Anda di halaman 1dari 14

TINJAUAN PUSTAKA

ANATOMI TULANG FEMUR

Persendian panggul merupakan bola dan mangkok sendi yaitu acetabulum dengan bagian
dari femur, terdiri dari : kepala, leher, bagian terbesar dan kecil, trokhanter dan batang, bagian
terjauh dari femur berakhir pada kedua kondilas. Kepala femur masuk acetabulum. Sendi
panggul dikelilingi oleh kapsula fibrosa, ligamen dan otot. Suplai darah ke kepala femoral
merupakan hal yang penting pada faktur hip. Suplai darah ke femur bervariasi menurut usia.
Sumber utamanya arteri retikuler posterior, nutrisi dari pembuluh darah dari batang femur
meluas menuju daerah tronkhanter dan bagian bawah dari leher femur.

FRAKTUR FEMUR

A. DEFINISI

Fraktur adalah suatu patahan pada kontinuitas struktur tulang. Patahan tadi mungkin tak lebih
dari suatu retakan, suatu pengisutan atau perimpilan korteks; biasanya patahan itu lengkap dan
fragmen tulang bergeser. Bilamana tidak ada luka yang menghubungkan fraktur dengan udara
luar atau permukaan kulit atau kulit diatasnya masih utuh ini disebut fraktur tertutup (atau
sederhana), sedangkan bila terdapat luka yang menghubungkan tulang yang fraktur dengan udara
luar atau permukaan kulit yang cenderung untuk mengalami kontaminasi dan infeksi ini disebut
fraktur terbuka. Rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma
langsung, kelelahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi tulang / osteoporosis.

B. EPIDEMIOLOGI

Klasifikasi alfanumerik pada fraktur, yang dapat digunakan dalam pengolahan komputer, telah
dikembangkan oleh (Muller dkk., 1990). Angka pertama menunjukkan tulang yaitu :

1. Humerus
2. Radius/Ulna
3. Femur
4. Tibia/Fibula

Sedangkan angka kedua menunjukkan segmen, yaitu :


1. Proksimal
2. Diafiseal
3. Distal
4. Maleolar

Untuk fraktur femur yang terbagi dalam beberapa klasifikasi misalnya saja pada fraktur collum,
fraktur subtrochanter femur ini banyak terjadi pada wanita tua dengan usia lebih dari 60 tahun
dimana tulang sudah mengalami osteoporotik, trauma yang dialami oleh wanita tua ini biasanya
ringan (jatuh terpeleset di kamar mandi) sedangkan pada penderita muda ditemukan riwayat
mengalami kecelakaan. Sedangkan fraktur batang femur, fraktur supracondyler, fraktur
intercondyler, fraktur condyler femur banyak terjadi pada penderita laki – laki dewasa karena
kecelakaan ataupun jatuh dari ketinggian. Sedangkan fraktur batang femur pada anak terjadi
karena jatuh waktu bermain dirumah atau disekolah.

C. ETIOLOGI

Bila terkena kekuatan langsung tulang dapat patah pada tempat yang terkena; jaringan lunak
juga pasti rusak. Pemukulan (pukulan sementara) biasanya menyebabkan fraktur melintang dan
kerusakan pada kulit diatasnya; penghancuran kemungkinan akan menyebabkan fraktur
komunitif disertai kerusakan jaringan lunak yang luas.
Bila terkena kekuatan tak langsung tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari
tempat yang terkena kekuatan itu; kerusakan jaringan lunak di tempat fraktur mungkin tidak ada.

Fraktur akibat peristiwa trauma tunggal

Kekuatan dapat berupa :

1. Pemuntiran (rotasi), yang menyebabkan fraktur spiral

2. Penekukan (trauma angulasi atau langsung) yang menyebabkan fraktur melintang

3. Penekukan dan Penekanan, yang mengakibatkan fraktur sebagian melintang tetapi


disertai fragmen kupu – kupu berbentuk segitiga yang terpisah

4. Kombinasi dari pemuntiran, penekukan dan penekanan yang menyebabkan fraktur obliq
pendek

5. Penatikan dimana tendon atau ligamen benar – benar menarik tulang sampai terpisah

Tekanan yang berulang-ulang

Retak dapat terjadi pada tulang, seperti halnya pada logam dan benda lain, akibat tekanan
berulang – ulang.

