Anda di halaman 1dari 11

membunyikan gamelan Sekaten (Gong Sekati), gamelan ini hanya dibunyikan 2 kali dalam

setahun yaitu pada saat Idul Fitri dan Idul Adha.


Selain 5 bangunan tanpa dinding terdapat juga semacam tugu batu yang berasal dari
budaya Hindu bernama Lingga Yoni yang merupakan lambang dari kesuburan (Lingga berarti
laki-laki dan Yoni berarti perempuan) dan bangunan Pengada yang berada tepat di depan
gerbang Pengada dengan ukuran 17 x 9,5 m yang berfungsi sebagai tempat membagikan berkat
dan tempat pemeriksaan sebelum menghadap raja dan di atas tembok sekeliling kompleks Siti
Inggil ini terdapat Candi Laras untuk penyelaras dari kompleks Siti Inggil ini.

E. Area Tajug Agung


Tajug Agung (mushola agung) Keraton Kasepuhan dengan pos Bedug Samogiri di
sebelah kiri
Pada batas antara area siti inggil dengan halaman tajug agung (bahasa Indonesia :
mushola agung) dibatasi oleh tembok bata. Pada tembok bata bagian utara terdapat dua gerbang
yaitu Regol Pengada dan gapura lonceng.
Regol Pengada merupakan pintu gerbang masuk ke halaman selanjutnya dengan ukuran
panjang dasar 5 x 6,5 m. Gerbang yang berbentuk paduraksa ini menggunakan batu dan daun
pintunya dari kayu. Gapura Lonceng terdapat di sebelah timur Gerbang Pangada dengan ukuran
panjang dasar 3,10 x 5 x 3 m. Gerbang ini berbenduk kori agung (gapura beratap)
menggunakan bahan bata. Area Tajug Agung ini terbagi dua yaitu halaman Pengada dan
halaman Tajug Agung yang keduanya dipisahkan dengan tembok yang rendah.
 Halaman Pengada berukuran 37 x 37 m, berfungsi untuk memarkirkan kendaraan atau
menambatkan kuda pada masa lalu. Di halaman ini dahulu ada sumur untuk memberi
minum kuda.
 Halaman Tajug Agung berukuran 37 x 17 m, merupakan halaman di mana terdapat
bangunan Tajug Agung. Bangunan Tajug Agung menghadap ke arah timur.
Bangunan utama Tajug Agung berukuran 6 x 6 m dengan luas teras 8 x 2,5 m. Bagian
terasnya berdinding kayu setengah dari permukaan lantai sementara setengah bagiannya lagi
diberi terali kayu. Dinding bangunan utama merupakan dinding tembok, mihrabnya berbentuk
melengkung berukuran 5 x 3 x 3 m. Di dalam mihrab terdapat mimbar terbuat dari kayu
berukuran 0,90 x 0,70 x 2 m. Atap Tajug Agung merupakan atap tumpang dua dengan
menggunakan sirap (bahasa Cirebon : Tiritisan). Konstruksi atap disangga 4 tiang utama. Tajug
Agung ini berfungsi sebagai tempat ibadah kerabat keraton. Bangunan Tajug
Agung dilengkapi pula dengan Pos / tempat bedug Samogiri.
ii
Pos bedug Samogiri yang berada di depan Tajug Agung dan menghadap ke timur ini
berdenah bujursangkar berukuran 4 x 4 m yang di dalamnya terdapat bedug. Pos bedug ini
dibangun tanpa dinding dan atap berbentuk limas, penutup atap didukung 4 tiang utama dan 5
tiang pendukung.

