Anda di halaman 1dari 74

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)

Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

BAB II
GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Gambaran Umum kondisi daerah Kabupaten Lingga memberikan gambaran


awal tentang kondisi daerah dan capaian pembangunan Kabupaten Lingga secara
umum. Gambaran umum tersebut menjadi pijakan awal penyusunan rencana
pembangunan 5 (lima) tahun kedepan melalui pemetaan secara objektif kondisi
daerah dari aspek geografi dan demografi, kesejahteraan masyarakat, pelayanan
umum, dan daya saing daerah.
Sebagaimana kita ketahui bersama, Kabupaten Lingga telah dikenal
beberapa abad silam sebagai Kerajaan Melayu Lingga dan mendapat julukan
“Negeri Bunda Tanah Melayu”. Pada kurun waktu 1722-1911, terdapat dua
Kerajaan Melayu yang berkuasa dan berdaulat yaitu Kerajaan Riau Lingga yang
pusat kerajaan dan Kerajaan Melayu Riau di Pulau Bintan.
Sebelum ditandatanganinya Treaty of London, maka kedua Kerajaan
Melayu tersebut dilebur menjadi satu sehingga kerajaan tersebut menjadi
semakin kuat. Wilayah kekuasaannya pun tidak hanya terbatas di Kepulauan Riau
saja, tetapi telah meliputi daerah Johor dan Malaka (Malaysia), Singapura, dan
sebagian kecil wilayah Indragiri Hilir. Pusat kerajaan terletak di wilayah Pulau
Penyangat dan menjadi terkenal di seluruh wilayah nusantara dan juga kawasan
Sepenanjung Malaka. Setelah Sultan Riau meninggal pada tahun 1911,
Pemerintah Hindia Belanda menempatkan amir-amirnya sebagai Districh
Thoarden untuk daerah yang besar dan Onder Districh Thoarden untuk daerah
yang agak kecil. Pemerintah Hindia Belanda akhirnya menyatukan wilayah Riau
Lingga dengan Indragiri untuk dijadikan sebuah karesidenan yaitu: Afdelling
Tanjungpinang yang meliputi Kepulauan Riau-Lingga, Indragiri Hilir, dan Kateman
yang kedudukannya berada di wilayah Tanjungpinang dan sebagai penguasanya
ditunjuk seorang Residen.

II-1
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Berdasarkan Surat Keputusan dari delegasi Republik Indonesia (RI) maka


Provinsi Sumatera Tengah pada tanggal 18 Mei 1950 menggabungkan diri ke
dalam Republik Indonesia dan Kepulauan Riau diberi status daerah Otonom
Tingkat II yang dikepalai oleh Bupati sebagai kepala daerah dengan membawahi
empat daerah kewedanan sebagai berikut:
1. Kewedanan Tanjungpinang meliputi wilayah Kecamatan Bintan Selatan
(termasuk Kecamatan Bintan Timur, Galang, Tanjungpinang Barat, dan
Tanjungpinang Timur sekarang).
2. Kewedanan Karimun meliputi wilayah Kecamatan Karimun, Kundur, dan Moro.
3. Kewedanan Lingga meliputi wilayah Kecamatan Lingga, Kecamatan Singkep,
dan Kecamatan Senayang.
4. Kewedanan Pulau Tujuh meliputi wilayah Kecamatan Jemaja, Siantan, Midai,
Serasan, Tambelan, Bunguran Barat dan Bunguran Timur.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999 dan Undang-Undang
Nomor 13 Tahun 2000, Kabupaten Kepulauan Riau dimekarkan menjadi 3
kabupaten yang terdiri dari: Kabupaten Kepulauan Riau, Kabupaten Karimun dan
Kabupaten Natuna. Wilayah Kabupaten Kepulauan Riau hanya meliputi 9
kecamatan saja, meliputi: Kecamatan Singkep, Kecamatan Lingga, Kecamatan
Senayang, Kecamatan Teluk Bintan, Kecamatan Bintan Utara, Kecamatan Bintan
Timur, Kecamatan Tambelan, Kecamatan Tanjungpinang Barat, dan Kecamatan
Tanjungpinang Timur. Kemudian dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor
5 tahun 2001, maka Kota Administratif Tanjungpinang berubah menjadi Kota
Tanjungpinang yang mana statusnya sama dengan kabupaten yang membawahi
Kecamatan Tanjungpinang Barat dan Tanjungpinang Timur. Dengan demikian,
maka Kabupaten Kepulauan Riau hanya meliputi Kecamatan Singkep, Lingga,
Senayang, Teluk Bintan, Bintan Utara, Bintan Timur dan Tambelan. Pada akhir
tahun 2003 dibentuklah Kabupaten Lingga sesuai dengan Undang-Undang Nomor
31 Tahun 2003 tanggal 18 Desember 2003, yang mana memiliki wilayah
Kecamatan Singkep, Singkep Barat, Lingga, Lingga Utara dan Senayang.

II-2
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

2.1. Aspek Geografis dan Demografi


Aspek geografi dan demografi mengambarkan karateristik lokasi wilayah
pengembangan wilayah, kerentanaan wilayah dan domegrafi Kabupaten Lingga.
Kabupaten Lingga terletak di antara 0 derajat 20 menit Lintang Utara dengan
0 derajat 40 menit Lintang Selatan dan 104 derajat Bujur Timur dan 105 derajat
Bujur Timur. Luas wilayah daratan dan lautan mencapai 45.456,7162 km persegi
dengan luas daratan 2.117,72 km persegi dan lautan 43.338,9962 km persegi.
Wilayahnya terdiri dari 531 buah pulau besar dan kecil. Tidak kurang dari 95 buah
diantaranya sudah dihuni, sedangkan sisanya 436 buah walaupun belum
berpenghuni sebagiannya sudah dimanfaatkan untuk berbagai aktifitas kegiatan
pertanian, khususnya pada usaha perkebunan.
Kabupaten Laingga secara administrasi berbatasan dengan:
Sebelah Utara : Kota Batam dan laut Cina Selatan;
Sebelah Selatan : Laut Bangka dan Selat Berhala;
Sebelah Barat : Laut Indragiri Hilir;
Sebelah Timur : Laut Cina Selatan.

II-3
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Gambar. G-II.1

Peta Wilayah Kabupaten Lingga

Sumber: Dokumen LPPD Kab. Lingga, 2010

2.1.1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah


Karateristik lokasi dan wilayah pada sub bab ini menjelaskan tentang luas
dan batas wilayah serta letak dan kondisi geografis Kabupaten Lingga.

a. Luas dan Batas Wilayah


Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2003
tentang Pembentukan Kabupaten Lingga di Provinsi Kepulauan Riau, Kabupaten
Lingga mempunyai luas wilayah daratan dan lautan mencapai 211,772 km 2
dengan luas daratan 2.117,72 km2 (1 %) dan lautan 209,654 km2 (99%).

II-4
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Tabel. T-II.1.

Pembagian Dan Luas Wilayah Kabupaten Lingga


Banyaknya Luas Daratan
No Kecamatan 2
Kelurahan Desa Km
1 Singkep Barat 1 8 337,10
2 Singkep 2 9 491,90
3 Lingga 1 17 609,51
4 Lingga Utara 1 7 283,21
5 Senayang 1 10 396,00
Jumlah 6 51 2.177,72
Sumber : BPS, Kabupaten Lingga Dalam Angka Tahun 2009.

Gambar. G-II.2
Luas Daratan Menurut Kecamatan di Kabupaten Lingga

Sumber: BPS, Kabupaten Lingga Dalam Angka Tahun 2009

Dari Kecamatan yang ada di Kabupaten Lingga, terluas adalah Kecamatan


Lingga yaitu 609,51 km2 (29% dari total luas daratan) yang terdiri dari 17 Desa
dan 1 Kelurahan, kemudian Kecamatan Singkep yaitu 491,90 km2 (23% dari total
luas daratan) yang terdiri dari 9 Desa dan 2 Kelurahan. Tabel. T-II.2. berikut ini
menunjukkan jumlah Desa/Kelurahan yang ada dimasing-masing Kecamatan.

II-5
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Tabel. T-II.2.

Desa/Kelurahan Yang Ada di Kabupaten Lingga


No Kecamatan Desa/Kelurahan
1 Singkep Barat Raya Sungai Buluh
Bakong Sungai Raya
Kuala Raya Sungai Harapan
Marok Tua Jagoh
Posek
2 Singkep Dabo Berhala
Dabo Lama Tanjung Harapan
Berindat Batu Berdaun
Kote Batu Kacang
Lanjut Sedamai
Marok Kecil
3 Lingga Daik Panggak Darat
Pekajang Panggak Laut
Kelombok Musai
Mapar Kerandi
Penuba Pekaka
Selayar Keton
Kelumu Sei Pinang
Mentuda Bukit Langkap
Merawang Kudung
4 Lingga Utara Pancur Resun
Bukit Harapan Sekanah
Duara Teluk
Limbung Linau
5 Senayang Senayang Mensanak
Mamut Tanjung Kelit
Pasir Panjang Pulau Batang
Rejai Benan
Temiang Batu Belubang
Pulau Medang
Sumber: BPS, Kabupaten Lingga Dalam Angka Tahun 2009

II-6
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

b. Letak dan Kondisi Geografis


Secara Geografis Kabupaten Lingga terletak di antara 0° 00’ - 1° 00’
Lintang Selatan dan 103° 30’ - 105°00’ Bujur Timur.
 Topografi
Jika dilihat dari topografinya, sebagian besar daerah di Kabupaten Lingga
adalah berbukit-bukit. Berdasarkan data dari Badan Pertanahan Nasional (BPN),
terdapat 73.947 ha yang berupa daerah berbukit-bukit, sementara daerah
datarnya hanya sekitar 11.015 ha. Pada dasarnya, wilayah Kebupaten Lingga
memiliki kemiringan yang ideal untuk dikembangkan sebagai kawasan perkotaan,
karena hampir mencapai 65 %, wilayah Kabupaten Lingga berada dalam
kemiringan 0-2 %, disusul oleh wilayah dengan kemiringan di atas 40 % yaitu
mencapai hampir 17 %. Hal ini dapat dilihat pada Tabel. T-II.3 dan Error!
Reference source not found. berikut ini:

Tabel. T-II.3.

Tinggi Rata-Rata Dari Permukaan Laut Menurut Kecamatan


No Kecamatan Tinggi (m dpl)
1. Singkep Barat 0-415
2. Singkep 0-519
3. Lingga 0-1.272
4. Lingga Utara 0-800
5. Senayang 0-200
Sumber: BPS, Kabupaten Lingga Dalam Angka Tahun 2009

Jenis tanah yang terdapat di Kabupaten Lingga pada umumnya adalah


podsolik merah kuning, litosol, dan organosol. Adapun lapisan tanahnya
berstruktur remah sampai gumpal. Sedangkan lapisan bawahnya berselaput liat
dan teguh. Sementara untuk jenis batu-batuannya, batuan Pluton Asam (Acid
Pluton) yang berupa batuan sejenis granit tersebar pada kawasan Gunung Daik di
bagian barat Pulau Lingga, selain itu terdapat juga batuan endapan dari Zaman
Prateseiser yang tersebar di seluruh Pulau Lingga.

II-7
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Tabel. T-II.4.

Kelas Lereng Dengan Luas Penyebaran Di Kabupaten Lingga


0 - 2% 2 - 15% 15 - 40% > 40% Jumlah (Ha)
N Kecamata
Luas Luas Luas Luas Luas
o n
(Ha) % (Ha) % (Ha) % (Ha) % (Ha) %
Singkep 13,810. 40. 4,790. 14. 11,203 33. 3,905. 11. 33,798. 10
1
Barat 34 97 96 20 .17 18 53 56 34 0
31,250. 63. 13,696 27. 3,726. 7.5 1.0 49,288. 10
2 Singkep 516.22
60 53 .30 81 88 6 5 90 0
35,281. 57. 1,421. 2.3 3,354. 5.5 20,893 34. 61,016. 10
3 Lingga
80 89 89 3 13 0 .18 24 71 0
Lingga 16,571. 58. 1,478. 5.2 10,271 36. 28,384. 10
4 - -
Utara 13 51 35 1 .52 19 72 0
39,247. 99. 0.8 39,700. 10
5 Senayang - - 352.59 - -
41 11 9 00 0
136,161 64. 19,909 9.3 20,115 9.4 35,586 16. 212,188 10
Jumlah
.28 30 .15 9 .12 8 .45 77 .68 0
Sumber: Bakosurtanal dan Hasil Analisis, 2009

 Geomorfologi
Berdasarkan bentuk bentang alam dan sudut lerengnya, daerah
penyelidikan dapat dibagi menjadi 6 (enam) satuan morfologi, yaitu:
1) Dataran
Merupakan daerah dataran aluvial sungai dengan kemiringan lereng
medan antara 0-5% (0-30), ketinggian wilayah antara 18-45 meter di
atas permukaan laut. Pada daerah yang termasuk dalam satuan
morfologi ini mempunyai tingkat erosi sangat rendah. Penyebaran
satuan ini adalah di bagian timur daerah pemetaan, yaitu sekitar
Kecamatan Senayang, Kecamatan Lingga Utara, dan sebagian di
Kecamatan Singkep Barat.

II-8
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

2) Perbukitan berelief halus


Satuan morfologi ini mempunyai bentuk permukaan bergelombang
halus dengan kemiringan lereng medan 5-15% (3-80), ketinggian
wilayah antara 45-144 meter di atas permukaan laut. Pada daerah
yang termasuk ke dalam satuan morfologi ini mempunyai tingkat
erosi rendah. Penyebaran satuan ini antara lain menempati daerah
sebagian di Kecamatan Singkep Barat dan Kecamatan Singkep.
3) Perbukitan berelief sedang
Satuan morfologi ini mempunyai bentuk permukaan bergelombang
sedang dengan kemiringan lereng medan 15-30% (8-170) dengan
ketinggian wilayah 150-400 meter di atas permukaan laut. Pada
daerah yang termasuk dalam satuan morfologi ini mempunyai tingkat
erosi rendah sampai menengah. Penyebaran satuan ini antara lain di
daerah sekitar sebagian di Kecamatan Singkep Barat dan Kecamatan
Singkep serta sebagian di Kecamatan Lingga.
4) Perbukitan berelief agak kasar
Satuan morfologi ini mempunyai bentuk permukaan bergelombang
agak kasar dengan kemiringan lereng 30-50% (17-270), dengan
ketinggian wilayah 200-550 meter di atas permukaan laut. Pada
daerah yang termasuk dalam satuan morfologi ini mempunyai tingkat
erosi menengah. Penyebaran satuan ini antara lain di daerah sekitar
Kecamatan Singkep, dan sebagian kesil terdapat di Kecamatan
Singkep Barat, Kecamatan Lingga dan Kecamatan Lingga Utara.
5) Perbukitan berelief kasar
Satuan morfologi ini mempunyai bentuk permukaan bergelombang
kasar dengan kemiringan lereng 50-70% (27-360), dengan ketinggian
wilayah 225-644 meter di atas permukaan laut. Pada daerah yang
termasuk dalam satuan morfologi ini mempunyai tingkat erosi tinggi.
Penyebaran satuan ini antara lain sebagian besar di Kecamatan Lingga

II-9
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

dan sebagian kecil di Kecamatan Lingga Utara serta sebagian kecil di


sekitar Kecamatan Singkep.
6) Perbukitan berelief sangat kasar sampai hampir tegak
Satuan morfologi ini mempunyai bentuk permukaan bergelombang
sangat kasar dengan kemiringan lereng lebih besar dari 70% (>36 0),
dengan ketinggian wilayah 262-815 meter di atas permukaan laut.
Pada daerah yang termasuk dalam satuan morfologi ini mempunyai
tingkat erosi sangat tinggi, terutama erosi vertikalnya. Penyebaran
satuan ini antara lain terdapat di sekitar di Kecamatan Lingga dan
sebagian kecil di Kecamatan Lingga Utara serta sebagian kecil di
sekitar Kecamatan Singkep.
 Iklim dan Hidrologi
Kabupaten Lingga mempunyai iklim tropis dan basah dengan variasi curah
hujan rata-rata 216,7 mm sepanjang tahun 2009. Setiap bulannya curah hujan
cenderung bervariasi. Sementara pada bulan desember merupakan bulan dengan
curah hujan paling banyak.
Berdasarkan data-data yang ada maka dapat diketahui bahwa iklim di
daerah Lingga mempunyai sifat-sifat yaitu suhu rata-rata 26,8 ⁰C; kelembaban
relatif rata-rata 84%; Kecepatan angin rata-rata 5 knot; tekanan udara rata-rata
1009,4 millibar; jumlah curah hujan rata-rata 13,5 mm/hari. Kabupaten Lingga
dialiri oleh sungai-sungai yang menjadi potensi sumber air bagi pemenuhan
kebutuhan air baik bagi pertanian ataupun kegiatan yang lainnnya. Di Kabupaten
Lingga mempunyai potensi air yang surplus sepanjang tahun, dengan jumlah
curah hujan yang berkisar antara 2000-3500 mm/thn dengan kondisi air surplus
maka potensi sumber daya air cukup besar yang dapat dimanfaatkan, berikut
merupakan uraian potensi ketersediaan air lahan.

