Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Pada abad ke-21 ini terdapat empat psikologi yang menonjol, salah satu
diantaranya yaitu psikoanalisis. Keberjayaan psikoanalisis antara lain disebabkan
oleh para tokohnya yaitu Freud, Jung, dan Lacan, yang benar-benar menguasai
baik psikologi dan psikiatri.
Psikoanalisis dianggap sebagai salah satu gerakan revolusioner di bidang
psikologi yang dimulai dari satu metode penyembuhan penderita sakit mental,
hingga menjelma menjadi sebuah konsepsi baru tentang manusia. Hipotesis pokok
psikoanalisis menyatakan bahwa tingkah laku manusia sebagian besar ditentukan
oleh motif-motif tidak sadar, sehingga Freud dijuluki sebagai bapak penjelajah
dan pembuat peta ketidaksadaran manusia.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat diuraikan pembahasannya sebagai
rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa sejarah psikoanalisis klasik?
2. Apa pengertian psikoanalisis?
3. Apa struktur kepribadian dalam teori psikoanalisis klasik dari Sigmund
Freud?
4. Apa saja dinamika kepribadian dalam teori psikoanalisis klasik dari
Sigmund Freud?
5. Apa saja mekanisme pertahanan diri dalam teori psikoanalisis klasik dari
Sigmund Freud?
6. Apa saja tahap perkembangan kepribadiannya?
7. Apa implementasi terhadap masyarakat?
8. Apa implementasi terhapat pendidikan?

1
C. Tujuan masalah
1. Untuk mengetahui sejarah psikoanalisis klasik.
2. Untuk mengetahui pengertian psikoanalisis.
3. Untuk mengetahui struktur kepribadian dalam teori psikoanalisis klasik
dari Sigmund Freud.
4. Untuk mengetahui dinamika-dinamika kepribadian dalam teori
psikoanalisis klasik dari Sigmund Freud.
5. Untuk mengetahui mekanisme-mekanisme pertahanan diri dalam teori
psikoanalisis klasik dari Sigmund Freud.
6. Untuk mengetahui tahap-tahap perkembangan kepribadian.
7. Untuk mengetahui implementasi terhadap masyarakat.
8. Untuk mengetahui implementasi terhadap pendidikan.

D. Manfaat
Teori psikoanalisis klasik dapat memberi pengetahuan kepada tingkatan
perkembangan pribadi, sesuai dengan teori ini sesorang yang berada pada fase
genital (genital stage) dimana sudah melewati fase sebelumnya. Pada fase ini
orang tersebut seharusnya sudah bisa menggunakan superego untuk mengkontrol
id dan ego ataupun untuk menghadapi masalah-masalah yang ada
dilingkungannya karena dengan mementingkan hal tersebut akan memikirkan,
merasakan, mempertimbangkan dan lebih berpikir objektif dalam menghadapi
masalah. Dengan Super ego, belajar menengerti dan menghadapi suatu masalah
dengan kepala dingin. Berusaha semaksimal mungkin untuk berbuat sesuai
dengan norma moral yang berlaku pada lingkungan agar tidak merugikan
siapapun.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Psikoanalisis Klasik


Psikoanalisis merupakan pengetahuan psikologi yang menekankan pada dinamika,
faktor-faktor psikis yang menentukan perilaku manusia, serta pentingnya
pengalaman masa kanak-kanak dalam membentuk kepribadian masa dewasa.
Psikoanalisis adalah teknik yang khusus menyelidiki aktivitas ketidaksadaran
(bawah sadar). Psikoanalisis adalah metode interpretasi dan penyembuhan
gangguan mental.

Psikoanalisis memiliki sebutan-sebutan lain yaitu: 1) Psikologi dalam, karena


menurut Freud penyebab neurosis adalah gangguan jiwa yang tidak dapat disadari,
pengaruhnya lebih besar dari apa yang terdapat dalam kesadaran dan untuk
menyelidikinya, diperlukan upaya lebih dalam; 2) Psikodinamika, karena
Psikoanalisis memandang individu sebagai sistem dinamik yang tunduk pada
hukum-hukum dinamika, dapat berubah dan dapat saling bertukar energi. ( Hjelle
& Ziegler,1992)

B. Sejarah Psikoanalisis Klasik


Lahirnya psikoanalisis dalam dunia psikologi oleh para ahli psikologi sering
dianalogikan dengan revolusi Convernican dalam natural science, dicaci, ditolak
tetapi akhirnya diagungkan.
Pendiri psikoanalisis adalah Sigmund Freud (1856-1940). Bapak psikoanalisis itu
dilahirkan di Moravia pada tanggal 6 Mei 1856 dan meninggal di London pada
tanggal 23 September 1939. Selama hampir 80 tahun Freud tinggal di Wina dan
baru meninggalkan kota ketika Nazi menaklukkan Austria. Pada tahun 1873
masuk fakultas kedokteran Universitas Wina dan tamat pada tahun 1881. Freud
tertarik pada neurologi yang mendorongnya mengadakan spesialisasi dalam
perawatan orang-orang yang menderita gangguan syaraf. Kemudian Freud belajar
selama satu tahun kepada seorang ahli penyakit jiwa Prancis yang terkenal yaitu
Jean Charcot yang menggunakan metode hipnotis. Freud mencobanya tetapi tidak

3
berhasil kemudian dia menggunakan metode dengan mengajak pasien berbicara
sama seperti cara yang digunakan oleh Joseph Breuer seorang dokter di Wina.
Mereka bersama-sama menulis tentang histeria yang disembuhkan dengan
percakapan itu (Studien Ueber Hysterie, 1895).

