Anda di halaman 1dari 21

1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tahu dikenal sejak zaman dulu di daratan China.Berasal dari kata Tao Hu
yang artinya kacang hancur seperti bubur. Meskipun protein tahu tidak sebaik
protein hewani,tetapi perannya dalam kehidupan masyarakat Indonesia sangat
berarti dalam memperbaiki nilai gizi masyarakat. Keberadaan tahu di Indonesia
cukup ditunjang oleh program Pemerintah. Hal ini terbukti dengan adanya
koperasi ( KOPTI ) sebagai badan usaha yang bergerak dalam pengadaan kedelai
disetiap daerah. Tahu semakin digemari masyarakat karena harganya yang
murah.Disamping harganya murah juga mempunyai nilai protein yang berbeda
dengan protein hewani yaitu protein nabati. Salah satu limbah nabati yang dapat
digunakan sebagai bahan baku bioenergi adalah ampas tahu.

Ampas tahu merupakan limbah padat yang diperoleh dari proses


pembuatan tahu yang berasal dari kedelai. Sedangkan yang dibuat untuk tahu
adalah cairan atau susu kedelai yang lolos dari kain saring. Ditinjau dari
komposisi kimianya ampas tahu dapat digunakan sebagai sumber bahan bakar.
Tahu mengandung protein tinggi, dimana dalam 100 gram tahu mengandung 68
gram kalori, protein 7,8 gram, lemak 4,6 gram, hidrat arang 1,6 gram, kalsium 124
gram, fosfor 63 miligram, besi 0,8 miligram, vitamin B 0,06 miligram, air 84,8
gram. Ampas tahu selama ini digunakan sebagai pakan ternak bahkan tidak diolah
sama sekali.

Disisi lain kebutuhan manusia akan energi tak ada cukup – cukupnya,
terlebih lagi kebutuhan bahan bakar minyak, sehingga mengakibatkankan
krisisnya energi bahan bakar minyak tersebut. Banyak wacana mengenai
pemanfaatan dan pengolahan dari limbah nabati menjadi energi alternatif sebagai
pengganti bahan bakar minyak bumi. Hampir seluruh negara di dunia yang
memiliki lahan pertanian berusaha melakukan riset untuk merumuskan dan
merancang rekayasa teknologi lalu memanfaatkannya untuk menciptakan
bioenergi menggantikan bahan bakar fosil (Yanagisawa M, Nakamura K, Ariga
O, Nakasaki K., 2011).

1.2 Perumusan Masalah

Meninjau dari latar belakang maka rumusan masalah

1. Bagaimana pemanfaatan limbah ampas tahu di masyarakat ?


2. Bagaimana pengolahan ampas tahu menjadi produk bioetanol ?
3. Apakah yang menjadi potensi pengolahan limbah tahu bagi kehidupan ?
2

1.3 Tujuan Penelitian

Meninjau dari latar belakang pada penelitian ini, maka tujuan penelitian
yang ingin dicapai adalah :

1. Memanfaatkan limbah tahu menjadi produk yang unggul dalam teknologi


bahan bakar minyak
2. Memberikan pengetahuan dan pengenalan pada masyarakat bahwa limbah
ampas tahu dapat dimanfaatkan menjadi bioetanol
3. Menjadikan ampas tahu menjadi bioetanol

1.4 Luaran yang Diharapkan

Luaran yang di harapkan adalah etanol yang berasal dari limbah tahu ini
mampu memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak bagi masyarakat.

1.5 Kegunaan

Program ini berguna untuk pemanfaatan limbah tahu agar dapat diolah
menjadi bahan bakar etanol yang dapat memenuhi kebutuhan bakar minyak
masyarakat.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Kebutuhan dan konsumsi masyarakat akan Bahan Bakar Minyak (BBM)