Kelemahan abnormal pada tulang

Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang itu lemah (misalnya oleh tumor) atau
kalau tulang itu sangat rapuh (misalnya pada penyakit paget)

D. KLASIFIKASI

Klasifikasi fraktur femur dapat dibagi dalam :

a. Fraktur collum femur :

Fraktur collum femur dapat disebabkan oleh trauma langsung yaitu misalnya penderita
jatuh dengan posisi miring dimana daerah trochanter mayor langsung terbentur dengan
benda keras (jalanan) ataupun disebabkan oleh trauma tidak langsung yaitu karena
gerakan exorotasi yang mendadak dari tungkai bawah, dibagi dalam :

 Fraktur intrakapsuler (Fraktur collum femur)


 Fraktur extrakapsuler (Fraktur intertrochanter femur)

b. Fraktur subtrochanter femur :

Ialah fraktur dimana garis patahnya berada 5 cm distal dari trochanter minor, dibagi
dalam beberapa klasifikasi tetapi yang lebih sederhana dan mudah dipahami adalah
klasifikasi Fielding & Magliato, yaitu :

tipe 1 : garis fraktur satu level dengan trochanter minor


tipe 2 : garis patah berada 1 -2 inch di bawah dari batas atas trochanter minor
tipe 3 : garis patah berada 2 -3 inch di distal dari batas atas trochanterminor

c. Fraktur batang femur (dewasa)

Fraktur batang femur biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu
lintas dikota kota besar atau jatuh dari ketinggian, patah pada daerah ini dapat
menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam
shock, salah satu klasifikasi fraktur batang femur dibagi berdasarkan adanya luka yang
berhubungan dengan daerah yang patah. Dibagi menjadi :

- Tertutup

Fraktur femur kanan 1/3 distal Fraktur femur kanan 1/3 proksimal
spiraldisplaced tertutup kominutif displaced tertutup

- Terbuka, ketentuan fraktur femur terbuka bila terdapat hubungan antara tulang patah
dengan dunia luar dibagi dalam tiga derajat, yaitu ;

Derajat I : Bila terdapat hubungan dengan dunia luar timbul luka kecil, biasanya
diakibatkan tusukan fragmen tulang dari dalam menembus keluar.

Derajat II : Lukanya lebih besar (>1cm) luka ini disebabkan karena benturan dari
luar.

Derajat III : Lukanya lebih luas dari derajat II, lebih kotor, jaringan lunak banyak
yang ikut rusak (otot, saraf, pembuluh darah)

d. Fraktur supracondyler femur :

Fraktur supracondyler fragment bagian distal selalu terjadi dislokasi ke posterior, hal ini
biasanya disebabkan karena adanya tarikan dari otot – otot gastrocnemius, biasanya
fraktur supracondyler ini disebabkan oleh trauma langsung karena kecepatan tinggi
sehingga terjadi gaya axial dan stress valgus atau varus dan disertai gaya rotasi.

e. Fraktur intercondyler femur :

Biasanya fraktur intercondular diikuti oleh fraktur supracondular, sehingga umumnya


terjadi bentuk T fraktur atau Y fraktur.

f. Fraktur condyler femur :

Mekanisme traumanya biasa kombinasi dari gaya hiperabduksi dan adduksi disertai
dengan tekanan pada sumbu femur keatas.

E. GAMBARAN KLINIK

Riwayat

Biasanya terdapat riwayat cedera, diikuti dengan ketidakmampuan menggunakan tungkai


yang mengalami cedera, fraktur tidak selalu dari tempat yang cedera suatu pukulan dapat
menyebebkan fraktur pada kondilus femur, batang femur, pattela, ataupun acetabulum. Umur
pasien dan mekanisme cedera itu penting, kalau fraktur terjadi akibat cedera yang ringan
curigailah lesi patologik nyeri, memar dan pembengkakan adalah gejala yang sering
ditemukan, tetapi gejala itu tidak membedakan fraktur dari cedera jaringan lunak, deformitas
jauh lebih mendukung.

