Anda di halaman 1dari 25

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keripik

Keripik adalah sejenis makanan ringan berupa irisan tipis dari umbi-
umbian, buah-buahan, atau sayuran yang digoreng di dalam minyak nabati. Untuk
menghasilkan rasa yang gurih dan renyah biasanya dicampur dengan adonan
tepung yang diberi bumbu rempah tertentu. Secara umum keripik dibuat melalui
tahap penggorengan, tetapi ada pula dengan hanya melalui penjemuran, atau
pengeringan. Keripik dapat berasa dominan asin, pedas, manis, asam, gurih, atau
paduan dari kesemuanya.
Keripik adalah makanan ringan (SNACK FOOD) yang tergolong jenis
makanan crackers, yaitu makanan yang bersifat kering, renyah (crispy). Keripik
singkong yang bermutu sebaiknya menggunakan singkong yang langsung setelah
panen. Sejak dipanen, singkong merupakan komoditi yang mudah rusak sehingga
pemanfaatannya harus secepat mungkin. Kerusakan singkong selama
penyimpanan terjadi akibat aktifitas fisiologis dan mikrob. Akibat kegiatan
fisiologis akan terjadi reaksi senyawa fenol yang menyebabkan perubahan warna
di bagian dalam yang berbentuk garis-garis biru. Bila proses ini berlanjut umbi
tidak dapat dikonsumsi karena mengeras dan pahit. (ISWARI et al., 1996).

2.2 Singkong

Singkong atau ubi kayu yang juga disebut kaspe, merupakan tanaman yang
banyak mengandung karbohidrat. Beberapa jenis singkong mengandung racun
sianida (HCN) yang terasa pahit. Dari dasar itulah secara lokal singkong dibagi
menjadi singkong pahit dan singkong manis. Ubi kayu atau singkong merupakan
salah satu bahan makanan sumber karbohidrat (sumber energi). Singkong
memiliki sifat atau karakteristik mengandung kadar air sebesar 65% dan kadar
pati serta HCN. Berdasarkan kadar HCN-nya, singkong dibagi dalam dua
golongan besar, yaitu singkong jenis pahit dan singkong jenis tidak pahit. Dalam
hal tingkatan kadar HCN, ubi kayu dibagi dalam tiga kategori, yakni yang

3
4

memiliki kadar HCN kurang dari 50 ppm sebagai jenis yang tidak beracun, yang
kadarnya antara 50-100 ppm, dan yang berkadar HCN lebih besar dari 100 ppm
sebagai jenis yang beracun (DJUWARDI, 2009).
Di Indonesia ubi kayu atau singkong mempunyai arti ekonomi terpenting
dibandingkan dengan jenis umbi-umbian lain.

Tabel 1. Komposisi Kandungan Nutrisi Singkong (per 100 g bahan)

Komponen Kadar
Kalori 146,00 kal
Air 62,50 g
Fosfor 40,00 mg
Karbohidrat 34,00 g
Kalsium 33,00 mg
Vitamin C 30,00 mg
Protein 1,20 g
Besi 0,70 mg
Lemak 0,30 g
Vitamin B1 0,06 mg
Berat dapat dimakan 75,00

Sumber: DJUWARDI (2009), diolah dari berbagai sumber dan


Direktorat Gizi Depkes.

2.3 Keripik Singkong

Keripik singkong adalah produk makanan ringan, dibuat dari umbi


singkong (Manihot sp) diiris atau dirajang, digoreng dengan atau tanpa
penambahan bahan makanan yang lain dan tambahan makanan yang diizinkan.
Keripik singkong sangat digemari oleh berbagai kalangan mulai dari anak-anak
sampai yang dewasa sebagian besar menyukai keripik singkong.
5

2.3.1 Syarat Mutu Keripik Singkong

Keripik singkong ini merupakan suatu makanan yang banyak diminati oleh
masyarakat, sehingga mutu dan kualitas dari keripik singkong sangat diperhatikan.
Syarat mutu keripik singkong dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Syarat Mutu Keripik Singkong (SNI 01-4305-1996)


No. Kriteria Uji Satuan Persyaratan
1. Keadaan
 Bau - Normal
 Rasa - Khas
 Warna - Normal

 Tekstur - Renyah

2. Keutuhan % Min. 90
3. Air, b/b % Maks. 6,0
4. Abu, b/b % Maks. 2,5
5. Asam lemak bebas % Maks. 0,7
(dihitung sebagai asam
laurat)
6. Bahan tambahan makanan
 Pewarna  Sesuai SNI 01-0222-1995
dan Peraturan Menteri
Kesehatan
 Pemanis buatan No. 722/Menkes/Per/IX/88
 Tidak boleh ada

