Anda di halaman 1dari 14

Laporan Praktikum

Dasar-dasar Ilmu Tanah

PROFIL TANAH

NAMA : NILA NURHALIZAH

NIM : G011171313

KELAS : C

KELOMPOK : VIII

ASISTEN : MARSELIANTI

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


DEPARTEMEN ILMU TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
I.PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tanah yang kita tempati dan kita pergunakan untuk berbagai usaha guna
memenuhi berbagai kebutuhan hidup manusia, terwujudnya adalah melalui
berbagai proses dan tahapan-tahapan yang panjang dan berjuta-juta tahun
umurnya. Tanah terdiri dari partikel pecahan batuan yang telah diubah oleh proses
kimia dan lingkungan yang meliputi pelapukan dan erosi. Tanah berbeda dari
batuan induknya karna interaksi antara, hidrosfer, atmosfer, litosfer dan biosfer ini
adalah campuran dari konstituen mineral dan organic yang dalam keadaan padat,
gas, dan cair. Fungsi utama tanah adalah sebagai media tumbuh makhluk hidup.
Proses pembentukan tanah dimulai dari hasil pelapukan batuan induk
(regolit) menjadi bahan induk tanah, diikuti oleh proses pencampuran bahan
organik yaitu sisa-sisa tumbuhan yang dilapuk oleh mikroorganisme dengan
bahan mineral dipermukaan tanah, pembentukan struktur tanah, pemindahan
bahan-bahan tanah dari bagian atas ke bagian bawah dan berbagai proses lain,
sehingga apabila kita menggali lubang pada tanah maka akan terlihat lapisan-
lapisan tanah yang berbeda sifat fisik, kimia, dan biologinya, lapisan-lapisan
inilah yang disebut dengan horizon tanah yang terbentuk dari mineral anorganik
akar. Susunan horizon tanah tersebut biasa disebut profil tanah.
Profil tanah merupakan penampang tegak tanah yang memperlihatkan
berbagai lapisan tanah. Pengamatan profil sangat penting dalam mempelajari
sifat-sifat tanah secara langsung dilapangan, terutama yang berkaitan dengan
genetis dan klasifikasi tanah. Sifat fisik dan kimia tanah juga biasanya dilakukan
dengan bersamaan dan merupakan bagian pengamatan profil tanah. Evaluasi
terhadap sifat-sifat tanah ini kemudian dilanjutkan secara lebih rinci di
laboratorium dengan menggunakan contoh tanah yang diperoleh dari lahan.
Contoh tanah dibedakan atas beberapa macam tergantung pada tujuan dan
cara pengambilan. Bila contoh tanah diambil pada setiap lapisan untuk
mempelajari perkembangan profil menetapkan jenis tanah maka disebut contoh
tanah satelit. Contoh tanah yang diambil dari beberapa tempat dan digabung untuk
menilai tingkat kesuburan tanah disebut contoh tanah komposit. Pengambilan
contoh tanah secara komposit dapat menghemat biaya analisis bila dibandingkan
dengan pengambilan secara individu (Peterson dan Calvin, 1984). Ada lagi contoh
tanah yang diambil dengan pengambilan sampel (core) dan disebut dengan contoh
tanah utuh, yang biasanya digunakan untuk menetapkan sifat tanah disebut contoh
tanah utuh karena strukturnya asli seperti apa adanya di lapangan sedangkan
contoh tanah yang sebagian atau seluruh strukturnya telah rusak disebut contoh
tanah terganggu.
Berdasarkan uraian diatas maka perlu diadakan pengamatan tentang profil
tanah serta sifat fisik maupun sifat kimia tanah.