F. Area utama keraton Kasepuhan


Bangunan Lunjuk pada area utama keraton Kasepuhan, berfungsi untuk melayani tamu,
mencatat serta melaporkan kepentingannya kepada Sultan
Area utama keraton Kasepuhan merupakan area yang berisikan bangunan induk keraton
Kasepuhan serta bangunan penunjang lainnya, antara area utama keraton dengan area Tajug
Agung dibatasi tembok dengan gerbang berukuran 4x 6,5 x 4 m. Gerbang tersebut dilengkapi
dua daun pintu terbuat dari kayu, jika dibuka dan ditutup akan berbunyi maka disebut
pintu gledeg (bahasa Indonesia : guntur). Di dalam area utama keraton ini terdapat beberapa
bangunan di antaranya ;
 Taman Dewandaru, berukuran 20 m2, Taman ini dikenal dengan nama taman Bunderan
Dewandaru karena bentuknya yang melingkar, filosofi dari taman ini adalah bentuknya
yang bulat melingkar tanpa terputus mengartikan keseluruhan, nama Dewandaru /
Dewadaru yang merupakan bahasa Cirebon dapat diartikan sebagai Pinus
Dewadaru dalam bahasa Indonesia, pohon Pinus Dewadaru sendiri terkait dengan
kisah Rahwana yang menculik dewi Shinta dan bersembunyi di dalam hutan-hutan gelap
yang banyak ditumbuhi pohon Lodra, Padmaka dan Dewadaru. Di dalam tradisi hindu,
hutan yang banyak ditumbuhi pohon Dewadaru biasa digunakan para petapa untuk
memohon berkah Siwa. Namun dalam persfektif Cirebon makna Taman Dewandaru yang
berbentuk lingkaran adalah sebagai sebuah pangeling (bahasa Indonesia : pengingat) agar
manusia selalu mencari mereka yang masih tinggal di dalam kegelapan lalu membawanya
keluar dari sana menuju jalan yang terang yang diberkahi Allah swt. Pada taman ini juga
terdapat pohon Soko (lambang suka hati), dua buah patung macan putih (lambang keluarga
besar Pajajaran), meja dan dua buah bangku serta sepasang meriam yang dinamakan
meriam Ki Santomo dan Nyi Santoni
 Museum Benda Kuno, berbentuk huruf "E" dan berada di sebelah barat
taman Dewandaru berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda kuno kesultanan
Kasepuhan

ii
 Museum Kereta, berukuran 13,5 x 11 m dan berada di sebelah timur
taman Dewandaru berfungsi sebagai tempat penyimpanan kereta kencana kesultanan
Kasepuhan
 Tugu Manunggal, batu berukuran pendek sekitar 50 cm, dikelilingi pot bunga
melambangkan Allah swt yang satu.
 Lunjuk, berukuran 10 x 7 m, berada di sebelah Tugu Manunggal berfungsi melayani tamu
dalam mencatat dan melaporkan urusannya menghadap raja.
 Sri Manganti, berbentuk bujursangkar, berada di sebelah tugu manunggal. Bangunan ini
terbuka tanpa dinding, atap berbentuk joglo dengan genteng dan didukung dengan 4 tiang
saka guru, 12 tiang tengah dan 12 tiang luar. Langit-langit dipenuhi ukiran-ukiran yang
berwarna putih dan coklat. Bangunan ini berfungsi sesuai dengan namanya yaitu sebagai
tempat menunggu keputusan raja.
 Bangunan induk keraton, merupakan tempat Sultan melakukan kegiatan kesultanan.

G. Bangunan induk keraton


Kutagara Wadasan dan Kuncung yang dibangun oleh Sultan Sepuh I Syamsudin
Martawidjaja pada tahun 1678
Bangunan Induk keraton, Bangunan induk keraton merupakan tempat Sultan
melakukan kegiatan kesultanan, di dalam bangunan ini terdapat beberapa ruangan dengan
fungsi yang berbeda, di antarannya :
 Kutagara Wadasan, berukuran lebar 2,5 m dan tinggi ± 2,5 m, dibangun oleh Sultan Sepuh
I Syamsudin Martawidjaja pada tahun 1678. Kutagara Wadasan adalah gapura yang bercat
putih dengan gaya khas Cirebon, gaya Cirebon tampak pada bagian bawah kaki gapura
yang berukiran wadasan dan bagian atas dengan ukiran mega mendung. Arti ukiran
tersebut seseorang harus mempunyai pondasi yang kuat jika sudah menjadi pimpinan atau
sultan harus bisa mengayomi bawahan dan rakyatnya.
 Kuncung, berukuran 2,5 x 2,5 x 2,5 m dibangun oleh Sultan Sepuh I Syamsudin
Martawidjaja pada tahun 1678 yang digunakan parkir kendaraan sultan.
 Jinem Pangrawit, berfungsi sebagai tempat Pangeran Patih dan wakil sultan dalam
menerima tamu, nama Jinem Pangrawit berasal dari kata jinem (bahasa Indonesia : tempat
tugas) dan Pangrawit / Rawit (bahasa Indonesia : kecil dan bagus), berlantai marmer,
dinding tembok berwarna putih dan dihiasi keramik Eropa. Atap didukung 4 tiang saka
guru kayu dengan umpak beton.