7. Cemaran logam
 Timbal (Pb) mg/Kg Maks. 1,0
 Tembaga (Cu) mg/Kg Maks. 10,0
 Seng (Zn) mg/Kg Maks. 40,0

 Raksa (Hg) mg/Kg Maks. 0,05

 Arsen (As) mg/Kg Maks. 0,5

8. Cemaran mikroba koloni/g Maks. 104


9. Kapang koloni/g Maks. 104
6

2.4 Produksi Bersih

2.4.1 Pengertian Produksi Bersih

Produksi bersih adalah strategi pengelolaan yang bersifat preventif,


terpadu, dan diterapkan secara terus-menerus pada setiap kegiatan mulai dari hulu
ke hilir yang terkait dengan proses produksi, produk dan jasa untuk meningkatkan
efisiensi penggunaan sumberdaya alam, mencegah terjadinya pencemaran
lingkungan, dan mengurangi terbentuknya limbah pada sumbernya sehingga
meminimisasi resiko terhadap kesehatan dan keselamatan manusia serta
kerusakan lingkungan (KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP, 2009).
Produksi bersih merupakan tindakan efisiensi pemakaian bahan baku, air
dan energi, dan pencegahan pencemaran, dengan sasaran peningkatan
produktivitas dan minimisasi timbulan limbah. Istilah pencegahan pencemaran
seringkali digunakan untuk maksud yang sama dengan istilah produksi bersih.
Demikian pula halnya dengan eco-efficiency yang menekankan pendekatan bisnis
yang memberikan peningkatan efisiensi secara ekonomi dan lingkungan. Pola
pendekatan produksi bersih bersifat preventif atau pencegahan timbulnya
pencemar, dengan melihat bagaimana suatu proses produksi dijalankan dan
bagaimana daur hidup suatu produk. Pengelolaan pencemaran dimulai dengan
melihat sumber timbulan limbah mulai dari bahan baku, proses produksi, produk
dan transportasi sampai ke konsumen dan produk menjadi limbah.
Pendekatan pengelolaan lingkungan dengan penerapan konsep produksi
bersih melalui peningkatan efisiensi merupakan pola pendekatan yang dapat
diterapkan untuk meningkatkan daya saing.
Dari pengertian mengenai produksi bersih maka terdapat kata kunci yang
dipakai untuk pengelolaan lingkungan yaitu: pencegahan pencemaran, proses,
produk, jasa, peningkatan efisiensi dan minimisasi resiko. Dengan demikian maka
perlu perubahan sikap, manajemen yang bertanggung-jawab pada lingkungan dan
evaluasi teknologi yang dipilih.
Pada proses industri, produksi bersih berarti meningkatkan efisiensi
pemakaian bahan baku, energi, mencegah atau mengganti penggunaan bahan-
7

bahan berbahaya dan beracun, mengurangi jumlah dan tingkat racun semua emisi
dan limbah sebelum meninggalkan proses.
Pada produk, produksi bersih bertujuan untuk mengurangi dampak
lingkungan selama daur hidup produk, mulai dari pengambilan bahan baku sampai
ke pembuangan akhir setelah produk tersebut tidak digunakan. Produksi bersih
pada sektor jasa adalah memadukan pertimbangan lingkungan ke dalam
perancangan dan layanan jasa.
Penerapan produksi bersih sangat luas mulai dari kegiatan pengambilan
bahan teramsuk pertambangan, proses produksi, pertanian, perikanan, pariwisata,
perhubungan, konservasi energi, rumah sakit, rumah makan, perhotelan, sampai
pada sistem informasi.

2.4.2 Tujuan dan Prinsip Produksi Bersih

Tujuan dari penerapan produksi bersih adalah peningkatan efisiensi sistem


produksi, berkurangnya toksisitas bahan baku dan bahan pembantu, serta
tatalaksana operasi yang lebih baik. Adapun strategi dari produksi bersih yaitu:
 Pada proses produksi, termasuk di dalam produksi bersih adalah pencegahan
kerusakan pada bahan baku, meminimumkan penggunaan energi,
menghilangkan penggunaan bahan baku yang berbahaya dan beracun,
mengurangi jumlah emisi dan limbah serta kadar racun yang terkandung di
dalam emisi dan limbah sebelum meninggalkan proses.
 Pada produk akhir, strategi difokuskan pada pengurangan dampak lingkungan
sepanjang daur hidup produk mulai ekstraksi bahan baku sampai pembuangan
akhir produk.
Menurut INDRASTI & FAUZI (2009) prinsip-prinsip pokok dalam
penerapan produksi bersih adalah:
1. Mengurangi atau meminimumkan penggunaan bahan baku, air, dan energi
serta menghindari pemakaian bahan baku beracun dan berbahaya serta
mereduksi terbentuknya limbah pada sumbernya, sehingga mencegah atau
mengurangi timbulnya masalah pencemaran dan kerusakan lingkungan serta
risikonya terhadap manusia.
8

2. Perubahan dalam pola produksi dan konsumsi berlaku baik terhadap proses
maupun produk yang dihasilkan, sehingga harus dipahami betul analisis daur
hidup produk.
3. Upaya produksi bersih ini tidak dapat berhasil dilakukan tanpa adanya
perubahan dalam pola pikir, sikap, dan tingkah laku dari semua pihak terkait
baik dari pihak pemerintah, masyarakat maupun kalangan dunia
(industriawan). Selain itu juga, perlu diterapkan pola manajemen di kalangan
industri maupun pemerintah yang telah mempertimbangkan aspek lingkungan.
4. Mengaplikasikan teknologi akrab lingkungan, manajemen dan prosedur
standar operasi sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. Kegiatan-kegiatan
tersebut tidak selalu membutuhkan biaya investasi yang tinggi, kalaupun
terjadi seringkali waktu yang diperlukan untuk mengembalikan modal
investasi relatif singkat.
5. Pelaksanaan prosedur produksi bersih ini lebih mengarah pada pengaturan
sendiri (self regulation) dan peraturan yang sifatnya musyawarah mufakat
(negotiated regulatory approach) dari pada pengaturan secara command and
control. Jadi, pelaksanaan program produksi bersih ini tidak hanya
mengandalkan peraturan pemerintah saja, tetapi lebih didasarkan pada
kesadaran untuk merubah sikap dan tingkah laku.
Menurut KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP (2003), prinsip-
prinsip pokok dalam strategi produksi bersih dalam kebijakan nasional produksi
bersih, dituangkan dalam 5R (Re-think, Re-use, Reduce, Recovery and Recycle):
 Re-think (berpikir ulang) adalah suatu konsep pemikiaran yang harus dimiliki
pada saat awal kegiatan akan beroperasi, dengan implikasi :
a. Perubahan dalam pola produksi dan konsumsi berlaku baik pada proses
maupun produk yang dihasilkan, sehingga harus dipahami betul analisis
daur hidup produk.
b. Upaya produksi bersih tidak dapat berhasil dilaksanakan tanpa adanya
perubahan dalam pola pikir, sikap, dan tingkah laku dari semua pihak
terkait pemerintah, masyarakat maupun kalangan usaha.
 Reduce (pengurangan) adalah upaya untuk menurunkan atau mengurangi
timbulan limbah pada sumbernya.
9

 Reuse (pakai ulang/penggunaan kembali) adalah upaya yang memungkinkan


suatu limbah dapat digunakan kembali tanpa perlakuan fisika, kimia atau
biologi.
 Recycle (daur ulang) adalah upaya mendaur ulang limbah untuk
memanfaatkan limbah dengan memrosesnya kembali ke proses semula
melalui perlakuakn fisika, kimia, dan biologi.
 Recovery/Reclaim (pungut ulang, ambil ulang) adalah upaya mengambil
bahan-bahan yang masih mempunyai nilai ekonomi tinggi dari suatu limbah,
kemudian dikembalikan ke dalam proses produksi dengan atau tanpa
perlakuan fisika, kimia, dan biologi.

