Anda di halaman 1dari 7

 INDIKATOR 1: Definisi JUB

Ada beberapa Pengertian Jumlah Uang Beredar. Di dalam membahas mengenai uang yang
terdapat dalam perekonomian sangat penting untuk membedakan diantara mata uang dalam
peredaran dan uang beredar. Mata uang dalam peredaran adalah seluruh jumlah uang yang
telah dikeluarkan dan diedarkan oleh Bank Sentral. Mata uang tersebut terdiri dari dua jenis
yaitu uang logam dan uang kertas. Dengan demikian mata uang dalam peredaran sama
dengan uang kartal. Sedangkan uang beredar adalah semua jenis uang yang ada di dalam
perekonomian yaitu jumlah dari mata uang dalam peredaran ditambah dengan uang giral
dalam bank-bank umum. Uang beredar atau money supply dibedakan menjadi dua pengertian
yaitu dalam arti sempit dan arti luas.2

Uang Beredar Dalam Arti Sempit (M1)

Uang beredar dalam arti sempit (M1) didefinisikan sebagai uang kartal ditambah dengan uang
giral (currency plus demand deposits).

M1 = C + DD

Dimana:

M1 = Jumlah uang beredar dalam arti sempit

C = Currency (uang cartal)

DD = Demand Deposits (uang giral)

Pengertian jumlah uang beredar dalam arti sempit (M1) bahwa uang beredar adalah daya beli
yang langsung bisa digunakan untuk pembayaran, bisa diperluas dan mencakup alat-alat
pembayaran yang “mendekati” uang, misalnya deposito berjangka (time deposits) dan
simpanan tabungan (saving deposits) pada bank-bank.

Uang Beredar Dalam Arti Luas (M2)

Berdasarkan sistem moneter Indonesia, uang beredar M2 sering disebut juga dengan likuiditas
erekonomian. M2 diartikan sebagai M1 plus deposito berjangka dan saldo tabungan milik
masyarakat pada bank-bank, karena perkembangan M2 ini juga bisa mempengaruhi
perkembangan harga, produksi dan keadaan ekonomi pada umumnya.

M2 = M1 + TD + SD
Dimana:

TD = time deposits (deposito berjangka)

SD = savings deposits (saldo tabungan)

Definisi M2 yang berlaku umum untuk semua negara tidak ada, karena hal hal khas masing-
masing negara perlu dipertimbangkan. Di Indonesia, M2 besarnyamencakup semua deposito
berjangka dan saldo tabungan dalam rupiah pada bank-bank dengan tidak tergantung besar
kecilnya simpanan tetapi tidak mencakup deposito berjangka dan saldo tabungan dalam mata
uang asing (Boediono, 1994).

Uang Beredar Dalam Arti Lebih Luas (M3)

Definisi uang beredar dalam arti lebih luas adalah M3, yang mencakup semua deposito
berjangka (TD) dan saldo tabungan (SD), besar kecil, rupiah atau mata uang asing milik
penduduk pada bank oleh lembaga keuangan non bank. Seluruh TD dan SD ini disebut uang
kuasi atau quasi money.

M3 = M2 + QM

Dimana:

QM = quasi money

Di negara yang menganut sistem devisa bebas (artinya setiap orang boleh memiliki dan
memperjualbelikan devisa secara bebas), seperti Indonesia, memang sedikit sekali perbedaan
antara TD dan SD dalam rupiah dan TD dan SD dalam dollar. Setiap kali membutuhkan
rupiah dollar bisa langsung menjualnya ke bank, atau sebaliknya. Dalam hal ini perbedaan
antara M2 dan M3 menjadi tidak jelas. TD dan SD dollar milik bukan penduduk tidak
termasuk dalam definisi uang kuasi (Boediono, 1994).

 INDIKATOR 2 : Jenis Uang Beredar

Berikut adalah jenis jenis uang yang beredar di Masyarakat :

1. Uang kartal

Uang kartal adalah alat pembayaran sah yang dikeluarkan oleh pemerintah suatu
negara melalui bank sentral yang berupa uang logam dan uang kertas. Uang kartal di
Indonesia dikeluarkan oleh Bank Indonesia dan dicetak oleh Perusahaan Umum Per-cetakan
Uang Republik Indonesia (Perum Peruri). Uang kartal terdiri atas uang logam dan uang
kertas.

2. Uang giral

Uang giral adalah simpanan atau deposito pada bank yang dapat diambil dengan
menggunakan cek, giro, atau surat perintah pembayaran lainnya (telegrafic transfer), yang
dicetak atau dibuat oleh bank umum/bank komersial.

