Anda di halaman 1dari 28

LI.1.

Mampu memahami dan menjelaskan mengenai autoimun

LO.1.1. Memahami dan menjelaskan definisi autoimun

Autoimun adalah suatu keadaan dimana tubuh membuat antibodi melawan


selnya sendiri. Autoimunitas adalah respons imun terhadap antigen jaringan sendiri
yang disebabkan oleh mekanisme normal yang gagal berperan untuk mempertahankan
self-tolerance sel B, sel T atau keduanya.
Penyakit autoimun adalah kerusakan jaringan atau gangguan fungsi fisiologis
yang ditimbulkan oleh respon autoimun.

LO.1.2. Memahami dan menjelaskan etiologi (faktor) autoimun

Faktor Penyebab Penyakit Autoimun


1. Genetik
Beberapa peneliti menemukan adanya hubungan antara penyakit LES dengan
gen Human Leukocyte Antigen (HLA) seperti DR2, DR3 dari Major
Histocompatibility Complex (MHC) kelas II. Individu dengan gen HLA DR2 dan
DR3 mempunyai risiko relatif menderita penyakit LES 2-3 kali lebih besar
daripada yang mempunyai gen HLA DR4 dan HLA DR5. Peneliti lain menemukan
bahwa penderita penyakit LES yang mempunyai epitop antigen HLA-DR2
cenderung membentuk autoantibodi anti-dsDNA, sedangkan penderita yang
mempunyai epitop HLA-DR3 cenderung membentuk autoantibodi anti-Ro/SS-A
dan anti-La/SS-B. Penderita penyakit LES dengan epitop-epitop HLA-DR4 dan
HLA-DR5 memproduksi autoantibodi anti-Sm dan anti-RNP.

2. Defisiensi komplemen
Pada penderita penyakit LES sering ditemukan defisiensi komplemen C3 dan
atau C4, yaitu pada penderita penyakit LES dengan manifestasi ginjal. Defisiensi
komplemen C3 dan atau C4 jarang ditemukan pada penderita penyakit LES dengan
manifestasi pada kulit dan susunan saraf pusat. Individu yang mengalami defek
pada komponen-komponen komplemennya, seperti Clq, Clr, Cls mempunyai
predisposisi menderita penyakit LES dan nefritis lupus. Defisiensi komplemen C3
akan menyebabkan kepekaan terhadap infeksi meningkat, keadaan ini merupakan
predisposisi untuk timbulnya penyakit kompleks imun. Penyakit kompleks imun
selain disebabkan karena defisiensi C3, juga dapat disebabkan karena defisiensi
komplemen C2 dan C4 yang terletak pada MHC kelas II yang bertugas mengawasi
interaksi sel-sel imunokompeten yaitu sel Th dan sel B. Komplemen berperan
dalam sistem pertahanan tubuh, antara lain melalui proses opsonisasi, untuk
memudahkan eliminasi kompleks imun oleh sel karier atau makrofag. Kompleks
imun akan diikat oleh reseptor komplemen (Complement receptor = C-R) yang
terdapat pada permukaan sel karier atau sel makrofag. Pada defisiensi komplemen,
eliminasi kompleks imun terhambat, sehingga jumlah kompleks imun menjadi
berlebihan dan berada dalam sirkulasi lebih lama.

3. Hormon
Pada individu normal, testosteron berfungsi mensupresi sistem imuns
sedangkan estrogen memperkuat sistem imun. Predominan lupus pada wanita
dibandingkan pria memperlihatkan adanya pengaruh hormon seks dalam
patogenesis lupus. Pada percobaan di tikus dengan pemberian testosteron
mengurangi lupus-like syndrome dan pemberian estrogen memperberat penyakit.

4. Lingkungan pengaruh fisik (sinar matahari), infeksi (bakteri, virus, protozoa), dan
obat-obatan dapat mencetuskan atau memperberat penyakit autoimun.
Mekanismenya dapat melalui aktivasi sel B poliklonal atau dengan meningkatkan
ekspresi MHC kelas I atau II.

LO.1.3. Memahami dan menjelaskan klasifikasi autoimun

Menurut organ : spesifik dan non spesifik


Autoimunitas
Mekanisme : antibodi, komplemen, sel T,
humoral dan selular, kompleks
antigen antibod. (dibahas pada
LO. 1.6)
o Penyakit Autoimun Organ Spesifik
Contoh alat tubuh yang menjadi sasaran penyakit autoimun adalah kelenjar
tiroid, kelenjar adrenal, lambung, dan pancreas. Pada penyakit-penyakit tersebut
dibentuk antibodi terhadap jaringan alat tubuh. Hal yang menarik perhatian adalah
adanya antibodi yang tumpang tindih (overlapping), misalnya antibodi terhadap
kelenjar tiroid dan antibodi terhadap lambung sering ditemukan pada satu
penderita. Kedua antibodi tersebut jarang ditemukan bersamaan dengan antibody
yang non-organ spesifik seperti antibody terhadap komponen nukleus dan
nukleoprotein.
Contoh : Anemia pernisiosa, pemfigoid bulosa (salah satu penyakit kulit melepuh),
tiroiditis hashimoto, miksedem primer, tirotoksikosis, penyakit Addison,
Thiroiditis, dengan auto-antibodi terhadap tiroid; Diabetes Mellitus, dengan auto-
antibodi terhadap pankreas; sclerosis multiple, dengan auto-antibodi terhadap
susunan saraf; penyakit radang usus, dengan auto-antibodi terhadap usus.dll.

o Penyakit Autoimun Non-Organ Spesifik


Penyakit autoimun yang non-organ spesifik terjadi karena dibentuknya
antibody terhadap autoantigen yang tersebar luas di dalam tubuh, misalnya DNA.
Pada penyakit autoimun non-organ spesifik, sering juga dibentuk kompleks imun
yang dapat diendapkan pada dinding pembuluh darah, kulit, sendi, dan ginjal, serta
menimbulkan kerusakan pada alat tersebut.
Contoh : Artritis rheumatoid, SLE, LE discoid, scleroderma, Dermatomiositis, dll.

LO.1.4. Memahami dan menjelaskan mekanisme autoimun

Ada beberapa mekanisme mengenai induksi autoimunitas


1. pelepasan antigen sekuester
2. kemiripan molekular
3. ekspresi MHC-II yang tidak sesuai

1. Sequestered Antigen
Adalah antigen sendiri yang karena letak anatominya tidak terpajan dengan sel
b/ sel T dari sistem imun. Pada keadaan normal, sequestered antigen dilindungi dan
tidak ditemukan untuk dikenal sistem imun.
Perubahan anatomi dalam jaringan seperti inflamasi (sekunder oleh infeksi,
kerusakan iskemia/ trauma) dapat memajankan sequestered antigen dengan sistem
imun yang tidak terjadi pada keadaan normal. Contohnya protein lensa intraokular,
sperma, dan MBP.

2. Gangguan Presentasi (kemiripan molekular)


Gangguan dapat terjadi pada presentasi antigen, infeksi yang meningkatkan
respons MHC, kadar sitokin yang rendah (misalnya TGF-B) dan gangguan respons
terhadap IL-2. Pengawasan beberapa sel autoreaktif diduga bergantung pada sel
Ts/ Tr. Bila terjadi kegagalan sel Ts/ Tr, maka terjadi rengsangan ke sel Th yang
akhirnya menimbulkan autoimuntas

3. Ekspresi MHC-II yang Tidak Sesuai


Pada orang sehat, sel B mengekspresikan MHC-I yang lebih sedikit dan tidak
mengekspresikan MHC-II sama sekali. Namun pada penderita dengan IDDM
ekspresi MHC-I dan MHC-II denga kadar tinggi. Contoh lain pada penderita Grave
yang mengekspresikan MHC-II pada membran.
Ekspresi MHC-II Yng tidak pada tempatnya itu yang biasanya diekspreskan
pada APC dapat mensensitasi sel Th terhadap peptida yang berasal dari sel B/
tiroid dan mengaktifkan sel B/Tc/Th1 terhadap self antigen.s
Kerusakan pada penyakit autoimun terjadi melalui antibodi (tipe II dan III),
tipe IV yang mengaktifkan sel CD4+ /sel CD8+ kerusakan organ dapat juga terajdi
melalui autoantibodi yang mengikat tempat fungsional self antigen seperti reseptor
hormon, reseptor neurotransmitor, dan protein plasma. Autoantibodi tersebut dapat
menyerupai /menghambat efek ligan endogen untuk self protein yang menibulkan
gangguan fungsi tanpa terjadinya inflamasi/ kerusakan jaringan fenomena ini
terliha pada penyakit autoimunitas endokrin dengan autoantibodi yang
menyerupai/ menghambat efek hoormon seperti TSH, yang menimbulkan aktifitas
berlebihan/ kurang dari tiroid.