Akan tetapi mereka bertentangan pendapat mengenai pentingnya faktor seksual


dalam histeria. Freud berpendapat bahwa konflik-konflik seksual merupakan
sebab daripada histeria. Kemudian Freud mengemukakan gagasan-gagasannya
yang akhirnya merupakan dasar daripada teori psikoanalisis dan memuncak
dengan terbitnya karya utamanya yang pertama: “Traumdeutung (Takdir mimpi,
The Interpretation of Dream, 1900).

C. Struktur Kepribadian
Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, yakni sadar
(conscious), prasadar (preconscious), dan tak sadar (unconscious). Baru pada
tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model struktural yang lain, yakni id, ego, dan
superego. Struktur baru ini tidak mengganti struktur lama, tetapi melengkapi atau
menyempurnakan gambaran mental terutama dalam fungsi atau
tujuannya.(Alwisol, 2005:17)
Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa pada tahun 1920 Freud
mengemukakan, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkatan kesadaran, yaitu sadar
(conscious), prasadar (preconscious), dan tak-sadar (unconscious). Dan kemudian
pada tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model struktural yang lain, yakni id, ego
dan super ego. Dimana satu sama lain saling berkaitan serta membentuk suatu
totalitas.
1. Sadar (Conscious)
Tingkat kesadaran yang berisi semua hal yang kita cermati pada saat tertentu.
Menurut Freud, hanya sebagian kecil saja dari kehidupan mental yang masuk ke
kesadaran. (Alwisol,2008)
2. Prasadar (pereconscious)
Disebut juga ingatan siap (available memory), yakni tingkat kesadaran yang
menjadi jembatan antara sadar dan taksadar. Isi preconscious berasal dari
conscious dan dari unconscious. Materi taksadar yang sudah berada di daerah

4
prasadar itu bisa muncul kesadaran dalam bentuk simbolik, seperti mimpi,
lamunan, salah ucap, dan mekanisme pertahanan diri. (Alwisol,2008)
3. Tak sadar (Unconscious)
Bagian yang paling dalam dari struktur kesadaran dan menurut Freud merupakan
bagian terpenting dari jiwa manusia. Ketidaksadaran berisi insting, impuls, dan
drives yang dibawa dari lahir, dan pengalaman-pengalaman traumatik (biasanya
pada masa anak-anak) yang ditekan oleh kesadaran dipindah ke daerah taksadar.
a. Id atau Das Es (Aspek Biologis)
Id adalah sistem kepribadian yang asli, dibawa sejak lahir yang bersifat primitive
dan naluriah. Dari Id ini kemudian akan muncul Ego dan Superego. Saat
dilahirkan, id berisi semua aspek psikologik yang diturunkan seperti insting,
impuls, dan drives. Id berada dan beroperasi dalam daerah unconscious. Freud
juga menyebut Id dengan realitas psikis yang sebenar-benarnya ( The True Physic
Reality).
Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle) yaitu: berusaha
memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Pleasure principle diproses
dengan dua cara, tindak refleks (reflex actions) dan proses primer (primary
process). Tindak refleks adalah reaksi otomatis yang dibawa sejak lahir seperti
mengejapkan mata-dipakai untuk menangani pemuasan rangsang sederhana dan
biasanya segera dapat dilakukan. Proses primer adalah reaksi
membayangkan/menghayal sesuatu yang dapat mengurangi atau menghilangkan
tegangan dipakai untuk menangani stimulus kompleks, seperti bayi yang lapar
membayangkan makanan atau puting ibunya.
Id juga tidak mampu menilai atau membedakan benar-salah, tidak tabu moral. Id
berusaha memperoleh kepuasan tanda peduli keterlambatan untuk kepuasan
tersebut untuk alasan apapun (egois, primitive, tidak bermoral, terburu-buru, dan
pemaksa). Alasan inilah yang kemudian membuat Id memunculkan ego. Id ini
lebih dominan berkuasa pada saat masa kanak-kanak namun juga dapat terjadi
dimana dewasa contohnya ketika seorang karyawan telah dimarahi oleh atasannya
Idnya menginginkan untuk menendang tong sampah padahal hal tersebut juga
tidak berguna. Hal ini dikarenkan oleh faktor lingkungan. (Alwisol,2008)

5
b. Ego atau Das Ich (aspek rasional)
Ego berkembang dari Id agar orang mampu menangani realita: sehingga Ego
beroperasi mengikuti prinsip realita (Reality Principle). Prinsip itu dikerjakan
melalui proses sekunder (Secondary Process), yakni berfikir realistik menyusun
rencana dan menguji apakah rencana itu menghasilkan objek yang dimaksud.
Proses itu disebut uji realita (Reality Testing). Ego sebagian besar berada di
kesadaran dan sebagian kecil beroperasi di daerah prasadar dan taksadar.
Ego adalah eksekutif (pelaksana) dari kepribadian yang memiliki dua tugas
utama:
1. Memilih stimuli mana yang hendak direspon dan atau insting mana yang
akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan.
2. Menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan itu dipuaskan sesuai
dengan tersedianya peluang yang resikonya minimal.
Dalam menjalankan fungsinya seringkali Das Ich harus mempersatukan
pertentangan-pertentangan antara Das Ich dan Das Ueber Ich dan dunia luar.
Contohnya seorang ibu rumah tangga menyisihkan uangnya demi membeli emas
untuk infestasi keluarganya. (Alwisol,2008)

c. Superego atau Das Ueber Ich (aspek sosial atau moral)


