Anda di halaman 1dari 12

Osteomielitis pada Anak

Kelompok F4

Eirene Megahwati Paembonan 102012082

Tari Erasti 102013279

Cornelia Tabita Santika 102014004

Rendy Cendranata 102014017

Fanny Mariska Sima 102014045

Minati Puspawardani 102014149

Julio Ludji Pau 102014183

Nur Ayuni Syahira Bt Rosli 102014238

Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta

Jln. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510. Telephone : (021) 5694-2061, fax : (021) 563-1731

1
Pendahuluan
Osteomielitis merupakan suatu proses peradangan pada tulang yang disebabkan oleh
invasi mikroorganisme seperti bakteri dan jamur. Infeksi tulang dapat disebabkan infeksi
jaringan lunak di dekatnya atau yang berasal dari penyebaran langsung, menyebabkan nyeri
dan pembengkakan di daerah sekitar tulang dan bisa terbentuknya abses di jaringan sekitar.
Osteomielitis merupakan suatu bentuk proses inflamasi pada tulang dan struktur-struktur
disekitarnya akibat infeksi dari kuman-kuman piogenik. Osteomielitis adalah infeksi pada
tulang yang lebih sulit disembuhkan dari pada infeksi jaringan lunak, karena terbatasnya
asupan darah, respons jaringan terhadap inflamasi, tingginya tekanan jaringan dan
pembentukan tulang baru.
Osteomielitis dapat menjadi masalah kronis yang akan mempengaruhi kualitas
hidup atau mengakibatkan kehilangan ekstremitas. 1 Infeksi disebabkan oleh penyebaran
hematogen (melalui darah) dari fukos infeksi di tempat lain, misalnya tonsil yang
terinfeksi, lepuh, gigi terinfeksi, infeksi saluran nafas. Osteomielitis akibat penyebaran
hematogen biasanya terjadi di tempat di mana terdapat trauma atau di mana terdapat
resistensi rendah, kemungkinan akibat trauma subklinis. Pada penyakit Osteomielitis
diagnosis perlu ditegakkan sedini mungkin, sehingga pengobatan dapat segera dimulai dan
perawatan pembedahan yang sesuai dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran infeksi dan
kerusakan yang lebih lanjut pada tulang.
Anamnesis

Pada anamnesis saat pasien datang berobat harus diketahui mengenai riwayat penyakit
yang deskriptif dan kronologis penyakitnya, faktor yang memperberat penyakit serta hasil
pengobatan jika sudah pernah mendapat pengobatan sebelumnya. Harus diketahui umur dan
jenis kelamin pasien dan menyanyakan tentang keluhan utama yang menyebabkannya datang
berobat. Jika kasus dengan pasien anak atau pasien yang tahap kesadaran menurun, harus
ditanyakan pada orang tua atau penjaganya. Anamnesis yang baik terdiri dari identitas,
keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit
keluarga, dan riwayat pribadi (meliputi keadaan sosial ekonomi, budaya, kebiasaan, obat-
obatan, lingkungan). Pasien dengan sakit menahun, perlu dicatat pasang-surut kesehatannya,
termasuk obat-obatannya dan aktivitas sehari-harinya.

2
Identitas meliputi nama lengkap pasien, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, nama
orang tua atau suami atau istri atau penanggung jawab, alamat, pendidikan, pekerjaan, suku
bangsa dan agama. Keluhan utama adalah keluhan yang dirasakan pasien yang membawa
pasien pergi ke dokter. Pada umumnya, keluhan utama pada kasus osteomielitis adalah nyeri
hebat. Di dalam kasus, pasien anak berusia 10 tahun datang karena nyeri terus pada lutut
kanan sejak 3 hari yang lalu. Riwayat perjalanan penyakit sekarang merupakan cerita yang
kronologis, terinci dan jelas mengenai keadaan kesehatan pasien sejak sebelum keluhan
utama sampai pasien datang berobat. Dalam RPS Dalam skenario, ditanyakan sejak kapan
keluhan utama terjadi, lamanya, bagaimana laju progres yang terjadi, adakah gejala lain
seperti nyeri atau demam, sejak kapan gejala itu terjadi, serta perawatan yang telah dilakukan
serta pemberian obat-obat untuk menangani luka.

