Anda di halaman 1dari 16

BAB 5

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil

5.1.1 Gambaran Umum dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di dua Sekolah Luar Biasa (SLB). SLB

Bina Anak Bangsa dan SLB Cahaya Bangsa. SLB Bina Anak Bangsa

terletak di Jalan Pak Benceng No. 12/b Kota Baru Pontianak, Sungai

Bangkong, Kecamatan Pontianak Kota, Kota Pontianak. Sekolah ini

memiliki empat jenjang yaitu TK, SD, SMP, SMA. Jam sekolah di

mulai pada pukul 07.00 - 11.00 siang. Sekolah ini memiliki fasilitas

seperti ruang kelas sebanyak 15 ruang kelas, ruang kepala sekolah,

ruang guru, ruang tata usaha, dan lapangan olahraga.

Proses pembelajaran yang diterapkan sama seperti sekolah lain

pada umumnya ada pembelajaran matematika, bahasa indonesia, bahasa

inggris, TIK dan kegiatan tambahan yang biasanya dilakukan setiap

hari jumat seperti sablon, melukis, mewarnai, menjahit,

musikal/bernyanyi dan kegiatan mandiri lainnya yang diajarkan cara

mencuci tangan yang baik dan benar, cara mengikat tali sepatu dan

memasang baju. Terapi yang sudah digunakan disekolah ini seperti

terapi wicara, terapi perilaku, terapi akademik, dan sensorik integritas.

Jumlah siswa-siswinya sebanyak 78 orang sedangkan jumlah

guru sebanyak 17 orang. Sebagian besar guru di SLB Bina Anak

105
106

Bangsa belum mengikuti pelatihan tentang metode ABA, biasanya

hanya 2 guru yang dikirim untuk ikut pelatihan di karenakan jumlah

kuota terbatas. SLB Cahaya Bangsa terletak di Jalan Irian No. 2A Kota

Pontianak. Sekolah ini memiliki tiga jenjang yaitu SD, SMP, SMK.

Jam sekolah dimulai pada pukul 07.30 - 12.00 siang.

Sekolah ini memiliki fasilitas seperti ruang kelas sebanyak 10

ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang guru dan ruang tata usaha.

Jumlah siswa-siswinya 55 orang dan jumlah guru sebanyak 16 orang.

Sebagian guru di SLB Cahaya Bangsa belum mengikuti pelatihan

karena untuk ABA sendiri jarang dilakukan karena biaya yang sangat

mahal.

Sekolah Cahaya Bangsa juga mempunyai kelas tambahan yang

ditujukan kepada murid-muridnya yang membutuhkan pengajaran

lebih seperti anak didik yang mempunyai masalah dalam belajar

(kesulitan membaca, menulis, berhitung), mempunyai masalah

konsentrasi (anak yang belum bisa bergabung dengan anak umum

lainnya) dan anak didik yang memerlukan proses terapi (penanganan

dini bagi anak autis, hiperaktif, kesulitan belajar, dan pindahan dari SD

di Kota Pontianak).

Anak didik yang mempunyai bakat khusus akan di kembangkan

dalam mempersiapkan dirinya untuk mencapai kemandirian dan masa

depannya dengan meningkatkan peralatan pendukung seperti

labolatorium komputer, pengembangan bakat, keahlian, dan lain-lain.


107

5.1.2 Analisa Univariat

Analisa univariat pada penelitian ini menggambarkan

karakteristik responden seperti umur, jenis kelamin, pendidikan, tingkat

pengetahuan tentang Metode ABA dan perilaku mengajar guru di SLB

Bina Anak Bangsa dan SLB Cahaya Bangsa tahun 2017. Berikut tabel

distribusi frekuensi responden dapat dilihat di bawah ini :

5.1.2.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia, Jenis Kelamin dan

Pendidikan

Tabel 5.1Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia,


Jenis Kelamin, Pendidikan

Variabel N Persentase (%)


Umur ≤20 (min 19) 1 3,0
21-30 18 54,4
≥31 (max 43) 14 42,4
Total 33 100
Jenis Kelamin laki-laki 9 27,3
Perempuan 24 72,7
Total 33 100
Pendidikan SMA 7 21,2
D3 4 12,1
S1 21 66,7
Total 33 100
Sumber :Data Primer 2017

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.1 menunjukkan

bahwa mayoritas responden berusia antara 21-30 tahun yaitu

sebanyak 18 responden (54,4%) dan mayoritas responden

berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 24 responden

(72,7%) dan pendidikan S1 sebanyak 22 responden (66,7%).