Superego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang beroperasi
memakai prinsip idealistik (idealistic principle) sebagai lawan dari prinsip
kepuasan Id dan prinsip realistik dari Ego. Superego bersifat non rasioal,
Superego tidak mau berkompromi dengan Id ataupun Ego dalam artian Superego
tidak egan-segan menghukum kesalahan yang dilakukan oleh Ego baik dalam
rencana/fikiran ataupun sesuatu yang telah dilakukan. Setidaknya, superego
memiliki 3 fungsi yakni:
1. Sebagai pengendali dorongan-dorongan atau impuls-impuls naluri Id agar
impuls-impuls tersebut disalurkan dalam cara atau bentuk yang dapat
diterima oleh masyarakat.
2. Mengarahkan ego pada tujuan-tujuan yang sesuai dengan moral dari pada
dengan kenyataan.
3. Mendorong individu kepada kesempurnaan

6
Sama seperti ego, superego memiliki sumber energi yang berasal dari Id dan
beroperasi pada tiga daerah kesadaran. Sistem ini menggunakan prinsip idealistik,
adapun prinsip idealistik memiliki dua sub prinsip, yakni :
1. Conscience yakni, elemen yang mewakili nilai-nilai orang tua atau
interpretasi orang tua mengenai standar sosial, yang diajarkan kepada anak
melalui berbagai larangan dan perintah. Apapun tingkah laku yang dilarang,
dianggap salah, dan dihukum oleh orang tua, akan diterima anak menjadi suara
hati (conscience), yang berisi apa saja yang tidak boleh dilakukan.
2. Ego-Ideal yakni, apapun yang disetujui, dihadiahi dan dipuji orang tua akan
diterima menjadi standar kesempurnaan (Ego-Ideal), yang berisi apa saja yang
seharusnya dilakukan. Proses mengembangkan konsensia dan ego-ideal, yang
berarti menerima standar salah dan benar itu disebut introyeksi (introjection).
Sesudah terjadi introyeksi, kontrol pribadi akan mengganti kontrol orang tua.
Tiga fungsi Superego:
1. Mendorong Ego menggantikan tujuan-tujuan realistik dengan tujuan-tujuan
moralistik.
2. Merintangi impuls Id, terutama impuls seksual dan agresif yang bertentangan
dengan standar nilai masyarakat.
3. Mengejar kesempurnaan. (Alwisol,2008)

D. Dinamika Kepribadian
Freud menyatakan gagasan bahwa energi fisik bisa diubah menjadi energi psikis,
dan sebaliknya. Yang menjembatani energi fisik dengan kepribadian adalah id
dengan naluri-nalurinya (insting). (Koesworo,1991:46)
1. Insting Sebagai Energi Psikis
Insting adalah perwujudan psikologik dari kebutuhan tubuh yang menuntut
pemuasan. Energi insting dapat dijelaskan dari sumber (source), tujuan (aim),
obyek (object) dan daya dorong (impetus) yang dimilikinya:
- Sumber Insting: adalah kondisi jasmaniah atau kebutuhan. Tubuh menuntut
keadaan yang seimbang terus menerus, dan kekurangan nutrisi misalnya akan
mengganggu keseimbangan sehingga memunculkan insting lapar.
- Tujuan insting: berkaitan dengan sumber insting. Tujuan insting pada
dasarnya regressive (kembali asal); berusaha kembali ke keadaan tenang seperti

7
sebelum munculnya insting. Tujuan insting juga bersifat konservatif;
mempertahankan keseimbangan organisme dengan menghilangkan stimulasi-
stimulasi yang mengganggu.
- Obyek insting: segala sesuatu yang menjembatani antara kebutuhan yang
timbul dengan pemenuhannya. Energi insting dapat dipindahkan (displacement)
dari obyek asli ke obyek lain yang tersedia untuk mereduksi tegangan. Jika
pemindahan menjadi permanen maka proses itu disebut derivatif insting (instinct
derivative).
- Daya dorong insting: kekuatan atau intensitas keinginan berbeda-beda setiap
waktu. Sebagai tenaga pendorong, jumlah kekuatan energi dari seluruh insting
bersifat konstan.
Jenis-Jenis Insting
- Insting Hidup
Insting hidup (eros) adalah dorongan yang menjamin survival dan reproduksi,
seperti lapar, haus, dan seks. Enerji yang dipakai oleh insting hidup ini disebut
libido. Freud mengakui adanya bermacam-macam bentuk insting hidup, namun
dalam kenyataannya yang paling di utamakan adalah insting seks. Menurutnya,
insting seks bukan hanya berkenaan dengan kenikmatan organ seksual tetapi
berhubungan dengan kepuasan yang diperoleh dari bagian tubuh lainnya, yang
dinamakan daerah erogen.

- Insting Mati
Insting mati atau insting destruktif (destructive instincts, disebut juga thanatos)
bekerja secara sembunyi-sembunyi dibanding insting hidup. Menurut Freud,
tujuan semua kehidupan adalah kematian. Freud berpendapat bahwa tiap orang
mempunyai keinginan yang tidak disadarinya untuk mati. Suatu derivatif insting-
insting mati yang terpenting adalah dorongan agresif (aggressive drive). Insting
mati mendorong orang untuk merusak diri sendiri, dan dorongan agresif
merupakan bentuk penyaluran agar orang tidak membunuh dirinya sendiri
(suicide).
Insting hidup dan insting mati dapat saling bercampur, saling menetralkan. Makan
misalnya merupakan campuran dorongan makan dan dorongan destruktif, yang
dapat dipuaskan dengan menggigit, mengunyah dan menelan makanan.