ii
 Gajah Nguling, dibangun oleh Sultan Sepuh IX Radja Sulaeman pada tahun 1845, yaitu
ruangan tanpa dinding dan terdapat 6 tiang bulat bergaya tuscan setinggi 3 m. Lantai tegel
dan langit-langit berwarna hijau, sesuai dengan namanya, bentuk ruangan ini mengambil
bentuk gajah yang sedang nguling (menguak) dengan belalainya yang bengkok sehingga
ruangan ini tidak memanjang lurus tapi menyerong dan kemudian menyatu dengan bangsal
Pringgandani, ruangan ini dibuat agar musuh tidak langsung lurus menuju sultan.
 Bangsal Pringgandani, berada di sebelah selatan ruangan Gajah nguling. Ruangan ini
memiliki 4 tiang utama segi empat berwarna hijau yang berfungsi sebagai tempat
menghadap para abdi dan dapat juga dipakai sebagai tempat sidang warga keraton sewaktu-
waktu.
 Bangsal Prabayasa, berada di selatan bangsal Pringgandani. “Prabayasa” berasal dari kata
praba artinya sayap dan yasa artinya besar berarti bahwa Sultan melindungi rakyatnya
dengan kedua tangannya yang besar. Pada dinding ruangan bangsal Prabayasa juga
terdapat relief yang diberi nama Kembang Kanigaran (bahasa Indonesia : lambang
kenegaraan) yang dimaksudkan sebagai pangeling (bahasa Indonesia : pengingat) bahwa
Sultan dalam pemerintahannya harus welas asih pada rakyatnya.
 Bangsal Agung Panembahan, dibangun bersamaan dengan bangunan keraton sewaktu
masih bernama keraton Pakungwati tahun 1529, merupakan ruangan yang berada di
selatan dan satu meter lebih tinggi dari bangsal Prabayaksa. Fungsinya sebagai singgasana
Gusti Panembahan.
 Pungkuran, berasal dari bahasa Cirebon pungkur (bahasa Indonesia : halaman belakang
rumah) merupakan ruangan serambi yang terletak di belakang keraton.
 Kaputran, berada di sebelah timur Bangsal Pringgandani, berfungsi sebagai tempat tinggal
para putra
 Kaputren, berada di sebelah barat Bangsal Pringgandani, berfungsi sebagai tempat tinggal
para putri yang belum menikah
 Dapur Maulud, berada di depan Kaputren (bahasa Indonesia : tempat para putri)
menghadap timur, berfungsi sebagai tempat memasak persiapan peringatan Maulid Nabi
SAW.
 Pamburatan, berada di selatan Kaputren. Pamburatan / Burat berasal dari bahasa
Cirebon (bahasa Indonesia : membuat boreh atau bubuk), Pamburatan berfungsi sebagai
tempat mengerik kayu-kayu wangi (kayu untuk boreh) untuk kelengkapan selamatan
Maulud Nabi SAW.

ii
H. Keraton Kasepuhan menjadi inspirasi Mataram
Atap pada museum Sonobudoyo yang terinspirasi dari atap Limasan Lambang-
teplok milik Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Keraton Kasepuhan yang dibangun oleh Pangeran Mas Zainul Arifin pada tahun 1529
dan dahulu dinamakan keraton Pakungwati ini telah memberikan inspirasi bagi kesultanan
Mataram dalam membangun keraton dan bangunan penunjangnya, menurut Yuwono Suwito (
anggota tim ahli cagar budaya dan dewan pertimbangan pelestarian warisan budaya provinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ) inspirasi yang diambil oleh Mataram dari bentuk
arsitektur keraton Kasepuhan salah satunya adalah arsitektur dari Siti Inggil keraton
Kasepuhan yang diadopsi oleh Sultan Agung Mataram dengan membuat Siti Inggil bagi
keraton Mataram di Yogyakarta. Pada prosesnya, Siti Inggil keraton Kasepuhan dijadikan
dasar acuan pembuatannya.