108

5.1.2.2 Tingkat Pengetahuan Guru SLB Bina Anak Bangsa dan SLB

Cahaya Bangsa.

Tabel 5.2Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan


Tingkat Pengetahuan di SLB Bina Anak Bangsa dan SLB
Cahaya Bangsa

Variabel N Persentase(%)
Pengetahuan Baik 24 72,7%
Kurang Baik 9 27,3%
Total 33 100%
Sumber : Data Primer 2017

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.2

menunjukkan bahwa mayoritas pengetahuan guru tentang

metode ABA (Applied Behavior Analysis) dalam kategori baik

yaitu sebanyak 24 responden (72,7%).

5.1.2.3 Perilaku dan Observasi Mengajar Guru SLB Bina Anak Bangsa

dan SLB Cahaya Bangsa

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan


perilaku dan observasi mengajar guru di SLB Bina Anak
Bangsa dan SLB Cahaya Bangsa

Variabel N Persentase (%)


Perilaku Baik 25 75,8%
Kurang baik 8 24,2%
Total 33 100%
Sumber : Data Primer 2017

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.3 bahwa perilaku

dan observasi tentang metode ABA (Applied Behavior Analysis)

dalam kategori baik yaitu sebanyak 25 responden (75,8%).


109

5.1.3 Hasil Uji Normalitas Data

Uji normalitas data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu

uji Shapiro Wilk karena sampel yang digunakan sebanyak 33

responden.Uji Shapiro Wilk digunakan untuk sampel yang kurang dari

50 (Dahlan, 2008), Jika nilai Sig. > 0,05 maka data berdistribusi

normal dan jika nilai Sig. < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal.

Tabel 5.4 Distribusi hasil normalitas data

Shapiro-Wilk
Mean Median Statistic df Sig.
Pengetahuan 95,76 100 ,590 33 ,000
Perilaku 82,55 82 791 33 ,000
Sumber : Data Primer 2017

Berdasarkan tabel 5.1 menunjukkan bahwa nilai Sig. dengan uji

Shapiro Wilk pada pengetahuan sebesar (0.000) dan nilai Sig. pada

perilaku sebesar (0.000). Berdasarkan analisa di atas maka dapat

disimpulkan bahwa pengetahuan dan perilaku merupakan data tidak

berdistribusi normal karena kurang dari 0,05 sehingga peneliti

menggunakan uji Spearman Rank pada uji analisis bivariatnya. Jika

data berdistribusi normal maka digunakan uji korelasi Pearson (Kelana,

2011).

5.1.4 Analisa Bivariat

Analisa bivariat bertujuan untuk membuktikan adanya

hubungan antara variabel dependent dan variabel independent

(Notoadmodjo, 2010). Penelitian ini menggunakan uji Spearmen Rank


110

yaitu untuk menguji hubungan antara variabel independen dan variabel

dependen berskala ordinal (Kelana, 2011) yaitu Hubungan tingkat

pengetahuan tentang metode ABA (Applied Behavior Analysis) dengan

perilaku mengajar guru bagi anak berkebutuhan di SLB Cahaya Bangsa

dan SLB Bina Anak Bangsa Kota Pontianak.