8
2. Distribusi dan Pemakaian Energi
Dinamika kepribadian ditentukan oleh cara energi psikis di distribusi dan dipakai
oleh Id, Ego dan Superego. Jumlah energi psikis terbatas, dan ketiga unsur
struktur itu bersaing untuk mendapatkannya. Kalau salah satu unsur menjadi lebih
kuat maka dua yang lain menjadi lemah, kecuali ada energi baru yang
ditambahkan atau dipindahkan ke sistem itu.

Pada mulanya, seluruh energi psikis menjadi milik id dan dipakai untuk
memenuhi hasrat (wishfulfillment) melalui aksi refleks, proses primer. Energi itu
diinvestasikan (cathects) kepada suatu objek untuk memuaskan hasrat. Proses
pemakaian energi oleh id disebut pemilihan objek (object cathexes id) atau
instinctual object cathexes.

Ego tidak mempunyai energi sendiri, sehingga harus menarik energi dari id.
Proses pengalihan energi ini disebut identifikasi yakni proses ego mencocokkan
gambaran mental dari id dengan kenyataan aktual. Id berprinsip bahwa obyek
nyata harus sama dengan gambaran atau fantasi mengenai obyek yang diinginkan,
sedang ego berprinsip gambaran obyek bisa berbeda dengan obyek nyata,
gambaran itu harus dikonfrontasi dengan kenyataan dan peluang untuk
memperolehnya. Konsep identitas ini sangat penting karena semua kemajuan
kognitif adalah wujud dari gambaran mental mengenai dunia yang semakin
mendekati kenyataan. Sebagian energi juga dipakai untuk mengekang id agar
tidak bertindak impulsif dan irasional. Daya kekang ini disebut anticathexes yang
melawan dorongan cathexes id. Antikateksis juga dipakai untuk melawan
superego yang terlalu menindas kebebasan rasional. Ego melindungi diri dengan
mekanisme (defense mechanism) di kala id dan superego menjadi ancaman. Ego
sebagai eksekutif kepribadian memakai energi untuk mengatur aktifitas dari tiga
struktur itu dalam kesatuan.

Superego mendapat energi dari id melalui proses identifikasi. Orang tua


menyalurkan nilai-nilai sosial kepada anaknya melalui pemberian hadiah dan
hukuman. Aturan moral mewakili usaha masyarakat untuk mengontrol dan

9
mencegah pengungkapan dorongan primitif, terutama dorongan seksual dan
agresi.

3. Kecemasan (anxiety)
Freud memandang kecemasan sebagai bagian yang penting dari teori kepribadian
yang dibuatnya, ia juga menilai bahwa kecemasan itu fundamental terhadap
perkembangan pengaruh neuritis dan psikotis. Freud mengungkapkan bahwa
prototype dari semua kecemasan adalah trauma kelahiran. Janin dalam rahim
ibunya adalah dunia yang paling stabil dimana setiap kebutuhan dipuaskan tanpa
adanya penundaan. Tetapi, saat kelahiran, organisme didorong ke lingkungan
yang bermusuhan. Tiba-tiba bayi perlu mulai beradaptasi terhadap realita karena
permintaan instingtualnya tidak selalu segera dapat dipenuhi. Freud membedakan
3 macam kecemasan, yaitu:
a. Kecemasan realistik atau objektif (realistic anxiety)
Adalah takut kepada bahaya yang nyata ada di dunia luar. Kecemasan ini menjadi
asal muasal timbulnya kecemasan neurotik dan kecemasan moral. Contoh
kecemasan objektif yaitu gempa bumi, angin topan, dan bencana yang sejenis.
Kecemasan realistik memberikan tujuan positif untuk memandu perilaku kita
untuk melindungi dan menyelamatkan diri kita dari bahaya yang aktual.
b. Kecemasan neurotik (neurotic anxiety)
Adalah sebuah ketakutan yang berasal dari masa kanak-kanak dalam sebuah
konflik antara kepuasan instingtual dan realita melibatkan konflik antara Id dan
Ego. Anak-anak sering dihukum bila mengekspresikan impuls seksual dan agresif
secara berlebihan. Pada tahap ini, kecemasan ini berada pada alam kesadaran,
tetapi selanjutnya, ini akan ditransformasikan ke alam ketidaksadaran. Kecemasan
ini merupakan ketakutan terhadap hukuman yang bakal diterima dari orang tua
atau unsur penguasa lainnya kalau seseorang memuaskan insting dengan caranya
sendiri, yang diyakininya bakal menuai hukuman.
c. Kecemasan moral (moral anxiety)
Adalah sebuah ketakutan sebagai hasil dari konflik antara Id dan Superego.
Essensinya, kecemasan moral adalah ketakutan dari kesadaran seseorang. Ketika
seseorang termotivasi untuk mengekspresikan sebuah impuls instingtual yang
berlawanan dengan pola moral, Superego akan membalas dendam dengan

10
membuat kita merasa malu atau bersalah. Kecemasan moral didasarkan juga pada
realitas. Anak-anak dihukum karena melanggar kode moral orangtuanya dan
orang dewasa dihukum karena melanggar. Kecemasan moral timbul ketika orang
melanggar standar nilai orang tua. Perbedaan kecemasan moral dan kecemasan
neurotik adalah perbedaan prinsip yakni : tingkat kontrol ego. Pada kecemasan
moral orang tetap rasional dalam memikirkan masalahnya berkat energi superego,
sedangkan pada kecemasan neurotik orang dalam keadaan distres terkadang panik
sehingga mereka tidak dapat berpikir jelas dan energi id menghambat penderita
kecemasan neurotik membedakan antara khayalan dengan realita.