LO.1.5. Memahami dan menjelaskan mengenai toleransi imunitas

Toleransi imun merupakan sistem imun yang tidak atau kurang dapat
mengekspresikan imunitas humoral atau seluler terhadap satu atau lebih antigen
spesifik. Beberapa faktor eksogen dapat merusak toleransi. Akibatnya dapat
berbahaya; bergantung pada derajat kerusakan toleransi.

Toleransi Sel T

a. Toleransi sentral
Toleransi sentral adalah induksi toleransi saat limfosit berada dalam
perkembangannya di timus. Proses seleksi terjadi untuk menyingkirkan limfosit yang
self-reaktif. Melalui proses yang disebut seleksi positif, sel hidup melalui ikatan
dengan kompleks MHC. Sel T dengan TCR yang gagal berikatan dengan self-MHC
dalam timus akan mati dengan apoptosis.
b. Toleransi perifer
Toleransi perifer merupakan mekanisme yang diperlukan untuk mempertahankan
toleransi terhadap antigen yang tidak ditemukan dalam organ limfoid primer atau
terjadi bila ada klon sel dengan reseptor afinitas rendah yang lolos dari seleksi primer.
Terdapat mekanisme yang dapat mencegah terjadinya toleransi perifer, seperti
ignorance, anergi dan kostimulasi dan mekanisme regulasi oleh sel Treg.

Toleransi Sel B

a. Toleransi sentral
Prinsip seleksi dan eliminasi sel yang self reaktif pada toleransi sel T juga berlaku
pada sel B. sel B yang self reaktif dihancurkan dalam sumsum tulang. Toleransi
sentral sel B terjadi bila sel B imatur terpajan dengan self-antigen yang multivalent
dalam sumsum tulang. Hal tersebut menimbulkan apoptosis atau spesifisitas baru
yang disebut receptor editing.

b. Toleransi perifer
Setelah meninggalkan sumsum tulang, sel B yang relative imatur bermigrasi ke
zona sel T luar dalam limpa. Sel B dengan seleksi negative menempati limpa,
diproses untuk induksi anergi, dicegah bermigrasi ke sel folikel sel B dan apoptosis
ditingkatkan. Siklus hidup sel B self-reaktif dalam limpa adalah 1-3 hari. Namun
beberapa sel B anergik self-reaktif masih dapat mengikat antigen dengan afinitas
tinggi, berperan dalam respon terhadap antigen asing.
Proses hipermutasi somatik gen immunoglobulin pada sel B matang di sentrum
germinativum kelenjar limfoid juga mempunyai potensi untuk membentuk
autoantibodi. Produksi antibodi self-reaktif adalah terbatas. Sel B yang mengenal
antigen, tetapi tidak menerima bantuan dari sel T akan menjadi anergik atau apoptosis
dan tidak dapat berfungsi. Bila sel T dan sel B keduanya mengenal antigen asal
pathogen pada waktu dan lokasi yang sama, sel T akan memberikan bantuan untuk sel
B dan memacunya untuk memproduksi dan melepas antibodi. Seperti halnya dengan
sel T stimulasi kronis kadar rendah antigen lebih cenderung menimbulkan anergi,
sedang stimulasi yang meningkat dengan cepat cenderung menimbulkan aktivasi.

LO.1.6. Memahami dan menjelaskan mengenai penyakit autoimun menurut


antibodi, kompleks imun, humoral dan selular, komplemen, dan melalui
sel T

o Penyakit autoimun melalui antibodi

Penyakit autoimun melalui antibodi Keterangan


Anemia Hemolitik autoimun (AHA)

 AHA dengan Ab panas  Menunjukkan reaktivitas optimum


pada suhu 37oC
 Terutama terdiri dari IgG
 Dapat ditemukan pada sel darah
merah
 Fagositosis sel darah merah yang
dilapisi Ab/opsonisasi
 Terutama terjadi di limpa

 AHA dengan antibody dingin  Hemolise biasanya ringan dan


gejala terjadinya pajanan
ekstremitas dengan dingin
 Antibody dingin hanya diikat
pada suhu di bawah 37oC
 Yang berperan terutama adalah
IgM

 Hemoglobinuria dingin  Antibody jenis bersifat bifasik


paroksima (HDP) (biasanya di bawah 15oC) dan
menghancurkannya bila suhu
meningkat sampai 37oC
 Gejalanya dapat berupa panas,
sakit di ekstremitas, ikterik,
hemaglobinuria setelah terpajan
dengan dingin

 Myasthenia Gravis  Merupakan penyakit kronis akibat


adanya gangguan dalam transmisi
neuromuskuler
 Sekitar 60-80% pasien
menunjukkan antibody terhadap
reseptor asetilkolin

 Penyakit Grave, hipertiroidism  Ditimbulkan oleh produksi


hormone tiroid (tiroxin)
 Gejalanya dapat berupa panas,
sakit di ekstremitas, ikterik,
hemaglobinuria setelah terpajan
dengan dingin.

o Penyakit autoimun melalui komplemen

Defisiensi komplemen dapat menimbulkan penyakit autoimun seperti LES,


namun sebabnya belum diketahui.

o Penyakit autoimun melalui kompleks imun


a. Lupus Erimatosus Sistemik (LES)
b. Artritis rheumatoid
c. Sicca complex
d. Sindrom Goodpasture
e. Anemia pernisiosa
f. Rheumatic fever atau demam reuma
g. Sindrom paska perikardiotomi dan sindrom paska infark miokard
h. Sklerodema
i. ITP (trombositopenia idiopatik)
j. Penyakit bulosa

o Penyakit autoimun melalui sel T

Penyakit autoimun melalui sel T Keterangan

Sclerosis multiple Penyakit neuromuskuler yang sering


menunjukkan relaps dengan periode
eksaserbasi dan remisi yang terjadi
lebih sering pada wanita dibandingkan
pada pria.

Ensefalopati diseminasi akut (EMDA)  Dapat terjadi setelah pemberian


vaksin yang dilemahkan
 Gejalanya berupa sakit kepala,
demam, leher kaku, dan lemas

Sindrom Gullian-Bare  Terjadi setelah infeksi (campak,


influenza, vaksinasi influenza)
 Dapat mengenai semua golongan
umur

Goiter  Merupakan penyakit pada kelenjar


tiroid yang dapat ditemukan pada
wanita dewasa tua
 Terjadi pembesaran kelenjar tiroid
sehingga dapat menimbulkan
kerusakan

o Penyakit autoimun melalui factor humoral dan seluler

Penyakit autoimun melalui factor Keterangan


humoral dan seluler
Diabetes Melitus Tipe I (Insulin  Terjadi akibat destruksi
Dependent DM / DDM) imunologik sel beta dari sel
Langerhans pancreas yang
memproduksi insulin
 Gambaran klinis dan patologis
memperlihatkan adanya
ketidakmampuan tubuh
memproduksi insulin sehingga
pasien rentan terhadap fluktuasi
kadar gula darah

Tiroiditis kronis (tiroiditis Hashimoto)  Penyakit tiroid yang terutama


mengenai wanita antara usia 30-5-
tahun
 Gambaran klinis dan patologis
menunjukkan kelenjar tiroid yang
dapat membesar (goiter) dengan
konsistensi yang kenyal atau keras

Polimiositis-dermatomiositis Merupakan penyakit inflamasi akut


dan kronis dari otot-otot (polimiositis)
yang sering mengenai kulit
(dermatomiositis)

LI.2. Mampu memahami dan menjelaskan mengenai Systemic Lupus


Eritematosus

LO.2.1. Memahami dan menjelaskan definisi Systemic Lupus Eritematosus

Penyakit Lupus eritematosus sistemik (LES) merupakan penyakit sistemik evolutif


yang mengenai satu atau beberapa organ tubuh, seperti ginjal, kulit, sel darah dan
sistem saraf, ditandai oleh inflamasi luas pada pembuluh darah dan jaringan ikat,
bersifat episodik diselingi oleh periode remisi, dan karakteristik adanya autoantibodi,
khusus-nya antibodi antinuklear dan aktivasi komplemen.

