Anda di halaman 1dari 35

BAGIAN ILMU ANESTESIOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ALKHAIRAAT
PALU
REFLEKSI KASUS
JANUARI 2018

Managemen Anestesi Umum dengan Teknik Intubasi (GETA : General


Endotracheal Anesthesia) Pada Pasien Struma Thyroid Nodusa Non Toksik

Disusun Oleh :

Agung Perdana
11 16 777 14 121
Pembimbing :
dr. Ajutor Donny, Sp.An

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN ILMU ANESTESIOLOGI

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ALKHAIRAAT
PALU
2018

1
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa:

Nama : Agung Perdana, S.Ked


No. Stambuk : 11 15 777 14 102
Fakultas : Kedokteran
Program Studi : Pendidikan Dokter
Universitas : Al-Khairaat Palu
Judul Laporan Kasus : Managemen Anestesi Umum dengan Teknik Intubasi
(GETA : General Endotracheal Anesthesia) Pada
Pasien Struma Thyroid Nodusa Non Toksik
Bagian : Bagian Anestesiologi

Bagian Anestesiologi
RSU ANUTAPURA PALU
Program Studi Pendidikan Dokter
Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Palu, Januari 2018


Pembimbing Mahasiswa

dr. Ajutor Donny, Sp.An Agung Perdana, S.Ked

2
BAB I
PENDAHULUAN

Anestesi secara umum adalah suatu tindakan menghilangkan rasa sakit


ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan
rasa sakit pada tubuh. Namun, obat-obat anestesi tidak hanya menghilangkan rasa
sakit akan tetapi juga menghilangkan kesadaran. Selain itu, juga dibutuhkan
relaksasi otot yang optimal agar operasi dapat berjalan lancer.

Anestesi umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai


dengan hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali (reversible). Komponen
anestesi yang ideal (trias anestesi) terdiri dari : hipnotik, analgesia dan relaksasi
otot. Praktek anestesi umum juga termasuk mengendalikan
pernapasanpemantauan fungsi-fungsi vital tubuh selama prosedur anestesi.
Tahapannya mencakup induksi, maintenance, dan pemulihan.

Pemilihan teknik anastesi pada anastesi umum didasarkan pada jenis


operasi yangakan dilakukan, usia, jenis kelamin, status fisik pasien, keterampilan
pelaksanaananastesi, ketersediaan alat, serta permintaan pasien.

Appendicitis adalah peradangan yang terjadi pada Appendix vermicularis, dan


merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering pada anak-anak maupun
dewasa. Appendicitis akut merupakan kasus bedah emergensi yang paling sering
ditemukan pada dewasa\dan remaja

Pemahaman tentang keseimbangan cairan dan elektrolit sangat penting


dalam menangani penderita yang akan, sedang atau selesai menjalani
pembedahan. Dalam keadaan normal, keseimbangan cairan dan elektrolit
dipertahankan dengan menjaga keseimbangan antara jumlah asupan cairan dan
jumlah cairan yang hilang melalui ginjal, saluran cerna maupun cara lain
(insensible loss).
Pembedahan memicu gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit puasa
sebelum pembedahan, terjadi kehilangan banyak cairan melalui saluran cerna
(muntah, dilatasi lambung atau usus, diare), perdarahan, atau berpindahnya cairan

3
ke rongga ketiga (peritonitis, ileus obstruksi). Masalah keseimbangan cairan dan
elektrolit pada saat pembedahan bertambah rumit jika terdapat komorbid,
misalnya penyakit ginjal, jantung, dan masalah paru-paru.
Tujuan umum pemberian cairan dan elektrolit adalah mengganti atau
mempertahankan volume cairan intravaskular, interstisiel dan intraseluler;
mempertahankan keseimbangan air, elektrolit, dan komponen darah; atau
mempertahankan kadar protein darah. Sedangkan tujuan khususnya adalah
mempertahankan beban pra-jantung (beban hulu, preload) serta curah jantung
(cardiac output). Dengan demikian, oksigenasi dan perfusi jaringan dapat
menjamin kseimbangan metabolisme sel.
Tujuan utama terapi cairan perioperatif adalah untuk mengganti defisit pra
bedah, selama pembedahan dan pasca bedah dimana saluran pencernaan belum
berfungsi secara optimal disamping untuk pemenuhan kebutuhan normal harian.
Terapi dinilai berhasil apabila pada penderita tidak ditemukan tanda-tanda
hipovolemik dan hipoperfusi atau tanda-tanda kelebihan cairan berupa edema paru
dan gagal nafas.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. ANESTESI UMUM
Anestesi umum adalah tindakan untuk menghilangkan nyeri secara
sentral disertai dengan hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali atau
reversible. Anestesi memungkinkan pasien untuk mentoleransi prosedur
bedah yang akan menimbulkan sakit yang tak tertahankan, mempotensiasi
eksaserbasi fisiologis yang ekstrim, dan menghasilkan kenangan yang tidak
menyenangkan.
Anestesi memiliki tujuan-tujuan sebagai berikut:

1. Hipnotik/sedasi: hilangnya kesadaran


2. Analgesia: hilangnya respon terhadap nyeri
3. Muscle relaxant: relaksasi otot rangka

1.1. Pilhan cara anestesi


 Umur
o Bayi dan anak paling baik dengan anestesi umum
o Pada orang dewasa untuk tindakan singkat dan hanya
dipermudahkan dilakukan dengan anestesi local atau umum
 Status fisik
o Riwayat penyakit dan anestesia terdahulu. Untuk mengetahui
apakah pernah dioperasi dan anestesi. Dengan itu dapat
mengetahui apakah ada komplikasi anestesia dan pasca bedah.
o Gangguan fungsi kardiorespirasi berat sedapat mungkin dihindari
penggunaan anestesia umum.
o Pasien gelisah, tidak kooperatif, disorientasi dengan gangguan jiwa
sebaikmya dilakukan dengan anestesia umum.
o Pasien obesitas, bila disertai leher pendek dan besar, sering timbul
gangguan sumbatan jalan napas atas sesudah dilakukan induksi

5
anestesia. Pilihan anestesia adalah regional, spinal, atau anestesi
umum endotrakeal.
 Posisi pembedahan
o Posisi seperti miring, tungkurap, duduk, atau litotomi memerlukan
anestesis umum endotrakea untuk menjamin ventilasi selama
pembedahan.demikian juga pembedahan yang berlangsung lama.
 Keterampilan dan kebutuhan dokter pembedah
o Memilih obat dan teknik anestesi juga disesuaikan dengan
keterampilan dan kebutuhan dokter bedah antara lain teknik
hipotensif untuk mengurangi perdarahan, relaksasi otot pada
laparotomi, pemakaian adrenalin pada bedah plastik dan lain-lain.
 Keterampilan dan pengalaman dokter anestesiologi
 Keinginan pasien
 Bahaya kebakaran dan ledakan
o Pemakaian obat anestesia yang tidak terbakar dan tidak eksplosif
adalah pilah utama pada pembedahan dengan alat elektrokauter.