II-10
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Tabel. T-II.5.

Potensi Ketersediaan Air Lahan Di Kabupaten Lingga


Curah Hujan Air Tersedia Kondisi Air (mm/th)
Nama Daerah
(mm/th) (mm) Defisit Surplus
Lingga 2600,7 64 0 968
Singkep 2600,7 82,2 0 968
Senayang 2600,7 62,7 0 968
Sumber: Hasil Analisis, 2009

 Kemampuan Lahan
Berbagai aspek geologi tata lingkungan yang ditemui di Kabupaten
Lingga antara lain, kemampuan lahan hidrogeologi, kemampuan lahan
morfologi, kestabilan lereng, kemampuan lahan pertambangan, dan
kemampuan lahan bencana alam. Sebagai dasar dalam melakukan analisis
kemampuan lahan digunakan sebagai pedoman adalah peta geologi kuarter
yang merupakan peta geologi yang memperlihatkan proses pembentukan
alam pada periode kuarter sampai sekarang sehingga informasi yang
diperoleh akan lebih relevan. Karakteristik lahan mencerminkan potensi,
kendala dan limitasi yang berperan sebagai faktor penunjang dan
penghambat dalam pengembangan pola tataguna lahan, yaitu:
a. Lahan yang dapat dikembangkan (disebut wilayah kemungkinan),
merupakan wilayah yang mempunyai kendala relatif kecil. Kemungkinan
kesuaian lahan wilayah ini antara lain kesesuaian lahan untuk
permukiman serta kesesuaian lahan pertanian lahan basah dan kering.
b. Lahan yang mungkin dikembangkan dengan berbagai konsekuensi
ekonomi dan fisik (Wilayah Kendala). Wilayah kendala dalam
pemanfaatan lahan sebaiknya diprioritaskan sebagai kawasan hutan
produksi, perkebunan, dan persawahan.
c. Lahan yang tidak mungkin dikembangkan, karena merupakan limitasi
mutlak yang berkonsekuensi luas secara ekonomi maupun fisik (Wilayah

II-11
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Limitasi). Wilayah ini harus dikonservasi atau dikembangkan sebagai


kawasan lindung.

Tabel. T-II.6.

Karakteristik Lahan Berdasarkan Kawasan


KAWASAN DAYA DUKUNG LAHAN (Ha)
URAIAN SINGKEP BARAT SINGKEP LINGGA LINGGA UTARA SENAYANG TOTAL
Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) %
KAWASAN
9,230.30 28.01 2,038.02 6.19 14,421.67 43.77 2,817.10 8.55 4,441.41 13.48 32,948.50
LINDUNG 16
Hutan
6,204.19 27.53 2,038.02 9.04 13,202.66 58.59 1,088.41 4.83 - - 22,533.28
Lindung 68.39
Hutan Bakau 3,026.10 13.43 - - 1,219.01 - 1,728.69 - 4,441.41 - 10,415.22 46.22
KAWASAN
24,479.70 13.69 47,151.98 26.37 46,529.34 26.02 25,503.89 14.26 35,158.59 19.66 178,823.50
BUDIDAYA 50
Hutan
8,091.89 35.91 16,160.03 71.72 22,216.53 98.59 12,489.93 55.43 - - 58,958.38
Produksi 55.69
Pesawahan 475.15 2.11 2,351.17 10.43 1,589.73 7.06 1,205.35 5.35 6,508.59 28.88 12,129.99 11.46
Perkebunan 3,492.56 15.50 799.37 3.55 7,881.25 34.98 1,205.35 5.35 21,394.98 94.95 34,773.51 32.85
Permukiman 1,017.10 4.51 554.15 2.46 266.57 1.18 476.31 2.11 73.02 0.32 2,387.15 3.27
Pertanian
4,483.00 19.90 15,357.26 68.15 10,071.26 44.70 3,198.00 14.19 4,908.00 21.78 38,017.52
Lahan Basah 52.11
Pertanian
6,920.00 30.71 11,930.00 52.94 4,504.00 19.99 6,928.95 30.75 2,274.00 10.09 32,556.95
Lahan Kering 44.62
TOTAL 33,710.00 15.92 49,190.00 23.23 60,951.00 28.78 28,321.00 13.37 39,600.00 18.70 211,772.00 100

Sumber: Hasil Analisis, 2009

a) Kemampuan Lahan Morfologi-Kestabilan Lereng


Kestabilan lereng erat kaitannya dengan morfologi dan sifat
batuan/tanah. Untuk wilayah Kabupaten Lingga, sifat tanah/batuan pada
umumnya juga dapat dikatakan stabil, kecuali wilayah yang terdiri dari
endapan lempung laut (M), serta endapan sungai yang muda.
b) Kemampuan Lahan Sumber Air
Kemampuan lahan hidrogeologi didasarkan kondisi topografi (morfologi),
jenis batuan dan pola aliran sungai, juga kenampakannya di lapangan.
Kemampuan lahan hidrogeologi Kabupaten Lingga adalah kemampuan

II-12
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

lahan mata air, kemampuan lahan air tanah dangkal dan kemampuan
lahan air daerah pantai.
c) Kemampuan Lahan Mata Air
Suatu wilayah yang berfungsi sebagai tempat munculnya mata air di
permukaan. Biasanya pada lereng punggung perbukitan, dicirikan oleh
mulai berkembangnya sungai di beberapa tempat dapat pula dikontrol
oleh perselingan litologi.
Pola aliran meandering mulai sedikit tampak tetapi disini proses
sedimentasi umumnya belum terjadi kecuali pada sungai-sungai yang
agak besar, kemampuan lahan mata air berpengaruh regional dalam
kesetimbangan air khususnya air permukaan.
Wilayah di Kabupaten Lingga yang memiliki kemampuan sebagai lahan
mata air adalah diantaranya Sungai Sergang di Kecamatan Singkep,
Pelakak Kecamatan Singkep, Pulau Penuba Kecamatan Lingga, Kampung
Putus Kecamatan Lingga, sekitar Sungai Keton Kecamatan Lingga, Kudung
Kecamatan Lingga, Teluk tebing Kecamatan Lingga Utara, dan sekitar
Limbong dan Sungai Limbong Kecamatan Lingga Utara.
d) Kemampuan Lahan Air Tanah Bebas
Kemampuan lahan air tanah bebas adalah suatu wilayah yang didominasi
oleh kedalaman muka air tanah bebas sampai dangkal. Biasanya pada
daerah landaian sampai dataran, dicirikan oleh pola aliran sungai yang
kadang meandering dengan diisi oleh proses sedimentasi fluvial. Proses
erosi lateral sudah nyata berkembang membentuk penampang sungai U.
Kemampuan lahan air tanah bebas mempunyai pengaruh atas
ketersedian air tanah dangkal yang sangat bermanfaat untuk kehidupan.
Litologi di daerah ini berupa endapan aluvial yaitu endapan limpah banjir
dan endapan sungai muda (sungai aktif). Batuan di daerah zona air tanah
bebas ini umumnya telah lapuk menjadi lempung (tanah liat) berwarna
abu-abu kecoklatan. Sebagian besar wilayah di Kabupaten Lingga
mempunyai zona lahan air tanah bebas (zona air tanah dangkal).

II-13
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

e) Kemampuan Lahan Hidrologi Pantai


Kemampuan lahan hidrologi pantai adalah suatu wilayah yang berfungsi
sebagai daerah pantai serta fungsi pelestarian air tanah tawar.
Fisiografinya datar serta litologinya aluvium pantai. Bentuk sungai
menganyam dan dimuaranya terbentuk endapan delta ataupun tidak.
Proses sedimentasi kuat dan arus lemah.
Kemampuan lahan hidrologi pantai sangat mempengaruhi tata air dengan
fungsi penahan intrusi air laut dan abrasi air laut, yang termasuk kawasan
pantai adalah sepanjang pantai timur dan utara Lingga termasuk
Kecamatan Lingga Utara, Kecamatan Lingga bagian Selatan. Kemampuan
lahan hidrologi pantai ini dibagi dua zona, yaitu zona pantai sendiri dan
zona rawa.

2.1.2. Potensi Pengembangan Wilayah


Kabupaten Lingga memiliki sejumlah potensi yang perlu dikembangkan
demi kesejahteraan masyarakat serta kemajuan pembangunan Kabupaten Lingga
itu sendiri, salah satunya adalah potensi sektor pertanian. Luas wilayah daratan
Kabupaten Lingga untuk potensi lahan pertanian dan perkebunan pada tahun
2008 adalah seluas 78.232 ha. Potensi lahan pertanian terdiri potensi lahan
sawah seluas 2.250 ha, potensi lahan perkebunan seluas 46.112 ha dan potensi
lahan pertanian seluas 29.870 ha, sedangkan potensi lahan yang sudah
dimanfaatkan baru seluas 21.610 ha yang terdiri dari perkebunan seluas 15.477
ha dan pertanian seluas 6.133 ha. Sisa lahan seluas 56.622 ha belum
dimanfaatkan secara optimal.
Sekarang ini yang sudah dikembangkan adalah pertanian tanaman
pangan yang terdiri dari tanaman palawija dan hortikultura. Setelah mengalami
penurunan produksi pada tahun 2006, pada tahun-tahun berikutnya sebagian
besar jenis komoditi memperlihatkan tren peningkatan yang cukup siginifikan.
Produksi terbesar dan merupakan jenis komoditi yang merupakan unggulan
daerah adalah ubi kayu, ubi jalar, dan jagung.

II-14
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Upaya yang dilakukan pemerintah dalam meningkatkan pemenuhan


kebutuhan pangan di masyarakat, Pemerintah Kabupaten Lingga antara lain
mengembangkan pembudidayaan jagung di daerah transmigrasi pada tahun
2008. Hasil penanaman jagung di daerah transmigrasi Bukit Langkap dan
sekitarnya seluas 40 Ha menunjukkan tingkat produktifitas sebesar 3 Ton/Ha
jagung pipilan. Hal ini memberikan harapan pengembangan produksi jagung
hibrida di Kabupaten Lingga yang cukup besar dengan memanfaatkan lahan
potensial yang mencapai luas 17.300 Ha.
Pada sektor komoditas sayur-sayuran, luas tanam sayur-sayuran pada
tahun 2009 seluas 140 ha dengan rata-rata produksi sebanyak 35,97 ton/ha.
Rata-rata produksi sayur-sayuran terbesar adalah cabe dengan luas tanam 13 ha
dan rata-rata produksi sebanyak 13 ton/ha. Kedua adalah kacang panjang
dengan luas tanam 13 ha dan rata-rata produksi sebanyak 9,1 ton/ha. Dan ketiga
adalah ketimun dengan luas tanam 24 ha dan rata-rata produksi sebanyak 3,32
ton/ha. Komoditas sayur-sayuran lainnya mempunyai rata-rata produksi kurang
dari 3 ton/ha. Beberapa kendala yang dihadapi para petani selain disebabkan
kendala produksi adalah karena sulitnya pemasaran produk hasil pertanian.
Meskipun demikian upaya peningkatan dan pengembangan produktivitas sayur-
mayur di Kabupaten Lingga terus dilaksanakan.
Beberapa produksi buah-buahan di Kabupaten Lingga mempunyai potensi
untuk dikembangkan di masa mendatang yaitu buah durian, dimana pada tahun
2009 sebesar 31,40 ton pertahun dan pada tahun 2008 produktivitasnya
mencapai 3-4 Ton/Ha permusimnya dan dapat memenuhi permintaan durian di
seluruh Kabupaten Lingga. Luas lahan yang telah dimanfaatkan untuk
penanaman Durian di Kabupaten Lingga mencapai 538 Ha. Komoditas buah-
buahan lainnya yang cukup berkembang antara lain nangka/cempedak yang bisa
menghasilkan 141 Ton/Tahun, rambutan yang bisa menghasilkan 99 Ton/Tahun
dan beberapa buah-buahan lainnya. Pemerintah Kabupaten Lingga juga
mengembangkan budidaya tanaman salak pondoh. Luas lahan yang telah
dimanfaatkan untuk pengembangan salak pondoh seluas 165 Ha. Beberapa desa

II-15
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

yang telah mengembangkan salak pondoh antara lain Kelurahan Dabo, Desa
Kuala Raya, Desa Resun, Desa Merawang dan telah menghasilkan salak pondoh
dengan produktifitas 9,37 Ton/Ha. adalah durian yang seluruhnya menghasilkan
produksi sebanyak 3.848 Ton serta buah cempedak dengan hasil produksi
seluruhnya 450 Ton.
Potensi perkebunan di Kabupaten Lingga didominasi oleh komoditas sagu
yang luas lahannya mencapai 1.323 Ha dengan produksi yang dihasilkan
seluruhnya adalah 12.439,564 Ton pada tahun 2009. Potensi perkebunan lainnya
yang menjadi unggulan yaitu karet dengan luas lahan perkebunan mencapai
9.275,15 Ha dengan hasil produksi perkebunan karet seluruhnya sebanyak
3.118,082 Ton. Kemudian kelapa dengan luas lahan perkebunan mencapai
2.787,46 Ha dengan hasil produksi perkebunan kelapa sebanyak 1.160,698 Ton.
Pada tahun 2009 pemerintah Kabupaten Lingga juga mulai mengembangkan
tanaman Lada. Luas lahan yang telah digunakan seluas 73,87 Ha dan telah
berproduksi sebesar 31.542 ton.
Potensi peternakan juga memiliki peluang pengembangan yang cukup
besar di Kabupaten Lingga. Pada tahun 2009, populasi ternak sapi dan kambing
telah dihasilkan 1.300 ekor sapi dan 624 ekor kambing dan telah tersebar di
seluruh kecamatan di Kabupaten Lingga. Sedangkan populasi babi mencapai 320
ekor babi. Untuk jenis ternak kecil/unggas yaitu ayam buras dan itik, populasinya
menyebar diseluruh kecamatan dengan rincian populasi ayam buras sebanyak
72.412 ekor ayam buras dan itik sebanyak 1.847 ekor itik, sedangkan ayam ras
pedaging populasinya sebanyak 31.200 ekor ayam ras.
Untuk potensi Potensi perikanan di Kabupaten Lingga didominasi oleh
perikanan laut, baik itu penangkapan maupun budidaya laut (keramba jaring
apung). Sektor perikanan laut merupakan sektor andalan di Kabupaten Lingga.
Tahun 2009, produksi hasil penangkapan mencapai 19.245,946 ton, sedangkan
hasil budidaya laut mencapai 164,979 ton. Meningkatnya hasil produksi
perikanan di Kabupaten Lingga dari tahun ke tahun tidak bisa terlepas dari usaha
Pemerintah Kabupaten Lingga dalam meningkatkan sarana dan prasarana sektor

II-16
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

perikanan. Pada tahun 2009, jumlah alat penangkapan ikan mencapai 9.768 unit,
kapal motor berjumlah 2.691 unit, motor tempel berjumlah 99 unit, perahu
tanpa motor berjumlah 1.745 unit, keramba berjumlah 1.021 kantong, kolam, 2,7
ha, dan rumpul laut 29 ha.
Potensi kehutanan yang masih terdapat di Kabupaten Lingga adalah
hutan seluas 168.412 Ha yang menurut fungsinya terdiri dari hutan lindung
29.903 Ha atau 17,76 %, hutan produksi terbatas 14.423 Ha atau 8,56 % dan
hutan produksi konversi seluas 124.086 Ha atau 73,68 % dari luas hutan yang ada
di Kabupaten Lingga.
Untuk pengembangan pariwisata dan panorama alam, Kabupaten Lingga
mempunyai tempat-tempat peninggalan sejarah yang layak untuk
pengembangan pariwisata dan panorama alam yang indah yang berbukit dan
terjal. Daerah ini mempunyai nilai-nilai budaya sebagai inti peradaban
masyarakat yang kuat yang dapat dijadikan objek wisata. Objek wisata di
Kabupaten Lingga seluruhnya ada 32 objek wisata yang terdapat di Kecamatan
Singkep 7 objek wisata, Kecamatan Singkep Barat 2 objek wisata, Kecamatan
Lingga 19 objek wisata, Kecamatan Lingga Utara 2 objek wisata dan Kecamatan
Senayang 2 objek wisata.
Selain potensi sumber daya alam Kabupaten Lingga tersebut, potensi
pengembangan wilayah juga menjelaskan rencana pola ruang wilayah Kabupaten
Lingga yang merupakan peruntukan rencana distribusi peruntukan ruang dalam
wilayah Kabupaten Lingga untuk melaksanakan cita-cita pembangunan, yang
meliputi peruntukkan ruang untuk fungsi lindung dan rencana peruntukkan
ruang untuk fungsi budidaya. Rencana pola ruang wilayah Kabupaten Lingga
dijelaskan pada Tabel. T-II.7 berikut ini:

II-17
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Tabel. T-II.7.