LO.2.2. Memahami dan menjelaskan etiologi Systemic Lupus Eritematosus

1. Genetik:
a. Sering pada anggota keluarga dan saudara kembar monozigot (25%) dibanding
kembar dizigotik (3%), berkaitan dengan HLA seperti DR2, DR3 dari MHC
kelas II.
b. Individu dengan HLA DR2 dan DR3 risiko 2-3 kali dibanding dengan HLA
DR4 dan HLA DR5.
c. Gen HLA diperlukan untuk proses pengikatan dan presentasi antigen, serta
aktivasi sel T.
d. Haploptip (pasangan gen yang terletak dalam sepasang kromosom yang
menetukan ciri seseorang), HLA menggangu fungsi sistem imun yang
menyebabkan peningkatan autoimunitas.

Penemuan terakhir menyebutkan tentang gen dari kromosom 1. Hanya 10% dari
penderita yang memiliki kerabat (orang tua maupun saudara kandung) yang telah
maupun akan menderita lupus. Statistik menunjukkan bahwa hanya sekitar 5% anak
dari penderita lupus yang akan menderita penyakit ini.

2. Defisiensi komplemen
a. Defisiensi C3 / C4 jarang pada yang manifestasi kulit dan SSP.
b. Defisiensi C2 pada LES dengan predisposisi genetik.
c. 80% penderita defisiensi komplemen herediter cenderung LES.
d. Defisiensi C3 menyebabkan kepekaan tehadap infeksi meningkat, yang akan
menyebabkan predisposisi penyakit kompleks imun.
e. Defisiensi komplemen menyebabkan eliminasi kompleks imun terhambat,
menaikkan jumlah kompleks imun yang beredar dalam sirkulasi lebih lama, lalu
mengendap di jaringan yang menyebabkan berbagai macam manifestasi LES.

3. Hormon
a. Estrogen : imunomodulator terhadap fungsi sistem imun humoral yang akan
menekan fungsi sel Ts dengan mengikat reseptor menyebabkan peningkatan
produksi antibodi.
b. Androgen akan induksi sel Ts dan menekan diferensiasi sel B (imunosupresor).
c. Imunomodulator adalah zat yang berpengaruh terhadap keseimbangan sistem
imun.
d. 3 jenis imunomodulator :
 Imunorestorasi
 Imunostimulasi
 Imunosupresi

4. Autoantibodi
Tabel Autoantibodi Patogenik pada SLE
Antigen Spesifik Prevelensi (%) Efek Klinik Utama
Anti-dsDNA 70-80 Gangguan ginjal, kulit

Nukleosom 60-90 Gangguan ginjal, kulit

Ro 30-40 Gangguan kulit, ginjal, gangguan


jantung fetus

La 15-20 Gangguan jantung fetus

Sm 10-30 Gangguan ginjal

Reseptor NMDA 33-50 Gangguan otak

Fosfolipid 20-30 Trombosis, abortus

∝-Actinin 20 Gangguan ginjal

C1q 40-50 Gangguan ginjal

NMDA = N-methyl-D-aspartate

5. Lingkungan
a. Bakteri atau virus yang mirip antigen atau berubah menjadi neoantigen.
b. Sinar UV akan meningkatkan apoptosis, pembentukan anti DNA kemudian
terjadi reaksi epidermal lalu terjadi kompleks imun yang akan berdifusi keluar
endotel setelah itu terjadi inflamasi.

Faktor lingkungan yang mungkin berhubungan dengan pathogenesis SLE

Faktor fisik/kimia
 Amin aromatic
 Hydrazine
 Obat-obatan (prokainamid, hidralazin, klorpromazin, isoniazid, fenitoin,
penisilamin
 Merokok
 Pewarna rambut
 Sinar ultraviolet (UV)

Faktor makanan

 Konsumsi lemak jenuh yang berlebihan


 L-canavanine (kuncup dari alfalfa)

Agen Infeksi

 Retrovirus
 DNA bakteri/endotoksin

Hormon dan estrogen lingkungan (environmental oestrogen)


 Terapi sulih hormone (HRT), pil kontrasepsi oral
 Paparan estrogen parental

LO.2.3. Memahami dan menjelaskan patogenesis dan patofisiologi Systemic


Lupus Eritematosus

Patogenesis

Kerusakan organ pada SLE didasari oleh reaksi imunologi. Proses diawali
dengan faktor pencetus yang ada di lingkungan, dapat pula infeksi, sinar ultraviolet
atau bahan kimia. Cetusan ini menimbulkan abnormalitas respons imun di dalam
tubuh yaitu:
1. Sel T dan B menjadi otoreaktif
2. Pembentukan sitokin yang berlebihan
3. Hilangnya regulator kontrol pada sisitem imun, antara lain:
 Hilangnya kemampuan membersihkan antigen di kompleks imun maupun
sitokin di dalam tubuh
 Menurunnya kemampuan mengendalikan apoptosis
 Hilangnya toleransi imun sel T mengenali molekul tubuh sebagai antigen
karena adanya mimikri molekul
Akibat proses tersebut , maka terbentuk berbagai macam antibodi di dalam tubuh
yang disebut sebagai autoantibodi. Selanjutnya antibodi-antibodi yang membentuk
kompleks imun, kompleks imun tersebut terdeposisi pada jaringan/organ yang
akhirnya menimbulkan gejala inflamasi atau kerusakan jaringan.
Antibodi-antibodi yang terbentuk pada SLE sangat banyak, antara lain
Antinuclear antibodi (ANA), anti double staranded DNA (ds DNA), anti-ss A (Ro),
anti-ss B (La), antiribosomal P antibody, anti Sm, sd-70.
Selain itu hilangnya kontrol sistem imun pada patogenesis lupus juga diduga
berperan pada timbulnya gejala klinis pada SLE.

