Anda di halaman 1dari 20

LI 1.

Memahami dan menjelaskan anatomi sistem limfatik


1.1 Makroskopik

a. Limfonodus/nodus limfatikus/kelenjar limfe


 Bentuk oval seperti kacang tanah, mempunyai pinggiran yang cekung disebut
dengan hilus
 Besarnya sebesar kepala peniti sampai sebesar buah kenari dan dapat diraba
terutama pada daerah leher, axilla, inguinale dan lain-lain
 Terletak disekitar pembuluh darah yang berfungsi memproduksi limfosit dan
antibodi untuk mencegah penyebaran infeksi lanjutan
 Daerah – daerah tubuh yang memiliki nodus limfatikus
1. Daerah kepala dan leher bagian lateral dan belakang : yaitu di sepanjang
m.sternocleidomastoideus, lingual, pharynx, cavum nasi, palatum, muka,
mandibula / dasar mulut
2. Daerah extrimitas superior : manus, antebrachi,brachi dan regio axilaris
3. Daerah mamae di bawah m.pectoralis meliputi kulit dan otot
4. Daerah torax : meliputi dinding torax, jantung, pericardium dan paru, pleura,
esophagus, aliran limfe thorax dan kelenjarr mamae masuk ke dalam node
limfatikus anterior dan posterior
5. Daerah abdomen dan pelvis : meliputi daerah peritonium dan sekitar aorta dan
vena cava inferior dan pembuluh darah intestinum. Aliran limfe superficialis
bagian depan dan lateral dan belakang diatas pusat masuk, nn ll axilaris anterior
dan posterior dan dibawah pusat, ke nn limfatisi inguinalis superficial
6. Daerah extrimitas inferior : disepanjang arteri,vena tibialis, regio poplitea, regio
inguinale, alran limfe masuk limfonodus inguinale

b. Timus
 Organ limfoid terletak pada sternum bagian atas belakang di daerah mediastinum
superior dan bertumbuh terus sampai pubertas
 Setelah pubertas, timus mengalami involusi dan setalah dewasa semakin kecil tetapi
masih berfungsi untuk menghasilkan limfosit T yang baru
 Timus yang besar terlihat setelah lahir pada saat bayi dan neonates
 Mempunyai 2 lobus, mempunyai bagian korteks dan medulla berbentuk segitiga,
gepang dan kemerahan
 Pendarahan timus berasal dari arteria thymica yang merupakan cabang dari arteria
thyroidea inferior dan mamaria interna
 Batas-batas anatomi :
1. Batas anterior: Manubrium sterni & rawan Costae
2. Batas atas: Regio Colli Inferior (trachea)
c. Tonsil
1) Tonsila palatina
o Terletak pada dinding lateralis, orofaring dekstra dan sinistra
o Terletak dalam satu lekukan yang dikenal dengan fossa tonsilaris, dasar dari
lekukan itu adal tonsil bed
o Tonsil membuka ke cavum oris terdiri dari 12-15 crypta tonsilaris
o Ditutupi oleh selapis jaringan ikat fibrosa yang berbentuk capsula
o Persyarafan tonsil oleh N IX (Glossopharyngues) dan N palatinus (N V2)

1
o Pendarahan berasal dari arteria tonsilaris cabang a.maxillaris externa (facialis)
dan arteria tonsilaris vabang a.pharyngica ascendens lingualis
2) Tonsila inguialis
o Terletak dibelakang lidah, 1/3 bagian posterior, tidak mempunya papilla
sehingga terlihat permukaan berbenjol-benjol (folikel)
o Pendarahan tonsil berasal dari arteria dorsalis lingue (cabang arteria lingualis),
arteria carotis eksterna
3) Tonsila pharyngealis
o Terdapat di daerah nasofaring dibelakang pintu hidung belakang
o Bila membesar disebut adenoid, dapat menyebabkan sesak nafas karena dapat
menyumbat pintu nares posterior (choanae), terletak di daerah nasopharynx,
tepatnya diatas torus tobarius dan OPTA

d. Lien (limfa)
 Organ limfoid terbesar, lunak, rapuh dan vascular berwarna kemerahan dan bentuk
oval
 Besar lien sebesar kepalan tangan sendiri
 Dibungkus oleh jaringan perlekatan peritoneum pada permukaan yang disebut
kapsula lienalis
 Fiksasi lien ke ginjal melalui ligamentum renolienalis dan ke lambung melalui
ligamentum gastrolienalis
 Pembuluh darah masuk daerah hilus lienalis adalah arteri lienalis dan darah vena
masuk melalui vena lienalis (vena port untuk dibawa ke hepar)
 Terdapat pusat immunologis yaitu folikel limfoid (pulpa alba / folikel putih ) yang
tersebar di seluruh sinusoid yang sangat vaskular (pulpa rubra / folikel merah)
 Memiliki serat otot polos yang membantu pengaturan volume darah didalam lien,
juga serat kolagen dan elastis
 Letak : Regio hipokondrium sinistra dalam ruang intraperitoneal. Diproyeksikan
dari luar pada costae 9,10,11, setinggi vertebre thoracalis 11-12
 Batas anatomis :
o Anterior = Gaster, cauda pankreas, fleksura colli sinistra, renalis sinistra
o Posterior = Diaphragma, pleura dan pulmo sinistra, costae 9-12

 Cauda pankreas menempel pada daerah hillus lienalis bersamaan masuknya arteria
lienalis dan keluar vena lienalis

1.2 Mikroskopik

a. Limfonodus/nodus limfatikus/kelenjar limfe


 Organ bersimpai berbentuk bulat / mirip ginjal, terdiri dari jaringan limfoid.
 Tersebar diseluruh tubuh disepanjang jalannya pembuluh limfe
 Nodus ditemukan di ketiak dan di lipat paha, sepanjang pembuluh-pembuluh besar
di leher dan dalam jumlah besar di toraks dan abdomen terutama dalam
mesenterium
 Limfonodus memiliki sisi konveks (cembung) dan konkaf (cekung) yg disebut hilus
 tempat arteri dan saraf masuk dan vena keluar dr organ
 Korteks luar

