Anda di halaman 1dari 5

ANALISIS JURNAL

1. Karakteristik Ibu Hamil Dengan Preeklamsia Di RSUP Prof Dr. R.D


Kondau Manado
Preeklampsia adalah hipertensi yang terjadi pada ibu hamil dengan usia
kehamilan 20 minggu atau setelah persalinan di tandai dengan meningkatnya
tekanan darah menjadi ≥ 140/90 mmHg dan di sertai dengan kadar proteinuria
300 mg protein dalam urin selama 24 jam. Preeklampsia dibagi menjadi
preeklampsia ringan dan preeklampsia berat. Di Indonesia, hipertensi pada
ibu hamil tahun 2013 (21,5%), tahun 2014 (24,7%), tahun 2015 (26,9%),
2016 (27,1%). Berdasarkan data dari tahun 2013-2016 terjadi peningkatan
kejadian hipertensi pada kehamilan.. Tujuan penelitian ini yaitu untuk
mengetahui karakteristik dari pasien ibu hamil dengan preeklampsia. Jenis
penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif retrospektif. Hasil:
pada tahun 2017, terdapat 60 pasien dengan diagnosis Preeklampsia.
Kelompok umur tertinggi 31–35 tahun, PER (10%) dan PEB (18,3%).
Usia merupakan bagian dari status reproduksi yang penting. Umur berkaitan
dengan peningkatan atau penurunan fungsi tubuh sehingga mempengaruhi
status kesehatan seseorang. Salah satu penelitian menyatakan bahwa wanita
usia remaja yang hamil untuk pertama kali dan wanita yang hamil pada usia
30–35 tahun mempunyai resiko yang sangat tinggi untuk mengalami
preeklampsia. Pada usia 30 – 35 tahun atau lebih akan terjadi perubahan pada
jaringan dan alat reproduksi serta jalan lahir tidak lentur lagi. Pada usia
tersebut cenderung didapatkan penyakit lain dalam tubuh ibu, salah satunya
hipertensi. Usia ibu yang terlalu tua saat hamil mengakibatkan gangguan
fungsi organ karena proses degenerasi. Proses degenerasi organ reproduksi
akan berdampak langsung pada kondisi ibu saat menjalani proses kehamilan
dan persalinan yang salah satunya adalah preeclampsia.
Jenis pekerjaan tertinggi ibu rumah tangga, PER (18,3%) dan PEB
(40%). Penelitian ini didukung oleh Djannah,dkk (2010) yang menunjukkan
bahwa kejadian preeklampsia didominasi oleh kelompok ibu yang hanya
bekerja di rumah sebanyak 63,5%. Karena pekerjaan dikaitkan dengan adanya
aktifitas fisik dan stress yang merupakan faktor resiko terjadinya
preeklampsia.
Jumlah paritas tertinggi pada primigravida, PER (18,3%) dan PEB
(43,3%). Salah satu penelitian menyatakan jumlah paritas memiliki pengaruh
terhadap persalinan dikarenakan ibu hamil memiliki resiko lebih tinggi untuk
mengalami gangguan selama masa kehamilannya terlebih pada ibu yang
pertama kali mengalami masa kehamilan. Penelitian ini didukung oleh
Djannah,dkk (2010) yang menunjukkan bahwa kehamilan dengan
preeklampsia lebih sering terjadi pada primigravida, keadaan ini disebabkan
secara imunologik pada kehamilan pertama pembentukan blockingantibodies
terhadap antigen plasenta tidak sempurna sehingga timbul respon imun yang
tidak menguntungkan terhadap histoicompability placenta. Jarak antar
kehamilan yang terlalu dekat (<2 tahun) dapat meningkatkan resiko untuk
terjadinya kematian maternal. Jarak antar kehamilan yang disarankan pada
umumnya adalah paling sedikit 2 tahun. Hal ini agar wanita dapat pulih
setelah masa kehamilan dan laktasi. Ibu yang hamil lagi sebelum 2 tahun
sejak kelahiran anak terakhir seringkali mengalami komplikasi kehamilan dan
persalinan. Wanita dengan jarak kelahiran <2 tahun mempunyai resiko dua
kali lebih besar mengalami kematian dibandingkan dengan jarak kelahiran
yang lebih lama. Partus yang terjadi pada tahun 2017 terbanyak, PER (11,7%)
dan PEB (20%).
Status gizi ketegori obesitas (IMT ≥30,00), PER (20%) dan PEB
(53,3%). Penelitian ini didukung oleh Roberts, dkk (2011) yang menunjukkan
bahwa resiko preeklampsia terjadi 3 kali lipat lebih besar pada wanita dengan
obesitas.nSalah satu penelitian menyatakan kegemukan disamping
menyebabkan kolestrol tinggi dalam darah juga menyebabkan kerja jantung
lebih berat, oleh karena jumlah darah yang berada dalam tubuh sekitar 15%
dari berat badan, semakin gemuk seseorang makin banyak pula jumlah darah
yang terdapat di dalam tubuh yang berarti makin berat pula fungsi
pemompaan jantung. Sehingga hal ini dapat memicu terjadinya preeklampsia.
Riwayat hipertensi pada kategori tidak memiliki riwayat hipertensi
sebelumnya, PER (25%) dan PEB (66,7%). Penelitian ini didukung oleh
Djannah, 2010 yang menunjukkan angka kejadian preeklampsia di Rumah
Sakit Muhammadiyah Yogyakarta berdasarkan riwayat hipertensi yang paling