1.2.Faktor-faktor yang mempengaruhi anestesi umum:


 Faktor respirasi
Pada setiap inspirasi sejumlah zat anestesika akan masuk ke dalam
paru-paru (alveolus). Dalam alveolus akan dicapai suatu tekanan
parsial tertentu. Kemudian zat anestesika akan berdifusi melalui
membrane alveolus. Epitel alveolus bukan penghambat disfusi zat
anestesika, sehingga tekanan parsial dalam alveolus sama dengan
tekanan parsial dalam arteri pulmonarsi. Hal- hal yang mempengaruhi
hal tersebut adalah:
 Konsentrasi zat anestesika yang dihirup/ diinhalasi; makin tinggi
konsentrasinya, makin cepat naik tekanan parsial zat anestesika
dalam alveolus.

6
 Ventilasi alveolus; makin tinggi ventilasi alveolus, makin cepat
meningginya tekanan parsial alveolus dan keadaan sebaliknya pada
hipoventilasi.

 Faktor sirkulasi
Terdiri dari sirkulasi arterial dan sirkulasi vena
Factor-faktor yang mempengaruhi:
1. Perubahan tekanan parsial zat anestesika yang jenuh dalam
alveolus dan darah vena. Dalam sirkulasi, sebagian zat anestesika
diserap jaringan dan sebagian kembali melalui vena.
2. Koefisien partisi darah/ gas yaitu rasio konsentrasi zat anestesika
dalam darah terhadap konsentrasi dalam gas setelah keduanya
dalam keadaan seimbang.
3. Aliran darah, yaitu aliran darah paru dan curah jantung. Makin
banyak aliran darah yang melalui paru makin banyak zat anestesika
yang diambil dari alveolus, konsentrasi alveolus turun sehingga
induksi lambat dan makin lama waktu yang dibutuhkan untuk
mencapai tingkat anesthesia yang adekuat.

 Faktor jaringan
1. Perbedaan tekanan parsial obat anestesika antara darah arteri dan
jaringan.
2. Koefisien partisi jaringan/darah: kira-kira 1,0 untuk sebagian besar
zat anestesika, kecuali halotan.
3. Aliran darah terdapat dalam 4 kelompok jaringan:
a) Jaringan kaya pembuluh darah (JKPD) : otak, jantung,
hepar, ginjal. Organ-organ ini menerima 70-75% curah
jantung hingga tekanan parsial zat anestesika ini meninggi
dengan cepat dalam organ-organ ini. Otak menerima 14%
curah jantung.
b) Kelompok intermediate : otot skelet dan kulit.

7
c) Lemak : jaringan lemak
d) Jaringan sedikit pembuluh darah (JSPD) : relative tidak ada
aliran darah : ligament dan tendon.

 Faktor zat anestesika


Bermacam-macam zat anestesika mempunyai potensi yang
berbeda-beda. Untuk menentukan derajata potensi ini dikenal adanya
MAC (minimal alveolar concentration atau konsentrasi alveolar
minimal) yaitu konsentrasi terendah zat anestesika dalam udara
alveolus yang mampu mencegah terjadinya tanggapan (respon)
terhadap rangsang rasa sakit. Makin rendah nilai MAC, makin tinggi
potensi zat anestesika tersebut.

1.3.Tahapan Tindakan Anestesi Umum


a. Penilaian dan persiapan pra anestesia

Persiapan prabedah yang kurang memadai merupakan faktor


terjadinya kecelakaan dalam anestesia. Sebelum pasien dibedah
sebaiknya dilakukan kunjungan pasien terlebih dahulu sehingga pada
waktu pasien dibedah pasien dalam keadaan bugar. Tujuan dari
kunjungan tersebut adalah untuk mengurangi angka kesakitan operasi,
mengurangi biaya operasi dan meningkatkan kualitas pelayanan
kesehatan.

b. Penilaian pra bedah

Anamnesis

Riwayat tentang apakah pasien pernah mendapat anestesia


sebelumnya sangatlah penting untuk mengetahui apakah ada hal-hal
yang perlu mendapat perhatian khusus,misalnya alergi, mual-muntah,
nyeri otot, gatal-gatal atau sesak nafas pasca bedah, sehingga dapat

8
dirancang anestesia berikutnya dengan lebih baik. Beberapa penelitit
menganjurkan obat yang kiranya menimbulkan masalah dimasa
lampau sebaiknya jangan digunakan ulang, misalnya halotan jangan
digunakan ulang dalam waktu tiga bulan, suksinilkolin yang
menimbulkan apnoe berkepanjangan juga jangan diulang. Kebiasaan
merokok sebaiknya dihentikan 1-2 hari sebelumnya

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan gigi-geligi, tindakan buka mulut, lidah relatif besar


sangat penting untuk diketahui apakah akan menyulitkan tindakan
laringoskopi intubasi. Leher pendek dan kaku juga akan menyulitkan
laringoskopi intubasi.

Pemeriksaan rutin secara sistemik tentang keadaan umum tentu


tidak boleh dilewatkan seperti inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi
semua system organ tubuh pasien.

Pemeriksaan laboratorium

Uji laboratorium hendaknya atas indikasi yang tepat sesuai dengan


dugaan penyakit yang sedang dicurigai. Pemeriksaan yang dilakukan
meliputi pemeriksaan darah kecil (Hb, lekosit, masa perdarahan dan
masa pembekuan) dan urinalisis. Pada usia pasien diatas 50 tahun ada
anjuran pemeriksaan EKG dan foto thoraks.