2
o Dibentuk oleh jar.limfoid yang terdiri dari satu jar. sel retikular dan serat
retikular yang dipenuhi oleh limfosit B
o Di dalam jar.limfoid korteks terdapat struktur berbentuk sferis yang disebut
nodulus limfatikus
o Terdapat sinus subkapsularis, yang dibentuk oleh suatu jar.ikat longgar dari
makrofag, sel retikular dan serat retikular
 Korteks dalam
o Merupakan kelanjutan korteks luar, mengandung beberapa nodulus
o Mengandung banyak limfosit T
 Medulla
o Terdiri dari korda medularis yg merupakan perluasan korteks dalam
o Banyak mengandung Limfosit B dan beberapa sel plasma
o Korda medularis dipisahkan oleh struktur seperti kapiler yg berdilatasi  sinus
limfoid medularis yang mengandung cairan limfe
 Limfe mengalir ke nodus limfatikus untuk membersihkannya dari partikel asing
sebelum kembali ke sirkulasi darah.
 Sewaktu cairan limfe mengalir melalui sinus, 99% atau lebih antigen dan kotoran
lainnya dipindahkan oleh aktivitas fagositosis makrofag.
 Infeksi dan perangsangan antigenik menyebabkan limfonodus yang terinfeksi
membesar dan membentuk pusat-pusat germinativum yang banyak dengan
proliferasi sel yang aktif

b. Tonsil
1) Tonsila palatine
o Terletak pada dinding lateral faring bagian oral
o Permukaan tonsila palatina dilapisi oleh epitel berlapis gepeng tanpa lapisan
tanduk yang juga melapisi bagian mulut lainnya
o Setiap tonsila memiliki 10-20 invaginasi epitel (epitel berlapis gepeng tanpa
lapisan tanduk) yang menyusup ke dalam parenkim membentuk kriptus yang
mengandung sel-sel epitel yg terlepas, limfosit hidup dan mati, dan bakteri dalam
lumennya
o Yang memisahkan jar.limfoid dari organ-organ berdekatan adalah satu lapis
jaringan ikat padat yamgg disebut simpai tonsila yg biasanya bekerja sebagai
sawar terhadap penyebaran infeksi tonsil
o Di bawah tonsila palatina terdapat jar.ikat padat yang membentuk kapsul. Dari
kapsul terbentuk trabekula dengan pembuluh darah, dibawah kapsul terdapat
serat otot rangka

2) Tonsila lingualis
o Lebih kecil dan lebih banyak
o Terletak pada pangkal lidah
o Ditutupi epitel berlapis gepeng
o Masing-masing mempunyai sebuah kriptus

3) Tonsila faringea
o Merupakan tonsila tunggal yang terletak dibagian supero-posterior faring.
o Ditutupi epitel bertingkat silindris bersilia
o Terdiri dari lipatan-lipatan mukosa dengan jar. Limfoid difus dan nodulus
limfatikus
o Tidak memiliki kriptus

3
o Simpai lebih tipis dari T. palatina

c. Timus
 Timus memiliki suatu simpai jaringan ikat yg masuk ke dlm parenkim dan membagi
timus menjadi lobulus.
 Setiap lobulus memiliki satu zona perifer gelap disebut korteks dan zona pusat yg
terang disebut medula korteks dan medula berisi sel-sel limfosit.
 Sel limfosit berasal dr sel mesenkim yg menyusup ke dlm suatu epitel primordium
dr kantung faringeal ke 3 dan 4.
 Korteks timus
o limfosit T yg sangat banyak,
o Sel retikular epitel yg tersebar
o Beberapa makrofag
 Medulla timus
o Mengandung sel retikular dan limfosit
o Sel-sel ini menyebabkan medula tampak lebih pucat dibanding bgn korteks
o Mengandung badan hassal (corpusculum tymicum) yang merupakan sel retikular
epitel gepeng yg tersusun konsentris , mengalami degenerasi dan mengandung
granula keratohialin.
 Timus mengalami involusi stlh pubertas
 Timus ditempati oleh sel-sel yg dihasilkan dr sumsum tulang.
 Sel-sel ini mulai menjalani diferensiasinya mjd sel T
 Timus menghasilkan beberapa faktor pertumbuhan protein yg merangsang
proliferasi dan diferensiasi limfosit T

d. Lien (limpa)
 Merupakan tempat destruksi bagi banyak sel darah merah.
 Merupakan tempat pembentukan limfosit yang masuk ke dalam darah.
 Limpa bereaksi segera terhadap antigen yang terbawa darah dan merupakan organ
pembentuk antibodi penting
 Dibungkus oleh simpai jaingan ikat padat yang menjulurkan trabekula yang
membagi parenkim atau pulpa limpa menjadi kompartemen tidak sempurna
 Pulpa limpa tidak mempunyai pembuluh limfe
 Limpa dibentuk oleh jalinan kerja jaringan retikular yang mengandung sel limfoid,
makrofag dan sel-sel antigen-presenting
 Tidak memperlihatkan adanya daerah korteks dan medula yang jelas
 Kapsul pada limpa lebih tebal dibanding pada limfonodus
 Pulpa limpa
o Pada permukaan irisan melalui limpa, tampak bintik-bintik putih dalam parenkim
 nodulus limfatikus (pulpa putih/pulpa alba)
o Pulpa alba terdapat dalam jaringan merah tua yang penuh dengan darah  pulpa
merah/pulpa rubra.
o Pulpa rubra terdiri atas bangunan memanjang yaitu korda limpa (korda billroth)
yg terdapat diantara sinusoid
 Pulpa putih
o Terdiri dari jar. limfoid yang menyelubungi A. sentralis dan nodulus limfatikus
o Sel-sel limfoid yang mengelilingi A. sentralis terutama Limfosit T dan
membentuk selubung periarteri.
o Nodulus limfatikus terutama limfosit B