E. Mekanisme Pertahanan Diri


Bagi Freud (W.S Winkel & Hastuti, 2005:450), mekanisme pertahanan adalah
strategi yang dipakai individu untuk bertahan melawan ekspresi impuls id serta
menentang tekanan super ego. Menurutnya, ego mereaksi bahaya munculnya
impuls id memakai dua cara:
a. Membentengi impuls sehingga tidak dapat muncul menjadi tingkahlaku sadar.
b. Membelokkan impuls itu sehingga intensitas aslinya dapat dilemahkan atau
diubah.
Freud mendeskripsi tujuh mekanisme pertahanan; identification, displacement,
repression, fictation, regression, reaction formation, projection. Pengikut-
pengikutnya, Anna Freud menambah lebih dari 10 dinamika mekanisme
pertahanan. Semua mekanisme pertahanan mempunyai tiga persamaan ciri:
1. Mekanisme pertahanan itu beroperasi pada tingkat tak sadar.
2. Mekanisme pertahanan selalu menolak, memalsu, atau memutar-balikkan
kenyataan.
3. Mekanisme pertahanan itu mengubah persepsi nyata seseorang, sehingga
kecemasan menjadi kurang mengancam.
Menurut Freud, jarang ada orang yang memakai hanya satu mekanisme
pertahanan untuk melindungi diri dari kecemasan. Umumnya orang memakai
beberapa mekanisme pertahanan, baik secara bersama-sama atau secara
bergantian sesuai dengan bentuk ancamannya. (Prayitno,1998:44)

11
a. Identifikasi (Identification)
Cara mereduksi tegangan dengan meniru (mengimitasi) atau mengidentifikasikan
diri dengan orang yang dianggap lebih berhasil memuaskan hasratnya dibanding
dirinya. Anak mula-mula mengidentifikasi orang tuanya karena anak menganggap
orang tuanya omnipotent (maha kuasa), kemudian juga mengidentifikasi guru,
olahragawan, penyanyi rock, dan lain-lainnya. Apabila yang ditiru itu sesuatu
yang positif, secara khusus ini disebut Introyeksi.
Identifikasi sebagai sarana ego dan superego memperoleh enerji psikis dari id.
Konsep identifikasi sebagai mekanisme pertahanan sejalan dengan konsep
pemindahan enerji psikis itu. Ketika ego mengidentifikasi khayalan mental
dengan kenyataan hasil persepsi, itu berarti suatu hal internal dicocokkan dengan
eksternal. Mekanisme pertahanan identifikasi umumnya dipakai untuk tiga macam
tujuan:
1. Identifikasi merupakan cara orang dapat memperoleh kembali
sesuatu(obyek) yang telah hilang. Anak yang merasa ditolak orangtuanya
cenderung membentuk identifikasi yang kuat dengan orangtuanya itu
dengan harapan dapat memperoleh penerimaan orangtuanya.
2. Identifikasi dipakai untuk mengatasi rasa takut. Anak mengidentifikasi
larangan-larangan orangtuanya agar terhindar dari hukuman.
3. Melalui identifikasi orang memperoleh informasi baru dengan
mencocokkan khayalan mental dengan kenyataan. Proses identifikasi
sangat penting dalam dinamika dan perkembangan kepribadian.

b. Pemindahan/Reaksi Kompromi (Displacement/Reactions Compromise)


Ketika obyek kateksis asli yang dipilih oleh insting tidak dapat dicapai karena ada
rintangan dari luar (sosial, alami) atau dari dalam (antikateksis) insting itu
direpres kembali ke ketidaksadaran atau ego menawarkan kateksis baru, yang
berarti pemindahan enerji dari obyek satu ke obyek yang lain, sampai ditemukan
obyek yang dapat mereduksi tegangan. Proses mengganti obyek kateksis untuk
meredakan ketegangan, adalah kompromi antara tuntutan insting id dengan
realitas ego, sehingga disebut juga reaksi kompromi.
Ada tiga macam reaksi kompromi, yaitu :

12
1. Sublimasi adalah kompromi yang menghasilkan prestasi budaya yang
lebih tinggi, diterima masyarakat sebagai kultural kreatif.
2. Subtitusi adalah pemindahan atau kompromi dimana kepuasan yang
diperoleh masih mirip dengan kepuasan aslinya.
3. Kompensasi adalah kompromi dengan mengganti insting yang harus
dipuaskan. Gagal memuaskan insting yang satu diganti dengan memberi
kepuasan insting yang lain.
c. Represi (Repression)
Represi adalah proses ego memakai kekuatan anticathexes untuk menekan segala
sesuatu (ide, insting, ingatan, fikiran) yang dapat menimbulkan kecemasan keluar
dari kesadaran.

d. Fiksasi dan Regresi (Fixation and Regression)