besar adalah ibu yang tidak memiliki riwayat hipertensi sebelumnya yaitu
sebanyak 83,9%. Angka kejadian preeklampsia akan meningkat pada
hipertensi kronis, karena pembuluh darah plasenta sudah mengalami
gangguan. Faktor predisposisi terjadinya preeklampsia juga terjadi pada ibu
hamil yang memiliki keluarga dengan riwayat preeklampsia.
Kesimpulan: Jenis Preeklampsia yang paling banyak terjadi adalah
PEB pada rata-rata umur 31 – 35 tahun, pekerjaan ibu rumah tangga, jumlah
paritas pada primigravida, partus pada tahun 2017, status gizi dengan kategori
obesitas, riwayat hipertensi sebelumnya tidak ditemukan.
2. Hubungan Faktor Resiko dengan Kejadian Pre-Eklamsi Berat di RSUP
Dr.M. Djamil Padang
Pre-eklampsia Berat (PEB) masih merupakan salah satu penyebab
morbiditas dan mortalitas ibu apabila tidak ditangani secara adekuat. Ada
banyak hal yang mempengaruhi terjadinya PEB, beberapa diantaranya adalah
usia ibu, paritas, usia kehamilan, jumlah janin, jumlah kunjungan ANC, dan
riwayat hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan
antara faktor risiko dengan pre-eklampsia berat di RSUP Dr. M. Djamil
Padang.
Penelitian ini menggunakan rancangan case-control study dengan
metode analitik observasional. Pengumpulan data dilakukan pada Januari
2016 dengan menggunakan data sekunder, yakni data rekam medik ibu
melahirkan dengan pre-eklampsia berat dan tanpa pre-eklampsia di bagian
obstetrik dan ginekologi RSUP Dr. M. Djamil, periode 1 Januari 2016 – 31
Desember 2016. Dari 148 data sampel didapatkan angka distribusi pada
variabel riwayat hipertensi yang hanya didapatkan pada ibu dengan PEB.
Hasil analisis bivariat dengan menggunakan uji chi-square diperoleh hasil
tidak terdapat hubungan signifikan antara faktor risiko (usia ibu, paritas, usia
kehamilan, jumlah janin, jumlah kunjungan ANC) dengan masing-masing
nilai p > 0,05. Analisis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik
didapatkan bahwa usia ibu > 35 tahun merupakan faktor risiko terhadap
kejadian PEB dengan nilai p = 0,034. Jadi, usia ibu > 35 tahun dan riwayat
hipertensi memiliki hubungan terhadap kejadian pre-eklampsia berat.
3. Hubungan Status Preeklampsia dengan Kejadian Perdarahan
Postpartum pada Ibu Bersalin di RSUD Dr.H.Abdul Moeloek Provinsi
Lampung Periode 1 Juli 2014-30 Juni 2015).
Perdarahan postpartum merupakan penyebab utama kesakitan dan
kematian ibu di dunia. Identifikasi faktor risiko terjadinya perdarahan
postpartum penting untuk mencegah keadaan yang mengancam nyawa
tersebut. Penyebab lain yang cukup besar terhadap kesakitan dan kematian
ibu adalah preeklampsia. Preeklampsia merupakan suatu penyakit kehamilan
yang ditandai dengan hipertensi dan proteinuria yang berkembang setelah 20
minggu masa kehamilan. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk
mengetahui hubungan antara status preeklampsia dan perdarahan postpartum.
Penyebab preeklampsia sampai saat ini masih belum dapat diketahui secara
pasti sehingga preeklampsia disebut sebagai “the disease of theories”.
Kerusakan endotel yang disebabkan oleh preeklampsia dapat menurunkan
kontraktilitas miometrium dan memicu hipofibrinogemia. Hal tersebut
meningkatkan risiko untuk terjadinya perdarahan postpartum. Penelitian
merupakan observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Hasil
penelitian berdasarkan uji Chi Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan
yang bermakna dengan p=0,028. Ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan
risiko untuk terjadinya perdarahan postpartum pada ibu yang mengalami
preeklampsia terutama preeklampsia berat. Disimpulkan bahwa terdapat
hubungan status preeklampsia dengan kejadian perdarahan postpartum pada
ibu bersalin di RSUD Dr H Abdul Moeloek Provinsi Lampung periode 1 Juli
2014 – 30 Juni 2015.
DAFTAR PUSTAKA

Ika dan Ratna, 2015 “Hubungan Status Preeklampsia dengan Kejadian Perdarahan
Postpartum pada Ibu Bersalin di RSUD Dr.H Moeloek Provinsi Lampung”
(http://eprints.ums.ac.id/41448/1/NASKAH%20PUBLIKASI.pdf. Diakses
tanggal 16 Maret 2018)

Giovana dan Linda, 2017 “Karakteristik Ibu Hamil dengan Preeklamsia Di RSUP
Dr.R.D Kandou Manado”
(http://eprints.ums.ac.id/20537/1/2._HALAMAN_DEPAN.pdf. Diakses
tanggal 16 Maret 2018)

Nurulia dan Machmud, 2016 “Hubungan Faktor Risiko dengan Kejadian Pre-
Eklampsia Berat di RSUP Dr. M. Djamil Padang”
(http://eprints.ums.ac.id/27068/9/NASKAH_PUBLIKASI.pdf. Diakses
tanggal 16 Maret 2018)