Anda di halaman 1dari 11

“TUGAS SISTEM INFORMASI”

1. The waterfall model


Model siklus hidup (life cycle model) adalah model utama dan dasar dari banyak model.
Salah satu model yang cukup dikenal dalam dunia rekayasa perangkat lunak adalah The Waterfall
Model. Ada 5 tahapan utama dalam The Waterfall Model seperti terlihat pada Gambar 2.3. di
sebut Waterfall ( berarti Air Terjun) memang diagram tahapan prosesnya mirip dengan air terjun
yang bertingkat. Tahapan-tahapan dalam The Waterfall Model secara ringkas adalah sebagai
berikut :
a) Tahap investigasi dilakukan untuk menentukan apakah terjadi suatu masalah atau
adakah peluang suatu sistem informasi dikembangkan. Pada tahapan ini studi kelayakan
perlu dilakukan untuk menentukan apakah sistem informasi yang akan dikembangkan
merupakan solusi yang layak
b) Tahap analisis bertujuan untuk mencari kebutuhan pengguna dan organisasi serta
menganalisa kondisi yang ada (sebelum diterapkan sistem informasi yang baru).
c) Tahap disain bertujuan menentukan spesifikasi detil dari komponen- komponen
sistem informasi (manusia, hardware, software, network dan data) dan produk-produk
informasi yang sesuai dengan hasil tahap analisis.
d) Tahap implementasi merupakan tahapan untuk mendapatkan atau mengembangkan
hardware dan software (pengkodean program), melakukan pengujian, pelatihan
dan perpindahan ke sistem baru.
e) Tahapan perawatan (maintenance) dilakukan ketika sistem informasi sudah dioperasikan.
Pada tahapan ini dilakukan monitoring proses, evaluasi dan perubahan (perbaikan) bila
diperlukan.
Gambar 11 The Waterfall Model

Kelebihan Model Waterfall :

a. Merupakan model pengembangan paling handal dan paling lama digunakan


b. Cocok untuk system software berskala besar.
c. Cocok untuk system software yang bersifat generic.
d. Pengerjaan project system akan terjadwal dengan baik dan mudah dikontrol.

Kekurangan Model Waterfall :


a. Partisi projek ke stage yang berbeda tidak fleksibel.
b. Hal ini mengakibatkan sulitnya untuk merespon perubahan kebutuhan pengguna
c. Oleh sebab itu model ini hanya cocok digunakan apabila kebutuhan pengguna sudah
dimengerti dengan baik.
d. Persyaratan system harus digambarkan dengan jelas.
e. Rincian proses harus benar-benar jelas dan tidak boleh berubah-ubah.
f. Sulit untuk mengadaptasi jika terjadi perubahan spesifikasi pada suatu tahapan
pengembangan.

Model ini digunakan pada saat :


 Ketika semua persyaratan yang diajukan sudah dipahami dengan baik pada awal
pengembangan program.
 Rancangan sistem bersifat stabil dan tidak ada perubahan yang dilakukan saat
Pengembangan
 Menghasilkan produk baru, atau produk dengan versi baru. Sebenarnya, jika
menghasilkan produk dengan versi baru maka tahapannya sama dengan metode waterfall
yang kemudian diulang-ulang.

2. Prototyping model
Prototyping adalah salah satu pendekatan dalam rekayasa perangkat lunak yang secara
langsung mendemonstrasikan bagaimana sebuah perangkat lunak atau komponen-komponen
perangkat lunak akan bekerja dalam lingkungannya sebelum tahapan konstruksi aktual
dilakukan (Howard, 1997).

Dalam Model Prototype, prototype dari perangkat lunak yang dibuat kemudian ditunjukan
kepada pelanggan, dan pelanggan yang bersangkutan memiliki kesempatan untuk memberikan
masukan sehingga software yang dibuat akan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan dari
pelanggan. Perubahan dapat dilakukan berkali – kali.