Kebugaran untuk anestesia

Pembedahan elektif boleh ditunda tanpa batas waktu untuk


menyiapkan agar pasien dalam keadaan bugar, sebaliknya pada operasi
sito penundaan yang tidak perlu harus dihindari.

Klasifikasi status fisik

Klasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran fisik


seseorang adalah yang berasal dari The American Society of

9
Anesthesiologists (ASA). Klasifikasi fisik ini bukan alat prakiraan
resiko anestesia, karena dampaksamping anestesia tidak dapat
dipisahkan dari dampak samping pembedahan.

Kelas I : Pasien sehat organik, fisiologik, psikiatrik, biokimia.

Kelas II : Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang.

Kelas III : Pasien dengan penyakit sistemik berat, sehingga aktivitas


rutin terbatas.

Kelas IV : Pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat


melakukan aktivitas rutin dan penyakitnya merupakan
ancaman kehidupannya setiap saat.

Kelas V : Pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa


pembedahan hidupnya tidak akan lebih dari 24 jam.

Masukan oral

Refleks laring mengalami penurunan selama anestesia. Regurgitasi


isi lambung dan kotoran yang terdapat dalam jalan napas merupakan
risiko utama pada pasien-pasien yang menjalani anestesia. Untuk
meminimalkan risiko tersebut, semua pasien yang dijadwalkan untuk
operasi elektif dengan anestesia harus dipantangkan dari masukan oral
(puasa) selamaperiode tertentu sebelum induksi anestesia.

Pada pasien dewasa umumnya puasa 6-8 jam, anak kecil 4-6 jam
dan pada bayi 3-4 jam. Makanan tak berlemak diperbolehkan 5 jam
sebeluminduksi anestesia. Minuman bening, air putih teh manis sampai
3 jam dan untuk keperluan minumobat air putih dalam jumlah terbatas
boleh 1 jam sebelum induksi anestesia.

10
c. Premedikasi

Sebelum pasien diberi obat anestesia, langkah selanjutnya adalah


dilakukan premedikasi yaitu pemberian obat sebelum induksi
anestesia diberi dengan tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan
dan bangun dari anestesi diantaranya:

1. Menimbulkan rasa nyaman bagi pasien


a. Menghilangkan rasa khawatir melalui:
i. Kunjungan pre anestesi
ii. Pengertian masalah yang dihadapi
iii. Keyakinan akan keberhasilan operasi
b. Memberikan ketenangan (sedative)
c. Membuat amnesia
d. Mengurangi rasa sakit (analgesic non/narkotik)
e. Mencegah mual dan muntah
2. Memudahkan atau memperlancar induksi
a. Pemberian hipnotik sedative atau narkotik
3. Mengurangi jumlah obat-obat anestesi
a. Pemberian hipnotik sedative atau narkotik
4. Menekan refleks-refleks yang tidak diinginkan (muntah/liur)
5. Mengurangi sekresi kelenjar saliva dan lambung
a. Pemberian antikolinergik atropine, primperan, rantin, H2
antagonis
6. Mengurangi rasa sakit

Waktu dan cara pemberian premedikasi:

Pemberian obat secara subkutan tidak akan efektif dalam1 jam,


secara intramuscular minimum harus ditunggu 40 menit. Pada kasus
yang sangat darurat dengan waktu tindakan pembedahan yang tidak
pasti obat-obat dapat diberikan secara intravena. Obat akan sangat

11
efektif sebelum induksi. Bila pembedahan belum dimulai dalam waktu
1 jam dianjurkan pemberian premedikasi intramuscular, subkutan tidak
dianjurkan. Semua obat premedikasi bila diberikan secara intravena
dapat menyebabkan sedikit hipotensi kecuali atropine dan hiosin. Hal
ini dapat dikurangi dengan pemberian secara perlahan-lahan dan
diencerkan.

Obat-obat yang sering digunakan:

1. Analgesik narkotik
a. Petidin ( amp 2cc = 100 mg), dosis 1-2 mg/kgBB
b. Morfin ( amp 2cc = 10 mg), dosis 0,1 mg/kgBB
c. Fentanyl ( fl 10cc = 500 mg), dosis 1-3µgr/kgBB
2. Hipnotik
a. Ketamin ( fl 10cc = 100 mg), dosis 1-2 mg/kgBB
b. Pentotal (amp 1cc = 1000 mg), dosis 4-6 mg/kgBB
3. Sedatif
a. Diazepam/valium/stesolid ( amp 2cc = 10mg), dosis 0,1
mg/kgBB
b. Midazolam/dormicum (amp 5cc/3cc = 15 mg),dosis
0,1mg/kgBB
c. Propofol/recofol/diprivan (amp 20cc = 200 mg), dosis 2,5
mg/kgBB
d. Dehydrobenzperidon/DBP (amp 2cc = 5 mg), dosis 0,1
mg/kgBB

1.4. Induksi Anestesi


Merupakan tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi
tidak sadar, sehingga memungkinkan dimulainya anestesi dan
pembedahan. Induksi dapat dikerjakan secara intravena, inhalasi,
intramuscular atau rectal. Setelah pasien tidur akibat induksi anestesia

12
langsung dilanjutkan dengan pemeliharaan anestesia sampai tindakan
pembedahan selesai.

Untuk persiapan induksi anestesi diperlukan ‘STATICS’:

S : Scope  Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan jantung.


Laringo-Scope, pilih bilah atau daun (blade) yang sesuai
dengan usia pasien. Lampu harus cukup terang.

T : Tube  Pipa trakea.pilih sesuai usia. Usia < 5 tahun tanpa balon
(cuffed) dan > 5 tahun dengan balon (cuffed).

A : Airway  Pipa mulut faring (Guedel, orotracheal airway) atau pipa


hidung-faring (naso-tracheal airway). Pipa ini untuk
menahan lidah saat pasien tidak sadar untuk menjaga
supaya lidah tidak menyumbat jalan napas.

T : Tape  Plester untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong atau


tercabut.

I : Introducer  Mandrin atau stilet dari kawat dibungkus plastic


(kabel) yang mudah dibengkokan untuk pemandu
supaya pipa trakea mudah dimasukkan.

C : Connector  Penyambung antara pipa dan peralatan anestesia

S : Suction  penyedot lender, ludah danlain-lainnya.

