadi Safety stock yang harus disediakan sebesar 150 kg.

Metode EOQ dalam manajemen persedian mempunyai kelebihan dan juga


kekurangan. Sehingga kita harus mengetahuinya. Berikut beberapa kelebihan dan
kelemahan dalam metode ini:

- Keunggulan Model EOQ:

1. Dapat dijadikan dasar penukaran (trade off) antara biaya penyimpanan dengan
biaya persiapan atau biaya pemesanan (setup cost).

2. Dapat mengatasi ketidakpastian penggunaan persediaan pengaman atau


persediaan besi (safety stock).

3. Mudah diaplikasikan pada proses produksi yang outputnya telah memiliki


standar tertentu dan diproduksi secara massal.

4. Lazim digunakan pada rumah sakit, yaitu pada persediaan obat. Jika ada pasien
yang sakit mendadak dan perlu obat segera, apotek rumah sakit dapat melayani
dengan cepat.

15 | M a n a j e m e n P e r s e d i a a n
- Kelemahan Model EOQ:

Hakikatnya model EOQ adalah model yang menempatkan pemasok


sebagai mitra bisnis sementara karena paradigma untung-rugi diterapkan pada
mereka, sehingga penggunaan model ini terjadi berganti-ganti pemasok, dan hal
ini dapat mengganggu proses produksi.

3.2 Model Periodic Order Quality (POQ).


Period Order Quantity (POQ) : Pendekatan menggunakan konsep
jumlah pemesanan ekonomis agar dapat dipakai pada periode bersifat permintaan
diskrit, teknik ini dilandasi oleh metode EOQ. Dengan mengambil dasar
perhitungan pada metode pesanan ekonomis maka akan diperoleh besarnya
jumlah pesanan yang harus dilakukan dan interval periode pemesanannya adalah
setahun.

PenggunaanPOQ:

 POQ digunakan sebagai pengganti EOQ, bila permintaan tidak uniform.


 Formula EOQ digunakan untuk menghitung waktu antarpemesanan
(economic time between orders)
 POQ = EOQ/Rata2 pemakaian per minggu
 Dengan POQ ini kuantitas pemesanan ditentukan oleh permintaan aktual,
sehingga akan menurunkan biaya penyimpanan (carrying cost).

3.3 Model Quantity Discount Model (QDM).

Dalam rangka meningkatkan volume penjualan seringkali perusahaan


(supplier) memberikan harga yang lebih rendah kepada pelanggan yang membeli
dalam jumlah yang lebih besar. Jadi harga per unit ditentukan semakin murah
dengan semakin banyaknya jumlah yang dibeli.
Dalam model potongan harga ini kita harus mempertimbangkan trade
off antara biaya pembelian dengan biaya penyimpanan, dimana semakin banyak
jumlah yang dibeli maka biaya pembelian per unit akan semakin menurun, tapi di
lain pihak biaya penyimpanan akan semakin meningkat

16 | M a n a j e m e n P e r s e d i a a n
3.4 Model Analisis ABC.

Analisis ABC adalah metode dalam manajemen persediaan (inventory


management) untuk mengendalikan sejumlah kecil barang, tetapi mempunyai
nilai investasi yang tinggi.

Analisis ABC didasarkan pada sebuah konsep yang dikenal dengan nama
Hukum Pareto (Ley de Pareto), dari nama ekonom dan sosiolog Italia, Vilfredo
Pareto (1848-1923). Hukum Pareto menyatakan bahwa sebuah grup selalu
memiliki persentase terkecil (20%) yang bernilai atau memiliki dampak terbesar
(80%). Pada tahun 1940-an, Ford Dickie dari General Electric mengembangkan
konsep Pareto ini untuk menciptakan konsep ABC dalam klasifikasi barang
persediaan.

Berdasarkan hukum Pareto, analisis ABC dapat menggolongkan barang


berdasarkan peringkat nilai dari nilai tertinggi hingga terendah, dan kemudian
dibagi menjadi kelas-kelas besar terprioritas; biasanya kelas dinamai A, B, C, dan
seterusnya secara berurutan dari peringkat nilai tertinggi hingga terendah, oleh
karena itu analisis ini dinamakan “Analisis ABC”. Umumnya kelas A memiliki
jumlah jenis barang yang sedikit, namun memiliki nilai yang sangat tinggi.

Dalam hal ini, saya akan menggunakan tiga kelas, yaitu: A, B, dan C, di
mana besaran masing-masing kelas ditentukan sebagai berikut (Sutarman, 2003,
pp. 144–145):

1. Kelas A, merupakan barang-barang dalam jumlah unit berkisar 15-20%


dari total seluruh barang, tetapi merepresentasikan 75-80% dari total nilai
uang.
2. Kelas B, merupakan barang-barang dalam jumlah unit berkisar 20-25%
dari total seluruh barang, tetapi merepresentasikan 10-15% dari total nilai
uang.
3. Kelas C, merupakan barang-barang dalam jumlah unit berkisar 60-65%
dari total seluruh barang, tetapi merepresentasikan 5-10% dari total nilai
uang.

17 | M a n a j e m e n P e r s e d i a a n
Besaran masing-masing kelas di atas akan membentuk suatu kurva
sebagaimana terlihat pada Gambar 1 di bawah ini.