1.2 Tujuan dan Kegunaan

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui pembuatan profil tanah,
kenampakan dari profil tanah secara utuh, pencirian horizon-horizon tanah, dan
pembentukan tanah dari bahan induknya .
Kegunaan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui dan membedakan
tiap-tiap horizon tanah serta karakteristik dari masing-masing horizon pada profil
tanah tersebut.
II.TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Profil Tanah

Profil tanah merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah, yang dibuat
dengan cara membuat lubang dengan ukuran panjang, lebar, serta kedalaman
tertentu sesuai dengan tanah dan keperluan penelitian. Tanah merupakan tubuh
alam yang terbentuk dan berkembang akibat terkena gaya-gaya alam (natural
force) terhadap proses pembentukan mineral di dalam tanah(Hakim,dkk, 1982).
Secara vertikal tanah diferensiasi dan membentuk horizon-
horizon(lapisan-lapisan) yang berbeda-beda baik dan dalam morfologi seperti
ketebalan dan warnanya, maupun karakteristik fisik, kimiawi, dan biologis
masing-masing sebagai konsekuensi bekerjanya faktor-faktor lingkungan
terhadap: 1) bahan induk asalnya maupun;2) bahan-bahan eksternal, berupa bahan
organik sisa-sisa biota yang hidup diatasnya dan mineral nonbahaninduk yang
berasal dari letusan gunung api atau yang terbawa oleh aliran air. Profil tanah
merupakan irisan vertikal tanah dari lapisan paling atas ke bebatuan induk tanah
(regolit), yang biasa terdiri dari horizon-horizon O-A-E-B-C-R. Empat
lapisan terang yang masih dipengaruhi oleh cuaca disebut solum tanah, horizon O-
A disebut lapisan tanah atas (top soil) dan horizon E-B disebut
lapisan tanah bawah(Hanafiah, 2010).
Pengenalan profil tanah secara lengkap meliputi sifat fisik, kimia dan
biologi tanah. Pengenalan ini penting dalam hal mempelajari pembentukan dan
klasifikasi tanah dengan pertumbuhan tanaman serta kemungkinan pengolahan
tanah yang lebih tepat. Adapun faktor-faktor pembentukan tanah, maka potensi
untuk membentuk berbagai jenis yang berbeda amat besar(Foth, 1999).
Profil tanah didefinisikan sebagai irisan fertikal tanah dari lapisan paling
atas hingga kebahagian tanah. Profil dari tanah mineral yang telah berkembang
lanjut biasanya memiliki horizon-horizon sebagai berikut: 1) horizon O adalah
horizon yang terdiri dari bahan serasah atau sisa-sisa tanaman (Oi) dan bahan
organik tanah (BOT) hasil dekompisi serasah (Oa);2) horizon A adalah horizon
mineral berbahan organik tanah (BOT) tinggi sehingga berwarna agak gelap;3)
horizon E adalah horizon mineral yang telah terelopiasi (tercuci) sehingga kadar
BOT, liat silikat Fe, Al rta rendah tetapi kadar pasir dan debu kuarsa (seskuosida)
dan mineral resisten lainnya tingi serta berwarna terang; 4) Horison B adalah
horizon ilufiasi yaitu horizon akumudasi bahan eluvial dari bahan horizon
diatasnya;5) horizon C adalah lapisan yang ubahan penyusunya masih sama
dengan bahan induk atau belum terjadi perubahan secara kimiawi;6) R adalah
bahan induk tanah (Madjid, 2007).

2.2 Sifat Fisik Tanah

Menurut (Hardjowigeno 1987) sifat sifat fisika tanah terdiri dari:


a. Batas Batas horison, dalam pengamatan tanah di lapang ketajaman peralihan
horizon-horizon ini diberikan ke dalam beberapa tingkatan nyata yaitu lebar
b. peralihan kurang dari 2,5 cm dan berangsur.
c. Warna tanah merupakan petunjuk beberapa sifat tanah karna warnah tanah
menunjukan apabila makin tinggi bahan organik , warna tanah semakin gelap.
Didaerah berdrainase buruk yaitu daerah yang selalu tergenang air seluruh
tanah berwarna abu-abu karena senyawa fe terdapat dalam keadaan reduksi.
Pada tanah yang berdrainase baik yaitu tanah yang tidak pernah terendam air
terdapat dalam keadaan oksidasi.
d. Tanah dikelompokkan ke dalam beberapa tekstur tanah yaitu: kasar, agak
kasar, sedang, agak halus, dan halus.
e. Struktur tanah merupakan gumpalan kecil dari butir-butir tanah. struktur ini
terjadi karena butir-butir pasir debu dan liat terikat satu sama lain oleh suatu
perekat seperti bahan organik oksida-oksida besi dan lain lain.
f. Konsistensi menunjukkan kekuatan daya kohesi butir- butir tanah dengan
benda lain. Tanah yang mempunyai konsistensi baik umumnya mudah di olah
dan tidak melekat pada alat pengolah tanah.
g. Drainase tanah. Kelas drainase ditentukan dilapang dengan melihat adanya
gejala gejala pengaruh air dalam penampang tanah.
h. Bulk density (kerapatan lindat).Menunjukkan perbandingan antara berat tanah
kering dengan volume tanah termasuk volume pori-pori tanah. Bulk density
merupakan petunjuk kepadatan tanah.

2.3 Sifat Kimia Tanah

Menurut (Hardjowigeno 1987) sifat-sifat kimia tanah terdiri dari:


a) Reaksi tanah (pH tanah). Menunjukan sifat keasaman tanah yang dinyatakan
dengan nilai pH. Nilai pH menunjukan banyaknya konsentrasi ion hidrogen di
dalam tanah semkin masam tanah tersebut.
b) Koloid tanah adalah bahan mineral dan bahan organik tanah yang sangat
halus, sehingga membenuk permukaan yang tinggi persatuan berat. Koloid
tanah merupakan bagian tanah yang sangat aktif dalam reaksi-reaksi
fsikokimia di dalam tanah.
c) Tukar kation dinyatakan dalam satuan kimia yaitu miliekivalen per 100g.
d) Pertukaran anion banyak ditemukan pada mineral liat amorf, dan liat al dan fe-
oksida.
e) Kejenuhan basa menunjukan perbandingan antara jumlah kation kation basa
dengan jumlah semua kation yang terdapat dalam kompleks jerapan tanah.
III.METODOLOGI

3.1 Letak Geografis dan Administrasi


Letak geografis dari tempat pengamatan profil tanah adalah S 507’37.578” dan E
119028’53.6988”.
Letak administrasi dari tempat yakni sebagai berikut :
Sebelah Utara : berbatasan dengan Laboraturium Fakultas Peternakan
Sebelah Barat : berbatasan dengan Pemukiman Penduduk
Sebelah Timur : berbatasan dengan Kebun Buah Naga
Sebelah Selatan : berbatasan dengan Politeknik Negeri Ujung Pandang.

3.2 Waktu dan Tempat


Pengamatan profil tanah dilaksanakan pada hari Minggu, 08 Oktober 2017 pukul
08:30 WITA sampai selesai di Exfarm Fakultas Pertanian Universitas
Hasanuddin, Makassar

3.3 Alat dan Bahan


Pada praktikum profil tanah ini, alat-alat yang digunakan untuk pengambilan
sampel tanah profil adalah cangkul, linggis, sekop, cutter, meteran,bar dan ring
sampel.
Bahan-bahan yang digunakan pada saat pengambilan sampel tanah adalah
tanah, air, kantong plastik, dan kertas label.

3.4 Prosedur Kerja


3.4.1 Pembuatan Penampang Profil

Untuk membuat penampang profil, maka langkah-langkah yang harus dilakukan


adalah sebagai berikut :
1. Membuat lubang besar yang berbentuk seperti persegi panjang dengan
ukuran 2 x 1 m dengan kedalaman 130 cm
2. Memasang meteran bar kedalam lubang untuk mengukur ketinggian
horizon-horizon tanah
3. mengamati setiap horizon tanah dalam lubang tersebut serta mengukur pada
ketinggian berapa horizon tersebut.