 Induksi intravena
o Paling banyak dikerjakan dan digemari. Indksi intravena
dikerjakan dengan hati-hati, perlahan-lahan, lembut dan
terkendali. Obat induksi bolus disuntikan dalam kecepatan
antara 30-60 detik. Selama induksi anestesi, pernapasan pasien,
nadi dan tekanan darah harsu diawasi dan selalu diberikan
oksigen. Dikerjakan pada pasien yang kooperatif.
o Obat-obat induksi intravena:

13
 Tiopental (pentotal, tiopenton) amp 500 mg atau
1000 mg
sebelum digunakan dilarutkan dalam akuades steril
sampai kepekatan 2,5% ( 1ml = 25mg). hanya boleh
digunakan untuk intravena dengan dosis 3-7 mg/kg
disuntikan perlahan-lahan dihabiskan dalam 30-60 detik.

Bergantung dosis dan kecepatan suntikan tiopental


akan menyebabkan pasien berada dalam keadaan sedasi,
hypnosis, anestesia atau depresi napas. Tiopental
menurunkan aliran darah otak, tekanan likuor, tekanan
intracranial dan diguda dapat melindungi otak akibat
kekurangan O2 . Dosis rendah bersifat anti-analgesi.

 Propofol (diprivan, recofol)


Dikemas dalam cairan emulsi lemak berwarna putih
susu bersifat isotonic dengan kepekatan 1% (1ml = 1o mg).
suntikan intravena sering menyebabkan nyeri, sehingga
beberapa detik sebelumnya dapat diberikan lidokain 1-2
mg/kg intravena.
Dosis bolus untuk induksi 2-2,5 mg/kg, dosis rumatan
untuk anestesia intravena total 4-12 mg/kg/jam dan dosis
sedasi untuk perawatan intensif 0.2 mg/kg. pengenceran
hanya boleh dengan dekstrosa 5%. Tidak dianjurkan untuk
anak < 3 tahun dan pada wanita hamil.

 Ketamin (ketalar)
Kurang digemari karena sering menimbulkan
takikardia, hipertensi, hipersalivasi, nyeri kepala, pasca
anestesia dapat menimbulkan mual-muntah, pandangan
kabur dan mimpi buruk. Sebelum pemberian sebaiknya
diberikan sedasi midazolam (dormikum) atau diazepam

14
(valium) dengan dosis0,1 mg/kg intravena dan untuk
mengurangi salvias diberikan sulfas atropin 0,01 mg/kg.
Dosis bolus 1-2 mg/kg dan untuk intramuscular 3-10 mg.
ketamin dikemas dalam cairan bening kepekatan 1% (1ml =
10mg), 5% (1 ml = 50 mg), 10% ( 1ml = 100 mg).

 Opioid (morfin, petidin, fentanil, sufentanil)


Diberikan dosis tinggi. Tidak menggaggu
kardiovaskular, sehingga banyak digunakan untuk induksi
pasien dengan kelianan jantung. Untuk anestesia opioid
digunakan fentanil dosis 20-50 mg/kg dilanjutkan dosis
rumatan 0,3-1 mg/kg/menit.

 Induksi intramuscular
Sampai sekarang hanya ketamin (ketalar) yang dapat diberikan
secara intramuskulardengan dosis 5-7 mg/kgBB dan setelah 3-5 menit
pasien tidur.

 Induksi inhalasi
o N2O (gas gelak, nitrous oxide, dinitrogen monoksida)
berbentuk gas, tak berwarna, bau manis, tak iritasi, tak terbakar
dan beratnya 1,5 kali berat udara. Pemberian harus disertai O2
minimal 25%. Bersifat anastetik lemah, analgesinya kuat,
sehingga sering digunakan untuk mengurangi nyeri menjelang
persalinan. Pada anestesi inhalasi jarang digunakan sendirian,
tapi dikombinasi dengan salah satu cairan anastetik lain seperti
halotan

15
o Halotan (fluotan)
Sebagai induksi juga untuk laringoskop intubasi, asalkan
anestesinya cukup dalam, stabil dan sebelum tindakan diberikan
analgesi semprot lidokain 4% atau 10% sekitar faring laring.
Kelebihan dosis menyebabkan depresi napas, menurunnya tonus
simpatis, terjadi hipotensi, bradikardi, vasodilatasi perifer, depresi
vasomotor, depresi miokard, dan inhibisi refleks baroreseptor.
Merupakan analgesi lemah, anestesi kuat. Halotan menghambat
pelepasan insulin sehingga mininggikan kadar gula darah.

o Enfluran (etran, aliran)


Efek depresi napas lebih kuat dibanding halotan dan
enfluran lebih iritatif disbanding halotan. Depresi terhadap
sirkulasi lebih kuat dibanding halotan, tetapi lebih jarang
menimbulkan aritmia. Efek relaksasi terhadap otot lurik lebih baik
disbanding halotan.

o Isofluran (foran, aeran)


Meninggikan aliran darah otak dan tekanan intracranial.
Peninggian aliran darah otak dan tekanan intracranial dapat
dikurangi dengan teknik anestesi hiperventilasi, sehingga isofluran
banyak digunakan untuk bedah otak.
Efek terhadap depresi jantung dan curah jantung minimal, sehingga
digemari untuk anestesi teknik hipotensi dan banyak digunakan
pada pasien dengan gangguan koroner.

o Desfluran (suprane)
Sangat mudah menguap. Potensinya rendah (MAC 6.0%),
bersifat simpatomimetik menyebabkan takikardi dan hipertensi.
Efek depresi napasnya seperti isofluran dan etran. Merangsang
jalan napas atas sehingga tidak digunakan untuk induksi anestesi.

16
o Sevofluran (ultane)
Induksi dan pulih dari anestesi lebih cepat dibandingkan
isofluran. Baunya tidak menyengat dan tidak merangsang jalan
napas, sehingga digemari untuk induksi anestesi inhalasi disamping
halotan.

 Induksi per rectal


Cara ini hanya untuk anak atau bayi menggunakan thiopental atau
midazolam.

 Induksi mencuri

Dilakukan pada anak atau bayi yang sedang tidur. Induksi inhalasi
biasa hanya sungkup muka tidak kita tempelkan pada muka pasien,
tetapi kita berikan jarak beberapa sentimeter, sampai pasien tertidur
baru sungkup muka kita tempelkan.