Rencana Pola Ruang Kabupaten Lingga Tahun 2011-2031


RINCIAN LUASAN TIAP KECAMATAN (Ha)
TOTAL
No POLA RUANG LINGGA SINGKEP %
LINGGA SENAYANG SINGKEP (Ha)
UTARA BARAT
I KAWASAN LINDUNG

1. Hutan Lindung 18.859 - - 5.573 957 25.389 11,99


2. Hutan bakau 2,788 2.308 13.518 1.331 8.648 28.593 13,50
3. Perlindungan 1.046 177 208 2.540 331 2.765 1,31
Setempat
4. Resapan Air 1.801 - - 2.540 1.259 5.600 2,64
5. Hutan Kota 1.674 - - 315 - 1.989 0,94
6. Cagar Budaya 157 - - - - 157 0,07
7. Kawasan Lindung 96,00 3,00 305,00 11,00 68,00 483 0,23
Lainnya

LUAS KAWASAN 64.977 30,68


LINDUNG

II KAWASAN
BUDIDAYA

1. Hutan Produksi 4.415 3.172 4.747 1.968 1.169 15.471 7,31


Terbatas
2. Hutan Produksi 3.457 4.292 369 - - 8.118 3,83
Konversi
3. Hutan Tanaman 3.698 802 3.022 163 4.453 12.138 5,73
Rakyat
4. Industri 164 - - - 384 548 0,26
5. Pusat Pemerintah 121 - - - - 121 0,06
6. Pemukiman 5.156 164 779 3.056 643 9.798 4,63
Perkotaan
7. Pemukiman 1.210 1.599 1.515 1.400 1.073 6.797 3,21
Pedesaan
8. Perkebunan 9.845 12.755 20.493 15.660 18.247 77.000 36,36
9. Perikanan 538 74 267 - 443 1.322 0,62

II-18
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

10. Tanaman 3.647 40 - - 2.001 5.688 2,69


Pangan
11. Hortikultura 860 1.489 - - 2.874 5.223 2,47
12. Peternakan 121 - 1.355 614 381 2.471 1,17
13. Pariwisata 706 269 788 549 45 2.357 1,11
14. TNI AL - - - 200 - 200 0,09
15. TPST 5 - - 5 - 10 0,00
16. TPU 7 - - 4 - 11 0,00
17. PLTGB - - - - 6 6 0,00

LUAS KAWASAN 147.278 69,55


BUDIDAYA

JUMLAH TOTAL 211.772 100,00

Sumber: RTRW Kab. Lingga 2011-2031

2.1.3. Wilayah Rawan Bencana


Di beberapa wilayah Kabupaten Lingga yang meliputi Kecamatan Lingga
dan sebagian kecil di Kecamatan Lingga Utara serta Kecamatan Singkep,
terindikasi termasuk wilayah rawan bencana, terutama wilayah yang memiliki
kemiringan lereng lebih besar dari 70% (>360), ketinggian wilayah 262-815 meter
di atas permukaan laut, dan tingkat erosi sangat tinggi terutama erosi
vertikalnya. Dengan rasio luas daratan 2.117,72 km2 (1 %) dan lautan 209,654
km2 (99%). Dapat dipastikan ancaman abrasi laut didukung dengan perubahan
cuaca yang ekstrim dapat saja terjadi.
Aktivitas penambangan timah, pembabatan hutan dan pembangunan yang
terus meningkat, akan menuntut dibukanya jaringan jalan lintas wilayah
perkotaan pedesaan dan fasilitas publik lainnya, sehingga dapat dipastikan jika
tidak dilakukan pengendalian secara baik maka akan mempercepat kerusakan
ekosistem lingkungan hidup. Kerusakan ekosistem dengan mengeksploitasi
sumber daya alam yang tidak terkendali akan cenderung menimbulkan bencana
longsor dan banjir.
Bencana gempa bumi, air pasang, angin ribut walaupun tidak dapat
diprediksi kejadiannya juga masih menjadi tantangan di masa 20 tahun

II-19
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

mendatang, sehingga upaya-upaya penanggulangan bencana dan penyadaran


masyarakat bahwa wilayah Kabupaten Lingga merupakan daerah yang rawan
bencana harus terus dilakukan.

2.1.4. Demografi
Kesejahteraan penduduk merupakan sasaran utama dari suatu
pembangunan. Pembangunan yang dilaksanakan adalah dalam rangka
membentuk manusia Indonesia seutuhnya. Untuk itu, maka pemerintah pusat
telah melaksanakan berbagai usaha dalam rangka untuk memecahkan masalah
kependudukan. Masalah kependudukan apabila tidak diantisipasi secara dini
maka akan menjadi bumerang bagi pemerintah Indonesia, khususnya Kabupaten
Lingga.
Berdasarkan data penduduk tahun 2009, penduduk Kabupaten Lingga
berjumlah 91.600 jiwa yang terdiri dari jenis kelamin laki-laki 50.180 jiwa (51,66
%) dan jenis kelamin perempuan 46.964 jiwa (48,34 %) dengan jumlah penduduk
terbesar terdapat di Kecamatan Singkep (30.503 jiwa) sedangkan jumlah
penduduk terkecil terdapat di Kecamatan Lingga Utara (11.517 jiwa), dengan
jumlah rumah tangga (Kepala Keluarga) sebanyak 19.344 Kepala Keluarga (KK).
Jumlah penduduk Kabupaten Lingga tersebar di 5 Kecamatan dan 51 Desa dan 6
Kelurahan di Kabupaten Lingga.
Dilihat dari jumlah rumah tangga, Kecamatan Singkep merupakan
kecamatan dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) terbanyak karena kecamatan ini
merupakan kecamatan yang memiliki jumlah penduduk terbanyak. Jumlah rumah
tangga di Kecamatan Singkep adalah sebanyak 6.228 Kepala Keluarga dan
Kecamatan yang jumlah rumah tangganya paling sedikit adalah Kecamatan
Lingga Utara dengan jumlah rumah tangga sebanyak 2.675 Kepala Keluarga.
Untuk lebih jelasnya jumlah penduduk dan rumah tangga di Kabupaten Lingga
dapat dilihat pada Tabel. T-II.8.

II-20
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Tabel. T-II.8.

Jumlah Penduduk Dan Kepala Keluarga Kabupaten Lingga


Luas Jumlah Penduduk (Jiwa) Jumlah
Rata-rata
Wilayah Kepala
No Kecamatan Laki- Angka
daratan Perempuan*) Total Keluarga
2
laki*) Kelahiran
(Km ) (KK)
1 Singkep Barat 337,10 8,268 7,817 16,085 2,628 6
2 Singkep 491,90 15,228 14,520 29,748 6,228 5
3 Lingga 609,51 8,673 8,015 16,688 3,884 4
4 Lingga Utara 283,21 5,849 5,427 11,276 2,675 4
5 Senayang 396,00 10,383 9,603 19,986 3,929 5
Jumlah 22.117,72 48,401 45,382 93,783 19,344 5
Sumber: BPS, Kabupaten Lingga dalam Angka tahun 2009 dan Hasil Analisis, 2009.
*) Data Aggregat Kependudukan tahun 2009

Jumlah penduduk di Kabupaten Lingga meningkat yaitu sebesar 3,04% bila


dibandingkan tahun 2004, dimana pada tahun 2009 berjumlah 93,783 jiwa,
sedangkan pada tahun 2004 berjumlah 80,289 jiwa. Dengan tingkat kepadatan
penduduk 44 jiwa per km2.
Jumlah penduduk yang begitu besar dan terus bertambah setiap tahun
tidak diimbangi dengan persebaran penduduk. Menurut hasil Sensus Penduduk
2010 penduduk dari Kabupaten Lingga tercatat 86.244 jiwa dengan kepadatan
penduduk 41 jiwa per km2. Dibandingkan dengan hasil Sensus Penduduk tahun
2000 penduduk Kabupaten Lingga bertambah sebanyak 9.892 jiwa.

II-21
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Gambar. G-II.3
LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK
KABUPATEN LINGGA, 1990 - 2010

1,40

1,20 1,23

1,00

0,80 0,82

0,60

0,40

0,20 0,24

0,00
1990 2000 2010

Sumber: Data dalam Angka Kab. Lingga, 2011

2.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat


Aspek kesejahteraan masyarakat menjelaskan tentang perkembangan
kesejahteraan Kabupaten Lingga, ditinjau dari sisi kesejahteraan masyarakat dan
pemerataan ekonomi, kesejahteraan sosial, serta seni budaya dan olahraga.
a. Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi
Gambaran umum ditinjau dari kesejahteraan masyarakat dan pemerataan
ekonomi didasarkan atas indikator pertumbuhan ekonomi, PDRB perkapita dan
pendapatan perkapita serta penduduk miskin. Laju pertumbuhan ekonomi
merupakan suatu indikator ekonomi makro yang dapat menggambarkan tingkat
pertumbuhan ekonomi. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lingga pada tahun
2009 adalah sebesar 6,63%, mengalami perlambatan jika dibandingkan dengan
tahun sebelumnya yaitu sebesar 6,65%.

II-22
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Gambar. G-II.4

Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Lingga Tahun 2005-2009

6,71
6,65 6,63
6,5

6,05

2005 2006 2007 2008* 2009**

Sumber: LKPJ-AMJ Tahun Anggaran 2005-2010


Ket:
*) Angka Perbaikan
**) Angka Sementara

Jika dilihat pertumbuhan ekonomi menurut lapangan usaha pada tahun


2005-2009 hampir seluruh sektor mengalami pertumbuhan positif. Bahkan untuk
beberapa sektor laju pertumbuhannya mencapai lebih dari 10%. Namun, perlu
diperhatikan bahwa walaupun secara persentase, kenaikan laju pertumbuhan
beberapa sektor tersebut cukup besar namun secara besaran nominal nilainya
masih sangat kecil.
Laju pertumbuhan ekonomi menurut lapangan usaha untuk 3 sektor
tertinggi adalah sektor Bangunan (13,16%), Pengangkutan dan Komunikasi
(12,03%), dan Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan (11,60%). Sektor
bangunan terjadi pertumbuhan setiap tahunnya dikarena meningkatnya
pembangunan fisik di Kabupaten Lingga, seperti pembangunan gedung sekolah,
gedung perkantoran, pustu, polindes, pembangunan infrastruktur jalan,
jembatan dan dermaga serta pembangunan fisik lainnya. Hal ini dapat dilihat
pada Tabel. T-II.9 berikut ini.

II-23
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Tabel. T-II.9.

Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Lingga


Menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2009 (%)
Lapangan Usaha 2005 2006 2007 2008* 2009**
1. Pertanian 4,15 5,60 5,35 4,37 3,56
2. Pertambangan & Penggalian 7,47 10,07 10,67 10,72 10,73
3. Industri Pengolahan 6,13 (3,30) (1,19) (0.97) (0,08)
4. Listrik,Gas & Air Bersih 6,25 5,16 4,77 6,69 5,80
5. Bangunan 8,09 12,15 13,01 13,15 13,16
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 8,79 11,88 11,05 11,29 11,26
7. Pengangkutan & Komunikasi 9,28 13,16 11,46 12,06 12,03
8. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 7,44 13,42 11,25 11,66 11,60
9. Jasa-Jasa 4,71 10,81 10,43 10,67 10,66
PDRB 6,05 6,50 6,71 6,65 6,63
Sumber: LKPJ-AMJ Tahun Anggaran 2005-2010
Keterangan:
*) Angka Perbaikan
**) Angka Sementara

Tabel. T-II.10 menunjukkan bahwa sektor pertanian memiliki peranan yang


sangat besar dalam penciptaan nilai tambah pada perekonomian Kabupaten
Lingga dalam kurun waktu empat tahun terakhir, dengan kontribusi diatas 37%,
namun memiliki kecenderungan sumbangan yang terus menurun dari 41,63%
pada tahun 2005 menjadi 37,01 pada tahun 2009. Subsektor yang memegang
peranan penting pada sektor ini adalah perikanan. Kemudian kontributor
terbesar kedua adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran yaitu 22,00%.
Berbeda dengan sektor pertanian, sektor ini memiliki kecendrungan yang positif,
yaitu 18,71% pada tahun 2005 menjadi 22,00% pada tahun 2009. Hal ini
mengindikasikan bahwa sektor ini masih menjanjikan untuk diminati oleh para
pedagang karena wilayah Kabupaten Lingga merupakan daerah persimpangan
atau transit perjalanan laut. Sub sektor perdagangan besar dan eceran
merupakan kontributor terbesar terhadap pembentukan nilai tambah di sektor

II-24
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

ini. Sedangkan sektor yang paling kecil memberikan kontribusi pembentukan


PDRB adalah sektor Listrik, Gas dan Air bersih yang hanya 0,22%.

Tabel. T-II.10.
Kontributor Pembentukan PDRB Kabupaten Lingga
Menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2009 (%)
Lapangan Usaha 2005 2006 2007 2008* 2009**
1. Pertanian 41,63 40,41 39,26 38,16 37,01
2. Pertambangan & Penggalian 1,58 1,64 1,72 1,77 1,82
3. Industri Pengolahan 15,82 14,16 12,92 11,66 10,73
4. Listrik,Gas & Air Bersih 0,24 0,24 0,23 0,23 0,22
5. Bangunan 5,97 6,98 7,92 8,57 9,12
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 18,71 19,53 20,24 21,18 22,00
7. Pengangkutan & Komunikasi 7,98 8,60 8,95 9,49 9,88
8. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 3,60 3,79 3,90 3,98 4,13
9. Jasa-Jasa 4,46 4,66 4,86 4,97 5,09
PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Sumber: LKPJ-AMJ Tahun Anggaran 2005-2010
Keterangan:
*) Angka Perbaikan
**) Angka Sementara

Pengeluaran Rumah Tangga


Salah satu survei yang diselenggarakan BPS setiap tahun dan sangat
dibutuhkan pemerintah sebagai alat monitoring program pembangunan
khususnya bidang sosial adalah Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Data
yang dicakup pada kegiatan Susenas ini diantaranya adalah pengeluaran rumah
tangga dan konsumsi rumah tangga yang dibedakan menjadi konsumsi makanan
dan bukan makanan.
Data pengeluaran yang dibedakan menurut kelompok makanan dan bukan
makanan ini dapat digunakan untuk melihat pola pengeluaran penduduk. Dari

II-25
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

data pengeluaran (sebagai proksi dari pendapatan) dapat pula dihitung tingkat
ketimpangan pendapatan. Pada kondisi pendapatan terbatas, pemenuhan
kebutuhan makanan akan menjadi prioritas utama sehingga pada kelompok
masyarakat berpendapatan rendah akan terlihat bahwa sebagian besar
pendapatannya digunakan untuk membeli makanan. Seiring dengan peningkatan
pendapatan maka lambat laun akan terjadi pergeseran pola pengeluaran, yaitu
penurunan porsi pendapatan untuk makanan dan peningkatan porsi pendapatan
untuk bukan makanan.
Secara umum, pengeluaran rata-rata perkapita di Kabupaten Lingga
mengalami kenaikan, yaitu dari Rp 347.195 pada tahun 2009 menjadi Rp 367.094
pada tahun 2010. Dari data susenas 2010 tercatat bahwa penduduk Kabupaten
Lingga menghabiskan sekitar 61.36% dari pendapatannya untuk belanja
makanan, angka ini cenderung menurun dari tahun sebelumnya yang sebesar
64.19%. Sedangkan 38,64% sisanya digunakan untuk belanja non makanan yang
jika dilihatpersentasenya cenderung terus meningkat dari tahun ke tahun.