Patofisiologi

Penyakit sistemik lupus eritematosus (SLE) tampaknya terjadi akibat


terganggunya regulasi kekebalan yang menyebabkan peningkatan autoantibodi yang
berlebihan. Gangguan imunoregulasi ini ditimbulkan oleh kombinasi antara faktor-
faktor genetik, hormonal ( sebagaimana terbukti oleh awitan penyakit yang biasanya
terjadi selama usia reproduktif ) dan lingkungan (cahaya matahari, luka bakar termal).
Obat-obat tertentu seperti hidralasin [Apresoline, prokainamid(Pronestyl)], isoniazid,
klorpromazin dan beberapa preparat antikonvulsan disamping makanan kecambah
alfalfa turut terlibat dalam penyakit SLE akibat senyawa kimia atau obat-obatan.
Pada sistemik lupus eritematosus, peningkatan produksi autoantibodi
diperkirakan terjadi akibat fungsi sel T-Supresor yang abnormal sehingga timbul
penumpukan kompleks imun dan kerusakan jaringan. Inflamasi akan menstimulasi
antigen yang selanjutnya merangsang antibodi tambahan, dan siklus tersebut berulang
kembali.
Adanya satu atau beberapa faktor pemicu yang mempunyai predisposisi genetik
akan menghasilkan tenaga pendorong abnormal terhadap sel T CD4+, mengakibatkan
hilangnya toleransi sel T terhadap self-antigen. Sebagai akibatnya muncullah sel T
autoreaktif yang akan menyebabkan induksi serta ekspansi sel B, baik yang
memproduksi autoantibodi maupun yang berupa sel memori. Wujud pemicu ini masih
belum jelas. Sebagian dari yang diduga termasuk didalamnya ialah hormon seks, sinar
ultraviolet dan berbagai macam infeksi.
Pada SLE, antibodi yang berbentuk ditunjukkan terhadap antigen yang terutama
terletak pada nukleoplasma. Antigen sasaran ini meliputi DNA, protein histon dan
non-histon. Kebanyakan di antaranya dalam keadaan alamiah terdapat dalam bentuk
agregat protein dan atau kompleks protein-RNA yang disebut partikel
ribonukleoprotein (RNA). Cirri khas autoantigen ini ialah bahwa mereka tidak tissue-
spesific dan merupakan komponen integral semua jenis sel.
Antibodi ini secara bersama-sama disebut ANA (anti-nuclear antibody). Dengan
antigennya yang spesifik, ANA membentuk komplek imun yang beredar dalam
sirkulasi. Kompleks imun ini akan mengendap pada berbagai macam organ dengan
akibat terjadinya fiksasi komplemen pada organ tersebut. Peristiwa ini menyebabkan
aktivasi komplemen yang menghasilkan subtansi penyebab timbulnya reaksi radang.
Bagian yang penting dalam patogenesis ini ialah terganggunya mekanisme
regulasi yang dalam keadaan normal mencegah automunitas patologis pada individu
yang resisten.
Onset penyakit dapat spontan atau didahului oleh faktor presipitasi seperti kontak
dengan sinar matahari, infeksi virus/bakteri, obat misalnya golongan sulfa,
penghentian kehamilan dan trauma fisis/psikis. Setiap serangan biasanya disertai
gejala umum yang jelas seperti demam, malaise, kelemahan, nafsu makan berkurang,
berat badan menurun dan iritabilitas. Yang paling menonjol ialah demam, kadang-
kadang disertai menggigil.
Gejala yang paling sering pada SLE pada sistem muskuloskeletal, berupa arthritis
atau artralgia (93%) dan acapkali mendahului gejala-gejala lainnya. Yang paling
sering terkena adalah sendi interfalangeal proksimal diikuti oleh lutut, pergelangan
tangan, metakarpofalangeal, siku dan pergelangan kaki, sering terkena adalah kaput
femoris.
LO.2.4. Memahami dan menjelaskan manifestasi klinis Systemic Lupus
Eritematosus

Manifestasi klinis lupus eritematosus bervariasi, penyebabnya kurang jelas, dan


gambaran klinisnya tidak khas. Penyakit ini dapat mulai dengan satu organ dan
selanjutnya muncul juga gambaran klinis organ lain sejalan dengan berkembangnya
penyakit. Manifestasi klinis yang berat adalah gangguan fungsi organ yang multipel.
Secara umum, manifestasi klinisnya adalah badan panas disertai lelah, pembengkakan
persendian, ruam kulit, sensitif terhadap sinar, anemia, dan penurunan fungsi
kesadaran.

Sistem Organ Manifestasi Klinis

Manifestasi umum Badan panas, berat badan turun, cepat lelah

Klinis otot dan tulang Pembengkakakn persendian disertai rasa sakit

Otot mengalami kelemahan sampai tidak berfungsi

Hematologis Anemia, hematolisis, leukopenia

Trombositopenia dijumpai, antikoagulan

Manifestasi kulit Gambaran ruam pada molar seperti kupu-kupu

Terdapat ulkus, alopesia, sensitif terhadap sinar matahari

Ruam kulit bahkan dapat disertai bentuk diskoid

Klinis neurologis Kesadaran menurun, terdapat gangguan organik otak,


psikosis dan disertai serangan mendadak

Jantung, paru, ginjal, Perikarditis dan pleuritis


gastrointestinal
Sindrom nefritis, proteinuria

Tidak ada nafsu makan, diare, mual/muntah

Perut sakit (mulas)

Gambaran trombosis Pada vena sekitar 10%, sedangkan arteri sekitar 5%

Mata Konjungtivitis

Gangguan pada janin Abortus berulang, kematian intrauterin

LO.2.5. Memahami dan menjelaskan diagnosis Systemic Lupus Eritematosus


Klasifikasi LES mengacu pada klasifikasi yang dibuat oleh American College of
Rheumatology (ACR) pada tahun 1982 dan dimodifikasi pada tahun 1997. Kriteria
diagnosis pada anak berdasarkan kriteria tersebut mempunyai sensitivitas 96% dan
spesifisitas 100%. Diagnosis LES ditegakkan bila terdapat paling sedikit 4 dari 11
kriteria ACR tersebut.

Kriteria diagnosis lupus menurut ACR (American College of Rheumathology)

Kriteria Definisi

Bercak malar (Butterfly rash) Eritema datar atau menimbul yang menetap
didaerah pipi, cenderung menyebar ke lipatan
nasolabial

Bercak discoid Bercak eritema yang menimbul dengan adherent


keratotic scaling dan follicular plugging, pada lesi
lama dapat terjadi parut atrofi

Fotosensitif Bercak dikulit yang timbul akibat paparan sinar


matahari, pada anamnesis atau pemeriksaan fisik

Ulkus mulut Ulkus mulut atau nasofaring, biasanya tidak nyeri

Arthritis Arthritis nonerosif pada dua atau lebih persendian


perifer, ditandai dengan nyeri tekan, bengkak atau
efusi

Serositis a. Pleuritis Riwayat pleuritic pain atau terdengar


pleural friction rub atau terdapat efusi pleura
pada pemeriksaan fisik atau
b. Perikarditis Dibuktikan dengan EKG atau
terdengar pericardial friction rub atau terdapat
efusi pericardial pada pemeriksaan fisik

Gangguan ginjal a. Proteinuria persisten > 0,5 g/hr atau pemeriksaan


+3 jika pemeriksaan kuantitatif tidak dapat
dilakukan atau

b. Cellular cast : eritrosit, Hb, granular, tubular atau


campuran

Gangguan saraf a. Kejang

Tidak disebabkan oleh obat atau kelainan metabolik


(uremia, ketoasidosis atau ketidak seimbangan
elektrolit) atau

b. Psikosis
Tidak disebabkan oleh obat atau kelainan metabolik
(uremia, ketoasidosis atau ketidak seimbangan
elektrolit)

Gangguan darah Terdapat salah satu kelainan darah :

Anemia hemolitik → dengan retikulositosis


Lekopenia → < 4000/mm3 pada ≥ 1 pemeriksaan
Limfopenia → < 1500/mm3 pada ≥ 2 pemeriksaan
Trombositopenia → < 100.000/mm3 tanpa adanya
intervensi obat

Gangguan imunologi Terdapat salah satu kelainan :

Anti ds-DNA di atas titer normal

Anti Sm (Smith) (+)

Antibodi fosfolipid (+) berdasarkan kadar serum


IgG atau IgM antikardiolipin yang abnormal

Anti koagulan lupus (+) dengan menggunakan tes


standar

Tes sifilis (+) positif palsu, paling sedikit selama 6


bulan dan dikonfirmasi dengan ditemukannya
Treponema palidum atau antibodi treponema

Antibodi antinuklear (ANA) Test ANA (+)

LO.2.6. Memahami dan menjelaskan diagnosis banding Systemic Lupus


Eritematosus

Diagnosis banding
 yang dapat terjadi pada Systemic Lupus Eritematosus:


- Artritis rheumatoid dan penyakit jaringan ikat lainnya.

- Endokarditis bacterial subakut

- Septikimia disebabkan gonokokus/meningokokus yang disertai arthritis dan
lesi kulit.

- Reaksi terhadap obat

- Limfoma

- Leukemia

- Trombotik trombositopenik purpura

- Sarkoidosis

- Lues II

- Sepsis bacterial

LO.2.7. Memahami dan menjelaskan komplikasi Systemic Lupus Eritematosus

Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada Systemic Lupus Eritematosus:


 Gagal ginjal adalah penyebab tersering kematian pada penderita LES. Gagal
ginjal dapat terjadi akibat deposit kompleks antibodi-antigen pada glomerulus
disertai pengaktifan komplemen resultan yang menyebabkan cedera sel.
 Dapat terjadi perikarditis (peradangan kantong perikardium yang mengelilingi
jantung).
 Peradangan membran pleura yang mengelilingi paru-paru dapat membatasi
pernafasan. Sering terjadi bronchitis.
 Dapat terjadi vaskulitis di semua pembuluh serebrum dan perifer.
 Komplikasi susunan saraf pusat termasuk stroke dan kejang. Perubahan
kepribadian, termasuk psikosis dan depresi, dapat terjadi. Perubahan kepribadian
mungkin berkaitan dengan terapi obat atau penyakitnya.