 Pelumpuh otot nondepolarisasi  Tracurium 20 mg


(Antracurium)
o Berikatan dengan reseptor nikotinik-kolinergik, tetapi tidak
menyebabkna depolarisasi, hanya menghalangi asetilkolin
menempatinya, sehingga asetilkolin tidak dapat bekerja.
o Dosis awal 0,5-0,6 mg/kgBB, dosis rumatan 0,1 mg/kgBB,
durasi selama 20-45 menit, kecepatan efek kerjanya -2 menit.
o Tanda-tanda kekurangan pelumpuh otot:
 Cegukan (hiccup)
 Dinding perut kaku
 Ada tahanan pada inflasi paru

17
1.5. Rumatan Anestesi (Maintenance)
Dapat dikerjakan secara intravena (anestesi intravena total) atau
dengan inhalasi atau dengan campuran intravena inhalasi.
Rumatan anestesi mengacu pada trias anestesi yaitu tidur rinan
(hypnosis) sekedar tidak sadar, analgesia cukup, diusahakan agar pasien
selama dibedah tidak menimbulkan nyeri dan relaksasi otot lurik yang
cukup.
Rumatan intravena biasanya menggunakan opioid dosis tinggi, fentanil
10-50 µg/kgBB. Dosis tinggi opioid menyebabkan pasien tidur dengan
analgesia cukup, sehingga tinggal memberikan relaksasi pelumpuh otot.
Rumatan intravena dapat juga menggunakan opioid dosis biasa, tetapi
pasien ditidurkan dengan infuse propofol 4-12 mg/kgBB/jam. Bedah lama
dengan anestesi total intravena, pelumpuh otot dan ventilator. Untuk
mengembangkan paru digunakan inhalasi dengan udara + O2 atau N2O +
O2.
Rumatan inhalasi biasanya menggunakan campuran N2O dan O2
dengan perbandingan 3:1 ditambah halotan 0,5-2 vol% atau enfluran 2-4%
atau isofluran 2-4 vol% atau sevofluran 2-4% bergantung apakah pasien
bernapas spontan, dibantu atau dikendalikan.
1.6. Pemulihan

Pasca anestesi dilakukan pemulihan dan perawatan pasca operasi dan


anestesiyang biasanya dilakukan di ruang pulih sadar atau recovery room
yaitu ruangan untukobservasi pasien pasca atau anestesi. Ruang pulih sadar
merupakan batu loncatansebelum pasien dipindahkan ke bangsal atau masih
memerlukan perawatan intensif diICU. Dengan demikian pasien pasca
operasi atau anestesi dapat terhindar darikomplikasi yang disebabkan karena
operasi atau pengaruh anestesinya.Untuk memindahkan pasien dari ruang
pulih sadar ke ruang perawatan perludilakukan skoring tentang kondisi pasien
setelah anestesi dan pembedahan. Caraskoring yang biasa dipakai untuk
anestesi umum yaitu cara Aldrete.

18
Tabel 1. Tabel Alderete

2. TATALAKSANA JALAN NAPAS


Hubungan jalan napas dan dunia luar melalui 2 jalan:
1. Hidung
Menuju nasofaring
2. Mulut
Menuju orofaring

Hidung dan mulut dibagian depan dipisahkan oleh palatum


durum dan palatum molle dan dibagian belakang bersatu di
hipofaring. Hipofaring menuju esophagus dan laring dipisahkan
oleh epiglotis menuju ke trakea. Laring terdiri dari tulang rawan
tiroid, krikoid, epiglotis dan sepasang aritenoid, kornikulata dan
kuneiform.

A. Manuver tripel jalan napas


Terdiri dari:
1. Kepala ekstensi pada sendi atlanto-oksipital.
2. Mandibula didorong ke depan pada kedua angulus mandibula
3. Mulut dibuka

19
Dengan maneuver ini diharapkan lidah terangkat dan jalan napas
bebas, sehingga gas atau udara lancer masuk ke trakea lewat hidung
atau mulut.

B. Jalan napas faring


Jika maneuver tripel kurang berhasil, maka dapat dipasang jalan
napas mulut-faring lewat mulut (oro-pharyngeal airway) atau jalan
napas lewat hidung (naso-pharyngeal airway).

C. Sungkup muka
Mengantar udara / gas anestesi dari alat resusitasi atau system
anestesi ke jalan napas pasien. Bentuknya dibuat sedemikian rupa
sehingga ketika digunakan untuk bernapas spontan atau dengan
tekanan positif tidak bocor dan gas masuk semua ke trakea lewat mulut
atau hidung.

D. Sungkup laring (Laryngeal mask)


Merupakan alat jalan napas berbentuk sendok terdiri dari pipa
besar berlubang dengan ujung menyerupai sendok yang pinggirnya
dapat dikembang-kempiskan seperti balon pada pipa trakea. Tangkai
LMA dapat berupa pipa kerasdari polivinil atau lembek dengan spiral
untuk menjaga supaya tetap paten.
Dikenal 2 macam sungkup laring:
1. Sungkup laring standar dengan satu pipa napas
2. Sungkup laring dengan dua pipa yaitu satu pipa napas standar dan
lainnya pipa tambahan yang ujung distalnya berhubungan dengan
esophagus.

E. Pipa trakea (endotracheal tube)


Mengantar gas anestesi langsung ke dalam trakea dan biasanya
dibuat dari bahan standar polivinil-klorida. Pipa trakea dapat

20
dimasukan melalui mulut (orotracheal tube) atau melalui hidung
(nasotracheal tube).

F. Laringoskopi dan intubasi


Fungsi laring ialah mencegah bedan asing masuk paru.
Laringoskop merupakan alat yang digunakan untuk melihat laring
secara langsung supaya kita dapat memasukkan pipa trakea dengan
baik dan benar. Secara garis besar dikenal dua macam laringoskop:
1. Bilah, daun (blade) lurus (Macintosh) untuk bayi-anak-dewasa
2. Bilah lengkung (Miller, Magill) untuk anak besar-dewasa.
Klasifikasi tampakan faring pada saat membuka mulut terbuka
maksimal dan lidah dijulurkan maksimal menurut Mallapati dibagi
menjadi 4 gradasi.
Tabel 2 : Gradasi Mallampatti
Gradasi Pilar faring Uvula Palatum Molle
1 + + +
2 - + +
3 - - +
4 - - -

Indikasi intubasi trakea

Intubasi trakea ialah tindakan memasukkan pipa trakea ke dalam


trakea melalui rima glottis, sehingga ujung distalnya berada kira-kira
dipertengahan trakea antara pita suara dan bifurkasio trakea. Indikasi
sangat bervariasi dan umumnya digolongkan sebagai berikut:

1. Menjaga patensi jalan napas oleh sebab apapun.

Kelainan anatomi, bedah kasus, bedah posisi khusus, pembersihan


sekret jalan napas, dan lain-lainnya.