Uang giral yang beredar di masyarakat terdiri atas:

- Cek adalah perintah yang diterima dari pihak lain sebagai alat untuk pembayaran,
atau perintah kepada bank untuk membayar dengan uang tunai,
- Giro, adalah alat untuk memindahkan uang giral ke rekening orang lain, tetapi
tetap uang giral bukan
- Uang tunai, dan Telegrafic transfer, adalah pemindahan pembayaran atas suatu
transaksi melalui bank.

Keuntungan menggunakan uang giral sebagai berikut.

- Memudahkan pembayaran karena tidak perlu menghitung uang


- Alat pembayaran yang dapat diterima untuk jumlah yang tidak terbatas, nilainya
sesuai dengan yang dibutuhkan (yang ditulis oleh pemilik cek/bilyet giro)
- Lebih aman karena risiko uang hilang lebih kecil dan bila hilang bisa segera
dilapokan ke bank yang mengeluarkan cek atau bilyet giro dengan cara
pemblokiran.

 INDIKATOR 3 : Mekanisme Penciptaan Uang

Dalam mekanisme penciptaan Uang terdapat tiga pelaku penciptaan uang : Otoritas
Moneter, Bank Umum, Sektor Swasta Domestik. Ketiga pelaku tersebut saling bersinergi
sehingga Deman dan Suplay berada pada keseimbangan yang diinginkan dimana Otoritas
moneter sebagai pencetak uang kartal, Bank umum sebagai pencipta Uang giral dan kuasi,
Sektor swasta domestik sebagai pengguna daripada uang yang di ciptakan otoritas moneter
dan bank umum. Otoritas moneter dalam hal ini disebut dengan Bank sentral sebagai lembaga
independen mengatur peredaran uang yang dicetaknya, hanya pada bank sentral uang kartal
di ciptakan yang nantinya uang tersebut didistribusikan ke Bank umum dalam bentuk uang
kartal, oleh bank umum di ubah lagi bentuk unag kartal tersebut menajdi uang giral yang
berbentuk tabungan giro dan saving deposit, uang tersebut yang nantinya akan di salurkan ke
sektor sawasta domestik. Dari bentuk-bentuk uang ini lah yang disebut dengan uang inti atau
uang primer, dengan kata lain, uang primer adalah uang kartal yang dipegang bank umum
dan masyarakat umum ditambahkan dengan saldo rekening giro milik bank umum dan
masyarakat di Bank Indonesia. Jika dilihat dari neraca otoritas moneter dapat dilihat bahwa
sisi pasiva adalah jumlah uanga primer yang beredar dan sebelah aktiva adalah faktor-faktor
yang mempengarui uang beredar. Penciptaan Uang oleh bank umum hanya dalam bentuk
uang giral dan kuasi, karena uang kartal hanya diciptakan oleh bank sentral itu sendiri.

M0 : Uang kartal (uang kertas dan Uang Logam)


M1 : M0 + Uang Giral + Deposito berjangka di Bank Sentral
M2 : M1 + Uang Kuasi (Bank Umum)
M3 : M2 + Uang Kuasi (non Bank)

Dalam dunia perbankan ada istilah pengganda uang (Money Multiplier) dimana jika
ada seorang masyarakat yang menabungkan uangnya kepada bank umum, maka untuk
memberikan bunga atas simpanan nasabah tersebut dan mendapatkan profit untuk badan
usahanya, bank memberlakukan spread atau yang disebut dengan rentang perbedaan antara
bunga simpanan dan bunga pinjaman, dimana bunga pinjaman berada diatas bunga simpanan
untuk mendapatkan laba dan memberikan bunga kepada nasabah penyimpan uang. Untuk
melindungi konsumen agar bunga pinjaman tidak terlalu besar sehingga membebankan
nasabah peminjam uang pada bank umum, bank sentral memberlakukan Reserve
Requirement atau GWM (Giro Wajib Minimum) atau yang biasa kita kenal di Bank
Indonesia ada istilah BI Rate diman nilai ini sebagai acuan dalam penggandaan uang. Naik
turunnya niali pelipatganda tergantung pada tiga hal : Currency ratio, time & savings deposit
ratio,dan reserve ratio.

Currency Ratio dipengarui oleh prilaku masyarakat dalam menggunakan uang kartal
dan giral, seperti : Biaya penggunaan uang giral, kenyamanan dan keamanan.

Time and Savings Deposit Ratio yang dipengarui oleh prilaku manusia meliputi :
Biaya Relatif, Pendapatan Masyarakat, Kemajuan layanan sektor perbankan.

Reserve Ratio (cadangan uang) besar kecilnya cadangan uang bank bergantung
pada: Ketentuan otoritas moneter dan Likuiditas.
 INDIKATOR 4 : Hubungan Uang Primer dengan Uang
Beredar

Uang Primer adalah inti dari proses penciptaan uang beredar, baik dalam arti sempit
(M1) maupun dalam arti luas (M2). Mekanisne penciptaan uang primer ini terjadi melalui
proses penggandaan uang yang terjadi di BPUG.