LO.2.8. Memahami dan menjelaskan prognosis Systemic Lupus Eritematosus

Angka harapan hidup :


 5 tahun : 85-88%
 10 tahun : 76-87%
Penyebab utama kematian pada SLE adalah akibat :
 Infeksi penyakit
 Nefritis lupus
 Konsekuensi gagal ginjal (termasuk terapinya)
 Penyakit kardiovaskular
 Lupus sistem saraf pusat

Trombosis arteri mempunyai prognosis buruk. Penyakit ginjal merupakan


indikator prognosis yang paling buruk pada SLE, dikarenakan tuter antibodi pengikat
DNA positif/meningkat, yang berkaitan dengan keterlibatan ginjal, dikaitkan dengan
prognosis yang lebih buruk.

LO.2.9. Memahami dan menjelaskan epidemiologi Systemic Lupus Eritematosus

Prevalensi pada berbagai populasi berbeda-beda bervariasi antara 3 – 400 orang


per 100.000 penduduk (Albar, 2003). SLE lebih sering ditemukan pada ras-ras
tertentu seperti bangsa Afrika–Amerika, Cina, dan mungkin juga Filipina. Di
Amerika, prevalensi SLE kira-kira 1 kasus per 2000 populasi dan insiden berkisar 1
kasus per 10.000 populasi (Bartels, 2006). Prevalensi penderita SLE di Cina adalah 1
:1000 (Isenberg and Horsfall,1998). Meskipun bangsa Afrika yang hidup di Amerika
mempunyai prevalensi yang tinggi terhadap SLE, penyakit ini ternyata sangat jarang
ditemukan pada orang kulit hitam yang hidup di Afrika. Di Inggris, SLE mempunyai
prevalensi 12 kasus per 100.000 populasi, sedangkan di Swedia 39 kasus per 100.000
populasi. Di New Zealand, prevalensi penyakit ini pada Polynesian sebanyak 50
kasus per 100.000 populasi dan hanya 14,6 kasus per 100.000 populasi pada orang
kulit putih (Bartels, 2006).
Di Indonesia sendiri jumlah penderita SLE secara tepat belum diketahui tetapi
diperkirakan sama dengan jumlah penderita SLE di Amerika yaitu 1.500.000 orang
(Yayasan Lupus Indonesia). Berdasarkan hasil survey, data morbiditas penderita SLE
di RSU Dr. Soetomo Surabaya selama tahun 2005 sebanyak 81 orang dan prevalensi
penyakit ini menempati urutan keempat setelah osteoartritis, reumatoid artritis, dan
low back pain. Di RSU Dr. Saiful Anwar Malang, penderita SLE pada bulan Januari
sampai dengan Agustus 2006 ada 14 orang dengan 1 orang meninggal dunia.
LO.2.10 Memahami dan menjelaskan pemeriksaan penunjang Systemic Lupus
Eritematosus

Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan darah lengkap untuk melihat jumlah leukosit, trombosit, limfosit dan
kadar Hb dan LED. LED yang meningkat menandakan aktifnya penyakit.
Pemeriksaan CRP sangat membantu untuk membedakan lupus aktif dengan
infeksi. Pada lupus yang aktif kadar CRP norma atau meningkat tidak bermakna,
sedangkan pada infeksi terdapat peningkatan CRP yang sangat tinggi. Pemeriksaan
komplemen C3 dan C4 membantu untuk menilai aktivitas penyakit. Pada keadaan
aktif kadar kedua komplemen ini rendah.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Lab yang dilakukan terhadap pasien SLE:


- Tes ANA (Anti Nuclear Antibody)
Tes ANA memiliki sensitivitas yang tinggi namun spesifitas yang rendah
- Tes Anti dsDNA (double stranded)
Tes ini sangat spesifik untuk SLE, biasanya titernya akan meningkat sebelum SLE
kambuh.
- Tes Antibodi anti-S (Smith)
Antibodi spesifik terdapat 20-30% pasien
- Tes Anti-RNP (Ribonukleoprotein), anti-ro/anti-SS-A, anti-La (antikoagulan lupus
anti SSB, dan antibodi antikardiolipin).
Titernya tidak terkait dengan kambuhnya SLE
- Komplemen C3, C4, dan CH50 (komplemen hemolitik)
- Tes sel LE
Kurang spesifik dan juga positif pada arthritis rheumatoid, syndrome sjogren,
scleroderma, obat, dan bahan-bahan kimia lain
- Tes anti ssDNA (single stranded)
Pasien dengan anti ssDNA positif cenderung menderita nefritis

Pemeriksaan serologi

Tes ANA merupakan pemeriksaan serologi awal. ANA tes juga di pakai untuk
menilai aktivitas penyakit. Antibodi antibodi lainnya mempunyai sensitivitas dan
spesivitas yang berbeda beda.

Ada beberapa pemeriksaan laboratorium yang dapat membantu dokter untuk


membuat diagnosa SLE, antara lain :
1. Pemeriksaan anti-nuclear antibodi (ANA)
yaitu: pemeriksaan untuk menentukan apakah auto-antibodi terhadap inti sel sering
muncul di dalam darah.
2. Pemeriksaan anti ds DNA ( Anti double stranded DNA ).
yaitu: untuk menentukan apakah pasien memiliki antibodi terhadap materi genetik
di dalam sel.
3. Pemeriksaan anti-Sm antibodi
yaitu: untuk menentukan apakah ada antibodi terhadap Sm (protein yang
ditemukan dalam sel protein inti).
4. Pemeriksaan untuk mendeteksi keberadaan immune complexes (kekebalan) di
dalam darah
5. Pemeriksaan untuk menguji tingkat total dari serum complement (kelompok
protein yang dapat terjadi pada reaksi kekebalan) dan pemeriksaan untuk menilai
tingkat spesifik dari C3 dan C4 – dua jenis protein dari kelompok pemeriksaan ini.
6. Pemeriksaan sel LE (LE cell prep)
yaitu: pemeriksaan darah untuk mencari keberadaan jenis sel tertentu yang
dipengaruhi membesarnya antibodi terhadap lapisan inti sel lain – pemeriksaan ini
jarang digunakan jika dibandingkan dengan pemeriksaan ANA, karena
pemeriksaan ANA lebih peka untuk mendeteksi penyakit Lupus dibandingkan
dengan LE cell prep.
7. Pemeriksaan darah lengkap, leukosit, thrombosit
8. Urine Rutin
9. Antibodi Antiphospholipid
10. Biopsy Kulit
11. Biopsy Ginjal

o Hasil pemeriksaan ANA positif pada hampir semua pasien dengan sistemik lupus
dan ini merupakan pemeriksaan diagnosa terbaik yang ada saat ini untuk
mengenali sistemik lupus.
o Hasil pemeriksaan ANA negatif merupakan bukti kuat bahwa lupus bukanlah
penyebab sakitnya orang tersebut walaupun sangat jarang terjadi dimana SLE
muncul tanpa ditemukannya ANA.