yang semakin meningkat dari tahun ke tahun berbanding terbalik dengan
ketersediaannya. Menurunnya total suplai bahan bakar minyak salah satunya
dikarenakan sumber penghasil BBM yaitu fosil semakin lama semakin berkurang.
Salah satu upaya untuk mengurangi konsumsi masyarakat terhadap BBM adalah
dengan memanfaatkan energi alternatif terbarukan seperti yang tertuang dalam
Peraturan Presiden (Perpres) Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 tentang
Kebijakan Energi Nasional, adalah melalui pengembangan energi terbarukan
berbasis nabati atau sering disebut Bahan Bakar Nabati (BBN). Tidak hanya
mengeluarkan Perpres Nomor 5 tahun 2006, tetapi pemerintah juga menargetkan
pada tahun 2016 pemanfaatan BBN bisa mencapai angka 5%. Salah satu contoh
bahan bakar berbasis nabati adalah bioetanol. Saat ini sudah banyak ditemukan
pemanfaatan bioetanol sebagai bahan campuran (aditif) dari bensin yang sering
disebut dengan gasohol E-10. Gasohol E-10 merupakan campuran antara bensin
dengan 10% bioetanol murni. Gasohol E-10 memiliki angka oktan 92 yang
hampir setara dengan pertamax yang memiliki nilai oktan 92-95. Oleh karena itu
sangatlah mungkin jika bioetanol dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif
3

pensubstitusi BBM yang ramah lingkungan karena hasil pembakarannya hanya


menghasilkan H2O dan CO2 (Kurnia Wijayanti, 2011).

Salah satu dari biofuel yang paling banyak digunakan adalah etanol, zat ini
diekstrak antara lain dari tebu dan singkong. Akan tetapi, apabila tebu atau
singkong dijadikan bahan utama untuk ekstraksi etanol, dikhawatirkan akan
mengakibatkan berkurangnya penyediaan bahan pangan. Di Indonesia sendiri
sebenarnya banyak tersedia bahan yang dapat diubah menjadi bioetanol, tetapi
belum ada penelitian tentang pembuatan bioetanol dari bahan yang sudah tidak
terpakai lagi. Bila kita dapat memanfaatkan bahan yang sudah tidak terpakai
tentunya kita mampu meningkatkan effisiensi dan proses produksi dari pembuatan
bioetanol misalkan dari ampas tahu. Selama ini ampas tahu hanya dimanfaatkan
sebagai limbah untuk pakan ternak, padahal ampas tahu banyak mengadung
karbohidrat yang dapat di proses menjadi bioethanol (Meirina, 2011).

Tahu merupakan salah satu sumber makanan yang berasal dari kedelai
yang mengandung protein tinggi, dimana dalam 100 gr tahu mengandung 68
gr kalori, protein 7,8 gr, lemak 4,6 gr, hidrat arang 1,6 gr, kalsium 124 gr,
fosfor 63 mg, besi 0,8 mg, vitamin B 0.06 mg, air 84,8 gr. Tahu diperoleh
melalui proses pengumpalan (pengendapan) protein susu kedelai, bahan yang
digunakan adalah batu tahu (CaSO4), Asam cuka (CH3COOH) dan MgSO4.
Produksi tahu masih dilakukan dengan teknologi yang sederhana, dibuat oleh
pengrajin sendiri dalam skala industri rumah tangga atau industri
kecilsehingga tingkat efisiensi penggunaan air dan bahan baku kedelai dirasakan
masih rendah dan tingkat produksi limbahnya sangat tinggi (Elly, 2006).

Ampas tahu merupakan limbah padat yang dihasilkan oleh industri


pengolahan kedelai menjadi ampas. Ampas tahu mempunyai kadar gizi yang
tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak (B. Sarwono, 2006). Ampas
tahu basah dalam 100 gram mengandung Karbohidrat 11,07%, Protein 4, 71%,
Lemak 1, 94%, dan Abu 0,08% (Endang Sutriswati Rahayu, 2012). Ampas tahu
mempunyai kadar protein yang baik dari segi kualitasnya untuk campuran dalam
pembuatan berbagai bahan makanan. Kandungan nutrisi yang terdapat dalam
ampas tahu bervariasi, hal ini disebabkan oleh perbedaan varietas dari kedelai
yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan tahu, peralatan yang digunakan
dalam proses pembuatan tahu maupun proses pengolahan yang dilakukan
(Masturi et al., 1992 dalam Sri Wahyuni, 2003).