“ Beberapa arsitektur Keraton Kasepuhan Cirebon yang diadopsi oleh Keraton


Yogyakarta, dikarenakan Keraton Cirebon jauh lebih tua dibandingkan dengan
Keraton Yogyakarta, bahkan lebih tua dari sejarah awal Kerajaan Mataram Islam

Yuwono Suwito ( anggota tim ahli cagar budaya dan dewan pertimbangan
pelestarian warisan budaya provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ) ”

Selain Siti Inggil keraton Mataram di Yogyakarta, bangunan lain yang terinspirasi dari
kompleks keraton Kasepuhan adalah Masjid Margo Yuwono yang terletak di dalam benteng
Baluwerti (benteng Kraton) tepatnya di Langenastran, kelurahan Panembahan,kecamatan
Kraton, Kota Yogyakarta. Arsitek pembangunan masjid Margo Yuwono yaitu Ir. Thomas
Karsten membangun brunjung (bahasa Indonesia : atap yang paling tinggi) mesjid dengan
mengadopsi dari arsitektur atap Tajug Wantah bercukit, adapun tritisan (bahasa Indonesia :
bagian perpanjangan atau tambahan dari atap utama) yang terdapat pada bagian utama masjid
dan bagian serambinya menggunakan pola konstruksi cukit (bahasa Indonesia : Garpu) seperti
yang digunakan pada tritisan di bangunan terbuka area Siti Inggil keraton Kasepuhan.
Selain bangunan masjid, bangunan Museum yang juga dirancang oleh Karsten
seperti museum Sonobudoyo juga terinspirasi dari arsitektur atap Masjid Agung Sang Cipta
Rasa milik kesultanan Kasepuhan yang berbentuk Limasan lambang-teplokdengan
mengadopsi pola konstruksi cukit pada hampir keseluruhan bangunan Museum.

ii
I. Keraton Kasepuhan sebagai Objek Vital
Keraton Kasepuhan berserta keraton Kanoman, ditetapkan menjadi objek vital yang
harus dilindungi. Penilaian tersebut berdasarkan pertimbangan dari institusi kepolisian, dengan
adanya penilaian tersebut maka kepolisian setempat wajib menempatkan personilnya untuk
melakukan penjagaan di keraton tersebut, termasuk di antaranya keraton Kasepuhan.

“ di antara pertimbangannya yakni keraton merupakan situs sekaligus aset bukan


hanya kesultanan tetapi juga negara dan masyarakat kota Cirebon, sehingga harus
dijaga dan diamankan kelestariannya (Dani Kustoni - Kapolres Cirebon Kota) ”

Sebagai bentuk realisasi pengamanan objek vital, maka keraton harus dijaga oleh
personil kepolisian
 Pengamanan, 2 personil,
 Patroli 2 personil
 Pengamanan kegiatan keraton, minimal 10 personil (khusus untuk pengamanan kegiatan
yang berskala besar, maka diadakan pengamanan penuh yang melibatkan lebih banyak
personil kepolisian).
Dijadikannya keraton Kasepuhan sebagai objek vital disambut baik oleh Sultan Sepuh
XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat, menurut Sultan Sepuh XIV, penetapan
keraton sebagai objek vital merupakan sebuah tanda atau pengakuan akan pentingnya keraton
itu sendiri.

“ Selain sebagai aset, keraton juga kan banyak didatangi wisatawan baik lokal
maupun mancanegara - (Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat) ”

J. Sejarah kesultanan Kasepuhan


Pada masa kepemimpinan Sultan Sepuh V Sultan Sjafiudin Matangaji, Sultan Sepuh
V melakukan banyak perbaikan pada kompleks Taman sari Gua Sunyaragi yang digunakan
sebagai tempat mengkhusukan diri kepada Allah swt sekaligus markas besar prajurit kesultanan
dan gudang serta tempat pembuatan senjata, disamping Taman sari Gua Sunyaragi, kesultanan
Kasepuhan memiliki markas prajurit lainnya, yaitu di desa Matangaji yang sekarang masuk
dalam wilayah administrasi kecamatan Sumber, kabupaten Cirebon. Aktifitas yang ada
di Taman sari Gua Sunyaragi kemudian menarik perhatian Belanda untuk kemudian
menyerangnya, Sultan Sepuh V Sultan Sjafiudin Matangaji pun gugur pada tahun 1786, tidak