Kemungkinan seseorang mempunyai pemeriksaan ANA positif akan meningkat


seiring dengan meningkatnya usia. Pola dari hasil pemeriksaan ANA sangat
membantu dalam menentukan jenis penyakit auto imun yang muncul dan menentukan
program pengobatan seperti apa yang cocok bagi seorang pasien Lupus. Hasil
pemeriksaan ANA bisa positif pada banyak keadaan, oleh karena itu dalam
pemeriksaan ANA harus di dukung dengan catatan kesehatan pasien serta gejala-
gejala klinis lainnya. Karena itu apabila hasil tes laboratorium ANA positif (hanya
ANA saja) tidak cukup untuk mendiagnosa lupus. Lain halnya jika ANA negatif
merupakan bantahan terhadap lupus akan tetapi tidak sepenuhnya mengesampingkan
adanya penyakit tersebut.
Bagaimanapun juga jika hasil pemeriksaan ANA positif, bukanlah bukti
keberadaan Lupus, karena hasil pemeriksaan juga bisa positif terhadap:
 Orang-orang dengan penyakit jaringan connective lainnya.
 Pasien yang sedang diobati dengan obat-obatan tertentu, misal menggunakan
obat prokrainamid, hidralazin, isoniazidklorpromazin, dan;
 Orang-orang dengan kondisi selain dari lupusseperti skeloderma, sjogren’s
syndrome,rematik arthritis, penyakit kelenjar gondok (thyroid), penyakit hati
(liver)

LO.2.11 Memahami dan menjelaskan terapi Systemic Lupus Eritematosus

Penatalaksanaan
Penyuluhan dan intervensi psikososial merupakan hal penting dalam
penatalaksanaan penderita yang baru terdiagnosis SLE. Sistemik Lupus Eritematosus
merupakan golongan penyakit yang dapat relaps dan remisi. Penatalaksanaan
ditujukan pada manifestasi yang terjadi pada penyakit imun ini dan pada strategi-
strategi pencegahan seperti :
 Perlindungan terhadap sinar UV (penderita mengalami fotosensitifitas)
 Profilaksis antibiotik (penderita menjalani tindakan-tindakan invasif)
 Pengaturan kehamilan (terutama pada penderita nefritis lupus/penderita
mendapat terapi antimalaria atau siklifosfamid)
 Evaluasi serta terapi terhadap infeksi
Pemantauan klinis yang ketat, dengan penilainan perkembangan penyakit secara
rutin, penting untuk menentukan kebutuhan terapi antiinflamasi dan imunosupresi,
terutama untuk meminimalkan kerusakan ginjal dan sistem saraf pusat. Penderita SLE
mendapat terapi tergantung tingkat keparahan yang dialami:

Terapi konservatif
Diberikan apabila penyakit ini tidak mengancam nyawa dan tidak berhubungan
dengan kerusakan organ. Bila dipertimbangkan pemberian glukokortikoid dapat
diberikan prednison 0.5 mg/kgBB/hari.
o Arthritis, arthralgia, myalgia
Merupakan keluhan yang sering dijumpai pada penderita SLE. Keluhan
ringan seperti ini dapat diberikan analgetik sederhana/obat antiinflamasi
nonsteroid, tetapi pemberiannya dihentikan bila menunjukkan efek samping
yang memperberat keadaan umum penderita, seperti pada sistem
gastrointestinal, hepar, dan ginjal sehingga diperlukan pemantauan kreatinin
serum berkala. Bila pemberian analgetik dan OAINS tidak berespon baik,
pertimbangkan pemberian obat antimalaria :
Hidroksiklorokuin 400mg/hari (bila hingga 6 bulan tidak memberikan respon
baik, maka pemberian dihentikan). Hidroksiklorokuin (> 6 bulan pemakaian)
dan klorokuin (> 3 bulan pemakaian) perlu diperiksa oftalmologik karena
beresiko toksik terhadap retina.
Bila pemberian OAM tidak berespon baik, pertimbangkan pemberian
kortikosteroid dosis rendah (< 15 mg/pagi hari). Metotreksat (7.5-15
mg/minggu) dan diberikan berdampingan dengan obat anti artritis.
Bila terjadi artralgia pada 1 atau 2 sendi yang “menetap” dan bukan
merupakan bukti tambahan peningkatan aktivitas penyakit, kemungkinan
penderita mengalami osteonekrosis (terutama pada penderita terapi
kortikosteroid). Osteonekrosis awal, sering tidak menunjukkan gambaran
bermakna pada foto radiologik konvensional, sehingga memerlukan
pemeriksaan MRI.

o Lupus kutaneus
Sekitar 70% mengalami fotosensitifitas. Eksaserbasi akut SLE timbul bila
penderita terpapar sinar UV, inframerah, fluoresensi. Sehingga perlu diberikan
sunscreen berupa cream, minyak, lotion, atau gel yang mengandung PABA (ρ-
aminobenzoit acid) dan esternya, benzofenon, salisilat, sinamat yang
kesemuanya dapat menyerap sinar UV α dan β (pemakaian diulang setelah
mandi dan berkeringat).
Glukokortikosteroid lokal (cream, salep, atau injeksi) dapat dipertimbangkan
pada dematitis lupus, pemilihan preparat harus diperhatikan karena bersifat
diflorinasi (atrofi kulit, depigmentasi, teleangiektasis, dan fragilitis), anjuran
preparat steroid untuk kulit :
 Muka [steroid lokal berkekuatan rendah dan tidak diflorinasi
(hidrokortison)]
 Badan dan lengan [steroid lokal berkekuatan sedang (betametason valerat
dan triamsinolon asetonid)]
 Palmar dan plantar pedis dengan lesi hipertrofik (glukokortikoid
berkekuatan tinggi contohnya betametason dipropionat, penggunaan
cream dibatasi selama 2 minggu dan diganti dengan yang berkekuatan
rendah)
OAM sangat baik untuk mengatasi lupus kutaneus, baik subakut maupun
diskoid. OAM mempunyai efek :
 Sunblocking
Mengikat melanin
 Antiinflamasi
 Imunosupresan
Berhubungan dengan ikatannya pada membran lisosomal sehinggga
mengganggu metabolisme rantai α dan β HLA II.
 Mengurangi pelepasan IL-1, IL-6, TNF-α oleh makrofag, IL-2 dan IFN-γ
oleh sel T.
Pada penderita resisten OAM, dapat dipertimbangkan pemberian
glukokortikoid sistemik dan obat eksperimental lainnya.

Dapson dapat dipertimbangkan pemberiannya pada penderita lupus diskoid,


vaskulitis, lesi LE berbula, selain itu perhatikan efek sampingnya seperti :
 Methemoglobinemia
 Sulfhemoglobinemia
 Anemia hemolitik (memperburuk ruam LE kulit)

o Fatigue dan keluhan sistemik


Fatigue merupakan keluhan yang sering terjadi, demikian juga penurunan
berat badan, dan demam. Fatigue juga dapat timbul akibat terapi glukokortikoid,
sedangkan penurunan berat badan dan demam diakibatkan oleh pemberian
quinakrin. Seringkali hal ini tidak memerlukan terapi spesifik, cukup dengan
menambah waktu istirahat dan mengatur jam kerja. Pada keadaan yang berat
dapat menunjukkan peningkatan akitivitas SLE dan pemberian glukokortikoid
sistemik dapat dipertimbangkan.

o Serositis (radang membran serosa)


Nyeri dada dan abdomen merupakan tanda serositis. Keadaan ini dapat
diatasi dengan salisilat, OAINS, OAM, atau glukokortikoid dosisi rendah (< 15
mg/hari). Pada keadaan berat diberikan glukokortikoid sistemik.

Terapi agresif
Pemberian glukokortikoid dosis tinggi segera saat mulai timbul manifestasi
serius SLE dan mengancam nyawa, misalnya :
 Vaskulitis
 Lupus kutaneus berat
 Poliartritis
 Poliserositis
 Miokarditis pneumonitis lupus
 Glomerulonefritis (bentuk proliferatif)
 Anemia hemolitik
 Trombositopenia
 Sindrom otak organik
 Defek kognitif berat
 Mielopati
 Neuropati perifer
 Krisis lupus (demam tinggi, prostrasi)