Ampas tahu segar mempunyai kadar air yang tinggi, sehingga


menyebabkan umur simpannya pendek. Pengeringan merupakan salah satu cara
mengatasi kadar air yang tinggi dari ampas tahu segar. Hasil pengeringan ampas
tahu bisa diolah menjadi bioethanol (Pulungan dan Rangkuti, 1984 dalam Sri
Wahyuni, 2003).
4

Bioetanol adalah sebuah bahan bakar alternatif yang diolah dari biomassa
dengan cara fermentasi, dimana memiliki keunggulan mampu menurunkan emisi
CO2 hingga 18 %. Di Indonesia, bioetanol sangat potensial untuk diolah dan
dikembangkan karena bahan bakunya dapat diperbarui. Salah satu bahan yang
berpotensi sebagai bahan baku etanol adalah ampas tahu. Ampas tahu merupakan
limbah yang masih mengandung karbohidrat yang dapat dimanafaatkan menjadi
bioethanol (Meirina, 2011).

Hasil Penelitian Meirina (2011), Pembuatan Bioetanol Menggunakan


Proses Hidrolisa Asam Sulfat 0,3 M selama 60 menit yang bertujuan untuk
memecah pati menjadi glukosa, selama hidrolisa berlangsung bubur diaduk-aduk
agar Hidrolisa berlangsung sempurna dan agar tidak terjadi gumpalan. Setelah
Hidrolisa dilanjutkan dengan proses Fermentasi menggunakan Sacharomyces
Cereviceae, Fermentasi secara anaerob selama 8 hari.

Mikroorganisme yang umumnya digunakan dalam proses produksi


bioetanol adalah Saccharomyces cerevisiae. Saccharomyces cerevisiae memiliki
beberapa kelebihan dibandingkan dengan mikroorganisme lain yang dapat
memproduksi bioetanol. Kelebihan tersebut antara lain lebih mudah beradaptasi
dengan lingkungan, lebih tahan terhadap kadar alkohol tinggi, dan lebih mudah
didapat.

Lama fermentasi pada proses produksi bioetanol sangat mempengaruhi


kadar bioetanol yang dihasilkan. Semakin lama waktu fermentas maka semakin
tinggi kadar bioetanol yang dihasilkan. Jika bioetanol yang terkandung di substrat
yang digunakan dalam penelitian utama adalah dalam substrat tinggi maka hal ini
justru akan berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan Saccharomyces cerevisiae.
Karena pada kadar alkohol 2,5% pertumbuhan Saccharomyces cerevisiae akan
terhambat. Hanya Saccharomyces cerevisiae strain tertentu saja yang dapat
bertahan pada kadar alkohol 2,5-5%. Oleh karena itu dibutuhkan lama
fermentasi yang tepat untuk proses fermentasi bioetanol agar didapatkan kadar
etanol dalam jumlah yang tinggi, nilai pH rendah, dan produksi gas yang tinggi
tetapi tidak mengganggu pertumbuhan Saccharomyces cerevisiae (N.azizah,
2012).Setelah Fermentasi Anaerob oleh Saccharomyces cerevisiae dilanjutkan
dengan Proses Distilasi menggunakan alat Pirolisa Bioetanol, Lama Distilasi
adalah 3 jam/variable, untuk memaksimalkan etanol hasil Distilasi dilakukan
Dehidrasi dengan Kapur Tohor selama 1 malam (N.azizah, 2012).

Menurut Retno dan Nuri (2011), bioetanol dapat dibuat dari bahan yang
mengandung gula sederhana, pati, maupun bahan berserat melalui proses
fermentasi. Masing-masing bahan berbeda cara pengolahannya untuk bisa
dijadikan bioetanol. Produksi bioetanol dengan menggunakan bahan berpati harus
5

diawali dengan proses pemecahan pati menjadi gula sederhana atau glukosa
melalui metode hidrolisis asam atau enzimatis.