Tanda – tanda local :

a) Look : Pembengkakan, memar dan deformitas (penonjolan yang abnormal, angulasi,


rotasi, pemendekan) mungkin terlihat jelas, tetapi hal yang penting adalah apakah kulit
itu utuh; kalau kulit robek dan luka memiliki hubungan dengan fraktur, cedera terbuka

b) Feel : Terdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga memeriksa bagian distal dari
fraktur untuk merasakan nadi dan untuk menguji sensasi. Cedera pembuluh darah adalah
keadaan darurat yang memerlukan pembedahan

c) Movement : Krepitus dan gerakan abnormal dapat ditemukan, tetapi lebih penting untuk
menanyakan apakah pasien dapat menggerakan sendi – sendi dibagian distal cedera.

F. DIAGNOSIS

Terdapat tanda klinis yang menunjang adanya fraktur

Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan dengan sinar x harus dilakukan dengan 2 proyeksi yaitu
anterior posterior dan lateral, kekuatan yang hebat sering menyebabkan cedera pada lebih dari
satu tingkat karena itu bila ada fraktur pada kalkaneus atau femur perlu juga diambil foto sinar –
x pada pelvis dan tulang belakang

G. PENATALAKSANAAN

1. Terapi konservatif :
o Proteksi
o Immobilisasi saja tanpa reposisi
o Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips
o Traksi
Penyembuhan fraktur bertujuan mengembalikan fungsi tulang yang patah dalam
jangka waktu sesingkat mungkin

Metode Pemasangan traksi:

Traksi Manual

Tujuan : Perbaikan dislokasi, Mengurangi fraktur, Pada keadaan Emergency.

Dilakukan dengan menarik bagian tubuh.

Traksi Mekanik

Ada dua macam, yaitu :

 Traksi Kulit

Dipasang pada dasar sistem skeletal untuk struktur yang lain, misalnya: otot. Traksi kulit terbatas
untuk 4 minggu dan beban < 5 kg.

Untuk anak-anak waktu beban tersebut mencukupi untuk dipakai sebagai fraksi definitif, bila
tidak diteruskan dengan pemasangan gips.

 Traksi Skeletal

Merupakan traksi definitif pada orang dewasa yang merupakan balanced traction. Dilakukan
untuk menyempurnakan luka operasi dengan kawat metal atau penjepit melalui tulang/jaringan
metal.

Kegunaan pemasangan traksi

Traksi yang dipasang pada leher, di tungkai, lengan atau panggul, kegunaannya :

o Mengurangi nyeri akibat spasme otot

o Memperbaiki dan mencegah deformitas

o Immobilisasi

o Difraksi penyakit (dengan penekanan untuk nyeri tulang sendi).

o Mengencangkan pada perlekatannya.


2. Terapi operatif

o ORIF (Open Reduction internal fixation)

Indikasi ORIF :

o Fraktur yang tidak bisa sembuh atau bahaya avasculair necrosis tinggi

o Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup

o Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan

o Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik dengan operasi

H. KOMPLIKASI
Early :
 Lokal :
Vaskuler : compartement syndrome
Trauma vaskuler
Neurologis : lesi medulla spinalis atau saraf perifer
 Sistemik : emboli lemak
 Crush syndrome
 Emboli paru dan emboli lemak

Late :
 Malunion : Bila tulang sembuh dengan fungsi anatomis abnormal (angulasi,
perpendekan, atau rotasi) dalam waktu yang normal
 Delayed union : Fraktur sembuh dalam jangka waktu yang lebih dari normal
 Nonunion : Fraktur yang tidak menyambung dalam 20 minggu
BORANG PORTOFOLIO KASUS MEDIK

Nama Peserta dr. Resti Fadya

Nama Wahana RSUD Lubuk Basung

Topik Fraktur Femur

Tanggal Kasus 29-01-18

Nama Pasien Tn D No. RM

Tanggal Maret 2018 Pendamping: dr. Budiawati


Presentasi

Tempat RSUD Lubuk Basung


Presentasi

Objektif Presentasi :

 Keilmuan  Keterampilan  Penyegaran  Tinjauan Pustaka

 Diagnostik  Manajemen  Masalah  Istimewa

 Neonatus  Bayi  Anak  Dewasa Lansia  Bumil


Remaja

Deskripsi  tidak bisa mengerakan kaki kiri sejak ± 1 jam SMRS

Tujuan Menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan secara tuntas

Data Pasien Nama : Tn D No. Registrasi : 18 57 81

Nama RS: RSUD Lubuk Basung Telp: Terdaftar sejak:

Data utama untuk bahan diskusi

1. Diagnosis/ Gambaran Klinis : Fraktur femur


2. Riwayat Pengobatan : belum pernah berobat sebelumnya
3. Riwayat Kesehatan/ Penyakit : Pasien tidak pernah mengalami patah tulang
sebelumnya
4. Riwayat Keluarga : Tidak ada dalam keluarga yang menderita keluhan seperti
ini
5. Riwayat Pekerjaan : Pasien seorang wiraswasta
6. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik : baik

1. Sabiton, David C. Buku Ajar Bedah. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.

1994

2. Sjamsuhidajat. R, Wim De Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah ed 2. Penerbit buku

kedokteran EGC. Jakarta.2005

3. Schwartz. Intisari Prinsip – Prinsip Ilmu Bedah ed 6. Penerbit buku

kedokteran EGC. Jakarta 2000

4. Doherty G M. Current Surgical Diagnosis and Treatment. USA : MC Graw

Hill. 2006

5. Reksoprodjo, Soelarto. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran

Universitas Indonesia. Hal 457-484. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.

6. Klasifikasi fraktur femur dan penanganannya yang diunduh dari website

www.scrib.com pada tanggal 9 Februari 2012.

7. Traksi dan metode pemasangannya yang diunduh dari halaman website

www.emedicine.medscape.com pada tanggal 9 Februari 2012.

8. Sabiton, David C. Buku Ajar Bedah. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.

1994

9. Sjamsuhidajat. R, Wim De Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah ed 2. Penerbit buku


kedokteran EGC. Jakarta.2005

10. Schwartz. Intisari Prinsip – Prinsip Ilmu Bedah ed 6. Penerbit buku

kedokteran EGC. Jakarta 2000

11. Doherty G M. Current Surgical Diagnosis and Treatment. USA : MC Graw

Hill. 2006

12. Reksoprodjo, Soelarto. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran

Universitas Indonesia. Hal 457-484. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.

13. Klasifikasi fraktur femur dan penanganannya yang diunduh dari website

www.scrib.com pada tanggal 9 Februari 2012.

14. Traksi dan metode pemasangannya yang diunduh dari halaman website

www.emedicine.medscape.com pada tanggal 9 Februari 2012.

Hasil Pembelajaran:

1. Definisi Fraktur Femur


2. Epidemiologi Fraktur Femur
3. Etiologi Fraktur Femur
4. Klasifikasi Fraktur Femur
5. Manifestasi klinis Fraktur Femur
6. Diagnosis Fraktur Femur
7. Penatalaksanaan Fraktur Femur
8. Komplikasi Fraktur Femur
Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio
1. Subjektif

Pasien datang IGD RSUD Lubuk Basung dengan keluhan tidak bisa
mengerakan kaki kiri sejak ± 1 jam SMRS. Pasien post KLL, keluhan ini diikuti nyeri
pada kaki kiri . Nyeri dirasakan sangat hebat terutama saat di tekan dan saat di
gerakkan sehingga membuat pasien tidak bisa berdiri dan tidak bisa berjalan, namun
pasien masih bisa menggerakkan jari-jari kaki bagian bawah. Keluhan ini juga di
sertai bengkak pada tungkai, namun tidak disertai memar maupun luka terbuka di
sekitar area yang dikeluhkan.

Menurut keluarga pasien saat kejadian, sepeda motor yang dikendarai pasien
tiba-tiba terjatuh ketika mengelakan batu. Penderita terjatuh dengan kepala dan kaki
kiri membentur aspal, selama kejadian pasien tetap sadar.

Terdapat luka robek di dahi kanan ukuran 7cm x 0,5 cm x 1 cm dan luka
lecet di pipi kanan ukuran 4cm x 2cm. Pasien langsung dibawa ke rumah sakit,
keluhan pusing (+) mual (+) dan muntah (-). Tidak ada kelemahan ke empat anggota
gerak. Buang air kecil dan besar pasien lancar.

2. Objektif

PRIMARY SURVEY

Airway (Jalan Nafas) : Sumbatan jalan napas (-), secret pada mulut (-)

Breathing (Pernafasan) : Napas spontan, respirasi 22x/menit

Circulation (Sirkulasi) : Tekanan darah 100/70 mmHg, Nadi 98 kali/menit

Deformity (Deformitas) : Trauma pada regio femur sinistra 1/3 medial.

Exsposure : Status Generalis

Keadaan Umum : Baik

Kesadaran : Compos Mentis