Fiksasi adalah terhentinya perkembangan normal pada tahap perkembangan
tertentu karena perkembangan lanjutannya sangat sukar sehingga menimbulkan
frustasi dan kecemasan yang terlalu kuat. Orang memilih untuk berhenti (fiksasi)
pada tahap perkembangan tertentu dan menolak untuk bergerak maju, karena
merasa puas dan aman ditahap itu.
Frustasi, kecemasan dan pengalaman traumatik yang sangat kuat pada tahap
perkembangan tertentu, dapat berakibat orang regresi : mundur ke tahap
perkembangan yang terdahulu, dimana dia merasa puas disana.
Perkembangan kepribadian yang normal berarti terus bergerak maju atau
progresif. Munculnya dorongan yang menimbulkan kecemasan akan direspon
dengan regresi. Orang yang puas berada ditahap perkembangan tertentu, tidak
mau progres disebut fiksasi. Progresi yang gagal membuat orang menarik diri atau
regresi.

e. Proyeksi (Projection)
Proyeksi adalah mekanisme mengubah kecemasan neurotis atau moral menjadi
kecemasan realistis, dengan cara melemparkan impuls-impuls internal yang
mengancam dipindahkan ke obyek di luar, sehingga seolah-olah ancaman itu
terproyeksi dari obyek eksternal kepada diri orang itu sendiri.

13
f. Introyeksi (Introjection)
Introyeksi adalah mekanisme pertahanan dimana seseorang meleburkan sifat-sifat
positif orang lain ke dalam egonya sendiri. Misalnya, seorang anak yang meniru
gaya tingkahlaku bintang film menjadi introyeksi, kalau peniruan itu dapat
meningkatkan harga diri dan menekan perasaan rendah diri, sehingga anak itu
merasa lebih bangga dengan dirinya sendiri. Pada usia berapapun, manusia bisa
mengurangi kecemasan yang terkait dengan perasaan kekurangan dengan cara
mengadopsi atau melakukan introyeksi atas nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan
perilaku orang lain.

g. Pembentukan Reaksi (Reaction Formation)


Tindakan defensif dengan cara mengganti impuls atau perasaan yang
menimbulkan kecemasan dengan impuls atau perasaan lawan/kebalikannya dalam
kesadaran, misalnya benci diganti cinta, rasa bermusuhan diganti dengan ekspresi
persahabatan. Timbul masalah bagaimana membedakan ungkapan asli suatu
impuls dengan ungkapan pengganti reaksi formasi : bagaimana cinta sejati
dibedakan dengan cinta reaksi formasi. Biasanya reaksi formasi ditandai oleh sifat
serba berlebihan, ekstrim, dan kompulsif.

F. Perkembangan Kepribadian
Teori psikoanalisa mengenai perkembangan kepribadian berlandaskan dua premis,
pertama, premis bahwa kepribadian individu dibentuk oleh berbagai jenis
pengalaman masa kanak-kanak awal. Kedua, energy seksual (libido) ada sejak
lahir dan kemudian berkembang melalui serangkaian tahapan psikoseksual yang
bersumber pada proses-proses naluriah organism.
Freud adalah teoritisi pertama yang memusatkan perhatiannya kepada
perkembangan kepribadian, dan menekankan pentingnya peran masa bayi dan
awal anak dalam membentuk karakter seseorang. Freud yakin bahwa struktur
dasar kepribadian sudah terbentuk pada usia 5 tahun, dan perkembangan
kepribadian sesudahnya sebagian besar hanya merupakan elaborasi dari struktur
dasar tadi.

14
Freud membagi perkembangan kepribadian menjadi tiga tahapan, yakni tahap
infantil (0-5 tahun), tahap laten (5-12 tahun), dan tahap genital (>12 tahun). Tahap
infantil yang paling menentukan dalam membentuk kepribadian, terbagi menjadi
tiga fase, yakni fase oral, fase anal, dan fase falis. Pada umumnya kemasakan
kepribadian dapat dicapai pada usia 20 tahun.

1. Fase Oral (usia 0 - 1)


Pada fase ini mulut merupakan daerah pokok aktivitas dinamik atau daerah
kepuasan seksual yang dipilih oleh insting seksual. Yakni berkaitan dengan
pemuasan kebutuhan dasar akan makanan atau minuman. Kepuasan yang
berlebihan pada fase oral, akan membentuk oral incorporation personality pada
masa dewasa, yakni orang menjadi senang/fiksasi mengumpulkan pengetahuan
atau mengumpulkan harta benda, atau gampang ditipu (mudah menelan perkataan
orang lain). Sebaliknya, ketidakpuasan pada fase oral, sesudah dewasa orang
menjadi tidak pernah puas, tamak (memakan apa saja) dalam mengumpulkan
harta.
Tahap ini secara khusus ditandai oleh berkembangnya perasaan ketergantungan,
mendapat perlindungan dari orang lain, khususnya ibu.

2. Fase Anal (usia 1 - 2/3)


Pada fase ini dubur merupakan daerah pokok aktivitas dinamik, kateksis, dan
antikateksis berpusat pada fungsi eliminer (pembuangan kotoran). Serta
kesenangan dan kepuasan diperoleh dengan tindakan mempermainkan atau
menahan kotoran (faeces). Freud yakin toilet training adalah bentuk mula dari
belajar memuaskan id dan superego sekaligus, kebutuhan id dalam bentuk
kenikmatan sesudah defekasi dan kebutuhan superego dalam bentuk hambatan
sosial atau tuntunan sosial untuk mengontrol kebutuhan defekasi. Semua bentuk
kontrol diri (self control) dan penguasaan diri (self mastery) berasal dari fase anal.