Dosis glukokortikoid lebih penting untuk diperhatikan dibandingkan dengan


jenisnya yang akan diberikan. Sebaiknya hindari pemberian deksametason karena
berefek panjang, lebih baik menggunakan prednison karena lebih mudah untuk
mengatur dosisnya. Pemberian glukokortikoid oral sebaiknya diberikan pada pagi
hari. Pada manifestasi berat dapat diberikan prednison 1-1.5 mg/kgBB/hari.
Pemberian bolus metilprednisolon intravena 1 gram atau 15 mg/kgBB/hari
selama 3-5 hari, dapat dipertimbangkan sebagai pengganti glukokortikoid dosis
tinggi, kemudian dilanjutkan dengan prednison oral 1-1.5 mg/kgBB/hari. Efek terapi
dapat terlihat secepat mungkin atau mungkin 6-10 minggu kemudian. Toksisitas SLE
merupakan masalah tersendiri pada penatalaksanaan SLE.
Setelah pemerian glukokortikoid dosis tinggi selama 6 minggu, maka harus
dilakukan penurunan dosis bertahap (5-10%) setiap minggu agar tidak timbul
ekserbasi akut. Setelah dosis prednison mencapai 30 mg/hari, maka penurunan dosis
dilakukan 2.5 mg/minggu. Setelah dosis prednison mencapai 10-15 mg/hari,
penurunan dosis dilakukan 1 mg/minggu. Bila timbul ekserbasi akut, naikkan dosis
hingga dosis efektif sampai beberapa minggu, kemudian turunkan dosis kembali.
Bila dalam 4 minggu pemberian glukokortikoid tidak menunjukkan perbaikan
yang nyata, maka pertimbangkan untuk memberikan imunosupresan lain atau terapi
agresif lainnya. Obat sitotoksik adalah bolus siklofosfamid intravena 0.5-1 gr/m2
dalam 250 ml NaCl 0.9% selama 60 menit diikuti dengan pemberian cairan 2-3
liter/24 jam setelah pemberian obat. Siklofosfamid diindikasikan pada:
 Penderita SLE dengan terapi steroid dosis tinggi (steroid sparing agent)
 Penderita SLE dengan kontraindikasi terhadap steroid dosis tinggi
 Penderita yang kambuh setelah diterapi dengan steroid jangka panjang lama
atau berulang
 Glomerulonefritis difus awal
 SLE dengan trombositopenia yang resisten terhadap steroid
 Penurunan GFR atau peningkatan kreatinin serum tanpa adanya faktor-faktor
ekstrarenal lainnya.
 SLE dengan manifestasi SSP

Pada penderita dengan penurunan fungsi ginjal sampai 50%, dosis siklofosfamid
diturunkan sampai 500-750 mg/m2. Setelah pemberian siklofosfamid, segera pantau
jumlah leukosit darah, bila mencapai 1500/ml maka dosis siklofosfamid berikutnya
diturunkan 25%. Kegagalan menekan jumlah leukosit sampai 4000/ml menunjukkan
dosis yang tidak adekuat, sehingga harus ditingkatkan 10% pada pemberian
berikutnya. Siklofosfamid diberikan selama 6 bulan dengan interval 1 bulan,
kemudian tiap 3 bulan selama 2 tahun. Selama pemberian siklofosfamid diberikan,
dosis steroid diturunkan secara bertahap dengan memperhatikan aktifitas lupusnya.
Toksisitas siklofosfamid meliputi :
 Nausea
 Vomitus alopesia
 Sistitis hemoragika
 Keganasan kulit
 Penekanan fungsi ovarium dan azoospermia

Obat sitotoksik lain dengan toksisitas dan efektifitas yang lebih rendah dari
siklofosfamid adalah azatioprin yang merupakan analog purin yang dapat digunakan
sebagai alternatif siklofosfamid dengan dosis 1-3 gr/kgBB/hari peroral. Obat ini dapat
diberikan selama 6-12 bulan pada penderita SLE, setelah penyakitnya dapat dikontrol
dengan steroid seminimal mungkin, maka dosis azatioprin dapat diturunkan perlahan
dan dihentikan. Toksisitas dari azatioprin meliputi :
 Penekanan sistem hemopoetik
 Peningkatan enzim hati
 Mencetuskan keganasan

Imunosupresan lain yang dapat digunakan adalah siklosporin-A dosis rendah (3-6
mg/kgBB/hari) dan mofetil mikofenolat. Siklosporin A dapat digunakan pada SLE
baik tanpa manifestasi renal maupun dengan nefropati membranosa. Selama
pemberian harus diperhatikan tekanan darah dan kada kreatinin darah, bila kadar
kreatinin darah meningkat 20% dari kadar sebelum pemberian siklosporin maka dosis
harus diturunkan.

Terapi lain masih dalam taraf penelitian yaitu :


 Terapi hormonal
 Imunoglobulin
 Afaresis
o Plasmafaresis
o Leukofaresis
o Kriofaresis
Yang paling banyak digunakan yaitu danazol, merupakan androgen yang dapat
mengatasi trombositopenia pada SLE. Mekanismenya tidak diketahui secara pasti.
Pemberian Ig intravena juga dapat mengatasi trombositopenia, dengan dosis 300-400
mg/kgBB/hari selama 5 hari berturut-turut, diikuti dosis pemeliharan setiap bulan
untuk mencegah kekambuhan. Pemberian Ig kontraindikasi mutlak dengan penderita
defisiensi IgA pada penderita SLE.

Penatalaksanaan SLE keadaan khusus

Trombosis
Merupakan manifesatasi SLE dan berhubungan dengan adanya antibodi
antifosfolipid. Antikoagulan merupakan obat pilihan untuk mengatasinya (warfarin)
dan mempertahankan nilai INR (international normalization ratio) 3–3,5, terutama
pada trombosis arteri karotis interna. Antikoagulan lupus berespon baik terhadap
glukokortikoid dosis tinggi, sedangkan sedangkan antibodi antikardiolipin sangat
resisten terhadap glukokortikoid dosis tinggi maupun imunosupresan lainnya.
Abortus berulang pada SLE
Disebabkan oleh aktivitas SLE atau adanya antibodi antifosfolipid, untuk
menekan aktivitas SLE, glukokortikoid cukup aman dan tidak mempengaruhi janin
kecuali betametason dan deksametason karena dapat mencapai janin dalam bentuk
aktif. Pada penderita yang belum pernah mengalami abortus, dapat dipertimbangkan
untuk tidak diberikan terapi apapun. Makin sering terjadi abortus, kemungkinan
mempertahankan kehamilan makin kecil, sehingga terapi perlu diberikan. Pilihan
terapi:
 Aspirin dosis rendah
 Kombinasi aspirin dosis rendah dengan glukokortikoid dosis sedang
 Glukokortikoid dosis tinggi
 Glukokortikoid dosis tinggi dengan aspirin
 Heparin (warfarin bersifat teratogenik pada kehamilan trimester I)
Semua regimen ini meningkatkan keberhasilan kehamilan secara bermakna,
pemantauan pada ibu dan janin secara ketat sangat penting untuk diperhatikan.

Lupus neonatal
Merupakan sindrom pada neonatus yang lahir dari ibu yang menderita SLE.
Gejala paling sering adalah ruam kemerahan dikulit disertai plakat. Lesi ini
berhubungan dengan transmisi antibodi Anti Ro (SS-A) melalui plasenta. Kelainan
yang serius seperti blok jantung kongenital jarang terjadi. Sehingga pada wanita hamil
perlu diperiksa kemungkinan adanya antibodi anti-Ro.

Trombositopenia
Pertama-tama cari penyebab terjadinya trombositopenia :
 Efek samping obat
 Purpura trombositopenia trombotik
 Infeksi virus (HIV, HBV, CMV)
 Infeksi bakteri (Endokarditis bakterialis, sepsis gram-negatif)

Berikan prednison 0.5-1 mg/kgBB/hari selama 3-4 minggu, bila jumlah trombosit
< 50.000/ml kemudian turunkan dosis secara perlahan, target terapi ini trombosit >
50.000/ml. Bila prednison tidak berefek baik, berikan danazol 400-800 mg/hari, Ig
atau splenektomi.
Pada penderita yang resisten atau penderita dengan keterlibatan organ mayor
dapat diberikan bolus siklofosfamid tiap bulan sampai 6 bulan.

SLE pada susunan saraf pusat


Penderita SLE pada susunan saraf pusat dibagi menjadi dua, yaitu :
 Penderita dengan strok
Pemberian antikoagulan lebih berguna dibandingkan pemberian
imunosupresan
 Penderita dengan kelainan SSP yang lebih luas
Apabila disertai vaskulitis perifer, maka imunosupresan menjadi pilihan
utama.