Distribusi Pendapatan
Salah satu indikator ekonomi makro untuk menilai tingkat ketidakmerataan
(ketimpangan) pendapatan penduduk adalah dengan menggunakan Indeks Gini
atau Gini ratio dan Kriteria Bank Dunia. Semakin kecil indeks Gini maka semakin
kecil ketimpangan distribusi pendapatan. Pada tahun 2010, 40% penduduk yang
berpengeluaran rendah menerima 21.53% dari seluruh pendapatan. Angka ini
meningkat dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 21.28. Peningkatan juga terjadi
pada kelompok penduduk berpengeluaran sedang yaitu dari 38.97 menjadi
39.49. Sedangkan pada kelompok penduduk berpengeluaran tinggi terjadi
penurunan persentase yaitu dari 39.75 pada tahun 2009 menjadi 38.99 pada
tahun 2010.
Indeks gini mengalami penurunan yaitu sebesar 0.308 pada tahun 2009
menjadi 0.303 pada tahun 2010. Hal ini menunjukkan bahwa pola distribusi
pengeluaran penduduk cenderung membaik.

II-26
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Penduduk Miskin
Indikator jumlah danpersentase penduduk miskin merupakan salah satu
indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan penduduk.
Mengindentifikasi seseorang dikatakan miskin bukanlah hal yang mudah. Hal ini
disebabkan karakteristik penduduk miskin antar daerah seringkali berbeda.
Sementara di sisi lain, penentuan kriteria penduduk miskin juga menuntut agar
keterbandingan antar daerah dapat dilakukan.
Berdasarkan data yang tersaji dalam Tabel. T-II.11 ini, jumlah rumah
tangga miskin dan penduduk miskin di Kabupaten Lingga terjadi penurunan, dari
7.026 rumah tangga miskin menurun menjadi 6.810 rumah tangga miskin pada
tahun 2009, begitu juga dengan jumlah penduduk miskin dari 24.352 jiwa turun
menjadi 21.417 jiwa pada tahun 2009.

Tabel. T-II.11.

Banyaknya Rumah Tangga Miskin Dan Penduduk Miskin Menurut Kecamatan


Di Kabupaten LinggaTahun 2005-2009
Jumlah
Jumlah Penduduk Miskin
Kecamatan Rumah Tangga Miskin
2005 2009 2005 2009
1. Singkep Barat 888 711 2.841 2.061
2. Singkep 1.223 1.165 3.750 3.108
3. Lingga 1.430 1.454 4.964 4.593
4. Lingga Utara 1.053 1.009 3.304 3.235
5. Senayang 2.432 2.471 9.493 8.420
Jumlah 7.026 6.810 24.352 21.417
Sumber: BPS, Kabupaten Lingga Dalam Angka Tahun 2008 dan 2009

b. Kesejahteraan Sosial
Pada fokus kesejahteraan soaial Kabupaten Lingga diukur dengan
sejumlah indikator yang terkait dengan pendidikan, kesehatan, ekonomi dan

II-27
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

sosial. Bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi secara langsung terkait


dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Indeks Pembangunan Manusia (IPM)


Sejak terbentuknya Lingga menjadi Kabupaten pada tahun 2003 dan
dikeluarkannya nilai IPM tahun 2004, nilai IPM Kabupaten Lingga telah mencapai
67,7. Meskipun tergolong baru, tingkat pencapaian angka IPM tahun 2004 ini
telah memposisikan Kabupaten Lingga pada peringkat ke-236 dari total sebanyak
434 Kabupaten/Kota Se-Indonesia.

Gambar. G-II.5

Nilai IPM Kabupaten Lingga Tahun 2004-2009

71,05
70,74

69,6 69,7
69,4

67,7

2004 2005 2006 2007 2008 2009

Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kabupaten Lingga Tahun 2008 dan 2009

Jika dilihat pada Gambar. G-II.5 nilai IPM Kabupaten Lingga dari tahun 2004
s.d 2009 meningkat dari 67,7% tahun 2004, meningkat sebesar 69,4% tahun 2005,
meningkat sebesar 69,6% pada tahun 2006, tahun 2007 meningkat sebesar 69,7%,
dan meningkat sebesar 70,4% pada tahun 2008 serta meningkat sebesar 71.05 pada
tahun 2009. Peningkatan angka IPM yang sangat signifikan diduga dipengaruhi oleh
meningkatnya penduduk masuk ke Kabupaten Lingga yang berprofesi sebagai
pegawai negeri dan tenaga pegawai daerah lainnya, utamanya dibagian

II-28
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

pemerintahan, pendidikan dan kesehatan. Selain itu, berbagai program pemerintah


yang menyentuh masyarakat sudah mulai digulirkan.
Secara persentase, IPM Kabupaten Lingga meningkat dari tahun ke tahun,
namun secara peringkat terjadi penurunan. Pada tahun 2008 dengan IPM sebesar
70,74. menempatkan Kabupaten Lingga berada pada peringkat lima diantara tujuh
Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Riau. Sedangkan untuk peringkat nasional,
Kabupaten Lingga berada pada peringkat 220 diantara 440 Kabupaten/Kota di
Indonesia, Sedangkan pada tahun 2009 dengan IPM sebesar 71,05 turun satu level
ke peringkat 6 dari tujuh Kabupaten/Kota di Provinsi Riau, dan untuk nasional
berada pada peringkat 231 dari 497 Kabupaten/Kota di Indonesia. Selengkapnya,
IPM kabupaten Lingga dapat dilihat pada Tabel. T-II.12 berikut ini.

Tabel. T-II.12.

Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten/Kota/Propinsi Se-Kepulauan Riau, Dan


Indonesia, Serta Peringkatnya Tahun 2009
Rata2 Peringkat dari
Angka
Angka Melek Rata2 Lama Pengeluaran per semua
Kabupaten/ Harapan
Huruf Sekolah Kapita Riil kabupaten/
Kota/Propinsi Hidup IPM
(persen) (tahun) Disesuaikan kota/propinsi di
(tahun)
(Rp 000) Indonesia
Karimun 69,86 95,19 7,81 636,34 73,15 133
Bintan 69,66 94,50 8,00 644,59 73,66 111
Natuna 68,21 95,92 6,93 615,21 70,11 290
Lingga 70,02 91,11 7,22 625,42 71,05 231
Kep. Anambas 67,23 90,00 5,35 626,35 67,94 393
Batam 70,76 98,85 10,71 648,13 77,51 16
Tanjungpinang 69,56 97,31 9,24 633,65 74,31 88
Prop. Kepri 69,75 96,08 8,96 641,63 74,54 6
Indonesia 69,21 92,58 7,72 631,50 71,76 -
Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kabupaten Lingga Tahun 2009

Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)


Berdasarkan data yang bersumber dari Kabupaten Lingga Dalam Angka
Tahun 2009 menunjukkan bahwa jumlah penyandang masalah kesejahteraan

II-29
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

sosial yang ada di Kabupaten Lingga sebanyak 981 orang, terbanyak adalah
dewasa cacat yaitu 288 orang, kemudian lansia terlantar berjumlah 249 orang,
tuna daksa sebanyak 131 orang, dan 93 orang penyandang tuna netra.
Berdasarkan sebarannya, Kecamatan Singkep memiliki penyandang
masalah kesejahteraan sosial terbanyak yaitu 307 orang, kemudian Kecamatan
Lingga Utara sebanyak 230 orang, 187 orang di Kecamatan Lingga, Kecamatan
Singkep Barat 138 orang dan 119 orang di Kecamatan Senayang.
Angkatan Kerja
Tenaga kerja adalah modal dasar bagi geraknya roda pembangunan.
Jumlah dan komposisi tenaga kerja akan terus mengalami perubahan seiring
dengan berlangsungnya proses demografi. Angkatan Kerja adalah penduduk
berumur 15 tahun ke atas yang bekerja, sementara tidak bekerja atau sedang
mencari pekerjaan. Penduduk berumur kurang dari 15 tahun meskipun telah
melakukan pekerjaan guna memenuhi suatu kebutuhan hidup tidak dikategorikan
sebagai angkatan kerja. Angkatan kerja merupakan bagian dari aspek demografi
penduduk yang mempunyai kecenderungan bertambah atau menurun sejalan
dengan perubahan yang dialami oleh penduduk itu sendiri. Hal ini terjadi karena
faktor alamiah sepeti kelahiran, kematian maupun perpindahan yang
menyebabkan jadi bergesernya pola kependudukan secara keseluruhan.
Tabel. T-II.13.

Persentase Penduduk 15 Tahun Ke Atas


Menurut Kegiatan Utama Dan Jenis Kelamin
Uraian Laki - laki Perempuan Lk + Pr
1. Angkatan Kerja 83,44 34,17 57,26
1. Bekerja 79,02 31,03 53,52
2. Mencari Pekerjaan 4,42 3,14 3,74
2. Bukan Angkatan Kerja 16,56 65,83 42,74
1. Sekolah 7,80 4,60 6,10
2. Mengurus Rumah Tangga 4,62 59,63 33,85
3. Lainnya 4,14 1,61 2,79
Jumlah 100,00 100,00 100,00
Sumber: BPS, Kabupaten Lingga Dalam Angka Tahun 2009

II-30
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Berdasarkan data yang dilansir oleh Badan Pusat Statistik, pada tahun 2009
terdapat 57,26% penduduk angkatan kerja dan 42,74% penduduk bukan angkatan
kerja. Bila dibandingkan berdasarkan jenis kelamin, ditahui bahwa penduduk laki-
laki yang bekerja sebanyak 79,02% sementara penduduk perempuan yang bekerja
sebanyaj 31,03%.
Berdasarkan Tabel-II.14, penduduk di Lingga yang bekerja, sebagian besar
bekerja di sektor pertanian, kehutanan, perburuan dan perikanan (39,54%) dan
sektor Jasa Kemasyarakatan, Sosial, dan Perorangan (20,34%) . Sementara
lapangan kerja yang paling sedikit dijadikan mata pencaharian oleh penduduk
Lingga yaitu sektor Listrik, gas dan air minum yaitu 0,15%.

Tabel. T-II.14.

Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Yang Bekerja


Menurut Lapangan Usaha Dan Jenis Kelamin
Laki- Perempua Lk +
Lapangan Usaha
Laki n Pr
1
Pertanian, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan
. 47,59 21,47 39,54
2
Pertambangan dan Penggalian
. 5,18 0,55 3,76
3
Industri Pengolahan
. 6,96 16,07 9,76
4
Listrik, Gas dan Air Minum
. 0,22 0,00 0,15
5
Konstruksi
. 5,56 0,00 3,85
6
Perdagangan Besar, Eceran, Rumah Makan Dan Hotel
. 11,91 25,21 16,00
7
Transportasi, Pergudangan dan komunikasi
. 6,55 3,57 5,64
8 Lembaga Keuangan, Real Estate,Usaha Persewaanan Jasa
. Perusahaan 1,11 0,61 0,96

II-31
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

9
. Jasa Kemasyarakatan, Sosial, dan Perorangan 14,91 32,52 20,34
100,0
Jumlah 100,00 100,00
0
Sumber: BPS, Kabupaten Lingga Dalam Angka Tahun 2009

Dari jenis pekerjaan yang ada di Kabupaten Lingga, wiraswasta adalah


yang paling banyak dijalankan oleh penduduk. Tabel. T-II.15 menunjukkan
penduduk yang bekerja sebagai wiraswasta sebanyak 4.161 jiwa atau 8,68 % dari
keseluruhan jumlah penduduk usia kerja di Kabupaten Lingga. Kemudian diikuti
oleh jenis pekerjaan sebagai buruh/nelayan perikanan sebanyak 3.989 jiwa atau
8,32 % dari keseluruhan jumlah penduduk usia kerja di Kabupaten Lingga.

Tabel. T-II.15.

Jumlah Penduduk Menurut Jenis Pekerjaan Di Kabupaten Lingga Tahun 2009


(Penduduk Usia Kerja/Usia 15 Tahun Ke Atas)
No Jenis Pekerjaan Jumlah Prosentase
1 Wiraswasta 4.161 8,68
2 Buruh/ Nelayan Perikanan 3.989 8,32
3 Nelayan/ Perikanan 3.687 7,69
4 Buruh Harian Lepas 2.049 4,27
5 Karyawan Swasta 981 2,05
6 Pegawai Negeri Sipil 639 1,33
7 Guru 575 1,20
8 Karyawan Honorer 525 1,10
9 Petani/ Pekebun 437 0,91
10 Pembantu Rumah Tangga 437 0,91
11 Lainnya 30.456 63,53
Jumlah 47.936 100,00
Sumber: Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kabupaten Lingga Tahun 2009

II-32
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

c. Seni Budaya dan Agama


Kabupaten Lingga adalah masyarakat melayu sehingga memiliki daya tarik
yang kuat terhadap kesenian. Bahkan sampai sekarang banyak yang terus
dikembangkan dan dikenalkan, seperti kesusastraan, seni tari rakyat, seni teater
dan lainnya. Ada beberapa kesenian yang terdapat di Kabupaten Lingga
diantaranya:
a) Gurindam
Bahasa Gurindam cukup dikenal dan tidak asing lagi bagi telinga
masyarakat Melayu Lingga. Bahkan Gema Gurindam menerobos sampai
lintas negara dari yang paling dekat sampai yang paling jauh. Gurindam
merupakan karya yang berisikan petuah dan nasehat. Gurindam 12 ini
adalah karya dari Raja Ali Haji, beliau merupakan pujangga Istana masa
Kerajaan Lingga-Riau. Konstum yang dikenakan untuk melantunkan
Gurindam ini adalah baju kurung melayu, dengan peralatan musiknya
berupa serunai, kompang dan gong. Dipentaskan pada saat penyambutan
tamu, hari besar nasional dan festival kebudayaan-kesenian.
b) Teater Bangsawan
Teater Bangsawan adalah salah satu seni pertunjukan tradisional
komedi stambul dengan cerita seputar kehidupan istana, keseniaan ini
juga dikenal dengan nama wayang Bangsawan. Seni pertunjukan ini
adalah kesenian yang menggabungkan musik, lagu, tari dan laga, dengan
iringan musik seperti: biola, akordion, gendang, gong dan tambur.
c) Joget
Joget adalah salah satu tarian tradisional masyarakat melayu.
Joget diantaranya: Joget Tandak atau Joget Lambak, disebut tandak
karena penarinya bisa menjadi “ebeng”, dengan laki-lakinya yang
menbayar disebut “Pandak”. Joget ini dikenal sejak abad 17 dengan
iringan musik seperti: drum, violin dan gong dengan lagu dondang sayang
dan tarian bertabik. Joget akan ditutup lagu khusus yaitu Cik Milik.