2.4.3 Tantangan Penerapan Produksi Bersih

Tantangan penerapan produksi bersih antara lain :


a. Tercapainya efisiensi produksi yang optimal
b. Diperolehnya penghargaan masyarakat terhadap sistem produksi yang akrab
lingkungan
c. Mendapatkan insentif.
Pengembangan pelaksanaan dan penerapan produksi bersih intinya adalah
mengubah pola pikir tradisional ‘end-of-pipe’ dengan paradigma baru dalam
pengelolaan pencemaran lingkungan yaitu penerapan produksi bersih yang dapat
meningkatkan efisiensi produksi sehingga akan memberikan peningkatan
keuntungan baik secara finansial, teknik maupun regulasi.
Hambatan ekonomi akan timbul bila kalangan pengusaha merasa tidak
akan mendapat keuntungan dalam penerapan produksi bersih. Sekecil apapun
penerapan produksi bersih, bila tidak menguntungkan bagi perusahaan maka sulit
bagi manajemen untuk membuat keputusan tentang penerapan produksi bersih.
Menurut DJAJADININGRAT (2001), hambatan pada aspek ekonomi dan
teknis antara lain :
a. Keperluan biaya tambahan peralatan Tingginya modal/investasi yang
dibutuhkan dibanding kan penerapan kontrol pencemaran secara konvensional
sekaligus penerapan produksi bersih
10

b. Penghematan proses produksi bersih yang belum nyata realisasinya


c. Kurangnya informasi produksi bersih
d. Sistem yang baru ada kemungkinan tidak sesuai dengan yang diharapkan,
sehingga dapat menyebabkan gangguan
e. Fasilitas produksi ada kemungkinan sudah penuh sehingga tidak ada tempat
lagi untuk tambahan peralatan.
Kendala sumberdaya manusia dalam penerapan produksi bersih dapat
berupa:
a. Kurangnya komitmen manajemen puncak
b. Adanya keengganan untuk berubah baik secara individu maupun organisasi
c. Lemahnya komunikasi internal
d. Pelaksanaan organisasi yang kaku
e. Birokrasi, terutama dalam pengumpulan data.
f. Kurangnya dokumentasi dan penyebaran informasi.
g. Kurangnya pelatihan kepada sumberdaya manusia mengenai produksi bersih.

2.4.4 Strategi Penerapan Produksi Bersih

Komitmen nasional produksi bersih merupakan upaya penggalangan


penerapan produksi bersih secara sukarela oleh berbagai kalangan, baik itu
pemerintah, kalangan industri dan jasa, bahkan para peneliti dan konsultan yang
terlibat. Komitmen nasional produksi bersih ini antara lain :
a. Produksi bersih dipertimbangkan pada tahap sedini mungkin dalam
pengembangan proyek-proyek baru, atau pada saat mengkaji proses dan/atau
aktivitas yang sedang berlangsung
b. Semua pihak turut bertanggung jawab dan terlibat dalam program dan rencana
tindakan produksi bersih dan bekerjasama untuk mengharmonisasi-kan
pendekatan-pendekatan produksi bersih.
c. Agar produksi bersih dapat dilaksanakan secara efektif, semua pendekatan
melalui peraturan perundang-undangan, instrumen ekonomi maupun upaya
sukarela harus dipertimbangkan.
d. Program produksi bersih menekankan pada upaya perbaikan yang berlanjut.
11

e. Produksi bersih hendaknya melibatkan pertimbangan daur hidup suatu produk


f. Produksi bersih menjadi salah satu elemen inti dari sistem manajemen
lingkungan, seperti pada ISO 14001.
g. Produksi bersih dilaksanakan agar tercapai daya saing yang lebih besar di
pasar domestik maupun internasional melalui peningkatan efisiensi dan
perbaikan struktur biaya.

2.4.5 Pelaksanaan Produksi Bersih dalam Industri

Teknologi produksi bersih merupakan gabungan antara teknik


pengurangan limbah pada sumber pencemar (source reduction) dan teknik daur
ulang. Dalam produksi bersih, limbah yang dihasilkan dalam keseluruhan proses
produksi merupakan indikator ketidakefisienan proses produksi. Oleh karena itu,
apabila dilakukan optimasi proses, limbah yang dihasilkan juga akan berkurang.
Secara garis besarnya, pemilihan penerapan produksi bersih dapat dikelompokkan
menjadi lima bagian, yaitu (INDRASTI & FAUZI, 2009):
1. Good house-keeping
Mencakup tindakan prosedural, administratif maupun institusional yang
dapat digunakan perusahaan untuk mengurangi terbentuknya limbah dan emisi.
Konsep ini telah banyak diterapkan oleh kalangan industri agar dapat
meningkatkan efisiensi dengan cara good operating practice yang mencakup:
 Pengembangan program cleaner production (CP)
 Pengembangan sumber daya manusia
 Tatacara penanganan dan investasi bahan
 Pencegahan kehilangan bahan/material
 Pemisahan limbah menurut jenisnya
 Tatacara perhitungan biaya
 Penjadwalan produksi
2. Perubahan material input
Bertujuan untuk mengurangi/menghilangkan bahan berbahaya dan beracun
yang masuk atau yang digunakan dalam proses produksi, sehingga dapat juga
12

menghindari terbentuknya limbah B3 dalam proses produksi. Peubahan material


input termasuk pemurnian bahan dan substitusi bahan.
3. Perubahan teknologi
Mencakup modifikasi proses dan peralatan yang dilakukan untuk
mengurangi limbah dan emisi, perubahan teknologi dapat dimulai dari yang
sederhana dalam waktu yang singkat dan biaya murah sampai dengan perubahan
yang memerlukan investasi tinggi, seperti perubahan peralatan, tata letak pabrik,
penggunaan peralatan otomatis dan perubahan kondisi proses.
4. Perubahan produk
Meliputi substitusi produk, konservasi produk, dan perubahan komposisi
produk.
5. On-site reuse
Merupakan upaya penggunaan kembali bahan-bahan yang terkandung
dalam limbah, baik untuk kembali pada proses awal atau sebagai material input
dalam proses yang lain.