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium penelitian kimia Fakultas


Ilmu Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Medan.
Penelitian dilakukan selama empat bulan.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

Peralatan yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Penangas Air 9. Tabung Reaksi

2. Piknometer 10. Termometer

3. Erlenmeyer 11. Cawan Petri

4. Kertas Saring 12. Oven

5. Gelas Ukur 13. Ph Meter

6. Neraca Analitik 14. Spektrofotometer UV-Vis

7. Pengaduk (spatula) 15. Waterbath Shaker

8. Pendingin Balik 16. Gelas piala

3.2.2 Bahan

Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Ampas Tahu 8. Ekstrak tauge

2. Eter 9. Kalium Hidropospat

3. Asam klorida 10.Magnesium sulfat

4. Natrium Hidroksida 11. Kalium klorida

5. DNS 12. Besi II sulfat


6

6. Glukosa 13. Kedelai Bubuk

7. Tepung Sagu 14. Aquades

3.3 Tahap Pelaksanaan

3.3.1 Tahap Observasi


Dalam metode ini, penulis mengadakan pengamatan di jalan Bunga Asoka
Asam Kumbang, Kec. Medan Selayang, Kota Medan, Sumatera Utara, sebagai
lokasi pengambilan sampel ampas tahu yang akan diteliti, selanjutnya sampel
akan diolah menjadi bioetanol dengan metode autoclave enzimatik hydrolyc.
Pengambilan sampel ampas tahu dilakukan di daerah ini, sebab daerah ini
merupakan salah satu daerah penghasil tahu di Sumatera Utara dan juga lokasinya
berdekatan dengan Universitas Negeri Medan, juga pada daerah ini pengolahan
ampas tahu, masih minim.

3.3.2 Penelitian Utama

3.3.2.1 Analisis kadar pati


Menimbang 2-5 gram ampas tahu dengan gelas piala sebagai wadah.
Menambahkan 50 ml akuades, dan mengaduk campuran hingga homogen.
Menyaring suspensi dengan kertas saring dan mencuci dengan akudes sampai
volume filtrat 250 ml. Filtrat yang mengandung karbohidrat yang larut ini
dibuang. Residu pada kertas saring dicuci dengan 150 ml etanol 10 % , untuk
membebaskan sisa-sisa karbohidrat terlarut. Residu dipindah secara kuantitatif
dari kertas saring ke dalam erlenmeyer dengan pencucian 200 ml akuades
kemudian ditambahkan HCl 25%, ditutup dengan pendingin balik, lalu
dipanaskan diatas penangas air mendidih selama 2,5 jam. Setelah dingin
campuran dinetralkan dengan NaOH 25% dan diencerkan sampai volume 500 ml.
Kemudian disaring. Dari filtrat yang diperoleh ditentukann glukosanya dengan
cara penentuan gula reduksi. Berat pati= 0,9 x berat glukosa yang diperoleh.

3.3.2.2 Penentuan gula reduksi

Gula standar diencerkan dengan akudes hingga diperoleh kadar gula


pereduksi 0,1-1,0 mg/ml. Faktor pengencerannya dicatat. Diambil 1 ml sampel
yang terlarut, ditambahkan 1 ml akuades dalam tabung dan ditambahkan 3 ml
larutan DNS. Dididihkan selama 15 menit dan didinginkan 15 menit. Absorbansi
diukur pada panjang gelombang 575 nm. Kadar gula reduksi berdasarkan kurva
standar dan dikalikan dengan faktor pengencerannya.
7

3.3.2.3 Pembuatan starter Saccharomyces cerevisiae

Satu gram ragiSaccharomyces cerevisiaedilarutkan dalam 50 ml akuades


steril. Menambah 300 ml media ampas tahu untuk starter dan dikocok dalam
waterbath shaker dengan kecepatan 15 rpm. Diinkubasi pada suhu kamar sampai
pertumbuhan selnya mencapai fase logaritmik (3-5 hari).

3.3.2.4 Produksi enzim glukoamilase menggunakan Rhizopus oligosporus

1. Produksi Rhizopus oligosporus


Media fermentasi dibuat menggunakan 20 g tepung sagu, 7 g kedelai
bubuk, 30 mL ekstrak tauge 4%, 1 g KH2PO4, 0,5 g MgSO4.7H2O, 0,05 g
KCl dan FeSO4.7H2O sebanyak 0,01 g. Mengatur pH media sehingga
mencapai 4,5 kemudian disterilisasi. Media diinokulasikan dengan ragi
tempe (Rhizopus oligosporus) kemudian diinkubasi selama 5-7 hari.
2. Isolasi Enzim Glukoamilase
Media fermentasi yang telah ditumbuhi oleh Rhizopus oligosporus
diekstraksi menggunakan buffer asetat pH 4,6 sebanyak 100 mL kemudian
disaring menggunakan kertas saring. Filtrat mengandung ekstrak kasar
enzim Glukoamilase

3.3.2.5 Pembuatan Bioetanol

Hasil analisis proksimat sampel limbah dengan kadar karbohidrat/pati, dan


kadar gula reduksi tertinggi digunakan untuk pembuatan etanol, yang meliputi
tahapan : proses glatinisasi, proses fermentasi dengan mikroba, dengan variasi pH
dan waktu, destilasi untuk memisahkan etanol dan air kemudian dilanjutkan uji
kadar etanol.