ii
lama setelah wafatnya Sultan Sepuh V Sultan Sjafiudin Matangaji, saudara sultan
yaitu Pangeran Raja Hasanuddin menggantikan dirinya untuk memimpin kesultanan
Kasepuhan, sementara Taman sari Goa Sunyaragi hanya tinggal puing-puing akibat
penyerangan Belanda.
Pada tahun 1852, Pangeran Adiwijaya yang kelak menjadi wali bagi Pangeran Raja
Satria, membangun kembali dan memperkuat Taman air Gua Sunyaragi, dia memperkjakan
seorang aristek beretnis tionghoa, namun kemudian arsitek tersebut ditangkap dan dipaksa
mengatakan seluk-beluk Taman air Gua Sunyaragi kepada Belanda untuk kemudian dibunuh.
Terbongkarnya aktifitas di Taman air Gua Sunyaragi membuat Pangeran Adiwijaya
memerintahkan kepada para bawahan dan para prajurit untuk bersiap menghadapi segala
kemungkinan yang akan terjadi, akhirnya keputusan diambil untuk mengungsikan seluruh
persenjataan dan para prajurit keluar dari Taman air Gua Sunyaragi, sehingga penyerangan
Belanda yang terjadi kemudian tidak mendapatkan apa-apa.

K. Silsilah
Pada masa kesultanan Cirebon
 Sunan Gunung Jati (Syarief Hidayatullah) (bertahta dari 1479 - 1568)
 P. Adipati Pasarean (P. Muhammad Arifin) (hidup dari 1495 - 1552)
 P. Dipati Carbon (P. Sedang Kamuning) (hidup 1521 - 1565)
 Panembahan Ratu Pakungwati I (P. Emas Zainul Arifin) (bertahta dari 1568 - 1649)
 P. Dipati Carbon II (P. Sedang Gayam) (-)
 Panembahan Ratu Pakungwati II (Panembahan Girilaya) (bertahta dari 1649 - 1666)
Setelah pembagian kesultanan Cirebon, Kasepuhan dipimpin oleh anak pertama
Pangeran Girilaya yang bernama Pangeran Syamsudin Martawidjaja yang kemudian
dinobatkan sebagai Sultan Sepuh I.
 Sultan Sepuh I Sultan Raja Syamsudin Martawidjaja (bertahta dari 1679 - 1697)
 Sultan Sepuh II Sultan Raja Tajularipin Djamaludin (bertahta dari 1697 - 1723)
 Sultan Sepuh III Sultan Raja Djaenudin (bertahta dari 1723 - 1753)
 Sultan Sepuh IV Sultan Raja Amir Sena Muhammad Jaenuddin (bertahta dari 1753 - 1773)
 Sultan Sepuh V Sultan Sepuh Sjafiudin Matangaji (bertahta dari 1773 - 1786)
 Sultan Sepuh VI Sultan Sepuh Hasanuddin (bertahta dari 1786 - 1791) bertahta
menggantikan saudaranya Sultan Sepuh V Sultan Sjafiudin Matangaji
 Sultan Sepuh VII Sultan Sepuh Djoharudin (bertahta dari 1791 - 1815)