21
2. Mempermudah ventilasi positif dan oksigenasi
Misalnya saat resusitasi, memungkinkan penggunaan relaksan dengan
efisien, ventilasi jangka panjang.
3. Pencegahan terhadap aspirasi dan regurgitasi

Kesulitan intubasi

1. Leher pendek berotot


2. Mandibula menonjol
3. Maksila/gigi depan menonjol
4. Uvula tak terlihat
5. Gerak sendi temporo-mandibular terbatas
6. Gerak vertebra servikal terbatas

Komplikasi intubasi

1. Selama intubasi
a. Trauma gigi geligi
b. Laserasi bibir, gusi, laring
c. Merangsang saraf simpatis
d. Intubasi bronkus
e. Intubasi esophagus
f. Aspirasi
g. Spasme bronkus
2. Setelah ekstubasi
a. Spasme laring
b. Aspirasi
c. Gangguan fonasi
d. Edema glottis-subglotis
e. Infeksi laring, faring, trakea

22
Ekstubasi

1. Ekstubasi ditunda sampai pasien benar-benar sadar, jika:


a. Intubasi kembali akan menimbulkan kesulitan
b. Pasca ekstubasi ada risiko aspirasi
2. Ekstubasi dikerjakan pada umumnya pada anestesi sudah ringan
dengan catatan tak akan terjadi spasme laring.
3. Sebelum ekstubasi bersihkan rongga mulut laring faring dari sekret
dan cairan lainnya.

3. APPENDISITIS PERFORASI

Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10cm


(kisaran 3-15cm), dan berpangkal di caecum. Lumennya sempit di bagian
proksimal dan melebar di bagian distal. Namun demikian, pada bayi, apendiks
berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit ke arah ujungnya.
Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insiden appendicitis pada usia itu.
Pada 65% kasus, apendiks terletak intraperitoneal. Kedudukan itu memungkinkan
apendiks bergerak dan ruang geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks
penggantungnya4. Pada kasus selebihnya, apendiks terletak retroperitoneal, yaitu
di belakang caecum, di belakang colon ascendens, atau di tepi lateral colon
ascendens. Gejala klinis appendicitis ditentukan oleh letak apendiks. Persarafan
parasimpatis berasal dari cabang n.vagus yang mengikuti a.mesenterica superior
dan a.apendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari n.torakalis X.
Oleh karena itu, nyeri visceral pada appendicitis bermula di sekitar umbilicus5.
Pendarahan apendiks berasal dari a.apendikularis yang merupakan arteri tanpa
kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya karena thrombosis pada infeksi
apendiks akan mengalami gangren.5

Appendicitis disebabkan karena adanya obstruksi pada lumen appendix


sehingga terjadi kongseti vaskuler, iskemik nekrosis dan akibatnya terjadi infeksi.
Appendicitis umumnya terjadi karena infeksi bakteri. Penyebab obstruksi yang
paling sering adalah fecolith. Fecolith ditemukan pada sekitar 20% anak dengan

23
appendicitis. Penyebab lain dari obstruksi appendiks meliputi: Hiperplasia folikel
lymphoid Carcinoid atau tumor lainnya Benda asing (pin, biji-bijian) Kadang
parasit 1 Penyebab lain yang diduga menimbulkan Appendicitis adalah ulserasi
mukosa appendix oleh parasit E. histolytica. Berbagai spesies bakteri yang dapat
diisolasi pada pasien appendicitis yaitu7: Bakteri aerob fakultatif Bakteri anaerob
Escherichia coli Viridans streptococci Pseudomonas aeruginosa Enterococcus
Bacteroides fragilis Peptostreptococcus micros Bilophila species Lactobacillus
species

Semua kasus appendicitis memerlukan tindakan pengangkatan dari


appendix yang terinflamasi, baik dengan laparotomy maupun dengan laparoscopy.
Apabila tidak dilakukan tindakan pengobatan, maka angka kematian akan tinggi,
terutama disebabkan karena peritonitis dan shock

24
BAB III
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS
Nama : An. A
Umur : 6 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
BB : 15 kg
Agama : Islam
Alamat : Jl. Kesehatan BTN Pengawu Blok
A no 2
B. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama : Nyeri perut kanan bawah
2. Riwayat penyakit sekarang : Pasien masuk RS dengan keluhan
nyeri pada perut kanan bawah yang dialami sejak + 5 jam SMRS.
Awalnya nyeri pada daerah uluhati kemudian pindah dan menetap di
perut kanan bawah. mual (+), muntah (+) + 5 kali, demam (+), batuk
(-), sesak (-) Buang air kecil lancar, Buang air besar (BAB) lancar
seperti biasa.
3. Riwayat AMPLE
o A (Alergy) : Tidak didapatkan Alergi terhadap obat, asma (-)
o M (Medication) : tidak sedang menggunakan pengobatan tertentu
o P (Past History of Medication) : Riwayat DM (-), HT (-), Icterus (-),
riwayat penggunaan obat-obat (-).
o L (Last Meal) : Pasien terakhir makan pukul 00.00 pagi sebelum
operasi, mual (+), muntah (-)
o E (Elicit History) : Nyeri perut kanan bawah diserti mual dan muntah

C. PEMERIKSAAN FISIK
Tanda – tanda vital
• Tekanan darah : 110/80 mmHg
• Nadi : 88 x/menit

25
• Pernapasan : 24 x/mnit
• Suhu : 37, 1 ºC
• Skala nyeri (VAS) : 8

Pemeriksaan fisik umum

• GCS : 15 (E4V5M6)
• BB : 15 kg
• TB : 104 cm
1) Kepala – leher :
Konjuctiva : anemis (-/-)
Sclera : ikterik (-/-)
Edema palpebral : (-/-)
Pembesaran KGB : (-/-)
Pembesaran kel. Tiroid : (-/-)