1. Proses glatinasi

Sampel ampas tahu ditambahkan dengan air, enzim α-termamyl amilase


dan dipanaskan selama 45 menit pada suhu 0-90 0C. Campuran diaduk,
didinginkan sampai suhu 75 0C dan diberi enzim glukosa amilase. Suhu
dipertahankan selama 2 jam, kemudian didinginkan sampai suhu 30 0C bibit
ragi/bakteri dimasukkan untuk proses fermentasi.

2. Vakum penguapan dan fermentasi

Untuk meningkatkan efisiensi fermentasi dengan vakum penguapan dalam


penurunkan konsentrasi gula ketika difermentasi dari hidrolisat. Proses penguapan
vakum dilakukan dalam oven, sampel diuapkan pada 60 0C di bawah tekanan 0,04
Mpa selama 4 jam. Sebagai konsentrasi dari penguapan, larutan gula dengan
konsentrasi yang rendah dipisahkan ke dalam larutan gula tingkat tinggi dalam
reaktor.
8

Setelah mendapat hidrolisat terkonsentrasi, proses fermentasi ragi


dilakukan. Saccharomyces cerevisiae. Media yang berisi ekstrak ragi, 0,5%
pepton, 2% dekstrosa. Percobaan fermentasi okara dilakukan pada sebuah
fermentor. Medium fermentasi yang mengandung itu di autoclave pada 121 0C
selama 15 menit, dipindahkan ke dalam fermentasi (pH 5.0)dan diinkubasi pada
300 rpm selama 36 jam pada suhu 30 0C, lalu sampel ditarik secara aseptik dari
fermentor berkala 0-36 jam.

3. Proses destilasi

Menyaring larutan hasil fermentasi dan memasukkan dalam labu destilasi


untuk pemisahan etanol dengan air. Proses destilasi dilakukan pada suhu 78-80
0
C.

Bagan Pengolahan Limbah Ampas Tahu Menjadi Bioetanol

Analisis Kadar Pati


Ampas Tahu

Penentuan Gula Reduksi

Pembuatan starter
Saccharomyces cerevisiae

Produksi Enzim
Glukoamilase

Pembuatan Bioetanol

- Proses glatinasi
- Vakum penguapan dan fermentasi
- Proses destilasi

-
-
-
9

BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN

4.1 Anggaran Biaya

Tabel 2.1 Format Ringkasan Anggaran Biaya PKM-Penelitian

No Jenis Pengeluaran Biaya (Rp)

1 Peralatan penunjang Rp. 5.380.000

2 Bahan habis pakai Rp. 3.384.000

3 Perjalanan Rp.2.000.000

4 Lainnya Rp.1.575.000

Jumlah Rp. 12.339.000

4.2 Jadwal Kegiatan

No Jenis Kegiatan Bulan

1 2 3 4 5
1. Penetapan Rencana Kerja
2. Persiapan Alat
3. Persiapan Bahan
4. Pembuatan Ragi
5. Pembuatan Bioetanol
6. Analisis Data
7. Menyusun Draft Laporan
8. Perbaikan Laporan 1
9. Penggandaan Laporan Akhir
10. Pengiriman Laporan
10

BAB 5. DAFTAR PUSTAKA

Azizah, N, dkk. 2012. Pengaruh Lama Fermentasi terhadap Kadar Alkohol, pH,
dan Produksi Gas pada Proses Fermentasi Bioetanol dari Whey dengan
Substitusi Kulit Nenas. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan, Vol. 1(2): Hal.
72-73. Jawa Tengah.

Choi, In Seong, et al. 2015. Soybean Waste (Okara) as a Valorization Biomass for
The Bioethanol Production. Journal Elsevier. 93: 1742 -1747.