II-33
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

d) Zapin
Sebenarnya kesenian tari Zapin ini berasal dari Arab yang
mentradisi masyarakat Melayu. Kesenian ini dibawa oleh kaum laki-laki
karena tarian ini memang bayak mengeluarkan tenaga (energik). Seiring
perkembangan jaman tarian ini tidak hanya dimonopoli oleh kaum lelaki
tetapi kaum wanita juga ikut menarikannya, bahkan kesenian ini menjadi
tarian pergaulan masyarakat Melayu.
Selaras dengan asalnya, tarian ini tidak terlepas dari rohnya yang
islami, yang tercermin dari konstumnya berupa teluk belanga dan baju
kurung yang tidak memperlihatkan aurat. Zapi ini diiringi dengan alat
musik gambus. Kreasi tarian zapin terbaru adalah Zapin Tali, Zapin
Lambak, Zapin Pedang, Zapin Tepurung, Zapin Bengkalis, Zapin Silang,
Zapin Ar-Rajul (Para Lelaki), Zapin Tembong, Zapin Tradisional dan
lainnya. Sementara di Masyarakat Daik Lingga Bunda Tanah Melayu di
kenal tarian Zapin Damnah yang merupakan tarian dengan diangkat dari
kehidupan masyarakat sehari-hari.
e) Gazal
Kesenian ini juga berasal dari timur tengah. Gazal adalah bahasa
Arab yang berarti Sajak. Kesenian ini masuk Melayu dari Malaysia
tepatnya dari Muara ke Johor baru masuk Kepulaun Riau dan tumbuh
subur di Pulau Penyengat.
Kesenian Gazal juga merupakan alat dakwah untuk penyebaran
agama Islam, namun sekarang ini lebih berfungsi sebagai salah satu
hiburan.
f) Kompang
Kompang adalah kesenian yang menyerupai hadrah dengan para
pemain melantunkan syair berbahasa Arab-Parsi yang berisi puji-pujian
terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang diiringi dengan lantunan rebana.
Kesenian ini biasanya diselenggarakan pada pesta perkawinan, khitanan,
penyambutan tamu dan lainnya.

II-34
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Kabupaten Lingga memiliki grup kesenian yang berjumlah 26 buah yang


tersebar di beberapa Kecamatan, terbanyak terdapat di Kecamatan Singkep yaitu
10 buah, Kecamatan Lingga 6 buah, 4 buah di Kecamatan Lingga Utara dan
Kecamatan Singkep Barat dan Kecamatan Lingga Utara masing-masing 4 buah,
dan Kecamatan Senayang 2 buah.
Keagamaan
Pembangunan di bidang fisik harus diimbangi dengan pembangunan
dibidang mental spiritual sehingga akan ada keseimbangan dan keserasian antara
kepentingan duniawi dan ukhrawi. Kehidupan beragama yang harmonis antara
umat beragama di Kabupaten Lingga telah terjalin dengan kokoh. Melaksanakan
ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam. Jumlah jemaah haji dari
Kabupaten Lingga yang diberangkatkan pada tahun 2010 adalah sebanyak 50
orang atau naik 11% dibandingkan dengan tahun 2009.

2.3. Aspek Pelayanan Umum


Bagian aspek pelayanan umum berikut ini mejelaskan perkembangan
kinerja yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Lingga, baik pada urusan
wajib maupun urusan pilihan.
2.3.1. Urusan Pelayanan Wajib
Urusan Pelayanan wajib merupakan urusan pemerintahan yang wajib
diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang berkaitan dengan pelayanan
dasar. Secara umum, penyelenggaran pelayanan dasar Kabupaten Lingga masih
perlu ditingkatkan untuk meningkatkan pelayanan dasar kepada masyarakat
secara baik.
Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam pembangunan, untuk
itu Pemerintah Kabupaten Lingga terus berupaya meningkatkan sarana dan
prasarana pendidikan yang ada serta meningkatkan kualitas tenaga pendidik.
Pengembangan sarana pendidikan dilakukan sesuai dengan peningkatan kualitas

II-35
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

dan kuantitas yang dibutuhkan oleh penduduk seoptimal mungkin dan


pemerataan penyebaran jumlah penduduk yang akan dilayani dan perkiraan
tingkat kebutuhan yang telah ditetapkan.
Berdasarkan data yang dilansir oleh Badan Pusat Statistik, bahwa pada tahun
2009/2010 di Kabupaten Lingga jumlah Taman Kanak-Kanak sebanyak 11 sekolah,
569 murid dan 50 guru dengan rasio murid terhadap guru 11,4 dan rasio murid
terhadap sekolah 51,7. Selanjutnya pada tahun yang sama Sekolah Dasar
berjumlah 125 buah dan SLTP berjumlah 33, dengan rasio murid terhadap guru
8,5 untuk SD dan 11 untuk SMP. Sedangkan Data statistik pendidikan menengah
terbatas pada SMA dan SMK di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Lingga
saja, pada tahun 2009/2010 terdapat 7 SMA dan 3 SMK dengan jumlah murid
SMA sebesar 2.060 dan murid SMK sebesar 297, sedangkan jumlah guru SMA 149
orang dan guru SMK 34 orang. Rasio murid terhadap guru SMA 13,8 dan SMK 8,7.
 Angka Melek Huruf
Pada tahun 2009 persentase angka melek huruf usia 10 tahun keatas
sebesar 92%. Artinya ada 8% yang masih buta huruf. Berdasarkan kelompok
umur, usia 50 + memiliki tingkat buta huruf terbanyak yaitu 15,82%. Data
menunjukkan bahwa angka melek huruf penduduk usia muda jauh lebih tinggi
dari penduduk usia tua.
Tabel. T-II.16.

Persentase Penduduk Usia 10 Tahun Ke Atas Yang Melek Huruf


Berdasarkan Kelompok Umur Dan Jenis Kelamin Tahun 2009 (%)
Kelompok Umur
Laki-Laki Perempuan Laki-Laki + Perempuan
(Tahun)
10–14 97,10 93,51 95,21
15–19 100,00 100,00 100,00
20–24 97,47 93,69 95,56
25–34 93,83 84,10 89,07
35–49 84,67 76,48 80,80
50 + 84,30 64,65 75,18
10 + 95,07 89,68 92,47
Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kabupaten Lingga, 2009

II-36
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Angka melek huruf Kabupaten Lingga yang hanya sebesar 92% masih
tertinggal dari capaian nasional pada tahun 2009 sebesar 94%, sehingga perlu
kerja keras selama lima tahun untuk mengejar selisih 2% tersebut dan
diharapkan pada tahun 2014, angka melek huruf Kabupaten Lingga minimal sama
dengan capaian target dari nasional yaitu sebesar 94%.
 Tingkat Pendidikan yang ditamatkan
Tingkat pendidikan yang ditamatkan merupakan ukuran kualitas sumber
daya manusia yang selanjutnya dapat dijadikan ukuran keberhasilan baik dari
sudut sosial maupun ekonomi.
Di Kabupaten Lingga persentase penduduk berusia 15 tahun keatas yang
menamatkan hingga ke jenjang SLTP sampai perguruan tinggi hanya sebesar
36%. Tingkat pendidikan penduduk di dominasi oleh tamatan SD/MI dan
SMU/MA/SMK yaitu masing-masing sebesar 30,13% dan 20,90%. Hal ini dapat
dilihat pada Tabel. T-II.17. berikut ini.

Tabel. T-II.17.

Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas Menurut Pendidikan Tertinggi Yang


Ditamatkan Dan Jenis Kelamin, 2009 (%)
Pendidikan Tertinggi Laki-Laki +
Laki-Laki Perem-puan
yang Ditamatkan Perempuan
Tidak/belum pernah bersekolah 9,72 22,45 15,80
Tidak/belum tamat SD 19,21 16,85 18,08
SD/MI 29,78 30,51 30,13
SMP/MTs 14,09 9,77 12,02
SMU/MA/SMK 23,55 18,00 20,90
Akademi/universitas 3,67 2,43 3,08
Jumlah 100,00 100,00 100,00
Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kabupaten Lingga Tahun 2009

II-37
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

 Tingkat Partisipasi Sekolah


Angka Partisipasi Sekolah adalah untuk mengetahui seberapa banyak
penduduk usia sekolah yang sudah dapat memanfaatkan fasilitas pendidikan,
dapat dilihat dari penduduk yang masih sekolah pada umur tertentu.
Di Kabupaten Lingga, hanya kelompok umur 7-12 tahun yang mendekati
angka 100% sedangkan kelompok umur lainnya masih di bawah 90%, terutama
untuk kelompok umur 19-24 tahun yang hanya 6.11%. Sedangkan jika dilihat
berdasarkan jenis kelamin perbedaan yang cukup berarti terjadi pada kelompok
umur 16-18 tahun, dimana perempuan sebanyak 60.06% sedangkan laki-laki
hanya 46%. Selengkapnya dapat dilihat pada Gambar. G-II.6. berikut.

Gambar. G-II.6

Angka Partisipasi Sekolah (APS) Menurut Kelompok Umur Dan Jenis Kelamin Tahun
2009

Laki+laki
100 Perempuan
90 Laki-laki + Perempuan
80
70
60
50
40
30
20
10
0
'7-12 13-15 16-18 19-24

Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kabupaten Lingga, 2009

 Angka Partisipasi Kasar


Angka Partisipasi Kasar/APK merupakan indikator untuk mengukur
proporsi anak sekolah pada suatu jenjang pendidikan tertentu dalam
kelompok umur yang sesuai dengan jenjang pendidikan tersebut. APK
memberikan gambaran secara umum tentang banyaknya anak yang

II-38
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

sedang/telah menerima pendidikan dasar dan menengah. Dari data yang


ada, hanya nilai APK pada jenjang SD yang memiliki angka diatas seratus
sedangkan untuk nilai APK pada jenjang SLTP, SLTA dan PT pada tahun
2009 masih dibawah seratus. Hal ini mengindikasikan bahwa hanya
sebagian dari anak berusia 13-15 tahun, 16-18 tahun, dan 19-24 tahun
sedang bersekolah pada jenjang tersebut dan kemungkinan sisanya
sedang sekolah pada jenjang pendidikan di bawahnya/di atasnya atau
bahkan mereka tidak sekolah lagi.

Gambar. G-II.7

Angka Partisipasi Kasar (APK) Menurut Kelompok Umur Dan Jenis Kelamin Tahun 2009
Laki+laki
120
Perempuan
Laki-laki + Perempuan
100

80

60

40

20

0
SD / 7-12 SLTP / 13 -15 SLTA / 16-18 PT / 19-24

Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kabupaten Lingga, 2009

 Angka Partisipasi Murni


Angka Partisipasi Murni (APM) menunjukkan proporsi anak
sekolah pada satu kelompok umur tertentu yang bersekolah tepat pada
tingkat yang sesuai dengan kelompok umurnya. Menurut definisi,
besarnya APM akan selalu lebih kecil daripada APK. Nilai APM yang lebih
kecil daripada nilai APKnya dapat menunjukkan komposisi umur
penduduk yang sedang bersekolah pada suatu jenjang pendidikan. Di
Kabupaten Lingga capaian APM tahun 2009 untuk SD sebesar 89.8%,

II-39
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

berarti selisih dengan APK sebesar 17.46% artinya bahwa diantara murid
SD sebanyak 17.46%nya berumur kurang dari 7 tahun atau lebih dari 12
tahun, sedangkan untuk APM SLTP sebesar 63.23% ada selisih 10.87%
terhadap APK, APM-nya SLTA sebesar 49.68% dan APM PT sebesar 3.86%.

Gambar. G-II.8

Angka Partisipasi Murni (APM) Menurut Kelompok Umur Dan Jenis Kelamin Tahun
2009
Laki+laki
100 Perempuan
90
Laki-laki + Perempuan
80
70
60
50
40
30
20
10
0
SD / 7-12 SLTP / 13 -15 SLTA / 16-18 PT / 19-24

Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kabupaten Lingga, 2009

 Rasio Murid-Sekolah dan Rasio Murid-Guru


Rasio murid-sekolah menunjukkan kemampuan sekolah
menampung murid, terbanyak adalah SMU/SMK/MA yaitu 1:191 artinya 1
sekolah menampung 191 murid sedangkan rasio yang paling sedikit
adalah di SD/MI yaitu 1:83 (1 sekolah menampung 83 murid) sedangkan
Rasio murid-guru menunjukkan beban kerja guru dalam mengajar, untuk
SLTP/MTs dan SMU/SMK/MA, masing-masing 1:11 (1 guru mengajar 11
murid) sedangkan ratio untuk SD/MI yaitu 1:8 (1 guru mengajar 8 murid).
Hal ini dapat dilihat pada Tabel. T-II.18 dan Tabel. T-II.19 berikut ini.

II-40
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Tabel. T-II.18.

Jumlah Murid, Sekolah Dan Rasio Murid Sekolah Menurut Jenjang Tahun 2009
Jenjang Jumlah Murid Jumlah Sekolah Rasio Murid Sekolah
SD/MI 10.591 127 83: 1
SLTP/MTs 3.706 35 106: 1
SMU/SMK/MA* 2.479 13 191: 1
Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kabupaten Lingga Tahun 2009
*) Termasuk sekolah kelas jauh

Tabel. T-II.19.

Jumlah Murid, Guru Dan Rasio Murid Guru Menurut Jenjang Pendidikan Tahun 2009
Jenjang Jumlah Murid Jumlah Guru Rasio Murid Guru
SD/MI 10.591 1.255 8: 1
SLTP/MTs 3.706 349 11: 1
SMU/SMK/MA 2.479 220 11: 1
Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kabupaten Lingga Tahun 2009

 Rata-Rata Lama Sekolah


Rata-rata lama sekolah digunakan untuk mendapatkan informasi
tentang sejauh mana tingkat pendidikan yang dicapai oleh penduduk
dengan merujuk kepada rata-rata jenjang pendidikan yang telah
diselesaikan oleh penduduk berusia 15 tahun. Pada tahun 2009 rata-rata
lama sekolah penduduk Kabupaten Lingga adalah 7,22 tahun, sedangkan
rata-rata nasional pada tahun 2009 adalah mencapai 8,25. Hal ini berarti
bahwa rata-rata penduduk Kabupaten Lingga baru mampu menempuh
pendidikan sampai dengan kelas I SMP atau putus sekolah dikelas II SMP.
Kondisi ini menegaskan bahwa partisipasi pendidikan di Kabupaten Lingga
perlu ditingkatkan dengan melibatkan instansi terkait, tentunya didukung
oleh partisipasi aktif dari masyarakat. Rata-rata lama sekolah Kabupaten
Lingga yang masih jauh dibawah rata-rata lama sekolah mengindikasikan
bahwa pembangunan pendidikan di Kabupaten Lingga masih perlu
ditingkatkan, sehingga pencapaian target lima tahun mendatang minimal
sama dengan pencapaian rata-rata lama sekolah nasional.

II-41
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Kesehatan
Pembangunan bidang kesehatan di kabupaten Lingga bertujuan agar
semua lapisan masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara
merata dan murah. Pembangunan di bidang kesehatan bertujuan agar semua
lapisan masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara merata dan
murah. Dengan tujuan tersebut diharapkan akan meningkatkan derajat
kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, pembangunan kesehatan
juga memuat mutu dan upaya kesehatan dengan menciptakan akses pelayanan
kesehatan dasar yang didukung oleh sumberdaya yang memadai.
 Sarana dan Tenaga Kesehatan
Pembangunan tersebut diarahkan kepada peningkatan fasilitas kesehatan
dan akses pelayanan kesehatan dasar yang didukung oleh sumber daya yang
memadai, seperti rumah sakit, puskesmas, tenaga kesehatan dan ketersediaan
obat. Jika dilihat pada Tabel. T-II.20. bahwa pada tahun 2009 jumlah sarana
kesehatan yang terdapat di Kabupaten Lingga terdiri dari: Rumah Sakit 1 buah,
Puskemas sebanyak 7 buah, Puskesmas Pembantu sebanyak 36 buah, Puskesmas
Keliling sebanyak 7 buah, dan polindes 45 buah. Satu-satunya Rumah Sakit yang
ada Di Kabupaten Lingga terdapat di Kecamatan Lingga, sedangkan untuk
Puskesmas dan Puskesmas Pembantu, serta polindes sudah tersebar di masing-
masing Kecamatan.

Tabel. T-II.20.