2.4.6 Keuntungan Penerapan Produksi Bersih

Keuntungan yang diperoleh oleh suatu industri, apabila menerapkan


konsep produksi bersih adalah mengurangi biaya produksi, mengurangi limbah
yang dihasilkan, meningkatkan produktivitas, mengurangi konsumsi energi,
meminimisasi masalah pembuangan limbah (termasuk penanganan limbah) dan
memperbaiki nilai produk samping.
Keuntungan-keuntungan tersebut, dilihat dari sudut pandang ekonomi dan
lingkungan akan dapat terwujud dengan beberapa cara berikut (INDRASTI &
FAUZI, 2009):
1. Meningkatkan efisiensi dalam penggunaan bahan baku, sehingga akan
mengurangi biaya bahan baku.
2. Meminisasi limbah, sehingga akan mengurangi biaya penanganan dan
pembuangan limbah.
3. Mengurangi atau mengeliminasi kebutuhan akan penanganan dengan konsep EOP
(end of pipe).
13

4. Memperbaiki teknologi produksi.


5. Memperbaiki kualitas manajemen.
6. Meningkatkan penghargaan pekerja terhadap perlindungan lingkungan.
7. Memperbaiki kinerja dan miningkatkan produktivitas, meningkatkan citra
perusahaan dan menambah keuntungan yang kompetitif di pasar.

2.5 Sanitasi

Sanitasi adalah perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih


dengan maksud mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan
bahan buangan berbahaya lainnya dengan harapan usaha ini akan menjaga dan
meningkatkan kesehatan manusia (DIRJEN PENGOLAHAN DAN
PEMASARAN HASIL PERTANIAN, 2009).
Dalam berbagai aspek kehidupan, terutama yang berkaitan dengan
kesehatan, masalah sanitasi memegang peranan yang amat penting. Berbagai
masalah kontaminan dan infeksi oleh mikroba mudah diatasi dan dipecahkan bila
masalah sanitasi ditingkatkan. Berbagai usaha pabrik makanan dan minuman
untuk menanggulangi masalah pencemaran mikroba telah dilakukan, tetapi sering
kurang berhasil seperti yang diharapkan. Hal itu disebabkan karena pola perilaku
para karyawannya tidak tertib serta kurang tercermin akan kewaspadaan terhadap
masalah sanitasi.
Program sanitasi dijalankan bukan untuk mengatasi masalah kotornya
lingkungan atau kotornya pemprosesan bahan, tetapi untuk menghilangkan
kontaminan dari makanan dan mesin pengolahan makanan serta mencegah
terjadinya kontaminasi kembali (WINARNO, 2004). Tata cara pelaksanaan untuk
memenuhi persyaratan kesehatan lingkungan industri menurut Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 dalam
beberapa aspek yaitu:
1. Air Bersih
a. Air bersih untuk keperluan industri dapat diperoleh dari perusahaan air minum
(PAM), perusahaan daerah air minum (PDAM), sumber air tanah atau sumber
lain yang telah diolah sehingga memenuhi persyaratan kesehatan.
14

b. Tersedia air bersih untuk kebutuhan karyawan sesuai dengan persyaratan


kesehatan.
c. Distribusi air bersih untuk perkantoran harus menggunakan sistem perpipaan.
d. Sumber air bersih dan sarana distribusinya harus bebas dari pencemaran fisik,
kimia dan bakteriologis.
2. Udara ruangan
a. Suhu dan kelembaban
Agar ruang kerja industri memenuhi persyaratan kesehatan perlu dilakukan
upaya-upaya antara lain tinggi langit-langit dari lantai minimal 2,5 m dan
menggunakan alat penata udara seperti Air Conditioner (AC), kipas angin, dan
lain-lain.
b. Debu
Agar kandungan debu di dalam udara ruang kerja industri memenuhi
persyaratan kesehatan maka perlu dilakukan upaya-upaya sebagai berikut :
- Pada sumber dilengkapi dengan penangkap debu.
- Untuk menangkap debu yang timbul akibat proses produksi, perlu dipasang
ventilasi lokal yang dihubungkan dengan cerobong dan dilengkapi dengan
penyaring debu.
- Ruang proses produksi dipasang ventilasi.
c. Pertukaran udara
Agar pertukaran udara ruang industri dapat berjalan dengan baik maka
perlu dilakukan upaya-upaya sebagai berikut :
- Memasukkan udara segar untuk mencapai persyaratan nilai ambang batas (NAB)
dengan menggunakan ventilasi atau AC.
- Kebutuhan suplai udara segar 10 liter/orang/detik.
- Membersihkan saring atau filter udara AC secara periodik sesuai ketentuan
pabrik.
d. Gas pencemar
Agar kandungan gas pencemar dalam udara ruang kerja industri tidak
melebihi konsentrasi maksimum perlu dilakukan tindakan-tindakan sebagai
berikut :
- Melengkapi ruang proses produksi dengan alat penangkap gas.
15

- Dilengkapi dengan suplai udara segar.


e. Mikroba
Agar angka kuman di dalam udara ruang kerja industri tidak melebihi
NAB maka perlu dilakukan beberapa tindakan sebagai berikut :
- Untuk industri yang berpotensi mencemari udara dengan mikroba agar
melengkapi ventilasi atau AC dengan sistem saringan udara bertingkat untuk
menangkap mikroba atau upaya desinfeksi dengan sinar ultra violet atau bahan
kimia.
- Memelihara sistem ventilasi agar berfungsi dengan baik.
- Memelihara sistem AC sentral.
3. Limbah
a. Limbah padat
- Limbah padat yang dapat dimanfaatkan kembali dengan pengolahan daur ulang
dan pemanfaatan sebagian (reuse, recycling, recovery) agar dipisahkan dengan
limbah padat yang non B3.
- Limbah B3 dikelola ke tempat pengolahan limbah B3 sesuai peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
b. Limbah cair
- Saluran limbah cair harus kedap air, tertutup, limbah cair dapat mengalir dengan
lancar dan tidak menimbulkan bau.
- Semua limbah cair harus dilakukan pengolahan fisik, kimia atau biologis sesuai
kebutuhan.
4. Pencahayaan
Agar pencahayaan memenuhi persyaratan kesehatan perlu dilakukan
tindakan sebagai berikut :
a. Pencahayaan alam maupun buatan diupayakan agar tidak menimbulkan
kesilauan dan memilki intensitas sesuai dengan peruntukannya.
b. Kontras sesuai kebutuhan, hindarkan terjadinya kesilauan atau bayangan.
c. Untuk ruang kerja yang menggunakan peralatan berputar dianjurkan untuk tidak
menggunakan lampu neon.
d. Penempatan bola lampu dapat menghasilkan penyinaran yang optimum dan
bola lampu sering dibersihkan.
16