4
o Diantara pulpa putih dan pulpa merah terdapat zona marginalis
 Pulpa merah: jar.retikular dengan ciri khas, yaitu adanya:
o Korda limpa yang terdiri dari sel dan serat retikular
o Makrofag
o Limfosit
o Sel plasma dan banyak unsur darah (eritrosit, trombosit, granulosit)
o Banyak terdapat sinusoid
 Zona marginalis
o Terdiri dari banyak sinus dan jar.ikat longgar.
o Terdapat sedikit limfosit dan banyak makrofag yg aktif
o Banyak mengandung antigen darah  peran utama dalam aktivitas imunologis
limpa
 Fungsi limpa
o Pembentukan limfosit
Dibentuk dalam pulpa putih  pulpa rubra  sinusoid  bercampur darah
o Destruksi eritrosit
Dilakukan oleh makrofag dalam korda pulpa merah
o Pertahanan organisme
Oleh karena kandungan limfosit B, limfosit T, sel antigen presenting dan
makrofag

LI 2. Memahami dan menjelaskan vaksinasi dan imunisasi


Vaksin adalah sebuah senyawa antigen yang berfungsi untuk meningkatkan
imunitas tubuh terhadap virus. Terbuat dari virus yang telah dimatikan atau
"dilemahkan" dengan menggunakan bahan-bahan tambahan lainnya seperti
formalaldehid, thymerosal dan lainnya. Sedangkan vaksinasi adalah suatu usaha
memberikan vaksin tertentu ke dalam tubuh untuk menghasilkan sistem kekebalan tubuh
terhadap penyakit /virus tersebut.
Imunisasi adalah prosedur untuk meningkatkan derajat imunitas,memberikan
imunitas protektif dengan menginduksi respons memori terhadap pathogen tertentu atau
toksin dengan menggunakan preparat antigen nonvirulen atau nontoksik atau pemberian
vaktis untuk mencengah terjadinya penyakit tertentu.

Memahami dan menjelaskan jenis vaksinasi dan imunisasi


Berdasarkan cara memperolehnya dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Imunisasi aktif, di mana kekebalannya harus didapat dari pemberian bibit penyakit
lemah yang mudah dikalahkan oleh kekebalan tubuh biasa guna membentuk antibodi
terhadap penyakit yang sama baik yang lemah maupun yang kuat.
2. Imunisasi pasif, merupakan kekebalan bawaan dari ibu terhadap penyakit

Berdasarkan bahan imun yang digunakan ada dua jenis vaksin, yaitu:

Attenuated whole-agent vaccines


o Mempunyai kemampuan proteksi jangka panjang
o Virus yang telah dilemahkan tersebut dapat bereplikasi di dalam tubuh,
meningkatkan dosis asli, dan berperan sebagai imunisasi ulangan.
o Keefektifan dapat mencapai 95%

5
o Seringkali tidak memerlukan imunisasi ulangan
o Tidak disarankan untuk pasien kompromis
o Contoh : vaksin polio (Sabin), vaksin MMR, vaksin TBC, vaksin demam tifoid

Vaksin hidup terbuat dari virus hidup yang diatenuasikan dengan cara pasase berseri
pada biakan sel tertentu atau telur ayam berembrio. Dalam proses ini akumulasi dari
mutasi umumnya menyebabkan hilangnya virulensi virus secara progresif bagi inang
aslinya. Didalam vaksin mengandung virus hidup yang dapat berkembang biak dan
merangsang respon imun tanpa menimbulkan sakit.

Inactivated whole-agent vaccines


o Memakai mikroba yang sudah dibunuh dengan formalin ataupun fenol
o Contoh : vaksin rabies, vaksin influenza, vaksin polio (Salk), vaksin pneumonia
pneumokokal, vaksin kolera, vaksin pertusis, dan vaksin demam tifoid

Vaksin inaktif dihasilkan dengan menghancurkan infektivitasnya sedangkan


imunogenitasnya masih dipertahankan dengan cara:
o Fisik misalnya dengan pemanasan, radiasi
o Chemis, dengan bahan kimia fenol, betapropiolakton, formaldehid, etilenimin.

Dengan perlakuan ini virus menjadi inaktif tetapi imunogenitasnya masih ada. Vaksin
ini sangat aman karena tidak infeksius, namun diperlukan jumlah yang banyak untuk
menimbulkan respon antibodi.

Vaksin sub unit

Vaksin sub unit merupakan vaksin yang dibuat dari komponen virus Teknik yang
relatif baru dalam produksi vaksin adalah dengan melakukan kloning dari gen virus
melalui rekombinasi DNA, vaksin vektor virus dan vaksin antiidiotipe. Vaksin sub unit
merupakan vaksin yang dibuat dari bagian tertentu dari mikroorganisme yang
imunogenik secara alamiah misalnya hepatitis B, atau virus yang dipisahkan dengan
detergen misalnya influensa.

Vaksin idiotipe

Vaksin idiotipe merupakan vaksin yang dibuat berdasarkan sifat bahwa Fab
(fragment antigen binding) dari antibodi yang dihasilkan oleh tiap klon sel B
mengandung asam amino yang disebut sebagai idiotipe atau determinan idiotipe yang
dapat bertindak sebagai antigen. Vaksin ini dapat menghambat pertumbuhan virus
melalui netralisasai dan pemblokiran terhadap reseptor pre sel B.

Vaksin rekombinan

Vaksin rekombinan memungkinkan produksi protein virus dalam jumlah besar.


Gen virus yang diinginkan diekspresikan dalam sel prokariot atau eukariot. Sistem
ekspresi eukariot meliputi sel bakteri E.coli, yeast, dan baculovirus. Dengan teknologi
DNA rekombinan selain dihasilkan vaksin protein juga dihasilkan vaksin DNA.
Penggunaan virus sebagai vektor untuk membawa gen sebagai antigen pelindung dari

6
virus lainnya, misalnya gen untuk antigen dari berbagai virus disatukan ke dalam genom
dari virus vaksinia dan imunisasi hewan dengan vaksin bervektor ini menghasilkan
respon antibodi yang baik.