3.4.2 Pengambilan Sampel Tanah Utuh

Langkah-langkah yang dilakukan untuk mengambil sampel tanah utuh adalah


sebagai berikut :
a. Meratakan dan membersihkan lapisan yang akan diambil lalu siram tanah
tersebut dengan air, kemudian meletakkan ring sampel tegak lurus pada
lapisan tanah.
b. Menyusun dua ring sampel
c. Menekan ring sampel sampai ring sampel pertama(bagian bawah) terisi
penuh.
d. Menggali ring sampel beserta tanah di dalamnya dengan sekop dan linggis.
e. Memotong kelebihan tanah yang ada pada permukaan ring sampel.
f. Menutup ring sampel dengan plastik.

3.4.3 Pengambilan Sampel Tanah Terganggu

Langkah-langkah yang dilakukan untuk mengambil sampel tanah terganggu


adalah sebagai berikut :
a. Mengambil tanah sesuai dengan lapisan yang akan diambil.
b. Memasukkan tanah ke dalam kantong plastik yang telah diberi kertas
label.
IV.HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh di lapangan dapat dilihat pada tabel
berikut :
Tabel I . Pengamatan profil

Parameter Lapisan
pengamatan I II III
Kedalaman
0 – 15 cm 15 – 70 cm 70 – 100 cm
lapisan
Struktur tanah Angular blocky Fine Fine
Konsistensi tanah gembur Teguh Teguh
Batasan lapisan tegas bergelombang Berangsur

4.2 Pembahasan

4.2.1 Kedalaman Lapisan

Berdasarkan tabel, dapat diketahui bahwa pada lapisan I memiliki kedalaman


lapisan 0-15 cm, lapisan II memiliki kedalaman lapisan 15-70 cm, sedangkan
pada lapisan III memiliki kedalaman lapisan 70-100 cm. Kedalaman lapisan ini
dapat diketahui dengan cara melihat perbedaan warna. Hal ini sesuai dengan
pendapat (Foth, 1985) bahwa suatu batas nyata dari biasanya antara lapisan yang
satu dengan yang lain dapat dilihat dari perbedaan warna tanah. Lapisan pertama
memiliki warna yang lebih gelap dibandingkan dengan lapisan kedua. Lapisan
kedua memiliki warna yang lebih terang dari lapisan pertama, begitupun dengan
lapisan ketiga yang lebih terang dari lapisan sebelumnya.
Adanya perbedaan lapisan pada tanah disebabkan proses pelapukan sisa-
sisa mikroorganisme atau proses humufikasi dan cenderung tanah yang memiliki
warna yang gelap merupakan tanah yang subur. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Hanafiah (2005) yaitu, tanah yang berwarna gelap berarti banyak mengandung
bahan organik tanah atau belum mengalami pelindian (leaching) hara secara
instensif, sehingga relatif subur, sedangkan tanah yang berwarna terang atau pucat
berarti berBOT (bahan organik tanah) rendah atau telah mengalami pelindian hara
instensif, sehingga relatif miskin.

4.2.2 Struktur Tanah

Sesuai dengan tabel pengamatan di lapangan diperoleh struktur tanah tiap lapisan
agak berbeda. Struktur tanah ditentukan dari gumpalan-gumpalan kecilnya dimana
gumpalan-gumpalan ini mempunyai bentuk, ukuran dan kemantapan yang
berbeda-beda (Hardjowigeno,2008). Pada lapisan I struktur tanah yakni angular
blocky yang berarti merupakan gumpalan bersudut. Pada lapisan II struktur tanah
fine atau halus, agak melengket dan mengkilat(sedang). Tanah pada lapisan III
juga fine atau halus dimana jika diraba sangat lengket, dan juga terlihat mengkilat.
Perbedaan ini dipengaruhi bahan organik, dimana lapisan paling atas
umumnya mengandung bahan organik paling banyak dibanding lapisan
dibawahnya. Bahan organik berperan sebagai perekat partikel-partikel tanah
sehingga mudah menyatu dan dapat dibentuk struktur agregat yang kuat
kemantapannya. Hal ini sesuai denga pendapat Ariyanto (2010) yang menyatakan
bahwa bahan organik mendorong agregasi dan memantapkan struktur tanah
karena membentuk koloid tak balik atau lambat balik yang berperan sebagai
perekat.