Banyaknya Rumah Sakit, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling, Balai


Pengobatan/Klinik, Dan Polindes Menurut Kecamatan Tahun 2006-2009

Ruma Puskesm Puskesmas Puskesmas Balai Polind


Kecamata
h as Pembantu Keliling Pengobatan es
n
Sakit
Singkep -
Barat - 1 7 1 7
Singkep - 2 4 3 - 4

II-42
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Lingga 1 1 12 1 - 10
Lingga -
Utara - 1 6 - 6
Senayang - 2 7 2 - 18
2009 1 7 36 7 - 45
2008 1 5 37 9 - 44
2007 1 5 39 2 - 43
2006 1 5 35 3 - 44
Sumber: BPS, Kabupaten Lingga Dalam Angka Tahun 2009

Untuk menunjang sarana kesehatan yang ada, diperlukan tenaga


kesehatan yang sesuai dengan kebutuhannya, Jumlah tenaga kesehatan dari
tahun ke tahun terjadi peningkatan. Hal ini untuk mengakomodir pemenuhan
kebutuhan kesehatan yang semakin meningkat, dengan diikuti meningkatnya
sarana kesehatan. Tenaga kesehatan tersebut terdiri dari dokter dan paramedis,
dokter yang tersedia sebanyak 31 orang, terdiri dari dokter umum 18 orang,
dokter gigi sebanyak 10 orang dan spesialis 3 orang, sedangkan paramedis terdiri
dari perawat (163 orang), Perawat Gigi (6 orang), AA (3 orang), sanitasi (4 orang),
dan Bidan (72 orang).
Tabel. T-II.21.

Banyaknya Dokter Dan Paramedis Menurut Kecamatan Tahun 2006-2009


Dokter Paramedis
Kecamatan
Spesialis Umum Gigi Perawat Perawat Gigi AA Sanitasi Bidan
Singkep Barat - 2 3 17 - 1 - 10
Singkep - 7 2 57 2 1 - 22
Lingga 3 5 1 58 1 1 2 14
Lingga Utara - 2 1 10 1 - - 10
Senayang - 2 3 21 2 - 2 16
2009 3 18 10 163 6 3 4 72
2008 - 7 8 133 3 3 1 48
2007 - 13 7 99 3 2 1 48
2006 6 8 4 96 3 1 2 31
Sumber: BPS, Kabupaten Lingga Dalam Angka Tahun 2009

II-43
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

 Angka Harapan Hidup


Berdasarkan data yang bersumber dari Buku Laporan Pembangunan
Manusia Tahun 2009, Nilai AHH penduduk Kabupaten Lingga pada tahun 2009
sekitar 70,02. Artinya, bayi yang lahir pada tahun 2009 di Kabupaten Lingga
diperkirakan akan dapat hidup selama 70 tahun 07 hari dengan syarat besarnya
kematian atau kondisi kesehatan tidak ada yang berubah. Angka ini lebih tinggi
dari AHH Provinsi Kepri yang besarnya 69,75; dan juga berada jauh di atas AHH
nasional yang hanya 69,21. Hal ini mengindikasikan secara rata-rata derajat
kesehatan di daerah ini sedikit lebih baik dibandingkan rata-rata secara propinsi
dan nasional. Jika dibandingkan dengan AHH periode tahun sebelumnya, AHH
Kabupaten Lingga tahun 2009 bertambah sekitar 0,14 tahun (satu bulan dua
puluh satu hari).
Jika dirinci menurut jenis kelamin, pada tahun 2009 ternyata AHH
penduduk laki-laki (67,96 tahun) nilainya lebih rendah dibandingkan dengan
perempuan (71,91 tahun). Dengan demikian, dapat dikalkulasikan bahwa usia
harapan hidup perempuan ternyata 0,06 kali lebih tinggi daripada laki-laki.
Tingginya harapan hidup perempuan terhadap laki-laki merupakan fenomena
umum yang terjadi di seluruh dunia. Dilihat dari perkembangan selama periode
2004-2009, rasio tersebut tidak banyak berubah: hanya berubah 0,01. Hal ini
mengindikasikan bahwa selama lima tahun terakhir peningkatan harapan hidup
laki-laki dan perempuan relatif konstan.
 Angka Kesakitan
Angka Kesakitan dapat dapat memberikan gambaran mengenai kondisi
kesehatan penduduk. Angka kesakitan adalahpersentase penduduk yang
mengalami gangguan kesehatan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari selama
sebulan. Dari Tabel. T-II.22, menunjukkan bahwa angka kesakitan banyak dialami
oleh laki-laki yaitu sebesar 33,20% sedangkan perempuan sebanyak 32,12%,
mereka yang mengalami kesakitan rata-rata sakitnya berkisar berkisar 6,37 hari.

II-44
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Tabel. T-II.22.

Angka Kesakitan Dan Rata-Rata Lama Sakit (Hari) Menurut Jenis Kelamin Tahun 2009
Jenis Kelamin Angka Kesakitan Rata-Rata Lama Sakit (Hari)
Laki-laki 47,31 6,00
Perempuan 56,61 4,52
Laki-laki+Perempuan 51,86 5,21
Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kabupaten Lingga Tahun 2009

Pekerjaan Umum
Semakin meningkatnya usaha pembangunan, maka akan pula menuntut
peningkatan pembangunan jalan untuk memudahkan mobilitas penduduk dan
memperlancar lalu lintas barang dari suatu daerah ke daerah lain. Panjang jalan
dan jalan yang diaspal di Kabupaten Lingga terjadi peningkatan, pada tahun 2009
panjang jalan yaitu 504,65 km, dimana tahun sebelumnya hanya 488,6 km.
Sedangkan jalan yang diaspal sebesar 46,70% pada tahun 2009 dari total panjang
jalan yang ada, dan tahun sebelumnya sebesar 46,56%.

II-45
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Tabel. T-II.23.

Panjang Jalan Dirinci Menurut Kecamatan Dan Status Jalan Tahun 2007-2009
Status Jalan Jumlah
Kecamatan Jalan Negara Jalan Provinsi Jalan Kabupaten Panjang Jalan Persentase
2009 2008 2007 2009 2008 2007 2009 2008 2007 2009 2008 2007 2009 2008 2007
Singkep Barat - - 39,50 22,4 22,4 4,00 82,47 77,22 36,90 104,87 99,62 80,40 20,78 20,38 12,09
Singkep 25,7 25,7 23,10 18 18 25,60 76,5 76,2 123,60 120,2 119,9 172,3 23,82 24,53 25,90
Lingga 15,9 13,9 - 45,1 45,1 18,90 86,29 79,99 275,55 147,29 138,99 294,45 29,19 28,43 44,26
Lingga Utara 12,8 12,8 61,70 - - - 74,89 72,89 11,80 87,69 85,69 73,50 17,38 17,53 11,05
Senayang - - - - - - 44,6 44,6 44,60 44,6 44,6 44,60 8,84 9,12 6,70

Jumlah 54,4 52,4 124,30 85,5 85,5 48,50 364,75 350,9 492,35 504,65 488,8 665,25 100,00 100,00 100,00
Sumber : BPS, Kabupaten Lingga Dalam Angka Tahun 2008 dan 2009

II-46
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Tabel. T-II.24.

Panjang Jalan Dirinci Menurut Kecamatan Dan Kondisi Akhir Tahun 2008-2009
Kondisi
Jumlah
Kecamatan Baik Sedang Rusak Rusak
2008 2009 2008 2009 2008 2009 2008 2009 2008 2009
Singkep Barat 17,05 29,5 - - 53,06 48,86 7,11 4,1 77,22 82,46
Singkep 52,64 52,94 - - 19,17 19,17 4,39 4,39 76,20 76,50
Lingga 53,46 67,16 - - 16,54 17,34 9,99 1,79 79,99 86,29
Lingga Utara 5,6 13,5 - - 27,4 27 39,89 34,39 72,89 74,89
Senayang - 4 - - 10 10 34,6 30,6 44,60 44,60
Jumlah 128,75 167,1 - - 126,17 122,37 95,98 75,27 350,90 364,74
Sumber: BPS, Kabupaten Lingga Dalam Angka Tahun 2008 dan 2009

Perhubungan
Angkutan laut merupakan sarana perhubungan yang sangat vital dan strategis
bagi masyarakat Kabupaten Lingga sebagai daerah kepulauan. Oleh karena itu, maka
pembangunan di bidang pelayaran terus ditingkatkan dan diperluas termasuk
penyempurnaan manajemen dan dukungan fasilitas pelabuhan. Di Pelabuhan Dabo
Singkep, angkutan barang luar negeri yang dimuat pada tahun 2010 mencapai
853.935 ton. Berbeda dengan angkutan barang antar pulau, maka pada tahun 2010
barang yang dibongkar pada angkutan antar pulau tercatat sebesar 105.078 ton.

Tabel. T-II.25.

Nama Pelabuhan Laut Menurut Kelas Dan Peranannya


Pelabuhan Laut Kelas Peranannya
Dabo Singkep Kanpel Kelas IV Umum
Sungai Buluh Satuan Kerja Umum
Penuba Satuan Kerja Umum
Daik Lingga Satuan Kerja Umum
Kuala Raya Satuan Kerja Umum

II-47
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Pulau Mas Pos Kerja Umum


Senayang Kanpel Kelas V Umum
Pancur Satuan Kerja Umum
Sumber: BPS, Kabupaten Lingga Dalam Angka Tahun 2009

Gambar. G-II.9
JUMLAH KUNJUNGAN KAPAL MENURUT BULAN
DI PELABUHAN DABO, DAIK DAN SENAYANG TAHUN 2010 (ORANG)

250

200

150
Dabo
100
Daik
50
Senayang
0

Sumber: Data dalam angka Kab. Lingga, 2011

Selain angkutan laut, terdapat juga angkutan udara. Lalu lintas pesawat dan
penumpang dari dan ke Kabupaten Lingga melalui Bandara Dabo Singkep tahun
2010 terlihat cukup berfluktuasi. Jika dilihat selama tahun 2010 lonjakan
penumpang yang datang dan berangkat dari Bandara Dabo Singkep terjadi pada
bulan Januari. Untuk bongkar muat bagasi, barang, dan pos paket perkembangannya
juga bervariasi.

II-48
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Gambar. G-II.10
JUMLAH ARUS PENUMPANG DOMESTIK YANG BERANGKAT DAN DATANG MENURUT BULAN
DI BANDARA DABO SINGKEP, 2010 (ORANG)

700
600
500
400
300
Datang
200
100 Berangkat
0

Sumber: Data dalam angka Kab. Lingga, 2011

Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah


Dalam mengembangkan usahanya koperasi menghadapi kendala utama yang
bersifat internal yaitu kelemahan dalam permodalan. Sebagaimana diketahui modal
secara otonomi adalah sebagai “darah” yang akan mendorong sumber daya ekonomi
lainnya dalam kegiatan usaha. Oleh karena itu pengembangan permodalan bagi
koperasi harus diprioritaskan, baik yang bersumber dari dalam maupun dari luar
koperasi.
Jumlah koperasi tahun 2010 sebanyak 67 unit, dengan rincian11 KUD dan 56
Non KUD, sedangkan jumlah anggota koperasi sebanyak 1.243 orang untuk KUD dan
3.705 orang untuk Non KUD.

II-49
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Gambar. G-II.11
JUMLAH KOPERASI MENURUT JENIS TAHUN 2010

KUD
16% Koperasi
Perikanan
3%
Koperasi Lainnya
42%
Koperasi Serba
Usaha
39%

Sumber: Data dalam angka Kab. Lingga, 2011

Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat


Daerah, Kepegawaian dan Persandian
Pemerintah Daerah Kabupaten Lingga dibentuk berdasarkan Undang-Undang
Nomor 31 Tahun 2003 tentang Pembentukan Daerah Kabupaten Lingga di Provinsi
Kepulauan Riau. Secara Administrasi, maka Kabupaten Lingga terdiri dari 5
kecamatan dengan rincian sebanyak 57 desa/kelurahan dan 6 diantaranya adalah
berstatus kelurahan. Dan kecamatan yang termasuk wilayah Kabupaten Lingga
adalah Singkep Barat, Singkep, Lingga, Lingga Utara, dan Senayang. Dengan
dijadikannnya Kabupaten Lingga sebagai daerah otonom, maka kewenangan
Pemerintah Daerah Kabupaten Lingga adalah mencakup seluruh bidang
pemerintahan kecuali kewenangan dalam bidang Politik Luar Negeri, Pertahanan
Keamanan, Yuridis, Moneter dan Fiskal Nasional, Agama, serta kewenangan di
bidang lain seperti kebijakan perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan
nasional secara makro, dana perimbangan keuangan, sistem administrasi negara dan

II-50
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

lembaga perekonomian negara, pembinaan di bidang Sumber Daya Manusia (SDM),


pendayagunaan SDM dan Sumber Daya Alam (SDA) serta teknologi tinggi yang
strategis, konservasi dan standarisasi nasional.
Tugas atau urusan wajib yang menjadi kewenangan dari pemerintah daerah
yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Lingga adalah sebanyak 16 buah
yaitu:
1. Perencanaan dan pengendalian pembangunan.
2. Perencanaan, pemanfaatan dan pengawasan.
3. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat.
4. Penyediaan sarana dan prasarana umum.
5. Penanganan bidang Kesehatan.
6. Penyelengaraan Pendidikan.
7. Penanggulangan masalah so-sial.
8. Pelayanan bidang ketenagakerjaan.
9. Fasilitas pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah.
10. Pengendalian lingkungan hidup.
11. Pelayanan pertanahan.
12. Pelayanan kependudukan dan catatan sipil.
13. Pelayanan administrasi umum pemerintahan.
14. Pelayanan administrasi penanaman modal.
15. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya.
16. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh Perundang –undangan.
Disamping itu juga terdapat pilihan yang merupakan urusan pemerintahan
yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat, meliputi:
1. Pertanian.
2. Perkebunan.
3. Kehutanan.

II-51
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

4. Perikanan.
5. Pariwisata.
6. Pertambangan.
Pemerintah Daerah Kabupaten Lingga mempunyai tugas untuk melaksanakan
penyelenggaraan di bidang pemerintahan dan pembangunan serta memberikan
pelayanan prima kepada masyarakat Kabupaten Lingga agar dapat terwujud
masyarakat Kabupaten Lingga yang sejahtera secara lahir batin berlandaskan iman
dan taqwa selama lima tahun kedepan sehingga sesuai dengan cita-cita yang disusun
bupati dan wakil bupati terpiilih.

2.3.2. Urusan Pilihan


Urusan pilihan merupakan urusan pemerintah yang secara nyata ada dan
berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi,
kekhasan, dan potensi unggulan yang ada di Kabupaten Lingga.
Pertanian
Sub sektor tanaman bahan makanan adalah merupakan salah satu sub sektor
pada sektor pertanian. Sub sektor tersebut mencakup tanaman ubi kayu dan ubi jalar.
Produksi bahan makanan/palawija pada tahun 2010 mencapai 639,3 ton. Apabila
dibandingkan dengan tahun 2009 sebesar 792,4 ton, maka terjadi penurunan sekitar
23,9%. Produksi dari tanaman sayur-sayuran pada tahun 2010 mencapai 1.644,92 ton.
Produksi tertinggi didominasi oleh kangkung yakni sebesar 596,13 ton, diikuti bayam
sebesar 379,32 ton. Sebaliknya produksi terendah adalah buncis yaitu 0,06 ton.

II-52
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Gambar. G-II.12
JUMLAH PRODUKSI PALAWIJA MENURUT KOMODITI TAHUN 2010 (TON)

180
160
Produksi (Ton)

140
120
100
80
60
40
20
0
Singkep Singkep Lingga Lingga Senayang
Barat Utara
Jagung 10 12 6 8 0
Ubi Kayu 135 165 150 90 30
Ubi Jalar 6,5 10,4 6 10,4 0

Sumber: Data dalam angka Kab. Lingga, 2011

Selain tanaman pangan, data tentang pertaninan di Kabupaten Lingga pada


tahun 2010 yaitu tentang produksi padi. Produksi padi Kabupaten Lingga pada tahun
2010 adalah 0,4 ton dengan luas lahan 1 Ha, sehingga rata-rata produksi adalah 0,4
ton/Ha. Produksi pertanian dan luas panen tiap-tiap kecamatan dapat dilihat pada
tabel di bawah ini.

Tabel. T-II.26.