Ditanyakan juga apakah pasien mempunyai penyakit lain seperti diabetes, hipertensi
atau lain-lain. Riwayat penyakit dahulu ditanyakan apakah sebelumnya pernah terjadi
sebelumnya? Jika sudah, tindakan apa yang diberikan? Dari skenario diketahui bahwa anak
laki-laki itu jatuh saat main bola dengan posisi bertumpu pada lutut kanan, terasa tidak
nyaman pada tungkai kanan dan nyeri yang dirasakan bertambah buruk. Pasien juga mengadu
sakit tenggorokan sejak 5 hari yang lalu. Sebelum berjumpa dokter tidak ada sebarang
pengobatan dilakukan oleh pasien.

Pemeriksaan

a) Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui adanya kelainan faali
pada pasien. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan empat tahapan yaitu inspeksi, palpasi,
perkusi, dan auskultasi. Data-data yang diperlukan dalam pemeriksaan fisik antara lain
seperti keadaan umum, tingkat kesadaran pasien, tanda ruam pada kulit, kelainan bunyi
fisiologis organ, nyeri tekan, dan tanda- tanda vital seperti tekanan darah, frekuensi denyut
nadi, frekuensi pernapasan, dan suhu tubuh.
Pemeriksaan fisik pada osteomyelitis cukup spesifik. Palpasi dari tulang yang
bersangkutan biasanya terdapat titik nyeri dari segmen yang terinfeksi. 2 Peningkatan suhu
dan pembengkakan jaringan lunak dengan eritemia dapat teraba, tetapi penemuan ini bisa
bervariasi. Karena osteomyelitis memiliki kecenderungan untuk terjadi metafisis pada tulang
panjang, cukup sulit untuk membedakan infeksi dalam tulang dari infeksi pada sendi yang

3
berdekatan. Efusi simpatik pada sendi yang berdekatan mungkin terbentuk pada beberapa
pasien dengan osteomyelitis bahkan saat sendi tersebut tidak terinfeksi. Pada osteomyelitis
kronik lanjut, involucrum dan sequestrum dapat di raba, dan saluran sinus yang melewati
kulit dapat terlihat.

Hasil pemeriksaan fisik :

a) Keadaan Umum : Sakit berat


b) TTV : Suhu 39oC

b) Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang dilakukan pemeriksaan laboratorium yaitu tes darah. Pada


fase akut ditemukan laju endap darah yang meninggi dan leukositosis. Pemeriksaan
radiologik, pada fase akut gambaran radiologik tidak menunjukan kelainan. Pada fase kronik
ditemukan suatu involukrum dan sekuester.3 Radiografi: Dalam osteomielitis pada
ekstremitas, foto radiografi polos dan scintigrafi tulang adalah alat pemeriksaan utama.
Bukti radiograf dari osteomielitis tidak akan muncul sampai kira-kira dua minggu setelah
onset dari infeksi.

Magnetic resonance imaging (MRI) sangat membantu dalam mendeteksi


osteomielitis. MRI lebih unggul jika dibandingkan dengan radiografi, CT scan dan
scintigrafi tulang MRI memiliki sensitifitas 90-100% dalam mendeteksi osteomielitis.
MRI juga memberikan gambaran resolusi ruang anatomi dari perluasan infeksi.

Pemeriksaan ultrasonografi dan CT (computed tomographic) scan dapat membantu


menegakkan diagnosa osteomielitis. USG dapat menunjukkan perubahan sedini mungkin 1-
2 hari setelah timbulnya gejala. USG dapat menunjukkan ketidakabnormalan termasuk abses
jaringan lunak atau penumpukan cairan (seperti abses) dan elevasi periosteal. USG juga
dapat digunakan untuk menuntun dalam melakukan aspirasi. Tapi, USG tidak digunakan
untuk mengevaluasi cortex tulang. CT scan dapat menggambarkan kalsifikasi abnormal,
osifikasi dan ketidaknormalan intrakortikal. CT scan mungkin dapat membantu dalam
mengevaluasi lesi pada tulang vetebra. CT scan juga lebih unggul dalam area dengan
anatomi yang kompleks, contohnya pelvis, sternum, dan calcaneus.