e. Bola lampu yang mulai tidak berfungsi dengan baik segera diganti.
5. Kebisingan
Agar kebisingan tidak mengganggu kesehatan atau membahayakan perlu
diambil tindakan sebagai berikut :
- Pengaturan tata letak ruang harus sedemikian rupa agar terhindar dari
kebisingan.
- Sumber bising dapat dikendalikan dengan beberapa cara antara lain: meredam,
menyekat, pemindahan, pemeliharaan, penanaman pohon, peninggian tembok,
membuat bukit buatan, dan lain-lain.
- Rekayasa peralatan (engineering control).
6. Getaran
Agar getaran tidak mengganggu kesehatan atau membahayakan perlu
diambil tindakan sebagai berikut :
- Melengkapi ruang kerja dengan peredam getar.
- Memperbaiki atau memelihara sistem penahan getaran.
- Mengurangi getaran pada sumber, misalnya dengan memberi bantalan pada
sumber getaran.
7. Vektor penyakit
a. Pengendalian secara fisika
- Konstruksi bangunan tidak memungkinkan masuk dan berkembang biaknya
vektor penyakit kedalam ruang kerja dengan memasang alat yang dapat
mencegah masuknya serangga dan tikus.
- Menjaga kebersihan lingkungan, sehingga tidak terjadi penumpukan sampah dan
sisa makanan.
- Pengaturan peralatan dan arsip secara teratur.
- Meniadakan tempat berkembangnya serangga dan tikus.
b. Pengendalian dengan bahan kimia yaitu dengan melakukan penyemprotan,
pengasapan, memasang umpan, membubuhkan abate pada tempat
penampungan air bersih.
c. Cara mekanik dengan memasang perangkap.
17

8. Ruang dan bangunan


- Bangunan harus kuat, terpelihara, bersih dan tidak memungkinkan terjadinya
gangguan kesehatan dan kecelakaan.
- Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan rata, dan tidak licin,
pertemuan antara dinding dengan lantai berbentuk conus.
- Dinding harus rata, bersih dan berwarna terang, permukaan dinding yang selalu
terkena percikan air terbuat dari bahan yang kedap air.
- Langit-langit harus kuat, bersih, berwarna terang, ketinggian minimal 3,0 m dari
lantai.
- Luas jendela, kisi-kisi atau dinding gelas kaca untuk masuknya cahaya minimal
1/6 kali luas lantai
9. Toilet
- Toilet harus dibersihkan minimal 2 kali sehari.
- Tidak menjadi tempat berkembangbiaknya serangga dan tikus.
10. Instalasi
- Instalasi untuk masing-masing peruntukan sebaiknya menggunakan kode warna
dan label.
- Diupayakan agar tidak terjadi hubungan silang dan aliran balik antara jaringan
distribusi air limbah dengan air bersih sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
- Jaringan Instalasi agar ditata sedemikian rupa agar memenuhi syarat estetika.
- Jaringan Instalasi tidak menjadi tempat bersarangnya serangga dan tikus.
- Pengoperasian instalasi sesuai dengan prosedur tetap yang telah ditentukan.
- Konstruksi instalasi diupayakan agar sesuai dengan standar desain yang berlaku.

2.6 Limbah

2.6.1 Pengertian Limbah

DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI KECIL MENENGAH (2007)


menyatakan bahwa limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses
produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga), air limbah/limbah cair
adalah limbah yang berbentuk cair. Industri pangan menghasilkan limbah cair
18

dengan jumlah yang sangat banyak, karena pada industri pangan, air digunakan
untuk membersihkan bahan pangan dan peralatan pengolahannya, serta
menghanyutkan bahan-bahan yang tidak dikehendaki (kotoran).
Limbah industri pangan dapat menimbulkan masalah dalam
penanganannya karena mengandung sejumlah besar karbohidrat, protein, lemak,
garam-garam mineral, dan sisa-sisa bahan kimia yang digunakan dalam
pengolahan dan pembersihan. Pada umumnya, limbah industri pangan tidak
membahayakan kesehatan masyarakat, karena tidak terlibat langsung dalam
perpindahan penyakit. Akan tetapi kandungan bahan organiknya yang tinggi dapat
bertindak sebagai sumber makanan untuk pertumbuhan mikroba, dengan pasokan
makanan yang melimpah mikroorganisme akan berkembang biak dengan cepat
dan mereduksi oksigen terlarut yang terdapat dalam air (JENIE & RAHAYU,
1993). Berdasarkan karakteritiknya, limbah industri dapat digolongkan menjadi
empat bagian, yaitu limbah cair, limbah padat, limbah gas, dan limbah bahan
beracun dan berbahaya (B3).

2.6.2 Sumber-Sumber Limbah

Pada industri keripik singkong limbah yang dihasilkan berupa limbah


padat dan cair. Limbah tersebut berasal dari:
 Limbah padat berasal dari kulit dan lapisan lendir singkong, sisa potongan
singkong, ceceran singkong dan rempah-rempah pada proses produksi, serta
limbah padat berupa kemasan bahan baku/bahan penolong.
 Limbah cair berasal dari proses pencucian singkong, serta limbah cair dari
pencucian peralatan produksi.