Vaksin DNA

Vaksin DNA (naked plasmid DNA) , suatu pendekatan yang relatif baru dalam
teknologi vaksin yang memiliki potensi dalam menginduksi imunitas seluler. Dalam
vaksin DNA gen tertentu dari mikroba diklon kedalam suatu plasmid bakteri yang
direkayasa untuk meningkatkan ekspresi gen yang diinsersikan kedalam sel mamalia.
Setelah disuntikkan DNA plasmid akan menetap dalam nukleus sebagai episom, tidak
berintegrasi kedalam DNA sel (kromosom), selanjutnya mensintesis antigen yang
dikodenya. Selain itu vektor plasmid mengandung sekuens nukleotida yang bersifat
imunostimulan yang akan menginduksi imunitas seluler.

Beberapa kelemahan vaksin DNA bahwa kemungkinan DNA dalam vektor


plasmid akan berintegrasi kedalam genom host/inang, kemungkinan akan menginduksi
tumor atau menginduksi terbentuknya antibodi terhadap DNA. Selain itu vaksin DNA
dapat menginduksi respon imun seluler yang kuat tidak hanya terhadap antigen mikroba
melainkan juga terhadap antigen inangnya. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan
untuk mengetahui keamanan vaksin DNA yang efektif terhadap patogen intraseluler

Pokok-pokok kegiatan imunisasi

1. Pencegahan terhadap bayi (imunisasi lengkap)


o Imunisasi BCG 1x
o Imunisasi DPT 3x
o Imunisasi polio 3x
o Imunisasi campak 1x
2. Pencegahan terhadap anak SD
o Imunisasi DT
o Imunisasi TT

3. Pencegahan terhadap bumil dan calaon mempelai wanita

o Imunisasi TT 2x

Vaksin terdiri dari beragam jenis. Jenis-jenis vaksinasi yang ada antara lain vaksin
terhadap penyakit hepatitis, polio, Rubella, BCG, DPT, Measles-Mumps-Rubella
(MMR) cacar air dan jenis penyakit lainnya seperti influenza.

Imunisasi BCG

Vaksinasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC).


Vaksin ini mengandung bakteri Bacillus Calmette-Guerrin hidup yang dilemahkan.
BCG diberikan 1 kali sebelum anak berumur 2 bulan.

7
Imunisasi DPT

Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap difteri, pertusis dan
tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat
menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal. Pertusis (batuk rejan) adalah inteksi
bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi
pernafasan yang melengking.

Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan batuk
sehingga anak sulit bernafas, makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan
komplikasi serius, seperti pneumonia, kejang dan kerusakan otak. Sementara Tetanus
adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang.

Vaksin DPT diberikan dengan cara disuntikkan pada otot lengan atau paha.Imunisasi
DPT diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat anak berumur 2 bulan (DPT I), 3 bulan
(DPT II) dan 4 bulan (DPT III); selang waktu tidak kurang dari 4 minggu. Imunisasi
DPT ulang diberikan 1 tahun setelah DPT III dan pada usia prasekolah (5-6 tahun).Jika
anak mengalami reaksi alergi terhadap vaksin pertusis, maka sebaiknya diberikan DT,
bukan DPT.

Imunisasi Polio

Imunisasi polio memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomielitis. Polio bisa
menyebabkan nyeri otot dan kelumpuhan pada salah satu maupun kedua lengan/tungkai.
Polio juga bisa menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot pernafasan dan otot untuk
menelan, dapat juga menyebabkan kematian.

Imunisasi dasar polio diberikan pada anak umuur 0-4 bulan sebanyak 4 kali, (polio I,II,
III, dan IV) dengan interval tidak kurang dari 4 minggu. Imunisasi polio ulangan
diberikan 1 tahun setelah imunisasi polio IV, kemudian pada saat masuk SD (5-6 tahun)
dan pada saat meninggalkan SD (12 tahun).

Imunisasi Campak

Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak (tampek).


Imunisasi campak diberikan sebanyak 2 kali. Pertama, pada saat anak berumur 9 bulan
atau lebih, Campak 2 diberikan pada umur 5-7 tahun. Pada kejadian luar biasa dapat
diberikan pada umur 6 bulan dan diulangi 6 bulan kemudian. Vaksin disuntikkan secara
langsung di bawah kulit (subkutan). Campak 1 diperlukan untuk menimbulkan respon
kekebalan primer, sedangkan Campak 2 diperlukan untuk meningkatkan kekuatan
antibodi sampai pada tingkat yang tertingi. Efek samping yang mungkin terjadi berupa
demam, ruam kulit, diare.

Imunisasi Hepatitis B (HBV)

Hepatitis B adalah suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan kematian.
Imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis B. Imunisasi ini diberikan
sebanyak 4 kali. Antara suntikan HBV1 dengan HBV2 diberikan dengan selang waktu 1
bulan pada saat anak berumur di bawah 4 bulan. Kepada bayi yang lahir dari ibu dengan
Hepatitis, vaksin HBV disuntikan dalam waktu 12 jam setelah lahir. Sedangkan pada

8
bayi yang lahir dari ibu yang status Hepatitisnya tidak diketahui, HBV I diberikan dalam
waktu 12 jam setelah lahir

HBV3 diberikan pada usia antara 6-18 bulan. Imunisasi HBV 4 diberikan saat anak
berusia 10 tahun. Dosis pertama diberikan segera setelah bayi lahir atau jika ibunya
memiliki Hepatitis B. Imunisasi juga bisa diberikan pada saat bayi berumur 2 bulan.
Pemberian imunisasi kepada anak yang sakit berat sebaiknya ditunda sampai anak
benar-benar pulih.