Hasil pemeriksaan penunjang : Darah leukosit – 15.000

Working Diagnosis

4
Osteomielitis

Osteomielitis merupakan suatu infeksi akut pada tulang yang biasanya menyerang
metafisis tulang panjang daerah metafise dan banyak terdapat pada anak-anak , akibat dari
infeksi bakteri pyogenic, sehingga mengakibatkan adanya reaksi inflamasi. 4 Streptoccoccus
dan Staphylococcus aureus terutama menyerang anak dan dewasa.

Osteomielitis dapat diklasifikasikan dalam dua macam secara pathogenesis yaitu :


1. Osteomielitis primer : Hematogenous osteomyelitis, infeksi disebabkan bakteri
melalui darah. Acute hematogenous osteomyelitis, infeksi akut pada tulang
disebabkan bakteri yang berasal dari sumber infeksi lain. Kondisi ini biasanya terjadi
pada anak-anak. Bagian yang sering terkena infeksi adalah bagian yang sedang
bertumbuh pesat dan bagian yang kaya akan vaskularisasi dari metaphysis. Pembuluh
darah yang membelok dengan sudut yang tajam pada distal metaphysis membuat
aliran darah melambat dan menimbulkan endapan dan trombus, tulang itu sendiri akan
mengalami nekrosis lokal dan akan menjadi tempat berkembang biaknya bakteri.
Mula-mula terdapat fokus infeksi didaerah metafisis, lalu terjadi hiperemia dan udem.
Karena tulang bukan jaringan yang bisa berekspansi maka tekanan dalam tulang ini
menyebabkan nyeri lokal yang sangat hebat.

2. Osteomielitis sekunder: Direct or contigous inoculation osteomyelitis disebabkan


kontak langsung antara jaringan tulang dengan bakteri, biasa terjadi karena trauma
terbuka dan tindakan pembedahan. Setelah adanya kontaminasi fraktur terbuka atau
reduksi (osteomielitis eksogen atau non- hematogen). Masuknya bakteri mencapai
tulang dapat secara langsung terjadi akibat penyebaran kuman akibat dari adanya
bisul, luka fraktur dan sebagainya. Manisfestasinya terlokalisasi dari pada
hematogenous osteomyelitis dan kategori tambahan lainnya adalah chronic
osteomyelitis.

Berdasarkan lama infeksi, osteomelitis terbagi menjasi dua yaitu5 :


1. Osteomielitis akut
Osteomielitis yang terjadi dalam 2 minggu sejak infeksi pertama atau sejak penyakit
pendahulu timbul. Biasanya terjadi pada anak-anak dari pada orang dewasa dan
biasanya terjadi sebagai komplikasi dari infeksi didalam darah (osteomelitis
hematogen). Osteomielitis akut merupakan radang bagian lunak tulang, yaitu isi

5
sumsum tulang, saluran Havers dan periosteum. Bagian yang keras tidak terkena,
hanya karena kerusakan sekunder akibat gangguan peredaran darah, maka sebagian
akan mati.

2. Osteomielitis kronis
Osteomielitis yang terjadi dalam 2 bulan atau lebih sejak infeksi pertama atau sejak
penyakit pendahuluan timbul. Osteomielitis kronis biasanya terjadi pada orang
dewasa dan biasanya terjasi karena ada luka atau trauma, misalnya osteomielitis yang
terjadi pada tulang yang fraktur, terutama apabila adanya faktor pemberat seperti pada
pasien dengan diabetes.

Differential Diagnosis

a. Artrithis Supuratif Akut: Merupakan infeksi pada sendi dapat terjadi secara
langsung melalui luka pada sendi baik oleh karena luka trauma, injeksi atau tindakan
artroskopi, juga bisa melalui penyebaran osteomielitis kronis yang menembus masuk
ke dalam sendi, serta melalui metastasis dari tempat lain melalui sirkulasi darah.
Artrithis supuratif akut biasanya disebabkan oleh stafilokokus aureus, sedangkan pada
bayi terutama oleh hemofilus influenza. Penyebab lainnya adalah streptokokus, E.coli,
dan proteus. Arthritis supuratif akut pada orang dewasa perlu dicurigai adanya infeksi
gonokokus. Kelainan biasanya dimulai pada daringan synovial berupa reaksi
inflamasi akut dengan cairan serosa atau cairan seropurulen, kemudian terjadi efusi
pus didalam sendi.6 Tulang rawan kemudian akan mengalamai erosi, destruksi dan
sedintegrasi yang disebabkan oleh enzim bakteri dan enzim leukosit. Pada tahap
selanjutnya timbul jaringan granulasi (panus) yang menutupi tulang rawan dan
menghambat nutrisi ke jaringan sinovial sehingga terjadi kerusakan tulang rawan.