2.6.3 Karakteristik Limbah Cair

Menurut GINTING (2007) karakteristik limbah cair dapat diketahui


menurut sifat-sifat dan karakteristik fisika, kimia, dan biologi. Studi karakteristik
limbah perlu dilakukan agar dapat dipahami sifat-sifat tersebut serta
konsentrasinya dan sejauh mana tingkat pencemaran dapat ditimbulkan limbah
19

terhadap lingkungan. Dalam menentukan karakteristik limbah maka ada tiga jenis
sifat yang harus diketahui:
1. Sifat Fisik
Sifat fisik suatu limbah ditentukan berdasarkan jumlah padatan terlarut,
tersuspensi dan total padatan, alkalinitas, kekeruhan, warna, salinitas, daya hantar
listrik, bau, dan temperatur.
- Padatan
Dalam limbah ditemukan zat padat yang secara umum diklasifikasikan kedalam
dua golongan besar yaitu padatan terlarut dan padatan tersuspensi. Jenis padatan
terlarut atau tersuspensi dapat bersifat organis maupun sifat inorganis tergantung
dari mana sumber limbah. Padatan tersuspensi mempunyai diameter yang lebih
besar daripada padatan terlarut.
- Kekeruhan
Sifat keruh air dapat dilihat dengan mata secara langsung karena ada partikel
kolloidal (diameter 10-8 μ mm). Kekeruhan merupakan sifat optis larutan.
- Bau
Sifat bau limbah disebabkan karena zat-zat organik yang telah terurai dalam
limbah mengeluarkan gas-gas seperti sulfida dan amoniak yang menimbulkan
penciuman tidak enak. Timbulnya bau yang diakibatkan limbah merupakan suatu
indikator bahwa terjadi proses alamiah.
- Temperatur
Limbah yang mempunyai temperatur yang panas akan mengganggu pertumbuhan
biota tertentu. Temperatur yang dikeluarkan suatu limbah cair harus merupakan
temperatur alami.
- Warna
Warna berkaitan dengan kekeruhan, dan dengan menghilangkan kekeruhan
kelihatan warna nyata. Warna dapat disebabkan oleh zat-zat terlarut dan
tersuspensi di dalam limbah.
2. Sifat Kimia
Karakteristik kimia air limbah ditentukan oleh biological oksigen demand
(BOD), chemical oksigen demand (COD), senyawa kimia tertentu dan logam-
logam berat yang terkandung dalam limbah, dan keasaman air limbah.
20

- Biological Oksigen Demand (BOD)


BOD adalah kebutuhan oksigen bagi sejumlah bakteri untuk menguraikan
(mengoksidasikan) semua zat-zat organik yang terlarut maupun sebagai
tersuspensi dalam air menjadi bahan organik yang lebih sederhana. Nilai ini hanya
merupakan jumlah bahan organik yang dikonsumsi bakteri. Penguraian zat-zat
organik ini terjadi secara alami. Aktifnya bakteri-bakteri menguraikan bahan-
bahan organik bersamaan dengannya habis pula terkonsumsi oksigen. Semakin
tinggi angka BOD semakin sulit bagi makhluk air yang membutuhkan oksigen
bertahan hidup.
- Chemical Oksigen Demand (COD)
COD adalah sejumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-
zat anorganik dan organik sebagaimana pada BOD. Angka COD merupakan
ukuran bagi pencemaran air bagi zat anorganik. Semakin dekat nilai BOD
terhadap COD menunjukan bahwa semakin sedikit bahan anorganik yang dapat
dioksidasi dengan bahan kimia.
- Keasaman Air
Keasaman ditetapkan berdasarkan tinggi rendahnya ion hidrogen dalam
air. Air buangan yang mempunyai pH tinggi atau rendah menjadi air steril dan
sebagai akibatnya membunuh mikroorganisme air yang diperlukan untuk
keperluan biota tertentu. Air yang mempunyai pH rendah membuat air menjadi
korosif. Air limbah industri sebelum dibuang ke lingkungan harus dinetralisasi
terlebih dahulu.
3. Sifat Biologis
Bahan-bahan organik dalam air terdiri dari berbagai macam senyawa.
Bahan-bahan ini dalam limbah akan diubah oleh mikroorganisme menjadi
senyawa kimia yang sederhana seperti karbon dioksida, air, dan amoniak.
Senyawa sederhana yang dihasilkan tergantung dari proses penguraian oleh
mikroorganisme, berlangsung secara aerob atau anaerob.
Karakteristik limbah cair yang dihasilkan oleh industri keripik singkong
mengacu pada karakteristik limbah cair pada proses pencucian singkong di
industri tapioka. Menurut YOTHIN (1975) karakteristik air limbah pencucian
pada industri tapioka seperti yang terlihat pada Tabel 3.
21

Tabel 3. Karakteristik Air Limbah Pencucian Singkong


Parameter Kadar (ppm)

BOD 300
COD 613
TSS 290
pH 3-4,6
Sianida 0,05

Sumber : YOTHIN (1975)

2.6.4 Baku Mutu Lingkungan

Baku Mutu Lingkungan (Environmental Quality Standard), atau biasa


disingkat dengan BML berfungsi sebagai suatu tolak ukur untuk mengetahui
apakah telah terjadi kerusakan atau pencemaran lingkungan. Gangguan terhadap
tata lingkungan dan ekologi diukur menurut besar kecilnya penyimpangan dari
batas-batas yang telah ditetapkan sesuai dengan kemampuan atau daya tenggang
ekosistem lingkungan. Batas-batas daya dukung atau kemampuan lingkungan
disebut sebagai Nilai Ambang Batas (NAB). NAB ialah batas tertinggi atau
terendah dari kandungan zat-zat, makhluk hidup atau komponen-komponen lain
yang diperbolehkan dalam setiap interaksi yang berkenaan dengan lingkungan,
khususnya yang berpotensi mempengaruhi mutu tata lingkungan hidup atau
ekologi (SIAHAAN, 2004). BML yang diacu pada pengolahan air limbah
pencucian singkong adalah KEP-51/MENLH/10/1995 tentang baku mutu limbah
cair bagi kegiatan industri. Nilai ambang batas setiap parameternya dapat dilihat
pada Tabel 4.