Gambar ii: Kurva Analisis ABC

Adapun langkah-langkah atau prosedur klasikasi barang dalam analisis


ABC adalah sebagai berikut:

1. Menentukan jumlah unit untuk setiap tipe barang.


2. Menentukan harga per unit untuk setiap tipe barang.
3. Mengalikan harga per unit dengan jumlah unit untuk menentukan total
nilai uang dari masing-masing tipe barang.
4. Menyusun urutan tipe barang menurut besarnya total nilai uang, dengan
urutan pertama tipe barang dengan total nilai uang paling besar.
5. Menghitung persentase kumulatif barang dari banyaknya tipe barang.
6. Menghitung persentase kumulatif nilai uang barang dari total nilai uang.
7. Membentuk kelas-kelas berdasarkan persentase barang dan persentase
nilai uang barang.
8. Menggambarkan kurva analisis ABC (bagan Pareto) atau menunjuk
tingkat kepentingan masalah.

18 | M a n a j e m e n P e r s e d i a a n
Dengan analisis ABC, kita dapat melihat tingkat kepentingan masalah dari
suatu barang. Dengan begitu, kita dapat melihat barang mana saja yang perlu
diberikan perhatian terlebih dahulu.

3.5 Model Just In Time (JIT).


Salah satu metode untuk mengendalikan persediaan yang modern adalah
metode Just In Time atau bisa disebut juga JIT. Metode ini bertujuan untuk
meminimalkan biaya persediaan karena menggunakan metode JIT setiap
pemesanan dari konsumen akan langsung di produksi. Dalam JIT diusahakan
persediaan nol (atau paling tidak pada tingkat yang tidak signifikan), sehingga
penilaian persediaan menjadi tidak relevan untuk tujuan pelaporan keuangan.
Rumusan JIT yang digunakan adalah :

Dimana :
𝑰 + 𝑭𝟏 + 𝑿𝟐 . 𝑽𝟐 𝑿𝟏 = Unit produk yang harus
𝑿𝟏 =
𝑷 − 𝑽𝟏 dijual untuk mencapai
laba tertentu
I = Laba Sebelum Pajak
𝑭𝟏 = Total Biaya Tetap
𝑿𝟐 = Jumlah kuantitas Non
Unit
𝑽𝟐 = Biaya Variable Non Unit
𝑽𝟏 = Biaya Variable per unit
P = Harga Jual per unit

Pengawasan Persediaan
Hakikat dari pengawasan persediaan barang adalah mulai bahan baku dipesan
sampai produk jadi digunakan oleh konsumen, yang terdiri dari pengawasan fisik, nilai,
dan biaya. Pengawasan barang meliputi pengawasan bahan baku, bahan pembantu,
barang dalam proses, dan pengawasan barang jadi. Pengawasan bahan baku dan bahan
pembantu dimulai dari bahan dipesan sampai dengan permintaan pemakaian bahan
dalam proses produksi; pengawasan itu meliputi fisik (jumlah unit, kerusakan, keuangan,
kehilangan, dan tingkat perputaran), biayanya, dan nilainya dala bentuk satuan uang.

Pengawasan barang dalam proses meliputi produk cacat, produk rusak, produk
hilang dalam proses produksi. Sedangkan pengawasan barang jadi meliputi rencana
penjualan, jadwal pengiriman, dan pelayanan purna jual. Keempat jenis barang itu (bahan
baku, bahan pembantu, barang dalam proses, dan barang jadi) jumlah persediaannya

19 | M a n a j e m e n P e r s e d i a a n
secara fisik harus dikendalikan, agar tidak terjadi kekurangan dan kelebihan. Kekurangan
persediaan bahan baku dan bahan pemabantu dapat mengakibatkan proses produksi
terganggu, dan kekurangan persediaan barang jadi akan mengakibatkan kesulitan
memenuhi permintaan konsumen. Sebaliknya jika terjadi kelebihan persediaan, dapat
mengakibatkan modal yang ditanamkan dalam persediaan tersebut besar, dan biaya
modalnya besar

20 | M a n a j e m e n P e r s e d i a a n
DAFTAR PUSTAKA

- Rangkuti Freddy. 1995: Manajemen Persediaan. Cetakan Pertama, raja Grafindo Persada,
Jakarta
- Warren, Fess, Niswonger. 1999: Prinsip-Prinsip Akuntansi, edisi kesembilan belas, Jilid
1Penerbit Erlangga, Jakarta.
- Riyanto, Bambang. 1993: Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi kedua Cetakan
kedelapan, Yayasan Badan Penerbit Gajah Mada, Yogyakarta.
- Syamsuddin, M.A., Drs. Lukman. 2007: Manajemen Keuangan Perusahaan. Raja
Grafindo Persada. Jakarta.
- Brigham, Eugene F. Dan Joel F. Houston. 2001: Manajemen Keuangan. Erlangga. Jakarta.
- http://habibiarifin.blogspot.com/2010/05/manajemen-persediaan-inventory.html, diakses
pada tanggal 29 Maret 2013, pukul 16.00 WIB
- http://eriskusnadi.wordpress.com/2009/10/03/analisis-abc/. diakses pada tanggal 29 Maret
2013, pukul 16.00 WIB
- www.wikipedia.com.

21 | M a n a j e m e n P e r s e d i a a n