Tabel 5.5Analisa Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang


metode ABA (Applied Behavior Analysis) dengan perilaku
mengajar guru bagi anak berkebutuhan khusus di SLB Kota
Pontianak

Variabel Tingkat perilaku P. value


pengetahuan
Baik 24 (72,7%) 25 (75,8%)
0,001
Kurang baik 9 (27,3%) 8 (24,2%)
Sumber : Data Primer 2017

Berdasarkan tabel 5.5 hasil analisa data didapatkan nilai

signifikansi sebesar 0,001 < α (0,05) maka hipotesis kerja H1 diterima.

Hal ini menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara

pengetahuan tentang metode ABA dan perilaku mengajar guru SLB.

5.2 Pembahasan

5.2.1. Gambaran umum dan lokasi penelitian

Sekolah memberikan keterampilan umum terutama berkaitan

dengan kognitif, keterampilan khusus yang berguna untuk bekerja,

nilai-nilai sosial, perilaku dan mempunyai disposisi penting untuk

pencapaian suatu tujuan (Sewell WH, 1975). Tidak terkecuali dengan

sekolah luar biasa yang ada di kota Pontianak. Salah satunya adalah
111

Sekolah SLB Bina Anak Bangsa dan SLB Cahaya Bangsa. Lokasi

Sekolah Luar Biasa (SLB) Bina Anak Bangsa dan SLB Cahaya Bangsa

terletak di wilayah pusat kota Pontianak sehingga sangat mudah bagi

orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus untuk mendapatkan

pendidikan dan bimbingan terhadap peningkatan kemampuan anak

mereka.

Sarana dan prasarana SLB juga sangat mendukung pembelajaran

mereka termasuk tenaga pengajar yang ada. Sebagian besar tenaga

pengajar adalah lulusan S1 pendidikan. Kualitas tenaga pendidikan

mempengaruhi pengetahuan sehingga proses pembelajaran melalui

perilaku tenaga pengajar akan semakin baik. Pendidikan tinggi

mengajarkan orang untuk berpikir lebih logis dan rasional, dapat

melihat sebuah isu dari berbagai sisi sehingga dapat lebih melakukan

analisis dan memecahkan suatu masalah. Selain itu, pendidikan tinggi

memperbaiki keterampilan kognitif yang diperlukan untuk dapat terus

belajar di luar sekolah (Laflamme L, 2004).

Pendidikan juga berarti bimbingan yang diberikan seseorang pada

orang lain terhadap sesuatu hal agar mereka dapat memahami. Tidak

dapat dipungkiri bahwa makin tinggi pendidikan seseorang semakin

mudah pula mereka menerima informasi dan pada akhirnya makin

banyak pula pengetahuan yang dimiliki sebaliknya pendidikan yang

kurang akan menghambat perkembangan sikap dan perilaku seseorang

terhadap nilai baru yang diperkenalkan dan daya intelektualnya masih


112

terbatas sehingga masih dipengaruhi oleh keadaan sekitarnya seperti

budaya, lingkungan kerja, motivasi dan lain-lain (Mubarak 2012;

Wulansari 2014).

Penelitian ini juga melibatkan responden wanita lebih banyak

daripada laki-laki. Hal ini sesuai dengan kemampuan verbal cenderung

lebih dimiliki oleh guru wanita. Berkaitan dengan profesi guru yang

melibatkan kemampuan berbahasa yang baik (Santrock, 2014).

Berdasarkan penelitian Nurdin (2009) mengungkapkan bahwa wanita

memiliki potensi penguasaan bahasa yang lebih banyak dibandingkan

dengan pria. Dengan pemahaman tersebut dapat dipahami bahwa guru

wanita memiliki potensi kemampuan berbahasa lebih baik

dibandingkan dengan guru pria.

Menurut (Gilligan ; Filifino 2012) mengatakan wanita dewasa

mampu mencapai tahap keseimbangan antara kepedulian pada orang

lain dan kepedulian pada dirinya sendiri. Sudut pandang tersebut

memberikan pemahaman bahwa guru wanita mampu mencapai tingkat

keseimbangan dalam berhubungan dengan orang lain.