Tabel 4. Kadar Maksimum Parameter Pencemar


Parameter Kadar (ppm)
BOD5 150
COD 300
TSS 100
pH 6-9
Sianida 0,3
Sumber: KEP-51/MENLH/10/1995
22

2.6.5 Pengolahan Limbah Cair

Pengolahan limbah industri diperlukan untuk meningkatkan pencapaian


tujuan pengelolaan limbah (pemenuhan peraturan pemerintah), serta untuk
meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya. Secara umum, pengelolaan
limbah industri merupakan rangkaian kegiatan yang mencakup reduksi,
pengumpulan, penyimpanan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan, dan/atau
penimbunan. Timbulnya limbah dari sebuah kegiatan industri tidak dapat
dihindari. Setelah dilakukan minimisasi melalui proses modifikasi dan
pemanfaatan (dengan prinsip produksi bersih), langkah berikutnya yang harus
dilakukan adalah melakukan pengolahan (penanganan) terhadap limbah tersebut
agar dapat mengurangi dan menghindari pencemaran lingkungan. Kriteria utama
dalam pengolahan limbah adalah pemenuhan baku mutu yang berlaku dengan
biaya minimum.
Pengendalian pencemaran yang dikenal masyarakat adalah menggunakan
instalasi pengelolaan air limbah (IPAL). IPAL pada prinsipnya bagai sebuah
sistem pabrik dimana tersedia sejumlah input untuk diolah menjadi output.
Limbah sebagai bahan baku yang diolah dalam sistem kemudian hasilnya adalah
limbah yang memenuhi syarat baku mutu. Instalasi pengolahan limbah
mempunyai spesifikasi tertentu dengan kriteria-kriteria teknis seperti tingkat
efisiensi, beban persatuan luas, waktu penahanan hidrolis, waktu penahanan
lumpur, dan lain-lain.
Pengolahan limbah dengan memanfaatkan teknologi pengolahan dapat
dilakukan dengan cara fisika, kimia, dan biologi atau gabungan dari ketiga sistem
pengolahan tersebut. Pengolahan biologis digolongkan menjadi pengolahan cara
aerob dan pengolahan limbah cara anaerob. Sebagian besar limbah industri,
terutama industri pangan, dapat ditangani dengan cara pengolahan biologis karena
sebagian besar kandungan polutan dalam limbah tersebut merupakan bahan
organik, seperti karbohidrat, lemak, protein, dan vitamin. Polutan tersebut dalam
bentuk padatan tersuspensi atau terlarut. Oleh karena itu, pengolahan limbah cair
industri bertujuan untuk menghilangkan sebagian besar padatan tersuspensi
(terlarut) dan menyisihkan unsur hara (nutrien) yang berupa nitrogen dan fosfor.
23

Tingkatan perlakuan pengolahan limbah diklasifikasikan menjadi primary


treatment system, secondary treatment system, dan tertiary treatment system.
Setiap tingkatan treatment terdiri pula atas sub-sub treatment yang satu dengan
yang lain saling berbeda. Penggunaan setiap sub treatment dan ataupun gabungan
satu dengan yang lain tergantung pada jenis parameter pencemar yang terdapat
dalam limbah, volume limbah, dan kondisi fisik lingkungan (GINTING, 2007).
1. Primary treatment
Pengolahan permulaan ini sering pula didahului dengan pratreatment. Pada
umumnya pengolahan limbah harus didahului pra perlakuan atau perlakuan
pendahuluan. Pada air limbah banyak bahan-bahan terapung yang ikut bersama
limbah seperti kertas-kertas dan plastik atau kayu-kayu yang sukar dihindarkan.
Terdapat juga pasir dan bahan-bahan padatan lain yang kasat mata terikut
mengalir bersama limbah serta terdapat lapisan minyak, busa atau buih di
permukaan limbah. Bahan-bahan ini harus disaring atau ditahan agar tidak
memasuki badan perairan ataupun masuk pada pada proses pengolahan
berikutnya.
Dalam pengolahan pendahuluan juga meliputi peralatan agar limbah cair
memiliki homogenitas dan memudahkan bagi pengolahan tingkat lanjut.
Pemasukan udara ke dalam limbah adalah suatu cara untuk memudahkan
pengapungan, udara akan menciptakan gelembung dan bersamaan dengan
gelembung tersebut partikel ikut terbawa naik ke atas permukaan dengan
limbah.Pengolahan pendahuluan dapat menghilangkan kira-kira sepertiga BOD
dan padatan tersuspensi dan beberapa persen dari komponen organik dan nutrien
tanaman yang ada. Pada saat ini persyaratan konsentrasi polutan yang diizinkan
semakin ketat dan mencapai konsentrasi ppm, oleh karena itu proses penanganan
primer terhadap air buangan biasanya belum memadai dan masih harus
dilanjutkan dengan proses penanganan selanjutnya, yaitu proses pengolahan
sekunder.
2. Secondary treatment
Pengolahan sekunder bertujuan untuk mengendapkan bahan, mematikan
bakteri pathogen, mengikat dengan cara oksidasi atau reduksi, menetralkan
konsentrasi asam, basa, dan desinfektan. Metode pengolahan sekunder
24

menggunakan bahan-bahan kimia agar senyawa-senyawa pencemar dalam limbah


diikat/dihilangkan/diubah melalui reaksi kimia. Jenis padatan halus seperti
padatan tersuspensi dan padatan terlarut, serta zat warna tidak akan tersaring pada
pengolahan pendahuluan. Zat-zat pencemar pada umumnya berada pada jenis
padatan tersuspensi, padatan terlarut, dan koloidal. Padatan ini tidak mengalami
pengendapan secara alami walaupun dalam jangka waktu yang relatif lama, oleh
karena itu diperlukan bahan kimia yang direaksikan agar terjadi pengikatan
senyawa pencemar baik dalam bentuk gumpalan atau pengapungan. Pada
umumnya dilakukan pengendapan sehingga mudah memisahkannya dengan air
limbah. Proses ini mempunyai kelemahan yaitu bagaimana mengambil unsur baru
yang terjadi akibat reaksi yang terjadi. Pengendapan dengan kapur akan
menimbulkan lumpur yang harus direncanakan cara pengambilan dan sarana
pembuangannya.
3. Tertiary treatment
Pengolahan tersier digunakan untuk pengolahan limbah dengan
konsentrasi bahan pencemar tinggi atau limbah dengan jenis parameter yang
bervariasi dengan volume yang relatif banyak. Sistem operasinya dikenal dengan
operasi biologis yaitu metode pengolahan dengan menghilangkan senyawa
pencemar melalui aktivitas biological (memanfaatkan bakteri dalam merombak
limbah) yang dilakukan pada peralatan unit proses biologi. Pengolahan tersier
terutama digunakan untuk menghilangkan bahan organik biodegradable dalam
limbah cair. Senyawa-senyawa organik tersebut dikonversikan menjadi gas dan
air yang kemudian dengan sendirinya dilepaskan ke atmosfir. Zat-zat organik
dengan rantai karbon panjang diubah menjadi rantai ikatan karbon sederhana dan
air yang berbentuk gas. Unit proses yang dipakai pada proses biologi yaitu kolam
aerobik, aerasi, lumpur aktif, kolam oksidasi, saringan biologi, dan kolam
anaerobik.
Pada prinsipnya, pengolahan biologis adalah pemanfaatan aktivitas
mikroorganisme seperti mikroba dan bakteri. Mikroba tersebut mengkonsumsi
polutan organik biodegradable dan mengkonversi polutan organik menjadi
karbondioksida, air, dan energi untuk pertumbuhan dan reproduksinya. Oleh
karena itu, pengolahan limbah cair secara biologis harus mampu memberikan
25