Imunisasi MMR

Vaksin MMR adalah vaksin 3-in-1 yang melindungi anak terhadap campak, gondongan
dan campak Jerman. Campak menyebabkan demam, ruam kulit, batuk, hidung meler
dan mata berair. Campak juga menyebabkan infeksi telinga dan pneumonia. Campak
juga bisa menyebabkan masalah yang lebih serius, seperti pembengkakan otak dan
bahkan kematian.

Gondongan menyebabkan demam, sakit kepala dan pembengkakan pada salah satu
maupun kedua kelenjar liur utama yang disertai nyeri. Gondongan bisa menyebabkan
meningitis (infeksi pada selaput otak dan korda spinalis) dan pembengkakan otak.
Kadang gondongan juga menyebabkan pembengkakan pada buah zakar sehingga terjadi
kemandulan. Sedangkan Campak Jerman (rubella) menyebabkan demam ringan, ruam
kulit dan pembengkakan kelenjar getah bening leher, pembengkakan otak atau gangguan
perdarahan.

Suntikan diberikan sebanyak 2 kali, suntikan pertama diberikan pada saat anak berumur
12-18 bulan. Suntikan pertama mungkin tidak memberikan kekebalan seumur hidup
yang adekuat, karenanya suntikan kedua bisa diberikan pada saat anak berumur 4-6
tahun atau pada saat anak berumur 11-13 tahun.

Imunisasi Hepatitis A

Hepatitis A adalah masuknya virus Hepatitis A ke dalam tubuh, terutama menyerang


hati, sehingga bisa menimbulkan gejala-gejala hepatitis. Virus Hepatitis A sangat mudah
menular dan menyebabkan 20% – 40% dari semua infeksi hepatitis. Waktu pemberian
dimulai umur 2 tahun. Satu kali suntikan pertama, dan 6 bulan berikutnya suntikan
penguat (booster) dapat memberikan perlindungan sekurang-kurangnya 10 tahun.

Imunisasi Varisella (Cacar Air)

Cacar air disebabkan oleh virus varicella-zoster merupakan penyakit sangat menular.
Infeksi akibat cacar air ringan dan tidak berakibat fatal, tetapi pada sejumlah kasus,
penyakit bisa sangat serius sehingga penderitanya dirawat dan diantaranya meninggal.
Imunisasi varisella berfungsi memberikan perlindungan terhadapa cacar air. Suntikan
diberikan pada anak yang berumur 10-12 tahun dan belum pernah menderita cacar air.
Suntikan varisella sebelum berumur 13 tahun hanya memerlukan 1 dosis vaksin.

Kepada anak-anak yang berumur 13 tahun atau lebih, yang belum pernah mendapatkan
vaksinasi varisella dan belum pernah menderita cacar air, sebaiknya diberikan 2 dosis
vaksin dengan selang waktu 4-8 minggu.

9
Vaksinasi Typhoid

Demam Typhoid adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonela thypi. Dari
lambung manusia, kuman ini kemudian menyebar ke seluruh organ tubuh lainnya.
Penderita infeksi bakteri typhoid akan mengalami gejala awal berupa demam, badan
mengiggil, sakit kepala, nyerit otot, anoreksia, mual, muntah diare dan aneka gangguan
perut lainnya.

Komplikasi demam typhoid dapat menyebabkan penyakit serius dan kematian.


Pemberian vaksinasi atau merupakan cara efektif untuk mencegah derita demam
typhoid. Vaksin typhoid dapat diberikan pada anak usia 2 tahun. Satu kali suntikan
menjamin perlindungan terhadap Salmonella paratyphi A dan B, dan melindungi
penyakit ini sekurang-kurangnya 3 tahun.

Imunisasi Polio

 Imunisasi polio memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomielitis.


Polio bisa menyebabkan nyeri otot dan kelumpuhan pada salah satu maupun kedua
lengan/tungkai. Polio juga bisa menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot pernafasan
dan otot untuk menelan. Polio bisa menyebabkan kematian.
 Terdapat 2 macam vaksin polio :
o IPV (Inactivated Polio Vaccine, Vaksin Salk), mengandung virus polio yang
telah dimatikan dan diberikan melalui suntikan
o OPV (Oral Polio Vaccine, Vaksin Sabin), mengandung vaksin hidup yang telah
dilemahkan dan diberikan dalam bentuk pil atau cairan.
Bentuk trivalen (TOPV) efektif melawan semua bentuk polio, bentuk
monovalen (MOPV) efektif melawan 1 jenis polio.
 Imunisasi dasar polio diberikan 4 kali (polio I,II, III, dan IV) dengan interval tidak
kurang dari 4 minggu. Imunisasi polio ulangan diberikan 1 tahun setelah imunisasi
polio IV, kemudian pada saat masuk SD (5-6 tahun) dan pada saat meninggalkan
SD (12 tahun).
 Di Indonesia umumnya diberikan vaksin Sabin. Vaksin ini diberikan sebanyak 2
tetes (0,1 mL) langsung ke mulut anak atau dengan menggunakan sendok yang
berisi air gula.
 Kontra indikasi pemberian vaksin polio:
o Diare berat
o Gangguan kekebalan (karena obat imunosupresan, kemoterapi, kortikosteroid)
o Kehamilan.
 Efek samping yang mungkin terjadi berupa kelumpuhan dan kejang-kejang.
 Dosis pertama dan kedua diperlukan untuk menimbulkan respon kekebalan primer,
sedangkan dosis ketiga dan keempat diperlukan untuk meningkatkan kekuatan
antibobi sampai pada tingkat yang tertinggi.
 Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi dasar, kepada orang dewasa tidak perlu
dilakukan pemberian booster secara rutin, kecuali jika dia hendak bepergian ke
daerah dimana polio masih banyak ditemukan. Kepada orang dewasa yang belum
pernah mendapatkan imunisasi polio dan perlu menjalani imunisasi, sebaiknya
hanya diberikan IPV. Kepada orang yang pernah mengalami reaksi alergi hebat
(anafilaktik) setelah pemberian IPV, streptomisin, polimiksin B atau neomisin, tidak
boleh diberikan IPV. Sebaiknya diberikan OPV. Kepada penderita gangguan sistem
kekebalan (misalnya penderita AIDS, infeksi HIV, leukemia, kanker, limfoma),