b. Nekroting Myositis: Nekrosis myositis adalah infeksi yang sangat jarang timbul yang
disebabkan oleh Streptococcus pyogenes. Karena penyakit ini dapat meniru beberapa
kondisi lain, diagnosis sering tertunda. Streptokokus grup A merupakan patogen
manusia yang umum dapat menyebabkan spektrum yang luas dari penyakit klinis
mulai dari faringitis dan infeksi kulit (impetigo, erisipelas dan selulitis) untuk invasif
infeksi jaringan lunak yang fatal.6 Myositis streptokokus terutama melibatkan otot
rangka, sehingga terjadi myositis dan myonecrosis. Infeksi ini memiliki angka

6
kematian tertinggi dari semua infeksi jaringan lunak streptokokus invasif, setidaknya
80%. Streptokokus grup A mempunyai berbagai faktor virulensi termasuk M-protein,
beberapa superantigens, protease dan protein adhesi. M-protein melindungi dari sel
fagosit dan bertindak sebagai superantigen,

c. Tenosinovitis Supuratif: Tenosinovitis adalah suatu peradangan yang melibatkan


tendon dan selubungnya yang mengakibatkan pembengkakan dan nyeri. Beberapa
penyebab dari pembengkakan ini adalah trauma, penggunaan yang berlebihan dari
repetitive minor trauma, ataupun adanya infeksi artrithis. Beberapa contoh dari
tenosynovitis adalah Dequervain’s, Volar fleksor tenosynovitis (trigger finger) dan
akut fleksor tenosynovitis. Lokasinya biasanya pada ibu jari dan pergelangan tangan.
Terapi dapat diberikan injeksi kortikosteroid.6 Sampai operasi dengan pemakaian
tourniquet yang disesuaikan dengan tingkat tenosinovitis yang diderita.

Patofisiologi

Osteomielitis selalu dimulai dari daerah metafisis karena pada daerah tersebut
peredaran darahnya lambat dan banyak mengandung sinusoid. Penyebaran dapat terjadi :
i. Ke arah korteks membentuk abses subperiosteal dan selulitis pada jaringan sekitarnya.
ii. Menembus periosteum membentuk abses jaringan lunak dan abses dapat menembus
kulit melalui suatu sinus dan menimbulkan kematian tulang yang disebut sequester.
iii. Menyebar ke arah medulla.
iv. Menyebar ke persendian terutama bila lempeng pertumbuhannya intra artikuler.
Penetrasi ke epifisis jarang terjadi.7

Staphylococcus aureus merupakan penyebab 70% sampai 80% infeksi tulang.


Organisme patogenik lainnya sering dijumpai pada osteomielitis meliputi Proteus,
Pseudomonas dan E. coli. Terdapat peningkatan insiden infeksi resisten penisilin,
nosokomial, gram negatif dan anaerobic.1 Awitan osteomielitis setelah pembedahan ortopedi
dapat terjadi dalam 3 bulan pertama (akut fulminan stadium I) dan sering berhubungan
dengan penumpukan hematoma atau infeksi superfisial. Infeksi awitan lambat (stadium 2)
terjadi antara 4 sampai 24 bulan setelah pembedahan. Osteomielitis awitan lama (stadium 3)
biasanya akibat penyebaran hematogen dan terjadi 2 tahun atau lebih setelah pembedahan.
Respons inisial terhadap infeksi adalah salah satu dari inflamasi, peningkatan
vaskularisasi dan edema. Setelah 2 atau 3 hari, trombosis pada pembuluh darah terjadi pada