3. Fase Falis (phallic) (usia 2/3 - 5/6)


Pada fase ini alat kelamin merupakan daerah erogen terpenting. Masturbasi
menimbulkan kenikmatan yang besar. Pada saat yang sama terjadi peningkatan
gairah seksual anak kepada orang tuanya yang mengawali berbagai pergantian

15
kateksis obyek yang penting. Perkembangan terpenting pada masa ini adalah
timbulnya Oedipus complex, yang diikuti fenomena castration anxiety (pada laki-
laki) dan penis envy (pada perempuan).

Oedipus kompleks adalah kateksis obyek seksual kepada orang tua yang
berlawanan jenis serta permusuhan terhadap orang tua sejenis. Pada mulanya,
anak (laki dan perempuan) sama-sama mencintai ibu yang telah memenuhi
kebutuhan mereka dan memandang ayah sebagai saingan dalam merebut kasih
sayang ibu. Pada anak laki-laki, persaingan dengan ayah berakibat anak cemas
kalau-kalau ayah memakai kekuasaannya untuk memenangkan persaingan
merebut ibunya. Dia cemas penisnya akan dipotong oleh ayahnya yang disebut
cemas dikebiri atau castration anxiety. Kecemasan ini mendorong anak laki-laki
mengidentifikasi ayahnya. Ketakutan ini juga menyebabkan ditekannya keinginan
seksual terhadap ibu dan rasa permusuhan terhadap ayahnya.

Pada anak perempuan rasa sayang kepada ibu berubah menjadi kecewa dan benci
ketika tahu kelaminnya berbeda dengan anak laki-laki. Ibunya dianggap
bertanggung jawab terhadap kastrasi kelaminnya, sehingga anak perempuan
mentransfer cintanya kepada ayahnya yang memiliki organ berharga (yang juga
ingin dimilikinya). Tetapi perasaan cinta itu bercampur dengan perasaan iri penis
(penis envy) baik kepada ayah maupun kepada laki-laki secara umum. Oedipus
kompleks pada wanita tidak direpres, cinta kepada ayah tetap menetap walaupun
mengalami modifikasi karena hambatan realistik pemuasan seksual itu sendiri.

4. Fase Laten (Latency) (usia 5/6 - 12/13)


Dari usia 5 atau 6 tahun sampai remaja, anak mengalami periode peredaan impuls
seksual, disebut periode laten. Menurut Freud penurunan terjadi karena tidak
adanya daerah erogen baru yang dimunculkan oleh perkembangan biologis.
Pada fase ini anak mengembangkan kemampuan sublimasi, yakni mengganti
kepuasan libido dengan kepuasan nonseksual, khususnya bidang intelektual,
atletik, keterampilan, dan hubungan teman sebaya. Anak menjadi lebih mudah
mempelajari sesuatu dibandingkan dengan masa sebelum dan sesudahnya (masa
pubertas).

16
5. Fase Genital (usia 12/13 - dewasa)
Fase ini dimulai dengan perubahan biokimia dan fisologi dalam diri remaja.
Sistem endokrin memproduksi hormon-hormon yang memicu pertumbuhan tanda-
tanda seksual sekunder (suara, rambut, buah dada, dll), dan pertmbuhan seksual
primer. Pada fase ini impuls seks mulai disalurkan ke obyek di luar, seperti:
berpartisipasi dalam kegiatan kelompok, menyiapkan karir, cinta lain jenis,
perkawinan dan keluarga. Pada fase falis, kateksis genital mempunyai sifat
narkistik terjadi perubahan dari anak yang narkistik menjadi dewasa yang
berorientasi sosial, realistik, dan altruistik.

G. Implementasi Terhadap Masyarakat


Implementasi terhadap masyarakat oleh teori ini cenderung kepada hal
pendidikan, bukan hanya dalam lingkup pendidikan di dalam sebuah instansi
pendidikan formal seperti proses belajar mengajar disekolah namun juga di dalam
proses mendidik seorang anak oleh orang tuanya. Di dalam teori ini dalam proses
pendidikan perlunya memberikan bimbingan sesuai dengan tingkat
perkembangan. Disamping dengan tingkat perkembanganya juga diperlukan
pemahaman oleh para pendidik/orang tua untuk mengerti persoalan, kebutuhan,
minat, sifat, dan kemampuan anak tersebut. Teori ini sangat berpengaruh terhadap
cara mendidik seoerang guru/orang tua untuk mendidik karena jika seorang anak
mendapatkan bimbingan yang baik dan tepat maka anak itu besar kemungkinan
akan tumbuh menjadi manusia yang baik.