Cakupan aktivitas prototyping model terdiri dari:


 Mendefinisikan objetif secara keseluruhan dan mengidentifikasi kebutuhan yang sudah
diketahui.
 Melakukan perancangan secara cepat sebagai dasar untuk membuat Prototype
 Menguji coba dan mengevaluasi prototype dan kemudian melakukan penambahan dan
perbaikan-perbaikan terhadap prototype yang sudah dibuat.

Prototyping model dapat diklasifikasikan menjadi beberapa tipe seperti terlihat pada gambar
12
Gambar 12. Klasifikasi prototyping model (Harris, 2003)

 Reusable prototype :
Prototype yang akan ditransformasikan menjadi produk final.

 Throwaway prototype :
Prototype yang akan dibuang begitu selesai menjalankan maksudnya.

 Input/output prototype :
Prototype yang terbatas pada antar muka pengguna (user interface).

 Processing prototype :
Prototype yang meliputi perawatan file dasar dan proses-proses transaksi.

 System prototype :
Prototype yang berupa model lengkap dari perangkat lunak.

Tahap-tahap dalam prototyping boleh dikata merupakan tahap-tahap yang dipercepat.


Strategi utama dalam prototyping adalah kerjakan yang mudah terlebih dahulu dan sampaikan
hasil kepada pengguna sesegera mungkin. Harris (2003) membagi prototyping dalam enam
tahapan seperti terlihat pada gambar 13.

Tahapan-tahapan secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut:

 Identifikasi kandidat prototyping. Kandidat dalam kasus ini meliputi user interface
(menu, dialog, input dan output), file-file transaksi utama, dan fungsi-fungsi pemrosesan
sederhana.
 Rancang bangun prototype dengan bantuan software seperti word processor,
spreadsheet, database, pengolah grafik, dan software CASE (Computer-Aided
System Engineering).
 Uji prototype untuk memastikan prototype dapat dengan mudah dijalankan untuk tujuan
demonstrasi.
 Siapkan prototype USD (User’s System Diagram) untuk mengidentifikasi bagian-
bagian dari perangkat lunak yang di-prototype-kan.
 Evaluasi dengan pengguna untuk mengevaluasi prototype dan melakukan perubahan
jika diperlukan.
 Transformasikan prototype menjadi perangkat lunak yang beroperasi penuh dengan
melakukan penghilangan kode-kode yang tidak dibutuhkan, penambahan
program-program yang memang dibutuhkan dan perbaikan dan pengujian perangkat
lunak secara berulang.

Gambar 13. Tahapan-tahapan prototyping model (Harris, 2003)

Dalam sumber lain mengatakan bahwa Tahapan dari Prototype yaitu :


Tahapan Prototype yaitu :
 Communication, dimulai dengan komunikasi dengan bertemu antara pihak developer dan
customer dan membicarakan kebutuhan dari software yang akan dibuat.
 Quick Plan, rencana cepat untuk membuat model dari prototipe .
 Quick Design, desain cepat yang fokus pada representasi aspek-aspek perangkat lunak yang
akan terlihat oleh pengguna akhir. (antarmuka dan output).
 Deployment Delivery & Feedback desain mengarah pada pembangunan prototipe yang
akan dievaluasi. kritik dari pihak customer akan digunakan untuk penyempurnaan lebih
lanjut.

Kelebihan Model Prototyping :


 Pengguna secara aktif terlibat dalam pengembangan.
 Ketika prototipe diperlihatkan kepada pengguna, ia mendapat penjelasan yang tepat
dan merasakan fungsionalitas perangkat lunak dan ia dapat memberi masukan apabila
terjadi perubahan dan modifikasi.

Kekurangan Model Prototyping :

 Menghabiskan waktu dengan biaya besar, terutama ketika Anda dalam anggaran
yang sedikit.
 Secara praktis, model ini dapat meningkatkan kompleksitas sistem karena ruang
lingkup sistem dapat meluas melampaui perancangan awal.