ii
 Sultan Sepuh VIII Sultan Sepuh Radja Udaka (Sultan Sepuh Raja Syamsudin I) (bertahta
dari 1815 - 1845[13]) menggantikan saudaranya Sultan Sepuh VII Sultan Djoharuddin
 Sultan Sepuh IX Sultan Radja Sulaeman (Sultan Sepuh Raja Syamsudin II) (bertahta dari
1845 - 1853)
 Perwalian oleh Pangeran Adiwijaya bergelar (Pangeran Syamsudin IV) (menjadi wali bagi
Pangeran Raja Satria dari 1853 - 1871)
 Pangeran Raja Satria (memerintah dari 1872 - 1875) mewarisi tahta ayahnya Sultan Sepuh
IX Sultan Radja Sulaeman sebagai putera tertua Sultan Sepuh IX yang sah, setelah
meninggalnya walinya yaitu Pangeran Adiwijaya sesuai dengan penegasan Residen
Belanda untuk Cirebon tahun 1867
 Pangeran Raja Jayawikarta (memerintah dari 1875 - 1880) menggantikan saudaranya
Pangeran Raja Satria
 Sultan Sepuh X Sultan Radja Atmadja Rajaningrat (bertahta dari 1880 - 1885) diangkat
sebagai Sultan untuk menggantikan saudaranya yaitu Pangeran Raja Jayawikarta
 Perwalian oleh Raden Ayu (Permaisuri Raja) menjadi wali bagi Pangeran Raja Adipati
Jamaludin Aluda Tajularifin dari 1885 - 1899
 Sultan Sepuh XI Sultan Sepuh Radja Jamaludin Aluda Tajularifin (bertahta dari 1899 -
1942)
 Sultan Sepuh XII Sultan Sepuh Radja Radjaningrat (bertahta dari 1942 - 1969)
 Sultan Sepuh XIII Pangeran Raja Adipati DR.H. Maulana Pakuningrat. SH (bertahta dari
1969 - 2010)
 Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat. SE (bertahta dari 2010 -
sekarang).

ii
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Maka dapat disimpulkan bahwa tempat-tempat pariwisata yang ada di Cirebon itu
sangat banyak, dan kita harus senantiasa menjaga serta merawatnya agar tetap asri seperti
aslinya. agar menarik para wisatawan untuk berlibur ke Cirebon.
Selain itu, kota Cirebon yang menawan itu tidak harus kita tambahkan dengan budaya-
budaya barat yang kita rasa sangat bagus atau trendy. tapi justru itu salah,kita harus tetap
menjaga budaya asli itu sendiri,agar mempunyai keaslian yang khas dimata dunia.
Daerah Cirebon merupakan salah satu kota favorit para wisatawan untuk berlibur dan
menghabiskan sisa waktu istirahatnya di tempat-tempat wisata yang ada di Cirebon. walaupun
banyak cerita-cerita mistis yang beredar di masyarakat luas, para wisatawan tetap antusias
menikmati tempat-tempat pariwisata yang ada di Cirebon.

B. SARAN
Kami menyadari bahwa dalam pembuatan karya tulis ini banyak ditemui kesulitan, oleh
karena itu kami mengharapkan saran dan kritik agar kami dapat menyempurnakan karya tulis
ini.
Demikianlah Kesimpulan dan saran dalam pembuatan karya tulis ini. Dalam pembuatan
karya tulis ini banyak sekali kekurangan-kekurangan, untuk itu penulis sebagai manusia biasa
mohon maaf atas segala keurangan dan kekhilafan. Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi kita
semua.

ii
DAFTAR PUSTAKA

http://desalinggajati.wordprees.com/sejarah-linggajati/
http://blogsimpanan.wordpress.com/2008/12/22/sejarah-perundingan-linggarjati/
http://www.google.com/search?q=Gedung+naskah+linggarjati&client=ms-
opera_mb_no&chanel=bh&hl=en&tbm=isch&ei=pJfCU-
FN80CPY6hgJgD&start=20&sa=N
http://www.Cirebon kota.go.id
Argadikusuma, E.Nurmas, (1998), Baluari Keraton Kesepuhan. Cirebon.
http://www.btpnkl.edu.mycerdik.net/bahan-sejarah/definisi-keraton kesepuhan cirebon
http://id.wikipedia.org/wiki/keraton_kesepuhan
www.lintaskuningan.blogspot.com

ii
DAFTAR ISI

COVER
KATA PENGANTAR ....................................................................................................i
DAFTAR ISI...................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................................1
A. Latar belakang kunjungan ................................................................................1
B. Tujuan ...............................................................................................................1
C. Manfaat widya wisata .......................................................................................2
D. Ruang lingkup kunjungan .................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................3
1. MUSEUM LINGGARJATI ................................................................................3
2. SITUS PURBAKALA ........................................................................................6
3. KERATON KASEPUHAN ................................................................................7
BAB III PENUTUP ........................................................................................................19
A. KESIMPULAN ...................................................................................................19
B. SARAN ...............................................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................................20

ii