7
tempat tersebut, mengakibatkan iskemia dengan nekrosis tulang sehubungan dengan
peningkatan dan dapat menyebar ke jaringan lunak atau sendi di sekitarnya, kecuali bila
proses infeksi dapat dikontrol awal, kemudian akan terbentuk abses tulang.
Pada perjalanan alamiahnya, abses dapat keluar spontan namun yang lebih sering harus
dilakukan insisi dan drainase oleh ahli bedah. Abses yang terbentuk dalam dindingnya
terbentuk daerah jaringan mati, namun seperti pada rongga abses pada umumnya, jaringan
tulang mati (sequestrum) tidak mudah mencair dan mengalir keluar. Rongga tidak dapat
mengempis dan menyembuh, seperti yang terjadi pada jaringan lunak. Terjadi pertumbuhan
tulang baru (involukrum) dan mengelilingi sequestrum.2 Jadi meskipun tampak terjadi proses
penyembuhan, namun sequestrum infeksius kronis yang tetap rentan mengeluarkan abses
kambuhan sepanjang hidup pasien yang dinamakan osteomielitis tipe kronik.

Gejala Klinis

Gambaran klinis osteomielitis akut sedikit berbeda dengan osteomielitis kronis. Pada
osteomielitis akut, gejala-gejala yang dapat dijumpai seperti demam tinggi, iritabilitas,
kelemahan, malaise, pseudoparalisis (pada neonatus), nyeri pada daerah yang terkena, edema
lokal dan eritema pada daerah yang terkena dan gangguan pergerakan. Pada osteomielitis
kronis, gejala-gejala yang dapat dijumpai yaitu ulkus yang tak sembuh-sembuh, disertai pus,
abses dengan bau yang busuk, kelemahan kronis, malaise, nyeri dan sulit menggerakkan
daerah yang terkena , dan demam pada beberapa kasus.
Manifestasi klinis yang klasik pada anak-anak adalah pincang atau ketidakmampuan
untuk berjalan, demam dan nyeri fokal dan kemerahan terkadang terlihat dan pembengkakan
di sekitar tulang panjang, lebih sering di kaki daripada di lengan. Seringkali kondisi pasien
memburuk pada hari-hari sebelumnya klinis.3 Kalkanealis osteomyelitis dapat melanjutkan
diam-diam dan menyebabkan keterlambatan dalam mencari pengobatan. Osteomyelitis tulang
belakang khas dimanifestasikan sebagai nyeri punggung, sedangkan nyeri pada pemeriksaan
colok dubur menunjukkan osteomielitis sakral. Osteomyelitis akut harus dipertimbangkan
dalam setiap pasien yang datang dengan demam yang tidak diketahui. Kasus akut terjadi pada
semua kelompok umur, dengan puncak kecil dalam insiden antara anak laki-laki sebelum
pubertas, mungkin karena aktivitas fisik yang berat dan microtrauma.

Epidemiologi
Anak laki-laki menderita tiga kali lebih banyak dari pada anak perempuan. Tulang
panjang yang sering terkena infeksi adalah femur, tibia, humerus, radius ulna, fibula, dan

8
daerah yang terkena adalah daerah metafise.4 Hal ini mungkin disebabkan keunikan
pembuluh darah dan aliran darah yang lambat pada daerah tersebut selama masa anak-anak.
Pada awal era penggunaan terapi dengan antibakteri, terdapat penurunan yang tajam
dari insiden penyakit ini, dan beberapa klinisi optimis penyakit ini akan musnah, akan tetapi
insiden penyakit ini kembali ke level sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh timbulnya strain
bakteri yang resisten terhadap antibiotic khususnya staphylococcus dan kegagalan banyak
klinisi untuk mengerti dan menggunakan prinsip-prinsip terapi bedah dan antibakteri pada
infeksi tulang dan sendi.

Etiologi
Bakteri penyebab osteomyelitis terbanyak adalah Staphylococcus aureus. Organisme
gram negatif seperti Pseudomonas aeruginosa dan Escherichia coli, staphylococci koagualse
negatif, enterococci, dan propionibakteria juga terlibat.5 Mycobacterium tuberculosis adalah
penyebab osteomyelitis paling umum di negara dengan sumber daya medis yang terbatas,
mycobacterium lainnya yang dapat menyebabkan osteomyelitis adalah M. marinum, M.
chelonei, dan M. fortuitum. Etiologi jamur termasuk spesies Candida, Coccidioides,
Histoplasma, dan Aspergillus. Mekanisme patogen noninfeksi yang mungkin menyebabkan
penyakit yang menyerupai osteomyelitis seperti nekrosis avaskular, penyakit rematik,
neuropati dengan trauma kronik, gout, dan keganasan.
Trauma juga dapat menjadi penyebab infeksi, terlebih jika terlibat dengan luka dan
ada kontaminasi pada tulang atau jaringan sekitar bersamaan dengan kerusakan pada jaringan
yang signifikan.6 Bahkan walaupun tanpa luka terbuka atau fraktur, jaringan yang rusak dan
darah yang keluar daoat memperlambat sirkulasi, membuat media yang cocok untuk
perkembangan bakteri yang dapat mencapai area melalui bakterimia tingkat rendah dari
sirkulasi vena sekeliling atau dari saluran limpatik distal.