4.2.3 Konsistensi Tanah

Dapat diketahui dari tabel pengamatan bahwa konsistensi tanah pada lapisan
pertama memiliki konsistensi gembur atau mudah hancur yang disebabkan karena
sering terjadinya pengolahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Hardjowigeno
(2003) yang mengatakan bahwa tanah yang pernah mengalami pengolahan akan
mengakibatkan tanah menjadi mudah untuk dihancurkan.
Tanah lapisan kedua memiliki konsistensi teguh. Dan pada konsistensi
tanah lapisan ketiga juga teguh seperti lapisan kedua. Hal ini dipengaruhi oleh
kadar air tanah karena adanya tarik menarik antar jarak tanah. Sesuai dengan
pendapat Notohadiprawiro (1999) yang menyatakan bahwa konsistensi tanah
merupakan ungkapan mekanik gaya ikat antar zarah tanah yang berkaitan dengan
tingkat dan macam kohesi dan adhesi ini berarti konsistensi dipengaruhi oleh
kadar air tanah.

4.2.4 Batasan Kedalaman

Pada lapisan pertama dapat diketahui bahwa batasannya terlihat tegas, sementara
pada lapisan kedua bergelombang dan lapisan ketiga batasan lapisannya
berangsur. Hal ini sesuai dengan pendapat Susanto (2005), yang menyatakan
bahwa lapisan-lapisan yang terbentuk pada profil tanah dapat dikatakan tidak
selamanya tegas dan nyata tetapi kerap kali batas-batasannya agak kabur atau
berangsur.
Batasan lapisan berangsur disebabkan karena adanya perbedaan
kedalaman tanah pada tiap lapisan dalam proses pencucian dimana pada saat
hujan, air tersebut akan mengalir turun ke lapisan bawah bersama dengan mineral
tanah dengan kecepatan yang tinggi sehingga menyebabkan adanya perbedaan
batasan kedalaman.
V.PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan maka dapat di simpulkan bahwa


Lapisan I mempunyai kedalaman 0-15 cm memiliki struktur tanah angular
blocky,batasan lapisan yang tegas serta konsistensi tanah yang gembur.Lapisan II
mempunyai kedalaman 15-70 cm memiliki struktur tanah fine dengan konsistensi
teguh serta batasan lapisan yang bergelombang.Lapisan III mempunyai kedalaman
70-100 cm memiliki struktur tanah fine dengan kosistensi tanah teguh serta
batasan lapisan yang berangsur.Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan
tanah yaitu iklim, organisme, bahan induk, topografi, waktu.

5.2 Saran

Sebaiknya pada saat pengambilan sampel dan pengamatan profil tanah di lakukan
lebih pagi agar cuaca tidak terlalu panas sehingga tidak mengganggu konsentrasi
pada saat pengamatan profil. Kemudian point-point dalam isian profil di jelaskan
lebih rinci terlebih dahulu agar lebih memudahkan praktikan saat pengamatan.
DAFTAR PUSTAKA

Ariyanto Dwi.2010.Klasifikasi Struktur Tanah.Universitas Negeri Semarang :


Semarang .
Buckman,Harry O.1982.Ilmu Tanah.Bhratara Karya Aksara: Jakarta
Foth, H. Hendry. 1988. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Gadjah Mada:
Yogyakarta..
Foth, H. Henry. 1985. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Gadjamadah
University:Yogyakarta.
Hakim.N, dkk, 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas
Lampung:Lampung
Hanafiah, Kemas Ali,Dr,Ir.2005.Dasar-dasar Ilmu Tanah. PT.Rajagra Findo
Persada: Jakarta
Hardjowigono, H.S. 2003. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo, Jakarta Lampung :
Lampung
LAMPIRAN

Gambar 1. Proses pembuatan Gambar 2. Demonstrasi di lahan


penampang kerja di lahan mengenai cara penentuan horizon