Luas Panen, Produksi, Rata-rata Produksi Padi Menurut Kecamatan Tahun 2010
Kecamatan Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Rata-rata Produksi (Ton/Ha)
(1) (2) (3) (4)

01. Singkep Barat 1 0.4 0.4


02. Singkep - - -
03. Lingga - - -
04. Lingga Utara - - -
05. Senayang - - -

II-53
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

2010 1 0.4 0.4

Sumber: Data dalam angka, Kab. Lingga, 2011

Perkebunan
Produksi perkebunan pada tahun 2010 mencapai 16.160,96 ton. Produksi
tertinggi didominasi oleh sagu sebesar 10.812,98 ton, kemudian diikuti karet sebesar
4.071,40 ton. Data perkebunan Kabupaten Lingga dapat pada Gambar. G-II.13 berikut
ini:

Gambar. G-II.13
JUMLAH PRODUKSI PERKEBUNANAN MENURUT KOMODITI
DI KABUPATEN LINGGA, 2010 (TON)

25%
Karet
Kelapa
8%
67% Lada
0% Sagu

Sumber: Data dalam angka Kab. Lingga, 2011

Peternakan
Pada tahun 2010, populasi ternak besar seperti sapi tercatat 1.341 ekor,
kerbau 3 ekor, kambing 748 ekor dan babi 335 ekor. Bila dibandingkan tahun
sebelumnya populasi ternak besar mengalami kenaikan untuk sapi sebesar 3,2%,
kambing sebesar 19,9%, dan babi sebesar 4,7%. Populasi unggas pada tahun 2010

II-54
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

berjumlah 113.042 ekor. Jika dibandingkan dengan tahun 2009 yaitu sebanyak
110.169 ekor, ternak unggas di Kabupaten Lingga naik sebesar 2,6%.
Populasi ayam kampung memiliki jumlah terbanyak yaitu sebanyak 72.131
ekor. Populasi ayam petelur dan ayam pedaging masing-masing sebanyak 6.500 dan
32.800 ekor. Dan populasi itik sebanyak 1.611. Dari keempat jenis unggas tersebut,
ayam kampung dan itik mengalami penurunan populasi masing-masing sebesar 1,5%
dan 15%.

Perikanan
Untuk sub sektor perikanan di Kabupaten Lingga pada umumnya adalah perikanan
laut. Pada tahun 2009 volume produksi perikanan laut sebesar 18.310,988 ton, pada
tahun 2010 bertambah menjadi 21.560,931 ton atau mengalami peningkatan sebesar
17,7%.Jumlah alat produksi perikanan dari tahun ke tahun cenderung mengalami
penambahan. Pada tahun 2010 tercatat 9.964 unit alat penangkap ikan, 2.715 kapal
motor, 124 motor tempel, 2.391 perahu tanpa motor dan 1.025 keramba.
Perkembangan jumlah produksi perikanan laut di Kabupaten Lingga, 2002-2010 (ton)
dapat dilihat pada Gambar. G-II.14 berikut ini:

Gambar. G-II.14
JUMLAH PRODUKSI PERIKANAN LAUT TAHUN 2002-2010 (TON)
22.500
21.500 21.560,89
20.500
19.500
18.500 18.413,24 18.310,99
17.500 17.739,60
17.607,88 17.184,78
16.500 16.665,79
16.305,09
15.894,27
15.500
14.500
2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Sumber: Data dalam anggaka Kab. Lingga, 2011

II-55
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Kehutanan
Hutan mempunyai peranan yang penting bagi stabilitas keadaan susunan tanah
dan isinya. Luas hutan di Kabupaten Lingga pada tahun 2010 mencapai 22.726,32 Ha.
Luas danpersentase hutan menurut fungsi di Kabupaten Lingga pada tahun 2010 dapat
dilihat pada Tabel. T-II.27. Pembangunan di Kabupaten Lingga harus tetap
memperhatikan keberlanjutan lingkungan dengan tidak mengurangi/merusak jumlah
hutan lindung yang saat ini telah ada yaitu seluas 22.533,28 (99,15%).

Tabel. T-II.27.

LUAS DAN PERENTASE HUTAN MENURUT FUNGSI TAHUN 2010


Fungsi Luas (Ha) Persentase (%)
Function Area Percentage
(1) (2) (3)

01. Hutan Lindung 22.533,28 99,15


Conservation Forest
02. Hutan Suaka Alam - -
Natural Conservation Forest
03. Hutan Produksi 87,37 0,38
Production Forest
04. Hutan Produksi Konversi 105,670 0,46
Conversion Production Forest

Jumlah 22.726,32 100,00


Total
Sumber: Data dalam Angka Kab. Lingga, 2011

Pariwisata
Pembangunan kepariwisataan diarahkan pada pariwisata yang menggalakkan
kegiatan ekonomi, sehingga lapangan pekerjaan, pendapatan masyarakat serta

II-56
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

penerimaan devisa akan dapat meningkat melalui upaya pengembangan dan


pendayagunaan berbagai potensi kepariwisataan. Jumlah objek wisata di Kabupaten
Lingga tahun 2009 ada sebanyak 82 buah. Hal ini dapat dilihat pada Gambar. G-II.15.
berikut ini.

Gambar. G-II.15
Banyaknya Objek Wisata Menurut Kecamatan Di Kabupaten Lingga Tahun 2008-2009

2008 2009
82
Jumlah 82
21
Senayang 21
4
Lingga Utara 4
27
Lingga 27
22
Singkep 22
8
Singkep Barat 8

Sumber: BPS, Kabupaten Lingga Dalam Angka Tahun 2008 dan 2009

Perdagangan
Nilai volume perdagangan yang ada di Kabupaten Lingga dapat diketahui dari
transaksi ekspor dan impor yang ada, berikut nilai ekspor dan impor yang ada di
Kabupaten Lingga.
Ekspor
Volume ekspor Kabupaten Lingga tahun 2010 mencapai 2.486.916.561 kg
melalui Pelabuhan Dabo Singkep dan Pelabuhan Penuba. Nilainya mencapai
37.182.941 US$ yang merupakan total nilai ekspor dari Kabupaten Lingga. Adapun
negara yang menjadi tujuan ekspor adalah Cina, Singapura, Taiwan dan Jepang.
Volume ekspor ke Cina sebesar 2.043.742.609 kg, Singapura sebesar 129.912 kg,
Taiwan sebesar 76.753.690 kg dan Jepang 366.290.350 kg. Masing-masing dengan nilai

II-57
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

ekspor 28.983.340 US Dollar, 1.234.321 US Dollar, 1.297.766 US Dollar dan 5.797.426


US Dollar.

Gambar. G-II.16
PERKEMBANGAN NILAI EKSPOR MELALUI KABUPATEN LINGGA, 2006-2010 (US$)

40.000.000
37.182.941
30.000.000

20.000.000
12.883.943
6.670.676 10.000.000
7.394.378
6.148.168
0
2006 2007 2008 2009 2010

Sumber: data dalam angka Kab. Lingga, 2011

Impor
Pada tahun 2010 Cina, Singapura dan Jepang merupakan tiga negara asal impor
barang yang masuk ke Kabupaten Lingga. Volume impor dari negara Cina mencapai
1.517 kg, Singapura 120.000 kg dan Jepang 196.983 kg. Masing-masing dengan nilai
sebesar 2.578 US Dollar, 116.211 US Dollar dan 611.598 US Dollar. Barang tersebut
dibongkar melalui pelabuhan Dabo Singkep.

II-58
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Gambar. G-II.17
PERKEMBANGAN NILAI IMPOR MELALUI KABUPATEN LINGGA , 2006-2010 (US$)

900.000
784.413 800.000
728.870
700.000
600.000
500.000
392.449 400.000
300.000
200.000
209.284
100.000
6.228
0
2006 2007 2008 2009 2010

Sumber: Data dalam Angka Kab. Lingga, 2011

Perindustrian
Pembangunan di sektor industri adalah merupakan upaya dalam
meningkatkan nilai tambah, menciptakan lapangan usaha, memperoleh kesempatan
kerja, menyediakan barang dan jasa yang bermutu dengan harga yang bersaing di
dalam negeri dan luar negeri, meningkatkan ekspor guna menunjang pembangunan
daerah dan sektor-sektor pembangunan lainnya serta mengembangkan kemampuan
teknologi
Industri pengolahan dibagi menjadi empat kelompok, yaitu industri besar,
industri sedang, industri kecil dan industri kerajinan rumah tangga. Pada tahun 2009
jumlah industri rumah tangga sebanyak 53 usaha, bertambah dibandingkan tahun
2008 yang hanya 51 usaha. Hal yang sama juga terlihat pada industri kecil yang
semula terdapat 79 usaha pada tahun 2008 naik menjadi 81 usaha pada tahun 2009.
Untuk industri besar sedang juga mengalami peningkatan yang semula sebanyak 6
usaha menjadi 10 usaha pada tahun 2009. Peningkatan jumlah usaha di masing-
masing kelompok ini tentunya akan berpengaruh positif terhadap peningkatan

II-59
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

keterserapan tenaga kerja. Pembangunan industri diharapkan dapat berperan dalam


pembangunan selama lima tahun kedepan dengan memaksimalkan sumber daya
alam yang ada di Kabupaten Lingga diolah dengan sistem industrilisasi.

Gambar. G-II.18

JUMLAH INDUSTRI MENURUT KATEGORI DAN KECAMATAN


KABUPATEN LINGGA 2010

Chart Title

Senayang
Lingga Utara
Lingga
Singkep
Singkep Barat
0 10 20 30 40

Singkep
Singkep Lingga Lingga Utara Senayang
Barat
Industri Besar Sedang 3 5 3 1 1
Industri Kecil 15 36 18 11 7
Industri Rumah Tangga 10 18 13 8 7

Sumber: Data dalam Angka Kab. Lingga, 2011

2.4. Aspek Daya Saing Daerah


Daya saing daerah merupakan salah satu aspek tujuan penyelenggaraan
otonomi daerah sesuai dengan potensi, kekhasan, dan unggulan daerah. Suatu daya
saing (competitiveness) merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan
pembangunan ekonomi yang berhubungan dengan tujuan pembangunan daerah
dalam mencapai tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan.
a. Kemampuan Ekonomi Daerah

II-60
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Tinjauan terhadap kemampuan ekonomi daerah bertujuan untuk mengetahui


kualitas pertumbuhan ekonomi daerah. Semakin baik kualitas pertumbuhan maka
semakin tinggi pula daya saing daerah tersebut.
Data-data perkembangan PDRB, khususnya sektor pertanian dan sektor
perdagangan, hotel, dan restoran menunjukkan daya saing daerah ini pada kedua
sektor tersebut. Daya saing ini semakin diperkuat dengan telah mapannya peran
industri pengolahan untuk selanjutnya terus dikembangkan guna membangun
keterkaitan antar sektor yang lebih kokoh.
PDRB Perkapita dan Pendapatan Perkapita
Peningkatan PDRB dan pendapatan per kapita menjadi salah satu ukuran
dalam pencapaian tingkat kemakmuran masyarakat disuatu wilayah jika data
tersebut disajikan secara berkala. PDRB Perkapita dan pendapatan perkapita
Kabupaten Lingga dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, baik itu atas dasar
harga berlaku maupun atas dasar harga konstan tahun 2000.
Pada tahun 2005 PDRB perkapita atas dasar harga berlaku sebesar Rp
7.396.861,14 meningkat menjadi Rp. 10.268.877,17 pada tahun 2009, sedangkan
atas dasar harga konstan, dari Rp. 5.213.480,29 meningkat menjadi Rp. 6.283.218,39
(20,52%). Begitu juga dengan Pendapatan perkapita dari Rp.6.762.210,45 menjadi
Rp. 9.387.807,51 atau meningkat sebesar 38.83%. Sedangkan atas dasar harga
konstan 2000, dari Rp. 4.766.163,68 meningkat menjadi Rp. 5.744.118,25.

Tabel. T-II.28.

PDRB Dan Pendapatan Perkapita Tahun 2005-2009 (Juta Rupiah)


Harga Konstan Thn
Rincian Harga Berlaku
2000
I . PDRB per Kapita
2005 7.396.861,14 5.213.480,29
2006 7.869.963,35 5.393.411,38

II-61
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Harga Konstan Thn


Rincian Harga Berlaku
2000
2007 8.534.184,24 5,705.821,76
2008* 9.491.060,69 5.985.995,59
2009* 10.268.877,17 6.283.218,39
II. Pendapatan per Kapita
2005 6.762.210,45 4.766.163,68
2006 7.194.720,49 4.930.656,68
2007 7.801.951,23 5.216.262,25
2008* 8.676.727,68 5.472.397,17
2009* 9.387.807,51 5.744.118,25
Sumber: LKPJ-AMJ Tahun Anggaran 2005-2010
Keterangan:*) Angka Estimasi

b. Fasilitas Wilayah/Infrastuktur
Sarana dan prasarana merupakan aspek yang sangat penting dalam mengelola
suatu kawasan perkotaan. Ketersediaan sarana dan prasarana perkotaan sangat
menentukan dalam pengembangan suatu kota. Sarana perkotaan meliputi
infrastuktur jalan, jaringan listrik, air bersih, serta jaringan utilitas lainnya. Kondisi
sarana dan prasarana di Kabupaten Lingga saat ini masih perlu ditingkatkan untuk
meningkatkan daya saing Kabupaten Lingga.
Infrastuktur Jalan
Jalan merupakan salah satu prasarana pengangkutan darat yang penting untuk
memperlancar kegiatan sektor perekonomian. Dengan semakin meningkatnya usaha
pembangunan, maka akan pula menuntut peningkatan pembangunan jalan untuk
memudahkan mobilitas penduduk dan memperlancar lalu lintas barang dari suatu
daerah ke daerah lain. Panjang jalan di Kabupaten Lingga pada tahun 2010 mencapai
504,65 km. Pada tahun tersebut jalan yang diaspal sebesar 46,7% dari total panjang
jalan yang ada.

II-62
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Listrik
Sebagian besar kebutuhan listrik di Kabupaten Lingga dipenuhi oleh PT.
Perusahaan Listrik Negara (PLN). Pada tahun 2010 jumlah mesin ada 23 unit dengan
daya terpasangnya sebesar 7.560 kwh dengan produksi listrik yang dihasilkan
sebesar 19.675.380 kwh. Kebutuhan listrik Kabupaten Lingga dipenuhi oleh PT. PLN
Cabang Tanjungpinang.

Gambar. G-II.19

JUMLAH PRODUKSI LISTRIK PADA PT.PLN TAHUN 2001-2010 (KWH)

22.500.000
20.000.000
17.500.000
15.000.000
12.500.000
10.000.000
7.500.000
5.000.000
2.500.000
0
2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Sumber: Data dalam Angka Kab. Lingga, 2011

Air Minum
Ketersediaan air minum yang sehat sangat dibutuhkan masyarakat. Seperti
pada tahun sebelumnya, pada tahun 2010 jumlah perusahaan air minum di
Kabupaten Lingga mencapai dua perusahaan. Untuk jumlah tenaga kerja yang
berkerja di kedua perusahaan tersebut ada sebanyak 20 orang. Seiring
meningkatnya kebutuhan masyarakat akan air minum yang bersih dan sehat, jumlah
air minum yang telah di distribusikan tahun 2010 sebanyak 248.640 meter kubik

II-63
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

dengan pelanggan sebanyak 994 orang di PDAM Cabang Daik sementara di PDAM
cabang Dabo didistribusikan sebanyak 458.168 meter kubik dngan pelanggan
sebanyak 2.236 orang.

Gambar. G-II.20

KAPASITAS PRODUKSI AIR MINUM DI PERUSAHAAN AIR MINUM MENURUT BULAN TAHUN 2010

60.000
50.000
40.000
30.000
20.000 Daik
Dabo
10.000
0

3
(M )
Sumber: Data dalam Angka Kab. Lingga, 2011

Dalam memenuhi kebutuhan air minum yang sehat yang dibutuhkan


masyarakat. Kabupaten Lingga memiliki dua perusahaan daerah air minum, yaitu
Perusahaan Daerah Air Minum Cabang Dabo Singkep, dengan kapasitas produksi
sebanyak 320.591 M3 dan Perusahaan Daerah Air Minum Cabang Daik Lingga
dengan kapasitas produksi sebanyak 196.380 M3.

II-64
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Tabel. T-II.29.