Komplikasi

Komplikasi osteomielitis dapat terjadi akibat perkembangan infeksi yang tidak


terkendali dan pemberian antibiotik yang tidak dapat mengeradikasi bakteri penyebab, yang
perlu diperhatikan adalah diperlukan penanganan lebih cepat pada osteomielitis akut pada
anak tersebut, agar dapat mencegah kemungkinan terjadinya osteomyelitis yang kronis.
Komplikasi osteomielitis dapat mencakup infeksi yang semakin memberat pada daerah tulang
yang terkena infeksi atau meluasnya infeksi dari fokus infeksi ke jaringan sekitar bahkan ke

9
aliran darah sistemik.7 Komplikasi yang dapat terjadi pada osteomielitis hematogen akut
adalah :

 Septikemia : Dengan makin tersedianya obat-obatan antibiotik yang memadai,


kematian akibat septikemia pada saat ini jarang ditemukan.

 Infeksi yang bersifat metastatik : Infeksi dapat bermetastatik ke tulang/ sendi lainnya,
otak, dan paru-paru, dapat bersifat multifokal dan biasanya terjadi pada penderita
dengan status gizi yang jelek

 Gangguan Pertumbuhan: Osteomyelitis hematogen akut pada bayi dapat


menyebabkan kerusakan lempeng epifsisis yang menyebabkan gangguan
pertumbuhan, sehingga tulang yang terkena akan menjadi lebih pendek. Pada anak
yang lebih besar akan terjadi hiperemi pada daerah metafisis yang merupakan
stimulasi bagi tulang untuk bertumbuh. Pada keadaan ini tulang bertumbuh lebih
cepat dan menyebabkan terjadinya pemanjangan tulang

 Osteomielitis Kronik : Apabila diagnosis dan terapi yang tepat tidak dilakukan, maka
osteomielitis akut akan berlanjut menjadi osteomielitis kronik

Penatalaksanaan
 Medical Mentosa
Antibiotik spektrum luas yang efektif terhadap gram positif maupun gram negatif.
Antibiotik dapat diberikan pada individu yang mengalami fraktur tulang atau luka tembus
jaringan lunak yang mengelilingi suatu tulang sebelum tanda-tanda infeksi timbul. Apabila
infeksi tulang memang terjadi, diperlukan terapi antibiotik agresif. 1 Contoh antibiotik :
golongan penisilin, golongan sefalosporin gen III, golongan kuinolon, aminoglikosida. Pada
kasus kronis perlu dilakukan perawatan di rumah sakit, pengobatan suportif dengan
pemberian infus.
 Tindakan pembedahan
Indikasi untuk melakukan tindakan pembedahan ialah :
a. Adanya abses
b. Rasa sakit yang hebat
c. Adanya sekuester
d. Bila mencurigakan adanya perubahan ke arah keganasan (karsinoma
epedermoid).

10
Pada osteomielitis kronik dilakukan sekuestrasi dan debridement serta pemberian
antibiotik yang sesuai dengan hasil kultur dan tes resistensi. Debridement berupa pengeluaran
jaringan nekrotik di dinding ruang sekuester dan penyaliran. Debridement pada pasien
dengan osteomielitis kronik membutuhkan teknik. Kualitas debridement merupakan faktor
penting dalam kesuksesan penanganan. Sesudah debridement dengan eksisi tulang, perlu
menutup dead-space yang dibentuk oleh jaringan yang diangkat. 2 Managemen dead-space
meliputi mioplasti lokal, transfer jaringan bebas dan penggunaan antibiotik yang dapat
meresap.

