Anda di halaman 1dari 2

SYNTHETIC PHENETHYLAMINE

Synthetic phenethylamine merupakan senyawa yang memiliki struktur utama phenyl dan amine atau
yang lebih dahulu dikenal adalah golongan ATS (amphetamine type stimulant). Contoh zat ATS
yang lebih dahulu berkembang adalah golongan sabu seperti amphetamine dan methamphetamine
dan golongan ekstasi seperti MDMA, MDA, MDEA dan lain-lain. Zat ini dalam perkembangannya
ternyata banyak menghasilkan variasi produk lainnya dengan tujuan memiliki efek yang sama yaitu
stimulan dan halusinogen diantaranya adalah seri 2C seperti 2-CB, 2-CC, kemudian D-seri seperti
DOC, DOB dan lain-lain seperti PMMA dan seri NBOMe.

Gambar 1. Struktur Utama Phenethylamine

Perkembangan synthetic phenethylamine di dunia pertama kali ketika seorang pharmacologist yang
bernama Alexander Theodore “Sasha” Shulgin mulai memperkenalkan MDMA pada klinik terapi
psikologis dan melakukan sintesa metode baru untuk MDMA. MDMA sendiri sebenarnya sudah
lama disintesa pada tahun 1912, namun belum pernah dilakukan uji coba pada manusia. Sashalah
yang pertama kali memeperkenalkan MDMA di klinik-klinik terapi psikologis. Kemudian synthetic
phenethylamine ini mulai pesat perkembangannya ketika Sasha melakukan riset tentang
phenethylamines dan mempublikasikan bukunya yang bernama PIHKAL (phenethylamine, i have
known and i love it) pada tahun 1991, termasuk di dalamnya adalah senyawa 2-C series dan DO-
family.

Perkembangan selanjutnya adalah riset phenethylamine mengenai kelompok halusinogen yaitu 2-


CB dan DOB yang memiliki kemiripan efek dengan golongan mescaline yaitu senyawa
benzodifuranyl yang dikenal dengan FLY (tetrahydrobenzodifuranyl) dan dragonfly (benzodifuranyl
aminoalkanes).

Kemudian yang berkembang selanjutnya dalah PMMA yang merupakan perkembangan dari PMA
dalam bentuk tablet ekstasi. Kasus PMMA di Indonesia pertama kali trejadi di tahun 2012 yaitu
kiriman tablet ekstasi yang diselundupkan dalam container melalui pelabuhan Tanjung Priok yang
merupakan kasus NPS dengan jumlah sitaan paling besar yaitu 1,3 juta butir tablet ekstasi. Tablet
ekstasi tersebut memiliki dua kandungan utama yaitu MDMA dan PMMA sehingga penggunaan
lebih dari satu senyawa phenethylamine berpotensi mengakibatkan efek ganda halusinogen dan
toksisitas yang membahayakan bagi kesehatan tubuh.

Kasus phenethylamine lainnya di Indonesia adalah temuan sampel berbentuk kertas perangko yang
bergambar warna-warni pada tahun 2013. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa
kandungan kertas tersebut mengandung senyawa NBOMe- series. Selanjutnya adalah temuan
kertas yang mengandung DOC yang sering disebut di media sebagai CC4. Penyalahgunaan kertas
tersebut berpotensi membahayakan karena dosisnya yang cukup kecil namun sudah
mengakibatkan gejala toksisitas.

Gambar 1. Tablet ekstasi mengandung 2-CB Gambar 2. Tablet ekstasi mengandung


PMMA

Gambar 3. kertas mengandung 25B-NBOMe Gambar 4. Kertas mengandung 25C-


NBOMe

Golongan phenethylamine selain berefek stimulan dan euphoria, efek lain yang dihasilkan adalah
halusinogen. Selain itu efek yang sering dilaporkan adalah kram jantung dan toksisitas yang
berlanjut dengan kematian.