3. Model RAD (Rapid Application Development)


Merupakan model proses pengembangan perangkat lunak secara linear sequential yang
menekankan pada siklus pengembangan yang sangat singkat/pendek. Jika kebutuhan dipahami
dengan baik, proses RAD memungkinkan tim pengembangan menciptakan “sistem fungsional
yang utuh” dalam periode waktu yang sangat pendek (kira-kira 60-90 hari). Pendekatan RAD
model menekankan cakupan :
a. Pemodelan bisnis (Bussiness Modelling)
Aliran informasi diantara fungsi-fungsi bisnis dimodelkan dengan suatu cara untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut : Informasi apa yang mengendalikan proses
bisnis ? Kemana informasi itu pergi? Siapa yang memprosesnya ?
b. Pemodelan data (Data Modelling)
Aliran informasi yang didefinisikan sebagai bagian dari fase pemodelan bisnis disaring ke
dalam serangkaian objek data yang dibutuhkan untuk menopang bisnis tersebut.
Karakteristik/atribut dari masing-masing objek diidentifikasi dan hubungan antara objek-
objek tersebut didefinisikan.
c. Pemodelan proses (Process Modelling)
Aliran informasi yang didefinisikan dalam fase pemodelan data ditransformasikan untuk
mencapai aliran informasi yang perlu bagi implementasi sebuah fungsi bisnis. Gambaran
pemrosesan diciptakan untuk menambah, memodifikasi, menghapus atau mendapatkan
kembali sebuah objek data.
d. Pembuatan aplikasi (Application generation)
Selain menciftakan perangkat lunak dengan menggunakan bahasa pemrograman generasi
ketiga yang konvensional, RAD lebih banyak memproses kerja untuk memakai lagi
komponen program yang telah ada atau menciftakan komponen yang bias dipakai lagi.
Pada semua kasus, alat-alat Bantu otomatis dipakai untuk memfasilitasi kontruksi
perangkat lunak.
e. Pengujian dan pergantian (Testing and turnover)
Karena proses RAD menekankan pada pemakaian kembali, banyak komponen yang telah
diuji. Hal ini mengurangi keseluruhan waktu pengujian. Tapi komponen baru harus diuji.

Gb. Model RAD

Kelemahan model RAD :


a. Untuk proyek dengan skala besar, RAD membutuhkan sumber daya manusia yang cukup
untuk membentuk sejumlah tim RAD yang baik.
b. RAD membutuhkan pengembang dan pemakai yang mempunyai komitmen dalam
aktivitas rapid-fire untuk melaksanakan aktivitas melengkapi sistem dalam kerangka
waktu yang singkat. Jika komitmen tersebut tidak ada, proyek RAD gagal.
Tidak semua aplikasi sesuai untuk RAD.bila system tidak dapat dimodulkan dengan teratur,
pembangunan komponen penting pada RAD akan menjadi sangat problematic. RAD menjadi tidak
sesuai jika risiko teknisnya tinggi.
Kelebihan Model RAD :
a. RAD mengikuti tahapan pengembangan sistem seperti umumnya, tetapi mempunyai
kemampuan untuk menggunakan kembali komponen yang ada (reusable object).
b. Setiap fungsi dapat dimodulkan dalam waktu tertentu dan dapat dibicarakan oleh tim
RAD yang terpisah dan kemudian diintegrasikan sehingga waktunya lebih efisien.
4. Model spiral
Awalnya diusulkan oleh Boehm (BOE88), adalah model proses perangkat lunak yang
evolusioner, merangkai sifat iterative dari prototype dengan cara control dan aspek sistematis dari
model sekuensial linier. Model yang berpotensi untuk pengembangan versi pertambahan perangkat
lunak secara cepat.
Model ini dibagi menjadi sejumlah aktifitas kerangka kerja atau wilayah tugas, antara lain :
 Komunikasi pelanggan, tugas-tugas yang dibutuhkan untuk membangun komunikasi
yang efektif diantara pengembang dan pelanggan.
 Perencanaan, tugas-tugas yang dibutuhkan untuk mendefinisikan sumber-sumber daya,
ketepatan waktu, dan proyek informasi lain yang berhubungan.
 Analisis resiko, tugas-tugas yang dibutuhkan untuk menaksir resiko-resiko, baik
manajemen maupun teknis.
 Perekayasaan, tugas-tugas yang dibutuhkan untuk membangun satu atau lebih
representasi dari aplikasi tersebut.
 Konstruksi dan peluncuran, tugas-tugas yang dibutuhkan untuk mengkonstruksi, menguji,
memasang (instal), dan memberikan pelayanan kepada pemakai (contohnya pelatihan dan
dokumentasi)
 Evaluasi pelanggan, tugas-tugas untuk memperoleh umpan balik dari pelanggan dengan
didasarkan pada evaluasi representasi perangkat lunak, yang dibuat selama masa
perekayasaan, dan dimplementasikan selama masa pemasangan.
Model spiral menjadi pendekatan yang realistis bagi perkembangan system dan perangkat
lunak skala besar. Karena perangkat lunak terus bekerja selama proses bergerak, pengembang dan
pemakai memahami, dan bereaksi lebih baik terhadap resiko dari Setiap tingkat evolusi. Model
spiral menggunakan prototype sebagai mekanisme pengurangan resiko.
Model spiral membutuhkan keahlian penafsiran resiko yang masuk akal, dan sangat
bertumpu pada keahlian ini untuk mencapai keberhasilan. Jika sebuah resiko tidak dapat ditemukan
dan diatur, pasti akan terjadi masalah. Model ini membutuhkan waktu bertahun-tahun sampai
kehandalannya bisa dipertimbangkan dengan kepastian absolute.