Berdasarkan pemahaman tersebut, guru pria dan guru wanita

cenderung menampilkan sikap yang berbeda dalam berinteraksi dengan

anak berkebutuhan khusus. Guru wanita cenderung mengutamakan

hubungan atau komunikasi serta penguasaan bahasa yang lebih baik

dibandingkan dengan guru pria. Sedangkan guru pria unggul dalam

bentuk pemberian bantuan yang lebih banyak dalam pembelajaran


113

untuk anak berkebutuhan khusus. Hal tersebut dilatarbelakangi

banyaknya energi yang dimiliki oleh guru pria dibandingkan dengan

guru wanita. Sikap guru wanita lebih unggul dalam aspek kognitif dan

aspek afektif dibandingkan guru pria. Sedangkan guru pria dalam aspek

psikomotorik lebih unggul dibandingkan dengan guru wanita. Filifino

(2012) mengatakan bahwa guru perempuan lebih unggul berkaitan

dengan perasaan terhadap anak berkebutuhan khusus.

5.2.2 Pembahasan Univariat

5.2.2.1 Pengetahuan

Pengetahuan adalah segala apa yang diketahui berdasarkan

pengalaman yang didapatkan oleh setiap manusia (Mubarak 2012;

Wulansari 2014). Memberikan pengajaran pada anak berkebutuhan

khusus, guru sekolah luar biasa harus mengetahui metode-metode

yang tepat bagi anak didiknya. Pada sekolah biasa, anak akan

mengikuti guru, sedangkan pada sekolah luar biasa, guru harus

menyesuaikan anak agar merasa nyaman dalam pembelajarannya.

Untuk menjadi fasilitator yang baik bagi para peserta didik, guru harus

mempunyai kemampuan mendidik, membimbing, mengajar dan

melatih anak didiknya (Suparlan, 2006).

Berdasarkan tabel 5.3 diketahui bahwa tingkat pengetahuan

responden tentang pembelajaran dengan metode ABA (Applied

Behaviour Analisys) pada anak berkebutuhan khusus sebagian besar


114

dalam kategori baik (72,7%). Pengetahuan pengajar tentang terapi

ABA dalam kategori baik disebabkan oleh karena pengajar sudah

ada yang mendapat pelatihan langsung tentang metode ABA (2 orang)

dan setelah selesai pelatihan mereka memberikan ilmu pelatihan yang

didapat kepada pengajar yang lainnya di SLB.

Pengetahuan tentang metode ABA yang diajarkan oleh teman

yang mengikuti pelatihan diaplikasikan setiap hari kepada peserta

didik. Hal ini juga didukung oleh tingkat pengetahuan pengajar di

SLB rata-rata berpendidikan tinggi (S1) dimana pengetahuan yang

tinggi tentunya akan memudahkan responden untuk mencari dan

memahami informasi tentang aplikasi ABA dalam pembelajaran di

sekolah dan akan cukup terbuka tehadap perkembangan yang ada. Hal

ini sesuai dengan teori Nursalam (2013) yang menyatakan bahwa

makin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin mudah

menentukan informasi.

Parkay dan Stanford (2011) mengatakan seorang guru

memiliki tanggung jawab yang besar. Terlebih bagi guru yang di

dalam kelasnya terdapat anak berkebutuhan khusus. Tanggung jawab

tersebut digeneralkan menjadi tiga poin. Poin pertama, guru harus

mampu berkonsultasi dan kolaborasi dengan profesional lain. Poin

selanjutnya guru wajib menjaga hubungan kerja dengan baik dengan

orang tua. Poin terakhir yakni guru perlu memiliki pengetahuan dan

penguasaan terkait teknologi pendamping untuk pembelajaran secara


115

khusus bagi anak berkebutuhan khusus yang menjadi siswanya.

Seorang guru kelas hendaknya memiliki kemampuan-kemampuan

khusus salah satunya penguasaan metode ABA dalam pengajarannya.

Metode ini bisa berdampak positif bagi motivasi pengajar dalam

memberikan terapi tersebut. Pengajar akan memahami bahwa yang

menunjang keberhasilan terapi autisme dangan metode ABA adalah

jika dilakukan secara intensif di tempat terapi dan di rumah.