Pada penderita SLE dengan kejang-kejang tanpa aktivitas pada organ lain, dapat
diberikan antikonvulsan tanpa imunosupresan. Pada penderita psikotik tanpa
manifestasi SLE lain cukup diberikan obat psikoaktif. Kelainan kognitif ringan dapat
diberikan prednison 30mg/hari selama beberapa minggu lalu dosis diturunkan secara
bertahap. Pada sindrom otak organik berat, koma, mielopati diberikan terapi agresif
dengan glukokortikoid dosis tinggi, dengan atau tanpa obat sitotoksik.

Nefritis lupus
Penatalaksanaan umum :
1. Penderita yang diduga menderita nefritis lupus, harus dilakukan biopsi ginjal
(bila tidak ada kontraindikasi) guna menentukan strategi penatalaksanaan lebih
lanjut.
2. Kurangi asupan :
a. Garam (bila ada hipertensi)
b. Lemak (bila ada dislipidemia)
c. Protein (bila fungsi ginjal mulai terganggu)
3. Perhatikan asupan kalsium untuk mencegah osteoporosis akibat steroid
4. Berikan loop diuretics untuk mengatasi edema
5. Hindari penggunaan salisilat dan OAINS
6. Terapi agresif terhadap hipertensi
7. Hindrai kehamilan, karena beresiko tinggi untuk mengalami kegagalan ginjal
8. Penderita nefritis lupus dengan manifestasi SLE kulit, dapat diberikan OAM
9. Pemantauan berkala aktifitas penyakit dan fungsi ginjal meliputi :
a. Tekanan darah
b. Sedimen urin
c. Kreatinin serum
d. Albumin serum
e. Protein urin 24 jam
f. Komplemen C3
g. Anti DNA

Tambahan:
 Obat anti-inflamasi termasuk aspirin atau obat anti-inflamasi non-steroid lainnya
digunakan untuk mengobati demam dan arthritis.
 Kortikosteroid sistemik digunakan untuk mengobati atau mencegah patologi ginjal
dan susunan saraf pusat.
 Obat anti-inflamasi, seperti metotreksat, dan obat sitotoksik (azatioprin) digunakan
jika steroid tidak efektif atau gejala berat.
 Obat antimalaria digunakan untuk mengobati ruam kulit, arthritis, dan gejala lain.

LI.3. Mampu memahami dan menjelaskan mengenai pandangan Islam terhadap


sabar, ikhlas, dan ridho dalam menghadapi cobaan

1. SABAR
Definisi sabar
Secara etimologi, sabar (ash-shabr) berarti: al-habs atau al-kaff (menahan),
Allah berfirman:

“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di


pagi dan senja hari.” (Al-Kahfi: 28) Maksudnya: tahanlah dirimu bersama
mereka.

Secara istilah, definisi sabar adalah: menahan diri dalam melakukan sesuatu
atau meninggalkan sesuatu untuk mencari keridhaan Allah, Allah berfirman:

“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Rabbnya” (Ar-Ra’d:


22).

Macam – macam sabar


Sabar terdiri dari 3 macam, yaitu:
1. sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah
2. sabar dalam meninggalkan perbuatan maksiat terhadap Allah
3. sabar dalam menerima taqdir yang menyakitkan.

Ayat-Ayat Al-Quran

Al-Baqarah 152-156

152. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan
bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

153. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu,
sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

154. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan
Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu
tidak menyadarinya.
155. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira
kepada orang-orang yang sabar.

156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna
lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun".

Mengenai sabar, Allah SWT berfirman, “wahai sekalian orang-orang yang


beriman, bersabarlah kamu sekalian dan teguhkanlah kesabaranmu itu dan tetaplah
bersiap siaga” (QS.Ali imran : 200)
Ayat ini memerintahkan untuk bersabar dalam menjalani ketaatan ketika
mengalami musibah, menahan diri dari maksiat dengan jalan beribadah dan berjuang
melawan kekufuran, serta bersiap siaga penuh untuk berjihad di jalan Allah SWT.
Tentang ayat ini, Sahl bin Sa’ad meriwayatkan sebuah hadis dari Rasulullah SAW
bahwa, “Satu hari berjihad di jalan Allah itu lebih baik ketimbang dunia dengan
segala isinya” (HR. Al-Bukhari dan At-Tirmidzi).

2. IKHLAS
Definisi ikhlas
Ikhlas menurut bahasa adalah sesuatu yang murni yang tidak tercampur dengan
hal-hal yang bisa mencampurinya.
Definisi ikhlas menurut istilah syar’i (secara terminologi) Syaikh Abdul Malik
menjelaskan, Para ulama bervariasi dalam mendefinisikan ikhlas namun hakikat dari
definisi-definisi mereka adalah sama. Diantara mereka ada yang mendefenisikan
bahwa ikhlas adalah “menjadikan tujuan hanyalah untuk Allah tatkala beribadah”,
yaitu jika engkau sedang beribadah maka hatimu dan wajahmu engkau arahkan
kepada Allah bukan kepada manusia.
Ada yang mengatakan juga bahwa ikhlas adalah “membersihkan amalan dari
komentar manusia”, yaitu jika engkau sedang melakukan suatu amalan tertentu
maka engkau membersihkan dirimu dari memperhatikan manusia untuk mengetahui
apakah perkataan (komentar) mereka tentang perbuatanmu itu. Cukuplah Allah saja
yang memperhatikan amalan kebajikanmu itu bahwasanya engkau ikhlas dalam
amalanmu itu untukNya. Dan inilah yang seharusnya yang diperhatikan oleh setiap
muslim, hendaknya ia tidak menjadikan perhatiannya kepada perkataan manusia
sehingga aktivitasnya tergantung dengan komentar manusia, namun hendaknya ia
menjadikan perhatiannya kepada Robb manusia, karena yang jadi patokan adalah
keridhoan Allah kepadamu (meskipun manusia tidak meridhoimu).

Ayat – ayat Al-Quran tentang ikhlas:

"Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan


(membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)."
(QS. Az-Zumar: 2-3).
"Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah
dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama." (QS. Az-
Zumar: 2-3).

3. RIDHO
Definisi ridho
Ridho (‫)رض‬ ِ berarti suka, rela, senang, yang berhubungan dengan takdir (qodha
dan qodar) dari Allah. Ridho adalah mempercayai sesungguh-sungguhnya bahwa
apa yang menimpa kepada kita, baik suka maupun duka adalah terbaik menurut
Allah. Dan apapun yang digariskan oleh Allah kepada hamba-Nya pastilah akan
berdampak baik pula bagi hamba-Nya.

Macam – macam ridho


Menurut Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, ridho terhadap takdir Allah
terbagi menjadi tiga macam:
1. Wajib direlakan, yaitu kewajiban syariat yang harus dijalankan oleh umat Islam
dan segala sesuatu yang telah ditetapkan-Nya. Seluruh perintah-Nya haruslah mutlak
dilaksanakan dan seluruh larangan-Nya haruslah dijauhkan tanpa ada perasaan
bimbang sedikitpun. Yakinlah bahwa seluruhnya adalah untuk kepentingan kita
sebagai umat-Nya.

2. Disunnahkan untuk direlakan, yaitu musibah berupa bencana. Para ulama


mengatakan ridho kepada musibah berupa bencana tidak wajib untuk direlakan
namun jauh lebih baik untuk direlakan, sesuai dengan tingkan keridhoan seorang
hamba. Namun rela atau tidak, mereka wajib bersabar karenanya. Manusia bisa saja
tidak rela terhadap sebuah musibah buruk yang terjadi, tapi wajib bersabar agar tidak
menyalahi syariat. Perbuatan putus asa, hingga marah kepada Yang Maha Pencipta
adalah hal-hal yang sangat diharamkan oleh syariat.

3. Haram direlakan, yaitu perbuatan maksiat. Sekalipun hal tersebut terjadi atas
qodha Allah, namun perbuatan tersebut wajib tidak direlakan dan wajib untuk
dihilangkan. Sebagaimana para nabi terdahulu berjuang menghilangkan kemaksiatan
dan kemungkaran di muka bumi.

Ayat al-quran tentang ridho

“Sesungguhnya dien atau agama atau jalan hidup (yang diridhai) di sisi Allah
hanyalah Islam.” (QS Ali Imran :19)
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam itu
suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah
dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab: 21)