10
dianjurkan untuk diberikan IPV. IPV juga diberikan kepada orang yang sedang
menjalani terapi penyinaran, terapi kanker, kortikosteroid atau obat imunosupresan
lainnya.
 IPV bisa diberikan kepada anak yang menderita diare.
Jika anak sedang menderita penyakit ringan atau berat, sebaiknya pelaksanaan
imunisasi ditunda sampai mereka benar-benar pulih.
 IPV bisa menyebabkan nyeri dan kemerahan pada tempat penyuntikan, yang
biasanya berlangsung hanya selama beberapa hari.

Vaksin pertussis, yang menimbulkan batuk-batuk parah pada manusia melalui bakteri
Bortella pertussis. Kawasan padat penduduk sangat rawan atas penyakit ini, dengan
gejala awal serupa flu.

Vaksin pneumonia, yang menyerang jaringan lobus-alveoli paru-paru manusia, yang


disebabkan bakteri Streptococcus pneumoniae. Jika dibiarkan, penyakit ini umum
menimbulkan komplikasi meningitis dan selulitis.

Vaksin pneumonia konjugasi, berawal dari kekurangan efektivitas vaksin polisakarida


yang 23 valent. Karena itulah perlu di-"gandeng" (konjugasi) dengan protein untuk
membasmi perkembangan bakteri Streptococcus pnemonia.

Vaksin hemofilus influenza, mencegah penyakit akibat serangan bakteri Haemophillus


influenza B, yang menyerang infeksi pada semua jaringan berlendir manusia, terutama
anak-anak.

Vaksin meningitis, yang ditujukan mencegah serangan pada selaput otak manusia,
akibat serangan bakteri Neiiseria meningitidis atau N meningococcus. Penyakit ini bisa
berkembang menjadi pandemi.

Kelas Vaksin Virus Catatan


Virus vaksin hidup Adenovirus Imunisasi aktif
Cacar air menggunakan galur tidak
Campak virulen yang dilemahka.
Parotitis Efektif memacu respons
Polio antibodi dan limfosit
Rotavirus sitotoksit
Rubella
Caacr
Yellow fever
Virus vaksin mati Hepatitis A Imunisasi aktif
Influenza menggunakan partikel virus
Polio panas atau kimia yang tidak
Rabies aktif. Vaksinasi dapat
dikombinasikan dengan
virus lainnya (polivalen)
Vaksin subunit adenovirus Imunisasi aktif
menggunakan protein yang

11
dimurnikan
Vaksin polipeptida Hepatitis B Imunisasi aktif
menggunakan sintesa
urutan protein polipeptida
Vaksin DNA HIV Penelitian: bermanfaat
(hanya evaluasi) untuk memacu respon Tc
Antibodi pasif Hepatitis A Penyuntikan antibodi yang
Hepatitis B dimurnikan hasil dari
Campak sumber lainnya. Hanya
Parotitis sementara dan hanya sedikit
Rabies bermanfaat diberikan
RSV setelah awitan penyakit.
Rubella
Varisella zoster

LI 3. Memahami dan Menjelaskan antigen


Antigen adalah bahan yg berinteraksi dengan produk respons imun yg diransang oleh
imunogen spesifik seperti antibodi dan atau TCR. Antigen ini dimiliki oleh berbagai
macam patogen.
Sel sistem imun tidak berinteraksi dengan seluruh molekul antigen, tetapi limfosit
mengenal tempat khusus pada makromolekul yg disebut epitop atau determinan antigen.
Epitop adalah bagian dari antigen yg dapat membuat kontak fisik dengan reseptor
antibodi.Oleh karena sel B mengikat antigen yg bebas dalam larutan, epitop yg
dikenalnya cenderung mudah ditemukan dipermukaan antigen. Epitop sel T dari protein
berbeda dalam peptida, biasanya berasal dari hasil cerna protein patogen oleh enzim yg
dikenal oleh TCR dalam kompleks dengan MHC.
Antigen diklasifikasikan berdasarkan:
Pembagian Antigen menurut Epitop
a. Unideterminan,Univalen
Hanya satu jenis determinan/epitop pada satu molekul.
b. Unideterminan,Multivalen
Hanya satu jenis determinan tetapi dua atau lebih determinan tersebut
ditemukan pada satu molekul.
c. Multideterminan,Univalen
Banyak epitop yang bermacam-macam tetapi hanya satu dari setiap macamnya
(kebanyakan protein).
d. Multideterminan,Multivalen
Banyak macam determinan dan banyak dari setiap macam pada satu molekul
(antigen dengan berat molekul yang tinggi dan kompleks secara kimiawi)

Pembagian Antigen menurut Spesifisitas


a. Heteroantigen : yang dimiliki oleh banyak spesies
b. Xenoantigen : yang hanya dimiliki spesies tertentu
c. Aloantigen (isoantigen) : yang spesifik untuk individu dalam satu spesies
d. Antigen organ spesifik : yang hanya dimiliki organ tertentu

12
e. Autoantigen : yang dimiliki alat tubuh sendiri

Pembagian Antigen menurut ketergantungan terhadap sel T


a. T dependen : Memerlukan pengenalan oleh sel T terlebih dahulu untuk
dapat menimbulkan respons antibodi.kebanyakan antigen protein termasuk
dalam golongan ini.
b. T independen : Dapat merangsang sel B tanpa bantuan sel T untuk
membentuk antibodi. Kebanyakan antigen ini berupa molekul besar polimerik
yang dipecah di dalam tubuh secara perlahan-lahan, misalnya
lipopolisakarida, ficoll, dekstran, levan dan flagellin polimerik bakteri.