H. Implementasi Terhadap Pendidikan


Berdasarkan konsep kunci dari teori kepribadian Freud, berikut ini akan dijelaskan
beberapa teorinya yang dapat diimplementasikan dalam pendidikan, yaitu:
1. Konsep kunci bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kebutuhan
dan keinginan. Dengan demikian, implementasi pandangan Freud dalam
pendidikan sangat memberikan kontribusi yang signifikan, terutama
memberikan panduan atau acuan pada guru dalam melakukan
pembelajaran dan memberikan bimbingan.
2. Konsep teori tentang kecemasan yang dimiliki seseorang dapat digunakan
sebagai wahana pencapaian tujuan bimbingan oleh guru yaitu membantu

17
individu supaya mengerti diri dan lingkungannya, mampu memilih,
memutuskan dan merencanakan hidup secara bijaksana.
3. Konsep teori psikoanalisis yang menekankan pengaruh masa lalu
terhadap perjalanan manusia. Dalam system pembinaan akhlak
individual, islam menganjurkan agar keluarga dapat melatih dan
membiasakan anak-anaknya agar dapat tumbuh kembang sesuai dengan
norma agama dan sosial.
4. Teori Freud tentang tahapan perkembangan kepribadian individu dapat
digunakan dalam proses bimbingan, baik sebagai materi maupun
pendekatan. Konsep ini memberikan arti bahwa, materi, metode, dan pola
bimbingan harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan kepribadian
individu.
5. Konsep Freud tentang keridaksadaran dapat digunakan dalam proses
bimbingan yang dilakukan oleh guru pada individu dengan harapan dapat
mengurangi impuls-impuls dorongan id yang bersifat irrasional sehingga
berubah menjadi rasional.

18
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Teori psikoanalisis membahas tentang manusia itu sendiri yang mempunyai
kepribadian yang berbeda dengan makhluk yang lain. Pada teori ini membahas
tentang alam sadar, alam prasadar, dan alam tak sadar yang ada pada manusia.
Teori tersebut merupakan teori yang belum sempurna. Freud mengungkapkan
bahwa sebuah kesadaran diri hanya mengandalkan alam sadar kita, karena pada
hakekatnya seperti Freud mengungkapkan bahwa isi atau materi ketidaksadaran
memiliki kecenderungan kuat untuk bertahan terus dalam ketidaksadaran,
pengaruhnya dalam mengatur tingkah laku sangat kuat walaupun tidak disadari.
Sigmund Freud juga membahas tentang Id, Ego, dan superego. Ego merupakan
eksekutif yang memiliki kemampuan untuk mengerti lingkungan dan akan
menjadi sempurna jika bisa dikendalikan oleh superego. Teori ini juga membahas
tentang dinamika, mekanisme pertahanan ego dan perkembangan kepribadian.
Teori motivasi Sigmund ini juga menekankan pentingnya tahap perkembangan
pertumbuhan.

B. Saran
Diharapkan setelah membaca makalah ini, kita dapat lebih memahami dan
mendalami tentang teori psikoanalisis klasik dari Sigmund Freud. Kami juga
menyadari masih terdapat kelemahan-kelemahan. Untuk itu, kami sangat
mengharapkan saran dan masukan dari para pembaca demi kesempurnaan
makalah ini dikemudian hari. Atas saran dan masukannya, kami selaku penulis
makalah mengucapkan terima kasih.

19
DAFTAR PUSTAKA

Alwisol. 2008. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.


Koesworo, E. 1991. Teori-Teori Kepribadian. Bandung: Eresco.
Suryabrata, Sumardi. 2012. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
http://psikologiberbicara.blogspot.com/2013/01/aliran-psikoanalisis.html
http://12013pus.blogspot.com/2013/06/sigmund-freud.html
http://ariermawan.blogspot.com/2012/09/psikoanalisis-klasik-sigmund-freud.html
http://kunt34.blogspot.com/2011/01/kepribadian-menurut-paradigma.html
http://konseling4us.wordpress.com/2011/12/13/konseling-psikoanalisis-klasik/

20
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................. ii
KATA PENGANTAR ................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1


A. Latar Belakang .......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 1
C. Tujuan Masalah ......................................................................................... 2
D. Manfaat....................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................... 3


A. Pengertian Psikoanalisis Klasik ................................................................. 3
B. Sejarah Psikoanalisis Klasik ....................................................................... 3
C. Struktur Kepribadian .................................................................................. 4
D. Dinamika Kepribadian ............................................................................... 7
E. Mekanisme Pertahanan Diri ....................................................................... 11
F. Perkembangan Kepribadian ....................................................................... 15
G. Implementasi Terhadap Masyarakat .......................................................... 18
H. Implementasi Terhadap Pendidikan ........................................................... 18

BAB III PENUTUPAN ................................................................................. 19


Kesimpulan dan Saran ..................................................................................... 19
1. Kesimpulan ................................................................................................ 19
2. Saran ........................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA

21
KATA PENGANTAR

Patutlah penulis berterimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat dan rahmatnya penulis dapat merampungkan makalah ini guna memahami
lebih mendalam tentang ”Teori Psikoanalisis Klasik”. Penulisan makalah ini
merupakan bagian dari proses belajar penulis. Adapun bagi para pembaca selain
berguna untuk proses perkuliahan, makalah ini berguna untuk memperluas
wawasan.
Selanjutnya, penulis mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan
anggota, karena dengan semangat kekeluargaan mereka telah banyak membantu
penulisan makalah ini.
Akhirnya, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah bekerja sama, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan ini dengan
baik. Mudah-mudahan Tuhan membalas amal baik tersebut.

Bandarlampung, April 2018

Penulis

22
MAKALAH
PRATIKUM KONSELING INDIVIDU
TERAPI PSIKOANALISIS

Dosen Pengampu : Drs. Dasmin. M. Pd

Oleh :

1. Arvidia Tri Enida 16110019


2. Desi Susilawati 16110025
3. Anis Marsela 16110001

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP-PGRI) BANDAR LAMPUNG
2018

23
24