Pengajar selalu berusaha menambah wawasannya dengan

memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan

mencari pengetahuan-pengetahuan yang dapat di akses melalui

internet/media sosial, televisi, buku-buku, dan lainnya tentang metode

pengajaran ABA. Keterampilan pengajar dalam memberikan bantuan

dan bimbingan kepada peserta didik sudah baik. Pengajar mampu

memberikan bantuan dan bimbingan kepada peserta dengan baik,

membantu setiap gerakan siswa, dan membenarkan gerakan-gerakan

sehingga siswa mampu melakukan gerakan yang lebih baik.

Rata-rata pengajar menambah informasi tentang ABA saat

bekerja. Bekerja juga akan memudahkan seseorang untuk menjangkau

berbagai informasi. Pengetahuan beberapa tenaga pengajar (27,3%)

masih dalam kategori kurang baik, kemungkinan besar disebabkan

oleh kurang memaksimalkan teori yang didapat dari pelatihan ABA

dan kurang menambah informasi secara mandiri ilmu yang terkait

dengan ABA. Ada beberapa pengajar yang belum bisa membimbing


116

dengan baik disebabkan karena banyaknya jumlah siswa yang dididik

tidak sebanding dengan jumlah tenaga pengajar yang ada. Rata-rata

perbandingan antara terapis dan siswa adalah 1 : 3, sedangkan untuk

anak dengan berkebutuhan khusus membutuhkan perhatian ekstra

dalam membimbing dan mendidik mereka terutama dalam pemenuhan

kebutuhan dasar seperti makan, menggosok gigi, memakai pakaian

dan lainnya sesuai dengan pendapat Puspaningrum (2010) bahwa

tuntutan yang paling penting adalah kemandirian yang bersifat basic

life skills, misalnya cara menggunakan sabun, menggosok gigi dan

sebagainya.

Selain itu juga tenaga pengajar di SLB juga masih bervariasi

dimana masih ada yang lulusan SMU yang belum memiliki spesifikasi

pendidikan tinggi. Pengaruh budaya lingkungan kerja dimana kerja

hanya sebagai rutinitas biasa setiap hari maka hasil pengembangan

pengetahuan terkait ABA juga akan menurun.

Kenyataan ini sesuai dengan pernyataan Budiman (2013);

Astuti (2013) yang menjelaskan bahwa budaya setempat, lingkungan

dan pengaruh orang lain lebih mendominansi dalam pembentukan

pengetahuan dalam dirinya. Dengan demikian dapat disimpulkan

bahwa pengetahuan yang diterima oleh responden yang berpendidikan

SMU serta tidak menutup kemungkinan untuk yang berpendidikan

tinggi (D-III dan S1), berasal dari lingkungan non formal dan

sekitarnya.Wawasan guru tentang pengetahuan terkait metode ABA


117

dengan melakukan penelitian yang menunjang pembelajaran juga

masih kurang. Hal ini disebabkan rutinitas yang padat saat mendidik

dan membimbing anak berkebutuhan khusus dimana perlu ekstra cara

dan pendekatan yang tepat.Seorang guru kelas hendaknya memiliki

kemampuan-kemampuan khusus. Menurut Praptiningrum (2010)

berpendapat bahwa guru kelas yang berada di sekolah inklusif harus

memiliki kemampuan sebagai berikut pengetahuan tentang

perkembangan anak berkebutuhan khusus.

5.2.2.2 Perilaku

Dilihat tabel 5.4 diketahui bahwa kategori perilaku mengajar

responden di sekolah luar biasa khusus pada anak berkebutuhan

khusus sebagian besar dalam kategori baik (75,8%). Hal ini

disebabkan sebagian besar perilakuresponden mengajar sudah

disesuaikan dengan pendekatan model terapi ABA.