Pembagian antigen menurut sifat kimiawi


a. Hidrat Arang (polisakarida)
Hidrat arang pada umumnuya imunogenik. Glikoprotein yang merupakan
bagian permukaan sel banyak mikroorganisme dapat menimbulkan respons
imun terutama pebntukan antibodi. Contoh lain adalah respons imun yang
ditimbulkan golongan darah ABO, sifat antigen dan spesifitas imunnya
berasal dari polisakarida pada permukaan sel darah merah.
b. Lipid
Lipid biasanya tidak imunogenik, tetapi menjadi imunogenik bila diikat
protein pembawa. Lipid dianggap sebagai hapten, contohnya adalah
sfingolipid.
c. Asam Nukleat
Asam nukleat tidak imunogenik,tetapi dapat menjadi imunogenik bila diikat
protein molekul pembawa. DNA dalam bentuk heliksnya biasanya tidak
imunogenik. Respon imun terhadap DNA terjadi pada penderita dengan LES.
d. Protein
Kebanyakan protein adalah imunogenik dan pada umumnya multi determinan
dan univalen.

LI 4. Memahami dan Menjelaskan Antibodi

Antibodi tergolong protein yg disebut globulin dan dikenal sebagai


immunoglobulin(Ig). Immunoglobulin dibentuk oleh sel plasma yg berasal dari
proliferasi sel B yg terjadi setelah kontak dengan antigen. Fungsi utamanya adalah
mengikat antigen dan menghantarkannya ke sistem efektor pemusnahan.
Antibodi diklasifikasikan yaitu:

1. Immnunoglobulin G (IgG) :
IgG merupakan komponen utama serum, merupakan 75% dari semua
immunoglobulin. igG memiliki sifat opsonin yg efektif karena sel-sel fagosit,
monosit dan makrofag mempunyai reseptor untuk fraksi Fc dari IgG. IgG jg dapat
menembus plasenta masuk ke janin.
2. Immnunoglobulin A (IgA) :
Merupakan Ig utama dalam cairan sekresi seromukosa untuk menjaga permukaan
luar tubuh. IgA dapat menetralkan toksin,mengaglutinasikan kuman dan bekerja
sebagai opsonin. IgA sendiri dapat mengaktifkan komplemen jalur alternatif.

13
3. Immnunoglobulin M (IgM) :
IgM merupakan Ig terbesar. IgM juga merupakan Ig paling efektif dalam aktifasi
komplemen Jalur klasik. IgM dibentuk paling awal pada respons imun primer
terhadap kebanyakan antigen. IgM juga merupakan Ig yg predominan diproduksi
janin.
4. Immnunoglobulin D (IgD) :
IgD ditemukan dalam serum dengan kadar yg sangat rendah.IgD merupakan
komponen permukaan utama sel B dan merupakan tanda dari differensiasi sel B yg
sudah lebih matang. IgD jg tidak mengikat komplemen dan tidak dilepas sel plasma.
5. Immnunoglobulin E (IgE) :
IgE berperan dalam pertahanan terhadap infeksi parasit pengerahan agen
antimikrobial. IgE terutama berperan dalam reaksi alergi dan dapat menimbulkan
syok anafilaksis.
Fungsi Immunoglobulin

IgG IgA IgM IgD IgE


Sifat Utama Paling banyak Ig utama Aglutinor Umumnya Pengerahan
ditemukan sekresi yang sangat ditemukan agen anti
dalam cairan seromukosa efektif, pada microbial.
tubuh terutama untuk diproduksi permukaan Meningkat
ekstraselular, menjaga dini pada limfoit pada gejala
untuk permukaan respon alergi atopi.
memerangi luar tubuh imun.
mikroorganisme Pertahanan
dan toksiknya terdepan
terhadap
bacteremia
Fungsi Opsonisasi, Ditemukan Mengikat Menimbulk
ADCC, imunitas dalam komplemen, an alergi,
neonatal sekresi opsonin syok
(asam baik anafilaksis.
lambung). Pertahanan
Proteksi terhadap
terhadap parasit
mukosa
disekresi
dalam air
susu.
Ikatan sel Mononuclear, Limfosit Limfosit, Reseptor sel Sel mast,
limfosit. neutrofil reseptor sel B basophil,
Neutrophil, B limfosit
trombosit
Fiksasi
komplemen
klasik ++ + +++ - --
alternative - - - -
Lewat ++ - - - -
plasenta

14
Sensitisasi - - - - +++
sel mast dan
basophil
Ikatan +++ + - - -
makrofag
dan
polimorfisme

Memahami dan menjelaskan mekanisme reaksi antigen dan antibody


Antibodi merupakan protein-protein yang terbentuk sebagai respon terhadap antigen
yang masuk ke tubuh, yang bereaksi secara spesifik dengan antigen tersebut.
Konfigurasi molekul antigen-antibodi sedemikian rupa sehingga hanya antibodi yang
timbul sebagai respon terhadap suatu antigen tertentu saja yang ccocok dengan
permukaan antigen itu sekaligus bereaksi dengannya.
Sel-sel kunci dalam respon antigen-antibodi adalah sel limfosit. Terdapat dua
jenis limfosit yang berperan, yaitu limfosit B dan T. Keduanya berasal dari sel tiang
yang sama dalam sumsum tulang. Pendewasaan limfosit B terjadi di Bursa Fabricius
pada unggas, sedangkan pada mamalia terjadi di hati fetus, tonsil, usus buntu dan
jaringan limfoid dalam dinding usus. Pendewasaan limfosit T terjadi di organ timus.
Sistim kebal atau imun terdiri dari dua macam, yaitu sistim kebal humoral dan
seluler. Limfosit B bertanggung jawab terhadap sistim kebal humoral. Apabila ada
antigen masuk ke dalam tubuh, maka limfosit B berubah menjadi sel plasma dan
menghasilkan antibodi humoral. Antibodi humoral yang terbentuk di lepas ke darah
sebagai bagian dari fraksi - globulin. Antibodi humoral ini memerangi bakteri dan virus
di dalam darah.
Sistem humoral merupakan sekelompok protein yang dikenal sebagai
imunoglobulin (Ig) atau antibodi (Ab).
Limfosit T bertanggung jawab terhadap kekebalan seluler. Apabila ada antigen
di dalam tubuh, misalnya sel kanker atau jaringan asing, maka limfosit T akan berubah
menjadi limfoblast yang menghasilkan limphokin (semacam antibodi), namun tidak
dilepaskan ke dalam darah melainkan langsung bereaksi dengan antigen di jaringan.
Sistim kekebalan seluler disebut juga “respon yang diperantarai sel”.