Banyaknya Kapasitas Produksi Air Minum Dan Tenaga Kerja


Di Perusahaan Daerah Air Minum Cabang Daik Lingga Tahun 2008-2009
Jumlah
Uraian
2008 2009
3 3 3
01. Kapasitas Produksi (M ) 178.668 M 196.380 M
02. Jumlah Tenaga Kerja 12 12
- Pekerja Teknis 6 6
- Pekerja Administrasi 3 3
- Tenaga Keamanan 3 3
Sumber: BPS, Kabupaten Lingga Dalam Angka Tahun 2008 dan 2009

Tabel. T-II.30.

Banyaknya Kapasitas Produksi Air Minum Dan Tenaga Kerja


Di Perusahaan Daerah Air Minum Cabang Dabo Singkep Tahun 2009
Uraian Jumlah
3
01. Kapasitas Produksi (M ) 320.591
02. Jumlah Tenaga Kerja 13
- Pekerja Teknis 6
- Pekerja Administrasi 7
- Tenaga Keamanan -
Sumber: BPS, Kabupaten Lingga Dalam Angka Tahun 2009

Seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat atas air minum yang bersih dan
sehat, jumlah air minum yang telah di distribusikan tahun 2009 sebanyak 194.240
meter kubik dengan pelanggan sebanyak 780 orang di PDAM Cabang Daik
sementara di PDAM Cabang Dabo didistribusikan sebanyak 429.933 meter kubik
dngan pelanggan sebanyak 2.046 orang.

II-65
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Tabel. T-II.31.

Banyaknya Air Minum Yang disalurkan Menurut Kategori Pelanggan


Di Perusahaan Daerah Air Minum Cabang Daik Lingga Tahun 2008-2009
3
Jumlah (M )
Kategori Pelanggan
2008 2009
01. Rumah Tangga (Tempat Tinggal), Instansi/Kantor Pemerintah 152.208 159.140
02. Hotel/Objek Wisata, Toko, Industri, Perusahaan 24.960 30.600
03. Badan Sosial, Rumah Sakit, Rumah Ibadah 1.500 4.500
04. Sarana Umum -
05. Hydran Pelabuhan -
10. Lainnya -
Jumlah 178.668 194.240
Sumber: BPS, Kabupaten Lingga Dalam Angka Tahun 2008 dan 2009

Tabel. T-II.32.

Banyaknya Air Minum Yang Disalurkan Menurut Kategori Pelanggan


Di Perusahaan Daerah Air Minum Cabang Dabo Singkep Tahun 2009
Kategori Pelanggan Jumlah (M3)
Rumah Tangga (Tempat Tinggal), Instansi/Kantor Pemerintah 318.585 354.118
Hotel/Objek Wisata, Toko, Industri, Perusahaan 40.982 41.703
Badan Sosial, Rumah Sakit, Rumah Ibadah 27.560 34.112
Sarana Umum -
Hydran Pelabuhan -
Lainnya -
Jumlah 387.127 429.933
Sumber: BPS, Kabupaten Lingga Dalam Angka Tahun 2009

Pos dan Telekomunikasi


Dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa kegiatan
pengiriman dan penerimaan benda-benda pos, seperti surat menyurat, paket pos,
wesel, giro, dan tabungan, telah didukung dengan keberadaan Kantor Pos. Pada

II-66
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

tahun 2009 Surat tercatat yang dikirim sebanyak 487 surat. Surat kilat khusus yang
diterima dan dikirim masing-masing sebanyak 5.307 dan 5.771 surat. Sedangkan
jumlah paket pos diterima sebanyak 343 paket dan dikirim sebanyak 230 paket.
c. Iklim Berinvestasi
Investasi yang akan masuk ke suatu daerah bergantung kepada daya saing
investasi yang dimiliki oleh daerah yang bersangkutan. Daya saing investasi suatu
daerah tidak terjadi dengan serta merta. Pembentukan daya saing investasi,
berlangsung secara terus-menerus dari waktu ke waktu dan dipengaruhi oleh
banyak faktor, beberapa diantaranya adalah regulasi, perbankkan, kriminalitas hotel
dan perijinan.
Suatu investor akan tertarik berinveatasi pada suatu daerah jika didukung
dengan regulasi yang baik, regulasi tersebut diantaranya adalah adanya
kemudahaan perijinan serta pengenaan pajak dan retribusi daerah dengan tingkat
biaya yang kompetitif. Kemudahan perijinan adalah proses pengurusan perijinan
yang terkait dengan persoalan investasi.
Perbankan
Sampai dengan akhir tahun 2010, sektor perbankan di wilayah Kabupaten
Lingga belum menunjukkan adanya peningkatan yang cukup berarti, baik dari segi
kuantitas maupun aktivitasnya. Hal ini terbukti dari jumlah bank di Kabupaten Lingga
baru sebanyak 3 (tiga) buah sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Bank-bank
tersebut adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Pembantu Dabo Singkep, Bank
Riau Cabang Pembantu Dabo Singkep, dan BRI Unit Daik Lingga.
Pajak dan Retribusi
Sampai dengan tahun 2010 terdapat 10 jenis pajak daerah dan 3 jenis retribusi
daerah yang dipungut oleh Pemerintah Kabupaten Lingga. Untuk mengetahui rincian
pajak dan retribusi yang dipungut oleh Pemerintah Kabupaten Lingga dapat dilihat
pada tabel berikut ini.

II-67
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Tabel. T-II.33.

JENIS PENERIMAAN ASLI DAERAH


I. HASIL PAJAK DAERAH
1. PAJAK HOTEL
1.1. PAJAK HOTEL BINTANG LIMA BERLIAN
1.2. PAJAK HOTEL BINTANG LIMA
1.3. PAJAK HOTEL BINTANG EMPAT
1.4. PAJAK HOTEL BINTANG TIGA
1.5. PAJAK HOTEL BINTANG DUA
1.6. PAJAK HOTEL BINTANG SATU
1.7. PAJAK HOTEL MELATI TIGA
1.8. PAJAK HOTEL MELATI DUA
1.9. PAJAK HOTEL MELATI SATU

1.10. PAJAK HOTEL MOTEL


1.11. PAJAK HOTEL COTTAGE
1.12. PAJAK HOTEL LOSMEN/RUMAH PENGINAPAN/PESANGGRAHAN/RUMAH KOS
1.13. PAJAK HOTEL WISMA PARIWISATA
2. PAJAK RESTORAN
2.1. PAJAK RESTORAN
2.2. PAJAK RESTORAN / RUMAH MAKAN
2.3. PAJAK RESTORAN KAFE
2.4. PAJAK RESTORAN KANTIN

2.5. PAJAK RESTORAN KATERING


3. PAJAK HIBURAN
3.1. PAJAK HIBURAN TONTONAN FILM/BIOSKOP
3.2. PAJAK HIBURAN PAGELARAN KESENIAN/MUSIK/TARI/BUSANA
3.3. PAJAK HIBURAN KONTES KECANTIKAN

II-68
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

3.4. PAJAK HIBURAN KONTES BINARAGA


3.5. PAJAK HIBURAN PAMERAN
3.6. PAJAK HIBURAN DISKOTIK

3.7. PAJAK HIBURAN KARAOKE


3.8. PAJAK HIBURAN KLUB MALAM
3.9. PAJAK HIBURAN SIRKUS/AKROBAT/SULAP
3.10. PAJAK HIBURAN PERMAINAN BILYAR
3.11. PAJAK HIBURAN PERMAINAN GOLF
3.12. PAJAK HIBURAN PERMAINAN BOWLING
3.13. PAJAK HIBURAN PERMAINAN PACUAN KUDA
3.14. PAJAK HIBURAN BALAP KENDARAAN BERMOTOR
3.15. PAJAK HIBURAN PERMAINAN KETANGKASAN
3.16. PAJAK HIBURAN PANTI PIJAT / REFLEKSI

3.17. PAJAK HIBURAN MANDI UAP / SPA


3.18. PAJAK HIBURAN PUSAT KEBUGARAN
3.19. PAJAK HIBURAN PERTANDINGAN OLAH RAGA
4. PAJAK REKLAME
4.1. PAJAK REKLAME PAPAN/BILL BOARD/VIDEOTRON/MEGATRON
4.2. PAJAK REKLAME KAIN
4.3. PAJAK REKLAME MELEKAT/STIKER
4.4. PAJAK REKLAME SELEBARAN
4.5. PAJAK REKLAME BERJALAN

4.6. PAJAK REKLAME UDARA


4.7. PAJAK REKLAME APUNG
4.8. PAJAK REKLAME SUARA
4.9. PAJAK REKLAME FILM / SLIDE
4.10. PAJAK REKLAME PERAGAAN

II-69
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

5. PAJAK PENERANGAN JALAN UMUM


5.1. PAJAK PENERANGAN JALAN UMUM
6. PAJAK PENGAMBILAN BAHAN GAL. GOL. C
6.1. ASBES
6.2. BATU TULIS
6.3. BATU SETENGAH PERMATA
6.4. BATU KAPUR
6.5. BATU APUNG
6.6. PASIR
7. PAJAK PARKIR
7.1. PAJAK PARKIR
8. PAJAK AIR TANAH
8.1. PAJAK AIR TANAH

9. PAJAK SARANG BURUNG WALET


9.1. PAJAK SARANG BURUNG WALET
10. PAJAK BEA PEROLEHAAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN
10.1. PAJAK BEA PEROLEHAAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN

II. HASIL RETRIBUSI DAERAH


1. RETRIBUSI JASA UMUM
1.1. RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN
1.2. RETRIBUSI PELAYANAN PERSAMPAHAN / KEBERSIHAN

1.3. RETRIBUSI PELAYANAN DOKUMEN KEPENDUDUKAN


1.4. RETRIBUSI PELAYANAN PEMAKAMAN DAN PENGABUAN MAYAT
1.5. RETRIBUSI PELAYANAN PARKIR DITEPI JALAN UMUM
1.6. RETRIBUSI PELAYANAN PASAR
1.7. RETRIBUSI PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR

II-70
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

1.8. RETRIBUSI PEMERIKSAAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN


1.9. RETRIBUSI PENGGANTIAN BIAYA CETAK PETA
1.10. RETRIBUSI PELAYANAN PENDIDIKAN

1.11. RETRIBUSI PENGUJIAN KAPAL PERIKANAN


1.12. RETRIBUSI IKLAN DAN PUBLIKASI RADIO
2. RETRIBUSI JASA USAHA
2.1. RETRIBUSI PEMAKAIAN KEKAYAAN DAERAH
2.2. RETRIBUSI PASAR GROSIR / PERTOKOAN
2.3. RETRIBUSI TEMPAT PELELANGAN
2.4. RETRIBUSI TERMINAL
2.5. RETRIBUSI TEMPAT KHUSUS PARKIR
2.6. RETRIBUSI TEMPAT PENGINAPAN / PESANGRAHAN / VILLA
2.7. RETRIBUSI PENYEDIAAN DAN / ATAU PENYEDOTAN KAKUS

2.8. RETRIBUSI RUMAH POTONG HEWAN


2.9. RETRIBUSI PELAYANAN KEPELABUHAN
2.10. RETRIBUSI TEMPAT REKREASI DAN OLAH RAGA
2.11. RETRIBUSI PENYEBRANGAN DI AIR
2.12. RETRIBUSI PENGOLAHAN LIMBAH CAIR
2.13. RETRIBUSI PENJUALAN PRODUKSI USAHA DAERAH
2.14. RETRIBUSI PELAYANAN JASA TRANSPORTASI LAUT (+)
2.15. RETRIBUSI PELAYANAN JASA PERKAPALAN (+)
2.16. RETRIBUSI PEMASARAN / PENJUALAN HASIL PERIKANAN (+)

2.17. RETRIBUSI USAHA PEMANFAATAN KAWASAN HUTAN / JASA LINGKUNGAN


3. RETRIBUSI PERIZINAN TERTENTU
3.1. RETRIBUSI IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN
3.2. RETRIBUSI IZIN TEMPAT PENJUALAN MINUMAN BERALKOHOL
3.3. RETRIBUSI IZIN GANGGUAN / KERAMAIAN

II-71
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

3.4. RETRIBUSI IZIN TRAYEK


3.5. RETRIBUSI IZIN USAHA PERIKANAN (+)
3.6. RETRIBUSI IZIN USAHA DI BIDANG INDUSTRI DAN PERDAGANGAN (TDP)

3.7. RETRIBUSI IZIN PENGAMBILAN HASIL HUTAN


3.8. RETRIBUSI IZIN USAHA PERBENGKELAN
3.9. RETRIBUSI IZIN PENGAMBILAN HASIL PERTAMBANGAN
3.10. RETRIBUSI PERIZINAN PENANGKARAN WALET
3.11. RETRIBUSI PERIZINAN KEPARIWISATAAN

Pajak Bumi dan Bangunan


Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) merupakan salah satu sumber pendapatan
atau devisa negara. Baik dari luas lahan maupun jumlah penerimaan pajak bumi dan
bangunan menunjukkan adanya peningkatan dari tahun ke tahun. Tercatat di tahun
2010 seluas 10.383,72 hektar lahan yang terkena pajak dengan penerimaan sebesar
Rp. 410.248.753,-

Tabel. T-II.34.

Penerimaan Pajak, Bumi Dan Bangunan Menurut Kecamatan Tahun 2010


Sektor/Sector
Kecamatan
Pedesaan Perkotaan Jumlah
Sub District
Rural Urban Total
(1) (2) (3) (4)

Kabupaten Lingga 111.654.153 298.594.600 410.248.753

2010 111.654.153 298.594.600 410.248.753

2008 57.278.000 132.226.000 189.504.000

2007 110.299.630 112.352.561 222.652.191

Sumber: Data dalam Angka Kab. Lingga, 2011

II-72
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

Lalu Lintas dan Kriminalitas


Jumlah kecelakaan lalu lintas yang terjadi pada tahun 2010 di Kabupaten
Lingga adalah sebanyak 14 kasus dengan korban meninggal 5 orang dan kerugian
diperkirakan sebesar Rp. 37.800.000. Sementara jumlah dari peristiwa kejahatan
yang dilaporkan dalam kurun waktu tahun 2010 adalah sebanyak 91 kasus. Jenis
kasus yang terbanyak dilaporkan adalah pencurian sebanyak 31 kasus.

Perhotelan dan Pariwisata


Pembangunan kepariwisataan diarahkan pada pariwisata yang menggalakkan
kegiatan ekonomi, sehingga lapangan pekerjaan, pendapatan masyarakat serta
penerimaan devisa akan dapat meningkat melalui upaya pengembangan dan
pendayagunaan berbagai potensi kepariwisataan. Jumlah objek wisata di Kabupaten
Lingga selama tahun 2010 ada sebanyak 82 buah.

d. Sumber Daya Manusia


Tinjauan terhadap tingkat pendidikan sumber daya manusia dalam konteks
daya saing daerah menunjukkan bahwa pada saat ini kualitas sumber daya manusia
Kabupaten Lingga masih perlu banyak peningkatan. Beban rasio tanggungan
penduduk (Dependensy Ratio) dapat digunakan sebagai indikator daya saing suatu
daerah. Tingginya angka beban tanggungan menyimpulkan tingginya juga faktor
penghambat pembangunan ekonomi, karena penduduk yang produktif harus
menopang kehidupan yang tidak produktif. Usia tidak produktif adalah usia antara
0–14 dan 65 tahun keatas, jumlah penduduk tidak produktif Kabupaten Lingga
adalah 35.134 orang. Sedaangkan usia produktif Kabupaten Lingga adalah 51.110
(15-55 tahun. Rasio ketergantungan diketahui dari umur produktif dibagi dengan
usia tidak produktif. Rasio ketergantungan Kabupaten Lingga adalah 1,5 orang atau 2
orang. Rasio tanggungan Kabupaten Lingga yaitu 2 orang produktif menanggung 1
orang tidak produktif. Dengan angka beban tanggungan yang cukup rendah ini maka

II-73
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015

daya saing daerah sebenarnya relatif lebih baik. Penguatan daya saing pada sisi
sumber daya manusia adalah dengan mengoptimalkan kualitas penduduk usia
produktif melalui program pelatihan dan pendidikan agar lebih siap masuk dalam
lapangan kerja yang membutuhkan tingkat keterampilan yang tinggi.

II-74