Hidayati, Meirina. 2011. Pemanfaatan Ampas Tahu menjadi Bioetanol dengan


Proses Fermentasi dan Hidrolisa H2SO4. Fakultas Teknik Universitas
Diponegoro. Semarang.

Rahayu Sutriswati, E. 2012. Teknologi Proses Pembuatan Tahu. Kanisius.


Yogyakarta.

Retno, D. T dan Nuri, W. 2011. Pembuatan Bioetanol dari Kulit Pisang. Jurusan
Teknik Kimia FTI UPN Veteran. Yogyakarta.

Sarwono, B. 2006. Membuat Aneka Tahu. Swadaya. Jakarta.

Syaichurrozi, Iqbal dan Rusdi. 2015. Pencernaan Campuran Limbah Vinase dan
Limbah Cair Tahu untuk Meningkatkan Produksi Biogas. Eksergi, Vol.
12(2): Hal. 24. Cilegon.

Wahyuni, Sri. 2003. Karakteristik Nutrisi Ampas Tahu yang dikeringkan sebagai
Pakan Domba. UNDIP. Semarang.

Wijayanti, Kurnia dan Sunardi. 2011. Pengolahan Ampas Tahu Menjadi Etanol
sebagai Alternatif Sumber Bahan Bakar Nabati Non-Pangan.
Universtitas Negeri Surakarta. Surakarta.

Yanagisawa M, Nakamura K, Ariga O, Nakasaki K. 2011. Production of high


concentrations of bioethanol from seaweeds that contain easly
hydrolysble polysaccharides. Process Biochem. 46: 2111 – 6.
11
12
13

4. Anggota III
A. Identitas Diri Anggota
1. Nama Lengkap Ledi Kimet Zerona
2. Jenis Kelamin Perempuan
3. Program Studi Pendidikan Kimia
4. NIM 4151131023
5. Tempat dan Tanggal Lahir Sabang, 23 Desember 1997
6. E-mail ledikimetzerona@gmail.com
7. Nomor Telepon / HP 082272746616

B. Riwayat Pendidikan
SD SMP SMA
Nama Instansi SD Purwodadi SMP N Perisai SMA N Perisai

Jurusan - - IPA
Tahun Masuk - Lulus 2003 – 2009 2009 – 2012 2012 – 2015

C. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation)


No Nama Pertemuan Judul Artikel Ilmiah Waktu dan
Ilmiah / Seminar Tempat
1. - - -

D. Penghargaan dalam 10 tahun Terakhir (dari pemerintah, asosiasi atau


institusi lainnya)
No Jenis Penghargaan Institusi Pemberi Tahun
Penghargaan
1. - - -

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata
dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu
persyaratan dalam pengajuan hibah PKM Penelitian.

Medan, 06 Oktober 2016


Pengusul,

(Ledi Kimet Zerona)


NIM. 4151131023
14
15
16
17

Lampiran 2. Justifikasi Anggaran Kegiatan


1. Peralatan penunjang

Material Justifikasi Kuantitas Harga Jumlah


Pemakaian Satuan
Penangas Air Untuk 1 Rp.750.000 Rp.750.000
memanaskan
cairan ampas
tahu
Piknometer Untuk 1 Rp.127.100 Rp.127.000
mengukur
densitas zat
Erlenmeyer Wadah destilat 3 Rp.80.000 Rp.240.000
Kertas Saring Media untuk 2 Rp.30.000 Rp.60.000
menyaring
ampas tahu
Gelas Ukur 3 Rp.250.000 Rp.750.000
Neraca Analitik Menimbang 1 Rp.500.000 Rp.500.000
bahan
Pengaduk 3 Rp.85.000 Rp.255.000
(spatula)
Pendingin Balik 1 Rp.325.000 Rp.325.000
Termometer 1 Rp.100.000 Rp.100.000
Pemanas Spirtus 1 Rp.156.500 Rp.156.000
Cawan Petri 3 Rp.25.000 Rp.75.000
Oven Menguapkan 1 Rp.255.000 Rp.225.000
vakum ampas
tahu saat
fermentasi
pH Meter Mengukur Ph 1 Rp.250.000 Rp.250.000
ampas tahu
Spektofotometer Mengukur 1 Rp.657.300 Rp. 657.000
UV-Vis absorban ampas
tahu
Waterbath Alat 1 Rp.600.000 Rp. 600.000
Shaker pengadukan
untuk
pembuatan
starter
Saccharomyces
cerevisiae