15
Gambar 1. Diagram Perkembangan Dua Sistim Imun (Soegiri, Soegiri,
1988).
Apabila ada antigen masuk ke dalam tubuh ternak maka tubuh akan terangsang
dan memunculkan suatu respon awal yang disebut sebagai respon imun primer.
Respon ini memerlukan waktu lebih lama untuk memperbanyak limfosit dan
membentuk ingatan imunologik berupa sel-sel limfosit yang lebih peka terhadap
antigen. Kalau antigen yang sama memasuki tubuh kembali maka respon yang muncul
dari tubuh berupa respon imun sekunder. Respon ini muncul lebih cepat , lebih kuat
dan berlangsung lebih lama daripada respon imun primer.

16
LO 6. Memahami dan menjelaskan hukum vaksinasi menggunakan bahan haram dari
tinjauan hukum Islam
Imunisasi hukumnya boleh dan tidak terlarang, karena termasuk penjagaan diri dari
penyakit sebelum terjadi. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :
“Barangsiapa yang memakan tujuh butir kurma ajwah, maka dia akan terhindar sehari
itu dari racun dan sihir”(HR. Bukhari : 5768, Muslim : 4702).
Hadits ini menunjukkan secara jelas tentang disyari’atkannya mengambil sebab untuk
membentengi diri dari penyakit sebelum terjadi. Demikian juga kalau dikhawatirkan
terjadi wabah yang menimpa maka hukumnya boleh sebagaimana halnya boleh berobat
tatkala terkena penyakit.
Boleh dalam kondisi darurat dalil firman Allah : “… Sesungguhnya Allah telah
menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang
terpaksa kamu memakannya….” (QS. Al- An’am [6]:119)
Penggunaan Vaksin Polio Khusus (IPV)
Setelah sekelumit informasi tantang imunisasi di atas, sekarang kita masuk kepada
permasalahan inti yang menjadi polemik hangat akhir-akhir ini, yaitu imunisasi dengan
menggunakan vaksin polio khusus (IPV) yang dalam proses pembuatannya
menggunakan enzim yang berasal dari babi. Bagaimanakah gambaran permasalahan
yang sebenarnya ? Dan bagaimanakah status hukumnya?

Dhorurat dalam Obat

Dhorurat (darurat) adalah suatu keadaan terdesak untuk menerjang keharaman, yaitu
ketika seorang memilki keyakinan bahwa apabila dirinya tidak menerjang larangan
tersebut niscaya akan binasa atau mendapatkan bahaya besar pada badanya, hartanya
atau kehormatannya. Dalam suatu kaidah fiqhiyyah dikatakan:

“Darurat itu membolehkan suatu yang dilarang”

Namun kaidah ini harus memenuhi dua persyaratan: tidak ada pengganti lainya yang
boleh (mubah/halal) dan mencukupkan sekadar untuk kebutuhan saja.

Oleh karena itu, al-Izzu bin Abdus Salam mengatakan : “Seandainya seorang terdesak
untuk makan barang najis maka dia harus memakannya, sebab kerusakan jiwa dan
anggota badan lebih besar daripada kerusakan makan barang najis.”20

Kemudahan Saat Kesempitan

Sesungguhnya syari’at islam ini dibangun di atas kemudahan. Banyak sekali dalil-dalil
yang mendasari hal ini, bahkan Imam asy-Syathibi mengatakan: “Dalil-dalil tentang
kemudahan bagi umat ini telah mencapai derajat yang pasti”.20

Semua syari’at itu mudah. Namun, apabila ada kesulitan maka akan ada tambahan
kemudahan lagi. Alangkah bagusnya ucapan Imam asy-Syafi’i tatkala berkata :
“Kaidah syari’at itu dibangun (di atas dasar) bahwa segala sesuatu apabila sempit
maka menjadi luas.”21

17
Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang
membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau
bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah
membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa memelihara kehidupan seorang
manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan
sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa)
keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu
sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi. Q.s. Al-
Maidah : 32
Dari Abdulah bin Umar bahwasannya Rasulullah saw. telah bersabda,”Muslim itu
sodaranya muslim, tidak menzaliminya, dan tidak mengabaikannya. Siapa yang dalam
kebutuhan sodaranya, maka Allah berada dalam kebutuhannya. Dan siapa yang
membebaskan seorang muslim dari kesulitannya, Allah akan melepaskan kesulitan dari
kesulitan-kesulitan hari kiamat. Dan siapa yang menutupi aib seorang muslim, Allah
akan menutupi aibnya pada hari kiamat.’” H.r. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, II : 862,
Sahih Muslim, IV : 1993, dan Abu Daud, IV : 273.

18
19
DAFTAR PUSTAKA

Baratawijaya KG . 2009. Imunologi Dasar edisi 8. Jakarta. Balai Penerbit FKUI.

Brooks,GF,Butel,JS, ETAL.2001.Jawetz, Melnick dan Adelbergs. Mikrobiologi


kedokteran. Jakarta: Penerbit Salemba Medika.

Maurice R. G. O’Gorman, & Albert D. Donnenberg. 2008. handbook of human


immunology 2nd edition. new york: CRC press.

Kamus Kedokteran Dorlan Edisi 29. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2002

20