2) Thoraks
I : Pergerakan thoraks simetris, sikatrik (-)
P : Nyeri tekan (-), massa tumor (-)
P : Sonor pada kedua lapang paru, pekak pada area jantung, batas paru
hepar SIC VII, batas jantung DBN
A : Bunyi pernapasan vesikular +/+, rhonki -/-, wheezing -/-. Bunyi
jantung I/II murni, regular.
3) Abdomen
I : Tampak cembung
A: Peristaltik (+) kesan menurun
P : timpani
P : Nyeri tekan (+) regio umbilical- region inguinal dextra
4) Ekstremitas atas – bawah
Edema (-/-), akral hangat (+/+)

26
D. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Hasil Rujukan Satuan
HEMATOLOGI
Hemoglobin 11.8 L: 14-18, P: 12-16 g/dl
Leukosit 18.1 4.000-12.000 /mm3
Eritrosit 4.1 L: 4.5-6.5 P: 3.9-5.6 Juta/ul
Hematokrit 32,4 L: 40-46 P: 35-47 %
Trombosit 434 150.000-450.000 /mm3
Waktu
7.00 4-12 menit m.det
pembekuan/CT
Waktu
2.30 1-4 menit m.det
perdarahan/BT

E. KESIMPULAN
- PS. ASA II E : Pasien penyakit bedah disertai dengan penyakit sistemik
ringan sampai sedang dengan status emergensi.
F. PENATALAKSANAAN
1. Pasang iv line RL 20 tpm
2. Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam
3. Informed consent ke keluarga untuk dilakukan tindakan debridement dan
menjelaskan mengenai anastesi.
G. LAPORAN ANESTESI PASIEN
a) Diagnosis pra-bedah : App Perforasi
b) Diagnosis post-bedah : Kista Ovarium
c) Jenis pembedahan : Laparatomi
d) Persiapan anestesi : Informed consent
Puasa ± 8 jam sebelum operasi
e) Jenis anestesi : General Anestesi
f) Teknik anestesi : Intubasi dengan ETT no. 4
g) Pre Medikasi : Ranitidin 1 mg, ondancentron 2 mg,
midazolam 1 mg, dexamethason 3 mg, paracetamol drips 10 cc,
h) Pemeliharaan anestesi : O2 5 L/menit, Sevoflurane
i) Respirasi : Spontan

27
j) Status Fisik : ASA II E
k) Induksi mulai : 14.30 WITA
l) Operasi mulai : 14.50 WITA
m) Lama operasi : 1 jam 50 menit
n) Lama puasa : 8 jam

Tabel 3. Tekanan darah dan frekuensi nadi selama operasi

Pukul (WITA) Tekanan Darah (mmHg) Nadi (kali/menit)


14.30 93/45 125
14.35 90/45 103
14.40 90/50 103
14.45 90/50 103
14.50 94/52 105
14.55 90/55 101
15.00 93/52 106
15.05 92/48 100
15.10 95/50 100
15.15 90/47 102
15.20 100/62 121
15.25 105/60 118
15.30 105/68 120
15.35 108/59 117
15.40 111/70 115
15.45 101/65 108
15.50 93/64 121
15.55 95/68 117
15.00 100/65 116
16.05 105/74 118
16.10 93/45 105
16.15 90/60 108

28
G. CAIRAN
 Pemberian Cairan:
o Cairan masuk :
Durante operatif : Kristaloid RL 750 cc
Total input cairan : 750 cc
o Cairan keluar :
Perdarahan :
kasa 4x4 (14 buah) 15 x 14 = 210 cc
Tabung suction + 300 cc
Urin : ± 150 cc
Total output cairan : Perdarahan 510 cc, Urin ± 150 cc

H. POST OPERATIF
1. Nadi, pernapasan, aktivitas motorik.
2. Memasang O2 2 L/menit nasal kanul.
3. Analgetik.
o Nadi : 88 x/menit
o RR: 22 x/menit
o TD: 108/68
o VAS Score: 6
4. Skor pemulihan pasca anestesi:
 Alderete Score
o Aktivitas = Dua ekstremitas tidak dapat digerakkan (0)
o Respirasi = Dangkal namun pertukaran udara adekuat (1)
o Sirkulasi = TD ± 20% dari nilai pre anestesi (2)
o Kesadaran = sadar, siaga, orientasi (2)
o Warna kulit = pucat (1)
o Skor Pasien (6): pasien ACC dipindahkan ke ICU.

29
BAB III
PEMBAHASAN

Sebelum dilakukan operasi pada pasien ini telah dilakukan anamnesis,


pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, sehingga pasien digolongkan
sebagai ASA II E karena pada ini dijumpai adanya leukositosis (18.1), tetapi
pasien tidak memiliki penyakit lain selain penyakit yang akan dioperasi dan tidak
ada keterbatasan fungsional.
Pada kasus ini jenis anestesi yang dipilih adalah anastesi umum. Anastesi
umum adalah suatu tindakan medis dimana tujuan utamanya adalah
menghilangkan nyeri. Bedanya dengan anestesi regional pasien tidak merasakan
nyeri tapi masih sadar. Selain itu, karakteristik anastesi umum adalah reversible
yang artinya akan menyebabkan pasien bangun kembali tanpa efek samping dan
juga dapat diprediksi lama durasinya dengan menyesuaikan dosisnya. Anastesi
umum yang dipilih pada kasus ini adalah dengan intubasi. Intubasi adalah
memasukkan suatu pipa melalui mulut atau melalui hidung, dengan sasaran jalan
napas bagian atas atau trachea. Tujuan intubasi adalah mempermudah pemberian
anestesi, mempertahankan jalan napas agar tetap bebas serta mempertahankan
kelancaran pernapasan, mencegah kemungkinan terjadinya aspirasi isi lambung
(pada keadaan tidak sadar), mempermudah pengisapan sekret dan mengatasi
obstruksi laring akut.

Setelah memasukan obatan obatan premedikasi, induksi dan relaksasi,


dilakukan pemasangan intubasi. Pemasangan ini bertujuan untuk mempermudah
pemberian anestesi, mempertahankan jalan napas agar tetap bebas serta
mempertahankan kelancaran pernapasan, dan mencegah kemungkinan terjadinya
aspirasi lambung. Setelah ETT terfiksasi dilaksanakan pembedahan yang diikuti
dengan pemberian cairan parenteral yaitu kristaloid untuk mensubtitusi, darah dan
cairan yang keluar selama pembedahan.