Kelebihan Model Spiral :


a. Dapat disesuaikan agar perangkat lunak bisa dipakai selama hidup perangkat lunak
komputer.
b. Lebih cocok untuk pengembangan sistem dan perangkat lunak skala besar.
c. Pengembangan dan pemakai dapat lebih mudah memahami dan beraksi terhadap resiko
setiap tingkat evolusi karena perangkat lunak terus bekerja selama proses.
d. Menggunakan prototipe sebagai mekanisme pengurangan resiko dan pada setiap keadaan
di dalam evolusi produk.
e. Tetap mengikuti langkah-langkah dalam silus kehidupan klasik dan memasukkannya ke
dalam kerangka kerja iterative.
f. Membutuhkan pertimbangan langsung terhadap resiko teknis sehingga mengurangi resiko
sebelum menjadi permasalahan yang serius.

Kekurangan Model Spriral :

a. Sulit untuk menyainkan pemakai (saat situasi kontrak) bahwa penggunaan pendekatan ini
akan dapat dikendalikan.
b. Memerlukan tenaga ahli untuk memperkirakan resiko, dan harus mengandalkannya
supaya sukses.
c. Belum terbukti apakah metode ini cukup efiensi karena usianya yang relatif baru.
Segi Prototyping Spiral

Peran Pengguna / Memberikan umpan balik Memberikan umpan balik


User terhadap software terhadap software dan user
mengetahui resiko dari setiap
aktifitas

Analisis Resiko Prototyping yang ada akan Adanya tahapan analisis terhadap
diberikan ke user kemudian resiko-resiko yang akan muncul
dilakukan evaluasi dimana (baik dari segi manajemen
perancangan tersebut akan maupun teknis) lebih dahulu
diserahkan kepada tim pembuat sebelum melakukan pembuatan
software tanpa mempertimbang software.
kan resiko-resiko yang akan
muncul dalam proses pembuatan
nya.

Desain dan Pada model prototyping pada Pada Model Spiral proses desain
Penerapan Sistem proses desain dan implementasi, Dan penerapan dilakukan
pengguna mengetahui apa yang untuk pembuatan pada prototipe.
dibutuhkan. Prototipe ini dibutuhkan guna
Penanggulangan setiap resiko
dan Analisis terhadap resiko.

Evaluasi pada Adanya Perubahan terjadi Jika adanya perubahan, maka


Sistem apabila prototype telah dibuat. semua proses akan diperbaiki
sesuai dengan kebutuhan
pengguna.

Konstribusi :

“Diisi dengan adil ya daks hampura teu dibereskeun , tambahan we bisi aya nu kurang mah”