Saat yang terbaik untuk melakukan tindakan pembedahan adalah bila involukrum
telah cukup kuat untuk mencegah terjadinya fraktur pasca pembedahan. Pada fase pascaakut,
subakut, atau kronik dini biasanya involukrum belum cukup kuat untuk menggantikan tulang
asli yang menjadi sekuester. Karena itu ekstremitas yang terkena harus dilindungi dengan
gips untuk mencegah patah tulang patologik, dan debridemen serta sekuestrektomi ditunda
sampai involukrum menjadi kuat. Selama menunggu pembedahan dilakukan penyaliran
nanah dan pembilasan.

 Non Medical Mentosa


Daerah yang terkena harus diimobilisasi untuk mengurangi ketidaknyamanan dan mencegah
terjadinya fraktur.3 Dapat dilakukan rendaman salin hangat selama 20 menit beberapa kali per
hari untuk meningkatkan aliran daerah.

Pencegahan

Sasaran utamanya adalah pencegahan osteomielitis. Penanganan infeksi lokal dapat


menurunkan angka penyebaran hematogen. Penanganan infeksi jaringan lunak pada
mengontrol erosi tulang. Pemilihan pasien dengan teliti dan perhatian terhadap lingkungan
operasi dan teknik pembedahan dapat menurunkan insiden osteomielitis pascaoperasi.
Antibiotika profilaksis, diberikan untuk mencapai kadar jaringan yang memadai saat
pembedahan dan selama 24 jam sampai 48 jam setelah operasi akan sangat membantu.
Teknik perawatan luka pascaoperasi aseptik akan menurunkan insiden infeksi superfisial dan
potensial terjadinya osteomielitis.4

Prognosis

11
Setelah mendapatkan terapi, umumnya osteomielitis akut menunjukkan hasil yang
memuaskan. Prognosis osteomielitis kronik umumnya buruk walaupun dengan pembedahan,
abses dapat terjadi sampai beberapa minggu, bulan atau tahun setelahnya. Amputasi mungkin
dibutuhkan, khususnya pada pasien dengan diabetes atau berkurangnya sirkulasi darah. Pada
penderita yang mendapatkan infeksi dengan penggunaan alat bantu prostetik perlu dilakukan
monitoring lebih lanjut.5 Mereka perlu mendapatkan terapi antibiotik profilaksis sebelum
dilakukan operasi karena memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mendapatkan osteomielitis.

Kesimpulan
Osteomomielitis adalah suatu proses inflamasi akut maupun kronik pada tulang dan
struktur disekitarnya yang disebabkan oleh organisme pyogenik. Penyebab paling sering
adalah Staphylococcus aureus. Infeksi dapat mencapai tulang dengan melakukan
perjalanan melalui aliran darah atau menyebar dari jaringan di dekatnya. Osteomyelitis pada
anak bersifat akut biasanya dapat terjadi dengan adanya riwayat trauma, dimana
menyebabkan bakteri pathogen menyebar secara hematogen di dalam darah dan dapat
menyebabkan adanya tanda–tanda inflamasi. Penanganan yang tepat dan cepat dapat
mencegah terjadinya osteomielitis yang kronis.

Daftar Pustaka
1. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi 5. Jilid 3.
Jakarta: Interna Publishing; 2009.h.2641.
2. Rasjad C. Pengantar ilmu bedah ortopedi. Edisi 3. Jakarta: Yarsif Watampone;
2007.h.132- 41.
3. Marx J.A, Lockberger R.S, Walls R.M, Adams J. Rosen’s emergency medicine:
concepts and clinical practice. Philadelphia: Elsevier Health Science; 2010.h.1821.
4. Meadow SR, Newell SJ. Lecture notes on pediatrics. Edisi 7. Jakarta: Erlangga;
2005.h.189-91.
5. Brown D.E, Leumann R.D. Orthopaedic secrets. Philadelphia: Elsevier Health
Science; 2004.h.15-7.
6. Jong W, Sjamsuhidayat R. Infeksi Muskuloskeletal. Edisi 2. Jakarta: EGC;
2005.h.903–10.

7. Siregar PUT. Kumpulan kuliah ilmu bedah. Tanggerang: Binarupa Aksara;


2005.h.272-4.

12