Banyaknya cairan yang harus diberikan per infus disesuaikan dengan


banyaknya cairan yang hilang. Terapi cairan intravena terdiri dari cairan
kristaloid, koloid, atau suatu kombinasi kedua-duanya. Larutan kristaloid adalah

30
larutan mengandung ion dengan berat molekul rendah (garam) dengan atau
tanpa glukosa, sedangkan cairan koloid berisi ion dengan berat molekul tinggi
seperti protein atau glukosa. Cairan koloid menjaga tekanan oncotic plasma dan
sebagian besar ada di intravascular, sedangkan cairan kristaloid dengan cepat
didistribusikan keseluruh ruang cairan extracellular. Terapi cairan dimaksudkan
untuk maintenence, mengganti cairan yang hilang pada waktu puasa, pada
waktu pembedahan (translokasi), adanya perdarahan dan oleh sebab-sebab lain
misalnya adanya cairan lambung, cairan fistula dan lain-lainnya.

1. Kebutuhan cairan maintenance


Pada waktu intake oral tidak ada, defisit cairan dan elektrolit dapat terjadi
dengan cepat karena adanya pembentukan urin yang terus berlangsung,sekresi
gastrointestinal, keringat dan insensible losses dari kulit dan paru. kebutuhan
pemeliharaan normal dapat diestimasi dari tabel berikut:

Tabel 4. Estimasi Kebutuhan Cairan Pemeliharaan

Berat badan Kebutuhan

10 kg pertama 4 ml/kg/jam

10-20 kg kedua 2 ml/kg/jam

masing-masing kg > 20 kg 1 ml/kg/jam

Pada kasus didapatkan berat badan pasien 15 kg sehingga kebutuhan cairan


pemeliharaannya (4x10) + (2x5) = 50 ml/jam sedangkan cairan pemeliharaannya
selama 1 jam 50 menit : 1,5 x 50 = 75 ml

2. Cairan pengganti Operasi


Pada kasus ini dilakukan pembedahan jenis laparatomy, dimana operasi
laparatomy ini merupakan operasi yang besar, sehingga perlu juga kita
mengetahui cairan yang hilang berdasarkan jenis operasinya, sebagaimana rumus
yang bisa kita gunakan adalah :

31
Tabel 5. Redistribution and Evaporative Surgical Fluid Losses

Sehingga, pada pasien ini didapatkan 4-8 ml/kg = (4-8 ml) x 15 kg = 60 sampai
120 ml. Sedangkan cairan pengganti operasi selama 1 jam 50 menit adalah 1,5 x
(60 – 120 ) = 90 sampai 180 ml
Cairan yang dapat digunakan sebagai cairan maintenance adalah cairan
kristaloid (asering, RL) dengan perhitungan perbandingan 3:1.

3. Pengganti Perdarahan

Tabel 6. Volume Darah

Adapun MABL (Maximum Allowed Blood loss) pada pasien ini adalah sebagai
berikut. EBV (Estimate Blood Volume) pada pasien :

EBV (Estimate Blood Volume) pada pasien :

EBV = 65 ml/kg x BB kg

32
= 65ml/kg x kg

= 975 ml

Jumlah perdarahan: ± 510 cc

% perdarahan : 510 / 975 x 100% = 52,30 %

MABL :

(𝐻𝑡 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 − 𝐻𝑡 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛𝑡𝑎)


𝑀𝐴𝐵𝐿 = 𝐸𝐵𝑉 𝑥 𝐻𝑡 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛+𝐻𝑡 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛𝑡𝑎
2

(32,4 − 25)
𝑀𝐴𝐵𝐿 = 975 𝑥 32,4+25
2

MABL = 536,2 ml

Defisit darah selama 1 jam 50 menit = 510 ml sedangkan pada pasien ini
tidak dilakukan transfusi darah karena kehilangan darahnya tidak mencapai
MABL nya. Sehingga pada pasien ini hanya perlu diberikan cairan kristaloid
sesuai dengan kebutuhan cairannya.
• Total kebutuhan cairan selama 110 menit operasi

Kebutuhan cairan operasi

= M + Defisit Cairan Selama Puasa + Stress Operasi + Urin

= 50 + 400 + 120 + 100

= 670 ml

Keseimbangan kebutuhan:

Cairan masuk – Cairan dibutuhkan =

1.050 ml – 730 ml = 320 ml

33
Pada akhir proses pembedahan pasien dipindahkan ke ruang pemulihan dan
melanjutkan oksigenasi 3 lpm dengan kanul oksigen, diawasi tanda vital.
Kemudian pasien dipindahkan ke ICU karena pada pemeriksaan Steward Score
didapatkan hasil 1, berdasarkan pada table berikut :

Tabel 7. Steward Score

TANDA KRITERIA SCORE

Kesadaran 1. Bangun
2. Respon terhadap rangsang
0
3. Tidak ada respon

Pernafasan 1. Batuk/ menangis


2. Pertahankan jalan nafas
1
3. Perlu bantuan nafas

Motorik 1. Gerak bertujuan


2. Gerak tanpa tujuan
0
3. Tidak bergerak

Ket :

Score ≥ 5 boleh keluar dari RR

34
DAFTAR PUSTAKA

Sjamsuhidajat R, Jong W de. Buku ajar ilmu bedah. Edisi 3. EGC: Jakarta;
2005.
Sirregar H, Yusuf I, Gani, Sinrang AW. Fisiologi sel dan cairan tubuh. Edisi
2. Bagian ilmu faal FK UNHAS; Makassar.
Guyton AC, Hall J.E. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Penerjemah:
Rachman L.Y. et al. Jakarta: EGC; 2007.
Latief S A, Suryadi K A, Dachlan M R. Anestetik Inhalasi Petunjuk Praktis
Anestesiologi. 2nded. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI;
2002.
Available from: URL :
http://cilinicalupdates2011.files.wordpress.com/2010/11/syok-clinical-update_dr-
sri-rahardjo.pdf diakses tanggal 20 April 2015.
Millers Anesthesia. 7th ed. Available from: URL :
http://www.us.elsevierhealth.com/media/us/samplechapters/9781416066248/Mille
rs-Anesthesia-7th-Edition.pdf diakses pada tanggal 20 April 2015.

35