Gelas Piala 2 Rp.125.000 Rp250.000


Tabung Reaksi 6 Rp. 10.000 Rp. 60.000
SUB TOTAL Rp. 5.380.000
18

2. Bahan Habis Pakai

Material Justifikasi Kuantitas Harga Jumlah


Pemakaian Satuan
Ampas Tahu 20 kg Gratis Gratis
Eter 100 ml Rp. 240/ml Rp. 24.000
Asam klorida 100 ml Rp. 3.200/ml Rp.320.000
Natrium 500 gr Rp. 1.800/gr Rp. 900.000
Hidroksida
DNS Regaen 50 ml Rp. 4.000/ml Rp. 200.000
identifikasi
glukosa
Glukosa 2 kg Rp. 7.500/kg Rp. 15.000
Tepung sagu Bahan 2 kg Rp. Rp. 20.000
pembuatan 10.000/kg
enzim
glukoamilase
Ekstrak tauge Bahan 500 gr Rp. 60.000 Rp. 60.000
pembuatan
enzim
glukoamilase
Kedelai Bubuk Bahan 500 gr Rp.500/gr Rp. 250.000
pembuatan
enzim
glukoamilase
Kalium Bahan 100 ml Rp. 5.500/ml Rp. 550.000
Hidropospat pembuatan
enzim
glukoamilase
Magnesium sulfat Bahan 100 ml Rp. 4.000/ml Rp. 400.000
pembuatan
enzim
glukoamilase
Kalium klorida Bahan 50 ml Rp. 4.100/ml Rp. 205.000
pembuatan
enzim
glukoamilase
Besi II sulfat Bahan 50 ml Rp. 6.000/ml Rp. 300.000
pembuatan
enzim
glukoamilase
Aquades 10 L Rp. 14.000/L Rp. 140.000
SUB TOTAL Rp. 3.384.000
19

3. Perjalanan

Material Justifikasi Kuantitas Harga Jumlah


Perjalanan Satuan
Transportasi Pembelian Alat 5 Orang Rp. 2.000.000 Rp.
Lokal dan bahan serta 2.000.000
pengambilan
sampel
SUB TOTAL Rp.
2.000.000

4. Lain-lain

Material Justifikasi Kuantitas Harga Jumlah


Pemakaian Satuan
Sewa Rp. 300.000
Autoclave
Administrasi Perizinan, Rp. 75.000 Rp. 75.000
Penggandaan
surat
Pembuatan Rp.250.000 Rp. 250.000
Laporan
Konsumsi 5 Rp. 20.000 Rp. 100.000
Dokumentasi Rp.200.000 Rp. 200.000
kegiatan
Pencarian Paket internet 3 Rp. 50.000 Rp. 50.000
Literatur
Seminar Sosialisasi dan Rp.600.000 Rp. 600.000
Penelitian
SUB TOTAL Rp.1.575.000
Total Keseluruhan Rp. 12.339.000
20

Lampiran 3. Susunan Organisasi Tim Peneliti dan Pembagian Tugas

No Nama / NIM Program Bidang Alokasi Uraian Tugas


Studi Ilmu Waktu
(jam/minggu)
1. Ismi Yanti Pendidikan Kimia 6 jam/minggu Koordinator,
Hutahuruk Kimia Managering,dan
4151131018 Mengurus
administrasi tim
PKM-P.

2. Ledi Kimet Pendidikan Kimia 6 jam/minggu Pencari


Zerona Kimia Referensi,
4151131023 Persiapan alat,
dan Produksi.
3. Khairani Pendidikan Kimia 5 jam/minggu Pencari
Islamiah Kimia Referensi,
4151131020 Persiapan alat
dan Produksi
4. Intan Ayu Pendidikan Kimia 5 jam/minggu Pencari
Rahmayani Kimia Referensi,
4151131017 Persiapan
Bahan, dan
Produksi.
5. Dinda Prihatini Pendidikan Kimia 4 jam/minggu Pencari
Fitri Amne Kimia Referensi,
4162131007 Persiapan
Bahan, dan
Produksi.
21