kondisi optimum bagi mikroorganisme, sehingga mikroorganisme dapat


menstabilkan polutan organik biodegradable secara optimum. Guna
mempertahankan kondisi yang optimum bagi mikroorganisme, diperlukan
pasokan oksigen yang cukup, waktu yang cukup untuk kontak dengan polutan
organik, temperatur dan komposisi medium yang sesuai. Pengolahan limbah
dengan cara biologis dapat dilakukan dengan dua cara yaitu aerob dan anaerob.
Proses aerob membutuhkan oksigen dengan persediaan yang cukup tinggi
sehingga diperlukan aerator dengan daya tinggi, proses aerob biasanya digunakan
untuk limbah dengan konsentrasi pencemar rendah (BOD < 2000 mg/L). Proses
anaerob dilakukan pada kondisi tanpa oksigen atau dengan kondisi oksigen dapat
diabaikan, biasanya digunakan untuk limbah dengan konsentrasi pencemar tinggi
(BOD > 2000 mg/L). Selain itu, pengolahan biologis secara anaerob juga
memberikan keuntungan lain yaitu tidak dihasilkan lumpur (sludge), rendahnya
konsumsi energi, dihasilkannya gas metana (gas bio) sebagai produk lain yang
bermanfaat.

2.6.6 Pengolahan Limbah Padat

Limbah padat adalah sisa atau hasil sampingan dari suatu usaha atau
kegiatan yang berwujud padat termasuk sampah. Limbah padat yang dihasilkan
setiap industri berbeda-beda tergantung dari proses produksi dan bahan baku yang
digunakan. Limbah padat yang dihasilkan dari industri keripik singkong berupa
kulit singkong, bonggol dan ceceran singkong, kemasan bahan baku/penolong,
dan abu sisa pembakaran. Sebagian besar limbah padat yang dihasilkan oleh
industri keripik singkong adalah sampah organik berupa kulit singkong.
Menurut INDRASTI & FAUZI (2009) setiap bahan baku yang diolah
senantiasa akan menghasilkan produk dan hasil samping berupa limbah. Cara
pengelolaan limbah padat yang dihasilkan oleh suatu industri antara lain:
- Mengklasifikasikan limbah berdasarkan kelompok, sehingga dapat diolah
dengan cara yang sama.
- Pemisahan limbah, dimana limbah yang tidak berbahaya dapat dibuang dengan
cara yang aman.
26

- Penyimpanan yang aman.


- Pengolahan untuk mengurangi sifat patogen yang terkandung pada limbah.

2.7 Kulit Singkong

Kulit singkong merupakan limbah dari tanaman singkong yang memiliki


karbohidrat tinggi yang dapat digunakan sebagai sumber bagi ternak. Persentase
jumlah limbah bagian luar sebesar 0,5-2% dari berat total singkong segar dan
limbah kulit bagian dalam sekitar 8-15%. Limbah dari singkong ini mengandung
beberapa komposisi nutrisi, bahan kering, serat kasar, Ca, P.
Kulit singkong ini tergolong dalam sampah organik, karena sampah ini
dapat terdegradasi (membusuk/hancur) secara alami. Oleh karena pengolahan dari
sampah yang dapat terdegradasi ini sangat membantu dan meminimalisasi sampah
yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir.

2.7.1 Dampak Limbah Kulit Singkong terhadap Lingkungan

Walaupun sampah organik/limbah kulit singkong banyak memiliki


manfaat dan dapat diolah menjadi kompos, pakan ternak, dan bioenergi bukan
berarti limbah ini tidak memiliki dampak negatif. Dampak negatif yang dapat
timbul adalah jika kita membakar sampah sembarangan karena dapat mengganggu
kesehatan. Masalah lain dari sampah organik atau limbah kulit singkong adalah
kelembabannya. Sampah basah mengakibatkan partikel-partikel yang tidak
terbakar beterbangan juga berakibat terjadi reaksi yang menghasilkan hidrokarbon
berbahaya. Partikel-partikel yang tak terbakar akan terlihat sebagai awan dalam
asap.

2.7.2 Manfaat Kulit Singkong

Hampir semua bagian dari pohon singkong bisa dimanfaatkan mulai dari
umbi hingga daunnya. Umbi singkong biasanya hanya diambil dagingnya dan
untuk digoreng atau direbus dan aneka panganan. Sedangkan kulitnya dibuang
27

begitu saja atau dijadikan makanan untuk hewan ternak. Kulit singkong selama ini
memang sering disepelekan dan dianggap sebagai limbah dari tanaman singkong.
Jika kita pandai memanfaatkannya, kulit singkong mempunyai manfaat yang
lebih.
Adapun pengolahan limbah kulit singkong yang dapat kita manfaatkan
antara lain kompos, pakan ternak, bioenergy
- Kompos
Kulit singkong dapat diproses menjadi pupuk organik yang kemudian
disebut sebagi pupuk kompos. Kompos dari kulit singkong bermanfaat sebagai
sumber nutrisi bagi tumbuhan dan berpotensi sebagai insektisida tumbuhan.
- Pakan ternak
Kulit singkong juga dapat dijadikan sebagai pakan ternak, karena kulit
singkong mengandung karbohidrat yang tinggi sehingga dapat dengan cepat
menggemukan hewan ternak.
- Bio energi
Kulit singkong bisa berpotensi untuk diproduksi menjadi bietanol yang
digunakan sebagai pengganti bahan bakar minyak. Teknologi pembuatan
bioetanol dari limbah kulit singkong melalui proses hidrolisa asam dan enzimatis
merupakan suatu alternatif dalam rangka mendukung program pemerintah tentang
penyediaan bahan bakar non migas yang terbarukan yaitu BBN (bahan bakar
nabati) sebagai pengganti bensin.