Hasil observasi menunjukkan rata-rata perilaku pengajar sudah

mampu memilah setiap anak berkebutuhan khusus dengan Autisme

sesuai dengan tingkat kurikulum ABA yaitu kurikulum tingkat rendah,

tingkat sedang dan tingkat tinggi. Hal ini kemungkinan disebabkan

oleh maksimalnya pengetahuan metode ABA yang dimiliki sebagian

besar pengajar setelah mereka mendapat pelatihan metode ABA.

Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmojo (2010)

terbentuknya perilaku baru pada seseorang dimulai dari seseorang


118

tahu dahulu terhadap stimulus yang berupa materi atau obyek

diluarnya sehingga menimbulkan pengetahuan baru pada seseorang

tersebut. Menurut Soejoeti (2005) ada 3 faktor yang menyebabkan

timbulnya perubahan, pemahaman, sikap dan perilaku seseorang,

sehingga seseorang mau mengadopsi perilaku baru yaitu (1) kesiapan

psikologis ditentukan oleh tingkat pengetahuan dan kepercayaan(2)

adanya tekanan positif dari kelompok atau individu dan (3) adanya

dukungan lingkungan.

Penelitian ini juga sesuai dengan pendapat Praptiningrum

(2010) yang menyatakan bahwa seorang guru hendaknya memiliki

optimisme terhadap peserta didiknya. Guru hanya belum mencapai

target maksimal dalam memahami karakteristik anak berkebutuhan

khusus.

Dijelaskan juga oleh Green dkk (2000) bahwa mewujudkan

sikap menjadi perbuatan yang nyata diperlukan faktor pendukung atau

kondisi yang memungkinkan. Faktor yang mendukung tersebut adalah

(1) faktor predisposisi (pengetahuan, sikap, keyakinan, persepsi) (2)

faktor pendukung (akses pada pelayanan kesehatan, keterampilan dan

adanya referensi) (3) faktor pendorong terwujud dalam bentuk

perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan bersifat lebih langgeng

daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo,

2010).
119

5.2.3 Pembahasan Bivariat

Hubungan antara pengetahuan tentang Metode ABA dengan Perilaku

Mengajar Guru SLB

Dari hasil analisa data didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,001 <

α (0,05) maka hipotesis kerja H1 diterima. Hal ini menunjukkan terdapat

hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang metode ABA dan

perilaku mengajar guru SLB. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah

didapatkannya hubungan yang bermakna dengan korelasi yang sedang

antara pengetahuan tentang metode ABA dengan perilaku mengajar guru

SLB.

Hal ini berarti bahwa dengan adanya pengetahuan yang memadai

akan mempengaruhi perilaku seseorang. Hasil penelitian ini sesuai dengan

teori Notoatmodjo (2010) mengatakan bahwa pengetahuan atau kognitif

merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan

seseorang (overt behavior), dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa

perilaku yang disadari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada

perilaku yang tidak disadari oleh pengetahuan, sebelum orang mengadopsi

perilaku baru, dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan.

Adapun proses tersebut sebagai berikut : a) awareness ; subyek menyadari

atau mengetahui stimulus terlebih dahulu b) interest ; subyek mulai tertarik

pada stimulus c) evaluation ; subyek menumbang baik&tidaknya stimulus

tersebut bagi dirinya d) trial ; subyek telah menimbang perilaku yang baru
120

e) adaption ; subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan,

kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.

Kelemahan penelitian ini antara lain, pengumpulan data dengan

kuesioner bersifat subjektif sehingga kebenaran data sangat bergantung pada

kejujuran responden. Selain itu observasi yang dilakukan peneliti terhadap

perilaku responden mengajar juga dalam waktu terbatas sehingga dapat

mempengaruhi ketepatan objektifitas dalam memberikan penilaian sesaat.

Juga terdapat keterbatasan waktu dan tenaga, sehingga responden penelitian

yang diperoleh relatif sedikit (n = 33 ) dan hanya menggunakan kuesioner

tidak dilakukan wawancara maksimal secara langsung. Diperlukan

penelitian lebih lanjut mengenai faktor yang mempengaruhi efektifitas

penggunaan metode ABA dalam pembelajaran di SLB.