Bank sentral dapat mengendalikan peredaran uang primer. Permintaan total akan uang
primer berasal dari masyarakat yang ingin manggunakannya sebagai uang kertal, serta bank
komersial yang memerlukannya sebagai cadangan. Karena masyarakat mempunyai rasio
yang telah tertentu antara cadangan terhadap deposito. Hubungan antara stok uang beredar
dan stok uang primer bahwa hal itu dihubungkan dengan multiplier uang, multiplier uang
adalah rasio (nasabah) antara stok uang beredar dengan stok uang primer.

Uang primer/inti (M0) adalah uang kartal dan simpanan giro bank umum. Disebut
primer / inti karena jenis uang ini merupakan inti atau “biang”dalam proses penciptaan uang
beredar (C, D, dan T). “Uangkartal adalah uang primer TETAPI tidak semua uang primer
adalah uang kartal.”

 INDIKATOR 5 : Pendekatan Perhitungan JUB

Definisi jumlah uang beredar adalah uang yang berada di tangan masyarakat.
Cakupan dan definisi ini terus berkembang dan perhitungannya-pun dapat berbeda antara
negara maju dan negara lainnya. Namun demikian, dua pendekatan utama dalam menghitung
jumlah uang beredar, yaitu : pendekatan transaksional (transactional approach) dan
pendekatan likuiditas (liquidity approach).

Pendekatan transaksional (transactional approach). Pendekatan ini memandang bahwa


jumlah uang beredar yang dihitung adalah jumlah uang yang dibutuhkan untuk keperluan
transaksi. Pendekatan ini menghitung jumlah uang beredar dalam arti sempit (narrow money)
atau M1. Di Indonesia yang tercakup dalam M1 adalah uang kartal dan uang giral,
dengan komponen sebagai berikut :
 Uang kartal terdiri atas uang kertas dan uang logam, tidak termasuk uang kas pada
kantor perbendaharaan dan kas negara (KPKN) dan bank umum.
 Uang Giral terdiri atas rekening giro, kiriman uang, simpanan berjangka, dan
tabungan dalam rupiah yangsudah jatuh tempo yang seluruhnya merupakan simpanan
penduduk dalam rupiah pada sistem moneter.

Pendekatan Likuiditas (liquidity approach). Sesuai pendekatan ini, jumlah uang beredar
didefinisikan sebagai jumlah uang untuk kebutuhan transaksi ditambah uang kuasi (quasy
money). Hal ini dilandari pertimbangan bahwa sekalipun uang kuasi merupakan aset finansial
yang kurang likuid dibanding uang kertas, uang logam dan uang rekening giro, tetapi sangat
mudah diubah menjadi uang yang dapat digunakan untuk keperluan transaksi. Dalam
prakteknya, pendekatan ini menghitung jumlah uang bererdar dalam arti luas (broad money)
yang dikenal dengan M2 yang terdiri dari M1 ditambah uang kuasi (di Indonesia uang
kuasi adalah deposito berjangka). Perkembangan M2 adalah jauh lebih cepat dari
pertambahan M1 karena pertambahan tingkat kemajuan perekonomian. Meningkatnya M2
secara langsung maupun tidak langsung mengindikasikan bahwa perekonomian masyarakat
menjadi meningkat. Sebab peningkatan deposito berjangka mengandung pengertian bahwa
tingkat penghasilan masyarakat sudah lebih besar dari tingkat konsumsi. Keputusan
seseorang menyimpan dananya di bank dalam bentuk deposito merupakan keputusan
investasi yang didorong oleh tingkat bunga yang diberikan.

 INDIKATOR 6 : Faktor – faktor yang Mempengaruhi JUB

faktor yang mempengaruhi jumlah uang yang beredar adalah:

1. Kebijakan Bank Sentral berupa hak otonom dan kebijakan moneter (meliputi: politik
diskonto, politik pasar terbuka, politik cash ratio, politik kredit selektif) dalam mencetak dan
mengedarkan uang kartal.
2. Kebijakan pemerintah melalui menteri keuangan untuk menambah peredaran uang dengan
cara mencetak uang logam dan uang kertas yang nominalnya kecil.
3. Bank umum dapat menciptakan uang giral melalui pembelian saham dan surat berharga.
4. Tingkat pendapatan masyarakat
5. Tingkat suku bunga bank
6. Selera konsumen terhadap suatu barang (semakin tinggi selera konsumen terhadap suatu
barang maka harga barang tersebut akan terdorong naik, sehingga akan mendorong jumlah
uang yang beredar semakin banyak, demikian sebaliknya)
7. Harga barang
8. Kebijakan kredit dari pemerintah